Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENENTUAN HARGA POKOK PRODUK


DENGAN METODE KONVENSIONAL

Dalam akuntansi biaya, perhitungan harga pokok dilakukan dengan menjumlahkan


seluruh unsur biaya produksi, sedangkan harga pokok produksi per unit ditentukan
dengan membagi seluruh total biaya produksi dengan volume produksi yang dihasilkan
atau yang diharapkan akan dihasilkan. Cara seperti ini yang harus digunakan apabila
berhubungan dengan prinsip akuntansi, mempengaruhi baik jumlah harga pokok produk
maupun cara penyajiannya dalam laporan rugi laba. Bagi manajemen, punya
kebebasan untuk tidak mengikuti prinsip akuntansi dalam hal tertentu, cara yang disebut
Full Costing tersebut seringkali tidak banyak membantu. Oleh karena itu untuk
perencanaan dan pengambilan keputusan yang berhubungan dengan biaya produksi
dikenal dengan pendekatan Variable Costing .

ARIABEL COSTING

Variable Costing adalah suatu metode penentuan harga pokok ( dan


pengaruhnya pada penyajian laporan rugi laba ) dimana hanya biaya produksi variabel
saja dibebeakan sebagai bagian dari harga pokok produksi. Metode
ini disebut Variable Costing dengan alasan bahwa biaya yang dibebankan kepada
produk hanya biaya yang berhubungan langsung dengan produk saja. Dengan pengertian
tersebut, maka yang disebut harga pokok produksi adalah penjumlahan dari biaya bahan
variabel, biaya upah variabel dan biaya overhead variabel tampak sebagai berikut:

Biaya bahan variabel Rp xxx


Biaya upah variabel xxx
Biaya overhead variabel xxx
----------- (+)
Harga pokok produksi Rp xxx

Dengan cara seperti tersebut, maka dalam metode Variable Costing biaya overhead
tetap bukan merupakan bagian dari produksi dan hal ini akan berpengaruh pada penyajian
laporan rugi laba. Dalam metode Variable Costing laporan rugi laba akan disajikan
sebagai berikut :
LAPORAN RUGI LABA DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING

Penjualan A
Biaya Variabel :

Harga Pokok Penjualan Variabel R


Biaya Operasi Variabel S
----- +
Total Biaya Variabel T
----- -
Laba Kontribusi (Contribution Margin) U
Biaya Tetap (Period Cost) :
Biaya Produksi Tetap V
Biaya Operasi Tetap W
----- +
Total Biaya Tetap X
----- -
Laba Bersih Y

Laporan Harga Pokok Penjualan :

Persediaan Barang Awal B


Harga Pokok Produksi Variabel:
Persediaan bahan awal C
Pembelian bahan 19x0 D
--- +
Bahan siap digunakan E
Persediaan bahan akhir F
--- -
Bahan digunakan dalam produksi G
Upah variabel H
Overhead Variabel I
--- +
Biaya Konversi Variabel J
--- +
Biaya produksi 19x0 K
Persediaan barang dalam proses awal L
--- -
Biaya Produksi Total M
Persediaan barang dalam proses
akhir N
--- -
Harga Pokok Produksi O
--- +
Barang jadi siap dijual P
Persediaan barang jadi akhir Q
--- -
Harga pokok penjualan variabel R

Metode Variable Costing mempunyai perbedaan dengan metode harga pokok penuh
(Full Costing) dalam hal:

1.Penentuan harga pokok produksi


2.Penyajian dalam laporan rugi laba

1.Penentuan harga pokok produksi

Metode Full Costing : Menggunakan pendekatan FUNGSI


Yaitu : pembebanan biaya didasarkan pada Fungsi perusahaan sehingga
apa yang disebut biaya produksi baik langsung maupun tidak langsung,tetap maupun
variabel.
Biaya operasi adalah : Seluruh biaya untuk menawarkan dan menjual produk setelah
keluar dari fungsi produksi, meliputi biaya operasi tetap dan variabel atau bisa
dikelompokkan menjadi fungsi lebih terinci, seperti fungsi administrasi, fungsi penjualan
dsb.

