Anda di halaman 1dari 11

Eksergi, Vol X, No. XX.

XXXX
ISSN: 1410-394X

Biosurfaktan

Biosurfactant
Renung Reningtyas a*, Mahrenia

a
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta Jl. Lingkar Utara Condongcatur , Yogayakarta, 55283,
Indonesia

Artikel histori : ABSTRAK: Surfaktan adalah suatu senyawa kimia yang bersifat ampipilik dimana sifat
hidropilik dan hidropobik ada dalam satu molekul surfaktan. Surfaktan dapat menurunkan
Diterima 31 Agustus 2015
Diterima dalam revisi xxx tegangan permukaan suatu fluida. Surfaktan dibutuhkan oleh industri kosmetik, makanan,
Diterima xxx tekstil, industri minyak bumi dan farmasi. Permasalahan yang ditumbulkan oleh penggunaan
Online xxx
surfaktan adalah pencemaran lingkungan, terutama oleh surfaktan berbahan dasar petroleum
yang bersifat non biodegradable, untuk itu perlu dilakukan pengembangan surfaktan yang
bersifat biodegradable. Biosurfaktan adalah surfaktan biodegradable yang dapat diproduksi
oleh sel mikoorganisme (bakteri/fungi) maupun dari bahan alam. Biosurfaktan dari
mikoorganisme telah diketahui memiliki senyawa Rhamnolipid dan Lipopeptida. Sebagai
contoh adalah Surfactin dan Dactomicin, yang merupakan biosurfaktan yang dihasilkan oleh
mikroorganisme dengan aktivitas antibiotik. Biosurfaktan yang terbuat dari bahan alam
contohnya adalah MES (Metil Ester Sulfonat), yang terbuat dari minyak sawit. Selain MES,
ester dari karbohidrat juga merupakan surfaktan yang dihasilkan dari esterifikasi karbohidrat
dan asam karboksilat. Hambatan produksi surfaktan dari mikroorganisme adalah prosesnya
lambat, biaya pemurnian tinggi dan harga produk mahal. Biosurfaktan dari bahan alam
mendapat perhatian dari kalangan peneliti dan industri untuk diproduksi skala besar karena
prosesnya cepat, bahan baku tersedia melimpah dan murah. Tulisan ini merupakan ringkasan
yang dapat digunakan sebagai referensi untuk mengembangkan surfaktan biodegradable yang
diharapkan dapat menjadi arah penelitian dan pengembangan produksi biosurfaktan skala
industri.

Kata Kunci: biosurfaktan; tegangan permukaan; biodegradable, microorganisme, bahan alam

ABSTRACT:Surfactant is an amphipilic chemical structure which contains the hydrophobic


and hydrophilic groups. Surfactant has ability to lower surface tension between two liquids.
Surfactant has been used in many industries, such as cosmetics, food, textile, petroleum, and
pharmacy industry. Nowdays, most of surfactant used in industries are still based on petroleum
resources. The applicationsof this nonbiodegradable surfactant in industry promote
environmental problem. Biosurfactant is a biodegradable surfactant that produced from
microorganism or natural resources. Biosurfactant produced from microorganism contains
Rhamnolipid and Lipopeptide. Surfactin and Dactomicin made from microorganism with
antibacterial activity are the examples. Bottle necks of the production of biosurfactant form
microorganism are their slow process, high purification cost, and high product price.
Biosurfactant from natural resources are potentially produced in large scale due to their fast
process and relatively cheap raw material. Metil Ester Sulphonate (MES) is one of
biosurfactant produced from natural resources (from palm oil). The other example is
biosurfactant from esterification of carbohydrate and carboxylic acid. This paper reviews the
literatures dealing with biodegradable surfactant development which can be used as a reference
of a research path way and an industrial scale production of biodegradable surfactant.
Keywords: biosurfactant;surface tension;biodegradable;microorganism;natural resources

*
Corresponding Author: +62856-43300765; fax : +62274 486400
Email: mahrenia@gmail.com

Page xx
Citasi: Author1., Author2, Author3.,Author4., Tahun, Judul manuskrip. Eksergi, xx(xx), xx-xx

