Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Baby blues syndrome, atau sering juga disebut postpartum distress syndrome
adalah perasaan sedih dan gundah yang dialami oleh sekitar 50-80% wanita setelah
melahirkan bayinya. Umumnya terjadi dalam 14 hari pertama setelah melahirkan,
dan cenderung lebih buruk sekitar hari ke tiga atau empat setelah persalinan (Syahrir
S, 2008).
Gejala baby blues Syndrome yang biasanya dialami oleh ibu setelah 3-4 hari
melahirkan namun memudar setelah beberapa minggu (National Mental Health
Association, 2003). Baby Blues Syndrome (BBS) adalah depresi ringan yang dialami
ibu setelah melahirkan. BBS juga disebut maternity blues, atau postpartum blues.
Gejalanya berupa gangguan emosi sering menangis, murung, panik, mudah marah
(Atmadibrata, 2005), dan disertai dengan gejala depresi, mood swings, gangguan
tidur dan selera makan, serta gangguan konsentrasi yang kesemuanya merupakan
akibat perubahan hormonal (National Mental Health Association, 2003). Menurut
Stanton dan Danoff-Burg, 1995 dalam Stoppard (2000) mengatakan bahwa mood
wanita yang terjadi selama periode kehamilan merupakan prediktor utama terjadinya
mood wanita pada periode setelah melahirkan (Syahrir S, 2008).
Faktor risiko dari baby blues syndrome yaitu faktor umur, paritas, adanya
persalinan yang sulit dan kesulitan dalam menyusui, kehamilan yang sulit atau penuh
kekhawatiran, setiap jenis trauma (riwayat depresi) masa kanak-kanak yang dapat
menimbulkan depresi, lebih khusus lagi pada hubungan yang penuh masalah dengan
ibu di masa kanak-kanak dan dukungan dari suami yang dapat melatarbelakangi baby
blues syndrome (Marshall F, 2004).
Prevalensi kejadian baby blues syndrome dari berbagai penelitian berbeda di
tiap Negara, berkisar antara 10-34. Penelitian di Negara barat menunjukkan kejadian
lebih tinggi dibandingkan dengan yang pernah dilaporkan dari asia, pada penelitia
yang dilakukan terhadap 154 wanita pasca persalinan di Malaysia pada tahun 1995
dilaporkan angka kejadian 3,9% terbanyak dari ras India (8,9%), Melayu (3,0%), dan
tidak adanya kasus pada ras Cina. Penelitian di Singapura dilaporkan angka
kejadiannya sebesar 1% (Elvira S, 2006). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh

1
Jofesson dkk pada tahun 2002 didapatkan angka baby blues syndrome sekitar 10%-
20% (Jofesson A, 2002).
Catatan medis tentang BBS telah ada sejak zaman Hippocrates, sekitar abad
ke 5 SM, namun dianggap kurang penting karena dipandang sekedar sebagai efek
kelelahan setelah melahirkan. Dr.dr. Irawati SpKj, M. Epid dari bagian psikiatri UI
melaporkan bahwa 25% dari 580 pasiennya (ibu melahirkan ) menagalami BBS. Dr.
Irawati menegemukakan gejala BBS dialami oleh sekitar 50-75% ibu melahirkan,
atau 2/3 dari jumlah ibu melahirkan di seluruh dunia (Atmadibrata, 2005).
Sedangkan The National Mental Health Association (2003) mengemukakan bahwa
sekitar 80% ibu yang melahirkan bayi untuk pertama kalinya mengalami gejala
tersebut (Syahrir S, 2008).
Pada penelitian pendahuluan yang pernah dilakukan dibagian/KSMF Obstetri
dan Ginekologi FKUP/RSHS Bandung, didapatkan angka kejadian sebesar 33,1%
diantara wanita yang melahirkan secara spontan, dan ternyata didapatkan pula bahwa
baby blues syndrome tersebut lebih banyak dijumpai pada wanita pekerja dan mereka
yang berpendidikan tinggi (Wratsangka R, 1996), beberapa penelitian yang telah
dilakukan di berbagai tempat di Indonesia anatar lain : di Jakarta, Yogyakarta, dan
Surabaya pada tahun 1998-2001 ternyata angka kejadian mencolok tinggi yakni
sebesar 11%-30% dibandingkan dengan kejadian di negara lain yang ada di Asia.
Dan penelitian lain didapatkan angka baby blues syndrome yang lebih tinggi yaitu
23,4%-36,7% (Papayungan, 2005).
Hasil penelitian yang dilakukan Trika Rianta (2004) di RSIA Siti Fatimah
Makassar melaporkan efektifitas dukungan suami dalam hubungannya dengan
kejadian baby blues syndrome sebesar 23% sedangkan penelitian yang dilakukan
oleh Alfiben (2000) di RSU Hasan Sadikin Bandung melaporkan bahwa efektifitas
dukungan suami dalam hubungannya dengan kejadian baby blues syndrome (depresi
pasca persalinan) sebesar 33%. Selain itu kejadian baby blues syndrome di RSB
Pertiwi Propinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2007 adalah 23 kasus (20,0%) dari
1362 persalinan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu bidan di BPS Lusia
Sandaden Kelurahan Sudiang Raya Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar
Propinsi Sulawesi Selatan (Desember, 2011), yang merawat langsung ibu postpartum

2
di ruang rawat inap bersalin diketahui bahwa pada hari ketiga setelah melahirkan
sering menemukan gejala-gejala pada ibu postpartum seperti bersedih, cemas,
mudah marah, tidak nafsu makan, susah tidur dan kurang perhatian pada bayinya
pada saat menangis. Hal ini merupakan bagian dari gejala gangguan psikologis yang
mengarah pada baby blues syndrome.
Berdasarkan hal diatas dan observasi awal yang peneliti lakukan terhadap
ibu-ibu hamil dengan usia kehamilan 9 bulan atau pun ibu-ibu yang telah melahirkan
di BPS Lusia Sandaden Kelurahan Sudiang Raya Kecamatan Biringkanaya Kota
Makassar Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011, setelah memberikan kuesioner
EPDS (Edinburgh Postnatal Depression Scale) ditemukan kasus baby blues
syndrome dengan jumlah kasus yaitu 37. Hal inilah yang mendasari peneliti untuk
melakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis besar risiko kejadian baby
blues syndrome di BPS Lusia Sandaden Kelurahan Sudiang Raya Kecamatan
Biringkanaya Kota Makassar Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 berdasarkan
umur, paritas, riwayat depresi, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan, dan
dukungan suami.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Baby Blues Syndrome


