Anda di halaman 1dari 44

Laporan Kasus

BENDA ASING (KOIN LOGAM) DI ESOPHAGUS

Disusun Oleh:

Nurul Hayatun Nupus, S.Ked 04054821820150


Ayu Aprilisa Dahni Putri, S. Ked 04084821820010
Kemala Andini Prizara, S.Ked 04054821820046
Yuni Anjarwati, S.ked 04011181520039
Anugrah Qalbi, S.Ked 04011181520062

Pembimbing:

dr. Puspa Zuleika, Sp.T.H.T.K.L (K), M.Kes, FICS

BAGIAN ILMU KESEHATAN THT-KL


RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. MOHAMMAD HOESIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2019
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus

BENDA ASING (KOIN LOGAM) DI ESOFAGUS

Oleh:

Nurul Hayatun Nupus, S.Ked 04054821820150


Ayu Aprilisa Dahni Putri, S. Ked 04084821820010
Kemala Andini Prizara, S.Ked 04054821820046
Yuni Anjarwati, S.ked 04011181520039
Anugrah Qalbi, S.Ked 04011181520062

Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/


Rumah Sakit Umum Mohammad Hoesin Palembang periode 11 Maret Juni – 15
April 2019.

Palembang, Maret 2019

dr. Puspa Zuleika, Sp.T.H.T.K.L (K), M.Kes, FICS

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan berkah, rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikanLaporan Kasus yang berjudul “Benda Asing pada Esofagus”.
Laporan Kasus ini disusun sebagai salah satu syarat Kepaniteraan Klinik Senior
Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL RSMH Palembang.Pada kesempatan ini,
penulis mengucapkan banyakterima kasih kepada dr. Puspa Zuleika, Sp.T.H.T.K.L
(K), M.Kes, FICS selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan selama
penulisan dan penyusunan referat ini, serta semua pihak yang telah membantu
hingga selesainya laporan kasus ini.
Penulis menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penulisan
laporan kasus ini.Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari seluruh pihak agar laporan kasus ini menjadi lebih baik.
Semoga laporan kasus ini dapat memberikan manfaat dan tambahan pengetahuan
bagi penulis dan pembaca.

Palembang, Maret 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i

HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... ii

KATA PENGANTAR ...................................................................................... iii

DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv

PENDAHULUAN ............................................................................................. 5

BAB II STATUS PENDERITA ..................................................................... 7

BAB III TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 22

BAB IV ANALISIS KASUS ............................................................................ 32

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................37

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Benda asing atau yang disebut juga dengan korpus alienum merupakan
kondisi terperangkapnya suatu benda yang dalam keadaan normal tidak ada
pada bagian tubuh tersebut.1 Benda asing di esophagus adala salah satu masalah
umum yang sering dihadapi oleh dokter THT. Benda asing dapat terperangkap
di 4 tempat penyempitan fisiologi pada esophagus yaitu cincin krikofaringeal,
persilangan antara esophagus dan arkus aorta, persilangan esophagus dan
bronkus utama sinistra, dan sfingter bawah.2 Peristiwa tertelan dan
tersangkutnya benda asing merupakan masalah utama anak usia 6 bulan sampai
6 tahun, dan dapat terjadi pada semua umur pada tiap lokasi di esophagus, baik
ditempat penyempitan fisiologis maupun patologis dan dapat pula
menimbulkan komplikasi fatal akibat perforasi.
Benda asing pada orang dewasa sering terjadi pada saat makan.3 Angka
kejadian benda asing / korpus alienum dapat dikatakan tinggi, yakni sekitar 11%
dari total kasus emergensi di bagian THT.4 Laki-laki lebih sering mengalami
korpus alienum daripada wanita.5 Lebih dari setengah kasus korpus alienum,
terjadi pada anak dengan usia dibawah 10 tahun.4 Pada kasus korpus alienum di
esophagus, benda asing yang bukan makanan kebanyakan tersngkut di servikal
esophagus dengan bronkus utama kiri pada sfingter kardio esophagus. Tujuh
puluh persen (70%) dari 2394 kasus benda asing esophagus ditemukan di saerah
servikal, dibawah sfingter krikofaring, 12% ditemukan di daerah hipofaring,
dan 7,7% di daerah esophagus torakal. Dilaporkan 48% kasus benda asing yang
tersangkut di daerah esofagogaster menimbulkan nekrosis tekanan atau infeksi
lokal.7 kejadian tersering ditemukan pada orofaring dengan persentase sebesar
83%.7
Gejala yang terlihat pada pasien dengan korpus alienum esophagus
akan tergantung pada usia, lokasi, dan pengaruh korpus alienum terhadap jalan
nafas. Korpus alienum yang mengakibatkan sumbatan jalan nafas total

5
merupakan kegawatan dalam THT dan harus dilakukan intervensi segera.
Korpus alienum yang tidak menyumbat jalan napas atau hanya menyumbat
sebagian biasanya memiliki gejala yang timbul berupa rasa tercekik (choking),
rasa tersumbat di tenggorok (gagging), disfagia, muntah.

6
BAB II
STATUS PASIEN

2.1 Identifikasi
Nama : An. GDI
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal Lahir : 17 September 2014
Umur : 4 tahun
Alamat : Desa Batu Panco, Kec. Curup Utara Rejang Lebong,
Bengkulu
Pekerjaan : Belum Sekolah
Pendidikan :-
Agama : Islam
Suku : Sumatera
Bangsa : Indonesia
No. Rekam Medik : 0001112980
Tanggal Berobat : Klinik THT-KL RSMH (15 Maret 2019)

2.2 Anamnesis
(Alloanamnesis pada tanggal 17 Maret 2019 pukul 10.00 WIB)
Keluhan Utama :
Tertelan uang logam Rp 1.000 rupiah sejak 1 minggu sebelum ke RSMH.
Keluhan Tambahan :
Nyeri menelan
Riwayat Perjalanan Penyakit :
± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, pasien tertelan koin logam saat
sedang bermain. Pasien lalu dibawa ke RSUD Curup dan dilakukan rontgen
dengan hasil koin logam masih di daerah tenggorokan.
± 3 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh demam, demam
dirasakan hilang timbul, suhu tidak diukur, rewel dan banyak mengeluarkan
air liur, nyeri saat menelan ada, sulit menelan tidak ada, rasa mengganjal pada

7
tenggorok ada, tersedak tidak ada, rasa tercekik tidak ada, mual dan muntah
tidak ada, batuk tidak ada, sesak nafas tidak ada, demam tidak ada, bengkak
pada leher tidak ada.
Pasien kemudian kembali dibawa ke RSUD Curup untuk dilakukan
rontgen kembali dan koin tersebut masih ada. Pasien langsung dirujuk ke
RSMH.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama sebelumnya disangkal.
Riwayat trauma kepala disangkal.
Riwayat mengorek telinga dengan kuat disangkal.
Riwayat kemasukan air ditelinga tidak diketahui.
Riwayat penyakit kongenital disangkal.
Riwayat alergi dan asma disangkal.

Riwayat Penyakit dalam Keluarga :


Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama sebelumnya disangkal.
Riwayat alergi dan asma dalam keluarga disangkal.

