Anda di halaman 1dari 25

Profil Klimatik dan Edafik Taman Lansia Bandung

Laporan Praktikum
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekologi Umum

Dosen pengampu:
Drs. H. Yusuf Hilmi A, M.Sc.
Drs. Amprasto, M.Si.
Tina Safaria, M.Si.
Rini Solihat, M.Si.

Disusun Oleh
Aldi Maulana Azis 1605737
Kelompok 5 Pendidikan Biologi B 2016

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2019
A. Judul
Profil Klimatik dan Edafik Taman Lansia Bandung
B. Latar Belakang
Ruang publik sebagai bagian dari ruang kota tidak dapat dipisahkan
keberadaannya dari suatu kota. Menurut Sunaryo (2004), sistem kota
merupakan pemenuhan kebutuhan hidup bagi masyarakat yang meliputi
tempat tinggal, bekerja, dan rekreasi. Ruang publik memiliki arti penting
untuk wilayah atau kawasan perkotaan, sebab peranan utama ruang publik
adalah menyelaraskan pola kehidupan masyarakat suatu kota
(Kustianingrum, 2013).
Kehadiran ruang publik di suatu kota menjadi salah satu pilihan
tempat bagi masyarakat untuk menghilangkan penat yang dirasa. Menurut
Iswanto (2006) ruang publik merupakan ruang terbuka yang bisa memuat
berbagai macam aktivitas di dalamnya. Ruang terbuka juga bisa disebut
sebagai arsitektur tanpa atap yang mengumpamakan lantainya adalah bumi,
dindingnya berupa bangunan- bangunan dan alam di sekitarnya, dan
atapnya adalah langit. Ruang publik sebagai ruang terbuka terdiri dari ruang
terbuka hijau publik dan ruang terbuka non hijau publik. Ruang terbuka
hijau publik adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok, yang
penggunaanya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang
tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam yang
dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang
digunakan untuk kepentingan masyarakat. Sedangkan ruang terbuka non
hijau publik merupakan ruang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak
termasuk kategori RTH, berupa lahan yang diperkeras maupun yang berupa
badan air yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten
yang digunakan untuk kepentingan masyarakat (Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum Nomor 5 Tahun 2008).
Taman kota merupakan salah satu jenis ruang terbuka hijau publik
yang biasanya dijadikan tempat untuk menghabiskan waktu libur atau
sekedar waktu luang di tengah rutinitas. Taman kota yang berfungsi sebagai
ruang publik tentu akan menjadikan lokasi ini ramai dikunjungi banyak
orang. Mereka datang melakukan aktivitas yang berbeda-beda, misal ada
yang sekedar membaca buku sambil duduk di bawah pohon, jogging, dan
mungkin ada yang datang ke taman kota dalam misi untuk berdagang.
Taman kota sebagai ruang publik ibarat suatu wadah di mana di dalamnya
terjadi interaksi sosial.
C. Pertanyaan Penelitian
1) Bagaimana temperatur tanah rata-rata di Taman Lansia?
2) Beagaimana pH tanah rata-rata di Taman Lansia?
3) Berapa persentase rata-rata kelembaban tanah di Taman Lansia?
4) Bagaimana tekstur tanah di Taman Lansia?
5) Bagaimana rata-rata Materi Organik Terlarut pada tanah di Taman
Lansia?
6) Bagaimana nilai intensitas cahaya di Taman Lansia?
7) Bagaimana nilai suhu udara di Taman Lansia?
8) Bagaimana nilai kelembapan udara di Taman Lansia?
9) Bagaimana nilai kecepatan angin di Taman Lansia
D. Rumusan Masalah
Bagaimana Keadaan Tanah dan faktor klimatik di Taman Lansia?
E. Tujuan
1) Menganalisis data temperatur rata-rata tanah di Taman Lansia
2) Menganalisis data pH rata-rata tanah di Taman Lansia
3) Menganalisis persentase rata-rata kelembaban tanah di Taman
Lansia
4) Menganalisis tekstur tanah di Taman Lansia
5) Menganalisis Materi Organik Terlarut pada tanah di Taman Lansia
6) Untuk mengetahui profil faktor klimatik di Taman Lansia
berdasarkan 3 zona yang telah ditentukan.