Metode Variable Costing : Menggunakan pendekatan Tingkah Laku


Artinya,perhitungan harga pokok dan penyajian laporan laba rugi didasarkan atas
tingkah laku biaya. Biaya produksi dibebani biaya variabel saja,dan biaya tetap dianggap
bukan biaya produksi. Pendekatan ini digunakan karena dianggap produksi yang
berubah-ubah saja layak dibebankan,agar tidak terjadi kelebihan atau kekurangan
pembebanan. Demikian pula pada Biaya Operasi. Biaya Operasi dipisahkan
dengan biaya operasi tetap, karena biaya operasi variabel berubah sesuai dengan
perubahan operasi perusahaan, sedangkan biaya operasi tetap tidak dipengaruhi oleh
operasi perusahaan.

Dengan perbedaan pendekatan tersebut, maka penyajian laporan laba rugi menurut
kedua metode berbeda. Metode Harga Pokok Penuh, laporan laba rugi disajikan
berdasar fungsi,sedangkan laporan laba rugi menurut metode Variable Costing disajikan
berdasar tingkah laku.

2. Penyajian dalam Laporan Laba Rugi.

Pada Variable Costing ada item Contribution Margin (Laba Kontribusi) yaitu selisih
Penjualan dengan biaya-biaya variabel, sedangkan pada Full Costing tidak ada.
● MANFAAT VARIABLE COSTING BAGI MANAJEMEN:

1. Variable Costing sebagai Alat Perencanaan Laba

Perencanaan Laba atau perencanaan operasi adalah rencana dari manajemen yang
meliputi seluruh tahap dari operasi dimasa yang akan datang untuk mencapai tujuan
perusahaan yang dibagi dalam dua jenis rencana, yaitu rencana jangka pendek dan jangka
panjang. Variable Costing bermanfaat dalam pembuatan rencana jangka pendek dengan
memisahkan biaya variabel dan tetap dalam laporan rugi laba, sehingga akan diketahui
Contribution Margin. Dengan kedua hal itu maka manajemen bisa merencanakan berapa
laba yang akan diperoleh.

2. Variable Costing sebagai Petunjuk Penentuan Harga Jual

Informasi Contribution Margin dari Variable Costing sangat membantu dalam


menentukan harga jual yang kompetitive, karena Contribution Margin menunjukkan
berapa kelebihan hasil penjualan dari biaya variabel, bisa diperhitungkan dengan
mengalikan contribution margin/unit dengan jumlah penjualan.sedang biaya tetap akan
tetap jumlahnya, oleh karena itu tertutup atau tidaknya tergantung jumlah CM yang
didapat. Selisih antara CM dengan biaya tetap merupakan laba.

3. Variable Costing untuk Pengambilan Keputusan Manajemen

Manajemen sering dihadapkan pada masalah pemilihan alternatif dimana alternatif-


alternatif tersebut mempunyai pengaruh terhadap besar kecilnya laba perusahaan. seperti
masalah memasuki pasar-pasar baru, perluasan usaha,memenuhi atau tidak pesanan
khusus,membuat sendiri atau memesan bahan pembantu atau suku cadang tertentu.
Masalah ini dapat dipecahkan dengan pertolongan analisis CM.

ILLUSTRASI

"PT. HAPPY" menggunakan biaya standar dalam menentukan besarnya


biaya produksi. Equipment dari "PT. HAPPY" mempunyai kapasitas normal 150.000
unit atau 300.000 jam kerja langsung.

Biaya standar per unit produksi adalah :


biaya bahan baku Rp. 80,-
Biaya tenaga kerja langsung Rp.120,- (2 jam kerja langsung)
Biaya Overhead Pabrik Rp. 80,-
---------- +
Biaya Produksi Variabel Rp.280,- per unit

Biaya Overhead Pabrik tetap Rp. 6.000.000,- pertahun


Biaya Adm. dan pemasaran Variabel Rp. 56,-per unit, sedangkan
yang tetap Rp. 3.600.000,-
Biaya Adm. dan Pemasaran tetap diperhitungkan pertahun
Harga Jual perunit Rp. 480,-
Pajak penghasilan 10%

Data penjualan dan produksi tahun 1981 sebagai berikut:


Penjualan 160.000 unit
Produksi 140.000 unit
Persediaan awal 25.000 unit

Selisih tidak menguntungkan :


- selisih efisiensi tenaga kerja Rp. 270.000,-
- selisih pengawasan (variabel) Rp. 184.000,-

Selisih menguntungkan :
- selisih harga bahan baku Rp. 176.000,-
(Seluruh selisih dibebankan ke harga pokok penjualan)

Diminta:

1. Buat laporan laba/rugi absorption costing dan Variable costing.

2. Perbedaan laba antara Variable costing dengan absorption costing


dan hal apa yang membedakan (tunjukkan dengan perhitungan).

