Anda di halaman 1dari 24

PROMOSI KESEHATAN

“Klien sebagai peserta didik dan kebutuhan pendidikan kesehatan”

Disusun Oleh:

KELOMPOK 5

1. Inka Pratiwi (P201801036)


2. Windayani (P201801037)
3. Yusran (P201801031)
4. Siti Rahma S. A. (P201801005)
5. Yeti Wulandari (P201801010)
6. Anisa Haryati (P201801038)
7. Ramlian (P201801015)
8. Eka (P201801025)

KELAS L1 KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MANDALA


WALUYA KENDARI

2019
KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha
Esa, karena berkat rahmat-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang
diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas “Klien sebagai peserta didik dan
kebutuhan pendidikan kesehatan” suatu hal yang penting untuk dipelajari
mahasiswa keperawatan agar memperoleh pengetahuan mengenai promosi
kesehatan khususnya mengenai aspek pendidikan klien.

Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman sekaligus


untuk memenuhi tugas mata kuliah promosi kesehatan. Ucapan terima kasih kami
sampaikan kepada dosen pembimbing Wd. Aisyah,S.Kep,Ns.,M.Kep. yang telah
memberikan bimbingan, arahan, koreksi, dan dan saran dalam mendalami materi
mata kuliah promosi kesehatan serta pihak-pihak lain yang telah membantu
penyelesaian makalah ini.

Kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.
Kami sadar masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Untuk itu, kami
berharap kritik dan saran dari dosen pembimbing dan pembaca agar dapat menjadi
koreksi untuk perbaikan.

Kendari, 1 April 2019

Tim Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii


DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I Pendahuluan ..........................................................................................1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan .........................................................................................2
1.4 Manfaat Penulisan .......................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................3
2.1 Definisi dan Jenis-Jenis Pembelajaran ........................................................3
2.1.1 Definisi, Prinsip, dan Metode Belajar .............................................3
2.1.2 Teori Belajar....................................................................................4
2.1.3 Definisi, Konsep, dan Metode Mengajar ........................................7
2.1.4 Teori Mengajar ................................................................................9
2.1.5 Proses Belajar Mengajar dalam Keperawatan.................................9
2.2 Klien Sebagai Peserta Didik......................................................................11
2.2.1 Klien Sebagai Peserta Didik.........................................................11
2.3 Tujuan Pendidikan Kesehatan Klien dan Metode, Teknik, dan Strategi
Pengajaran ................................................................................................13
2.3.1 Definisi Pendidikan Kesehatan ....................................................13
2.3.2 Tujuan Pendidikan Kesehatan Klien ...........................................13
2.4 Evaluasi Pendidikan Kesehatan Klien ......................................................15
2.4.1 Evaluasi Aspek Psikomotor Klien ..................................................15
2.4.2 Evaluasi Belajar Klien ....................................................................16
BAB III PENUTUP ........................................................................................20
3.1 Kesimpulan ...............................................................................................20
3.2 Saran ..........................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Belajar menjadi aktivitas manusia disepanjang rentang kehidupan.Belajar


merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan pendidikan
dalam segala hal agar terjadi perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan
atau pengalaman-pengalaman. Pengalaman merupakan proses belajar sepanjang
hidup yang tidak diajarkan selama jenjang pendidikan. Pendidikan atau edukasi
adalah kegiatan untuk menambahkan pengetahuan seseorang melalui instruksi
atau teknik praktik belajar dengan tujuan memberi dorongan terhadap pengarahan
diri ke arah yang lebih baik, serta aktif memberikan informasi terkait dan
terbaru.Pendidikan ini bertujuan untuk mengubah pemahaman individu terhadap
suatu hal sehingga individu memandang hal tersebut dengan lebih bermakna.

Pendidikan atau edukasi pasien adalah bagian utama dari praktek semua
kesehatan profesional. Pendidikan kesehatan merupakan suatu bentuk tindakan
mandiri keperawatan untuk membantu klien baik individu, kelompok, maupun
masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan
pembelajaran yang didalamnya perawat sebagai perawat pendidik. Pendidikan
kesehatan juga bertujuan untuk membantu individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Kegiatan belajar
mengajar merupakan salah satu hal yang penting di dalam dunia
kesehatan.Mengajarkan pasien untuk selalu melakukan hidup sehat tentunya harus
dilakukan oleh seorang perawat kepada kliennya.

Seorang perawat sangat berperan sebagai pengajar dengan tujuan untuk


meningkatkan gaya hidup sehat individu melalui pengaplikasian pengetahuan
tentang kesehatan, proses perubahan, teori belajar dan mengajar, dan proses
keperawatan serta proses mengajar. Akan tetapi, disisi lain perawat juga harus
tetap senantiasa belajar agar ilmu dan keterampilan yang dimiliki senantiasa dapat
berkembang.