1. Pendahuluan Ammonium kuartener N

Dengan meningkatnya kesadaran penduduk dunia terhadap Surfaktan Nonionik


efek pencemaran yang disebabkan oleh surfaktan Polyoxyetilene (OCH2CH2)xOH
nonbiodegradable, maka beberapa negara seperti Jepang Monogliserida OCH2CHOHCH2OH
dan Jerman, dan makin banyak negara yang akan menyusul Digliserida OCH2CH(O-)CH2OH
Monoetanolamida NHCH2CH2OH
telah menetapkan regulasi untuk membatasi penggunaan
Dietanolamida N(CH2CH2OH)2
surfaktan nonbiodegradable. Oleh karena itu sangat Surfaktan ampoterik
penting untuk melakukan tinjauan (overview) mengenai +
Aminokarbiksilat NH2(CH2)xCOO-
perkembangan surfaktan biodegradable, non toksik dan Betaine N+(CH2)xCOO-
menggunakan bahan baku yang dapat diperbaharui. Sulfobetaine N+(CH2)xCH2SO3-
Biosurfaktan kini tengah dikembangkan untuk dapat Amin oksid N+O-
diproduksi skala industri. Beberapa peluang untuk
memproduksi biosurfaktan skala industri adalah
Berdasarkan sifat gugus fungsi yang dimiliki, surfaktan
ketersediaan bahan baku yang melimpah seperti selulosa,
terbagi menjadi surfakatn anionik, kationik, non ionik dan
protein, karbohidrat, lignin yang semuanya bisa didapatkan
surfaktan amfoter. Tabel 1 menampilkan jenis gugus
dari hasil metabolisme mikroorganisme, dari tanaman baik
hidrofilik surfaktan anioik, kationik, nonionik dan amfoter.
tanaman darat maupun tanaman laut seperti rumput laut.
Sedangkan gugus hidropobik terdiri dari rantai alkil lurus,
Dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah di
bercabang atau rantai alkil tertutup atau gabungan dari
Indonesia maupun di dunia, dimungkinkan surfaktan kimia
rantai alkil lurus dan bercabang.
dapat digantikan dengan biosurfaktan di masa yang akan
Gugus hidropobik dapat berupa rantai alkil:
datang.
1. Gugus alkil (R= CnH2n+1) baik alkil rantai lurus,
bercabang, siklik maupun alipatik. Atau campuran
2. Surfaktan
siklik-alipatik.
Surfaktan luas digunakan di berbagai bidang karena
2. Rantai perfluorohidrokarbon sebagai contoh:
surfaktan memilki kemampuan untuk mempengaruhi sifat
Perfluoropolyethers (PFPE) dengan struktur kimia (-
permukaan suatu bahan. Kegunaan surfaktan yang penting
CF2-O-CF2-)
di bidang petroleum dapat dilihat pada pustaka (Laurier,
3. Siloksan, sebagai contoh Aminopropiltrimetoksisilan
2000), (James et al, 2010) dan (Ahmed M. Elazzazy et al,
(APTS)
2015), diantaranya untuk enhanced oil recovery (EOR).
4. Polyoxypropylen, polyoxybutilen. 4,4-
Sifat surfaktan ditentukan oleh struktur kimia dari gugus
Dimethoxybutan-2-ol, 3-Methylpentane-1,2,5-triol,
hidropilik dan hidropobik yang menyusun surfaktan dan
Hexane-1,3,5-triol, Trimethyl orthopropionate
diantaranya dinyatakan oleh parameter HLB (hydrophobic,
(C6H14O3).
lyphopylyc balance), CMC (Critical Michele
Concentration), stabilitas termal- kimia dan IFT
(interfacial surface tention). 3. Mekanisme kerja surfaktan
Molekul surfaktan terdiri dari gugus hidropobik (ekor)
dan gugus hidropilik (kepala). Sifat hidropilik dan Mekanisme penurunan tegangan permukaan oleh surfaktan
hidropobik dalam satu molekul menyebabkan surfaktan dapat dipelajari dari mekanisme penetrasi molekul
dapat berikatan dengan komponen baik bersifat hidropobik surfaktan ke dalam fase hidropobik dan hidropilik seperti
maupun hidropilik. Interaksi gugus hidropobik dan gugus yang digambarkan pada Gambar 1. Bagian kepala bersifat
hidropilik dengan fluida, menyebabkan surfaktan dapat hidropilik masuk ke fase hidropil dan bagian ekor bersifat
menurunkan tegangan permukaan antar fase. Surfaktan hidropobik masuk ke fase hidropobik. Interaksi dua gugus
dalam jumlah sedikit apabila ditambahkan ke dalam suatu ke dalam dua fase menyebabkan penurunan tegangan
campuran dua fase yang tidak saling bercampur seperti permukaan antar fase. Penurunan tegangan permukaan
minyak dan air dapat mengemulsikan kedua fase tersebut dapat diamati pada perubahan bentuk tetesan minyak di
menjadi emulsi yang stabil. permukaan yang bersifat hidropilik.
Minyak bersifat hidropobik, apabila minyak diteteskan
Tabel 1. Gugus hidrofilik surfaktan komersial dipermukaan benda padat yang bersifat hidropilik, bentuk
tetesan adalah bulat disebabkan karena tegangan
Surfaktan Anionik permukaan tetesan minyak tidak sama dengan permukaan
Gugus hidropilik Struktur kimia benda padat. Hal ini disebabkan karena gaya kohesi
Sulfat OSO2O- molekul minyak lebih besar dibandingkan dengan gaya
Sulfonat SO2O- adesi antara permukaan minyak dan padatan (Gambar 1a).
Phosphate ethoxilate OC2H4x]2P(O)O- Setelah surfaktan ditambahkan ke permukaan antar fase,
Karboksilat COO-
tetesan minyak akan terdistribusi di permukaan padatan
Surfaktan kationik
Ammonium primer NH3
seperti terlihat pada Gambar 1b.
Ammonium sekunder --NH2
Ammonium tersier --NH--

Page xx
Eksergi, Vol X, No. XX. XXXX
ISSN: 1410-394X

Gambar 2. Skala HLB dan Aplikasi Surfaktan

Metode untuk mengukur HLB surfaktan telah


dirumuskan oleh dua penemu yaitu metode yang
dirumuskan oleh Griffin dan Davies. Dasar rumusan adalah
b kesetimbangan hidropilik-hidropobik dari surfaktan.
Gambar 1. Mekanisme Kerja Surfaktan Ditentukan berdasarkan perbedaan nilai daerah molekul
seperti yang telah diformulasikan oleh Griffin, tahun 1949
Perubahan bentuk tetesan minyak sebelum dan sesudah dan tahun 1954. Metode lain diformulasikan oleh Davies
ditambahkan surfaktan disebabkan oleh penurunan pada tahun 1957.
tegangan permukaan antar fase minyak dan permukaan
padatan. 4.1.1 Metode Griffin
Untuk surfaktan nonionik nilai HLB dapat ditentukan
berdasarkan persamaan empiris:
4. Karakteristik Surfaktan 𝑴𝒉
𝑯𝑳𝑩 = 𝟐𝟎 ×
𝑴
Aplikasi surfaktan tergantung kepada sifat sifat surfaktan.
Sifat kimia, fisika serta biologi surfaktan ditentukan oleh Dimana
banyak parameter diantaranya adalah: HLB, CMC dan IFT. Mh adalah berat molekul komponen hidropilik
dari surfaktan.
4.1. Kesetimbangan Hidropobik-Lipopilik (HLB)
HLB menunjukkan skala keseimbangan gugus hidrofobik M adalah berat molekul surfaktan dengan kisaran
dan hidrofilik dari suatu surfaktan. HLB akan menentukan angka diantara 0-20.
fungsi surfaktan. Surfaktan yang mempunyai gugus Nilai HLB =0 adalah komponen hidrofobik dan nilai
hidrofobik yang lebih dominan mempunyai skala yang HLB = 20 adalah molekul hidrofilik. Nilai HLB dapat
rendah dan sebaliknya surfaktan yang didominasi oleh digunakan untuk memprediksi sifat molekul surfaktan.
gugus hidrofilik mempunyai skala yang tinggi. Surfaktan HLB< 10 : Larut dalam minyak atau (tidak larut
dengan HLB diatas 9 adalah larut dalam air atau water dalam air).
soluble digunakan untuk agensia pelarut (solubilizing HLB>10: Larut dalam air atau tidak larut dalam
agent). Surfaktan yang digunakan sebagai detergen minyak.
mempunyak HLB dengan skala 15-18 dan 13-15. HLB = 1,5 – 3 adalah surfaktan anti busa.
Surfaktan dengan skala HLB = 8-16 juga digunakan HLB = 3-6 adalah surfaktan emulsifier WO atau
sebagai pengemulsi minyak dalam air atau oil in water emulsifier air dalam minyak.
(O/W). Nilai HLB pada kisaran sampai dengan skala 6 HLB = 7 to 9: adalah surfaktan pendispersi.
diaplikasikan untuk anti busa. Surfaktan ini disebut oil HLB = 13-15 adalah detergen.
solution surfactant. Untuk lebih jelas, hubungan HLB dan HLB = 12 to 16 adalah emulsifier minyak dalam air.
kegunaan surfaktan dapat dilihat pada Gambar 2 (Davies, HLB = 15-18. Adalah pelarut atau solubilizer.
1957).