F. Landasan Teori
1. Faktor Klimatik
Faktor klimatik yaitu faktor iklim yang meliputi suhu, sinar
matahari, kelembapan, angin, dan curah hujan (Bareja, 2011). Intensitas
cahaya matahari yang diterima oleh suatu daerah akan mempengaruhi
kelembapan atau kadar uap air di udara. Selain itu, cahaya matahari juga
menyebabkan peningkatan suhu atau temperatur udara. Adanya
perbedaan temperature menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan
udara, sehingga udara mengalir atau bergerak membentuk angin
(Bareja, 2011).
a. Intensitas cahaya
Intensitas cahaya adalah jumlah cahaya yang menyinari
suatu tempat. Pencahayaan dengan satuan lux (lm/m2), dimana
lm adalah lumens dan m2 adalah satuan dari luas permukaan
jumlah cahaya yang jatuh pada sebuah bidang permukaan.
Tingkat pencahayaan pada suatu ruangan yaitu tingkat 3
pencahayaan rata-rata pada bidang kerja, dengan bidang kerja
yang dimaksud adalah sebuah bidang horizontal imajiner yang
terletak setinggi 0,75 meter di atas lantai pada seluruh ruangan
(SNI Tata Perancangan Sistem Pencahayaan Buatan pada
Bangunan Gedung, 2001).
Arus cahaya dalam lumens yang diemisikan setiap sudut
ruang (pada arah tertentu) oleh sebuah sumber cahaya. Biasanya
suatu sumber cahaya tidak memancarkan jumlah fluks persatuan
sudut ruangan yang sama ke semua arah, umumnya intensitas
cahaya suatu sumber berbeda untuk arah yang berlainan.
Perbedaan intensitas cahaya terjadi karena adanya penutupan
awan dan waktu pengukuran yang berbeda. Menurut temoat,
disebabkan oleh perbedaan letak lintang serta keadaan atmosfer
terutama awan. Menurut waktu, perbedaan radiasi terjadi dalam
sehari (dari pagi sampai sore hari) maupun musiman (dari hari
ke hari). Pada skala mikro arah lereng sangat menentukan
jumlah radiasi yang di terima (Handoko, 1995).

b. Suhu
Derajat panas atau dingin suatu zat disebut suhu
(temperatur). Suhu biasa dinyatakan dalam Celsius (°C). Faktor
klimatik ini memengaruhi semua proses pertumbuhan tanaman,
seperti pada proses fotosintesis, respirasi, transpirasi,
perkecambahan, sintesis protein, dan translokasi (Bareja, 2011).
Pada umumnya, tanaman dapat bertahan pada rentang
suhu 0°-50°C. Aktivitas enzim dan reaksi-reaksi kimia secara
umum meningkat pada peningkatan suhu. Namun, pada suhu
yang sangat tinggi dapat menimbulkan denaturasi enzim dan
protein. Suhu yang terlalu rendah dapat pula menyebabkan
penghambatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Contohnya, absorpsi air dapat terhambat saat temperatur tanah
rendah karena protoplasma lebih sedikit permeable (Bareja,
2011).

c. Kelembapan Udara
Kelembapan udara adalah jumlah uap air pada udara
yang ditunjukan dalam persen sebagai jumlah maksimum uap
air di udara pada suhu tertentu. Banyaknya uap air di udara
berkisar pada 0,01% pada daerah kutub dan hingga 5% pada
daerah tropis. Kelembapan udara memengaruhi pengaturan
terbuka dan tertutupnya stomata pada saat transpirasi maupun
fotosintesis (Bareja, 2011).
Kelembapan udara merupakan salah satu unsur penting
bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Kelembapan udara juga
menentukan bagaimana mahluk hidup tersebut dapat
beradaptasi dengan kelembapan yang ada di lingkungannya
(Tatang, 2006). Kelembapan udara biasanya digunakan untuk
meningkatkan produktifitas dan perkembangan tumbuhan budi
daya. Alat untuk mengukur kelembapan disebut higrometer.
Kelembapan udara memiliki satuan persen yang merupakan
persentase kandungan uap air dalam udara (Hardjodinomo,
1975). Angka persentase kelembapan diekspresikan dalam
kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau kelembapan
relatif. Total massa uap air per satuan volume udara disebut
sebagai kelembapan absolut. Perbandingan antara massa uap air
dengan massa udara lembab dalam satuan volume udara tertentu
disebut sebagai kelembapan spesifik (Hardjodinomo, 1975).
Massa udara lembab adalah total massa dari seluruh gas-gas
atmosfer yang terkandung, termasuk uap air. jika massa uap air
tidak diikutkan, maka disebut sebagai massa udara kering
(Hardjodinomo, 1975).
Kelembapan relatif yang merupakan ukuran bagi
kemampuan udara pada suhu yang ada untuk menampung uap
lebih lanjut (Prasasti, 2005). Kelembapan relatif diukur dengan
menggunakan 2 buah termometer yang dibiarkan di udara
terbuka, salah satu termometer dibungkus dengan kain basah
pada ujungnya dan yang lainnya kering. Hampir semua uap di
atmosfer adalah hasil penguapan dari permukaan air. Tinggi
rendahnya kelembapan sangat bervariasi di suatu tempat karena
sangat bergantung pada beberapa faktor, seperti suhu, tekanan
udara, pergerakan angin, kuantitas dan kualitas penyinaran
vegetasi, dan ketersediaan air di suatu tempat (air tanah,
perairan) Makin tinggi temperatur makin banyak uap air yang
dapat dikandung oleh. Faktor lain yang dipengaruhi oleh
kelembapan relatif adalah evaporasi. Jika kelembapan relatif
naik maka kemampuan udara untuk menyerap air akan
berkurang (Linsley, 1989). 5