Penyelesaian:
Rp. 6.000.000,-
BOP tetap = --------------- = Rp. 40,-
150.000 unit

Selisih BOP = BOP tetap total - Biaya tetap dibebankan


= Rp. 6.000.000,- - (40 x 140.000)
= Rp. 400.000,-

===============================================================
===
PT. HAPPY
Laporan Laba - Rugi
Variable Costing
===============================================================
===
Penjualan Rp. 76.800.000,-
Harga pokok penjualan :
Bahan baku Rp. 11.200.000,-
Upah langsung Rp. 16.800.000,-
BOP (variabel) Rp. 11.200.000,-
------------------
Rp. 39.200.000,-
Persedian 1 Januari Rp. 7.000.000,-
Persediaan 31 Desember (Rp. 1.400.000,-)
------------------
Harga pokok produksi standar Rp. 44.800.000,-
Slsh eff. tdk Menguntungkan Rp. 270.000,-
Slsh pengwsn tdk Menguntungkan Rp. 184.000,-
Slsh hrg bhn menguntungkan (Rp. 176.000,-)
------------------
Harga pokok penjualan Rp. 45.078.000,-
Biaya adm dan pmsrn (variabel) Rp. 8.960.000,-
-----------------
Jumlah biaya variabel Rp. 54.038.000,-
-----------------
Contribusi margin Rp. 22.762.000,-
Biaya tetap:
Biaya overhed pabrik tetap Rp. 6.000.000,-
Biaya adm. dan pemasaran Rp. 3.600.000,-
------------------
Rp. 9.600.000,-
-----------------
Laba bersih Rp. 13.162.000,-
Pajak (10%) (Rp. 1.316.200,-)
-----------------
Rp. 11.845.800,-

===============================================================
===
PT. HAPPY
Laporan laba - rugi
Full Costing
===============================================================
===

Penjualan Rp. 76.800.000,-


Harga pokok penjualan :
- Bahan baku Rp. 11.200.000,-
(140.000 x Rp.80,-)
- Upah langsung Rp. 16.800.000,-
(140.000 x Rp.120,-)
- BOP Variabel Rp. 11.200.000,-
(140.000 x Rp.80,-)
BOP tetap Rp. 5.600.000,-
(140.000 x Rp.40,-) ----------------- +
Rp. 44.800.000,-

Persediaan 1 Jan stndr Rp. 8.000.000,-


(25.000 x Rp.320,-)
Persediaan 31 des (Rp. 1.600.000,-)
(5.000 x Rp.320,-) ------------------
Hrg pkk penjualan stndr Rp. 51.200.000,-
ditmbh slsh tdk menguntungkan:
slsh efisiensi tenaga kerja Rp. 270.000,-
selisih pengawasan Rp. 184.000,-
selisih volume Rp. 400.000,-
-----------------
Rp. 854.000,-
dikurangi slsh menguntungkan (Rp. 176.000,-)
Rp. 678.000,-
-----------------
Rp. 24.922.000,-
Laba kotor
Biaya operasi :
Biaya adm dan pmsrn (variabel) Rp. 8.960.000,-
Biaya adm dan pmsrn (tetap) Rp. 3.600.000,-
-----------------
Rp. 12.560.000,-
-----------------
Laba bersih Rp. 12.362.000,-
Pajak (10%) (Rp. 1.236.200,-)
------------------
Rp. 11.126.800,-
===============================================================
====

2. Perbedaan laba antara Variable costing dengan absoption costing :


Variable Costing Rp. 13.162.000,-
Absorption costing Rp. 12.362.000,-
----------------
Selisih Rp. 800.000,-

Perbedaan (selisih) ini terjadi dikarenakan hal-hal sebagai


berikut :

a. Persediaan awal absoption costing Rp. 8.000.000,-


Persediaan awal Variable costing Rp. 7.000.000,-
----------------
Selisih Rp. 1.000.000,-
b. Persediaan akhir absorption costing Rp. 1.600.000,-
Persediaan akhir Variable costing Rp. 1.400.000,-
----------------
selisih Rp. 200.000,-

Sehingga perbedaan laba antara kedua metode ini adalah :


Rp. 1.000.000,- - Rp. 200.000,- = Rp. 800.000,-

CONTOH-CONTOH KASUS.