Page xx
Citasi: Author1., Author2, Author3.,Author4., Tahun, Judul manuskrip. Eksergi, xx(xx), xx-xx

4.1.2 Metode Davies. satuan dyne/cm. Persamaan empiris tegangan permukaan


Pada tahun 1957 Davies memprediksi cara mengukur HLB (𝛾 ) dinyatakan sebagai berikut:
dengan dasar perhitungan grup molekul. Keuntungan 𝑓𝑏
metode Davies adalah memperhitungkan kekuatan gugus 𝛾=
reaktif yang terikat pada molekul surfaktan. Metode 2𝑥𝐿
perhitungan HLB oleh Davies dirumuskan pada persamaan Dimana :
empiris:
fb adalah gaya yang diperlukan untuk memecah
𝑚 film (N atau dyne)
𝐻𝐿𝐵 = 7 + ∑ 𝐻𝑖 − 𝑛 × 0,475 L adalah panjang permukaan (cm atau m)
𝑖=1
Dimana: Ada 6 cara mengukur IFT yaitu: (1) kenaikan fluida
M adalah Jumlah grup bersifat hidropilik dalam dalam pipa kapiler (capillary rise method). Metode ini
molekul surfaktan. hanya untuk mengukur tegangan permukaan tidak bisa
mengukur tegangan antar muka (2) stallagmometer
Hi adalah nilai kekuatan gugus reaktif ( tabel 2). method), (3). Ring method, (4) maximum bulk pressure
method, (4). Shape of the gas buble dan (6). Dynamic
n adalah jumlah gugus hidropobik dalam molekul
surfaktan. method. (http://zzm.umcs.lublin.pl/Wyklad/FGF-
Ang/2A.F.G.F.%20Surface%20tension.pdf). Uraian
Tabel 2. Nilai gugus hidropilik dan hidropobik surfaktan mengenai IFT akan ditulis di dalam makalah yang akan
sesuai dengan metode Davies. datang dengan topik yang sama.
Gugus Hidropilik Nilai Gugus Nilai
gugus hidropobik gugus 5. Biosurfaktan

-SO4−Na+ 38,7 -CH- -0,475 Biosurfaktan adalah surfaktan biodegradable, dapat


digolongkan menjadi dua didasarkan kepada sumber bahan
-COO−K+ 21,1 -CH2- -0,475 baku yang digunakan. Golongan pertama adalah surfaktan
yang dihasilkan dari metabolisme sel mikroorganisme.
-COO−Na+ 9,4 CH3- -0,475 Golongan dua didapatkan dari bahan alam melalui proses
N (Amina tersier)) 6,8 =CH- -0,475 kimia sebagai contoh MES (Metil ester sulfonat) dan Ester
karbohidrat.
Ester bebas 2,4 Mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk
melakukan metabolisme dan menghasilkan produk
metabolit sekunder. Metabolit sekunder merupakan produk
4.2 Critical Micelle Concentration (CMC) yang tidak berhubungan langsung pada proses perkembang
Surfaktan bekerja sebagai penurun tegangan permukaan biakan sel. Metabolit sekunder ini sangat spesifik
akan membentuk micelle. Konsentrasi surfaktan ketika tergantung dari spesies, strain dan substrat yang digunakan
membentuk Michele dinyatakan sebagai CMC (Critical oleh sel. Ada spesies yang dapat menghasilkan metabolit
Micelle Concentration). sekunder berupa surfaktan yang diekskresikan keluar dari
CMC adalah konsentrasi surfaktan jenuh di dalam suatu dinding sel. Sehingga mikrooganisme mampu beradaptasi
emulsi. Pada konsentrasi kritis, tegangan permukaan tidak di lingkungan yang menyediakan substrat hidropobik
berubah atau hanya berubah sedikit dengan kenaikkan seperti hidrokarbon maupun substrat hidropilik seperti
konsentrasi surfaktan. Pada konsentrasi surfaktan dibawah glukosa. Mikroorganisme yang ditumbuhkan pada substrat
CMC, penambahan surfaktan akan merubah IFT. Semakin yang bersifat hidrofobik seperti hidrokarbon, akan
besar konsentrasi surfaktan di dalm campuran, tegangan membangkitkan sistem metabolisme sel untuk
perkaan antar fasa semakin kecil. Ketika penambahan menghasilkan suatu zat yang dapat menguraikan
surfaktan tidak merubah IFT atau perubahan IFT sangat hidrokarbon atau merubahnya menjadi komponen lain
kecil, maka konsentrasi surfaktan sudah mencapai sehingga dapat masuk ke dalam sel melalui dinding sel,
konsentrasi kritis atau CMC. Untuk menentukan CMC dengan cara mengatur jalur metabolisme (path way)
harus dibuat grafik hubungan konsentrasi surfaktan dan melalui pembentukan enzim tetentu yang dapat
IFT. mengkatalisis reaksi pembentukan metabolit yang bersifat
amphifilik (biosurfaktan), sehingga perkembang biakan sel
4.3 Tegangan permukaan dan tegangan antar muka dapat terus berlangsung. Kemampuan sel untuk
Interfacial surface tention (IFT). menghasilkan metabolit sekunder ini dimanfaatkan oleh
kita untuk menghasilkan produk yang diinginkan sebagai
Tegangan permukaan didefinisaikan sebagai gaya /satuan contoh adalah surfaktan.
panjang permukaan diberi symbol gamma (𝛾 ) dengan
5.1 Biosurfaktan dari mikroorganisme

