Anda di halaman 1dari 15

Profil Air Sungai Cibeureum

Laporan Praktikum
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekologi Umum

Dosen pengampu:
Drs. H. Yusuf Hilmi A, M.Sc.
Drs. Amprasto, M.Si.
Tina Safaria, M.Si.
Rini Solihat, M.Si.

Disusun Oleh
Aldi Maulana Azis 1605737
Kelompok 5 Pendidikan Biologi B 2016

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2019
A. Judul
Profil Air Sungai Cibeureum
B. Latar Belakang
Air merupakan unsur penting bagi kehidupan makhluk hidup baik
manusia, flora, fauna maupun makhluk hidup yang lain. Makhluk hidup
memerlukan air tidak hanya sebagai zat makan untuk memenuhi hidup
namun juga untuk kepentingan lainnya. Menurut Odum (1994), karena air
mempunyai peran yang sangat penting bagi kehidupan dan merupakan
bagian terbesar yang menyusun protoplasma, oleh karena itu dapat
dikatakan bahwa semua kehidupan adalah akuatik. Penyediaan air untuk
kehidupan di bumi mengikuti siklus hidrologi secara terus menerus dan
secara alami. Melalui siklus ini, suplai air yang tersedia bagi mahkluk hidup
dapat diperoleh dari dua sumber, yaitu air permukaan dan air tanah. Sungai
merupakan salah satu contoh dari air permukaan.
Menurut Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia (2010) di
Indonesia terdapat 5.590 sungai utama dan sekitar 65.017 anak sungai.
Peran sungai selain berperan secara hidrologis, juga berperan dalam
memelihara potensi keanekaragaman hayati, nilai ekonomi, budidaya,
transportasi, pariwisata dan lain-lain. Semua fungsi-fungsi tersebut akan
dapat dipenuhi dengan baik apabila kondisi kuantitas dan kualitas air
memenuhi persyaratan kebutuhan. Saat ini kondisi kuantitas (debit)
sebagian sungai sangat fluktuatif antara musim kemarau dan hujan, banjir
pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Selain itu kualitas
air pada sebagian besar sungai juga sudah mengalami pencemaran akibat
tekanan beban pencemaran dari berbagai sumber. Menurut Laporan Status
Lingkungan Hidup Indonesia (2012) kualitas air di Indonesia cenderung
menurun walaupun laju pencemarannya cenderung berkurang. Penyebab
penurunan kuantitas dan kualitas air sungai antara lain erosi di lahan kritis,
limbah domestik, pertanian, perdagangan, rumah sakit, industri dan
sebagainya. Penurunan kuantitas dan kualitas air sungai selain disebabkan
oleh pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, juga disebabkan oleh
kurangnya kesadaran masyarakat serta kurang efektifnya upaya yang
selama ini sudah berjalan.
Sungai cibeureum membentang dari kabupaten Bandung barat, kota
Cimahi, kota Bandung hingga Kabupaten Bandung. Tidak ada data pasti
berapa panjang sungai ini dan diprediksi memiliki hilir di daerah Lembang
dan merupakan persatuan beerapa aliran sungai di daerah Lembang. Jika
ditelusuri maka alirannya sama dengan curug Cimahi dan bermuara di
sungai citarum. Dikarenakan sungai ini melintasi beberapa daerah padat
penduduk, maka teramati sungai ini mengalami beragai macam
pencemaran, dari mulai limbah industri, pertanian, hingga limbah domestik.
Namun sungai tersebut masih digunakan sebagai sumber air di beberapa
daerah misalnya di sekitar Gegerkalong. Akibat hal tersebut maka peneliti
ingin melakukan analisis terhadap kualitas air di Sungai Cibeureum
sehingga dapat menjadi referensi edukasi kepada masyarakat seberapa baik