d. Kecepatan angin S
Kecepatan angin merupakan rata-rata laju pergerakan
angin, dimana gerakan horizontal udara terhadap permukaan
bumi suatu waktu diperoleh dari hasil pengukuran harian dan
dirata-ratakan setiap bulan dan memiliki suatu knot. Kecepatan
angin dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain gradien
tekanan horizontal, ketinggian tempat, dan letak geografis
(Neiburger, 1995).
2. Faktor Edafik

Faktor-faktor edafik adalah faktor-faktor yang bergantung pada


keadaan tanah, kandungan air dan udara di dalamnya. Perbedaan-
perbedaan pada tanah sering merupakan penyebab utama terjadinya
perubahan vegetasi dalam daerah iklim yang sama. Oleh sebab itu,
faktor edafik mempunyai arti yang sangat besar bagi geografi tumbuhan.

Tanah dapat dianggap sebagai bahan lapisan permukaan kerak


bumi yang tidak terkonsolidasi, yang terdapat di bawah setiap vegetasi
di dalam udara dan serasah yang belum membusuk, dan meluas ke
bawah sampai batas yang masih berpengaruh terhadap tumbuhan yang
hidup di atas permukaannya. Perkembangan tanah dalam perkembangan
vegetasi sangat erat hubungannya satu sama lain, yang keduanya
terutama dikendalikan oleh iklim.

Kondisi tanah atau edafik merupakan salah satu faktor yang


mempengaruhi persebaran makhluk hidup terutama tumbuhan. Tanah
merupakan media tumbuh dan berkembangnya tanaman. Tingkat
kesuburan tanah merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap
persebaran tumbuhan. Adapun yang menjadi parameter kesuburan tanah
antara lain kandungan humus atau bahan organik, unsur dan teksur
tanah, serta ketersediaan air dalam pori-pori tanah. Ini berarti semakin
subur tanah maka kehidupan tumbuhan akan semakin banyak jumlah
dan keanekaragamannya. Tanah-tanah yang subur, seperti tanah
vulkanis dan andosol merupakan media optimal bagi pertumbuhan
tanaman

Tanah banyak mengandung unsur-unsur kimia yang diperlukan


bagi pertumbuhan flora di dunia. Kadar kimiawi berpengaruh terhadap
tingkat kesuburan tanah. Keadaan struktur tanah berpengaruh terhadap
sirkulasi udara di dalam tanah sehingga memungkinkan akar tanaman
dapat bernafas dengan baik. Keadaan tekstur tanah berpengaruh pada
daya serap tanah terhadap air. Suhu tanah berpengaruh terhadap
pertumbuhan akar serta kondisi air di dalam tanah. Komposisi tanah
umumnya terdiri dari bahan mineral anorganik (70%-90%), bahan
organik (1%-15%), udara dan air (0-9%). Hal-hal di atas menunjukkan
betapa pentingnya faktor tanah bagi pertumbuhan tanaman. Perbedaan
jenis tanah menyebabkan perbedaan jenis dan keanekaragaman
tumbuhan yang dapat hidup di suatu wilayah.