2.3 Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
Keadaan Umum : tampak sakit ringan BB : 13 kg
Kesadaran : compos mentis TB : 110cm
Tekanan Darah : 90/50 mmHg
Nadi : 118 kali/menit
Pernafasan : 28 kali/menit
Suhu : 36,0C
Pemeriksaan Khusus
Kepala : normocephali
Mata : konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)

8
Jantung : batas jantung normal, HR 80x/m, regular, murmur
(-), gallop (-)
Paru-paru : simetris kanan dan kiri, sonor di kedua lapangan
paru, vesikuler (+/+), ronkhi basah sedang di kedua
apeks lapangan paru, wheezing (-)
Abdomen : datar, lemas, hepar dan lien tidak teraba, timpani,
bising usus (+) N
Ekstremitas : akral pucat (-) pedema pretibia (-)

Status Lokalis
Telinga
I. Telinga Luar Kanan Kiri
Regio Retroaurikula
-Abses - -
-Sikatrik - -
-Pembengkakan - -
-Fistula - -
-Jaringan granulasi - -
Regio Zigomatikus
-Kista Brankial Klep - -
-Fistula - -
-Lobulus Aksesorius - -

Aurikula
-Mikrotia - -
-Efusi perikondrium - -
-Keloid - -
-Nyeri tarik aurikula + -
-Nyeri tekan tragus + -

Meatus Akustikus Eksternus

9
-Lapang/ sempit Lapang Lapang
-Oedema - -
-Hiperemis - -
-Pembengkakan - -

-Erosi - -
-Krusta - -
-Sekret (serous/ seromukus/ - -
mukopus/ pus) - -
-Perdarahan - -
-Bekuan darah - -
-Cerumen plug - -
-Epithelial plug - -
-Jaringan granulasi - -
-Debris -
-Banda asing -
-Sagging -
-Exostosis -

10
II.Membran Timpani
-Warna (putih/suram/hiperemis/ Putih Putih
hematoma)
-Bentuk (oval/ bulat) Oval Oval
-Pembuluh darah Pelebaran (-) Pelebaran (-)
-Refleks cahaya + +
-Retraksi - -
-Bulging - -
-Bulla - -
-Ruptur - -
-Perforasi - -
(sentral/perifer/marginal/attic) - -
(kecil/besar/subtotal/total)
-Pulsasi - -
-Sekret (serous/ seromukus/ - -
mukopus/ pus) - -
-Tulang pendengaran - -
-Kolesteatoma - -
-Polip - -
-Jaringan granulasi

Gambar Membran Timpani

11
III. Tes Khusus Kanan Kiri
1.Tes Garpu Tala
Tes Rinne Tidak dilakukan Tidak
Tes Weber Tidak dilakukan dilakukan
Tes Scwabach Tidak dilakukan Tidak
dilakukan
2.Tes Audiometri Tidak dilakukan Tidak
dilakukan

Tidak
dilakukan

3.Tes Fungsi Tuba Kanan Kiri


-Tes Valsava Tidak dilakukan Tidak
-Tes Toynbee Tidak dilakukan dilakukan
Tidak
dilakukan
4.Tes Kalori Tidak dilakukan Tidak
dilakukan
-Tes Kobrak Tidak dilakukan Tidak
dilakukan

Hidung
I.Tes Fungsi Hidung Kanan Kiri
-Tes aliran udara Cukup Cukup
-Tes penciuman
Teh Tidak Tidak
Kopi dilakukan dilakukan
Tembakau

12
II.Hidung Luar Kanan Kiri
-Dorsum nasi Normal Normal
-Akar hidung Normal Normal
-Puncak Hidung Normal Normal
-Sisi hidung Normal Normal
-Ala nasi Normal Normal
-Deformitas - -
-Hematoma - -
-Pembengkakan - -
-Krepitasi - -
-Hiperemis - -
-Erosi kulit - -
-Vulnus - -
-Ulkus - -
-Tumor - -
-Duktus nasolakrimalis (tersumbat/ tidak Tidak Tidak
tersumbat) tersumbat tersumbat
III.Hidung Dalam Kanan Kiri

1. Rinoskopi Anterior
a.Vestibulum nasi
-Sikatrik - -
-Stenosis - -
-Atresia - -
-Furunkel - -
-Krusta - -
-Sekret (serous/ seromukus/ mukopus/ - -
pus)
b.Kolumela
-Utuh/tidakutuh Utuh Utuh
-Sikatrik - -

13
-Ulkus - -
c. Kavum nasi
-Luasnya (lapang/ cukup/ sempit) Lapang Lapang
-Sekret (serous/ seromukus/ mukopus/ - -
pus)
-Krusta - -
-Bekuan darah - -
-Perdarahan - -
-Benda asing - -
-Rinolit - -
-Polip - -
-Tumor - -
d. Konka Inferior
-Mukosa (eutropi/ hipertropi/atropi) Eutropi Eutropi
(basah/kering) Basah Basah
(licin/tak licin) Licin Licin
-Warna (merah muda/ hiperemis/ Merah muda Merah muda
pucat/ livide)
-Tumor - -
e. Konka media
-Mukosa (erutopi/ hipertropi/atropi) Sulit dinilai Sulit dinilai
(basah/kering)
(licin/tak licin)
-Warna (merah
muda/hiperemis/pucat/livide)
-Tumor
f. Konka superior
-Mukosa (erutopi/ hipertropi/atropi) Sulit dinilai Sulit dinilai
(basah/kering)
(licin/tak licin)

14
-Warna (merah
muda/hiperemis/pucat/livide)
-Tumor
g. Meatus Medius
-Lapang/ sempit Sulit dinilai Sulit dinilai
-Sekret (serous/ seromukus/ mukopus/
pus)
-Polip
-Tumor
h. Meatus inferior
-Lapang/ sempit Sulit dinilai Sulit dinilai
-Sekret (serous/ seromukus/ mukopus/
pus)
-Polip
-Tumor
i. Septum Nasi
-Mukosa (eutropi/ hipertropi/atropi) Eutropi Eutropi
(basah/kering) Basah Basah
(licin/tak licin) Licin Licin
-Warna (merah muda/ hiperemis/ Merah muda Merah muda
pucat/ livide)
-Tumor - -
-Deviasi (ringan/sedang/berat) - -
(kanan/kiri)
(superior/inferior)
(anterior/posterior)
(bentuk C/bentuk S)
-Krista - -
-Spina - -
-Abses - -

15
-Hematoma - -
-Perforasi - -
-Erosi septum anterior - -

Gambar Dinding Lateral Hidung Dalam

Gambar Hidung Dalam Potongan Frontal

2.Rinoskopi Posterior Kanan Kiri


-Postnasal drip Tidak dilakukan Tidak
-Mukosa (licin/tak licin) dilakukan
(merah muda/hiperemis)
-Adenoid
-Tumor
-Koana (sempit/lapang)
-Fossa Russenmullery (tumor/tidak)

16
-Torus tobarius (licin/tak licin)
-Muara tuba (tertutup/terbuka)
(sekret/tidak)

