Anda di halaman 1dari 16

PERAN PEMERINTAH DALAM PEMBINAAN KOPERASI

This paper is proposed to fulfill the task of Enterpreneurship subject which is


guided by Ms Ema Desia

Nur Aningsih 150810201151

Anggi Anggraini 150810201189

Anggun Nurcahyani 150810201196

Kurnia Dwi Destiana 150810201199

Yayuk Harini 150810201236

MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSIAS JEMBER
2018

i
TABLE OF CONTENTS

CONTENT ............................................................................................................... I

1. PERAN PEMERINTAH TERHADAP PEMBINAAN KOPERASI PADA


UU NO.25 TAHUN 1992 .................................................................................3
2. DASAR HUKUM DIBENTUKNYA KEMENKOP SEBAGAI PENERIMA
MANDAT PEMERINTAH DALAM MEMBINA KOPERASI ......................4
3. KEDUDUKAN, TUGAS DAN FUNGSI KOPERASI ....................................5
4. PROGRAM KEMENKOP SAAT INI : REFORMASI KOPERASI +
PROGRAM UNGGULAN ...............................................................................7
5. PROGRAM KEMENKOP SAAT INI : KEGIATAN STRATEGIS
KEMENKOP ..................................................................................................12

REFERENCES........................................................................................................ II

i
REFERENCES

Siswoyo., MM, Prof. Dr. H. Bambang Baru. Dkk (2012). Pengembangan


Koperasi Wanita. Surabaya. Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah
http://citraayuananda.blogspot.com/2011/11/permodalan-koperasi.html
http://ocw.gunadarma.ac.id/course/economics/management-s1/ekonomi-
koperasi/permodalan-koperasi
http://pratiwi08.blogspot.com/2010/11/bab-viii-permodalan-koperasi.html
http://prasetyooetomo.wordpress.com/2011/11/15/permodalan-koperasi/
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/sumber-permodalan-koperasi/

ii
1. Peran pemerintah dalam UU 25/1992

Peran pemerintah dalam pengembangan koperasi di suatu negara sangat dibutuhkan


terutama di negara berkembang karena adanya kemungkinan-kemungkinan koperasi yang
belum sepenuhnya bisa mengatur lingkungannya sendiri. Serta dasar negara hukum yang
harus mengayomi masyarakatnya termasuk suatu badan yang berdiri yang dapat membantu
perkembangan perekomonian negara tersebut. Oleh karena itu peran pemerintah dalam
menhadari manfaat dari berdirinya suau koperasi di suatu negara sangatlah penting sehingga
dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 telah dijelaskan beberapa peran pemerintah
untuk mendukung suatu koperasi dalam Pasal 60 sebagai berikut:

Pasal 60

(1) Pemerintah menciptakan dan mengembangkan iklim dan kondisi yang mendorong
pertumbuhan serta pemasyarakatan Koperasi.
(2) Pemerintah memberikan bimbingan, kemudahan, dan perlindungan kepada Koperasi.

Dalam rangka mewujudkan peran pemerintah terhadap koperasi yang ada di Indonesia
pada Pasal 60 diatas, maka Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 juga memuat beberapa
pasal yang menjelaskan bentuk-bentuk peran pemerintah dalam Pasal 60 yang lebih spesifik.
Pasal 61 menjelaskan lebih detail tentang Pasal 60 ayat 1, sedangkat ayat 2 dijelaskan dalam
beberapa pasal yaitu Pasal 62 sampai Pasal 63 sebagai berikut:

Pasal 61

Dalam upaya menciptakan dan mengembangkan iklim dan kondisi yang mendorong
pertumbuhan dan pemasyarakatan Koperasi, Pemerintah:

a. memberikan kesempatan usaha yang seluas-luasnya kepada Koperasi;


b. meningkatkan dan memantapkan kemampuan Koperasi agar menjadi Koperasi yang
sehat, tangguh, dan mandiri;
c. mengupayakan tata hubungan usaha yang saling menguntungkan antara Koperasi
dengan badan usaha lainnya;
d. membudayakan Koperasi dalam masyarakat.