1. Defenisi
Baby Blues Syndrome adalah suatu sindroma gangguan mental ringan pada
wanita pasca salin, yang diagnosisnya dapat ditegakkan berdasarkan criteria Handley
dan O’Hara yaitu bila didapatkan minimal 4 di antara 7 gejala yang mungkin muncul
, yaitu reaksi depresi/sedih/disforia, labilitas perasaan, menangis, cemas, gangguan
tidur, gangguan nafsu makan, iritabilitas (mudah tersinggung). Meski sering
dianggap sebagai hal yang ringan dan bersifat Self limiting pada sebagian kasus,
kadang-kadang gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat,
yaitu Psikosis puerperal yang mempunyai dampak lebih buruk, terutama dalam hal
masalah hubungan perkawinan dengan suami dan juga perkembangan anaknya
(Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia, 1998).
Baby Blues Syndrome adalah guncangan emosional/kejiwaan pada seorang
ibu yang baru melahirkan, kondisi ini hampir 50-75% dialami oleh perempuan yang
baru melahirkan (Syahrir S, 2008). Kondisi ini dapat terjadi sejak hari pertama
setelah persalinan dan cenderung akan memburuk pada hari ketiga sampai kelima
setelah persalinan. Baby Blues Syndrome cenderung menyerang dalam waktu 14 hari
terhitung setelah persalinan (Alfiben, 2000). Baby Blues Syndrome terjadi karena
tubuh ibu yang habis melahirkan sedang mengadakan perubahan fisik yang besar.
Hormon-hormon dalam tubuh juga akan mengalami perubahan besar dan ibu baru
saja melalui proses persalinan yang melelahkan, semua ini akan mempengaruhi
perasaan seorang ibu (Mayla, 2007).
Allah menciptakan tubuh manusia begitu sempurna dan unik. Salah satunya
sistem hormon yang turut memengaruhi sistem metabolisme tubuh secara
keseluruhan. Ketidakseimbangan hormon dapat mengacaukan mekanisme kerja
tubuh kita, termasuk memengaruhi mood (emosi). Hal inilah yang dialami para ibu
pasca-melahirkan. Perubahan hormon yang terjadi pada 3-4 hari setelah persalinan
memicu mood menjadi lebih sensitif, rasa sedih dan ingin menangis tanpa sebab.
Padahal, seharusnya ibu tengah berbunga-bunga karena si mungil yang dinanti-nanti

4
selama sembilan bulan sudah ada dalam dekapan. Kondisi yang mungkin terasa
“aneh” inilah yang disebut baby blues syndrome (Mayla, 2007).
Staf pengajar Bagian Psikiatri FKUI/RSCM Jakarta, dr Suryo Dharmono
SpKJ menuturkan, baby blues merupakan fenomena normal yang dialami sekitar 70
persen wanita selepas melahirkan. Apalagi wanita yang baru melahirkan pertama
kali, biasanya masih gugup menghadapi perubahan peran dan fungsinya sebagai ibu
baru. Di satu sisi, hatinya terisi dengan kebahagiaan yang membuncah, di sisi lain
fluktuasi mood menyebabkannya “feeling blue”. Sindrom baby blues sering kali
tidak disadari, baik oleh wanita yang bersangkutan maupun orang lain di sekitarnya.
Wanita yang mengalami baby blues biasanya ditandai dengan gejala khas berupa
depresi ringan, perasaan yang tidak menentu (moody), mudah sedih, murung dan
rasa ingin menangis. Beberapa ada juga yang disertai gejala sulit tidur, sulit
berkonsentrasi, sering bingung, dan pikiran yang terlalu mengkhawatirkan bayi atau
ragu akan kemampuannya mengurus bayi. Namun, tidak perlu risau karena kondisi
ini umumnya hanya berlangsung singkat (biasanya pada minggu pertama) (Mayla,
2007).
Baby blues (depresi Pasca melahirkan) didalam islam dapat diartikan sebagai
orang yang berputus asa dan didalam Al-Qur’an ALLAH SWT telah berfirman :

Terjemahan :
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia
mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah
Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah
Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan
kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan
kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami;
ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah
Kami terhadap kaum yang kafir." (Al-Baqarah : 286).

Ayat diatas menjelaskan tentang larangan berputus asa dan Allah tidak
memberikan beban kepada hambanya sesuai dengan kesanggupannya. Hubungan

5
antara ayat diatas dengan kejadian baby blues terhadap ibu-ibu yang telah melahirkan
terletak pada kalimat “Allah tidak membebani seseorang melainkan
kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia
mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”.Dimana seorang wanita
dimasa mudanya telah berusaha mempersiapkan diri secara mental untuk memiliki
anak dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang tata cara merawat bayi maka dia
tidak akan stress atau merasa terbebani terhadap bayinya. Sedangkan wanita yang
tidak siap secara mental maupun fisik, dan ditambah dengan pengetahuan yang
rendah tentang tata cara merawat bayi, maka wanita tersebut rentan untuk depresi
atau menderita baby blues syndrome dikarenakan tidak adanya kesiapan.

