Anda di halaman 1dari 57

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia


Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang terus berupaya untuk
dapat menggali seluruh potensi yang dimiliki baik itu sumber daya alam yang
melimpah dan juga potensi pada sumber daya manusia yang dimiliki untuk
mewujudkan cita-cita bangsa untuk mencapai masyarakat adil dan makmur,
sehingga seluruh potensi yang ada memiliki kemungkinan untuk dapat
mendatangkan berbagai keuntungan dan juga devisa bagi negara. Adanya
berbagai macam perusahaan dan industri dengan berbagai orientasinya yang telah
berdiri dan berkembang pesat merupakan contoh nyata bagi terlaksananya seluruh
aspek tersebut.
Energi listrik merupakan energi yang paling banyak dibutuhkan, pada
aplikasinya paling banyak dikonversikan dalam bentuk energi mekanik.
Perkembangan industri yang pesat dewasa ini sebanding dengan kebutuhan energi
listrik yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Banyak sekali sumber energi dari
unit pembangkit tenaga, mulai dari sumber daya alam terbarukan dan sumber daya
alam tidak terbarukan.
Kebutuhan penduduk memegang peran yang sangat penting dalam segala
aspek kehidupan. Penggunaannya yang sangat vital untuk kesejahteraan hidup
umat manusia, masyarakat menginginkan energi listrik yang berkualitas dan
bermutu baik untuk menunjang segala kebutuhan. Peningkatan pertumbuhan
penduduk di Indonesia juga meningkatkan kebutuhan listrik. Untuk mengimbangi
kebutuhan listrik manusia, maka perlu pula ditingkatkan pembangunan
pembangkit listrik.
Sesuai dengan UU No. 15 Tahun 1985, PP No. 10 Tahun 1989 dan
Keputusan Presiden Nomor 37 Tahun 1992 memberikan ijin kepada pihak swasta
untuk ikut berpartisipasi dalam usaha ketenagalistrikan di bidang Pembangkit
Transmisi dan Distribusi. Salah satu perusahaan listrik swasta tersebut adalah PT.
Paiton Energy dan PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia (PT. POMI)

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 1
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

yang menyuplai untuk listrik Jawa-Bali dengan kapaitas 2x615 MW, yang
terhubung pada jaringan interkoneksi 500KV.
Institut Politeknik Negeri Malang sebagai perguruan tinggi yang
merupakan bagian dari pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan
mahasiwa agar dapat menjadi manusia yang memiliki keahlian dalam bidang
pengetahuannya, mampu mengembangkan dirinya secara mandiri dan mampu
menyesuaikan diri dengan perkembangan lapangan pekerjaan. Perkembangan
dunia industri tidak lepas dari berkembangnya teknologi alat-alat industri.
Oleh karena itu, kami berkeinginan mempelajari dan memahami sistem
operasi dan beberapa peralatan yang sesuai dengan ilmu di bidang kami yaitu
teknik mesin pada PT. POMI Paiton-Probolinggo, Jawa Timur dalam bentuk kerja
praktek. Dari kerja praktek yang dilakukan, akan diperoleh kontribusi sebagai
berikut :
 Bagi peserta didik
Peserta didik dapat mengetahui dan menerapkan serta mengoperasikan suatu
Instrument mekanik dimana nantinya dapat lebih berguna dan dapat
diterapkan pada dunia kerja.
 Bagi perusahaan
PT. IPMOMI Paiton dapat mengetahui kualitas dan kuantitas dari
mahasiswa D3-Teknik Mesin terutama dibidang mechanical pada industri.
 Bagi Program Studi DIII-Teknik Mesin
Tercapainya kurikulum mata kuliah kerja praktek yang terdapat dalam
silabus dan terjalinnya hubungan baik antara perguruan tinggi dengan
industri. Dengan memperhatikan perkembangan teknologi, maka penting
bagi kami untuk bisa bekerja sama dengan pihak Institusi khusunya pihak
Departemen Engineering Plant 7 & 8 PT.POMI Paiton – Probolinggo
sebagai usaha untuk memperdalam pemahaman pengembangan teknologi
khususnya pada teknologi mechanical engineering.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 2
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan diambil dalam penyusunan laporan praktek
kerja lapangan ini adalah :
1. Bagaimana proses penyuplaian coal (Batu bara), sebelum di gunakan
sebagai bahan bakar di boiler di PT. POMI Paiton.

1.3. Batasan Masalah


Batasan masalah pada pengambilan rumusan masalah ini adalah :
1. Mempelajari proses penyuplaian batubara menuju Boiler.

1.4. Tujuan
Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan Praktik Kerja Lapangan ini di
bagi menjadi dua, yaitu tujuan secara umum dan secara khusus.

1.4.1 Tujuan Umum


Adapun tujuan umum dari pelaksanaan kegiatan Praktik Kerja
Lapangan ini adalah :
1. Memenuhi ketentuan Kurikulum di jurusan Teknik Mesin
Politeknik Negeri Malang.
2. Di harapkan mahasiswa memahami, memperluas dan memantapkan
ilmu pengertahuan yang di peroleh sebagai bekal untuk memenuhi
lapangan pekerjaan yang sesungguhnya sesuai dengan program
studi yang di ambil.
3. Terwujudnya pola hubungan yang jelas dan terarah antara dunia
perguruan tinggi dan pengguna outputnya.
4. Membuka wawasan mahasiswa agar dapat mengetahui dan
memahami sistem kerja di dunia industri sekaligus mampu
mengadakan pendekatan, penyerapan dan pemecahan masalah yang
berada dunia kerja secara langsung.
5. Menumbuhkan dan menciptakan pola berpikir yang konstruktif

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 3
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

yang berwawasan bagi mahasiswa dan dunia kerja.

6. Memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk


memperoleh masukan/kritikan sehingga bisa melakukan perbaikan
dan evalusi diri sesuai kemampuan dan keterampilan yang di
miliki.
7. Memperluas wawasan mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja
yang akan di tempuh setelah lulus dari Politeknik Negeri Malang.

1.4.2 Tujuan Khusus


Adapun tujuan Khusus dari pelaksanaan kegiatan Praktik Kerja
Lapangan ini adalah:
1. Memahami Proses penyuplaian batubara menuju boiler di
PT. POMI Paiton.
2. Memahami bagian apa yang pernah terjadi kerusakan pada
saat penyupalaian batubara menuju boiler PT. POMI Paiton.

1.5 Tempat dan Waktu Pelaksana


Praktik kerja lapangan di laksanakan di PT PJB UP Paiton Probolinggo,
jawa Timur selama 1 bulan.
Tempat : PT. POMI Paiton
Alamat : Jl. Raya Surabaya Situbondo Km. 141 Paiton Probolinggo, Jawa
Timur
Waktu : 07 Februari s/d 28 Februari 2019

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 4
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Sejarah PT. POMI


Kebutuhan energi listrik adalah hal yang paling vital dalam seluruh
aktivitas kehidupan manusia guna meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran
hidup. Untuk menghasilkan energi listrik harus melalui suatu proses yang
panjang dan rumit. Energi listrik sangat mempermudah dalam pemenuhan
kebutuhan manusia, mengingat sifat dari energi listrik yang mudah disalurkan
dan dikonversikan ke dalam bentuk energi yang lain, seperti energi cahaya, energi
mekanik, energi kalor, dan sebagainya.
Perkembangan penduduk yang semakin pesat, mengakibatkan
peningkatan konsumsi teknologi serta dunia usaha, sehingga kebutuhan akan
energi listrik terus meningkat. Kebutuhan ini bahkan belum mampu dipenuhi
secara optimal oleh PLN, oleh karena itu sejak diberlakukannya UU No. 15
Tahun 1985, PP No. 10 Tahun 1989 dan Keputusan Presiden Nomor 37
Tahun 1992 memberikan ijin kepada pihak swasta untuk ikut berpartisipasi
dalam usaha ketenagalistrikan di bidang Pembangkit Transmisi dan Distribusi.
Sesuai dengan PERPRES 71/Thn 2006, pemerintah telah menugaskan
kepada PT. PLN untuk melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit
Tenaga Listrik yang menggunakan bahan bakar Batubara. Pembangunan PLTU
Batubara dibagi 2 tahap yaitu Tahap I kapasitas sekitar 10,000 MW untuk
menggantikan PLTU berbahan bakar minyak dan 10,000 MW tahap II untuk
menjaga sebagian besar demand beban khususnya di Pulau Jawa Madura Bali
yang akan dibangun baik oleh PT. PLN maupun Swasta.
Salah satu perusahaan listrik swasta adalah PT. Paiton Energy. PT. Paiton
Energy adalah Perusahaan Pembangkit Swasta (Independent Power Producer)
pertama di Indonesia. PT. Paiton Energy didirikan pada tahun 1994. Dalam
mengoperasikan dan memelihara PLTU Paiton Unit 7 dan 8 PT. Paiton
Energy mengikat kerjasama dengan PT. Edison Mission Operation and
Maintenance Indonesia yang mengoperasikan dan memelihara PLTU Paiton