Page xx
Eksergi, Vol X, No. XX. XXXX
ISSN: 1410-394X

Mikroorganisme melakukan metabolisme dan Contoh lain biosurfaktan adalah Daptomicin.


menghasilkan produk intra dan ekstra seluler. Produk intra Daptomicin juga masuk dalam golongan surfaktan
seluler digunakan oleh sel untuk tumbuh dan berkembang lipopeptida dan juga bersifat sebagai antibiotik yang
biak memperbanyak sel. Produk ekstra seluler adalah mampu membunuh mikroorganisme gram positif.
spesifik untuk setiap spesies atau strain mikroorganisme. Mikroorganisme penghasil Daptomicin adalah
Produk ekstra seluler merupakan suatu zat yang digunakan mikroorganisme dalam tanah yaitu Sterptomyces
untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel. Dua roseorporus. Daptomicin sudah diproduksi secara
senyawa biosurfaktan telah diketahui yaitu senyawa komersial oleh Cubist Phamaceutical dengan nama dagang
gabungan peptide dan lipida yang disebut lipopeptida dan Cubicin. Struktur kimia Daptomisin dapat dilihat pada
Rhamnolipida. Rhamnolipida adalah senyawa gabungan Gambar 4. Dengan rumus molekul Daptomicin adalah
karbohidrat dan lipida. Struktur kimia Rhamnolipid dan (C72H101N17O25) dengan berat molekul 1619,7086
Lipopeptida dapat dilihat pada Gambar 3 (lipopeptida) dan gram/mol.
Gambar 5 (Rhamnolipida). Penelitian biosurfaktan dari
mikroorganisme telah banyak dilakukan tetapi sampai saat
ini masih dalam tahap penelitian skala laboratorium.
Beberapa mikroorganisme yang telah diteliti dari hasil
isolasi sebagai penghasil biosurfaktan ditampilkan pada
Tabel 3.
Lipopeptida adalah gabungan molekul lipida (minyak
atau lemak) yang bergandengan dengan peptide (protein).
Beberapa lipopeptida telah digunakan sebagai antibiotik,
anti jamur dan bioaktif hemolitik. (US Patent: 6911525 No
B2) US Patent 6911525 - Lipopeptides as antibacterial
agents dalam Wikipedia Gambar 4. Struktur molekul Daptomicin atau N-decanoyl-
http://www.google.com/patents/US691152). Contoh L-tryptophyl-L-asparaginyl-L-aspartyl-L-threonylglycyl-
lipopeptida adalah Surfactin. Surfactin adalah surfaktan L-ornithyl-L-aspartyl-D-alanyl-L-aspartylglycyl-D-seryl-
yang sangat kuat digunakan sebagai antibiotik. Lebih jauh threo -3-methyl-L-glutamyl-3-anthraniloyl-L-
lipopeptida dan Rhamnolipida merupakan antibiotik yang alanine[egr]1-lactone (Nguyen et al, 2006).
dihasilkan oleh bakteri gram positif pembentuk endospora
seperti bakteri Bacillus subtilis. Struktur lipopeptida dapat Rhamnolipid dihasilkan oleh Pseudomonas aeruginosa
dilihat pada Gambar 3. dan Pseudomonas fluorescens (N. Sakthipriya, et al, 2015)
dan Pseudomonas aeruginosa (Desai and Banat, 1997)
dalam https://en.wikipedia.org/wiki/Rhamnolipid.
Rhamnolipid adalah glycolipid (suatu senyawa gabungan
karbohidrat dan alkil dari asam lemak). Senyawa
Rhamnolipid mempunyai struktur kepala adalah Rhamnose
(gugus glikosil) dan ekornya adalah asam lemak 3-
(hydroxyalkanoyloxy)alkanoic acid (HAA)
(https://en.wikipedia.org/wiki/Rhamnolipid). Rhamnese
bisa dua atau satu molekul. Gambar 5 menunjukkan
struktur Rhamnolipid dengan nama IUPAC. Asam 3-[3-
[(2R,3R,4R,5R,6S)-4,5-dihydroxy-6-methyl-3
[(2S,3R,4R,5R,6S)-3,4,5-trihydroxy-6-methyloxan-2
yl]oxyoxan-2-yl]oxydecanoyloxy]decanoic.