IV.Pemeriksaan Sinus Paranasal Kanan Kiri


-Nyeri tekan/ketok
-infraorbitalis - -
-frontalis - -
-kantus medialis - -
-Pembengkakan - -
-Transiluminasi Tidak Tidak
-regio infraorbitalis dilakukan dilakukan
-regio palatum durum
Tenggorok
I.Rongga Mulut Kanan Kiri
-Lidah (hiperemis/udem/ulkus/fissura) Normal Normal
(mikroglosia/makroglosia)
(leukoplakia/gumma)
(papilloma/kista/ulkus)
-Gusi (hiperemis/udem/ulkus) Normal Normal
-Bukal (hiperemis/udem) Normal Normal
(vesikel/ulkus/mukokel)
-Palatum durum (utuh/terbelah/fistel) Utuh Utuh
(hiperemis/ulkus)
(pembengkakan/abses/tumor)
(rata/tonus palatinus)
-Kelenjar ludah (pembengkakan/litiasis) Normal Normal
(striktur/ranula)
-Gigi geligi (mikrodontia/makrodontia) Normal Normal
(anodontia/supernumeri)

17
(kalkulus/karies)

II.Faring Kanan Kiri


-Palatum molle Normal Normal
(hiperemis/udem/asimetris/ulkus) Tengah Tengah
-Uvula (udem/asimetris/bifida/elongating) Normal Normal
-Pilar anterior (hiperemis/udem/perlengketan)
(pembengkakan/ulkus) Normal Normal
-Pilar posterior (hiperemis/udem/perlengketan)
(pembengkakan/ulkus) Normal Normal
-Dinding belakang faring (hiperemis/udem)
(granuler/ulkus)
(secret/membran) Normal Normal
-Lateral band (menebal/tidak) T2 T2
-Tonsil Palatina (derajat pembesaran) Rata Rata
(permukaan rata/tidak) Kenyal Kenyal
(konsistensi kenyal/tidak) Lekat Lekat
(lekat/tidak) Detritus (- Detritus (-
(kripta lebar/tidak) ) )
(dentritus/membran) - -
(hiperemis/udem) - -
(ulkus/tumor) - -

18
Gambar rongga mulut dan faring

Rumus gigi-geligi

19
III.Laring Kanan Kiri
1.Laringoskopi tidak langsung (indirect)
-Dasar lidah (tumor/kista)
-Tonsila lingualis (eutropi/hipertropi)
-Valekula (benda asing/tumor)
-Fosa piriformis (benda asing/tumor)
-Epiglotis (hiperemis/ udem/ ulkus/
membran) Tidak Tidak
-Aritenoid (hiperemis/ udem/ ulkus/ dilakukan dilakukan
membran)
-Pita suara (hiperemis/udem/menebal)
(nodus/polip/tumor)
(gerak simetris/asimetris)
-Pita suara palsu (hiperemis/udem)
-Rima glottis (lapang/sempit)
-Trakea
2.Laringoskopi langsung (direct) Tidak Tidak
dilakukan dilakukan

2.4 Diagnosa Kerja


- Benda Asing (Koin logam) di Esophagus
2.5 Diagnosa Tambahan
Tonsilitis
2.6 Tatalaksana
Nonmedikamentosa : Esofagoskopi dan ekstraksi benda asing dalam anestesi umum +
evaluasi
Medikamentosa:
- IVFD RL GTT XV/m
- Inj. Ceftriaxon 300mg/12jam IV
- Inj. Asam Traneksamat 250mg/8jam IV

20
- Inj. Metil Prednisolone 62,5mg/12 jam IV
- Paracetamol sirup 3x2 cth PO via NGT
- Diet cair via NGT

2.7 Pemeriksaan Tambahan


Rontgen Thorax AP lateral

Kesan: Corpal densitas logam (koin) di proyeksi oesophagus setinggi corpus VC 7

VIII. Prognosis
Quo ad vitam : bonam
Quo ad functionam : bonam

21
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi dan Fisiologi Esophagus

3.1.1 Anatomi
Esofagus merupakan bagian saluram cerna yang menghubungkan
hipofaring dengan lambung, kira-kira 23 cm dibawah diafragma. Dimulai dari batas
bawah tulang rawan krikoid atau setinggi vertebra C6, berjalan sepanjang leher,
mediastinum superior dan posterior, didepan vertebra servikal dan torakal dan
berakhir pada orificium kardia lambung setinggi vertebra torakal 11. Esofagus
terletak di posterior jantung dan trakea, di anterior vertebra dan menembus hiatus
diafragma tepat di anterior aorta. Introitus esophagus setinggi servikal 6, berjalan
dalam rongga thoraks, menembus diafragma setinggi torakal 10 dan 11. Panjang
esophagus pada bayi adalah 7cm-14cm, dewasa 25cm dan berdiameter sekitar
2.54cm.4

Dinding esophagus terdiri dari empat lapisan yaitu:

1. Mukosa
Terbentuk dari epitel berlapis gepeng bertingkat yang berlanut ke
faring bagian atas, dalam keadaan normal bersifat alkali dan tidak
tahan terhadap isi lambung yang sangat asam.
2. Submukosa
Mengandung sel-sel sekretoris yang menghasilkan mucus yang
dapat mempermudahkan jalannya makanan sewaktu menelan dan
melindungi mukosa dari cedera akibat zat kimia.
3. Muskularis
Otot bagian esophagus merupakan otot rangka. Sedangkan otot pada
separuh bagian bawah merupakan otot polos, bagian yang
diantaranya terdiri dari campuran otot rangka dan otot polos.

22
4. Lapisan bagian luar (serosa)
Terdiri dari jaringan ikat yang jarang menghubungkan esophagus
dengan struktur-struktur yang berdekatan, tidak adanya serosa
mengakibatkan penyebaran sel-sel tumor lebih cepat (bila ada
kanker esophagus) dan kemungkinan bocor setelah operasi lebih
besar.

Gambar 1.0: Anatomi dari esophagus

Dinding otot esophagus (kecuali tidak adanya serosa) mengikuti pola dasar
bagian saluran pencernaan lain yang terdiri dari tunika adventitia atau fibrosa serta
tunika muskularis, submukosa dan tunika mukosa. Lapisan eksterna suatu tunika
adventitia dari jaringan ikat tidak teratur dan saraf. Lapisan otot esophagus terdiri
dari stratum longitudinal luar dan sikular dalam. Otot rangka dominan dalam
sepertiga atas, sedangkan otot polos menutupi sepertiga distal. Tunika muskularis

23
longitudinal terdapat pada kebanyakan esophagus, kecuali dalam bagian paling
proksimalnya. Setinggi itu, lapisan luar membentuk dua pita longitudinal
menyebar, yang melekat ke cartilage cricodea, sehingga memaparkan muskularis
circularis di posterior. Lapisan dalam tunika muskularis circularis lebih tipis
daripada longitudinal serta bersambung dengan musculus constrictor pharynx
inerior di atas dan fibril obliqua lambung bawah.4,5,6

Gambar 1.1: Anatomi lapisan otot pada esophagus.

