Anda di halaman 1dari 181

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs)


INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)
PADA PASIEN PEDIATRI DI INSTALASI RAWAT
INAP SALAH SATU RUMAH SAKIT
DAERAH BANGKA

SKRIPSI

Gadis Fujiastuti
NIM: 1112102000062

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
OKTOBER 2016
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs)


INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)
PADA PASIEN PEDIATRI DI INSTALASI RAWAT
INAP SALAH SATU RUMAH SAKIT
DAERAH BANGKA

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi

Gadis Fujiastuti
NIM: 1112102000062

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA
OKTOBER 2016
 

ii 
 
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri,


dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Gadis Fujiastuti


NIM : 112102000062
Tanda Tangan :

Tanggal : 10 Oktober 2016

iii 
 
ABSTRAK

Nama : Gadis Fujiastuti


Program Studi : Farmasi
Judul Skripsi : Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Pasien Pediatri
Di Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah
Bangka

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyebab utama morbiditas dan
mortalitas penyakit menular pada pediatri. ISPA terutama terjadi di negara-negara
dengan pendapatan perkapita rendah dan menengah termasuk Indonesia. Menurut hasil
Riskesdas 2013 periode prevalensi ISPA pada kelompok umur 1-4 tahun yaitu
sebesar 25,8 % dan kelompok umur 5-14 tahun adalah 15,4 %. Kejadian masalah
terkait obat (DRPs) lebih sering terjadi pada anak dibandingkan dengan orang
dewasa. Drug Related Problems (DRPs) merupakan suatu kejadian yang tidak
diharapkan dari pengalaman pasien atau diduga akibat terapi obat sehingga
potensial mengganggu keberhasilan penyembuhan yang dikehendaki. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui jumlah kejadian dari DRPs yang meliputi
ketidaktepatan dosis yaitu dosis kurang dan dosis lebih, indikasi tanpa obat, obat
tanpa indikasi, potensial interaksi serta ketidaktepatan pemilihan obat pada terapi
pengobatan infeksi saluran pernafasan akut pada pasien pediatri di instalasi rawat
inap salah satu rumah sakit daerah Bangka tahun 2015. Penelitian ini bersifat
retrospektif dimana data diperoleh melalui data sekunder berupa rekam medis
pasien periode Januari-Desember 2015 dengan desain penelitian cross-sectional.
Teknik pengambilan data berupa total sampling, didapatkan 80 sampel yang sesuai
kriteria inklusi. Hasil penelitian Drug Related Problems (DRPs) yang terjadi adalah
dosis rendah sebanyak 60 %, dosis tinggi sebanyak 12,5 %, obat tanpa indikasi
sebanyak 5 %, ketidaktepatan pemilihan obat sebanyak 2,5 % dan potensi interaksi
obat sebanyak 56,3 %, serta tidak terdapat DRPs kategori indikasi tanpa obat. Hal
ini menunjukkan bahwa pentingnya peranan apoteker dalam melakukan
pemantauan terapi obat pasien untuk meminimalisir terjadinya DRPs.

Kata Kunci : Drug Related Problems (DRPs), ISPA, Pediatri, Rawat Inap Salah
Satu Rumah Sakit Daerah Bangka

vi 
 
ABSTRACT

Name : Gadis Fujiastuti


Program Study : Pharmacy
Title : Evaluation Of Drug Related Problems (DRPs) In
Paediatric Patients With Acute Respiratory Tract
Infections At One of General Hospital In Bangka

Acute respiratory infections (ARI) is a major cause of morbidity and mortality in


paediatric infectious diseases. ARI is common in countries with low and middle
income per capita, including Indonesia. According to the 2013 basic health research
report period of ARI prevalence in the age group 1-4 years is 25.8 % and the age
group 5-14 years is 15.4 %. The incidence of DRPs is more common in paediatric
than adults. Drug Related Problems (DRPs) is an event that unexpected from the
experience of patients therapies or suspected due to unsuccessfully of drug
therapies. The purpose of this research is to know the total incidence number of
DRPs categories, which the under dose, high dose, drug without indication,
indication without drug, potential drug interaction, and wrong drug in medical
therapy of paediatric patients with acute respiratory infection in installation inpatient at
one of general hospital in Bangka. This study is a retrospective where the data was
obtained through secondary data from medical records of patients in the period from
January to December 2015 with a cross-sectional study design. Data collection
techniques using total sampling, obtained 80 samples of corresponding study
inclusion criteria. The results of Drug Related Problems (DRPs) that occurs is under
dose (60 %), high dose (12,5 %), drugs without indication (5 %), wrong drug
(2,5 %) and potential drug interaction (56.3 %), and there is not finding indication
without drugs in patients. Therefore, the role of pharmacist is important for
monitoring patient drug therapy to minimize the occurrence of DRPs.

Keywords : ARI (Acute Respiratory Infections), Drug Related Problems (DRPs),


Inpatient At One of General Hospital In Bangka

vii 
 
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
rahmat, karunia serta nikmat Iman dan islam yang tak terhingga. Shalawat serta
salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Syukur atas
limpahan cinta dan kasihNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan
skripsi yang berjudul “Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) Pada Pasien Pediatri Di Instalasi Rawat Inap Salah Satu
Rumah Sakit Daerah Bangka”. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka
memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini tidak akan
terwujud dan berjalan lancar tanpa bantuan, dukungan, bimbingan dan doa dari
berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis tidak lupa
mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Yardi, Ph.D, Apt. dan Dr. M. Yanis Musdja, M.Sc., Apt. selaku dosen
pembimbing yang telah banyak memberikan ilmu, waktu, tenaga, dalam
penelitian ini juga untuk kesabaran dalam membimbing, memberikan saran,
dukungan serta kepercayaannya selama penelitian berlangsung hingga
terselesaikannya skripsi ini.
2. Dr. Arief Sumantri, S.KM, M.Kes., selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Dr. Nurmeilis, M.Si., Apt. selaku Ketua Program Studi Farmasi Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
4. Bapak Supandi, M.Si., Apt. selaku dosen pembimbing akademik Farmasi kelas
C tahun ajaran 2012. Serta seluruh pihak dosen pengajar Program Studi
Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta atas ilmu dan pengetahuan selama penulis menempuh pendidikan.
5. Ibu dr. Hj. Dede Lina Lindayanti, MKM, dr. Bayu, Ibu Rokimah, M.Farm, Apt.
dan Ibu Titin serta seluruh civitas di salah satu rumah sakit daerah Bangka yang
telah memberikan kesempatan dan membantu kelancaran dalam melakukan

viii 
 
penelitian dan pengambilan data serta memberikan dukungan yang sangat
besar.
6. Kedua orang tua tercinta, ayahanda Trian Gusrianto dan ibunda Winarmi yang
tidak pernah lelah untuk memberikan doa, dukungan moril maupun materil,
cinta, kasih sayang, semangat dan motivasi kepada penulis dari kecil hingga
saat ini.
7. Kedua adik tersayang Rani Dwi Ramadaningsih dan M. Glenn Al-Khalif, serta
seluruh keluarga besar atas semangat, dukungan dan doa kepada penulis.
8. Endang Suryani, Moethia, Risha Natasya, Nisa Utami Dewi, Zakiyah Zahra N.
A., Khoirunnisak, Lailatul Khotimah atas kebersamaan, persaudaraan,
persahabatan, doa, semangat, dukungan, serta selalu menemani dan
mendengarkan penulis.
9. Teman seperjuangan penelitian Annissa Fadilla Martha yang selalu menemani
dan memberikan masukan, bantuan, kesabaran, serta semangat selama masa
penelitian hingga penyusunan skripsi.
10. Kak Randika yang selalu membantu dan memberikan masukan serta saran
kepada penulis dalam proses penyusunan skripsi.
11. Teman-teman Farmasi 2012 khususnya Farmasi 2012 kelas AC atas
kebersamaan, serta berbagi suka dan duka selama perkuliahan.
12. Seluruh pihak yang telah banyak membantu penulis dalam penelitian dan
penyelesaian skripsi baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak
dapat penulis sebutkan satu per satu.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu.
Kesempurnaan hanya milik Allah, begitu pula dengan skripsi ini. Dengan segala
kerendahan hati penulis berharap kritik dan saran atas kekurangan dan keterbatasan
penelitian ini. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat untuk banyak pihak dan
perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dunia kefarmasian.

Ciputat, 10 Oktober 2016

Gadis Fujiastuti

ix 
 
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah


Jakarta, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Gadis Fujiastuti


NIM : 1112102000062
Program Studi : Farmasi
Fakultas : Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK)
Jenis karya : Skripsi

demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui skripsi/karya ilmiah saya,


dengan judul :

EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs)


INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA PASIEN
PEDIATRI DI INSTALASI RAWAT INAP SALAH SATU RUMAH SAKIT
DAERAH BANGKA

untuk dipublikasikan atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital
Library Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
untuk kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta.

Demikian pernyataan persetujuan publikasi karya ilmiah ini saya buat dengan
sebenarnya.

Dibuat di : Ciputat
Pada Tanggal : 10 Oktober 2016

Yang menyatakan,

(Gadis Fujiastuti)


 
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS .......................................... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... iv
HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................v
ABSTRAK ..................................................................................................... vi
ABSTRACT .................................................................................................. vii
KATA PENGANTAR ................................................................................. viii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ................x
DAFTAR ISI .................................................................................................. xi
DAFTAR TABEL ....................................................................................... xvi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xviii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xix
DAFTAR ISTILAH ......................................................................................xx
BAB I. PENDAHULUAN ...............................................................................1
1.1. Latar Belakang...........................................................................1
1.2. Rumusan Masalah .....................................................................4
1.3. Tujuan Penelitian ......................................................................4
1.3.1. Tujuan Umum ................................................................4
1.3.2. Tujuan Khusus ...............................................................4
1.4. Manfaat hasil Penelitian ...........................................................5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA....................................................................6
2.1. Literatur Review ........................................................................6
2.2. Drug Related Problem (DRPs) ................................................10
2.2.1 Klasifikasi Drug Related Problems .............................10
2.2.1.1 Ketidaktepatan Pemilihan Obat (Salah Obat) ..11
2.2.1.2 Dosis Rendah ...................................................11
2.2.1.3 Dosis Tinggi .....................................................11
2.2.1.4 Indikasi Tanpa Obat .........................................12
2.2.1.5 Obat Tanpa Indikasi .........................................12
2.2.1.6 Reaksi Obat yang Merugikan ..........................12

xi 
 
2.2.1.7 Ketidakpatuhan Pasien .....................................15
2.3. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ................................16
2.3.1. Definisi ISPA ...............................................................16
2.3.2. Klasifikasi ISPA ..........................................................17
2.3.3. Tonsilitis ......................................................................20
2.3.3.1 Faktor Resiko ...................................................21
2.3.3.2 Patofisiologi .....................................................22
2.3.3.3 Gejala Tonsilitis ...............................................23
2.3.3.4 Pemeriksaan .....................................................23
2.3.3.5 Penatalaksanaan ...............................................25
2.3.4. Faringitis ......................................................................26
2.3.4.1 Faktor Resiko ...................................................27
2.3.4.2 Patofisiologi .....................................................27
2.3.4.3 Gejala Faringitis ...............................................28
2.3.4.4 Pemeriksaan .....................................................29
2.3.4.5 Penatalaksanaan ...............................................30
2.3.5. Bronkitis ......................................................................31
2.3.5.1 Faktor Resiko ...................................................32
2.3.5.2 Patofisiologi .....................................................32
2.3.5.3 Gejala Bronkitis ...............................................33
2.3.5.4 Pemeriksaan .....................................................33
2.3.5.5 Penatalaksanaan ...............................................34
2.3.6. Bronkhiolitis ................................................................36
2.3.6.1 Faktor Resiko ...................................................37
2.3.6.2 Patofisiologi .....................................................37
2.3.6.3 Gejala Bronkhiolitis .........................................39
2.3.6.4 Pemeriksaan .....................................................39
2.3.6.5 Penatalaksanaan ...............................................40
2.3.7. Pneumonia ...................................................................42
2.3.7.1 Faktor Resiko ...................................................44
2.3.7.2 Patofisiologi .....................................................44
2.3.7.3 Gejala Pneumonia ............................................45

xii 
 
2.3.7.4 Pemeriksaan .....................................................46
2.3.7.5 Penatalaksanaan ...............................................47
2.3.8. Tuberkulosis ................................................................51
2.3.8.1 Faktor Resiko ...................................................51
2.3.8.2 Patofisiologi .....................................................52
2.3.8.3 Gejala Tuberkulosis .........................................54
2.3.8.4 Pemeriksaan .....................................................55
2.3.8.5 Penatalaksanaan ...............................................57
2.4. Rumah Sakit ............................................................................61
2.5. Pelayanan Farmasi Klinis Di Rumah Sakit .............................62
2.6. Rekam Medis ...........................................................................63
2.7. Terapi Obat Berkaitan Dengan Karakteristik Pasien Pediatri .64
BAB III. METODE PENELITIAN .............................................................70
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................70
3.1.1. Tempat Penelitian .........................................................70
3.1.2. Waktu Penelitian ..........................................................70
3.2. Desain Penelitian .....................................................................70
3.3. Kerangka Konsep ....................................................................71
3.4. Variabel Penelitian ..................................................................72
3.4.1. Variabel Independen.....................................................72
3.4.2. Variabel Dependen .......................................................72
3.5. Definisi Operasional ................................................................73
3.6. Populasi dan Sampel Penelitian...............................................76
3.6.1. Populasi ........................................................................76
3.6.2. Sampel ..........................................................................76
3.7. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Penelitian ..................................77
3.7.1. Kriteria Inklusi .............................................................77
3.7.2. Kriteria Eksklusi ...........................................................77
3.8. Cara Pengumpulan Data ..........................................................77
3.9. Instrumen Penelitian ................................................................77
3.10 Prosedur Penelitian ..................................................................78
3.10.1. Bagan Alur Penelitian ...............................................78

xiii 
 
3.10.2. Persiapan (Permohonan Izin Penelitian) ...................78
3.10.3. Pelaksanaan Pengumpulan Data ...............................78
3.10.3.1. Penelusuran Dokumen ...............................78
3.10.4. Manajemen Data .......................................................79
3.10.5. Pengolahan Data .......................................................79
3.10.6. Rencana Analisis Data ..............................................80
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .....................................................81
4.1. Hasil ........................................................................................81
4.1.1. Karakteristik Pasien..................................................81
4.1.1.1. Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosa Penyakit
..................................................................................81
4.1.1.2. Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia ....................82
4.1.1.3. Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin .....82
4.1.1.4. Karakteristik Pasien Berdasarkan Penyakit Penyerta
..................................................................................83
4.1.2. Profil Penggunaan Obat ...........................................84
4.1.2.1. Profil Penggunaan Obat Injeksi................................84
4.1.2.2. Profil Penggunaan Obat Oral ...................................84
4.1.2.3. Profil Penggunaan Obat Inhalasi ..............................85
4.1.2.4. Profil Penggunaan Obat Luar ...................................85
4.1.3. Jumlah Penggunaan Obat .........................................86
4.1.4. Drug Related Problems (DRPs) ...............................86
4.1.4.1. DRPs Kategori Dosis Rendah ..................................87
4.1.4.2. DRPs Kategori Dosis Tinggi ....................................88
4.1.4.3. DRPs Kategori Indikasi Tanpa Obat ........................89
4.1.4.4. DRPs Kategori Obat Tanpa Indikasi ........................89
4.1.4.5. DRPs Kategori Potensi Interaksi Obat .....................89
4.1.4.6. DRPs Kategori Ketidaktepatan Pemilihan Obat ......91
4.2. Pembahasan .............................................................................91
4.2.1. Karakteristik Pasien..................................................91
4.2.1.1. Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosa Penyakit
..................................................................................91

xiv 
 
4.2.1.2. Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia ....................92
4.2.1.3. Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin .....93
4.2.1.4. Karakteristik Pasien Berdasarkan Penyakit Penyerta
..................................................................................95
4.2.2. Profil Penggunaan Obat ...........................................98
4.2.2.1. Profil Penggunaan Obat Injeksi................................98
4.2.2.2. Profil Penggunaan Obat Oral .................................101
4.2.2.3. Profil Penggunaan Obat Inhalasi ............................105
4.2.2.4. Profil Penggunaan Obat Luar .................................106
4.2.3. Jumlah Penggunaan Obat .......................................107
4.2.4. Drug Related Problems (DRPs) .............................108
4.2.4.1. DRPs Kategori Dosis Rendah ................................109
4.2.4.2. DRPs Kategori Dosis Tinggi ..................................111
4.2.4.3. DRPs Kategori Indikasi Tanpa Obat ......................113
4.2.4.4. DRPs Kategori Obat Tanpa Indikasi ......................113
4.2.4.5. DRPs Kategori Potensi Interaksi Obat ...................114
4.2.4.6. DRPs Kategori Ketidaktepatan Pemilihan Obat ....115
4.3. Keterbatasan Penelitian .........................................................116
4.3.1. Kendala....................................................................116
4.3.2. Kelemahan ...............................................................116
4.4. Kekuatan Penelitian ...............................................................116
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................117
5.1. Kesimpulan ............................................................................117
5.2. Saran ......................................................................................117
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................119

xv 
 
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1 Terapi Awal Pada Bronkitis ......................................................... 36
Tabel 2.2 Agen Penyebab Infeksi Virus D Saluran Napas Pada Anak ........ 36
Tabel 2.3 Dugaan Bakteri Penyebab Pneumonia ........................................ 43
Tabel 2.4 Antibiotika Pada Terapi Pneumonia ............................................ 48
Tabel 2.5 Sistem Skoring Tb Anak .............................................................. 56
Tabel 2.6 Dosis Obat Tb Rekomendasi Dosis Dalam Mg/Kgbb ................. 58
Tabel 2.7 OAT KDT Pada Anak.................................................................. 61
Tabel 3.1 Tabel Definisi Operasional dari Variabel dalam Penelitian ........ 73
Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosa Penyakit 82
Tabel 4.2 Distribusi Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia ....................... 82
Tabel 4.3 Distribusi Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin........ 83
Tabel 4.4 Distribusi Karakteristik Pasien Berdasarkan Penyakit Penyerta . 83
Tabel 4.5 Distribusi Profil Penggunaan Obat Injeksi Pada Pasien Pediatri
Di Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah Bangka
..................................................................................................... 84
Tabel 4.6 Distribusi Profil Penggunaan Obat Oral Pada Pasien Pediatri Di
Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah Bangka ... 85
Tabel 4.7 Distribusi Profil Penggunaan Obat Inhalasi Pada Pasien Pediatri
Di Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah Bangka
..................................................................................................... 85
Tabel 4.8 Distribusi Profil Penggunaan Obat Luar Pada Pasien Pediatri Di
Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah Bangka ... 86
Tabel 4.9 Distribusi Jumlah Penggunaan Obat Pada Pasien Pediatri Di
Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah Bangka ... 86
Tabel 4.10 Distribusi Persentase Jumlah Kejadian DRPs Kategori Dosis
Rendah Pada Pasien Pediatri Penderita ISPA Di Instalasi Rawat
Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah Bangka. ............................ 88
Tabel 4.11 Distribusi Persentase Jumlah Kejadian Ketidaktepatan Durasi
Pemberian Antibiotik Pada Pasien Pediatri Penderita ISPA Di
Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah Bangka. .. 88

xvi 
 
Tabel 4.12 Distribusi Persentase Jumlah Kejadian DRPs Kategori Dosis
Tinggi Pada Pasien Pediatri Penderita ISPA Di Instalasi Rawat
Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah Bangka. ............................ 89
Tabel 4.13 Distribusi Persentase Jumlah Kejadian DRPs Kategori Obat
Tanpa Indikasi Pada Pasien Pediatri Penderita ISPA Di Instalasi
Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah Bangka.................. 89
Tabel 4.14 Distribusi Persentase Jumlah Kejadian DRPs Kategori Potensi
Interaksi Obat Pada Pasien Pediatri Penderita ISPA Di Instalasi
Rawat Salah Satu Rumah Sakit Daerah Bangka. ......................... 90
Tabel 4.15 Distribusi Persentase Jumlah Kejadian DRPs Kategori Potensi
Interaksi Obat Berdasarkan Tingkat Keparahan. ......................... 90
Tabel 4.16 Distribusi Persentase Jumlah Kejadian Jenis Obat Terbanyak
Yang Mengalami DRPs Kategori Potensi Interaksi Obat
Berdasarkan Tingkat Keparahan. ................................................. 91
Tabel 4.17 Distribusi Persentase Jumlah Kejadian DRPs Kategori
Ketidaktepatan Pemilihan Obat Pada Pasien Pediatri Penderita
ISPA Di Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah
Bangka. ........................................................................................ 91

xvii 
 
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Anatomi Tonsil .......................................................................... 20
Gambar 2.2 Alur Tatalaksana Pasien TB Anak Pada Sarana Pelayanan
Kesehatan Dasar ........................................................................ 59
Gambar 3.1 Bagan Kerangka Konsep Penelitian .......................................... 71
Gambar 4.1 Persentase Jumlah Kejadian DRPs Pasien Pediatri Penderita
ISPA Di Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah
Bangka ....................................................................................... 87

xviii 
 
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Pengambilan Data dan Penetian Dari
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta .................................................................. 127
Lampiran 2. Surat Persetujuan Izin Pengambilan Data dan Penetian Dari
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta .................................................................. 128
Lampiran 3. Rekapitulasi 5 Data Pasien dari 80 Sampel Penelitian .............. 129
Lampiran 4. Rekapitulasi Hasil Analisis Data DRPs Kategori Dosis
Rendah dan Dosis Tinggi yang Paling Banyak ......................... 135
Lampiran 5. Rekapitulasi Hasil Analisis Data DRPs Kategori Obat Tanpa
Indikasi....................................................................................... 147
Lampiran 6. Rekapitulasi Hasil Analisis Data DRPs Kategori Potensi
Interaksi yang Paling Banyak .................................................... 150
Lampiran 7. Rekapitulasi Hasil Analisis Data DRPs Kategori
Ketidaktepatan Pemilihan Obat ................................................. 155
Lampiran 8. Data Koding Pasien Berdasarkan Kategori DRPs ..................... 157
Lampiran 9. Hasil Analisis SPSS (Statistical Package for the Social
Sciences) 22.0 ............................................................................ 160

xix 
 
DAFTAR ISTILAH

ADR : Adverse Drug Reactions ISPA : Infeksi Saluran Pernapasan


AIDS : Acquired Immune Deficiency Akut
Syndrome MDR : Multi Drug Resistance
ARI : Acute Respiratory Infections OAT : Obat Anti TB
BCG : Bacille Calmette-Guérin P2-ISPA : Program Pemberantasan
BTA : Bakteri Tahan Asam Infeksi Saluran
CAP : Community Acquired Pernapasan Akut
Pneumonia PMN : Polymorphonuclear
CMV : Citomegalovirus Neutrophilic Leukocyte
DRPs : Drug Related Problems PZA : Pirazinamid
EBV : Epstein Barr Virus RIF : Rifampisin
EMB : Etambutol Riskesdas : Riset Kesehatan Dasar
GAS : Group A Streptococcus RSUD : Rumah Sakit Umum
Hb : Hemoglobin Daerah
HIV : Human Immune Virus RSV : Respiratory Synctial Virus
HSV : Herpes Simplex Virus TB : Tuberkulosis
ICU : Intensive Care Unit UKG : Ultra Korte Golf
INH : Isoniazid CRP : C-Reactive Protein

xx 
 
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) merupakan penyakit yang
banyak diderita oleh masyarakat umum yang meliputi infeksi akut saluran
pernafasan bagian atas dan infeksi akut saluran pernafasan bagian bawah
(Depkes, 2005). Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di negara sedang
berkembang merupakan penyebab kematian tersering pada anak (WHO,
2003). Penyakit ISPA sering terjadi pada anak karena sistem pertahanan tubuh
anak masih rendah. Episode penyakit batuk pilek pada balita di Indonesia
diperkirakan 3 sampai 6 kali per tahun, yang berarti seorang balita rata-rata
mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun (Depkes RI,
2002). Insidens menurut kelompok umur balita diperkirakan 0,29 episode
per anak/tahun di negara berkembang dan 0,05 episode per anak/tahun di
negara maju. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat 156 juta episode baru
di dunia per tahun dimana 151 juta episode (96,7 %) terjadi di negara
berkembang. (Depkes, 2012). Di Indonesia terdapat sekitar 10 juta episode
ISPA yang terjadi pada anak-anak (Rudan et al Bulletin WHO, 2008).
Menurut data riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013
dinyatakan bahwa periode prevalensi nasional ISPA di Indonesia yaitu
25 %. Karakteristik penduduk dengan ISPA yang tertinggi terjadi pada
kelompok umur 1-4 tahun yaitu sebesar 25,8 %. Sedangkan periode
prevalensi ISPA pada anak usia 5-14 tahun adalah 15,4 % (Riskesdas,
2013) dan persentase ini meningkat jika dibandingkan dengan periode
prevalensi ISPA pada tahun 2007 yaitu sebesar 9,2 % (Riskesdas, 2007).
Periode prevalensi ISPA di provinsi Bangka Belitung pada pasien yang
hanya terdiagnosis adalah 9,2 % dan pasien yang terdiagnosis serta
menunjukkan gejala yaitu 23,4 % (Riskesdas, 2013). Sedangkan untuk
prevalensi pneumonia pada balita menurut data statistik Riskesdas 2013
provinsi Bangka Belitung menduduki urutan tertinggi ke 3 setelah Nusa
Tenggara Timur dan Aceh dengan persentase 34,8 %. Menurut data dari

1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


2

Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Tengah tahun 2014 penyakit ISPA


merupakan salah satu dari 10 penyakit yang paling banyak dan menempati
urutan pertama dengan jumlah kasus sebanyak 13.134 yang terdiri dari 6205
kasus pada laki-laki dan 6929 kasus pada perempuan. Pada tahun 2014,
jumlah kasus pneumonia pada balita adalah 878 anak dari 19.030 balita.
(Dinkes Kabupaten Bangka Tengah, 2014)
Drug Related Problems (DRPs) merupakan suatu kejadian yang
tidak diharapkan dari pengalaman pasien atau diduga akibat terapi obat
sehingga potensial mengganggu keberhasilan penyembuhan yang
dikehendaki (Cipolle et al., 1998). Obat dikatakan rasional jika
penggunaannya tepat, efektif, aman dan ekonomis (IONI, 2008). Menurut
Cipolle et al., (1998) Drug Related Problems (DRPs) dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa kategori yaitu kurang dosis, dosis lebih,
salah obat, terapi yang tidak perlu, efek samping yang merugikan, butuh
terapi tambahan serta kepatuhan pasien. Berdasarkan data dari Medication
Management System dari 22.694 pasien yang menerima pengobatan
terdapat 88.556 kasus DRP yang terbagi atas 58,3 % pasien yang
membutuhkan terapi tambahan, 13,5 % menerima terapi yang tidak perlu,
19,1 % pasien membutuhkan terapi yang berbeda, 36,6 % pasien
mendapatkan terapi dengan dosis rendah, 14,6 % pasien mendapatkan
terapi dengan dosis tinggi, 26,5 % pasien mengalami efek samping obat
yang tidak diinginkan dan 28 % terkait masalah ketidakpatuhan pasien
(Cipolle et al., 1998).
Pengobatan yang efektif dan efisien dengan memberikan obat secara
rasional pada pasien ISPA merupakan hal yang penting untuk mengontrol
meningkatnya jumlah penderita ISPA pada pasien anak-anak. Namun pada
kenyataannya masih terdapat kesalahan-kesalahan dalam pemberian obat
kepada pasien terutama pada pasien anak-anak, sehingga hal ini memicu
terjadinya permasalahan terkait obat (Drug Related Problems). Hal ini
dibuktikan melalui penelitian mengenai DRPs pada pasien anak penderita
ISPA di instalasi rawat inap rumah sakit “X” Surakarta pada tahun 2012,
dimana sebanyak 100 pasien anak yang memenuhi kriteria inklusi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


   
3

menunjukkan kejadian DRPs kategori interaksi obat sebanyak 51 kasus


(43,59 %), dosis kurang sebanyak 40 kasus (34,19 %), dosis lebih
sebanyak 26 kasus (22,2 %) dan tidak ditemukannya DRPs kategori obat
salah dari total obat yang dianalisis. Kejadian kesalahan dalam pengobatan
serta resiko kesalahan yang serius lebih sering terjadi pada anak dibanding
pada orang dewasa. (Istikomah, 2013). Hal itu disebabkan dengan masalah
perhitungan dosis, tidak adanya standar dosis bagi pasien anak, tidak
terdapat bentuk sediaan dan formulasi yang sesuai serta penggunaan
indikasi maupun dosis obat secara off-licence (Prest, 2003).
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa kejadian DRPs
pada pasien masih terjadi pada anak-anak. Oleh karena itu, pentingnya
pendidikan untuk dokter dan tenaga medis tentang farmakologi dan
farmakokinentik pada anak-anak harus diterapkan untuk peresepan obat
(Rashed et al., 2012). Selain itu farmasis juga harus memiliki pengetahuan
tentang penggunaan obat pada anak-anak agar dapat memberikan saran
yang tepat bagi dokter, perawat, ataupun tenaga medis lainnya maupun
orang tua anak (Prest, 2003).Hal ini dilakukan untuk meminimalisir
terjadinya DRPs pada pasien terutama pada pasien anak-anak penderita
ISPA. Menurut Permenkes RI No. 58 tahun 2014 tentang standar
pelayanan kefarmasian di rumah sakit disebutkan bahwa  pelayanan
kefarmasian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi,
mencegah, dan menyelesaikan masalah terkait obat. Selain itu dijelaskan
juga bahwa adanya perluasan dari paradigma lama yang berorientasi
kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang berorientasi
pada pasien (patient oriented) dengan filosofi Pelayanan Kefarmasian
(pharmaceutical care).  Hal ini bermaksud untuk meningkatkan kualitas
hidup pasien serta meminimalisir terjadinya kesalahan dalam pengobatan
atau yang dikenal dengan kejadian DRPs. Oleh karena itu, penelitian ini
dilakukan untuk mengevaluasi terapi ISPA pada pasien pediatri di salah
satu rumah sakit daerah Bangka terhadap kemungkinan terjadinya Drug
Related Problems (DRPs).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


   
4

Permasalahan yang diambil dari penelitian ini adalah jenis Drug


Related Problems (DRPs) apa yang sering terjadi serta berapa jumlah
kejadian masing-masing DRPs tersebut dalam terapi ISPA di salah satu
rumah sakit daerah Bangka yang dilihat dari data rekam medik pasien.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Belum adanya penelitian terkait DRPs pada pasien ISPA di salah
satu rumah sakit daerah Bangka
1.2.2. Peneliti ingin mengetahui apakah terjadi DRPs pada pengobatan
ISPA untuk pasien pediatri di salah satu rumah sakit daerah Bangka
1.2.3. Peneliti ingin mengetahui kategori DRPs yang terjadi DRPs pada
pengobatan ISPA untuk pasien pediatri di salah satu rumah sakit
daerah Bangka serta berapa jumlah dan presentase kejadian dari
masing-masing kategori DRPs

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk:
Mengidentifikasi Drug Related Problems (DRPs) kategori dosis rendah,
dosis tinggi, indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi, potensi interaksi obat
serta ketidaktepatan pemilihan obat pada pengobatan ISPA untuk pasien
pediatri di salah satu rumah sakit daerah Bangka

1.3.2. Tujuan Khusus


a. Untuk mengetahui profil penggunaan obat yang digunakan pada
pasien pediatri penderita ISPA di salah satu rumah sakit daerah
Bangka yang diamati dari data rekam medik pasien
b. Untuk mengetahui jenis Drug Related Problems (DRPs) yang terjadi
pada pasien pediatri penderita ISPA di salah satu rumah sakit daerah
Bangka dari 6 kategori DRPs yang diteliti
c. Untuk mengetahui jumlah dan persentase kejadian masing-masing
DRPs tersebut dalam pengobatan ISPA untuk pasien pediatri di salah
satu rumah sakit daerah Bangka

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


   
5

1.4. Manfaat Penelitian


Hasil dari penelitian ini diharapkan:
a. Dapat memberikan informasi mengenai permasalahan terkait obat
(Drug Related Problems) pada pengobatan ISPA untuk pasien pediatri
di salah satu rumah sakit daerah Bangka.
b. Dapat menjadi bahan pertimbangan, saran ataupun informasi bagi
dokter, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya dalam meningkatkan
ketepatan indikasi, pemilihan obat, regimen dosis, dan lama
penggunaan obat pada pasien ISPA pediatri di salah satu rumah sakit
daerah Bangka sehingga diperoleh pengobatan yang efektif, aman,
dan efisien.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


   
 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pelayanan Kefarmasian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk


mengidentifikasi, mencegah, dan menyelesaikan masalah terkait obat. Pelayanan
kefarmasian pada saat ini telah diperluas orientasinya dari obat (drug oriented) ke
pasien (patient oriented) yang mengacu kepada Pharmaceutical Care. Pelayanan
Kefarmasian (Pharmaceutical Care) adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan
tujuan agar mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien
(Permenkes RI, 2014).
Farmasis dalam kaitannya dengan Pharmaceutical care harus memastikan
bahwa pasien mendapatkan terapi obat yang tepat dan efisien serta aman. Hal ini
melibatkan tiga fungsi umum yaitu:

a. Mengidentifikasi DRPs yang terjadi dan yang potensial terjadi


b. Mengatasi DRPs yang terjadi
c. Mencegah terjadinya DRPs yang potensial terjadi. (Rovers et al,
2003)

2.1. Literatur Review


Berikut ini adalah beberapa penelitian-penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya terkait DRPs pada pasien pediatri penderita ISPA
serta data mengenai kejadian Medication Errors pada pasien pediatri yang
menjadi dasar peneliti untuk melakukan penelitian tentang DRPs pada
pasien ISPA di salah satu rumah sakit di Bangka.
a. Penelitian yang pertama mengenai DRPs pada pasien pediatri yang
dilakukan oleh Istikomah (2013) di instalasi rawat inap dari salah satu
rumah sakit di Surakarta pada tahun 2012. Penelitian ini bersifat non
eksperimental dengan rancangan penelitian deskriptif dan
pengambilan data secara retrospektif. Dari 138 kasus pasien ISPA
rawat inap, terdapat 100 kasus pasien pediatri yang memenuhi kriteria
inklusi, yaitu pasien pediatri umur 2-12 tahun yang tercatat menderita

  6  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


 
7
 

ISPA meliputi sinusitis, faringitis, bronkhiolitis dan pneumonia, serta


pasien rawat inap yang mendapatkan terapi pengobatan di RS “ X “
Surakarta tahun 2012. Pengambilan data menggunakan teknik
purposive sampling. Analisis kejadian DRPs dilakukan dengan
membandingkan hasil dengan buku standar secara deskriptif. Hasil
penelitian dari 100 kasus pasien anak yang memenuhi kriteria inklusi
menunjukkan kejadian DRPs kategori interaksi obat sebanyak 51
kasus (43,59 %), dosis kurang sebanyak 40 kasus (34,19 %), dosis
lebih sebanyak 26 kasus (22,22 %), dan tidak ditemukannya kategori
DRPs obat salah dari total obat yang dianalisis.
b. Penelitian yang kedua dilakukan oleh Dewi (2012) tentang studi
prevalensi drug related problem (DRPs) terapi penyakit ISPA pada
pasien pediatri yang dilakukan di salah satu rumah sakit di daerah
Yogyakarta periode Januari – Desember 2010. Prevalensi drug related
problem (DRPs) yang diamati adalah kategori pemilihan obat yang
tidak tepat, ketidaktepatan dosis dan interaksi obat pada terapi
penyakit ISPA pada pasien pediatri. Metode penelitian dilakukan
dengan menggunakan rancangan studi cross sectional dengan
pengumpulan data secara retrospektif di unit rekam medis. Penilaian
prevalensi DRPs menggunakan literatur yang sesuai. Hasil penelitian
dari 119 pasien menunjukkan bahwa 52,52 % kasus pemilihan
antibiotik yang tidak tepat, 5,45 % kasus pemilihan obat yang tidak
tepat, 0,25 % kasus ketidaktepatan dosis dan 6,72 % kasus interaksi
obat yang terjadi pada pasien pediatri di RS X daerah Yogyakarta.
c. Penelitian ketiga dilakukan oleh Dwiprahasto (2005: 204-211) tentang
studi penggunaan obat untuk ISPA pada anak usia kurang dari 10
tahun. Penelitian ini dilakukan di praktek dokter umum dan seluruh
apotek di Provinsi DIY. Dengan rancangan studi cross sectional,
untuk data pasien dan pengukuran kecepatan respirasi dikumpulkan
dari praktek swasta sedangkan data peresepan dikumpulkan dari
seluruh apotek di Provinsi DIY. Hasil dari penelitian ini diperoleh data
bahwa 60 % anak dengan ISPA mendapat obat dengan dosis yang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
8
 

tidak tepat, yaitu dosis berlebih sebanyak 27,51 % dan dosis kurang
41,12 %. Pemberian obat dalam sediaan yang tidak tepat ditemukan
pada 24,07 % resep. Selain itu pada penelitian ini juga ditemukan
bahwa seperlima penderita ISPA mendapat obat dengan frekuensi
pemberian yang keliru.
d. Penelitian keempat dilakukan oleh Rashed, et al (2013: 873-879)
dengan judul penelitian Epidemiology And Potential Risk Factors Of
Drug-Related Problems In Hong Kong Paediatric Wards, dimana
tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui epidemiologi dan
mengidentifikasi faktor risiko DRPs pada anak-anak dirawat di rumah
sakit di Hong Kong. Penelitian ini merupakan studi kohort prospektif
pada anak usia 0-18 tahun yang dirawat di bangsal medis, unit
perawatan intensif anak atau unit perawatan intensif neonatal dari
tujuh rumah sakit di Hong Kong, selama periode 3 bulan. Grafik
pasien, catatan medis dan data laboratorium dicek setiap hari untuk
mengidentifikasi DRPs. Berdasarkan penelitian diperoleh 329 anak-
anak (usia rata-rata 2 tahun, kisaran interkuartil 0 bulan-9 tahun) yang
memenuhi kriteria inklusi, terdapat 82 DRPs yang terjadi pada 69
pasien. DRPs yang paling banyak terjadi adalah kategori
ketidaktepatan dosis (n= 35; 42,7 %), diikuti masalah ketidaktepatan
pemilihan obat (n= 19; 23,2 %) dan reaksi obat merugikan (n= 11;
13,4 %).
e. Penelitian kelima dilakukan oleh Nori, et al (2014: 534-538) dengan
judul penelitian Drug Related Problems in Sulaimani Pediatric
Teaching Hospital, Iraq. Penelitian ini bersifat prospektif yang
meneliti tentang masalah terkait obat (DRPs) di Rumah Sakit Anak
Pendidikan Sulaimani, daerah Kurdistan, Irak. Resep obat dari dokter
terbaru yang dievaluasi dari tanggal 6 Februari-10 Juni 2013. Dengan
menggunakan kuesioner khusus yang terstandar untuk
mengidentifikasi jenis kesalahan pengobatan yang muncul di lembar
tindak lanjut dari pasien anak dan dipilih secara acak, serta dirawat di
rumah sakit karena penyebab yang berbeda. Pertanyaan dijawab oleh

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
9
 

orang tua pasien, diperoleh lebih dari 500 resep obat ditinjau dan
terdapat 499 kesalahan pengobatan (85 %). Jenis yang paling umum
dari kesalahan pengobatan adalah dosis yang salah 33 %, resep yang
tidak lengkap 29 %, 6% untuk interaksi obat, 4 % untuk efek samping,
2 % untuk interval dosis yang salah, durasi yang salah terapi dan
keterlambatan dalam pelayanan, dan 1 % karena kelalaian obat. Jenis
yang paling umum dari resep tidak lengkap adalah dosis (53 %) dan
bentuk sediaan (18 %).
f. Berdasarkan database dari USP MEDMARX pada tahun 2006-2007
menunjukkan bahwa 2,5 % dari medication error pada pasien pediatri
berpotensi membahayakan nyawa pasien. Jenis medication errors
yang terjadi yang berpotensi membahayakan pasien pediatri adalah
penggunaan dosis yang tidak tepat sebanyak 37,5 %, salah obat
sebanyak 13,7 %, omission error sebanyak 19,9 %, dan peresepan
obat yang salah sebanyak 9,4 % yang diikuti dengan kesalahan teknik
pemberian obat, salah waktu pemberian obat, penyiapan obat yang
tidak tepat, salah bentuk sediaan obat dan salah rute pemberian obat.
g. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh GS. Takata et al (2008:
e927-e935) tentang pengembangan, pengujian dan penemuan alat
pemicu untuk identifikasi bahaya terkait pengobatan pada pasien anak
di rumah sakit USA (United State of America). Jenis bahaya terkait
pengobatan yang diteliti adalah kejadian efek samping obat.
Penelitian ini dilakukan pada 80 pasien dari masing-masing bagian
dipilih secara acak untuk dilakukan review chart secara retrospektif.
Diperoleh hasil bahwa pada populasi pasien pediatri rawat inap
mengalami efek samping obat sebanyak 11,1 %. Penelitian ini juga
menunjukkan bahwa 22 % dari kejadian efek samping obat yang dapat
dicegah, 17,8 % bisa diidentifikasi sebelumnya, dan 16,8 % bisa saja
dikurangi secara lebih efektif.
Penelitian-penelitian tersebut menjadi salah satu landasan peneliti
untuk melakukan penelitian tentang DRPs pada terapi untuk pasien
pediatri penderita ISPA.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
10
 

2.2. Drug Related Problem (DRPs)


Drug Related Problems (DRPs) adalah kejadian yang tidak
diharapkan, berupa pengalaman pasien yang melibatkan atau diduga
melibatkan terapi obat yang potensial mengganggu keberhasilan
penyembuhan yang diharapkan (Cipolle et al, 1998). Pharmaceutical Care
Network Europe mendefinisikan masalah terkait obat (DRPs) adalah suatu
peristiwa atau kejadian yang melibatkan terapi obat yang benar-benar atau
berpotensi mengganggu hasil klinis kesehatan yang diinginkan (PCNE,
2010). Identifikasi DRPs menjadi fokus penilaian dan pengambilan
keputusan terakhir dalam tahap proses patient care (Cipolle et al, 2004).
Ada dua jenis DRPs yaitu DRPs aktual dan DRPs potensial. DRPs
aktual adalah DRPs yang sudah terjadi sehingga farmasis wajib
mengambil tindakan untuk memperbaikinya. Sedangkan DRPs potensial
dikarenakan resiko yang sedang berkembang jika farmasis tidak turun
tangan (Rovers, J. P., et al., 2003).
Ada dua komponen penting dalam DRPs yaitu:
a. Kejadian atau resiko yang tidak diharapkan yang dialami oleh pasien.
Kejadian ini dapat diakibatkan oleh kondisi ekonomi, psikologi,
fisiologis, atau sosiokultural pasien.
b. Ada hubungan atau diduga ada hubungan antara kejadian yang tidak
diharapkan yang dialami oleh pasien dengan terapi obat. Hubungan
ini meliputi konsekuensi dari terapi obat sehingga penyebab/diduga
sebagai penyebab kejadian tersebut,atau dibutuhkannya terapi obat
untuk mencegah kejadian tersebut.

