Anda di halaman 1dari 32

Laboratorium Aliran Fluida dan Separasi Mekanik

Semester IV 2018 / 2019

LAPORAN PRAKTIKUM

FLOWMETER

Pembimbing : Tri Hartono, LRSC, M. ChemEng


Kelas : 2C
Tgl. Praktikum : 16 Maret 2019

Muh. Takbiratul Ihram Azkaa R. Ch.


331 17 072

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2019
FLOWMETER
I. Tujuan Percobaan
a. Menentukan hubungan head loss (rugi tekanan) akibat gesekan fluida
dan kecepatan aliran air melalui pipa kasar dan pipa halus.
b. Menentukan hubungan antara koefisien gesekan fluida (fluid friction
coefficient) dan Bilangan Reynolds untuk air yang mengalir dalam pipa
berpermukaan kasar.
c. Menentukan head loss berkaitan dengan air yang mengalir melalui
sambungan-sambungan (fittings)
d. Mendemonstrasikan aplikasi peralatan differential head dalam
pengukuran laju alir dan kecepatan fluida dalam pipa.

II. Dasar Teori

Arus zat cair umumnya kebanyakan diukur dengan menggunakan


ujung flowmeter. Cara kerja dari flowmeter ini didasarkan pada persamaan
Bernoulli. Flowmeter dengan pipa penyalur tertutup dapat dipergunakan
pada zat – zat gas maupun cair. Sedangkan flowmeter dengan pipa penyalur
terbuka hanya dapat dipergunakan pada zat cair. Ujung flow meter terdiri
dari lubang / mulut, venturimeter, alat pemercik arus, tabung pitot, dan
weirs. Flowmeter terdiri atas sebuah elemen primer yang menyebabkan
tekanan dan elemen sekunder yang berfungsi untuk mengukur hal tersebut.
Elemen primer tidak mengandung banyak bagian yang bergerak. Umumnya
kebanyakan elemen sekunder dengan flowmeter yang tertutup adalah
sebuah manometer dengan tabung berbentuk U. Zat dalam sebuah lengan
manometer dipisahkan dari lengan yang lainnya dengan menggunakan zat
cair berberat jenis lebih tinggi yang biasanya disini digunakan air raksa.

Tekanan dalam sebuah manometer adalah ( P1 + ρ.∆h.g ) pada


lengan 1 dan ( P2 + ρm.∆h.g ) pada lengan 2 dimana ρ dan ρm adalah berat
jenis zat arus dan cairan pemisah berturut – turut. Kedua tekanan ini sama
saat kedua lengan manometer dihubungkan oleh sebuah kolom zat cair yang
bersambung. Oleh karena itu :

P1 + ρ.∆h.g = P2+ ρm.ρh.g

Dapat dituliskan sebagai berikut :

P1 – P2 = (ρ - ρm) . ρh . g

Jika ρ dan ρm dalam kg/m3, ρh dalam m, dan g adalah 9,81 m/s2,


perbedaan tekanan melewati elemen primer P1 – P2N/m2. Perbedaan ujung
melewati elemen primer ke perbedaan dalam tingginya zat cair pemisah
pada kedua lengan manometer.

Flowmeter lain umumnya menggunakan prinsip – prinsip


pengoperasian yang berbeda dengan flowmeter ujung. Flowmeter yang
berhubungan dengan mesin mempunyai elemen primer yang terdiri dari
bagian – bagian yang bergerak atau berpindah. Flowmeter ini termasuk
rotameter, ukuran pemindahan positif dan ukuran kecepatan. Flometer
elektromagnetik mempunyai keuntungan – keuntungan dengan tidak adanya
pembatasan dalam sebuah pipa penyalur dan bagian – bagian yang tidak
bergerak atau berpindah.

 Gesekan Fluida Dalam Permukaan Pipa Halus

Osborn Reynolds mendemonstrasikan dua jenis aliran yang terjadi


dalam suatu pipa:
a. Aliran laminer pada kecepatan rendah dimana Head Loss, h ∝
kecepatan, u
b. Aliran turbulen pada kecepatan tinggi dimana h ∝ 𝑢𝑛

Kedua jenis aliran inin dipisahkan oleh aliran transisi dimana tidak ada
batasan hubungan antara h dan u. Grafik antara h dengan u dan log u
menunjukkan daerah-daerah ini.
 Head Loss Akibat Gesekan Melalui Pipa

Untuk fluida mengalir dalam pipa, headloss (mm H2O) akibat


gesekan dapat dihitung dengan persamaan

4 fLu 2 Lu 2
h or
2 gd 2gd

dimana,
L = panjang pipa antara tappings (m) = 1 m untuk semua pipa-pipa
d = diameter dalam pipa (m)
u = kecepatan rata-rata air melalui pipa (m/s)
g = 9.81 (percepatan gravitasi, m/s2)
f = koefisien gesek pipa (British)
4f =  (American)

Nilai f dapat ditentukan melalui diagram moody setelah diperoleh bilangan


Re untuk aliran di dalam pipa

u d
Re 

 = viskositas kinematik
= 1.15 x 10-3 Ns/m2 at 15 OC
 = densitas
= 999 kg/m3 at 15 OC

 Head Loss Akibat Melalui Sambungan-Sambungan

Suatu instalasi pipa biasa menggunakan bermacam-macam sambungan,


misal bends, elbows, tees, dan valves sehingga membentuk hambatan aliran.
Head Loss dalam sambungan adalah proporsional terhadap kecepatan fluida
yang mengalir melalui sambungan-sambungan tersebut.