Persarafan utama esofagus dilakukan oleh serabut-serabut simpatis dan


parasimpatis dari sistem otonom. Serabut –serabut parasimpatis dibawa oleh nervus
vagus yang dianggap merupakan saraf motorik. Selain persarafan ekstrinsik
tersebut, terdapat juga jala-jala longitudinal (pleksus Allerbach) dan berperan untuk
mengatur peristaltik esofagus normal. 4,5,6

24
Gambar 1.2: Anatomi dari cabang persarafan dan pembuluh darah di esofagus.

Gambar 1.3: Anatomi dari cabang persarafan dan pembuluh darah di esofagus.

25
Gambar 1.4: Anatomi dari esofagus

Peranan esofagus adalah menghantarkan makanan dan minuman dari faring


ke lambung. Pada kedua hujung esofagus terdapat otot sfingter. Otot krikofaringeus
membentuk sfingter esofagus bagian atas dan terdiri atas serabut-serabut otot
rangka. Bagian esofagus ini secara normal berada dalam keadaan tonik atau
kontraksi kecuali pada waktu menelan. Sfingter esofagus bagian bawah, walaupun
secara anatomis tidak nyata, bertindak sebagai sfingter dan berperan sebagai sawar
terhadap refluks isi lambung ke dalam esofagus. Dalam keadaan normal, sfingter
ini menutup, kecuali bila makanan masuk kedalam lambung atau waktu muntah.
Oesophagus memiliki 3 tempat penyempitan, antara lain pada sfingter oesophageal
(pharyngoesophageal junction), di belakang dr arcus aorta, dan pada hiatus
oesophagus saat menembus diaphragm.4,5,6

3.1.2 Fisiologi

Makanan yang telah masuk ke dalam mulut dan dikunyah oleh gigi, masuk
ke dalam kerongkongan (esophagus) melalui faring (tekak). Faring merupakan
saluran persimpangan antara rongga hidung ke tenggorokan dan rongga mulut ke
esophagus. Esophagus merupakan saluran panjang dan tipis sebagai jalan makanan

26
yang telah dikunyah dari mulut ke lambung. Pada esophagus tidak terjadi proses
pencernaan. Panjang esophagus kurang lebih 20 cm dan lebarnya 2 cm. Bagian
dalam esophagus selalu dibasahi cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar mukosa
sehingga makanan menjadi basah dan licin. Pada dinding esophagus terdapat otot-
otot yang dapat mengatur gerakan kembang kempis pada saat mendorong makanan
yang berbentuk gumpalan-gumpalan (disebut bolus) agar masuk ke dalam lambung.
Gerakan otot demikian disebut gerak peristaltik.6

Esofagus terutama berfungsi menghantarkan bahan yang dimakan dari


faring ke lambung secara peristaltik (5-15 detik). Pada bagian atas dan bawah
esofagus terdapat spingter dimana yg berperan sbg barier terhadap refluk isi
lambung ke esofagus dan dalam keadaan normal berada dalam kondisi tonik atau
berkontriksi kecuali waktu menelan. Mukosa esofagus bersifat alkali dan tidak
tahan terhadap isi lambung yg asam. Lapisan submukosa mengandung selsel
sekretoris yg menghasilkan mukus/lendir , mukus mempermudah jalannya
makananan waktu menelan. Kecepatan peristaltik dari esofagus yakni 2 – 4 cm/dtk.
Sedangkan bolus sampe ke lambung sektar 5 – 15 detik.6

Gambar 1.5: Pada kiri gambar kelihatan proses peristaltic makanan yang berlangsung di esophagus
dan pada kanan gambar kelihatan bagian organ tubuh yang terlibat dengan proses pencernaan.

27
Fisiologi Sistem Pencernaan

Transpor dan pencampuran makanan dalam saluran pencernaan yang


pertama adalah mengunyah. Mengunyah makanan bersifat penting untuk
pencernaan semua makanan, tetapi terutama sekali untuk sebahagian besar buah
dan sayur-sayuran mentah karena zat ini mempunyai membran selulosa yang tidak
dapat dicerna diantara bagian-bagian zat nutrisi yang harus di uraikan sebelum
makanan dapat di gunakan. Selain itu, mengunyah akan membantu pencernaan
makanan karena enzim-enzim pencernaan hanya akan bekerja pada permukaan
partikel makanan. Selain itu, menggiling makanan hingga menjadi partikel-partikel
dengan konsistensi sangat halus akan mencegah ekskoriasi traktus gastrointestinal
dan meningkatkan kemudahan pengosongan makanan dari lambung ke dalam usus
halus dan kemudian ke semua segmen usus berikutnya.6

Selanjutnya adalah menelan. Pada umumnya, menelan dapat dibagi


menjadi (1) tahap volunter, yang mencetuskan proses menelan, (2) tahap faringeal,
yang bersifat involunter dan membantu jalannya makanan melalui faring ke dalam
esofagus, dan (3) tahap esofageal, fase involunter lain yang mempermudah jalannya
makanan dari faring ke lambung.7

Tahap esofageal dari penelanan.

Esofagus terutama berfungsi untuk menyalurkan makanan dari faring


ke lambung, dan gerakannya diatur secara khusus untuk fungsi tersebut.
Normalnya esofagus memperlihatkan dua tipe peristaltik: peristaltik primer dan
peristaltik sekunder. Peristaltik primer hanya merupakan kelanjutan dari gelombang
peristaltik yang dimulai di faring dan menyebar ke esofagus selama tahap faringeal
dari penelanan. Gelombang ini berjalan dari faring ke lambung dalam waktu sekitar
8 sampai 10 detik. Makanan yang ditelan seseorang dalam posisi tegak biasanya
dihantarkan ke ujung bawah esofagus bahkan lebih cepat dari gelombang peristaltik
itu sendiri, sekitar 5-8 detik, akibat adanya efek gravitasi tambahan yang menarik
makanan ke bawah. Jika gelombang peristaltik primer gagal mendorong semua
makanan yang telah masuk esofagus ke dalam lambung, terjadi gelombang

28
peristaltik sekunder yang dihasilkan dari peregangan esofagus oleh makanan yang
tertahan, dan terus berlanjut sampai semua makanan dikosongkan ke dalam
lambung. Gelombang sekunder ini sebagian dimulai oleh sirkuit saraf mienterikus
esofagus dan sebagian oleh refleks-refleks yang dihantarkan melalui serat-serat
aferen vagus dari esofagus ke medula dan kemudian kembali lagi ke esofagus
melalui serat-serat eferen vagus.

Susunan otot faring dan sepertiga bagian atas esofagus adalah otot lurik.
Karena itu, gelombang peristaltik di daerah ini hanya diatur oleh impuls saraf
rangka dalam saraf glosofaringeal dan saraf vagus. Pada duapertiga bagian bawah
esofagus, ototnya merupakan otot polos, namun bagian esofagus ini juga secara
kuat diatur oleh saraf vagus yang bekerja melalui hubungannya dengan sistem saraf
mienterikus. Sewaktu saraf vagus yang menuju esofagus terpotong, setelah
beberapa hari pleksus saraf mienterikus esofagus menjadi cukup terangsang untuk
menimbulkan gelombang peristaltik sekunder yang kuat bahkan tanpa bantuan dari
refleks vagal. Karena itu, sesudah paralisis refleks penelanan, makanan yang
didorong dengan cara lain ke dalam esofagus bagian bawah tetap siap untuk masuk
ke dalam lambung.

