Anda di halaman 1dari 7

Pengauditan 2

Pertemuan 4
Rangkuman Bab 10 – The Audit Process by Iain Gray, Stuart Manson
Substantive Testing, Computer-assisted Audit Techniques and Audit Program

ANGELA IRENA RAHARDJA – 1506677793


CAHYO KUMARA – 1506730123
DWI ANANTO – 1306453994

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS INDONESIA
2018
A. Substantive Testing of Transactions, Account Balances and Disclosures

Definisi prosedur substantif dan pengujian kontrol berdasarkan ISA 330:


a. Substantive procedure atau prosedur substantif merupakan suatu prosedur audit yang
dirancang untuk mendeteksi salah saji material di level asersi yang meliputi pengujian
detail (test of details) dan prosedur analitis substantif.
b. Test of controls atau pengujian kontrol merupakan suatu prosedur audit yang dirancang
untuk mengevaluasi efektivitas operasional dari kontrol dalam mencegah atau mendeteksi
dan mengoreksi salah saji material di level asersi.

Seperti namanya, pengujian detail berkaitan dengan pemeriksaan merinci terhadap transaksi
dan saldo, seperti memilih catatan pengiriman barang (GDN) dan memeriksanya apakah catatan
tersebut selalu menyebabkan penyiapan faktur penjualan. Sementara itu, prosedur analitis
substantif tidak terlalu memedulikan detail, seperti misalnya seorang auditor memeriksa apakah
persentase laba kotor terlihat seperti seharusnya dengan turnover menjadi elemen penting dalam
perhitungannya. Pengujian substantif bisa hanya dibatasi kepada prosedur analitis saja apabila
Auditor puas karena kontrol perusahaan di suatu area sudah cukup kuat. Jadi, jika kontrol dinilai
lemah, maka prosedur analitis saja tidak cukup. Prosedur analitis secara umum lebih berguna
dalam memperoleh kepuasan audit dari transaksi bervolume besar dengan nature yang serupa
dibandingkan sebaliknya. Selain itu, terdapat beberapa alasan mengapa prosedur substantif
sebaiknya diakukan:
 Risk assessment auditor sifatnya judgemental jadi belum tentu cukup tepat dalam
mengidentifikasi semua resiko dari salah saji.
 Adanya pembatasan inheren terhadap pengendalian internal, seperti management override

Berdasarkan Case Study 10.1, dapat dilihat bahwa program audit substantif yang telah
disiapkan oleh Bill Chivers dalam melakukan audit interim dari pembelian oleh Powerbase plc
memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
 Bill belum dapat mengidentifikasi tujuan dari pengujian dan memilih basis yang tepat
untuk dibuktikan, dapat dilihat dari langkah-langkah dalam programnnya yang walaupun
membuktikan sesuatu namun tidak membuktikna yang lain.
 Bill juga tidak memberikan indikasi dari lingkup pemeriksaan, hanya mengacu kepada
beberapa beberapa pilihan sampel bukan ukurannya.
 Bill telah mengabaikan beberapa aspek dari pemeriksaan menyeluruh, seperti tidak
melakukan pembaharuan pencatatan persediaan yang sebenarnya merupakan output yang
penting dari rutinitas pembelian.
 Langkah Bill dalam pengambilan kesimpulan juga dinilai lemah karena perhatian utama
auditor dalam membuat kesimpulan mengenai kecukupan dari suatu sistem pembelian
adalah keasilian, keakuratan, serta kelengkapan dari transaksi pembelian tersebut
sementara program yang disiapkan oleh Bill tidak memerlukan kesimpulan seperti itu.
B. The Use of Software
Perangkat lunak untuk audit yang tergeneralisasi dan perangkat lunak yang dikembangkan oleh
beberapa spesifik industri digunakan sebagai alat interogasi yang digunakan untuk menguji data
dan informasi yang terdapat dalam arsip, mengonfirmasi bahwa sistem dimana data berasal telah
beroperasi dengan memuaskan, dan memastikan setiap staf telah berkembang dengan baik
sehingga dapat meningkatkan kualitas output perusahaan.
Namun, alasan utama yang sesungguhnya mendasari adanya perangkat lunak untuk audit
yang tergeneralisasi adalah karena para auditor menghadapi banyaknya variasi perangkat lunak
dan perangkat keras yang digunakan untuk melakukan audit diantara klien-kliennya. Karena
merupakan suatu hal yang membutuhkan biaya yang sangat besar apabila auditor harus membuat
perangkat lunak untuk audit sesuai dengan kebutuhan klien secara individual, maka perangkat
lunak tergeneralisasi merupakan jawaban yang tepat meskipun menjadi kurang efisien.
Perangkat lunak untuk audit tergeneralisasi memiliki beberapa fungsi, yakni dapat
mengakses arsip dengan karakteristik yang berbeda-beda dan dapat memanipulasi data tersebut
dalam hal menyortir arsip dan mengumpulkan arsip yang berbeda agar lebih mudah untuk
dipahami, dapat menyeleksi data sebagai basis dari kriteria yang telah ditentukan sebelumnya dan
menggunakan fungsi aritmatika untuk data, dapat menganalisis data secara statistik dan membagi
data ke kategori yang diinginkan, dapat memperbaharui arsip, serta dapat menghasilkan laporan
untuk auditor dengan format yang diinginkan. Untuk dapat melakukan interogasi terkait arsip,
maka pengecekan data merupakan hal yang diperlukan, seperti:
 Membandingkan antara perhitungan menggunakan FIFO dan harga pasar yang telah
disesuaikan dengan biaya penjualan dan distribusi. Tes ini dapat dilakukan untuk
menentukan apakah persediaan seharusnya dicatat pada net realizable value dibandingkan
menggunakan perhitungan FIFO. Dimana apabila total biaya terindikasi memiliki jumlah
yang lebih besar 5% dari total cost dibandingkan net realizable value, maka auditor akan
meminta ke perusahaan untuk mencetak invoice terkait detail itemnya.
 Mengidentifikasi slow moving inventory dengan mengecek detail dari semua persediaan
yang tidak dijual selama kurang lebih 90 hari
 Apabila terdapat pemasukan persediaan yang melebihi maksimum level persediaan, maka
auditor diharuskan mencari indikator apa yang menyebabkan kerusakan pada sistem
kontrol atau justru memang terdapat kegagalan dalam memenuhi ekspektasi penjualan.