kualitas air di sungai tersebut.
C. Pertanyaan Penelitian
a. Berapa rata-rata nilai suhu di Sungai Cibeureum, ?
b. Berapa rata-rata nilai pH di Sungai Cibeureum?
c. Berapa rata-rata nilai kekeruhan di Sungai Cibeureum?
d. Berapa rata-rata nilai arus listrik di Sungai Cibeureum?
e. Berapa rata-rata nilai 02 Terlarut di Sungai Cibeureum?
D. Rumusan Masalah
1. Bagaimana analisis kualitas air di Sungai Cibeureum, berdasarkan suhu,
pH, kekeruhan air, arus listrik di air sungai dan O2 terlarut ?
E. Tujuan
1. Mengetahui kualitas air Sungai Cibeureum berdasarkan faktor suhu, pH,
kekeruhan air, konduktivitas dan kadar Oksigen terlarut.
F. Landasan Teori
Air digunakan untuk berbagai aktivitas sehari-hari tidak hanya untuk
minum saja, tetapi digunakan untuk mandi, mencuci, keperluan pertanian,
keperluan industri, pembangkit listrik dan lainnya. Kualitas air menjadi
persoalan yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat. Apabila terjadi
pencemaran akan menimbulkan masalah yang berbahaya bagi kesehatan.
Air dapat mengalami pencemaran secara langsung dan tidak langsung baik
dari kotoran, pestisida, pupuk, limbah pertanian, limbah rumah tangga dan
limbah industri. Selain itu, pencemaran juga dapat terjadi akibat
meningkatnya aktivitas manusia seperti kegiatan industri, penebangan
hutan, dan aktivitas penduduk. Pencemaran tersebut menyebabkan
penurunan kualitas air yang berupa perubahan fisik, kimia dan biologis air
(Paul dan Sen, 2012).
Beberapa parameter yang digunakan untuk penentuan kualitas air
(tingkat pencemaran) antara lain suhu, warna, kekeruhan, konduktivitas
listrik (Electrical Conductivity, EC), pH, alkalinitas, asiditas, kesadahan,
nitrogen, klorida, kebutuhan oksigen biologi (Biological Oxygen Demand,
BOD), kebutuhan oksigen kimia (Chemical Oxygen Demand, COD) dan
kandungan bahan-bahan di dalamnya. Bahan-bahan di dalam air dapat
berupa bahan organik, bahan anorganik, logam dan non logam yang dapat
berwujud padatan maupun cairan. Zat padat di dalam air secara umum dapat
dibedakan menjadi dua yaitu padatan terlarut dan padatan tersuspensi
(Herlambang, 2006). Dibawah ini merupakan penjelasan beberapa
parameter yang biasanya diamati dalam melakukan analisis faktor-faktor
ekologis diantaranya:
1) Parameter Fisika
a. Warna Perairan
Warna perairan adalah warna yang secara visual yang dapat
kita lihat dari sebuah perairan. Warna perairan dibagi menjadi dua
yaitu warna tampak dan warna asli. Warna tampak adalah warna dari
sebuah perairan yang disebabkan oleh partikel-partikel terlarut dan
tersuspensi. Sedangkan warna asli merupakan warna yang
disebabkan oleh bahan-bahan terlarut dari danau atau kondisi sekitar
danau. Warna perairan dipengaruhi oleh kedalaman. Biasanya jenis
substrat juga mempengaruhi warna perairan, dipinggir biasanya
berwarna gelap atau keruh, sedangkan didaerah tengah lebih terang.
Semakin dalam suatu perairan maka semakin pekat warna perairan
(Odum, 1971).
b. Kecerahan
Dalam hal ini kecerahan merupakan parameter fisika yang
berhubungan dengan fotosintesis karena pengaruh penetrasi cahaya
yang masuk ke dalam waduk. Penetrasi cahaya seringkali dihalangi
oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa, dimana
habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman (Odum, 1971).
c. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu
merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada
jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran
suhu tertentu. Daerah perairan yang cukup luas dapat
mempengaruhi iklim daerah daratan di sekitarnya. Suhu air paling
baik dan efisien diukur menggunakan sensor elektronis seperti air
mempunyai beberapa sifat unik yang berhubungan dengan panas
yang secara bersama-sama mengurani perubahan suhu sampai
tingkat minimal (Odum, 1971).
d. Kedalaman
Kedalaman suatu ekosistem perairan dapat bervariasi
tergantung pada zona kedalaman dari suatu perairan tersebut,
semakin dalam perairan tersebut maka intensitas cahaya matahari
yang masuk semakin berkurang. Penetrasi cahaya seringkali
dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona
fotosintesa, dimana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman (Odum,
1971).
2) Parameter Kimia
a) Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) merupakan parameter kimia yang
menunjukan salinitas atau drajat keasaman dari suatu perairan
dimana biota air dapat hidup didalamnya, pH yang ideal berkisar
antar 6,5-8,5. Dimana setiap organisme air memiliki toleransi pH
yang berbeda. Larutan atau air dikatakan asam jika pH < 7,
dikatakan basa jika pH > 7, sedangkan jika pH = 7 maka larutan
tersebut dikatakan seimbang (Effendi, 2003)
b) Dissolve Oxygen
DO merupakan jumlah gas O2 yang larut dalam air.
Kelarutan O2 di dalam air terutama sangat dipengaruhi oleh suhu
dan mineral terlarut dalam air. Kelarutan maksimum oksigen dalam
air terdapat pada suhu 0 C°, yaitu sebesar 14,16 mg/l (Kembarawati,
2000). DO adalah salah satu faktor dalam ekosistem aquatik, karena
hampir semua organisme membutuhkan oksigen sebagai sumber
kehidupan. Sumber utama dari Dissolved Oxygen adalah dari
lingkungan udara atau atmosfer dan fotosintetis, dimana oksigen
akan terabsorbsi secara difusi antara permukaan air. (Michael P.,
1984). Metode yang biasanya digunakan adalah metodeWinkler
menggunakan prinsip reaksi oksidasi dan reduksi. Metode ini
berdasar pada reaksi hidroksida dengan mangan sulfat dan
menghasilkan endapan putih mangan hidroksi. Keberadaan oksigen
akan menyebabkan larutan menjadi alkali, dan mangan hidroksi
akan berwarna kecoklatan ketika berada dilingkungan alkali karena
teroksidasi menjadi mangan oksi terhidra (Michael, 1984).
c) Konduktivitas
Konduktivitas listrik adalah ukuran kemampuan suatu
larutan untuk menghantarkan arus listrik. Arus listrik di dalam
larutan dihantarkan oleh ion yang terkandung di dalamnya. Ion
memiliki karakteristik tersendiri dalam menghantarkan arus listrik.
Maka dari itu nilai konduktivitas listrik hanya menunjukkan
konsentrasi ion total dalam larutan (Manalu, 2014). Banyaknya ion
di dalam larutan juga dipengaruhi oleh padatan terlarut di dalamnya.
Semakin besar jumlah padatan terlarut di dalam larutan maka
kemungkinan jumlah ion dalam larutan juga akan semakin besar,
sehingga nilai konduktivitas listrik juga akan semakin besar
G. Metode Penelitian
a. Jenis penelitian : Dekriptif
b. Sampel : Air yang diambil dari sungai Cibeureum, Sarijadi
c. Tempat : Kelurahan Sarijadi. Kecamatan Sukasari, Bandung.
d. Hari, tanggal : Minggu, 24 Februari 2019
e. Waktu : 07.00, dan 12.00 WIB
f. Teknik sampling : Purposive sampling

