Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH FARMASI PRAKTIS

“SWAMEDIKASI SUNBURN”

Dosen Pemgampu : Prof. Dr. R.A. Oetari, SU., MM., M.Sc., Apt.

Disusun oleh :
Kelompok A-14
Fitria Choirunnisa 1920374117
Gina Tazkya 1920374118

UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA


FAKULTAS FARMASI
PROFESI APOTEKER
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Swamedikasi (self medication) merupakan pengobatan diri sendiri yaitu
penggunaan obat-obatan atau menenangkan diri sebagai bentuk perilaku untuk
mengobati penyakit yang dirasakan. Pengobatan diri sendiri memiliki dasar
hukum permekes No.919/MENKES/PER/X/1993 yang secara sederhana
mendefinisikan swamedikasi adalah upaya seseorang dalam mengobati gejala
sakit atau penyakit tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Swamedikasi bukan berarti asal mengobati, namun pasien harus mencari
informasi obat yang sesuai dengan penyakitnya dan peran Apoteker sangat
dibutuhkan. Apoteker bisa memberikan informasi obat yang objektif dan
rasional. Swamedikasi boleh dilakukan untuk kondisi penyakit yang ringan,
umum dan tidak akut. Beberapa komponen informasi yang diperlukan untuk
swamedikasi meliputi tepat menggunakan obat modern, yaitu pengetahuan
tentang kandungan aktif obat, indikasi, dosis, efek samping, dan kontra
indikasi (Anonim 2010).
Beberapa penyakit yang dapat dilakukan swamedikasi adalah penyakit
ringan seperti nyeri, sakit kepala, cacingan, luka tergores, luka iris, cacingan,
ketombe, biang keringat, diare, mual muntah, jamur, dan penyakit kulit ringan
lainnya. Salah satu penyakit kulit yang sering dialami masyarakat adalah
sunburn. Penyakit atau gejala ini merupakan kondisi akibat sengatan matahari.
Kondisi ini akan membentuk luka bakar radiasi yang mempengaruhi jaringan
hidup, seperti kulit, yang dihasilkan dari paparan radiasi ultraviolet (UV)
berlebihan yang umumnya dari matahari. Gejala normal pada manusia dan
hewan lain terdiri dari kulit merah atau kemerahan yang panas saat disentuh,
kelelahan umum, dan pusing ringan. Pada kondisi paparan matahari yang
ekstrim dan berkepanjangan, tidak hanya eritema yang yang terjadi namun
faktor paparan radiasi dapat memicu berkembangnya penyakit kanker kulit
(Roshini et al. 2014).
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka disusun makalah swamedikasi
untuk kasus sunburn (sengatan matahari). Di dalam makalah ini akan
membahas tentang pengertian isunburn, penyebab, cara mengatasi, dan
tambahan pola gaya hidup untuk mencegah sunburn. Untuk memberikan
gambaran swamedikasi kasus sunburn maka akan disajikan contoh dialog
swamedikasi sunburn yang dialami seorang pasien.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis menyusun makalah ini dengan
rumusan masalah sebagai berikut
a. Apa yang dimaksud dengan sunburn ?
b. Apakah penyebab terjadinya sunburn ?
c. Bagaimana terapi untuk mengatasi sunburn ?
d. Bagaimana cara mencegah terjadinya sunburn ?
e. Obat apa saja yang dapat digunakan untuk mengatasi sunburn ?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penulisan makalah
ini adalah untuk
a. Mengetahui apa yang dimaksud dengan sunburn.
b. Mengetahui penyebab terjadinya sunburn.
c. Mengetahui terapi untuk mengatasi sunburn.
d. Mengetahui cara mencegah terjadinya sunburn.
e. Mengetahui obat –obat yang dapat digunakan untuk mengatasi sunburn.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sunburn
Kulit terbakar karena sinar matahari (sunburn) adalah suatu kondisi kulit yang
dapat dimanifestasikan dengan timbulnya merah, nyeri pada kulit yang terasa
panas saat disentuh serta biasanya muncul dalam beberapa jam setelah paparan
sinar ultraviolet (UV) yang terlalu banyak dari sinar matahari atau sumber buatan
seperti sinar lampu (Smith 1981).
Paparan sinar matahari yang intens dan berulang-ulang yang mengakibatkan
kulit terbakar meningkatkan risiko kerusakan kulit lainnya dan penyakit tertentu.
Ini termasuk kulit kering atau keriput, bintik-bintik gelap, bintik-bintik kasar, dan
kanker kulit, seperti melanoma. Penanganan kulit tersengat matahari dapat
dilakukan dengan pengobatan rumahan. Kulit terbakar mungkin membutuhkan
beberapa hari atau lebih lama untuk memudar (Smith 1981).

