Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan Laboratorium kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Laboratorium kesehatan sebagai unit pelayanan
penunjang medis, diharapkan dapat memberikan informasi yang teliti dan akurat tentang
aspek laboratories terhadap specimen/sampel yang pengujianya dilakukan di laboratorium.
Masyarakat menghendaki mutu hasil pengujian laboratoriumterus ditingkatkan seiring
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan penyakit. Ahli
teknologi laboratorium kesehatan yang terdiri dari para analis kesehatan dan praktisi
laboratorium lainya harus senantiasa mengembangkan diri dalam menjawab kebutuhan
masyarakat akan adanya jaminan mutu terhadap hasil pengujian laboratorium dan tuntunan
diberikan pelayanan yang prima.
Dalam era globalisasi, tuntutan standarisasi mutu pelayanan laboratorium tidak dapat
dielakan lagi. Peraturan perundang – undangan sudah mulai diarahkan kepada kesiapan
seluruh profesi kesehatan dalam menyongsong era pasarbebas tersebut. Ahli teknologi
laboratorium kesehatan indonesia harus mampu bersaing dengan ahli – ahli teknologi
laboratorium (Medycal Laboratory technologist) dari negara lain yang lebih maju.
Pelayanan yang tepat, cepat dan cermat hanya terwujud apabila laboratorium didukung
oleh sarana dan prasarana yang memadai dan berfungsi baik, serta didukung pula oleh
petugas yang professional, pengelolaan maupun pelaksanaan yang terdidik dan sadar akan
tanggung jawab yang dipikulnya. Pada umumnya bila rumah sakit makin berkembang
pelayanan spesialistik akan makin meningkat sehingga semakin besar kebutuhan kehadiran
spesialis – spesialis Patologi Klinik, Patologo Anatomi.
Pedoman pelayanan laboratorium dibuat sebagai penggerakan, pelaksanaan,
pengawasan dan pengendalian sarana dan tenaga dengan menyediakan tata cara kerja.
Melakukan koordinasi, pengawasan dan pengendalian kegiatan pengelolaan dan
pemeliharaan unit laboratorium dalam rangka pencapaian, efektifitas, efisiensi, mutu serta
pelayanan laboratorium yang prima sehingga mendukung upayapenigkatan mutu pelayanan
rumah sakit secara keseluruhan.

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 1


B. Tujuan
Tujuan dari disusunya pedoman pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti
ini adalah meberikan arah atau standar bagi seluruh petugas yang bekerja di Instalasi
Laboratorium dalam memberikan pelayanan pada pasien khususnya pelayanan laboratorium.
C. Ruang Lingkup
Laboratorium Klinik RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas merupakan
laboratorium yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan specimen klinik dengan
kemampuan pemeriksaan lebih lengkap dari laboratorium klinik umum dengan teknik
automatik.
Ruang lingkup pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi
Rawas meliputi :
1. Pasien Rawat Jalan
Yaitu pasien dari Instalasi Gawat Darurat dan Instalasi Rawat Jalan RSUD Muara
Beliti Kabupaten Musi Rawas yang memerlukan pemeriksaan laboratorium.
2. Pasien Rawat Inap
Yaitu pasien yang dirawat di ruangan perawatan RSUD Muara Beliti Kabupaten
Musi Rawas yang memerlukan pemeriksaan Laboratorium.
3. Pasien Medical Check – up
Yaitu pasien yang berasal dari instalasi rawat jalan yang melakukan medical check –
up untuk keperluan : penangangkatan pegawai negeri sipil, pemeriksaan kesehatan
pemeriksaan kesehatan calon anggota legislatif, pemeriksaan kesehatan calon
pegawai di Instansi lain maupun calon pelajar yang memerlukan pemeriksaan
laboratorium.

D. Batasan Operasional
Laboratorium klinik RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas merupakan
laboratoriun yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan specimen klinik di bidang
Hematologi, Kimia Klinik, Klinik Rutin, Imunologi dan Serologi serta Mikribiologi.
Batasan operasional untuk jenis pemeriksaan tersebut adlah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan Hematologi
Pemeriksaan Hematologi adalah : pemeriksaan yang mencakup beberapa
pemeriksaan antara lain hematologi lengkap, golongan darah, malaria, masa
perdarahan dan masa pembekuan, analisa gambaran darah tepi.
2. Pemeriksaan Urine Rutin
Pemeriksaan Urine adalah : pemeriksaan yang mencakup beberapa pemeriksaan yang
membutuhkan bahan urine antara lain : Urine Rutin

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 2


3. Pemeriksaan Imunologi dan Serologi
Pemeriksaan Imunologi dan Serologi adalah : pemeriksaan yang mencakup beberapa
pemeriksaan yang memerlukan serum sebagai bahan pemeriksaan, adapun bahan
pemeriksaanya antara lain: Widal Test,
4. Pemeriksaan Mikrobiologi
Pemeriksaan Mikrobiologi adalah : pemeriksaan yang mencakup beberapa
pemeriksaan antara lain : preparat BTA,

E. Landasan Hukum
1. Undang – Undang No 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan
2. Undang – Undang No 22 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 411/MENKES/PER/III/2010
Tentang Laboratorium Klinik
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 43 Tahun 2013 Tentang Cara
Penyelenggaraan Laboratorium Yang Baik
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 370/MENKES/SK/III/2007
Tentang Standar Profesi Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan.
6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 432/MENKES/SK/IV/2007
Tentang Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Rumah
Sakit
7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1087/MENKES/SK/VIII/2010 Tentang Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di
Rumah Sakit
8. Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1994 Tentang Pedoman Kerja Rumah Sakit
Umum di Daerah
9. Buku Pedoman Praktik Laboratorium Kesehatan Yang Benar (Good Laboratory
Practise)
10. Peraturan Pemerintah No.32 Tahun 1992 Tentang Tenaga Kesehatan

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 3


BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


TENAGA YANG
NO NAMA JABATAN KUALIFIKASI
TERSEDIA
1. Kepala Instalasi S1 Kedokteran 1 Orang
Laboratorium
2 Dokter Spesialis S2 Kedokteran (Dokter - Orang
Spesialis Patologi Klinik)
3. Kepala Ruangan SMAK/S1 Kesmas - Orang
4. Staff Analis SMAK - Orang
D III AnalisKesehatan 1 Orang
S1 Kesehatan Masyarakat - Orang
5. Pekarya SMP - Orang

B. Kebutuhan Tenaga Laboratorium Menggunakan Metode WISN Tahun 2014


Jumlah Kekurangan
Kebutuhan
NO Jenis Ketenagaan Yang Tenaga
Tenaga
Tersedia

1. Dr. Spesialis PK 0 1 1
2. S1 Kedokteran 1 1 0
3. D III Analis Kesehatan 1 7 6
4. SMAK,Perawat Kesehatan 0 4 4
5. Administrasi 0 1 1
6. Pekarya 0 1 1
Total 2 15 13

C. Distribusi ketenagaan
Pola pengaturan tenaga di instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi
Rawas diatur dalam 1 Shif jaga yaitu terdiri dari adanya shif dinas pagi dengan jam
pelayanan dimulai dari pukul 08.00 Wib s/d 14.00 Wib.
D. Pengaturan jaga

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 4


Pengaturan jadwal dinas pelaksana analis di instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti
Kabupaten Musi Rawas adalah sebagai berikut :
1. Pengaturan jadwal dinas pelaksana analis dibuat oleh Kepala Ruangan Laboratorium,
disetujui oleh Direktur Rumah Sakit.
2. Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu satu bulan dan direalisasikan ke analis
pelaksana laboratorium setiap satu bulan.
3. Untuk tenaga analis yang memiliki keperluan penting pada hari tertentu pada jam kerja,
maka analis tersebut dapat mengajukan izin dinas melalui Kepala Ruangan. Permintaan
akan disesuaikan jika tidak mengganggu pelayanan, maka permintaan dapat disetujui.
4. Jadwal dinas hanya terdapat pada dinas pagi, Apabila ada permintaan pemeriksaan diluar
jadwal hanya bisa untuk pemeriksaan Gula darah Strip, Kolesterol strip, Asam Urat strip
dan Hemoglobin strip, diluar dari pemeriksaan tersebut maka hanya dapat dilakukan
pada keesokan harinya.

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 5


BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang

Ket :
A : Ruang Tunggu
B : Ruang Sampling
C : Ruang Pemeriksaan
D : Ruang Administrasi
E : Kamar Petugas

B. Standar Fasilitas
1. Fasilitas dan Sarana
Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas berlokasi di instalasi
rawat jalan RSUD Muara Beliti dengan luas bangunan 12.25 m2,
2. Peralatan yang tersedia di Laboratorium RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas
mengacu kepada buku pedoman pelayanan laboratorium Departemen Kesehatan RI untuk
penunjang kegiatan pelayanan terhadap pasien laboratorium.
Alat-alat yang digunakan di Laboratorium RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas
antara lain :
a. Automatic Hematology Analyzer
b. Automatic Kimia Klinik Analyzer
c. Automatic Immunology Analyzer
d. Automatic Elektrolite Analyzer
e. Centrifuge
f. Kulkas
g. Rak dan tabung westergreen
h. Mikros

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 6


BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Persyaratan pelayanan
1. Persyaratan Umum :
a. Pasien sudah terdaftar di sistem rekam medis rumah sakit sesuai dengan jaminan
perawatan masing-masing.
b. Untuk pasien rawat jalan, pasien datang langsung ke Laboratorium dengan
membawa formulir permintaan pemeriksaan yang telah diisi lengkap dengan berkas
jaminan yang sesuai dengan yang dipakai.
c. Untuk pasien rawat inap, sampel pemeriksaan diambil oleh petugas / perawat
ruangan dan sampel diantar ke ruangan laboratorium.
2. Persyaratan khusus sesuai dengan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan, seperti puasa,
tidak minum obat-obatan, tidak pada saat haid untuk pemeriksaan urin lengkap.
Adapun tata laksana pelayanan laboratorium RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi
Rawas secara rinci dituangkan dalam bentuk alur pelayanan laboratorium dapat dilihat
dalam diagram berikut.