Relaksasi reseptif dari lambung. Sewaktu gelombang peristaltik esofagus


berjalan ke arah lambung, timbul suatu gelombang relaksasi, yang dihantarkan
melalui neuron penghambat mienterikus, mendahului peristaltik. Selanjutnya,
seluruh lambung dan sedikit lebih luas bahkan duodenum menjadi terelaksasi
swaktu gelombang ini mencapai bagian akhir esofagus dan dengan demikian
mempersiapkan lebih awal untuk menerima makanan yang didorong ke bawah
esofagus selama proses menelan.

Fungsi sfingter esofagus bagian bawah ( sfingter gastroesofageal)

Pada ujung bawah esofagus,meluas dari sekitar dua sampai lima sentimeter
diatas perbatasan dengan lambung, otot sirkular esofagus berfungsi sebagai sfingter
esofagus bagian bawah atau sfingter gastroesofageal. Secara anatomis,sfingter ini
tidak berbeda dengan bagian esofagus yang lain. Secara fisiologis normalnya

29
sfingter tetap berkonstriksi secara tonik (dengan tekanan intraluminal pada titik ini
di esofagus sekitar 30 mmHg), berbeda dengan bagian tengah esofagus antara
sfingter bagian atas dan bagian bawah, yang normalnya tetap berelaksasi. Sewaktu
gelombang peristaltik penelanan melewati esofagus, relaksasi reseptif akan
merelaksasi sfingter esofagus bagian bawah medahului gelombang peristaltik dan
mempermudah dorongan makanan yang ditelan ke dalam lambung. Sangat jarang,
sfingter tidak berelaksasi dengan baik, mengakibatkan keadaan yang disebut
akalasia.6

Isi lambung bersifat sangat asam dan mengandung banyak enzim


proteolitik. Mukosa esofagus, kecuali pada seperdelapan bagian bawah esofagus,
tidak mampu menahan kerja pencernaan yang lama dari sekresi getah lambung.
Konstriksi tonik dari sfingter esofageal bagian bawah akan membantu untuk
mencegah refluks yang bermakna dari isi lambung ke dalam esofagus kecuali pada
keadaan abnormal.6

Pencegahan tambahan terhadap refluks dengan penutupan seperti katup di


ujung distal esofagus. Faktor lain yang mencegah refluks adalah mekanisme seperti
katup pada bagian esofagus yang pendek yang terletak tepat di bawah diafragma
sebelum mencapai lambung. Peningkatan tekanan intraabdominal akan mendesak
esofagus pada titik ini ke dalam pada saat yang bersamaan ketika tekanan ini
meningkatkan tekanan intragastrik. Jadi, penutupan seperti katup ini, pada esofagus
bagian bawah akan mencegah tekanan abdominal yang tinggi yang berasal dari
desakan isi lambung ke dalam esofagus. Kalau tidak, setiap kali kita berjalan, batuk
atau bernafas kuat, kita mungkin mengeluarkan asam ke dalam esofagus.6

3.2 Definisi
Benda asing esofagus adalah obyek dari luar tubuh yang bukan milik di
esophagus yang tersangkut dan terjepit seperti gigi palsu ,baterai, koin dan lain-lain
bergantung umur dan jenis kelamin. Potensi menjadi berbahaya apabila obyek
tajam termasuk. Bedanya makanan yang tertahan di esophagus (food impaction)

30
oleh kerna adanya penyakit seperti esophagitis lebih mudah untuk diberi tindakan
dari benda asing esophagus.1,2

3.3 Epidemiologi

Morbiditas dan mortalitas yang tinggi tergantung pada komplikasi yang


terjadi. Benda asing di esophagus sering ditemukan di daerah penyempitan
fisiologis esophagus. Benda asing yang bukan makanan kebanyakan tersangkut di
servikal esophagus, biasanya di otot krikofaring atau arkus aorta, kadang-kadang di
daerah penyilangan esophagus dengan bronkus utama kiri pada sfingter kardio
esophagus.70% dari 2394 kasus benda asing esophagus ditemukan di daerah
servikal, dibawah sfingter krikofaring, 12% didaerah hipofaring dan 7,7% didaerah
esophagus torakal.Dilaporkan 48% kasus benda asing yang tersangkut di daerah
esofagogaster menimbulkan nekrosis tekanan atau infeksi lokal.1,2, Pada orang
dewasa benda asing yang tersangkut dapat berupa makanan atau bahan yang tidak
dapat dicerna seperti biji buah-buahan, gigi palsu, tulang ikan, atau potongan
daging yang melekat pada tulang.1,2,7

3.4 Etiologi

Pada anak penyebabnya antara lain anomali kongenital, termasuk stenosis


kongenital, web, fistel trakeoesofagus, dan pelebaran pembuluh darah. Pada orang
dewasa sering terjadi akibat mabuk, pemakai gigi palsu yang telah kehilangan
sensasi rasa palatum, gangguan mental, dan psikosis.1 Peristiwa tertelan dan
tersangkutnya benda asing merupakan masalah utama pada anak usia 6 bulan
sampai 6 tahun dan dapat terjadi pada semua umur pada tiap lokasi di esofagus,
baik di tempat penyempitan fisiologis maupun patologis dan dapat pula
menimbulkan komplikasi fatal akibat perforasi.1,7,8

Benda asing yang tersangkut pada esofagus biasanya ditemukan pada 4


tempat penyempitan fisiologi pada esofagus yaitu cincin krikofaringeal, persilangan
antara esofagus dan arkus aorta, persilangan esofagus dengan bronkus utama

31
sinistra, dan sfingter bawah. Gejala yang biasanya timbul seperti, disfagia, pirosis,
odinofagi dan regurgitasi.

Faktor predisposisi antara lain belum tumbuhnya gigi molar untuk dapat
menelan dengan baik, koordinasi proses menelan dan sfingter laring yang belum
sempurna pada kelompok usia 6 bulan sampai 1 tahun, retardasi mental, gangguan
pertumbuhan dan penyakit-penyakit neurologik lain yang mendasarinya. Pada
orang dewasa tertelan benda asing sering dialami oleh pemabuk atau pemakai gigi
palsu yang telah kehilangan sensasi rasa (tactile sensation) dari palatum, pada
pasien gangguan mental dan psikosis.1,3 Selain itu juga, kebiasaan misalkan
“memegang” dengan gigi benda-benda seperti uang logam, mainan dan lain-lain.1

3.5 Faktor-Faktor Predisposisi

Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya aspirasi benda asing ke dalam


saluran cerna yang pertama adalah faktor individual yang terdiri dari umur, jenis
kelamin, pekerjaan, kondisi sosial, tempat tinggal. Faktor selanjutnya adalah
kegagalan mekanisme proteksi yang normal, antara lain: keadaan tidur, kesadaran
menurun, alkoholisme dan epilepsi. Kemudian faktor fisik: kelainan dan penyakit
neurologik. Proses menelan yang belum sempurna pada anak. Faktor dental,
medical dan surgical, misalnya tindakan bedah, ekstraksi gigi, belum tumbuhnya
gigi molar pada anak usia kurang dari 4 tahun. Faktor kejiwaan, antara lain: emosi,
gangguan psikis. Faktor kecerobohan, antara lain; meletakkan benda asing di mulut,
persiapan makanan yang kurang baik, makan atau minum tergesa-gesa, makan
sambil bermain, memberikan kacang atau permen pada anak yang gigi molar nya
belum tumbuh.1,2,7