B. Gejala Sunburn
Setiap bagian tubuh yang terbuka, termasuk daun telinga, kulit kepala, dan
bibir dapat terbakar oleh matahari. Bahkan area yang tertutup dapat terbakar jika,
misalnya pakaian memiliki tenunan longgar yang memungkinkan sinar ultraviolet
(UV) masuk. Mata yang sangat sensitif terhadap sinar UV matahari, juga bisa
terbakar. Mata yang terbakar matahari mungkin terasa menyakitkan atau berpasir.
Tanda dan gejala seseorang mengalami sunburn diantaranya yakni
1. Merah muda atau kemerahan
2. Kulit yang terasa hangat atau panas saat disentuh
3. Nyeri, nyeri tekan, dan gatal
4. Pembengkakan
5. Lepuh kecil berisi cairan, yang bisa pecah
6. Sakit kepala, demam, mual dan kelelahan jika kulit terbakar parah
Tanda dan gejala kulit terbakar biasanya muncul dalam beberapa jam
setelah paparan sinar matahari. Tetapi mungkin butuh satu hari atau lebih lama
untuk mengetahui sepenuhnya sengatan matahari. Dalam beberapa hari, tubuh
mungkin mulai sembuh dengan "mengupas" lapisan atas kulit yang rusak. Setelah
dikupas, kulit mungkin sementara memiliki warna dan pola yang tidak teratur.
Sinar matahari yang buruk mungkin membutuhkan beberapa hari atau lebih lama
untuk pulih.
Seseorang harus pergi ke dokter untuk kasus sunburn jika mengalami
kondisi sebagai berikut
1. Meluas dan menutupi sebagian besar tubuh
2. Diiringi oleh demam tinggi, nyeri hebat, sakit kepala, kebingungan, mual
atau kedinginan
3. Tidak membaik dalam beberapa hari
Selain itu pasien harus menemukan perawatan medis jika melihat tanda-tanda atau
gejala infeksi berupa meningkatnya rasa sakit, pembengkakan, drainase kuning
(nanah) dari lepuh terbuka, serta garis-garis merah kulit.

C. Penyebab

Gambar lapisan kulit dan melanin

Sinar matahari disebabkan oleh paparan terlalu banyak sinar ultraviolet


(UV). Radiasi UV adalah panjang gelombang sinar matahari dalam kisaran yang
terlalu pendek untuk dilihat mata manusia. Ultraviolet A (UVA) adalah jenis
radiasi matahari yang paling terkait dengan penuaan kulit (photoaging).
Ultraviolet B (UVB) dikaitkan dengan sengatan matahari. Paparan kedua jenis
radiasi dikaitkan dengan pengembangan kanker kulit. Sinar lampu dan tanning
bed juga menghasilkan sinar UV dan dapat menyebabkan kulit terbakar.
Melanin adalah pigmen gelap di lapisan luar kulit (epidermis) yang memberi
warna normal pada kulit. Ketika terkena sinar UV, tubuh melindungi dirinya
sendiri dengan mempercepat produksi melanin. Melanin ekstra menciptakan
warna tan yang lebih gelap (Anonim 2018).
Berjemur adalah cara tubuh untuk memblokir sinar UV untuk mencegah
kulit terbakar dan kerusakan kulit lainnya. Namun perlindungan hanya berjalan
sejauh ini. Jumlah melanin yang dihasilkan ditentukan secara genetik. Banyak
orang tidak cukup memproduksi melanin untuk melindungi kulit dengan baik.
Akhirnya, sinar UV menyebabkan kulit terbakar, menyebabkan rasa sakit,
kemerahan dan pembengkakan. Seseorang bisa terkena sengatan matahari di hari
yang sejuk, berkabut, atau berawan. Sebanyak 80 persen sinar UV melewati awan.
Salju, pasir, air, dan permukaan lainnya dapat memantulkan sinar UV, membakar
kulit seberat sinar matahari langsung (Anonim 2018).