2.2.1. Klasifikasi Drug Related Problems


Menurut Cipolle, R. J., et al. (1998), DRPs dikategorikan ke dalam
7 kelompok yaitu ketidaktepatan pemilihan obat, dosis rendah, dosis
tinggi, butuh terapi tambahan (indikasi tanpa obat), terapi yang tidak perlu
(obat tanpa indikasi), efek samping yang merugikan, serta kepatuhan
pasien.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
11
 

2.2.1.1. Ketidaktepatan Pemilihan Obat


Ketidaktepatan pemilihan obat merupakan keadaan dimana pasien
telah diresepkan obat yang tidak tepat. Pertama, terapi obat yang
digunakan untuk mengobati kondisi medis pasien tidak efektif. Kedua,
obat yang diterima pasien bukan merupakan obat yang paling efektif.
Ketiga, pasien mempunyai kontraindikasi atau menimbulkan alergi
terhadap obat yang diterima. Keempat, pasien menerima kombinasi obat
yang sama efektifnya dengan terapi obat tunggal. Kelima, pasien
menerima obat yang lebih mahal bukan obat yang lebih murah dan
memiliki efektivitas yang sama (Mahmoud, 2008).

2.2.1.2. Dosis Rendah


Dosis rendah dapat menyebabkan terjadinya DRPs, hal ini
dikarenakan dosis tidak cukup atau terlalu rendah untuk menghasilkan
respon yang diinginkan sehingga obat tersebut tidak memberikan efek
yang seharusnya. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian dosis obat oleh
apoteker klinis yang memperhitungkan semua obat yang tepat, penyakit
dan informasi spesifik pasien dapat menurunkan jumlah masalah dosis
pada pasien. Selain itu, parameter seperti usia dan berat badan sering dapat
berguna untuk membantu dalam menentukan dosis obat yang optimal
untuk pasien (Mahmoud, 2008).
Penyebab dosis rendah, seperti frekuensi pemberian dosis yang tidak
sesuai, jarak dan waktu pemberian terapi obat terlalu singkat,
penyimpanan obat yang tidak sesuai (misalnya, menyimpan obat di tempat
yang terlalu panas atau lembab, menyebabkan degradasi bentuk sediaan
dan dosis subterapi), pemberian obat yang tidak sesuai dan interaksi obat
(Mahmoud, 2008).

2.2.1.3. Dosis Tinggi


Seperti yang dinyatakan oleh Cipolle, R. J., et al. (1998), ketika
seorang pasien menerima dosis obat yang terlalu tinggi dan mengalami
efek toksik yang tergantung dosis atau konsentrasi menunjukkan pasien
mengalami DRPs. Penyebab terjadinya yaitu ketika dosis obat dinaikkan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
12
 

cepat, frekuensi pemberian, durasi terapi, cara pemberian obat pada pasien
yang tidak tepat, dan konsentrasi obat diatas kisaran terapi (Cipolle, et al,
1998).

2.2.1.4. Indikasi Tanpa Obat


Indikasi tanpa obat adalah terjadi ketika pasien mengalami
gangguan medis baru yang memerlukan terapi obat, pasien menderita
penyakit kronis lain sehingga membutuhkan terapi obat lanjutan, pasien
membutuhkan kombinasi obat untuk memperoleh efek sinergis, pasien
berpotensi untuk mengalami resiko gangguan penyakit baru yang dapat
dicegah dengan penggunaan terapi obat profilaksis atau premedikasi
(Mahmoud, 2008).

2.2.1.5. Obat Tanpa Indikasi


Obat tanpa indikasi terjadi ketika seorang pasien mengambil terapi
obat yang tidak perlu, yang indikasi klinisnya tidak ada pada saat itu. Ada
beberapa penyebab obat tanpa indikasi (Mahmoud, 2008).
Pertama, kondisi medis dapat lebih tepat diobati dengan terapi tanpa
obat seperti diet, olahraga atau operasi. Kedua, pasien mungkin pada terapi
obat untuk mengobati Adverse Drug Reactions (ADR) yang disebabkan
obat lain. Ketiga, penyalahgunaan narkoba, tembakau dan konsumsi
alkohol semua mungkin menyebabkan masalah. Keempat, terapi obat
kombinasi dapat digunakan untuk mengobati kondisi yang hanya
membutuhkan terapi obat tunggal. Sebagai contoh, beberapa pasien
menerima lebih dari satu pencahar untuk pengobatan sembelit; beberapa
pasien menerima lebih dari satu antidiare untuk pengobatan diare; dan
beberapa pasien menerima lebih dari satu analgesik untuk pengobatan
nyeri (Mahmoud, 2008).

2.2.1.6. Reaksi Obat yang Merugikan


Reaksi obat yang merugikan merupakan efek negatif yang tidak
diinginkan yang disebabkan oleh obat-obatan yang tidak dapat diprediksi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
13
 

berdasarkan konsentrasi dosis atau tindakan farmakologis (Mahmoud,


2008).
Menurut WHO, reaksi obat yang merugikan (Adverse Drug
Reactions/ADR) digambarkan sebagai respon terhadap obat yang tidak
diinginkan dan berbahaya, yang terjadi pada dosis yang biasanya
digunakan untuk profilaksis, diagnosis atau terapi penyakit, atau untuk
modifikasi fungsi fisiologis (Mahmoud, 2008).
Seorang pasien dapat mengalami ADR karena pemberian obat yang
tidak aman, reaksi alergi, pemberian obat yang salah, interaksi obat,
penurunan atau peningkatan dosis yang cepat atau efek yang tidak
diinginkan dari obat yang tidak bisa diprediksi. Misalnya, pendarahan
karena dosis yang lebih tinggi dari obat antikoagulan seperti warfarin atau
heparin merupakan ADR (Mahmoud, 2008).
Interaksi obat salah satu masalah terkait obat (drug related
problems) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan terapi obat
yang dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Sebuah interaksi obat
terjadi ketika farmakokinetika atau farmakodinamika obat dalam tubuh
berubah dengan adanya satu atau lebih zat yang berinteraksi (Piscitelli,
2005).
Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat
meningkatkan toksisitas dan atau mengurangi efektivitas obat yang
berinteraksi terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang
sempit (indeks terapi yang rendah), misalnya glikosida jantung,
antikoagulan, dan obat-obat sitostatik (Setiawati, 2007).
Secara umum, ada dua mekanisme interaksi obat yaitu interaksi
farmakokinetik dan interaksi farmakodinamik. Interaksi farmakokinetik
terjadi ketika suatu obat mempengaruhi absorbsi, distribusi, metabolisme
dan ekskresi obat lainnya sehingga meningkatkan atau mengurangi jumlah
obat yang tersedia untuk menghasilkan efek farmakologisnya (BNF 58,
2009).
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi yang terjadi antara obat
yang memiliki efek farmakologis, antagonis atau efek samping yang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
14
 

hampir sama. Interaksi ini dapat terjadi karena kompetisi pada reseptor
atau terjadi antara obat-obat yang bekerja pada sistem fisiologis yang
sama. Interaksi ini biasanya dapat diprediksi dari pengetahuan tentang
farmakologi obat-obat yang berinteraksi (BNF 58, 2009).
Keparahan interaksi obat diberi tingkatan dan dapat diklasifikasikan
ke dalam tiga level: minor, moderate, atau major.
1. Keparahan minor
Sebuah interaksi termasuk ke dalam keparahan minor jika interaksi
mungkin terjadi tetapi dipertimbangkan signifikan potensial
berbahaya terhadap pasien jika terjadi kelalaian. Contohnya adalah
penurunan absorbsi Siprofloksasin oleh Antasida ketika dosis
diberikan kurang dari dua jam setelahnya (Bailie, 2004).
2. Keparahan moderate
Sebuah interaksi termasuk ke dalam keparahan moderate jika satu dari
bahaya potensial mungkin terjadi pada pasien, dan beberapa tipe
intervensi/monitor sering diperlukan. Efek interaksi moderate
mungkin menyebabkan perubahan status klinis pasien, menyebabkan
perawatan tambahan, perawatan di rumah sakit atau perpanjangan
lama tinggal di rumah sakit. Contohnya adalah dalam kombinasi
Vankomisin dan Gentamisin perlu dilakukan monitoring
nefrotoksisitas (Bailie, 2004).
3. Keparahan major
Sebuah interaksi termasuk ke dalam keparahan major jika terdapat
probabilitas yang tinggi kejadian yang membahayakan pasien
termasuk kejadian yang menyangkut nyawa pasien dan terjadinya
kerusakan permanen (Bailie, 2004). Contohnya adalah perkembangan
aritmia yang terjadi karena pemberian Eritromisin dan Terfenadin
(Piscitelii, 2005).
Berdasarkan signifikansinya, interaksi obat dapat dibagi menjadi lima,
yaitu:
1. Level 1 - Tidak bermakna secara klinis (Not clinically significant)
Interaksi dapat terjadi namun hasilnya tidak signifikan secara klinis.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
15
 

2. Level 2 – Perhatian (Caution)


Interaksi dapat terjadi berdasarkan mekanisme kerja dari obat-obatan
yang digunakan secara bersamaan. Waspada pada peningkatan atau
penurunan dari efek obat, tergantung pada kombinasi obat-obatan.
3. Level 3 – Kecil (Minor)
Efek klinis dari interaksi yang terbatas dan mungkin mengganggu
tetapi biasanya tidak akan membutuhkan perubahan besar pada terapi
pasien. Pasien harus dipantau untuk manifestasi kemungkinan
interaksi.
4. Level 4 – Sedang (Moderat)
Obat-obat yang berinteraksi dapat berpotensi mengakibatkan
memburuknya kondisi pasien. Pasien harus dipantau untuk
manifestasi kemungkinan interaksi. Intervensi medis atau perubahan
terapi mungkin diperlukan.
5. Level 5 – Berat (Major)
Interaksi antara obat-obat ini mungkin mengancam jiwa atau dapat
menyebabkan kerusakan permanen. Obat-obat ini biasanya tidak
digunakan secara bersamaan; intervensi medis mungkin diperlukan.

2.2.1.7. Ketidakpatuhan Pasien


Ketidakpatuhan pasien dapat terjadi ketika pasien menggunakan
obat tidak sesuai dengan aturan yang diberikan dan pasien memiliki
kondisi ekonomi yang tidak mampu sehingga pasien tidak menebus obat
yang telah diresepkan. Kasus ini perlu bantuan farmasis untuk
memberikan informasi obat pada pasien sehingga tercapai efek terapi yang
diinginkan. (Strand, et al, 1990).
Penderita gagal menerima obat dapat disebabkan oleh:
a. Penderita tidak mematuhi aturan yang direkomendasikan dalam
penggunaan obat
b. Penderita tidak menerima pengaturan obat yang sesuai sebagai akibat
kesalahan medikasi (medication error) berupa kesalahan peresepan,
dispensing, cara pemberian atau monitoring yang dilakukan.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
16
 

c. Penderita tidak meminum obat yang diberikan karena


ketidakpahaman
d. Penderita tidak meminum obat yang diberikan karena tidak sesuai
dengan keyakinan tentang kesehatannya.
e. Penderita tidak mampu menebus obat dengan alasan ekonomi.
Pasien yang perlu mendapat perhatian khusus terhadap munculnya
masalah terkait obat apabila berada dalam kondisi khusus, seperti:
a. Penderita hamil/menyusui
b. Penderita gangguan ginjal
c. Penderita gangguan hati
d. Penderita gangguan jantung (stage 3-4)
e. Penderita lanjut usia
f. Penderita anak-anak
g. Penderita sedang berpuasa (Cipolle et al, dikutip dalam Depkes RI,
2005).

2.3. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)


2.3.1. Definisi ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran
pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang
berlangsung kurang lebih 14 hari. ISPA menyerang saluran pernapasan
bagian atas dan bawah secara stimulan atau berurutan (Muttaqin, 2008).
Infeksi Saluran Pernapasan Akut sering disingkat dengan ISPA.
Istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory
Infections (ARI). ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran
pernapasan dan akut dengan pengertian (Yudarmawan, 2012), sebagai
berikut:
a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam
tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala
penyakit.
b. Saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli
beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah
dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernapasan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
17
 

bagian atas, saluran pernapasan bagian bawah (termasuk jaringan


paru-paru) dan organ adneksa saluran pernapasan. Dengan batasan
ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernapasan (respiratory
tract).
c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari.
Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun
untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses
ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.
Menurut WHO (2007), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
didefinisikan sebagai penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan
oleh agen infeksius yang ditularkan dari manusia ke manusia. Timbulnya
gejala biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam sampai beberapa
hari.
Menurut Depkes RI (2005), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau
lebih dari saluran napas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli
(saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga
telinga tengah dan pleura.

2.3.2. Klasifikasi ISPA


Infeksi saluran pernapasan akut memiliki berbagai macam jenisnya.
Berdasarkan letaknya terbagi menjadi infeksi di saluran pernapasan atas,
sindrom croup (terdiri dari epiglotis, laring dan trakea), dan saluran
pernapasan bawah (terdiri dari bronkus dan bronkiolus. Infeksi saluran
pernapasan atas terdiri dari pilek (nasofaring), faringitis, influenza.
Sindrom croup terdiri dari laringitis akut, laringitis spasmodik akut,
epiglotitis akut, dan trakeitis akut. Infeksi saluran pernapasan bawah terdiri
dari bronkhitis pneumonia, TBC, dan aspirasi substansi asing (Wong,
2008).
ISPA diklasifikasikan menjadi infeksi saluran pernapasan atas dan
bawah.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
18
 

a. Infeksi saluran pernapasan atas


1. Batuk pilek
2. Sinusitis
3. Tonsilitis
4. Faringitis
5. Laringitis
6. Otitis Media
b. Infeksi saluran pernapasan bawah
1. Bronkhitis
2. Bronkhiolitis
3. Pneumonia
4. Tuberkulosis
5. Komplikasi
Berdasarkan Program Pemberantasan ISPA (P2-ISPA)
pengklasifikasian ISPA menjadi 2 kelompok umur yaitu golongan umur
dibawah 2 bulan dan golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun. Klasifikasi
penyakit untuk golongan umur kurang 2 bulan, ada 2 klasifikasi penyakit
yaitu: pneumonia berat dan bukan pneumonia. Untuk golongan umur
2 bulan sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu: pneumonia berat,
pneumonia, dan bukan pneumonia (Misnadiarly, 2008).
a. Golongan Umur Kurang 2 Bulan
1. Pneumonia Berat
Bila disertai salah satu tanda tarikan kuat di dinding pada bagian
bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur
kurang 2 bulan yaitu 6x per menit atau lebih.
2. Bukan Pneumonia (Batuk Pilek Biasa)
Bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah
atau napas cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur kurang
2 bulan, yaitu:
a. Kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun sampai
kurang dari ½ volume yang biasa diminum)
b. Kejang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
19
 

c. Kesadaran menurun
d. Wheezing
e. Demam/dingin.
b. Golongan Umur 2 Bulan-5 Tahun
1. Pneumonia Berat
Bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan di dinding dada
bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik nafas (pada saat
diperiksa anak harus dalam keadaan tenang, tidak menangis atau
meronta).
2. Pneumonia Sedang
Bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah:
a. Untuk usia 2 bulan-12 bulan = 50 kali per menit atau lebih
b. Untuk usia 1-4 tahun = 40 kali per menit atau lebih.
3. Bukan Pneumonia
Bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak
ada napas cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur
2 bulan-5 tahun yaitu:
a. Tidak bisa minum
b. Kejang
c. Kesadaran menurun
d. Stridor
e. Gizi buruk
Klasifikasi ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah :
a. ISPA Ringan
Seseorang yang menderita ISPA ringan apabila ditemukan gejala
batuk, pilek dan sesak.
b. ISPA Sedang
ISPA sedang apabila timbul gejala sesak nafas, suhu tubuh lebih dari
39⁰ C dan bila bernafas mengeluarkan suara seperti mengorok.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
20
 

c. ISPA Berat
Gejala meliputi: kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak teraba,
nafsu makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru (sianosis) dan
gelisah.

2.3.3. Tonsilitis
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan
bagian dari cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar
limfa yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu: tonsil faringeal
(adenoid), tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal
lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring atau Gerlach’s
tonsil) (Soepardi, Effiaty Arsyad, et al. 2007).
Penyebab utama tonsilitis adalah kuman golongan streptokokus
(Streptococcus α, Streptococcus ß hemolycitus, Streptococcus viridians
dan Streptococcus pyogeneses), penyebab yang lain yaitu infeksi virus
(influenza, serta herpes) (Nic dan Noc,2008). 
Macam-macam tonsillitis ( Soepardi, Effiaty Arsyad,et al ,2007 )
yaitu:
a. Tonsilitis Akut
 Tonsilitis viral
Tonsilitis dimana gejalanya lebih menyerupai commond cold
yang disertai rasa nyeri tenggorok. Penyebab yang paling sering
adalah virus Epstein Barr.
 Tonsilitis bakterial
Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman Grup A
Streptococcus beta hemoliticus yang dikenal sebagai Strept
throat, Pneumococcus, Streptococcus viridian dan Streptococcus
piogenes. Detritus merupakan kumpulan leukosit bakteri yang
mulai mati.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
21
 

b. Tonsilitis Membranosa
 Tonsilitis Difteri
Penyebab yaitu oleh kuman Coryne bacterium diphteriae, kuman
yang termasuk gram positif dan hidung disalurkan napas bagian
atas yaitu hidung, faring dan laring.
 Tonsilitis Septik
Penyebab Streptococcus hemoliticus yang terdapat dalam susu
sapi sehingga menimbulkan epidemi. Oleh karena itu, di
Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan cara pasteurisasi
sebelum di minum maka penyakit ini jarang di temukan.
 Angina Plaut Vincent
Tonsilitis yang disebabkan karena bakteri Spirochaeta atau
Triponema yang didapatkan pada penderita dengan higiene mulut
yang kurang dan defisiensi vitamin C.
c. Tonsilitis Kronik
Tonsilitis kronik timbul karena rangsangan yang menahun dari rokok,
beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca,
kelelahan fisik, dan pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.

Gambar 2.1. Anatomi Tonsil (Price, 2006)


2.3.3.1. Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya tonsilitis adalah:
- Eksposi kepada orang yang terinfeksi;

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
22
 

- Eksposi kepada asap rokok;


- Paparan asap beracun, asap industri dan polusi udara lainnya;
- Pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat
- Kanak-kanak; remaja dan orang dewasa berusia 65 tahun ke atas;
- Stres;
- Mulut yang tidak higiene
- Kondisi ko-morbid yang mempengaruh sistem imun seperti hayfever,
alergi ,kemoterapi, infeksi Epstein-barr virus (EBV), infeksi Herpes
Simplex Virus (HSV), infeksi Sitomegalovirus (CMV) dan infeksi
Human Immune Virus (HIV) atau Acquired Immune Deficiency
Syndrome (AIDS) (Sasaki, 2008; Jain et al., 2001; Lewy, 2008)
- Jenis kelamin, lebih sering terjadi pada wanita (Abouzied, 2010).

2.3.3.2. Patofisiologi
Bakteri atau virus masuk ke tubuh melalui hidung atau mulut. Tonsil
berperan sebagai filter yang menyelimuti bakteri ataupun virus yang
masuk dan membentuk antibodi terhadap infeksi. Kuman menginfiltrasi
lapisan epitel, bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superfisial
mengadakan reaksi. Terdapat pembendungan radang dengan infiltrasi
leukosit polimorfonuklear. Proses ini secara klinik tampak pada korpus
tonsil yang berisi bercak kuning yang disebut detritus. Detritus merupakan
kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang terlepas, suatu tonsilitis akut
dengan detritus disebut tonsilitis falikularis. Pada tonsilitis akut dimulai
dengan gejala sakit tenggorokan ringan hingga menjadi parah. Pasien
hanya mengeluh merasa sakit tenggorokannya sehingga sakit menelan dan
demam tinggi (39⁰C-40⁰C). Sekresi yang berlebih membuat pasien
mengeluh sakit menelan, tenggorokan akan terasa mengental. (Charlene J.
Reeves, 2001).
Namun apabila penjamu memiliki kadar imunitas yang tinggi
terhadap infeksi virus atau bakteri, maka tidak akan terjadi kerusakan
tubuh ataupun penyakit. Sebaliknya jika belum ada imunitas maka akan
terjadi penyakit (Arwin, 2010).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
23
 

Sistem imun selain melawan mikroba dan sel mutan, sel imun juga
membersihkan debris sel dan mempersiapkan perbaikan jaringan
(Sherwood, 2001).
Tonsilitis kronik dapat terjadi karena proses radang yang berulang
sehingga menyebabkan epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis.
Akibatnya pada proses penyembuhan, jaringan limfoid diganti jaringan
parut. Jaringan ini akan mengkerut sehingga ruang antara kelompok
melebar (kriptus) yang akan diisi oleh detritus (Iskandar N,1993).

2.3.3.3. Gejala Tonsilitis


Gejala klinis tonsilitis menurut Effiaty Arsyad Soepardi, et al, (2007)
adalah:
 Gejala lokal, yang bervariasi dari rasa tidak enak di tenggorok, sakit
tenggorok, sulit sampai sakit menelan.
 Gejala sistemis, seperti rasa tidak enak badan atau malaise, nyeri
kepala, demam subfebris, nyeri otot dan persendian.
 Gejala klinis, seperti tonsil dengan debris di kriptenya (tonsilitis
folikularis kronis), edema atau hipertrofi tonsil (tonsilitis
parenkimatosa kronis), tonsil fibrotik dan kecil (tonsilitis fibrotik
kronis), plika tonsilaris anterior hiperemis dan pembengkakan
kelenjar limfe regional. Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar
dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar dan beberapa
kriptus terisi oleh detritus. Rasa ada yang mengganjal di tenggorokan,
dirasakan kering di tenggorokan dan nafas berbau.

2.3.3.4. Pemeriksaan
Pada pemeriksaan pada tonsil akan terlihat tonsil hipertrofi, tetapi
kadang-kadang atrofi, hiperemi dan edema yang tidak jelas. Terdapat
detritus atau detritus baru tampak jika tonsil ditekan dengan spatula lidah.
Kelenjar leher dapat membesar tetapi tidak terdapat nyeri tekan (Herawati
dan Rukmini S, 2003).
Ukuran tonsil pada tonsilitis kronik dapat membesar (hipertrofi) atau
atrofi. Pembesaran tonsil dapat dinyatakan dalam ukuran T1-T4.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
24
 

Pembagian ukuran pembesaran tonsil menurut Cody dan Thane (1993)


adalah sebagai berikut:
- T1 = batas medial tonsil melewati pilar anterior sampai ¼ jarak pilar
anterior-uvula
- T2 = batas medial tonsil melewati ¼ jarak pilar anterior-uvula sampai
½ jarak pilar anterior-uvula
- T3 = batas medial tonsil melewati ½ jarak pilar anterior-uvula sampai
¾ jarak pilar anterior-uvula
- T4 = batas medial tonsil melewati ¾ jarak pilar anterior-uvula atau
lebih.
Fokal infeksi pada tonsil dapat diperiksa dengan beberapa tes. Dasar
dari tes-tes ini adalah adanya kuman yang bersarang pada tonsil dan
apabila tes dilakukan, terjadi transportasi bakteri, toksin bakteri, protein
jaringan fokal, material limfosit yang rusak ke dalam aliran darah ataupun
akan terjadi bakterimia yang dapat menimbulkan kenaikan pada jumlah
leukosit dan LED. Dalam keadaan normal jumlah leukosit darah berkisar
antara 4000-10000/mm3 darah. Tes yang dapat dilakukan adalah:
1. Tes masase tonsil: salah satu tonsil digosok-gosok selama kurang
lebih 5 menit dengan kain kasa, jika 3 jam kemudian terjadi kenaikan
leukosit lebih dari 1200/mm3 atau kenaikan laju endap darah (LED)
lebih dari 10 mm dibandingkan sebelum tes dilakukan, maka tes
dianggap positif.
2. Penyinaran dengan UKG: tonsil mendapat UKG selama 10 menit dan
4 jam kemudian diperiksa jumlah leukosit dan LED. Jika terdapat
kenaikan jumlah leukosit lebih dari 2000/mm3 atau kenaikan LED
lebih dari 10 mm dibandingkan sebelum tes dilakukan, maka tes
dianggap positif.
3. Tes hialuronidase: periksa terlebih dahulu jumlah leukosit, LED dan
temperatur oral. Injeksikan hialuronidase ke dalam tonsil. Satu jam
setelah diinjeksi, jika didapati kenaikan temperatur 0,3⁰C, kenaikan
jumlah leukosit lebih dari 1000/mm3 serta kenaikan LED lebih dari 10
mm maka tes ini dianggap positif.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
25
 

Terjadinya peningkatan leukosit karena leukosit akan tertarik terhadap


zat-zat yang dihasilkan kuman dan dilepaskan oleh jaringan yang cedera.
Namun, bakterimia yang terjadi karena rangsang terhadap fokal infeksi
biasanya bersifat sementara sehingga kenaikan jumlah leukosit dan LED
juga bersifat sementara (Siswantoro, 2003).

2.3.3.5. Penatalaksanaan
Tonsilitis yang disebabkan oleh virus harus ditangani secara
simptomatik. Obat kumur, analgetik, dan antipiretik biasanya dapat
membantu. Gejala yang timbul biasanya akan hilang sendiri. Namun
tonsilitis yang disebabkan oleh Streptokokus perlu diobati dengan penisilin
V secara oral, sefalosporin, makrolid, klindamisin, atau injeksi secara
intramuskular penisilin benzatin G. Terapi yang menggunakan penisilin
mungkin gagal (6-23 %), oleh karena itu penggunaan antibiotik tambahan
mungkin akan berguna (Desai et al., 2008).
Terapi antibiotik yang digunakan untuk pasien tonsilitis yang
disebabkan oleh Grup A Streptokokus β-hemolitik berdasarkan guideline
Standard Treatment Guidelines And Essential Medicines List (2013):
 Sebagai aturan umum faringotonsilitis disebabkan oleh GAS
(Grup A Streptokokus ) harus diobati dengan antibiotik
 Jika pengobatan dimulai dini , durasi penyakit dapat
dipersingkat .
 Antibiotik dapat menghambat penyebaran infeksi dan
mengurangi risiko komplikasi .
 Fenoksimetilpenisilin : 500 mg setiap 8 jam selama 10 hari
- dosis maksimum untuk anak-anak kurang dari 10 tahun
250 mg per dosis
- dosis maksimum untuk anak-anak yang lebih dari 10
tahun 500 mg per dosis
ATAU
 Amoksisilin 250-500 mg setiap 8 jam selama 10 hari
ATAU
 Eritromisin ; 250-500 mg setiap 8 jam selama 10 hari ;

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
26
 

Anak-anak sampai 8 tahun 10 mg/kg setiap 8 jam selama 10


hari
ATAU
 Amokisillin + klavulanat asam 625 mg 8 jam selama 10
hari

Tonsilektomi dilakukan bila terjadi infeksi yang berulang atau kronik,


gejala sumbatan serta kecurigaan neoplasma (Soepardi et al., 2007).
Tonsilektomi merupakan tindakan pembedahan yang paling sering
dilakukan pasa pasien dengan tonsilitis kronik, yaitu berupa tindakan
pengangkatan jaringan tonsila palatina dari fossa tonsilaris. Tetapi
tonsilektomi dapat menimbulkan berbagai masalah dan berisiko
menimbulkan komplikasi seperti perdarahan, syok, nyeri pasca
tonsilektomi, maupun infeksi (Amarudin dan Christanto, 2007).
Menurut Firman S (2006) pengangkatan tonsil (tonsilektomi)
dilakukan jika:
- Tonsilitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih/tahun.
- Tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih/tahun dalam
kurun waktu 2 tahun.
- Tonsilitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih/tahun dalam
kurun waktu 3 tahun.
- Tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian
antibiotik.

2.3.4. Faringitis
Faringitis adalah peradangan pada mukosa faring dan sering
meluas ke jaringan sekitarnya. Faringitis biasanya timbul bersama-sama
dengan tonsilitis, rhinitis dan laringitis. Faringitis banyak diderita
anak-anak usia 5-15 tahun di daerah dengan iklim panas. Faringitis
dijumpai pula pada dewasa yang masih memiliki anak usia sekolah atau
bekerja di lingkungan anak-anak. (Bisno Alan et al., 2001)
Penyakit ini juga sering dilihat sebagai inflamasi virus. Namun
juga bisa disebabkan oleh bakteri, seperti Hemolytic streptococcy,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
27
 

Staphylococci atau bakteri lainnya (Reeves, Roux dan Lockhart, 2001).


Faringitis yang paling umum disebabkan oleh bakteri Streptococcus
pyogenes yang merupakan Streptocci Grup A hemolitik. Bakteri lain yang
mungkin terlibat adalah Streptocci Grup C, Corynebacterium diphteriae,
Neisseria gonorrhoeae. Streptococcus hemolitik Grup A hanya dijumpai
ada 15-30 % dari kasus faringitis pada anak-anak dan 5-10 % pada
faringitis dewasa. Penyebab lain yang banyak dijumpai adalah nonbakteri,
yaitu virus-virus saluran napas seperti Adenovirus, Influenza,
Parainfluenza, Rhinovirus dan Respiratory Syncytial Virus (RSV). Virus
lain yang juga berpotensi menyebabkan faringitis adalah Echovirus,
Coxsackievirus, Herpes Simplex Virus (HSV). Epstein Barr Virus (EBV)
seringkali menjadi penyebab faringitis akut yang menyertai penyakit
infeksi lain. Faringitis oleh karena virus dapat merupakan bagian dari
influenza. (Bisno Alan et al., 2001)

2.3.4.1. Faktor Resiko


Faktor resiko terjadinya faringitis menurut Kemenkes RI (2014) yaitu
sebagai berikut:
- Paparan udara yang dingin.
- Menurunnya daya tahan tubuh.
- Konsumsi makanan yang kurang gizi.
- Iritasi kronik oleh rokok, minum alkohol, makanan, refluks asam
lambung, inhalasi uap yang merangsang mukosa faring.

2.3.4.2. Patofisiologi
Faringitis yang disebabkan infeksi, bakteri ataupun virus dapat secara
langsung menginvasi mukosa faring dan akan menyebabkan respon
inflamasi lokal. Kuman akan menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian
mengikis epitel sehingga jaringan limfoid superfisial bereaksi dan
menyebabkan terjadinya pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit
polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemis, kemudian edema
dan sekresi yang meningkat. Pada awalnya eksudat bersifat serosa tapi
menjadi menebal dan kemudian cenderung menjadi kering dan dapat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
28
 

melekat pada dinding faring. Dalam keadaan hiperemis, pembuluh darah


dinding faring akan melebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning,
putih atau abu-abu akan didapatkan di dalam folikel atau jaringan limfoid.
Tampak bahwa folikel limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring
posterior atau yang terletak lebih ke lateral akan menjadi meradang dan
membengkak. Virus-virus seperti Rhinovirus dan Coronavirus dapat
menyebabkan iritasi sekunder pada mukosa faring akibat sekresi nasal
(Bailey, 2006; Adam, 2009).
Infeksi Streptococcal memiliki karakteristik khusus yaitu invasi lokal
dan pelepasan extracelullar toxins dan protease yang dapat menyebabkan
kerusakan jaringan yang hebat karena fragmen M protein dari
Streptococcus ß hemolyticus Grup A memiliki struktur yang sama dengan
sarkolema pada miokard dan dihubungkan dengan demam reumatik dan
kerusakan katub jantung. Selain itu juga dapat menyebabkan
glomerulonefritis akut karena fungsi glomerulus terganggu akibat
terbentuknya kompleks antigen antibodi (Bailey, 2006; Adam, 1989).

2.3.4.3. Gejala Faringitis


Gejala dan tanda yang ditimbulkan faringitis tergantung pada
mikroorganisme yang menginfeksi. Secara garis besar faringitis
menunjukkan tanda dan gejala umum seperti lemas, anoreksia, demam,
suara serak, kaku dan sakit pada otot leher.
Gejala khas berdasarkan jenis faringitis (Kemenkes RI, 2014), yaitu:
a. Faringitis viral (umumnya oleh Rhinovirus): diawali dengan gejala
rhinitis dan beberapa hari kemudian timbul faringitis. Gejala lain
demam disertai rinorea dan mual.
b. Faringitis bakterial: nyeri kepala hebat, muntah, kadang disertai
demam dengan suhu yang tinggi, jarang disertai batuk.
c. Faringitis fungal: terutama nyeri tenggorok dan nyeri menelan.
d. Faringitis kronik hiperplastik: mula-mula tenggorok kering, gatal dan
akhirnya batuk yang berdahak.
e. Faringitis kronik atrofi: umumnya tenggorokan kering dan tebal serta
mulut berbau.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
29
 

f. Faringitis tuberkulosis: nyeri hebat pada faring dan tidak berespon


dengan pengobatan bakterial non spesifik.
g. Bila dicurigai faringitis gonorea atau faringitis luetika, ditanyakan
riwayat hubungan seksual.