Pasal 62

Dalam rangka memberikan bimbingan dan kemudahan kepada Koperasi, Pemerintah:

3
a. membimbing usaha Koperasi yang sesuai dengan kepentingan ekonomi
anggotanya;
b. mendorong, mengembangkan, dan membantu pelaksanaan pendidikan, pelatihan,
penyuluhan, dan penelitian perkoperasian;
c. memberikan kemudahan untuk memperkokoh permodalan Koperasi serta
mengembangkan lembaga keuangan Koperasi;
d. membantu pengembangan jaringan usaha Koperasi dan kerja sama yang saling
menguntungkan antarkoperasi;
e. memberikan bantuan konsultansi guna memecahkan permasalahan yang dihadapi
oleh Koperasi dengan tetap memperhatikan Anggaran Dasar dan prinsip Koperasi.

Pasal 63

(1) Dalam rangka pemberian perlindungan kepada Koperasi, Pemerintah dapat:


a. menetapkan bidang kegiatan ekonomi yang hanya boleh diusahakan oleh Koperasi;
b. menetapkan bidang kegiatan ekonomi di suatu wilayah yang telah berhasil
diusahakan oleh Koperasi untuk tidak diusahakan oleh badan usaha lainnya.
(2) Persyaratan dan tata cara pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Selain itu pada Pasal 64 dijelaskan bahwa pembinaan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62, dan Pasal 63 dilakukan dengan memperhatikan keadaan dan
kepentingan ekonomi nasional, serta pemerataan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja.
Artinya bahwa ayat-ayat yang tercantum pada pasal 60 sampai 63 sebagai peran
pemerintah dalam pembinaan koperasi tidak semerta-merta dilakukan tanpa ada
pertimbangan yang matang dan strategi yang tepat, melainkan harus memperhatikan setiap
aspek yang mungkin mempengaruhi sehingga pemerintah dapat melakukan tindakan yang
sesuai dan tepat sasaran demi kebaikan dan kelancaran koperasi maupun negara.

2. Dasar Hukum Dibentuknya Kementerian Koperasi Dan Usaha Kecil Menengah


Terbentuknya Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Berdasarkan :
1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 228/M Tahun 2001.
2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Menteri Negara.

4
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Departemen.
4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 2001 tentang Unit
Organisasi dan Tugas Eselon I Menteri Negara.
5. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Kewenangan, Susunan Organisasi Kementerian Negara Koperasi dan UKM.
6. Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Peraturan
Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia.
7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2015 tentang
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Dan Menengah.

3. KEDUDUKAN, TUGAS DAN FUNGSI KOPERASI


3.1 KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI KEMENTERIAN KOPERASI DAN
UKM

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2015 tentang


Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah mengatur bahwa kedudukan
Kementerian Koperasi dan UKM berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Presiden dan dipimpin oleh Menteri. Kementerian Koperasi dan UKM mempunyai
tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah (UKM) untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan
negara. Dalam melaksanakan tugas tersebut Kementerian Koperasi dan UKM
menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang peningkatan kapasitas
kelembagaan Koperasi dan UKM, pemberdayaan pembiayaan Koperasi dan
UKM, pemberdayaan produksi dan pemasaran Koperasi dan UKM,
restrukturisasi usaha Koperasi dan UKM, pengembangan sumber daya manusia
Koperasi dan UKM, dan pemeriksaan dan pengawasan Koperasi;
2. Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan
kapasitas kelembagaan Koperasi dan UKM, pemberdayaan pembiayaan
Koperasi dan UKM, pemberdayaan produksi sumber daya manusia Koperasi
dan UKM, dan pemeriksaan dan pengawasan Koperasi;

5
3. Koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan
administrasi di lingkungan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah;
4. Pengelolaan barang milik negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian
Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah;
5. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Koperasi dan
Usaha Kecil dan Menengah.
Kedudukan, tugas dan fungsi tersebut merupakan mandatory dan legalitas bagi
Kementerian Koperasi dan UKM untuk melakukan program/kegiatan di Bidang
Koperasi dan UKM. Pelaksanaan kebijakan dan program pembangunan koperasi dan
UKM secara kontinyu dan berkelanjutan yang merupakan upaya untuk ditempuh guna
mendorong peningkatan perekonomian nasional terutama dalam rangka mengentaskan
kemiskinan dan pengangguran.

