Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM PENYEMPURNAAN 1

(PENYEMPURNAAN LIPATAN PERMANEN PADA KAIN KAPAS VARIASI KONSENTRASI


PVAC DAN RESIN)

Dosen : Wulan S.,S.T.,M.T

Asisten Dosen : Sukirman., S.ST., MIL

Mia K.,S.ST

Kelompok 4 :

Rifqi Dias R (17020074)

Rika Arista Fina (17020075)

Syifa Ainunnisa (17020084)

Widya Dwi Anisa (17020092)

GRUP : 2K4

PROGRAM STUDI KIMIA TEKSTIL

POLITEKNIK STTT BANDUNG


I. MAKSUD DAN TUJUAN
- Maksud
Melakukan proses penyempurnaan lipatan permanen pada kain kapas.
- Tujuan
Menganalisis hasil proses penyempurnaan lipatan permanen pada kain kapas
dengan pengaruh variasi PVAC dan resin.

II. TEORI DASAR


A. Kapas

Serat kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman kapas. Tanaman kapas termasuk
dalam jenis Gossypium. Tanaman yang berhasil dikembangkan adalah jenis
Gossypium hirsutum dan Gossypium barbadense. Kedua tanaman berasal dari
Amerika, Gossypium hirsutum kemudian terkenal dengan nama kapas ”Upland” atau
kapas Amerika dan Gossypium barbadense kemudian dikenal dengan nama kapas
”Sea Island”. Kapas upland merupakan kapas yang paling banyak diproduksi dan
digunakan untuk serat tekstil, sedangkan kapas sea island meskipun produksinya tidak
terlalu banyak, tetapi kualitasnya sangat baik karena seratnya halus dan panjang. Oleh
karena itu kapas sea island digunakan untuk tekstil kualitas tinggi.

Sifat Serat Kapas


 Warna
Warna serat kapas tidak betul – betul putih, biasanya sedikit cream.
 Kekuatan
Kekuatan serat perbundelnya adalah 70.000 sampai 96.700 pon per inchi persegi
atau 2-3 gram/denier. Dalam keadaan basah kekuatan serat kapas akan lebih
besar, biasanya meningkat 10% ketika basah.
 Mulur
Mulur serat kapas sekitar 4-13% dengan rata – ratanya 7%.
 Kekakuan (Stiffness)
Kekakuan adalah daya tahan terhadap perubahan bentuk atau perbandingan
kekuatan saat putus dengan mulur saat putus.
 Keliatan (Toughness)
Keliatan adalah ukuran yang menunjukkan kemampuan suatu benda untuk
menerima kerja.
 Moisture Regain (MR)
MR serat kapas pada kondisi standar adalah 7-8,5%.
 Berat Jenis (BJ)
BJ serat kapas berkisar 1,50-1,56.
 Indeks Bias
Indeks bias serat kapas yang sejajar sumbu serat adalah 1,58 sedangkan yang
tegak lurus adalah 1,53.

Sifat Kimia

Serat kapas pada umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan


dan pemakaian yang normal. Beberapa zat oksidasi atau penghidrolisa dapat
menyebabkan penurunan kekuatan. Kerusakan karena oksidasi ditandai dengan
terbentuknya oksiselulosa yang biasanya terjadi pada proses pemutih yang berlebihan,
penyinaran dalam kondisi lembab atau pemanasan yang lama pada suhu 140⁰C.

Asam – asam menyebabkan hidrolisa ikatan – ikatan glukosa dalam rantai


selulosa membentuk hidroselulosa. Asam kuat dalam larutan menyebabkan degradasi
yang cepat sedangkan larutan yang encer apabila dibiarkan mengering pada serat
akan menyebabkan penurunan kekuatan.

Alkali mempunyai sedikit pengaruh pada kapas kecuali larutan alkali kuat dengan
konsentrasi tinggi dapat menyebabkan penggelembungan pada serat seperti pada
proses merserisasi. Pada kondisi ini dinding primer menahan penggelembungan serat
kapas keluar sehingga bagian lumennya sebagian tertutup, irisan melintang menjadi
lebih bulat, puntirannya berkurang dan serat menjadi lebih berkilau, lebih kuat dan
afinitas terhadap zat warna menjadi lebih besar.

Pelarut – pelarut yang biasa digunakan untuk melarutkan kapas adalah


kuproamonium hidroksida dan kuprietilen diamin. Viskositas larutan kapas pada larutan
– larutan ini merupakan cara yang baik untuk memperkirakan kerusakan serat. Kapas
mudah diserang oleh jamur dan bakteri terutama pada keadaan lembab dan pada suhu
yang hangat. Banyak modifikasi zat – zat kimia tertentu saat ini digunakan untuk
memperbaiki sifat – sifat kapas seperti stabilitas dimensi, tahan kusut, tahan air, tahan
api, tahan jamur, tahan kotoran dan lain – lain

Penggunaan Serat Kapas

Serat kapas banyak digunakan untuk tekstil pakaian, tekstil rumah tangga. Serat-
serat yang sangat pendek yang disebut linter karena sulit dipintal, umumnya digunakan
sebagai bahan baku serta rayon.