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 7


B. Alur Pelayanan Laboratorium
1. ALUR PELAYANAN PASIEN RAWAT JALAN

INSTALASI RAWAT JALAN

PASIEN UMUM PASIEN BPJS/ASKIN

LOKET PENDAFTARAN
PASIEN UMUM

LOKET PENDAFTARAN
BPJS/ASKIN

RUANG LABORATORIUM

RUANG PENGAMBILAN SAMPEL

RUANG PEMERIKSAAN SAMPEL

PENDATANGAN HASIL PEMERIKSAAN

Keterangan :
1. Pasien rawat jalan yang memerlukan pelayanan di Instalasi Laboratorium Klinik
membawa formulir permintaan pemeriksaan laboratorium (FPPL) dari dokter yang
memeriksa, dengan dilengkapi persyaratan lainnya. Bagi pasein BPJS, antara lain

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 8


fotocopy kartu BPJS, surat rujukan dari dokter BPJS yang ditunjuk oleh PT. BPJS,
sedang bagi pasien jaminan Perusahaan membawa surat pengantar dari Instansi yang
bersangkutan.
2. Pasien mendaftarkan FPPL tersbut di Loket Umum untuk pasien umum. Pasien BPJS
kemudia membayar ke loket BPJS.
3. Pasien umum langsung membayar biaya pemeriksaan di Kasir Rumah Sakit.
4. Pasien diambil bahan pemeriksaanya di ruang pengambilan sampel.
5. Setelah selesai pemeriksaan, pasien dapat mengambil hasilnya di Loket Pengambilan
Hasil Pasien Rawat Jalan.
6. Pasien kembali ke dokter rawat jalan dengan membawa hasil pemeriksaan.

2. ALUR PELAYANAN PASIEN RAWAT INAP

INSTALASI RAWAT INAP

PERMINTAAN PEMERIKSAAN FORMULIR

PENGAMBILAN SAMPEL / SPESIMEN

UNIT PEMERIKSAAN BAGI KEUANGAN


TERKAIT PASIEN RUMAH SAKIT

PENANDATANGANAN HASIL PEMERIKSAAN

PENANDATANGANAN HASIL PEMERIKSAAN

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 9


Keterangan
1. Pelayanan Laboratorium Pasien Rawat Inap dimulai dengan perawat/petugas ruangan
perawatan membawa formulir (FPPL) permintaan pemeriksaan yang ditandatangani oleh
dokter yang merawat di ruangan perawatan kemudian perawat mengambil sampel.
2. Perawat / petugas ruangan mengantar sampel ke loket pendaftaran laboratorium.
3. Petugas Loket Laboratorium mencatat di buku pendaftaran pasien rawat inap.
4. Formulir yang sampai di unit pemeriksa di catat dalam buku pemeriksaan sesuai dengan
jenis pemeriksaannya.
5. Setelah selesai pemeriksaan, hasil analisis dicatat dalam buku pemeriksaan sesuai dengan
nomor urut bahan pemeriksaan dan dalam formulir hasil pemeriksaan. Setelah data hasil
pemeriksaan dalam formulir hasil selanjutnya diserahkan kepada Dokter Patologi Klinik
/Asisten yang bertugas untuk dilakukan interpretasi hasil dan ditandatangani.
6. Formulir hasil yang lengkap dimasukkan di kotak hasil pemeriksaan. Hasil tersebut dapat
diambil oleh petugas ruangan dengan menandatangani buku penyerahan hasil. Hasil
tersebut kemudia ditempelkan di status pasien.

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 10


3. ALUR BAHAN PEMERIKSAAN

BAHAN PEMERIKSAAN

UNIT KERJA UNIT KERJA UNIT KERJA UNIT KERJA


MIKROBIOLOGI HEMATOLOGI KIMIA KLINIK IMUNOLOGI &
URINE/FAECES SEROLOGI

PROSES ANALISIS DI LABORATORIUM PEMERIKSA

INTERPRESTASI DAN
PENANDATANGANI HASIL

LOKET PENGAMBILAN HASIL


PASIEN RAWAT JALAN

PASIEN RAWAT JALAN

Keterangan :
1. Pengambilan bahan pemeriksaan dari pasien rawat jalan di ruang pengambilan sampel.
2. Bahan pemeriksaan yang terkumpul selanjutnya diperiksa di masing-masing unit Kerja.
3. Hasil analisis selanjutnya diinterpretasi dan ditandatangani oleh Dokter Spesialis Patologi
Klinik/Asisten.
4. Hasil yang telah diinterpretasi dan ditandatangani dikumpulkan di Loket Pengambilan
Hasil Pasien Rawat Jalan.

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 11


5. Hasil pemeriksaan diserahkan kepada pasien untuk dibawa ke dokter di Instalasi Rawat
Jalan.
C. Kriteria Pemeriksaan Laboratorium
Waktu tunggu hasil pemeriksaan laboratorium tergantung dari jenis dan jumlah
pemeriksaan yang dilakukan dan permintaaan pemeriksaan seperti permintaan cito dan
permintaan biasa. Adapun criteria pemeriksaan laboratorium berdasarkan permintaan, jenis
pemeriksaan dan waktu tunggu hasil laboratorium sebagai berikut :

Jenis
Jenis Pemeriksaan Waktu Tunggu Hasil
Permintaan
CITO 1. Darah Lengkap tanpa LED Tiga puluh menit
2. Gula Darah Sewaktu (30 menit)
3. Plano Test
4. Urine Lengkap
Bias cito Widal Satu jam (60 menit)

Biasa Urine Lengkap Seratus empat puluh


menit (140 menit)
Pemeriksaan BTA Kurang lebih 24 jam
Khusus (dibaca oleh dokter
spesialis patologi klinik)
Keterangan :
Hal tersebut berlaku jika semua alat laboratorium berada dalam kondisi baik, dan untuk
hitung jenis leukosit jika tidak ditemukan sel muda karena perlu dikonsultasi dengan
penanggung jawab laboratorium.

Prosedur Pemberian Nomor dan Pencatatan Hasil Laboratorium


1. Hematologi
a. Tabung EDTA yang sudah diisi darah pasien, diberi nama, tanggal lahir, ruangan, atau
nomor rekam medis (minimal 2 identitas) sesuai dengan pasien.
b. Tabung EDTA yang sudah diisi darah langsung dikerjakan di alat hematologi.
c. Hasil print out akan keluar
2. Kimia Klinik
a. Tabung kimia yang sudah diisi darah pasien diberi nama, umur, ruangan, atau nomor
rekam medis (minimal 2 identitas) sesuai dengan pasien.
b. Tabung kimia yang sudah diisi darah tadi kemudia diputar di centrifuge.

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 12


c. Setelah terbentuk serum maka sampel diperiksa dengan alat kimia klinik.
d. Hasil akan keluar setelah semua pemeriksaan selesai, jika ada hasil yang kritis maka
dilakukan pengulangan pemeriksaan.
3. Imunoserologi
a. Tabung tanpa antikogulan yang sudah diisi darah pasien, diberi nama, umur, ruangan,
atau nomor rekam medis (minimal 2 identitas) sesuai dengan pasien.
b. Tabung tanpa antikoagulan yang sudah diisi darah kemudian diputar.
c. Setelah menjadi serum sampel akan diperiksa untuk, widal secara manual.
d. Catat hasil pada blangko hasil.
4. Bakteriologi
a. Pot yang berisi sampel untuk pemeriksaan bakteriologi seperti dahak, diberi nama, umur,
ruangana atau no rekam medis sesuai dengan pasien.
b. Dilakukan pembuatan preparat BTA atau Sputum Gram
c. Preparat pasien dibaca pada mikroskop
d. Catat hasil di buku TB 04 untuk pemeriksaan BTA
e. Tulis hasil pada blangko hasil dan buku registrasi hasil.
5. Urine
a. Pot urine diberi nama, umur, ruangan atau nomor rekam medis (minimal 2 identitas)
sesuai dengan register pasien.
b. Dilakukan pembuatan preparat urine setelah dianalisa di stik urine combina.
c. Preparat urine pasien dibaca pada mikroskop
d. Tulis hasil pada blangko hasil dan buku registrasi hasil.

D. Pengelolaan Spesimen
Tata Laksana Pelayanan Teknik Pengambilan Dan Penanganan Spesimen
1. Persiapan Pasien :
a. Pemeriksaan gula darah puasa dan 2 jam post prandial
1. Sebelum pemeriksaan pasien harus berpuasa selama 8-10 jam. Pagi hari pasien
diambil darah untuk pemeriksaan glukosa puasa, kemudian pasien makan dan
minum seperti biasa, selesai makan pasien puasa lagi selama 2 jam.
2. Pasien diambil darah dan urine yang kedua untuk pemeriksaan glukosa 2 jam pp.
b. Pemeriksaan Profil Lipid
Pasien diharuskan puasa 10-12 jam
2. Persiapan Alat :
a. Tube Vacutainer.
b. Spuit, Lancet, Wing needle, Tourniquet.

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 13


c. Pot urine
d. Objek glass, cover glass.
3. Persiapan Bahan :
a. Kapas alcohol
b. Anti koagulant.
4. Teknik Pengambilan Spesimen :
a. Darah Vena
1. Catat nama pasien pada tabung
2. Gunakan sarung tangan sebelum pengambilan darah
3. Pasang tourniquet pada daerah yang akan diambil darahnya.
4. Desinfeksi bagian yang akan ditusuk dengan kapas alcohol.
5. Tusuk vena dengan jarum spuit atau vacutainer sampau terlihat darah keluar.
- Pemeriksaan Hematologi lengkap : Darah EDTA 3 ml
- Pemeriksaan Kimia klinik : Darah beku 3 ml
- Pemeriksaan Immunologi : Darah beku 3 ml
- Pemeriksaan Hematologi + Kimia Klinik + Immuno Serologi : Darah EDTA
+ beku 10 ml
6. Tourniquet dilepaskan.
7. Cabut jarum dengan menempelkan kapas kering diatasnya.
8. Rekatkan plester betadine.

b. Darah Kapiler
1. Lokasi pengambilan 2/3 ujung jari pada orang dewasa, daun telinga pada anak,
tumit kaki pada bayi.
2. Desinfeksi bagian yang akan ditusuk dengan kapas alcohol.
3. Tusuk dengan lancet secepat mungkin.
4. Buang tetes darah pertama dengan kapas kering, tetes darah selanjutnya diambil.
5. Rekatkan lokasi tusukan dengan plester betadine.

c. Darah Arteri
1. Lokasi pengambilan arteri radialis, arteri brachialis, arteri femoralis.
2. Gunakan spuit 1 cc atau 3 cc ambil heparin secara aseptis dan basahi bagian
dalam spuit.
3. Desinfeksi bagian yang kan ditusuk dengan kapas alcohol.
4. Tusuk arteri dengan posisi jarum tegak lurus atau pada sudut 90 derajat.