2. Etiologi
Sampai saat ini masih belum ada kesepakatan diantara para ahli tentang
Faktor yang menjadi penyebab dari depresi pasca persalinan (Sari LS, 2009). Diduga
disebabkan oleh beberapa faktor yang saling mempengaruhi antara lain :
a. Faktor Psikososial
Pitt menyatakan bahwa depresi pasca persalinan merupakan gangguan spesifik
yang dibedakan dari gangguan depresi klasik. Beliau menyebutkan dengan depresi
atipik yang lebih merupakan respons terhadap stres non spesifik dibandingkan
dengan perubahan yang bersifat biologik yaitu perubahan hormonal yang menyertai
kelahiran anak (Sari LS, 2009).
Penelitian keadaan psikososial dari depresi pasca persalinan meyakinkan adanya
hubungan antara keadaan tertentu yang terjadi selama kehamilan dengan timbulnya
depresi post partum. Kumar, Rabson, Watson dan kawan-kawan, Cox dan kawan-
kawan menyatakan bahwa faktor - faktor psikososial yang berkorelasi dengan
timbulnya sindroma depresi pasca persalinan antara lain (Sari LS, 2009):
1. Konflik dalam perkawinan, yang meliputi :
a) Adanya ketegangan yang kronis diantara pasangan yang menyebabkan timbulnya
rasa permusuhan antara pasangan tersebut.
b) Riwayat adanya ketidakstabilan emosi pada isteri atau suami yang menyebabkan
kurangnya dukungan akan kelahiran bayi mereka.

6
c) Pada wanita yang berusia tua, yang mengharapkan kelahiran anaknya (Sari LS,
2009).
2. Sikap ambivalen atau keraguan yang besar terhadap kehamilan dan keinginannya
untuk mempunyai anak.
3. Riwayat pernah menderita gangguan depresi sebelumnya dan, atau reaksi terhadap
kejadian tertentu dalam kehidupannya, termasuk stres akibat melahirkan anak.
4. Stres lingkungan
Teori psikoanalitik menekankan pentingnya hubungan awal antara individu tersebut
dengan ibunya. Birchnell, melakukan penelitian terhadap 50 wanita depresi
dibandingkan dengan 40 wanita sebagai kontrol, ditemukan adanya hubungan
signifikan antara ikatan awal wanita depresi dengan ibunya yang buruk dengan
timbulnya depresi dikemudian hari pada wanita tersebut (Sari LS, 2009).
b. Faktor Biologik
Penelitian yang beraliran biologik, yang dipelopori oleh Dalton, menyatakan
bahwa depresi pasca persalinan disebabkan oleh perubahan hormonal, terutama
penurunan tajam dari sirkulasi progesteron dalam masa puerpural. Hormon-hormon
yang diduga berperan terhadap timbulnya depresi postpartum antara lain, adalah
estrogen, progesteron, kortisol dan hormon tiroid (Papayungan D, 2005).
Periode pasca persalinan adalah periode dimana terjadi perubahan yang cepat
dari konsentrasi beberapa hormon. Selama 48 jam pertama persalinan konsentrasi
estrogen, progesteron dan kortisol menurun. Telah diketahui keterlibatan hormon
steroid dalam patogenesis gangguan mood non puerperal. Beberapa peneliti menduga
peranan hormon tersebut terhadap timbulnya gangguan tiroid cukup tinggi dan
menurun secara drastis setelah pasca persalinan. (Norhana SW, 1995).
Disamping peran hormonal tersebut diatas, pada masa pasca persalinan juga
dapat terjadi disfungsi tiroid. Fungsi tiroid juga memainkan peranan penting dalam
pengaturan mood pada wanita (Parry BL dkk, 2000). Disfungsi tiroid
(hipothyroidisme atau hyperthyroidisme) dapat menimbulkan gejala-gejala psikiatrik,
namun belum ada laporan secara pasti bahwa terdapat hubungan timbulnya depresi
pasca persalinan dengan keadaan disfungsi tiroid. Ruth Freeman dan kawan-kawan
dalam penelitiannya terhadap 212 wanita pasca bersalin menemukan prevalensi
disfungsi tiroid sebesar 1,9%, sedangkan pada penelitian lain yang dilakukan oleh

7
Amino dan kawan-kawan terhadap 30 wanita pasca bersalin ditemukan disfungsi
tiroid sebesar 5,5%. Angka kejadian disfungsi tiroid bervariasi sesuai dengan
daerahnya. Kasus terbanyak dilaporkan terjadi di Jepang yaitu 4,3% wanita pasca
persalinan 3 bulan pertama dan juga di daerah Amerika Utara (Norhana SW, 1995).
Selain faktor hormonal dan faktor genetik, faktor biologis seperti perubahan
amin biogenik (serotonin, norepinefrin, dan dopamin) serta prekursornya dan sistem
adenosin fosfat juga terlibat dalam terjadinya depresi pasca persalinan (Papayungan
D, 2005). Telah dilaporkan 3 dari 18 wanita normal yang diteliti pada hari kedua
sampai hari kelima pasca persalinan yang dihubungkan dengan plasma triptofan dan
konsentrasi kortisol, ternyata menunjukkan peningkatan afek, tetapi tidak sampai
hipomania. Kemampuan mengikat reseptor alpha 2 adenoreseptor dipengaruhi oleh
konsentrasi estrogen dan progesteron. Pada ibu-ibu pasca bersalin dengan afek yang
depresif dijumpai peningkatan kapasitas alpha 2 adenoreseptor dibandingkan dengan
ibu-ibu yang tidak merasakan perasaan sedih, sehingga meningginya sensitivitas
adenoreseptor inilah yang kemudian dihubungkan dengan etiologi depresi
(Papayungan D, 2005).
Perubahan metabolisme amin biogenik erat hubungannya dengan gangguan
depresi. Treadway dan kawan-kawan melaporkan terjadinya penurunan ekskresi
norepinefrin di air kemih dan peningkatan insidensi neurosis dan depresi. Gangguan
metabolisme indole amine diimplikasikan sebagai penyebab timbulnya depresi.
Sintesa 5 OH tryptamin di otak menurun, sehingga kadar plasma bebas triptofan
menjadi rendah (Papayungan D, 2005).
Handley dan kawan-kawan melaporkan terjadinya penurunan plasma triptofan
berhubungan dengan defisiensi piridoksin. Oleh karena beragamnya faktor etiologi
dan rumitnya interaksi antar berbagai faktor tersebut maka sangat sulit untuk
mengidentifikasi faktor risiko yang pasti berperan dalam timbulnya depresi pasca
persalinan, dan sulit untuk menentukan secara pasti karakteristik wanita yang akan
mengalami depresi pasca persalinan. (Papayungan D, 2005).
Beberapa faktor yang diduga menempatkan wanita pasca bersalin pada risiko
tinggi mengalami depresi, antara lain (Sari LS, 2009) :