KASUS 1
Perusahaan LUWES adalah sebuah perusahaan yang memproduksi jas
hujan khusus wanita, dengan harga jual per unit Rp 6.000,00. Peru-
sahaan ini mempunyai tenaga kerja dan mesin yang mampu berproduksi
1.000 unit setiap kuartal. Biaya produksi rata-rata per kuartal
adalah Rp 3.000.000,00 yang terdiri dari 60% adalah biaya produksi
variabel dan 40% adalah biaya produksi tetap.

Laporan rugi-laba selama tiga kuartal (setahun) yaitu tahun


1980 yang disajikan secara full costing (absorption costing) ada-
lah sebagai berikut:

Perkiraan Kuartal 1(Rp) Kuartal 2(Rp) Kuartal 3(Rp)

Penjualan 3.000.000,00 1.200.000,00 12.000.000,00

Harga pkk penjualan:


Persediaan awal 1.500.000,00 3.900.000,00
Harga pokok produksi 3.000.000,00 3.000.000,00 3.000.000,00
Prod. tersedia dijual 3.000.000,00 4.500.000,00 6.900.000,00
Persediaan akhir 1.500.000,00 3.900.000,00 900.000,00
Harga pokok penjualan 1.500.000,00 600.000,00 6.000.000,00

Laba kotor 1.500.000,00 600.000,00 6.000.000,00

a. Dari data-data tersebut di atas saudara diminta untuk merubah


laporan rugi-laba dengan menggunakan variabel costing.

b. Apabila ada perbedaan laba-rugi antara kedua metode yaitu var-


iabel costing dan full costing, terangkan sebab-sebab perbeda-
an tersebut!

KASUS 2

Dalam tahun 1997 PT. ALABIU mempunyai kapasitas normal 5000


unit. Jumlah produk yang dihasilkan pada tahun 1997 adalah 5000
unit dan seluruhnya terjual dengan harga jual per unit Rp. 400,-.
Biaya-biaya yang terjadi adalah sebagai berikut :
Biaya produksi tetap Rp. 250.000,-
Biaya produksi variabel per unit Rp. 100,-
Biaya non produksi tetap Rp. 62.500,-
Biaya non produksi variabel/ unit Rp. 20,-
Dalam tahun 1998 manajemen PT. ALABIU memperkirakan :
Biaya produksi variabel naik 25% / unit, Biaya non produksi vari-
abel naik Rp. 5,- per unit, Biaya non produksi tetap tidak ada
perubahan, Biaya produksi tetap naik Rp. 62.500, Volume penjualan
dan produksi tdk ada perubahan dengan Harga jual per unit naik 25%.

Diminta :
a. Berapakah besarnya laba bersih tahun 1997 dan 1998 dengan menggunakan metode
Absorption costing ? sertakan perhitungan anda !
b. Berapakah besarnya laba bersih tahun 1997 dan 1998 dengan menggunakan metode
variabel costing ? sertakan perhitungan anda !

KASUS 3

PT ESKANEE adalah perusahaan yang membuat kue , perusahaan ini memerlukan


data sebagai berikut :

4 ons bahan baku untuk membuat satu bungkus roti (1 unit produk).
2 jam tenaga kerja untuk menyelesaikan 1 unit produk.
Biaya standar menunjukkan harga bahan baku per ons Rp. 100,-
Upah buruh per jam tenaga kerja langsung Rp. 225,-
biaya overhead tetap Rp. 6.600.000,- / tahun.
BOP variabel Rp. 100,- per jam karja langsung.

Data-data lain pada tahun 1998 menunjukkan:


Selisih pengawasan tidak menguntungkan Rp. 835.000,-
Selisih menguntungkan Rp. 550.000,-
Persediaan barang jadi : awal ( 1 jan uari ) 1000 unit dan akhir ( 31 Desember ) 1500
unit
Bahan baku yang sesungguhnya dipakai dalam proses 26.400 kg.
Produk jadi yang dipindahkan ke gudang adalah 66.000 unit.