1
1.2 Rumusan Masalah
Dari pemaparan mengenai latar belakang tersebut, kami mengambil beberapa
rumusan masalah, yaitu:
a. Apa definisi dan jenis-jenis pembelajaran?
b. Apa saja domain belajar dan bagaimana posisi klien sebagai peserta didik?
c. Bagaimana komunikasi dalam proses pembelajaran klien dan kebutuhan
pendidikan kesehatan klien
d. Apa tujuan pendidikan kesehatan klien dan metode, teknik, dan strategi
pengajaran
e. Apa media pengajaran dan evaluasi pendidikan kesehatan klien

1.3 Tujuan Penulisan


Dengan rumusan masalah diatas, penyusunan makalah ini bertujuan untuk:
a. Menjelaskan definisi dan jenis-jenis pembelajaran
b. Menjelaskan domain belajar dank lien sebagai peserta didik
c. Mendeskripsikan komunikasi dalam proses pembelajaran klien dan kebutuhan
pendidikan kesehatan klien
d. Menjelaskan tujuan pendidikan kesehatan klien dan metode, teknik, dan
strategi pengajaran
e. Menjelaskan media pengajaran dan evaluasi pendidikan kesehatan

1.4 Manfaat Penulisan


Dengan tujuan tersebut, diharapkan pembaca dapat:
a. Mengetahui definisi dan jenis-jenis pembelajaran
b. Mengetahui domain belajar dank lien sebagai peserta didik
c. Mengetahui komunikasi dalam proses pembelajaran klien dan kebutuhan
pendidikan kesehatan klien
d. Mengetahi tujuan pendidikan kesehatan klien dan metode, teknik, dan strategi
pengajaran
e. Mengetahui media pengajaran dan evaluasi pendidikan kesehatan

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan Jenis-jenis Pembelajaran


2.1.1 Definisi, Prinsip dan Metode Belajar

Belajar menurut menurut KBBI adalah berusaha memperoleh kepandaian


atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh
pengalaman. Selain itu, belajar adalah proses asimilasi informasi baru yang
meningkatkan sebuah perubahan tetap dalam perilaku (Allender, Rector, &
Warner, 2014). Konsep belajar merupakan akar dari pemikiran peserta didik,
dimana nantinya yang akan menimbulkan umpan balik saat kegiatan belajar.
Kegiatan belajar memiliki tujuan yaitu menumbuhkan sifat-sifat positif dari
peserta didik, contohnya peserta didik memiliki karakter yang penyayang
sehingga membuat sikap dan perilakunya dapat diterima oleh orang-orang
disekitarnya (Prashnig, 2007).

Prinsip belajar merupakan fokus dari kegiatan pembelajaran khususnya


pada aktifitas peserta didik di semua jenjang pendidikan, misalnya dengan
menggunakan demonstrasi, tugas PR, dan kuis (Hackathorn, 2011). Dalam proses
tersebut Raymond membagi beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor
internal, faktor eksternal, dan faktor pendekatan belajar. Faktor internal
merupakan faktor dari dalam peserta didik sendiri, seperti kondisi fisik dan psikis
peserta didik.Faktor external merupakan faktor yang muncul dari lingkungan
peserta didik, seperti kondisi kenyamanan tempat belajar yang digunakan. Faktor
pendekatan belajar merupakan cara yang digunakan peserta didik untuk
mempelajari suatu mata ajar, seperti penggunaan metode konsep akar pohon untuk
mata ajar dengan materi yang saling berkaitan dan menggunakan pengalaman
sebagai pembelajaran kedepan yang lebih baik (Prashnig, 2007).

Metode belajar membantu pengajar memberikan arahan sehingga


mendapatkan efektifitas dalam proses kegiatan belajar. Simamora (2008)
mengemukakan ke-7 metode belajar tersebut di antaranya yaitu :

3
1) Metode penglihatan, dimana peserta didik memahami suatu mata ajar
dengan menggunakan gambar, bentuk, animasi atau video,

2) Metode mendengar, dimana peserta didik memahami suatu mata ajar


dengan mengingat intruksi verbal baik dari pendidik atau orang-orang di
sekitarnya,

3) Metode bergerak, dimana peserta didik memahami suatu mata ajar


dengan mendengar ataupun melihat disertai gerakan-gerakan kecil seperti
mengetuk-ngetuk pensil ke meja atau berfikir sambil berjalan kesana-kemari,

4) Metode taktil (sentuhan), dimana peserta didik memahami suatu mata


ajar dengan menyentuh, meraba atau membuat gamabaran sendiri di pemikirannya
seperti dalam pelajaran anatomi fisiologi, pelajar lebih cepat menangkap ilmu
ketika memegang langsung alat peraga dibanding membaca buku.

5) Metode penciuman, dimana peserta didik memahami suatu mata ajar


dengan menggunakan indera hidung,

6) Metode pengecap, dimana peserta didik memahami suatu mata ajar


dengan bantuan lidah , dan

7) Metode kombinasi, dimana peserta didik memahami suatu mata ajar


dengan mengandalkan lebih dari satu indera.

2.1.2 Teori Belajar

Teori belajar sudah berkembang selama beberapa dekade, dan teori ini
biasanya familiar bagi para perawat (Lundy & Janes, 2016). Menurut Kozier
dalam Berman, Snyder, & Frandsen (2016), ada tiga kerangka yang mendasari
teori belajar, yaitu:

1. Perilaku (behaviorism)

Menurut Thorndike, teori perilaku adalah proses interaksi


antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang
terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain
yang dapat ditangkap melalui alat indera.

4
Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta
didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan atau
gerakan/tindakan.(Kozier et al., 2015). Sementara itu, Skinner
mengungkapkan teori ini adalah operant conditioning yaitu bentuk
pembelajaran dimana hukuman yang diberikan atas perilaku
memungkinkan perubahan dari perilaku tersebut.Skinner menganggap
hukuman itu semata-mata hanya memperkuat respons.Menurut
Skinner unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan
(reinforcement) dan hukuman (punishment).(Kozier et al., 2015).