Gambar 1. Peta pengambilan sample


(Dokumen pribadi, 2019)

H. Alat dan Bahan


Tabel 1. Alat
Nama alat Jumlah
Termometer 1 unit
Botol sample 3
Tabung Erlenmeyer 2
Pipet 5
Gelas Ukur 4
Conductivity meter 1 unit
Turbidy meter 1 unit
Tabel 2. Bahan
Nama bahan Jumlah
MnSO₄ 20ml
H₂SO₄ 20ml
Na₂S₂O₃ 50ml
Larutan Amilum 100ml
Larutan Winkler N/80 20ml
Aquadest 100ml
Indikator pH universal secukupnya

I. Langkah Kerja
1) Pengambilan sample

Sample air diambil menggunakan tengan langsung, botol ditutup didalam


air dan dipastikan tidak ada udara didalam botol.
2) Metode Winkler (Dissolve Oxygen)
Gambar 1. Langkah kerja Titrasi metode Winkler

3) Turbidi Meter
Bagan alur 1. Langkah kerja pengukuran tingkat kekeruhan air

Menyalakan alat
Mengkalibrasi alat Memastikan angka
pada mode
dengan aquades mencapai 0
kalibrasi

Menunggu ± 15 Memasukan probe


Mencatat data menit hingga angka kedalam air yang
stabil diteliti langsung

membersihkan melakukan kalibrasi


probe ulang
4) Conductivity Meter
Bagan alur 2. Langkah kerja pengukuran konduktivitas air

Mengkalibrasi alat
Menyalakan alat Memastikan angka
dengan cairan
pada mode kalibrasi mencapai 0
khusus

Menunggu ± 15 Memasukan probe


menit hingga angka kedalam air yang Memilih satuan
stabil diteliti langsung

membersihkan Melakukan kalibrasi


Mencatat data
probe ulang

5) pH
Bagan alur 3. Langkah kerja pengukuran pH air

Mencelupkan
Menyiapkan strip secara langsung
indikator pH kedalam air yang
diteliti

Memandingkan
strip dengan
Mencatat data
standar acuan pada
kemasan

6) Suhu
Bagan alir 4. Langkah kerja pengukuran suhu air.
Mencelupkan
Menyiapkan secara langsung
termomeer kedalam air yang
diteliti

Diamkan hingga
Mencatat data
angka stabil
J. Hasil Pengamatan
1) Dissolved Oxygen
Grafik Jumlah Tetesan titran pada titik sampling

Grafik volume Thiosulfat

Grafik rata-rata volume thiosulfat per waktu pengamatan


2) Turbiditas
Tabel Hasil pengamatan Turbiditas

3) Konduktivitas
Grafik hasi pengamatan konduktivitas air

Tabel hasi pengamatan konduktivitas air


Rata-rata (pengulangan 3x)
Titik
Pagi Siang
Titik 1 0,551 mS 0,604 mS
Titik 2 0,549 mS 0,597 mS
Titik 3 0,551 mS O,597 mS
4) pH
Tabel hasil pengamatan Rerata pH air

5) Suhu
Tabel hasil pengamatan suhu air
Rata-rata (pengulangan 3x)
Titik
Pagi Siang
Titik 1 20°C 22°C
Titik 2 20°C 22°C
Titik 3 20°C 22°C