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 5
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Unit 7 dan 8. Namun sejak Desember 2004, PT. Edison Mission Operation and
Maintenance Indonesia (PT. EMOMI) digantikan oleh PT. International Power
Mitsui Operation and Maintenance Indonesia (PT. IPMOMI). Dan pada akhir
tahun 2016, PT. International Power Mitsui Operation and Maintenance
Indonesia (PT. IPMOMI) digantikan oleh PT. Paiton Operation and Maintenance
Indonesia (PT. POMI).
Pada proses pembangkitan tenaga listrik diperlukan kontinuitas
produksi energi listrik. Hal ini disebabkan karena PT. POMI sendiri
merupakan salah satu Pembangkit Listrik yang mensuplai listrik untuk wilayah
Jawa dan Bali. Dengan kapasitas total 1230 MW net atau 615 MW net untuk
per unitnya, PLTU Paiton Unit 7 dan 8 diharapkan mampu memenuhi
kebutuhan listrik masyarakat wilayah Jawa dan Bali. Dalam mensuplai listrik
untuk kebutuhan wilayah Jawa dan Bali tersebut, PLTU Paiton Unit 7 dan 8
dilengkapi dengan peralatan yang mendukung dalam sistem PLTU secara
keseluruhan.
Untuk memenuhi target pemerintah / PLN dalam hal penyedian
tenaga listrik di Jawa Madura Bali pada percepatan pembangunan pembangkit
listrik Tahap II maka PT. Paiton Energy ditunjuk pemerintah untuk projek
perluasan / Expansion Project PLTU di Paiton dengan membangun PLTU Unit
#3 berkapasitas 1 x 815 NMW. Sehingga total PLTU Batubara yang dikelola
oleh PT. Paiton Energy adalah 2045 NMW di Paiton, Probolinggo. Pembangkit
Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton unit 7 dan 8 merupakan dua unit
pembangkit listrik yang menggunakan turbo generator berbahan bakar batu bara
sebagai penghasil uap panas (steam) dengan kapasitas maksimum 2 x 645
NMW(net) atau 2 x 670 GMW (gross). Kedua unit ini beroperasi dengan
faktor kemampuan rata-rata 85% per tahun. Dengan memproduksi energi listrik
rata-rata 9,158,580 MWH per tahun dan mengonsumsi batubara kira-kira 4,6 juta
ton pertahun. Batubara tersebut didatangkan dari tambang batubara Adaro dan
Kideco di Kalimantan Timur dengan menggunakan tongkang maupun kapal.
Batubara tersebut ditampung di penimbunan batubara (coal stock pile) di
lokasi PLTU Paiton. PLTU Paiton unit 7 dan 8 ini dimiliki oleh Paiton energy

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 6
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

company yang dioperasikan oleh PT. Paiton Operation and Maintenance


Indonesia (POMI). Pembangunan proyek ini ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan energi listrik Jawa dan Bali. Proyek ini adalah implementasi dari
kebjaksanaan pemerintah Indonesia dalam pertumbuhan diversifikasi energi.
Dalam hal ini, kandungan batubara yang ada di Indonesia akan dimanfaatkan
sebagai sumber pembangkit tenaga listrik, dan mengurangi ketergantungan
terhadap minyak bumi.
PLTU Unit 3 Paiton merupakan salah satu projek percepatan
pembangunan pembangkit listrik tahap II dengan kapasitas 1 x 815 NMW yang
berbahan bakar batubara. Bilamana kemampuan beroperasi 90% dalam setahun
maka perkiraan total energi yang dihasilkan adalah : 6,425,460 MWH / tahun dan
mengkonsumpsi batubara sebesar 3,06 Juta Ton pertahun.
Dalam pengoperasian PLTU Paiton Unit 3, 7 & 8, PT. Paiton
Energy mengikat kerjasama Operations & Maintenance dengan PT. Paiton
Operations & Maintenance Indonesia (PT. POMI). Dalam hal ini, PT. POMI
mengoperasikan PLTU milik Paiton Energy untuk memenuhi ketentuan yang
diatur dalam Power Purchase Agreement dengan PLN.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 7
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Gambar 2.1 Project Structure

2.2 Pemegang Saham PT. Paiton Energy


Hingga saat ini Perusahaan konsorsium dari PT Paiton Energi yang
memiliki saham dari proyek PLTU Paiton unit 7 dan 8 serta unit 3, antara
lain : Mitsui & Co dari Jepang, Nebras dari Qatar, Tokyo Electric Power
Co. dari Jepang dan Batu Hitam Perkasa dari Indonesia :

Gambar 2.2 Pemegang Saham PT. PAITON ENERGY

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 8
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

2.3 Struktur Organisasi PT IPMOMI


Organisasi merupakan sarana dalam tercapainya suatu tujuan.Dalam
pengertian dinamis,organisasi adalah tempat dan alat dari sekelompok badan
usaha milik swasta maupun instansi pemerintah yang lebih menekankan pada
subjek atau pelaku, yaitu interaksi antara orang-orang yang berada dalam
organisasi tersebut. Dengan adanya struktur organisasi akan memberikan suatu
penjelasan terhadap pendelegasian tugas dan wewenang pada anggota
organisasi, dengan demikian akan membantu kelancaran aktivitas organisasi
tersebut.

2.3.1 Struktur general umum PT. POMI

Gambar 2.3 Struktur Organisasi PT POMI Per 2016 Unit 3, 7 dan 8

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 9
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Struktur organisasi di PT POMI, PLTU Paiton unit 3, 7 dan 8 di bagi atas


8 departemen yaitu : Fuel & Ash Department, Production Department,
Community Human Resources Department, Healthy, Safety, Environment &
Compliance Department, Procurement Department, Engineering Department,
Maintenance Department, Finance & Corporate Service Department yang masing
– masing departmen dipimpin oleh seorang manager yang membawahi
supervisor atau Shift Supervisor, Engineering, Senior Optech, Teknisi, Sekretaris
serta beberapa Adimistrasi. Keseluruhan Department dipimpin oleh President
Director dan Plant Manager.

2.4 Personalia Perusahaan


PT. POMI adalah perusahaan yang tergolong besar ditinjau dari
modal dan jumlah karyawan yang dimiliki. Hal ini dikarenakan operasi rutin
perusahaan sangat banyak dan harus ditangani dengan sungguh-sungguh.
Sebagian besar karyawan tetap perusahaan ini berpendidikan Sarjana dan
Diploma. Disamping itu, ada juga karyawan kontrak yang berasal dari kontraktor
yang dibawahi PT. POMI dengan level jabatan dan tingkat pendidikan yang
berbeda-beda sesuai dengan latar belakang pendidikannya. PT. POMI
mempunyai sumber daya manusia yang terlatih dan berpengalaman dari
berbagai disiplin ilmu sebanyak 411 karyawan tetap termasuk 3 expatriate/orang
asing sebagai President Director & Sr. Manager.

2.5 Uraian Tugas


1. Plant manager
 Bertanggung jawab untuk pengoperasian dan pemeliharaan yang
efektif di paiton unit 7 dan 8.
 Bertanggung jawab terhadap kepastian pemenuhan pekerja kontrak.
 Menetapkan dan mengarahkan kebijakan pada aktivitas operasi dan
pemeliharaan.
 Menetapkan sumber daya (pekerja) pada bidang yang sesuai.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 10
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

 Bertanggung jawab untuk pelatihan dan pengembangan


karyawan/pekerja.
 Bertanggung jawab untuk peningkatan dan implementasi yang
efektif menyangkut sistem manajemen mutu dan lingkungan.

2. Community & HR Manager


 Bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan hubungan antara
pihak manajemen IPMOMI dengan karyawan/pekerja.
 Bertanggung jawab untuk mengkoordinasi program pelatihan bagi
karyawan/pekerja.
 Bertanggung jawab untuk pengorganisasian karyawan/pegawai di
departemen C&HR.
 Bertanggun jawab untuk memenuhi sistem manajemen mutu dan
lingkungan bersama – sama dengan departemennya.
 Bertanggung jawab untuk perekrutan dan pemberhentian
pekerja/karyawan termasuk proses seleksinya.
 Bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan hubungan antara
perusahaan dengan lingkungan sekitar.
 Mempromosikan hubungan yang baik antara publik dan pegawai
dengan lingkungan masyarakat sekitar dan juga dengan lingkungan
plant.
 Bertanggung jawab untuk memlihara hubungan baik dengan media
lokal dan bertindak sebagai juru bicara IPMOMI.

3. Maintenance Manager
 Bertanggung jawab untuk pemenuhan bagian pemeliharaan dan
perbaikan seluruh equipment plant.
 Bertanggung jawab untuk pengorganisasian karyawan/pegawai di
departemen maintenance.
 Bertanggunga jawab untuk memenuhi sistem manajemen mutu dan
lingkungan bersama-sama dengan departemennya.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 11
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

4. Purchasing & Contract Manager


 Bertanggung jawab untuk pemenuhan pembelian equipment plant.
 Bertanggung jawab untuk penorganisasian karyawan/pegawai di
departemen Purchasing & Contract Manager.
 Bertanggung jawab untuk memenuhi sistem manajemen mutu dan
lingkungan bersama-sama departemennya.

5. Finance & Corp. Services Manager


 Bertanggung jawab untuk pemenuhan bagian administrasi yang
menyangkut dengan PPA dan OMA.
 Bertanggung jawab terhadap pemeriksaan administrasi, akuntansi,
pembelian, dan aktivitas gudang di paiton unit 7 dan 8.
 Bertanggung jawab untuk koordinasi anggaran paiton unti 7 dan 8.
 Bertanggung jawab untuk pengorganisasian karyawan/pegawai di
departemen F&CS.
 Bertanggung jawab untuk memenuhi sistem manajemen mutu dan
lingkungan bersama-sama dengan departemennya.
 Bertanggung jawab terhadap pelayanan Sistem Teknologi
Informasi kepada seluruh pekerja dan karyawan.
 Bertanggung jawab terhadap implementasi, pemeliharaan dan
pengembangan pusat sistem manajemen yang mencakup sistem
manejemen untuk unit 7 dan 8.

6. Engineering Manager
 Bertanggu jawab untuk memonitor seluruh peralatan plant di unit 7
dan 8.
 Bertanggung jawab untuk merencakan, mengorganisasi dan
mengendalikan seluruh kegiatan perbaikan dan pemeliharaan di
paiton unit 7 dan 8 untuk memastikan bahwa plant dalam kondisi
siap untuk memenuhi kebutuhan lingkungan.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 12
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

 Bertanggung jawab untuk penorganisasian karyawan/pegawai di


departemen engineering.
 Bertanggung jawab untuk memenuhi sistem manajemen mutu dan
lingkungan bersama-sama dengan departemennya.
 Bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pelaksanaan kerja
departemen engineering setelah sesuai dengan departemen tenaga
kerja Indonesia dan peraturan pemerintah yang berlaku.