2.3.4.4. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan Fisik (Kemenkes RI, 2014)
 Faringitis viral, pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil
hiperemis, eksudat (virus influenza, Coxsachievirus,
Cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat). Pada
Coxsachievirus dapat menimbulkan lesi vesikular di orofaring
dan lesi kulit berupa maculopapular rash.
 Faringitis bakterial, pada pemeriksaan tampak tonsil membesar,
faring dan tonsil hiperemis dan terdapat eksudat di
permukaannya. Beberapa hari kemudian timbul bercak petechiae
pada palatum dan faring. Kadang ditemukan kelenjar limfa leher
anterior membesar, kenyal dan nyeri pada penekanan.
 Faringitis fungal, pada pemeriksaan tampak plak putih di
orofaring dan pangkal lidah, sedangkan mukosa faring lainnya
hiperemis.
 Faringitis kronik hiperplastik, pada pemeriksaan tampak kelenjar
limfa di bawah mukosa faring dan lateral band hiperplasi. Pada
pemeriksaan tampak mukosa dinding posterior tidak rata dan
bergranular (cobble stone).
 Faringitis kronik atrofi, pada pemeriksaan tampak mukosa faring
ditutupi oleh lendir yang kental dan bila diangkat tampak mukosa
kering.
 Faringitis tuberkulosis, pada pemeriksaan tampak granuloma
perkejuan pada mukosa faring dan laring.
 Faringitis luetika tergantung stadium penyakit:
1. Stadium primer
Pada lidah palatum mole, tonsil, dan dinding posterior faring
berbentuk bercak keputihan. Bila infeksi berlanjut timbul

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
30
 

ulkus pada daerah faring seperti ulkus pada genitalia yaitu


tidak nyeri. Juga didapatkan pembesaran kelenjar mandibula
2. Stadium sekunder
Stadium ini jarang ditemukan. Pada dinding faring terdapat
eritema yang menjalar ke arah laring.
3. Stadium tersier
Terdapat guma. Predileksi pada tonsil dan palatum.
b. Pemeriksaan Penunjang (Kemenkes RI, 2014)
1. Pemeriksaan darah lengkap.
2. Terinfeksi jamur, menggunakan slide dengan pewarnaan KOH.
3. Pemeriksaan mikroskop dengan pewarnaan gram.

2.3.4.5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan faringitis adalah sebagai berikut (Kemenkes, 2014)
a. Istirahat cukup
b. Minum air putih yang cukup
c. Berkumur dengan air yang hangat dan berkumur dengan obat kumur
antiseptik untuk menjaga kebersihan mulut. Pada faringitis fungal
diberikan Nistatin 100.000-400.000 IU, 2 x/hari. Untuk faringitis
kronik hiperplastik terapi lokal dengan melakukan kaustik faring
dengan memakai zat kimia larutan Nitras Argentin 25 %.
d. Untuk infeksi virus, dapat diberikan anti virus Metisoprinol
(Isoprenosin) dengan dosis 60-100 mg/kgBB dibagi dalam
4-6 x/hari pada orang dewasa dan pada anak <5 tahun diberikan
50 mg/kgBB dibagi dalam 4-6 x/hari.
e. Terapi antibiotika ditujukan untuk faringitis yang disebabkan oleh
Streptococcus Grup A, sehingga penting sekali untuk dipastikan
penyebab faringitis sebelum terapi dimulai. Terapi dengan antibiotika
dapat dimulai lebih dahulu bila disertai kecurigaan yang tinggi
terhadap bakteri sebagai penyebab, sambil menunggu hasil
pemeriksaan kultur. Terapi dini dengan antibiotika menyebabkan
resolusi dari tanda dan gejala yang cepat. Namun perlu diingat adanya
2 fakta berikut:

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
31
 

- Faringitis oleh Streptococcus Grup A biasanya sembuh dengan


sendirinya, demam dan gejala lain biasanya menghilang setelah
3-4 hari meskipun tanpa antibiotika.
- Terapi dapat ditunda sampai dengan 9 hari sejak tanda pertama
kali muncul dan tetap dapat mencegah komplikasi.

Untuk faringitis akibat bakteri terutama bila diduga penyebabnya


Streptococcus Grup A, diberikan antibiotik Penisilin G Benzatin
50.000 U/kgBB/IM dosis tunggal bila pasien tidak alergi penisilin,
atau Amoksisilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3 x/hari selama 10 hari
dan pada dewasa 3 x 500 mg selama 6-10 hari, atau Eritromisin
4 x 500 mg/hari.
Pada faringitis gonorea, dapat diberikan sefalosporin generasi
ke-3, seperti Seftriakson 2 gr IV/IM dosis tunggal.
f. Pada faringitis kronik hiperplastik, penyakit hidung dan sinus
paranasal harus diobati. Pada faringitis kronik atrofi pengobatan
ditujukan pada rhinitis atrofi. Sedangkan, pada faringitis kronik
hiperplastik dilakukan kaustik 1 x/hari selama 3-5 hari.
g. Jika diperlukan dapat diberikan obat batuk antitusif atau ekspektoran.
h. Selain antibiotik, kortikosteroid juga diberikan untuk menekan reaksi
inflamasi sehingga mempercepat perbaikan klinis. Steroid yang
diberikan dapat berupa deksametason 3 x 0,5 mg pada dewasa selama
3 hari dan pada anak-anak 0,01 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 x/hari
selama 3 hari.

2.3.5. Bronkitis
Bronkitis adalah suatu peradangan bronkiolus, bronkus, dan
trakhea oleh berbagai sebab. Bronkitis biasanya lebih sering disebabkan
oleh virus seperti Rhinovirus, Respiratory Syncitial Virus (RSV), virus
influenza, virus para influenza, dan Coxsackie virus. Bronkitis adalah
suatu peradangan pada bronkus yang disebabkan oleh berbagai macam
mikroorganisme baik virus, bakteri, maupun parasit. Ada 2 jenis bronkitis
yaitu bronkitis akut dan kronik (Muttaqin, 2008).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
32
 

Bronkitis akut dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: infeksi


virus, yang paling umum influenza A dan B, parainfluenza, RSV,
Adenovirus, Rhinovirus dan Coronavirus; infeksi bakteri, seperti yang
disebabkan oleh Mycoplasma spesies, Chlamydia pneumoniae,
Streptococcus pneumoniae, Moraxella catarrhalis, dan Haemophilus
influenzae; rokok dan asap rokok; paparan terhadap iritasi, seperti polusi,
bahan kimia, dan asap tembakau, juga dapat menyebabkan iritasi bronkial
akut; bahan-bahan yang mengeluarkan polusi; penyakit gastrofaringeal
refluk-suatu kondisi di mana asam lambung naik kembali ke saluran
makan (kerongkongan); pekerja yang terekspos dengan debu atau asap.
Bronkitis akut dapat dijumpai pada semua umur, namun paling sering
didiagnosis pada anak-anak muda dari 5 tahun, sedangkan bronkitis kronis
lebih umum pada orang tua dari 50 tahun (Kemenkes RI, 2014).

2.3.5.1. Faktor Resiko


Penularan bronkitis melalui droplet. Faktor risiko terjadinya bronkitis
adalah sebagai berikut:
a. Merokok
b. Polusi
c. Infeksi sinus dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan atas
dan menimbulkan batuk kronik
d. Bronkhiektasi
e. Anomali saluran pernapasan
f. Foreign bodies
g. Aspirasi berulang

2.3.5.2. Patofisiologi
Asap mengiritasi jalan napas, mengakibatkan hipersekresi lendir dan
inflamasi. Akibat iritasi yang konstan, kelenjar-kelenjar yang mensekresi
lendir dan sel-sel goblet jumlahnya meningkat, fungsi silia menurun, dan
lebih banyak lendir yang dihasilkan, sehingga bronkhiolus menjadi
menyempit dan tersumbat. Alveoli yang berdekatan dengan bronkhiolus
dapat menjadi rusak dan membentuk fibrosis, mengakibatkan perubahan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
33
 

fungsi makrofag alveolar, yang berperan penting dalam menghancurkan


partikel asing termasuk bakteri. Pasien kemudian menjadi lebih rentan
terhadap infeksi pernapasan. Penyempitan bronkhial lebih lanjut terjadi
sebagai akibat perubahan fibrotic yang terjadi dalam jalan napas. Pada
waktunya, mungkin terjadi perubahan paru yang 22 irreversibel,
kemungkinan mengakibatkan emfisema dan bronkhiectasis (Smeltzer dan
Bare, 2002).

2.3.5.3. Gejala Bronkitis (Kemenkes RI, 2014)


Batuk (berdahak maupun tidak berdahak) selama 2-3 minggu. Dahak
dapat berwarna jernih, putih, kekuning-kuningan atau kehijauan. Keluhan
disertai demam (biasanya ringan), rasa berat dan tidak nyaman di dada.
Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya
batuk tidak berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak
berwarna putih atau kuning. Selanjutnya dahak akan bertambah banyak,
berwarna kuning atau hijau.
Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik,
kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa menetap
selama beberapa minggu.
Sesak nafas dan rasa berat bernapas terjadi jika saluran udara
tersumbat, sering ditemukan bunyi nafas mengi atau “ngik”, terutama
setelah batuk. Bila iritasi saluran terjadi, maka dapat terjadi batuk darah.
Bronkitis bisa berkembang menjadi pneumonia.
Riwayat penyakit biasanya ditandai batuk-batuk setiap hari disertai
pengeluaran dahak, sekurang-kurangnya 3 bulan berturut-turut dalam
1 tahun, dan paling sedikit selama 2 tahun.

2.3.5.4. Pemeriksaan (Kemenkes RI, 2014)


a. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan paru dapat ditemukan:
- Pasien tampak kurus dengan barrel shape chest (diameter
anteroposterior dada meningkat).
- Fremitus taktil dada tidak ada atau berkurang.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
34
 

- Perkusi dada hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru


hati lebih rendah, tukak jantung berkurang.
- Suara nafas berkurang dengan ekpirasi panjang, terdapat ronki
basah kasar yang tidak tetap (dapat hilang atau pindah setelah
batuk), wheezing dengan berbagai gradasi (perpanjangan
ekspirasi hingga ngik-ngik) dan krepitasi.
b. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan sputum dengan pengecatan Gram akan banyak
didapat leukosit PMN dan mungkin pula bakteri.
- Foto thoraks pada bronkitis kronis memperlihatkan tubular
shadow berupa bayangan garis-garis yang paralel keluar dari
hilus menuju apeks paru dan corakan paru yang bertambah.
- Tes fungsi paru dapat memperlihatkan obstruksi jalan napas yang
reversibel dengan menggunakan bronkodilator.

2.3.5.5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan bronkitis menurut Permenkes RI No. 5 Tahun 2014 yaitu:
a. Memperbaiki kemampuan penderita mengatasi gejala-gejala tidak
hanya pada fase akut, tapi juga pada fase kronik, serta dalam
melaksanakan aktivitas sehari-hari sesuai dengan pola kehidupannya.
b. Mengurangi laju perkembangan penyakit apabila dapat dideteksi lebih
awal.
c. Oksigenasi pasien harus memadai.
d. Istirahat yang cukup.
e. Pemberian obat antitusif (penekan batuk): DMP (Dekstrometorfan)
15 mg, diminum 2-3 kali sehari. Kodein (obat Doveri) dapat diberikan
10 mg, diminum 3 x/hari, bekerja dengan menekan batuk pada pusat
batuk di otak. Antitusif tidak dianjurkan pada kehamilan, ibu
menyusui dan anak usia 6 tahun ke bawah. Pada penderita bronkitis
akut yang disertai sesak napas, pemberian antitusif perlu umpan balik
dari penderita. Jika penderita merasa tambah sesak, maka antitusif
dihentikan.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
35
 

f. Pemberian ekspektoran (obat batuk pengencer dahak) yang lazim


digunakan di antaranya: GG (Glyceryl Guaiacolate), Bromheksin,
Ambroksol, dan lain-lain.
g. Antipiretik (pereda panas): Parasetamol (Asetaminofen), dan
sejenisnya, digunakan jika penderita demam.
h. Bronkodilator (melonggarkan napas), diantaranya: Salbutamol,
terbutalin sulfat, teofilin, aminofilin, dan lain-lain. Berikan β-agonis
misalnya Salbutamol (oral) 4-8 mg 6-8 jam atau Ipratropium Bromida
aerosol 20-80 mg, 6-8 jam. Obat-obat ini digunakan pada penderita
yang disertai sesak napas atau rasa berat bernapas, sehingga obat ini
tidak hanya untuk obat asma, tetapi dapat juga untuk bronkitis. Efek
samping obat bronkodilator perlu diketahui pasien, yakni: berdebar,
lemas, gemetar dan keringat dingin.
i. Pemberian steroid jika ada kemungkinan obstruksi saluran napas
reversibel yaitu Prednisolon (oral) 20 mg sekali sehari selama 5 hari
j. Antibiotika hanya digunakan jika dijumpai tanda-tanda infeksi oleh
kuman berdasarkan pemeriksaan dokter. Antibiotik yang dapat
diberikan antara lain: Ampisilin, Eritromisin, atau Spiramisin,
3 x 500 mg/hari. Antibiotika yang dapat digunakan lihat tabel 2.1,
dengan lama terapi 5-14 hari sedangkan pada bronkitis kronik
optimalnya selama 14 hari
k. Pemberian antiviral Amantadine dapat berdampak memperpendek
lama sakit bila diberikan dalam 48 jam setelah terinfeksi virus
influenza A.
l. Terapi lanjutan: jika terapi antiinflamasi sudah dimulai, lanjutkan
terapi hingga gejala menghilang paling sedikit 1 minggu.
Bronkodilator juga dapat diberikan jika diperlukan.
 Rencana Tindak Lanjut
Pasien kontrol kembali setelah obat habis, dengan tujuan untuk:
a. Mengevaluasi modifikasi gaya hidup.
b. Mengevaluasi terapi yang diberikan, ada atau tidak efek
samping dari terapi.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
36
 

Tabel 2.1. Terapi awal pada Bronkitis (Pharmaceutical Care untuk Penyakit
ISPA, 2005)

Kondisi Klinik Patogen Terapi Awal


Bronkhitis akut Biasanya virus Lini I: Tanpa antibiotika
Lini II: Amoksisilin,
amoksi-klav, makrolida
Bronkhitis Kronik H.influenzae, Lini I: Amoksisilin,
Moraxella catarrhalis, quinolon
S. pneumoniae Lini II: Quinolon,
Amoksi-Klav,
Azitromisin,
Kotrimoksazol
Bronkhitis Kronik dg s.d.a, Lini I: Quinolon
komplikasi K. Pneumoniae, P. Lini II: Seftazidim,
aeruginosa, Gram Sefepim
(-) batang lain
Bronkhitis Kronik dg s.d.a Lini I: Quinolon oral
infeksi bakteri atau parenteral,
Meropenem atau
Seftazidim / Sefepim +
Siprofloksasin oral.

2.3.6. Bronkhiolitis
Bronkiolitis akut merupakan penyakit saluran pernapasan yang
lazim, akibat dari obstruksi radang saluran pernapasan kecil. Disebabkan
oleh Virus Sinsisium Respiratorik (VSR), Virus Para Influenzae,
mikroplasma, dan Adenovirus. Penyakit ini terjadi selama umur 2 tahun
pertama, dengan insiden puncak sekitar umur 6 bulan (Behrman, 1999).
Yang didahului oleh infeksi saluran bagian atas disertai dengan batuk pilek
beberapa hari, tanpa disertai kenaikan suhu, sesak napas, pernapasan
dangkal dan cepat, batuk dan gelisah (Ngastiyah, 2005).

Tabel 2.2. Agen penyebab infeksi virus di saluran napas pada anak (Welliver RC, 2009)

Frekuensi Kejadian Berdasarkan Kelompok Umur


Agen Penyebab
0 – 2 tahun 2 – 5 tahun 5 – 9 tahun 9 – 15 tahun
Respiratory Syncytial Virus ++++ +++ ++ ++
Adenovirus ++ ++ + 0
Parainfluenza viruses ++ ++ ++ ++
++ ++
Rhinoviruses + sampai sampai +++
+++ +++
Metapneumovirus ++ + + 0
Mycoplasma pneumonia + ++ +++ ++++
++++ = sangat sering, +++ = sering, ++ = kadang-kadang, + = tidak umum, 0 = tidak
diketahui

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
37
 

2.3.6.1. Faktor Resiko


Faktor resiko terjadinya bronkiolitis:
- Usia kurang dari 6 bulan
- Tidak pernah mendapatkan ASI
- Prematur
- Menghirup asap rokok.

2.3.6.2. Patofisiologi
Bronkiolitis biasanya didahului oleh infeksi saluran napas bagian atas
yang disebabkan virus, parainfluenza, dan bakteri. Bronkiolitis akut
ditandai obstruksi bronkiolus yang disebabkan oleh edema, penimbunan
lendir, serta debris-debris seluler. Proses patologis yang terjadi akan
mengganggu pertukaran gas normal di dalam paru. Ventilasi yang makin
menurun pada alveolus akan mengakibatkan terjadinya hipoksemia dini.
(Mansbach JM. et al, 2009)
RSV adalah single stranded RNA virus yang berukuran sedang
(80-350 nm), termasuk Paramyxovirus. Terdapat dua glikoprotein
permukaan yang merupakan bagian penting dari RSV untuk menginfeksi
sel, yaitu protein G (attachment protein) yang mengikat sel dan protein F
(fusion protein) yang menghubungkan partikel virus dengan sel target dan
sel tetangganya. Kedua protein ini merangsang antibodi neutralisasi
protektif pada host. Terdapat dua macam strain antigen RSV yaitu A dan
B. RSV strain A menyebabkan gejala yang pernapasan yang lebih berat
dan menimbulkan sekuele. Masa inkubasi RSV 2-5 hari. Virus bereplikasi
di dalam nasofaring kemudian menyebar dari saluran nafas atas ke saluran
nafas bawah melalui penyebaran langsung pada epitel saluran nafas dan
melalui aspirasi sekresi nasofaring. RSV mempengaruhi sistem saluran
napas melalui kolonisasi dan replikasi virus pada mukosa bronkus dan
bronkiolus yang memberi gambaran patologi awal berupa nekrosis sel
epitel silia. Nekrosis sel epitel saluran napas menyebabkan terjadi edema
submukosa dan pelepasan debris dan fibrin kedalam lumen bronkiolus.
Virus yang merusak epitel bersilia juga mengganggu gerakan
mukosilier, mukus tertimbun di dalam bronkiolus. Kerusakan sel epitel

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
38
 

saluran napas juga mengakibatkan saraf aferen lebih terpapar terhadap


alergen/iritan, sehingga dilepaskan beberapa neuropeptida (neurokinin,
substance P) yang menyebabkan kontraksi otot polos saluran napas. Pada
akhirnya kerusakan epitel saluran napas juga meningkatkan ekpresi
Intercellular Adhesion Molecule-1 (ICAM-1) dan produksi sitokin yang
akan menarik eosinofil dan sel-sel inflamasi. Bronkiolus menjadi sempit
karena kombinasi dari proses inflamasi, edema saluran nafas, akumulasi
sel-sel debris dan mukus serta spasme otot polos saluran napas. Adapun
respon paru ialah dengan meningkatkan kapasitas fungsi residu,
menurunkan compliance, meningkatkan tahanan saluran napas, dead
space serta meningkatkan shunt. Semua faktor-faktor tersebut
menyebabkan peningkatan kerja sistem pernapasan, batuk, wheezing,
obstruksi saluran napas, hiperaerasi, atelektasis, hipoksia, hiperkapnea,
asidosis metabolik sampai gagal napas. Karena resistensi aliran udara
saluran nafas berbanding terbalik dengan diameter saluran napas pangkat
4, maka penebalan dinding bronkiolus sedikit saja sudah memberikan
akibat cukup besar pada aliran udara. Apalagi diameter saluran napas bayi
dan anak kecil lebih sempit. Resistensi aliran udara saluran nafas
meningkat pada fase inspirasi maupun pada fase ekspirasi.
Selama fase ekspirasi terdapat mekanisme klep hingga udara akan
terperangkap dan menimbulkan overinflasi dada. Volume dada pada akhir
ekspirasi meningkat hampir 2 kali di atas normal. Atelektasis dapat terjadi
bila obstruksi total. Anak-anak dan orang dewasa jarang mengalami
bronkiolitis bila terserang infeksi virus. Perbedaan anatomi antara paru-
paru bayi muda dan anak-anak mungkin memiliki kontribusi terhadap hal
ini. Respon proteksi imunologi terhadap RSV bersifat transien dan tidak
lengkap. Infeksi yang berulang pada saluran napas bawah akan
meningkatkan resistensi terhadap penyakit. Akibat infeksi yang berulang-
ulang, terjadi cumulatif immunity sehingga pada anak yang lebih besar dan
orang dewasa cenderung lebih tahan terhadap infeksi bronkiolitis dan
pneumonia karena RSV.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
39
 

Penyembuhan bronkiolitis akut diawali dengan regenerasi epitel


bronkus dalam 3-4 hari, sedangkan regenerasi dari silia berlangsung lebih
lama dapat sampai 15 hari. Ada 2 macam fenomena yang mendasari
hubungan antara infeksi virus saluran napas dan asma:
1. Infeksi akut virus saluran napas pada bayi atau anak kecil seringkali
disertai wheezing.
2. Penderita wheezing berulang yang disertai dengan penurunan tes faal
paru, ternyata seringkali mengalami infeksi virus saluran napas pada
saat bayi/usia muda. Infeksi RSV dapat menstimulasi respon imun
humoral dan selular. Respon antibodi sistemik terjadi bersamaan
dengan respon imun lokal. Bayi usia muda mempunyai respon imun
yang lebih buruk.

2.3.6.3. Gejala Bronkiolitis


Umumnya anak pernah terpajan dengan anggota keluarga yang
menderita infeksi virus beberapa minggu sebelumnya. Gejala awal yang
mungkin timbul adalah tanda-tanda infeksi respiratorik atas akut berupa
demam, batuk, pilek, dan bersin. Setelah gejala di atas timbul biasanya
diikuti oleh adanya kesulitan bernapas (sesak) yang umumnya pada saat
ekspirasi. (Sari pediatri, 2006)

2.3.6.4. Pemeriksaan
Pada pemeriksaan fisis didapatkan frekuensi nafas yang meningkat
(takipnea), disertai adanya ekspirasi yang memanjang bahkan mengi. Pada
kasus yang berat mengi dapat terdengar tanpa stetoskop. Pada pemeriksaan
penunjang yaitu pemeriksaan radiologis dijumpai gambaran hiperinflasi,
dengan infiltrat yang biasanya tidak luas. Bahkan ada kecenderungan
ketidaksesuaian antara gambaran klinis dan gambaran radiologis. Berbeda
dengan pneumonia bakteri, gambaran klinis yang berat akan menunjukkan
gambaran kelainan radiologis yang berat pula, sementara pada bronkiolitis
gambaran klinis berat tanpa gambaran radiologis berat.
Pada pemeriksaan laboratorium (darah tepi) umumnya tidak
memberikan gambaran yang bermakna, dapat disertai dengan limfopenia.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
40
 

Pemeriksaan serologis RSV dapat dilakukan secara cepat, di negara


maju pemeriksaan ini menjadi pemeriksaan rutin apabila dicurigai adanya
infeksi RSV.

2.3.6.5. Penatalaksanaan
Infeksi virus RSV biasanya bersifat self limiting, sehingga pengobatan
biasanya hanya suportif (WHO, 2005).
1. Oksigenasi
Pemberian oksigen dilakukan pada semua anak dengan mengi
dan distres pernapasan berat, metode yang direkomendasikan adalah
dengan nasal prolongs, kateter nasal, atau kateter nasofaringeal
dengan kadar oksigen 30-40 % (WHO, 2013). Apabila tidak ada
oksigen, anak harus ditempatkan dalam ruangan dengan kelembapan
udara tinggi, sebaiknya dengan uap dingin (mist tent) untuk
mencairkan sekret di tempat peradangan (WHO, 2005). Terapi
oksigen diteruskan sampai tanda hipoksia hilang. Penggunaan kateter
nasal >2 L/menit dengan maksimal 8-10 L/menit dapat menurunkan
kebutuhan rawat di Paediatrics Intensive Care Unit (PICU).
Penggunaan kateter nasal serupa efektifnya dengan nasal CPAP
bahkan mengurangi kebutuhan obat sedasi (Mayfield S et al, 2014).
2. Cairan
Pemberian cairan sangat penting untuk koreksi asidosis
metabolik dan respiratorik yang mungkin timbul dan mencegah
dehidrasi akibat keluarnya cairan melalui mekanisme penguapan
tubuh (evaporasi) karena pola pernapasan cepat dan kesulitan minum.
Jika tidak terjadi dehidrasi, dapat diberikan cairan rumatan, bisa
melalui intravena maupun nasogastrik. Pemberian cairan melalui
lambung dapat menyebabkan aspirasi, dapat memperberat sesak,
akibat tekanan diafragma ke paru oleh lambung yang terisi cairan
(WHO, 2005).
3. Bronkodilator dan Kortikosteroid
Albuterol dan Epinefrin, serta kortikosteroid sistemik tidak
harus diberikan. Beberapa penelitian meta-analisis dan systematic

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
41
 

reviews di Amerika menemukan bahwa bronkodilator dapat


meredakan gejala klinis, namun tidak mempengaruhi penyembuhan
penyakit, kebutuhan rawat inap, ataupun lama perawatan, sehingga
dapat disimpulkan tidak ada keuntungannya, sedangkan efek samping
takikardia dan tremor dapat lebih merugikan (Ralston SL et al, 2014).
Sebuah penelitian randomized controlled trial di Eropa pada
tahun 2009 menunjukkan bahwa nebulisasi epinefrin dan
deksametason oral pada anak dengan bronkiolitis dapat mengurangi
kebutuhan rawat inap, lama perawatan di rumah sakit, dan durasi
penyakit (Plint AC et al, 2009).
Nebulisasi hypertonic saline dapat diberikan pada anak yang
dirawat. Nebulisasi ini bermanfaat meningkatkan kerja mukosilia
saluran napas untuk membersihkan lendir dan debris-debris seluler
yang terdapat pada saluran pernapasan (Ralston SL et al, 2014).
4. Antivirus
Ribavirin adalah obat antivirus bersifat virus statik.
Penggunaannya masih kontroversial baik efektivitas maupun
keamanannya. The American Academy of Pediatrics
merekomendasikan penggunaan Ribavirin pada keadaan yang
diperkirakan akan menjadi lebih berat seperti pada penderita
bronkiolitis dengan kelainan jantung, fibrosis kistik, penyakit paru
kronik, imunodefisiensi dan pada bayi-bayi prematur. Ribavirin dapat
menurunkan angka morbiditas dan mortalitas penderita bronkiolitis
dengan penyakit jantung jika diberikan sejak awal. Penggunaan
ribavirin biasanya dengan cara nebulizer aerosol dengan dosis
20 mg/mL diberikan dalam 12-18 jam per hari selama 3-7 hari (WHO,
2005).
5. Antibiotik
Anti-bakterial tidak perlu karena sebagian besar kasus
disebabkan oleh virus, kecuali bila dicurigai ada infeksi tambahan.
Terapi antibiotik sering digunakan berlebihan karena khawatir
terhadap infeksi bakteri yang tidak terdeteksi, padahal hal ini justru

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
42
 

akan meningkatkan infeksi sekunder oleh kuman yang resisten


terhadap antibiotik tersebut; sehingga penggunaannya diusahakan
hanya berdasarkan indikasi (Ralston SL et al, 2014).
Pemberian antibiotik dapat dipertimbangkan untuk anak
dengan bronkiolitis yang membutuhkan intubasi dan ventilasi
mekanik untuk mencegah gagal napas (Ralston SL et al, 2014).
Antibiotik yang dipakai biasanya yang berspektrum luas, namun
untuk Mycoplasma pneumoniae diatasi dengan eritromisin (WHO,
2005).
6. Fisioterapi
Fisioterapi dada pada anak bronkiolitis dengan teknik vibrasi
ataupun perkusi (5 trials) atau teknik pernapasan pasif tidak lebih baik
selain pengurangan durasi pemberian terapi oksigen. Penghisapan
sekret daerah nasofaring untuk meredakan sementara kongesti nasal
atau obstruksi saluran napas atas, namun sebuah studi retrospektif
menyatakan deep suctioning berhubungan dengan durasi rawat inap
lebih lama pada anak usia 2-12 bulan (Ralston SL et al, 2014).

2.3.7. Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah
yang mengenai parenkim paru. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yaitu
Streptococcus pneumonia dan Haemophillus influenza. Pada bayi dan anak
kecil ditemukan Staphylococcus aureus sebagai penyebab pneumonia
yang berat dan sangat progresif dengan mortalitas tinggi (Wardhani dan
Setiowulan, 2000).
Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme
(virus/bakteri) dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain (aspirasi,
radiasi, dan lain-lain). Pola kuman penyebab pneumonia biasanya berbeda
sesuai dengan distribusi umur pasien. Secara umum bakteri yang paling
berperan penting dalam pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, Streptokokus Grup B,
serta kuman atipik klamidia dan mikoplasma.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
43
 

Tabel 2.3. Dugaan bakteri penyebab pneumonia (Pechere JC, 1995)

Pneumonia Pneumonia dengan komplikasi


Dugaan kuman
tanpa
penyebab Efusi pleura Abses paru
komplikasi
Streptococcus pneumoniae ++++ ++ +
Haemophilus influenzae ++ ++ +
Streptococcus group A + ++ -
Flora mulut + +++ ++++
Staphylococcus aureus + ++ ++

Ditinjau dari asal patogen, maka pneumonia dibagi menjadi tiga


macam yaitu :
1. Community acquired pneumonia (CAP)
Merupakan pneumonia yang didapat di luar rumah sakit atau panti
jompo. Patogen umum yang biasa menginfeksi adalah Streptococcus
pneumonia, H. influenzae, bakteri atypical, virus influenza,
Respiratory Syncytial Virus (RSV). Pada anak-anak patogen yang
biasa dijumpai sedikit berbeda yaitu adanya keterlibatan Mycoplasma
pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, di samping bakteri pada pasien
dewasa.
2. Nosokomial Pneumonia
Merupakan pneumonia yang didapat selama pasien di rawat di rumah
sakit. Patogen yang umum terlibat adalah bakteri nosokomial yang
resisten terhadap antibiotika yang beredar di rumah sakit. Biasanya
adalah bakteri enterik golongan gram negatif batang seperti E.coli,
Klebsiella sp, Proteus sp. Pada pasien yang sudah lebih dulu
mendapat terapi Sefalosporin generasi ke-tiga, biasanya dijumpai
bakteri enterik yang lebih bandel seperti Citrobacter sp., Serratia sp.,
Enterobacter sp.. Pseudomonas aeruginosa merupakan patogen yang
kurang umum dijumpai, namun sering dijumpai pada pneumonia yang
fulminan. Staphylococcus aureus khususnya yang resisten terhadap
methicilin seringkali dijumpai pada pasien yang dirawat di ICU.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
44
 

3. Pneumonia Aspirasi
Merupakan pneumonia yang diakibatkan aspirasi sekret
oropharyngeal dan cairan lambung. Pneumonia jenis ini biasa didapat
pada pasien dengan status mental terdepresi, maupun pasien dengan
gangguan refleks menelan. Patogen yang menginfeksi pada
Community Acquired Aspiration Pneumoniae adalah kombinasi dari
flora mulut dan flora saluran napas atas, yakni meliputi Streptococci
anaerob. Sedangkan pada Nosocomial Aspiration Pneumoniae bakteri
yang lazim dijumpai campuran antara gram negatif batang + S. Aureus
+ anaerob (John Flaherty, 2002).

2.3.7.1. Faktor Resiko


Faktor resiko pneumonia adalah sebagai berikut (Pharmaceutical
Care untuk Penyakit ISPA, 2005) :
- Usia tua atau anak-anak
- Merokok
- Adanya penyakit paru yang menyertai
- Infeksi Saluran Pernapasan yang disebabkan oleh virus
- Splenektomi (Pneumococcal Pneumonia)
- Obstruksi Bronkhial
- Immunocompromise atau mendapat obat immunosupressive seperti
kortikosteroid
- Perubahan kesadaran (predisposisi untuk pneumonia aspirasi)
- Gangguan nutrisi (malnutrisi)
- Kelengkapan imunisasi

2.3.7.2. Patofisiologi
Sebagian besar pneumonia timbul melalui mekanisme aspirasi kuman
atau penyebaran langsung kuman dari saluran respiratorik atas. Hanya
sebagian kecil merupakan akibat sekunder dari viremia/bakteremia atau
penyebaran dari infeksi intra abdomen. Dalam keadaan normal saluran
respiratorik bawah mulai dari sublaring hingga unit terminal dalam

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
45
 

keadaan steril (Arguedas AG et al, 1990; Long SS, 1994). Paru terlindung
dari infeksi dengan beberapa mekanisme:
 filtrasi partikel di hidung
 pencegahan aspirasi dengan refleks epiglotis
 ekspulsi benda asing melalui refleks batuk
 pembersihan ke arah kranial oleh selimut mukosilier
 fagositosis kuman oleh makrofag alveolar
 netralisasi kuman oleh substansi imun lokal
 drainase melalui sistem limfatik
Pneumonia terjadi jika satu atau lebih mekanisme di atas mengalami
gangguan.
Basil yang masuk bersama sekret bronkus ke dalam alveoli
menyebabkan reaksi radang berupa edema seluruh alveoli disusul dengan
infiltrasi sel-sel PMN dan diapedesis eritrosit sehingga terjadi permulaan
fagositosis sebelum terbentuknya antibodi. Sel-sel PMN mendesak bakteri
ke permukaan alveoli dan dengan bantuan leukosit yang lain melalui
psedopodosis sitoplasmik mengelilingi bakteri tersebut kemudian
dimakan. Pada waktu terjadi peperangan antara host dan bakteri maka akan
tampak 4 zona pada daerah parasitik terset yaitu :
1. Zona luar : alveoli yang tersisi dengan bakteri dan cairan edema.
2. Zona permulaan konsolidasi : terdiri dari PMN dan beberapa eksudasi
sel darah merah.
3. Zona konsolidasi yang luas : daerah tempat terjadi fagositosis yang
aktif dengan jumlah PMN yang banyak.
4. Zona resolusi E : daerah tempat terjadi resolusi dengan banyak bakteri
yang mati, leukosit dan alveolar makrofag. (Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia, 2003)

2.3.7.3. Gejala Pneumonia


Gambaran klinik biasanya ditandai dengan demam, menggigil, suhu,
tubuh meningkat dapat melebihi 40⁰C, batuk dengan dahak mukoid atau

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
46
 

purulen kadang-kadang disertai darah, sesak napas dan nyeri dada


(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003).
Gejala dan tanda pneumonia dapat dibedakan menjadi gejala umum
infeksi (nonspesifik), gejala pulmonal, pleural, atau ekstrapulmonal.
Gejala nonspesifik meliputi demam, menggigil, sefalgia, resah dan
gelisah. Beberapa pasien mungkin mengalami gangguan gastrointestinal
seperti muntah, kembung, diare, atau sakit perut (Arguedas AG et al,
1990).

2.3.7.4. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan fisik (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003)
Temuan pemeriksaan fisis dada tergantung dari luas lesi di paru.
Pada inspeksi dapat terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu
bernapas, pada palpasi fremitus dapat mengeras, pada perkusi redup,
pada auskultasi terdengar suara napas bronkovesikuler sampai
bronkial yang mungkin disertai ronki basah halus, yang kemudian
menjadi ronki basah kasar pada stadium resolusi.
2. Pemeriksaan penunjang (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003)
a. Gambaran radiologis
Foto toraks (PA/lateral) merupakan pemeriksaan penunjang
utama untuk menegakkan diagnosis. Gambaran radiologis dapat
berupa infiltrat sampai konsolidasi dengan air broncogram,
penyebab bronkogenik dan interstisial serta gambaran kaviti.
Foto toraks saja tidak dapat secara khas menentukan penyebab
pneumonia, hanya merupakan petunjuk ke arah diagnosis
etiologi, misalnya gambaran pneumonia lobaris tersering
disebabkan oleh Steptococcus pneumoniae, Pseudomonas
aeruginosa sering memperlihatkan infiltrat bilateral atau
gambaran bronkopneumonia sedangkan Klebsiela pneumonia
sering menunjukkan konsolidasi yang terjadi pada lobus atas
kanan meskipun dapat mengenai beberapa lobus.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
47
 

b. Pemeriksaan labolatorium
Pada pemeriksaan labolatorium terdapat peningkatan jumlah
leukosit, biasanya lebih dari 10.000/ul kadang-kadang mencapai
30.000/ul, dan pada hitungan jenis leukosit terdapat pergeseran
ke kiri serta terjadi peningkatan LED. Untuk menentukan
diagnosis etiologi diperlukan pemeriksaan dahak, kultur darah
dan serologi. Kultur darah dapat positif pada 20-25 % penderita
yang tidak diobati. Analisis gas darah menunjukkan hipoksemia
dan hikarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis
respiratorik.

2.3.7.5. Penatalaksanaan
Pengobatan terdiri atas antibiotik dan pengobatan suportif. Pemberian
antibiotik pada penderita pneumonia sebaiknya berdasarkan data
mikroorganisme dan hasil uji kepekaannya, akan tetapi karena beberapa
alasan yaitu :
1. penyakit yang berat dapat mengancam jiwa
2. bakteri patogen yang berhasil diisolasi belum tentu sebagai penyebab
pneumonia.
3. hasil pembiakan bakteri memerlukan waktu. (Perhimpunan Dokter
Paru Indonesia, 2003)

Terapi suportif berupa pemberian makanan atau cairan sesuai


kebutuhan serta koreksi asam-basa dan elektrolit sesuai kebutuhan. Terapi
oksigen diberikan secara rutin. Jika penyakitnya berat dan sarana tersedia,
alat bantu napas mungkin diperlukan terutama dalam 24-48 jam pertama
(Sari pediatri, 2006).
Penatalaksanaan pneumonia yang disebabkan oleh bakteri sama
seperti infeksi pada umumnya yaitu dengan pemberian antibiotika yang
dimulai secara empiris dengan antibiotika spektrum luas sambil menunggu
hasil kultur. Setelah bakteri pathogen diketahui, antibiotik diubah menjadi
antibiotika yang berspektrum sempit sesuai patogen (Pharmaceutical
Care untuk Penyakit ISPA, 2005).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
48
 

Tabel 2.4. Antibiotika pada terapi Pneumonia (Pharmaceutical Care untuk Penyakit
ISPA, 2005)

Kondisi Patogen Terapi Dosis Ped Dosis Dws


Klinik (mg/kg/hari) (dosis
total/hari)
Sebelumnya Pneumococcus, Eritromisin 30-50 1-2g
sehat Mycoplasma Klaritromisin 15 0,5-1g
Pneumoniae Azitromisin 10 pada hari
1,diikuti 5 mg
selama 4 hari
Komorbidita S. pneumoniae, Sefuroksim
s (manula, Hemophilus Sefotaksim
DM, gagal influenzae, Seftriakson 50-75 1-2g
ginjal, gagal Moraxella
jantung, catarrhalis,
keganasan) Mycoplasma,
Chlamydia
pneumoniae dan
Legionella
Aspirasi Anaerob mulut Ampi/Amoks 100-200 2 – 6 g
Community Anaerob mulut, S. Klindamisin 8-20 1,2 -1,8 g
Hospital aureus, Klindamisin s.d.a s.d.a.
gram (-) enterik +aminoglikosida
Nosokomial
Pneumonia K. pneumoniae, Sefuroksim s.d.a. s.d.a.
Ringan, P. aeruginosa, Sefotaksim s.d.a s.d.a.
Onset <5 Enterobacter spp. Seftriakson s.d.a. s.d.a.
hari, Risiko S. aureus, Ampisilin- 100-200 4–8g
rendah Sulbaktam
Tikarsilin-klav 200-300 12 g
Gatifloksasin - 0,4 g
Levofloksasin - 0,5-0,75g
Klinda+azitro
Pneumonia K. pneumoniae, P. Gentamisin/ (7,5 4 – 6
berat**, aeruginosa, Tobramisin atau - mg/kg
Onset > 5 Enterobacter spp. Siprofloksasin )* 150 0,5-1,5 g
hari, Risiko S. aureus, + Seftazidim atau 2 – 6 g
Tinggi Sefepim atau 100-150 2-4
Tikarsilin-klav/
Meronem/
Aztreonam

Keterangan :

*) Aminoglikosida atau Siprofloksasin dikombinasi dengan salah satu antibiotika


yang terletak di bawahnya dalam kolom yang sama

**) Pneumonia berat bila disertai gagal napas, penggunaan ventilasi, sepsis berat,
gagal ginjal

Idealnya tata laksana pneumonia sesuai dengan kuman penyebabnya.