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 14


5. Tarik jarum dari pembuluh darah setelah didapat darah yang dibutuhkan
kemudian ujung jarum ditusuk ke gabus atau karet.
6. Rekatkan plester betadine.
7. Bolak-balik spuit agar darah tercampur homogency.

d. Urine
1. Urine Sewaktu : untuk urine lengkap, tes kehamilan.
a. Urine yang dikeluarkan pada saat akan diperiksa (sewaktu-waktu)
b. Urine ditampung dalam pot urine bersih dan tertutup
c. Beri label identitas pasien.
2. Urine pagi : Untuk urine lengkap
a. Urine yang pertama dikeluarkan pada pagi hari setelah bangun tidur.
b. Urine ditampung ke dalam pot urine bersih dan tertutup
c. Beri label identitas pasien.
e. Faeces
1. Ambil sedikit faeces ke dalam wadah bersih dan tertutup, jangan bercampur
dengan urine.
2. Ambil bagian yang ada darah dan lendirnya.

f. Sputum
1. Ambil sputum pada saat pertama kali pasien bangun tidur pada pagi hari.
2. Tampung pada wadah bersih, kering dan bermulut besar dan tertutup.
Pengelolaan Spesimen
Perlakuan pada Bentuk yang
Jenis Spesimen
spesimen dianalisis
Darah tidak boleh beku
Darah EDTA Homogenisasi

Serum
Darah beku Centrifuge 3000 rpm, 5 menit

Darah Citrat Centrifuge 1000 rpm Plasma


Darah tanpa anti
koagulan (masa Segera dianalisa Darah segar
pembekuan)
Endapan urine
Urine (urinalisa) Centrifuge 2000 rpm, 5 menit

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 15


Urine segar
Urine (tes kehamilan) Segera dianalisa

Tata Laksana Pelayanan Penyimpanan Spesimen


Simpan semua spesimen sesuai dengan nomor urut, tanggal, dan hari serta bulan penyimpanan.

Serum
Disimpan di freezer selama 10 hari pada suhu – 20oC, setelah disimpan selama 1 bulan, sisa
serum dibuang.
Sisa sample darah EDTA disimpan selama 24 jam pada suhu 8oC, setelah itu dibuang.

Darah Beku
Sisa sampel darah beku disimpan selama 24 jam pada suhu ruangan (15-30 oC)

Urine
Sisa sampel urine disimpan pada suhu kamar (15-30 oC), sampai dengan pergantian shift kerja,
setelah itu dibuang.

E. Pemeriksaan Laboratorium
Janji Hasil
Pemeriksaan Bahan Hari Kerja (Dalam
Menit)
Hematologi :
1. Darah rutin Darah EDTA 2 ml Setiap hari ≤ 60 menit
2. Darah lengkap Darah EDTA 2 ml Setiap hari ≤ 60 menit
3. Golongan darah/Rh Darah EDTA 2 ml Setiap hari ≤ 60 menit
4. Hemoglobin Darah EDTA 2 ml Setiap hari ≤ 60 menit
5. Hematocrit Darah EDTA 2 ml Setiap hari ≤ 60 menit
6. Hitung leukosit Darah EDTA 2 ml Setiap hari ≤ 60 menit
7. Hitung trombosit Darah EDTA 2 ml Setiap hari ≤ 60 menit
8. Hitung eosinophil Darah EDTA 2 ml Setiap hari ≤ 60 menit
9. Hitung eritrosit Darah EDTA 2 ml Setiap hari ≤ 60 menit
10. MCV, MCH, MCHC Darah EDTA 2 ml Setiap hari ≤ 60 menit
11. Hitung jenis leukosit Darah EDTA 2 ml Setiap hari ≤ 60 menit
12. LED Darah EDTA 2 ml Setiap hari ≤ 60 menit
13. Gambaran darah tepi Darah EDTA 2 ml Setiap hari 1 x 24 jam

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 16


14. Malaria Darah EDTA 2 ml Setiap hari 1 x 24 jam
Hemostasis :
1. Waktu pendarahan Darah kapiler Setiap hari ≤ 60 menit
2. Waktu pembekuan Darah vena Setiap hari ≤ 60 menit
Urinalisis :
1. urin rutin Urine segar ± 10 ml Setiap hari ≤ 60 menit
2. tes kehamilan Urine segar ± 10 ml Setiap hari ≤ 60 menit
3. glukosa urine Urine segar ± 10 ml Setiap hari ≤ 60 menit
Karbohidrat :
1. Glukosa puasa Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
2. Glukosa 2 jam pp Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
3. Glukosa sewaktu Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
4. HbA1c Serum 0.5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
Fungsi Ginjal :
1. Ureum Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
2. Kreatinin Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
3. Asam urat Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
Bakteriologi :
1. Sediaan langsung gram Sputum, cairan Setiap hari 1 x 24 jam
2. Sputum BTA langsung tubuh Setiap hari 3 x 24 jam
Sputum, cairan
tubuh
Fungsi Hati :
1. Protein total Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
2. Albumin Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
3. Globulin Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
4. Bilirubin total Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
5. Bilirubin direk Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
6. Bilirubin indirek Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
7. SGOT Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
8. SGPT Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
Elektrolit :
1. Natrium Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
2. Kalium Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
3. Chlorida Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 17


Serologi :
1. VDRL Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
2. TPHA Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
3. WIDAL Serum 0,5 ml Setiap hari ≤ 140 menit
4.

F. Penetapan Nilai Rujukan / Normal


Nilai rujukan atau nilai norma hasil pemeriksaan laboratorium ditetapkan berdasarkan
metode pemeriksaan yang digunakan.
Prosedur Penetapan Nilai Rujukan / Normal
Pengertian : nilai rujukan adalah nilai yang digunkan sebagai acuan nilai normal dari
pemeriksaan
Tujuan : untuk mengetahui apakah hasil pemeriksaan berada dalam
batas normal
Kebijakan : setiap hasil pemeriksaan harus mencantumkan nilai rujukan.
Prosedur :
1. Nilai rujukan ditetapkan sesuai dengan metode pemeriksaan yang digunakan.
2. Nilai rujukan dicantumkan pada blanko hasil pemeriksaan
3. Nilai rujukan ditulis berdasarkan rentang nilai terendah dan nilai tertinggi yang masih
dapat ditoleransi pada setiap hasil pemeriksaan.
Unit terkait : IRI, IRJ, IGD, ICU, IBS

Daftar Nilai Rujukan


PEMERIKSAAN NILAI RUJUKAN
Abstinensia 2 – 7 hari
Albumin >60 tahun 3,4 – 4,8 g/dL
Albumin 0 - 4 hari 2,8 – 4,4 g/dL
Albumin 15 tahun – 18 tahun 3,2 – 4,5 g/dL
Albumin 5 hari – 14 tahun 3,8 – 5,4 g/dL
Albumin Dewasa 3,5 – 5,0 g/dL
Amfetamin Negatif
AMP Negatif
Anti DHF IgG / IgM Rapid Negatif
Anti HBs Rapid ( HbsAb ) Non Reaktif
Anti HCV Non Reaktif

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 18


Anti HIV 1 & 2 Rapid Non Reaktif
Apus Darah Malaria Negatif
Asam urat Dewasa Laki-laki 3,5 – 7,0 mg/dL
Asam Urat Dewasa Perempuan 2,6 – 6,0 mg/dL
Ascaris lumbricuides Negatif
ASTO Kualitatif Negatif
Bakteri batang Gram (-), bengkok
Bakteri batang Gram (+), besar
Bakteri Feaces Negatif
Bakteri Urine Negatif
Batang (3 - 5)%
Bau feces Khas
Benzodiazepin Negatif
Bilirubin direk < 1 bulan <0,6 mg/dL
Bilirubin direk >1 bulan - Dewasa 0,1 – 0,3 mg/dL
Bilirubin indirek 0,2 – 0,8 mg/dl
Bilirubin total > 5 hari dan Dewasa <1,0 mg/dL
Bilirubin total Bayi aterm (>37 minggu) : <1 hari <6,0 mg/dL
Bilirubin total Bayi aterm (>37 minggu) : <2 hari <10 mg/dL
Bilirubin total Bayi aterm (>37 minggu) : 3 - 5 hari <12 mg/dL
Bilirubin total Prematur : 2 hr < 12 mg/dL
Bilirubin total Prematur : 3 - 5 hr < 15 mg/dL
Bilirubin total Prematur : 1 hr < 8 mg/dL
Bleeding Time (BT), Waktu Pendarahan 1 – 3 menit
BSE (LED) VES-MATIC EASY Jam ke-1: Laki-laki 1 – 10 mm/jam
BSE (LED) VES-MATIC EASY Jam ke-1: Perempuan 1 – 15 mm/jam
BTA-ZN I BTA negatif
BTA-ZN II BTA negatif
BTA-ZN III BTA negatif
Cacing Tambang Negatif
Clotting Time (CT), Waktu Pembekuan 6 – 15 menit
Cocaine Negatif
Dengue Ig G Negatif
Dengue Ig M Negatif
Diplococcus Gram (-) ekstraseluler

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 19


Diplococcus Gram (-) intraseluler
Entamoeba colli btk kista Negatif
Entamoeba colli btk vegetatif Negatif
Entamoeba histolytica btk histolytica Negatif
Entamoeba histolytica btk kista Negatif
Entamoeba histolytica btk minuta Negatif
Epitel
Eritrosit 1 hari 4,3 – 6,3 juta/µL
Eritrosit 14 – 23 hari 3,7 – 6,1 juta//µL
Eritrosit 2 bulan – 2,5 bulan 2,8 – 4,8 juta/µL
Eritrosit 2 hari – 6 hari 4,0 – 6,8 juta/µL
Eritrosit 2 tahun – 6 tahun 3,9 – 5,3 juta/µL
Eritrosit 24 hari – 37 hari 3,2 – 5,6 juta/µL
Eritrosit 3 bulan – 6 bulan 3,1 – 4,5 juta/µL
Eritrosit 40 hari – 50 hari 3,1 – 5,1 juta/µL
Eritrosit 6 bulan – 2 tahun 4,0 – 5,2 juta/µL
Eritrosit 6 tahun – 12 tahun 4,0 – 5,2 juta/µL
Eritrosit feces Negatif
Eritrosit Lahir - < 1 bln 3,0 – 5,4 juta/mm3
Eritrosit Laki-laki >12 tahun 4,5 - 5,9 Jt/mm3
Eritrosit Perempuan >12 tahun 4,0 - 5,5 Jt/mm3
Faeces Rutin
Fibrinogen 180 – 350 mg/dL
Filaria Negatif
Giardia lamblia btk kista Negatif
Giardia lamblia btk vegetatif Negatif
Globulin 2,3 – 3,5 g/dL
Glukosa 2 Jam PP Serum < 120 mg/dL
Glukosa Puasa Serum Dewasa 70 – 115 mg/dL
Glukosa Sewaktu Anak 60 – 100 mg/dL
Glukosa Sewaktu Darah Kapiler Dewasa 65 – 100 mg/dL
Glukosa Sewaktu Neonatus >1 Hari 50 – 80 mg/dL
Glukosa Sewaktu Neonatus 1 Hari 40 – 60 mg/dL
Glukosa Sewaktu Serum Dewasa 74 – 106 mg/dl
HbA1C 4,8 – 5,9 %