Perawat dalam hal ini harus memberikan waktu latihan yang


cukup untuk pengujian langsung dan berulang serta melakukan
demonstrasi bersama, memberikan kesempatan kepada pelajar untuk
memecahkan masalah, memuji pelajar atas perilaku yang benar dan
memberikan umpan balik positif pada pengalaman belajar secara
keseluruhan.

2. Kognitif (cognitivism)

Merupakan proses belajar yang sebagian besar melibatkan


proses berpikir atau pembentukan mental serta intelektual. Pelajar
menyusun dan memproses informasi sebaik-baiknya sehingga
terbentuk suatu pengetahuan. Proses belajar kognitif terdiri atas 3
tahapan yaitu:

1) Asimilasi, merupakan proses penyatuan informasi baru ke


dalam struktur kognitif pada benak mahasiswa,

2) Akomodasi, merupakan penyesuaian struktur kognitif ke


dalam situasi baru, dan

3) Ekuilibrasi, merupakan penyesuain kesinambungan antara


asimilasi dan akomodasi. (Nursalam & Effendi, 2008).

5
Perawat yang menerapkan teori kognitif ini akan berupaya
untuk menyediakan lingkungan sosial, emosional, dan fisik yang
kondusif untuk belajar, mendorong hubungan antara pengajar dengan
pelajar yang positif, memilih strategi pengajaran multiindrawi karena
persepsi dipengaruhi oleh indera, menargetkan gaya belajar yang
berbeda pada setiap karakteristik individu yang berbeda, menilai
perkembangan dan penerimaan seseorang untuk belajar dan
beradaptasi pada strategi pengajaran sesuai tingkat perkembangan
pelajar.

3. Kemanusiaan (humanism)

Teori ini berfokus pada kedua kualitas kognitif dan afektif


pelajar.Pengemuka teori ini salah satunya adalah Abraham Maslow
dan Carl Rogers.Menurut teori ini, belajar diyakini sebagai motivasi
diri, inisiasi diri, dan evaluasi diri.Pelajar mengidentifikasi kebutuhan
belajar dan mengambil inisiatif sendiri untuk memenuhi kebutuhan
tersebut.Teori ini digunakan perawat agar berfokus pada perasaan dan
sikap pelajar mengenai pentingnya seseorang mengidentifikasi
kebutuhan belajar dan mengambil tanggung jawab untuk dirinya
sendiri, dan pada motivasi diri pelajar untuk bekerja ke arah
kemandirian dan secara independen.

Perawat yang menerapkan teori ini akan memberi empati dalam


berkomunikasi antara perawat (pengajar) dengan klien (pelajar), mendorong
klien untuk menetapkan tujuan dan menerapkan pembelajaran mandiri,
melayaninya sebagai fasilitator, mentor, atau sumber daya untuk klien, dan
memaparkan informasi yang baru dan relevan kepada klien dan mengajukan
pertanyaan yang tepat untuk mendorong pelajar untuk mencari jawaban.

6
2.1.3 Definisi, Konsep, dan Metode Mengajar
Definisi mengajar menurut Arifin (1978) dalam Simamora (2009) ialah
suatu rangkaian kegiatan penyampaian materi pelajaran kepada peserta didik agar
dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran
tersebut. Sementara menurut Tyson dan Caroll (1970) mengajar adalah sebuah
cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara peserta didik dan pengajar
yang sama-sama aktif melakukan kegiatan. Hal ini menggambarkan bahwa
mengajar sama seperti suatu kegiatan dimana seseorang mampu mengatur,
mengontrol, dan mengorganisasi lingkungannya untuk tetap kondusif seiring
dengan peserta didik menangkap ilmu dan menerapkan keterampilannya
sementara pengajar memberikan umpan balik sehingga tercipta proses belajar
yang baik.
Menurut Biggs (1991), seorang pakar psikologi dalam Buku ajar
pendidikan dalam keperawatan (2009) konsep mengajar dibagi menjadi tiga
macam pengertian, yaitu:
1) Pengertian kuantitatif,disebut juga penularan pengetahuan. Dalam hal ini
guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan
menyampaikan kepada siswa dengan sebaik-baiknya. Masalah berhasil
atau tidaknya siswa menangkap apa yang diajarkan, bukan seluruhnya
menjadi tanggung jawab pengajar.
2) Pengertian institusional,yaitu penataan segala kemampuan mengajar agar
berlangsung efisien. Dalam hal ini guru dituntut untuk siap
mengadaptasikan berbagai teknik mengajar terhadap siswa yang memiliki
berbagai macam tipe belajar serta berbeda bakat, kemampuan, dan
kebutuhannya.
3) Pengertian kualitatif,dimana pengajar berupaya mendorong siswa mencari
makna dan pemahamannya sendiri dalam proses belajar, dalam arti siswa
diajak lebih terbuka dalam mengeksplorasi idenya sementara pengajar
hanya sebagai fasilitator.
Simamora (2009) juga memaparkan metode pengajaran yang seringkali