K u2
h
2g

dimana,
h = head loss across fittings (mm H2O)
K = fittings factor
u = mean velocity of water through the pipe (m/s)
g = 9.81 (accelaration due to gravity m/s2)
Elbow meter
Aliran melalui sebuah siku dalam suatu saluran pipa mengakibatkan
tekanan yang lebih tinggi pada permukaan dinding lingkar luar ketimbang
pada permukaan dinding lingkar dalam.

Walaupun pengandaian bahwa aliran disitu merupakan sebuah vorteks non


rotasi tidak sahih sepenuhnya, beda tekanan yang terjadi merupakan fungsi
laju aliran. Beda head piezometrik atau head tekanan yang diukur
menggunakan tap-tap piezometer yang sesuai dapat memberikan
penunjukan pada sebuah manometer diferensial dan harga yang diperoleh
menyatakan laju aliran.

 Pengukuran Aliran Menggunakan Penurunan Tekanan (Head


Loss)
1. Venturi meter
Venturi meter digunakan untuk mengukur laju aliran di
dalam pipa. Alat ukur ini pada umumnya berupa benda tuangan
yang terdiri dari :
- Bagian hulu, yang berukuran sama dengan pipa, mempunyai
lapisan perunggu, dan mempinyai cincin pizometer guna
mengukur tekanan statik.
- Daerah kerucut konvergen
- Leher yang berbentuk silinder dengan lapisan perunggu yang
mempunyai cincin pizometer,
- Daerah kerucut yang berdivergensi secara berangsur-angsur
menjadi bagian yang berbentuk silinder yang berukuran sama
dengan pipa.

Dalam cairan dari pipa ke leher, kecepatan sangat


meningkat dan sesuai dengan hal itu tekanan sangat berkurang.
Tekanan di penampang hulu dan leher adalah tekanan nyata, dan
kecepatan-kecepatan dari persamaan bernoulli adalah kecepatan
teoritis. Bila dalam persamaan energi kerugian diperhitungkan,
maka kecepatan-kecepatan merupakan kecepatan nyata.

Dengan persamaan kontinyuitas Q = A1V1 = A2V2, secara ideal


menjadi,

1 / 2
  A 2    p1 p2 
1/ 2

Qi  A2V2  A2 1   2   2 g   Z 1 Z 2 
  A1      

Untuk aliran fluida nyata, laju aliran akan lebih kecil dibanding hasil
persamaan di atas dikarenakan efek gesekan dan head loss antara inlet
and throat. Sehingga,

1 / 2
  A 2    p1 p2 
1/ 2

Qa  Cd xA2 x 1   2   2 g   Z 1Z 2 


  A1      

Discharge coefficient dapat ditentukan sebagai berikut:

Qa
Cd 
Qi
Harga Cd biasanya berkisar antara 0.9 and 0.99.

2. Orifice meter
Meteran laju adalah alat yang menentukan, pada umumnya dengan
satu pengukuran ukuran saja, jumlah (berat atau volume) per waktu
satuan yang melalui suatu penampang tertentu. Orifice dapat
digunakan untuk mengukur laju aliran yang keluar dari suatu
reservoar atau yang melalui sebuah pipa. Orifice (pelat lubang ukur)
bertepi siku dalam pipa menyebabkan kontraksi (penyempitan) jet di
sebelah hilir lubang orifice.

Persamaan untuk venture meter dapat diaplikasikan juga pada orifice


meter dimana laju alir aktualnya,
1 / 2
  A 2    p1 p2 
1/ 2

Qa  Cd xA2 x 1   2   2 g  
  A1      

Biasanya Cd untuk orifice meter sebesar 0.6.

 Flowmeter dan Ukuran Arus


Arus zat cair umumnya kebanyakan diukur dengan menggunakan
ujung flowmeter. Cara kerja dari flowmeter ini didasarkan pada
persamaan Bernoulli. Flowmeter dengan pipa penyalur tertutup dapat
dipergunakan pada zat – zat gas maupun cair. Sedangkan flowmeter
dengan pipa penyalur terbuka hanya dapat dipergunakan pada zat cair.
Ujung flow meter terdiri dari lubang / mulut, venturimeter, alat pemercik
arus, tabung pitot, dan weirs. Flowmeter terdiri atas sebuah elemen
primer yang menyebabkan tekanan dan elemen sekunder yang berfungsi
untuk mengukur hal tersebut. Elemen primer tidak mengandung banyak
bagian yang bergerak. Umumnya kebanyakan elemen sekunder dengan
flowmeter yang tertutup adalah sebuah manometer dengan tabung
berbentuk U. Zat dalam sebuah lengan manometer dipisahkan dari
lengan yang lainnya dengan menggunakan zat cair berberat jenis lebih
tinggi yang biasanya disini digunakan air raksa.
Tekanan dalam sebuah manometer adalah ( P1 + ρ.∆h.g ) pada
lengan 1 dan ( P2 + ρm.∆h.g ) pada lengan 2 dimana ρ dan ρm adalah
berat jenis zat arus dan cairan pemisah berturut – turut. Kedua tekanan
ini sama saat kedua lengan manometer dihubungkan oleh sebuah kolom
zat cair yang bersambung. Oleh karena itu :

P1 + ρ.∆h.g = P2+ ρm.ρh.g

Dapat dituliskan sebagai berikut :

P1 – P2 = (ρ - ρm) . ρh . g

Jika ρ dan ρm dalam kg/m3, ρh dalam m, dan g adalah 9,81


m/s2, perbedaan tekanan melewati elemen primer P1 – P2N/m2.
Perbedaan ujung melewati elemen primer ke perbedaan dalam
tingginya zat cair pemisah pada kedua lengan manometer.