Faktor edafik atau faktor tanah sangat berpengaruh besar


terhadap pertumbuhan tanaman. Hal ini disebabkan kebutuhan utama
yang menjamin kehidupan tumbuhan berasal dari tanah, seperti unsur
hara, air, dan udara. Oleh sebab itu, tingkat kesuburan tanah sangat
mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan. Parameter kesuburan tanah
adalah sebagai berikut:

a. Tekstur Tanah (ukuran butiran tanah)


Tekstur tanah adalah perbandingan relatif berbagai partikel tanah
dalam suatu massa tanah terutama perbandingan antara pasir, debu
dan lempung. Tekstur tanah sangat penting dalam kaitannya dengan
kapasitas menampung air dan udara tanah. Tanah dengan proporsi
partikel –partikel yang lebih besar dapat mempunyai tata air yang
baik. Tanah yang halus biasanya memiliki potidak tersebar merata.
Selain itu alirannya juga sangat lambat sehingga tidak
menguntungkan bagi tumbuh-tumbuhan.
Tanah-tanah yang butirannya terlalu kasar, seperti kerikil dan pasir
kasar, atau yang butirannya terlalu halus, seperti lempung kurang
sesuai bagi pertumbuhan vegetasi. Tanah yang baik bagi media
pertumbuhan vegetasi adalah tanah dengan komposisi perbandingan
butiran pasir, debu, dan lempungnya seimbang. Pasir adalah jenis
butiran tanah yang kasar, debu butirannya agak halus, sedangkan
lempung merupakan butiran tanah yang sangat halus.
b. Tingkat Kegemburan Tanah
Tanah-tanah yang gembur jauh lebih baik jika dibandingkan dengan
tanah-tanah yang padat. Tanah yang gembur memudahkan akar
tumbuhan untuk menembus tanah dan menyerap mineral-mineral
yang terkandung dalam tanah. Oleh karena itu, para petani sering
membajak tanahnya dengan tujuan agar tanah tetap gembur dan
tingkat kesuburan nya dapat tetap terjaga.
c. Mineral Organik
Humus merupakan salah satu mineral organik yang berasal dari
jasad renik makhluk hidup yang dapat terurai menjadi tanah yang
subur dan sangat diperlukan bagi pertumbuhan suatu vegetasi.
d. Mineral Anorganik (unsur hara)
Mineral anorganik adalah mineral yang berasal dari hasil pelapukan
batuan yang terurai dan terkandung di dalam tanah yang dibutuhkan
tumbuhan, seperti Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O2),
Nitrogen (N), Belerang (S), Posfor (P), dan Kalsium (K).
e. Kandungan Air Tanah
Air yang terdapat di dalam tanah terutama air tanah permukaan dan
air tanah dangkal merupakan salah satu unsur pokok bagi per
tumbuhan dan perkembangan vegetasi. Air sangat membantu dalam
melarutkan dan mengangkut mineral-mineral yang terkandung
dalam tanah sehingga mudah diserap oleh sistem perakaran pada
tumbuhan.
f. Kandungan Udara Tanah
Kandungan udara di dalam tanah antara tanah di lahan tertentu
Dengan lahan lainnya berbeda-beda. Hal tersebut terjadi karena
adanya tingkat kegemburan tanah yang berbeda-beda. Semakin
tinggi tingkat kegemburan suatu tanah, semakin besar kandungan
udara di dalam tanah. Kandungan udara di dalam tanah diperlukan
tum buhan dalam respirasi melalui sistem perakaran pada tumbuhan.

G. Metode penelitian
Jenis Penelitian : Deskriptif kuantitatif
Sampel : Tanah yang berada di zona 1,2, dan 3
Populasi : Tanah di Taman Lansia, Bandung
Tempat : Taman Lansia, Bandung
Hari, tanggal : Sabtu, 9 Maret 2019
Waktu : Pukul 09.00 sampai 12.00
Teknik sampling : Purposive sampling
Variabel bebas : tanah di 3 zona
Variabel terikat : Faktor Edafik berupa MOT, pH tanah,
Kelembaban tanah, Suhu tanah, dan Tekstur tanah
di Taman Lansia, Bandung
Gambar 1. Pembagian Zona penelitian di taman lansia

H. Alat dan Bahan


Tabel H.1. Alat yang Digunakan dalam Pengamatan Klimatik

No. Nama Alat Jumlah


1. Termohigrometer 1 buah (alat manual)
2. Termometer 1 buah (alat manual)
3. Anemometer 1 buah (alat digital)
4. Lux Meter 1 buah (alat digital)
5. Evaporimeter 1 buah (alat manual)