Gambar 3. Struktur kimia Surfactin (Lipopeptida) (Grau et


al, 1999).
Selain bersifat antibiotik, surfaktin juga bersifat anti
jamur, anti mikoplasma dan mempunyai aktifitas hemolitik.
Struktur surfactin terdiri dari rantai peptide disusun oleh
tujuh macam asam amino (L-asam aspartat, L-leucine,
asam glutamate, L-Leucine, L-valin dan dua D-Leucines).
Peptida bersifat hidropilik. Gugus hidropobik dalam Gambar 5. Struktur kimia Rhamnolipid (Desai dan Banat,
surfaktin adalah rantai alkil dari asam lemak yang 1997) dan (Ochsner et al, 1994).
mempunyai 13 atom karbon. Surfaktin sama dengan
surfaktan lain dapat menurunkan tegangan permukaan air Secara garis besar mekanisme pembentukan
dari 72 mN/m sampai dengan 27 mN/m pada konsentrasi biosurfaktan oleh mikroorganisme dapat digambarkan pada
surfaktin 20 µM. Gambar 6. Biosurfaktataben dikeluarkan oleh sel untuk

Page xx
Citasi: Author1., Author2, Author3.,Author4., Tahun, Judul manuskrip. Eksergi, xx(xx), xx-xx

memecah substrat seperti alkana yang ada di luar sel. enzim intra seluler, akan masuk ke dalam siklus
Pengaruh surfaktan terhadap substrat adalah menurunkan metabolisme sel dan selanjutnya akan membentuk
tegangan permukaan alkana sehingga alkana teremusli biosurfaktan dan produk produk intra seluler. Biosurfaktan
dengan surfaktan membentuk droplet, misel , mikroemulsi ini diekskresikan keluar dari sel dan akan berfungsi debagai
atau agregat. Alkana seolah terlarut di dalam media (air) emulsifier substrat kembali. Untuk lebih jelasnya dapat
sehingga dapat menembus dinding sel yang bersifat dilihat pada Gambar 6.
hidropobik maupun hidropilik. Alkana yang terlarut Biosurfaktan dari mikroorganisme mempunyai beberapa
mendifusi masuk ke dalam dinding sel dan akan terdeposit keuntungan diantaranya mempunyai sifat fisika kimia yang
di dalam sel. stabil, tidak mencemari lingkungan, sangat mudah terurai,
Deposit alkana dengan melalui serangkaian proses dapat stabil pada temperatur tinggi, kadar asam tinggi dan
bioreksi di dalam sel yang dikatalisis oleh berbagai macam kadar garam tinggi (El-Sheshtawy, and Doheim, 2014).

Tabel 3. Mikroorganisme penghasil surfaktan

No Nama senyawa kimia Sumber karbon Mikroba Pustaka


surfaktan
Rhamnolipid n-hexadecane dan n- Pseudomonas aeruginosa Sakthipriya, et al
1 eicosane dan Pseudomonas (2015).
fluorescens
Tidak ada data Molasses Bacillus subtilis B20 Al-Bahry, et al
2 (2013)
Lipopeptide Tidak ada data Serratia marcescens strain Stephan Thies, et al
3 DSM12481 (2014)
Tidak ada data Minyak hewani Candida lipolytica UCP0988 I. Danyelle K.F. et
4 al (2014)
Lipopeptide Minyak bumi Bacillus subtilis CN2 Fisseha Andualem
5 Bezza, et al (2015)
Tidak ada data Tidak ada data Paenibacillus alvei and Najafi, et al. (2015)
6 Bacillus mycoides
Tidak ada Minyak bumi Pseudomonas species Nathália Maria P. et
7. al (2014).
Tidak ada data Minyak bumi Bacillus licheniformis Yu-Chi Chen, et al
8 TKU004 (2012)
Tidak ada data 2% dextrose, 1% Stenotrophomonas B. Hemlata, J. et al
9. peptone dan 100 mM maltophilia NBS-11 (2015)
ZnCl2 dan MgSO4
Tidak ada data Minyak bumi Bacillus subtilis ICA56 Ítalo Waldimiro
10 Lima de França, et al
(2015)
Tidak ada data Minyak jarak, Virgibacillus salarius Ahmed M. Elazzazy
11 Minyak kastor, , et al (2015)
Minyak Jojoba dan
minyak Kanola.
Minyak biji kapas.
Karbohidrat dan protein Ampas minyak Lactobacillus delbrueckii Rengathavasi
12 kacang Thavasi, et al (2011)
Tidak ada data (biosurfaktan Petroleum dan Stenotrophomonasmaltophilia B. Hemlata et al
13 yang dihasilkan dapat sebagai minyak NBS-11 2015
bahan pengikat ion besi)
Lipopeptides dan asam lemak Natrium karbonat Bacillus sp. strain ISTS2 Smita Sundaram and
14 bebas, dengan panjang rantai sebagai sumber Indu Shekhar
karbon (14-19). karbon. Thakur, 2015
Glycolipid dan Minyak mentah Pseudozyma sp. NII 08165 Kuttuvan Valappil
15 mannosylerythritol lipid sebagai satu satunya Sajna et al, 2015

Page xx
Eksergi, Vol X, No. XX. XXXX
ISSN: 1410-394X

sumber karbon
Glycolipid dengan Ampas minyak Lactobacillus delbrueckii Rengathavasi
16 kombinasi karbohidrat dan kacang Thavasi et al, 2011
lipid dengan perbandingan
30%:70% (w/w).
Rhamnolipid Glucose dan n- Pseudomonas aeruginosa H.S. El-Sheshtawy,
17 hexadecane M.M. Doheim
Rhamnolipid Glukosa Bakteri halo-thermophilic Ahmed M. Elazzazy
18 Virgibacillus salarius et al, 2015.
Lipopeptida Limbah industri Bacillus subtilis SPB1. Raida Zouari et al,
19 minyak zaitun 2014.