8
a) Dukungan sosial yang buruk, yang berarti tidak mempunyai seseorang yang
dipercaya untuk membantu atau mencurahkan pikiran dan perasaan dengan teman
karib.
b) Peristiwa kehidupan yang serius dan multipel, seperti misalnya hubungan dengan
keluarga atau rekan kerja yang sulit, perpindahan, pekerjaan baru atau perubahan
besar, kematian orang yang dicintai, masalah keuangan yang serius.
c) Riwayat premenstrual syndrome (PMS) sebelumnya, gangguan menstruasi, dan atau
kesulitan untuk hamil.
d) Riwayat kekerasan waktu kecil, termasuk kekerasan emosional, fisik dan seksual.
e) Gangguan tiroid atau riwayat keluarga dengan gangguan tiroid.
f) Infeksi jamur yang kronik, atau penggunaan antibiotik atau steroid yang sering yang
menyebabkan pertumbuhan jamur di usus.
g) Diet rendah lemak, rendah protein atau kurang nutrisi lain, atau morning sickness
yang berat, yang menyebabkan malnutrisi.
h) Hubungan dengan ibu yang tidak harmonis.
i) Memiliki ibu yang mengalami depresi pasca persalinan.
j) Penggunaan kontrasepsi oral atau suntikan segera setelah melahirkan, penghentian
pemberian air susu ibu (ASI) segera setelah melahirkan, baik dengan pilihan sendiri
atau karena ASI yang tidak cukup.
k) Peningkatan berat badan selama hamil dan penurunan berat yang sedikit setelah
melahirkan.
l) Pengalaman melahirkan yang traumatis, termasuk operasi caesar yang tidak
diharapkan atau prematur.
m) Kepulangan yang dini dari rumah sakit (kurang dari 24-40 jam).
n) Perselisihan perkawinan (marital discord).
o) Kehamilan yang tidak diinginkan.
p) Wanita yang melahirkan bayi pertama di atas usia 30 tahun (Sari LS, 2009).

3. Gejala
Baby Blue Sindrom / Baby Blues Syndrome, atau sering juga disebut
Postpartum Distress Syndrome adalah perasaan sedih dan gundah yang dialami
sekitar 50-80% wanita setelah melahirkan bayinya. Beberapa Gejala Kasus Baby

9
Blues Syndrome yaitu menangis tanpa sebab yang jelas, mudah kesal, lelah, cemas,
tidak sabaran, enggan memperhatikan si bayi, tidak percaya diri, sulit beristirahat
dengan tenang dan mudah tersinggung. Perbedaan Baby Blues Syndrome dengan
Postpartum Depression yaitu terletak pada frekuensi, intensitas, serta durasi
berlangsungnya gejala-gejala di atas. Pada Postpartum Depression, Anda akan
merasakan berbagai gejala tersebut lebih sering, lebih hebat, serta lebih lama (Mayla,
2007).
Cara membedakan keduanya yaitu. salah satunya dengan memperhatikan pola
tidur si ibu. Jika ketika ada orang lain menjaga bayi, si ibu bisa tertidur, maka besar
kemungkinan si ibu hanya menderita Baby Blues Syndrome (BBS). Namun jika si
ibu sangat sulit tertidur walaupun bayinya dijaga oleh orang lain, maka mungkin
tingkat depresinya sudah termasuk ke dalam Postpartum Depression (PPD).
Sedangkan gejala Postpartum Depression yaitu Cepat marah, bingung, mudah
panik, merasa putus asa, perubahan pola makan dan tidur, ada perasaan takut bisa
menyakiti bayinya, ada perasaan khawatir tidak bisa merawat bayinya dengan baik,
timbul perasaan bahwa ia tidak bisa menjadi ibu yang baik dan PPD bisa berlangsung
hingga 1 tahun setelah kelahiran bayi, pada kasus PPD akut, si ibu bisa saja bunuh
diri atau menyakiti bayinya sendiri (Mayla, 2007).

4. Dampak Baby Blues Syndrome Pada Bayi


Sekilas baby blues memang tidak berbahaya. Tapi kondisi ini, efeknya sangat
nyata pada perkembangan anak karena biasanya ibu yang mengalami baby blues
tidak dapat merawat anaknya dengan baik, jadi secara otomatis ia juga tidak bias
memberikan kebutuhan yang seharusnya diterima anaknya, baik itu dari segi
perhatian maupun nutrisi yang masuk ketubuhnya (Syahrir S, 2008).
Didalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah (2) ayat 233 ALLAH SWT telah
berfirman tentang ibu lebih berhak merawat anaknya dan berkasih sayang kepada
anaknya yaitu :

Terjemahan:

10
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu
bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan
dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani
melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita
kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun
berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun)
dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas
keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada
dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.
bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa
yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah (2) : 233).
Selain itu didalam surah lain ALLAH SWT Berfirman Yaitu :
Terjemahan :
“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan
mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya
pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati
makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh
(makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya
Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab” (Qs Al-
Imran (3) : 37)
Ayat – ayat diatas menjelaskan tentang kewajiban seorang ibu untuk merawat
anaknya dengan cara menyusui anaknya selama dua tahun, mendidik seorang anak
dengan pendidikan yang baik. Oleh karena itu seorang ibu hendaklah merawat
anaknya dengan baik yang disertai ketulusan hati dalam merawat anak tanpa adanya
tekanan jiwa atau pun rasa stress karena stress dan sikap yang tidak tulus ibu yang
secara terus menerus diterima oleh bayi kelak bisa membuatnya menjadi anak yang
mudah menangis, pencemas sekaligus pemurung. Dampak lain yang tidak kalah
merugikan adalah bayi cenderung mudah sakit, kurangnya perhatian ibu pada
bayinya juga merupakan dampak dari baby blues.