Flowmeter lain umumnya menggunakan prinsip – prinsip


pengoperasian yang berbeda dengan flowmeter ujung. Flowmeter yang
berhubungan dengan mesin mempunyai elemen primer yang terdiri dari
bagian – bagian yang bergerak atau berpindah. Flowmeter ini termasuk
rotameter, ukuran pemindahan positif dan ukuran kecepatan. Flometer
elektromagnetik mempunyai keuntungan – keuntungan dengan tidak
adanya pembatasan dalam sebuah pipa penyalur dan bagian – bagian
yang tidak bergerak atau berpindah.

 Flowmeter dengan saluran pipa tertutup


Elemen primer sebuah orifice meter adalah piringan datar yang
sederhana terdiri dari sebuah lubang bor, yang ditempatkan dalam pipa
tegak lurus pada arah arus zat.Lubang – lubang dalam piringan orifice
baja berupa concentric accentric ataupun segmental. Piringan orifice
cenderung rusak akibat erosi.

Koefisien Cd pada orifice meter tertentu adalah sebuah fungsi


lokasi keran tekanan, rasio diameter lubang orifice pada garis tengah
bagian dalam dari pipa di/d1. Jumlah Reynolds dalam pipa saluran Nre,
dan ketebalan piringan orifice . Referensi yang penting seharusnya
dikonsultasikan untuk nilai Cd. Data yang diberikan berturut – turut
seperti log- log Cd terhadap NRe. Hal tersebut seharusnya dicatat
apakah jumlah Reynolds didasarkan pada diamter bagian dalam dari
pipa atau lubang orifice. Pada umumnya kebanyakan Cd berkisar antara
0,6 sampai dengan 0,7. Orifice meter rusak akibat murah dan mudah
untuk diinstal apabila dapat dimasukkan pada gabungan piringan roda.
Venturymeter teorinya sama dengan orificemeter tetapi proporsi
tekanan yang diberikan lebih tinggi dapat melindungi daripada
orificemeter.Kebanyakan tabung – tabung pitot tidak mahal namun
tabung tersebut tidak banyak dipergunakan. Tabung pitot memiliki
kesensitifan yang tinggi untuk mengakibatkan pencemaran, tabung
tersebut tidak dapat mengukur rata – rata arus volume Q atau kecepatan
linear U. Akhirnya dapat dihitung dari ukuran tunggal jika hanya
distribusi kecepatan diketahui.

III. Alat dan Bahan


a. Alat
1. 10 mm Smooth Bore Pipe
2. 17 mm Artificial Rounghen Pipe
3. 900 Elbow
4. 900 Bend
5. Gate Valve
6. Venturi Meter
7. Orifice Meter
8. Selang
9. Stopwatch
10. Differential pressure transmiter
11. Pompa supply air
12. Tangki volumetris
b. Bahan
Air

IV. Gambar Rangkaian Alat


V. Prosedur Percobaan
A. Prosedur Umum Start Up
1. Memastikan peralatan terpasang dengan benar dan Hydraulic
Bench terletak dekat dengan peralatan.
2. Mengisi air dengan tangki volumertri sampai ±90% full
3. Menghubungkan suplai air dari tangki volumetris ke peralatan
menggunakan selang fleksibel.
4. Menghubungkan selang fleksibel keluaran dari peralatan ke dalam
tangki volumetris.
5. Membuka penuh outlet control valve pada peralatan dan alirkan air
melalui seksi pipa dengan memutar switching the valves.
6. Menutup penuh bench flow control valve.
7. Menghubungkan main power supply dan kemudian switch on
pump.
8. Membuka aliran masuk bench flow control valve perlahan-lahan
dan biarkan sampai semua pipa terisi air serta udara yang ada
dalam pipa keluar dari sistem.
B. Prosedur pada Percobaan 1,2,3,4,5 dan 6.
1. Melakukan Star-Up peralatan sesuai prosedur umum.
2. Memutar katup (Outlet atau Inlet valve) agar air mengalir kedalam
10 mm smooth bore pipe.
3. Memasang selang high(H) dan low(L) dari differential pressure
transmitor ke pipa yang akan diuji laju alirnya
4. Mengukur laju alir menggunakan tangki volumetrik yang berkaitan
dengan katup kontrol aliran (flow control valve).
5. Jika peralatan sudah di atur, maka dapat memulai praktikum
dengan menentukan volume yang diinginkan, menutup jalan
keluarnya aliran pada tangki, menyalakan stopwatch saat volume
berada di skala nol sampai volume yang diinginkan dan mengukur
head loss tapping menggunakan differential pressure transmitter
6. Mengulangi percobaan dengan volume berbeda dan mencatat
hasilnya.
7. Melakukan percobaan yang sama pada 17 mm artificial rounghen
pipe, 900 Elbow, 900 Bend, Gate Valve, Venturi meter, dan Orifice
meter.

VI. Data Pengamatan


A. 10 mm Smooth Bore Pipe
Panjang pipa = 1 m

No. Volume (L) Waktu (s) ΔH (mmH2O)


1. 10 40,14 332,445
2. 10 39,33 389,71
3. 10 31,05 507,35
4. 15 30,09 1134,1625
5. 15 17,90 2498,48

B. 17 mm Artifical Roughened Pipe


Panjang pipa = 1 m

No. Volume (L) Waktu (s) ΔH (mmH2O)


1. 10 72,70 556,878
2. 10 31,16 2900,0111
3. 10 22,42 5318,5
4. 15 26,18 5688,61
5. 15 22,32 7135,62
C. 90ᵒ Elbow
Diameter pipa = 25 mm

No. Volume (L) Waktu (s) ΔH (mmH2O)


1. 5 31,43 7,512
2. 10 37,08 2,645
3. 10 25,10 3,162
4. 15 23,97 11,143
5. 15 22,59 14,842