dengan menggunakan proses kimia ramah lingkungan,


Potensi Rhamnolipid sebagai surfaktan sangat tidak menghasilkan limbah (zero waste production) dan
menjanjikan karena surfaktan ini masuk ke dalam surfaktan menggunakan bahan baku yang dapat disediakan secara
untuk kosmetik sebagai moisturizer, shampoo dan sebagai kontinyu dengan harga yang murah. Pemilihan bahan baku
bahan aditif pelumas. Rhamnolipid juga bersifat anti sebaiknaya bukan bahan pangan dan penyediaan bahan
bakteri, juga dapat digunakan dalam pengolahan limbah baku tidak mengurangi lahan pertanian. Sampai saat ini,
minyak bumi dalam proses bioremediasi. Rhamnolipid bahan baku biosurfaktan selain mikroorganisme adalah
mempunyai kemampuan mendegradasi hidrokarbon dan minyak atau lemak yang dihasilkan oleh tanaman atau
minyak nabati. Rhamnolipid juga sebagai sumber hewan, seperti lignoselulosa, rumput laut, minyak sawit,
Rhamnose adalah gula monosakarida yang mempunyai minyak jarak, minyak biji matahari dan lemak.
nilai ekonomi tinggi. Jenis biosurfaktan lainnya dari produk Minyak sawit telah dipilih sebagai bahan baku yang
metabolisme mikroorganisme adalah Sophorolipids dan digunakan untuk memproduksi surfaktan biodegradable.
Mannose-erythritol lipids. Tetapi penggunaan minyak sawit sebagai surfaktan akan
Produksi biosurfaktan skala industri dari menggangu ketersediaan bahan pangan. Penelitian yang
mikroorganisme masih banyak hambatan terutama dalam telah dilakukan oleh penulis adalah biosurfaktan dari makro
proses pembesaran kapasitas produksi. Untuk menuju ke alga. Dengan beberapa pertimbangan: makro alga (rumput
produksi skala industri ada beberapa hambatan yang harus laut) mempunyai kelebihan dibandingkan dengan minyak
dieleminasi diantaranya inovasi teknologi pemisahan dan atau lemak. Rumput laut tersedia melimpah di Indonesia.
pemurnian produk. Masalah utama proses produksi Pemanfaatan rumput laut belum optimal. Rumput laut
biosurfaktan dari mikroorganisme adalah waktu produksi dapat dibudidayakan tanpa menggangu lahan pertanian.
sangat lambat (14-72) jam (Hemlata et al, 2015). Oleh Harganya murah dan mempunyai potensi dapat
dikembangkan menjadi bahan kimia hijau salah satunya
adalah surfaktan. Keuntungan yang lain, makro alga
sebenarnya sudah bersifat amphifilik tetapi karena kurang
bersifat hidrofobik, penggunaan makro alga sebagai
surfaktan masih terbatas. (Yang et al, 2013)
Untuk memperluas aplikasi makro alga sebagai
surfaktan, perlu dilakukan modifikasi secara kimia untuk
menghasilkan senyawa turunan dari makro alga (Mahreni
dan Renung, 2015). Jalur reaksi kimia dapat dilakukan
melalui reaksi esterifikasi karbohidrat dari ekstrak rumput
laut. Karbohidrat dapat diesterifikasi melalui gugus
hidroksil (OH) dengan gugus COOH dari asam karboksilat
dalam suasana basa untuk menghasilkan ester. Biosurfaktan
yang dihasilkan dari alga coklat merupakan senyawa ester
yang dihasilkan dari reaksi alginat yang terkandung di
dalam alga coklat dengan asam karboksilat dalam suasana
basa. Ester adalah surfaktan seperti Ester alkil-selulosa,
alkil-karbohidrat dan Alkil-trigliserida adalah suatu
Gambar 6. Skema metabolisme sel dalam proses senyawa yang bersifat surfaktan karena di dalam senyawa
menghasilkan surfaktan.(Naim Kosaric, Fazilet Vardar tersebut memiliki gugus hidropobik (alkil) dan juga gugus
Sukan, ). hidropilik (OH atau COOH). Proses pembuatan surfaktan
dari minyak nabati dan dari karbohidrat akan dijelaskan
karena itu penelitian terus dikembangkan untuk lebih jauh pada sub dibawah ini.
memproduksi biosurfaktan dari bahan dasar terbarukan

Page xx
Citasi: Author1., Author2, Author3.,Author4., Tahun, Judul manuskrip. Eksergi, xx(xx), xx-xx

5.2 Biosurfaktan dari minyak nabati Minyak sawit dicampur dengan methanol dalam reaktor.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, surfaktan adalah Dengan bantuan katalis asam atau basa, reaksi berlangsung
suatu senyawa yang disusun oleh gugus hidropilik dan secara trans esterifikasi. Gliserol digantikan oleh gugus
gugus hidropobik. Minyak nabati dapat dijadikan bahan metil dari methanol membentuk senyawa baru metil ester.
baku surfaktan melalui reaksi hidrolisis menghasilkan asam Setiap satu mol minyak nabati membutuhkan 3 mol
lemak bebas dan gliserol. Asam lemak bebas selanjutnya methanol dan menghasilkan satu mol gliserol dan 3 mol
direaksikan dengan methanol atau alkohol menghasilkan metil ester. Persamaan reaksi trans esterifikasi dapat dilihat
metil ester. Metil ester direaksikan lebih lanjut dengan pada Gambar 8. Sedangkan mekanisme reaksi
asam sulfat menghasilkan metil ester sulfat atau MES. pembentukan metal ester sulfonat dapat dilihat pada
Metil ester sulfonat sudah diproduksi dan sudah masuk ke Gambar 9.
pasar komersial. Asam lemak bebas yang dihasilkan dari
hidrolisis minyak sawit adalah asam palmitat, asam stearat,
asam oleat adalah asam lemak bebas yang dapat
direaksikan dengan senyawa yang mempunyai gugus
hidrofilik seperti golongan alkohol (methanol, etanol)
untuk menghasilkan ester. Reaksi esterifikasi terjadi
melalui gugus karboksilat dari asam lemak bebas dan
gugus hidroksil dari senyawa hidropilik alkohol. Asam
lemak bebas menyumbangkan rantai hidropobik alkil dan Gambar 8. Persamaan reaksi trans esterifikasi (Ani
senyawa hidrofilik menyumbangkan gugus hidrofilik Suryani dkk, 2012) dan (Yeni Sulatri, 2010).
sehingga membentuk senyawa baru yang mempunyai
gugus hidropobik dan hidrofilik dalam satu molekul
(Laurier and Schramm, 2000).
5.2.1. Produksi biosurfaktan dari minyak nabati.
Metil ester sulfonat (MES) adalah surfaktan anionik
dengan struktur kimia RCH(CO2Me)SO3Na (α-MES)
sebagai komponen aktif dan 5 % RCH(CO2Na)SO3Na
(garam dinatrium metil ester sulfonat). MES dihasilkan
melalui reaksi sulfonasi Metil Ester. Bahan untuk sulfonasi
adalah SO3 yang dlarutkan di dalam gas N2 dilanjutkan
dengan proses bleaching dan netralisasi dengan NaOH.
(Changfeng et al, 2013). Proses selengkapnya produksi
MES secara umum dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 9. Reaksi pembentukan Natrium metil ester


sulfonat (Ani Suryani dkk, 2012) dan (Yeni Sulatri, 2010).