3.2 VISI, MISI, DAN STRATEGI KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM SAAT
INI
Visi dan misi Kementerian Koperasi dan UKM pada tahun 2015-2019 diarahkan
untuk mendukung pencapaian visi Presiden, sebagaimana tertuang di dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Hal tersebut,
selanjutnya dijabarkan kedalam visi dan misi Kementerian Koperasi dan UKM tahun
2015-2019, yaitu: “Mewujudkan Koperasi dan UKM yang Sehat, Kuat, Tangguh dan
Mandiri untuk Berkontribusi Dalam Perekonomian Nasional
Misi dengan mewujudkan visinya, maka Kementerian Koperasi dan UKM perlu
menjalankan misi yang tepat melalui 3 Misi Pembangunan yaitu:

a. Mewujudkan kelembagaan koperasi yang sehat dan berkualitas;


b. Mewujudkan pelaku UKM yang mampu menciptakan lapangan kerja serta
pemerataan pendapatan;
c. Mewujudkan Koperasi dan UKM yang mampu mendorong pertumbuhan
ekonomi serta pengentasan kemiskinan

Strategi Kementerian KUKM saat ini:


Lima strategi sebagaimana dituangkan dalam RPJMN tahun 2015-2019 yaitu:
1. Peningkatan kualitas sumber daya manusia;
2. Peningkatan akses pembiayaan dan perluasan skema pembiayaan;

6
3. Peningkatan nilai tambah produk dan jangkauan pemasaran;
4. Penguatan kelembagaan usaha;
5. Kemudahan, kepastian dan perlindungan usaha.
Lima strategi diatas adalah sarana untuk melasanakan arah kebijakan
Kementerian KUKM. Dengan memperhatikan tantangan dan sasaran pembangunan
Koperasi dan UKM ke depan, dan merujuk pada arah kebijakan nasional di bidang
Koperasi dan UKM tahun 2015-2019, maka kebijakan yang dilaksanakan oleh
Kementerian Koperasi dan UKM pada tahun 2015-2019 diarahkan untuk
“meningkatkan produktivitas, kelayakan dan nilai tambah Koperasi dan UMKM
sehingga mampu tumbuh ke skala yang lebih besar (“naik kelas”) dan berdaya saing”.
Kelima strategi tersebut dilaksanakan melalui beberapa langkah strategis yang
disusun berdasarkan Dimensi Pembangunan yang dituangkan di dalam RPJMN 2015-
2019 yaitu:
1. Dimensi Pembangunan Manusia;
2. Dimensi Pembangunan Sektor Unggulan;
3. Dimensi Pemerataan dan Kewilayahan.

d. REFORMASI KOPERASI

Mulai tahun 2015 dan dilanjutkan tahun 2016 dalam rangka akselerasi peningkatan
koperasi berkualitas sebagaimana mandat dari Bapak Presiden Republik Indonesia pada saat
Hari Koperasi Nasional, salah satu upaya dan langkah yaitu melalui program rencana aksi
Reformasi Koperasi. Selanjutnya Kementerian Koperasi dan UKM mengimplentasikan hal
tersebut melalui beberapa tahapan, sebagai berikut:
A) REHABILITASI
Pembaharuan organisasi koperasi melalui pemutakhiran data dan pembekuan dan
akan ditindaklanjuti dengan pembubaran koperasi.
B) REORIENTASI
Merubah paradigma dari pendekatan kuantitas menjadi pendekatan kualitas
kelembagaan koperasi. Adapun upaya dan langkah yang telah dilakukan sampai saat
ini, yaitu: (a) Peningkatan kapasitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan
perkoperasian; (b) Pemeriksaan ijin usaha koperasi; (c) Pemeriksaan kepengurusan
dan keanggotaan koperasi; (d) Pemeriksaan kinerja keuangan koperasi
C) PENGEMBANGAN