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 20


HBsAg Rapid Non Reaktif
HDL > 60 mg/dL
Hematokrit 1 hari 44 – 72%
Hematokrit 14 – 23 hari 42 – 62%
Hematokrit 2 – 2,5 bulan 30 – 46%
Hematokrit 2 – 6 hari 50 – 82%
Hematokrit 2 – 6 tahun 34 – 40%
Hematokrit 24 – 37 hari 31 – 59%
Hematokrit 3 – 6 bulan 29 – 41%
Hematokrit 40–50 hari 30 – 54%
Hematokrit 6 – 12 tahun 35 – 45%
Hematokrit 6 bulan – 2 tahun 33 – 39%
Hematokrit Laki-laki >12 tahun 40 - 52%
Hematokrit Perempuan >12 tahun 35 – 47%
Hemoglobin 1 hari 15,2 – 23,6 g/dL
Hemoglobin 14 hari – 23 hari 12,7 – 18,7 g/dL
Hemoglobin 2 bulan – 2,5 bulan 9,2 – 13,6 g/dL
Hemoglobin 2 hari – 6 hari 15,0 – 24,6 g/dL
Hemoglobin 2 tahun – 6 tahun 11,5 – 13,5 g/dL
Hemoglobin 24 hari – 37 hari 10,3 -17,9 g/dL
Hemoglobin 3 bulan – 6 bulan 9,5 – 13,5 g/dL
Hemoglobin 40 hari – 50 hari 9,0 – 16,6 g/dL
Hemoglobin 6 bulan – 2 tahun 10,5 – 13,5 g/dL
Hemoglobin 6 tahun – 12 tahun 11,5 – 15,5 g/dL
Hemoglobin Laki-laki >12 tahun 13,0 – 18,0 g/dL
Hemoglobin Perempuan >12 tahun 12,3 – 15,3 g/dL
Hitung Jenis Lekosit
Hitung Jenis Lekosit Basofil 0-1%
Hitung Jenis Lekosit Batang 3–5%
Hitung Jenis Lekosit Eosinofil 2–4%
Hitung Jenis Lekosit Limfosit 30 – 45 %
Hitung Jenis Lekosit Metamiolosit 0–1%
Hitung Jenis Lekosit Monosit 2 – 10 %
Hitung Jenis Lekosit Segmen 40 - 70 %
Identifikasi cacing feces Negatif

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 21


Jamur Urine Negatif
Jamur/spora/yeast
Jumlah Total Sperma ≥39 juta/ejakulat
Kalium 3,5 – 5,5 mEq/L
Klorida 95 – 108 meq/L
KOH Jamur Negatif
Kokain Negatif
Kolesterol Total <200 mg/dL
Kreatinin Anak 1 - 2 tahun <0,41 mg/dL
Kreatinin Anak 11 - 12 tahun <0,79 mg/dL
Kreatinin Anak 13 - 14 tahun <0,87 mg/dL
Kreatinin Anak 2 - 12 bulan <0,42 mg/dL
Kreatinin Anak 3 - 4 tahun <0,47 mg/dL
Kreatinin Anak 5 - 6 tahun <0,59 mg/dL
Kreatinin Anak 7 - 8 tahun <0,60 mg/dL
Kreatinin Anak 9 - 10 tahun <0,73 mg/dL
Kreatinin Dewasa Laki - laki 0,7 – 1,20 mg/dL
Kreatinin Dewasa Perempuan 0,5 – 0,90 mg/dL
Kreatinin Neonatus Aterm <0,85 mg/dL
Kreatinin Neonatus Prematur <1,04 mg/dL
LDL Cholesterol < 130 mg/dL
Lekosit feces 0 – 2/Lpb
Lendir feces Negatif
Leukosit
Leukosit 1 Bulan 5.000–19.500/µL
Leukosit 1 Minggu 5.000–21.000/µL
Leukosit 2 Bulan 5.500 –18.000/µL
Leukosit 2 Minggu 5.000–20.000/µL
Leukosit 2 Tahun 6.000–17.000/µL
Leukosit 24 Jam 9.400–34.000/µL
Leukosit 4 Bulan – 12 Bulan 6.000–17.500/µL
Leukosit 4 Tahun 5.500–15.500/µL
Leukosit Baru lahir 9.000–30.000/µL
Leukosit 12 Jam 13.000–38.000/µL
Leukosit 13 Tahun – 16 Tahun 4.500–13.000/µL

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 22


Leukosit 18 Tahun 4.500–12.500/µL
Leukosit 6 Tahun 5.000–14.500/µL
Leukosit 8 Tahun - 12 Tahun 4.500–13.500/µL
Leukosit Dewasa > 18 tahun 4.400-11.300/µL
LPB Negatif
Makrofag feces Negatif
Malaria Negatif
MCH 1 bln – 6 bln 25 – 35 pg
MCH 6 bln – < 6 thn 25 – 35 pg
MCH 6 thn – < 12 thn 25 – 33 pg
MCH Dewasa 26 – 34 pg
MCH Lahir – < 1 bln 28 – 40 pg
MCHC 1 bln – 6 bln 30 – 36 g/L
MCHC 6 bln – < 6 thn 30 – 36 g/L
MCHC 6 thn – < 12 thn 31 – 37 g/L
MCHC Dewasa 32 – 36 g/L
MCHC Lahir – < 1 bln 29 – 37 g/L
MCV 1 bln – 6 bln 74 – 108 fl
MCV 6 bln – < 6 thn 75 – 87 fl
MCV 6 thn – < 12 thn 77 – 95 fl
MCV Dewasa 80 – 100 fl
MCV Lahir – < 1 bln 85 – 123 fl
Mielosit 0%
Mikrofilaria Negatif
Morfin Negatif
Morfo sperma normal ≥4%
Natrium 135 – 148 mEq/L
NS1 Antigen Negatif
Protein Total (Ambulatory) 6,4 – 8,3 g/dL
Protein Total (Recumbent) 6,0 – 7,8 g/dL
Retikulosit % >4 hari 0,5 – 1,5 %
Retikulosit % 0 - 2 hari 3,0 – 7,0 %
Retikulosit % 3 - 4 hari 1,0 – 3,0 %
Retikulosit % Dewasa 0,5 – 1,5 %
Retikulosit Absolut >4 hari 20.000 – 80.000/µL

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 23


Retikulosit Absolut 0 - 2 hari 140.000 – 220.000/µL
Retikulosit Absolut 3 - 4 hari 40.000 – 110.000/µL
Retikulosit Absolut Dewasa 25.000 - 75.000/µL
RF Kualitatif Negatif
Salmonella Paratyphi - H/A <1/80
Salmonella Paratyphi - O/A <1/80
Salmonella Typhi - H <1/80
Salmonella Typhi - O <1/80
Sedimen - Kristal Amorp Negatif
Sedimen - Lekosit 3 - 5 /Lpb
Sedimen - Silinder Negatif
Sedimen - Tubular sel epitel Negatif
Sedimen Eritosit Urine 0 - 1/Lpb
Sedimen- Eritrosit 0 – 1/Lpb
Sedimen- Kristal Negatif
Sedimen- Kristal amorp phosphat Negatif
Sedimen- Kristal amorp urat Negatif
Sedimen- Kristal Cystin Negatif
Sedimen- Kristal Oksalat Negatif
Sedimen- Sel Epitel 1 – 4/Lpb
Sedimen Trichomonas Vaginalis Negatif
Sekret Vagina Negatif
Sel Bulat (Lekosit, sel germ) cairan sperma <1 juta/ml
Sel Lain 0%
SGOT > 17 tahun Laki-laki <37 U/I
SGOT > 17 tahun Perempuan < 31 U/L
SGOT 1 - 3 tahun <48 U/I
SGOT 1 hari <109 U/I
SGOT 13 - 17 tahun Laki-laki <29 U/I
SGOT 13 - 17 tahun Perempuan <25 U/I
SGOT 2-5 hari <97 U/I
SGOT 4 - 6 tahun <36 U/I
SGOT 6 hari - 6 bulan <77 U/I
SGOT 7 - 12 tahun <47 U/I
SGPT Laki - laki < 45 U/L

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 24


SGPT Perempuan < 34 U/L
Sperma hidup (%) ≥58%
Telur Ascaris lumbricuides Negatif
Telur cacing lainnya Negatif
Telur Cacing Tambang Negatif
Telur Trichiuris trichiura Negatif
Tes Kehamilan Negatif
Tes Narkoba (6 parameter) Negatif
THC Negatif
TPHA Negatif
Trichiuris trichiura Negatif
Trichomonas Vaginalis Negatif
Trigliserida 26 – 149 mg/dL
Trombosit 150.000 – 450.000/µL
ur - Bilirubin Negatif
ur – BJ 1,001 – 1,035
ur - Darah Negatif
ur - Glukosa / Reduksi Negatif
ur - Keton Negatif
ur - Nitrit Negatif
ur – pH 5 –9
ur - Protein Negatif
ur - Urobilinogen Normal
ur - Warna Kuning muda jernih
Ureum Anak 1 - 3 tahun 11 – 36 mg/dL
Ureum <6 bulan < 42 mg/dL
Ureum >6 bulan < 48 mg/dL
Ureum Anak 14 - 19 tahun 18 – 45 mg/dL
Ureum Anak 4 - 13 tahun 15 – 36 mg/dL
Ureum Dewasa <50 tahun Laki-laki 19 – 44 mg/dL
Ureum Dewasa <50 tahun Perempuan 15 – 40 mg/dL
Ureum Dewasa >50 tahun Laki-laki 18 – 55 mg/dL
Ureum Dewasa >50 tahun Perempuan 21 – 43 mg/dL
VDRL Negatif
Volume Sperma 1,5 – 5,0 ml/ejakulat

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 25


Waktu Pembekuan / CT 6 - 15 menit

G. Penanganan Nilai Kritis ( Critical Value )


Penetapan dan penanganan nilai kritis hasil pemeriksaan laboratorium di RSUD Muara
Beliti Kabupaten Musi Rawas, berdasarkan kesepakatan dari seluruh SMF yang ada
dilingkungan RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas.
Prosedur Penyampaian Hasil Kritis
Pengertian : Nilai kritis adalah hasil pemeriksaan laboratorium yang lebih tinggi atau lebih
rendah dari nilai normal yang dapat memberi indikasi resiko tinggi atau
mengancam kehidupan pasien.