D. 90ᵒ Bend
Diameter pipa = 25 mm

No. Volume (L) Waktu (s) ΔH (mmH2O)


1. 10 37,25 3,151
2. 10 25,80 15,101
3. 10 18,59 32,928
4. 15 19,08 75,74
5. 15 14,93 92,54

E. Gate Valve
Diameter pipa = 25 mm

No. Volume (L) Waktu (s) ΔH (mmH2O)


1. 10 37,71 3,387
2. 10 24,98 19,2
3. 15 12,23 47,78
4. 15 17,44 73,14
5. 15 16,38 92,49

F. Venturi meter
Diameter 1 (d1) = 25 mm
Diameter 2 (d2) = 10 mm

No. Volume (L) Waktu (s) ΔH (mmH2O)


1. 10 51,49 36,303
2. 10 36,26 81,718
3. 10 20,08 281,976
4. 15 20,34 534,372
5. 15 15,67 730,453
G. Orifice meter
Diameter 1 (d1) = 25 mm
Diameter 2 (d2) = 10 mm

No. Volume (L) Waktu (s) ΔH (mmH2O)


1. 10 25,79 254,06
2. 15 25,28 508,322
3. 15 17,17 1342,48
4. 15 15,44 1655,63
5. 15 13,33 2166,6

VII. Perhitungan
A. 10 mm Smooth Bore Pipe
Diameter (d) = 10 mm = 0,01 m
Panjang pipa (L) = 1 m
𝜌 = 1000 kg/m3
μ = 0.00115 Ns/m2
g = 9,81 m/s2

 Menentukan luas penampang (A)


1
𝐴 = 4 𝜋𝑑 2
1
𝐴 = 4 𝜋(0,01𝑚)2
𝐴 = 7,85398 𝑥 10−5 m2

 Mengonversi satuan volume dalam L menjadi m3


1 L = 1 x 10-3 m3
10−3 𝑚3
10 𝐿 = 10 𝐿 𝑥 = 0,01 m3
𝐿

 Menghitung debit (Q)


𝑉
𝑄= 𝑡

0,01 𝑚3
𝑄= = 0.000249128 m3/s
40,14 𝑠

 Menenghitung kecepatan alir (u)


𝑄
𝑢=𝐴

3
0.000249128 𝑚 ⁄
𝑢 = 7,85398 𝑥 10−5 𝑚𝑠2 = 3.171996873 m/s
 Konversi satuan head dalam mmH2O menjadi mH2O
1 mmH2O = 1 x 10-3 mH2O
332,445 mmH2O = 332,445 x 10-3 mH2O
= 0,332445 mH2O

 Menghitung koefisien gesek pipa (λ)


ℎ2𝑔𝑑
λ= 𝐿 𝑢2

0,332445 𝑚𝐻2 𝑂 𝑥 2 𝑥 9,81 𝑚⁄ 2 𝑥 0,01 𝑚


𝑠
λ= = 0.006482661
1 𝑚 𝑥 (3.171996873 𝑚⁄𝑠)2

 Tabel hasil perhitungan untuk 10 mm Smooth Bore Pipe

Waktu ΔH log ΔH
V (m3) Q (m3/s) U (m/s) Re log Re λ
(s) (mH2O) (mH2O)

40.14 0.332445 0.01 0.000249128 3.171997 27555 -0.47828 4.440200398 0.006483

39.33 0.38971 0.01 0.000254259 3.237324 28122.49 -0.40926 4.44905382 0.007296

31.05 0.50735 0.01 0.000322061 4.10061 35621.82 -0.29469 4.551716162 0.00592

30.09 1.134163 0.015 0.000498504 6.347156 55137.47 0.054675 4.741446838 0.005524

17.9 2.49848 0.015 0.000837989 10.66961 92686.4 0.397676 4.967015995 0.004306


 Grafik 1 hubungan antara head loss (ΔH) dengan bilangan Reynold (Re)

ΔH vs Re
3

2.5

2
ΔH (mH2O)

1.5

0.5

0
0 20000 40000 60000 80000 100000
Re

 Grafik 2 hubungan antara log head loss (ΔH) dengan log bilangan
Reynold (Re)

log ΔH vs log Re
0.5
0.4
0.3
0.2
log ΔH (mH2O)

0.1
0
-0.1 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 4.9 5
-0.2
-0.3
-0.4
-0.5
-0.6
log Re
 Grafik 3 hubungan antara koefisien gesek pipa dengan bilangan Reynold

λ vs Re
0.008

0.007

0.006

0.005

0.004
λ

0.003

0.002

0.001

0
0 20000 40000 60000 80000 100000
Re

B. 17 mm Artifical Roughened Pipe


Diameter (d) = 17 mm = 0,017 m
Panjang pipa (L) = 1 m
𝜌 = 1000 kg/m3
μ = 0.00115 Ns/m2
g = 9,81 m/s2

 Menentukan luas penampang (A)


1
𝐴 = 4 𝜋𝑑 2
1
𝐴 = 4 𝜋(0,017𝑚)2

𝐴 = 0,00022698 m2

 Mengonversi satuan volume dalam L menjadi m3


1 L = 1 x 10-3 m3
10−3 𝑚3
10 𝐿 = 10 𝐿 𝑥 = 0,01 m3
𝐿

 Menghitung debit (Q)


𝑉
𝑄= 𝑡
0,01 𝑚3
𝑄= = 0,000137552 m3/s
72,7 𝑠

 Menenghitung kecepatan alir (u)