5.3 Biosurfaktan dari selulosa/karbohidrat


Ester dapat disintesisi dari asam karboksilat dan
karbohidrat. Karbohidrat dapat diperoleh dari tanaman baik
tanaman darat maupun laut. Karbohidrat yang terkandung
Gambar 7. Diagram alir produksi MES (Metil Ester di dalam makro alga (tanaman laut) mempunyai struktur
Sulfonat) (Ani Suryani dkk, 2012). yang mirip dengan karbohidrat tanaman darat tetapi ada
perbedaan gugus fungsi yang terikat pada atom C nomer 6
pada setiap mosakarida. Struktur karbohidrat tanaman laut

Page xx
Eksergi, Vol X, No. XX. XXXX
ISSN: 1410-394X

(makro alga) hiau, perang dan coklat, karbohidrat tanaman Gugus fungsi yang terikat pada monomer monosakarida
darat dan selulosa dapat dilihat pada Gambar 10. merupakan gugus fungsi yang reaktif sehingga pembuatan
senyawa turunan karbohidrat alga dapat melalui gugus
reaktif tersebut. Salah satu senyawa turunan dari
karbohidrat alga coklat adalah alkil-alginat.
Ester ini dibuat dari esterifikasi ekstrak alga coklat yang
mengandung karbohidrat (alginat) dengan isopropil alkohol
dan Asam stearat. Reaksi terjadi pada suhu 120 oC pada
tekanan atmosferis pada kondisi basa. Diagram alir proses
sintesis dapat dilihat pada Gambar 11.
(a)

(b)

Gambar 11. Diagram alir sintesis biosurfaktan dari alga


(c)
4 coklat (Mahreni dan Renung, 2015).
O OH 
HO O
O
  O OH O
O O 3 O
O Surfaktan ester karbohidrat dikenal sebagai emulsifier,
2 4 OH O OH  OH
HO O
1 wetting agent, stabilizer, detergen dan dispersan.
O
OH
1 Selanjutnya kegunaan surfaktan sebagai zat penuruan
HO
1 OH  tegangan permukaan ditentukan oleh sifat sifat fisis dan

OCH3
CH2OH
OH kimia surfaktan tersebut. Oleh karena itu sangat penting
O
CO2H untuk menentukan karakteristik surfaktan sebelum
(d) menggunakannya dalam berbagai bidang.

6. Kesimpulan.
Surfaktan adalah senyawa kimia yang sangat penting
sebagai bahan pembasah, pengemulsi, pendispersi,
detergen dan solubilizer. Diperlukan di bidang farmasi,
makanan dan sebagai bahan detergen. Surfaktan sintetis
(e) dibuat dari bahan baku petroleum adalah nonbiodegradable
harus dipertimbangan untuk diganti dengan surfaktan
Gambar 10. (a) Karbohidrat alga coklat atau Sargassum biodegradable atau biosurfaktan. Teknologi proses
sp. (alginate) (pada atom C nomer 6 pada setiap produksi biosurfaktan terus berkembang dan kini tengah
monomernya terikat gugus karboksilat (COOH)), (b) dikembagkan biosurfaktan dari mikroorganisme dan
Struktur kimia agarose (harbohidrat alga hijau) atau biosurfaktan dari bahan alam berupa karbohidrat dan
Glacillaria, (c) Struktur kimia karagenan (karbohidrat alga lemak. Biosurfaktan dari mikroorganisme merupakan
perang) Eucheuma sp., (d) Struktur kimia selulosa (serat harapan baru untuk menggantikan surfaktan konvensional
tanaman darat), (e) Struktur amilum ( karbohidrat tanaman tetapi sampai saat ini masih menghadapi hambatan
darat). komersialisasi. Hambatan tersebut diantaranya adalah
waktu produksi lama, ketersediaan bahan baku dan biaya

Page xx
Citasi: Author1., Author2, Author3.,Author4., Tahun, Judul manuskrip. Eksergi, xx(xx), xx-xx