Diminta :
Buatlah laporan Harga Pokok Penjualan dengan metode absorption dan direct costing !
9
Akuntansi Manajemen hal.
Contoh Kasus Penentuan Harga Pokok Produksi (HPP) Konvensional
PT. ADIPURA SETIA ABADI adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang
pengolahan bahan baku menjadi produk siap dijual. Berikut adalah data – data biaya
produksi perusahaan yang dikumpulkan pada akhir periode 2005:
1. Biaya produksi.
Biaya bahan baku (raw material ) Rp. 8.000 / unit
Biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost ) Rp. 5.500 / unit
Total biaya overhead pabrik (BOP) Rp. 800.000.000 / th
(Variabel 70%, Tetap 30%)
Total biaya administrasi dan umum Rp. 72.000.000 / th
(Variabel 40%, Tetap 60%)
Total biaya pemasaran Rp. 55.000.000 / th
(Variabel 60%, Tetap 40%)
2. Harga jual produk jadi sebesar Rp 52.000/unit
3. Data penjulan dan produksi
Persediaan awal 6.500 unit
Produksi 95.000 unit
Penjualan 60.000 unit
Persediaan akhir 12.500 unit

Diminta:
1. Tentukan biaya produksi per unit dengan metode full costing dan variabel costing !
2. Susunlah laporan laba rugi dengan metode full costing dan variabel costing !
3. Buat analisis perbedaan laba antara kedua metode tersebut dan cari penyebabnya!

JAWABAN CONTOH KASUS


1. Biaya Produksi per Unit

v BOP Tetap/unit = 30% x Rp. 800.000.000 = 2.526,3 ,-/unit

95.000
v BOP Variabel/unit = 70% x 800.000.000 = 5.894,7 ,-/unit

95.000

Biaya Produksi /

Unit
Metode Full Costing
Metode Variabel Costing
BBB
8.000
8.000
BTKL
5.500
5.500
BOP Variabel
5.894,7
5.894,7
BOP Tetap
2.526,3
-
Total Biaya Produksi
21.921
19.394,7

2. Laporan Rugi Laba


a. Full Costing
INCOME STATEMENT
Penjualan ( 60.000 x Rp. 52.000) Rp. 3.120.000.000
HPP
Persediaan Awal ( 6.500 x Rp. 21.921 ) Rp. 142.486.500
BBB ( 95.000 x Rp. 8.000 ) Rp. 760.000.000
BTKL (95.000 x Rp. 5.500) Rp. 522.500.000
BOP Variabel (95.000 x Rp 5.894,7) Rp. 559.996.500
BOP Tetap (95.000 x Rp 2.526,3) Rp. 239.998.500 +

. Biaya produksi Rp. 2.082.495.000 +


BTUD Rp. 2.224.981.500

Persediaan akhir (12.500 x 21.921)


( Rp. 274.012.500) +
HPP
(Rp1.950.969.000) -
Laba kotor

Rp. 1.169.031.000
Biaya operasi :

Biaya administrasi dan umum

* Variabel (40% x 72.000.000) = Rp. 28.800.000


* Tetap (60% x 72.000.000) = Rp.43.200.000 +
Rp. 72.000.000

Biaya Pemasaran
* Variabel (60% x 55.000.000) = Rp. 33.000.000
* Tetap (40% x 55.000.000) = Rp. 22.000.000 +
Rp. 55.000.000 +

Total biaya operasi


(Rp. 127.000.000) -

Laba Bersih Rp. 1.042.031.000

b. Variabel Costing
INCOME STATEMENT
Penjualan ( 60.000 x Rp. 52.000) Rp.3.120.000.000
HPP
Persediaan Awal ( 6.500 x Rp. 19.394,7 ) Rp. 126.065.550
BBB ( 95.000 x Rp. 8.000 ) Rp. 760.000.000
BTKL (95.000 x Rp. 5.500) Rp. 522.500.000
BOP Variabel (95.000 x Rp 5.894,7) Rp. 559.996.500
Biaya Produksi Rp. 1.842.496.500 +
BTUD Rp. 1.968.562.050
Persediaan Akhir ( 12.500 x 19.394,7) (Rp. 242.433.750) -
HPP Rp. 1.726.128.300
*By Adm & Um Var (40% x 72.000.000) Rp. 28.800.000
*By Pemasaran Var(60% x 55.000.000) Rp. 33.000.000 +
Total Biaya Variabel Rp 1.787.928.300 -
Laba Kontribusi Rp. 1.332.071.700
Biaya Tetap
*BOP Tetap (95.000 x 2.526,3) Rp. 239.998.500
*Biaya Adm & Umum Tetap (60% x 72.000.000) Rp. 43.200.000
*Biaya Pemasaran Tetap (40% x 55.000.000) Rp. 22.000.000 +
Total Biaya
Tetap Rp. (305.198.500)