7. HSE & Compliance Manager


 Bertanggung jawab untuk (safety) keamanan semua pekerja plant.
 Bertanggug jawab untuk memenuhi sistem manajemen mutu dan
lingkungan bersama-sama dengan departemennya.
 Bertanggung jawab untuk penorganisasian karyawan/pegawai di
departemen HSE & Compliance Manager.
 Bertanggung jawab untuk melaksanakan keamanan, keselamatan
kerja seluruh karyawan IPMOMI.
 Mengatur pengembangan kebijakan keselamatan dan kesehatan
dengan peraturan pemerintahan dan bertanggung jawab untuk
memastikan pelaksanaan peraturan yang berlaku.

8. Production Manager
 Bertanggung jawab untuk pemenuhan bagian operasional dan
environmental yang menyangkut denga PPA, OMA dan FSA.
 Mengorganisasi dan mengendalikan seluruh aktivitas operasi plant
di unit 7 dan 8.
 Bertanggung jawab untuk pengorganisasian karyawan/pegawai di
departemen produksi.
 Bertanggung jawab untuk memenuhi sistem menajemen mutu dan
lingkungan bersama-sama dengan departemennya.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 13
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

 Bertanggung jawab terhadap pengoperasian plant dan keamanan


dari orang-orang yang bekerja di bawahnya sesuai dengan
perundangan yang berlaku.
 Bertanggung jawab terhadap pengoperasian plant dengan
memenuhi perundangan dari pemerintah.

9. Fuel & ash Manager


 Bertanggung jawab untuk penorganisasian karyawan/pegawai di
departemen fuel and ash.
 Bertanggung jawab untuk memenuhi sistem manajemen mutu dan
lingkungan bersama-sama denga departemennya.
 Bertanggung jawab terhadap pekerjaan fuel and ash dan keamanan
dari orang-orang yang berkerja di bawahnya sesuai dengan
perundangan yang berlaku.
 Bertanggung jawab terhadap pekerjaan fuel an ash dengan
memenuhi perundangan lingkungan dari pemerintah.
 Bertanggung jawab terhadap pengoperasian semua fasilitas coal
handling, ash handling, wastewater treatment, sistem saluran,
sistem sanitari dan bengkel mobil.

2.6 Lokasi dan Tata Letak PLTU Paiton Unit 7 & 8


Sejak awal berdiri sampai sekarang, lokasi yang ditempati oleh PT.
Internasional Power Mission Operation and Maintenance Indonesia berada di
 Desa : Bhinor
 Kecamatan : Paiton
 Kabupaten : Probolinggo
 Propinsi : Jawa Timur
Perusahaan menempati area seluas ± 5 Hektar dengan yang terdiri dari :
 Administration Building : ± 1 Hektar
 Plant Pembangkit (Unit 7 dan 8) : ± 2 Hektar
 Coal Handling Area : ± 1 Hektar

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 14
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

 Ash Disposal Area : ± 1 Hektar


2.7 Fire Health and Safety Section
Salah satu kebijakan PT. IPMOMI adalah menyediakan lingkungan
kerja yang aman, hal ini diterapkan dengan dibentuknya Fire, Health dan
Safety Section. PT. IPMOMI menekan bahwa kesehatan dan keselamatan
kerja (K3) adalah tanggung jawab semua karyawan, karena itu Health dan
Safety Section hanya bertindak sebagai resource atau pemberi saran agar
seluruh orang (baik karyawan atau tamu) yang berada di areal tersebut harus
melaksanakan seluruh prosedur yang berkaitan dengan Health dan Safety
program.

2. 7.1 Health and Safety Program


Safety requirement, berkaitan dengan papan peringatan / tanda
keselamatan yang dipasang diseluruh areal PLTU Paiton unit 7 dan 8, dimana
areal tersebut dianggap rawan untuk keselamatan kerja.
1. Implement Procedure, berkaitan dengan peraturan yang
ada di PLTU Paiton unit 7 dan 8, programnya antara lain:
- Safety Induction : Petunjuk awal untuk seluruh karyawan dan tamu
PT. IPMOMI tentang peraturan atau hal yang berkaitan dengan
prosedur keamanan di PLTU Paiton unit 7 dan 8.
- Safety Talk : Program mingguan setiap hari selasa untuk
membicarakan tentang isu-isu health and safety seputar areal PLTU
Paiton Unit 7 dan 8.
2. IPMOMI program, berkaitan dengan health and safety untuk seluruh
karyawan PT. IPMOMI, seperti pemeriksaan kesehatan, pengobatan,
imunisasi dan lain-lain.
3. Contractor program, berkaian dengan Health and Safety untuk seluruh
tamu atau pekerja kontrak yang berada di areal PLTU Paiton unit 7 dan
8 , seperti pemeriksaan keamanan peralatan dan surat ijin kerja.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 15
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

2. 7. 2. Health and Safety Performance


1. Lost Time Injury (LTI) yaitu kecelakaan kerja yang mengakibatkan
hilangnya waktu kerja. Sejauh ini Safety Record menunjukkan 0 untuk
LTI dengan 2. 400. 000 man hours.
2. Medical treatment Injury (MTI), yaitu kecelakaan kerja yang
mengakibatkan adanya perawatan khusus dari dokter atau rumah sakit.
Sejauh ini Safety Record menunjukkan hanya 3 MTL engan 2. 400. 000
man hours.

2. 7. 3. Fire Program
Core team ini adalah proyek kerjasama antara PT. IPMOMI dan PT
YTL (PLTU Paiton unit 5 dan 6). Core Team bertindak sebagai Emergency
Respons team yang menangani kebakaran, kecelakaan dan tumpahan gas
atau bahan kimia di areal PLTU Paiton Unit 5, 6, 7 dan 8.

2. 8 Kesejahteraan Karyawan
2. 8. 1 Kesejahteraan Sosial dan Fasilitas Karyawan
Menjaga kesehatan dengan sebaik-baiknya merupakan tanggung jawab
setiap individu. Oleh karena itu, karyawan bertanggung jawab untuk selalu
berusaha sebaik-baiknya menjaga kesehatan dirinya sendiri serta
tanggungannya. Dari waktu ke waktu perusahaan akan menegosiasikan
kontrak dengan Perusahaan Asuransi Kesehatan untuk menjaga jaminan
kesejahteraan karyawannya. Fasilitas ini akan berlaku bagi semua karyawan
tetap serta tanggungannya, sesuai persyaratan yang dirinci dalam Program
Kesejahteraan Karyawan PT. International Power Mitsui Operation and
Maintenance Indonesia. Salinan Program Kesejahteraan Karyawan dapat
diperoleh dari HR Dept. Tiap karyawan akan memperoleh satu salinan
Program Kesejahteraan Karyawan yang terbaru pada saat pertama masuk
Perusahaan.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 16
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

2. 8. 2 JAMSOSTEK (Jaminan Sosial Tenaga Kerja)


UU No. 3 Tahun 1992 mewajibkan perusahaan dan karyawan menjadi
peserta program Jamsostek, yakni program Jaminan Sosial Tenaga Kerja
yang diselenggarakan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui PT.
Jamsostek. Program Jamsostek menyediakan jaminan perlindungan dasar
terhadap resiko kecelakaan kerja, kematian dan lanjut usia. Besarnya iuran
yang dibayarkan setiap bulan pada saat ini adalah 6,89 % dari gaji bulanan,
terdiri dari:
Tabel 2.1 Besar iuran bulanan untuk jamsostek
Asuransi Kematian 0. 30 % Dibayar oleh perusahaan
(AK)
Asuransi 0. 89 % Dibayar oleh perusahaan
Kecelakaan Kerja
(AKK)
Tunjangan Hari Tua 3. 70 % Dibayar oleh perusahaan
(THT)
Ditambah 2. 00 % Dibayar oleh karyawan
3. 70 %
Tiap-tiap bulan perusahaan akan memotong iuran karyawan dari
penghasilannya serta menyetorkannya bersama-sama dengan iuran
perusahaan ke PT. Jamsostek.

2. 8. 3 Asuransi Pengobatan & Kesehatan


Perusahaan memberikan kepada karyawan dan anggota keluarganya,
yang terdiri dari istri dan maksimum 3 (tiga) anak, fasilitas pengobatan dan
pertanggungan asuransi. Karyawan dikelompokanmenjadi 4 (empat) tingkat
pertanggungan, yaitu :
a. Managers
b. Supervisors
c. Staff
d. Labour

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 17
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Asuransi pengobatan dan kesehatan meliputi hal-hal berikut dibawah ini:


a. Perawatan rumah sakit
b. Sakit keras
c. Melahirkan
d. Pengobatan gigi
e. Perawatan khusus
2. 8. 4 Personal Accident and Terms Life Insurance
Perusahaan memberikan kepada karyawan asuransi Personal Accident.
Premium asuransi ini secara keseluruhan ditanggung oleh perusahaan.
Nilai pertanggungan dibayarkan apabila terjadi kematian atau cacat tetap
akibat dari suatu kecelakaan.

2. 8. 5 Perumahan Perusahaan
Perumahan disediakan oleh perusahaan untuk karyawan tertentu yang
ditentukan oleh perusahaan. Suatu housing allowance dapat diberikan
tergantung golongan karyawan. Lokasi Housing ini berjarak ± 6 km di
sebelah barat plant.