Selanjutnya, hal yang dapat dilakukan oleh perangkat lunak untuk audit adalah memastikan
bahwa piutang penjualan telah tertagih seluruhnya. Agar auditor yakin bahwa jumlah yang telah
tertagih sesuai, maka auditor akan mengecek dua hal terlebih dahulu, yakni waktu peminjaman
beserta saldo yang dipinjam, serta limit kredit peminjaman
Hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah melakukan review terhadap akun piutang
penjualan dengan memutuskan piutang seperti apa yang masih harus ditagih dan tidak, sehingga
debitur yang memiliki riwayat pelunasan lambat pun harus diberikan review yang lebih mendalam.
Hal lainnya adalah perlunya mengevaluasi sistem dan cara kerja dari staf. Banyaknya tunggakan
dari debitur mengindikasikan bahwa sistem dan operasi oleh staff masih kurang memadai. Staf
perlu diingatkan untuk selalu melakukan review secara berkala terkait kemampuan bayar debitur
untuk menghindari terjadinya penunggakan. Selain memastikan piutang penjualan, perangkat
lunak untuk audit dapat memastikan invoice yang telah tercatat sesuai periode dan jumlahnya.

C. Directional Testing

Directional Testing atau pengujian direksional merupakan salah satu bentuk dari pengujian
substantif yang dirancang untuk membuktikan tidak adanya understatement dalam item debit
(pendapatan, pembayaan kas, liabilitas) atau overstatement dalam item kredit (beban, peneriman
kas, aset) yang material di laporan keuangan. Pengujuan direksional berguna untuk
memperkenalkan elemen yang teratur untuk menetapkan tujuan audit, tetapi perlu ditambah
dengan bentuk pengujuan yang lain untuk meyakinkan bahwa debit dan kredit memberikan
pandangan yang benar dan pantas secara bersamaan

D. Substantive Audit Program

1. Program Audit Substantif untuk Penggajian


Berdasarkan kasus Troston plc, seorang auditor harus memiliki tujuan utama dari dilaksanakannya
program audit, diantaranya :
 Pencatatan akuntansi dan pembiayaan sudah dicatat secara akurat, lengkap dan valid.
 Jumlah uang yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk membiayai gaji seluruh karyawan
telah diterima oleh orang yang semestinya dengan jumlah yang tepat. Misalnya diterima
oleh karyawan, pemerintah dalam bentuk pajak, dan pihak asuransi.
 Biaya gaji tersebut dibayarkan atas kegiatan para pekerja yang memberi keuntungan
(benefit) bagi perusahaan.
 Melakukan directional testing untuk akun siklus penggajian, yaitu dengan memastikan
bahwa tidak terjadi kelebihan atas jumlah gaji kotor dan tidak terjadi kekurangan atas
jumlah pengurang gaji kotor.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh auditor, antara lain :