𝑄
𝑢=𝐴

3
0,000137552 𝑚 ⁄𝑠
𝑢= = 0.606007313 m/s
0,00022698 𝑚2

 Konversi satuan head dalam mmH2O menjadi mH2O


1 mmH2O = 1 x 10-3 mH2O
556,878 mmH2O = 556,878 x 10-3 mH2O
= 0,556878 mH2O

 Menghitung λ
ℎ2𝑔𝑑
λ= 𝐿 𝑢2

0,556878 𝑚𝐻2 𝑂 𝑥 2 𝑥 9,81 𝑚⁄ 2 𝑥 0,017 𝑚


𝑠
λ= = 0.068212461
1 𝑚 𝑥 (0,606007313 𝑚⁄𝑠)2

 Tabel hasil perhitungan untuk 17 mm Artifical Roughened Pipe

Waktu ΔH V log ΔH
Q (m3/s) U (m/s) Re log Re λ
(s) (mH2O) (m^3) (mH2O)

72.7 0.556878 0.01 0.000137552 0.606007313 8949.411 -0.25424 3.951794434 0.068212461

31.16 2.900011 0.01 0.000320924 1.413887409 20880.04 0.4624 4.319731396 1.933647199

22.42 5.3185 0.01 0.00044603 1.965063856 29019.72 0.725789 4.462693237 6.849997662

26.18 5.68861 0.015 0.000572956 2.52425888 37277.82 0.755006 4.571450462 12.08987666

22.32 7.13562 0.015 0.000672043 2.960801858 43724.61 0.853432 4.640725914 20.86403621


 Grafik 4 hubungan antara head loss (ΔH) dengan bilangan Reynold (Re)

ΔH vs Re
8

5
ΔH

0
0 10000 20000 30000 40000 50000
Re

 Grafik 5 hubungan antara log head loss (ΔH) dengan log bilangan
Reynold (Re)

log ΔH vs log Re
1

0.8

0.6
log ΔH (mH2O)

0.4

0.2

0
3.9 4 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7
-0.2

-0.4
log Re
 Grafik 6 hubungan antara koefisien gesek pipa dengan bilangan Reynold

λ vs Re
25

20

15
λ

10

0
0 10000 20000 30000 40000 50000
Re

C. 90ᵒ Elbow
Diameter pipa = 25 mm = 0,025 m
𝜌 = 1000 kg/m3
g = 9,81 m/s2

 Menentukan luas penampang (A)


1
𝐴 = 4 𝜋𝑑 2
1
𝐴 = 4 𝜋0,0252

𝐴 =0,000490874 m2

 Mengonversi satuan volume dalam L menjadi m3


1 L = 1 x 10-3 m3
10−3 𝑚3
5𝐿 =5𝐿𝑥 = 0,005 m3
𝐿

 Menghitung debit (Q)


𝑉
𝑄= 𝑡

0,005 𝑚3
𝑄= = 0.000159084 m3/s
31,43 𝑠
 Menenghitung kecepatan alir (u)
𝑄
𝑢=𝐴

3
0.000159084 𝑚 ⁄𝑠
𝑢= = 0.324082608 m/s
0,000490874 𝑚2

 Konversi satuan head dalam mmH2O menjadi mH2O


1 mmH2O = 1 x 10-3 mH2O

7,512 mmH2O = 7,512 x 10-3 mH2O


= 0,007512 mH2O

 Menghitung nilai k
ℎ2𝑔
𝐾= 𝑢2

0,007512 𝑚𝐻2 𝑂 𝑥 2 𝑥 9,81 𝑚⁄ 2


𝑠
𝐾= = 1.403276115
( 0.324082608 𝑚⁄𝑠)2

 Tabel hasil perhitungan untuk 900 Elbow


A (m2)
3
Waktu (s) ΔH (mH2O) V (m ) Q (m3/s) U (m/s) K

31.43 0.007512 0.005 0.000490874 0.000159084 0.324082608 1.403276115

37.08 0.002645 0.01 0.000269687 0.549402177 0.171926938

25.1 0.003162 0.01 0.000398406 0.811626801 0.094177706

23.97 0.011143 0.015 0.000625782 1.274833086 0.134522361

22.59 0.014842 0.015 0.000664011 1.352711336 0.159140666


 Grafik 7 hubungan antara fittings factor (K)dengan laju alir (u)

k vs u
1.6
1.4
1.2
1
0.8
k

0.6
0.4
0.2
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6
u

D. 90ᵒ Bend
Diameter pipa = 25 mm = 0,025 m
𝜌 = 1000 kg/m3
g = 9,81 m/s2

 Menentukan luas penampang (A)


1
𝐴 = 4 𝜋𝑑 2
1
𝐴 = 4 𝜋0,0252

𝐴 =0,000490874 m2

 Mengonversi satuan volume dalam L menjadi m3


1 L = 1 x 10-3 m3
10−3 𝑚3
10 𝐿 = 10 𝐿 𝑥 = 0,01 m3
𝐿

 Menghitung debit (Q)


𝑉
𝑄= 𝑡

0,005 𝑚3
𝑄= = 0.000159084 m3/s
31,43 𝑠

 Menenghitung kecepatan alir (u)


𝑄
𝑢=𝐴

3
0,000268456 𝑚 ⁄𝑠
𝑢= = 0.546894838 m/s
0,000490874 𝑚2

 Konversi satuan head dalam mmH2O menjadi mH2O


1 mmH2O = 1 x 10-3 mH2O

3,151 mmH2O = 3,151 x 10-3 mH2O


= 0,003151 mH2O

 Menghitung nilai k
ℎ. 2. 𝑔
𝐾= 𝑢2

0,003151 𝑚𝐻2 𝑂 𝑥 2 𝑥 9,81 𝑚⁄ 2


𝑠
𝐾= = 0.206699658
( 0.546894838 𝑚⁄𝑠)2

 Tabel hasil perhitungan untuk 900 Bend

Waktu ΔH
V (m3) A (m2) Q (m3/s) U (m/s) k
(s) (mH2O)