3.6 Gejala Klinis

Gejala sumbatan akibat benda asing esofagus tergantung pada


ukuran,bentuk dan jenis benda asing, lokasi tersangkutnya benda asing (apakah
berada di daerah penyempitan esofagus yang normal atau patologis), komplikasi
yang timbul akibat benda asing tersebut dan lama benda asing tertelan. Gejala
permulaan benda asing esofagus adalah rasa nyeri didaerah leher bila benda asing

32
tersebut tersangkut di daerah servikal. Bila benda asing tersangkut di esofagus
bagian distal timbul rasa tidak enak di daerah substernal atau nyeri di punggung.1,2,3

Gejala disfagia bervariasi tergantung pada ukuran benda asing. Disfagia


lebih berat bila terjadi edema mukosa yang memperberat sumbatan, sehingga
timbul rasa sumbatan esofagus yang persisten. Gejala lain ialah odinofagia yaitu
rasa nyeri ketika menelan makanan atau ludah, hipersalivasi, regurgitasi dan
muntah. Kadang-kadang ludah berdarah. Nyeri di punggung menunjukkan tanda
perforasi atau mediastinitis. Gangguan napas dengan gejala dispne, stridor dan
sianosis terjadi akibat penekanan trakea oleh benda asing.1

3.7 Diagnosis

Ditegakkan berdasarkan anamnesis yang lengkap, gambaran klinis, dengan


gejala dan tanda, pemeriksaan radiologic dan endoskopik. Tindakan endoskopik
dilakukan untuk diagnostik dan terapi. Diagnosis tertelan benda asing, harus
dipertimbangkan pada setiap anak dengan rasa tercekik (choking), rasa tersumbat
di tenggorok (gargling), batuk, muntah. Gejala ini diikuti dengan disfagia, berat
badan menurun, demam, gangguan pernafasan. Harus diketahui dengan baik
ukuran, bentuk dan jenis benda asing, dan apakah mempunyai bagian yang tajam.
Nyeri didaerah leher bila benda asing tersangkut didaerah servikal. Bila benda asing
tersangkut di esophagus bagian distal timbul rasa tidak enak didaerah substernal
atau nyeri dipunggung.1,2,7,9

Pemeriksaan Fisik

Terdapat kekakuan lokal pada leher bila benda asing terjepit akibat edema
yang timbul progresif. Bila benda asing ireguler menyebabkan perforasi akut,
didapatkan tanda pneumo-mediastinum, emfisema leher dan pada auskultasi
terdengar suara getaran didaerah prekordial atau interskapula. Bila terjadi
mediastinitis, tanda efusi pleura unilateral atau bilateral dapat dideteksi. Perforasi
langsung ke rongga pleura dan pneumothorak jarang terjadi, tetapi dapat timbul
sebagai komplikasi tindakan endoskopi.1,2

33
Pada anak-anak gejala nyeri atau batuk dapat disebabkan oleh aspirasi ludah
atau minuman dan pada pemeriksaan fisik didapatkan ronkhi, mengi (wheezing),
demam, abses leher atau tanda emfisema subkutan. Tanda lanjut, berat badan
menurun dan gangguan pertumbuhan. Benda asing yang berada didaerah servikal
esophagus dan dibagian distal krikofaring, dapat menimbulkan gejala obstruksi
saluran nafas dengan stridor, karena menekan dinding trakea bagian posterior
(tracheo-esophageal party wall), radang dan edema periesofagus. Gejala aspirasi
rekuren akibat obstruksi esophagus sekunder dapat menimbulkan pneumonia,
bronkiektasis dan abses paru.1,7

Pemeriksaan Penunjang

Foto rontgen polos esofagus servikal dan torakal anterior posterior dan
lateral dilakukan pada semua pasien tertelan benda asing . Benda asing radiopak
seperti uang logam, mudah diketahui lokasinya. Benda asing radiolusen seperti
plastik,aluminium dan lain-lain dapat diketahui dengan tanda inflamasi
periesofagus dan hiperinfalamasi hipofaring dan esofagus bagian proksimal. Foto
rontgen leher posisi lateral dapat menunjukkan tanda perforasi, dengan trakea dan
laring tergeser ke depan, gelembung udara di jaringan, adanya bayangan cairan atau
abses bila perforasi telah berlangsung beberapa hari.1,10,12

Pemeriksaan esofagus dengan kontras (esofagogram) dilakukan apabila foto


polos tidak menunjukkan gambran benda asing dengan memperlihatkan gambaran
“filing defect persistent”1. Esofagogram sebaik-baiknya tidak dilakukan pada benda
asing radiopak karena densitas benda asing biasanya sama dengan zat kontras,
sehingga akan menyulitkan penilaian ada tidaknya benda asing. Resiko lain adalah
terjadinya aspirasi bahan kontras. Bahan kontras Barium lebih baik karena sifatnya
kurang toksis terhadap saluran napas bila terjadi aspirasi kontras.11,12

CT scan dan MRI masing-masing menunjukkan gambaran inflamasi


jaringan lunak dan abses. Sementara MRI menunjukkan gambaran semua keadaan
patologik esofagus.1

34
Gambar 1,6: Pada posisi posteroanterior dan lateral memperlihatkan gambaran radiopak
berbentuk coin pada esofagus.

3.8 Diagnosa Banding

Diagnosa banding bisa dilihat daripada gambaran klinis yang ada seperti
disphagia, stridor ,sianosis, odinofagia dan lain-lain. Berdasarkan gambaran klinis
yang ada contohnya disphagia penyakit atau kelainan bisa menyebabkan dysphagia
adalah akalasia, Ca esophagus, striktur esophagus. Gambaran klinis stridor pada
anak-anak bisa di diagnosa banding dengan pharyngitis, stenosis subglotid dan lain-
lain. 13

Anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang sangat penting


dalam menegakkan diagnosa, selain menyingkirkan penyebab lainnya.