7
Secara bertahap dan terukur melakukan peningkatan dan pengembangan kapasitas
usaha serta kelembagaan koperasi untuk mendorong menjadi koperasi skala besar
internasional. Adapun upaya dan langkah yang telah dilakukan sampai saat ini, yaitu:
(a) Penilaian kesehatan kelembagaan koperasi; (b) Peningkatan kapasitas SDM
koperasi melalui Pendidikan dan Pelatihan serta Bimbingan Teknis Perkoperasian; (c)
Fasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR); (d) Fasilitasi Dana Bergulir melalui LPDB-
KUMKM.

PROGRAM UNGGULAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM


Kementerian Koperasi dan UKM dalam rangka percepatan pembangunan bidang Koperasi
dan UKM telah mencanangkan program unggulan, sebagai berikut:

I) Pendataan Data Koperasi dalam bentuk Pemberian Nomor Induk Koperasi


(NIK)
Maksud dan tujuan pemberian NIK, sebagai berikut:
1. Maksud pemberian Sertifikat NIK adalah:
a) Menertibkan kegiatan usaha Koperasi untuk meningkatkan kepercayaan
masyarakat dan pemangku kepentingan terhadap Koperasi;
b) Memudahkan pelayanan kebutuhan informasi tentang kualitas dan
kemampuan Koperasi.
2. Tujuan pemberian Sertifikat NIK adalah:
a) Mengidentifikasi kesehatan usaha dan kepatuhan Koperasi dalam
melaksanakan nilai dan prinsip Koperasi;
b) Memudahkan monitoring, evaluasi dan pengembangan Koperasi secara
terarah dan tepat sasaran melalui program peningkatan daya saing maupun
penguatan kelembagaan Koperasi;
c) Mendorong terwujudnya kerjasama antar Koperasi maupun dengan badan
usaha lainnya (BUMN, BUMD dan Swasta) dengan prinsip saling
memperkuat dan menguntungkan.

II) Fasilitasi Pembuatan Akta Koperasi bagi Usaha Mikro


Kegiatan Fasilitasi Pembuatan Akta Pendirian Koperasi bagi Usaha Mikro
dilakukan dalam bentuk pemberian fasilitasi bantuan dana yang bersifat stimulan
bagi pengusaha mikro. Pembuatan Akta Koperasi oleh Notaris Pembuat Akta

8
Koperasi (NPAK) ini ditujukan untuk membantu usaha mikro agar mempunyai
kepastian hukum dalam bentuk Badan Hukum Koperasi.
Alokasi bantuan dana sebesar Rp. 2.500.000,- per Akta Pendirian Koperasi.
Bantuan tersebut diarahkan untuk membayar NPAK yang telah memberikan
jasanya dalam rangka pendirian Koperasi, yakni meliputi memberi penyuluhan
perkoperasian kepada para pendiri Koperasi sebelum rapat pendirian Koperasi dan
membuat akta pendirian Koperasi serta mengurus proses pengesahan Badan
Hukum Koperasi kepada Menteri.
Disamping itu, pengesahan Badan Hukum Koperasi sudah dapat dilakukan
secara ONLINE melalui Sistem Administrasi Badan Hukum Koperasi
(SISMINBHKOP) berbasis Web bagi masyarakat yang akan mendirikan Koperasi,
sehingga pelayanan pengesahan badan hukum koperasi menjadi lebih mudah,
lebih sederhana, lebih cepat dan akuntabel.