Tujuan : Pelaporan dari hasil pemeriksaan laboratorium yang kritis adalah bagian dari
pokok persoalan keselamatan pasien.
Kebijakan : Keputusan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah RSUD Muara Beliti Kabupaten
Musi Rawas Nomor : ………………… tentang Kebijakan
Pelayanan Laboratorium RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas.
Prosedur :
1. Saat ditemukan hasil pemeriksaan laboratorium di luar ambang batas nilai
kritis, segera konfirmasi riwayat hasil pemeriksaan laboratorium
sebelumnya
2. Jika tidak ada lakukan pemeriksaan ulang
3. Lakukan pemeriksaan/ konfirmasi proses preanalitik
4. Jika proses preanalitik tidak ada masalah selanjutnya konfirmasi kepada
perawat/dokter tentang keadaan/diagnosis pasien.
5. Segera laporkan hasil pemeriksaan dengan nilai kritis kepada dokter
spesialis patologi klinik
6. Bila hasil pemeriksaan tidak disetujui dokter spesialis patologi klinik
segera informasikan kepada perawat/dokter untuk dilakukan pengambilan
spesimen ulang sesuai instruksi dokter spesialis patologi klinik
7. Bila hasil pemeriksaan telah disetujui dokter patologi klinik segera
informasikan hasil kepada perawat/dokter ( sesuai standar prosedur
oprasional komunikasi efektif)
8. Perawat / dokter yang menerima informasi, segera mencatat didalam
rekam medis pasien.
9. Dokumentasikan laporan hasil kritis pada buku pelaporan hasil kritis

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 26


10. Hasil pemeriksaan dimasukkan pada sistem dan dicetak selanjutnya
divalidasi
11. Waktu pelaporan hasil nilai kritis kurang dari 30 menit, dihitung dari hasil
pengulangan keluar dari alat sampai dilaporkan ke perawat/dokter (jika
tidak dilakukan pengambilan sampel ulang)
Unit Terkait : 1. Unit Gawat Darurat
2. Unit Rawat Jalan
3. Unit Rawat Inap
4. Intensive Care Unit
5. Dokter Pengirim

Daftar Nilai Kritis Yang Harus Dilaporkan Ke Klinisi/Ruangan


PEMERIKSAAN NILAI KRITIS
HEMATOLOGI
Hemoglobin 1 hari – 23 hari <10 atau >22 mg/dL
Hemoglobin 24 hari – dewasa <7 atau >20 mg/dL
Leukosit 0 sampai 12 tahun <2.000 atau > 43.000/µL
Leukosit 13 sampai dewasa <2.000 atau > 30.000/µL
Trombosit <50.000 atau >1.000.000//µL

KIMIA
Albumin <1,7 dan >6,8 g/dL
Asam urat Dewasa >13 mg/dL
Bilirubin total >15 mg/dL
GDS, GDP dan GD2PP Dewasa <50 atau >500 mg/dL
GDS Anak <46 atau >445 mg/dL
GDS Neonatus <30 atau >325 mg/dL
Kreatinin 0 Sampai 14 Tahun >3,8 mg/dL
Kreatinin Dewasa >5 mg/dL
SGOT > 1000 U/l
Ureum >214 mg/dL

Elektrolit
Kalium <2.8 or >6.0 mEq/L
Kalsium Total <6,5 atau >13 mg/dL

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 27


Klorida <80 atau >120 mEq/L
Magnesium < 1 mg/dL atau >5 mg/dL
Natrium <120 atau >160 mEq/L

Urine
Glukosa / Reduksi >positif (+) 2
Keton Positif pada ibu hamil atau >positif
(+) 2
Cast eritrosit (+)
Eritrosit dismorfik>50%

H. Pengelolaan Limbah
1. Pemisahan Limbah
a. Limbah dipisahkan dalam kantong merah untuk sampah infeksius dan container
dengan kantong sampah hitam untuk sampah non infeksius.
b. Limbah benda tajam/ spuit bekas dimasukkan ke dalam wadah khusus benda tajam
yang tahan tusukan seperti jerigen bekas atau kardus yang telah disediakan.
c. Labeli tempat limbah.
d. Pergunakan alat pelindung setiap menangani limbah.
2. Pengumpulan dan Pengangkatan Limbah
a. Periksa kantong limbah jerigen, jika sudah mencapai ¾ jerigen ganti dengan kantong
limbah/ jerigen yang penuh tadi agar limbah tidak tumpah atau bereceran.
b. Jerigen yang ¾ penuh tadi diambil oleh petugas cleaning service di bawa ke tempat
pengolahan limbah.
c. Limbah benda tajam / spuit dikumpulkan pada wadah yang tahan tusuk, kemudian
diambil oleh petugas cleaning servis, dibawa ke tempat pengolahan limbah.
Warna Kantong Jenis Limbah
Hitam Limbah rumah tangga biasa, tidak digunakan untuk
menyimpan atau mengangkut limbah klinis
Merah Limbah bahan berbahaya dan beracun
Kuning Sampah infeksius
Ungu Limbah farmasi dan sitotoksis

I. Laporan Hasil dan Arsip


Tata Laksana pelaporan Hasil :
1. Penulisan hail di blangko hasil laboratorium :
Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 28
Tulis nama, umur, jenis kelamin, nomor registrasi, sal/poli, hasil pemeriksaan, dan tanda
tangan pemeriksa dan penanggung jawab laboratorium.
2. Hasil juga ditulis di buku registrasi hasil laboratorium.
3. Untuk beberapa hasil seperti narkoba dan gambaran darah rutin hasil dicopy sebagai
arsip dan disimpan.

Tata Laksana Pengarsipan


Berkas yang diarsipkan :
1. Formulir permintaan pemeriksaan laboratorium
a. Setiap hari formulir permintaan pemeriksaan laboratorium dan kwitansi pembayaran
dikumpulkan.
b. Formulir dipisahkan berdasarkan jenis jaminan yang digunakan dan setiap akhir
bulan formulir dikumpulkan dan dibundel kemudian diberi tanggal bulan dan tahun
c. Berkas yang telah melewati masa simpan akan dimusnakan.
2. Kwitansi pembayaran
3. Kertas kerja yang terdiri dari :
a. Kertas kerja hematologi
b. Kertas kerja kimia klinik
c. Kertas urine / faeces
d. Kertas kerja bakteriologi
e. Kertas kerja serologi / imunologi
4. Buku kerja QC yang terdiri dari :
a. Buku kerja QC Hematologi
b. Buku kerja QC Kimia Klinik
c. Buku kerja QC Elektrolite
5. Buku arsip hasil laboratorium
a. Buku arsip hasil laboratorium adalah laporan laboratorium, buku registrasi umum
rawat inap, rawat jalan, dan medical check up.
b. Tulis pada buku periode pencatatan hasil pemeriksaan
c. Pisahkan dari masing – masing jenis buku, kumpulkan sesuai urutan bulan dan
tahun.
d. Berkas yang telah melewati masa simpan, dimusnahkan.
6. Laporan bulanan, triwulan dan tahunan
a. Laporan bulanan, triwulan dan tahunan dikumpulkan sesuai dengan bulan, triwulan
dan tahun secara berurutan
b. Simpan dalam box file

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 29


c. Laporan bulanan dan tahunan disimpan
d. Berkas yang telah melewati masa simpan dimusnahkan
7. Print out hasil dari alat
a. Rekatkan print out hasil laboratorium di masing-masing blangko permintaan
b. Print out disimpan bersama blangko permintaan sebagai arsip

J. Pemeliharaan dan Kalibrasi Alat


Tata Laksana Pemeliharaan Alat-alat Laboratorium
1. Lemari es (refrigerator) dan freezer
a. Menggunakan lemari es dan freezer khusus untuk laboratorium.
b. Tempatkan lemari es sedemikian rupa, sehingga bagian belakang lemari es masih
longgar untuk aliran udara dan fasilitas kebersihan kondesor.
c. Pintu lemari es harus tertutup dengan baik untuk mencegah keluarnya udara dingin
dari bagian pendingin
d. Membersihkan dan sefrost setiap 2 bulan dan setelah terjadi pemadaman listrik
e. Pemantauan dilakukan, pencatatan suhu setiap hari pada permulaan kerja (2-8 oC)
f. Freezer dilakukan hal yang sama, sesuai suhu yang digunakan ( -15 sampai -20 oC)
g. Lemari es dan freezer harus selalu dalam keadaan hidup
h. Untuk perawatan setiap 6 bulan sekali

2. Centrifuge
a. Letakkan centrifuge pada tempat yang datar
b. Gunakan tabung dengan ukuran dan tipe yang sesuai tiap centrifuge. Beban harus
dibuat seimbang sebelum centrifuge dijalankan kecuali pada centrifuge hematocrit
karena tabung kapiler sangat kecil.
c. Pastikan bahwa penutup telah tertutup dengan baik dan kencang sebelum centrifuge
dijalankan.
d. Bersihkan dinding bagian dalam dengan larutan anti septic setiap minggu atau bila
terjadi tumpahan atau tabung pecah
e. Pada pengguna centrifuge mikro hematocrit, tabung kapiler harus ditutup pada salah
satu ujungnya untuk menghindari keluarnya darah
f. Periksa bantalan pada wadah tabung, bila bantalan tidak ada maka tabung mudah
pecah waktu di centrifuge karena adanya gaya centrifuge yang kuat menekan tabung
kaca ke dasar wadah, bantalan harus sesuai dengan ukuran dan bentuk tabung
g. Putar tombol kecepatan pelan-pelan sesuai kecepatan yang diperlukan
h. Hentikan segera bila beban tidak seimbang atau terdengar suara aneh

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 30


i. Jangan mengoperasikan centrifuge dengan tutup terbuka
j. Jangan menggunakan centrifuge dengan kecepatan yang lebih tinggi dari keperluan
k. Jangan membuka tuutp centrifuge sebelum centrifuge benar-benar berhenti
l. Perawatan setiap tahun

3. Mikroskop
a. Mikroskop diletakkan ditempat yang datar
b. Biasakan memeriksa dengan menggunakan lensa objektif 10x dulu, bila saranan
jelas, perbesar dengan objektif 40x, dan bila perlu dengan 100x. untuk pembesaran
100x gunakan dengan minyak imersi
c. Bersihkan lensa dengan kertas lensa yang dibasahi dengan xylol setiap hari setelah
selesai bekerja, terutama bila terkena minyak imersi
d. Jangan membersihkan / merendam lensa dengan alcohol atau sejenisnya karena akan
melarutkan perekatnya sehingga lensa dapat lepas dari rumahnya.
e. Jangan membiarkan mikroskop tanpa lensa okuler atau objektif, karena kotoran akan
mudah masuk
f. Saat mikroskop disimpan, lensa objektif 10x atau 100x tidak boleh berada pada satu
garis dengan kondensor, karena dapat mengakibatkan lensa pecah bila ulir
makrometer dan mikrometernya rusak
g. Membersihkan dan melumasi penyangga setiap minggu
h. Mikroskop di simpan di tempat yang kelembapannya rendah, jangan menyentuh
lensa dengan jari
i. Periksa kelurusan sumbu kondensor setiap bulan.