2.9 Misi dan Visi PT. POMI


2.9.1 Mission (Misi)
“Paiton Operations & Maintenance Indonesia (POMI) operates and
maintains the Paiton Energy Power Plant by promoting safety and
environmental best practices, offering sustained financial returns for its Owners
and achieving excellence in all that it does”. Dalam Bahasa Indonesia : Paiton
Operations & Maintenance Indonesia (POMI) mengoperasikan dan memelihara
Power Plant Paiton Energi dengan mengutamakan standar terbaik di aspek
keselamatan dan lingkungan, memberikan keuntungan finansial yang
berkelanjutan kepada pemiliknya dan pencapaian terbaik di semua bidang.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 18
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

2.9.2 Vision (Visi)


“Paiton Operations & Maintenance Indonesia (POMI) will be
recognized as a World Class operator of Power Plants”. Dalam Bahasa
Indonesia : Paiton Operations & Maintenance Indonesia (POMI) akan dikenal
sebagai Operator Power Plant kelas dunia.
Values (Nilai-nilai)
Nilai Nilai Perusahaan kami sebagai berikut :
 Trust - Kepercayaan
 Empowerment - Pemberdayaan
 Teamwork - Kerjasama
 Continuous Improvement – Perbaikan yang berkelanjut

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 19
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

BAB III
PROSES KERJA PEMBANGKIT PLTU

3.1 Deskripsi Umum


PLTU merupakan suatu sistem pembangkit tenaga listrik yang
mengkonversikan energi kimia menjadi energi listrik dengan menggunakan
uap air sebagai fluida kerjanya, yaitu dengan memanfaatkan energi kinetik uap
untuk menggerakkan poros sudu - sudu turbin. Prinsip kerja PLTU Paiton unit
7 dan 8 secara umum adalah pembakaran batubara (energi kimia) pada boiler
untuk memanaskan air dan mengubah air tersebut menjadi uap yang sangat
panas (energi panas) dengan suhu dan tekanan yang sudah ditentukan.
Kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin (energi mekanik) dan
menghasilkan tenaga listrik (energi listrik) dari kumparan Medan magnet di
generator. Sistem Pengaturan yang digunakan pada power plant ini
menggunakan sistem pengaturan Loop tertutup, dimana air yang digunakan
untuk beberapa proses merupakan sirkulasi dari air yang sama yaitu air diubah
menjadi uap kemudian setelah menjadi uap diubah lagi menjadi air. Proses alir
PLTU Paiton Unit 7 dan 8 dijelaskan pada gambar 3.1

Gambar 3.1 Proses alir PLTU Paiton Unit 7 dan 8

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 20
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Prinsip kerja PLTU yaitu dengan mengunakan siklus air – uap – air,
yang merupakan suatu sistem tertutup (Loop Tertutup) dari air hasil proses
pengkondensasian di condenser dan penambahan air dari water treatment
sebagai make up dipompa oleh condensate extraction pump ke polisher untuk
diproses agar gas – gas yang terkandung pada air pengisi boiler terutama gas
O2, dan air pengendapan hilang, setelah itu dipompa ke Feed Water Heater 1,
2, 3 dan 4 untuk dipanaskan dan kemudian dialirkan ke Daerator agar gas -
gas O2 hilang kemudian dipompa lagi oleh boiler feed pumps menuju ke Feed
Water Heater 6, 7, 8 yang selanjutnya akan diteruskan di Economizer untuk
dinaikan temperaturnya dan selanjutnya menuju ke Steam Drum untuk
dipisahkan antara uap dan air, kemudian air dipompa oleh boiler circulating
water pump menuju boiler untuk dipanaskan lagi malalui water wall, disini
terjadi perubahan fase fluida dari air menjadi uap, kemudian masuk lagi ke
steam drum. setelah itu dari steam drum (saturated steam) akan dialirkan ke
low temperature super heated steam (First Super Heater), Secondary Super
Heater dan kemudian ke final Super Heater, sehingga keluaran uap akan
berubah menjadi super heated steam yang mempunyai tekanan dan
temperature tinggi yang akan digunakan untuk memutar HP turbine sehingga
tekanan dan temperaturnya akan turun sehingga super heated steam perlu
pemanasan ulang yang terjadi di reheater, dari reheater ini super heated
Steam akan dikembalikan untuk Memutar IP atau RH dan LP Turbin. Didalam
turbin ini akan terjadi konversi energi thermal dari Steam menjadi energi
mekanis yang menyebabkan rotor turbin berputar. Perputaran Rotor ini yang
akan menggerakkan Generator yang dihubungkan dengan coupling dan
akhirnya oleh generator energi mekanis akan diubah menjadi energi listrik.
Uap bekas dari turbin selanjutnya dikondensasikan dari condenser
sehingga menjadi air kembali dan volume air ditambah melalui make up water
kemudian dipompa oleh condensate extraction pump masuk ke LP feedwater
heater, deaerator, dipompa oleh boiler feedwater pump, menuju HP feedwater
heater, economizer, dan akhirnya menuju boiler untuk dipanaskan menjadi
uap lagi.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 21
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

3.2 Bahan Bakar (Fuel)


Bahan Bakar adalah Suatu Material (bahan) yang dikonsumsikan guna
menghasilkan energi. Material yang termasuk dalam kategori adalah:
 Material yang dikonsumsikan dalam proses pembakaran reaksi
kimia.
 Material yang digunakan pada reactor nuklir.
 Material yang metabolisme oleh mahluk hidup
Dalam Pembangkit Listrik Tenaga Uap Paiton Unit 7 dan 8,
menggunakan bahan bakar batu bara dan solar, dimana solar sebagai bahan
bakar untuk pembakaran awal pada boiler. Secara umum bahan bakar yang
digunakan termasuk kedalam bahan bakar solid dan cair.

3.3 Water System


Bahan Baku dari PLTU adalah air. Air yang digunakan dalam siklus
konversi energi pada PLTU adalah air demin, yakni air yang mempunyai
kadar konduktifiti (kemampuan untuk menghantarkan listrik) sebesar 0,2
micro siemen. Untuk mendapatkan air demin ini, setiap unit PLTU dilengkapi
dengan desalination dan demineralization plant yang berfungsi untuk
memproduksi air demin ini.
Pada proses kerja PLTU paiton unit 7 dan 8 memerlukan air yang
diperoleh dari air laut. Sebelum dimasukkan ke boiler, air terlebih dahulu
diolah melalui water treatment.
Pada tahap ini mengalami beberapa mekanisme fisis antara lain:
a) Pre Treated
Air diendapkan melalui proses fisika dengan bantuan endapan
oral, pasir, bebatuan.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 22
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Gambar 3.2 Tangki Pre Treated

b) SWRO (Sea Water Revers Osmosis)


Pada kondisi ini air mengalami pembalik Osmosis atau yang
disebut Revers Osmosis. Air dilewatkan pada membram semipermiabel
yang terbuat dari polyamiteide acid.Tekanan yang ada pada SWRO adalah
4200 kPa, air dinetralisir hingga 25% dengan TDS (Total disolve Solid)
sebesar 200 ppm.

Gambar 3.3 Sea Water Reverse Osmosis (SWRO)

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 23
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

c) DWRO (Demineral Water Reverse Osmosis)


Proses yang terjadi pada tahap ini hampir sama dengan yang terjadi
di SWRO. Tekanan pada DWRO ini adalah 1500 Kpa. Dengan TDS
sebesar 20 ppm.

Gambar 3.4 Demineral Water Reverse Osmosis (DWRO)

d) Mix Bed
Pada tahap ini yang terjadi reaksi kimia. Air dilewatkan dalam
sebuah filter dengan 2 resing yaitu Resing Kation dan Resing Anion.
resing ini berfungsi untuk pertukaran ion (ion exchange) guna mengikat
kation dan anion sehingga diperoleh atom H+ dan OH- sehingga diperoleh
H2O murni dengan TDS < dari 0,01 Ppm. Setelah itu akan disimpan di
condensatif tank.

3.4 Peralatan PLTU


Urutan Proses Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) adalah
sebagai berikut:
3.4.1. Condenser, Make Up Water, dan Vacuum Pump.
Condenser merupakan salah satu komponen utama dari PLTU
dan berfungsi untuk mengkondensasikan uap keluaran turbin menjadi
air dengan pendingin air laut. Setelah LP turbin diputar uap, kemudian
uap akan mengalir menuju Condenser untuk di dinginkan dan berubah

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 24
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

menjadi air. Condenser ada dua yaitu A dan B, yang letaknya dibawah LP
turbin. Proses yang terjadi steam bersentuhan langsung dengan pipa
yang didalamnya dialiri pendingin berupa air laut. Kondensasi ini
mengubah steam menjadi air yang kemudian ditampung di Condensate
Hot Well. Air laut selain berfungsi sebagai media heat transfer juga
berfungsi untuk mendinginkan condenser juga mendinginkan Closed
Coling Sistem (air pendingin). Closed Cooling Sistem ini mendinginkan
berbagai peralatan yang membutuhkan pendinginan seperti air
Compressor, Pump dan generator stator cooling dan juga untuk
mendinginkan Oli untuk pelumasan turbin. Proses pertukaran panas
antar Close Cooling dengan air laut terjadi pada alat yang disebut Heat
Exchanger.
Karena adanya Blow down pada steam drum. Maka untuk
mengembalikan volume air ke volume semula, pada condenser terdapat
Make-Up water untuk menambah volume air. Make up water diambil
dari make up dematerializing RO. Condenser bekerja dalam kondisi
vakum, hal ini dikarenakan proses kondensasi yang terjadi yaitu
perubahan steam ke air meyebabkan berkurangnya volume. Untuk
menjaga agar condenser dalam keadaan vakum, maka gas-gas yang
dilepas dari steam (ketika steam berybah menjadi air) dipompa keluar
oleh vacum pump. Alasan lain keadaan vakum adalah efisiensi, steam
yang diambil dari tubin adalah Enthalpi steam (selisih steam masuk dan
keluar) sehingga tekanan diminimalkan agar energi yang dimanfaatkan
semakin besar karena Enthalpi juga besar.

3.4.2. Polisher
Dari Condensate Hot Well, condensate water akan dipompa oleh
condensate pump menuju Polisher. Condensate pump ada tiga
diantaranya dua aktif dan satu stand by dengan kapasitas tiap pompa
sebesar 50%. Di polisher terdapat resin kation dan anion, resin ini
berfungsi sebagai:

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 25
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

1. Resin Kation : mengikat ion negatif penyebab korosi.


2. Resin anion : mengikat penyebab kerak atau scale.
Ion – ion tersebut diikat oleh resin dalam polisher untuk memurnikan
air yang masuk ke boiler.Parameter ion – ion itu dapat diukur ion
positif dengan melihat nilai konduktifitas (normal 0,2). Jika nilai
conduktivity tinggi, bisa berarti dua hal :
1. Terdapat kebocoran air laut didalam polisher, terdeteksi dengan
leak detector.
2. Resin telah jenuh dan harus diregenerasi. Regenerasi resin dapat
menggunakan :
 Resin Kation : menggunakan asam kuat (H2SO4)
 Resin anion : menggunakan basa (NaOH)
Dari polisher, air dipanaskan di feed water heater 2,3 dan 4 dengan
sebelumnya diinjeksi ammonia untuk meningkatkan pH (pH ideal = 9 -
9,5) agar sodium dari air hilang karena sodium akan mengakibatkan
kerusakan pada material boiler. Setelah itu baru ke Feed Water Heater
5 di Daerator.