III) Fasilitasi Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK)


Pengaturan Izin Usaha Mikro Kecil dilaksanakan berdasarkan Peraturan
Presiden RI Nomor 98 Tahun 2014 tentang Legalitas atau Perizinan Usaha Mikro
dan Kecil. Pelaksanaan Peraturan Presiden tersebut dijabarkan dalam Peraturan
Menteri Dalam Negeri nomor 83 tahun 2014 tentang Pedoman Pemberian Izin
Usaha Mikro dan Kecil, dan Nota Kesepahaman antara 3 (tiga) Kementerian yaitu
Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Koperasi dan UKM dan Kementerian
Perdagangan.
Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK) adalah tanda legalitas kepada seseorang
atau pelaku usaha/kegiatan tertentu dalam bentuk naskah satu lembar. Tujuan
fasilitasi ijin tersebut bagi usaha mikro dan kecil adalah untuk:
1) Mendapatkan kepastian dan perlindungan dalam berusaha dilokasi yang telah
ditetapkan;
2) Mendapatkan pendampingan untuk pengembangan usaha;
3) Mendapatkan kemudahan dalam akses pembiayaan ke lembaga keuangan bank
dan non-bank;
4) Mendapatkan kemudahan dalam pemberdayaan dari pemerintah, pemerintah
daerah dan/atau lembaga lainnya.

9
Pelaksana IUMK adalah Camat yang mendapatkan pendelegasian kewenangan
dari Bupati/Walikota. Pemberian IUMK kepada usaha mikro dan kecil dibebaskan
atau diberikan keringanan dengan tidak dikenakan biaya, retribusi, dan/atau
pungutan lainnya.

IV) Fasilitasi Standarisasi dan Sertifikasi Produk melalui HaKI


Pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (Hak Cipta dan Hak Merek) dilakukan
untuk lebih meningkatkan jumlah Koperasi dan UMKM yang mendapat
perlindungan atas Hak Kekayaan Intelektual. Kegiatan ini merupakan tindaklanjut
dari penandatanganan Nota Kesepahaman antara Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia dengan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah tentang
Perlindungan Kekayaan Intelektual dalam Rangka Peningkatan Daya Saing
Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Tujuannya adalah untuk lebih
meningkatkan jumlah Koperasi dan UMKM yang mendapat perlindungan serta
kreativitas atas Hak Kekayaan Intelektual.
Kegiatan ini memberikan kemudahan bagi Koperasi dan UMKM dalam
mendaftarkan Hak Cipta dan Hak Merek bagi produknya. Dalam kaitan itu,
fasilitasi yang diberikan oleh Kementerian Koperasi dan UKM adalah
mendaftarkan Hak Cipta sebesar Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) bagi setiap
ciptaan Koperasi dan UMKM, dimana waktu pendaftaran Hak Cipta yang semula
selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan berubah menjadi 11 (sebelas) hari, bahkan
secara online apabila dokumen lengkap dapat dilakukan 1 (satu) jam. Pengajuan
pendaftaran Hak Cipta Koperasi dan UMKM melalui fasilitasi Kementerian
Koperasi dan UKM tidak dikenakan biaya (Gratis).
Sedangkan untuk fasilitasi pendaftaran Hak Merek Koperasi dan UMKM
diberikan dalam bentuk insentif khusus dalam bentuk pemotongan harga, yang
semula sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) berubah menjadi Rp. 600.000,-
(enam ratus ribu rupiah) per Merek.

V) Pengembangan Kewirausahaan
Pengembangan Kewirausahaan atau wirausaha baru yang berpotensi tumbuh,
salah satu indikator dalam upaya peningkatkan daya saing Koperasi dan UMKM
untuk pengembangan SDM KUMKM sebagai salah satu indikator dengan target

10
Tahun 2016 sebanyak 8.000 orang yang direalisasikan/dicapai sebanyak 9.320
orang, melalui kegiatan pemasyarakatan Kewirausahaan, Pelatihan
Kewirausahaan, Pelatihan Technopreneur dan fasilitasi penguatan inkubator bisnis
dan teknologi.