D. Faktor Risiko
Faktor risiko untuk terbakar sinar matahari meliputi:
1. Memiliki kulit terang, mata biru, dan rambut merah atau pirang
2. Tinggal atau berlibur di suatu tempat yang cerah, hangat atau di ketinggian
3. Bekerja di luar ruangan
4. Mencampur rekreasi luar ruangan dan minum alkohol
5. Memiliki riwayat sengatan matahari
6. Secara teratur memaparkan kulit yang tidak terlindungi ke sinar UV dari
sinar matahari atau sumber buatan, seperti tanning bed
7. Mengambil obat yang membuat Anda lebih mudah terbakar (obat
fotosensitisasi).

E. Pencegahan Sunburn

Gunakan metode ini untuk mencegah kulit terbakar, bahkan pada hari yang
dingin, berawan, atau berkabut. Dan ekstra hati-hati di sekitar air, salju dan
pasir karena mereka memantulkan sinar matahari. Selain itu, sinar UV lebih
intens di ketinggian tinggi.
1. Hindari paparan sinar matahari antara pukul 10 pagi dan 4 sore. Sinar
matahari paling kuat selama jam tersebut. Jika tidak bisa melakukan hal
tersebut, batasi lama waktu di bawah sinar matahari.
2. Saat berada di luar, kenakan topi lebar dan pakaian yang menutupi, termasuk
lengan dan kaki. Warna gelap menawarkan perlindungan lebih, seperti halnya
kain tenun yang rapat. Pertimbangkan untuk menggunakan perlengkapan luar
yang dirancang khusus untuk memberikan perlindungan terhadap sinar
matahari. Periksa label untuk faktor perlindungan ultraviolet (UPF), yang
menunjukkan seberapa efektif kain memblokir sinar matahari. Semakin tinggi
nilainya semakin bagus.
3. Gunakan tabir surya dengan sering dan murah hati. Oleskan tabir surya tahan
air dan lip balm dengan SPF 30 atau lebih besar dan perlindungan spektrum
luas terhadap sinar UVA dan UVB. Sekitar 15 hingga 30 menit sebelum keluar
rumah, oleskan tabir surya dengan murah hati pada kulit yang tidak akan
dilindungi oleh pakaian.
4. Kenakan kacamata hitam saat di luar ruangan. Pilih kacamata hitam dengan
perlindungan UVA dan UVB. Periksa peringkat UV pada label saat membeli
kacamata baru. Lensa yang lebih gelap belum tentu lebih baik dalam
menghalangi sinar UV.
5. Waspadai obat-obatan yang meningkatkan sensitivitas terhadap sinar matahari.
Obat-obatan umum yang membuat lebih sensitif terhadap sinar matahari
termasuk antihistamin, ibuprofen, antibiotik tertentu, antidepresan,
antipsikotik dan beberapa obat penurun kolesterol. Konsultasikan dengan
apoteker tentang efek samping obat (Anonim 2018).

F. Penanganan Sunburn
Setelah sengatan matahari terjadi tidak dapat banyak hal untuk membatasi
kerusakan pada kulit. Tetapi hal berikut dapat mengurangi rasa sakit dan
ketidaknyamanan karena sunburn :
 Gunakan obat pereda nyeri. Jika diperlukan, penghilang rasa sakit yang

