Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

REVIEW ARTIKEL SAP 4

Oleh :

KELOMPOK 1

I KOMANG KHRISNA ADHITYA PRATAMA 1881611027 02

TITIS HERLAMBANG 1881611035 10

ANAK AGUNG NGURAH GDE PUNIA ARTAWAN 1881611045 20

I GUSTI PUTU SUMA ARDANA 1881611047 22

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2019

1
Title : Factors Affecting The Choice Of Tangible Fixed Asset Accounting Methods:
Theoretical Approach

Author : Danute Zinkeviciene, Dr. And Giedre Vaisnoraite, MSt.

Area of Interest
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi manajemen
dalam menentukan metode perlakuan atas aset tetap yang mereka miliki. Terdapat dua faktor
yaitu lingkungan internal dan eksternal, dimana yang tergolong lingkungan internal adalah
lingkungan keuangan dan sumber daya manusia, sementara yang tergolong lingkungan
eksternal adalah keadaan ekonomi dan teknologi.

Phenomenon
Dalam hal bertahan serta mampu memperluas usaha di dalam suatu lingkungan bisnis,
sangatlah penting untuk mengetahui sumber daya yang mampu digunakan untuk produksi,
barang maupun jasa, dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Di dalam sebuah entitas bisnis,
kebanyakan sumber daya berupa aset tetap, sangatlah penting dalam menilai posisi keuangan
dan kinerja perusahaan yang akan berpengaruh pada operasional perusahaan pada masa yang
akan datang. Perubahan aset tetap tersebut dapat menyebabkan efek yang material pada hasil
kinerja jangka panjang, maka sangat penting untuk memiliki informasi akuntansi yang handal
dan tepat yang dapat terlihat dari metode akuntansi atas aset tetap yang relevan.

Theoritical Foundation
Penelitian ini menggunakan teori akuntansi positif sebagai teori utama. Prediksi yang
dibuat oleh PAT diorganisasikan secara luas pada tiga hipotesis yang diformulasikan oleh
Watts dan Zimmerman (1986). Kita akan memberi ketiga hipotesis ini bentuk oportunistik
mereka, karena menurut Watts dan Zimmerman (1990), ini adalah cara yang paling sering
digunakan ketika mereka diinterpretasikan :

1. Hipotesis Rencana Bonus

Dalam hipotesis ini, semua hal lain dalam keadaan tetap, para manajer perusahaan
dengan rencana bonus cenderung untuk memilih prosedur akuntansi dengan perubahan laba
yang dilaporkan dari periode masa depan ke periode masa kini. Hipotesis ini tampaknya
cukup beralasan. Para manajer perusahaan, seperti orang-orang lain, menginginkan imbalan
yang tinggi. Jika imbalan mereka bergantung, paling tidak sebagian, pada bonus yang
dilaporkan pada pendapatan bersih, maka kemungkinan mereka bisa meningkatkan bonus
mereka pada periode tersebut dengan melaporkan pendapatan bersih setinggi mungkin. Salah
satu cara untuk melakukan ini adalah dengan memilih kebijakan akuntansi yang
meningkatkan laba yang dilaporkan pada periode tersebut. Tentu saja, sesuai dengan karakter
dari proses akrual, hal ini akan cenderung menyebabkan penurunan pada laba dan bonus-
bonus yang dilaporkan pada masa yang akan datang, dengan taktor-faktor lain tetap sama.
Namun nilai masa kini (present value) dari kegunaan manajer dari lini bonus masa depan
yang dimilikinya akan meningkat dengan memberikan perubahan menuju masa kini.

2
2. Hipotesis Kontrak Hutang

Dalam hipotesis ini semua hal lain dalam keadaan tetap, makin dekat suatu perusahaan
terhadap pelanggaran pada akuntansi yang didasarkan pada kesepakatan utang, maka
kecenderungannya adalah semakin besar kemungkinan manajer perusahaan memilih prosedur
akuntansi dengan perubahan laba yang dilaporkan dari periode masa depan ke periode masa
kini. Alasannya adalah laba yang dilaporkan yang makin meningkat akan menurunkan
kelalaian teknis. Sebagian besar dari perjanjian hutang berisi kesepakatan bahwa pemberi
pinjaman harus bertemu selama masa perjanjian. Sebagai contoh, perusahaan yang mendapat
pinjaman boleh sepakat memelihara level tertentu dari hutang terhadap harta, laporan bunga,
modal kerja, dan harta pemilik saham. Jika kesepakatan semacam itu dikhianati, perjanjian
hutang tersebut bisa memberikan/mengeluarkan penalti, seperti pembatasan dividen atau
tambahan pinjaman. Dengan jelas, prospek dari pelanggaran kesepakatan membatasi kegiatan
perusahaan dalam operasional perusahaan itu sendiri. Untuk mencegah, atau paling tidak
menunda, pelanggaran semacam itu, perusahaan bisa memilih kebijakan akuntansi tertentu
yang bisa meningkatkan laba masa kini. Berdasarkan hipotesis kesepakatan hutang, ketika
perusahaan mendekati kelalaian, atau memang sudah berada dalam lalai/cacat, lebih
cenderung untuk melakukan hal ini.