B. PENYEMPURNAAN LIPATAN PERMANEN


Penyempurnaan lipatan pemanen merupakan jenis penyempurnaan resin, yang
dimana tujuan dari penyempurnaan resin adalah untuk memperbaiki kekurangan dari
serat-serat yang memiliki sifat mudah kusut seperti halnya selulosa. Selain akan
memberikan kestabilan dimensi pada kain, anti mengkeret dalam pencucian dan sifat-
sifat tetentu lainnya.Penyempurnaan resin termasuk penyempurnaan secara kimia,
dimana digunakan resin sintetik.
Penyempurnaan lipat permanen merupakan proses penyempurnaan kimia,
karena didalamnya dipergunakan zat-zat kimia. Sifat yang dihasilkan ada yan bersifat
sementara, ada yang bersifat permanen. Bersifat sementara apabila hasilnya hanya
bertahan beberapa kali pencucian, yakni kurang dari 4 kali pencucian, bersifat semi
permanen apabila hasinya tahan 4-10 kali pencucian, dan bersifat permanen apabila
hasilnya tahan lebih dari 10 kali pencucian.
Penyempurnaan lipat permanen; ini bertujuan untuk mendapatkan efek bentuk
permanen dengan bantuan resin dan dimasukkan pada mesin pelipit sekaligus pemanas
untuk setting bentuknya. Secara manual, biasanya lipat dibuat terlebih dahulu baru
disapukan resin dan dimantapkan dengan setrika. Kain yang dilipit permanen contohnya
gorden, rok, kerah jas, sudut celana, dsb. Penyempurnaan lipatan permanen merupakan
suatu proses pemberian lipatan yang bersifat permanen pada kain tertentu untuk
keperluan tertentu. Proses lipatan permanen merupakan salah satu proses
penyempurnaan tekstil menggunakan resin yang juga memberikan sifat tahan kusut,
kestabilan dimensi,dan lain sebagainya.
Resin sintetik adalah salah satu zat yang mampu diaplikasikan pada serat untuk
pertama kali dari larutan atau dispersi. Resin yang berbahan dasar formaldehida dan
urea melamin adalah yang paling banyak dipanaskan oleh perusahaan pembuat zat
pembantu tekstil. Formaldehida dan melamin sering disebut sebagai pra-kondesat yang
akan berubah menjadi resin yang tidak larut (stabil) jika dipanaskan pada suhu yang
sesuai. Ukuran partikel pra-kondesat harus cukup besar untuk menjamin dapat tersebar
di permukaan serat dan tidak berpenetrasi ke serat.
Resin golongan reaktan akan membentuk polimer-polimer pendek tetapi banyak
berikatan silang dengan molekul selulosa, contohnya dimetiloletilena urea (DMEU) dan
dimetiloldihidroksietilena urea (DMDHEU).
Resin yang masuk kedalam serat akan berpolimer menghasilkan molekul resin
yang kompleks dengan membentuk ikatan silang sehingga resin tidak dapat bermigrasi
kembali keluar dari serat. Selain itu resin akan mengikat susunan bagian molekul serat
satu sama lain sehingga serat menjadi lebih terikat yang akan mencegah
kecenderungan rantai molekul selulosa untuk saling menggelincir akibat tekanan
mekanik yang diberikan sehingga serat tidak berubah bentuk dan tahan kusut.

III. ALAT DAN BAHAN

Alat :

- Timbangan
- Pengaduk Kaca
- Nampan
- Mesin stenter
- Mesin Padder
- Crease recovery tester

Bahan

- Kain contoh uji (kain kapas)


- Resin lipatan permanen (DMDHEU)
- Katalis
- Air
IV. FUNGSI ZAT
- DMDHEU: Resin yang akan mengisi pori-pori serat saat berpolimerisasi
sehingga setelah di resin menghasilkan kain dengan lipatan permanen.
- Katalis :berfungsi untuk mempercepat reaksi polimerisasi yang terbentuk
antara serat dengan resin.