B. Tinjauan Umum Tentang Umur

11
Umur itu sendiri bukan faktor utama yang menentukan apakah wanita lebih
rentan atau kurang rentan terhadap depresi pasaca melahirkan (baby blues). Namun,
ada gunanya bila kita mengetahui berbagai tekanan yang dialami para wanita baik
usia muda maupun tua karena hal ini berperan dalam terjadinya depresi. Dewasa ini,
lebih banyak wanita melahirkan di usia cukup matang (rata-rata 28 tahun walaupun
beberapa wanita menunda kehamilan beberapa tahun lebih lama), dengan
kematangan dan toleransi yang lebih besar dan gaya hidup yang lebih mapan, wanita
yang lebih tua juga lebih terbiasa memegang kendali, lebih mampu mengatur
hidupnya, suatu sikap yang membuat depresi lebih muda terjadi bila hal itu berkaitan
dengan perwatan bayi. Wanita berkarir tinggi yang baru melahirkan bayi dan dapat
kembali bekerja dalam waktu sepuluh hari adalah mitos yang mencengkam imajinasi
masyarakat kita dan meskipun ini cocok untuk beberapa individu, tidaklah realistis
untuk sebagian besar wanita. Bagamainapun juga, wanita kariri yang sudah matang
khususnya, sangat sulit melepaskan sikapnya yang teratur sewaktu merawat bayi.
Mereka pikir mereka dapat menangani, tetapi sewaktu bayi membuatnya kerepotan
dengan tangisannya yang terus menerus, rasa laparnya yang tidak teratur, jadwal
yang tidak jelas dan membuatnya kurang tidur, mereka umumnya lebih rentan
terhadap depresi. Sedangkan ibu yang usianya lebih muda, meskipun lebih muda
menyesuaikan diri, tidak terlalu kaku dalam bertindak dan mempunyai energi fisik
lebih besar, mereka tidak mempunyai kesabaran atau kematangan seperti yang
dimiliki wanita lebih matang, yang telah menunggu lama untuk mendapatkan
keturunan. Mereka lebih muda kehilangan rasa mudanya , atau bahwa mereka harus
kehilangan karir yang sedang dibangunnya atau kadang baru dimulai. Kedua
perasaan ini dapat menimbulkan kesdihan yang ikut berperan dalam terjadinya
depresi (Marshall, 2004).
Ibu yang berusia 40 tahun ke atas mengalami risiko yang tinggi untuk
mengandung. Biasanya bayi yang dilahirkan mengalami Sindrom Down. Tekanan
darah tinggi, diabetes, kardiovaskular yang dialami oleh ibu yang juga berisiko pada
janin yang dikandungnya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Syahrir S (2008)
menyatakan bahwa umur merupakan faktor risiko terhadap kejadian baby blues,
besar risiko penderita baby blues pada umur <20 tahun atau >35 tahun 3,5 kali lebih
besar dibanding penderita yang berumur 20-35 tahun (Syahrir S, 2008).

12
C. Tinjauan Umum Tentang Paritas
Paritas adalah jumlah persalinan yang pernah dialami oleh ibu baik lahir hidup
maupun lahir mati dengan umur kehamilan 28 minggu. Ibu dengan paritas tinggi
menggambarkan tingkat kehamilan yag banyak dan cenderung mengalami
komplikasi kehamilan. Hal ini disebabkan karena secara fisik jumlah paritas yang
tinggi mengurangi kemampuan uterus sebagai media pertumbuhan janin. Kerusakan
pembuluh darah dinding uterus akan memengaruhi sirkulasi nutrisi maupun oksigen
ke janin (Wiknojosastro, 1997).
Salah satu penelitian menunjukkan bahwa depresi ditemukan pada kehamilan
pertama. Mereka yang pernah mengalami baby blues (depresi pasca persalinan)
dianggap sangat rentan untuk mengalaminya kembali (Marshall, 2004). Demikian
juga pada penelitian Syahmawati yang menyatakan bahwa paritas merupakan faktor
risiko terhadap kejadian baby blues, besar risiko penderita baby blues yang primipara
3,6 kali lebih besar dibanding penderita baby blues yang multipara. (Syahrir S,
2008).

D. Tinjauan Umum Tentang Riwayat Depresi


Wanita dengan riwayat depresi postpartum mempunyai risiko yang bermakna
dengan angka kekambuhan postpartum setinggi 50% dibandingkan dengan wanita
yang hanya mengalami episode diluar masa nifas, wanita dengan riwayat depresi
postpartum jelas mempunyai risiko yang lebih besar. Untuk semua wanita (dengan
atau tanpa riwayat depresi berat), munculnya gejala depresi selama kehamilan
meningkatkan risiko baby blues (depresi postpartum) (Elvira S, 2006).
Terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat depresi atau gangguan
emosional yang pernah diderita atau gangguan emosional pasca persalinan
(Safiuddin, 2001). Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan menjelaskan bahwa
riwayat depresi dan gangguan emosi merupakan perkiraan paling kuat akan
munculnya depresi setelah melahirkan (Marshall, 2004). Pada penelitian yang
dilakukan oleh Syahrir S (2008) menyatakan bahwa riwayat depresi merupakan
faktor risiko terhadap kejadian baby blues, besar risiko terhadap kejadian baby blues

13
yang memiliki riwayat depresi 22 kali lebih besar dibanding penderita baby blues
yang tidak mempunyai riwayat depresi (Syahrir S, 2008).