VI) Galeri Indonesia WOW melalui UKM Tenant


Sebagai langkah awal Rumah Pemasaran yang dikelola oleh Lembaga
Layanan Pemasaran (LLP-KUKM) saat ini telah dibuat Galeri Indonesia WOW
yaitu rebranding UKM Gallery yang bertempat di gedung SME Tower lantai
dasar dan lantai 2. Galeri baru itu pun menawarkan berbagai fasilitas kepada para
wirausaha baru, para insan kreatif dan pelaku Koperasi dan UMKM yang ingin
naik kelas untuk membangun entreprenuer yang produktif dan kreatif.
Galeri Indonesia WOW merupakan fasilitas yang dapat dimanfaatkan para
marketer muda (youth), perempuan (women), dan pengguna internet (netizen).
Keberadaan Galeri Indonesia WOW tersebut juga dapat mendukung pemanfaatan
SME Tower sebagai laboratorium kewirausahaan.

VII) Perluasan Kredit Usaha Rakyat (KUR)


Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan upaya Pemerintah dalam mendorong
Perbankan menyalurkan kredit/pembiayaan kepada Koperasi dan UMKM.
Peluncuran KUR tersebut merupakan tindak lanjut dari ditandatanganinya Nota
Kesepahaman Bersama (MoU) pada tanggal 9 Oktober 2007 tentang Penjamin
Kredit/Pembiayaan kepada Koperasi dan UMKM antara Pemerintah (Menteri
Negara Koperasi dan UKM, Menteri Keuangan, Menteri Pertanian, Menteri
Kehutanan, Menteri Kelautan dan Menteri Perikanan, Menteri Perindustrian)
dengan Perusahaan Penjamin (Perum Sarana Pengembangan Usaha yang saat ini
telah berubah nama menjadi Perum Jamkrindo dan PT. Asuransi Kredit Indonesia)
dan Perbankan sebagai Bank pelaksana (Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BNI,
Bank BTN, Bank Bukopin, dan Syariah Mandiri). KUR ini didukung oleh
Kementerian Negara BUMN, Bank Indonesia dan Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian. Dalam pelaksanaan Program KUR ini dari unsur
pemerintah bertindak sebagai bertindak sebagai Komite Kebijakan yang
dikoordinir oleh Menko Perekonomian.

11
VIII) Penyediaan Dana Bergulir LPDB-KUMKM
Dalam rangka meningkatkan peran Koperasi dan UMKM, Pemerintah telah
memberikan stimulasi dalam bentuk “dana bergulir” untuk bantuan perkuatan
modal usaha. Dana bergulir yang dimaksud adalah dana yang dialokasikan oleh
Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Badan Layanan Umum untuk kegiatan
perkuatan modal usaha bagi Koperasi,usaha mikro, kecil, menengah, dan usaha
lainnya yang berada di bawah pembinaan Kementerian Negara/Lembaga
(Permenkeu 99/2008).
Melihat perkembangan sampai saat ini dimana jumlah Koperasi dan UMKM
di Indonesia yang telah resmi terdaftar di Kementerian Koperasi dan UKM
mencapai 23 persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 250 juta
jiwa. Kementerian Koperasi dan UKM melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir
(LPDB-KUMKM) melakukan pembangunan Koperasi dan UMKM di bidang
pembiayaan, khususnya dalam program pinjaman melalui dana bergulir yang
diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi rakyat,
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menciptakan lapangan kerja,
mengentaskan kemiskinan.
5. PROGRAM KEMENKOP SAAT INI : KEGIATAN STRATEGIS KEMENKOP
Kementerian Koperasi melalui deputi deputinya mengembangkan beberapa kegiatan
strategis yang dalam hal ini ada 6 bidang yaitu :
5.1.Bidang Kelembagaan
Program/Kegiatan strategis pembangunan Koperasi dan UMKM di bidang
kelembagaan, antara lain:
a. Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan (PPKL)
Kegiatan Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan (PPKL) ini telah dilaksanakan sejak
tahun 2012 dengan tujuan untuk melakukan pembinaan dan pemberdayaan Koperasi
dan UMKM di daerah yang mampu menjadi konsultan mandiri yang berfungsi sebagai
agen perubahan Koperasi
b. Penerapan Tata Kelola Koperasi yang baik
Tata Kelola Koperasi Yang Baik (Good Cooperative Governance/GCG) adalah suatu sistem
yang diciptakan untuk digunakan sebagai standar dalam melakukan pengelolaan sumberdaya
organisasi ataupun Koperasi yang berdasarkan 5 (lima) prinsip GCG yaitu transparansi,
akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan fairness.
c. Bimbingan Teknis Perkoperasian bagi Kelompok Strategis Pra Koperasi