4. Kamar hitung
a. Kamar hitung dan kaca penutup harus bersih sebab kotor (jamur, partikel debu) pada
pengamatan dibawah mikroskop akan terlihat sebagai sel.
b. Periksa dibawah mikroskop, apakah garis – garis pada kamar hitung terlihat sebagai
sel.
c. Kamar hitung dan kaca penutup harus kering, bila basah akan menyebabkan
terjadinya pengenceran dan kemungkinan sel darah akan pecah, sehingga jumlah sel
yang dihitung menjadi berkurang.
d. Kaca penutup harus tipis, rata, tidak cacat dan pecah, sebab kaca penutup berfungsi
untuk menutup sampel, bila cacat atau pecah maka volume dalam kamar hitung
menjadi tidak tepat.

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 31


e. Cara pengisian kamar hitung : dengan menggunakan pipet Pasteur dalam posisi
kamar hitung : dengan menggunakan pipet Pasteur dalam posisi horizontal, sampel
dimasukkan dalam kamar hitung yang tertutup kaca penutup.
f. Bila pada pengisian terjadi gelembung udara dalam kamar hitung atau sampel
mengisi parit kamar hitung / mengenang kamar lain, atau kamar hitung tidak terisi
penuh, maka pengisian harus di buang.
g. Cuci kamar hitung segera setelah dipakai dengan air mengalir atau dengan air
detergen encer.
h. Bila masih kotor, rendamlah dengan air detergen, kemudian bilas dengan air bersih.
i. Pada waktu mencuci kamar hitung tidak boleh menggunakan sikat.

5. Pipet Semioutomatik
a. Pada pipet semiotomatik, tip pipet tidak boleh dipakai ulang, karena pencucian tip
pipet akan mempengaruhi kelembapan plastic tip pipet, juga pengeringan seringkali
menyebabkan tip meramping dan berubah bentuk saat pemanasan
b. Penggunaan tidak boleh melewati batas skala tip dan pipetnya
c. Tip ayng digunakan harus terpasang erat
d. Sesudah penggunaan harus dibersihkan dan disimpan dengan baik di dalam rak
pipet.

6. Alat gelas
a. Tabung yang harus dipakai selalu bersih
b. Untuk pemakaian ulang, cuci gelas dengan detergen (sedapatnya netral) dan oksidan
(hipoklorit), kemudian bilas dengan aquades
1. Cairan pencuci : larutan netral 2 %
2. Cairan pelarut : extran netral 20 ml
3. Air sampai : 1 liter
Cara pencucian :
1. Rendam alat yang dicuci dalam air sampai bersih, kemudia rendam dalam larutan
extran netral 2 % selama 2 – 24 jam, bila alat terlalu kotor rendam lebih lama
2. Setelah itu bilas dengan air sampai sisa-sisa larutan extran tidak tertinggal pada
alat yang dicuci.
3. Alat kaca dimasukkan dalam incubator dengan 50 – 60 oC dan alat plastic
dikeringkan dengan suhu kamar 15 – 25 oC

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 32


Tata Laksana Kalibrasi Alat-alat Laboratorium
1. Kalibrasi alat dilakukan jika ada alat baru yang akan dipasang
2. Kalibrasi dilakukan oleh teknisi pemasok alat
3. Kalibrasi dilakukan dalam kurun waktu tertentu
4. Jika hasil kalibrasi masing-masing alat baik maka alat siap untuk digunakan

Trouble Shooting
1. Trouble Shooting Hematologi Sysmex KX 21
Masalah Penyebab Masalah Cara Mengatasi
Background error Reagen stomalyser habis Lakukan cell clean
ada sumbatan beberapa kali
Replenish diluent Reagen cellpack habis Ganti reagen cellpack
dengan yang baru
Print out error Kertas habis Ganti dengan kertas yang
baru

2. Trouble Shooting A15


Masalah Penyebab Masalah Cara Mengatasi
Waste full Limbah penuh Buang limbah
Hasil pemeriksaan Serum kurang Tambahkan jumlah sampel ganti
tidak keluar (NC) Reagen habis dengan reagen yang baru
Cuvette wash Cuvette kotor Lakukan cuvette wash dengan
melakukan washing menggunakan
larutan pembersih di dalam botol
no 24

3. Trouble Shooting Smartlyte


Masalah Penyebab Masalah Cara Mengatasi
Probe tidak Ada sumbatan pada Bersihkan probe atau selang dan
menghisap sampel probe atau selang cari sumber sumbatan
Hasil print tidak Kertas habis Ganti kertas dengan yang baru
keluar tekan tombol leaf atau seal untuk
mengeprint ulang

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 33


BAB V
LOGISTIK

A. Pengadaan Barang Logistik (Reagen) di Laboratorium


1. Pengertian :
Reagen adalah zat yang digunakan dalam suatu reaksi untuk mendeteksi, mengukur,
memeriksa, dan menghasilkan zat lain yang dibuthkan untuk laboratorium.
2. Tujuan :
Untuk memenuhi kebutuhan akan bahan pemeriksaan
3. Kebijakan :
Seluruh bahan untuk pemeriksaan laboratorium, harus diadakan sesuai ketentuan yang
ditetapkan
4. Prosedur :
a. Petugas Penanggungjawab Reagensia & BHP laboratorium membuat order reagen
yang dibutuhkan.
b. Order disetujui dan ditandatangani oleh kepala instalasi laboratorium.
c. Order selanjutnya di ACC oleh Direktur dan kemudian ditandatangani oleh PPTK
Farmasi dan diserahkan ke bagian Pengadaan Barang.
d. Bagian pengadaan akan memesan barang/ reagen sesuai dengan jumlah yang
disetujui oleh Direktur.
e. Barang/ reagen yang datang dari rekanan di cek di laboratorium, sesuai atau tidak
dengan pesanan dan dilihat juga tanggal kadaluarsanya.
f. Kemudian dikirim ke bagian penerimaan barang untuk dilakukan pengecekan
kembali, selanjutnya dibawa ke gudang farmasi.
g. Petugas laboratorium akan mengambil barang/ reagen yang datang dari gudang
farmasi setelah petugas farmasi menghubungi petugas laboratorium.
h. Barang/ reagen disimpan sesuai tanggal kadaluarsa dan temperature yang telah
ditentukan.

B. Pengadaan Barang Alat Tulis Kantor, Rumah Tangga, Alat-alat kesehatan


1. Pengertian :
Barang ATK dan RT adalah sarana berupa alat ATK, RT, barang cetakan yang
dibutuhkan sehari-hari untuk menyelenggarakan kegiatan laboratorium
2. Tujuan :
Untuk mendukung kegiatan pelayan laboratorium

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 34


3. Kebijakan :
Seluruh barang logistic ART, RT, dan barang cetakan harus diadakan sesuai ketentuan
yang ditetapkan.
4. Prosedur :
a. Kepala ruangan laboratorium membuat order ATK dan RT yang dibutuhkan
b. Order disetujui dan ditandatangani oleh Kepala Instalasi Laboratorium.
c. Order selanjutnya di ACC oleh Kabid Perlengkapan dan kemudian ditandatangani
oleh PPTK ATK dan RT, selanjutnya diserahkan ke bagian pengadaan barang.
d. Bagian pengadaan barang akan menyiapkan barang sesuai dengan jumlah barang
yang disetujui oleh PPTK.
e. Petugas pengadaan akan menghubungi petugas laboratorium untuk mengambil
barang yang telah disiapkan.
f. Barang diterima oleh petugas laboratorium selanjutnya disimpan di lemari
penyimpanan yang telah ditentukan.

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 35


BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

A. Pengertian
Suatu sistem dimana Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas
membuat asuhan untuk keselamatan pasien.

B. Tujuan
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di instalasi Laboratorium
2. Menurunya kejadian yang tidak diharapkan (KTD) di instalasi Laboratorium

C. Tata Laksana Keselamatan


1. Tahap Pra-analitik
a. Formulir permintaan pemeriksaan memuat tentang :
1. Identitas pasien
2. Ruangan atau poliklinik
3. Nomor rekam medis
4. Tanggal pemeriksaan
5. Identitas pengirim berupa nama dokter yang mengorder permintaan
6. Permintaan yang lengkap dan jelas
7. Tanda tangan dokter yang meminta pemeriksaan
b. Persiapan pasien :
Persiapanan pasien harus sesuai dengan persyaratan pemeriksaan
c. Pengambilan dan penerimaan sampel
Pengumpulan specimen secara benar sesuai standar yang berlaku
d. Penanganan specimen
1. pengolahan specimen
2. kondisi menyimpan specimen harus tepat
3. kondisi sampel harus memenuhi syarat
4. volume sampel harus sesuai dengan prosedur
5. perhatikan identifikasi sampel

2. Tahap Analitik
a. Persiapan reagen
1. Reagen harus memenuhi persyaratan reagen yang benar
2. Reagen tidak dalam masa kadaluarsa

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 36


3. Cara pencampuran / pelarutan harus benar
4. Pelarut yang dipakai harus memenuhi persyaratan yang sesuai
b. Pipetasi reagen
1. Semua peralatan laboratorium yang digunakan harus bersih dan memenuhi syarat
2. Kalibrasi pipet secara berkala
3. Lakukan pipetasi secara benar
c. Inkubasi
1. Suhu inkubasi harus sesuai persyaratan
2. Waktu inkubasi harus tepat
d. Pemeriksaan
Alat dan instrument pemeriksaan harus berfungsi dengan baik

3. Tahan Pasca-analitik
a. Pembacaan hasil
1. Perhitungan
2. Pengukuran
3. Identifikasi
4. Penilaian / verifikasi harus beanr
b. Pelaporan hasil
1. Hasil ditulis dengan jelas
2. Penyerahan hasil teapt orang sesuai permintaan

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 37


BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Laboratorium merupakan bagian dari


pengelolaan laboratorium secara keseluruhan. Laboratorium melakukan berbagai tindakan dan
kegiatan terutama berhubungan dengan specimen yang berasal dari manusia maupun bukan
manusia. Bagi petugas laboratorium yang selalu kontak dengan specimen, maka berpotensi
terinfeksi kuman pathogen. Potensi infeksi juga dapat terjadi dari petugas ke petugas lainnya,
atau keluarganya dan ke masyarakat. Untuk mengurangi bahaya yang terjadi, perlu adanya
kebijakan yang ketat. Petugas harus memahami keamanan laboratorium dan tingkatannya,
mempunyai sikap dan kemampuan untuk melakukan pengamanan sehubungan dengan
pekerjaannya sesuai dengan SOP, serta mengontrol bahan / specimen secara baik.

A. Pengertian
adalah suatu sistem dimana Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi
Rawas membuat asuhan kesehatan dan keselamatan kerja rumah sakit bagi petugas di
lingkungan instalasi Laboratorium.