37.25 0.003151 0.01 0.000490874 0.000268456 0.546894838 0.206699658

25.8 0.015101 0.01 0.000387597 0.789605919 0.475208193

18.59 0.032928 0.01 0.000537924 1.09584899 0.537976039

19.08 0.07574 0.015 0.000786164 1.601559176 0.579346415

14.93 0.09254 0.015 0.001004689 2.0467347 0.433416452


 Grafik 8 hubungan antara fittings factor (K)dengan laju alir (u)

k vs u
0.7
0.6
0.5
0.4
k

0.3
0.2
0.1
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5
u

E. Gate Valve
Diameter pipa = 25 mm = 0,025 m
𝜌 = 1000 kg/m3
g = 9,81 m/s2

 Menentukan luas penampang (A)


1
𝐴 = 4 𝜋𝑑 2
1
𝐴 = 4 𝜋0,0252

𝐴 =0,000490874 m2

 Mengonversi satuan volume dalam L menjadi m3


1 L = 1 x 10-3 m3
10−3 𝑚3
10 𝐿 = 10 𝐿 𝑥 = 0,01 m3
𝐿

 Menghitung debit (Q)


𝑉
𝑄= 𝑡

0,005 𝑚3
𝑄= = 0.000265182 m3/s
37.71 𝑠
 Menenghitung kecepatan alir (u)
𝑄
𝑢=𝐴

3
0.000265182 𝑚 ⁄𝑠
𝑢= = 0.54022362 m/s
0,000490874 𝑚2

 Konversi satuan head dalam mmH2O menjadi mH2O


1 mmH2O = 1 x 10-3 mH2O

3,387 mmH2O = 3,3871 x 10-3 mH2O


= 0,003387 mH2O

 Menghitung nilai k
ℎ. 2. 𝑔
𝐾= 𝑢2

0,003387 𝑚𝐻2 𝑂 𝑥 2 𝑥 9,81 𝑚⁄ 2


𝑠
𝐾= = 0.227702114
( 0.54022362 𝑚⁄𝑠)2

 Tabel hasil perhitungan untuk Gate Valve

Waktu (s) ΔH (mH2O) V (m3) A (m2) Q (m3/s) U (m/s) k

37.71 0.003387 0.01 0.000490874 0.000265182 0.54022362 0.227702114

24.98 0.0192 0.01 0.00040032 0.815525729 0.566402155

12.23 0.04778 0.015 0.001226492 2.498589458 0.150160374

17.44 0.07314 0.015 0.000860092 1.752164511 0.467416673

16.38 0.09249 0.015 0.000915751 1.865552446 0.5214094


 Grafik 9 hubungan antara fittings factor (K)dengan laju alir (u)

k vs u
0.6

0.5

0.4

0.3
k

0.2

0.1

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
u

F. Venturi Meter
Diameter 1 (d1) = 25 mm = 0,025 m
Diameter 2 (d2) = 10 mm = 0,01 m

 Menentukan luas permukaan pipa 1 dan 2


𝜋 𝜋
𝐴1 = 𝑑2 = (0.025𝑚)2 = 0.000490874 𝑚2
4 4
𝜋 2 𝜋
𝐴2 = 𝑑 = (0.01𝑚)2 = 0.00007854 𝑚2
4 4

 Menentukan nilai k
1
2 −(2)
𝐴2
𝑄 = 𝐶𝑑 . 𝐴2 . [1 − ( ) ] . (2𝑔ℎ)1/2
𝐴1
𝑄 = 𝐶𝑑 . 𝑘. ℎ1/2
𝑄 = 𝑏. ℎ1/2
1
𝑙𝑜𝑔𝑄 = log 𝑏 + 𝑙𝑜𝑔ℎ
2
𝑦 = 𝑐 + 𝑚𝑥

Sehingga,
1
−( )
𝐴2 2 2
𝑘 = 𝐴2 . [1 − ( ) ] . √2𝑔
𝐴1
1
−( )
0.00007854 2 2
𝑘 = 0.00007854 𝑥 [1 − ( ) ] 𝑥 √2 𝑥 9,81
0.000490874
𝑘 = 0.000352428

 Mengonversi satuan volume dalam L menjadi m3


1 L = 1 x 10-3 m3
10−3 𝑚3
10 𝐿 = 10 𝐿 𝑥 = 0,01 m3
𝐿

 Konversi satuan head dalam mmH2O menjadi mH2O


1 mmH2O = 1 x 10-3 mH2O

36,303 mmH2O = 36,303 x 10-3 mH2O


= 0,036303 mH2O

 Tabel hasil perhitungan untuk Ventury meter

Waktu (s) ΔH (mH2O) V (m3) A1 (m2) A2 (m2) Q (m3/s) log Q log ΔH

51.49 0.036303 0.01 0.000491 7.85E-05 0.000705 -3.15178 -1.44006

36.26 0.081718 0.01 0.002254 -2.64711 -1.08768

20.08 0.281976 0.01 0.014043 -1.85255 -0.54979

20.34 0.534372 0.015 0.026272 -1.58051 -0.27216

15.67 0.730453 0.015 0.046615 -1.33148 -0.13641


 Grafik 10 hubungan antara log Q vs log H

y = 1.3783x - 1.1517 log Q vs log ΔH


R² = 0.9972
0
-1.6 -1.4 -1.2 -1 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0
-0.5