E. Tinjauan Umum Tentang Komplikasi Kehamilan


Komplikasi kehamilan adalah kegawat daruratan obstetrik yang dapat
menyebabkan kematian pada ibu dan bayi (Obstetri Fisiologi. 1983). Adapun Jenis
Komplikasi Kehamilan yaitu:
1. Perdarahan
Perdarahan yang berhubungan dengan persalinan dibedakan dalam dua
kelompok utama yaitu perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum.
Perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam yang terjadi sebelum bayi
lahir. Perdarahan yang terjadi sebelum kehamilan 28 minggu seringkali berhubungan
dengan aborsi atau kelainan. Perdarahan kehamilan setelah 28 minggu dapat
disebabkan karena terlepasnya plasenta secara prematur, trauma, atau penyakit
saluran kelamin bagian bawah (Obstetri Fisiologi. 1983).
2. Pre-Eklamsia
Per-eklamsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan
proteinuria yang timbul karena kehamilan yang dapat menyebabkan kematian pada
ibu dan janinnya. Penyakit ini pada umumnya terjadi dalam triwulan ke-3 kehamilan
dan dapat terjadi pada waktu antepartum, intrapartum, dan pascapersalinan (Obstetri
Fisiologi. 1983).
Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu dari pada tanda-tanda yang lain.
Untuk menegakkan diagnosis pre-eklamsi, kenaikan tekanan sistolik harus 30 mm
Hg atau lebih di atas tekanan yang biasanya ditemukan, atau mencapai 140 mm Hg
atau lebih dan tekanan diastolik naik dengan 15 mmHg atau lebih atau menjadi 90
mm Hg maka diagnosis hipertensi dapat ditegakkan (Obstetri Fisiologi. 1983).
Edema ialah penimbunan cairan secara umum yang berlebihan dalam
jaringan tubuh, dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta
pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka. Kenaikan berat badan ½ kg setiap
minggu dalam kehamilan masih dapat dianggap normal tetapi bila kenaikan 1 kg
seminggu beberapa kali, hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan (Obstetri Fisiologi.
1983).

14
Proteinuria merupakan komplikasi lanjutan dari hipertensi dalam kehamilan,
dengan kerusakan ginjal sehingga beberapa bentuk protein lolos dalam urine. Normal
terdapat sejumlah protein dalam urine, tetapi tidak melebihi 0,3 gr dalam 24 jam.
Proteinuria menunjukkan komplikasi hipertensi dalam kehamilan lanjut sehingga
memerlukan perhatian dan penanganan segera (Obstetri Fisiologi. 1983).
Penyebab pre-eklamsi sampai sekarang belum diketahui dengan pasti. Telah
terdapat banyak teori yang mencoba menerangkan sebab penyakit ini, akan tetapi
tidak ada yang dapat memberi jawaban yang memuaskan. Diduga penyebab
hipertensi dalam kehamilan secara patologi terjadi karena akibat implantasi sehingga
timbul iskemia plasenta yang diikuti sindroma inflamasi dan risiko meningkat pada
hamil kembar, penyakit trombolas, diabetes mellitus, faktor herediter dan masalah
vaskuler (Saifuddin, 2000).
3. Infeksi
Infeksi pasca persalinan ialah meningkatnya suhu tubuh > 38ºC dan demam
berturut-turut selama dua hari sesudah persalinan dan yang disertai keluarnya cairan
yang berbau dari liang rahim. Infeksi jalan lahir dapat terjadi pada ibu bersalin yang
pertolongan persalinannya tidak bersih atau pada wanita yang menggugurkan
kandungan dengan cara berbahaya. Tanda-tandanya adalah panas tinggi lebih dari
dua hari setelah melahirkan atau setelah keguguran. Keadaan ini berbahaya dan ibu
perlu mendapatkan perawatan intensif. Infeksi ini dapat dicegah dengan pertolongan
persalinan yang bersih dan aman (Obstetri Fisiologi. 1983).
Berdasarkan hasil penelitian Syahrir S (2008) di Rumah Sakit Bersalin
Pertiwi menyatakan bahwa komplikasi kehamilan merupakan faktor risiko terhadap
kejaidan baby blues, besar risiko penderita baby blues yang memiliki komplikasi
kehamilan 5,9 kali lebih besar dibanding penderita baby blues yang tidak mempunyai
komplikasi kehamilan (Syahrir S, 2008).

F. Tinjauan Umum Tentang Komplikasi Persalinan


Komplikasi pasca persalinan yang biasa terjadi adalah keadaan yang
membahayakan janin seperti berkurangnya aliran oksigen, plasenta yang tidak
berfungsi dengan baik atau terpisah dari rahim, tekanan atatu kekusutan pada tali
pusar, aktivitas rahim yang panjang dan berlebihan atau infeksi janin, cacat,

15
perdarahan, serta penyakit pada ibu (anemia, hipertensi, penyakit jantung, tekanan
darah rendah yang tidak wajar), distosia bahu, rahim robek, inverse rahim, luka
goresan pada vagina dan leher rahim, perdarahan pasca kelahiran, serta infeksi pasca
kelahiran (Marshall, 2000).
Hampir 20% pada wanita hamil takut terhadap suatu persalinan sedangkan
tingkatan nyeri persalinan sampai bentuk yang paling berat dirasakan sebagai hal
yang tidak menyenangkan secara psikis dan ini tidak dapat diterima oleh sekita 30%
wanita (Mathai M, 2000). Penelitian yang dilakukan oleh Jacobson (1987) dan
Playfair (1981) menunjukkan adanya hubungan yang bermakna, yaitu bahwa baby
blues lebih banyak dialami oleh wanita dengan riwayat komplikasi obstetric yang
kurang baik. Selain itu, dari hasil penelitian Syahrir S (2008) di Rumah Sakit
Bersalin Pertiwi menyatakan bahwa komplikasi persalinan merupakan faktor risiko
terhadap kejadian baby blues, besar risiko penderita baby blues yang memiliki
komplikasi persalinan 5,9 kali lebih besar dibanding penderita baby blues yang tidak
mempunyai komplikasi persalinan (Syahrir S, 2008).