Namun karena berbagai kendala diagnostik etiologi, untuk semua pasien
pneumonia diberikan antibiotik secara empiris. Pneumonia viral

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
49
 

seharusnya tidak diberikan antibiotik, namun pasien dapat diberi antibiotik


apabila terdapat kesulitan membedakan infeksi virus dengan bakteri; di
samping kemungkinan infeksi bakteri sekunder tidak dapat disingkirkan
(Sari pediatri, 2006).
Streptokokus dan Pneumokokus sebagai kuman gram positif dapat
dicakup oleh ampisilin, sedangkan Hemofilus suatu kuman gram negatif
dapat dicakup oleh kloramfenikol. Dengan demikian keduanya dapat
dipakai sebagai antibiotik lini pertama untuk pneumonia anak tanpa
komplikasi. Secara umum pengobatan antibiotik untuk pneumonia
diberikan dalam 5-10 hari, namun dapat sampai 14 hari. Pedoman lain
pemberian antibiotik sampai 2-3 hari bebas demam (Sari pediatri, 2006).
Penaatalaksanaan pneumonia berdasarkan Standard Treatment
Guidelines And Essential Medicines List tahun 2013 adalah sebagai
berikut:
 Manajemen umum
a. Terapi oksigen jika tersedia
b. Perawatan suportif
- Turunkan suhu jika ≥ 38.5 ⁰C, berikan Parasetamol
- Jika mengi berikan bronkodilator-cepat: nebulasi salbutamol
- Pastikan bahwa anak menerima cairan pemeliharaan harian
yang sesuai untuk usia anak
 Pengobatan pneumonia sangat berat:
- Ampisilin 50 mg/kg I.V/I.M setiap 6 jam + Gentamisin (7,5
mg/kg I.V/I.M sekali sehari) selama 5 hari
Jika anak merespon dengan baik, perawatan lengkap di rumah atau di
rumah sakit dengan:
- Amoksisilin (15 mg/kg tiga kali sehari) + Gentamisin 7,5 mg/kg
I.M sekali sehari selama 5 hari selanjutnya.
ATAU
- Kloramfenikol (25 mg/kg I.M atau I.V setiap 6 jam) sampai anak
membaik. Kemudian lanjutkan oral 4 kali sehari selama 10 hari.
Jika anak tidak membaik dalam waktu 48 jam, beralih ke:

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
50
 

- Gentamisin (7,5 mg/kg I.V/I.M sekali sehari) + Kloksasilin (50


mg/kg I.V atau I.M setiap 6 jam), kemudian lanjutkan kloksasilin
oral 4 kali sehari selama 3 minggu.
Jika anak tidak ada perbaikan penggunaan seftriakson (80 mg/kg I.V
atau I.M sekali sehari) selama 10 hari.
Untuk anak-anak di atas 5 tahun, pneumonia atipikal harus
dipertimbangkan misalnya Mycoplasma. Makrolida (Eritromisin atau
Azitromisin) harus dipertimbangkan sebagai pilihan obat tambahan
dari antibiotik di atas atau sebagai pengobatan lini kedua.
 Pneumonia berat
- Benzil Penisilin 50.000 unit/kg I.V atau I.M setiap 6 jam selama
minimal 3 hari kemudian Amoksisilin 15 mg/kg 8 jam selama 7
hari.
Jika anak tidak membaik dalam waktu 48 jam, atau memburuk,
observasi untuk komplikasi dan berikan terapi yang sesuai. Jika tidak
ada komplikasi yang jelas, beralih ke:
- Kloramfenikol (25 mg/kg I.M atau I.V setiap 6 jam) sampai anak
membaik. Kemudian lanjutkan oral 4 kali sehari selama 10 hari.
 Pneumonia tidak berat
- Amoksisilin 25 mg/kg 12 jam selama 5 hari
 Berikan dosis pertama di klinik dan mengajarkan ibu cara
memberikan dosis lainnya di rumah.
 Anjurkan pemberian asi dan makan.
 Pneumonia rumah sakit
Didefinisikan sebagai pneumonia yang terjadi lebih dari 48 jam
setelah masuk rumah sakit.
- Gunakan terapi empiris sampai hasil mikrobiologi tersedia:
Ampisilin (IV) 1 g setiap 6 jam selama 7-10 hari + Gentamisin
(IV) 4 sampai 5 mg/kg/ hari dalam 2 dosis terbagi selama 7-10
hari.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
51
 

2.3.8. Tuberkulosis
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium tuberculosis. Sebagian
besar kuman TB menyerang paru, namun dapat juga mengenai organ tubuh
lainnya. Indonesia merupakan negara yang termasuk sebagai 5 besar dari
22 negara di dunia dengan beban TB. Kontribusi TB di Indonesia sebesar
5,8 %. Saat ini timbul kedaruratan baru dalam penanggulangan TB, yaitu
TB Resisten Obat (Multi Drug Resistance/MDR) (Kemenkes RI, 2014).
Mycobacterium tuberculosis termasuk bakteri gram positif dan
berbentuk batang. Umumnya Mycobacterium tuberculosis menyerang
paru dan sebagian kecil organ tubuh lain. Kuman ini mempunyai sifat
khusus, yakni tahan terhadap asam pada pewarnaan, hal ini dipakai untuk
identifikasi dahak secara mikroskopis sehingga disebut sebagai basil tahan
asam (BTA). Mycobacterium tuberculosis cepat mati dengan matahari
langsung, tetapi dapat bertahan hidup pada tempat yang gelap dan lembab.
Kuman dapat dormant atau tertidur sampai beberapa tahun dalam jaringan
tubuh.

2.3.8.1. Faktor Resiko


Beberapa faktor risiko untuk menderita TB adalah:
1. Jenis kelamin
Penyakit TB dapat menyerang laki-laki dan perempuan. Hampir
tidak ada perbedaan di antara anak laki dan perempuan sampai pada
umur pubertas.
2. Status gizi
Telah terbukti bahwa malnutrisi akan mengurangi daya tahan tubuh
sehingga akan menurunkan resistensi terhadap berbagai penyakit
termasuk TB. (Croft, 2002).
3. Sosioekonomi
Penyakit TB lebih banyak menyerang masyarakat yang berasal dari
kalangan sosioekonomi rendah. Lingkungan yang buruk dan
permukiman yang terlampau padat sangat potensial dalam
penyebaran penyakit TB (Croft, 2002).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
52
 

4. Pendidikan
Rendahnya pendidikan seseorang penderita TB dapat
mempengaruhi seseorang untuk mencari pelayanan kesehatan.
Terdapat beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa seseorang
yang mempunyai pendidikan rendah akan berpeluang untuk
mengalami ketidaksembuhan 5,5 kali lebih besar berbanding
dengan orang yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi
(Croft, 2002).
5. Faktor-faktor Toksis
Merokok, minuman keras, dan tembakau merupakan faktor penting
dapat menurunkan daya tahan tubuh (Nelson, 1995).

2.3.8.2. Patofisiologi
Paru merupakan port d’entrée lebih dari 98 % kasus infeksi TB.
Karena ukurannya yang sangat kecil, kuman TB dalam percik renik
(droplet nuclei) yang terhirup, dapat mencapai alveolus. Masuknya kuman
TB ini akan segera diatasi oleh mekanisme imunologis non spesifik.
Makrofag alveolus akan menfagosit kuman TB dan biasanya sanggup
menghancurkan sebagian besar kuman TB. Akan tetapi, pada sebagian
kecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan kuman TB dan kuman
akan bereplikasi dalam makrofag. Kuman TB dalam makrofag yang terus
berkembang biak, akhirnya akan membentuk koloni di tempat tersebut.
Lokasi pertama koloni kuman TB di jaringan paru disebut Fokus Primer
GOHN.
Dari fokus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfa menuju
kelenjar limfa regional, yaitu kelenjar limfa yang mempunyai saluran
limfa ke lokasi fokus primer. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya
inflamasi di saluran limfa (limfangitis) dan di kelenjar limfa (limfadenitis)
yang terkena. Jika fokus primer terletak di lobus paru bawah atau tengah,
kelenjar limfa yang akan terlibat adalah kelenjar limfa parahilus,
sedangkan jika fokus primer terletak di apeks paru, yang akan terlibat
adalah kelenjar paratrakeal. Kompleks primer merupakan gabungan antara

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
53
 

fokus primer, kelenjar limfa regional yang membesar (limfadenitis) dan


saluran limfa yang meradang (limfangitis).
Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga
terbentuknya kompleks primer secara lengkap disebut sebagai masa
inkubasi TB. Hal ini berbeda dengan pengertian masa inkubasi pada proses
infeksi lain, yaitu waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman hingga
timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi TB biasanya berlangsung dalam
waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara 2-12 minggu. Dalam masa
inkubasi tersebut, kuman tumbuh hingga mencapai jumlah 103 -104, yaitu
jumlah yang cukup untuk merangsang respons imunitas seluler.
Selama berminggu-minggu awal proses infeksi, terjadi pertumbuhan
logaritmik kuman TB sehingga jaringan tubuh yang awalnya belum
tersensitisasi terhadap tuberkulin, mengalami perkembangan sensitivitas.
Pada saat terbentuknya kompleks primer inilah, infeksi TB primer
dinyatakan telah terjadi. Hal tersebut ditandai oleh terbentuknya
hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein, yaitu timbulnya respons
positif terhadap uji tuberkulin. Selama masa inkubasi, uji tuberkulin masih
negatif. Setelah kompleks primer terbentuk, imunitas seluluer tubuh
terhadap TB telah terbentuk. Pada sebagian besar individu dengan system
imun yang berfungsi baik, begitu system imun seluler berkembang,
proliferasi kuman TB terhenti. Namun, sejumlah kecil kuman TB dapat
tetap hidup dalam granuloma. Bila imunitas seluler telah terbentuk, kuman
TB baru yang masuk ke dalam alveoli akan segera dimusnahkan.
Setelah imunitas seluler terbentuk, fokus primer di jaringan paru
biasanya mengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau
kalsifikasi setelah mengalami nekrosis perkijuan dan enkapsulasi.
Kelenjar limfa regional juga akan mengalami fibrosis dan enkapsulasi,
tetapi penyembuhannya biasanya tidak sesempurna fokus primer di
jaringan paru. Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-
tahun dalam kelenjar ini.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
54
 

2.3.8.3. Gejala Tuberkulosis (Depkes RI, 2005)


Gejala TB pada orang dewasa umumnya penderita mengalami batuk
dan berdahak terus-menerus selama 3 minggu atau lebih, batuk darah atau
pernah batuk darah. Adapun gejala-gejala lain dari TB pada orang dewasa
adalah sesak nafas dan nyeri dada, badan lemah, nafsu makan dan berat
badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam,
walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.
Pada anak-anak gejala TB terbagi 2, yakni gejala umum dan gejala
khusus.
a. Gejala umum, meliputi :
 Berat badan turun selama 3 bulan berturut-turut tanpa sebab yang
jelas dan tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan
penanganan gizi yang baik.
 Demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus,
malaria atau infeksi saluran nafas akut) dapat disertai dengan
keringat malam.
 Pembesaran kelenjar limfa superfisialis yang tidak sakit, paling
sering di daerah leher, ketiak dan lipatan paha.
 Gejala dari saluran nafas, misalnya batuk lebih dari 30 hari
(setelah disingkirkan sebab lain dari batuk), tanda cairan di dada
dan nyeri dada.
b. Gejala Khusus, sesuai dengan bagian tubuh yang diserang, misalnya:
 TB kulit atau skrofuloderma
 TB tulang dan sendi, meliputi:
 Tulang punggung (spondilitis): gibbus
 Tulang panggul (koksitis): pincang, pembengkakan di
pinggul
 Tulang lutut: pincang dan atau bengkak
 TB otak dan saraf meningitis dengan gejala kaku kuduk, muntah-
muntah dan kesadaran menurun.
 Gejala mata
 Konjungtivitis phlyctenularis

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
55
 

 Tuburkel koroid (hanya terlihat dengan funduskopi)


Seorang anak juga patut dicurigai menderita TB apabila:
 Mempunyai sejarah kontak erat (serumah) dengan penderita TB BTA
positif.
 Terdapat reaksi kemerahan cepat setelah penyuntikkan BCG (dalam
3-7 hari).

2.3.8.4. Pemeriksaan (Kemenkes RI, 2014)


 Pemeriksaan Fisik
Demam (pada umumnya subfebris, walaupun bisa juga tinggi sekali),
respirasi meningkat, berat badan menurun (BMI pada umumnya
<18,5). Pada auskultasi terdengar suara napas
bronkhial/amforik/ronkhi basah/suara napas melemah di apeks paru,
tergantung luas lesi dan kondisi pasien.
 Pemeriksaan Penunjang
a. Darah: limfositosis/monositosis, LED meningkat, Hb turun.
b. Pemeriksaan mikroskopis kuman TB (Bakteri Tahan Asam/
BTA) atau kultur kuman dari specimen sputum/dahak sewaktu-
pagi-sewaktu.
c. Untuk TB non paru, spesimen dapat diambil dari bilas lambung,
cairan serebrospinal, cairan pleura ataupun biopsi jaringan.
d. Tes tuberkulin (Mantoux test). Pemeriksaan ini merupakan
penunjang utama untuk membantu menegakkan Diagnosis TB
pada anak.
e. Pembacaan hasil uji tuberkulin yang dilakukan dengan cara
Mantoux (intrakutan) dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan
dengan mengukur diameter transversal. Uji tuberkulin dinyatakan
positif yaitu:
1. Pada kelompok anak dengan imunokompeten termasuk anak
dengan riwayat imunisasi BCG diameter indurasinya
>10 mm.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
56
 

2. Pada kelompok anak dengan imunokompromais (HIV, gizi


buruk, keganasan dan lainnya) diameter indurasinya >5 mm.
f. Radiologi dengan foto toraks PA-Lateral/top lordotik. Pada TB,
umumnya di apeks paru terdapat gambaran bercak-bercak awan
dengan batas yang tidak jelas atau bila dengan batas jelas
membentuk tuberkuloma. Gambaran lain yang dapat menyertai
yaitu, kavitas (bayangan berupa cincin berdinding tipis), pleuritis
(penebalan pleura), efusi pleura (sudut kostrofrenikus tumpul).

Tabel 2.5. Sistem Skoring TB Anak (Kemenkes RI, 2014)

Parameter 0 1 2 3 Jumlah
Kontak TB Tidak jelas Laporan BTA (+)
keluarga, BTA
(-) atau BTA
tidak jelas/tidak
tahu
Uji Tuberkulin (-) (+) (≥10mm,
(Mantoux) atau ≥5mm
pada
keadaan
imunokompr
omais)
Berat BB/TB < 90% Klinis gizi
badan/keadaan gizi atau BB/U < buruk atau
80% BB/TB <70%
atau BB/U <
60%
Demam yang tidak > 2 minggu
diketahui
penyebabnya
Batuk kronik ≥3 minggu
Pembesaran >1 cm,
kelenjar limfe kolli, Lebih dari 1
aksila, inguinal KGB,
tidak nyeri
Pembengkakan Ada pembeng-
tulang/sendi kakan
panggul, lutut,
falang
Foto toraks Normal Gambaran
kelainan sugestif TB
tidak jelas
Total skor

Catatan:
a. Bila BB kurang, diberikan upaya perbaikan gizi dan dievaluasi selama
1 bulan.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
57
 

b. Demam (> 2 minggu) dan batuk (> 3 minggu) yang tidak membaik
setelah diberikan pengobatan sesuai baku terapi di Puskesmas.
c. Gambaran foto toraks mengarah ke TB berupa: pembesaran kelenjar
hilus atau paratrakeal dengan/tanpa infiltrat, atelektasis, konsolidasi
segmental/lobar, milier, kalsifikasi dengan infiltrat, tuberkuloma.
d. Semua bayi dengan reaksi cepat (< 2 minggu) saat imunisasi BCG
harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.
e. Pasien usia balita yang mendapat skor 5, dengan gejala klinis
meragukan, maka pasien tersebut dirujuk ke rumah sakit untuk
evaluasi lebih lanjut.
Sistem skoring (scoring system) diagnosis TB membantu tenaga
kesehatan agar tidak terlewat dalam mengumpulkan data klinis maupun
pemeriksaan penunjang sederhana sehingga diharapkan dapat mengurangi
terjadinya under diagnosis maupun over diagnosis.
Anak dinyatakan probable TB jika skoring mencapai nilai 6 atau
lebih. Namun demikian, jika anak yang kontak dengan pasien BTA positif
dan uji tuberkulinnya positif namun tidak didapatkan gejala, maka anak
cukup diberikan profilaksis INH terutama anak balita.

2.3.8.5. Penatalaksanaan (Kemenkes RI, 2014)


 Tujuan pengobatan
a. Menyembuhkan, mempertahankan kualitas hidup dan
produktifitas pasien.
b. Mencegah kematian akibat TB aktif atau efek lanjutan.
c. Mencegah kekambuhan TB.
d. Mengurangi penularan TB kepada orang lain.
e. Mencegah kejadian dan penularan TB resisten obat.
 Prinsip-prinsip terapi
a. Praktisi harus memastikan bahwa obat-obatan tersebut digunakan
sampai terapi selesai.
b. Semua pasien (termasuk pasien dengan infeksi HIV) yang tidak
pernah diterapi sebelumnya harus mendapat terapi Obat Anti TB
(OAT) lini pertama sesuai ISTC (Tabel 2.6).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
58
 

1. Fase Awal selama 2 bulan, terdiri dari: Isoniazid, Rifampisin,


Pirazinamid, dan Etambutol.
2. Fase lanjutan selama 4 bulan, terdiri dari: Isoniazid dan
Rifampisin
3. Dosis OAT yang digunakan harus sesuai dengan terapi
rekomendasi internasional, sangat dianjurkan untuk
penggunaan Kombinasi Dosis Tetap (KDT/fixed-dose
combination/ FDC) yang terdiri dari 2 tablet (INH dan RIF),
3 tablet (INH, RIF dan PZA) dan 4 tablet (INH, RIF, PZA,
EMB).
c. Untuk membantu dan mengevaluasi kepatuhan, harus dilakukan
prinsip pengobatan dengan:
1. Sistem patient centred strategy, yaitu memilih bentuk obat,
cara pemberian cara mendapatkan obat serta kontrol pasien
sesuai dengan cara yang paling mampu laksana bagi pasien.
2. Pengawasan langsung menelan obat (DOT/direct observed
therapy)

Tabel 2.6. Dosis Obat TB Rekomendasi dosis dalam mg/kgBB

Obat Harian 3x seminggu


INH* 5(4-6) max 300mg/hr 10(8-12) max 900 mg/dosis
RIF 10 (8-12) max 600 mg/hr 10 (8-12) max 600 mg/dosis
PZA 25 (20-30) max 1600 mg/hr 35 (30-40) max 2400 mg/dosis
EMB 15 (15-20) max 1600 mg/hr 30 (25-35) max 2400 mg/dosis

d. Semua pasien dimonitor respon terapi, penilaian terbaik adalah


follow up mikroskopis dahak (2 spesimen) pada saat:
1. Akhir fase awal (setelah 2 bulan terapi),
2. 1 bulan sebelum akhir terapi, dan pada akhir terapi.
3. Pasien dengan hasil pemeriksaan dahak positif pada 1 bulan
sebelum akhir terapi dianggap gagal (failure) dan harus
meneruskan terapi modifikasi yang sesuai.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
59
 

4. Evaluasi dengan foto toraks bukan merupakan pemeriksaan


prioritas dalam follow up TB paru.
e. Catatan tertulis harus ada mengenai:
1. Semua pengobatan yang telah diberikan,
2. Respon hasil mikrobiologi
3. Kondisi fisik pasien
4. Efek samping obat
f. Di daerah prevalensi infeksi HIV tinggi, infeksi Tuberkulosis –
HIV sering bersamaan, konsultasi dan tes HIV diindikasikan
sebagai bagian dari tatalaksana rutin.
g. Semua pasien dengan infeksi Tuberkulosis-HIV harus dievaluasi
untuk:
1. Menentukan indikasi ARV pada tuberkulosis.
2. Inisasi terapi tuberkulosis tidak boleh ditunda.
3. Pasien infeksi tuberkulosis-HIV harus diterapi
Kotrimoksazol apabila CD 4 < 200.

Diagnosis TB dengan pemeriksaan selengkap


mungkin (Skor ≥ 6 sebagai entry point)

Beri OAT 2 bulan


terapi

Ada perbaikan klinis Tidak da perbaikan klinis

Terapi TB diteruskan Terapi TB diteruskan Untuk RS fasilitas terbatas


sambil mencari
rujuk ke RS yang lengkap
penyebabnya

Gambar 2.2. Alur tatalaksana pasien TB Anak pada sarana pelayanan kesehatan
dasar (Kemenkes RI, 2014)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
60
 

Suspek TB Anak

Terdapat 1 atau lebih gejala TB anak (*)

Sistem Skoring

Skor > 6 Skor = 6 Skor < 6

Infeksi laten TB
Didapat dari Didapat dari
parameter uji parameter uji
tuberkulin (+) tuberkulin (+)
dan kontak; dan kontak; Pertimba- Bukan
dengan gejala tanpa gejala ngan dokter TB
klinis lain klinis lain (**)

TB Anak

Evaluasi 2 bulan terapi Umur ≥ 5 Umur ≤ 5


th th

Perbaikan Tidak ada


perbaikan INH
Profilaksis

HIV (+) HIV (-)


Lanjutkan Evaluasi, rujuk
terapi bila perlu

INH Observasi
Profilaksis

Keterangan:
(*) : Gejala TB anak sesuai dengan parameter sistem skoring
(**) : Pertimbangan dokter untuk mendapatkan terapi TB anak pada skor
< 6 bila ditemukan skor 5 yang terdiri dari kontak BTA positif disertai
dengan 2 gejala klinis lainnya pada fasyankes yang tidak tersedia uji
tuberkulin

Gambar 2.3. Algoritma tatalaksana TB Anak (Kemenkes RI, 2013)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
61
 

Tabel 2.7. OAT KDT pada anak (sesuai rekomendasi IDAI)

Berat badan 2 bulan tiap hari 3KDT Anak 4 bulan tiap hari 2KDT Anak
(kg) RHZ (75/50/150) RH (75/50)
5-9 1 tablet 1 tablet
10-14 2 tablet 2 tablet
15-19 3 tablet 3 tablet
20-32 4 tablet 4 tablet

2.4. Rumah Sakit


Rumah sakit adalah suatu organisasi yang kompleks,
menggunakan gabungan alat ilmiah khusus dan rumit, dan difungsikan
oleh berbagai kesatuan personel terlatih dan terdidik dalam menghadapi
dan menangani masalah medis modern yang semuanya terikat bersama-
sama dalam maksud yang sama, untuk pemulihan dan pemeliharaan
kesehatan yang baik (Siregar, C. J. P., dan Lia, A., 2003).
Definisi rumah sakit berdasarkan UU RI No. 44 tahun 2009 adalah
institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan
kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan
rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Menurut UU RI No. 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit , tugas
rumah sakit adalah menyediakan keperluan untuk pemeliharaan dan
pemulihan kesehatan. Sedangkan fungsi rumah sakit adalah sebagai
berikut:
a. penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan
sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit
b. pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui
pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai
kebutuhan medis;
c. penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia
dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan
kesehatan; dan
d. penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan
teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
62
 

kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang


kesehatan.
Rumah sakit umum pemerintah pusat dan daerah
diklasifikasikan menjadi rumah sakit A,B,C, dan D. Klasifikasi tersebut
didasarkan pada unsur pelayanan ketenagaan fisik dan peralatan.
Klasifikasi Rumah Sakit Umum pemerintah menurut UU RI No. 44 Tahun
2009:
1. Rumah sakit umum kelas A adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling
sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 5 (lima) spesialis penunjang
medik, 12 (dua belas) spesialis lain dan 13 (tiga belas) subspesialis.
2. Rumah sakit umum kelas B adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling
sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 4 (empat) spesialis penunjang
medik, 8 (delapan) spesialis lain dan 2 (dua) subspesialis dasar.
3. Rumah sakit umum kelas C adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling
sedikit 4 (empat) spesialis dasar dan 4 (empat) spesialis penunjang
medik.
4. Rumah sakit umum kelas D adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling
sedikit 2 (dua) spesialis dasar.
2.5. Pelayanan Farmasi Klinis di Rumah Sakit
Pelayanan farmasi klinis merupakan pelayanan langsung yang
diberikan Apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan outcome
terapi dan meminimalkan resiko terjadinya efek samping karena obat
untuk tujuan keselamatan pasien (patient safety) sehingga kualitas hidup
pasien (quality of life) terjamin (Permenkes, 2014). Pelayanan farmasi
klinis yang dilakukan meliputi:
a. Pengkajian dan pelayanan resep;
b. Penelusuran riwayat penggunaan obat;
c. Rekonsiliasi obat;

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
63
 

d. Pelayanan Informasi Obat (PIO);


e. Konseling;
f. Visite;
g. Pemantauan Terapi Obat (PTO);
h. Monitoring Efek Samping Obat (MESO);
i. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO);
j. Dispensing sediaan steril; dan
k. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD)
2.6. Rekam medis
Setiap rumah sakit dipersyaratkan mengadakan dan memelihara
rekam medis dan memadai dari setiap penderita, baik untuk penderita
rawat tinggal maupun penderita rawat jalan. Rekam medis ini harus secara
akurat didokumentasikan, segera tersedia, dapat dipergunakan, mudah
ditelusuri kembali (retrieving) dan lengkap informasi. Rekam medis
adalah sejarah ringkas, jelas, dan akurat dari kehidupan dan kesakitan
penderita, ditulis dari sudut pandang medis.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
269/MenKes/Per/III/2008 rekam medis adalah berkas yang berisikan
catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan,
tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Kegunaan
rekam medis secara umum sesuai dengan Undang-Undang Dirjen
Pelayanan Medis Depkes RI dalam keputusan No. 78 tahun 1991
menjelaskan bahwa rekam medis digunakan sebagai:
1. Sumber informasi medis dari pasien yang berobat di rumah sakit
berguna untuk keperluan pengobatan dan pemeliharaan kesehatan
pasien.
2. Alat komunikasi antara dokter dengan dokter lainnya, antara dokter
dengan para medis guna memberikan pelayanan, pengobatan dan
perawatan.
3. Buku tertulis (documentary evidence) tentang pelayanan yang telah
diberikan oleh rumah sakit dan keperluan lain.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
64
 

4. Alat untuk analisa dan evaluasi terhadap kualitas pelayanan yang


diberikan oleh rumah sakit dan kepeluan lain.
5. Alat untuk melindungi kepentingan hukum bagi pasien, dokter, tenaga
kesehatan lainnya di rumah sakit.
6. Untuk penelitian dan pendidikan.
7. Untuk perencanaan dan pemanfaatan dan sumber daya.
8. Untuk keperluan lain yang ada kaitannya dengan rekam medis.

2.7. Terapi Obat Berkaitan Dengan Karakteristik Pasien Pediatri (Depkes


RI, 2009)
Pada pasien pediatri terapi obat yang diberikan berbeda dengan
terapi obat pada orang dewasa karena perbedaan karakteristik. Perbedaan
karakteristik ini akan mempengaruhi farmakokinetika-farmakodinamika
obat sehingga akan mempengaruhi efikasi dan/ atau toksisitas obat.
1. Farmakokinetika – Farmakodinamika
Kinetika obat dalam tubuh anak-anak berbeda dengan dewasa sesuai
dengan pertambahan usianya. Beberapa perubahan farmakokinetika
terjadi selama periode perkembangan dari masa anak-anak sampai
masa dewasa yang menjadi pertimbangan dalam penetapan dosis
untuk pediatri:
a. Absorpsi
Absorpsi obat melalui rute oral dan parenteral pada anak
sebanding dengan pasien dewasa. Pada bayi dan anak sekresi
asam lambung belum sebanyak pada dewasa, sehingga pH
lambung menjadi lebih alkalis. Hal tersebut akan menurunkan
absorbsi obat-obat yang bersifat asam lemah seperti
Fenobarbital dan Fenitoin, sebaliknya akan meningkatkan
absorbsi obat-obat yang bersifat basa lemah seperti Penisilin dan
Eritromisin. Waktu pengosongan dan pH lambung akan
mencapai tahap normal pada usia sekitar tiga tahun. Waktu
pengosongan lambung pada bayi baru lahir yaitu 6-8 jam
sedangkan dewasa 3-4 jam. Oleh karena itu, harus diperhatikan
pada pemberian obat yang di absorbsi di lambung. Peristaltik

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
65
 

pada neonatus tidak beraturan dan mungkin lebih lambat


sehingga absorbsi obat di usus halus sulit diprediksi.
Absorpsi perkutan meningkat pada bayi dan anak-anak
terutama pada bayi prematur karena kulitnya lebih tipis, lebih
lembab dan lebih besar dalam ratio luas permukaan tubuh per
kilogram berat badan. Sebagai contoh terjadinya peningkatan
absorpsi obat melalui kulit, terjadi pada penggunaan steroid,
asam borat, heksaklorofen, iodium, asam salisilat dan alkohol.
Absorpsi obat pada pemberian secara intramuskular
bervariasi dan sulit diperkirakan. Perbedaan masa otot,
ketidakstabilan vasomotor perifer, kontraksi otot dan perfusi
darah yang relatif lebih kecil dari dewasa, kecuali persentase air
dalam otot bayi lebih besar dibandingkan dewasa. Efek total dari
faktor-faktor ini sulit diperkirakan, misalnya fenobarbital akan
diabsorpsi secara cepat sedang absorpsi diazepam memerlukan
waktu lebih lama. Oleh karena itu, pemberian secara
intramuskular jarang dilakukan pada neonatus kecuali pada
keadaan darurat atau tidak memungkinkan untuk pemberian
secara intravena.
Pemberian obat secara rektal umumnya berguna untuk bayi
dan anak yang tidak memungkinkan menggunakan sediaan oral
seperti pada kondisi muntah dan kejang. Namun demikian,
seperti halnya pada pasien dewasa, ada kemungkinan terjadinya
variasi individu pada suplai darah ke rektum yang menyebabkan
variasi dalam kecepatan dan derajat absorpsi pada pemberian
secara rektal.
b. Distribusi
Distribusi obat pada bayi dan anak berbeda dengan orang
dewasa, karena adanya perbedaan volume cairan ekstraselluler,
total air tubuh, komposisi jaringan lemak, dan ikatan protein.
Volume cairan ekstraselular relatif lebih tinggi dibandingkan
orang orang dewasa, volume ini akan terus menurun seiring

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
66
 

bertambahnya usia; pada neonatus 50 %, pada bayi berusia


4-6 bulan 35 %, pada usia satu tahun 25 % sedangkan pada orang
dewasa sebanyak 20-25 % dari total berat badan. Hal lain yang
lebih penting adalah total cairan dalam tubuh akan lebih tinggi
pada bayi yang dilahirkan secara prematur (80-85 % dari total
berat badan) dibandingkan pada bayi normal (75 % dari total
berat badan) dan pada bayi usia 3 bulan 60 % dan pada orang
dewasa (55 % dari total berat badan). Besarnya volume cairan
ekstra sel dan total air tubuh akan menyebabkan volume
distribusi dari obat-obat yang larut dalam air contoh
Fenobarbital Na, Penisilin dan Aminoglikosida akan meningkat
sehingga dosis mg/kg BB harus diturunkan.
Hal sebaliknya terjadi berupa lebih sedikitnya jaringan
lemak pada bayi dibandingkan pada orang dewasa. Pada bayi
prematur 1-2 % sedangkan pada bayi lahir cukup bulan 15 %
sedangkan pada orang dewasa sekitar 20 %. Sebagai
konsekuensinya volume distribusi obat yang larut lemak pada
bayi dan anak lebih kecil dibandingkan dengan orang dewasa
sehingga diperlukan penurunan dosis dan/atau penyesuaian
interval.
Afinitas ikatan obat dengan protein plasma pada bayi dan
anak lebih rendah dibandingkan dengan orang dewasa, hal ini
ditambah pula dengan terjadinya kompetisi untuk tempat ikatan
obat tertentu oleh senyawa endogen tertentu seperti bilirubin.
Ikatan protein plasma seperti Fenobarbital, Salisilat dan Fenitoin
pada neonatus lebih kecil daripada orang dewasa sehingga
diperlukan dosis yang lebih kecil atau interval yang lebih
panjang. Afinitas ikatan obat dengan protein akan sama dengan
orang dewasa pada usia 10-12 bulan.
Sebagai contoh, dosis Gentamisin pada neonatus usia
0-7 hari 5 mg/kg BB setiap 48 jam, bayi usia 1-4 minggu tiap 36

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
67
 

jam, lebih dari 1 bulan setiap 24 jam. Pada anak usia 7-8 bulan
4 mg/kg BB setiap 24 jam.
c. Metabolisme
Rendahnya metabolisme obat di hati pada neonatus
disebabkan oleh rendahnya aliran darah ke hati, asupan obat oleh
sel hati, kapasitas enzim hati dan ekskresi empedu. Sistem enzim
di hati pada neonatus dan bayi belum sempurna, terutama pada
proses oksidasi dan glukoronidase, sebaliknya pada jalur
konjugasi dengan asam sulfat berlangsung sempurna.
Meskipun metabolisme Asetaminofen melalui jalur
glukoronidase pada anak masih belum sempurna dibandingkan
pada orang dewasa, sebagian kecil dari bagian ini dikompensasi
melalui jalur konjugasi dengan asam sulfat. Jalur metabolisme
ini mungkin berhubungan langsung dengan usia (9) dan
mungkin memerlukan waktu selama beberapa bulan sampai satu
tahun agar berkembang sempurna. Hal ini terlihat dari
peningkatan klirens pada usia setelah satu tahun.
Dosis beberapa jenis antiepilepsi dan teofilin untuk bayi
lebih besar daripada dosis dewasa agar tercapai konsentrasi
plasma terapeutik. Hal ini disebabkan bayi belum mampu
melakukan metabolisme senyawa tersebut menjadi bentuk
metabolit aktifnya.
d. Eliminasi Melalui Ginjal
Filtrasi glomerulus, sekresi tubulus, reabsorbsi tubulus
menurun dan bersihan (clearance) obat tidak dapat di prediksi,
tergantung cara eliminasi obat tersebut di ginjal.
Pada umumnya obat dan metabolitnya dieliminasi melalui
ginjal. Kecepatan filtrasi glomerulus pada neonatus adalah
0,6-0,8 mL/menit per 1,73 m2 dan pada bayi adalah
2-4 mL/menit per 1,73 m2. Proses filtrasi glomerulus, sekresi
tubuler dan reabsorpsi tubuler akan menunjukkan efisiensi
ekskresi ginjal. Proses perkembangan proses ini akan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
68
 

berlangsung sekitar beberapa minggu sampai satu tahun setelah


kelahiran.
2. Efikasi dan Toksisitas Obat
Selain adanya perbedaan farmakokinetik antara pasien pediatri
dan pasien dewasa, faktor yang berhubungan dengan efikasi dan
toksisitas obat harus dipertimbangkan dalam perencanaan terapi
untuk pasien pediatri. Perubahan patofisiologi yang spesifik
berlangsung pada pasien pediatri yang mempunyai penyakit
tertentu. Contoh terjadinya perubahan patofisiologik dan
farmakodinamik pada pasien yang menderita asma kronik.
Manifestasi klinik asma kronik pada anak berbeda dengan dewasa.
Anak- anak menunjukkan tipe asma ekstrinsik yang bersifat
reversibel, sedangkan dewasa berupa asma non atopik bronkial
iritabilitas. Hal ini tampak dengan diperlukannya terapi
hiposensitisasi adjunctive pada pasien pediatri dengan asma
ekstrinsik.
Beberapa efek samping yang pasti terjadi pada neonatus telah
diketahui, dimana efek samping toksik lain dapat menjadi perhatian
untuk beberapa tahun selama masa anak-anak. Toksisitas
kloramfenikol meningkat pada neonatus karena metabolisme yang
belum sempurna dan tingginya bioavailabilitas. Mirip dengan
Kloramfenikol, Propilen Glikol yang ditambahkan kepada beberapa
sediaan injeksi seperti Fenitoin, Fenobarbital, Digoksin, Diazepam,
Vitamin D dan Hidralazin dapat menyebabkan hiperosmolalitas
pada bayi.
Beberapa obat berkurang toksisitasnya pada pasien pediatri
dibanding pasien dewasa. Aminoglikosida lebih rendah
toksisitasnya pada bayi dibandingkan pada orang dewasa. Pada
pasien dewasa, toksisitas aminoglikosida berhubungan langsung
dengan akumulasi pada kompartemen perifer dan sensitifitas pasien
yang bersifat permanen terhadap konsentrasi aminoglikosida di
jaringan.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
69
 

Meskipun jaringan kompartemen perifer neonatus untuk


Gentamisin telah dilaporkan mempunyai ciri yang mendekati
dengan kondisi pada pasien dewasa dengan fungsi ginjal yang sama,
Gentamisin jarang bersifat nefrotoksik untuk bayi. Perbedaan
insiden nefrotoksik tersebut menunjukkan bahwa neonatus
mempunyai sensitifitas jaringan yang permanen dan lebih rendah
terhadap toksisitas dibandingkan pada pasien dewasa. Perbedaan
efikasi, toksisitas dan ikatan protein obat pada pasien pediatri dan
pasien dewasa menimbulkan pertanyaan penting tentang rentang
terapeutik pada anak yang dapat diterima.
Contoh yang lain terjadinya Sindroma Reye, merupakan
penyakit fatal yang menyebabkan efek kerusakan pada banyak
organ, khususnya otak dan hati. Hal ini dapat terjadi berkaitan
dengan penggunaan Aspirin oleh pasien pediatri yang sedang
menderita penyakit karena virus misalnya cacar air. Penyakit ini
dapat menyebabkan fatty liver dengan inflamasi minimal, dan
ensefalopati parah (dengan pembesaran otak). Hati sedikit
membengkak dan kencang, dan tampak perubahan pada ginjal.
Biasanya tidak terjadi jaundice. Diagnosis awal merupakan hal
penting, karena jika tidak dapat terjadi kerusakan otak atau
kematian. Perhatian juga perlu pada penggunaan Tetrasiklin dan
Fluorokinolon.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


   
 
 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian


3.1.1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di salah satu rumah sakit daerah Bangka.