3. Hipotesis biaya politik

Dalam hipotesis ini semua hal lain dalam keadaan tetap, makin besar biaya politik yang
mesti ditanggung oleh perusahaan, manajer cenderung lebih memilih prosedur akuntansi
yang menyerah pada laba yang dilaporkan dari masa sekarang menuju masa depan. Hipotesis
biaya politik memperkenalkan suatu dimensi politik pada pemilihan kebijakan akuntansi.
Perusahaan-pemsahaan yang ukurannya sangat besar mungkin dikenakan standar kinerja
yang lebih tinggi, dengan penghargaan terhadap tanggung jawab lingkungan, hanya karena
mereka merasa bahwa mereka besar dan berkuasa. Jika perusahaan besar juga memiliki
kemampuan meraih profit yang tinggi, maka biaya politik bisa diperbesar. Perusahaan-
perusahaan juga mungkin akan menghadapi biaya politik pada poin-poin waktu tertentu.
Persaingan luar negeri mungkin mengarah pada menurunnya profitabilitas kecuali perusahaan
yang terkena dampaknya ini bisa mempengaruhi proses politik untuk bisa melindungi impor
secara keseluruhan. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan mengadopsi
kebijakan akuntansi income-decreasing (pendapatan menurun) dalam rangka meyakinkan
pemerintah bahwa profit sedang turun.

Methodology
Penelitian ini menggunakan metode penelitian umum. Analisis komparatif dari
beberapa literatur sebelumnya digunakan untuk menganalisa alasan potensial dan motif
dibalik pemilihan metode akuntansi aset tetap. Metode induksi, deduksi, dan analisis logika
digunakan untuk mengidentifikasi pengaruh dari faktor-faktor yang dalam menentukan
pemilihan metode akuntansi aset tetap yang terhadap kinerja.

3
Data and Method
Penelitian ini didasarkan pada penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di
Lithuania dan beberapa penelitian asing yang menggunakan dasar Teori Akuntansi Positif
sebagai dasar teori penelitian.

Findings
Lingkungan yang mempengaruhi pemilihan metode akuntansi dapat digolongkan ke
dalam 2 faktor yaitu :

a. Faktor internal
- Faktor keuangan, meliputi : pemaksimalan nilai perusahaan dan masalah kredit
dimana kredit dapat diukur dengan rasio leverage.
- Faktor sumber daya manusia, meliputi : informasi akuntansi yang dibutuhkan
pengguna dan ekspektasi dari manajemen.
b. Faktor eksternal
- Faktor ekonomi, meliputi : situasi ekonomi dalam suatu negara dan situasi
politik, dimana situasi politik yang dimaksud adalah besarnya organisasi,
profitabilitas, dan cabang dari industri terkait.
- Faktor teknologi, dimana di dalamnya terdapat perubahan teknologi yang cepat.
Faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan metode akuntansi atas aset tetap
diantaranya, faktor keuangan, ekonomi, sumber daya manusia, dan teknologi. Keempat faktor
tersebut menjadi motivasi manajemen dalam menentukan metode akuntansi atas aset tetap.
Sesuai dengan landasan teori yang digunakan yaitu teori akuntansi positif, dimana hipotesis
pertama yaitu motivasi bonus.
Dalam menentukan metode akuntansi yang digunakan, manajemen tentu saja berusaha
untuk memaksimalkan kinerja dari perusahaan karena manajemen termotivasi oleh bonus
yang mereka peroleh seiring dengan meningkatnya performa dari perusahaan. Hal tersebut
yang akan memengaruhi manajemen dalam memilih metode akuntansi atas aset tetap yang
mampu meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Hipotesis kedua adalah masalah kredit atau pinjaman yang dilakukan oleh manajemen.
Manajemen terikat kontrak dengan kreditur atas sumber dana yang digunakan. Perusahaan
dituntut untuk berada tetap dalam jalur yang ditentukan oleh kreditur. Semakin tinggi
pinjaman perusahaan, maka akan memengaruhi kondisi rasio leverage yang ada. Tingginya
leverage dapat mengindikasikan perusahaan dalam kesulitan keuangan, sehingga pemilihan
metode atas aset setidaknya dapat memengaruhi profitabiltias.
Hipotesis terakhir adalah biaya politik. Hipotesis ini diproksikan oleh kondisi ekonomi
eksternal. Perusahaan yang lebih besar yang memperoleh laba lebih besar, akan
mengeluarkan biaya politik yang lebih besar. Untuk mengurangi besarnya biaya politik,
manajemen akan memilih metode akuntansi yang dapat mengurangi laba tahun berjalan.
Dalam hal meningkatkan laba, alternatif yang dapat digunakan oleh manajemen adalah
sebagai berikut :
1. Mengakuisisi aset tetap
2. Menurunkan nilai aset
3. Menggunakan metode penyusutan garis lurus