Gambar 3.5 Polisher

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 26
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

3.4.3 Circulating Water Pump (CWP)


Berfungsi untuk memompa air laut masuk ke Waterbox Condenser
sebagai arus pendingin. Air laut ini mendinginkan uap yang keluar dari
LP turbin yang telah mengalami penurunan tekanan dan temperatur.

Gambar 3.6 Circulating Water Pump

3.4.4 Feed Water Heater


Fungsi dari feed water heater adalah untuk memanaskan air yang
akan masuk ke deaerator. Pemanasan ini membantu boiler agar
kerjanya tidak terlalu berat atau dapat dikatakan untuk meningkatkan
efesiensi dari keseluruhan sistem, sehingga dengan pemanasan dibagian
ini, fluida yang masuk kedalam boiler merupakan uap yang telah
dipisahkan dari air oleh dearator. Terdapat 8 Feed Water Heater, yaitu :
1. LP Feed Water Heater 1
Terletak dibagian bawah condenser, fungsinya untuk
memanaskan air yang keluar dari condenser. Panas yang digunakan
berasal dari LP turbine.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 27
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

2. LP Feed Water Heater 2, 3, dan 4


Fungsinya adalah untuk memanaskan air sebelum air
memasuki dearator. Panas yang digunakan berasal dari extration
LP Turbine.
3. Feed Water Heater 5 ( Dearator )
Terletak diatas dearator. Panas yang digunakan berasal dari
extration IP Turbine.
4. HP Feed Water Heater 6 A-B, 7 A-B, dan 8 A-B
Fungsinya untuk memanaskan air yang akan masuk ke
Economizer, untuk HP FW Heater 6 A-B dan 7 A-B panas yang
digunakan berasal dari extration IP Turbine sedangkan untuk HP
FW Heater 8 A-B panas yang digunakan berasal dari extration HP
Turbine.

Gambar 3.7 Feed Water Heater

3.4.5 Deaerator
Berfungsi untuk menyerap atau menghilangkan gas-gas yang
terkandung pada air pengisi boiler, terutama gas O2, karena gas ini akan
menimbulkan korosi, gas-gas lain yang cukup berbahaya adalah karbon
dioksida (CO2). Gas O2 dan CO2 akan bereaksi dengan material bolier
dan menimbulkan korosi yang sangat merugikan.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 28
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Prinsip kerjanya air yang masih mengandung O2 dan CO2


disemprotkan ke steam deaerator, sehingga gas-gas tersebut diserap
secara thermis dan dikeluarkan melalui valve pelepasan udara atau gas.
Selain itu dearator juga dapat menaikkan temperatur air pengisi boiler
(sampai 1620C). Penempatan posisi daerator yang tinggi
memungkinkan pemberian suction heat yang cukup untuk Feed Water
Pump. Dari Daerator air akan dipompa dengan tiga feed water pump
dan satu pompa yang digerakkan oleh motor disebut motor driven
pump, dimana kapasitas tiap pompa 100% menuju Feed Water Heater
6, 7, 8 A-B dan akan menuju ke Economizer terus ke Steam Drum.

Gambar 3.8 Deaerator

3.4.6 Boiler
Dalam power plant, energi secara terus menerus diubah dari satu
bentuk ke bentuk lain untuk menghasilkan listrik. Komponen yang
mengawali perubahan dan pengaliran energi disebut boiler. Definisi
boiler sendiri sebagai suatu komponen pada power plant adalah suatu
bejana tertutup yang secara efisien mampu mengubah air menjadi steam
dengan bantuan panas dari proses pembakaran batu bara. Jika
dioperasikan dengan benar, boiler secara efisien dapat mengubah air

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 29
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

dalam volume yang besar menjadi steam yang sangat panas dalam
volume yang lebih besar lagi.
Jenis boiler yang digunakan pada Unit 7 dan Unit 8 adalah Drum
Type Boiler, yang memungkinkan terjadinya sirkulasi sebagian air
dalam boiler secar terus menerus. Pengoperasian Drum Type Boiler
yang efisien dan aman sangat tergantung pada sirkulasi air yang konstan
di beberapa komponen steam circuit, diantaranya Economizer, Steam
Drum dan Boiler Water Circulating Pump.

Gambar 3.9 Boiler


Komponen–komponen yang menunjang kerja boiler adalah sebagai berikut :
a) Ruang bakar (Furnace)
Bagian dari boiler yang dindingnya terdiri dari pipa – pipa air,
sedangkan pada posisi bagian depan terdapat burner yang letaknya
terdiri dari tiga tingkat tersusun mendatar yang berfungsi untuk
membakar residu. Pembakaran residu ini disertai dengan aliran udara
yang panas, sedangkan gas bahan bakar yang keluar dari ruang bakar
dipakai untuk memanaskan air preheater dan selanjutnya disalurkan ke
cerobong untuk di buang.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 30
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

b) Dinding pipa (Water Tubes)


Merupakan dinding yang berbeda dalam ruang bakar yang
berfungsi sebagai tempat penguapan air, dinding ini berupa pipa-pipa
yang berisi air yang sejajar vertical.

c) Boiler feed pump


Boiler feed pump berfungsi untuk menaikkan tekanan air pengisi
sehingga air tersebut dapat mengalir dan masuk kedalam boiler. Pompa
air pengisi harus mampu mengisi ketel pada penguatan maksimum
dengan pembakaran penuh dan ketika katub pengaman superheater dan
drum ketel membuka pada saat terjadi akumulasi tekanan. Tekanan
discharge pompa harus lebih besar dari tekanan ketel, karena adanya
rugi - rugi dalam sistem aliran air pengisi. Fungsi utama dari boiler feed
pump adalah memasok air pengisi ke boiler drum.

Gambar 3.10 Boiler Feed Pump


d) HP Feed Water Heater 6 A-B, 7 A-B dan 8 A-B
Fungsinya untuk memanaskan air yang akan masuk ke Econimizer,
untuk HP FW Heater 6 A-B dan 7 A-B panas yang digunakan berasal
dari extration IP Turbine sedangkan untuk FW Heater 8 A-B panas yang
digunakan berasal dari extration HP Turbine.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 31
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

e) Economizer
Economizer berfungsi untuk meningkatkan temperatur air (pemanasan
awal) sebelum masuk ke boiler untuk selanjutnya dialirkan ke steam drum,
komponen ini berada dalam boiler yang terdiri dari rangkaian pipa - pipa
(tubes) yang menerima air dari inlet.
Sumber panas yang diperlukan oleh alat tersebut berasal dari gas
buang dalam boiler. Air mengalir dalam pipa-pipa sementara di luar
mengalir gas panas yang berasal dari hasil pembakaran boiler.
Selanjutnya steam panas tersebut dimanfaatkan untuk memanaskan air
sehinggan temperaturnya meningkat.
Penggunaan economizer untuk pemanasan awal sangatlah penting karena:
1. Hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi boiler secara
keseluruhan, karena.Dengan memanskan air sebelum air diubah
menjadi steam di boiler, berarti mempermudah kerja boiler, hanya
sedikit saja panas yang perlu ditambahkan.
2.Pemanasan air hanya akan mengurangi thermal shock pada boiler.
f) Boiler Steam Drum

Gambar 3.11 Boiler Steam Drum

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 32
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Berfungsi untuk menyimpan air dalam volume yang besar dan


untuk memisahkan uap air dari air setelah proses pemanasan yang terjadi
dalam boiler. Secara umum ada empat jenis pipa sambungan dasar yang
berhubungan dengan Steam Drum yaitu:
1. Feed water Pipe
Berfungsi mengalirkan air dari economizer ke distribution
pipe yang panjangnya sama persis dengan Steam Drum. Distribute
Pipe berfungsi mengalirkan air dari economizer secara merata ke
seluruh bagian steam drum.
2. Downcomer atau pipa Turun
Ditempatkan di sepanjang bagian dasar Steam Drum
dengan jarak yang sama antara satu dengan yang lainnya. Pipa-pipa
ini mengalirkan air dari steam drum menuju boiler circulating
pump. Boiler Water Circulating Pump (BWCP) digunakan untuk
memompa air dari downcomer dan mensirkulasikannya menuju
Waterwall yang kemudian air tersebut dipanaskan oleh
pembakaran di boiler dan dikirim kembali ke steam drum.
3. Waterwall Pipe
Terletak di kedua sisi steam drum dan merupakan pipa-pipa
yang berderet vetikal dalam boiler, setiap pipa disambung satu
sama lain agar membentuk selubung yang kontinyu dalam boiler.
Konstruksi seperti ini disebut konstruksi membran. Waterwall
bertugas menerima air dari Boiler Circulating Pump kemudian
dipanaskan dan dialirkan ke steam drum.
4. Steam Outlet Pipe
Merupakan sambungan terakhir, diletakkan di bagian atas
steam drum untuk memungkinkan saturated steam keluar dari
Steam Drum menuju Superheater.
Dalam Steam Drum, Saturated Steam akan dipisahkan dan
diteruskan untuk pemanasan lebih lanjut di Superheater, sedangkan