Tabel H.2. Alat yang Digunakan dalam Pengamatan Klimatik

No. Nama Alat Jumlah


1. Soil Tester 1 buah (alat manual)
2. Sekop 1 buah (alat manual)
3. Termometer tanah 1 buah (alat digital)
4. Plastik sampling 1 buah (alat digital)
5. Shieve bertingkat 1 buah (alat manual)
6. Pipet 7
7. Gelas ukur 5
8. Tabung Erlenmeyer 3
9. Timbangan analitis 1
10. Kertas Saring 27
Tabel H.3. Bahan Aerasi
No. Nama bahan Jumlah
1. HCL Secukupnya
2. KCNS Secukupnya
3. K₃Fe(CN)₆ Secukupnya

Tabel H.4. Bahan uji MOT


No. Nama bahan Jumlah
1. K₂Cr₂O₇ Secukupnya
2. H₂SO₄ Secukupnya
3. Aquades Secukupnya
4. H₃PO₄ Secukupnya
5. Diphenylamin Secukupnya
6. Fe(NH₄)₂.(SO₄).6H₂O Secukupnya

I. Langkah Kerja
1) Klimatik

Bagan I.1. Langkah Kerja Pengukuran Suhu Udara

Thermometer
digantungkan pada
Lokasi untuk Angka yang tertera
pohon atau dipegang
pengambilan data pada alat dicatat
selama minimal 5
ditentukan. dalam nilai Celcius.
menit sampai air raksa
berhenti bergerak.

Bagan I.2. Langkah Kerja Pengukuran Kelembapan Udara

Lokasi untuk
Thermohygrometer
pengambilan data
diisi akuades.
ditentukan.

Lalu digantungkan
pada pohon atau
Angka yang tertera
dipegang selama
pada alat dicatat
minimal 5 menit
dalam nilai %.
sampai air raksa
berhenti bergerak.
Bagan I.3. Langkah Kerja Pengukuran Intensitas Cahaya

Prob lux meter


Lokasi untuk diposisikan secara
pengambilan data horizontal dengan
ditentukan. tutup masih
terpasang.

Satuan diatur lalu


dinyalakan, buka Angka yang
tutup prob tunggu tertera pada alat
hingga angka stabil dicatat.
atau tekan hold.

Bagan I.4. Langkah Kerja Pengukuran Kecepatan Angin

Prob
Lokasi untuk anemometer
pengambilan dihadapkan
data ditentukan. kearah
datangnya angin.

Satuan diatur lalu Angka yang


dinyalakan, tunggu tertera pada alat
hingga angka dicatat dalam
stabil. satuan m/s.

Bagan I.5. Langkah Kerja Pengukuran Kecepatan Penguapan

Evaporimeter diisi
Lokasi untuk Kertas saring menggunakan akuades,
pengambilan data dibuat dengan lalu ditutup
ditentukan. ukuran 2x2 cm. menggunakan kertas
saring

Alat digunakan
Evaporimeter
hingga
dibalik secara
memunculkan angka
perlahan supaya
yang dibutuhkan
air tidak tumpah.
(%).
2) Edafik

Bagan Alir Uji Aerasi


Bagan Alir Uji MOT (Walkley’s black method)

Sampel tanah partikel 20 ml H2SO4


10 ml K2Cr2O7 1 N
0,2 mm diambil 0,5 ditambahkan secara
ditambahkan kemudian
grdan dimasukkan ke hati-hati sambil diaduk
diaduk
Erlenmeyer selama 1 menit

Campuran didiamkan Larutan tersebut


selama 20-30 menit diencerkan dengan
sampai terjadi reaksi akuades sebanyak 200
pemisahan ml

Buret diisi dengan ferro


10 ml H3PO4 85%, 0,2 gram
ammonium sulphat lalu
NaF, dan 30 tetes indikator
larutan sampel tanah
diphenilamin ditambahkan
dititrasi

J. Hasil Pengamatan

Tabel J.1. Hasil Pengamatan Pengukuran Rata-rata Suhu Udara di Taman


Lansia
Titik Pengambilan Sampel
Zona
Titik 1 Titik 2 Titik 3
o o
Zona 1 27,7 C 27 C 27 oC
Zona 2 28 oC 27,7 oC 27,7 oC
Zona 3 27,7 oC 27,7 oC 28 oC
Diagram J.1. Hasil Pengamatan Pengukuran Rata-rata Suhu Udara