B. Tujuan
1. Terciptanya budaya keselamatan kerja
2. Menurunya kejadian yang tidak diharapkan
3. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadinya pengulangan
yang tidak diharapkan

C. Tata laksana keselamatan kerja


1. Pra Analitik
a. Memakai jas laboratorium, sarung tangan, dan masker untuk mencegah tertular
bahan berbahaya dan atau terkontaminasi bahan infeksius pada kulit, mulut, mata,
atau luka
b. Sesudah pengambilan sampel darah, kumpulkan jarum dan semprit pada tempat
khusus untuk limbah tajam ( Sharps Collector ) yang tersedia dan cegah jangan
sampai tertusuk jarum tersebut
c. Sampel darah dimasukkan dalam wadah tertentu anti bocor dan tertutup rapat dengan
label identitas pasien
d. Sampel yang tidak dilakukan pemeriksaan segera, harap disimpan dalam lemari es
sesuai syarat penyimpanan sampel

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 38


e. Petugas sampling dilarang makan, minum, atau merokok pada waktu sampling.
2. Analitik
a. Penggunaan pipet
1) Pengolahan specimen / sampel dan melaksanakan tes harus selalu hati – hati dan
menganggap semua bahan infeksius ( Universal Pecaution )
2) Memakai jas laboratorium, sarung tangan, dan masker untuk mencegah tertular
bahan berbahaya dan atau terkontaminasi bahan infeksius pada kulit, mata,
mulut, atau luka
3) Jangan memipet langsung dengan mulut, gunakan alat bantu pipet
4) Jangan meniup udara maupun mencampur bahan infeksius dengan cara
menghisap atau meniup cairan lewat pipet
5) Tindakan jika terjadi tumpahan bahan kimia
6) Segera memberitahu petugas laboratorium lain dan jauhkan petugas yang tidak
berkepentingan dari lokasi tumpahan
7) Upayakan pertolongan segera pada petugas laboratorium yang mengalami
cedera.
8) Jika bahan kimia yang tumpah adalah bahan yang mudah terbakar, segera
matikan semua api, gas dalam ruangan tersebut dan ruangan yang berdekatan.
Matikan semua peralatan listrik yang mungkin mengeluarkan api
9) Jangan menghirup bau dari bahan yang tumpah

b. Petugas sampling
1) Gunakan sentrifuge sesuai instruksi pabrik
2) Sentrifuge diletakkan pada ketinggian tertentu sehingga petugas yang pendek pun
dapat melihat ke dalamnya dan menempatkan tabung sentrifuge dengan mudah
3) Periksa rotor sentrifuge dan selongsongan secara berkala untuk melihat tanda
korosi atau keretakan
4) Gunakan air untuk menyeimbangkan, jangan NaCI atau hipoklorit karena bersifat
korosif
5) Setelah dipakai disimpang selongsong dalam posisi terbalik agar cairan
penyeimbang dapat mengalir keluar.

c. Mencegah penyebaran infeksi


1) Lingkaran sengkelit harus penuh, panjang tangkai max 6 cm
2) Gunakan alat insenerasi mikro untuk membakar senkelit karena bila
menggunakan Bunsen menimbulkan percikan bahan infeksius

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 39


3) Tempakan sisa specimen dan biarka yang akan disterilkan dalam wadah yang
tahan bocor
4) Dekontaminasi permukaan meja kerja dengan desinfektan setiap kali habis kerja

d. Mencegah tertelan dan terkenanya kulit serta mata oleh bahan infeksius
1) Cuci tangan sesering mungkin dengan sabun / desinfektan sesuai dengan
ketentuan hand hygiene
2) Jangan menyentuh mulut dan mata selama bekerja
3) Jangan makan, minum, merokok di dalam laboratorium
4) Jangan memakai kosmetik di dalam laboratorium
5) Gunakan alat pelindung muka, mata, jika terdapat percikan bahan infeksius saat
bekerja.

3. Pasca Analitik
a. Hasil tes dikirim kepada pengirim secepatnya
b. Jarum/ benda tajam yang terkontaminasi masukkan ke dalam wadah tahan tusukkan
(sharps collector), kemudia dikelola sesuai prosedur pengelolaan limbah rumah sakit
(incinerator)
c. Limbah cairan /darah dan produknya dimasukkan ke dalam jirgen ¾ enuh, kemudian
petugas sanitasi mengambil jirigen tersebut kemudian dikelola sesuai prosedur
pengelolaan limbah rumah sakit.
d. Limbah padat
1. Sampah infeksius dimasukkan ke dalam kantong plastic warna kuning
2. Sampah rumah tangga dimasukkan pada saat bekerja di laboratorium ke dalam
kantong berwarna hitam

D. Penanganan Keadaan Darurat di Laboratorium


1. Kebakaran
a. Beri pertolongan pertama pada orang yang terkena, kalau perlu dipindahkan ke unit
lain
b. Beri peringatan kepada orang yang berada di sekitar lokasi
c. Putus aliran listrik bila diperlukan padamkan dengan alat kebakaran yang ada di
rumah sakit (APAR)
d. Tulis berita acara kejadian
2. Biakan atau specimen tumpah
a. Tumpahan dan wadahnya ditutup dengan kain atau tissue yang dibasahi desinfektan

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 40


b. Kain tersebut dibuang di wadah infeksius
c. Wadah di desinfektan atau diautoclave
3. Luka tusukan jarum
a. Keluarkan darah dengan pijatan keras sekitar luka tusuk tadi di bawah pancuran air
selama ± 1 – 2 menit
b. Tutup luka dengan kapas betadin, kemudian diplester atau dibalut
c. Tulis dalam berita acara kejadian
4. Pecahan gelas
a. Gunakan sarung tangan
b. Kumpulkan dengan serokan
c. Masukkan ke dalam kantong plastic berwarna kuning
d. Buang sarung tangan dalam kantong plastic tersebut
e. Tutup kantong, masukkan ke wadah jarum atau wadah dinding keras, kemudian
lakukan cuci tangan sesuai prosedur hands hygiene
5. Tumpahan bahan kimia
a. Upayakan pertolongan pertama pada orang yang terkena
b. Jauhkan yang tidak berkepentingan dari lokasi tumpahan
c. Pakailah masker dan sarung tangan
d. Bila tumpahan mudah terbakar, matikan listrik yang mungkin mengeluarkan api
e. Bahan kimia asam dan korosif, netralkan dengan abu soda atau Na bikarbonat
f. Tumpahan zat alkali : taburkan pasir diatasnya, bersihkan dan angkat dengan
serokan, dan buang dalam kantong plastik bahan beracun

E. Pemakaian Jas Laboratorium


1. Pengertian :
Suatu alat pelindung diri untuk menahan cairan atau darah supaya jangan sampai terkena
tubuh
2. Tujuan :
Menahan darah / cairan jangan sampai mengenai tubuh
3. Kebijakan :
Upaya kesehatan dan keselamatan kerja melindungi petugas dari infeksi silang
4. Prosedur :
a. Dipakai sebelum cuci tangan, jangan sampai terbalik untuk pelindung baju kerja
b. Digunakan selama melakukan pemeriksaan atau bekerja
c. Setelah selesai bekerja, dilepas dan ditaruh di kamar ganti

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 41


F. Pemakaian Masker
1. Pengertian :
Suatu alat penutup mulut dan hidung
2. Tujuan :
Untuk menahan tetesan darah yang keluar sewaktu menjalankan pekerjaan (sewaktu
bicara / bersin )
3. Kebijakan :
Upaya kesehatan dan keselamatan kerja melindungi petugas dari infeksi silang
4. Prosedur :
a. Masker tersedia dalam keadaan bersih
b. Masker dipasang menutupi hidung dan mulut
c. Tali masker ditalikan di belakang kepala
d. Masker setelah dipakai, ditempatkan di sampah medis
e. Dipakai di kamar operasi
f. Dipakai di ruang penyakit menular
g. Dipakai memeriksa pemeriksaan tuberculosis
h. Dipakai di rumah tangga / gudang arsip
i. Dipakai di laboratorium

G. Pemakaian Sarung Tangan


1. Pengertian :
Suatu alat pelindung diri untuk melindungi tangan dari kontaminasi bahan berbahaya /
infeksius
2. Tujuan :
Untuk meniadakan / mengurangi terjadinya infeksi silang
3. Kebijakan :
a. Upaya kesehatan dan keselamatan kerja melindungi petugas dari infeksi silang
b. Mencegah tranmisi kulit petugas ke pasien
c. Mengurangi meniadakan kontaminasi mikroorganisme antar petugas dan pasien
4. Prosedur :
a. Sarung tangan dipakai saat akan terjadi kontak tangan pemeriksa dengan darah,
selaput lendir atau kulit yang terluka
b. Akan melakukan tindakan invasive
c. Akan membersihkan sisa-sisa atau memegang permukaan yang terkontaminasi
d. Sarung steril dibuka bungkusnya dipakai memegang cufnya
e. Masukkan tangan ke dalam sarung tangan sesuai dengan jarinya

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 42


f. Setelah selesai dipakai jangan memegang apapun dulu dan diskontaminasi
klorhexidine 1,5 % dan centrimide 15 % di dalam tempat yang tersedia
g. Lepas sarung tangan dan tempatkan dalam sampah medis, yang bisa dipakai ulang
ditempatkan dalam bak larutan klorhexidne glukonat 1,5 % dan centrimid

H. Pemeliharaan Kesehatan Tenaga Kesehatan


a. Pengertian :
Pemeliharaan kesehatan petugas yang bekerja pada tempat beresiko tertularnya penyakit
b. Tujuan :
Untuk mengetahui kesehatan petugas laboratorium yang bekerja pada tempat yang
beresiko
c. Kebijakan :
1. Pemeriksaan darah
2. Ro Photo Thorax
3. Immunisasi
d. Prosedur :
1. Pemeriksaan darah setiap 6 bulan sekali
2. Ro Photo Thorax setiap 1 tahun sekali
3. Imunisasi sesuai boster

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 43


BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pemantapan mutu (quality control) laboratorium kesehatan adalah semua kegiatan yang
ditujukan untuk menjamin ketelitian dan ketepatan hasil pemeriksaan laboratorium. Kegiatan
pemantaan mutu laboratorium dapat dibedakan menjadi dua yaitu Pemantapan Mutu Internal dan
Pemantapan Mutu Eksternal