4
4. Meningkatkan nilai residu atas aset
5. Meningkatkan estimasi penggunaan aset
6. Memasukkan biaya pemeliharaan ke dalam nilai buku
Sementara untuk menurunkan jumlah laba, manajemen dapat melakukan hal :
1. Merevaluasi aset
2. Meningkatkan nilai aset
3. Menggunakan metode penyusutan jumlah angka tahun dan menurun berganda
4. Menurunkan nilai residu
5. Mengurangi etimasi penggunaan aset
6. Membiayakan biaya pemeliharaan

Conclusions
Penelitian ini menganalisis pilihan metode akuntansi atas aset tetap dari perspektif hasil
kinerja. Dalam konteks ini, dua kebijakan akuntansi alternatif didefinisikan, yaitu
peningkatan laba atau penurunan laba.
Berdasarkan hasil penelitian ilmiah sebelumnya dan hipotesis dari teori akuntansi
positif, klasifikasi faktor yang mempengaruhi pilihan metode akuntansi TFA
mempertimbangkan lingkungan organisasi bisnis. Faktor-faktor tersebut diklasifikasikan ke
dalam lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Faktor keuangan dan sumber daya
manusia merupakan lingkungan internal, sedangkan faktor ekonomi dan teknologi dianggap
sebagai faktor yang berasal dari lingkungan luar.
Faktor financial yang dianggap paling berpengaruh adalah rasio leverage, yang
didasarkan pada hipotesis kontrak hutang, dan maksimalisasi nilai perusahaan berhubungan
dengan efisiensi pasar serta insentif yang diterima manajemen (bonus). Faktor keadaan
ekonomi suatu negara termasuk ke dalam faktor ekonomi. Faktor biaya politik dapat
dihubungkan dengan ukuran dan profitabilitas perusahaan.

Recommendations
Hasil penelitian ini akan berkontribusi pada pilihan yang paling tepat dari pemilihan
metode akuntansi atas aset tetap oleh manajemen perusahaan, keputusan manajemen yang
tepat, dan sesuai dengan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan

REFERENSI
Zinkeviciene, Danute and Giedre Vaisnoraite. 2014. Factors Affecting The Choice Of
Tangible Fixed Asset Accounting Methods: Theoretical Approach. Europan Scientific
Journal, june 2014, Vol. 1, pp 198-208.

5
Title : Ukuran Perusahaan dan Margin Laba Kotor Terhadap Pemilihan
Metode Penilaian Persediaan di Perusahaan Manufaktur
Author : Seyla Sangeroki
Area of Interest
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan dan margin
laba kotor terhadap pemilihan metode penilaian persediaan di perusahaan manufaktur di BEI.
Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku
menjadi produk jadi dan melakukan penjualan produk tersebut kepada konsumen atau
perusahaan lain. Sebagai perusahaan yang mempunyai dua fungsi sekaligus sangatlah penting
bagi perusahaan untuk membuat suatu kajian dalam persediaan perusahaan tersebut
menyangkut bagaimana kontrol atas barang sampai metode persediaan apa yang nantinya
akan digunakan perusahaan dalam membuat suatu kebijakan penentuan harga pokok
penjualan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap
pemilihan metode penilaian persediaan. Perusahaan-perusahaan besar memilih menggunakan
metode rata-rata yang dapat menurunkan laba sehingga menghemat pajak, sedangkan
perusahaan-perusahaan kecil memilih menggunakan metode FIFO yang dapat menaikan laba.