pemurnian mahal. Untuk mengatasi hambatan tersebut kini El-Sheshtawy H.S, M.M. Doheim, 2014, Selection of
telah diproduksi biosurfaktan dari bahan alam berupa Pseudomonas aeruginosa for biosurfactant production
minyak nabati dan karbohidrat. and studies of its antimicrobial activity, Egyptian
Journal of Petroleum Vol. 23, 1–6.
4. Daftar Pustaka. Februadi Bastian, Ani Suryani, dan Titi Candra Sunarti,
2012, Peningkatan kecerahan pada proses sintesis
Ahmed M. Elazzazy, T.S. Abdelmoneim , O.A.
surfaktan non ionik alkil poliglikosida (APG) berbasis
Almaghrabi, 2015, Isolation and characterization of
tapioca dan dodekanol, Reaktor, Vol. 14 No. 2, 143-
biosurfactant production under extreme environmental
150 143.
conditions by alkali-halo-thermophilic bacteria from
Fisseha Andualem Bezza, Evans M. Nkhalambayausi
Saudi Arabia, Saudi Journal of Biological Sciences.
Chirwa, 2015, Production and applications of
Vol. 22, 466–475.
lipopeptide biosurfactant for bioremediation and oil
Al-Bahry S.N, Y.M. Al-Wahaibi, A.E. Elshafie, A.S. Al-
recovery by Bacillus subtilis CN2, Biochemical
Bemani, S.J. Joshi, H.S. Al-Makhmari, H.S. Al-
Engineering Journal, Vol. 101, 168-178.
Sulaimani, 2013, Biosurfactant production by Bacillus
Grau, A, J C. Gomez Fernandez, and R Peypoux, 1999, A
subtilis B20 using date molasses and its possible
Study on the Interactions of Surfactin With
application in enhanced oil recovery. International
Phospholipid Vesicles. BBA, 1418: 307–319. Dalam
Biodeterioration & Biodegradation, Vol. 81, 141-146.
Wikipedia, the free encyclopedia
Ana Domínguez, Aurora Fernández, Noemí González,
(https://en.wikipedia.org/wiki/Surfactin).
Emilia Iglesias, and Luis Montenegro. 1997,
Hemlata B, J. Selvin, K. Tukaram, 2015, Optimization of
Determination of Critical Micelle Concentration of
iron chelating biosurfactant production by
Some Surfactants by Three Techniques, Journal of
Stenotrophomonas maltophilia NBS-11, Biocatalysis
Chemical Education, Vol. 74 No. 10 , 1227-1231.
and Agricultural Biotechnology, Vol. 4, Issue 2, 135-
Ani Suryani, Februadi Bastian, dan Titi Candra Sunarti,
143.
2012, Peningkatan kecerahan pada proses sintesis
http://www.search-document.com/ppt/1/1/surfaktan.html
surfaktan nonionik alkil poliglikosida (apg) berbasis
http://zzm.umcs.lublin.pl/Wyklad/FGF-
tapioka dan dodekanol. Reaktor, Vol. 14 No. 2, 143-
Ang/2A.F.G.F.%20Surface%20tension.pdf.
150.
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:HLB_scale.svg).
Anna-Lena Kjøniksen, Neda Beheshti, Hans Kristian
https://en.wikipedia.org/wiki/Rhamnolipid.
Kotlar, Kaizheng Zhu, Bo Nystro¨Ma, 2008, Modified
Ítalo Waldimiro Lima de França, Andrea Parente Lima,
polysaccharides for use in enhanced oil recovery
João Alexandre Monteiro Lemos, Celina Gentil Farias
applications, European Polymer Journal Vol. 44, 959–
Lemos, Vania Maria Maciel Melo, Hosiberto Batista
967.
de Sant’ana, Luciana. Rocha Barros Gonçalves
Changfeng Zeng , Chongqing Wang , and Lixiong
Production of a biosurfactant by Bacillus subtilis
Zhang Eng, 2013, Preparation of Methyl Ester
ICA56 aiming bioremediation of impacted soils.
Sulfonates Based on Sulfonation in a Falling Film
Catalysis Today, In Press, Corrected Proof,
Microreactor from Hydrogenated Palm Oil Methyl
Ji Sheng Yang, Qi Quan Zhou, Wen He, 2013,
Esters with Gaseous SO, Chem. Res.,52 (10), 3714–
Amphipathicity and self-assembly behavior of
3722).
amphiphilic alginate esters, Carbohydrate Polymers
Daniel T. Piorkowski, David Julian McClements*
Vol. 92, 23– 227.
Beverage emulsions: Recent developments in
Kuttuvan Valappil Sajna, 2015, Crude oil biodegradation
formulation, production, and applications
aided by biosurfactants from Pseudozyma sp. NII
(http://zzm.umcs.lublin.pl/Wyklad/FGF-
08165 or its culture broth, Bioresource Technology
Ang/2A.F.G.F.%20Surface%20tension.pdf)
Vol. 191, 133–139.
Danyelle K.F. Santos, Yana B. Brandão, Raquel D. Rufino,
Kuttuvan Valappil Sajna, Rajeev Kumar Sukumaran,
Juliana M. Luna, Alexandra A. Salgueiro, Valdemir A.
Lalitha Devi Gottumukkala, Ashok Pandey, Laurier L
Santos, Leonie A. Sarubbo, 2014, Optimization of
Schramm, 2000, Surfactants: Fundamentals and
cultural conditions for biosurfactant production from
applications in the petroleum industries., Petroleum
Candida lipolytica, Biocatalysis and Agricultural
Recovery Institute, Cambride Universityu Press.
Biotechnology, Volume 3, Issue 3, 48-57.
Laurier L. Shcramm, 2001, Surface Chemistry in the
Davies JT. 1957, A quantitative kinetic theory of emulsion
Petroleum Industry James R. Kanicky, Juan-Carlos
type, I. Physical chemistry of the emulsifying
Lopez-Montilla, Samir Pandey and Dinesh O. Shah
agent" (PDF), Gas/Liquid and Liquid/Liquid Interface,
Handbook of Applied Surface and Colloid Chemistry.
Proceedings of the International Congress of Surface
Edited by Krister Holmberg ISBN 0471 490830 John
Activity: 426–38.
Wiley & Sons, Ltd.
Desai JD, Banat IM, 1997, Microbial production of
Mahreni dan Renung Reningtyas, 2015, Pembuatan
surfactants and their commercial potential, Microbiol.
Surfaktan Di Alkil Karbohidrat dari Alga. Prosiding
Mol. Biol. Rev Vol. 61 (1): 47–
Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan” ISSN
64. PMC 232600. PMID 9106364.
1693-4393 Pengembangan Teknologi Kimia untuk

Page xx
Eksergi, Vol X, No. XX. XXXX
ISSN: 1410-394X

Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia


Yogyakarta.
Mahreni, Siti Diyar Kholisoh, Harsa Pawignya, Produksi
biohidrogen, surfaktan dan furfural dari lignoselulosa
secara fisika – bio, Laporan penelitian program
desentralisasi unggulan perguruan tinggi tahun 2014.
Naim Kosaric, Fazilet Vardar Sukan, 1993, Biosurfactants:
Production: Properties: Applications, Marcel Dekker,
Inc, New York. ISBN 0-9678550-9-
8. doi:10.1351/goldbook. Entry " critical micelle
concentration, cmc".

Page xx