A. Pemantapan Mutu Internal (internal quality control)


1. Pra Analitik
a. Persiapan penderita
1) Pengaruh makanan
Dianjurkan pengambilan darah dilaksanakan 12 jam setelah makan terakhir
2) Fluktuasi sehari-hari
Nilai normal dari literature berdasarkan pada pengambilan sampel pagi hari,
maka dianjurkan pengambilan darah pada pagi hari biasanya sebelum jam 09.00
pagi.
3) Keadaan tubuh
Darah sebaiknya diambil pada keadaan tubuh yang sama biasanya pada keadaan
duduk.
4) Obat – obatan
Jika hasil dipengaruhi oleh obat – obatan tertentu, maka obat tersebut harus
dihentikan beberapa hari sebelum pengambilan darah.
b. Pengambilan dan pengolahan specimen
1) Pemberian identitas
a) Surat pengantar / formulir permintaan pemeriksaan laboratorium memuat :
 Tanggal permintaan
 Tanggal dan jam pengambilan
 Identitas pasien ( nama, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat )
 Diagnosis / keterangan klinik
 Jenis specimen
 Pemeriksaan laboratorium yang diminta
 Nama dan tangan tangan dokter pengirim
 Bagian poliklinik
 Ruang perawatan kelas
 Kamar No.
Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 44
 Nomor RM
 Jaminan Perawatan
b) Label wadah specimen yang diambil di laboratorium memuat :
 Pengambilan specimen
 Nomor / kode specimen
c) Formulir hasil memuat :
 Tanggal pemeriksaan
 Identitas pasien
 Nomor / kode laboratorium
 Nomor rekam media
 Satuan hasil pemeriksaan
 Nilang rentang parameter
 Tanggal hasil pemeriksaan laboratorium dikeluarkan
 Tanda tangan penanggung jawab
1) Penerimaan specimen
a) Cocokkan specimen yang diterima dengan permintaan formulir pemeriksaan.
Catat kondisi specimen, volume, warna, kekeruhan, bau, konsistensi, dll
b) Specimen tidak memenuhi syarat sebaiknya ditolak
2) Pengambilan specimen
a) Waktu pengambilan
b) Volume specimen : sesuai dengan kebutuhan pemeriksaan
c) Cara pengambilan specimen : oleh tenaga terampil dan dengan cara yang
benar
d) Lokasi : sesuai jenis pemeriksaan yang diminta : darah vena, darah arteri
biakan (sedang mengalami infeksi )
e) Peralatan harus bersih, kering, tidak mengandung bahan kimia / deterjen,
mudah dicuci
3) Wadah specimen harus memenuhi syarat
a) Terbuat dari gelas atau plastik
b) Tidak bocor / merembes
c) Harus dapat ditutup rapat dengan tutup berulir
d) Bersih dan Kering
e) Tidak mempengaruhi zat – zat dalam specimen
f) Steril untuk biakan
4) Pengawet

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 45


Disesuaikan dengan pemeriksaan
c. Penyimpanan sampel
Menghindari kontaminasi :
1) Sampel harus selalu disimpan dalam botol / tabung tertutup rapat
2) Memakai sarung tangan disposable saat mengerjakan sampel
3) Menghindari sinar
4) Stabilitas penyimpanan serum atau plasma :
a) Suhu kamar ( 15 – 25 oC ) selama 4 jam
b) Suhu 4 oC selama 24 jam
c) Jika sampel tidak dapat diperiksa hari yang sama dengan pengambilan darah
maka sampel harus dibekukan 12 sampai 20 oC
2. Analitik
a. Pipet dan memipet
1) Gunakan pipet yang bersih dan tidak rusak
2) Gunakan pipet sesuai kebutuhan
3) Gunakan pipet sesuai kebutuhan
4) Pipet harus dibilas
5) Bersihkan ujung pipet
b. Suhu dan waktu
1) Pastikan bahwa sampel, reagensia, serum control telah berada pada suhu
pemeriksaan
2) Apakah lamanya inkubasi pada suhu yang telah ditentukan
c. Tabung sampel untuk analisa kimia darah harus bersih
1) Volume larutan yang diisi ke dalam kuvet harus sesuai
2) Tidak boleh ada gelembung udara.
3. Pasca Analitik
Evaluasi :
a. kesalahan umumnya pada kalkulasi hasil
b. perhatikan titik desimalnya
c. perhatikan satuannya
d. interpretasi hasil pemeriksaan dan quality control serum
e. validasi hasil dokter bertanggung jawab laboratorium
f. pelaporan hasil pemeriksaan
g. pengiriman hasil pemeriksaan

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 46


B. Pemantapan Mutu Eksternal ( eksternal Quality Control )
Pemantapan mutu eksternal adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak lain
diluar laboratorium secara periodic untuk memantau dan menilai penampilan laboratorium
dalam bidang pemeriksaan yang ditentukan.
Penyelenggaraan pemantapan mutu eksternal diharapkan bisa diikuti oleh semua
laboratorium pemerintah dan swasta dihubungkan dengan akreditasi laboratorium kesehatan
dan perizinan untuk laboratorium kesehatan dan perizinan untuk laboratorium swasta
Pemantapan mutu eksternal diselenggarakan pada tingkat nasional dan tingkat wilayah
/ provinsi. Peserta pemantapan mutu eksternal nasional mencakup laboratorium ruamh sakit
pemerintah kelas A, B, C, dan setaraf balai laboratorium Kesehatan dan laboratorium swasta
yang setaraf.
Pemantapan mutu eksternal tingkat wilayah / provinsi diikuti oleh laboratorium rumah
sakit pemerintah kelas C, D dan yang setaraf dan Laboratorium puskesmas di wilayah /
provinsi yang bersangkutan.
1. Pemantapan Mutu Eksternal yang telah Diikuti :
Instalasi laboratorium RSUD Dr. Sobirin telah mengikuti kegiatan pemantapan mutu
eksternal secara rutin yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan RI dan
Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Indonesia.
Kegiatan PME tingkat nasional yang telah diselenggarakan oleh pemerintah dan telah
diikuti laboratorium RSUD Dr. Sobirin sampai saat ini adalah :
a. Pemantapan mutu eksternal untuk bidang KIMIA KLINIK yang biasa di kenal
PNPKLK-K (Program Nasional Pemantapan Kualitas Laboratorium Kesehatan)
bekerja sama dengan PDS PATKLIN Palembang. Penilaian dengan menggunakan
WIS ( Wariance Index Score), dengan nilai 0-400, makin kecil nilai WIS yang
diperoleh suatu laboratorium berarti semakin baik penampilan laboratorium
tersebut.
b. Pemantapan mutu eksternal bidang HEMATOLOGI, yang biasa dikenal sebagai
PNPKLK-H (Program Nasional Pemantapan Kualitas Laboratorium Bidang
Hematologi). Penyelenggaraannya adalah Pusat Kesehatan bekerja sama dengan
PDS Patklin. Penilaian dilakukan dengan menggunakan perhitungan ID (Index
Deviasi) dengan menggunakan nilai 0 - > 3, semakin kecil nilai yang diperoleh
oleh suatu laboratorium berarti semakin baik penampilan laboratorium tersebut.
c. Pemantapan mutu eksternal bidang MIKROBIOLOGI (PME) meliputi
pemeriksaan Sediaan Malaria, Pembaca BTA, dan Telur CAcing. Penilaian
dilakukan dengan menggunakan system scoring dengan nilai 0-4, semakin tinggi

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 47


nilai yang didapat oleh suatu laboratorium, berarti semakin baik penampilan
laboratorium tersebut.
2. Pelaksanaan Pemantapan Mutu Eksternal
a. Persiapan
1) Setiap tahun dilaksanakan 2 siklus
2) Calon peserta mengirim surat pendaftaran
3) Calon peserta mengirim kembali dan mendaftar dengan membayar biaya
PME
4) Calon peserta diseleksi, bila ok diberi nomer peserta
5) Peserta dikirim bahan control (serum control)
b. Pengirim serum control
1) Serum control dikirim sekaligus kepada peserta
2) Dokumen lengkap :
Formulir hasil
a) Petunjuk pelaksana
b) Daftar alat dan reagen
c) Daftar pemeriksa
3) Dikirim kepada kepala laboratorium atau Direktur Rumah Sakit bahan control
dapat dibedakan berdasarkan :
c. Sumber bahan control
Bahan kontrol dapat berasal dari manusia, binatang atau merupakan bahan kimia
murni. Apabila bahan yang diperiksa adalah dari manusia maka lebiha baik
menggunakan bahan control dari manusia.
d. Bentuk bahan kontrol
Menurut bentuknya bahan control ada bermacam-macam, yaitu : bentuk cair,
padat bubuk (liofilisat) dan bentuk strip. Pada umumnya bentuk pemeriksaan
dibidang kimia klinik menggunakan bentuk padat bubuk (liofilisat) atau bentuk
cair (pooled sera). Dibidang hematologi digunakan bentuk cair, padat bubuk atau
strip. Dan di bidang Mikrobiologi berupa sediaan dan berbentuk cair.
e. Pemeriksaan sserum control
1) Serum control diperiksa sesuai dengan tanggal yang ditetapkan
2) Sifat pemeriksaan :
a) Hasil laboratorium sendiri
b) Menggunakan alat dan reagen rutin
c) Dikerjakan oleh tenaga yang biasa memeriksa

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 48


3) Hasil dikirim secepatnya setelah ditandatangani penanggung jawab atau
kepala laboratorium
f. Hasil pemantapan mutu eksternal
1) Hasil yang diterima di Instalasi Laboratorium dicatat tanggal terima untuk
masing-masing siklus
2) Oleh petugas dimasukkan didalam arsip hasil pemantapan mutu eksternal
Laboratorium
3) Sifat pengolahan data berdasarkan :
a) Metode pemeriksaan
b) Alat yang digunakan
c) Jumlah data yang ada
g. Evaluasi computer
1) Data dibandingkan terhadap nilai target
2) Nilai target adalah kumulatif peserta dengan metode dan alat yang sama dan
jumlah peserta > 20
3) Dinilai dengan sistem Variance Index Scores (VIS)
4) Setiap peserta akan mendapat nilai :
a) VIS setiap pemeriksaan
b) Overal VIS
c) Mean Running VIS
h. Evaluasi pemantapan mutu eksternal
1) Variance Index Scores (VIS)
Nilai VIS yang dibatasi maksimum 400
2) Overal VIS
Nilai rata-rata VIS untuk seluruh parameter
3) Mean Running VIS
Nilai rata-rata 6 VIS terakhir untuk parameter tertentu
i. Criteria penilaian VIS, OVIS, MR VIS
0–5 : Sangat baik
51 – 100 : Baik
101 – 200 : Cukup
201 – 300 : Kurang
301 – 400 : Buruk

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 49


BAB IX
PENUTUP

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas
ini mempunyai peranan penting sebagai pedoman bagi pelaksanaan kegiatan sehari-hari tenaga
laboratorium yang bertugas sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan khususnya pelayanan
di laboratorium.
Penyusunan Pedoman Pelayanan Laboratorium ini adalah langkah awal ke suatu proses
yang panjang, sehingga memerlukan dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak dalam
penerapannya untuk mencapai tujuan. Kami menyadari bahwa pedoman pelayanan ini masih
jauh dari sempurna, karena itu kami menerima saran dan kritik guna menyempurnakan pedoman
ini
Akhir kata, semoga Pedoman Pelayanan Laboratorium ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca.

Pedoman Pelayanan Instalasi Laboratorium RSUD Muara Beliti 50