K. Pembahasan
Dari uji pH pada sampel air Sungai Cibeureum telah dilakukan,
diperoleh data bahwa, pH pada air sungai yang uji berada pada pH 6.
Berdasarkan Permenkes RI Nomor: 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang
Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air, persyaratan pH yang
terkandung dalam air bersih yaitu 6,5-8,5. Pada uji kekeruhan air sungai
dengan menggunakan alat turbidity meter, diperoleh nilai rata-rata yaitu
24,87 NTU. Standard air bersih ditetapkan oleh Permenkes RI
No.16/MENKES/PER/IX/1990, yaitu kekeruhan yang dianjurkan
maksimum 25 NTU. Untuk suhu diketahui sebesar 22°C.
Pada pengukuran konduktivitas air yang tedapat dalam air sungai
Cibereum diperoleh hasil rata-rata yaitu 0,575 mS atau 575 µmhos/cm. Jika
merujuk pada peraturan menteri kesehatan, maka konduktivitas air di sungai
cibeureum jauh melebihi ambang yang ditetapkan untuk air tanah sebesar
20-200 µmhos/cm
Selanjutnya yaitu, pada pengukuran kadar DO (Dissolved Oxygen)
atau kadar oksigen terlarut dalam air Sungai Cibereum ini pada pagi hari
dari tiga titik pengambilan sampel dengan tiga kali pengulangan titrasi yaitu
38,4 mg O2/L. Kemudian pada siang hari kadar DO rata-rata dari tiga titik
pengambilan sampel dengan tiga kali pengulangan titrasi yaitu 46,1 mg
O2/L.Idealnya, Kadar oksigen (O2) terlarut dalam perairan tawar berkisar
antara 15 mg/l pada temperatur 0°C dan 8 mg/l pada temperatur 25°C.
Sedangkan, kadar oksigen (O2) terlarut dalam perairan alami biasanya
kurang dari 10 mg/l.
Data hasil titrasi winkler diprediksi mengalami penyimpangan, hal
ini kemunginan akibat peneliti tidak melakukan titrasi dengan benar. Teknik
titrasi atau bahan titrasi bisa saja tidak tepat. Ketika penambahan amilum
seharusnya larutan sample berwarna ungu ketika diberi beberapa tetes saja,
namun dalam pengamatan tetes amilum diperlukan lebih dari 20 tetes untuk
1 sampel.
L. Kesimpulan
1. Profil air Sungai Cibeureum memiliki rerata suhu 22°C dan sesuai
ambang batas yang ditetapkan
2. pH air sungai Cibeureum memiliki rerata pH 6, dibawah ambang batas
yang ditetapkan
3. Air sungai Cibeurem tergolong keruh dengan nilai kekeruhan sebesar 24
NTU pagi hari dan 54 NtU di siang hari.
4. Air sungai cibeureum memiliki konduktivitas yang sangat jauh dari
amang yang ditetapkan dengan nilai 575 µmhos/cm.
5. Kadar oksigen terlarut pada air sungai Cibeureum yaitu 38,4 mg O2/L
dan 46,1 mg O2/L pada 2 waktu berbeda, melebihi ambang batas yang
ditentukan.
Daftar Pustaka

Chang, C., Sommerfeldt T.G., Carefoot J.M dan Schaalje G.B., Research Station,
Agriculture Canada, Lethbridge 63, halaman 79-86 (1982)

Das, R., Ranjan N.S., Kumar P.R., dan Mitra D., Asian Journal of Water,
Environment and Pollution 3, halaman 143-146 (2005)

Djuhariningrum T., Pusat Pengembangan Geologi Nuklir-Batan, Jakarta (2005)


Effendi, H., Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan (Penerbit Kanisius. Yogyakarta, 2003) hal 75-76

Ezeweali, D., Oyem, H.H. dan Oyem, I.M., Research Journal of Environmental
Science 8, halaman 444-450 (2014)

Hayashi, M., Environmental Monitoring and Assessment 96, halaman 119-128


(2003)

Herlambang, A., Pencemaran Air dan Strategi Penanggulangannya, JAI, Volume


2, Nomor 1, Peneliti Pusat Teknologi Lingkungan, BPPT, halaman 16-
28 (2006)

Odum, E.P. 1994. Dasar-dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Universitas Gadjah Mada
Press, Yogyakarta (Penerjemah Tjahjono Samingar).

Parkin, G. F., Mccarty, P. L., Sawyer, C. N., Chemistry For Environmental


Engineering and Science, Fifth Edition (The McGraw-Hill Companies,
New York, America, 2003) hal 245-247

Paul, M.K. dan Sen, S., Current World Environment 7, halaman 251-258 (2012)