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 33
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

airnya tetap berada dalam steam drum dan dialirkan ke Down


Comer, dari sini proses akan dimulai lagi.
Selain pipa tersebut, juga terdapat Blowdown Pipe yang letaknya di
bagian bawah steam drum, tepat di bawah permukaan air. Saat air
berubah menjadi uap, kotoran-kotoran air akan tetap tinggal di air
dalam steam drum. Jika konsentrasi kotoran tersebut menjadi
tinggi, kemurnian steam yang keluar dari steam drum akan
terpengaruh dan kan terbawa ke Super heater ataupun turbin. Pipa
Blowdown akan menghilangkan sebagian kotoan air boiler dari
permukaan steam drum, dan mengalirkannya sehingga dapat
mengurangi konsentrasi kotoran dalam air boiler, dan pada
akhirnya dapat menjaga Superheater dan turbin tetap bersih.
f) Superheater
Superheater digunakan untuk memanaskan uap lebih lanjut dari
boiler sehingga menjadi uap kering. Pemanasan untuk superheater
diambil dari panas gas buang hasil pebakaran diruang pembakaran
(furnace). Superheater dibagi menjadi tiga tahap yaitu :
1) First Superheater
2) Second Superheater
3) Final Superheater
Uap didalam first superheater dipanaskan dengan gas buang yang
dialiri searah dengan aliran uap tersebut. Kemudian uap keluar dari first
superheater outlet melalui pipa transfer yang dilengkapi dengan pipa
spray type attemperatur untuk mengatur suhu uap menuju second
superheater, disni uap akan dipanasi lebih lanjut seperti pada first
superheater, selanjutnya uanp akan masuk ke final superheater diamana
uap juga akan dipanaskan. Uap dari final superheater outlet
meninggalkan boiler menuju high pressure turbine.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 34
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

3.4.7 High Pressure Turbine


Turbin adalah mesin penggerak, dimana energi fluida kerja
digunakan langsung untuk memutar roda (sudu-sudu) turbin. Turbin uap
menghasilkan putaran karena aliran uap yang tetap masuk ke nozzle dan
ditekankan dengan tekanan rendah. Uap tersebut masuk ke steam jet.
Disini kecepatan uap dinaikkan, sebagian energi kinetic dari uap tersebut
dikirim ke sudu-sudu turbin untuk berputar. Besar dan kecil beban
sangat berpengaruh sekali terhadap uap yang dihasilkan, bila beban
cukup tinggi, maka uap yang dibutuhkan juga besar dan sebaliknya.
Pengaturan jumlah uap yang masuk kedalam turbin ini dilakukan oleh
control valve.
Dan pada high pressure turbin, uap kering dari final superheater
yang mempunyai temperature dan tekanan yang tinggi yang dialirkan ke
turbin tekanan tinggi. Didalam turbin ini terdapat sudu-sudu gerak yang
mempunyai bentuk sedemikian rupa sehingga dapat mengekspansikan
uap. Disini terjadi perubahan energi, maka temperatur uap akan turun
dan perlu diadakan pemanasan ulang pada reheater.

Gambar 3.12 High Pressure Turbine

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 35
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

3.4.8 Reheater
Setelah tekanan dan temperatur SH Steam turun maka SH Steam
tersebut akan dikembalikan ke Boiler untuk pemanasan ulang.
Pemanasan ulang ini berlangsung di bagian Boiler yang disebut Reheater
yang merupakan kumpulan pipa Boiler yang diberi panas dari gas
pembakaran seperti Superheater. Jadi Reheater berfungsi untuk
menaikkan temperatur SH Steam akan dikembalikan untuk memutar
Intermediate Pressure Turbine (IP) dan Low Pressure Turbine (LP).

3.4.9 Intermediate Pressure Turbine and Low Pressure Turbine


Dari reheater uap masuk ke IP Turbine dan LP Turbine, sehingga
dari gerakan sudu-sudu ini akan memperkuat gerakan poros turbine.
Poros turbin ini dihubungkan dengan poros generator menggunakan
kopling tetap (fixed coupling). Dari generator terjadi perubahan energi,
dari energi mekanis menjadi energi listrik.
Secara umum, konversi energi terjadi pada Turbine Blades, turbin
mempunyai susunan Blade bergerak berselang seling dengan Blade
tetap. Steam akan masuk ke turbin dan dialirkan langsung ke Turbin
Blades, Blades bergerak dan bekerja unutk mengubah energi thermal
dalam Steam menjadi energi mekanis berotasi, yang menyebabkan rotor
turbin berputar, perputaran rotor ini akan menggerakkan generator dan
akhirnya energi mekanik menjadi energi listrik.
Hubungan peralatan serta prinsip kerja dari turbin ditunjukkan
pada gambar. Bagian-bagian dari Turbin:
1. Nozel
Berfungsi untuk merubah energi (pipa pancar) menjadi energi
kinetik dari steam.
2. Blades
Berfungsi unutk merubah tenaga kecepatan menjadi tenaga putar.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 36
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

3. Disck (Roda Turbin)


Berfungsi untuk meneruskan tenaga putar turbin kepada pesawat
yang digerakkan. Tenaga yang dihasilkan adalah tenaga mekanis
steam.

Gambar 3.13 Reheat Pressure Turbine

Gambar 3.14 Low Pressure Turbine

3.4.10 Generator
Generator adalah alat untuk membangkitkan listrik, generator
sendiri terdiri dari stator dan rotor. Rotor dihubungkan dengan shaft
turbin sehingga berputar bersama-sama. Statir bars di dalam sebuah
generator membawa sebuah arus hubungan out put pembangkit. Arus

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 37
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Direct Current (DC) dialirkan melalui Brush Gear yang langsung


bersentuhan dengan slip ring yang dipasang jadi satu dengan rotor
sehingga akan timbul medan magnet (Flux). Jika rotor berputar,
Medan magnet tersebut memotong kumparan di stator sehingga pada
ujung - ujung kumparan stator timbul tegangan listrik.
Untuk penyediaan arus listrik generator diambilkan arus DC dari
luar. Setelah sesaat generator timbul tegangan, sehingga melalui exitasi
transformer arus AC akan diarahkan oleh rectiver dan arus DC akan
kembali ke generator, proses ini disebut dengan Self Excitation. Dalam
sistem tenaga, disamping generator menyuplai listrik ke jaringan extra
tinggi 500 KV, juga dipakai untuk pemakaian sendiri dimana tegangan
out put generator diturunkan melalui transformer sesuai dengan
kebutuhan. Untuk kebutuhan saat start diambilkan dari 150 KV Line.
Untuk sistem tegangan extra tinggi tenaga listrik yang dihasilkan
oleh Power Plant disuplai ke jaringan sebesar 500 KV dan selanjutnya
beberapa transformer tegangannya diturunkan sesuai dengan
kebutuhan.

Gambar 3.15 Generator

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 38
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Proses Penyuplaian Batubara (Coal)


Pengiriman batubara ke plant di lakukan dengan menggunakan
menggunakan kapal tongkang yang berkapasitas sebesar 43.000 ton, yang
kemudian akan ditampung di coal pile dengan kapasitas 670.000 ton untuk
selanjutkan akan digunakan sebagai bahan bakar, batubara akan melalui dua
proses yaitu coal handling dan coal burning. Coal handling merupakan proses
penyupalaia batu bara dari kapal tongkang menuju silo. Sedangkan coal burning
merupakan system penyuplaian batu bara dari silo hingga siap di gunakan di
boiler.

Tongkang

Coal Pile
Crane

Doc Mobile Stacking/Recla


Jetty Hopper Belt Conveyor ming

Coal Feeder Coal Silo Tripper


Conveyor

Pulverizer Coal Burner Boiler

Pyrate Hooper SSCC Ash Disposal

Gambar 4.1 Proses Coal System

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 39
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

4.1.1 Proses Coal Handling


Coal handling adalah proses penyuplaian batubara dengan kapal
menggunakan kapal tongkang yang kemudian di tampung di coal pile, kemudian
dari coal pile batu bara yang masih berukuran besar akan di hancurkan sehinggga
sehingga ukuran batu bara sudah menjadi kecil agar tidak merusak konveyor yang
ada, kemudian batubara akan di bawa oleh belt conveyor untuk di transferkan
menuju coal silo, sebelum batubara sampai pada coal silo batu bara akan di
pisahkan dari logam-logam yang tercampur dalam batu bara oleh magneting
saparator pada conveyor. Setelah batubara bersih dari logam-logam, batubara
akan di bawa menuju coal silo untuk di jadikan bahan bakar pada boiler.

Tongkang
Coal Pile

Crane

Doc Mobile Stacking/Recla


Jetty Belt Conveyor
Hopper ming

Tripper
Coal Silo
Conveyor

Gambar 4.2 Proses Coal Handling

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 40
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

4.1.1.1 Stacking
Stacking adalah proses pemindahan batu bara dari kapal tongkang ke
coal pile.

Gambar 4.3 Stacking


4.1.1.2 Reclaiming

Reclaiming merupakan proses pengambilan batu bara dari coal pile dan
menyalurkan ke silo.

4.1.1.3 Jetty

Jetty merupakan dermaga atau tempat merapat kapal laut pengangkut


batubara di PLTU Paiton Unit 7 dan 8. Kedalaman dermaga ini adalah  18 m
dari dasar laut, sehingga memungkinkan kapal-kapal besar merapat. Pada Unit 7
dan 8 ini ada dua jetty yaitu jetty A dan jetty B. Tiap jetty mempunyai empat buah
Doc Mobil Happer yang berkapasitas 84 ton yang fungsinya untuk memindahkan
batubara dari kapal ke Belt Conveyor. Doc Mobil Happer dapat diubah-ubah
posisinya sesuai dengan posisi kapal, hal ini dikontrol oleh operator di Coal
Unloading Control building (CUCB).