dijual bebas seperti ibuprofen atau naproxen sodium dapat membantu


mengendalikan rasa sakit dan bengkak akibat terbakar sinar matahari,
terutama jika Anda meminumnya segera setelah paparan sinar matahari.
Beberapa jenis penghilang rasa sakit dapat diterapkan pada kulit Anda
sebagai gel (Roshini 2014)
 Dinginkan kulit. Oleskan ke kulit yang terkena handuk bersih yang
dibasahi dengan air keran dingin. Atau mandi dengan air dingin.
 Oleskan pelembab, lotion atau gel. Lotion lidah buaya atau gel atau
kalamin mungkin menenangkan
 Minum banyak air untuk mencegah dehidrasi
 Biarkan lepuh dan jangan memecahkan dengan kuku.Jika melepuh pecah,
bersihkan dengan sabun dan air ringan. Kemudian gunakan salep
antibiotik pada luka dan tutupi dengan perban antilengket.
 Dalam beberapa hari, daerah yang terkena mungkin mulai mengelupas. Ini
adalah cara tubuh menghilangkan lapisan atas kulit yang rusak. Saat kulit
mengelupas, teruskan melembabkan kulit dengan krim atau gel lidah
buaya.
 Untuk terbakar sinar matahari yang parah, gunakan krim hidrokortison
yang dijual bebas, yang dapat meredakan radang dan rasa tidak nyaman
(Roshini 2014).
 Apabila berjalan dan berdiam lama dibawah matahari. Dapat dicegah
dengan cara melindungi tubuh dari sinar matahari dengan menggunakan :
1. Penutup tubuh, payung dan sebagainya (Anonim 2019).
2. Zat penyaring UV (sunscreen = tabir surya)
- PABA ( p-aminobenzoat),Padimate, ester PABA (Pabanox,
Parasol)
- benzofenon-oksibenzon, Rossolare krem
- senyawa sinamat, oktil-metoksisinamat
3. ditambah dengan penyaring-UV fisik :
- titandioksida
- sengoksida
- talk
Dioleskan setengah jam sebelum berjemur, setelah kontak deperlu dioleskan
lagi. Faktor pelindung dari suatu krem, lotion, bedak (Sun Protektif Faktor =
SPF) menyatakan dayanya untuk menyaring sinar –UV dan berapa lama kira-
kira dapat berada dibawah sinar matahari tidak terbakar. Misalnya : Kulit
memerah setelah kena matahari 30 menit. Bila menggunakan krem dengan
faktor 6, maka kulit baru terbakar sinar matahari setelah 6x 30 menit = 180
menit.
G. Pilihan Obat
1. Metil Prednisolon

Indikasi
Terapi asma bronkial, rinitis alergi, urtikaria, ekszema, dermatitis,
demam rematik akut, rheumatoid artritis, anemia hemolitik didapat, idiopatik
trombositopenik purpura pada orang dewasa, mieloblastosis,
limfogranulomatosis, kolitis ulseratif, sindroma nefrotik, penyakit kulit, lupus
eritematosus, dermatomiositis. Supresi respons imun setelah transplantasi,
sebagai terapi tambahan sitostatik atau radioterapi, sebagai pengganti pada
insufisiensi adrenokortikal primer dan setelah adrenalektomi.

Cara Penggunaan
Awal dewasa 4-80 mg/hari. Anak 0.8 - 1.1 mg/ kg berat badan.
Pemeliharaan : Dewasa 4-8 mg/hari dosis ditingkatkan menjadi 16 mg/hari,
anak 2-4 mg/hari, dapat ditingkatkan sampai 8 mg/hari. Dosis substitusi 4-8
mg/hari, dalam keadaan stres ditingkatkan menjadi 16 mg/hari.

Kontra Indikasi
Tukak lambung, osteoporosis, gangguan psikiatrik, amebiasis, infeksi
mikosis sistemik, poliomielitis, glaukoma sudut tertutup atau terbuka dan
penyakit virus.

Efek Samping
Moon face, obesitas, kelemahan otot, hipertensi, osteoporosis,
penurunan toleransi glukosa, diabetes melitus, ulkus peptikum, gangguan
respons antibodi, penghambatan pertumbuhan pada anak, katarak, trombosis,
pankreatitis. Sakit kepala, vertigo.