-1

-1.5
log Q

-2

-2.5

-3

-3.5
log ΔH

 Menghitung nilai cd

y = 1,3783x – 1,1517

y = mx + c

c = log Cd’ = -1,1517

Cd’ = 10 -1,1517 = 0.070518002

C d ’ = Cd x k
Cd ′ 0.070518002
Cd = = 0.000352428 = 200.0917833
𝑘

G. Orifice meter
Diameter 1 (d1) = 25 mm = 0,025 m
Diameter 2 (d2) = 10 mm = 0,01 m

 Menentukan luas permukaan pipa 1 dan 2


𝜋 𝜋
𝐴1 = 𝑑2 = (0.025𝑚)2 = 0.000490874 𝑚2
4 4
𝜋 2 𝜋
𝐴2 = 𝑑 = (0.01𝑚)2 = 0.00007854 𝑚2
4 4

 Menentukan nilai k
1
−( )
𝐴2 2 2
𝑄 = 𝐶𝑑 . 𝐴2 . [1 − ( ) ] . (2𝑔ℎ)1/2
𝐴1
𝑄 = 𝐶𝑑 . 𝑘. ℎ1/2
𝑄 = 𝑏. ℎ1/2
1
𝑙𝑜𝑔𝑄 = log 𝑏 + 𝑙𝑜𝑔ℎ
2
𝑦 = 𝑐 + 𝑚𝑥

Sehingga,
1
−( )
𝐴2 2 2
𝑘 = 𝐴2 . [1 − ( ) ] . √2𝑔
𝐴1
1
−( )
0.00007854 2 2
𝑘 = 0.00007854 𝑥 [1 − ( ) ] 𝑥 √2 𝑥 9,81
0.000490874
𝑘 = 0.000352428

 ngonversi satuan volume dalam L menjadi m3


1 L = 1 x 10-3 m3
10−3 𝑚3
10 𝐿 = 10 𝐿 𝑥 = 0,01 m3
𝐿

 Konversi satuan head dalam mmH2O menjadi mH2O


1 mmH2O = 1 x 10-3 mH2O

254,06 mmH2O = 254,06 x 10-3 mH2O


= 0,25406 mH2O

 Tabel hasil perhitungan untuk Ventury meter

Waktu (s) ΔH (mH2O) V (m3) A1 (m2) A2 (m2) Q (m3/s) log Q log ΔH

25.79 0.25406 0.01 0.000491 7.85E-05 0.000388 -3.41145 -0.59506

25.28 0.508322 0.015 0.000593 -3.22669 -0.29386

17.17 1.34248 0.015 0.000874 -3.05868 0.127908

15.44 1.65563 0.015 0.000972 -3.01256 0.218963

13.33 2.1666 0.015 0.001125 -2.94874 0.335779


 Grafik 11 hubungan antara log Q vs log H

y = 0.4783x - 3.1119
R² = 0.993
log Q vs log ΔH
-2.9
-0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0 0.2 0.4
-3

-3.1
log Q

-3.2

-3.3

-3.4

-3.5
log ΔH

 Menghitung nilai cd

y = 0,4783x – 3,1119

y = mx + c

c = log Cd’ = -3,1119

Cd’ = 10-3,1119= 0.000772859

C d ’ = Cd x k
Cd ′ 0.000772859
Cd = = 0.000352428 = 2.192952651
𝑘

VIII. Pembahasan

Kali ini tujuan praktikum ada empat poin yang hendak dicapai diantaranya yaitu dapat
menentukan laju aliran dan kecepatan aliran di dalam pipa halus dan kasar dengan
diameter yang berbeda, mendemonstrasikan aplikasi sudden contraction dalam
pengukuran laju aliran dan kecepatan aliran di dalam pipa, mendemonstrasikan aplikasi
plat orifice dalam pengukuran laju aliran dan kecepatan aliran di dalam pipa, dan
mendemonstrasikan aplikasi sebuah venturi meter dalam pengukuran laju aliran dan
kecepatan aliran di dalam pipa.

Flowmeter adalah alat untuk mengukur jumlah atau laju aliran dari suatu fluida yang
mengalir dalam pipa atau sambungan terbuka. Alat yang digunakan dalam percobaan
adalah 10 mm Smooth Bore Pipe, 17 mm Artificial Rounghen Pipe, Elbow, Bend,
Gate Valve, Venturi Meter, Orifice Meter, Selang, Stopwatch, Differential
pressure transmiter

Perlakuan awal pada smooth bore pipe di lakukan dengan keadaan pipa lurus
(horizontal) dengan panjang 1 meter dengan diameter pipa sebesar 10 mm.
Begitupun pada saat percobaan menggunakan artfical roughened pipe dilakukan
dengan keadaan pipa lurus dengan panjang 1 m dan diameter pipanya sebesar
17 mm. Berdasarkan data yang didapatkan, pada smooth bore pipe dan artfical
roughened pipe didapatkan bahwa semakin besar kecepatan aliran fluida maka
vortex yang terjadi menyebabkan aliran fluida kehilangan energi lebih banyak
sehingga head loss yang terjadi semakin besar. Pada percobaan ini diketahui
bahwa jenis aliran yang terjadi adalah aliran turbulensi dikarenakan nilai bilangn
Reynold yang di dapatkan memiliki nilai melebihi 2000. Selain itu, berdasarkan
data dan Grafik 2 hubungan antara log head loss (ΔH) dengan log bilangan
Reynold (Re) serta Grafik 5 hubungan antara log head loss (ΔH) dengan log
bilangan Reynold (Re) di dapatkan bahwa semakin besar bilangan Reynold, maka
semakin besar pula head loss yang terjadi. Hal ini disebabkan oleh
penambahan debit yang mengakibatkan meningkatnya turbulensi dan vortex
yang hal ini ditandai dengan meningkatnya bilangan Reynolds. Turbulensi
tersebut mempunyai partikel-partikel yang bergerak acak dan tidak stabil
sehingga sangat potensial untuk membentuk vortex.

Semakin besar kecepatan aliran fluida maka vortex yang terjadi menyebabkan
aliran fluida kehilangan energi lebih banyak sehingga head loss yang terjadi
semakin besar. Selanjutnya berdasarkan grafik 3 hubungan antara koefisien
gesek pipa dengan bilangan Reynold pada smooth bore pipe diketahui bahwa
koefisien gesek pipa meningkat pada dua data pertama dan menurun pada data
selanjutnya, koefisien gesek pipa terbesar terjadi pada data kedua yaitu sebesar
0,007296. Sedangkan pada artfical roughened pipe berdasarkan grafik 6
hubungan antara koefisien gesek pipa dengan bilangan Reynold diketahui bahwa
koefisen gesek semakin meningkat dengan bertambahkan nilai Reynold.

Adapun untuk mengukur head loss pada sambungan-sambungan, yaitu


menggunakan Elbow, Bend dan Gate valve. Head loss dalam sambungan adalah
proporsional terhadap kecepatan fluida yang melalui sambungan tersebut.
Berdasarkan perhitungan didapatkan bahwa pada Elbow semakin cepat aliran
fluida (u) maka fittings factor (K) akan menrun, tetapi gesekan fluida meningkat
pada kecepatan aliran 1,2748 m/s dan 1,2537 m/s. Besarnya kecepatan aliran
dan fittings factor dipengaruhi oleh besar kecilnya elbow yang diberikan.
Sedangkan pada Bend didapatkan hasil semakin cepat kecepatan aliran maka
semakin meningkat fittings factor-nya kecuali pada data terakhir yaitu pada
kecepatan aliran 2,0467 fittings factor-nya menurun. Selanjutnya, pada gate
valve didaptkan hasil yang naik turun diamana fittings factor tertinggi terjadi saat
kecepatan alir sebesar 0,8155 m/s. Lalu, percobaan menggunakan alat venturi
meter dan orifice meter untuk mengetahui harga Cd (Discharge Coefficient).

Venturi meter merupakan pipa yang memiliki penampan bagian tengahnya lebih
sempit dan diletakkan mendatar, zat cair akan dialirkan melalui pipa yang
memiliki penampang lebih besar lalu mengalir melalui pipa yang memiliki
penampang yang lebih kecil, sehingga akan terjadi perubahan kecepatan.
Sedangkan orificemeter adalah alat ukur yg sangat sedehana, terdiri atas
piringan datar dg lubang pada pusatnya. Pelat berlubang tersebut dipasang di
dalam pipa, tegak lurus pada arah aliran dan fluida mengalir melewati lubang.
Berdasarkan data pengamatan pada venturi meter dan orifice meter diketahui
bahwa semakin besar debit, maka semakin besar pula head loss-nya. Hal ini
dikarenakan, semakin besar kecepatan aliran fluida maka vortex yang terjadi
menyebabkan aliran fluida kehilangan energi lebih banyak sehingga head loss
yang terjadi semakin besar.

Dan dari grafik 10 hubungan antara log Q vs log h pada venturi meter
didapatkan garis linear dengan persamaan y = 1,3783x – 1,1517. 2658 jika
dikaitkan dengan rumus untuk pengukuran laju alir pada venturi meter, intersept
adalah log Cd’= -1,1517 maka nilai Cd’ adalah anti log dari -1,1517 yaitu
0.070518002 sehingga harga Cd sebesar 200,0917833. Harga Cd tersebut sangat
jauh dari harga Cd yang secara teori yang berkisar 0,9 dan 0,99. Sedangkan
berdasarkan grafik 11 hubungan antara log Q vs log h pada orifie meter
didapatkan garis linear dengan persamaan y = 0,4783x – 3,1119 jika dikaitkan
dengan rumus untuk pengukuran laju alir pada venturi meter, intersept adalah
log Cd’= – 3,1119 maka nilai Cd’ adalah anti log dari – 3,1119 yaitu 0.000772859
sehingga harga Cd sebesar 2,192952651. Harga Cd tersebut sangat jauh dari
harga Cd yang secara teori yaitu sebesar 0,6.

IX. Kesimpulan

Berdasarkan data yang didapatkan didapatkan kesimpulan sebagai berikut :

Hubungan head loss (rugi tekanan) akibat gesekan fluida dan kecepatan aliran air
melalui pipa halus adalah berbanding lurus

Semakin besar bilangan Reynold, maka semakin besar pula head loss yang
terjadi.

Koefisen gesek semakin meningkat dengan bertambahkan nilai Reynold.


Pada Elbow semakin cepat aliran fluida maka fittings factor akan menrun, tetapi
gesekan fluida meningkat pada dua data terakhir

Pada Bend semakin cepat kecepatan aliran maka semakin meningkat fittings
factor kecuali pada data terakhir

Pada gate valve didaptkan hasil yang tidak konstan diamana fittings factor
tertinggi pada kecepatan alir sebesar 0,8155 m/s.

Pada venturi meter dan orifice meter diketahui bahwa semakin besar debit, maka
semakin besar pula head loss-nya

Daftar pustaka

Anonim. 2019. Penuntun Praktikum Laboratorium Aliran Fluida dan Seaparasi Mekanik.
Jurusan Teknik

Kimia. Politeknik Negeri Ujung Pandang

Sufar, Fadil. Venturimeter. https://www.academia.edu/17784169/Venturimeter

Ali, Ahmad. Flowmeter. https://www.academia.edu/11937441/Flow_meter