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 41
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Gambar 4.4 Jetty


4.1.1.4 Belt Conveyor
Belt conveyor berbentuk semacam sabuk besar yang terbuat dari karet
yang bergerak melewati Head Pulley daqn Tuil Pulley, keduanya berfungsi
sebagai peregang Belt Conveyor. Untuk menyangga belt conveyor beserta bobot
batubara yang diangkut dipasang Idler pada jarak tertentu diantara Head Pulley da
Tail Pulley. Idler adalah bantalan berputar yang dilewati oleh belt conveyor.
Batu bara yang diangkut oleh conveyor dituangkan dari sebuah bak
peluncur (Chute) diujung Tail Pulley kemudian bergerak menuju control head
Pulley. Biasanya muatan batubara akan jatuh ke dalam bak peluncur lainnya yang
terletak di bawah Head Pulley untuk diteruskan ke konveyor lainnya. Di setiap
belokan antar conveyor satu dengan lainnya dihubungkan dengan Transfer House.
a.) Masalah yang ada dalam proses penyaluran batu bara menggunkaan belt
conveyor ini yaitu:
Adanya proses penyaluran batu bara tercampurnya dengan logam yang
dapat mengakibatkan dampak yang fatal pada proses penyaluran batu bara karena
dapat merusak mill pada proses penggerusan batu bara yang akibatnya bisa
membuat berhentinya suatu proses produksi. Maka dalam belt conveyor ini di
tambahkan beberapa aksesoris yang bertujuan untuk meningkatkan
fleksibilitasnya, antara lain:

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 42
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

1. Metal Detector
Merupakan alat untuk mendeteksi adanya logam-logam di dalam batu
bara yang tercampur pada proses pengiriman.
2. Magnetic Separator
Untuk memisahkan logam-logam yang terkandung di dalam
batu bara pada proses pengiriman.

Gambar 4.5 Conveyor

Gambar 4.6 Transfer House

Gambar 4.6 Transfer House

4.1.1.5 Stacker/Reclamer
Stacker dan Reclaimer digunakan untuk menata batubara yang datang
melalui belt conveyor menuju ke coal yard atau tempat penampung batubara
(Proses Stacking). Sedangkan untuk mengambil batubara dari coal yard menuju
belt conveyor untuk selanjutnya ditransport ke coal bunker atau tempat
penampung sementara batubara (Proses Reclaiming).

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 43
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Stacker & reclaimer menggunakan sistem penggerak hidrolis dan motor


listrik. Penggerak hidrolis digunakan untuk stacker bergerak maju mundur dan
berputar, sedangkan penggerak motor listrik digunakan untuk memutar alat
pengeruknya (reclaimer).

Gambar 4.7 Stacker/Reclamer

4.1.1.6 Coal Pile


proses penimbunan dan pengambilan batu bara dilakukan dengan alat yang
disebut stacker/reclaimer luas dari coal pile adalah 670.000 ton. Alat ini
merupakan sebuah konveyor yang kompleks dan terpasang pada sebuah struktur
yang dapat bergerak. Di dalam proses penimbunan stacker menyalurkan batubara
melalui sebuah lengan yang dapat diatur agar selalu dapat diam di tempat,
sehingga batu bara yang tumpah melalui lengan itu akan membentuk timbunan
yang tinggi, apabila lengan bergerak maju mundur maka timbunan yang akan
dihasilkan menjadi timbunan yang rapi dan memanjang. Pada saat pengambilan,
reclaiming buicket pada stacker akan bergerak dan mengeruk batu bara yang
selanjutnya dituang ke belt conveyor untuk dibawa ke instalasi. Seperti halnya
proses penimbunan, reclaiming bucket ini dapat juga diatur agar tetap diam di
tempat atau maju mundur untuk mengeruk batu bara.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 44
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

a.) Masalah yang ada dalam proses penimbunan batu bara adalah:
Dapat menyebabkan timbulnya asap bahkan terjadinya kebakaran batu
bara, apabila batu bara di jemur secara terus menerus di bawah panas matahari
maka suhu panas dalam batu bara akan meningkat. Maka di sekitar coal pile di
lengkapi dengan dust suppression atau hidran yang berfungsi:
1. Menyemprot air pada batu bara supaya debu batu bara tidak
berterbangan, jika debu batu bara di hirup secara terus menerus dapat
mengakibatnya terganggunya proses pernapasan dan membahayakan
paru-paru bagi manusia.
2. Menghalangi terjadinya percikan api akibat debu panas dari batu bara.

Gambar 4.8 Coal Pile

4.1.1.7 Crusher
Setelah melalui proses pemilihan batu bara di angkut menggunakan
conveyor menuju Coal Crusher yang berkapasitas 200 ton/hours. Coal crusher
berfungsi menghancurkan batubara menjadi ukuran yang lebih kecil. Batu bara di
hancurkan menjadi ukuran yang kecil dimaksudkan untuk mendapatkan efisiensi
pembakaran yang baik, karena dengan ukuran batu bara yang kecil batu bara bisa
terbakar habis.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 45
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

4.1.1.8 Tripper Conveyor


Adalah suatu conveyor yang berfungsi menyalurkan batu bara yang sudah
di hancurkan menjadi ukuran lebih kecil pada proses crusher yang selanjutnya
batu bara tersebut di salurakan pada silo.

Gambar 4.9 Tripper Conveyor


4.1.1.9 Silo
Terdapat enam buah coal silo yaitu A, B, C, D, E dan F. Pengisian sile
dilakukan dengan menggunakan belt conveyor yang dihubungkan dengan Tripper,
pengoperaiannya dilakukan oleh operator di coal handling control building
(CHCB). Silo merupakan bunker tempat menampung batubara di instansi yang
kemudian digunakan sebagai bahan bakar di boiler. Volume sebuah silo sebesar
600 ton, pengisian ulang dilakukan setiap volume silo kurang dari 30 – 40%. Dari
silo batubara dimasukkan ke Pulverizer ini yang akan digunakan untuk
pembakaran di boiler.

Gambar 4.10 Silo

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 46
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

4.1.2 Proses Coal Burning


Proses Coal Burning merupakan system penyuplaian batu bara dari silo
hingga siap di gunakan di boiler.

Coal Burner Pulverizer Coal Feeder Coal Silo

Boiler Pyrate Hooper SSCC Ash Disposal

Gambar 4.11 Proses Coal Burning

4.1.2.1 Coal Feeder


Coal Feeder adalah alat pegukur flowrate batu bara yang masuk ke
dalam pulverizer (mill) sesuai dengan kebutuhan bahan bakar akibat pembebanan
unit pembangkit coal feeder juga di lengkapi dengan slide gate valve fungsinya
untuk menutup dan membuka aliran batu bara yang turun dari silo menuju coal
feeder.
Coal Feeder merupakan alat yang penting untuk untuk proses
pengaturan bahan bakar batu bara. Dalam melakukan tugasnya feeder di control
oleh 3 hal, yaitu :
1. Beban dari Generator
2. Kecepatan pemanasan Steam
3. Kualitas batu bara
Beban dari generator mengontrol kecepatan feeder dengan cara
mengirim sinyal ke feeder, apabila beban yang di butuhkan oleh geneator besar
maka feeder juga mempercepat laju batu bara yang masuk ke pulverizer. Beban
Generator sendiri di pengaruhi oleh kebutuhan daya PLN, atau di pengaruhi oleh
besar kecilnya kebutuhan listrik. Coal feeder terletak di atas pulverizer.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 47
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

a.) Masalah yang ada dalam proses coal feeder ini adalah :
Cara megukur flowrate batu bara yang masuk ke dalam pulverizer (mill)
sesuai dengan kebutuhan, dan dari silo batu bara yang masuk menuju ke coal
feeder adalah 10 ton/jam untuk di transfer ke mill, maka batu bara sebelum masuk
menuju ke mill harus di timbang terlebih dahulu menggunakan belt scale jika batu
bara di gunakan secara berlebihan dalam proses pembakaran maka mengakibatkan
kerugian pada perusahaan.

Gambar 4.12 Belt Scale


Belt scale adalah sebuah jenis timbangan yang di gunakan untuk
mengukur laju aliran massa atau bahan yang di lewatkan melalui roda putar
weighing roller. Timbangan ini biasa di kenal dengan dengan nama timbangan
sabuk, timbangan dinamis, timbangan conveyor, atau timbangan gerak.
 Cara Menggunakan belt scale pada coal feader adalah sebagai berikut :
1. Matikan proses beroperasi dari coal feader
2. buka discharga dari coal feader, lalu keluarkan batu bara
3. bersihkan batubara dari coal feader menggunakan kompresor
4. kembalikan programan dari coal feeder seperti semula
5. setelah selesai, selanjutnya pasang Belt Scale di bawah Weighing Roller
6. kemudian belt conveyor berputar secara pelan2 yang di atur oleh program
PLC (Programmable Logic Controller), kecepatan dari belt conveyor di
atur oleh speed sensor.
7. terakhir load cell yang akan membaca berapa ton batu bara yang masuk
pada coal feader, fungsi dari load cell adalah mengkonversi kg menjadi
listrik, yang hasilnya selanjutnya terbaca di integrator.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 48
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Span Roller Load Cell Weighing Roller

Belt Scale Span Roller


Gambar 4.13 Kalibrasi coal feader

Speed Sensor
Gambar 4.14 Speed Sensor

Gambar 4.15 Integrator

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 49
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Gambar 4.16 Coal Feeder

4.1.2.2 Pulverizer
Bongkahan - bongkahan batubara yang seperti batu harus dihancurkan
menjadi butiran - butiran halus agar batubara mudah tercampur dengan udara.
Pulverizer adalah alat untuk menggiling batubara sehingga menjadi halus dan
kemudian bersama dengan udara primer akan dialirkan ke furnace. Fungsi lain
dari Pulverizer adalah untuk mengeringkan batubara sehingga mudah dihaluskan
dan dibakar, dan untuk mengklasifikasikan atau menyaring batubara untuk
memastikan bahwa batubara yang masuk ke dalam boiler benar - benar halus.
Batu bara yang tidak tergiling akan keluar melalui sebuah lubang dan ditampung
di Pyrites Hopper dan kemudian dibuang.
Dalam penggunaan Pulverizer yang perlu diperhatikan adalah temperatur
dari udara primer, temperatur yang terlalu tinggi dapat menyalakan batubara dari
dalam pulverizer dan menyebabkan ledakan. Jika temperatur terlalu rendah
batubara tidak bisa kering benar dan sulit dihaluskan. Temperatur idealnya kira -
kira 650C.
Pulverizer dilengkapi dengan feeder (alat pengisi batubara) yang letaknya
diatas pulverizer, berfungsi untuk menyuplai sejumlah batubara sesuai kebutuhan.
Feeder ini mendapat suplai batubara dari penampung batubara yang disebut Silo
(Coal Bunker).