Interaksi Obat
Glikosida jantung, diuretik, antidiabetik, rifampisin, fenitoin, barbiturat,
asam asetilsalisilat, siklosporin, ketokonazol, troleandomisin.
2. Loratadin

Indikasi
Alergi, seperti bersin-bersin, ruam kulit, pilek, hidung tersumbat, dan
mata berair akibat paparan alergen (misalnya debu, bulu hewan, atau gigitan
serangga).
Cara Penggunaan
Untuk mengatasi reaksi alergi pada pasien dewasa, dosis loratadine
yang biasanya direkomendasikan oleh dokter adalah 10 mg satu kali sehari,
atau 5 mg dua kali sehari. Sedangkan pada anak-anak usia 2-5 tahun, dosisnya
adalah 5 mg satu kali sehari.
Kontraindikasi
Hipersensitifitas
Efek Samping
Merasa lelah atau mengantuk
Interaksi Obat
Jika digunakan bersamaan dengan obat-obatan tertentu, loratadine bisa
menimbulkan reaksi berupa peningkatan efek samping atau justru mengurangi
efektivitas obat itu sendiri. Hindari mengonsumsi loratadine dengan obat-
obatan yang mengandung desloratadine. Sama seperti loratadine, desloratadine
merupakan obat yang bisa digunakan untuk meredakan gejala-gejala alergi.
Jangan mengonsumsi alkohol selama menjalani pengobatan dengan loratadine
karena dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko efek samping.

3. Parasol

Kandungan
Octyl methoxycinnamate, Oxybenzone, Microtitanium dioxide, Methyl
benzylidene camphor, Butyl methoxydibenzoylmethane.

Indikasi
Krim pelindung terhadap sinar matahari yang mengandung Aloe vera
dan Vitamin E, bekerja melindungi kulit akibat pengaruh buruk sinar matahari
sekaligus menjaga kelembaban kulit sehingga tetap lembut, halus dan tidak
kering. Dapat dipakai sebagai alas make up yang baik.
Cara Penggunaan
Sebelum bepergian keluar kena sinar matahari, oleskan krim tipis-tipis
pada bagian kulit yang akan dilindungi. Pastikanlah bahwa seluruh kulit
tersebut telah tertutupi dan bilamana perlu ulangi pemakaian untuk
memastikan suatu perlindungan yang cukup. Hilangkan krim pada
waktu malam hari dengan memakai krim/susu pembersih atau dengan sabun
dan air dan pakailah kembali waktu pagi hari.
Kontraindikasi
Individu-individu yang diketahui peka terhadap salah satu komponen krim ini
Efek Samping
-
Interaksi Obat
-

H. Dialog Swamedikasi

Pada suatu hari di Apotek “Sejahtera” datang seorang wanita 22 tahun ingin
membeli obat untuk penyakit kulit yang ia alami selama beberapa hari. Penyakit
kulit tersebut timbul pasca pasien berlibur dan wisata ke pantai.

Apoteker : “Selamat pagi mbak, selamat datang di apotek Sejahtera.


Perkenalkan saya Fitri sebagai Apoteker di apotek ini. Apakah ada yang bisa saya
bantu?
Pasien : “Iya selamat pagi juga mbak mbak, saya kemari ingin membeli
obat”
Apoteker : “Baik, dengan mbak siapa sebelumnya? Dan kalau boleh tahu
usia mbak dan obat yang ingin dibeli untuk digunakan siapa ya?”
Pasien : “Nama saya Gina mbak, usia 22 tahun dan kebetulan obatnya
untuk saya gunakan sendiri.”
Apoteker : “Kalau boleh saya tahu, obat yang mau dibeli untuk keperluan
apa mbak?”
Pasien : “Ini mbak saya mau beli obat untuk kulit wajah saya. Beberapa
hari ini kulit saya merah dan gatal. Terkadang rasanya kering. Obat apa mbak
yang bisa menyembuhkan ya?”
Apoteker : “Oh seperti itu ya. Maaf sebelumnya mbak, kalau setelah saya
memberikan obatnya apakah mbak bersedia meluangkan waktu untuk saya
jelaskan tentang obatnya dan konseling sebentar?”
Pasien : “Boleh mbak, saya juga tidak buru-buru saat ini.”
Apoteker : “Bagian kulit yang merah dan sakit di sebelah mana mbak?”
Pasien : “Yang sakit di wajah saya dan bagian tangan mbak (sambil
menunjukkan bagian).”
Apoteker : “Seberapa sakit atau gatal mbak ini kulitnya?”
Pasien : “Tidak terlalu sakit tapi gatal dan kering sangat mengganggu
mbak.”
Apoteker : “Apakah mbak ingat kapan sakit ini timbul?”
Pasien : “Sepertinya setelah saya liburan atau wisata seminggu yang lalu.
Tapi sehari setelahnya baru muncul merah dan gatal ini.”
Apoteker : “ Berapa lama sudah sakit nya mbak?”
Pasien : “Sudah 3 hari ini gatal dan panas jika disentuh.”
Apoteker : “Apakah ada kondisi tertentu yang membuat sakit tambah parah
mbak?”
Pasien : “Iya mbak setiap kena air perih, ditambah lagi kalau keluar rumah
terus kena panas itu rasanya tambah perih juga.”
Apoteker : “Iya baik mbak, sepertinya memang karena radiasi matahari jadi
kulit mbak terbakar. Jadi sebentar saya ambilkan obatnya mbak.”