3.1.2. Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan mulai dari Maret 2016 sampai dengan
September 2016. Penelitian ini terdiri dari penyusunan proposal penelitian,
pengambilan data, analisis data serta penyusunan hasil dari penelitian
tersebut.

3.2. Desain Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian dekriptif yang menggunakan
pendekatan cross-sectional (potong lintang), yaitu mempelajari dinamika
korelasi antara faktor pengaruh dan faktor terpengaruh dengan cara
pendekatan, observasi, pengumpulan data sekaligus, dimana menekankan
waktu pengukuran hanya satu kali pada satu saat (Notoatmodjo, 2002).
Penelitian ini bersifat non eksperimental karena tidak ada perlakuan pada
subyek penelitian (Pratiknya, 2001). Penelitian ini berupa penelitian survei
dengan metode retrospektif yaitu penelitian berdasarkan rekam medis
pasien, melihat ke belakang peristiwa yang terjadi dimasa lalu, dengan
melakukan penelusuran dokumen terdahulu, yaitu pada lembar rekam
medik pasien pediatri penderita ISPA di salah satu rumah sakit daerah
Bangka periode Januari sampai dengan Desember 2015. Analisa dilakukan
secara deksriptif yaitu dengan menggambarkan karakteristik demografi
pasien ISPA dan jumlah setiap kategori DRPs (dosis rendah, dosis tinggi,
indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi, potensi interaksi obat dan
ketidaktepatan pemilihan obat).

70 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


 
71
 

3.3. Kerangka Konsep


Kerangka konsep penelitian merupakan suatu hubungan atau kaitan
antara variabel-variabel yang akan diamati (diukur) dalam penelitian
tersebut (Notoatmodjo, 2005).

Variabel Independen Variabel Dependen

Profil penggunaan obat


pasien
Jumlah DRPs yang terjadi pada
pasien anak penderita ISPA:
Karakteristik Pasien: 1. Dosis rendah
2. Dosis tinggi
- Usia 3. Interaksi obat
- Jenis kelamin 4. Ketepatan pemilihan obat
- Penyakit penyerta 5. Indikasi tanpa obat
6. Obat tanpa indikasi

Jumlah Penggunaan Obat

Gambar 3.1 Bagan Kerangka Konsep Penelitian

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


72
 

3.4. Variabel Penelitian


Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh
informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya
(Sugiyono, 2012). Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi
titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2006).

3.4.1. Variabel Independen


Variabel independen (bebas) adalah variabel yang mempengaruhi
atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen
(terikat) (Notoatmodjo, 2012).
Variabel independen pada penelitian ini adalah:
a. Karakteristik pasien
- Usia
- Jenis kelamin
- Penyakit penyerta
b. Profil penggunaan obat pasien
c. Jumlah penggunaan obat

3.4.2. Variabel Dependen


Variabel dependen (terikat) adalah variabel yang dipengaruhi atau
yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Notoatmodjo, 2012).
Variabel dependen pada penelitian ini adalah jumlah DRPs yang
terjadi pada pasien anak penderita ISPA kategori:
1. Dosis tinggi
2. Dosis rendah
3. Indikasi tanpa obat
4. Obat tanpa indikasi
5. Potensi interaksi obat
6. Ketidaktepatan pemilihan obat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


73
 

3.5. Definisi Operasional


Menurut Notoatmodjo (2012) definisi operasional adalah uraian
tentang batasan variabel yang dimaksud, atau tentang apa yang diukur oleh
variabel yang bersangkutan. Definisi operasional dari variabel penelitian
penting dan diperlukan agar pengukuran variabel atau pengumpulan data
(variabel) tersebut konsisten antara responden satu dengan responden yang
lainnya (Notoatmodjo, 2012). Berikut ini adalah tabel definisi operasional
dari variabel yang digunakan dalam penelitian:

Tabel 3.1 Tabel Definisi Operasional dari Variabel dalam Penelitian


Skala Kategori
No. Variabel Definisi Cara Ukur
Ukur
Rentang waktu antara Melihat data Ordinal 0. Neonatus:
saat lahir sampai saat rekam medis < 1 bulan
pengambilan data, pasien 1. Bayi:
dihitung saat ulang
1 bulan -
tahun terakhir.
2 tahun
Klasifikasi usia pasien 2. Anak-anak:
pediatri menurut US 2 tahun -
FDA: 12 tahun
Karakteristik
1 Pasien 3. Remaja:
- Neonatus:
- Usia lahir - 1 bulan 12 tahun -
- Bayi: <16 tahun
1 bulan - 2 tahun
- Anak-anak:
2 tahun - 12 tahun
- Remaja:
12 tahun - < 16 tahun

Melihat data Nominal 0. Laki-laki


rekam medis
Kondisi fisik yang 1. Perempuan
pasien
- Jenis menentukan status
kelamin seseorang laki-laki atau
perempuan.

Melihat data Nominal 0. Terdapat


rekam medis
penyakit
Kondisi tubuh pasien pasien
dimana pasien penyerta
- Penyakit
Penyerta menderita penyakit
1. Tanpa
selain ISPA
penyakit
penyerta

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


74
 

Melihat data Nominal 0. Antibiotik


rekam medis
1. Non
pasien
antibiotik
Semua jenis obat-
Profil obatan yang diterima
2 penggunaan pasien selama di rawat
obat di instalasi rawat inap
salah satu rumah sakit
daerah Bangka.

Melihat data Nominal 0. 1 – 5 obat


rekam medis
1. 6 – 10 obat
pasien
Jumlah Seluruh obat yang
2. > 10 obat
3 penggunaan diterima oleh pasien
obat selama dirawat di
rumah sakit.

Melihat data Nominal 0. Tidak ada


rekam medis
1. Ada
pasien,
Pediatric
Dosage
Handbook
(PDH, 2009),
Keadaan dimana pasien
Informatorium
a. Dosis menerima terapi obat
4 Obat Nasional
rendah dengan dosis obat yang
Indonesia”(IO
terlalu rendah
NI, 2008),
MIMS (2016)

Melihat data Nominal 0. Tidak ada


rekam medis
1. Ada
pasien,
Pediatric
Dosage
Handbook
(PDH, 2009),
Keadaan dimana pasien Informatorium
b. Dosis menerima terapi obat Obat Nasional
tinggi dengan dosis obat yang Indonesia”(IO
terlalu rendah NI, 2008),
MIMS (2016)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


75
 

Melihat data Nominal 0. Tidak ada


rekam medis
1. Ada
pasien, Drug
Interaction
Adanya perubahan efek
(Stockley et
obat yang dikonsumsi
al., 2003),
oleh pasien ISPA akibat
c. Potensi Drug
pengaruh atau reaksi
interaksi Interaction
dengan obat lain
obat Facts (Tatro,
sehingga mengganggu
2001),
proses penyembuhan
Pediatric
pasien
Dosage
Handbook
(PDH, 2009)

Melihat data Nominal 0. Tidak ada


rekam medis
1. Ada
pasien,
kemudian
dibandingkan
dengan
Guidelines
Keadaan dimana pasien
penyakit ISPA
membutuhkan obat
pada pasien
d. Indikasi untuk mengobati
anak-anak,
tanpa indikasi tetapi tidak
Permenkes
obat menerima pengobatan
No. 5 Tahun
(butuh terapi
2014,
tambahan).
Pedoman
Pelayanan
Medis Ikatan
Dokter Anak
Indonesia
Edisi II (2011)

Melihat data Nominal 0. Tidak ada


rekam medis
1. Ada
pasien,
kemudian
dibandingkan
dengan
Guidelines
penyakit ISPA
Ketika seorang pasien pada pasien
mengambil terapi obat anak-anak,
e. Obat tanpa
yang tidak perlu, yang Permenkes
indikasi
indikasi klinisnya tidak No. 5 Tahun
ada pada saat itu 2014,
Pedoman
Pelayanan
Medis Ikatan
Dokter Anak
Indonesia
Edisi II (2011)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


76
 

Melihat data Nominal 0. Tidak ada


rekam medis
1. Ada
pasien,
kemudian
dibandingkan
dengan
Guidelines
penyakit ISPA
pada pasien
anak-anak,
f. Ketidakte-
Keadaan dimana pasien Permenkes
patan
telah diresepkan obat No. 5 Tahun
pemilihan
yang salah. 2014,
obat
Pharmaceut-
ical Care
ISPA,
Pedoman
Pelayanan
Medis Ikatan
Dokter Anak
Indonesia
Edisi II (2011)

3.6. Populasi dan Sampel Penelitian


3.6.1. Populasi
Populasi adalah seluruh objek penelitian yang memiliki kuantitas
dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti dan
ditarik kesimpulannya (Arikunto, 2002). Subjek dalam penelitian ini
adalah seluruh pasien anak-anak penderita ISPA di salah satu rumah sakit
daerah Bangka periode Januari sampai dengan Desember 2015. Populasi
dalam penelitian ini sebanyak 117 pasien

3.6.2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
populasi tersebut (Sugiyono, 2005). Sampel dalam penelitian ini adalah
populasi yang memenuhi kriteria inklusi yaitu sebanyak 80 pasien. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling, yaitu semua
pasien yang memenuhi kriteria inklusi diambil sebagai penelitian.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


77
 

3.7. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Penelitian


3.7.1 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian yang dapat
mewakili dalam sampel penelitian, memenuhi syarat sebagai sampel.
Kriteria inklusi pada sampel kasus dalam penelitian ini adalah :
- Pasien pediatri penderita ISPA
- Pasien pediatri penderita ISPA di instalasi rawat inap salah satu rumah
sakit daerah Bangka pada bulan Januari – Desember 2015
- Pasien pediatri penderita ISPA dengan rekam medis lengkap dan
terbaca

3.7.2. Kriteria Eksklusi


Kriteria eksklusi merupakan keadaan yang menyebabkan subjek
tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian.
1. Pasien pediatri penderita ISPA yang tidak menyelesaikan pengobatan
(pulang paksa).

3.8. Cara Pengumpulan Data


Cara pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan
membaca lembar rekam medik pasien pediatri penderita ISPA yang
memenuhi kriteria inklusi di salah satu rumah sakit daerah Bangka.

3.9. Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk
pengumpulan data. Alat yang digunakan untuk pengumpulan data dari
penelitian ini adalah Rekam Medik Pasien anak penderita ISPA di salah
satu rumah sakit daerah Bangka. Buku-buku rujukan yang menjadi sumber
analisis data yaitu “Pharmaceutical Care untuk Infeksi Saluran
Pernafasan” (Depkes, 2006), “British National Formulary” (BNF, 2009),
“Pediatric Dosage Handbook” (PDH, 2009), “Informatorium Obat
Nasional Indonesia” (IONI, 2008), “Drug Interaction” (Stockley et al.,
2003), “Drug Interaction Facts” (Tatro, 2001), Pedoman Pelayanan Medis

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


78
 

Ikatan Dokter Anak Indonesia Edisi II (IDAI, 2011) dan Guideline-


Guideline Penyakit ISPA.

3.10. Prosedur Penelitian


3.10.2. Bagan Alur Penelitian

Persiapan (permohonan izin penelitian)

Pengumpulan data rekam medik pasien

Melakukan seleksi rekam medik pasien yang memenuhi kriteria inklusi

Pengambilan dan pencatatan data hasil rekam medis

Pengolahan data

Analisis data:
Analisis Univariat

Hasil

3.10.2. Persiapan (Permohonan Izin Penelitian)


1. Pembuatan dan penyerahan surat permohonan izin pelaksanaan
penelitian dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program
Studi Farmasi Universitas Islam Negeri Jakarta kepada Direktur salah
satu rumah sakit daerah Bangka.
2. Penyerahan surat persetujuan penelitian dari salah satu rumah sakit
daerah Bangka kepada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Program Studi Farmasi Universitas Islam Negeri Jakarta.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


79
 

3.10.3. Pelaksanaan Pengumpulan Data


3.10.3.1. Penelusuran Dokumen
1. Penelusuran data pasien pediatri di ruang rawat inap salah satu rumah
sakit daerah Bangka yang menderita ISPA periode bulan Januari –
Desember 2015.
2. Penelusuran rekam medis di bagian administrasi medis.
3. Proses pemilihan pasien yang masuk ke dalam kriteria inklusi.
4. Pengambilan dan pencatatan data hasil rekam medis di ruang
administrasi medis, berupa:
a. Nomor rekam medis;
b. Identitas pasien (nama, jenis kelamin, dan usia);
c. Tanggal perawatan;
d. Diagnosa penyakit pasien
e. Terapi obat yang diberikan pada pasien

3.10.4. Manajemen Data


Pelaksanaan verifikasi data rekam medis dan pola terapi pengobatan
diabetes melitus yang dilanjutkan dengan transkrip data yang dikumpulkan
ke dalam logbook dan komputer.

3.10.5. Pengolahan Data


a. Editing
Proses pemeriksaan ulang kelengkapan data dan mengeluarkan data-
data yang tidak memenuhi kriteria agar dapat diolah dengan baik serta
memudahkan proses analisa. Kesalahan data dapat diperbaiki dan
kekurangan data dilengkapi dengan mengulang pengumpulan data atau
dengan cara penyisipan data (interpolasi).
b. Coding
Kegiatan pemberian kode tertentu pada tiap-tiap data yang termasuk
kategori yang sama. Kode adalah isyarat yang dibuat dalam bentuk angka-
angka atau huruf untuk membedakan antara data atau identitas data yang
akan dianalisa. Peneliti melakukan coding data yang terpilih dari proses

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


80
 

seleksi untuk mempermudah analisa di program Microsoft Excel dan SPSS


(Statistical Package for the Social Sciences) 22.0.
c. Entry Data
Setelah dilakukan coding lalu memasukkan data ke dalam program
Microsoft Excel dalam bentuk tabel. Tabel-tabel yang dibuat sebaiknya
mampu meringkas agar memudahkan dalam proses analisa data.
d. Cleaning
Data yang sudah diinput diperiksa kembali untuk memastikan data
bersih dari kesalahan dan siap untuk dianalisa lebih lanjut.

3.10.6. Rencana Analisis Data


Analisa data dilakukan dengan deskriptif secara retrospektif-cross
sectional, meliputi pengamatan demografi pasien untuk menentukan kasus
yang terjadi di ruang rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka.
Analisa DRPs pada pasien anak-anak penderita ISPA digunakan untuk
menggambarkan pola DRPs pada pasien pediatri penderita ISPA yang
paling sering terjadi di ruang rawat inap salah satu rumah sakit daerah
Bangka.
Setelah melakukan analisa DRPs pada pasien anak-anak penderita
ISPA, selanjutnya peneliti melakukan analisa dengan uji statistik univariat
dengan menggunakan program SPSS (Statistical Package for the Social
Sciences) 22.0.
Analisa univariat adalah analisa yang digunakan untuk menganalisa
setiap variabel yang ada secara deskriptif. Data yang telah di kategorikan
ditampilkan sebagai frekuensi kejadian. Adapun variabel yang dianalisa
berupa karakteristik pasien (usia, jenis kelamin dan penyakit penyerta),
profil penggunaan obat pasien, polifarmasi serta jenis DRPs yang
dikelompokkan menjadi ketidaktepatan penyesuaian dosis (dosis rendah
dan dosis tinggi), indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi, potensi interaksi
obat dan ketidaktepatan pemilihan obat.
 

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Berdasarkan hasil penelitian dari seluruh data rekam medik pasien
pediatri di salah satu rumah sakit daerah Bangka periode
Januari-Desember tahun 2015, diperoleh 117 pasien pediatri dengan
diagnosis penyakit ISPA dari 1326 pasien pediatri yang dirawat inap. Dan
terdapat 80 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini.
Pasien yang memenuhi kriteria inklusi adalah pasien pediatri penderita
ISPA pada instalasi rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka
periode Januari-Desember 2015 dengan rekam medis lengkap dan terbaca.

4.1.1. Karakteristik Pasien


Demografi pasien adalah distribusi pasien yang dapat dilihat dari
karakteristik pasien (diagnosa penyakit, usia pediatri, jenis kelamin dan
penyakit penyerta).

4.1.1.1. Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosa Penyakit


Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa diagnosa
penyakit ISPA yang paling banyak diderita oleh pasien pediatri di instalasi
rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka adalah pneumonia
dengan jumlah sebanyak 57 pasien (71,25 %) kemudian diikuti dengan
TBC dengan jumlah sebanyak 7 pasien (8,75 %) dan untuk penderita
bronkhiolitis jumlahnya sama dengan rhinofaringitis yaitu 4 pasien (5 %).
Sedangkan untuk diagnosa ISPA yang lain seperti nasofaringitis,
faringitis, tonsilitis dan bronkitis memiliki persentase dibawah 5 %.
Berikut ini adalah tabel distribusi karakteristik pasien berdasarkan
diagnosa penyakit.

  81  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


 
 
82
 

Tabel 4.1. Distribusi Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosa Penyakit

Diagnosa Penyakit Jumlah Pasien Presentasi (%)


(N = 80)
Nasofaringitis 1 1,25
Rhinofaringitis 4 5,00
Faringitis 3 3,75
Tonsilitis 2 2,50
Bronkhitis 2 2,50
Bronkhiolitis 4 5,00
TBC 7 8,75
Pneumonia 57 71,25
Jumlah Total 80 100,00

4.1.1.2. Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia


Klasifikasi umur pasien pediatri menurut US FDA adalah neonatus
(< 1 bulan), bayi (1 bulan-2 tahun), anak-anak (2 tahun-12 tahun), remaja
(12 tahun - < 16 tahun). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa
kasus pasien pediatri yang paling banyak menderita ISPA adalah
kelompok umur bayi (1 bulan-2 tahun) dengan jumlah 45 pasien (56,3 %)
kemudian diurutan kedua terdapat kelompok umur anak-anak
(2 tahun-12 tahun) dengan jumlah 29 pasien (36,3 %). Dan selanjutnya
untuk kelompok umur neonatus (< 1 bulan) dan kelompok umur remaja
(12 tahun - < 16 tahun) menempati urutan ketiga dengan jumlah yang sama
yaitu 3 pasien (3,8 %). Berikut ini adalah tabel distribusi karakteristik
pasien berdasarkan usia.

Tabel 4.2. Distribusi Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia

Persentase (%)
Kategori Umur Jumlah Pasien
(N = 80)
< 1 bulan 3 3,8
1 bulan - 2 tahun 45 56,3
2 tahun - 12 tahun 29 36,3
12 tahun - < 16 tahun 3 3,8
Jumlah Total 80 100,0

4.1.1.3. Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin


Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa kasus pasien
pediatri yang menderita ISPA paling banyak adalah laki-laki dengan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


83
 

jumlah 43 pasien (53,75 %) sedangkan perempuan terdapat 37 pasien


(46,25 %). Berikut ini adalah tabel distribusi karakteristik pasien
berdasarkan jenis kelamin.

Tabel 4.3. Distribusi Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah Pasien Persentase (%)


(N = 80)
Laki-laki 43 53,75
Perempuan 37 46,25
Jumlah Total 80 100,00
 

4.1.1.4. Karakteristik Pasien Berdasarkan Penyakit Penyerta


Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa sekitar 48 pasien
(60 %) tidak terdapat penyakit penyerta. Penyakit penyerta yang paling
banyak diderita oleh pasien adalah gizi buruk (tipe marasmus) dengan
jumlah 7 pasien (8,75 %) kemudian diikuti dengan asma bronkhial dan
morbili dengan jumlah 4 kasus (5 %), sedangkan untuk penyakit penyerta
yang lain memiliki persentase dibawah 5 %. Berikut ini adalah tabel
distribusi karakteristik pasien berdasarkan penyakit penyerta.

Tabel 4.4. Distribusi Karakteristik Pasien Berdasarkan Penyakit Penyerta

Jenis Penyakit Penyerta Jumlah Pasien Persentase (%)


(N = 80)
Gizi buruk (tipe marasmus) 7 8,75
Asma bronkhial 4 5,00
Morbili 4 5,00
Pertusis 2 2,50
Diare 2 2,50  
Demam berdarah 2 2,50  
Asma 2 2,50  
Anemia 2 2,50  
Hipertermia 2 2,50  
Kejang demam kompleks 2 2,50  
Sindrom down 1 1,25
Konjungtivitis 1 1,25  
Impetigo 1 1,25  
Palastoskisis 1 1,25  
Undesensus testis 1 1,25  
Leukositosis 1 1,25  
Defek septum atrium 1 1,25  
Gastritis 1 1,25  
Demam tifoid 1 1,25  
Penyakit jantung kongenital sianotik 1 1,25  
Sepsis 1 1,25  
Endokarditis 1 1,25
Tanpa penyakit penyerta 48 60,00

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


84
 

4.1.2. Profil Penggunaan Obat


4.1.2.1. Profil Penggunaan Obat Injeksi
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data profil penggunaan obat
injeksi pada pasien, dimana obat injeksi yang paling banyak digunakan
oleh pasien adalah obat golongan terapi antiinfeksi dengan persentase
50,00 % (99 kali) kemudian diikuti oleh golongan larutan elektrolit dan
nutrisi dengan persentase 36,36 % (72 kali). Sedangkan untuk penggunaan
obat injeksi golongan lain dibawah 10 %. Berikut ini adalah tabel distribusi
profil penggunaan obat injeksi pada pasien.

Tabel 4.5. Distribusi profil penggunaan obat injeksi pada pasien pediatri di instalasi
rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka

Kelas Terapi Jumlah Persentase (%)


Antibiotik 99 50,00
Obat saluran pernapasan 2 1,01
  Antiemetik 12 6,06
Kortikosteroid 10 5,05
  Larutan elektrolit dan nutrisi 72 36,36
Diuretik 3 1,51
 
Jumlah Total 198 100,00

4.1.2.2. Profil Penggunaan Obat Oral


Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data profil penggunaan obat
oral pada pasien, dimana obat oral yang paling banyak digunakan adalah
obat golongan saluran pernapasan sebanyak 140 kali (33,73 %), sedangkan
yang kedua adalah golongan analgesik dan antipiretik sebanyak 70 kali
(16,86 %), dan yang ketiga adalah golongan antiinfeksi sebanyak 58 kali
(13,98 %). Penggunaan obat oral golongan lain memiliki persentase
dibawah 10 %. Berikut ini adalah tabel distribusi profil penggunaan obat
oral pada pasien.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


85
 

Tabel 4.6. Distribusi profil penggunaan obat oral pada pasien pediatri di instalasi
rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka

Kelas Terapi Jumlah Persentase (%)


Antibiotik 58 13,98
Obat saluran pernapasan 140 33,73
Antiemetik 19 4,57
Analgesik dan antipiretik 70 16,86
Kortikosteroid 33 7,95
Antihistamin 22 5,30
Antihipertensi 3 0,72
Diuretik 1 0,24
Antiepilepsi dan 5 1,20
Antikonvulsan
Vitamin dan mineral 33 7,95
Terapi tambahan 2 0,48
Antidiare 29 6,98
Jumlah Total 415 100,00

4.1.2.3. Profil Penggunaan Obat Inhalasi


Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data profil penggunaan obat
inhalasi pada pasien, dimana golongan obat antiasma merupakan
golongan obat yang paling banyak digunakan dengan jumlah
penggunaan sebanyak 67 kali (97,10 %) sedangkan untuk golongan
terapi tambahan (nasal drop) sebanyak 2 kali (2,89 %). Berikut ini adalah
tabel distribusi profil penggunaan obat inhalasi pada pasien.

Tabel 4.7. Distribusi profil penggunaan obat inhalasi pada pasien pediatri di
instalasi rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka

Golongan Terapi Obat Jumlah Persentase (%)


Antiasma 67 97,10
Terapi tambahan 2 2,89
Jumlah Total 69 100,00

4.1.2.4. Profil Penggunaan Obat Luar


Berdasarkan hasil penelitian penggunaan obat luar yang paling
banyak digunakan adalah penggunaan obat melalui rute rektal golongan
analgesik dan antipiretik yaitu sebanyak 8 kali (36,36 %). Sedangkan
yang kedua adalah penggunan obat topikal golongan antiinflamasi dan
antipuritik sebanyak 7 (31,81 %) dan yang ketiga adalah penggunaan
obat topikal golongan antinfeksi dan antiseptik yaitu sebanyak 6 kali
(27,27 %). Penggunaan obat rute rektal golongan antiepilepsi dan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


86
 

antikonvulsi hanya digunakan sebanyak 1 kali (4,5 %). Berikut ini adalah
tabel distribusi profil penggunaan obat topikal pada pasien.

Tabel 4.8. Distribusi profil penggunaan obat luar pada pasien pediatri di instalasi
rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka

Rute Pemberian Golongan Terapi Obat Jumlah Persentase


(%)
Topikal Antiinfeksi dan antiseptik 6 27,27
Antiinflamasi dan antipuritik 7 31,81
Rektal Analgesik dan antipiretik 8 36,36
Antiepilepsi dan antikonvulsi 1 4,50
Jumlah Total 22 100,00

4.1.3. Jumlah Penggunaan Obat


Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa frekuensi jumlah
penggunaan obat yang paling banyak diterima oleh pasien adala 6-10
obat sebanyak 60 pasien (75 %) sedangkan pasien yang menerima 1-5
obat sebanyak 11 pasien (13,75 %) dan yang menerima > 10 obat
sebanyak 9 pasien (11,25 %). Data distribusi persentase jumlah
penggunaan obat pada pasien dapat dilihat pada tabel 4.9.

Tabel 4.9. Distribusi jumlah penggunaan obat pada pasien pediatri di instalasi rawat
inap salah satu rumah sakit daerah Bangka

Jumlah Penggunaan Obat Frekuensi Persentase


1 – 5 Obat 11 13,75
6 – 10 Obat 60 75,00
> 10 Obat 9 11,25
Jumlah Total 80 100,00

4.1.4. Drug Related Problems (DRPs)


Kategori DRPs pada penelitian ini meliputi kategori ketidaktepatan
pemilihan obat, ketidaktepatan dosis meliputi dosis rendah dan dosis
tinggi serta potensial interaksi obat. Berikut ini adalah grafik presentase
distribusi jumlah kejadian DRPs pada pasien pediatri penderita ISPA di
salah satu rumah sakit daerah Bangka.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


87
 

70

Presentase Kejadian DRPs (%)


60
  60 56,3

  50

40
   
30
   
20
12,5
   
10 5
0 2,5
  0    
Kategori DRPs
 
Dosis Terlalu Rendah Dosis Terlalu Tinggi
  Indikasi Tanpa Obat Obat Tanpa Indikasi
Ketidaktepatan Pemilihan Obat Interaksi Obat
 

   
Gambar 4.1. Persentase jumlah kejadian DRPs pasien pediatri penderita ISPA di
instalasi rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka

Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa persentase kejadian


DRPs yang paling banyak terjadi pada pasien adalah DRPs kategori dosis
rendah dengan persentase sebanyak 60 % (48 pasien). Selanjutnya
diurutan kedua adalah DRPs kategori interaksi obat yaitu sebanyak
56,3 % (45 pasien). Kemudian untuk kejadian DRPs lainnya yaitu
kategori dosis tinggi sebanyak 12,5 % (10 pasien), kategori
ketidaktepatan pemilihan obat 2,5 % (2 pasien), kategori obat tanpa
indikasi 5 % (4 pasien), sedangkan untuk kategori indikasi tanpa obat
tidak ditemukan kejadian DRPs pada pasien pediatri penderita ISPA di
instalasi rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka.

4.1.4.1. DRPs Kategori Dosis Rendah


Menurut Cipolle et al., (1998), penyebab tidak efektifnya terapi obat
pada pasien antara lain pasien menerima obat dalam jumlah dosis kecil
terapi dibanding dari dosis lazim yang meliputi besaran, frekuensi dan
durasi. Berdasarkan hasil penelitian dari 80 kasus pasien ISPA diperoleh
data sebanyak 48 pasien (60 %) mengalami DRPs kategori dosis rendah
dan sebanyak 32 pasien (40 %) tidak mengalami DRPs kategori dosis
rendah. Berikut ini adalah tabel distribusi persentase jumlah kejadian

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


88
 

DRPs kategori dosis rendah pada pasien pediatri penderita ISPA di


instalasi rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka.

Tabel 4.10. Distribusi persentase jumlah kejadian DRPs kategori dosis rendah pada
pasien pediatri penderita ISPA di instalasi rawat inap salah satu rumah sakit
daerah Bangka

Persentase (%)
DRPs Kategori Dosis Rendah Jumlah Kejadian
N = 80
Ada 48 60
Tidak Ada 32 40
Jumlah Total 80 100

Berdasarkan durasi pemberian antibiotik pada penelitian ini


diperoleh data bahwa dari 77 pasien yang menerima pengobatan dengan
antibiotik terdapat 26 pasien (33,76 %) yang mengalami ketidaktepatan
durasi pemberian antibiotik. Berikut ini adalah tabel distribusi persentase
jumlah kejadian ketidaktepatan durasi pemberian antibiotik pada pasien
pediatri penderita ISPA di instalasi rawat inap salah satu rumah sakit
daerah Bangka.

Tabel 4.11. Distribusi persentase jumlah kejadian ketidaktepatan pemberian antibiotik


pada pasien pediatri penderita ISPA di instalasi rawat inap salah satu
rumah sakit daerah Bangka

Ketidaktepatan Durasi
Jumlah Kejadian Persentase (%)
Pemberian Antibiotik
Tepat 51 66,23
Tidak Tepat 26 33,76
Jumlah Total 77 100,00

4.1.4.2. DRPs Kategori Dosis Tinggi


Berdasarkan hasil penelitian dari 80 kasus pasien ISPA yang
memnuhi kriteria inklusi diperoleh data sebanyak 10 pasien (12,5 %)
mengalami DRPs kategori dosis tinggi dan sebanyak 70 pasien (87,5 %)
tidak mengalami DRPs kategori dosis tinggi. Berikut ini adalah tabel
distribusi persentase jumlah kejadian DRPs kategori dosis tinggi pada
pasien pediatri penderita ISPA di instalasi rawat inap salah satu rumah
sakit daerah Bangka.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


89
 

Tabel 4.12. Distribusi persentase jumlah kejadian DRPs kategori dosis tinggi pada
pasien pediatri penderita ISPA di instalasi rawat inap salah satu rumah
sakit daerah Bangka

Persentase (%)
DRPs Kategori Dosis Tinggi Jumlah Kejadian
N = 80
Ada 10 12,5
Tidak Ada 70 87,5
Jumlah Total 80 100,0

4.1.4.3. DRPs Indikasi Tanpa Obat


Berdasarkan data penelitian diperoleh data bahwa dari 80 pasien
pediatri penderita ISPA di instalasi rawat inap salah satu rumah sakit
daerah Bangka yang masuk kriteria inklusi tidak terdapat pasien yang
mengalami drug related problems untuk kategori indikasi tanpa obat.

4.1.4.4. DRPs Obat Tanpa Indikasi


Pada penelitiaan ini diperoleh hasil bahwa terdapat 4 pasien (5 %)
yang mengalami DRPs kategori obat tanpa indikasi. Berikut ini adalah
tabel distribusi jumlah kejadian DRPs kategori obat tanpa indikasi yang
terjadi pada pasien pediatri di instalasi rawat inap salah satu rumah sakit
daerah Bangka.

Tabel 4.13. Distribusi persentase jumlah kejadian DRPs kategori obat tanpa indikasi
pada pasien pediatri penderita ISPA di instalasi rawat inap salah satu
rumah sakit daerah Bangka

DRPs Kategori Obat Tanpa Jumlah Persentase (%)


Indikasi Kejadian N = 80
Ada 4 5
Tidak Ada 76 95
Jumlah Total 80 100,0

4.1.4.5. DRPs Kategori Potensi Interaksi Obat


Identifikasi drug related problems untuk kategori potensi interaksi
obat dilakukan berdasarkan pada pemakaian obat yang bersamaan dalam
1 hari. Interaksi obat akan terjadi apabila terdapat dua atau lebih obat
berinteraksi sehingga menyebabkan adanya perubahan toksisitas dan
efek dari salah satu atau kedua obat tersebut (Fradgley, 2003).
Pada penelitian ini diperoleh data bahwa pasien yang mengalami
DRPs kategori potensi interaksi obat sebanyak 45 pasien (56,3 %).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


90
 

Sedangkan sebanyak 35 pasien (43,8 %) tidak ditemukan adanya


kejadian DRPs kategori potensi interaksi obat. Distribusi persentase
jumlah pasien yang mengalami DRPs kategori potensi interaksi obat
dapat dilihat pada tabel 4.14.

Tabel 4.14. Distribusi persentase jumlah kejadian DRPs kategori potensi interaksi obat
pada pasien pediatri penderita ISPA di instalasi rawat inap salah satu rumah
sakit daerah Bangka.

DRPs Kategori Potensi Persentase (%)


Jumlah Kejadian
Interaksi Obat N = 80
Ada 45 56,3
Tidak Ada 35 43,8
Jumlah Total 80 100,0

Berdasarkan tingkat keparahannya potensi interaksi obat dapat


dibedakan menjadi 3 yaitu major, moderate dan minor. Berikut ini adalah
tabel distribusi jumlah kejadian DRPs kategori potensi interaksi obat
berdasarkan tingkat keparahan.

Tabel 4.15. Distribusi persentase jumlah kejadian DRPs kategori potensi interaksi
obat berdasarkan tingkat keparahan

Potensi Interaksi Tingkat Jumlah Persentase Kejadian


Keparahan Kejadian (%)
Minor 12 10,62
Moderate 99 87,61
Major 2 1,76
Jumlah Total 113 100,00

Data frekuensi kejadian potensi interaksi obat dari masing-masing


tingkat keparahan dilihat dari kejadian jenis obat yang paling banyak
mengalami interaksi dapat dilihat pada tabel 4.16.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


91
 

Tabel 4.16. Distribusi persentase jumlah kejadian jenis obat terbanyak yang mengalami
DRPs kategori potensi interaksi obat berdasarkan tingkat keparahan

Tingkat Keparahan Nama Obat Frekuensi


Minor Diazepam + Parasetamol 3
Rifampisin + Parasetamol 2
Azitromisin + Ampisilin 2
Moderate Salbutamol + Pseudoefedrin 20
Salbutamol + Klorfeniramin 13
Gentamisin + Seftriakson 13
Major Gentamisin + Furosemid 2
Jumlah Total 113

4.1.4.4. DRPs Kategori Ketidaktepatan Pemilihan Obat


Berdasarkan data dari hasil penelitian diperoleh data bahwa dari 80
pasien yang memenuhi kriteria inklusi terdapat 2 pasien (2,5 %) yang
mengalami drug related problems kategori ketidaktepatan pemilihan
obat. Berikut ini adalah tabel distribusi persentase jumlah kejadian DRPs
kategori ketidaktepatan pemilihan obat pada pasien pediatri penderita
ISPA di instalasi rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka.

Tabel 4.17. Distribusi persentase jumlah kejadian DRPs kategori ketidaktepatan


pemilihan obat pada pasien pediatri penderita ISPA instalasi rawat inap
salah satu rumah sakit daerah Bangka

Ketidaktepatan Jumlah Persentase Kejadian (%)


Pemilihan Obat Kejadian N = 80
Ada 2 2,5
Tidak Ada 78 97,5
Jumlah Total 80 100,0

4.2. Pembahasan
4.2.1. Karakteristik Pasien
4.2.1.1. Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosa Penyakit
Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) merupakan
penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri dan ada beberapa
yang disebabkan oleh jamur. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan
bagian atas dan bawah. Pada kesempatan ini peneliti melakukan
penelitian dengan mengambil data rekam medik tahun 2015 pasien rawat
inap di salah satu rumah sakit daerah Bangka diperoleh data jumlah
pasien anak yang dirawat sebanyak 1326 pasien dan pasien anak yang

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


92
 

dirawat karena diagnosa ISPA ada 117 kasus namun hanya 80 kasus yang
memenuhi kriteria inklusi. Dari 80 pasien tersebut terdapat diagnosa
ISPA yang berbeda-beda yaitu faringitis, nasofaringitis, rhinofaringitis,
tonsilitis, bronkhitis, bronkhiolitis, pneumonia, dan TBC.
Berdasarkan hasil penelitian pneumonia merupakan penyakit ISPA
yang paling banyak diderita oleh pasien pediatri di instalasi rawat inap
salah satu rumah sakit daerah Bangka sebanyak 57 pasien (71,25 %). Hal
ini sesuai dengan data pada profil kesehatan Kabupaten Bangka Tengah
dimana penyakit pneumonia masih banyak diderita oleh balita di daerah
Kabupaten Bangka Tengah dan termasuk ke dalam 20 penyakit
terbanyak yang diderita oleh masyarakat. Selain itu persentase kejadian
pneumonia pada tahun 2014 meningkat jika dibandingkan dengan tahun
2013, meskipun data pada tahun 2015 belum tersedia hal ini dapat
menggambarkan bahwa masih banyak pasien pediatri yang menderita
pneumonia. Kemudian untuk penyakit kedua terbanyak yang diderita
oleh pasien pediatri di instalasi rawat inap adalah TB dengan jumlah
penderita sebanyak 7 pasien (8,75 %). Penyakit TB disebabkan oleh
bakteri Mycobacterium tuberculosis, berdasarkan data dari Dinkes
Kabupaten Bangka Tengah prevalensi penyakit TB pada tahun 2014
meningkat dibandingkan dengan tahun 2013. Penyebab prevalensi
penyakit ISPA terutama pneumonia dan TB masih terjadi kemungkinan
dikarenakan masih kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap
penyakit ini dan pencegahannya sehingga kesadaran masyarakat untuk
memeriksakan penyakit ini agar memperoleh penanganan yang tepat
masih kurang.