12
Perkembangan perekonomian saat ini terdapat banyak kelompok masayarakat yang memiliki
tujuan perikatan yang sama dimana kelompok–kelompok tersebut digolongkan sebagai pra
koperasi. Namun pemahaman mengenai koperasi yang benar masih jauh dari harapan.

5.2.Bidang Pembiayaan
Kegiatan yang dilakukan oleh Deputi Bidang Pembiayaan antara lain:
a. Koperasi Pemula yang mendapatkan bimbingan dan penguatan permodalan
Bimbingan Teknis bagi koperasi pemula dilakukan dalam rangka meningkatan kapasitas
Koperasi Pemula dalam mengakses pembiayaan dan diharapkan melalui bimbingan teknis ini
memberikan manfaat dan dapat mengoptimalkan dukungan permodalan yang diperoleh dalam
pengembangan bisnis dan peningkatan pelayanan koperasi terhadap anggota sehingga mampu
memberikan daya ungkit yang besar dalam mendukung usaha yang pada akhirnya dapat
meningkatkan pendapatan anggota koperasi dan mendukung upaya perluasan lapangan
pekerjaan dan penanggulangan kemiskinan.
b. Wirausaha pemula yang didukung modal awal usaha
Kegiatan ini telah dirintis oleh Kementerian Koperasi dan UKM sejak tahun 2011, dimana
modal awal usaha (start-up capital) kepada Wirausaha Pemula (WP) merupakan stimulus untuk
mendongkrak usahanya agar dapat berkembang.
c. Usaha mikro yang mendapat pendampingan sertifikasi tanah
Kegiatan Sertifikasi Hak Atas Tanah (SHAT) merupakan kegiatan lintas sektor yang dipayungi
oleh kesepakatan bersama atau MoU antara Menteri Koperasi dan UKM, Menteri Dalam
Negeri dan Kepala Badan Pertanahan Nasional. Kegiatan ini termasuk dalam Nawacita ke-
empat yaitu Menjamin Kepastian Hukum Hak Kepemilikan Tanah
d. Fasilitas Pengembangan Lembaga Pembiayaan di Daerah
Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM telah membuka dan memberi akses
pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil dan koperasi melalui Badan Layanan Umum
Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB-KUMKM). Peluang mendayagunakan instrumen
dana bergulir di Daerah untuk memfasilitasi permodalan bagi usaha mikro dan kecil.
e. Perusahaan Penjaminan Kredit Daerah (PPKD)
Penjaminan kredit merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses kredit yang berfungsi
sebagai penambah keyakinan kreditur terhadap potensi resiko kredit. Dampak yang ditimbulkan
adanya penjaminan kredit adalah peningkatan jumlah kredit yang disalurkan kreditur terhadap
debitur khususnya KUMKM, yang diukur dari besaran Gearing Ratio (GR).
f. Advokasi Perpajakan bagi Koperasi dan UMKM
Dalam rangka optimalisasi dan edukasi atas kebijakan dan teknis perhitungan perpajakan bagi
wajib pajak yang dikenai pajak penghasilan bersifat final. Sebagian besar pelaku UMK masih
belum mengerti akuntansi atau pembuatan laporan keuangan yang standard.