3.9 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan corpus alienum esofagus tergantung pada sejumlah faktor,


seperti lokasi anatomi, bentuk dan ukuran benda asing, durasi impaksi, keahlian
dokter bedah dan ketersediaan instrumen yang tepat. Penatalaksanaan dengan cara
esophagoscopy kaku untuk menghilangkan benda asing tetap merupakan metode
yang terbaik. Namun, ada juga mode pengobatan lain yang dilaporkan dalam
literature seperti penggunaan esophagoscopy fleksibel, esophagotomy serviks dan
penggunaan kateter forley bersama fluoroscopic.7

35
Benda asing di esofagus dikeluarkan dengan tindakan esofagoskopi dengan
menggunakan cunam yang sesuai dengan benda asing tersebut. Bila benda asing
telah berhasil dikeluarkan harus dilakukan esofagoskopi ulang untuk menilai
adanya kelainan-kelainan esofagus yang telah ada sebelumnya.7,12,15

Prosedur untuk melakukan esofagoskopi adalah pasien baring supinasi di


meja operasi dalam anestesi umum dan endotrakeal tube (ETT) telah terpasang.
Kemudian dilakukan tindakan asepsis dan antiseptic pada lapangan operasi, pasang
douk steril. Esofagoskop bagian proksimal dipegang dengan tangan kanan
sementara bagian distal dipegang oleh tangan kiri seperti memegang tongkat bilyar.
Lalu jari tengah dan jari manis tangan kiri memegang bibir atas dan mengait gigi
incisivus, sedangkan jari telunjuk dan ibu jari kiri memegang bagian distal
esofagoskop serta menarik bibir agar tidak terjepit di antara pipa esofagoskop
dengan gigi. Selanjutnya, esofagoskop didorong tangan kiri seperti memegang pena
pada bagian distal. Kemudian esofagoskop dimasukkan secara vertical ke dalam
mulut melalui ujung kanan mulut, pada saat ini kepala penderita diangkat sedikit
sampai vertex berada kira-kira 1 sentimeter dari meja. Lakukan identifikasi
valekula, epiglottis, plika farigo-epiglotik dan laring. Esofagoskop disusupkan di
sisi kanan lidah sampai dinding posterior faring menuju arytenoid yang merupakan
penunjuk ke sinus piriformis, esofagoskop diteruskan melalui sinus piriformis
kanan dan melalui penyempitan krokofaringeal. Tampak corpus alienum. Ekstraksi
corpus alienum dengan menggunakan forceps yang bersesuaian. Esofagoskopi
dikeluarkan dari esofagus. Esofagoskopi selesai, dipasangkan nasogastric tube pada
pasien.

36
Gambar 1.7: contoh alat esofagoskop yang digunakan pada esofagoskopi

Aplikasi utama untuk esophagoscopy fleksibel adalah diagnosis. Prosedur


ini sangat berguna pada pasien usia lanjut dengan mobilitas tulang belakang terbatas
dan pada pasien dengan ketinggian yang rendah dan leher yang pendek.
Esophagoscope fleksibel digunakan dengan anestesi lokal dan sedasi yang
dimonitor. Untuk memudahkan kontrol sekresi dan perjalanan instrument kedalam
esofagus, pasien ditempatkan dalam posisi tertekuk dan berbaring di satu sisi.
Menggunakan insuflasi, ahli bedah akan mendeteksi dan memasuki
cricopharyngeus dan melakukan visualisasi yang aman dan rinci pada esofagus.
Jika keganasan dicurigai, specimen akan disikat dan dikirim untuk pemeriksaan
sitologi atau forsep digunakan untuk memperoleh spesimen untuk analisis
histologis.15

Esophagoskopi kaku dapat digunakan untuk mengobati berbagai masalah,


termasuk benda asing, perdarahan (misalnya, dari varises esofagus), dan tumor
endobronkial. Esophagoskopi kaku digunakan dengan pasien di bawah anestesi
umum. Pasien ditempatkan dalam posisi terlentang dengan leher diekstensi.
Esophagoskop tersebut kemudian diteruskan sisi kanan lidah, dengan endoscopist
menggunakan tangan kiri untuk dudukan instrumen. Tangan kanan digunakan
untuk stabilisasi akhir proksimal lingkup, penyedotan, dan penyisipan instrumen

37
melalui lumen esophagoscope tersebut. Bibir esophagoscope diposisikan anterior
untuk manipulasi epiglotis dan visualisasi dari sinus piriformis dan aritenoid. Ruang
lingkup tersebut kemudian diteruskan sinus piriformis ke cricopharyngeus (yaitu,
katup esofagus superior). Ibu jari kiri kemudian digunakan untuk memajukan
instrumen bawah kerongkongan. Jika tidak ada lesi utama dicatat pada penyisipan
esophagoscope itu, pemeriksaan hati-hati dari mukosa harus dilakukan selama
penarikan instrumen.15

Komplikasi seperti perforasi esofagus mungkin timbul terutama ketika


instrumen untuk esophagoscopy kaku yang tidak pantas dan ahli bedah kurang
berpengalaman. Selain itu, benda tajam pada setiap titik impaksi dapat
menyebabkan perforasi sebelum ekstraksi. Ia dapat menyebabkan mediastinitis dan
kematian. Sering kali perforasi dapat dihindari ketika benda asing ditarik ke dalam
lingkup sebelum ekstraksi.7

Benda asing tajam yang tidak berhasil dikeluarkan dengan esofagoskopi


harus segera dikeluarkan dengan pembedahan, yaitu servikotomi, torakotomi atau
esofagotomi, tergantung lokasi benda asing tersebut. Bila dicurigai adanya perforasi
yang kecil segera dipasang pipa nasogaster agar pasien tidak menelan, baik
makanan maupun ludah dan diberikan antibiotika berspektrum luas selama 7-10
hari untuk mencegah timbulnya sepsis. Benda asing tajam yang telah masuk ke
dalam lambung dapat menyebabkan perforasi di pylorus. Oleh karena itu perlu
dilakukan evaluasi dengan sebaik-baiknya, untuk mendapatkan tanda perforasi
sedini mungkin dengan melakukan pemeriksaan radiologi untuk mengetahui posisi
dan perubahan letak benda asing. Bila letak benda asing menetap selama 2 kali 24
jam maka benda asing tersebut harus dikeluarkan secara pembedahan
(laparatomi).1,2

38
Gambar 1.8: Contoh ilustrasi gambaran esofagus yang kelihatan ketika dilakukan
esofagoskopi.

Benda asing uang logam di esofagus bukan keadaan gawat darurat, namun
uang logam tersebut harus dikeluarkan sesegera mungkin dengan persiapan
tindakan esofagoskopi yang optimal untuk mencegah komplikasi. Benda asing
baterei bundar (disk/button batery) di esofagus merupakan benda yang harus segera
dikeluarkan karena risiko perforasi esofagus yang terjadi dengan cepat dalam waktu
kurang lebih 4 jam setelah tertelan akibat nekrosis esofagus.1,3

Gambar 1.9: gambaran radiologi anak secara AP dan lateral yang tertekan baterei bundar

39
BAB IV

ANALISIS KASUS

4.1 Laporan Kasus

Seorang anak usia 4 tahun pada tanggal 15 Maret 2019 datang ke IGD RSMH
dengan keluhan utama tertelan koin logam Rp1.000 sejak ± 1 minggu yang lalu.
Anamnesis didapatkan saat pasien tiba di IGD RSMH, os mengeluh tertelan tertelan
koin logam saat sedang bermain. Keluhan lain yang dirasakan pasien sulit menelan
ada, rasa mengganjal pada tenggorok ada, tersedak tidak ada, rasa tercekik tidak
ada, mual dan muntah tidak ada, batuk tidak ada, sesak nafas tidak ada, demam
tidak ada, bengkak pada leher tidak ada.
Tidak ada batuk, sesak napas, mengeluarkan suara seperti mengorok, rasa
panas di dada, nyeri di dada. Demam ada dirasa hilang timbul. Pemeriksaan fisik
didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, tekanan
darah 90/50 mmHg, nadi 118 x/menit, temperatur 36,7 ºC, dan frekuensi pernafasan
28x/menit. Pemeriksaan tenggorokan didapatkan faring hiperemis. Pemeriksaan
hidung dan telinga dalam batas normal. Penegakkan diagnosis berdasarkan hasil
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang didapatkan benda asing
(koin logam) di Esophagus. Pada penatalaksanaan dilakukan esofagoskopi dan
ekstraksi benda asingdengan anestesi umum dan evaluasi.