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 50
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Gambar 4.17 Pulverizer

4.1.2.3 Burner
Burner adalah tempat terjadinya suatu proses pembakaran, dimana bahan
bakar selalu dikabutkan menjadi partikel – partikel kecil sehingga memudahkan
untuk bereaksi dengan partikel – partikel udara. Untuk penyalaan awal atau
pembakaran awal diperlukan bahan bakar solar, sedangkan untuk proses
selanjutnya digunakan bahan bakar batu bara. Penyalaan burner tertanggung dari
beban yang dipikul oleh unit. Burner management sistem adalah penyaluran
konfigurasi penyalaan burner pada waktu start up atau shut down dan pada waktu
load change. Jumlah burner yang menyala atau mati tergantung dari beban
generator yang sebanding dengan kapasitas dari burner terbatas, maka diperlukan
pemanasan dalam ruang bakar dapat merata dan efesien. Penyalaan burner yang
tidak berimbang dengan beban generator akan mengakibatkan tidak stabilnya
tekanan dan temperatur uap.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 51
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

Gambar 4.18 Proses Pembakaran


4.1.2.4 Boiler
berfungsi untuk memanaskan air dengan menggunakan panas dari hasil
pembakaran bahan bakar, panas hasil pembakaran selanjutnya panas hasil
pembakaran dialirkan ke air sehingga menghasilkan steam (uap air yang memiliki
temperatur tinggi). Dari pengertian tersebut berarti kita dapat menyimpulkan
bahwa boiler berfungsi untuk memproduksi steam (uap) yang dapat digunakan
untuk proses/kebutuhan selanjutnya. Seperti yang kita ketahui bahwa steam dapat
digunakan untuk menjaga suhu dalam kolom destilasi minyak bumi dan proses
evaporasi pada evaporator. Umumnya bakar yang digunakan untuk memanaskan
boiler yaitu batu bara, gas, dan bahan bakar minyak.
 Bagian-Bagian Pada Boiler dan Fungsinya
1. Tungku Pengapian (Furnace)
Bagian ini merupakan tempat terjadinya pembakaran bahan bakar yang
akan menjadi sumber panas, proses penerimaan panas oleh media air dilakukan
melalui pipa yang telah dialiri air, pipa tersebut menempel pada dinding tungku
pembakaran. Proses perpindahan panas pada furnace terjadi dengan tiga cara:
 Perpindahan panas secara radiasi, dimana akan terjadi pancaran panas dari api
atau gas yang akan menempel pada dinding tube sehingga panas tersebut akan
diserap oleh fluida yang mengalir di dalamnya.
 Perpindahan panas secara konduksi, panas mengalir melalui hantaran dari sisi
pipa yang menerima panas kedalam sisi pipa yang memberi panas pada air.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 52
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

 Perpindahan panas secara konveksi. panas yang terjadi dengan singgungan


molekul-molekul air sehingga panas akan menyebar kesetiap aliran air.
Di dalam furnace, ruang bakar terbagi atas dua bagian yaitu ruang
pertama dan ruang kedua. Pada ruang pertama, di dalamnya akan tejadi
pemanasan langsung dari sumber panas yang diterima oleh tube (pipa), sedangkan
pada ruang kedua yang terdapat pada bagian atas, panas yang diterima berasal dari
udara panas hasil pembakaran dari ruang pertama. Jadi, fungsi dari ruang pemanas
kedua ini yakni untuk menyerap panas yang terbuang dari ruang pemanasan
pertama, agar energi panas yang terbuang secara cuma-cuma tidak terlalu besar,
dan untuk mengontrol panas fluida yang telah dipanaskan pada ruang pertama
agar tidak mengalami penurunan panas secara berlebihan.

2. Steam Drum
Steam drum berfungsi sebagai tempat penampungan air panas serta
tempat terbentuknya uap. Drum ini menampung uap jenuh (saturated steam)
beserta air dengan perbandingan antara 50% air dan 50% uap. untuk menghindari
agar air tidak terbawa oleh uap, maka dipasangi sekat-sekat, air yang memiliki
suhu rendah akan turun ke bawah dan air yang bersuhu tinggi akan naik ke atas
dan kemudian menguap.

3. Superheater
Merupakan tempat pengeringan steam, dikarenakan uap yang berasal dari
steam drum masih dalam keadaan basah sehingga belum dapat digunakan. Proses
pemanasan lanjutan menggunakan superheater pipe yang dipanaskan dengan suhu
260°C sampai 350°C. Dengan suhu tersebut, uap akan menjadi kering dan dapat
digunakan untuk menggerakkan turbin maupun untuk keperluan peralatan lain.

4. Air Heater
Komponen ini merupakan alat yang berfungsi untuk memanaskan udara
yang digunakan untuk menghembus/meniup bahan bakar agar dapat terbakar
sempurna. Udara yang akan dihembuskan, sebelum melewati air heater memiliki

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 53
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

suhu yang sama dengan suhu udara normal (suhu luar) yaitu 38°C. Namun,
setelah melalui air heater, suhunya udara tersebut akan meningkat menjadi 230°C
sehingga sudah dapat digunakan untuk menghilangkan kandungan air yang
terkandung didalamnya karena uap air dapat menganggu proses pembakaran.

5. Dust Collector (Pengumpul Abu)


Bagian ini berfungsi untuk menangkap atau mengumpulkan abu yang
berada pada aliran pembakaran hingga debu yang terikut dalam gas buang.
Keuntungan menggunakan alat ini adalah gas hasil pembakaran yang dibuang ke
udara bebas dari kandungan debu. Alasannya tidak lain karena debu dapat
mencemari udara di lingkungan sekitar, serta bertujuan untuk mengurangi
kemungkinan terjadinya kerusakan pada alat akibat adanya gesekan abu maupun
pasir.

6. Pengatur Pembuangan Gas Bekas


Asap dari ruang pembakaran dihisap oleh blower IDF (Induced Draft
Fan) melalui dust collector selanjutnya akan dibuang melalui cerobong asap.
Damper pengatur gas asap diatur terlebih dahulu sesuai kebutuhan sebelum IDF
dinyalakan, karena semakin besar damper dibuka maka akan semakin besar isapan
yang akan terjadi dari dalam tungku.

7. Safety Valve (Katup pengaman)


Alat ini berfungsi untuk membuang uap apabila tekanan uap telah
melebihi batas yang telah ditentukan. Katup ini terdiri dari dua jenis, yaitu katup
pengaman uap basah dan katup pengaman uap kering. Safety valve ini dapat diatur
sesuai dengan aspek maksimum yang telah ditentukan. Pada uap basah biasanya
diatur pada tekanan 21 kg per cm kuadrat, sedangkan untuk katup pengaman uap
kering diatur pada tekanan 20,5 kg per cm kuadrat.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 54
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

8. Gelas Penduga (Sight Glass)


Gelas penduga dipasang pada drum bagian atas yang berfungsi untuk
mengetahui ketinggian air di dalam drum. Tujuannya adalah untuk memudahkan
pengontrolan ketinggian air dalam ketel selama boiler sedang beroperasi. Gelas
penduga ini harus dicuci secara berkala untuk menghindari terjadinya
penyumbatan yang membuat level air tidak dapat dibaca.

9. Pembuangan Air Ketel


Komponen boiler ini berfungsi untuk membuang air dalam drum bagian
atas. Pembuangan air dilakukan bila terdapat zat-zat yang tidak dapat terlarut,
contoh sederhananya ialah munculnya busa yang dapat menganggu pengamatan
terhadap gelas penduga. Untuk mengeluarkan air dari dalam drum, digunakan
blowdown valve yang terpasang pada drum atas, katup ini bekerja bila jumlah
busa sudah melewati batas yang telah ditentukan.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 55
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

BAB IV
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan praktik kerja lapangan di PT. POMI unit 7 & 8
Paiton, dapat kami ambil kesimpulan sebagai berikut :
1.) Prinsip dasar dari kerja PLTU Paiton adalah merupakan energy kimia yang
ada dalam bahan bakar menjadi energy panas yang dapat di gunakan untuk
mengubah air menjadi uap. Uap ini akan menghasilkan energy mekanik yang
dapat menggerakkan generator. Pada akhirnya generator ini mengubah energy
mekanik menjadi energy listrik.
2.) Konsep dasar dari pembangkit energy pada PLTU Paiton di dasarkan pada
teori-teori thermodinamika yaitu siklus rangkine.
3.) Dalam melakukan produksinya PT. POMI Paiton menggunakan batubara
sebagai bahan bakar menggunakan media boiler sebagai penghasil uap
sebagai penggerak turbin kemudian di transfer ke generator yang
menghasilkan energy listrik.
4.) Dan dalam proses penyuplaian batubara ke boiler untuk proses pembakaran
yaitu ada Coal Handling dan Coal Burning, Proses coal handling adalah
proses penyuplaian batubara dari tongkang ke silo sedangkan coal burning
adalah proses penyupalaian batubara dari silo menuju boiler.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 56
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia
Jl. Raya Surabaya-Situbondo KM 141 Paiton. PO BOX 78 Paiton-Probolinggo 67291

5.2 Saran
Berdasarkan praktik kerja lapangan yang di lakukan di PT. POMI Paiton
unit 7 & dan 8, penulis mempunyai saran dan pendapat, sebagai berikut :
1.) Sebaiknya ada kegiatan pengenalan mengenai Proses produksi dan plant
secara keseluruhan, sehingga saat ke lapangan mahasiswa bisa mengerti
proses dan bentuk yang di maksudkan.
2.) Kegiatan yang dilakukan di dalam ruangan dan di lapangan seharusnya
memiliki proporsional waktu yang sama sehingga mahasiwa dapat
mengetahui proses kerja dari alat tersebut dan dapat menyelaraskan ilmu yang
di dapat selama praktik atau ilmu di dapat dari bangku kuliah.
3.) Dalam Praktik kerja lapangan di PT. POMI Paiton, Kami diberi kebebasan
untuk memanfaatkan fasilitas yang sudah di sediakan sehingga penulis dapat
lebih memahami cara kerja PLTU baik secara teori ataupun praktik.

JURUSAN TEKNIK MESIN


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK MESIN Page 57

Anda mungkin juga menyukai