Diagram Nilai Rata-rata Suhu Udara di Taman


Lansia (°C)
28,2
28
27,8 28 28
27,6 27,7 27,7 27,7 27,7 27,7
27,4
27,2
27
26,8 27 27
26,6
26,4
Zona 1 Zona 2 Zona 3

Titik 1 Titik 2 Titik 3

Tabel J.2. Hasil Pengamatan Pengukuran Rata-rata Kelembapan Udara di


Taman Lansia
Titik Pengambilan Sampel
Zona
Titik 1 Titik 2 Titik 3
Zona 1 80% 88% 85,3%
Zona 2 79,67% 82,3% 82,3%
Zona 3 79,67% 77% 74,67%
Diagram J.2. Hasil Pengamatan Pengukuran Kelembapan Udara di Taman
Lansia

Diagram Nilai Rata-rata Kelembapan Udara di Taman


Lansia (%)
90

85

80

75

70

65
Zona 1 Zona 2 Zona 3

Titik 1 Titik 2 Titik 3

Tabel J.3. Hasil Pengamatan Pengukuran Intensitas Cahaya di Taman Lansia


Zona 1
Zona Titik Pengulangan Hasil Pengulangan (lux)
1 8,2
1 2 6,2
3 1,8
1 8,6
1 2 2 3,6
3 1,8
1 8,4
3 2 3,4
3 1,9

Tabel J.4. Hasil Pengamatan Pengukuran Intensitas Cahaya di Taman Lansia


Zona 2
Zona Titik Pengulangan Hasil Pengulangan (lux)
1 7,6
2 1 2 3,3
3 2,1
1 5,6
2 2 3,6
3 1,7
1 6,2
3 2 2,5
3 1,7

Tabel J.5. Hasil Pengamatan Pengukuran Intensitas Cahaya di Taman Lansia


Zona 3
Zona Titik Pengulangan Hasil Pengulangan (lux)
1 10,34
1 2 2,9
3 1,3
1 11
3 2 2 2,5
3 1,3
1 12
3 2 2,6
3 1,3

Diagram J.3. Hasil Pengamatan Pengukuran Intensitas Cahaya di Taman


Lansia Zona 1

Diagram Hasil Pengukuran Intensitas Cahaya Di


Taman Lansia Zona 1 (lux)
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
Titik 1 Titik 2 Titik 3

Pengulangan 1 Pengulangan 2 Pengulangan 3


Diagram J.4. Hasil Pengamatan Pengukuran Intensitas Cahaya di Taman
Lansia Zona 2

Diagram Hasil Pengukuran Intensitas Cahaya Di


Taman Lansia Zona 2 (lux)
8
7
6
5
4
3
2
1
0
Titik 1 Titik 2 Titik 3

Pengulangan 1 Pengulangan 2 Pengulangan 3

Diagram J.5. Hasil Pengamatan Pengukuran Intensitas Cahaya di Taman


Lansia Zona 3

Diagram Hasil Pengukuran Intensitas Cahaya Di


Taman Lansia Zona 3 (lux)
14

12

10

0
Titik 1 Titik 2 Titik 3

Pengulangan 1 Pengulangan 2 Pengulangan 3


Tabel J.6. Hasil Pengamatan Pengukuran Rata-rata Kecepatan Angin di Taman
Lansia
Rata-rata Hasil 3x Pengulangan (m/s)
Titik
Zona 1 Zona 2 Zona 3
Titik 1 0,17 0,4 1,3
Titik 2 1,5 0,17 1,77
Titik 3 1,3 0,87 0,57

Diagram J.6. Hasil Pengamatan Pengukuran Rata-rata Kecepatan Angin di


Taman Lansia

Nilai Rata-rata Kecepatan Angin di Taman Lansia


Bandung (m/s)
3,5

2,5

1,5

0,5

0
Zona 1 Zona 2 Zona 3

Titik 1 Titik 2 Titik 3

Tabel J.7. Hasil Pengamatan Pengukuran Kecepatan Penguapan di Taman


Lansia
Luas Kertas Wilayah
Waktu Rata-rata
Saring Zona 1 Zona 2 Zona 3
1 jam 2 cm x 2 cm 0,1 ml 0,1 ml 0,1 ml 0,1 ml
2
= 4 cm
Diagram J.7. Hasil Pengamatan Pengukuran Kecepatan Penguapan di Taman
Lansia