4.2.1.2. Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia


Umur merupakan salah satu karakteristik individu yang penting
dalam studi epidemiologi karena dapat memberikan gambaran faktor
penyakit serta menjadi faktor sekunder yang diperhitungkan dalam
meneliti perbedaan frekuensi penyakit terhadap variabel lain. Selain itu
umur juga menjadi karakteristik individu utama karena berhubungan erat
dengan keterpaparan penyakit dan besarnya resiko terhadap penyakit

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


93
 

tertentu. ISPA merupakan penyakit yang dapat menyerang semua jenis


umur, namun lebih sering menyerang balita dan lansia. Dari hasil
penelitian ini (tabel 4.2) dapat dilihat bahwa penyakit ISPA paling
banyak terjadi pada pasien bayi (1 bulan-2 tahun) sebanyak 45 pasien
(56,3 %) kemudian pasien anak-anak (2 tahun-12 tahun) sebanyak 29
pasien (36,3 %). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Istikomah tahun 2013 di salah satu rumah sakit di Surakarta, dimana dari
hasil penelitian tersebut diperoleh data bahwa pasien yang paling banyak
menderita ISPA adalah pasien dengan usia 2-5 tahun (82 %). Selain itu
berdasarkan data dari RISKESDAS 2013 prevalensi ISPA paling banyak
terjadi pada anak dengan usia 1-4 tahun yaitu 25,8 %. Usia bayi dan balita
merupakan usia yang rentan untuk menderita suatu infeksi. Hal ini
disebabkan karena sistem kekebalan tubuh yang masih belum matang,
sehingga anak mudah menderita infeksi dan tertular suatu penyakit
(Nursalam et al., 2005).
Selain menjadi faktor resiko dari penyakit ISPA, usia pasien juga
menjadi pertimbangan terjadinya masalah terkait obat (DRPs). Pediatrik
harus diprioritaskan dalam penanganan DPRs karena kondisi
fisiologisnya belum sempurna sehingga faktor-faktor metabolisme dan
absorbsi obat akan sangat berbeda dengan pasien dewasa (Ladymotts,
2005). Kejadian kesalahan dalam pengobatan serta resiko kesalahan yang
serius pada pediatrik lebih sering terjadi dibandingkan pada orang
dewasa dan mungkin terkait dengan masalah perhitungan dosis, tidak
adanya standar dosis bagi pediatrik, tidak terdapat bentuk sediaan dan
formulasi yang sesuai serta penggunaan indikasi maupun dosis obat
secara off-licence (Prest, 2003). Oleh karena itu, perlu adanya
penyesuaian terhadap dosis, rute pemberian dan jenis sediaan yang tepat
untuk pasien pediatri untuk menimalisir terjadinya DRPs.

4.2.1.3. Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin


Secara teori, jenis kelamin diketahui memiliki pengaruh terhadap
gangguan pada saluran pernapasan. Hal ini biasanya terjadi karena
perbedaan pada bentuk anatomi, fisiologis, dan sistem hormonal pada

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


94
 

laki-laki dan perempuan. Selain itu, adanya perbedaan frekuensi penyakit


menurut jenis kelamin dapat disebabkan oleh adanya perbedaan
pekerjaan, pola hidup, keterpaparan dan tingkat kerentanan.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa penyakit ISPA
paling banyak diderita oleh pasien yang berjenis kelamin laki-laki yaitu
sebanyak 43 pasien (53,75 %) sedangkan untuk perempuan 37 pasien
(46,25 %). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Taisir
di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2005, menunjukkan bahwa proporsi
ISPA berdasarkan jenis kelamin pada balita laki-laki (43,3 %) lebih
tinggi dari pada proporsi ISPA pada balita perempuan (33,7 %). Nelson
dan Williams (2007) menyatakan bahwa laki-laki beresiko menderita
ISPA. Namun faktor resiko tidak hanya perbedaan jenis kelamin, umur
seseorang juga perlu dipertimbangkan.
Selain itu jenis kelamin pasien juga dapat mempengaruhi
pengobatan pasien. Hal ini dikarenakan perbedaan fisiologis antara
laki-laki dan perempuan dapat mempengaruhi aktivitas obat, termasuk
farmakokinetik dan farmakodinamik. Farmakokinetik pada wanita
dipengaruhi oleh berat tubuh yang lebih rendah, motilitas gastrointestinal
lebih lambat, aktivitas enzimatik usus yang kurang, dan laju filtrasi
glomerulus lebih lambat. Akibat dari pengosongan lambung yang lebih
lambat pasien berjenis kelamin perempuan mungkin perlu untuk
memperpanjang interval antara waktu makan dengan waktu minum obat
terutama untuk obat yang harus diserap pada perut kosong.  Perbedaan
fisiologis lainnya dapat mempengaruhi dosis obat. Misalnya, karena
klirens ginjal lebih lambat pada wanita, beberapa obat yang
diekskresikan melalui ginjal, seperti digoxin, mungkin memerlukan
penyesuaian dosis. Selain itu, wanita 50-75 % lebih berpotensi untuk
mengalami reaksi obat yang merugikan dibandingkan pria. Perbedaan ini
kemungkinan disebabkan oleh peningkatan polifarmasi, peningkatan
bioavailabilitas obat, dan sensitivitas yang lebih besar untuk obat-obatan.
Torsade de pointes adalah reaksi obat yang merugikan serius yang lebih
sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Perempuan secara alami

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


95
 

memiliki interval QT yang lebh panjang daripada laki-laki dan cenderung


untuk torsade de pointes. Oleh karena itu, untuk obat-obatan yang
diketahui dapat memperpanjang interval QT harus digunakan dengan
hati-hati. (Whitley, 2009)

4.2.1.3. Karakteristik Pasien Berdasarkan Penyakit Penyerta


Penyakit penyerta merupakan keluhan yang diderita oleh pasien
selain penyakit ISPA dan penyakit komplikasi lainnya. Pada penelitian
diperoleh data bahwa penyakit penyerta yang paling banyak dialami oleh
pasien adalah malnutrisi sebanyak 7 pasien (8,75 %), morbili dan pertusis
sebanyak 4 pasien (5 %). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
Dewi dan Sebodo (1996) bahwa terdapat proporsi kasus balita penderita
ISPA terbanyak terdapat pada anak dengan gizi kurang/buruk (41,03 %).
Sedangkan penyakit penyerta yang lain dibawah 5 % dan terdapat 48
pasien (60 %) yang tidak memiliki penyakit lain selain ISPA.
Malnutrisi merupakan suatu keadaan klinis yang disebabkan
ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran energi, baik karena
kekurangan atau kelebihan asupan makanan maupun akibat kebutuhan
yang meningkat. Malnutrisi yang banyak terjadi pada pasien pediatri di
instalasi rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka adalah
malnutrisi tipe marasmus. Marasmus adalah bentuk malnutrisi protein
kalori yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis
terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan, disertai retardasi
pertumbuhan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot (Dorland,
1998). Infeksi bisa berhubungan dengan status gizi melalui beberapa
cara, yaitu mempengaruhi nafsu makan, dapat juga menyebabkan
kehilangan bahan makanan karena diare dan muntah-muntah atau
mempengaruhi metabolisme makanan (Alisjahbana, 1985). Pada pasien
ISPA malnutrisi merupakan salah satu faktor resiko penting yang
menjadi pemicu terjadinya ISPA. Apabila keadaan gizi baik maka tubuh
mempunyai cukup kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap
penyakit infeksi. Sedangkan jika keadaan gizi tubuh buruk maka reaksi
kekebalan tubuh akan menurun yang berarti kemampuan tubuh

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


96
 

mempertahankan diri terhadap serangan infeksi menjadi turun. Oleh


karena itu, setiap bentuk gangguan gizi sekalipun dengan gejala
defisiensi yang ringan merupakan pertanda awal dari terganggunya
kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi. Gizi yang buruk akan
mempermudah balita terserang ISPA. Beberapa penelitian telah
membuktikan tentang adanya hubungan antara gizi buruk dan infeksi
paru, sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering mendapat
pneumonia. Menurut Kartasasmita (1993), diketahui bahwa prevalensi
ISPA cenderung lebih tinggi pada anak dengan status gizi kurang. Status
gizi kurang/buruk pada anak balita mempunyai resiko pneumonia 2,5 kali
lebih besar dibanding dengan anak yang bergizi baik/normal.
Selain malnutrisi pada penelitian ini terdapat pula penyakit penyerta
yang dapat memperparah ISPA dan termasuk kedalam salah satu faktor
resiko ISPA yaitu morbili (campak) dan pertusis. Morbili (campak)
merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus campak.
Sedangkan pertusis merupakan infeksi akibat bakteri Gram-negatif
Bordetella pertussis pada saluran napas sehingga menimbulkan batuk
hebat yang khas. Di india, anak yang baru sembuh dari campak, selama
6 bulan berikutnya dapat mengalami ISPA enam kali lebih sering
daripada anak yang tidak terkena campak. Campak, pertusis, dan difteri
bersama-sama dapat menyebabkan 15-25 % dari seluruh kematian yang
berkaitan dengan ISPA. Namun hal ini dapat dicegah dengan
meningkatkan cakupan imunisasi campak dan pertusis untuk mengurangi
angka kematian ISPA akibat kedua penyakit ini.
Penyakit penyerta pada pasien dapat menjadi pertimbangan dalam
menentukan terapi yang tepat pada pasien untuk menghindari adanya
permasalahan terkait obat (DRPs). Malnutrisi dapat menyebabkan
beberapa perubahan dari fungsi fisiologis tubuh sehingga mengakibatkan
adanya perubahan pada efek obat. Anak-anak dengan marasmus
memiliki cairan tubuh total tertinggi tetapi sebaliknya, ada penurunan
yang signifikan dalam massa jaringan adiposa serta massa tubuh tanpa
lemak di marasmus dan marasmus-kwashiorkor yang dapat mengubah

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


97
 

volume distribusi obat. Volume distribusi adalah suatu volume yang


mengandung sejumlah obat pada cairan-cairan tertentu di dalam tubuh
(volume hipotesis penyebaran obat dalam cairan tubuh). Volume
distribusi menghubungkan jumlah obat dalam tubuh dengan konsentrasi
obat (C) dalam darah atau plasma. Volume distribusi adalah parameter
yang paling penting yang menentukan konsentrasi puncak
aminoglikosida dan berkaitan erat dengan volume cairan ekstraselular
karena rendahnya tingkat mengikat protein dan kelarutannya tinggi
dalam air. Volume distribusi aminoglikosida meningkat pada keadaan
edema, luka bakar (atau deskuamasi kulit yang ekstensif) dan dengan
kebocoran kapiler pada infeksi yang parah.
Obat setelah diabsorpsi akan masuk ke dalam sistem vaskular dan
akan terikat dengan protein plasma. Secara umum, obat bersifat asam
mengikat albumin dan obat bersifat basa mengikat α1-acid glycoprotein
yang pada umumnya bersifat reversibel dan keadaan keseimbangan
dipertahankan antara obat terikat dan tidak terikat. Obat yang protein
terikat tidak melewati membran sel; hanya fraksi terikat (bebas) yang
dapat didistribusikan ke kompartemen jaringan. Setelah di ruang
ekstravaskuler, aktivitas obat bervariasi. Obat dapat dimetabolisme atau
berikatan dengan reseptor jaringan sehingga menghasilkan efek
farmakologis, beracun, atau efek netral. Pada pasien malnutrisi terjadi
hipoproteinemia dimana albumin plasma dan fraksi dari glikoprotein
yang bertanggung jawab untuk obat mengikat menurun. Hal ini akan
menyebabkan terjadinya peningkatan fraksi obat bebas dari obat yang
terikat protein dan anak-anak dengan malnutrisi mungkin mengalami
variasi dalam memberikan respon terhadap terapi obat atau beresiko
meningkatkan toksisitas obat.
Diare dan muntah adalah masalah umum dari malnutrisi. Oleh
karena itu, obat oral harus dipertimbangkan kembali dan jika tetap
diberikan melalui oral maka waktu transit melalui usus berkurang. 
Malnutrisi dikaitkan dengan atrofi vili mukosa jejunum dan ini dapat
mengganggu penyerapan obat. Penyerapan oral Karbamazepin,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


98
 

Klorokuin, Sulfadiazin, dan Kloramfenikol telah dilaporkan menurun


secara signifikan pada anak-anak dengan malnutrisi bila dibandingkan
dengan anak normal yang sehat. Penyerapan oral menurun disebabkan
perubahan morfologi di jejunum.

4.2.2. Profil Penggunaan Obat


4.2.2.1. Profil Penggunaan Obat Injeksi
Injeksi merupakan salah satu cara pemberian obat yang biasa
digunakan untuk mengobati penyakit. Salah satu jenis injeksi adalah
injeksi intravena. Pemberian obat dengan injeksi intravena memberikan
reaksi tercepat yaitu kurang lebih 18 detik, hal ini disebabkan oleh obat
yang dimasukkan melalui satu pembuluh darah akan langsung bereaksi
menuju sel dan jaringan, sehingga efeknya lebih cepat dan kuat (Tjay,
2002). Sediaan injeksi intravena dapat digunakan apabila: obat mudah
rusak dengan adanya asam lambung atau obat tidak diabsorbsi, obat
diabsorbsi tetapi dikeluarkan cepat akibat metabolisme lintas pertama,
jika pasien tidak mau atau tidak dapat menelan, usus tidak berfungsi
dengan baik, diperlukan absorbsi yang sangat cepat, diperlukan kadar
yang tinggi dalam jaringan, dan apabila diperlukan penyesuaian dosis
secara terus menerus (Scot, 2003; Mycek, 2001; Ansel, 1989). Injeksi
intravena tidak diberikan untuk pasien apabila obat tersebut dapat
menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah (Tjay, 2002).
Berdasarkan hasil penelitian pasien pediatri penderita ISPA
mendapatkan obat injeksi dari beberapa jenis kelas terapi, yaitu:
a. Antibiotik
Antibiotik digunakan dalam terapi penyakit infeksi yang
disebabkan oleh bakteri dengan tujuan sbb:
- Terapi empirik infeksi
- Terapi definitif infeksi
- Profilaksis non-Bedah
- Profilaksis Bedah
Sebelum memulai terapi dengan antibiotik sangat penting untuk
memastikan infeksi tersebut benar terjadi. Hal ini dikarenakan ada

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


99
 

beberapa kondisi penyakit yang dapat memberikan gejala/ tanda


yang mirip dengan infeksi, sehingga perlu dilakukannya
pemeriksaan yang lebih lanjut seperti melakukan cek darah dan
kultur mikroba. Selain itu, penggunaan antibiotik tanpa didasari
bukti infeksi dapat menyebabkan meningkatnya insiden resistensi
maupun potensi Reaksi Obat Berlawanan (ROB) yang dialami
pasien.
Berdasarkan hasil penelitian jenis antibiotik yang paling banyak
digunakan adalah Seftriakson dengan jumlah penggunaan sebanyak
60 kali. Seftriakson adalah sefalosporin generasi ketiga dan
merupakan jenis antibiotik spektrum luas yang dapat digunakan
sebagai terapi empiris untuk mengatasi infeksi yang belum diketahui
secara spesifik jenis bakteri yang menjadi penyebab infeksi pada
pasien. Selain dikarenakan Seftriakson merupakan antibiotik
spektrum luas, tingginya penggunaan obat injeksi Seftriakson pada
pasien disebabkan karena hampir semua pasien memiliki keluhan
muntah-muntah sehingga sulit untuk diberikan secara oral. Selain itu
penyakit ISPA merupakan penyakit infeksi akut yang salah satu
penyebabnya adalah adanya infeksi bakteri, sehingga memerlukan
terapi antibiotik yang tepat dan cepat. Konsentrasi serum efektif
diharapkan cepat tercapai setelah pemberian obat melalui injeksi.
Rute untuk terapi Seftriakson telah tepat diberikan secara parenteral
khususnya injeksi intravena karena Seftriakson Sodium tidak di
absorbsi secara baik pada Gastrointestinal dan harus diberikan
secara parenteral (American Hospital Formulary Services (AHFS)
Drug Information, 2008).
b. Obat Saluran Pernapasan
Pada penelitian ini obat saluran pernapasan yang digunakan adalah
obat golongan bronkodilator yaitu aminofilin. Aminofilin bekerja
dengan cara membuka saluran pernapasan di dalam paru-paru,
sehingga udara dapat mengalir dengan lancar dan penggunanya
dapat bernapas dengan lega. Namun aminofilin tidak dapat diberikan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


100
 

secara inhalasi sehingga efek sampingnya lebih besar dibandingkan


ß-Adrenoceptor Agonist. (Depkes RI, 2005)
c. Antiemetik
Anti-emetik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi rasa mual
dan muntah. Pada penelitian ini obat golongan antiemetik yang
digunakan adalah ondansetron. Ondansetron merupakan antagonis
serotonin yang disetujui sebagai terapi mual dan muntah karena
kemoterapi, radioterapi, ataupun pasca-operasi. Ondansetron juga
banyak dipakai sebagai terapi muntah pada anak dengan
gastroenteritis akut. (Rerksuppaphol, 2013)
d. Kortikosteroid
Penggunaan kortikosteroid bertujuan untuk mengurangi edema
subglotis dengan cara menekan proses inflamasi lokal.
Kortikosteroid mengatur mekanisme humoral maupun seluler dari
respon inflamasi dengan cara menghambat aktivasi dan infiltrasi
eosinofil, basofil dan mast cell ke tempat inflamasi serta mengurangi
produksi dan pelepasan faktor-faktor inflamasi (prostaglandin,
leukotrien). Selain itu kortikosteroid juga bersifat sebagai
vasokonstriktor kuat. Pada penelitian ini jenis kortikosteroid yang
digunakan adalah deksametason. Deksametason merupakan salah
satu kortikosteroid sintetis terampuh. Kemampuannya dalam
mencegah peradangan dan alergi kurang lebih sepuluh kali lebih
hebat dari pada yang dimiliki prednisone (Katzung, 1998).
e. Larutan Elektrolit dan Nutrisi
Pemberian larutan elektrolit pada pasien dilakukan melalui infus.
Pada penelitian ini jenis cairan infus yang paling banyak diberikan
adalah Dekstrosa 5 %. Dekstrosa berfungsi untuk mengganti
kehilangan atau kekurangan karbohidrat dan cairan; menjadi sumber
nutrisi yang diberikan secara parenteral dan meningkatkan kadar
gula darah pada keadaan hipoglikemia.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


101
 

f. Diuretik
Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan
urin. Pada penelitian ini obat golongan diuretik diberikan kepada
pasien yang menderita kelainan jantung. Diuretik yang digunakan
adalah diuretik loop yaitu Furosemid. Mekanisme kerja furosemid
adalah menghambat penyerapan kembali natrium oleh sel tubuli
ginjal. Furosemida meningkatkan pengeluaran air, natrium, klorida,
kalium dan tidak mempengaruhi tekanan darah yang normal.

4.2.2.2. Profil Penggunaan Obat Oral


Obat oral adalah obat yang diberikan melalui mulut dimana rute ini
merupakan rute yang paling umum digunakan, paling ekonomis, paling
aman serta nyaman bagi para pengguna. Namun penggunaan obat
melalui rute ini memiliki beberapa kerugian yaitu efek yang ditimbulkan
lebih lama dibandingkan dengan obat injeksi, bioavailabilitas obat dapat
berkurang dengan adanya beberapa faktor seperti gangguan absorbsi
serta metabolisme tubuh sehingga membutuhkan dosis yang lebih besar
dan tepat, dan sangat bergantung terhadap tingkat kepatuhan pasien.
Berdasarkan hasil penelitian pasien pediatri penderita ISPA
mendapatkan obat oral dari beberapa jenis kelas terapi, yaitu:
a. Antibiotik
Penggunaan antibiotik pada pasien ISPA sangat penting dan
merupakan terapi pokok pada pasien ISPA yang disebabkan oleh
bakteri. Antibiotik adalah zat biokimia yang diproduksi oleh
mikroorganisme, yang dalam jumlah kecil dapat menghambat
pertumbuhan atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme lain
(Harmita dan Radji, 2008). Pada penelitian ini penggunaan antibiotik
oral yang paling banyak digunakan adalah Sefiksim. Sefiksim adalah
sefalosporin generasi ketiga dan merupakan jenis antibiotik
spektrum luas.
b. Obat Saluran Pernapasan
Pada penelitian ini obat saluran pernapasan oral yang digunakan
adalah obat golongan bronkodilator ß-Adrenoceptor Agonist yaitu

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


102
 

salbutamol sebanyak 57 kali. Salbutamol bekerja dengan cara


membuka saluran pernapasan di dalam paru-paru, sehingga udara
dapat mengalir dengan lancar dan penggunanya dapat bernapas
dengan lega. Penggunaan obat ini pada pasien ISPA merupakan
salah satu terapi simptomatis untuk mengobati sesak yang dialami
oleh pasien tersebut. (Depkes RI, 2005)
c. Antiemetik
Anti-emetik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi rasa mual
dan muntah. Pada penelitian ini obat golongan antiemetik oral yang
digunakan adalah domperidon sebanyak 4 kali.  Domperidon
merupakan derivat benzimidazole dan merupakan antagonis
dopamin yang bekerja pada chemoreceptor trigger zone.
Domperidon banyak digunakan pada penanganan muntah pada anak,
walaupun studi yang mendukung pemberian domperidone pada anak
dengan gastroenteritis masih sangat terbatas. (Rerksuppaphol, 2013)
d. Analgetik dan Antipiretik
Obat ini seringkali digunakan untuk mengurangi gejala demam
terkait infeksi pernapasan. Pada penelitian ini jenis analgetik dan
antipiretik yang paling banyak digunakan adalah parasetamol
sebanyak 70 kali. Parasetamol (Asetaminofen) merupakan obat
analgetik non narkotik dengan cara kerja menghambat sintesis
prostaglandin terutama di Sistem Syaraf Pusat (SSP). Parasetamol
merupakan penghambat biosintesis prostaglandin (PG) yang lemah.
Mekanisme kerja Parasetamol adalah menghambat sistesis
prostaglandin di SSP dan perifer memblok impuls nyeri serta
menghasilkan efek antipiretik dari penghambatan pada pusat
pengaturan panas di hipotalamus (Takemoto et al, 2003).
e. Kortikosteroid
Penggunaan kortikosteroid bertujuan untuk mengurangi gejala
peradangan dan inflamasi yang terjadi pada pasien ISPA (Depkes,
2005). Pada penelitian ini jenis kortikosteroid yang paling banyak
digunakan adalah triamsinolon. Triamsinolon bekerja terutama

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


103
 

sebagai glukokortikoid dan mempunyai daya antiinflamasi yang


kuat, mempunyai efek hormonal dan metabolik seperti kortison.
f. Antihistamin
Antihistamin digunakan dalam terapi rhinitis alergi. Ada dua
kelompok antihistamin yaitu: generasi pertama yang terdiri dari
Klorfeniramin, Difenhidramin, Hidroksizin dan generasi kedua yang
terdiri dari Astemizol, Cetirizine, Loratadin, Terfenadin, Akrivastin.
Antihistamin generasi pertama mempunyai profil efek samping yaitu
sedasi yang dipengaruhi dosis, merangsang SSP menimbulkan mulut
kering. Antihistamin generasi kedua tidak atau kurang menyebabkan
sedasi dan merangsang SSP, serta tidak bereaksi sinergis dengan
alkohol dan obat-obat yang menekan SSP. Pada penelitian ini jenis
antihistamin yang digunakan adalah cetirizine sebanyak 22 kali.
Cetirizine adalah antihistamin selektif, antagonis reseptor-H1 perifer
yang mempunyai efek sedatif yang rendah pada dosis aktif dan
mempunyai sifat tambahan sebagai anti alergi. Cetirizine berkerja
menghambat pelepasan histamin pada fase awal dan mengurangi
migrasi sel inflamasi. (Depkes RI, 2005)
g. Antidiare
Pada penelitian penggunaan obat golongan ini yang digunakan
adalah Zink sebanyak 25 kali dan Oralit (ORS) sebanyak 4 kali.
Cairan rehidrasi oral (Oral Rehydration Solution/ ORS) dapat
digunakan untuk menangani gastroenteritis akut untuk pemeliharaan
rehidrasi, dan mencegah komplikasi lebih lanjut akibat diare
(Ladinsky, et al, 2000). Cairan rehidrasi oral tersebut terbukti dapat
mengatasi dehidrasi ringan hingga sedang pada bayi dan anak-anak
secara aman, efektif, relatif lebih murah, dan mudah digunakan.
Oleh karena itu, American Academy of Pediatric (AAP) dan WHO
merekomendasikan cairan tersebut sebagai tindakan pertama untuk
mengatasi dehidrasi ringan (Ladinsky, et al, 2000). Namun, cairan
rehidrasi oral tidak signifikan dalam menurunkan defekasi dan
durasi diare (Lukacik, Thomas, & Aranda, 2008). Oleh karena itu,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


104
 

WHO dan UNICEF kembali merekomendasikan kebijakan terbaru


mengenai penatalaksanaan diare pada anak, yaitu dengan
menambahkan suplementasi Zink (Zn). Zink merupakan salah satu
zat gizi mikro yang penting untuk kesehatan dan pertumbuhan anak.
Zink yang ada dalam tubuh akan menurun dalam jumlah besar ketika
anak mengalami diare. Untuk menggantikan Zink yang hilang
selama diare, anak dapat diberikan Zink yang akan membantu
penyembuhan diare serta menjaga agar anak tetap sehat. (Depkes RI,
2011). Zink mempunyai efek terhadap beberapa enterosit dan sel
imun yang berinteraksi dengan agen infeksius pada diare. Zink
utamanya bekerja pada jaringan dengan kecepatan turnover yang
tinggi seperti halnya pada saluran cerna dan sistem imun dimana
zink dibutuhkan untuk sintesa DNA dan sintesa protein (Bijleveld,
et al., 1997, dalam Armin, 2005). Jika Zink diberikan pada anak yang
sistem kekebalannya belum berkembang baik, dapat meningkatkan
sistim kekebalan dan melindungi anak dari penyakit infeksi. Oleh
karena itu, anak yang diberi Zink (diberikan sesuai dosis) selama 10
hari berturut-turut berisiko lebih kecil untuk terkena penyakit
infeksi, diare dan pneumonia. (Depkes RI, 2011).
h. Antihipertensi
Penggunaan antihipertensi pada pasien bertujuan untuk
mempertahankan fungsi jantung serta untuk mencegah terjadinya
hipertensi pulmonal yang terjadi pada pasien penyakit jantung
bawaan. Pada penelitian ini jenis antihipertensi yang digunakan
adalah golongan ACE inhibitor yaitu kaptopril. Kaptopril
merupakan ACE-inhibitor yang pertama banyak digunakan di klinik
untuk pengobatan hipertensi dan gagal jantung.
i. Diuretik
Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan
urin. Pada penelitian ini obat golongan diuretik diberikan kepada
pasien yang menderita kelainan jantung. Diuretik yang digunakan
adalah diuretik loop yaitu Furosemid. Mekanisme kerja furosemid

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


105
 

adalah menghambat penyerapan kembali natrium oleh sel tubuli


ginjal. Furosemid meningkatkan pengeluaran air, natrium, klorida,
kalium dan tidak mempengaruhi tekanan darah yang normal.
j. Antiepilepsi dan Antikonvulsan
Penggunaan obat golongan ini pada pasien bertujuan untuk
mengatasi kejang. Obat yang paling banyak digunakan adalah
diazepam. Diazepam digunakan untuk mengurangi kecemasan,
kejang otot, dan kejang-kejang serta mengendalikan agitasi yang
disebabkan oleh penarikan alkohol.
k. Vitamin dan Mineral
Vitamin dan mineral sangat penting dalam proses metabolism tubuh
manusia. Penggunaan vitamin yang utama adalah untuk pengobatan
terhadap defisiensi (kekurangan), dan penyakit-penyakit menurun.
Pada penelitian ini penggunaan vitamin dan mineral yang paling
banyak digunakan adalah multivitamin untuk menambah nafsu
makan pada anak. Pemberian multivitamin ini sangat dibutuhkan
pada pasien ISPA pediatri, karena kebanyakan pasien mengalami
penurunan nafsu makan dan muntah sehingga asupan gizi ke dalam
tubuh menjadi berkurang.
l. Terapi Tambahan
Terapi tambahan yang digunakan adalah imunomodulator.
Imunomodulator berfungsi untuk menstimulasi sistem imun, terapi
penunjang untuk infeksi yang disebabkan bakteri, virus dan jamur,
batu ginjal, penyembuhan luka, hepotoprotektor untuk hepatitis B,
dan sebagai antioksidan.

4.2.2.3. Profil Penggunaan Obat Inhalasi


Terapi inhalasi adalah pemberian obat secara langsung ke dalam
saluran napas melalui penghisapan. Terapi melalui rute ini makin
berkembang luas dan banyak dipakai pada pengobatan penyakit-penyakit
saluran napas. Keuntungan terapi inhalasi ini adalah obat bekerja
langsung pada saluran napas sehingga memberikan efek lebih cepat
untuk mengatasi serangan asma karena setelah dihisap, obat akan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


106
 

langsung menuju paru-paru untuk melonggarkan saluran pernapasan


yang menyempit. Selain itu memerlukan dosis yang lebih rendah untuk
mendapatkan efek yang sama, dan harga untuk setiap dosis lebih murah.
Sedangkan untuk efek samping obatnya lebih kecil dibandingkan pada
penggunaan obat oral, karena konsentrasi obat didalam rendah.
Pada penelitian ini obat golongan antiasma merupakan terapi
inhalasi yang paling banyak digunakan sebanyak 67 kali (97,10 %).
Antiasma yang paling banyak digunakan adalah kombinasi β2-Agonis
dan antikolinergik yaitu kombinasi Salbutamol sulfat 2.5 mg dan
Ipratropium Br 0.5 mg sebanyak 55 kali. Dosis pemberiannya adalah
0,5-1 vial unit dosis setiap 1 sampai 2 jam dan dilanjutkan setiap 4 sampai
6 jam melalui rute inhalasi (nebulisasi). Obat ini diberikan secara inhalasi
bertujuan agar mampu mengatasi sesak yang dialami oleh pasien dengan
cepat. Terapi kombinasi ini merupakan terapi simptomatis untuk
mengatasi gejala yang timbul akibat adanya ISPA.

4.2.2.4. Profil Penggunaan Obat Luar


Penggunaan obat luar pada pasien ISPA pediatri di salah satu rumah
sakit daerah Bangka terbagi menjadi 2 rute yaitu topikal dan rektal.
Pemberian rute topikal digunakan apabila pemberian obat tersebut
bertujuan untuk memiliki efek lokal. Sedangkan untuk rute pemberian
rektal merupakan salah satu rute pemberian alternatif untuk obat yang
memiliki kelemahan apabila diberikan secara per oral dapat mengiritasi
saluran cerna atau untuk menghindari obat mengalami metabolisme
lintas pertama. Pemberian rektal memiliki keuntungan dapat mencegah
penghancuran obat oleh enzim usus atau pH rendah di dalam lambung,
dan juga berguna jika obat dapat menginduksi muntah ketika diberikan
secara oral (Allen, 2009).
Pada penelitian ini penggunaan obat topikal yang paling banyak
adalah obat golongan antiinflamasi dan antipuritik sebanyak 7 kali,
dimana obat yang digunakan adalah Betametason salep, Betametason
krim, dan Mometason krim. Obat yang paling banyak digunakan adalah
Betametason salep dengan frekuensi sebanyak 4 kali.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


107
 

Betametason digunakan untuk mengobati gatal-gatal, kemerahan,


kekeringan, pengerasan kulit, scaling, peradangan, dan ketidaknyamanan
dari berbagai kondisi kulit. Betametason termasuk golongan
kortikosteroid yang berfungsi sebagai antiinflamasi. Penggunaan obat ini
pada pasien pediatri di instalasi rawat inap salah satu rumah sakit daerah
Bangka untuk mengurangi gatal-gatal.
Kemudian untuk penggunaan obat rektal yang paling banyak
digunakan adalah obat golongan analgetik dan antipiretik Parasetamol
sebanyak 8 kali. Parasetamol (Asetaminofen) merupakan obat analgetik
non narkotik dengan cara kerja menghambat sintesis prostaglandin
terutama di Sistem Syaraf Pusat (SSP). Parasetamol merupakan
penghambat biosintesis prostaglandin (PG) yang lemah. Mekanisme
kerja Parasetamol adalah menghambat sistesis prostaglandin di SSP dan
perifer memblok impuls nyeri serta menghasilkan efek antipiretik dari
penghambatan pada pusat pengaturan panas di hipotalamus (Takemoto
et al, 2003). Parasetamol (asetaminofen) mempunyai daya kerja
analgetik, antipiretik, tidak mempunyai daya kerja anti radang dan tidak
menyebabkan iritasi serta peradangan lambung (Sartono,1993).
Pemberian parasetamol pada pasien ISPA digunakan untuk mengobati
demam pada pasien, biasanya diberikan melalui rektal karena pemberian
secara oral tidak memungkinkan dan karena membutuhkan onset yang
cepat.

4.2.3. Jumlah Penggunaan Obat


Jumlah penggunaan obat merupakan jumlah obat yang diterima oleh
pasien selama dirawat di rumah sakit. Pada pasien ISPA tidak hanya
menerima terapi pokok berupa antibiotik saja melainkan terdapat
beberapa terapi suportif yang dapat digunakan untuk mengurangi gejala
pada pasien, sehingga pasien dapat menerima lebih dari satu jenis obat.
Penggunaan obat yang lebih dari satu yang diterima oleh pasien dapat
disebut dengan polifarmasi. Polifarmasi merupakan penggunaan jumlah
obat lebih dari 4 atau 5 obat yang diberikan kepada pasien yang sama.
Penggunaan obat lebih dari satu dapat menyebabkan masalah seperti

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


108
 

ketidaksesuaian pengobatan (interaksi obat, penggandaan obat), ketidak


patuhan, dan efek samping obat yang tidak diinginkan. (Hajar, dkk.,
2007).
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pasien pediatri di instalasi
rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka paling banyak
menerima 6-10 jenis obat selama di rawat yaitu sebanyak 60 pasien (75
%). Sedangkan untuk penggunaan obat lebih dari 10 jenis obat terdapat
9 pasien. Salah satu contoh pasien nomor 78, dimana pasien menerima
obat sebanyak 19 jenis selama dirawat di rumah sakit dan terdapat 9 jenis
obat per hari yang diberikan secara bersamaan pada pasien. Hal ini dapat
menyebabkan potensi terjadinya DRPs pada pasien pediatri.

4.2.4. Drug Related Problems (DRPs)


Drug Related Problems (DRPs) merupakan permasalahan terkait
obat yang tidak diinginkan yang dapat mengganggu keberhasilan dari
terapi pada pasien. Pada penelitian ini evaluasi DRPs pengobatan ISPA
dilakukan pada pasien pediatri. Pasien pediatri merupakan pasien yang
rentan untuk mengalami DRPs terutama pada pasien yang menerima obat
lebih dari 4 jenis obat. Terapi obat pada pediatri berbeda dengan terapi
obat pada orang dewasa karena perbedaan karakteristik. Perbedaan
karakteristik ini akan mempengaruhi farmakokinetika dan
farmakodinamika obat yang pada akhirnya akan mempengaruhi efikasi
dan/ atau toksisitas obat. Selain itu dosis pasien pediatri dengan dosis
pada pasien dewasa tidak sama sehingga memerlukan penyesuaian dosis
yang tepat agar obat dapat memberikan efek dan aman. Pemberian yang
tidak tepat pada pasien pediatri dapat menyebabkan DRPs. Pertimbangan
pengobatan pada anak, tidak saja diambil berdasarkan ketentuan dewasa,
tetapi perlu beberapa penyesuaian seperti dosis dan perhatian lebih besar
pada kemungkinan efek samping, karena adanya imaturitas fungsi
organ-organ tubuh, sehingga mungkin diperlukan penyesuaian dosis
serta pemilihan obat yang benar-benar tepat. Selain itu, pengobatan pada
anak juga memerlukan pertimbangan lebih kompleks, antara lain karena

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


109
 

berbagai masalah cara pemberian obat, pemilihan bentuk sediaan, dan


masalah ketaatan (patient's compliance).
Evaluasi DRPs bertujuan untuk menjamin terapi yang diberikan
kepada pasien rasional, efektif, efisien, aman dan bermutu. Evaluasi
DRPs terdiri dari beberapa kategori yaitu: indikasi tanpa obat, obat tanpa
indikasi, ketidaktepatan pemilihan obat, dosis dibawah dosis terapi, dosis
melebihi dosis terapi, interaksi obat, dan ketidakpatuhan pasien. Namun,
pada penelitian ini tidak dapat dilakukan untuk evaluasi kategori
ketidakpatuhan pasien karena penelitian bersifat retrospektif.
Pasien dikatakan mengalami DRPs apabila pasien mengalami satu
atau lebih kategori DRPs pada pengobatannya. Berdasarkan hasil
penelitian diperoleh hasil bahwa dari 80 pasien terdapat 61 pasien
(76,3 %) yang mengalami DRPs pada pengobatan yang diterima oleh
pasien pediatri penderita ISPA di salah satu rumah sakit daerah Bangka.