G. Tinjauan Umum Tentang Dukungan Suami


Interaksi pasien dengan lingkungannya merupakan faktor pendukung
terjadinya proses kelahiran normal. Suami adalah orang terdekat yang menyebabkan
proses kehamilan namun kehadiran suami dalam persalinan masih janggal. Beberapa
tempat [elyanan persalinan belum memperbolehkan kehadiran suami dalam
persalinan istrinya, padahal beberapa peneltian di berbagai Negara telah
membuktikan bahwa wanita yang melahirkan yang didampingi selama persalinan
baik oleh suami, kerababt wanita maupun tenaga khusus yang dilatih untuk itu
menunjukkkan manfaat yang sangat banyak (Kusmiyanti dkk, 2004).
Presentase dukungan suami dengan kejadian Postpartum Blues pada ibu
primipara yaitu responden yang menyatakan dukungan dari suami kurang 4 orang
sebanyak (16%), dukungan suami yang dikategorikan sedang mempunyai frekuensi
15 orang sebanyak (60%) dan dukungan suami yang dikategorikan tinggi 6 orang
sebanyak (24%). Dukungan sosial (suami) merupakan salah satu bentuk interaksi
sosial yang di dalamnya terdapat hubungan yang saling memberi dan menerima
bantuan yang bersifat nyata, bantuan tersebut akan menempatkan individu-individu

16
yang terlibat dalam sistem sosial yang pada akhirnya akan dapat memberikan cinta,
perhatian maupun sense of attachment baik pada keluarga sosial maupun pasangan
(Fatimah S, 2009).
Dukungan suami terhadap istrinya bisa di lakukan dengan membantu istri
dalam perawatan bayi misalnya ketika ibu menyusui bayinya, sang ayah tidak hanya
tidur sepanjang malam. Ayah bisa menemani ibu dan bayi, mengangkat bayi dari
tempat tidurnya, mengganti popok bayi bila perlu, memberikan bayi pada ibu saat
jam menyusui, dan mengembalikan bayi ke tempat tidurnya ketika bayi telah tertidur
kembali. Dukungan suami sangat penting dan tidak bisa diremehkan dan yang tak
kalah penting membangun suasana positif, dimana istri merasakan hari-hari pertama
yang melelahkan. Oleh sebab itu dukungan atau sikap positif dari pasangan dan
keluarga akan memberi kekuatan tersendiri bagi ibu (Fatimah S, 2009).
Peranan suami selama kehamilan, persalinan, dan perawatan bayi
mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian baby blues. Maka upaya
untuk meningkatkan dukungan suami selama proses tersebut diperkirakan apat
menurunkan kejadian baby blues (Alfiben, 2000). Dalam penelitian yang dilakukan
oleh Syamawati bahwa tidak adanya dukungan suami merupakan faktor risiko
terhadap kejadian baby blues, besar risiko penderita baby blues tanpa dukungan dari
suami 24 kali lebih besar dibanding penderita baby blues yang mendapatkan
dukungan dari suami (Syahrir S, 2008). Maka dari itu perlu adanya peningkatan
peranan suami sebagai pendamping dalam proses persalinan secara kontinyu guna
menurunkan angka kejadian baby blues.

H. Tinjauan Umum Tentang Validasi Edinburgh Postnatal Depression Scale


(EPDS)
Riset yang dilakukan di Universitas Edinburgh telah menghasilkan
kuesioner khusus untuk membantu tenaga kesehatan menilai apakah seorang wanita
menderita depresi pasca melahirkan (Syahrir, 2008). Di luar negeri skrining untuk
mendeteksi gangguan mood/ depresi sudah merupakan acuan pelayanan pasca salin
yang rutin dilakukan. Untuk skrining ini dapat dipergunakan beberapa kuesioner
dengan sebagai alat bantu. Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS)
merupakan kuesioner dengan validitas yang teruji yang dapat mengukur intenstas

17
perubahan perasaan depresi selama 7 hari pasca persalinan. Pertanyaan-
pertanyaannya berhubungan dengan labilitas perasaan, kecemasan, perasaan bersalah
serta mencakup hal-hal lain yang terdapat pada baby blues (Iskandar, 2007)
Kuesioner ini terdiri dari 10 (sepuluh) pertanyaan, di mana setiap pertanyaan
memilki 4 (empat) pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu
sesuai dengan gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca persalinan saat itu (Mayu,
2004). Nilai skoring yang dianggap positif (Cut Of Point) depresi pasca persalinan
para peneliti memberikan nilai bervariasi 9 sampai 13. Nilai skor ≥13 pada skala ini,
dianggap pasien memilki kecenderungan untuk mengalami depress. EPDS telah
diakui dapat mendetksi depresi pasca persalinan pada sampel yang diambil dari
masyarakat. Dengan menggunakan nilai ambang 12/13, skala tersebut memilki
sensitivitas 68% sampai 86% spesifitas sebesar 78% sampai 96%. Skala ini terbukti
memilki sensitivitas dan spesifitas baik untuk membantu penilaian diagnosis psikiatri
yang diakui dan diterapkan pemakaiannya di Inggris dan Australia (Alfiben, 2000).
Dalam melengkapi kuesioner tersebut sebaiknya ibu tidak ditemani oleh anggota
keluarga yang lain, hal ini dilakukan untuk memberikan hasil yang lebih baik.
Pertanyaan harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata-rata dapat diselesaikan dalam
waktu 5 menit (Rianta, 2004). EPDS juga telah teruji validitasnya di beberapa
Negara seperti Belanda, swedia, Australia, italia, dan Indonesia. EPDS dapat
dipergunakan dalam minggu pertama pasca persalinan dan ila hasilnya meragukan
dapat diulangi pengisiannya 2 (dua) minggu kemudian (Iskandar, 2007).
Studi Caldwell dan Antonucci menemukan pada sampel 48 ibu-ibu remaja
bahwa usia, dukungan status sosial ekonomi keluarga, secara signifikan berhubungan
dengan simtom-simtom depresi pasca persalinan. Birkeland dan kawan-kawan
meneliti depresi pasca persalinan dengan menggunakan Edinburg Postnatal
Depression Scale (EPDS) yang merupakan self report untuk mengukur simtom
depresi mendapatkan skor EPDS 0,83 (Reid V dkk, 2007).
Patricia Hannah dan kawan-kawan meneliti 217 pasien depresi pasca
persalinan dengan menggunakan EPDS pada hari ketiga dan minggu keenam pasca
persalinan, mendapatkan adanya korelasi positif yang signifikan dari kedua skor
tersebut, bersama-sama dengan profil gejala yang sama. Dari 25 wanita menderita
depresi pasca persalinan (skor EPDS minggu keenam adalah 13), 17 memiliki

