Anda di halaman 1dari 3

STRATEGI PELAKSANAAN (SP) MEMBERIKAN MAKANAN MELALUI SELANG

NASOGASTRIK

Nama Mahasiswa : Sumitarianti bahris


NIM : R014182046
Institusi : Profesi Ners Universitas Hasanuddin
Nama Pasien : Tn. F
Ruang : Lontara 1 bawah depan ( Ruang Perawatan Khusus)

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Pasien
Data Fokus
 DS : Pasien mengatakan sesak napas berkurang dan tidak ada lagi rasa mual
muntah.
 DO : TD; 140/80 mmHg, N: 98x/menit, P: 20x/menit, S: 36,7 derajat celsius.
Pasien sesak terpasang nasal kanul 4 liter, anemis, paristaltik usus normal, lemas,
terpasang kateter, terpasang infus. Sesekali memberontak.
2. Diagnosa medis : Chronic Kidney Disease
3. Diagnosa keperawatan:
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen.
4. Intervensi tindakan
Memberikan makanan melalui selang NGT
B. Strategi Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik

“ Permisi pak,, saya mita pak yang dinas nanti sampai jam 14.00. pak
sudahmi waktunya kita makan di pak, dan makanannya juga sudah ada dari
gizi. Jadi sekrang saya berikannki makanan melalu selang NGT ta di’ pak
(sambil menunjukkan selangnya). Bagaaimana pak ? maujiki ?.

b. Evaluasi/Validasi

“ Bagaimana tidurnya Tn. F semalam pak’? (saya bertanya kekeluarga krna


Tn.F sulit untuk berbicara).

c. Kontrak topik, waktu dan tempat


Jadi pak, ini makanannya dimasukkan melalu selang, jadi bapaknya bisa
kenyang tanpa harus makan melalu mulut. Mungkin waktunya sekitaran
kurang dari 15 menit . Bagaiamana pak bisaji ?
2. Fase Kerja
a. Tujuan tindakan
1) Memperbaiki/mempertahankan status nutrisi klien
b. Prinsip tindakan :
1) Makanan yang dapat diberikan adalah makanan cair, makanan yang diblender halus,
formula khusus makanan enteral
2) Residu lambung harus dicek sebelum memberikan makanan. Residu >50 cc, tunda
pemberian sampai 1 jam. Jika setelah 1 jam jumlah residu masih tetap, lapor ke
dokter yang merawatnya untuk program selanjutnya
3) Hindari mendorong makanan untuk mencegah iritasi lambung. Kecepatan yang
direkomendasikan adalah pemberian dengan ketinggian ± 45 cm dari abdomen
4) Perhatikan interaksi obat dengan makanan, terutama susu

c. Prosedur kerja

1) Mencuci tangan dan memakai handscoon

2) Mempersiapkan alat

3) Mengkaji: Adanya alergi terhadap makanan, bising usus, adanya masalah-


masalah yang berkaitan dengan pemberian makanan melaui NGT (spt:
muntah, diare, konstipasi, distensi abdomen, dsb.)

4) Menyiapka makanan dan obat (jika ada) yang akan diberikan (sesuai dengan
terapi medic)

5) Menjaga privacy jika klien menginginkan

6) Membantu klien ke posisi fowler di tempat tidur atau duduk di kursi.

7) Mengecek penempatan/kepatenan selang NGT. menempatkan kateter tip


dalam keadaan tertutup pendorongnya di ujung selang NGT.

8) Mengkaji residu lambung (membiarkan NGT terbuka dan dialirkan ke


drainase untuk melihat adanya cairan yang keluar, jika tidak ada maka
dilanjutkan pemberian makanan).

9) Memberikan makanan melalui NGT

10) Bolus/intermitten feeding

11) Klem selang dengan cara menekuk ujung selang menggunakan tangan yang
tidak dominan, melepaskan kateter tip dari selang menggunakan tangan
dominan, kemudian lepaskan pendorongnya dari kateter tip.

12) Memasukkan kembali suntikan tanpa pendorongnya di ujung selang. Tangan


yang tidak dominan tetap mengklem selang. Meninggikan ujung selang ±18
inchi/45 cm dari abdomen klien

13) Memasukkan makanan/formula ke dalam suntikan sampai penuh, kemudian


buka klem selang sehingga makanan masuk melalui selang secara perlahan-
lahan

14) Mengisi kembali kateter tip ketika makanan/formula dalam suntikan


sebelumnya masih sedikit (jagan sampai kosong benar)

15) Memperhatikan respon klien selama pemberian makanan

16) Membantu klien ke posisi yang nyaman sesuai keinginan klien setelah 30
menit pemberian makanan

17) Merapikan dan membersihkan alat

18) Melepaskan handscoon dan Mencuci tangan

d. Terminasi
1) Evaluasi Subjektif:
Bagaimana perasaannya pak setelah saya kasihkan makanan ? sduah
kenyang pak ? (Pasien menjawab dengan pelan “iyaa”)
2) Evaluasi Objektif: Pasien terlihat tenang, kenyang dan tampak ingin tidur.
Rencana tindak lanjut: mengkaji haluaran BAB klien (konsistensi dan
frekuensi)
3) Kontrak YAD
Pak, sebentar saya datang lagi kesini untuk melihat kondisi bapak dan
apakah bapak sudah BAB atau belum. Permisi pak, semangat yah pak semoga
cepat sembuh.