Hasil Pengukuran Kecepatan Penguapan di Taman


Lansia (ml)
0,12

0,1

0,08

0,06

0,04

0,02

0
Kecepatan Penguapan

Zona 1 Zona 2 Zona 3

Tabel J.8. Rata-rata suhu tanah

Suhu Tanah (oC)


Ulangan

Zona 1 Zona 2 Zona 3


ke-

Titik 1 Titik 2 Titik 3 Titik 1 Titik 2 Titik 3 Titik 1 Titik 2 Titik 3


1 24oC 24oC 25oC 26oC 24oC 25oC 25oC 24oC 24oC
2 30oC 24oC 25oC 29oC 25oC 26oC 25oC 24oC 25oC
3 25oC 25oC 25oC 25oC 26oC 28oC 30oC 25oC 25oC
Rata- 26,3 oC 24,3 oC 25 oC 26,6 oC 25 oC 26.3 26,6 oC 24,3 oC 24,6 oC
Rata

Diagram Perbandingan Rata-Rata Suhu Tanah


50

40 46,6

30
OC
20 26,3 26,6 25 25 26,3 24,6
24,3 24,3
10

0
Titik 1 Titik 2 Titik 3

Zona 1 Zona 2 Zona 3


Tabel J.9. pH tanah di taman Lansia
Pengulangan pH Tanah
Ke-
Zona 1 Zona 2 Zona 3

Titik Titik Titik Titik Titik Titik Titik Titik Titik


1 2 3 1 2 3 1 2 3

1 7 6,8 7 7 6,8 6,8 7 7 7

2 7 7 7 7 7 7 7 7 7

3 7 7 7 7 7 7 7 7 7

Rata-rata 7 6,9 7 7 6,9 6,9 7 7 7

Diagram Rata-Rata pH Tanah


13
11
9
7
5
3
1
Titik 1 Titik 2 Titik 3

Zona 1 Zona 2 Zona 3

Tabel 10. Presentasi Zat organik

Titik Persentasi Zat Organik (%)

Zona 1 Zona 2 Zona 3

Titik 1 7,7 4,3 4,7

Titik 2 7,07 6,4 6,05

Titik 3 7,9 6,05 6,2


Diagram Perbandingan Persentasi Zat Organik (%)
10
8
6
4
2
0
Titik 1 Titik 2 Titik 3

Zona 1 Zona 2 Zona 3

K. Pembahasan

Dari hasil observasi ke-3 zona yang tiap zona diambil sebanyak 3
titik sampling dan 3 kali pengulangan untuk setiap titik. Zona 1 memiliki
rona lingkungan yang sedikit berkanopi dan sebagian besar tidak berkanopi,
teramati pada zona ini memiliki kelembapan rata-rata sebesar 84,5% dengan
kecepatan angin sebesar 1 m/s. Dalam aspek klimatik peran intensitas
cahaya sangatlah mempengaruhi banyak faktor lain, misalnya suhu udara
dan kelembapan. Semakin tinggi intensitas cahaya yang masuk maka
kelembapan akan semakin berkurang dan suhu akan naik begitupun
kecepatan penguapan. Pada zona 1 kecepatan penguapan sebesar
0,025𝑚𝐿⁄𝑐𝑚2 /𝑗𝑎𝑚
Pada zona 2 yang memiliki rona lingkkungan berkanopi, teramati
kecepatan angin hannya sebesar 0,48 m/s, kecepatan aerasi 0,025𝑚𝐿⁄𝑐𝑚2 /
𝑗𝑎𝑚 , kelembapan hanya 81 % . Terjadi anomali karena seharusnya jika
dilihat dari rona lingkungan yang memiliki kanopi paling banyak maka
seharusnya memiliki tingkat kelembapan yang lebih tinggi dari zona 1. hal
ini bisa disebabkan karena adanya perbedaan waktu dalam sampling karena
keterbatasan alat.
Sementara ada zona-3 yang dekat dengan kolam, dan memiliki
daerah tanpa kanopi, teramati memiliki kecepatan angin sebesar 1,21 m/s
dan tingkat kelembapan 77%. Dan kecepatan penguapan sebesar
0,025𝑚𝐿⁄𝑐𝑚2 /𝑗𝑎𝑚 , . Pada daerah ini kecepatan angin cukup tinggi jika
dibanding zona lain karena memiliki sedikit kanopi dan daerah tidak
berkanopi, kelembapan yang paling rendah juga dapat disebabkan intensitas
cahaya yang masuk cukup besar. Namun kecepatan evaporasi masih sama
seperti zona lain