18
gejala-gejala yang sama pada minggu pertama pasca persalinan (skor EPDS hari
ketiga adalah 10) (Sari LS, 2009).
Studi Cox dan kawan-kawan mendapatkan bahwa usia rata-rata depresi
pasca persalinan adalah 26 tahun, 75% menjalani kelahiran normal, 15% menjalani
secsio sesarea dan 10% menjalani kelahiran forcep. Sebagian besar sudah menikah
(81%), sedangkan 13% memiliki mitra permanen. Hanya 6% yang merupakan
orangtua tunggal. Prevalensi seumur hidup untuk depresi berat pada populasi umum
adalah sekitar 10%, pada wanita sekitar 25%. Paling sedikit 10% dari wanita
menderita gangguan mood yang berhubungan dengan periode postpartum.
Sedangkan angka prevalensi depresi pasca persalinan bervariasi antara 1 permil
sampai 15% dari angka ibu melahirkan tergantung berat ringannya gangguan mental
yang menjadi objek penelitian. Penelitian lainnya mendapatkan prevalensi depresi
pasca persalinan yang lebih tinggi, yaitu 23,3% - 36,7%. Depresi pasca persalinan
terjadi pada sekitar 1 dari 10 wanita hamil dan biasanya tidak terdiagnosa (Sari LS,
2009).

19
DAFTAR PUSTAKA

Alfiben, 2000. Efektifitas Peningkatan Dukungan Suami Dalam Menurunkan


Terjadinya Depresi Postpartum: (Tesis) Program Pendidikan Dokter
Spesialis I Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Jakarta.

Elvira S. 2006. Depresi Pasca Persalinan. Balai Penerbit FKUI; Jakarta.

Fatimah, Sitti. 2009. Hubungan Dukungan Suami dengan Kejadian Postpartum


Blues pada Ibu Primipara di Ruang Bugenvile RSUD Tugurejo Semarang:
(Artikel Riset Keperawatan) Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
Kedokteran Universitas di Ponegoro; Semarang

Iskandar, Suhandi, Sugi, 2007. Post Partum Blues.


http://www.mitrakeluarga.net/kemayoran/kesehatan005.html (tanggal
akses 4 Desember 2011)

Jofesson A dkk. 2002. Obstetric, Somatic, and Demographic Risk Factors for
Postpartum Depressive Symptoms; in the American College of
Obstetricians and Gynecologists.

Kusmiyanti Margaretha dkk. 2004.Pengaruh Pendampingan Keluarga Selama Proses


Persalinan Terhadap Keberhasilan Persalinan di Pelayanan Kesehatan X
Tahun 2004. Pascasarjana Kekhususan Kesehatan Reproduksi; FKM UI.

Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia, 1998. Vol.22. Nomor 2. Hlm 49-57;
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirihardjo.

Marshall, Fiona. 2004. Depresi Pasca Melahirkan . Arcan; Jakarta.

Marshall, Connie. 2000. Awal Menjadi Seorang Ibu. Arcan; Jakarta.

Mathai M, Sanghvi H, Guidotti RJ. 2000. Normal Labour and Childbirth. In :


Manging Complication In pregnancy and Childbirth : A Guide For
Midwivwes and Doctor. World Health Organization.

Mayla, Freyja, 2007. Baby Blues Syndrome. http://www.freyjamayla.blogspot.com


(tanggal akses 9 Desember 2011)

National Mental Health Association, 2003. Recognizing Postpartum Depression.


http://www.nmha.org. (Diakses pada tanggal 17 Desember 2011)

Norhana SW, 1995. Pendekatan Psychiatry Liaison pada Depresi Pasca Partus.
Indonesian Psychiatric Quarterly ; XXVIII ;4:91-8.

Obstetri Fisiologi. 1983. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran


Universitas Padjajaran Badung.

20
Papayungan D, 2005. Pendekatan Consultation-Liaison Psychiatry pada
Penatalaksanaan Depresi Pasca Bersalin Indonesian Psychiatric Quarterly ;
4 : 79-92.

Rianta, Trika. 2004. Efektifitas Pendampingan Suami Pada Kala II Persalinan dan
Kejadian Depresi Pasca Persalinan. (Skripsi) Program Pendidikan Dokter
Spesialis I (PPDS I) Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin. Makassar.

Reid V, Oliver MM, 2007. Postpartum Depression in Adolescent Mothers : An


Integrative Review of the Literature. Journal of Pediatric Health Care ; 21
: 289-98.

Saifuddin AB, Adriaans G, Wiknojosastro GH, Waspodo D. 2000. Persalinan Normal.


Dalam : Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal., Cetakan ke-2. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo;
Jakarta.

Sari LS, 2009. Sindroma Depresi Pasca Persalinan Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji
Adam Malik Medan. (Tesis) Bidang Ilmu Kedokteran Jiwa pada Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Medan.

Syahrir S, 2008. Faktor Risiko Baby Blues di Rumah sakit Bersalin Pertiwi Propinsi
Sulwasesi Selatan Tahun 2007.(Skripsi) Program Studi Epidemiologi
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Makassar.

Wisner KL, Parry BL, Piontek CM. 2002. Postpartum Deoression.


N Engl J Med ; 347 : 194 -99.

Wicaksono, Aries. 2007. Cara Mengatasi Baby Blues Syndrome.


http://www.liputan6.com/kesehatan/denpasar (tanggal akses, 16 Desember
2011)

Wiknojosastro H, 1996. Fisiologi dan Meaknisme Persalinan Normal. Dalam : Ilmu


Kebidanan. Cetakan Ke-4. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo;
Jakarta.

Wratsangka R, Hasan B, Wijayanegara H. 1996. Tinjauan Kasus “Postpartum Blues”


di RSU Dr. Hasan Sadikin-Bandung; Perkumpulan Obstetri dan
Ginekologi Indonesia (POGI).

21