Phenomenon
Ada dua hal yang memotivasi sebagian besar manajemen perusahaan untuk memilih
metode penentuan persediaan. Pertama, pengaruh laba bersih dimana manajer memilih untuk
melaporkan laba yang lebih tinggi untuk perusahaan mereka dan yang kedua, pengaruh pajak
pendapatan dimana manajer cenderung untuk memilih membayar pajak yang lebih rendah
sejauh tidak melanggar aturan perpajakan tertentu. Konflik antara dua motivasi tersebut
biasanya dipecahkan dengan memilih satu metode akuntansi untuk pelaporan eksternal dan
metode yang berbeda untuk menyusun laporan keuangan untuk kepentingan perpajakan.

Rumusan Masalah Penelitian


Rumusan masalah dari penelitian ini adalah:
1) Bagaimana pengaruh ukuran perusahaan terhadap pemilihan metode penilaian
persediaan di perusahaan manufaktur di BEI ?
2) Bagaimana pengaruh margin laba kotor terhadap pemilihan metode penilaian
persediaan di perusahaan manufaktur di BEI ?

6
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang diuraikan di atas maka tujuan dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan terhadap pemilihan metode penilaian
persediaan di perusahaan manufaktur di BEI.
2) Untuk mengetahui pengaruh margin laba kotor terhadap pemilihan metode penilaian
persediaan di perusahaan manufaktur di BEI.

Theoritical Foundation

Akuntansi Persediaan
Akuntansi persediaan adalah aktiva yang ditujukan untuk dijual atau diproses lebih lanjut
untuk menjadi barang jadi dan kemudian dijual sebagai kegiatan utama perusahaan. Libby
(2007: 336) menyatakan bahwa persediaan adalah aset berwujud yang :
a. Dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam operasi normal bisnis atau
b. Digunakan untuk menghasilkan produk atau jasa yang akan dijual.
Ada 4 metode penilaian persediaan yang digunakan yaitu metode Identifikasi Khusus,
metode Rata – rata, metode FIFO dan metode LIFO. Metode Identifikasi Khusus ( specific
identification method ) digunakan dengan cara mengidentifikasi setiap barang yang akan
dijual dan setiap barang dalam pos persediaan. Biaya barang–barang yang telah terjual
dimasukkan dalam harga pokok penjualan, sementara biaya barang–barang khusus yang
masih berada ditangan dimasukkan pada persediaan. Metode ini hanya bisa digunakan dalam
kondisi yang memungkinkan perusahaan memisahkan pembelian yang berbeda yang telah
dilakukan secara fisik. Metode biaya rata–rata merupakan rata–rata tertimbang biaya per unit
barang yang tersedia untuk dijual, baik untuk harga pokok penjualan dan persediaan akhir
(Libby, 2007 : 344).
Metode FIFO mengasumsikan bahwa barang–barang yang digunakan (dikeluarkan)
sesuai urutan pembeliannya. Dengan kata lain, metode ini mengasumsikan bahwa barang
pertama yang dibeli adalah barang yang pertama digunakan (dalam perusahaan manufaktur)
atau dijual (dalam perusahaan dagang). Karena itu persediaan yang tersisa merupakan barang
yang dibeli terakhir. Metode LIFO menandingkan (matches) biaya dari barang–barang yang
paling akhir dibeli terhadap pendapatan. Jika yang digunakan adalah persediaan periodik,
maka akan diasumsikan bahwa biaya dari total kuantitas yang terjual / dikeluarkan selama
satu bulan berasal dari pembelian akhir. Jika yang digunakan adalah sistem persediaan

7
perpetual baik dalam kualitas maupun kuantitas, aplikasi metode FIFO akan menghasilkan
nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan yang berbeda.

Methodology
1) Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yaitu ukuran
perusahaan dan margin laba kotor sedangkan data kualitatifnya adalah metode penilaian
persediaan, sumber data yaitu data sekunder, dimana data dapat diperoleh dari Pusat
Informasi Pasar Modal (PIMP) kantor perwakilan Manado.

2) Populasi dan Sampel


Populasi dalam penelitian ini yaitu semua perusahaan manufaktur yang listing di Bursa
Efek Indonesia dari tahun 2007 sampai 2010 yaitu sebanyak 151 perusahaan. Pemilihan
sampel penelitian didasarkan pada metode purposive sampling, yaitu teknik pengambilan
sampel dengan pertimbangan atau kriteria tertentu. Jumlah perusahaan yang menjadi sampel
penelitian yaitu 60 perusahaan sesuai dengan kriteria yang berlaku.