- Laba Bersih Rp. 1.026.873.200


4. Setelah dilakukan perhitungan diketahui bahwa laba usaha dengan metode full costing
sebesar Rp. 1.042.031.000,- lebih besar dari pada menggunakan metode variabel costing
sebesar Rp. 1.026.874.200,- Perbedaan tersebut disebabkan karena adanya perbedaan
dalam penentuan biaya produksi per unit dimana dalam metode full costing biaya
produksi/unit sebesar Rp 21.921 dan pada metode variabel costing sebesar Rp. 19.394,7,
sehingga berpengaruh pada nilai persediaan awal dan persediaan akhir pada kedua
mertode tersebut, yang pada akhirnya menyebabkan perbedaan pada besarnya laba
usaha.
Activity Based Costing adalah system informasi biaya yang berorientasi biaya
pada penyediaan informasi lengkap tentang aktivitas untuk memungkinkan personel
perusahaan melakukan pengelolaan terhadap aktivitas. System informasi ini
menggunakan aktivitas sebagai basis serta pengurangan biaya dan penentuan secara
akurat biaya produk atau jasa sebagai tujuan. System informasi ini diterapkan dalam
perusahaan manufaktur, jasa, dan dagang.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Activity Based Costing
adalah suatu pendekatan terhadap system akuntansi yang memfokuskan pada aktivitas
yang dilakukan untuk memproduksi produk, dimana aktivitas tersebut merupakan titik
akumulasi biaya yang mendasar.
Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas ini didasarkan pada konsep produk yang
mengkonsumsi aktivitas dan aktivitas mengkonsumsi sumber daya. Dengan metode ini
diharapkan manajemen dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan aktivitas-aktivitas
yang bernilai tambah ( aktivitas yang dipertimbangkan tidak memberi kontribusi terhadap
nilai pelangan atau terhadap kebutuhan organisasi)
Perusahaan yang menghasilkan satu jenis produk, perhitungan biaya per unit
produk sangat sederhana, yaitu total biaya yang berkaitan dengan unit produksi dibagi
dengan jumlah unit yang diproduksi. Ingat bahwa definisi biaya produk tergantung pada
tujuan manajerial yang dipenuhi. Sebagai contoh, biaya produk seringkali didefinisikan
sebagai biaya produksi, bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead. Namun,
biaya produk juga berguna untuk membuat beberapa keputusan tertentu. Sebagai contoh,
biaya produk dapat menjadi masukan penting untuk penetapan harga penawaran.
Sedangkan proses pengkaitan biaya dengan unit yang diproduksi setelah biaya tersebut
diukur disebut pembenahan biaya (cost assignment).
System pembenahan biaya secara tradisional mengandalkan basis alokasi yang
dikendalikan oleh volume produksi. Sebaliknya, system ABC mendefinisikan
kedalam lima aktivitas yang sebagian besar tidak berkaitan dengan volume unit yang
dihasilkan. Kelima aktivias tersebut adalah :
1. Unit-Level Activities yang dilaksanakan setiap waktu dari unit yang diproduksi.
Biaya aktivitas di tingkat unit harus proposional dengan jumlah unit yang
diproduksi
2. Batch-Level Activities yang dilakukan setiap batch yang ditangani atau
diproduksi, dengan mengesampingkan berapa jumlah unit dalam batch. Contoh,
pelaksanaan penempatan pesanan pengaturan peralatan dan pengiriman ke
pelanggan, adalah aktivitas dalam satu batch (paket). Besarnya biaya yang timbul
tergantung pada tiap-tiap unit yang ada pada tiap-tiap unit yang terjual.
3. Product-Level Ativities berkaitan dengan produk-produk khusus dengan tipe-tipe
khusus yang dilakukan dengan mengesampingkan jumlah batch-batch yang
diproduksi atau terjual. Contoh, produk-produk high-class yang perlu desain
khusus, iklan yang eksklusif, membentuk manajer dan staff khusus produk yang
bersangkutan adalah satu kesatuan dari Product-Level Activity.
4. Customer-Level Activities berkaitan dengan para pelanggan khusus dan
mencangkup aktivitas-aktivitas seperti sales calls, catalog mailing.
5. Organization-Sustaining Activities yang dilaksanakan tanpa memandang siapa
pelanggan yang dilayani, produk yang dihasilkan, berapa banyak batch-batch
yang dikelola, atau berapa unit yang dibuat. Kategori ini mencangkup pemesanan
mesin-mesin pabrik, penyediaan jaringan computer, persiapan laporan tahunan
kepada share holder dan sebagainya.