13
g. Penguatan Koperasi dan UMKM di Bidang Keuangan Syariah
Kementerian Koperasi dan UKM dalam Penguatan Koperasi dan UMKM di Bidang Keuangan
Syariah mempunyai program dan kebijakan diantaranya : (i) Literasi dan Penumbuhan
KSPPS/USPPS Koperasi, (ii) Pemberdayaan dan Pengembangan KSPP S dan USPPS,
serta (iii) Peningkatan akses pembiayaan syariah melalui advokasi dan kerjasama antar
lembaga keuangan syariah.

5.3.Bidang Produksi Dan Pemasaran


Beberapa kegiatan strategis yang dilakukan oleh Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran
sebagai berikut:
a. Revitalisasi pasar rakyat yang dikelola oleh koperasi termasuk didaerah tertinggal,
perbatasan dan pasca bencana
b. Pedagang skala mikro informal/pedagang kaki lima yang difasilitasi penataan lokasi, sarana
usaha dan promosi
c. Koperasi dan UMKM yang difasilitasi promosi dan pameran di Dalam Negeri
d. Koperasi dan UMKM yang difasilitasi promosi dan pameran di Luar Negeri
e. Koperasi yang difasilitasi Penguatan Usaha melalui Pemanfaatan Energi Baru
Terbarukan (PLTMH)
f. Koperasi dan UMKM yang difasilitasi standardisasi dan mutu produk
g. Fasilitasi Pengembangan Sistem Bisnis Koperasi dan Penerapan Teknologi Tepat
Guna (TTG)

5.4.Bidang Restrukturisasi Usaha


Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha mempunyai beberapa kegiatan strategis, antara lain
sebagai berikut:
a. Sarana Prasarana Layanan Usaha Terpadu
Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT-KUMKM) bertujuan memberikan layanan jasa
non finansial dan berbagai solusi atas permasalahan Koperasi dan UMKM dalam
rangka meningkatkan produktivitas, nilai tambah, kualitas kerja dan daya saing
Koperasi dan UMKM melalui pendampingan di bidang kelembagaan, sumberdaya
manusia, produksi, pembiayaan, dan pemasaran.

b. Pendampingan Usaha Koperasi dan UMKM

14
Pendampingan merupakan langkah strategis sebagai pengungkit untuk mempercepat
peningkatan daya saing Koperasi dan UMKM. Berbagai layanan dan pendampingan
serta konsultasi bisnis Koperasi dan UMKM sudah banyak dilakukan selama ini oleh
berbagai instansi pemerintah maupun swasta.
c. Kemitraan usaha
Kemitraan merupakan kerjasama dalam keterkaitan usaha baik langsung maupun tidak
langsung atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai, memperkuat dan
menguntungkan yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan
Usaha Besar.
d. Investasi Usaha
Perkembangan pasar yang berubah dengan cepat perlu disiasati dengan meningkatkan
kualitas produk dan harga yang kompetitif disamping Koperasi dan UMKM dapat
menjalin kerjasama investasi bilateral maupun multilateral.

5.5. Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia


Beberapa kegiatan strategis yang dilaksanakan Deputi Pengembangan SDM sebagai
berikut:
a. Pemasyarakatan Kewirausahaan.
b. Pelatihan Kewirausahaan
c. Pelatihan Technopreneur
d. Fasilitasi Inkubator Bisnis dan Teknologi
e. Pelatihan Perkoperasian
f. Pelatihan Koperasi Berbasis Syariah
g. Pelatihan Vocational
h. Pelatihan Pelatihan dan Uji Sertifikasi SKKNI
i. Pelatihan Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan (PPKL) dan Pendampingan
j. SDM KUKM yang mendapat fasilitasi Magang dan Beasiswa

5.6.Bidang Pengawasan
Beberapa kegiatan strategis yang dilaksanakan Deputi Bidang Pengawasan sebagai
berikut
a. Koordinasi dengan unit/instansi terkait
b. Pelaksanaan workshop / bimbingan teknis dan sosialisasi
c. Pelaksanaan ujicoba pengawasan koperasi

15