Sesaat kemudian Apoteker membawa obat untuk pasien.


Apoteker : “ Ini mbak obatnya Metilprednisolon 8 mg 2 kali sehari 1 tablet
dan diminum setelah makan mbak. Saya sarankan juga untuk minum obat
Loratadin ini 1 kali sehari sebelum tidur mbak. Kemudian ini untuk sunscreen
wajah bisa menggunakan Parasol dioleskan setelah wajah bersih. Penggunaan
Parasol dilakukan 30 menit sebelum keluar rumah ya mbak.
Pasien : “Oke mbak. Apakah ada efek samping obat atau yang lain-lain?”
Apoteker : “ Untuk metilprednisolon efek samping hanya sakit kepala, dan
nyeri pada perut semisal dikonsumsi dengan obat nyeri seperti aspirin, dan apabila
sudah sembuh obat ini tidak perlu dihabiskan. Loratadin efek samping hanya
mengantuk jadi diminum sebelum tidur saja. Sedangkan parasol efek samping
hanya kulit menjadi sedikit lengket tapi bisa diatasi dengan menambah bedak pada
wajah. Jangan lupa setiap malam wajah dibersihkan dengan milk cleanser. Untuk
kulit lengan bisa dioleskan dengan gel aloe vera untuk menyejukkan atau minyak
zaitun untuk mempercepat regenerasi kulit yang rusak.”
Pasien : “ Iya mbak kalau begitu berarti cukup ini aja kan obatnya?”
Apoteker : “Iya mbak ini saja sudah cukup. Apakah ada yang ingin ditanyakan
lagi?”
Pasien : “ Tidak mbak sudah cukup paham tadi>”
Apoteker : “Baik mbak, apa bisa diulang lagi penjelasan saya tadi unyuk
memastikan aturan pakai obat nya?”
Pasien : “Jadi ada tablet Metilprednisolon 8 mg 2 kali sehari 1 tablet dan
diminum setelah makan. Lalu untuk sunscreen wajah menggunakan Parasol
dioleskan setelah wajah bersih. Penggunaan Parasol dilakukan 30 menit sebelum
keluar rumah.”
Apoteker : “Iya saya rasa mbak sudah cukup paham. Ditambah lagi mbak
kalau bisa saat aktivitas diluar rumah harus menggunakan paying ataau baju
pelindung ya. Harus menggunakan kosmetik dengan tambahan SPF juga ya
mbak.”
Pasien : “Oke baik mbak terimakasih sarannya.”
Apoteker : “Iya sama-sama ini obatnya nanti langsung bayar dikasir saja.
Cepat sembuh mbak.”
Pasien : “Iya saya permisi dulu mbak.”
Apoteker : “Oh iya mbak, silahkan.”
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Peran Evidence Based Practice dalam Mengoptimalkan


Penggunaan Obat pada Swamedikasi.
(http://www.ikatanapotekerindonesia.net/farmasikomunitas/seputarobatoba
tan/1595.html. Diakses pada tanggal 5 Februari 2019.

Anonim. 2018. Sunexposure. (https://medlineplus.gov/sunexposure.html. Diakses


pada tanggal 5 Februari 2019.

Anonim. 2018. Sunburn. https://www.aad.org/public/skin-hair-nails/injured-


skin/treating-sunburn. Diakses pada tanggal 5 Februari 2019.

Smith EB dan Galveston. 1981. Sunburn. JAAD 5(4) : 472.

Roshini PR, ,Remya R, Meenu V, dan Parvati K. 2014. Evaluation and


Management of Sunburn. IJRPC 4(2) : 342-345.