3) Definisi Operasional Variabel


1. Variabel Independen
a. Ukuran perusahaan
Ukuran perusahaan menunjukan besar kecilnya perusahaan dengan melihat penjualan
bersih perusahaan. Variabel ini diukur dari total penjualan bersih dari tahun 2006-
2010. Dengan skala pengukuran yang digunakan adalah skala nominal.
b. Rasio Margin Laba Kotor
Margin laba kotor merupakan perbandingan antar laba kotor dengan penjualan bersih.
Dengan skala pengukurannya adalah skala Rasio.
2. Variabel Dependen
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemilihan metode
penilaian persediaan. Variabel ini menggunakan variabel dummy, dengan pengukuran ; 1
(satu) = Rata-rata, 0 (nol) = FIFO.

4) Metode Pengujian Hipotesis


Regresi logistik digunakan untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan, dan margin laba
kotor terhadap pemilihan metode penilaian persediaan.

8
Findings

1) Hipotesis 1
Hasil uji regresi logistik pada variabel ukuran perusahaan diperoleh signifikansi sebesar
0,042. Apabila dibandingkan dengan nilai signifikasi sebesar 5%, maka nilai signifikansi
0,042 lebih kecil dari tingkat signifikansi sebesar 5% sehingga hipotesis 1 (H1) diterima, hal
ini berarti variabel ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pemilihan metode persediaan.
Kenyataan yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah perusahaan besar cenderung untuk
memilih menggunakan metode penilaian persediaan rata–rata dibandingkan menggunakan
metode penilaian persediaan FIFO. Hal ini sesuai dengan teori yang ada dimana perusahaan
besar cenderung untuk memilih metode rata–rata yang dapat menurunkan laba untuk
penghematan pajak, sedangkan perusahaan kecil memilih metode FIFO agar dapat
meningkatkan laba, sehingga akan memberikan gambaran kinerja yang bagus, dengan
demikian kemungkinan mendapatkan dana dari bank atau lembaga keuangan lainnya
semakin besar.
2) Hipotesis 2
Pengujian variabel margin laba kotor dengan menggunakan regresi logistik diperoleh
signifikansi sebesar 0,701, maka jika dibandingkan dengan tingkat signifikansi 5%,
diketahui bahwa tingakt signifikansi 0,701 lebih besar dari signifikansi 0,05, sehingga
variable margin laba kotor tidak mempengaruhi pemilihan metode persediaan dalam
peneltian ini, artinya hipotesis 2 (H2) ditolak dalam penelitian ini.

Conclusions
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan adalah :
1. Hasil pengujian dengan regresi logistik menunjukan bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh terhadap pemilihan metode penilaian persediaan. Perusahaan–perusahaan
besar cenderung memilih menggunakan metode rata- rata yang dapat menurunkan laba
sehingga menghemat pajak, sedangkan perusahaan–perusahaan kecil cenderung untuk
memilih menggunakan metode FIFO yang dapat menaikan laba.
2. Pengujian dengan regresi logistik terhadap variabel margin laba kotor secara signifikan
tidak berpengaruh terhadap pemilihan metode persediaan. Perusahaan cenderung tidak
terpengaruh dengan besarnya laba kotor dalam pemilihan metode penilaian persediaan
perusahaan.

9
Further Researches
Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan seluruh sektor yang terdaftar di BEI
untuk memperluas sampel penelitian dengan sebisa mungkin untuk dapat mengakses data-
data metode penilaian persediaan yang dalam penelitian ini tidak dapat diketahui oleh penulis
dan memperlebar interval penelitian diatas 10 tahun. Penelitian selanjutnya juga perlu
mempertimbangkan faktor-faktor eksternal entitas untuk menentukan pemilihan metode
persediaan seperti pangsa pasar. Perbedaan pemilihan metode persediaan yang diijinkan oleh
PSAK dapat digunakan sebagai dasar penelitian komparatif untuk menilai keberhasilan rasio
kinerja perusahaan antara yang menggunakan metode rata-rata dan metode FIFO dalam
sector industri sejenis.

REFERENSI
Sangeroki, Seyla. 2011. Ukuran Perusahaan dan Margin Laba Kotor Terhadap
Pemilihan Metode Penilaian Persediaan di Perusahaan Manufaktur. Jurnal EMBA, 1 (3), pp :
1185-1192.

10