 Program audit yang akan dijalankan harus termasuk didalamnya tujuan yang ingin dicapai.
Sehingga auditor selalu waspada tehadap tujuannya dan yakin bahwa setelah melakukan
berbagai kegiatan pengujian tersebut, auditor dapat membuat suatu kesimpulan tentang
keakuratan, kelengkapan serta keandalan dari pencatatan yang dilakukan oleh perusahaan
klien terutama tentang sistem penggajian
 Memastikan bahwa terdapat dokumen dan pencatatan yang memperlihatkan bahwa sistem
berjalan dengan sebagai mana mestinya.
 Walapun kegiatan penggajian dianggap tidak memiliki resiko yang tinggi, namun terdapat
resiko yang tinggi mengenai biaya produksi dan jumlah persediaan/produk yang
dicantumkan dalam laporan keuangan (karena biaya gaji akan menentukan biaya produksi),
sehingga dalam hal ini auditor sangat berhati-hati untuk memastikan bahwa biaya gaji
tersebut sudah dialokasikan secara benar terhadap barang yang dihasilkan.

2. Program Audit Substantif untuk Saldo Kas dan Bank

Kas adalah sumber pembiayaan yang paling likuid, dimana saldo kas dapat digunakan
sewaktu-waktu dalam proses pembiayaan dalam kegiatan operasional suatu entitas. Kas
merupakan harta lancar perusahaan yang mudah untuk dilakukan kecurangan. Hal itu terjadi
karena banyaknya transaksi yang berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran kas.
Hal pertama yang dapat dilakukan untuk melakukan program audit subtantif terhadap saldo kas
adalah fokus terhadap pencatatan pendapatan dan beban dimana dapat memberikan informasi
tentang kas masuk dan kas keluar secara akurat dan lengkap Tujuan dilakukannya audit pada saldo
kas pada dasarnya adalah untuk mengetahui bahwa kas sebagai aset perusahaan telah dijaga
dengan pengendalian internal yang memadai.

Dalam kasus Coutry Hotel, auditor memfokuskan diri terhadap pendapatan akomodasi milik
County Hotel karena jumlahnya yang signifikan. Maka langkah-langkah yang dapat dilakukan
oleh auditor adalah:
 Memastikan kelengkapan dan keakuratan pencatatan
Terkait dengan pendapatan akomodasi, County Hotel melakukan pengumpulan kas
sesegera mungkin setelah melakukan transaksi dan dicatat sebagai piutang.
Penyalahgunaan saldo kas dapat dilakukan dengan tidak mencatat transaksi tersebut dalam
pencatatan perusahaan ataupun dengan menggunakan jumlah yang tidak sesuai karena
terdapat perbedaan tingkat harga yang diberlakukan untuk setiap pelayanan di County
Hotel. Maka program audit yang dijalankan harus bisa menyatakan bahwa cara kerja yang
dilakukan oleh klien dapat mencatat pendapatan secara nyata sesuai transaksi dan dengan
jumlah yang akurat. Cara yang dapat dilakukan adalah :
 Meninjau pendapatan akomodasi dari periode tahun ini dan tahun sebelumnya dan
menilai kewajaran atas perubahan angka tersebut.
 Merninjau data statistik milik manajemen dan membicarakan hal tersebut bersama
manajemen tentang alasan terkait perubahan tersebut.
 Menelusuri kembali dokumen yang berkaitan, termasuk dokumen asli maupun
fotokopi, invoice dan hasil pencatatan.
 Memilih sampel dan melakukan uji terhadap sampel tersebut, apakah dokumen
tersebut telah tercatat dalam sistem dengan tepat serta otput yang tepat.
Pada umumnya auditor akan melakukan pengujian terhadap saldo kas dimulai dari dokumen
saldo kas bank untuk diverifikasi terhadap dokumen yang dimiliki oleh klien (backward).
 Penjagaan yang memadai (safeguarding) terhadap aset kas
Pencatatan yang memadai sebagai dasar untuk menentukan pengeluaran kas adalah syarat
dari pengendalian kas. Selain itu, auditor harus melakukan pengujian apakah pembayaran
kas yang dilakukan oleh klien telah dilakukan dengan sesuai. Pengujian tersebut dapat
dilakukan melalui :
 Peninjauan peneriman dan pembayaran kas terhadap transaksi yang tidak dilakukan
secara sering.
 Membandingkan antara total kas masuk yang berasal dari berbagai departemen
dengan jumlah yang dicatat dalam buku bank dan bank statement. Kemudian
pertanyakan jika terdapat perbedaan.
 Melakukan tes atas kebenaran suatu dokumen penerimaan ataupun pengeluaran
kepada pihak ketiga, misal pelanggan. Dan penerimaan kas berupa cek kepada
bank.