Dari hasil pengamatan, zona 1 teramati memiliki rata-rata suhu


sebesar 25,3oC sementara zona 2 sebesar 25,2oC dan zona 3 sebesar 26,7
o
C, ini dikarenakan rona lingkungan zona 3 memiliki sebagian besar daerah
yang ditak berkanopi dibandingkan zona 2 dan 1 sehingga suhu tanah pada
3 titik tiap zona relatif tinggi dibanding dengan daerah yang berkanopi
misalya zona 1. suhu yang tinggi juga berpengaruh pada tingkat kelembapan
tanah di titik sampling tiap zona, zona 1 memiliki rata-rata kelembapan
tanah sebesar 34,6%, zona 2 sebesar 43,6% dan zona 3 sebesar 35,5%.
Meskipun zona 3 memiliki suhu paling tinggi namun kelembapan tanahnya
bukan yang paling rendah, hal ini bisa saja terjadi karena zona ini dekat
dengan daerah aliran sungai dan kolam. Zona 2 memiliki kelembapan tanah
paling tinggi karena memiliki suhu tanah rata-rata yang cukup rendah
dengan rona lingkungan yang sangat rimbun dengan pepohonan sehingga
cahaya tidak langsung mengenai permukaan tanah. Jenis tanah juga bisa
berpengaruh terhadap kemampuan penyimpanan air, namun dalam
penelitian kali ini tidak dilakukan penelitian terhadap karakteristik tanah.
Dalam pengukuran pH tanah, tidak nampak adanya perubahan pH yang
signifikan, angka pada soil tester relatif menunjukkan pada angka 6,8
sampai 7. dari hasil pengamatan aerasi tanah, maka dapat dilihat bahwa
tanah di taman lansia memiliki aerasi yang baik atau kandungan oksigen
yang cukup.

Dari hasil uji MOT dapat dilihat bahwa tanah di zona 1 memilik nilai
MOT sebesar 7,5% . Nilai ini termasuk baik karena cukup mengandung
materi organik terlarut, jika dilihat dari rona lingkungan hal ini juga daat
dipengaruhi oleh adanya serasah dari pohon atau rumput kering yang
membusuk dan organisme lain. zona 2 dan 3 bernilai MOT masing-masing
sebesar 5,58% dan 5,65%.
L. Kesimpulan

a. Taman lansia memiliki rata-rata kecepatan angin sebesar 0,9 m/s

b. Taman lansia memiliki kecepatan penguapan rata-rata sebesar


0,025𝑚𝐿⁄𝑐𝑚2 /𝑗𝑎𝑚 ,

c. Taman lansia memiliki nilai intensitas cahaya sebesar....

d. Taman lansia memiliki rata-rata kelembapan udara sebesar 80,1%

e. Kecepatan penguapan, suhu, kelembapan dan kecepatan angin


dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan rona lingkungan.

f. Suhu tanah rata-rata di taman lansia sebesar 25,73oC

g. Kelembapan rata-rata tanah di taman lansia sebesar 37,9%

h. pH rata-rata tanah di taman lansia sebesar 7

i. Kandungan oksigen dalam tanah di taman lansia cukup baik.

j. Kadar rata-rata materi organik terlarut di tanah taman lansia sebesar


6,24%
Daftar Pustaka

Bareja, B. (2011). Climatic Factors Promote or Inhibit Plant Growth and


Development. [Online] tersedia: http://www.cropsreview.com/climatic-
factors.html.
Handoko. (1995). Klimatologi dasar. Bogor: Pustaka Jaya
Hardjodinomo. (1975). Klimatologi. Jakarta: Universitas Indonesia Press
Linsley, K. (1989). Hidrologi Untuk Insinyur. Jakarta: Erlangga.
Neiburger. (1995). Memahami Lingkungan Sekitar Kita. Bandung: ITB.
SNI 03-6575-2001. Tata cara Perancangan Sistem Pencahayan Buatan
Pada Bangunan Gedung. Jakarta: BSN.
Tatang. (2006). Ilmu Iklim dan Pengairan. Bandung: Binacipta.