4.2.4.1. DRPs Kategori Dosis Rendah


Dosis rendah dapat menyebabkan obat tidak dapat memberikan efek
sehingga akan mengganggu keberhasilan pengobatan pada pasien.
Menurut Cipolle et al., (1998), penyebab tidak efektifnya terapi obat
pada pasien antara lain pasien menerima obat dalam jumlah dosis kecil
terapi dibanding dari dosis lazim yang meliputi besaran, frekuensi dan
durasi. Dosis kurang dapat menyebabkan waktu pengobatan menjadi
lebih lama dan biaya pengobatan menjadi mahal.
Pada penelitian ini dosis yang diberikan pada pasien dibandingkan
dengan dosis yang direkomedasikan berdasarkan buku Pediatric Dosage
Handbook (2009) dan MIMS (2016). Dosis rendah dengan kriteria lebih
rendah dari 80 % dosis standar, hal ini berdasarkan kriteria Food Drug
and Administration (FDA). FDA menetapkan kriteria bioekivalensi obat
berkisar antara 80-125 % pada 90 % interval Area Under Curve (AUC)
dan konsentrasi dalam plasma maksimum (Cmax). Kriteria ini digunakan
pada obat baik yang rendah maupun tinggi variabilitasnya (Food Drug
and Administration, 2004).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


110
 

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa terdapat 48


pasien pediatri mengalami DRPs kategori dosis rendah. Namun pada
kenyataannya pasien dinyatakan mengalami perbaikan setelah menerima
obat tersebut. Hal ini kemungkinan dikarenakan adanya perbedaan
fisiologis tubuh pada setiap pasien, sehingga dengan pemberian dosis
yang lebih kecil dari dosis yang dianjurkan literatur pada pasien tersebut
masih dapat memberikan efek terapi.
Jenis obat yang paling banyak ditemukannya dosis kurang dari dosis
terapi adalah obat kombinasi Pseudoefedrin HCl dan Klorfeniramin
Maleat. Obat kombinasi Pseudoefedrin HCl dan Klorfeniramin Maleat
digunakan untuk indkasi hidung tersumbat, bersin, rinore dan lakrimasi
yg menyertai flu atau selesma, rinitis alergika dan rinitis vasomoto.
Pseudoefedrin adalah suatu obat simpatomimetik dengan efek langsung
pada reseptor adrenergik yang memberikan efek dekongestan.
Klorfeniramin maleat merupakan suatu antihistamin turunan alkilamin
(propilamin) dengan efek antagonis secara kompetitif terhadap histamin
pada reseptor H1 sehingga memberikan efek antihistamin. Efek samping
rhinos adalah insomnia, sakit kepala, eksitasi, tremor, takikardia, artmia,
palpitasi, sulit berkemih, gangguan pencernaan, dan klorfeniramin dapat
menyebabkan mengantuk dan mulut kering. (MIMS, 2016). Penggunaan
rhinos pada pasien ISPA di instalasi rawat inap salah satu rumah sakit
daerah Bangka untuk mengatasi gejala flu yang dialami pasien. Namun
pemberian dosis rhinos dibawah dari 80 % dosis terapi sehingga obat
tersebut berpotensi tidak dapat memberikan efek yang sesuai dan
kemungkinan dapat menyebabkan meningkatnya efek samping yang
merugikan pada pasien. Pada penelitian ini pasien yang menerima rhinos
adalah pasien dengan usia kurang dari 2 tahun dan usia 2-5 tahun. Dosis
rhinos dihitung berdasarkan berat badan pada pasien dibawah umur 2
tahun, dosis yang dihitung adalah dosis pseudoefedrin 4 mg/kgBB/hari.
Sedangkan untuk usia 2-5 tahun, dosis yang diberikan adalah 2,5 ml 3
x/hari.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


111
 

Evaluasi DRPs kategori dosis rendah pada pasien tidak hanya dilihat
dari jumlah besaran obat yang diberikan, namun dilihat juga durasi
pemberian obat khususnya antibiotik. Antibiotik merupakan salah satu
terapi pokok pada pasien ISPA yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
Penggunaan antibiotik oleh pasien harus memperhatikan waktu,
frekuensi dan lama pemberian sesuai rejimen terapi dan memperhatikan
kondisi pasien (Kemenkes, 2011). Hal ini untuk mencegah terjadinya
resistensi terhadap antibiotik.
Berdasarkan hasil penelitian ini terdapat 26 pasien yang mengalami
ketidaktepatan durasi pemberian antibiotik. Ketidaktepatan durasi
pemberian antibiotik dalam penelitian ini adalah durasi pemberian
antibiotik yang kurang dari durasi pemberian yang sudah ditetapkan di
literatur. Dari hasil penelitian ketidaktepatan durasi pemberian antibiotik
yang paling banyak terjadi adalah antibiotik yang diberikan untuk pasien
penderita pneumonia. Antibiotik yang diberikan adalah Seftriakson,
dimana berdasarkan Phamaceutical Care ISPA pengobatan untuk pasien
pneumonia dengan antibiotik selama 5-10 hari bahkan sampai 14 hari.
Seftriakson merupakan antibiotik spektrum luas dan golongan
sefalosporin generasi ke 3. Mekanisme kerja Seftriakson adalah
bakterisidal dengan menghambat sintesis peptidoglikan yang diperlukan
kuman sehingga sel mengalami lisis dan sel bakteri akan mati (Katzung,
2004). Kurangnya durasi pemberian obat ini pada pasien dapat
menyebabkan obat tidak dapat bekerja optimal dalam membunuh bakteri
penyebab penyakit tersebut sehingga dapat menimbulkan resistensi
bateri terhadap antibiotik tersebut.

4.2.4.2. DRPs Kategori Dosis Tinggi


Pemberian dosis yang melebihi standar pemberian pada pasien dapat
meningkatkan resiko efek toksik yang membahayakan bagi pasien
(Cipolle at al.,1998). Drug related problems kategori dosis lebih adalah
pasien yang menerima obat dengan durasi, frekuensi dan durasi melebihi
dosis lazim. Dosis tinggi dengan kriteria lebih dari 125 % dosis standar
tersebut ditetapkan berdasarkan kriteria Food Drug and Administration

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


112
 

(FDA). FDA menetapkan kriteria bioekivalensi obat berkisar antara


80-125 % pada 90 % interval Area Under Curve (AUC) dan dalam
plasma maksimum (Cmax). Kriteria ini digunakan pada obat baik yang
rendah maupun tinggi variabilitasnya (Food Drug and Administration,
2004).
Berdasarkan dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa terdapat 10
pasien yang mengalami DRPs kategori dosis tinggi. Jenis obat tersebut
masing-masing adalah Deksametason dengan frekuensi sebanyak 4 kali,
Erdostein sebanyak 4 kali, kemudian Salbutamol nebulizer dan
Salbutamol oral masing-masing sebanyak 1 kali.
Salah satu contoh jenis obat yang paling banyak digunakan adalah
deksametason. Deksametason digolongkan ke dalam kelompok
glukokortikoid yang berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat
dan lemak. Kemampuannya dalam menanggulangi peradangan dan
alergi kurang lebih sepuluh kali lebih hebat dari pada yang dimiliki
Prednisone (Katzung, 1998).  Deksametason adalah kortikosteroid kuat
dengan khasiat immunosupresan dan antiinflamasi yang digunakan untuk
mengobati berbagai kondisi peradangan ( Samtani, 2005). Pada pasien
ISPA kortikosteroid digunakan untuk mengurangi edema subglotis
dengan cara menekan proses inflamasi lokal. Deksametason bertindak
sebagai anti-inflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid
serta menurunkan kerja eosinofil. Efek samping pemberian
deksametason antara lain terjadinya insomnia, osteoporosis, retensi
cairan tubuh, glaukoma dan lain-lain. Pada penelitian ini, deksametason
dikatakan dosis tinggi karena dosis yang diberikan pada pasien melebihi
dari 125 % dosis literatur (anak-anak 0,08-0,3 mg/kg BB/hari 2-4 x/hari).
Kortikosteroid dosis tinggi dapat menyebabkan sindrom
Cushing dengan gejala-gejala moon face, striae dan acne yang dapat
pulih (reversibel) bila terapi dihentikan, tetapi cara menghentikan terapi
harus dengan menurunkan dosis secara bertahap (tappering-off) untuk
menghindari terjadinya insufisiensi adrenal akut. Pada anak, penggunaan
kortikosteroid dapat menghambat pertumbuhan dan dapat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


113
 

mempengaruhi perkembangan pubertas. Oleh karena itu, penting untuk


menggunakan dosis efektif terendah, pemberian secara berselang sehari
dapat membatasi efek penurunan perkembangan anak. (IONI, 2008).
Selain itu pemberian Salbutamol pada pasien biasanya digunakan
secara bersama dengan obat golongan kortkosteroid. Kedua obat ini
dapat memperparah kondisi hipokalemia (Depkes RI, 2007; Ari, E. dan
Arif, A., 2008). Pemberian dosis berlebih dapat menimbulkan berbagai
macam efek samping. Efek samping yang dapat terjadi untuk obat
golongan β2 -agonis antara lain vasodilatasi pembuluh darah dengan
reflek takikardi, iritabilitas,  tremor, hiperaktifitas, gangguan
gastrointestinal (mual dan muntah), bronkospasme paradoksimal,
hipoksemia paradoksimal serta hipokalemi. Efek samping ini sebagian
besar disebabkan oleh stimulasi β adrenoreseptor, tergantung pada dosis,
aktifitas sel dan rute pemberian. Efek samping yang penting adalah
semakin memburuknya obstruksi saluran napas dikarenakan penurunan
tonus dinding saluran napas dan memburuknya ventilasi akibat perfusi
yang tidak sesuai (Rowley et al, 2003).
Kemudian untuk Erdostein penggunaan dosis tinggi dapat
menyebabkan berkeringat, vertigo dan kemerahan (IONI, 2008).

4.2.4.3. DRPs Kategori Indikasi Tanpa Obat


DRPs kategori indikasi tanpa obat pada penelitian ini terjadi apabila
pasien menderita penyakit baru selain penyakit ISPA namun tidak
mendapatkan terapi dan penanganan yang tepat. Hal ini dilihat dari
diagnosa pasien yang tercatat di rekam medis. Dari hasil penelitian tidak
terdapat DRPs kategori indikasi tanpa obat pada pasien pediatri penderita
ISPA di instalasi rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka.

4.2.4.4. DRPs Kategori Obat Tanpa Indikasi


Obat tanpa indikasi terjadi ketika pemberian obat tidak sesuai
dengan diagnosa pasien. Hal ini dilakukan dengan cara melihat data dari
rekam medis pasien kemudian dibandingkan dengan literatur.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


114
 

Dari data hasil penelitian terdapat 4 pasien yang menerima obat


tanpa indikasi. Pasien yang paling banyak mengalami DRPs kategori
obat tanpa indikasi adalah pasien dengan diagnosa bronkhiolitis
sebanyak 3 pasien yaitu 2 pasien diberikan antibiotik Seftriakson dan 1
pasien diberikan Amoksisilin. Berdasarkan Clinical Practice Guideline
dari American Academy Of Pediatri tahun 2014 menyatakan bahwa
penggunaan antibiotik pada pasien penderita bronkiolitis tidak
direkomendasikan karena penyebab utama bronkiolitis adalah virus
bukan bakteri. Respiratory Syncytial Virus (RSV) merupakan 70 %
penyebab terjadinya bronkhiolitis. Di negara maju untuk membedakan
infeksi karena RSV atau bakteri dapat dilakukan dengan cepat yaitu uji
serologis terhadap RSV dan pemeriksaan CRP. Apabila pemeriksaan
serologis terhadap RSV negatif maka tidak diperlukan antibiotik.
(Behrman, 1999). Di Indonesia, penggunaan uji serologis terhadap RSV
belum rutin dikerjakan sehingga kadang-kadang sulit dibedakan dengan
pneumonia bakteri. Masih banyaknya penggunaan antibiotik pada
bronkiolitis yang sebenarnya dapat dihindari (Van Woensel, 2003).
Namun karena sulitnya membedakan dengan bakteri terutama
superinfeksi oleh bakteri, maka masih digunakan antibiotik, meskipun
sebenarnya kurang tepat. Pemberian antibiotik dapat dipertimbangkan
untuk anak dengan bronkiolitis yang membutuhkan intubasi dan ventilasi
mekanik untuk mencegah gagal napas (Ralston S.L., et al. 2014).
Antibiotik yang dipakai biasanya yang berspektrum luas, namun untuk
Mycoplasma pneumoniae diatasi dengan Eritromisin (WHO, 2005).
Pemberian antibiotik pada pasien pediatri di instalasi rawat inap
salah satu rumah sakit daerah Bangka dapat dikatakan tidak tepat karena
peneliti hanya melihat data yang tercantum didalam rekam medis pasien
kemudian dibandingkan dengan literatur dan peneliti tidak
mengobservasi keadaan pasien secara langsung untuk melihat gejala
klinis pada pasien karena data penelitian ini bersifat retrospektif.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


115
 

4.2.4.5. DRPs Kategori Potensi Interaksi Obat


Identifikasi drug related problems untuk kategori potensi interaksi
obat didasarkan pada pemakaian obat yang bersamaan dalam 1 hari
selama pasien dirawat di rumah sakit. Interaksi obat terjadi bila dua atau
lebih obat berinteraksi sehingga toksisitasnya dan keefektifitasnya
berubah (Fradgley, 2003). Pada penelitian ini, interaksi obat dianalisis
dengan buku standar yaitu Drug Interaction (Stockley et al, 2003), Drug
Interaction Facts (Tatro, 2001) serta literatur-literatur terkait interaksi
obat yang kemudian ditemukan adanya beberapa interaksi obat pada
pasien ISPA.
Pada penelitian ini terdapat 45 pasien yang mengalami DRPs
kategori potensi interaksi obat. Potensi interaksi obat terbagi menjadi 3
level tingkat keparahan yaitu major, moderate dan minor. Potensi
interaksi obat yang paling banyak terjadi adalah potensi interaksi dengan
tingkat keparahan moderate yaitu sebanyak 99 kali. Salah satu contoh
obat yang paling banyak berpotensi mengalami interaksi adalah
salbutamol dengan pseudoefedrin dengan frekuensi sebanyak 20 kali.
Berdasarkan literatur salbutamol dan pseudoefedrin keduanya
menurunkan sedasi serta meningkatkan efek simpatis (adrenergik),
termasuk peningkatan tekanan darah dan denyut jantung. Meskipun
pemberian obat ini secara bersamaan berpotensi interaksi obat, namun
efek interaksi ini tidak terjadi pada pasien jika dilihat dari data rekam
medik pasien.

4.2.4.6. DRPs Kategori Ketidaktepatan Pemilihan Obat


Ketidaktepatan pemilihan obat merupakan keadaan dimana pasien
telah diresepkan obat yang tidak efektif, pasien alergi atau kontraindikasi
dengan obat yang diberikan, pasien menerima obat yang sama efektifnya
dengan terapi tunggal.
Pada penelitian ini terdapat 3 pasien yang mengalami DRPs kategori
ketidaktepatan pemilihan obat. Ketidaktepatan pemilihan obat yang
terjadi adalah ketidaktepatan pemilihan antibiotik dimana terdapat 2
pasien pneumonia yang diberikan Sefiksim dan Seftriakson.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


116
 

Sefiksim dan Seftriakson merupakan antibiotik golongan


sefalosporin generasi ke 3 yang berspektrum luas. Mekanisme kerja
keduanya sama yaitu bersifat bakterisidal dengan menghambat sintesis
peptidoglikan yang diperlukan bakteri sehingga sel mengalami lisis dan
sel bakteri akan mati. Pemberian secara bersamaan kedua obat yang
memiliki efek yang sama tentu akan menyebabkan meningkatnya efek
samping dari kedua obat, sehingga pada pasien ini sebaiknya diberikan
salah satu dari obat ini.

4.3. Keterbatasan Penelitian


4.3.1. Kendala
- Data hasil laboratorium untuk pemeriksaan bakteri yang menjadi
pemeriksaan penunjang untuk diagnosa ISPA tidak dilakukan,
sehingga sulit untuk menentukan ketepatan pemberian antibiotik
pada pasien.

4.3.2. Kelemahan
Penelitian ini memiliki kekurangan, diantaranya:
1. Penelitian deskriptif retrospektif
Pada penelitian deskriptif hanya dapat menggambarkan demografi
berupa hasil analisis ketepatan penggunaan obat untuk mengetahui
DRPs pada terapi yang digunakan oleh pasien. Dengan metode
retrospektif peneliti tidak dapat dilakukan observasi secara langsung
pada pasien hanya dapat melihat data dari rekam medis pasien.
2. Terdapat sediaan obat racikan yang tidak diketahui kekuatan sediaan
dan komposisinya.

4.4. Kekuatan Penelitian


Penelitian ini belum pernah dilakukan sebelumnya di salah satu rumah
sakit daerah Bangka, diharapkan penelitian ini dapat menjadi refrensi dan
gambaran Drug Related Problems pada pasien rawat inap.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
1. Profil penggunaan obat pada pasien terdapat 13 kelas terapi yang
diberikan pada pasien. Kelas terapi yang paling banyak digunakan
pada pemberian injeksi adalah antibiotik, kemudian untuk pemberian
oral yang paling banyak adalah obat saluran pernapasan. Obat inhalasi
yang paling banyak digunakan adalah obat antiasma dan obat luar
untuk rute topikal adalah antiinflamasi dan antipuritik sedangkan
untuk rute rektal yaitu analgesik dan antipiretik.
2. Jenis Drug Related Problems (DRPs) yang terjadi pada pasien pediatri
di instalasi rawat inap salah satu rumah sakit daerah Bangka adalah
kategori dosis rendah, dosis tinggi, obat tanpa indikasi, potensi
interaksi obat dan ketidaktepatan pemilihan obat. Namun pada hasil
penelitian tidak ditemukannya jenis Drug Related Problems (DRPs)
kategori indikasi tanpa obat.
3. Jumlah dan persentase Drug Related Problems (DRPs) yang terjadi
adalah DRPs kategori dosis rendah sebanyak 60 %, dosis tinggi
sebanyak 12,5 %, obat tanpa indikasi sebanyak 5 %, ketidaktepatan
pemilihan obat sebanyak 2,5 % dan potensi interaksi obat sebanyak
56,3 %, serta tidak terdapat DRPs kategori indikasi tanpa obat.
5.2. Saran
1. Perlu adanya kerjasama dan kolaborasi yang tepat antara dokter,
apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya untuk meningkatkan kualitas
pelayanan kefarmasian dan pengobatan pada pasien, sehingga
didapatkan terapi yang tepat, efektif, dan aman.
2. Perlu adanya peran yang maksimal atau optimal dari farmasi klinik
untuk memonitoring dan mengevaluasi penggunaan obat pasien agar
tidak terjadinya DRPs.

  117  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


 
 
118
 

3. Perlu adanya pemeriksaan mikrobiologi terhadap pasien ISPA pediatri


khususnya pada pasien penderita ISPA yang berat, agar pemberian
antibiotik tepat indikasi sehingga meminimalisir adanya resistensi
antibiotik.

Uin Syarif Hidayatullah Jakarta


 
 
 
 

DAFTAR PUSTAKA

Adam, G.L., Boies, L.R., dan Hilger, P.A. (1989) Diseases Of The Nasopharynx
And Oropharynx. In: Boies Fundamentals Of Otolaryngology, A Text Book
Of Ear, Nose And Throat Diseases, 6th Edition. W.B. Saunders. Philadelphia.
pp. 332-369.

Amarudin, T., A. Christanto, dan E. Samodra. (2007). Kajian Manfaat


Tonsilektomi. Oto Rhinol Laryngol Ind 37 (1): 20-31.

Anonim. (2009). British National Formulary, 58th ed. BMJ Group and RPS
Publishing. London.

__________. (2016). MIMS Referensi Obat Informasi Ringkas Produk Obat


Bahasa Indonesia Edisi 2016. PT. Buana Ilmu Populer. Jakarta.

Akib, A.A.P,et al. (2010). Alergi-Imunologi Anak Edisi ke-2. Badan Penerbit IDAI.
Jakarta.

Arguedas, A.G., Stutman, H.R., dan Marks, M.I. Bacterial Pneumonias. Dalam:
Wilmott, R.W., et al. (1990). Kendig’s Disorders of the respiratory tract in
children 5th Edition. Elsevier Saunders. Philadelphia: 371-94.

Arikunto, Suharsimi. (2006). Metode Penelitian: Prosedur Penelitian Suatu


Pendekatan Praktik. Rineka Cipta. Jakarta.

Bailie, G.R., et al. (2004). Medfacts Pocket Guide of Drug Interaction. Second
Edition. Bone Care International, Nephrology Pharmacy Associated Inc.
Middleton.

Behrman, R. E. (1999). Nelson Ilmu Kesehatan Anak Volume 1 Edisi 15. EGC.
Jakarta

Bisno, A.L. (2001). Acute Pharyngitis: Primary Care. The New England Journal of
Medicine 344 (3): 205-211.

  119  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


 
120 
 

Cipolle, R.J., Strand, L.M., dan Morley, P.C. (1998). Pharmaceutical Care
Practice. The Mc Graw Hills Companies. New York.

__________. (2004). Pharmaceutical Care Practice: The Clinican’s Guide, 2nd


edition. New York: The McGraw Hill Co.

Cody, D.T.R., et al. (1993). Penyakit Hidung, Telinga Dan Tenggorok. Jakarta.
EGC.

Croft, J., Norman, H. dan Fred, M. (2002). Tuberkulosis Klinik. Edisi 2. Penerbit
Widya Medik. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2002). Pedoman Pemberantasan


Penyakit Saluran Pernafasan Akut. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

__________. (2005). Pharmaceutical Care untuk Infeksi Penyakit Saluran


Pernafasan. Direktorat Bina Komunitas dan Klinik Dirjen Bina Kefarmasian
dan Alat Kesehatan. Jakarta.

__________. (2005). Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Tuberkulosis.


Direktorat Bina Komunitas dan Klinik Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan. Jakarta.

__________. (2012). Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran Pernafasan Akut.


Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Jakarta.

__________. (2013). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 dalam Laporan


Nasional 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Desai, S., et al., (2008). Disease of the Respiratory Tract. In: Greenberg, M.S., M.
Glick, dan Jonathan A S. (2008). Burket’s Oral Medicine. BC Decker Inc.
Hamilton, Ontario. pp. 305 - 306.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


121 
 

Dewi, D. A. (2012). Studi Prevalensi Drug Related Problem (DRPS) Terapi


Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut Pada Anak Di RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Periode Januari-Desember 2010. Skripsi. UII
Yogyakarta. Yogyakarta.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Tengah. (2014). Profil Kesehatan Kabupaten


Bangka Tengah Tahun 2014. Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Tengah.
Bangka Tengah.

Dwiprahasto, Iwan. (2005). Drug Use Study for Acute Respiratory Infection in
Children Under 10 Years of Age. Berkala Ilmu Kedokteran 37 (4): 204-211.

Flaherty, J. F. (2002). Respiratory Tract Infection Therapeutics. University of


California San Francisco. San Fransisco. pp. 61-86.

Grouzard, V., et al. (2016). Clinical Guidelines; Diagnosis and Treatment Manual
2016 Edition. Medecins Sans Frontieres. Swiss.

Haidar, S.H., et al. (2008). Evaluation of a Scaling Approach for the


Bioequivalence of Highly Variable Drugs. American Association of
Pharmaceutical Scientists Journal 10 (3): 450-454.

Herawati S. dan S. Rukmini. (2003). Penyakit Telinga Hidung Tenggorok. EGC.


Jakarta.  

Istikomah. (2013). Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) Pada Pasien Anak
Infeksi Saluran Pernafasan Akut Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. Moewardi Surakarta Tahun 2012. Skripsi. Universitas
Muhammadiyah Surakarta. Surakarta. 

IONI. (2008). Informatorium Obat Nasional Indonesia. Jakarta: Badan POM RI.

Kemenkes RI. (2008). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


269/MenKes/Per/III/2008 Tentang Rekam Medis. Jakarta.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


122 
 

__________. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009


Tentang Rumah Sakit. Jakarta.

__________. (2011). Pedoman Pelayanan Kefarmasian Untuk Terapi Antibiotik.


Direktorat Bina Komunitas dan Klinik Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan. Jakarta.

__________. (2013). Petunjuk Teknis Manajemen TB Anak. Direktorat Jenderal


Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta.

__________. (2013). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


328/Menkes/SK/VIII/2013 Tentang Formularium Nasional. Jakarta.

__________. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58


Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit.
Jakarta.

__________. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5


Tahun 2014 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer. Jakarta

__________. (2014). Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Direktorat


Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta.

Mahmoud, A. M. (2008). Drug Therapy Problems and Quality of Life in Patients


with Chronic Kidney Disease. Thesis. University Sains Malaysia. Malaysia.

Mansbach, J.M. dan C.A. Camargo. (2009). Respiratory Viruses In Bronchiolitis


And Their Link To Recurrent Wheezing And Asthma. Clin Lab Med 29(4):
741–55.

Mansjoer, A., Suprohaita, W.K. Wardhani,W. Setiowulan. (2000). Kapita Selekta


Kedokteran. Edisi III, Jilid II. Penerbit Media Aesculapius, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Mayfield S., et al. (2014). High-Flow Nasal Cannula Oxygen Therapy For Infants
With Bronchioltis: Pilot Study. Journal Paediatrics and Child Health 50(5):
373-8. doi: 10.1111/jpc.12509.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


123 
 

Ministry Of Tanzania. (2013). Standard Treatment Guidelines And Essential


Medicines List. Fourth Ed. Ministry Of Health And Social Welfare. The
United Republic of Tanzania.

Misnadiarly. (2008). Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia pada Balita,


Orang Dewasa, Usia Lanjut. Pustaka Obor Populer. Jakarta.

Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan


Sistem Pernafasan. Salemba Medika. Jakarta.

Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit, Edisi 2. EGC. Jakarta.

Nori, D.O., Tavga A.A., dan Saad A.H. (2014). Drug Related Problems in
Sulaimani Pediatric Teaching Hospital, Iraq. World Journal of
Pharmaceutical Sciences 2 (6): 534-538.

Notoatmojo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. PT. Rineka Cipta.


Jakarta.

PCNE. (2010). PCNE Classification for Drug Related Problems. Pharmaceutical


Care Network Europe Foundation.V6.2 revised 14-01-2010vm: 1-9.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2003). Pneumonia Komuniti: Pedoman


Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

Piscitelli, S. C., dan K. A. Rodvold. (2005). Drug Interaction in Infection Disease.


Second Edition. Humana Press. New Jersey.

Plint, A.C., et al. (2009). Epinephrine and Dexamethasone in Children with


Bronchiolitis. The New England Journal of Medicine 360 (20): 2079-89. doi:
10.1056/NEJMoa0900544

Prest, M. (2003). Penggunaan Obat Pada Anak, dalam: Aslam, M., Tan, C.K.,
Prayitno, A., Farmasi Klinis : Menuju Pengobatan Rasional dan penghargaan
Pilihan Pasien. PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Jakarta.
pp. 191-192.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


124 
 

Ralston, S.L., et al. (2014). Clinical Practice Guideline: The Diagnosis,


Management, And Prevention Of Bronchiolitis. American Academy of
Pediatrics 134(5): 1474-502.

Rashed, A. N., A. Neubert,., dan S. Tomlin (2012). Epidemiology and potential


associated risk factors of drug-related problems in hospitalised children in the
United Kingdom and Saudi Arabia. Euoropen Journal 68 (12): 1657-1666.

Rashed, A.N., et al. (2013). Epidemiology and potential risk factors of drug-related
problems in Hong Kong paediatric wards. British Journal of Clinical
Pharmacology 77(5): 873-879.

Reeves, C. J., G. Roux, dan R. Lockhart. (1999). Medical Surgical Nursing. The
McGraw-Hill Companies, Inc. United States of America. Terjemahan: dr. J.
Setyono. (2001). Keperawatan Medikal Bedah, (Edisi 1). Salemba Medika.
Jakarta.

Rovers, J.P., et al. (2003). A Practical Guide To Pharmaceutical Care, Second


Edition. American Pharmaceutical Association. Washington DC.

Rudan, Igor, et al. (2008). Epidemiology And Etiology Of Childhood Pneumonia.


Bulletin of the World Health Organization 86: 408–416.

Setiawati, A. (2007). Interaksi obat, dalam Farmakologi dan Terapi. Edisi lima.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Gaya Baru. Jakarta.

Sherwood, L. (2001). Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem, Edisi 2. EGC. Jakarta.

Shutman, et al. (2012). IDSA Guideline: Clinical Practice Guideline for the
Diagnosis and Management of Group A Streptococcal Pharyngitis: 2012
Update by the Infectious Diseases Society of America. Oxford University
Press. Amerika.

Siregar, C.J.P. Lia Amalia. (2003). Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. pp. 7-18.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


125 
 

Smeltzer, C.S., dan Brenda G.B. (2002). Terjemahan A. Waluyo, et al. (2002).
Buku Ajar Keperawatan medikal Bedah Brunner & Suddarth, Edisi 8th.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Soepardi, E. A., et al. (2002). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala dan Leher. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

Stockley, I.H. (2008). Stockley’s Drug Interaction. Edisi kedelapan.


Pharmaceutical Press. Great Britain.

Strand, L.M., et al. (1990). Drug Related Problems: Their Structure and Function.
Departemen of Pharmacy Practice. Amerika Serikat.

Sugiyono. (2012). Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R &D.


Alfabetha. Bandung.

Supriyatno, B. (2006). Infeksi Respiratorik Bawah Akut pada Anak.  Sari Pediatri
8 (2): 100-106.

Takata, G.S., et al. (2008). Development, Testing, and Findings of a Pediatric-


Focused Trigger Tool to Identify Medication-Related Harm in US Children’s
Hospitals. Pediatrics 121 (4). Retrieved from:
http://www.pediatrics.org/cgi/content/full/121/4/e927 [Accessed April 18,
2016]

Takemoto, C.K., Jane H.H., dan Donna M.K. (2003). Pediatric Dosage Handbook
9th Edition. Lexi Comp, Inc. Canada.

Thompson, L.D.R. Pharyngitis. In:.; Bailey, B.J., Johnson, J.T., dan Newlands,
S.D. (2006). Head and Neck Surgery – Otolaryngology, 4th Edition.
Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia, PA. pp. 601-614.

Welliver RC. Bronchiolitis And Infectious Asthma. In: Feigin RD, et al. Feigin
Textbook of Pediatric Infectious Disease. 6th ed. (2009). WB Saunders.
Philadelphia. pp. 277-85

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


126 
 

WHO. (2003). Penanganan ISPA pada Anak Rumah Sakit Kecil Negara
Berkembang. Pedoman untuk Dokter dan Petugas Kesehatan Senior. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

__________. (2005). Technical updates of the guidelines on the Integrated


Management of Childhood Illness (IMCI): Evidence and recommendations
for further adaptations. WHO Press. Geneva.

__________. (2007). Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan


Akut yang cenderung menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

__________. (2013). Pocket Book Of Hospital Care For Children: Guidelines For
The Management Of Common Childhood Illnesses. 2nd Ed. WHO Press.
Geneva.

Wong, D.L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatric Volume 2. EGC. Jakarta.

Yasin, N.M., Joko S., dan Eri S. (2009). Drug Related Problem (DRP) of Dengue
Hemorragic Fever (DHF) medication in pediatric patient. Majalah Farmasi
Indonesia 20 (1): 27 – 34.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Pengambilan Data dan Penetian Dari Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

  127  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 


 
 
128
 

Lampiran 2. Surat Persetujuan Izin Penelitan dan Pengambilan Data Dari


Rumah Sakit Umum Daerah Bangka Tengah

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
129
 

Lampiran 3. Rekapitulasi 5 Data Pasien dari 80 Sampel Penelitian


Keterangan : Jumlah Sampel 80 Pasien (*Data Tidak Dapat Ditampilkan Semua)

L Diagnosa
BB Tanggal Obat yang Nama Dosis Waktu Status
No / Usia Dirawat/Penyakit Ket Rute Dosis Literatur
Kg Dirawat Digunakan Generik Obat Penggunaan Pasien
P Penyerta
1 P 5 21 29/12/2014 Pneumonia Lasal Salbutamol Bronkhodi Oral 3x½ 2-6 tahun 0,1- 30/12/2014 Sembuh
Th - lator cth 0,2 mg/kg BB, 3 –
03/01/2015 x/hari (*) 03/01/2015
(5 hari)

Sanmol Parasetamol Anti- Oral 3x2 4-5 tahun (36-47


piretik cth pon) 240 mg (*)

2-6 tahun 5-10


ml 3-4x/hari
(**)

Ambroxol Ambroxol Mukolitik Oral 2x½ 2-6 tahun 2,5 ml,


cth 3x/hari (**)

Interzink Zink Suplemen Oral 1x1 6 bulan-5 tahun,


cth 1 cth 1x/hari
(**)

Nebu Ipratropium Bronkhodi Inhalasi 3x1 1 UDV,


Combivent Bromida & lator UDV 2-3x/hari
Salbutamol (****)
sulfat

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
130
 

Ceftriaxon Ceftriaxon Antibiotik Injeksi 2x 1 bulan – anak-


750 anak 50-75
mg mg/kg BB/hari,
1-2x/hari (*)

2 L 1,9 10 11/02/2015 Rhinofaringitis Sanmol Syr Parasetamol Anti- Oral 3x1 1-2 tahun (18-23 11/02/2015 Sembuh
Th – piretik cth pon) 120 mg (*) –
13/02/2015 13/02/2015
1-2 tahun (3 hari)
5 ml
3-4x/hari (**)

Lasal Salbutamol Bronkhodi Oral 3x½ < 6 tahun 2,5-5


lator cth ml 2-3x/hari
(**)

Psidii - Suplemen Oral 2x1 1-2 cth 3x/hari


cth

Cefixime Cefixime Antibiotik Oral 2x½ 6 bulan – 12


cth tahun 8 mg/kg
BB, 1x/hari atau
4 mg/kg
BB,2x/hari,
dosis maks 400
mg/hari (*)

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
131
 

3 P 2,2 11 16/05/2015 Nasofaringitis Akut, Parasetamol Parasetamol Anti- Oral 3x1 2-3 tahun (24-35 16/05/2015 Sembuh
- Kejang piretik cth pon), 160 mg (*) -
20/05/2015 20/05/2015
2-6 tahun , 5-10 (5 hari)
ml,
3-4 x/hari (**)

Mucera Ambroxol Mukolitik Oral 3x1/3 2-5 tahun,


cth ½ cth
3 x/hari (****)

Cefixime Cefixime Antibiotik Oral 2x½ 6 bulan – 12


cth tahun 8 mg/kg
BB, 1x/hari atau
4 mg/kg BB,
2x/hari, dosis
maksimal 400
mg/hari (*)

Diazepam Diazepam Anti- Oral 2 mg Anak-anak


kejang 3x1 1 mg/kg/hari
pulv dalam dosis
terbagi setiap 8
jam (*)

Elkana - Vitamin Oral 1x½ < 6 tahun, 2,5 19/05/2015


cth ml, -
2 x/hari 20/05/2015
(2 hari)

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
132
 

Cetirizine Cetirizine Anti- Oral 1x½ 2-6 tahun, 2,5 ml


histamin cth 1x/hari atau 5 ml
1x/hari (*)

Lasal Salbutamol Bronkhodi Oral 3x½ < 12 tahun 0,1-


lator cth 0,2 mg/kg BB, 3
x/hari (*)

Trilac Triamsinolon Anti- Oral 3 x 1,5 Anak-anak < 12


inflamasi mg tahun
416 µg-1,7
mg/kg BB/hari
(**)

Nebu Ipratropium Bronkhodi Inhalasi 3x1 1 UDV, 18/05/2015


Combivent Bromida & lator UDV 2-3x/hari -
Salbutamol (****) 20/05/2015
sulfat   (3 hari)
 
4 P 3 10,4 28/12/2015 Rhinofaringitis, Asedas - Vitamin Oral 1x1 < 6 tahun, 28/12/2015 Sembuh
Th - Demam Berdarah, cth ½-1 C, 2x/hari -
31/12/2015 Hipertermia (**) 31/12/2015
(4 hari)
Sanmol Parasetamol Anti- Oral 3x1 4-5 tahun (36-47
piretik cth pon) 240 mg (*)

2-6 tahun 5-10


ml 3-4x/hari
(**)
Lasal Salbutamol Bronkhodi Oral 3 x 2,5 < 12 tahun 0,1- 29/12/2015
lator ml 0,2 mg/kg BB, 3 -
x/hari (*)
 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
133
 

Rhinos Pseudoephe- Deko- Oral 3x1 2-5 tahun, 2,5 ml 31/12/2015


drine HCl 15 ngestan ml 3x/hari (3 hari)
mg, (**)
Chlorphenira
mine Maleate
1 mg

Sanmol Parasetamol Anti- Rektal 125 10-20 mg/kg 28/12/2015


Suppos piretik mg BB, setiap 4-6 (1 hari)
jam sesuai
kebutuhan (*)

5 P 13 38 26/08/2015 Demam Berdarah, Imudator - Suple- Oral 1x1 >12 tahun 27/08/2015 Sembuh
Th - Tonsilitis men cth 2 C, 1-3x/hari -
31/08/2015 (**) 30/08/2015
(4 hari)

Parasetamol Parasetamol Anti- Oral 3x >12 tahun dan 26/08/2015


piretik 500 dewasa -
mg 325-650mg 28/08/2015
maksimal 1g, (3 hari)
3-4x/hari (*) dilanjutkan
30/08/2015
(1 hari)

Psidii - Suplemen Oral 3x1 1-2 cth 3x/hari 27/08/2015


cth -
31/08/2015
(5 hari)

Trilac Triamsinolon Anti- Oral 3x½ Anak-anak > 12 29/08/2015


inflamasi tab tahun (1 hari)

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
134
 

4-48 mg/hari,
3xhari (**)

Ancla Amoksisilin Antibiotik Oral 3x > 12 tahun 29/08/2015


dan Asam 1½ < 40 kg -
Klavulanat cth 20-40 mg 31/08/2015
(amoksisi- (3 hari)
lin)/kg BB/hari,
3x/hari (*)

Keterangan:

* : Pediatric Dosage Handbook 9th Edition, 2002


** : MIMS, 2016
*** : Juknis Manajemen TB, 2013
**** : Drugs.com
***** : Pedoman TB Nasional, 2014
****** : Guidelines For The Management Of Common Childhood Illnesses Second edition, WHO, 2013

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
135
 

Lampiran 4. Rekapitulasi Hasil Analis Data DRPs Kategori Dosis Rendah dan Dosis Tinggi yang Paling Banyak (*Data Tidak Dapat
Ditampilkan Semua)