7
digunakan oleh para pengajar, di antaranya yaitu :
1. Metode ceramah, dimana informasi disampaikan pasif secara lisan.
Namun, merupakan metode paling efektif, praktis dan ekonomis untuk
menyampaikan informasi kepada masyarakat luas.
2. Metode diskusi, dimana pembelajaran berkaitan dengan pemecahan
masalah yang bertujuan mendorong peserta didik berpikir kritis, bebas
menyuarakan pendapat, menyumbang buah pikirnya memecahkan masalah
dan membuat alternatif solusi dengan pertimbangan yang cermat.
3. Metode demonstrasi, dimana pengajaran dilakukan dengan bantuan alat
peraga, kejadian, aturan atau urutan kegiatan. Sehingga membuat peserta
didik lebih terpusat, terarah dan tertanam ingatannya akan materi ajar
tersebut.
4. Metode resitasi, dimana peserta didik diharuskan membuat resume selama
berlangsungnya pembelajaran menggunakan kalimatnya sendiri, yang
membuatnya dapat mengingat materi ajar lebih lama.
5. Metode eksperimental, dimana peserta didik dalam kelompok atau
individu dilatih melakukan proses, praktik atau percobaan.
6. Metode study tour, dimana peserta didik diajak belajar di luar arena kelas
dengan mengunjungi objek guna memperluas wawasan sembari membuat
laporan hasil kunjungan tersebut.
7. Metode drill (latihan keterampilan), dimana peserta didik diajak langsung
ke tempat latihan untuk melihat proses tujuan, fungsi, guna dan
manfaatnya, diharapkan dapat membentuk kebiasaan yang akan terpola
dalam dirinya.
8. Metode pengajaran teman sejawat, dimana satu dengan yang lain saling
bertukar wawasan.

8
2.1.4 Teori Mengajar
Kegiatan mengajar dilandasi oleh tiga teori yang perlu diperhatikan agar
kegiatan berlangsung dengan baik, di antaranta yaitu:
1. Teori mengajar yang pertama yaitu teaching as telling or transmission.
Kegiatan mengajar adalah proses menyampaikan atau mentransmisikan
suatu topik kepada pendengar yang berfokus pada tindakan yang akan
dilakukan pengajar kepada individu dengan cara tertentu (FIP-UPI, 2007).
2. Teori mengajar yang kedua yaitu teaching as organizing student activity.
Teori ini menjelaskan bahwa pada hakikatnya kegiatan mengajar berperan
dalam mengorganisasikan berbagai kegiatan pelajar yang mengatur agar
seluruh kegiatan yang dilakukan pelajar menjadi sebuah pengalaman
belajar bagi dirinya (FIP-UPI, 2007).
3. Teori mengajar yang ketiga yaitu teaching as making learning possible.
Teori ini menerangkan bahwa belajar dan mengajar merupakan dua hal
seperti kedua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Teori ini berisi
gabungan berbagai aspek pembelajaran antar pihak yang melakukan
kegiatan belajar-mengajar (FIP-UPI, 2007).

2.1.5 Proses Belajar Mengajar dalam Keperawatan


Proses belajar mengajar tidak hanya dilakukan oleh perawat saja, namun
juga dilakukan oleh perawat dan klien. Menurut Chow et al., 1984 dalam buku
“Perawat sebagai pendidik, Proses pengajaran dan pembelajaran: perawat selalu
mendidik pihak lain-pasien, keluarga, dan kolega, dan dari sinilah perawat
kemudian memperluas praktik mereka sehingga mencakup konsep kesehatan dan
penyakit yang lebih luas (Bastable, 2002).

Proses pendidikan adalah serangkaian tindakan yang sistematik, berurutan,


dan terencana terdiri dari dua operasi utama yang interdependen, pengajaran dan
pembelajaran, yang memebentuk siklus tanpa terputus. Proses ini juga melibatkan
dua pemain yang inter-independen, yaitu pengajar dan pendididk. Mereka
melakukan kegiatan belajar secara bersama- sama dengan hasil perubahan prilaku
yang dikehendaki oleh kedua belah pihak yang mendorong pertumbuhan peserta
didik dan mendorong (Bastable, 2002).

9
Pada proses pendidikan, sama halnya dengan proses keperawatan yang
mengawalinya dari pengkajian hingga evaluasi. Proses pendidikan
mengidentifikasi materi dan metode instruksi berdasarkan pengkajian dan
penentuan prioritas kebutuhan pembelajaran, kesiapan untuk belajar, kesiapan
untuk belajarbelajar, dan gaya belajar klien. Jika sasaran tidak tercpai, seperti
yang diputuskan melalui evaluasi, maka proses pendidikan harus dimulai kembali
dengan pengkajian ulang (Bastable, 2002).

Menurut Smith dan Bell, upaya perawat sebagai pendidik keberhasilannya


diukur bukan berapa banya meteri yang disajikan, tetapi berdasarkan berapa
banyak yang dipelajari orang tersebut. Pendidikan pasien merupakan suatu proses
untuk membantu orang mempelajari perilaku yang berkaitan dengan kesehatan
sehingga dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai
kesehtana yang optimum dan kemandirian dalam perawatan diri. Pendidikan staf
merupakan proses untuk mempengaruhi perilaku perawat dengan melakukan
perubahan pada pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan yang diperlukan
untuk meningkatkan kompetendsi mereka (Bastable, 2002).

10
2.2 Klien sebagai Peserta Didik
2.2.1 Klien sebagai Peserta Didik

Mendapatkan edukasi atau pengarahan sangat diperlukan. Pemberian


edukasi biasanya oleh orang yang lebih tahu dan berpengalaman mengenai apa
yang akan dibutuhkan, bagaimana dan apa yang harus dilakukan nantinya.
Pemberian edukasi memiliki tujuan-tujuan tertentu bergantung pada kebutuhan
peserta didik tersebut.

Menurut Nursalam & Efendi (2008) menjelaskan bahwa tujuan dari


diberikannya edukasi kepada klien ialah untuk memenuhi kebutuhan dasar klien
secara komprehensif melalui upaya integrasi berbagai konsep, teori, dan teknikal.
Sedangkan menurut Potter dan Perry (2009), edukasi yang diberikan pada klien
memiliki tiga tujuan, yaitu Pemeliharaan, promosi kesehatan, dan pencegahan
penyakit, Pemulihan kesehatan, dan Adaptasi klien terhadap gangguan fungsi.
Apabila proses pemberian edukasi sementara berlangsung atau diskusi telah
selesai, peserta didik diharapkan dapat berespons secara positif baik secara verbal
maupun non verbal seperti berkomentar secara aktif dalam menanggapi
perntanyaan dan penyataan yang diberikan oleh pemberi edukasi dan
mengangguk-anggukan kepala dsb (Morrison P. & Burnard P, 2008). Informasi
tidak akan didapat dan tidak akan dipahami oleh klien apabila terdapat rintangan
atau hambatan pada saat proses pengedukasian berlangsung.

Belajar tak hanya diwaktu muda saja, tetapi belajar harus terus menerus
dilakukan.Istilahnya ialah belajar sepanjang hayat.Belajar sepanjang hayat
merupakan suatu konsep tentang belajar terus menerus dan
berkesinambungan.Belajar tidak hanya berlangsung di lembaga formal tetapi
dimana saja. Dalam hubungan dengan belajar sepanjang hayat terdapat tugas-
tugas perkembangan, yaitu:

1. Tugas perkembangan dewasa awal, seperti memilih pasangan hidup,


bertanggung jawab sebagai warga Negara, dan berupaya mendapat
kelompok social yang sesuai dan tepat.

11
2. Tengah baya, seperti mengisi waktu luang dengan berbagai kegiatan,
menjadi warga Negara yang baik, dan menyesuaikan diri dengan
perubahan fisik dan umur.
3. Orang tua, seperti menyesuaikan diri dengan penurunan fisik,
penurunan kesehatan, dan menyesuaikan diri sebagai duda atau janda.

Adapun faktor yang mendukung belajar sepanjang hayat pada individu


ialah dari faktor internal (fisiologis, kecerdasan, motivasi, minat, sikap,
dan bakat), dan faktor eksternal (lingkungan social dan lingkungan non
social).

Rintangan atau hambatan terhadap pembelajaran berlangsung menurut


Bastable (2002), ialah:

1. Kondisi fisik dan mental klien


2. Tingkat pendidikan akhir yang dimiliki oleh klien
3. Dampak negative dari lingkungan disekitar klien
4. Karakter pribadi yang ada dalam diri klien
5. Kesiapan untuk belajar, motivasi dalam diri klien dan gaya belajar
klien.
6. Seberapa jauh perubahan perilaku yang dibutuhkan.
7. Kurangnya dukungan, dorongan, dan motivasi dari dalam diri klien
dan orang-orang disekitarnya.
8. Kurangnya keinginan untuk memegang komitmen atau tanggung
jawab.
9. Penyangkalan terhadap kebutuhan pembelajaran.
10. Kebencian terhadap pihak yang berwenang (yang mengatur atau yang
berhubungan dengan proses pengedukasian berlangsung).

Oleh karena itu, agar pesan dapat diterima dengan baik dan untuk
mencegah terjadinya miss komunikasi, individu yang memberikan edukasi harus
mampu untuk mengendalikan diri klien dan memiliki berbagai macam strategi dan
solusi apabila timbul hambatan atau rintangan dari klien.

12
2.3 Tujuan Pendidikan Kesehatan Klien dan Metode, Teknik, dan Strategi
Pengajaran

2.3.1 Definisi Pendidikan Kesehatan

Sebelum mengenal atau mengetahui tentang pendidikan kesehatan,


penting untuk mengetahui beberapa pendapat para ahli tentang pendidikan.
Menurut Prof. Dr. M. J. Langevelt, pendidikan adalah setiap usaha,
pengaruh, perlindungan, dan bantuan yang dilakukan pada anak untuk
menjadi dewasa. ciri orang dewasa ditunjukkan oleh kemampuan secara
fisik, mental, moral, sosial, dan emosional. Sementara menurut
Notoadmodjo (2003) dalam (Maulana, 2009), pendidikan secara umum
adalah segala upaya yang direncanakan untuk memengaruhi orang lain
sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan.
Pendidikan atau edukasi pasien adalah bagian utama dari praktek
semua kesehatan profesional. Didasarkan pada set teori, temuan penelitian,
dan keterampilan yang harus dipelajari dan dipraktekkan (Redman, 2007).
Layanan pendidikan pasien akan diberikan selama asuhan keperawatan
berlangsung. Pendidikan kesehatan bagi klien telah menjadi satu dari
peran yang paling penting bagi perawat yang bekerja diberbagai lahan
asuhan keperawatan.Pendidikan kesehatan merupakan suatu bentuk
tindakan mandiri keperawatan untuk membantu klien baik individu,
kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya
melalui kegiatan pembelajaran yang didalamnya perawat sebagai perawat
pendidik (Suliha, Herawani, Sumiati, & Resnayati, 2002).

2.3.2 Tujuan Pendidikan Kesehatan Klien

Tujuan pendidikan kesehatan adalah membantu individu, keluarga,


kelompok, dan masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal
(Edelman dan Mandle, 2006 dalam (Potter & Perry, 2009).Menurut
(Kozier et al.,2010) pendidikan kesehatan klien bertujuan untuk
mempermudah klien dan keluarga dalam pengambilan keputusan tentang
kesehatan. Selain itu dapat meningkatkan gaya hidup sehat pada klien
dengan menerapkan pengetahuan tentang kesehatan.

13
Pendidikan pasien yang komprehensif mencakup tiga tujuan yang
sangat penting, masing-masing melibatkan fase yang terpisah dari
pelayanan kesehatan (Potter & Perry, 2009).
a. Pemeliharaan dan Promosi Kesehatan, serta Pencegahan Penyakit.
Mempromosikan perilaku sehat melalui pendidikan memungkinkan
pasien untuk memikul tanggung jawab lebih untuk kesehatan mereka
(Potter & Perry, 2009). Pengetahuan yang besar akan mengubah
perilaku atau kebiasaan dalam pelayanan kesehatan. Ketika pasien
menjadi lebih sadar akan kesehatannya, mereka akan lebih tanggap
untuk mencari diagnosis dini masalah kesehatan.
b. Pemulihan Kesehatan
Pasien sakit membutuhkan informasi dan keterampilan yang berguna
untuk membantu mereka mendapatkan kembali atau
mempertahankan tingkat kesehatan mereka. Pasien yang pulih dari
penyakit akan beradaptasi dengan perubahan yang dihasilkan dari
penyakit atau pasien yang menderita cedera setelahnya akan sering
mencari informasi tentang kondisi mereka. Misalnya, seorang wanita
yang baru-baru ini menjalani hysterectomy bertanya tentang laporan
penyakitnya dan akan berlangsung proses pemulihan yang panjang.
Namun, beberapa pasien merasa sulit untuk beradaptasi dengan
penyakit dan menjadi pasif dan tidak tertarik untuk belajar.Seorang
perawat harus belajar mengidentifikasi keinginan pasien untuk
belajar dan memotivasi minat belajar pasien (Potter & Perry,
2009).Keluarga menjadi bagian penting dari kembalinya kesehatan
pasien. Pengasuh di dalam keluarga seringkali membutuhkan
pengetahuan yang hampir sama dengan pasien, termasuk informasi
tentang cara melakukan keterampilan dalam rumah.
c. Mengatasi Fungsi Gangguan
Tidak semua pasien sepenuhnya pulih dari penyakit atau
cedera.Banyak yang harus belajar untuk mengatasi perubahan
kesehatan yang permanen.

14
2.4 Evaluasi Pendidikan Kesehatan Klien

2.4.1 Evaluasi Aspek Psikomotor Klien

Pendidikan kesehatan merupakan proses belajar yang harus dialami oleh


individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang menjadi sasaran dengan tujuan
akhir perubahan perilaku (Nursalam & Efendi, 2007). Bloom (1909) membagi
perilaku ke dalam tiga domain kognitif, domain sikap dan domain psikomotor.
Kognitif adalah merupakan hasil tahu dan penginderaan seseorang terhadap suatu
objek.Domain sikap adalah reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus. Sedangkan domain psikomotor adalah respons yang
terlihat secara langsung oleh orang lain atau biasa disebut dengan praktik.

Domain psikomotor memiliki empat tingkatan yaitu persepsi, respons


terpimpin, mekanisme, dan adaptasi. Pada tahap persepsi, kita mengenal dan
memilih objek yang berhubungan dengan tindakan yang akan diambil.
Selanjutnya adalah respon terpimpin adalah melakukan sesuatu sesuai dengan
urutan yang benar sesuai dengan contoh.Ketiga dalah mekanisme yaitu apabila
seseorang melakukan dengan benar secara otomatis atau menajdi sebuah
kebiasaan.Terakhir yang paling tinggi adalah adopsi yaitu praktik yang sudah
berkembang dengan baik.(Efendi & Makhfudli, 2009)

Pendidikan kesehatan dapat dilakukan dengan berbagai teknik dan media


peraga.Teknik dan media ini memudahkan narasumber untuk menyampaikan
pesannya.Teknik harus dipilih berdasarkan pengunjung yang hadir dan tujuan
yang ingin dicapai. Setelah teknik yang dipilih sesuai, maka ditentukan media dan
alat peraga yang akan dipergunakan dalam pendidikan kesehatan. Media dapat
berbentuk elektronik, cetak atau media lainnya, hal ini ditentukan oleh banyaknya
sasaran, keadaan geografis, karakteristik partisipan dan sumber daya pendukung.

Setelah dilakukakn pendidikan kesehatan, narasumber akan mengevaluasi


beberapa aspek yaitu evaluasi belajar klien, evaluasi aspek psikomotor dan
evaluasi mengajar intervensi keperawatan. Tujuannya adalah mengevaluasi
pencapaian tujuan pendidikan yang telah diberikan. Namun, pada kesempatan
kali ini saya akan berfokus kepada evaluasi aspek psikomotor klien.

15
Evaluasi aspek psikomotor dapat dilakukan dengan mengobservasi
bagaimana klien melakukan suatu prosedur di rumah.Evaluasi ini jauh lebih
kompleks dibandingkan dengan evaluasi kognitif dan biasanya hanya ditentukan
dengan skala sikap.Dari hasil observasi ini, kita bisa mengetahui apakah perlu
dilakukan modifikasi pendidikan kiranya tujuan tidak tercapai, atau kiranya sudah
tercapai adakah yang mesti dikembangkan.

Keberhasilan pendidikan kesehatan dapat dievaluasi dari berbagai aspek yaitu,


input, proses, output, outcomes dan impact serta komponen pertanyaan seperti
what, where, when, why, dan how. Hasil dari evaluasi ini juga dapat dijadikan
acuan sebagai bahan rencana tindak lanjut bagi narasumber terhadap
penerima.Rencana tindak lanjut ini dapat meningkatkan pengetahuan penerima
materi dan mencapai aspek domain psikomotor paling tinggi yaitu aspek adopsi.

2.4.2 Evaluasi Belajar Klien

Tahapan asuhan keperawatan yang terakhir adalah Evaluasi.Evaluasi


dilakukan untuk mengukur keberhasilan intervensi yang dilakukan serta menilai
apakah dibutuhkan intervensi lain (Edelmen, Mandle, & Kudzuma, 2010).
Evaluasi dapat sesuai dengan macam-macam klien, yaitu:

a. Evaluasi individu

Tolak ukur yang dapat mengevaluasi seorang individu bisa jadi bermacam-macam
bergantung pada kasusnya.dikutip dari buku Barbara K. Redman (2004) dalam
bukunya Advances in Patience Education ada lima tolak ukur yang bisa dinilai
secara umum(Redmen, 2004), yaitu:

1. Self-Efficacy

Self-efficacy adalah kepercayaan seorang individu mengenai


kemampuannya untuk melaksanakan atau menjalankan
sesuatu.Biasanya, hal ini spesifik terhadap suatu kasus atau
perilaku.Untuk itu, tolak ukur ini berbeda-beda sesuai dengan kondisi
tertentu.

16
Contohnya adalah Childbirth Self-Efficacy Scale (Lowe, 1993,
dalam, Redmen, 2004) serta Sickle cell Self-Efficacy Scale (Edwards,
Telfair, Cecil & Lenoci, 2000, dalam, Redmen 2004).

2. Kebutuhan mengetahui sebuah informasi

Kebutuhan untuk mengetahui sebuah informasi biasanya tinggi akan


permintaan terhadap klien-klien dengan level depresi atau kecemasan
yang lebih tinggi. Hal ini dibuktikan dari klien yang memiliki diabetes,
rheumatoid arthritis, kanker, asma, osteoporosis, schizophrenia dan
beberapa penyakit lainnya, ternyata kebutuhan informasi sangat
diinginkan oleh pasien kanker. Kebutuhan akan informasi ini juga
berkurang setelah masa penyakit membaik.

3. Kepercayaan

Kepercayaan klien terhadap suatu kondisi dapat mempengaruhi proses


asuhan keperawatan. Contohnya adalah The Menopause
Representations Questinnaire yang mengukur pengetahuan individu
mengenai identitas, konsekuensi, dan persepsi mengenai kontrol dan
penyembuhan, hal ini bisa mempengaruhi asuhan keperawatan.
Kepercayaan yang tidak benar akan suatu kondisi kelien bisa jadi
mempengaruhi proses penyembuhan klien.

4. Manajemen diri

Contoh pengukuran tolak ukur manajemen diri ini adalah Heart


Failure Questionnaire yang menilai bagaimana perilaku seseorang
dengan penyakit jantung dan apa yang mereka lakukan saat gejalanya
datang. Hasilnya adalah orang yang lebih berpengalaman pada
kesehariannya mencoba untuk mengurangi konsumsi sodium.Hal ini
adalah contoh penilaian manajemen diri yang baik.

17
b. Evaluasi komunitas
Perawat komunitas akan mengukur apakah rencana asuhan keperawatan
yang telah dibuat membuahkan hasil yang dilakukan pada fase evaluasi ini.
Komunitas maupun perawat, mengukur keberhasilan ini berdasarkan objektif yang
tercapai. Perawat memiliki tanggung jawab sepenuhnya terhadap hasil ini, namun,
dengan berkolaborasi dengan anggota komunitas serta tenaga kesehatan lain, akan
membuat hasil evaluasi yang lebih valid (Edelmen, Mandle, & Kudzuma, 2010).

Rencana asuhan keperawatan yang melibatkan diagnosis keperawatan,


ekspektasi hasil, dan intervensi, membutuhkan data menganai bagaimana
komunitas tersebut merespon terhadap rencana asuhan keperawatan yang
dibuat.Hasil dari respon tersebut dibandingkan antara sebelum dan sesudah
intervensi.Perbandingan ini akan memberikan gambaran mengenai seberapa
efektif rencana asuhan keperawatan tersebut (Edelmen, Mandle, & Kudzuma,
2010)

Frekuensi penilaian evaluasi juga tergantung akan situasi, seberapa cepat


perubahan diharapkan, dan objektifnya. Contoh, seseorang yang berdarah akan
membutuhkan evaluasi dengan interval yang singkat, sementara perubahan
perilaku komunitas akan berjalan perlahan dan membutuhkan metode evaluasi
jangka panjang. Interval evaluasi berbeda-beda tergantung apakah objektifnya
jangka pendek atau jangka panjang (Edelmen, Mandle, & Kudzuma, 2010).

c. Evaluasi keluarga

Fungsi dari evaluasi ini adalah untuk menilai bagaimana keluarga


merespon terhadap rencana asuhan keperawatan dan apakah intervensi ini
berhasil. Tujuan dan objektif yang spesifik terhadap suatu kasus akan
mempermudah hasil evaluasi dibandingkan evaluasi yang umum. Kriteria yang
digunakan untuk mengevaluasi hasil intervensi dengan tolak ukur simpel adalah
seperti perubahan berat badan, peningkatan kapasitas paru-paru dari program
olahraga, Sementara itu, hasil dari promosi kesehatan dan pencegahan penyakit
lainnya tidak semudah itu untuk diukur atau dinilai, namun harus tetap dilakukan
dalam tahapan asuhan keperawatan.

18
Saat menilai faktor-faktor seperti kepercayaan, perspektif pribadi, atau
peran dalam suatu hubungan, perawat harus mengevaluasi berdasarkan pendapat
keluarga tersebut apakah mereka merasa intervensi itu berhasil atau tidak.Setelah
itu, data yang diperoleh dari keluarga digunakan untuk dibandingkan dengan
informasi saat awal pengkajian untuk dapat menentukan apakah ada perubahan
(Edelmen, Mandle, & Kudzuma, 2010).

Tolak ukur berikut ini dapat digunakan untuk menentukan keefektifan


sebuah intervensi, yaitu: 1) perubahan pola interaksi, 2) komunikasi efektif, 3)
kemampuan untuk mengekspresikan emosi, 4) kepekaan terhadap kebutuhan
anggota keluarga lain, dan 5) kemampuan memecahkan masalah. Tolak ukur
tersebut dapat dibandingkan dengan kondisi keluarga pada saat pengkajian
awal.Hasil dari penilaian tolak ukur ini masih bisa digunakan untuk menilai potret
keluarga bahkan hingga hari ini, saat keluarga sudah lebih bervariasi (Edelmen,
Mandle, & Kudzuma, 2010).

Saat melakukan perencanaan asuhan keperawatan, perawat harus


menentukan kriteria terkait norma dasar yang diharapkan untuk muncul, hal ini
adalah dasar dari hasil evaluasi. Bila kriteria yang dibuat semakin objektif, maka
hasil evaluasi akan semakin valid. Saat tujuan dan objektif tercapai, maka masalah
sudah terselesaikan. Sebaliknya, bila tujuan tidak tercapai, maka perawat harus
mengkaji ulang apa penyebab tidak tercapainya tujuan dan merencanakan
intervensi alternative. Kesalahan bisa dari faktor keluarga maupun faktor
pelayanan kesehatan itu sendiri seperti kekurangan staf ahli atau kekurangan
dalam pendanaan (Edelmen, Mandle, & Kudzuma, 2010).

19
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pada dasarnya proses dan kebutuhan pembelajaran pendidikan kesehatan
pada tiap tiap individu, keluarga, masyarakat itu berbeda-beda. Pendidikan
kesehatan merupakan suatu bentuk tindakan mandiri keperawatan untuk
membantu klien baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi
masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran yang didalamnya perawat
sebagai perawat pendidik (Suliha, Herawani, Sumiati, & Resnayati, 2002).
Adapun media pengajaran yang dapat digunakan ialah melalui teks, media audio,
media visual, media proyeksi gerak, benda-benda tiruan/miniature, dan manusia.
Sehingga dapat mempermudah proses dan memenuhi pendidikan kesehatan pada
tiap tiap individu, keluarga, maupun masyarakat

3.2 Saran
Sebagai individu kita harus selalu melakukan kegiatan belajar mengajar.
Tak hanya pada saat usia muda, melainkan sampai akhir hayat. Apabila kita ingin
melakukan, menerapkan, atau mempelajari suatu hal pada diri sendiri ataupun
pada orang lain, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu mengenai suatu hal
tersebut, kemudian memahaminya, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-
hari. Agar yang kita lakukan dapat terlaksana ataupun tersampaikan dengan baik
dan berguna bagi kehidupan kita maupun kehidupan orang lain yang telah kita
ajari.

20
DAFTAR PUSTAKA

Allender, J. A., Rector, C., & Warner, K. D. (2014).Community and public health
nursing: Promoting the public’s health, 8th edition. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.

Bastable, Susan B. ( 2002) .Nurse as educator :Priciples of teaching and learning,


Perawat sebagai pendidik : Prinsip – prinsip pengajaran dan
pembelajaran.( Gerda

Bensley, R. J. (2008). Metode pendidikan kesehatan masyarakat. Jakarta: EGC.

Berman, AudreyJ.; Snyder, Shirlee; Kozier, Barbara J.; Erb. (2007). Fundamental
of nursing , 8th Edition. Prentice Hall

Berman, A., & Snyder, S. J. (2012). Kozier & Erb's fundamentals


of nursing: concepts, process, and practice (9th ed.). USA: Pearson
Education Inc.

Berman, A. T., Snyder, S., & Frandsen, G. Ed. (2016).Kozier & Erb’s
fundamentals of nursing : concepts, practice, and process. 10th edition. St.
Louis: Pearson.