Dua pengujian audit lainnya (biasanya dilakukan interim):


 Perhitungan kas, biasanya dilakukan oleh tim audit dengan mendatangi lokasi usaha klien
secara mendadak. Tujuannya adalah agar tidak ada transaksi terlebih dahulu yang dapat
menyebabkan defisiensi bagi prosedur audit.
 Melakukan konfirmasi kepada pihak bank tentang saldo akun kas, rekening yang baru
dibuat ataupun ditutup pada tahun tersebut, dan lain-lain.

E. Communication of Audit Matters with TCWG

Governance atau tata kelola perusahaan adalah sesuatu yang digunakan untuk mendeskripsikan
peran dari seseorang yang dipercaya oleh suatu entitas. Auditor diharuskan untuk
mengkomunikasikan penemuannya selama melakukan prosedur audit terutama kepada pihak
manajemen, Board of Director, sera komite audit perusahaan. Permasalahan audit yang harus
dikomunikasikan antar lain mengenai:
 Kelemahan dari internal control
 Ketidakpatuhan terhadap peraturan yang berlaku Fraud yang melibatkan manajemen
 Pertanyaan terkait integritas manajemen, dan lain-lain
F. Audit Management with Computer

Penggunaan komputer dan teknologi informasi memiliki tujuan meningkatkan efisiensi dan
efektifitas dalam waktu pengerjaan audit karena berkaitan dengan biaya audit serta mempengaruhi
citra dari kantor akuntan publik yang bersangkutan. Manajemen audit berhubungan dengan
beberapa hal, antara lain penilaian resiko, perencanaan dan alokasi staff serta sumber daya dalam
penugasan audit. Artinya penggunaan teknologi informasi dapat meminimalkan penggunaan
spreadsheet dan perhitungan statistik secara manual. Komputer juga digunakan untuk mencatat
waktu yang dihabiskan untuk melaksanakan prosedur audit dan membandingkannya dengan waktu
yang direncanakan. Digunakan untuk analisis informasi, yaitu kantor akuntan publik yang
menggunakan prosedur pemindahahan data dari komputer klien ke komputer auditor untuk
dilakukan analisis. Teknik ini banyak digunakan untuk membaca buku piutang dagang yang
terkomputerisasi dan untuk memilik sampel untuk diambil sebagai pengujian saldo. Interpretasi
dan dokumentasi hasil, yaitu kertas kerja sudah dicatat dalam bentuk file komputer, sehingga hal
ini dapat memudahkan auditor dalam melakukan pengujian terperinci. Pengolahan kata juga dapat
dilakukan dengan berbagai cara seperti lead schedules, various checklist dan ICEQs. Sehingga
dokumen-dokumen tersebut dapat tersedia dan dapat diakses oleh para staf audit untuk dilengkapi.

Peninjauan dan aktifitas pelaporan, artinya laporan audit, management letter, hingga laporan
kepada manajer dan partner terhadap hal-hal penting akan mempengaruhi terhadap masa depan
kantor akuntan publik tersebut. Sehingga penggunaan teknologi informasi dan komputer untuk
menganalisa dan meninjau dokumen tersebut sebelum dirilis kepada klien, dan yang terakhir
adalah manual and checklist on computer file, yang mana i audit dilakukan dengan sistem
komputerisasi sehingga membuat pekerjaan tim audit menjadi lebih mudah karena tidak perlu
untuk membawa banyak dokumen seperti dokumen panduan dan checklist material. Oleh karena
pentingnya dokumen dalam komputer tersebut maka auditor harus dapat memastikan tentang
keamanan data tersebut, dengan melakukan back up data dan data tersebut tidak disalahgunakan
untuk kepentingan lain, karena dokumen-dokumen tersebut adalah hasil campuran dari
programming dan data yang harus bisa didokumentasikan serta diuji kebenarannya.