V. DIAGRAM ALIR

Kain dilipat dan disetrika dengan jarak 2,5 cm

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

Penimbangan Bahan

Padding

Drying, 100°C selama 2 menit

Curing, 170°C, selama 2 menit

Evaluasi : CRA

VI. SKEMA PROSES

padding Pre dry curing cuci

larutan pad lipatan


permanen
VII. RESEP
Resin : 100, 50, 75 g/L
Katalis : 10% dari resin
PVAC : 50, 100, 75 g/L
- PerhitunganResep
Konsentrasi Resin : PVAC = 100 : 50
100
Resin :1000 𝑥 50 = 5 g
10
Katalis : 1000 𝑥 5 = 0,5 g
50
PVAC : 1000 𝑥 50 = 2,5 g

Konsentrasi Resin : PVAC = 50 : 100


50
Resin :1000 𝑥 50 = 2,5 g
10
Katalis : 𝑥 2,5 = 0,25 g
1000
100
PVAC : 𝑥 50 = 5 g
1000

Konsentrasi Resin : PVAC = 75: 75


75
Resin :1000 𝑥 50 = 3,75 g
10
Katalis : 1000 𝑥 2,5 = 0,375 g
75
PVAC : 𝑥 50 = 3,75 g
1000

VIII. CARA KERJA


- Alat dan bahan disiapkan.
- Zat ditimbang sesuai kebutuhan.
- Setrika bahan kapas
- Zat dilarutkan hingga homogen dan dipindahkan kedalam nampan.
- Kain yang telah di setrika direndam pada larutan tersebut.
- Kain dilewatkan pada mesin padder untuk di padding dengan penggunaan
WPU 60%.
- Dikeringkan dengan suhu 100oC.
- Dicurring pada suhu 170oC selama 2 menit.
- Dilakukan pencucian dan evaluasi pada kain.
IX. DATA PENGAMATAN

Kekusutan Kain
Konsentrasi Resin : Konsentrasi Resin : Konsentrasi Resin :
PVAC (100 : 50) PVAC (50 : 100) PVAC (75 : 75)
105º 93º 89º
103º 91º 100º
100º 89º 100º
Rata-rata : 102,6 Rata-rata : 91 Rata-rata : 96,3

X. DISKUSI
Pada praktikum kali ini dilakukan proses penyempurnaan lipatan permanen pada
kain kapas dengan penambahan resin dan PVAC dengan masing-masing
konsentrasi yang berbeda. Pada kain yang pertama digunakan resin sebanyak 100
g/L dan PVAC 50 g/L, untuk kain yang kedua digunakan resin sebanyak 50 g/L dan
PVAC 100 g/L dan kain yang ketiga digunakan resin dan PVAC masing-masing
sebnayak 75 g/L. Hal tersebut dimaksudkan supaya dapat diketahui penggunaan
variasi konsentrasi resin yang paling optimal pada penyempurnaan lipatan permanen
terhadap jenis bahan yang diujikan.

Dalam proses penyempurnaan lipatan permanen ini, resin bekerja seperti pada
proses kain keras, hanya saja pada prosesnya dilakukan pembentukan lipatan pada
bahan terlebih dahulu dengan cara di pressing pada suhu tinggi ( dalam hal ini
menggunakan setrika). Setelah di setrika kain di rendam dan di padding dengan
posisi kain yang sudah melipat. Resin bereaksi dengan serat sehingga memberikan
efek kaku pada bahan. Efek kaku pada bahan yang diberi lipatan akan memiliki sifat
lipatan yang permanen pada penggunaan resin. Pada awalnya resin ini merupakan
prakondensat yang berukuran kecil, kemudian bereaksi didalam serat
berpolimerisasi membentuk ukuran yang lebih besar dan membentuk ikatan silang
dengan serat. Dalam kondisi polimerisasi dibutuhkan suhu yang tinggi pada
pemanasawetan yaitu 170ºC selama 2 menit.
Dilakukan evaluasi kekusutan kain dengan CRA. Dari hasil percobaan yang
diperoleh, lipatan permanen yang terbaik adalah kain yang memiliki kemampuan
kembali dari kekusutan dengan nilai derajat paling rendah, yakni pada konsentrasi
resin 50 g/L dengan penambahan PVAC 100 g/L dengan nilai derajat sudut rata-rata
yaitu 91º.

XI. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang diperoleh, lipatan permanen yang terbaik adalah kain
yang memiliki kemampuan kembali dari kekusutan dengan nilai derajat paling
rendah, yakni pada konsentrasi resin 50 g/L dengan penambahan PVAC 100 g/L
dengan nilai derajat sudut rata-rata yaitu 91º.

XII. DAFTAR PUSTAKA


- S. Hendrodyantopo, dkk. 1998. Teknologi Penyempurnaan. Bandung: Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil.
- P. Soeprijono, dkk. 1974. Serat Serat Tekstil. Bandung: Institut Teknlogi Tekstil.
- Susyami. N.M., dkk. Bahan Ajar Praktek Teknologi Penyempurnaan Kimia.
Bandung: Sekolah Tinggi Tenologi Tekstil.
- Diktat Teknologi Penyempurnaan. Bandung: Institut Teknologi Tekstil Bandung