4.2 Diskusi

Seorang pasien laki-laki berusia 4 tahun datang ke IGD RSUP Moh Husein
pada tanggal 15 Maret 2019 dengan keluhan tertelan koin logam sejak 1 minggu
sebelum masu rumah sakit. Dari anamnesis selanjutnya didapatkan pasien
mengeluhkan rasa nyeri saat menelan. Berdasarkan pengakuan pasien tersebut kita
bisa memikirkan kemungkinan diagnosis ke arah korpus alienum esophagus et
causa tertelan koin logam.

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengkonfirmasi kemungkinan diagnosis benda


asing dalam esophagus. Pada pasien ini ditemukan dari pemeriksaan rontgen

40
thorak PA tampak adanya benda asing yang menempel pada oesophagus setinggi
corpus VC 7. Benda asing tersebut berupa koin logam Rp 1.000.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat ditegakkan diagnosis
benda asing esophagus. Benda asing / korpus alienum bisa berasal dari luar atau
dalam tubuh. Dalam keadaan normal benda tersebut tidak ada pada daerah
esophagus. Benda asing dapat terperangkap di 4 tempat penyempitan fisiologi pada
esophagus yaitu cincin krikofaringeal, persilangan antara esophagus dan arkus
aorta, persilangan esophagus dan bronkus utama sinistra, dan sfingter bawah. Benda
asing / korpus alienum merupakan salah satu dari kasus emergensi di bagian THT
dengan angka kejadian cukup tinggi, yakni sekitar 11% dari total kasus emergensi
di bagian THT.

Manifestasi klinis pada pasien dengan korpus alienum di esophagus cukup


beragam tergantung usia, lokasi korpus alienum dan pengaruhnya tersebut terhadap
jalan nafas. Korpus alienum yang mengakibatkan sumbatan jalan nafas total
merupakan kegawatan dalam bidang THT dan harus dilakukan intervensi segera.
Korpus alienum yang tidak menyumbat jalan nafas atau hanya menyumbat sebagian
biasanya memiliki gejala disfagia, odinofagia, disfonia, dan ada riwayat tersedak.
Pasien-pasien dengan gejala batuk, stridor, atau suara serak yang tidak diketahui
apa penyebabnya juga harus dipikirkan akan adanya korpus alienum di esophagus.

Penegakan diagnosis benda asing esophagus didapatkan dari anamnesis,


pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Melalui anamnesis dokter harus
menemukan gejala-gejala dari korpus alienum esophagus. Pada kasus korpus
alienum yang tidak dapat terlihat dengan mudah melalui pemeriksan fisik,
pemeriksaan penunjang sangat dibutuhkan. Pasien yang tidak dapat ditatalaksana
di layanan primer, segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas yang lebih
memadai. Indikasi merujuk pasien dengan korpus alienum esophagus menurut
American Academy of Phamily Physicians adalah; korpus alienum yang tidak
terlihat dengan jelas, korpus alienum yang membutuhkan anestesi untuk ekstraksi,
serta terdapat tanda gangguan jalan nafas.

41
Benda asing harus dikeluarkan dalam waktu 24 jam untuk mengurangi
risiko komplikasi baik itu berupa erosi maupun perforasi. Pada kasus benda asing
akibat benda tajam, seperti jarum, tulang, tusuk gigi, umumnya dapat menimbulkan
komplikasi sekitar 35%. Meskipun termasuk kegawatan dalam bagian THT,
prognosis korpus alienum tenggorok adalah bonam. Sebagian besar kasus dapat
dilakukan ekstraksi secara langsung tanpa bantuan anestesi.

42
DAFTAR PUSTAKA

1. Emergency Departement Factsheet. Eye Injury (Foreign Body). Victoria


Government Melbourne. Melbourne. 2010: 1.
2. Marasabessy SN, Mengko SK, Palandeng OI. Benda Asing Esofagus Di
Bagian/SMF THT-KL. Jurnal e-Clinic (eCl). 2015;3(1).
3. Siegel L.G. Penyakit Jalan Nafas Bagian Bawah. Dalam : Adam GL,Boies LR,
H Bahasa: Wijaya C. BOIES Fundamental of Otolaryngology. Jakarta: Penerbit
EGC; 1997. Hal 467-480.
4. Waugh.A,Grant.A.Ross and Wilson Anatomy & Physiology in Health and
Illness.9th edition.United Kingdom: Churchill Livingstone 2001;chap 12 .pg.304
5. Gandhi P, Sharma S, Gandhi P, Salve R. Epidemiological Profile of Foreign
Bodies seen at tertiary Hospital Emergency unit. International Journal of
Scientific Research.2014; Vol 3: 482-4.
6. Fox Human Physiology 8th. Edition. United States of America: The McGraw-
Hill Companies; 2003.
7. Soepardie EA, Iskandar N, Bashirudin J, Restuti RD, editor. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta: FK UI;2010.
8. Heim SW, Maughan KL. Foreign Bodies in the Ear, Nose, and Throat.
American Family Physician. 2007; 76(8): 1187-9.
9. Hadiwikarta A, Rusmarjono, Soepardi EA. Sumbatan Laring. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi VII. Badan
penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.2012: 221-31.
10. Beahrs, OH, dkk. Pharynx including base of tongue, soft palate and uvula. In:
American Joint Committee on Cancer.: AJCC Cancer Staging Manual. 6th ed.
New York, NY: Springer, 2002.
11. Tiago, RSL, dkk. Foreign body in ear, nose and oropharynx: experience from a
tertiary hospital. Revista Brasileira de Otorrinolaringologia Vol 72 (2). 2006.
12. Wai, PM, dkk. A prospective study of foreign-body ingestion in 311 children.
IntJ PediatrOtorhinolaryngol. Apr 6 Vol 58(1). 2001.

43
13. Sonkhya,N, dkk. Clinical report Retained, Incarcerated oropharyngeal foreign
bodies. Indian Journal of Otolaryngology and Head and Neck Surgery Vol. 58
(1). 2006.
13. Soepardi, EA, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala dan Leher. Edisi VII. Jakarta: Badan penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2012.
14. Feied C, Smith M, Handler J, Gillam M. Foreign Body in Throat. Common
Simple Emergencies: Longwood Information. Diakses dari
http://www.ncemi.org pada 28 Desember 2015.
15. Munir M, Hadiwikarta A, Hutauruk SM. Trauma Laring. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telingan Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi VI. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta 2012: 186-8.
16. Chiu HS, Chung CH. Management of Foreign Bodies in Throat : An Emergency
Department’s Perspective. Hongkong Journal of Emergency Medicine. 2002:
9(3).

44