Penyakit / Nama Jenis DRPs


Obat Yang Tidak Kekuatan Ketepatan Durasi Pemberian Antibiotik
Nomor Dosis Literatur Kategori Dosis
Pasien Tepat Dosis / Usia / Sediaan
BB
Dosis Rendah Dosis Tinggi Tepat Durasi Tidak Tepat Durasi
Hipertermia, Rhinos 5 ml Rhinos
Rhinos dosisnya
Rhinofaringitis Pseudoephe-drine Pseudoefedrin < 2 tahun 4 kurang seharusnya
Demam Berdarah HCl 15 mg, mg/kgBB/hari 41,6 mg =
4 Chlorpheniramine Klofeniramin < 12 tahun 13,86 ml (minimal - - -
Rhinos Maleate 1 mg  0,35 mg/kgBB/hari 13,86 x 80%= 11,08
3 x 1 ml ml) yang diberikan 3
ml
Pneumonia Sanmol Sanmol
Asma Bronkhial 120mg/5ml 4-5 tahun
Ceftriaxon Inj (36-47 pon) 240 mg
5 Tahun 1 g/ vial Ceftriaxon
1 UDV, 2.5ml 1 bulan – anak-anak 50- Sanmol kurang
16,5 Kg
75 mg/kg BB/hari, dosisi (dosis lazim
Ceftriaxon diberikan 4
10 1-2x/hari 240 mg= 2 cth, 80 % - -
Sanmol hari
= 192 mg, yang
3 x ½ cth Durasi Pemberian : diberikan 180mg)
Ceftriaxon Menurut PC penyakit
2 x 800 mg
ISPA 2005 antibiotik
untuk pneumonia
diberikan dg durasi 5-10

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
136
 

hari bahkan bisa sampai


14 hari
Pneumonia Ambroxol Lasal Lasal kurang dosis
15mg/5ml Anak-anak <12 tahun 0,1- seharusnya 1,3 mg=
2,7 Tahun Lasal 0,2 mg/kg BB, maksimum 3,25 ml (minimal
13 Kg 2mg/5ml 5 mg, 3,25 ml x 80 % = 2,6
Rhinos / 5 ml Ambroxol ml) diberikan 2,5 ml
Pseudoephe-drine Anak-anak 1,2-1,6
Rhinos dosis kurang
Rhinos HCl 15 mg, mg/kgBB/hari
seharusnya 2,5 ml,
3 x 1 ml Chlorpheniramine Rhinos (minimal
Lasal Maleate 1 mg 2-5 tahun, 2,5 ml 3x/hari 2,5 ml x 80 %= 2
11 3 x ½ cth - - -
ml, diberikan 1 ml
Ambroxol
2 x 1/3 cth Ambroxol dosis
kurang seharusnya
15,6 mg (minimal
15,6 mg x 80 %=
12,48 mg) yang
diberikan 10,02 mg

Pneumonia Rhinos / 5 ml Rhinos


Pseudoephe-drine Pseudoefedrin < 2 tahun
HCl 15 mg, 4 mg/kgBB/hari Rhinos dosis kurrang
8 Bulan
seharusnya
Chlorpheniramine Klofeniramin < 12 tahun
6,3 Kg 25,2 mg = 8,4 ml
Maleate 1 mg 0,35 mg/kgBB/hari
17 dosis pseudoefedrin - - -
(minimal
Rhinos 8,4 ml x 80%= 6,72
3 x 1.8 ml ml),diberikan 5,4 ml

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
137
 

Pneumonia Ceftriaxon Inj Rhinos


1 g/ vial Pseudoefedrin < 2 tahun 4
1 UDV, 2.5ml mg/kgBB/hari
1, 5 Tahun Rhinos 5 ml Klofeniramin < 12 tahun Rhinos dosis rendah
9 Bulan Pseudoephe-drine 0,35 mg/kgBB/hari dilihat dari dosis
HCl 15 mg, pseudoefedrin 36
Chlorpheniramine Durasi Pemberian : mg/hari Ceftriaxon diberikan 4
22 - -
Ceftriaxon Maleate 1 mg Menurut PC penyakit (minimal hari
2 x 450 mg ISPA 2005 antibiotik 36 mg x 80%= 28,8
mg) diberikan 22,5
Rhinos untuk pneumonia
mg
3 x ½ cth diberikan dg durasi 5-10
hari bahkan bisa sampai
14 hari
Pneumonia Alco drop Alco
7,5 mg/0,8 ml Anak-anak < 2 tahun Alco dosis kurang,
7 Bulan 4 mg/kg BB/hari, 4x/hari seharusnya
Metil Prednisolon 3,8 ml (minimal
9,1 Kg 3,8 ml x 80 % = 3,04
0,5 – 1,7 mg/kg BB/hari
ml/hari)
Alco diberikan 2,4 ml/hari
Durasi Pemberian : Cefixime diberikan 1
3 x 0,8 cc Menurut PC penyakit hari
25 Metil Prednisolon - -
ISPA 2005 antibiotik
3 x 1 mg pulv Ceftriaxon diberikan 3
untuk pneumonia Metil Prednisolon
diberikan dengan durasi hari
kurang dosis,
5-10 hari bahkan bisa seharusnya
(Diberikan pada hari
sampai 14 hari 4,55 mg
yang berbeda)
(minimal
4,55 mg x 80 % =
3,64 mg)
diberikan 3 mg/hari

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
138
 

Pneumonia Lasal Lasal Rhinos kurang dosis


2mg/5ml Anak-anak <12 tahun 0,1- seharusnya 2,5 ml
Ceftriaxon Inj 0,2 mg/kg BB, maksimum (minimal
3 Tahun 1 g/ vial 5 mg, 2,5 ml x 80 %= 2
Trilac Rhinos ml), diberikan 3 ml
15 Kg
4 mg/tab 2-5 tahun, 2,5 ml 3x/hari
Trilac
Rhinos / 5 ml Trilac
dosis kurang
Lasal Pseudoephe-drine Anak-anak < 12 tahun
seharusnya 6,24 mg,
HCl 15 mg, 416 µg-1,7 mg/kg BB/hari
3 x ½ cth (minimal
Ceftriaxon diberikan 4
Chlorpheniramine Ceftriaxon 6,24 mg x 80% =
26 Rhinos - - hari
Maleate 1 mg 1 bulan – anak-anak 4,992 mg/hari)
3 x 1 ml
50-75 mg/kg BB/hari, diberikan 4,5 mg
Ceftriaxon
1-2x/hari
2 x 650 mg
Durasi Pemberian : Lasal kurang dosis
Trilac berdasarkan BB
Menurut PC penyakit
3 x 1,5 mg seharusnya 1,5 mg =
ISPA 2005 antibiotik
untuk pneumonia 3,75 ml
diberikan dg durasi 5-10 (minimal
hari bahkan bisa sampai 3,75 ml x 80% = 3
ml) diberikan 2,5 ml
14 hari
Pneumonia Interzink Interzink Deksametason dosis
Down Syndrom 20 mg/5 ml 6 bulan-5 tahun, 1 cth Interzink dosis tinggi seharusnya
Deksametason 1x/hari kurang, seharusnya diberikan
2,5 Tahun 5mg/ml Deksametason diberikan 1 cth 1,08 mg
Anak-anak 5 ml (maksimal
32 3,6 Kg - -
0,08-0,3 mg/kg BB/hari (minimal 1,08 mg x 125 % =
2-4 x/hari 5 ml x 80 % = 1,35 /hari)
4 ml), diberikan diberikan
Interzink hanya 2,5 ml
1 x ½ cth ¼ amp =

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
139
 

Deksametason 1,25 mg x 3 = 3,75


3 x ¼ amp mg/hari

Pneumonia Lasal Lasal


Anemia 2mg/5ml Anak-anak <12 tahun
Lasal dosis kurang
Defek Septum Vectrin 0,1-0,2 mg/kg BB,
seharusnya diberikan Vectrin dosis tinggi
Atrium 175 mg/5 ml maksimum 5 mg 0,85 mg = 2,125 ml seharusnya dihitung
Lasix Inj Lasix (minimal dengan
9 Bulan 10 mg/ml 1 bulan – 1 tahun 1-6 2,125 ml x 80% = menggunakan
8,5 Kg mg/kgBB/hari setiap 6-12 1,7 ml), yang rumus clarck
jam diberikan 1,5 ml 8,5 x 2,2 pon = 18,7
34 pon - -
Lasal
Vectrin Lasix dosis kurang 18,7/150 x 10 ml =
3 x 1,5 cc seharusnya diberikan 1,25 ml
Dewasa dan anak-anak >
Vectrin 8,5 mg, (minimal (maksimal
30 kg 10 ml 2x/hari
1 x 1 cth 8,5 mg x 80%= 1,25 ml x 125 % =
Anak-anak 20-30 kg 5 ml
Lasix Inj 6,8 mg), yang 1,56 ml) yang
3x/hari
1 x 4 mg diberikan 4 mg diberikan 5 ml
Anak-anak 15-19 kg 5 ml
2x/hari

Pneumonia Lasal Lasal


Wheezing infant 2mg/5ml Anak-anak <12 tahun Lasal dosis tinggi Ceftriaxon diberikan 3
Ceftriaxon Inj 0,1-0,2 mg/kg BB, seharusnya hari
1 g/ vial maksimum 5 mg diberikan
10 Bulan 1 UDV, 2.5ml Azitromisin 1,84 mg Azitromisin diberikan
37 Anak-anak, 5mg/kg BB -
Azitromisin (maksimal 3 hari
9,2 Kg
200mg/5ml 1x/hari, maksimal 1,84 mg x 125%=
250mg/hari 2,3 mg diberikan 4 (diberikan pada hari
Lasal Ceftriaxon mg yang sama)
3 x 2 cth 1 bulan – anak-anak 50-

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
140
 

Azitromisin 75 mg/kg BB/hari,


1 x ½ cth 1-2x/hari
Durasi Pemberian :
Ceftriaxon Menurut PC penyakit
2 x 450 mg ISPA 2005 antibiotik
untuk pneumonia
diberikan dg durasi 5-10
hari bahkan bisa sampai
14 hari

Pneumonia Ceftriaxon Inj Rinocet


Wheezing Infant 1 g/ vial Anak-anak < 2 tahun
1 UDV, 2.5ml 0,25 mg/kgBB/hari
2 Bulan Alco drop 1x/hari Rinocet dosis
7,5 mg/0,8 ml Alco kurang, seharusnya
6,4 Kg
Rinocet Anak-anak < 2 tahun diberikan 1,6 mg =
5 mg/ 5 ml 1,6 ml,
4 mg/kg BB/hari, 4x/hari
Rinocet (minimal
Ceftriaxon
1 x 0,2 cc 1,6 ml x 80 %= 1,28
1 bulan – anak-anak 50- Ceftriaxon diberikan 4
ml, diberikn 0,2 ml
Alco 75 mg/kg BB/hari, hari
41 - -
3 x 0,5 cc 1-2x/hari Alco
Ceftriaxon dosis kurang,
2 x 300 mg Durasi Pemberian :
seharusnya diberikan
Menurut PC penyakit 25,6 mg = 2,7
ISPA 2005 antibiotik ml/hari, (minimal
untuk pneumonia 2,7 ml x 80 %=
diberikan dg durasi 5-10 2,16 ml), yang
hari bahkan bisa sampai diberikan 1,5 ml/hari
14 hari

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
141
 

Pneumonia Ceftriaxon Inj Azitromisin


1 g/ vial Anak-anak, 5mg/kg BB
1 UDV, 2.5ml 1x/hari, maksimal
7 Bulan Azitromisin 250mg/hari
7,6 Kg 200mg/5ml Ceftriaxon
Puyer batuk 1 bulan – anak-anak 50-
Trilac 0,75 mg 75 mg/kg BB/hari,
Azitromisin
Salbutamol 0,6 mg 1-2x/hari
1 x 1,8 cc
Ambroxol 2,5 mg Maksimal 2-4 g/hari
Ceftriaxon Ceftriaxon diberikan 4
Puyer batuk Trilac pada puyer
2 x 350 mg hari
Salbutamol: Anak-anak batuk dosis kurang
Puyer Batuk
<12 tahun 0,1-0,2 mg/kg seharusnya
3 x 1 pulv Azitromisin diberikan
44 BB, maksimum 5 mg, 3,16 mg/hari
2 hari
Trilac: Anak-anak < 12 (minimal
tahun 416 µg-1,7 mg/kg 3,16 ml x 80%= 2,5
(Diberikan pada hari
BB/hari mg/hari) diberikan
yang sama)
Ambroxol: Anak-anak 2,25 mg/hari
1,2-1,6 mg/kgBB/hari
Durasi Pemberian :
Menurut PC penyakit
ISPA 2005 antibiotik
untuk pneumonia
diberikan dg durasi 5-10
hari bahkan bisa sampai
14 hari
Pneumonia Lasal Lasal Lasal dosis kurang,
2mg/5ml Anak-anak <12 tahun 0,1- seharusnya diberikan
49 Rhinos 5 ml 0,2 mg/kg BB, maksimum 2,3 mg - - -
7,6 Tahun Pseudoephe-drine 5 mg (minimal
HCl 15 mg, Rhinos 2,3 mg x 80% =

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
143
 

3 x 0,6 cc Ceftriaxon Alco kurang dosis


Mucos 1 bulan – anak-anak 50- seharusnya diberikan
2 x 0,2 ml 75 mg/kg BB/hari, 30 mg/hari,
Ceftriaxon 1-2x/hari (minimal
2 x 350 mg 30 mg x 80 %= 24
Durasi Pemberian : mg/hari= 2,56 ml),
yang diberikan 1,8
Menurut PC penyakit ml/hari
ISPA 2005 antibiotik
untuk pneumonia Mucos kurang dosis
diberikan dg durasi 5-10 berdasarkan BB 7,5
hari bahkan bisa sampai 14 kg, 9 mg =
hari 0,6 ml
(minimal
0,6 ml x 80 %= 0,48
ml) diberikan 0,4 ml

Pneumonia Ceftriaxon Inj Alco


Konjungtivitis 1 g/ vial Anak-anak < 2 tahun
1 UDV, 2.5ml 4 mg/kgBB/hari, 4x/hari
7 Bulan Ceftriaxon
Alco drop 1 bulan – anak-anak 50- Alco kurang dosis
6,2 Kg 7,5 mg/0,8 ml 75 mg/kg BB/hari, seharusnya diberikan
1-2x/hari 24,8 mg =
65 Alco Durasi Pemberian : 2,6 ml (minimal - - Ceftriaxone diberikan
3 x 0,4 Menurut PC penyakit 2,6 ml x 80% = 2,04 4 hari
Ceftriaxon ISPA 2005 antibiotik ml) yang diberikan
2 x 300 mg untuk pneumonia 1,2 ml
diberikan dg durasi 5-10
hari bahkan bisa sampai
14 hari

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
144
 

Pneumonia Praxion Praxion Praxion (PCT) dosis


Kejang Demam 120 mg/5 ml 2-6 tahun 5-10 ml 3- kurang seharusnya
Kompleks Lasal 4x/hari 150 mg = 6,25 ml
2,2 Tahun 2mg/5ml Lasal (minimal
Vectrin dosis tinggi
Vectrin Anak-anak < 12 tahun 6,25 ml x 80 % = 5
15 Kg seharusnya
175 mg/5 ml 0,1-0,2 mg/kg BB, 3x/hari ml) yang diberikan
33 pon/150 x 10 ml
Praxion 3,75 ml
67 Vectrin = 2,2 ml (maksimal - -
3 x ¾ cth Dewasa dan anak-anak 2,2 ml x 125 % =
Lasal dosis kurang
> 30 kg 10 ml 2x/hari 2,75 ml) yang
Lasal seharusnya 1,5 mg =
Anak-anak 20-30 kg 5 ml diberikan 5 ml
3 x ½ cth 3,75 ml (minimal
3x/hari 3,75 ml x 80% = 3
Vectrin Anak-anak 15-19 kg 5 ml ml) yang diberikan
2 x 1 cth 2x/hari 2,5 ml
Pneumonia Deksametason Rinocet
Penyakit Jantung 5mg/ml Anak-anak < 2 tahun
Kongenital Asianotik Rinocet 0,25 mg/kgBB/hari Rinocet dosis kurang
(cetirizin) 1x/hari Deksametason
seharusnya
2 Bulan 5 mg/ 5 ml Deksametason Anak- seharusnya 0,3 x 3,6
0,25mg/kg x 3,6 kg=
anak 0,08-0,3 mg/kg = 1,08 mg
3,6 Kg 0,9 ml (minimal
72 (maksimal -
BB/hari 2-4 x/hari 0,9 ml x 80 % 0,72
1,08 mg x 125%=
Rinocet ml diberikan 0,2 ml
1,35 mg)
1 x 0,2 cc diberikan 5 mg
Deksametason
3 x 1 amp

Pneumonia Ceftriaxon Inj Deksametason Aminofilin dosis Deksametason dosis


1 g/ vial Anak-anak maintenance tinggi seharusnya
Ceftriaxon diberikan 4
76 1 UDV, 2.5ml 0,08-0,3 mg/kg BB/hari seharusnya 14 mg x 0,3 x 14 = 4,2 mg -
5 Tahun hari
2-4 x/hari 12 jam = 168 mg (maksimal
Ceftriaxon (minimal 4,2 mg x 125 %=

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
145
 

14 Kg Deksametason 1 bulan – anak-anak 50- 168 mg x 80%= 5,25 mg/hari)


5mg/ml 75 mg/kg BB/hari, 134,4 mg) diberikan diberikan 6 mg/hari
Deksametason
Aminofilin 1-2x/hari 120 mg
3 x 2 mg
24mg/ml Loading dose anak-anak 6
Ceftriaxon
2 x 350 mg mg/kgBB/hari
Selanjutnya dosis
Aminofilin
Loa-ding dose 84 mg maintenance anak-anak 1-
+ 20 cc D5 % dalam 9 tahun 1-1,2
15 menit, 80 cc/jam mg/kgBB/jam

120 mg / 12 jam Durasi Pemberian :


aminofilin + D5 % 48 Menurut PC penyakit
cc 4 cc/jam habis 12 ISPA 2005 antibiotik
jam untuk pneumonia
diberikan dg durasi 5-10
hari bahkan bisa sampai
14 hari
TB Paru dalam Trilac Vectrin Trilac dosis kurang
terapi OAT 1 bulan 4 mg/tab Dewasa dan anak-anak > seharusnya 4,16 mg
Pneumonia Vectrin 30 kg 10 ml 2x/hari (minimal Vectrin dosis tinggi
Asma Bronkial 175 mg/5 ml Anak-anak 20-30 kg 5 ml 4,16 mg x 80 % = seharusnya
Ondansetron 3x/hari 3,3 mg) yang 22 pon/150 x 10 ml
5 Tahun 2 mg/ml Anak-anak 15-19 kg 5 ml diberikan 3 mg = 1,47 ml
-
(maksimal
78 10 Kg Ceftazidim 2x/hari -
Ondansetron dosis 1,47 ml x 125 % =
1 g/vial Trilac
kurang seharusnya 1,8 ml), yang
Vectrin Anak-anak < 12 tahun 1,5 mg (minimal diberikan 5 ml
1 x 1 cth 416 µg-1,7 mg/kg BB/hari 1,5 mg x 80%= 1,2
Trilac Ondansetron Anak-anak mg) yang diberikan
3 x 1 mg 0,15 mg/kg BB, dosis 1 mg
Ondansetron maksimal 8 mg

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
146
 

2 x 1 mg Ceftazidim Ceftazidim kurang


Ceftazidim Anak-anak 1 bulan – 12 dosis seharusnya
3 x 250 mg tahun 100-150 1000 mg (minimal
mg/kgBB/hari setiap 8 1000 mg x 80 %=
jam, maksimal 6 g/hari 800 mg) yang
diberikan 750 mg

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
147
 

Lampiran 5. Rekapitulasi Hasil Analis Data DRPs Kategori Obat Tanpa Indikasi

Nomor Nama Obat yang Hasil Laboratorium Jenis DRPs


Pasien Penyakit / Keluhan pasien Waktu Pemberian
Dipakai (Jika Ada) Obat Tanpa Indikasi
Bronkhiolitis Mucera 01/01/2015-06/01/2015

Cefixime 05/01/2015-06/01/2015
Berdasarkan Clinical Practice
KU:
Lasal 01/01/2015-06/01/2015 Guideline dari American
Batuk, Sesak, Demam, Academy Of Pediatri tahun
Muntah Ceftriaxon Inj 01/01/2015-06/01/2015 2014 menyatakan bahwa
penggunaan antibiotik pada
7 -
Zinc 05/01/2015-06/01/2015 pasien penderita bronkhiolitis
TTV (Awal Masuk):
tidak direkomendasi-kan
RR: 66 x/menit
Domperidon 01/01/2015-06/01/2015 karena penyebab utama
T: 37,4 ⁰C
bronkhiolitis adalah virus
HR: 160 x/menit Cefixime 01/01/2015-06/01/2015 bukan bakteri
Rh: -/-
Wh: +/- Metil Prednisolon 01/01/2015-06/01/2015

Ceftriaxon Inj 12/10/2015-15/10/2015


Bronkhiolitis Berdasarkan Clinical Practice
Lasal 12/10/2015-15/10/2015 Guideline dari American
Academy Of Pediatri tahun
19 KU: Trilac 12/10/2015-15/10/2015 - 2014 menyatakan bahwa
Batuk, Sesak, Demam, penggunaan antibiotik pada
Muntah Sanmol 15/10/2015 pasien penderita bronkhiolitis
tidak direkomendasikan

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
148
 

TTV (Awal Masuk): Ondansetron 12/10/2015-13/10/2015 karena penyebab utama


RR: 50 x/menit bronkhiolitis adalah virus
T: 37,2 ⁰C Nebu Ventolin 12/10/2015-15/10/2015 bukan bakteri
HR: 150 x/menit
Rh: -/- ; Wh: -/- Rhinos 12/10/2015-15/10/2015

Pneumonia Ceftriaxon Inj 09/05/2015-15/05/2015

Sanmol drops 09/05/2015-16/05/2015


KU:
Azitromisin 12/05/2015-16/05/2015
Demam, Sesak, Batuk Pilek,
Muntah, Sesak Cetirizine 12/05/2015-16/05/2015

Mucos 13/05/2015-16/05/2015
Kandistin digunakan untuk
TTV (Awal Masuk):
Lasal 09/05/2015-16/05/2015 pasien candidiasis atau
51 RR: 60 x/menit - terinfeksi jamur candida
T: 38 ⁰C Cefixime 15/05/2015-16/05/2015 namun pada pasien tidak terda-
HR: 108 x/menit pat riwayat infeksi candida
Nebu Combivent 09/05/2015-16/05/2015
Rh: +/+
Wh: -/- Kandistin 14/05/2015-16/05/2015

Zirkum 15/05/2015-16/05/2015

L-Bio 15/05/2015-16/05/2015

Puyer Batuk 09/05/2015-16/05/2015

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
149
 

Bronkhiolitis Nebu Ventolin 13/11/2015-14/11/2015

Sanmol drops 13/11/2015-14/11/2015


KU: Berdasarkan Clinical Practice
 
Guideline dari American
Batuk pilek (1 hari), Sesak, Opimox 13/11/2015-14/11/2015 Academy Of Pediatri tahun
Demam (2 hari)   2014 menyatakan bahwa
Alco drop 13/11/2015-14/11/2015 penggunaan antibiotik pada
57 -
pasien penderita bronkhiolitis
TTV (Awal Masuk): Puyer Batuk 13/11/2015-14/11/2015 tidak direkomendasi-kan
RR: 55 x/menit karena penyebab utama
T: 37,8 ⁰C bronkhiolitis adalah virus
HR: 140 x/menit bukan bakteri
Rh: -/-
Wh: -/-

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
150
 

Lampiran 6. Rekapitulasi Hasil Analis Data DRPs Kategori Potensi Interaksi yang Paling Banyak (*Data Tidak Dapat Ditampilkan
Semua)
Nama Obat Tingkat Keparahan
Nomor Yang Waktu Mekanisme
Berpotensi Pemberian Managemen
Pasien Major Moderate Minor Interaksi
Interaksi

Lasal
(Salbutamol)
+
Rhinos 29/12/2015
Klorfeniramin meningkatkan dan Tidak Perhatian dan
(Klorfenira- - - -
salbutamol menurunkan sedasi Diketahui monitoring
min, 31/12/2015
Pseudoefe-
drin)

Perhatian disarankan
jika agonis adrenergik
beta-2 digunakan
4
Lasal bersamaan dengan agen
(Salbutamol) lain adrenergik,
+ Salbutamol dan pseudoefedrin terutama pada pasien
29/12/2015 keduanya menurunkan sedasi serta dengan gangguan
Rhinos
- - meningkatkan efek simpatis - Sinergis kardiovaskuler seperti
(Klorfenira-
31/12/2015 (adrenergik) , termasuk peningkatan insufisiensi koroner,
min,
Pseudoefe- tekanan darah dan denyut jantung aritmia jantung,
drin) hipertrofik
cardiomyopathy
obstruktif atau
hipertensi. Tekanan
darah dan denyut

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
151
 

jantung harus diawasi


secara ketat

Perhatian disarankan
jika agonis adrenergik
beta-2 digunakan
bersamaan dengan agen
lain adrenergik,
terutama pada pasien
Alco Salbutamol dan pseudoefedrin dengan gangguan
06/02/2015 keduanya menurunkan sedasi serta kardiovaskuler seperti
(Pseudoefe-
25 - - meningkatkan efek simpatis - Sinergis insufisiensi koroner,
drin)
09/02/2015 (adrenergik) , termasuk peningkatan aritmia jantung,
+
Lasal tekanan darah dan denyut jantung hipertrofik
(Salbutamol) cardiomyopathy
obstruktif atau
hipertensi. Tekanan
darah dan denyut
jantung harus diawasi
secara ketat

Nebu
Combivent
18/06/2015
(Salbutamol, Salbutamol dan gentamisin keduanya
40 - - - - -
Ipratropium dapat mengurangi kalium serum
22/06/2015
Sulfat)
+
Gentamisin

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
152
 

Perhatian disarankan
jika agonis adrenergik
beta-2 digunakan
bersamaan dengan agen
Nebu
lain adrenergik,
Combivent
terutama pada pasien
(Salbutamol,
Salbutamol dan pseudoefedrin dengan gangguan
Ipratropium 18/06/2015 keduanya menurunkan sedasi serta kardiovaskuler seperti
Sulfat) - - meningkatkan efek simpatis - Sinergis insufisiensi koroner,
+ 22/06/2015 (adrenergik) , termasuk peningkatan aritmia jantung,
Alco
tekanan darah dan denyut jantung hipertrofik
(Pseudoefe-
cardiomyopathy
drin)
obstruktif atau
hipertensi. Tekanan
darah dan denyut
jantung harus diawasi
secara ketat
Perhatian disarankan
jika agonis adrenergik
Alco beta-2 digunakan
(Pseudoefe- bersamaan dengan agen
drin) lain adrenergik,
+ Salbutamol dan pseudoefedrin terutama pada pasien
Nebu 10/08/2015 keduanya menurunkan sedasi serta dengan gangguan
41 Combivent - - meningkatkan efek simpatis - Sinergis kardiovaskuler seperti
(Salbutamol, 13/08/2015 (adrenergik) , termasuk peningkatan insufisiensi koroner,
Ipratropium tekanan darah dan denyut jantung aritmia jantung,
Sulfat) hipertrofik
cardiomyopathy
obstruktif atau
hipertensi. Tekanan
darah dan denyut

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
153
 

jantung harus diawasi


secara ketat
Pemberian antibiotik
08/10/2015 aminoglikosida parenteral,
- inhalasi atau oral yang Penggunaan antibiotik
11/10/2015 dikombinasi dengan diuretik aminoglikosida dalam
Gentamisin (Gentami- loop dapat berpotensi kombinasi dengan
ototoksisitas dan Efek
54 + sin) - - diuretik loop atau
nefrotoksisitas karena efek sinergis
Furosemid manitol intravena
09/10/2015 farmakologis sinergis obat umumnya harus
- ini dan dapat mengubah dihindari
11/10/2015 kadar aminoglikosida di
(Furosemid) darah dan jaringan

Perhatian disarankan
jika agonis adrenergik
beta-2 digunakan
bersamaan dengan agen
lain adrenergik,
Alco terutama pada pasien
Salbutamol dan pseudoefedrin
(Pseudoefe- dengan gangguan
keduanya menurunkan sedasi serta
drin) kardiovaskuler seperti
meningkatkan efek simpatis
+ 13/11/2015 insufisiensi koroner,
(adrenergik) , termasuk peningkatan
57 Nebu - - - Sinergis aritmia jantung,
tekanan darah dan denyut jantung
Ventolin 14/11/2015 hipertrofik
(Salbutamol) cardiomyopathy
obstruktif atau
hipertensi. Tekanan
darah dan denyut
jantung harus diawasi
secara ketat

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
154
 

Sanmol
(Parasetamol)
03/12/2015 Asetaminofen Tidak
60 + - - -
- menurunkan ekskresi diketahui
Diazepam
06/12/2015 diazepam

27/05/2015
-
29/06/2015
Furosemide , gentamisin
(Gentami-
keduanya meningkatkan
Furosemide sin) Sinergisme
toksisitas satu sama lain. Hindari atau gunakan
72 + - - farmakodi-
Peningkatan risiko alternatif obat
Gentamisin 26/05/2015 namik
ototoxicity dan
-
nefrotoksisitas
01/06/2015
(Furosemid)

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
155
 

Lampiran 7. Rekapitulasi Hasil Analis Data DRPs Kategori Ketidaktepatan Pemilihan Obat
Nomor Jenis DRPs
Nama Obat yang Hasil Laboratorium
Pasien Penyakit / Keluhan pasien Waktu Pemberian Ketidaktepatan Pemilihan
Dipakai (Jika Ada)
Obat
Parasetamol 03/08/2015-04/08/2015 
Pemilihan penggunaan
Pneumonia Ambroxol 03/08/2015-07/08/2015  Hb: 11,0 gr/dl antibiotik kurang tepat, pada
Jenis Kelamin: Laki-laki Leukosit: 30100/l pasien diberikan 2 antibiotik
Lasal 04/08/2015-07/08/2015  Eritrosit: 5,41 jt/l yaitu cefixime dan ceftriaxon
Usia: 10 Bulan
Trombosit: 53700 mm/l dalam waktu yang bersamaan,
Trilac 03/08/2015-04/08/2015  Hematokrit: 33 % dimana kedua antibiotik tsb
33 MCV: 61 fl merupakan antibiotik
KU: Diazepam 04/08/2015
MCH: 20 pg golongan sefalosprin generasi
Batuk pilek, Sesak, Demam ± MCHC: 33 % ke 3 dan spektrum luas
Cefixime 06/08/2015-07/08/2015
5 hari, Muntah Limfosit: 25 % sehingga seharusnya pasien
Ceftriaxon 04/08/2015-07/08/2015 Monosit: 13 % cukup diberikan 1 antibiotik
Granulosit: 62 % saja untuk meminimalisir efek
Nebu Combivent 04/08/2015-07/08/2015 samping yang terjadi

Pneumonia Sanmol Syr 10/09/2015-15/09/2015 Hb: 10,8 gr/dl Pemilihan penggunaan


Leukosit: 5400/l antibiotik kurang tepat, pada
Jenis Kelamin: Laki-laki Lasal 10/09/2015-15/09/2015 Eritrosit: 4,86 jt/l pasien diberikan 2 antibiotik
Usia: 1,4 Th Trombosit: 139000mm/l yaitu cefixime dan ceftriaxon
53 Domperidon 10/09/2015-15/09/2015
Hematokrit: 32 % dalam waktu yang bersamaa,
Zinkid Sirup 10/09/2015-15/09/2015 MCV: 67 fl dimana kedua antibiotik tsb
KU: MCH: 22 pg merupakan antibiotik
Batuk, Sesak, Demam ±4 Asedas 10/09/2015-15/09/2015 MCHC: 33 % golongan sefalosprin generasi
hari, Menggigil, Muntah, Limfosit: 39 % ke 3 dan spektrum luas
 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
156
 

Dahak sulit keluar, Mencret Puyer Batuk 12/09/2015-15/09/2015 Mix sehingga seharusnya pasien
1x (Mon, Eos,Bas): 15 % cukup diberikan 1 antibiotik
Kandistin 14/09/2015-15/09/2015 Neutrofil: 46 % saja untuk meminimalisir efek
samping yang terjadi
Cefixime 14/09/2015-15/09/2015
Nebu Combivent 12/09/2015-15/09/2015
Ceftriaxon 12/09/2015-15/09/2015
Asedas 29/07/2015-05/08/2015
Ambroxol 29/07/2015-01/08/2015
Interzink 31/07/2015-05/08/2015
Vectrin 01/07/2015-05/08/2015
KDT Dewasa 29/07/2015-05/08/2015
Prednisone 29/07/2015-05/08/2015
Vitamin B6 01/07/2015-05/08/2015
Kandistin 03/07/2015-05/08/2015
Nebu Combivent 31/07/2015-05/08/2015
Ceftriaxon 29/07/2015-05/08/2015
Gentamisin 29/07/2015-05/08/2015

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
157
 

Lampiran 8. Data Koding Pasien Berdasarkan Kategori DRPs


Jenis Kategori DRPs
Nomor
Dosis Dosis Obat Tanpa Indikasi Tanpa Ketidaktepatan Potensi Tingkat Keparahan Potensi Interaksi
Pasien
Rendah Tinggi Indikasi Obat Pemilihan Obat Interaksi Major Moderate Minor
1 1 0 0 0 0 0 0 0 0
2 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 1 0 0 0 0 1 0 0 1
4 1 0 0 0 0 1 0 1 0
5 0 0 0 0 0 0 0 0 0
6 0 0 0 0 0 0 0 0 0
7 1 0 1 0 0 0 0 0 0
8 0 0 0 0 0 0 0 0 0
9 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 1 0 0 0 0 0 0 0 0
11 1 0 0 0 0 1 0 1 0
12 0 0 0 0 0 0 0 0 0
13 1 0 0 0 0 0 0 0 0
14 1 0 0 0 0 1 0 1 0
15 1 0 0 0 0 1 0 1 0
16 1 1 0 0 0 0 0 0 0
17 1 0 0 0 0 1 0 1 0
18 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 1 0 1 0 0 1 0 1 0
20 0 0 0 0 0 1 0 1 1
21 0 0 0 0 0 0 0 0 0
22 1 0 0 0 0 1 0 1 0
23 0 0 0 0 0 1 0 1 0
24 0 0 0 0 0 1 0 1 0
25 1 0 0 0 0 1 0 1 0
26 1 0 0 0 0 1 0 1 0
 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
158
 

27 0 0 0 0 0 0 0 0 0
28 0 0 0 0 0 0 0 0 0
29 0 1 0 0 0 1 0 1 0
30 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 1 0 0 0 0 1 0 1 0
32 1 1 0 0 0 0 0 0 0
33 1 0 0 0 1 1 0 0 1
34 1 1 0 0 0 1 0 1 1
35 0 0 0 0 0 1 0 1 0
36 0 0 0 0 0 0 0 0 0
37 0 1 0 0 0 0 0 0 0
38 0 0 0 0 0 0 0 0 0
39 0 0 0 0 0 1 0 1 0
40 1 0 0 0 0 1 0 1 0
41 1 0 0 0 0 1 0 1 0
42 0 0 0 0 0 0 0 0 0
43 0 0 0 0 0 0 0 0 0
44 1 0 0 0 0 0 0 0 0
45 0 0 0 0 0 1 0 1 0
46 1 0 0 0 0 0 0 0 0
47 0 0 0 0 0 0 0 0 0
48 0 0 0 0 0 1 0 1 0
49 1 0 0 0 0 1 0 1 0
50 1 0 0 0 0 1 0 1 0
51 1 0 1 0 0 0 0 0 0
52 0 0 0 0 0 0 0 0 0
53 0 0 0 0 1 0 0 0 0
54 1 0 0 0 0 1 1 1 1
55 1 1 0 0 0 1 0 1 0
56 1 0 0 0 0 1 0 0 1
57 1 0 1 0 0 1 0 1 0

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
159
 

58 0 0 0 0 0 1 0 1 1
59 1 0 0 0 0 1 0 1 0
60 1 0 0 0 0 1 0 0 1
61 1 0 0 0 0 0 0 0 0
62 1 0 0 0 0 1 0 1 0
63 1 0 0 0 0 0 0 0 0
64 0 0 0 0 0 0 0 0 0
65 1 0 0 0 0 1 0 1 0
66 1 0 0 0 0 0 0 0 0
67 1 1 0 0 0 1 0 1 1
68 0 0 0 0 0 1 0 1 0
69 1 0 0 0 0 1 0 1 0
70 1 0 0 0 0 1 0 1 0
71 1 0 0 0 0 0 0 0 0
72 1 1 0 0 0 1 1 1 0
73 0 0 0 0 0 1 0 1 1
74 1 0 0 0 0 1 0 1 1
75 1 0 0 0 0 1 0 1 0
76 1 1 0 0 0 1 0 1 0
77 0 0 0 0 0 0 0 0 0
78 1 1 0 0 0 1 0 1 1
79 1 0 0 0 0 1 0 1 0
80 1 0 0 0 0 0 0 0 0

Keterangan:
0 : Tidak Ada
1 : Ada

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
160
 

Lampiran 9. Hasil Analisis SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) 22.0

Jenis Kelamin
Dosis Rendah
Cumulative
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Laki-laki 43 53,8 53,8 53,8
Valid Tidak ada 32 40,0 40,0 40,0
Perempuan 37 46,3 46,3 100,0
Ada 48 60,0 60,0 100,0
Total 80 100,0 100,0
Total 80 100,0 100,0

Usia
Dosis Tinggi
Cumulative
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Neonatus 3 3,8 3,8 3,8
Valid Tidak ada 70 97,5 97,5 97,5
Bayi 45 56,3 56,3 60,0
Ada 10 12,5 12,5 100,0
Anak-anak 29 36,3 36,3 96,3
Total 80 100,0 100,0
Remaja 3 3,8 3,8 100,0

Total 80 100,0 100,0

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
161
 

Indikasi Tanpa Obat

Cumulative Potensi Interaksi Obat


Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Cumulative
Valid Tidak ada 80 100,0 100,0 100,0 Frequency Percent Percent Percent

Valid Tidak ada 35 43,8 43,8 43,8


Obat Tanpa Indikasi Ada 45 56,3 56,3 100,0
Cumulative Total 80 100,0 100,0
Frequency Percent Valid Percent Percent
DRPs Per Pasien
Valid Tidak ada 76 95,0 95,0 95,0
Valid Cumulative
Ada 4 5,0 5,0 100,0
Frequency Percent Percent Percent
Total 80 100,0 100,0
Valid tidak ada 19 23,8 23,8 23,8

ada 61 76,3 76,3 100,0


Ketidaktepatan Pemilihan Obat
Total 80 100,0 100,0
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Tidak ada 78 97,5 97,5 97,5

Ada 2 2,5 2,5 100,0

Total 80 100,0 100,0

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
162
 

 
 

 
 
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta