Anda di halaman 1dari 62

Dari Negara Islam Indonesia

(NII) Ke Jama’ah Islamiyah (JI)

Nezar Patria, Solahudin, Ammatul Rayyani, Bayu Galih. dan Edy Haryadi

VIVAnews
2008
BAGIAN I
JIHAD SAMPAI TAMAT

Tiga tokoh teroris itu tak takut hukuman mati. Salah satunya mengaku
menjadi guru bagi penabrak menara kembar World Trade Center, New
York.

Jalan menuju ke ruang itu berlapis-lapis. Ada tiga pintu dengan


pemeriksaan ketat. Di gerbang utama, berdiri dua penjaga bersenjata
senapan. Lolos dari sana, ada pintu baja lain. Lalu sebentang lorong, dan
selapis pintu baja lagi sebelum menuju ruang kunjungan itu.

Di pintu ketiga pun penjaga berpistol masih terus menggeledah tetamu.


Inilah penjara Batu, Nusakambangan. Berdiri sejak 1925, penjara ini
terkenal berkunci rapat. Tempatnya pun terasing : di satu pulau berpagar
laut, dan pantai mengepung hutan. Dari dermaga Wijayapura, Cilacap,
Jawa Tengah, tempat itu bisa dijangkau seperempat jam naik feri.

Penjagaan di penjara Batu kini lebih ketat dari biasanya. Sudah tiga tahun,
tiga tokoh teror bom Bali --Imam Samudra, Mukhlas dan Amrozi-- menjadi
warga di sana. Mereka menghitung hari, menunggu hukuman mati.
Menjelang Ramadan lalu, ada kabar ketiganya segera berdiri di depan
regu tembak. Tapi, hari eksekusi itu, kata Jaksa Agung, ditunda hingga
lebaran usai.

Tiga lelaki itu tak tampak galau meski kematian semakin akrab. Wartawan
VivaNews menengok mereka Juli lalu. Pada siang itu, ruang kunjungan
padat dan gerah. Imam Samudra alias Abdul Azis, 37 tahun, muncul dari
balik pintu besi. Kepalanya dililit surban hitam, dan hitam juga baju
gamisnya. Rambutnya kian panjang, juga janggutnya.

Di belakangnya muncul Amrozi, 46 tahun, lalu menyusul Mukhlas alias Ali


Ghufron, 48 tahun. Mereka semua memakai surban dan berjubah.
Ketiganya lalu memeluk tamunya : para kerabat dan teman dekat. Satu
per satu. Suara salam dan istighfar terdengar lamat, sahut menyahut.

Pada hari itu, ada acara di tengah balai kunjungan: taushiyah atau
pengajian kecil. Imam Samudra tampil memberi wejangan. Matanya masih
tajam dan menyala. Dalam pengajian itu, dia malah memberi semangat
bagi keluarganya.

Imam mengatakan siap menghadapi maut. “Saya tidak pernah menyesal


pada apa yang akan terjadi,” ujarnya. Dia meledakkan bom dahsyat itu
enam tahun silam : 202 orang tewas. Ratusan luka-luka. Dan Bali, kota
yang hidupnya bergantung pada bisnis turisme itu pun jadi lumpuh.
Bagi Imam, teror adalah jalan kebenaran. Karena itu dia merasa tak perlu
meratap di depan regu tembak. Kematiannya pun, kata Imam, tak akan
membuat gerakan Islam militan habis. “Gugur satu, tumbuh semilyar.
Bukan seribu,” ujarnya. Mukhlas dan Amrozi mengangguk setuju.
Memang mereka pernah menyorong berkas Peninjauan Kembali ke
Mahkamah Agung. Tapi, sejak permohonan itu ditolak, ketiganya enggan
mengajukan grasi. Alasannya, “Kami hanya minta ampun pada Tuhan.
Bukan pada presiden”.

Lebih jauh, mereka menolak mati di depan regu tembak. Ketiganya


melayangkan surat peninjauan hukum ke Mahkamah Konstitusi agar “cara
mati” lewat ujung bedil bedil bisa diganti dengan cara dipancung atau
digantung. Karena tak termuat dalam aturan hukum, usulan model
pancung atau gantung itu pun ditolak polisi.

Di penjara Batu, ketiga lelaki itu berdiam di sel terpisah. Namun letaknya
masih bersebelahan. Pintu sel dibuka pada pukul enam pagi. Lalu,
seterusnya pada siang dan sore hari. Tapi ketiganya lebih suka berdiam di
bilik berjeruji besi itu. Imam Samudra, misalnya, melakukan olahraga di
dalam sel. Lalu menghabiskan waktunya dengan membaca.

KRONOLOGI PERSIDANGAN PELAKU BOM BALI I

Tahun 2002
12 Oktober. Dua bom meledak nyaris serentak di Jalan Legian, Kuta, Bali.
Bom pertama meledak di Paddy’s Irish Bar sedangkan bom kedua
meletup di dekat Sari Club. Sebanyak 202 orang tewas dan 305 lainnya
luka-luka. Bom ketiga meledak di dekat kantor Konsultan Amerika Serikat,
Denpasar, namun tak ada korban jiwa.
19 Oktober. Polisi menangkap ustad Abu Bakar Ba’asyir dengan tuduhan
terkait aksi pemboman di sejumlah gereja Indonesia pada malam Natal
2000. Pejabat intelejen menduga Ba’asyir mengetuai Jamaah Islamiah Asia
Tenggara yang memiliki hubungan dengan organisasi al-Qaeda, pimpinan
Usama bin Ladin.
7 November. Polisi Indonesia mencokok tersangka pertama bom Bali:
seorang montir bernama Amrozi bin Nushasyim. Setelah diinterogasi,
Amrozi mengakui perannya dalam aksi pemboman tersebut.
12 November. Sebuah rekaman suara Usamah bin Ladin menyampaikan
ucapan selamat pada para pelaku bom Bali sebagai “pembela Islam yang
gigih.”
21 November. Polisi menangkap seorang tokoh pemboman lainnya,
Abdul Azis alias Imam Samudra. Ia ditangkap saat hendak menyeberang
ke Sumatera melalui kapal feri. Polisi meyakini Imam Samudra berperan
sebagai “komandan lapangan” bom Bali I.
4 Desember. Kakak tertua Amrozi, Mukhlas atau Ali Gufron, dicokok polisi
di dekat kota Solo, Jawa Tengah. Pada saat penangkapannya, Mukhlas
semula tak dikaitkan dengan serangan Bali, tapi belakangan ia didakwa
menjadi “otak” di belakang aksi pemboman tersebut. Menurut polisi,
Mukhlas adalah Kepala Operasi Jamaah Islamiah.

Tahun 2003
14 Januari. Ali Imron, adik Amrozi dan Mukhlas, tertangkap di Pulau
Berukan, Kecamatan Anggara, Kutai Kertanegara, Kalimantan Tengah.
Saat itu Ali Imron tengah berupaya lari dari Indonesia.
28 Januari. Setelah melakukan penyelidikan intensif, polisi secara resmi
menetapkan Jamaah Islamiah sebagai organisasi yang bertanggungjawab
atas bom Bali.
29 Januari. Polisi mengkaitkan peristiwa pemboman dengan Abu Bakar
Ba’asyir. Walau demikian polisi tidak secara tegas menyatakan Ba’asyir
sebagai tersangka.
11 Februari. Ali Imron secara terbuka mengakui perannya dalam
serangan bom Bali. Ia juga mendemonstrasikan bagaimana ia membawa
bom itu masuk. Ia pun meminta maaf pada korban dan keluarga korban.
Namun, ia tetap menyatakan Amerika dan sekutunya sebagai “sasaran
yang sah.”
23 April. Kasus Abu Bakar Ba’asyir mulai disidangkan. Ia didakwa
berencana menggulingkan pemerintah yang sah, terlibat dalam sejumlah
pemboman gereja dan terlibat dalam rencana serangan di Singapura.
12 Mei. Persidangan Amrozi dibuka. Ia didakwa membantu perencanaan
serangan. Di antaranya membeli bahan peledak dan menjadi pemilik
mobil yang digunakan dalam pemboman.
28 Mei. Saat memberi kesaksian pada persidangan Abu Bakar Ba’asyir,
Mukhlas mengakui perannya dalam pemboman. Ia menyatakan mengenal
Usamah bin Ladin dengan cukup baik.
2 Juni. Giliran Imam Samudra diadili.
11 Juni. Saat menjadi saksi Amrozi, Imam Samudra membantah terlibat
langsung dalam pemboman, tapi ia “bertanggungjawab secara moral.”
16 Juni. Persidangan Mukhlas dibuka untuk umum.
23 Juni. Mukhlas menuduh polisi yang menginterogasi melakukan
penyiksaan fisik agar ia mengaku terlibat dalam serangan. Ia lalu meminta
persidangan mengabaikan pengakuan bersalahnya seperti tertera dalam
BAP polisi.
30 Juni. Polisi menangkap tersangka kunci bom Bali lainnya, Idris. Pada
hari yang sama jaksa penuntut mengajukan tuntutan hukuman mati
terhadap Amrozi.
16 Juli. Imam Samudra mengatakan aksi pemboman itu adalah “tindakan
yang benar” menurut para ulama Islam. Pemboman itu katanya
merupakan “pembalasan pembunuhan kaum muslim yang dilakukan
Amerika Serikat dan sekutunya.”
21 Juli. Perkara Ali Imron mulai disidangkan.
23 Juli. Idris mengaku bertanggungjawab dalam aksi pemboman di kantor
Konsulat Amerika Serikat di Denpasar, Bali.
28 Juli. Jaksa penuntut mengajukan gugatan hukuman mati pada Imam
Samudra.
31 Juli. Seorang saksi di persidangan pelaku pemboman menyatakan al-
Qaeda membantu pendanaan bom Bali I.
5 Agustus. Sebuah bom mobil meledak di Hotel JW Marriot, Jakarta. Jenis
bom yang digunakan sama dengan bom Bali I.
7 Agustus. Hakim menyatakan Amrozi terbukti bersalah karena turut
merencanakan dan berperan sebagai pengangkut bom dalam aksi bom
Bali I. Ia dijatuhi hukuman mati. Amrozi mengajukan banding.
14 Agustus. Hambali, tangan kanan Usamah bin Ladin di Asia Tenggara,
tertangkap di Bangkok, Thailand. Polisi yakin Hambali terlibat dalam bom
Bali I.
3 September. Jaksa mengajukan tuntutan penjara seumur hidup ke Ali
Imron. Alasan jaksa, terdakwa menyatakan penyesalan atas
perbuatannya.
10 September. Imam Samudra dinyatakan bersalah mengatur
pemboman dan dijatuhi hukuman mati.
18 September. Hakim menghukum Ali Imron penjara seumur hidup
karena terbukti terlibat bom Bali I. Hakim memperimbangkan rasa
penyesalannya.
25 September. Pengacara Amrozi mengajukan permohonan kasasi
setelah permohonan banding kliennya ditolak Pengadilan Tinggi.
2 Oktober. Mukhlas dijatuhi hukuman mati karena perannya sebagai
kordinator aksi Bom Bali I. Atas vonis ini Mukhlas mengajukan banding.
20 November. Imam Samudra melayangkan permohonan kasasi ke
Mahkamah Agung (MA). Hal itu ia lakukan setelah permohonan banding
atas hukuman matinya ditolak Pengadilan Tinggi Bali.

Tahun 2004
7 Januari. MA menolak kasasi Amrozi. Pengacara Amrozi menyatakan
akan mengajukan peninjauan kembali (PK).
27 April. Idris, yang dikenal juga dengan nama Jhoni Hendrawan, mulai
diadili. Salah satu dakwaan jaksa adalah membantu serangan bom Bali.
23 Juli. Mahkamah Konstitusi memutuskan Undang-Undang Anti Teroris
tidak berlaku surut, termasuk untuk mendakwa pelaku Bom Bali I.
28 Juli. Polisi membatalkan dakwaan keterlibatan Abu Bakar Ba’asyir
dalam bom Bali, tapi mengaitkannya sebagai pimpinan Jamaah Islamiah.
24 Agustus. Idris mengaku terlibat dalam Bom Bali I. Namun ia tak
terkena dakwaan, sebab Undang-Undang Anti Teroris baru berlaku bulan
Juli.

Tahun 2005
11 Oktober. Ketiga terpidana mati bom Bali I dipindahkan dari Lembaga
Pemasyarakatan (LP) Kerobokan, Denpasar, Bali. Mereka dipindahkan ke
penjara dengan pengawasan maksium, yaitu LP Batu, Nusakambangan,
Cilacap, Jawa Tengah.
19 Oktober. MA menolak kasasi yang diajukan Mukhlas, Amrozi dan
Imam Samudra.
11 November. Mukhlas alias Ali Gufron mengajukan PK ke MA.

Tahun 2007
Agustus. MA menolak PK yang diajukan Amrozi cs.

Tahun 2008
30 Januari. Amrozi cs mengajukan PK ke-II ke MA.
25 Februari. Sidang PK ke-II Amrozi cs digelar di Pengadilan Negeri
Denpasar.
24 Maret. Tim pengacara mencabut PK ke-II karena hakim menolak tiga
terpidana mati diajukan ke pengadilan.
14 Mei. Amrozi cs memajukan PK ke-III ke Pengadilan Negeri Denpasar.
18 Juli. Pengadilan Negeri Denpasar menolak pengajuan tiga terpidana
mati kasus bom Bali I. Jaksa Agung mengatakan eksekusi tiga terpidana
mati akan dilakukan sebelum puasa yang jatuh pada pekan pertama
September. Apalagi ketiganya menolak mengajukan grasi.
15 September. Kejaksaan Agung Hendarman Supandji menunda
eksekusi sampai setelah lebaran yaitu awal bulan November persisnya
pekan pertama bulan November.
9 November. Jam 12:15 dini hari eksekusi dilaksanankan di lembah
Nirbaya, Nusakambangan...

BAGIAN II

AKSI TEROR BOM DI INDONESIA

Tahun 2000
28-29 Mei 2000: Bom meledak di Gereja Kristen Protestan Indonesia
(GKPI) Medan, Sumatera Utara. Sehari berikutnya, giliran Gereja Katolik di
Jalan Pemuda Medan yang menjadi sasaran bom.
1 Agustus 2000. Sepekan sebelum perayaan proklamasi pendirian
Negara Islam Indonesia oleh Kartosuwiryo tanggal 7 Agustus 1949, sebuah
bom yang diletakkan dalam mobil Carry 1000 meledak di depan
kediaman pribadi Dubes Filipina Leonide T Caday di jalan Imam Bonjol No
15, Jakarta Pusat. Dua orang tewas seketika sementara 21 lainnya terluka.
Dubes Leonides selamat walau mengalami luka-luka.
27 Agustus 2000. Sebuah granat meledak di komplek Kedubes Malaysia,
Kuningan, Jakarta. Tidak ada korban jiwa.
13 September 2000. Bom menguncang lantai parkir bawah P2 Gedung
Bursa Efek Jakarta (Jakarta Stock Exchange) di Jalan Jendral Sudirman,
Jakarta Selatan. Sedikitnya 10 orang tewas dan puluhan orang lainnya
luka-luka.
24 Desember 2000. Bom meledak serentak di 24 gereja di seluruh
penjuru Indonesia, persis pada malam Natal. Sebanyak 19 orang tewas
dan 100 orang lainnya luka-luka.

Tahun 2001
23 September 2001. Sebuah bom meledak di Plaza Atrium Senen,
Jakarta. Enam orang luka-luka.
12 Oktober 2001. Bom meletup di restoran Kentucky Fried Chicken
(KFC), Makassar, Sulawesi Selatan 2001. Tidak ada korban tewas.
6 November 2001. Bom rakitan meledak di halaman Australian
International School (AIS), Pejaten, Jakarta Selatan. Tidak ada korban jiwa.

Tahun 2002
1 Januari 2002. Terjadi empat ledakan bom pada malam tahun baru di
beberapa gereja Palu, Sulawesi Tengah. Tidak ada korban tewas.
3 April 2002. Peledakan bom di dekat Hotel Amboina dan pembakaran
Kantor Gubernur Maluku telah menyebabkan empat orang meninggal,
yakni Hengki Tuhumury, Johanis Tomasda, Roni Kelihuay, dan Marthen
Hattu. Selain itu, 47 orang luka berat.
5 Juni 2002. Sebuah bom dalam bus Antariksa jurusan Palu-Tentena
meledak di Poso Pesisir, Sulawesi Tengah. Bom menewaskan empat orang
dan melukai 17 orang lainnya.
12 Oktober 2002. Menjelang tengah malam, dua bom meledak nyaris
serentak di Padi’s Café dan Sari Club, Jalan Legian, Kuta, Bali. Kawasan ini
menjadi daerah pelesir turis asing pada malam hari. Bom tersebut
menewaskan 202 orang, kebanyakan turis asing. Sebanyak 88 orang
korban tewas adalah turis asal Australia.
5 Desember 2002. Ledakan bom terjadi di luar restoran cepat saji
McDonald di Makassar, Sulawesi Selatan, menewaskan tiga orang dan
melukai 11 lainnya. Jemaah Islamiah dituduh sebagai penyulut bom.
27 April 2003. Bom meledak di terminal 2F, Bandara Soekarno-Hatta,
Cengkareng, Jakarta. Dua orang luka berat dan delapan orang lainnya
terluka.

Tahun 2003
14 Juli 2003. Ledakan mengguncang Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta,
beberapa hari setelah tertangkapnya sejumlah anggota Jemaah Islamiyah.
Ledakan menghancurkan jendela dan kaca gedung.
5 Agustus 2003. Bom yang diletakkan dalam sebuah mobil meledak di
depan Hotel JW Marriot, Jakarta Pusat, menewaskan 12 orang dan melukai
149 lainnya. Jemaah Islamiah lagi-lagi dituduh bertanggungjawab atas
peledakan.

Tahun 2004
10 Januari 2004. Empat orang tewas terbunuh dan tiga lainnya terluka
saat sebuah bom meledak di sebuah kafe Palopo, Sulawesi Tengah.
9 September 2004. Ledakan bom mengguncang Kedutaan Besar
Australia di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Sepuluh
orang tewas termasuk pelaku pemboman. Lebih dari 100 orang
mengalami luka-luka. Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer
menjelaskan serangan itu dilakukan oleh kelompok Jemaah Islamiyah
dengan sasaran Australia.
12 Desember 2004. Ledakan bom terjadi di Gereja Immanuel, Palu,
Sulawesi Tengah.
28 Mei 2005. Dua bom meledak di Pasar Tentena. Sebanyak 19 orang
tewas dan 40 orang mengalami luka-luka. Polisi meyakini serangan itu
dilakukan oleh kelompok Dr Azahari.
Tahun 2005
21 Maret 2005. Sebuah bom meledak Jalan Batu Merah, Desa Batu
Merah, Kecamatan Siramau, Ambon. Beberapa orang terluka.
8 Juni 2005. Bom meledak di halaman rumah Ahli Dewan Pemutus
Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Jibril di Pamulang Barat, Jakarta.
Tidak ada korban jiwa.
25 Agustus 2005. Tujuh penduduk setempat mengalami luka serius
akibat ledakan bom di pasar kota Ambon.
1 Oktober 2005. Ledakan bom terjadi di Nyoman Café Jimbaran dan
R.AJA Bar, Kuta Square, Bali. Ledakan itu menewaskan 31 orang termasuk
empat turis asing. Peristiwa ini dikenal sebagai Bom Bali II.
31 Desember 2005. Bom meledak di sebuah pasar di Palu, Sulawesi
Tengah. Menewaskan delapan orang dan melukai 45 orang lainnya.

* Wawancara dengan Abdullah Sunata *

PEJIHAD MEMANG MENCARI MATI

Abdullah Sunata merupakan salah seorang tokoh yang hendak direkrut


Noordin M. Top. Sedikitnya, Sunata dua kali bertemu Noordin. Sebelum
dan sesudah bom di Kedutaan Besar Australia. Tujuan Noordin adalah
mengajak Sunata bergabung dalam kelompok pemboman yang ia lakukan.

Setelah dua kali bertemu, Abdullah Sunata menyatakan menolak


bergabung dengan Noordin. Ia kemudian memutus jalur komunikasinya
dengan Noordin. Saat ia ditangkap Juli 2005, Sunata mengaku tak
sepaham dengan aksi bom yang digelar Noordin. Ia lebih memilih berjihad
di daerah-daerah konflik seperti Ambon dan Poso ketimbang menebar
bom di tempat penduduk sipil.

Apa yang sebenarnya letak ketidaksepahaman itu dan bagaimana


tanggapan Sunata mengenai eksekusi pelaku bom Bali Oktober 2002?
Berikut wawancara Nezar Patria, Edy Haryadi dan Solahudin dari
VIVAnews dengan Abdullah Sunata di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang,
pertengahan Agustus 2008 lalu.

Bagaimana pendapat Anda tentang aksi Noordin?


Sekarang saya tidak paham.

Kalau dulu bagaimana?


Kalau dulu semua orang sudah tahu sikap saya. Jadi saya rasa tidak perlu
dibahas lagi.

Dulu anda tidak setuju dengan pemikiran Noordin, apakah sikap


ini masih dipegang?
Sebagaimana saya pernah ungkapkan dulu, saya tak berhak menilai dia.
Saya bukan tipe orang yang suka menilai orang. Terlepas dari penilaian
orang terhadap dia, dia tetap seorang muslim. Sebagai muslim, dia berarti
saudara saya

Kapan terakhir bertemu?


Sebelum saya dipenjara.

Kenapa metode perjuangan Anda berbeda dengan Noordin?


Saya tidak mau bermain-main dengan istilah. Ya, kalau itu sebagai bagian
perjuangan, terlepas apakah benar atau salah, Insyaalah akan baik saja.

Anda pernah berdialog soal perbedaan itu dengan Noordin?


Belum pernah ada dialog khusus dengan Noordin soal perbedaan cara
pandang kami.

Kenapa anda tidak setuju?


Ketidaksetujuan saya lebih karena keadaan. Karena kondisi. Saat itu saya
rasa tidak memungkinkan saya berbuat seperti itu (seperti Noordin, red).

Jadi soal taktik dan strategi. Bukan soal prinsip?


(Berpikir sejenak) Saya tidak tahu…

Anda pernah memberi Noordin pistol?


Hahaha… Anda bertanya seperti Densus 88. Menyidik tapi memvonis.
Buka saja BAP saya. Bisa terlihatkan.

Perbedaan Anda dengan Noordin di level apa?


Kalau perbedaan itu pasti ada. Karena perbedaan itu Sunnatullah yang
tidak bisa kita hindarkan. Bahwa perbedaan itu memang ada. Cuma
masalahnya lalu terletak pada pelaksanan dari syariat itu. Bagaimana kita
menyikap syariat.
Kalau Anda tidak menjiwai, Anda tidak paham tujuannya (Noordin, red).

Anda berjuang di wilayah konflik sementara Noordin menyebar


bom di tempat umum?
Mungkin saya tidak paham. Saya tidak paham pada maksud Noordin. Jadi
lebih baik saya diam saja.

Komentar tentang eksekusi Imam Samudra dkk?


Kalau memang itu sebuah perjuangan maka hal itu merupakan sebuah
konsekuensi. Dan saya yakin mereka siap. Bahkan, lebih siap dari saya.
Yang perlu saya tekankan di sini, vonis kematian bukan sesuatu yang
menakutkan mereka.
Kalaupun mereka dieksekusi, mereka tidak takut. Kalau mereka tidak
dieksekusi, mereka juga akan mati di tempat lain.

Apakah eksekusi Imam Samudera dkk akan melemahkan


perjuangan?
Oh tidak. Justru mereka yang dulu berjihad di Ambon, Poso dan
Afganistan, memang kematian yang dicari. Kalau kata seorang penyair
(mengutip salah satu ayat, red): “begitu ragam sebab-sebab kematian itu,
tapi kematian merupakan sesuatu yang pasti. Barangsiapa tidak mati
dengan pedang, pasti dia akan mati karena sebab lain.”
Jadi bukan kematian yang kita takuti. Tapi kematian yang seperti apa.
Carilah kematian itu, niscaya engkau akan mendapat kehidupan.
Maka kalau saya melihat hal itu positif saja. Ini kalau kita melihat dari sisi
keimanan, bukan dari sisi rasionalitas. Mungkin banyak orang yang
melihat (eksekusi) itu sebuah tindakan orang yang kalah, kematian yang
tragis.
Padahal bukan kematian yang kita takuti. Tapi kematian yang bagaimana.
Masa Anda mau mati dalam kondisi maksiat?

Jadi eksekusi Imam Samudra dkk tidak menyurutkan perjuangan?


Kematian mereka tidak menyurutkan. Justru membangkitkan semangat.
Insyaallah…
Kenapa saya yakin, karena sudah banyak contoh dalam sejarah. Syaid
Qutub misalnya. Ketika ia dihukum gantung, apa perjuangan surut? Tidak.
Bahkan namanya bertambah mulia. Dan karya tulisnya bisa mengobarkan
semangat jamannya.
Ibnu Tamiyah juga mati di penjara. Apakah kematian menyebabkan
semangat surut? Tidak. Malah justru tulisannya menjadi sumber rujukan
dan banyak dicari orang.
Bahkan sejarah memperlihatkan, mereka yang mati dalam perjuangan dan
dishalatkan oleh ribuan umat rata-rata adalah pejuang atau ulama yang
berseberangan dengan penguasa. Ibnu Tamiyah. Syaid Qutub, juga
demikian. Ini kan bukti sejarah. Kematian mereka justru membangkitkan
semangat.

Apakah akan ada serangan bom menyusul eksekusi Imam


Samudra dkk?
Saya tidak tahu itu. Saya bukan pakar bom. Apalagi saya di penjara.

Apa kesan pribadi Anda pada Noordin?


Saya tidak kenal banyak. Bertemu dia juga saya cuma dua kali. Saya
sudah menyampaikan hal ini pada masa awal saat saya tertangkap.

Mengapa Noordin yang terkenal bisa mempengaruhi orang tak


bisa membuat Anda bergabung dalam kelompoknya?
Hahaha.. Imej dia hebat mempengaruhi orang itulah yang salah. Kadang-
kadang media saja yang memperkuat opini itu.
Kalau bagi saya, jika dia muslim, saya qusnuzon (bersangka baik), positive
thinking. Kalau ente kafir saya suudzon (bersangka buruk). Kalau dia
muslim, saya akan selalu berpikir baik, berpikir sebagai muslim.

Benarkah Noordin mujahid yang salah jalan?


Ah, istilah itu digunakan untuk memukul rata (aktivis Islam, red).
Kalau dia seorang muslim, dia mujahid, dia aktivis Islam, saya akan
qusnuzon. Sebab dia masih saudara saya.
Kalau soal salah langkah, semua manusia juga pernah salah langkah.
Siapapun pernah membuat dosa. Kecuali Rasullallah.

Mengapa organisasi Anda tak mau bergabung dengan kelompok


Noordin?
Kalau kita kiaskan, saya punya organisasi. Dia (Noordin, red) juga punya
organisasi. Lalu kami mau bekerjasama dalam satu program. Tentu akan
ada batas-batas kerjasama. Ada kode etik.

* Wawancara dengan Adung *


Noordin M Top Berniat Membom Setahun Sekali

Adung, 50 tahun, adalah kawan lama Noordin M Top dan Hambali. Nama
asli Adung adalah Sunarto bin Kartodiharjo.Ia kini mendekam di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas I Cipinang, Jakarta Timur. Tahun 2005, hakim
memvonis Adung tujuh tahun penjara karena terbukti menyembunyikan
Noordin M. Top.

Perkenalan Adung dan Noordin terjadi di Malaysia sepuluh tahun lalu. Saat
itu Adung tengah mengikuti gurunya, Abdullah Sungkar, lari dari
Indonesia. Pada tahun 1985, Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir divonis
hakim lima tahun penjara dengan tuduhan menolak asas tunggal
Pancasila.Namun saat vonis jatuh, Sungkar dan Ba’asyir kabur ke
Malaysia.

Di Malaysia, Sungkar dan Ba’asyir mendirikan pondok pesantren Lukmanul


Hakiem di Ulu Tiram, Johor, Malaysia. Di sanalah, sejak tahun 1995,
Noordin M. Top dan Dr Azahari, belajar agama. Noordin bahkan pernah
menjadi kepala pondok, sebelum pondok itu dilarang oleh pemerintah
Malaysia awal tahun 2002.

Selama di Malaysia, Adung mengaku ikut membantu Hambali


memberangkatkan para mujahidin Indonesia ke Afghanistan. Seperti
halnya Sungkar dan Ba’asyir, Adung baru kembali ke Indonesia setelah
Soeharto jatuh tahun 1998.

Setelah kembali ke Indonesia, Adung mengaku bertemu sebanyak dua


kali. Pada pertemuan terakhir, Adung malah sempat menjadi penghulu
yang menikahkan Noordin dengan Munfiatun. Padahal saat itu Noordin
tengah diburu karena pemboman Hotel JW Marriot (2003).

Dalam perbincangan dengan Adung, Noordin sempat menyampaikan


tekadnya untuk melakukan pemboman minimal setahun sekali. Berikut
wawancara Nezar Patria, Ammatul Rayyani, Bayu Galih. dan Edy Haryadi
dari VIVAnews dengan Adung di LP Cipinang, pekan pertama Agustus 2008
lalu.

Kapan pertemuan terakhir Anda dengan Noordin?


Setelah saya nikahkan itu (Juni 2004, red). Di Surabaya. Setelah itu saya
tidak bertemu lagi.

Seperti apakah sosok Noordin?


Kalau fisiknya agak besar, tidak terlalu kecil. Kalau berkenaan dengan
sifat-sifatnya saya melihat tidak ada yang istimewa. Biasa-biasa saja.
Kelihatannya Noordin berusaha memahami ajaran Rasulullah.

Bagaimana dengan pemahaman keislaman Noordin?


Saya kira pemahamannya baik. Akhlaknya baik.
Kalau pemahaman dia tentang jihad?
Pemahaman tentang jihad, pada dasarnya tidak bermasalah. Tapi saya
sendiri tidak akan memakai cara seperti yang dia lakukan.
Mengapa?
Saya sering tidak sependapat dengan Noordin. Terutama mengenai cara-
cara seperti yang dia dan teman-temannya lakukan. Kalau menurut saya,
kalau punya persiapan yang cukup, bom saja itu Kedutaan Amerika.
Sasarannya kedutaan Amerika, kan?! Kalau belum dapat jalan, sabar.
Tunggu. Kalau sudah dapat jalan, baru lakukan. Walau demikian dia punya
ijtihad sendiri. Tidak mengapa. Kalaupun apa yang dia lakukan salah,
tetap ada nilainya juga.

Bagaimana dengan korban bom yang muslim?


Jika memang korbannya nanti melibatkan korban orang-orang Islam dan
yang tidak berdosa, untuk ukuran kita, memang ada kafarat,atau denda.
Pelakunya wajib melakukan berpuasa selama dua bulan terus menerus.
Dan itu yang dilakukan teman-teman, (pelaku bom, red), termasuk yang di
penjara di sini. Itu dilakukan sebagai kafarat karena terlanjur jatuh korban
yang tidak berdosa menurut ukuran kita.

Ketika berdiskusi dengan Noordin, apa saja yang dibicarakan?


Dia sependapat pentingnya menghindari korban-korban yang tidak
berdosa. Dia mengatakan akan menemukan sasaran seefektif mungkin.
Tapi dia tidak sabar. Ia juga mengatakan akan melakukan aksi paling
kurang sekali dalam setahu. Maka perhatikan. Dari peristiwa Bom Bali I,
(setiap bom) itu jaraknya kira-kira setahun.

Tapi tiga tahun terakhir tidak ada lagi bom?


Saya kira karena kemampuan Noordin terbatas. Sebab yang ahli bom kan
Azahari.

Noordin punya kemampuan dalam hal perekrutan?


Tidak. Karena kalau perekrutan yang tampak, itu teman-teman binaan
lama, yang sebenarnya sudah mapan. Dia hanya mencari. Nah jadi orang
yang direkrut sebenarnya sudah punya basic, tapi tidak terkontrol. Ingin
jihad, tapi tidak tahu jalan.

Kenapa sekarang tidak ada bom?


Ya mungkin karena faktor keterbatasan sarana dan prasarana.

Hambali sendiri, apa alasannya tidak dipulangkan ke Indonesia?


Saya tidak tahu. Tapi menurut saya, itu sama saja. Di mana-mana sama
saja. Saya tidak berharap Hambali pulang ke Indonesia. Karena semua
tempat adalah penjara bagi orang beriman.

Di dalam Cipinang, pernah kontak dengan teman-teman yang di


luar?
Tidak ada. Semenjak tertangkap,tidak ada lagi. Sebelum saya ke
Cipinang, saya di kan ditahan di Mabes Polri. Saya tahu telpon saya ini
(telepon berdering, red) disadap Densus 88. Bodoh kalau saya punya
kepercayaan pihak LP memberikan kebebasan (memberi telepon, red)
seperti ini tanpa ada maksud apa-apa. Makanya saya batasi pembicaraan
untuk urusan keluarga saja.

Tanggapan tentang hukuman mati Imam Samudra dkk?


Saya tidak perlu menanggapi hal itu. Saya yakin, jika waktunya mati, ya
mati.

Apa Anda setuju dengan cara yang dilakukan Imam Samudra?


Saya katakan saya berbeda pendapat. Tapi saya yakin mereka orang yang
beriman, dengan segala kekurangannya. Setuju atau tidak setuju, itu soal
lain. Tapi saya meyakini mereka orang-orang beriman. Saya yakin
sepenuhnya. Sehingga apa pun yang mereka lakukan, kalau itu salah,
semoga Allah mengampuni.

Menurut Anda, kenapa Noordin belum tertangkap?


Saya tidak mau berasumsi. Saya berharap ini penjagaan Allah semata.
Walau ada yang bilang hal ini sengaja dipelihara oleh Densus 88.

Ada yang bilang saat ini Noordin sedang berada di Suriah?


Wah masalah tempat saya tidak tahu. Itu satu hal yang mungkin kalau
Allah menghendaki.

Apakah pendukung Noordin di Jawa masih kuat?


Kalau saya katakan, cukup kuat. Masih ada.

Anda bertemu sebelum dan sesudah bom Marriot?


Ya. Sebelum Marriot saya bertemu di Pekanbaru melalui si Rais (saudara
ipar Noordin M. Top). Saya memang bertujuan mengumpulkan. Saya cari
orang-orang itu setelah bom Bali pertama. Sekitar November-Desember
2002.

Mereka dikumpulkan untuk apa?


Bukan dikumpulkan. Setelah dengar kabar, kok saya dengar nama dia
(Noordin) dikait-kaitkan. Saya ingin tahu apakah hal itu benar atau tidak.

Ingin konfirmasi?
Iya. Setelah dengar berita kan tidak bisa terima begitu saja. Saya tidak
tahu, Wong dia itu kan sahabat saya.
BAGIAN III

MENUNGGU ‘PENGANTIN’ BARU

Gerakan Islam radikal itu punya sejarah panjang. Mereka kerap


bersimpang jalan.

Dahinya kehitaman. Tarikan wajahnya keras. Badannya gempal tapi


kekar. Dengan memakai topi milisi Afganistan, Abdul Jabar menemui istri
dan tiga anaknya, yang berkunjung ke Penjara Batu, Nusakambangan, Juli
2008. Anak sulungnya, Kiki, 9 tahun. Bocah itu tertidur, dan tak melihat
ayahnya bertukar rindu dengan ibu dan dua adiknya: Ghozi, 7 tahun, dan
Jihad, 3 tahun. Perjalanan sepuluh jam dari Jakarta ke Nusakambangan,
membuat bocah itu terlelap di bilik pengunjung.

Abdul Jabar adalah pelaku peledakan bom Kedutaan Besar Filipina. Dia
meletupkan bom itu di kediaman Duta Besar Filipina, 1 Agustus 2000.
Persis sepekan sebelum tanggal proklamasi Negara Islam Indonesia (NII).
Ledakan itu lalu menjadi prolog bagi teror bom di Indonesia.

Aksi itu tampak diatur sempurna. Satu mobil Suzuki Carry berisi bom dan
gotri, sejak sore sengaja diparkir di Jalan Imam Bonjol No 15, Jakarta.
Tepatnya, di tepi jalan depan gerbang rumah pribadi sang Duta Besar.
Sebelumnya Abdul Jabar mengamati tempat itu dengan naik sepeda.
Terkadang berhenti di halte Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU). Letak
gedung itu persis di seberang rumah Duta Besar Filipina, Leonides T.
Caday.

Jabar ternyata tak perlu menunggu lama. Menjelang maghrib, sebuah


mobil berplat diplomatik tiba. Leonides menumpang di dalamnya. Mobil itu
berhenti sebentar, menunggu pagar rumah dibuka. Pada saat itulah Abdul
Jabar menekan picu bom dari telepon seluler. Buum!

Bom itu menyisakan lubang di aspal sedalam dua meter. Pipa air minum
yang berada tepat di bawah posisi jok mobil, hancur. Air mengucur deras.
Ranting dan tangkai pepohonan di sekitar sana rontok. Dedaunan pecah,
dan bertebaran di mana-mana.

Efek ledakan juga menghantam Abdul Jabar. Dentuman itu begitu kuat,
tubuhnya sampai terpental. Padahal, jaraknya dengan mobil pembawa
bom sekitar 20 meter. Di seberang, nyaris seluruh jendela kaca Gedung
KPU hancur. Namun Duta Besar Filipina justru selamat. Ia hanya
mengalami luka-luka.

Belakangan polisi berhasil membekuk Abdul Jabar. Saat pengadilan Abdul


Jabar digelar, fakta menarik terkuak. Jabar sebenanya memiliki akar
sejarah dalam gerakan militan Islam di Indonesia. Ayahnya, Ahmad
Kandai, adalah aktivis Darul Islam. Kandai adalah seorang pelaku
penggranatan Presiden Soekarno di SMP 1 Cikini tahun 1957. Oleh hakim,
dia dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Semula ia dipenjara di Lembaga
Pemasyaratan (LP) Cipinang. Namun sejak Juni 2008, Abdul Jabar dan tiga
tahanan teroris lain dipindahkan ke LP Batu, Nusakambangan.

Jabar tidak sendiri. Anggota Jemaah Islamiah (JI) lainnya yang terlibat
dalam pemboman Kedutaan Filipina, Fathur Rahman al-Ghozi, juga punya
akar sejarah serupa. Ghozi merupakan alumni Afganistan tahun 1990. Ia
pernah menjadi instruktur di kamp JI Hudaibiyah, Mindanao sejak 1995.

Al-Ghozi tertangkap pada Januari 2002 di Filipina. Ia dijatuhi hukuman


tujuh tahun. Tapi alumnus Pesantren Ngruki ini sempat melarikan diri dari
tahanan dari Kamp Crame, Manila, Juli 2003. Setelah tiga bulan diburu,
Ghozi akhirnya roboh disiram peluru tentara Filipina.
Seperti Jabar, ayah Ghozi adalah anggota Darul Islam. Ayahnya, Zaenuri,
sempat ditahan pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto. Dia terlibat
Komando Jihad.

Tokoh lain yang punya hubungan dengan Darul Islam adalah Abu Rusdan.
Pria kelahiran Kudus ini merupakan anak Haji Moh. Faleh, mantan anggota
Lasykar Hizbullah dan anggota Darul Islam yang ditangkap pada 1980,
karena menjadi anggota Komando Jihad. Abu Rusdan juga alumni
Afghanistan. Dia pernah menjadi pengganti Ba’asyir sebagai Amir JI
selama dua tahun.

Sidney Jones, peneliti Indonesia Crisis Group (ICG), tak membantah ada
kaitan pelaku teror bom dengan gerakan Darul Islam. “Abu Rusdan bahkan
sudah di-baiat menjadi anggota Darul Islam pada usia 15 tahun,” ujarnya
saat ditemui di kantornya, pertengahan Agustus 2008.

Darul Islam adalah gerakan yang didirikan Sekar Madji Kartosuwirjo.


Lelaki kelahiran Cepu, 7 Januari 1907, ini pernah bekerja menjadi
pemimpin redaksi koran Fadjar Asia. Ia aktif di Masyumi dan menjadi
lasykar Hizbullah (Tentara Allah) pada masa pendudukan Jepang. Nama
samarannya Kalipaksi. Dia pernah menjadi pimpinan Masyumi wilayah
Priangan.

Pada masa agresi Belanda, 10 Febuari 1948, berkumpul 160 wakil


organisasi Islam di Pangwedusan/Cisayong, Jawa Barat. Pada rapat besar
itu muncul ide pembentukan Negara Islam Indonesia. Kartosuwiryo terpilih
sebagai Imam untuk Jawa Barat.

Konferensi juga sepakat membentuk Tentara Islam Indonesia (TII),


gabungan lasykar Hizbullah dan lasykar Sabilillah, plus organisasi Islam
lainnya. Setelah itu Kartosuwiryo mendirikan Pahlawan Darul Islam
(PADI). Proklamasi Negara Islam Indonesia disampaikan ke publik tanggal
7 Agustus 1949.

Sejarah kemudian menulis kekalahan Kartosuwiryo. Tahun 1965, ABRI


menyapu basis DI di Jawa Barat dan Sulawesi. Tapi, keinginan
menegakkan Syariat Islam tak terhenti. Perjuangan berlanjut dalam
beragam wadah. Ada kasus penggranatan Cikini pada 1957. Lalu, di era
Suharto, muncul pula Komando Jihad, Tragedi Tanjung Priok, Jamaah
Warsidi di Talangsari, Lampung, dan ada pula Jamaah Islamiyah pada
1993.

Istilah Jamaah Islamiah muncul pertama sekali dalam berita acara


pemeriksaan (BAP) Abdullah Sungkar. Istilah itu muncul kembali saat jaksa
penuntut umum, Roedjito, menggugat Abdullah Sungkar dan Abu Bakar
Ba’asyir, 6 Maret 1982 di Pengadilan Sukoharjo, Solo. Dalam surat
dakwaan jaksa itu disebutkan, “Dalam mematangkan Jamaah Islamiah
baik terdakwa Abdullah bin Achmad Sungkar maupun Abu Bakar Ba’asyir
masing-masing melakukan pembai’atan terhadap orang lain.”

Jaksa juga mengungkapkan, kedua orang tadi telah diba’iat oleh Haji
Ismail Pranoto (Hispran), bekas pemimpin DI/TII. Untuk itu jaksa
mengajukan gugatan selama 12 tahun penjara.

Namun, pledoi Sungkar membantah semua dakwaaan jaksa. Ia menilai


tuduhan terhadapnya hanya berdasar pada BAP yang dibuat Satgas
Intel/Kodam VII/Laksusda Jawa Tengah. Ia mengaku saat pemeriksaan ia
berada dalam tekanan. Ia juga mengecam pembajakan partai politik dan
organisasi oleh Orde Baru. Termasuk juga upaya pensakralan Pancasila.

Sungkar lalu mencabut keterangannya di BAP. Sungkar membenarkan H


Ismail Pranoto pernah datang ke rumahnya, Desember 1976. Tapi saat itu
Hispran hanya berdiskusi tentang perembesan gerakan Komunis Vietnam
di Kalimantan Utara. Sehingga mereka sepakat hal itu harus diperangi.

Bantahan serupa muncul dalam pledoi Abu Bakar Ba’asyir. Ia mengaku


diperiksa di Satgasin Jalan Cipto No 280 Semarang. Ba’asyir pernah
diinterogasi empat hari empat malam tanpa istirahat. Dalam keadaan
tertekan, dia memutuskan mengiyakan apa kata jaksa, agar proses cepat
kelar. Pada 1979, ia dipindahkan ke Penjara Mlaten Semarang. Di sana,
selama sepuluh bulan Ba’asyir berada dalam sel isolasi. “Kondisi
penahanan macam ini benar-benar menekan batin dan jiwa,” kata Ba’asyir
dalam sanggahannya.

Tapi, majelis hakim terdiri dari Ny Hoedjani Poedjosewojo SH (ketua),


Soejono Hadimartono SH, Soedarto Radyosoewarno tak mengindahkan
keberatan Sungkar dan Ba’asyir. Vonis hakim 3 April 1982 menjatuhkan
hukuman bagi keduanya penjara sembilan tahun. Tapi, sebelum hakim
membacakan vonis, Sungkar dan Ba’asyir sudah lebih dahulu lari ke
Malaysia.

Ironisnya, walau semula membantah dakwaan jaksa, pada tahun 1993,


Abdullah Sungkar resmi mendirikan Jamaah Islamiah (JI). Dua tahun
kemudian Sungkar dan Ba’asyir menyusun Pedoman Umum Perjuangan al-
Jamaah al-Islamiah (PUPJI). PUPJI berperan sebagai anggaran dasar dan
strategi umum perjuangan.

Di Ulu Tiram, Johor, Malaysia, kedua tokoh JI ini mendirikan pondok


pesantren Lukmanul Hakiem. Di pondok ini pula tiga terpidana mati bom
Bali I, Imam Samudra, Mukhlas dan Amrozi belajar. Begitu juga dengan
Hambali, Dr Azahari dan Noordin M. Top.

Rekan Hambali yang kini mendekam di LP Cipinang, Sunarto alias Adung,


mengaku sempat membantu Hambali mengirim mujahidin asal Indonesia
berjihad di Afghanistan. “Saya sempat membantu Hambali menyalurkan
pejuang ke Afghanistan.”

Setelah Soeharto jatuh kedua tokoh JI ini baru kembali ke Indonesia.


Begitu juga dengan alumni Lukmanul Hakiem. Sejak saat itulah teror bom
seolah tak henti mengguncang tanah air. Tapi kemudian meledak konflik
Ambon.

Karena itulah, Sidney Jones melihat maksud pengiriman mujahidin


Indonesia ke Afganistan awalnya bertujuan mencari pengalaman perang
dan pelatihan militer. Tujuan utamanya adalah melawan kekuasaan
Soeharto.

Namun tujuan ini belakangan jadi mencong. Gerakan JI beralih menjadi


sebuah gerakan teror. Bom terus berdentum sejak bom Natal. Kini, alumni
dan bekas kepala pondok Lukmanul Hakiem, Noordin M Top, masih
menjadi tokoh buronan nomor satu.

Menurut polisi, jejak Noordin terakhir ada di Palembang. Namun Sidney


membantah asumsi tersebut. Menurut dia, memang ada tokoh JI asal
Singapura. Juga tokoh KOMPAK yang kabur dari Ambon. Namun kelompok
Palembang tak memiliki sejarah sama sekali hubungan dengan JI sebagai
sebuah organisasi. “Kelompok Palembang adalah orang-orang baru, yang
mendirikan Jamaah sendiri dan tak ada kaitannya dengan JI,” tegasnya.

Justru, lanjut Sidney, di dalam tubuh kelompok JI sekarang sudah muncul


kesadaran aksi pemboman adalah langkah kontraproduktif. Penangkapan
400 lebih aktivis JI di Asia Tenggara, jelas memukul gerakan ini. Serta
melumpuhkan struktur organisasinya.

Apalagi banyak korban bom adalah umat Islam. Seperti supir taksi yang
tewas dalam pemboman Hotel JW Marriot. Atau cacat permanen yang
menimpa Brigadir Kepala Asep Wahyudi akibat ledakan bom di Kedutaan
Australia. Padahal ibu kandung Asep sendiri adalah aktivis Aisiyah,
organisasi perempuan Muhammadiyah.

Karena merasa aksi pemboman kontraporduktif, Sidney kini melihat mulai


ada perubahan strategi di JI. Sekarang gerakan itu lebih banyak
berdakwah, meski masih tetap keras menyangkut jihad. “Jangan salahkan
jihadnya, tapi salahkan caranya,” ujar Ali Imron, salah satu pengebom
Bali, yang kini dihukum seumur hidup. Ali kini secara terbuka
berseberangan soal “cara” dengan Imam Samudra dan kawan-kawan.

Lalu, apa langkah gerakan itu selanjutnya. Tak tertutup kemungkinan JI


akan berubah bentuk menjadi partai politik. Tanda-tanda ke arah sana,
sudah mulai terlihat dengan pendirian Ba’asyir Center, Agustus 2008.
Tentu, ini tak berarti aksi teror bom dari kelompok militan akan terhenti.
Sebab, walau JI sudah mulai berubah, Sidney melihat akan tetap ada
kelompok baru yang lepas dari organisasi JI. Misalnya, KOMPAK yang
memilih aktif di wilayah konflik. Atau salah satunya adalah kelompok
Palembang yang sama sekali baru.

Kordinator KOMPAK, Abdullah Sunata, sedikit banyak mengamini pendapat


Sidney. Sunata menilai, eksekusi terhadap Imam Samudra dkk serta
penangkapan ratusan aktivis Islam militan di Indonesia tak akan membuat
gerakan jihad runtuh.
Dengan mengutip sebuah syair, Sunata mengambarkan mereka yang dulu
berjihad di Ambon, Poso dan Afghanistan. Mereka pergi berjihad memang
mencari kematian. “Begitu ragam sebab-sebab kematian, tapi kematian
merupakan sesuatu yang pasti. Barang siapa tidak mati dengan pedang,
pasti dia akan mati karena sebab lain.”

Sunata barangkali benar. Jihad dan kematian yang menjemput para


mujahidin adalah soal keyakinan. Mereka percaya, sebelum badan rebah
ke tanah, jiwanya sudah di pangkuan bidadari di surga. Itu sebabnya,
dalam kode operasi yang ditemukan polisi dari potongan badan pelaku
Bom Bali II, ada secarik kertas. Di sana, ada sandi menyebut para pelaku
bom jihad sebagai ‘pengantin’.

Mungkin itu sebabnya seorang pelaku yang direkrut Noordin M. Top untuk
bom Bali II, bisa begitu tenang sebelum meletupkan diri. Dia bahkan
memberi pesan terakhir pada istri dan anaknya. ‘Pengantin’ ini
mengatakan, saat pesan itu sampai, dia sudah berada di surga. Apa boleh
buat, ini mungkin soal tafsir. Dengan keyakinan semacam itu, munculnya
‘pengantin-pengantin’ baru hanya soal waktu.

SURGA DI TELAPAK BOM


Bayangkan fakta ini : Isya membungkus tubuhnya dengan rompi penuh
bom. Lalu, rekannya Arnasan, membawa mobil sesak satu ton bahan
peledak. Mereka menarik picu, tepat di pusat keramaian turis di Legian,
Bali pada Oktober enam tahun silam. Bumi pun menggelegar. Badan
kedua lelaki penyebar maut itu lumat. Bersama mereka, 202 jiwa
melayang. Ratusan luka-luka.

Apa yang membuat Isya dan Arnasan memantik bom bunuh diri? “Nyawa
dibalas nyawa, darah dibalas darah,” kata Imam Samudra, terpidana mati
bom Bali. Imam, boleh jadi, satu dari juru bicara pendukung tafsir bom
jihad. Dia mengatakan “dorongan mati” bagi para pelaku aksi bom itu
karena dendam. Semua berawal dari ulah Barat, kata Imam, yang
menyerang negeri Islam seperti Palestina, Irak dan Afganistan. “Tak
setetes pun darah kaum Muslimin yang gratis,” ujarnya

Bom bunuh diri lalu menjadi alat menuntut balas. “Operasi ini termasuk
metode paling berhasil,” tulis Imam Samudra mengutip pendapat seorang
ulama, dalam buku barunya yang segera terbit, Satu Jihad Sejuta Vonis.
Cara itu, lanjut Imam, membuat kerugian di pihak musuh, serta
menimbulkan “kengerian dan ketakutan”. Sebaliknya bagi kaum Muslim,
“Terlihatlah keberanian dan kekuatan hati”.

Selain itu, dahsyatnya serangan teroris ke menara kembar WTC (World


Trade Center) di New York, pada 11 September 2001, membangkitkan
obsesi bagi Imam Samudra. Dia sempat merencanakan penyerangan di
Bali tepat pada tanggal peringatan aksi teror bom yang melantak New
York itu.

Indonesia tentu beda dengan Irak, Palestina, atau Pakistan yang nyaris
saban pekan ada aksi bom bunuh diri. Bom Bali, betapapun adalah aksi
bom bunuh diri pertama di negeri ini. Tak heran, banyak orang terhenyak.
Apa sebetulnya yang berdiam di benak orang seperti Isya dan Arnasan?
Sempat muncul tudingan: jangan-jangan mereka terkena gangguan jiwa.
Tapi, studi Dr Sarlito Wirawan, ahli psikologi Universitas Indonesia,
menyimpulkan para pelaku adalah orang normal. Artinya, bukan psikopat.

Cerita tentang kehidupan para pelaku bom bunuh diri itu sedikit terkuak
oleh kawan dekat Isya. Untuk keterangan berikut, lelaki itu meminta
namanya dipanggil Abu Jaffar, dan menuntut nama aslinya disamarkan.
Jaffar asli Tasikmalaya, Jawa Barat. Dia jebolan kamp militer di Mindanao,
Filipina Selatan, sekitar 2001. Di sana, katanya, dia pernah latihan
bersama Faturrahman Al Ghozi. Jaffar juga pernah berjihad di Poso dan
Maluku.

Jaffar mengaku kenal baik dengan Isya, lelaki yang meluluhlantakkan


Paddy’s Café, di Bali. “Dia kawan saya ketika berjihad di Ambon,” ujar
Jaffar. Menurut dia, Isya, pemuda asli Pekalongan, Jawa Tengah itu,
termasuk angkatan pertama jihad di Ambon. Meski tak ikut merekrut,
Jaffar mengerti proses perekrutan para pelaku bom bunuh diri.

Ringkasnya, para calon pelaku itu harus memenuhi dua syarat : kuat ilmu
agama dan berani. Lalu proses selanjutnya adalah pendalaman materi
militer, terutama alat peledak. “Bagaimana mau operasi bom syahid kalau
tak tahu seluk beluk demolition (alat peledak),” ujar Jaffar. Syarat kedua,
keberanian, juga sangat penting. Karena itu, biasanya para calon adalah
mereka yang sudah teruji keberaniannya di wilayah konflik.
Langkah selanjutnya, kemantapan hati si calon pelaku untuk melakukan
operasi Istimata. Baru kemudian masuk fase pelatihan (daurah).
“Metodenya berbeda dari biasa,” ujar Jaffar. Mereka yang bersedia
bergabung, lalu melakukan semacam proses “pensucian hati”, dan mulai
diberi materi cerita para pelaku yang sudah syahid, seperti di Palestina,
atau WTC di New York.

Fase selanjutnya, para calon pelaku mendapat materi lebih dalam soal
operasi Istimata. “Terutama, model aksi bom seperti apa, pakai mobil atau
bom rompi,” ujar Jaffar. Setelah pilihan diputuskan, maka seluruh materi
asykari (militer) dipusatkan pada cara menjalankan operasi aksi bom itu.
“Mereka harus sangat hapal semua detil prosesnya,” kata Jaffar.
Setelah semuanya mantap, para calon pelaku masuk karantina. “Mereka
dijauhkan dari semua pengaruh buruk,” Jaffar melanjutkan. Hanya teman
satu tim operasi bom jihad dan keluarga terdekat boleh bertemu. Dalam
proses karantina, pemantapan keyakinan terus digenjot para mentor.
Waktu karantina relatif, ada yang satu bulan atau lebih. Setelah itu, para
calon pelaku itu siap digerakkan kapan saja.

Seorang bekas laskar Istimata, Umar Fatah (nama samaran),


membeberkan kepada VIVAnews, bahwa keyakinan seperti itu justru
gampang dihidupkan di daerah konflik. Fatah pernah lama berperang di
Poso, dan dia mengatakan, hanya perlu waktu sebulan mencetak laskar
bom syahid. “Sehari-hari mereka sudah akrab dengan kematian, “ ujar
Fatah. Dia senior Imam Samudra saat mengikuti pelatihan militer di
Afganistan. Lalu, bagaimana di luar konflik? Umar Fatah tak bisa
menjawab. Dia mengaku tak punya pengalaman.

Tapi, dari berbagai pengakuan para pelaku yang tertangkap karena


terlibat aksi pengeboman, terungkap bahwa di luar wilayah konflik pun,
mencetak laskar bom bunuh diri bukan soal sulit. Iwan Darmawan alias
Rois, pelaku peledakan Bom Kuningan pada 2004 dalam BAP (Berita Acara
Pemeriksaan) Polisi menceritakan bagaimana dia dan Noordin M. Top
merekrut Heri Golun, pelaku bom bom bunuh diri di depan kedutaan Besar
Australia itu.
Heri Golun adalah lelaki asal kampung Cigarung, Sukabumi. Dia mulai rajin
menyimak pengajian orang-orang DI (Darul Islam) pada awal 2003.
Intinya, pengajian itu banyak berkutat soal ajaran jihad. Hanya dalam
beberapa bulan, Golun menjadi lelaki yang sangat terobsesi dengan jihad.
Menurut penuturan kedua orangtuanya, pada Maret 2004, Golun
meninggalkan kampung halamannya

Dia pindah ke kampung istrinya di Karawang. Tujuannya selain mencari


nafkah, juga ingin berjihad. Hasrat berjihad Heri Golun amat menggebu.
“Bapak dan Umi (ibu), doakan Heri mencari nafkah, minta do’anya, kalau
Heri punya hutang dengan Bapak dan Umi minta dibebaskan. Kemudian,
Heri punya hutang petasan sama si Uje harus dibayar, mohon Bapak dan
Umi membayar tersebut, karena kalau mati masih punya hutang tak akan
syahid,” pesannya kepada orang tuanya.
Berjihad kemana? Tak jelas. Saat itu, Rois yang menjadi mentor Golun
belum bertemu dan kenal Noordin M.Top. Aksi bom Kuningan juga belum
terlintas di otak mereka. Rois baru bertemu Noordin di Surabaya pada Juni
2004. Dalam pertemuan itu, Noordin mengajak Rois ikut operasi
pembunuhan. Ajakan ini disambut. Dalam pertemuan itu Noordin juga
meminta Rois menyiapkan orang-orang yang siap melakukan aksi bom
bunuh diri. Rois pun kemudian memilih beberapa muridnya, termasuk
Heri Golun. Dia tahu Golun punya keinginan berjihad yang menggebu.

Noordin kemudian meminta Rois mendidik para muridnya itu “Untuk


dimatangkan aqidah dan keyakinannya oleh Baharudin Saleh,” ujar Rois.
Baharudin Saleh alias Abdul Hadi adalah menantu Amrozi, yang juga orang
kepercayaan Noordin. Selama satu bulan Heri Golun dan beberapa
kawannya menetap di satu pesantren, di kawasan Subang, Jawa Barat.
Selama sebulan, Abdul Hadi mendoktrin Golun dan kawan-kawannya soal
jihad dan amaliyah istisyadiyah.

Hasilnya? Tepat di hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2004, Noordin


menanyakan kepada Rois kesiapan Golun melakukan operasi pemboman.
Rois menyatakan muridnya sudah siap. Sejak hari itu, Heri Golun diisolasi
dari keluarganya dan selalu didampingi oleh Noordin dan Dr. Azhari.
Golun juga tidur bersama mereka. Hari-harinya banyak dihabiskan
beribadah. Sementara di malam hari, Azhari dan Noordin memberikan
tausiah (nasihat) jihad kepada Golun.

Pada 30 Agustus 2004, Golun siap melakukan operasi Istimata. Hari itu,
dia ikut bersama Rois dan Noordin survei ke Kedutaan Besar Australia.
Mereka melihat konstruksi bangunan, dan mengukur jarak pagar kedutaan
dan bangunan induknya. Sepuluh hari kemudian, 9 September pagi hari,
Heri Golun membawa mobil boks bermuatan bom 580 kilogram. Dia
meledakannya tepat di depan pintu gerbang Kedutaan Besar Australia.
Mobil dan juga Golun, lumat. Selain Golun, sembilan nyawa melayang, 214
orang terluka.

Tak sulit rupanya mencetak para pelaku bom bunuh diri itu. Tentu,
keberanian mati syahid adalah syarat utama. Heri Golun, pemuda pemalu
itu, misalnya. Hati dan keyakinannya bisa dikuatkan dalam waktu satu
atau lima bulan. Dia lantas menjadi seorang pemburu kematian : mencari
surga di telapak bom. (Solahudin, kontributor khusus VIVAnews. Bukunya
tentang Salafi Jihadi di Indonesia akan segera terbit).

* Wawancara dengan Sidney Jones *

Indonesia Basis Jamaah Islamiyah Terkuat

Nama Sidney Jones mencuat pertama kali setelah peristiwa bom Bali I,
12 Oktober 2002. Ini terjadi saat pengamat terror mulai melirik karya
peneliti senior International Crisis Group (ICG) berjudul “Al Qaeda in
Southeast Asia: The Case of the "Ngruki Network" in Indonesia.” Karya
Sidney yang dibuat bulan Agustus 2002 ini membuka mata publik tentang
keterlibatan Jamaah Islamiyah (JI) dalam sejumlah aksi pemboman di
Indonesia.

Semula, tesis yang ia bangun sempat diragukan. Banyak orang


mempertanyakan motifnya. Pada tahun 2004, ia malah sempat dicekal
Kepala Badan Intelejen Nasional (BIN), AM Hendropriyono, karena dinilai
ikut campur urusan dalam negeri Indonesia.

Faktanya, Sidney melakukan riset cukup lama. Ia mulai mengenal


kelompok Islam radikal saat masih aktif di Human Rights Asia akhir tahun
1970. Dari berkas lama persidangan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar
Ba’asyir, serta wawancara dengan sejumlah aktivis Islam radikal, ia mulai
membangun tesisnya. Kini, keberadaan JI tak lagi diperdebatkan. Begitu
pula dengan jaringan JI lainnya.
Kini, satu-persatu tokoh JI telah tertangkap atau tewas tertembak. Hanya
Noordin M. Top yang masih buron. Ada yang bilang Noordin kini tak ada
lagi di Indonesia. Noordin sudah kabur ke Suriah. Bagaimana pendapat
Sidney. Berikut wawancara Sidney Jones bersama Edy Haryadi dan Amatul
Rayyani di kantornya.

Keberadaan Noordin tiga tahun terakhir tetap misterius. Di


manakah jejak Noordin?
Memang, sejak bom Bali II, keberadaan Noordin menjadi tanda-tanya.
Namun saya yakin dia masih berada di Indonesia. Saya dengar dia kini
berada dalam naungan sebuah kelompok Jamaah yang mau melindungi
dia. Tapi dengan syarat dia tak lagi melakukan aksi-aksi pemboman
seperti sebelumnya. Barangkali dia kini bekerja sebagai penerjemah ayat-
ayat jihad dengan cara men-download internet.

Kenapa polisi selalu tertinggal satu langkah di belakang Noordin?


Itu sama saja dengan pertanyaan mengapa pemerintah Amerika Serikat
belum bisa menangkap Usamah bin Ladin sampai sekarang. Untuk
pelarian ini, saya memiliki cerita lucu tentang Noordin. Ceritanya, ada
seorang bapak membawa anaknya menemui Noordin. Apa yang dilakukan
Noordin. Ia membuka koran yang memberitakan pencarian terhadap
dirinya. Ia mengaku bangga karena kini menjadi seorang buronan nomer
satu. The most wanted.

Bagaimana potensi serangan Noordin sekarang?


Noordin sebenarnya tak memiliki keahlian membuat bom. Yang ahli
membuat bom biasanya teman-teman dia. Tapi yang harus diingat, pada
saat Dr Azahari tewas, ada satu-dua orang yang sempat melarikan diri. Di
Poso, ada orang yang bernama Taufikulaga yang memiliki panggilan
“Sang Profesor” karena keahliannya membuat bom. Ada juga dua-tiga
orang jago bom dari Ambon dan Poso dan beberapa veteran Minadanao.
Jadi kalau mau mencari orang yang jago merakit bom,sebenarnya tidak
terlalu sulit.

Lalu mengapa Noordin tak melakukan pemboman lagi?


Yang tersulit dalam pemboman adalah merencanakan operasi supaya
betul-betul rapi. Faktor kedua,, tidak ada kesalahan teknis yang terjadi
saat operasi itu berjalan. Di Palembang memang ada bom yang
ditemukan. Tapi yang paling penting dari penemuan Palembang, semua
pelaku berhasil tertangkap.

Apakah kelompok Palembang memiliki hubungan dengan


Noordin?
Kelompok Palembang bukan kelompok Jamaah Islamiyah (JI). Juga bukan
kelompok KOMPAK, dan bukan kelompok yang pernah melakukan aksi-aksi
sebelumnya. Kelompok Palembang bukan kelompok yang memiliki
hubungan dengan JI dan KOMPAK. Termasuk hubungan dengan jaringan JI
di Singapura.

Tapi kabarnya Noordin akan datang beberapa jam sebelum


pengerebekan polisi di Palembang?
Mungkin memang ada beberapa kontak antara kelompok Palembang
dengan Noordin. Saya sendiri belum mendengar informasi itu. Tapi intinya
Jamaah Palembang yang mereka bentuk dibangun tanpa keterlibatan
Noordin. Dan kelompok ini tak memiliki kaitan dengan JI sebagai lembaga.

Kelompok Palembang belum memiliki sejarah kekerasan?


Kalau sebelumnya memang belum ada. Benar. ada orang Singapura yang
memiliki track-record cukup panjang dalam aksi kekerasan, yaitu
Muhammad Hassan alias Fajar Taslim. Dia memang orang JI lama dari
wakalah Singapura dan pernah berlatih di Afghanistan. Fajar Taslim
memang tokoh JI. Tetapi orang yang menjadi anggota Jamaah Palembang
sama sekali tidak pernah terlibat dalam organisasi seperti JI. Dan, Amir
(pimpinan) Jamaah itu bukan orang Singapura tersebut. Serta bukan
orang yang sudah terkenal sebelumnya.

Kelompok Palembang tidak berhubungan dengan kelompok Poso


dan Ambon?
Tidak ada. Sama sekali tidak ada. Memang ada satu orang di kelompok itu
dulu terkenal sebagai komandan di Ambon. Namanya Arsyad. Sekarang
dia ditahan di Ambon. Katanya, Arsyad dulu terlibat dalam kasus Kampung
Lokki di Seram Barat bulan Mei 2005 saat lima anggota Brimob dibunuh.
Saat itu dia melarikan diri dari Ambon ke Palembang. Jadi Arsyadlah yang
bergabung dengan kelompok baru itu. Memang ada orang terkenal dari JI,
dan ada satu orang lagi tokoh KOMPAK yang lari dari Ambon. Tapi lebih
banyak orang-orang baru. Mereka bisa bertemu dan bergabung untuk
membangun satu Jamaah yang lain dari Jamaah yang pernah ada di
Indonesia sebelumnya.

Sudah 400 terpidana teroris kini ditahan, apakah penangkapan ini


akan bisa menghancurkan gerakan radikal Islam?
Saya kira penangkapan sangat penting. Kita memang tidak bisa
menghilangkan kelompok teror di Indonesia, karena akan selalu ada orang
baru yang bisa direkrut. Tapi penangkapan berhasil melemahkan struktur
kelompok teroris yang ada di Indonesia. Buktinya, sekarang lebih sulit
mencari seorang Amir untuk organisasi seperti JI. Dan, jauh lebih penting
lagi, sekarang ini sebagian besar anggota JI sudah melihat aksi pemboman
sebagai perbuatan yang kontraproduktif. Sebab, dukungan masyarakat
jadi menghilang.

Kontraprodukif?
Lihat reaksi publik saat mendengar seorang supir taksi tewas dalam
pemboman JW Marriot. Waktu itu masyarakat Jakarta marah sekali. Reaksi
negatif inilah yang kemudian justru mempengaruhi strategi Jamaah
Islamiyah. Sekarang ini amat terasa gerakan JI lebih bergerak di dakwah.
Walaupun dakwah itu sangat keras dan tetap menyerukan jihad, tapi
mereka tidak mau lagi melakukan pemboman di tanah air. Sekarang, lebih
sulit mencari kru untuk operasi amaliah atau operasi militer.

Beberapa pelaku pemboman memang memiliki latar belakang


keluarga bekas Darul Islam. Bisa dijelaskan?
Tidak bisa disimpulkan bahwa semua orang yang pernah ikut Darul Islam
pasti punya anak yang akan ikut jejak ayahnya. Tapi memang benar ada
cukup banyak anggota JI yang terpengaruh oleh perjuangan ayah atau
pamannya. Misalnya Abu Rusdan yang pernah menjadi Amir JI untuk
menggantikan Abu Bakar Ba’asyir selama dua tahun, direkrut dan di-baiat
sebagai anggota Darul Islam saat umurnya 15 tahun. Bila sekali orang di-
baiat maka orang itu seperti diberi ikatan untuk tetap menjadi anggota
Jamaah. Walaupun terkadang jamaah itu sendiri sudah melenceng dari
tujuan awalnya.
Apakah akar Islam militan di Indonesia?
Itu sangat tergantung pada tempatnya. Akar penyebab di Poso jauh
berbeda dengan di Jawa Barat. Kalau di Poso, misalnya, ada orang mau
direkrut karena ada anggota keluarganya terbunuh. Atau tanahnya
diambil. Atau harta bendanya hilang karena konflik.
Tapi, di Jawa Barat, ada orang yang mau mengikuti jejak Kartosuwiryo
(pendiri gerakan Darul Islam). Di Jawa Barat mereka yang mau direkrut
terkadang adalah cucu atau anak dari mereka yang pernah menjadi
pejuang Darul Islam (DI).
Di Jawa Tengah, faktornya lain lagi. Misalnya, orang baru yang direkrut itu
karena terpengaruh langsung oleh para da’i radikal yang pernah belajar di
Afghanistan. Selain itu, pengaruh konflik di Ambon dan Poso sangat luar
biasa terhadap orang Jawa.

Kenapa?
Karena untuk pertama kali mereka yang berasal dari Jawa merasa bahwa
saat menjadi mujahidin, mereka benar-benar bisa membela orang Islam
yang dibunuh oleh kelompok Kristen. Pengalaman itulah yang
mengobarkan semangat jihad. Dan, sampai sekarang, pengaruh itu belum
hilang.

Apakah gerakan Islam militan akan terus terjadi?


Kalau kita mau melihat sejarah, yang terpenting dari sebuah gerakan,
seperti Darul Islam, biasanya akan selalu melahirkan kelompok sempalan
yang lebih muda dan militan. Akan selalu ada pola regenenerasi.
DI sebenarnya sudah lahir tahun 1949 dan tetap eksis sampai saat ini. JI
adalah sebuah kelompok sempalan DI yang muncul pada tahun 1993.
Tidak mustahil dua tiga tahun ke depan akan lahir kelompok yang lebih
muda, lebih militan, yang mau lepas dari JI karena merasa JI sudah mulai
membosankan. Inilah yang menjadi pemicu sekelompok anak muda keluar
dari JI dan membuat kelompok sendiri.

Apakah faktor pendorongnya?


Kita tidak tahu. Setelah JI sudah terbentuk, ada kelompok sempalan yang
muncul setelah Ambon dan Poso bergolak. Ada banyak aktivis yang
merasa resah setelah melihat pimpinannya menolak berjuang atau
berjihad di daerah konflik seperti Ambon dan Poso. Tetapi apa penyebab
utama dorongan itu, kita tidak tahu.

Tetapi siklus itu akan tetap terjadi?


Siklus itu tetap akan terjadi. Untuk itu saya yakin sekali. Karena ini adalah
gerakan ideologi.

Jadi gerakan JI belum habis?


Belum habis. Yang kami tahu jaringan JI di seluruh Indonesia masih cukup
kuat. Tetapi JI di negara-negara lain hampir hancur. Misalnya di Singapura.
Walaupun beberapa orang masih aktif, struktur JI di sana sudah hancur.
Struktur JI di Semenanjung Malaysia sudah lemah meski organisasinya
jelas masih ada. Di Sabah, kita tidak tahu dengan pasti keadaan JI di sana.
Di sana memang ada orang bekas DI yang sebagian besar lari saat DI
Sulawesi dikalahkan ABRI.
Australia yang dulu pernah menjadi wilayah Mantiqi IV JI juga hancur
strukturnya. Di Filipina struktur JI sudah hancur walau masih terdapat 20-
30 anggota JI di Mindanao.
Dengan demikian tinggal Indonesia yang menjadi basis terkuat JI. Kalau
kita lihat, jaringan JI Indonesia cukup kuat karena ada ikatan keluarga,
ikatan bisnis dan ikatan lain.

Indonesia menjadi basis JI terkuat?


Iya. Jadi, jangan melihat Noordin sebagai orang Malaysia yang menjadi
motor kelompok teroris ini. Kalau Noordin punya kelompok sendiri dan ia
cukup berbahaya, bukan berarti bahwa orang Malaysia yang membawa
jihad ke Indonesia. Sama sekali tidak. Justru orang Indonesialah yang
membawa jihad ke Malaysia.

Untuk kawasan Asia Tenggara, selain Mindanao, masih ada


daerah rawan seperti di Pattani, Thailand Selatan. Bagaimana
pendapat Anda?
Pattani adalah sebuah fenomena menarik. Karena sampai sekarang
belum ada bukti kongkrit bahwa JI aktif di sana. Sebetulnya, Pattani lebih
mirip Aceh. Karena di sana aromanya betul-betul perjuangan
nasionalisme. Di sana, orang muslim Melayu mau merdeka dan ingin lepas
dari Kerajaan Thailand dan Budhisme.
Menariknya lagi, orang Pattani sebenarnya tak mau dibantu oleh orang
yang bukan orang asli daerah mereka, muslim Melayu. Memang banyak
orang muslim Melayu dari Moro, Malaysia dll., yang ingin sekali menolong
ikhwan mereka di Pattani. Kita tidak tahu apakah konflik di sana akan
berubah menjadi setengah pemberontakan, setengah jihad. Tapi sampai
sekarang konflik di sana mirip seperti konflik Aceh ketimbang gerakan
jihad internasional.

Bukankah Pattani menjadi wilayah aman bagi JI melakukan


konsolidasi seperti yang dilakukan Hambali yang menggelar rapat
bom Bali di sana?
Tempat melakukan pertemuan iya. Di sana juga ada jaringan kontak JI. JI
juga menyimpan uang di situ. Tetapi JI tidak bergabung dengan orang-
orang yang berperang di Pattani. Sampai sekarang pun, setahu saya,
belum ada bukti pemboman atau strategi perang mereka dilakukan oleh
orang di luar muslim Melayu.

Apakah eksekusi Imam Samudra dkk akan membuat gerakan


Islam radikal ciut?
Eksekusi tidak akan membuat takut. Justru orang-orang di jaringan ini
akan melihat Imam Samudra dkk mati syahid. Kabarnya, sudah ada
rencana melakukan konvoi besar-besaran untuk mendampingi mayat
Amrozi dan Mukhlas kembali ke Lamongan dan mayat Imam Samudra ke
Serang. Jadi saya kira eksekusi itu sama sekali tak menyelesaikan
persoalan kelompok ini. Justru malah sebaliknya.

Mekanisme apa yang bisa menyelesaikan gerakan teror?


Kalau kita melihat sejarah munculnya terorisme di negara lain umumnya
selalu dipicu oleh tiga faktor. Faktor pertama, terjadi pendudukan wilayah
muslim oleh non muslim seperti di Khasmir, Chechya dan Irak. Faktor
kedua, ada pemerintah yang sangat represif seperti di Arab Saudi dan
negara-negara Arab lain. Faktor pemicu ketiga, ada kaum minoritas yang
merasa teralienasi seperti keturunan Pakistan di Inggris atau keturunan
Afrika Utara di Prancis. Masalahnya kondisi Indonesia sekarang sangat
jauh berbeda dengan tiga syarat kemunculan gerakan teroris tadi.

Lantas kenapa masih ada kelompok teroris di Indonesia?


Saya kira barangkali karena kita tengah menghadapi era time lag karena
dulu pemerintah Indonesia sangat represif. Dulu, saat JI dibentuk, dan
Darul Islam mengirim orang pertama kali ke Afganistan, salah satu
tujuannya adalah mendapatkan keahlian untuk melawan Soeharto. Maka
saya menilai, walau sudah 10 tahun umur reformasi, masih ada orang-
orang yang belum bisa menyesuaikan diri ke dalam keadaan yang baru.

Terorisme merebak karena faktor tak bisa menyesuaikan diri?


Saya kira walaupun anggota JI sekarang menolak demokrasi, karena
menilai demokrasi didasarkan hukum manusia dan bukan hukum Tuhan,
lambat laun ada dari mereka yang akan ditarik ke partai politik. Mereka
akan masuk ke dalam partai Islam kalau mereka yakin bisa
memperjuangkan penegakan Syariat Islam melalui sistem demokratis.
Maka, kalau lambat laun kelompok teroris ini hancur, saya kira bukan
karena aksi polisi. Bukan karena perang di Irak sudah berakhir. Bukan
karena konflik Palestina sudah selesai. Namun lebih karena faktor
kehancuran dari dalam. Yakni munculnya keyakinan baru bahwa cara-
cara kekerasan bukan merupakan solusi dari apa yang mereka cari.

Komentar Anda mengenai mundurnya Abu Bakar Ba'asyir dari


MMI?
Saya kira tidak begitu penting. MMI pasti akan lemah tanpa Baasyir. Tapi
saya mendengar Baasyir kini malah tengah mendirikan Baasyir Center.
Jadi saya lebih melihat pendirian Center itu sebagai sebuah pendirian
kelompok politik. Sama seperti Wahid Center, Mega Center dan Habibie
Center. Sangat aneh bagi seorang ulama membuat center, kecuali jika dia
memang ingin terjun ke dunia politik.

Apakah JI benar-benar ada?


JI bukan ekaan. Bahkan saat penangkapan Abu Dujana dan Zarkasih,
mereka mengaku secara terbuka ke media massa bahwa mereka anggota
JI. Jadi JI kini bukan lagi sesuatu yang misterius.

Bagaimana sebenarnya hubungan Al Qaeda dan JI dalam bom


Bali?
Saya yakin tidak ada perintah dari Al Qaeda untuk bom Bali. Bahwa
Hambali sudah berbicara dengan pentinggi Al Qaeda dan mendapat uang
dari sana, memang benar. Tapi semuanya direncanakan dan dilakukan
oleh orang Indonesia sendiri tanpa didalangi oleh Al Qaeda.
Saya kira pada tahun 2001 dan 2002 harus melihat keterkaitan Al Qaeda
dan JI seperti hubungan antara donatur dan LSM. LSM mengajukan
proposal bantuan dana supaya mereka bisa melaksanakan program yang
sudah mereka susun sendiri.

Bagaimana dengan peran Hambali?


Tetapi juga benar selama Hambali masih aktif, dia bisa menjadi perantara.
Baik antara kelompok JI, Taliban dan Al Qaeda. Sehingga ada orang-orang
JI yang dikirim untuk berlatih di Kandahar. Di sana ada sebuah kamp yang
sangat terkenal yakni kamp al Farouq. Orang-orang JI banyak yang
berlatih di sana. Namun bukan berarti JI merupakan boneka dari Al Qaeda.
Dan sejak tahun 2003, saya sama sekali tidak pernah mendengar ada
uang yang disalurkan Al Qaeda untuk JI guna melakukan operasi.
Kasus yang pertama muncul setelah tahun 2003 adalah pemberian tiket
untuk Abu Husna oleh orang Arab bernama Jafar. Tapi kita tidak tahu
apakah Jafar berafliasi dengan sebuah organisas. Apakah dia dari Al Qaeda
atau hanya sekedar simpatisan belaka.

Bagaimana dengan pengakuan Mukhlas bahwa ia pernah bertemu


Muhammad Atta, pemimpin penyerangan ke World Trade Center?
Saya tidak tahu. Mukhlas orang yang senang bicara besar. Tapi hal itu
tidak mustahil terjadi. Apalagi ada orang-orang Al Qaeda yang pernah
mampir di Kuala Lumpur saat Mukhlas masih berada di Malaysia.

* Wawancara dengan Abu Jaffar *

Abu Jaffar: “Sebelum Aksi, Mereka Di-Isolasi”

Namanya minta disebut Abu Jaffar. Umurnya, 35 tahun. Dia asli


Tasikmalaya, Jawa Barat. Kulitnya putih, dengan perawakan badan
sedang. Di lengannya, ada bekas luka sayatan sepanjang sepuluh
sentimeter. Meski belum terlalu tua, gayanya tampak seperti seorang
veteran. “Saya pernah berjihad di Ambon dan Poso,” ujarnya.
Pengalaman tempurnya lumayan. Dia pernah berlatih militer di Mindanao,
Filipina Selatan, pada 2001.
Dari Jaffar, ada cerita bagaimana para pelaku bom bunuh diri melakukan
persiapan. Jaffar mengaku kawan karib Isya alias Iqbal, salah satu pelaku
bom bunuh diri yang melantak Legian, Bali, Oktober enam tahun silam.
Para pelaku itu dikenal “Duo Iqbal”. Isya punya nama alias Iqbal, dialah
yang memakai rompi bom itu. Sementara Arnasan, si pembawa mobil Colt
maut itu, juga memakai nama alias Iqbal, dan nama lainnya Acong.
“Isya adalah kawan saya ketika berjihad di Ambon,” ujar Jaffar . Dia
menyebut Isya adalah “tenaga siap pakai” buat bom jihad. Di Ambon, Isya
satu angkatan dengan Abdullah Sunata, koordinator Mujahidin Kompak
(Komite Penanggulangan Krisis) Ambon, yang aktif menggalang jihad saat
konflik agama meletup di sana pada 1999. Sunata kini mendekam di
Penjara Cipinang. Dia dihukum tujuh tahun karena didakwa
menyembunyikan Noordin M Top, salah satu otak teror bom, yang kini
masih jadi buronan nomor satu polisi.
Meski bukan orang yang merekrut Isya masuk ke pasukan “bom syahid” ,
Jaffar mengaku banyak tahu proses pelatihan itu. Mengapa para calon
laksar Istimata itu harus dikarantina? Berikut petikan obrolannya dengan
VIVAnews, Oktober 2008 lalu, di Jakarta.

Soal syarat, siapa yang boleh ikut operasi Istimata?


Syaratnya tidak rumit. Pertama, si calon sudah dibina baik ilmu agama
dan askary (militer). Pemahamannya soal jihad harus sudah khatam
(tamat). Selain itu, kemampuan militer jelas penting. Bagaimana mau
melakukan operasi bom syahid kalau tidak tahu seluk beluk demolition
(peledakan). Kedua, dia juga harus berani. Operasi Istimata adalah operasi
membutuhkan keberanian ekstra. Biasanya orang yang dipilih sudah
terbukti keberaniannya. Misalkan saat di wilayah konflik orang ini sudah
dikenal berani. Kalau sekedar syarat pertama saja yang dipenuhi, bisa-bisa
operasi gagal dilakukan karena orangnya ketakutan.

Lalu, apa langkah selanjutnya?


Mereka ditanya apakah berminat bergabung dengan pasukan khusus
untuk operasi Istimata? Tentu saja, dijelaskan bahwa istimata adalah
amalan masyru’ (disyariatkan dalam Islam) dan bagian dari jihad fie
sabilillah. Jadi, dia tidak bimbang. Apalagi menganggap operasi Istimata
sebagai operasi bunuh diri. Kalau dia setuju dan punya niat, barulah
diikutkan dalam daurah (pelatihan khusus).

Maksudnya?
Daurah khusus buat para calon pelaku istimata. Disebut khusus, karena
materinya juga sangat berbeda dari pelatihan keagamaan biasa. Antara
lain, materi jihad diulang kembali termasuk materi Istimata. Lalu, ada
materi-materi tazkiyatun nufs (pensucian batin). Di sini, ditekankan
pentingnya niat lurus, dan hati yang bersih. Orang ikut perang, tapi
niatnya mendapat ghanimah atau harta rampasan perang, ia tak akan
mati syahid. Ia tidak masuk surga, tapi masuk neraka. Juga berjihad
karena ingin dipuji sebagai pemberani. Kalau dia mati dia masuk neraka.
Hanya niat berjihad karena Allah saja yang benar-benar dijamin syahid
dan masuk surga. Porsi materi pensucian batin ini sangat dominan.

Ada materi lain yang lebih khusus?


Ada. Soal cerita-cerita bom syahid seperti kasus di Palestina atau WTC.
Mereka juga disuruh membaca wasiat dari para pelaku “bom syahid”.
Yang paling sering digunakan tentu saja Surat Wasiat Ibnu Jarrah al
Ghamidy, salah satu pelaku “bom syahid” WTC 9/11. Isinya sangat
menggugah dan menginspirasi.

Soal materi kemiliteran, apa saja yang diajarkan?


Pada fase berikut, materi soal askary kerap diulang kembali. Terutama
ilmu demolition atau ilmu peledakan. Mereka diperkenalkan kembali soal
bom rompi, bom tas, dan bom lainnya. Selain itu mereka diperkenalkan
kembali soal komponen bom seperti detonator, firing device dan lain-lain.
Mereka harus menghapalkan itu semua.

Selain materi itu, ada kegiatan mempersiakan mental?


Tentu, mereka harus menjalankan ibadah nawafil atau sunah-sunah.
Shalat sunat diperbanyak, seperti shalat dhuha dan shalat malam. Baca
Quran, zikir pagi dan petang. Selain itu, mereka dianjurkan puasa Daud.
Tujuan ibadah ini untuk membersihkan jiwa. Mereka juga menjalankan
sunah keseharian, seperti meniru cara Nabi makan, tidur dan sebagainya.

Selama masa pembekalan, mereka boleh bertemu dunia luar?


Mereka dikarantina, jadi hubungan dengan orang lain sangat terbatas. Ini
mengurangi pengaruh buruk dari luar. Selain itu, agar mereka terhindar
dari perbuatan laghah (perbuatan penuh kesia-siaan). Seperti banyak
tertawa, banyak bicara dan lain-lain.

Berapa lama semua proses itu?


Biasanya satu bulan. Setelah itu, mereka siap melakukan operasi Istimata.
Itu tergantung ada program operasi atau tidak. Kalau tidak, sambil
menunggu, ya kembali jadi mujahid biasa. Seperti kasus Isya, teman saya
itu. Dia sempat menunggu satu tahun sebelum aksi Bom Bali. Biasanya
dua atau satu bulan sebelum “Hari-H” baru dilakukan kembali semacam
training tadi.

Pelatihan lagi. Lalu, materinya apa?


Ya, pelatihan khusus menjelang operasi Istimata. Dalam fase ini, dilakukan
isolasi total. Hanya tim inti saja bisa ketemu, termasuk keluarga.
Materinya sama dengan materi perekrutan, yaitu soal agama dan askary.
Yang beda, materi askary lebih detil. Misalnya, bagaimana meledakkan
bom, memakai bom rompi, atau bom ransel, seperti Bom Bali II. Dia harus
tahu seluk beluk bom rompi atau bom ransel itu. Harus dihapal luar
kepala. Selain itu, juga dibawa survei ke lokasi. Tujuannya, pengenalan
lapangan. Dan memastikan mereka tidak salah target.

***

BAGIAN IV

JIHAD GLOBAL, AKSI LOKAL

Gerakan Islam Militan 1976 – 2008

Mulanya perdebatan kemana arah Indonesia setelah merdeka. Kecewa pada perkembangan
politik pada awal kemerdekaan, Sekar Madji Kartosuwiryo, pejuang revolusi nasional, lalu
menginginkan Islam sebagai dasar negara. Dia mendirikan Darul Islam (DI) pada 1949.
Lalu, ide itu pun naik turun di pentas sejarah. Bahkan, setelah pemberontakan DI padam,
dan Kartosuwiryo meninggal pada 1962.
Pada masa rezim orde baru, gagasan politik itu bertahan dalam bentuk gerakan bawah
tanah. Sepanjang 1970an dan 1980an, ide itu meluncur kembali dalam berbagai varian.
Menjelang tutup abad 20, kelompok Islam radikal muncul ke permukaan, ditandai aksi
beruntun peledakan bom. Nama Jamaah Islamiyah lalu muncul. Gerakan itu disebut
perubahan bentuk dari ide Darul Islam.

Berikut kronologi gerakan itu sepanjang 1976 sampai 2008.

1976-1985: Melawan Orde Baru

1976. Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir bergabung dengan Darul Islam (DI).

Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir menghidupkan kembali Darul Islam (DI).
Keduanya di-baiat Haji Ismail Pranoto (Hispran). Sungkar seorang mubaligh DDII (Dewan
Dakwah Islamiyah Indonesia) pimpinan Mohammad Natsir, bekas tokoh Masyumi.
Sementara Baasyir mantan aktivis Al Irsyad. Kedua ustad pendiri pesantren Ngruki ini
bergabung dengan DI karena yakin perjuangan menegakan syariat Islam hanya bisa dilakukan
melalui sebuah jamaah.

Darul Islam itu digerakkan kembali oleh orang-orang bekas DI seperti Danu Muhammad
Hassan, Aceng Kurnia, Adah Jaelani. Mereka melanjutkan perjuangan Kartosuwirjo
menegakan Negara Islam Indonesia (NII). Pada tahun tersebut, kelompok DI mulai
melakukan berbagai aksi teror yang mereka anggap sebagai aksi jihad.

Pada Agustus 1976 orang-orang DI di Medan pimpinan Gaos Taufik dan Timsar Zubil mulai
melakukan berbagai aksi teror. Di Medan, mereka meledakkan Gereja Methodis dan
Perguruan Budi Murni. Di Bukit Tinggi, mereka meledakkan Rumah Sakit Imanuel.
Sementara itu di Padang, kelompok ini meledakkan Mesjid Nurul Iman. Selain itu mereka
melakukan pelemparan granat saat acara Musabaqah Tilawatil Quran di Padang. Tak berhenti
di sana, tempat hiburan juga jadi sasaran. Bioskop Riang dan Bar Apolo di Medan juga
dibom.

1977. Penangkapan para tokoh Darul Islam.

Lebih dari 700 anggota dan tokoh DI di Sumatera Utara, Palembang, Lampung, Jakarta, Jawa
Barat dan Jawa Timur ditangkap. Mereka yang ditangkap di antaranya Haji Ismail Pranoto
(Hispran), Gaos Taufik, Danu Muhammad Hassan, Muhammad Darda, Timsar Zubil dll.
Mereka dituding terlibat gerakan Komando Jihad yang bercita-cita mendirikan NII.

Basis gerakan DI pindah ke Jawa Tengah terutama Solo dan Yogyakarta. Aparat keamanan
belum mengendus keterlibatan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir dalam gerakan
Darul Islam. Abdullah Sungkar masih aktif berceramah, sementara Abu Bakar Ba'asyir lebih
aktif mengurus pesantren. Ceramah-ceramah Sungkar dikenal keras. Salah satu tema paling
ia sukai soal aqidah. Konsep aqidah Abdullah Sungkar sangat dipengaruhi pemikiran
Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabi. Misalnya, Sungkar sering mengkritik
upacara bendera yang diwajibkan pada hari Senin di setiap sekolah. Dia mengkritik
penghormatan bendera merah putih yang diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kata
Sungkar, perbuatan itu syirik karena sama persis penghormatan berhala oleh orang-orang kafir
di Mekah pada zaman Nabi dulu. Sungkar dan Baasyir melarang upacara bendera di pesantren
Ngruki.

Sungkar juga menuding kebijakan pemerintah yang menetapkan Pancasila sebagai sumber
dari segala sumber hukum adalah juga perbuatan syirik alias menyekutukan Allah, karena
Pancasila telah dijadikan tandingan atas Al Quran dan Hadits yang dipercaya oleh Sungkar
sebagai sumber dari segala sumber hukum bagi setiap Muslim

Halaman 2 dari 11
Jihad Global, Aksi Lokal

Kronologi Gerakan Islam Militan 1976 – 2008

1978. Penangkapan Sungkar dan Basyir.

Sungkar tersandung masalah. Pemicunya adalah ceramah dia di Pondok Pesantren


Ngadiliwulih, Matesih, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah. Perisitiwa itu terjadi pada 20
Januari 1978. Aparat keamanan marah setelah Sungkar menyebut bahwa Pancasila buatan
manusia, sementara Al Quran adalah wahyu Illahi. Oleh karena itu menurut Sungkar
Pancasila tak ada artinya bila dibandingkan Al Quran. Selain itu, dalam ceramahnya juga
Sungkar menyebut bahwa ada dua pejabat teras yang terindikasi PKI (Partai Komunis
Indonesia).

Aparat keamanan marah, namun Sungkar kabur. Selama Sungkar dalam pelarian, peran
Sungkar diambil alih oleh Abu Bakar Ba'asyir dengan dibantu oleh Abdullah Umar, Abdul
Kadir Baraja dan Hasan Basri.

Mereka mengembangkan DI tak hanya di Solo saja tapi juga meluaskan pengaruh hingga
Yogyakarta. Di Yogyakarta mereka berhasil merekrut para aktivis Islam IAIN dari Mesjid
Sudirman, diantaranya Fihiruddin, Irfan Awwas, adik Fihiruddin, dan Muchliansyah. Pada
akhir 1978, Sungkar berhasil diciduk aparat. Pencidukan tak berhenti di sana, aparat juga
mencokok Abu Bakar Ba'asyir.

VIDEO | Membaca Jejak Noordin

Dokumen
• BAP Abdullah Sungkar (PDF)
• BAP Ali Imron (PDF)
• PUPJI (PDF)
• Dakwaan Sungkar dan Baasyir (PDF)
• Pledoi Sungkar (PDF)
• Pledoi Baasyir (PDF)
• Vonis Sungkar-Baasyir (PDF)

Profil
• Abdullah Sungkar
• Abu Bakar Ba'asyir
Audio
• Ceramah Abdullah Sungkar

ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka

1980. Yogyakarta jadi pusat gerakan Darul Islam.

Penangkapan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir tak benar-benar melumpuhkan
gerakan DI di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Gerakan DI di Jawa Tengah pindah ke
Yogyakarta. Irfan Awwas dan Muchliansyah mulai mengembangkan sistem pembinaan baru
yang disebut usroh. Usroh adalah sistem pembinaan ala Ikhwanul Muslimin, Mesir.

1981. Penangkapan tokoh Komando Jihad.

Aparat keamanan menangkap para tokoh DI yang lolos dalam kasus Komando Jihad pada
1976-1977. Hampir semua petinggi DI tertangkap termasuk Adah Djaelani, Sang Imam DI.
Gerakan DI di Jawa Barat bisa dikatakan lumpuh, satu-satunya kelompok DI yang masih
bertahan adalah DI Yogyakarta dan Solo yang dimotori oleh Irfan Awwas dan Muchliansyah.

1982. Pengadilan Sungkar dan Baasyir.

Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir diadili pada 1982. Mereka dituntut jaksa 15
tahun. Sementara hakim memutus 9 tahun. Tak puas dengan keputusan hakim, keduanya
banding. Pengadilan Tinggi Jawa Tengah kemudian memvonis 4 tahun. Giliran jaksa yang tak
puas. Jaksa balik mengajukan kasasi ke MA (Mahkamah Agung) di Jakarta. Namun proses
kasasi itu sempat terkatung-katung. Karena keputusan ini sama persis dengan masa tahanan
yang sudah dijalani, akibatnya kedua orang itu kemudian dibebaskan.

Setelah bebas keduanya kembali aktif berdakwah, dan aktif membentuk usroh-usroh.
Sementara itu di Yogyakarta, Irfan Awwas dan Muchliansyah juga mulai menyebarkan
gagasan-gagasan DI melalui bulletin Al Ikhwan, yang belakangan ganti nama jadi Ar Risalah.

Tak hanya itu, kelompok Yogya juga bekerjasama dengan Ir. HM. Sanusi, tokoh Petisi 50
dan kelompok BPMI pimpinan Nunung Nurul Ichsan dan Mursalin Dahlan menggagas
revolusi di Indonesia ala Revolusi Iran. Mereka juga sepakat seandainya revolusi berhasil
dilakukan, para tokoh oposisi seperti kelompok Petisi 50 akan dilibatkan dalam pemerintah
baru nanti. Niat melaksanakan revolusi semakin bulat setelah Suharto menggagas soal
Pancasila yang akan dijadikan azas tunggal bagi partai politik dan organisasi massa. Gagasan
Azas Tunggal ini dianggap Sungkar dan kawan-kawan sebagai bentuk kemusrikan. Revolusi
penggulingan pemerintah Suharto ini direncakan akan dilancarkan pada awal 1983.

Halaman 3 dari 11
Jihad Global, Aksi Lokal

Kronologi Gerakan Islam Militan 1976 – 2008


1983. Rencana menggulingkan Suharto.

Revolusi penggulingan Soeharto rencananya berlangsung 25 Februari 1983. Para kader DI


dan para kader BPMI dari berbagai kota akan datang ke Jakarta dan berkumpul di Mesjid
Istiqlal. Tanggal ini bertepatan dengan hari Jumat, saat mereka merencanakan aksi massa
usai shalat Jumat dan dimulai dengan acara Apel Akbar. Untuk menarik dukungan massa
yang luas, panitia Apel Akbar mencetak undangan atas nama Majelis Ulama Indonesia
(MUI). Mereka memalsu kop surat, stempel serta tanda tangan KH. Syukri Ghozali, Ketua
MUI. Mereka menyebut acaranya “Apel Akbar Ikrar Wahdatul Islam.” Dalam undangan ini
disebutkan juga bahwa rencana penerapan azas tunggal oleh pemerintah adalah bentuk
pemurtadan.

Undangan ini disebarkan ke seluruh mesjid di Jakarta. Sialnya undangan ini pun jatuh ke
tangan pengurus MUI. Mereka marah bukan kepalang menemukan undangan atas nama MUI
yang isinya sangat mengadu domba antara pemerintah dengan MUI dan umat Islam. Esok
harinya, Kamis 24 Februari 1983, KH. Syukri Ghozali, Ketua Umum MUI melaporkan kasus
undangan gelap ini kepada Komkaptib, Mabes Polri dan Bakin. Kemudian ia memberikan
pernyataan pers yang menyebutkan bahwa Undangan Apel Akbar Wahdatul Islam adalah
undangan palsu yang mencatut MUI.

Jumat, 25 Februari 1983, situasi Mesjid Istiqlal sangat ramai. Jumlah jamaah amat banyak
melebih jumlah jamaah shalat Jumat biasanya. Kendaraan roda dua dan roda empat juga
membanjiri pekarangan mesjid. Melihat massa yang membludak, salah seorang pengurus
Mesjid Istiqlal membacakan pernyataan dan penjelasan MUI yang menyatakan bahwa MUI
tak pernah mengadakan acara Apel Akbar Wahdatul Islam dan juga meminta umat Islam agar
jangan mau diadu domba dengan pemerintah. Selepas shalat Jumat penjelasan serupa diulang
lagi. Jamaah pun akhirnya pulang. Revolusi pun gagal.

VIDEO | Membaca Jejak Noordin

Dokumen
• BAP Abdullah Sungkar (PDF)
• BAP Ali Imron (PDF)
• PUPJI (PDF)
• Dakwaan Sungkar dan Baasyir (PDF)
• Pledoi Sungkar (PDF)
• Pledoi Baasyir (PDF)
• Vonis Sungkar-Baasyir (PDF)

Profil
• Abdullah Sungkar
• Abu Bakar Ba'asyir

Audio
• Ceramah Abdullah Sungkar
ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka

1984. Penangkapan Toni Ardie, Irfan S Awwas dan lain-lain.

Setelah gagal, kelompok DI Yogya, kelompok BPMI, dan Ir Sanusi melakukan konsolidasi
gerakan. Mereka membentuk organisasi baru yang jadi wadah berbagai kelompok Islam anti
Orde Baru. Kelompok ini diberi nama Lembaga Studi Umatan Wahidah (LSUW). Melalui
lembaga ini mereka mulai melakukan eksperimen kembali melakukan rencana apel akbar.
Sebagai latihan LSUW merencanakan akan mengadakan berbagai acara tabligh akbar di
berbagai mesjid. Tema yang diangkat dalam tabligh akbar itu adalah seruan anti Azas
Tunggal Pancasila. Namun rencana ini belum berhasil dilakukan.

Pasalnya acara tabligh akbar yang pertamakali dilaksanakan di mesjid Al Azhar berbuntut
penangkapan para aktivis LSUW seperti Ir. Toni Ardie, Rani Yunsih dan Nunung Nurul
Ikhsan. Tak berhenti di sana, aparat kemanan melanjutkan aksi penangkapan ke Yogyakarta.
Pada 4 Oktober 1983, kantor bulletin Ar Risalah, di Mesjid Sudirman, Yogyakarta yang juga
markas kelompok DI Yogyakarta diserang aparat.

Beberapa aktivisnya sempat ditangkap meski belakangan dibebaskan. Ar Risalah juga


dilarang terbit. Pembredelan dan penyerbuan kantor Ar Risalah ini membuat banyak aktivis
Yogyakarta melarikan diri ke Jakarta. Namun pembredelan ini tak membuat kapok Irfan
Awwas, sebulan kemudian ia menerbitkan bulettin serupa dengan Ar Risalah namun dengan
nama baru yaitu Al Ikhwan. Kecuali nama, isi dari bulettin ini sama persis dengan Ar Risalah.
Tapi, Irfan Awwas hanya bisa memimpin Al Ikhwan kurang dari tiga bulan. Pada 8 Februari
1984 Irfan Suryahadi diciduk oleh aparat.

Pencidukan Irfan ini membuat gerakan usroh di Yogyakarta morat-marit. Para aktivis DI
Yogyakarta tiarap. Sebagian besar dari para aktivisnya hijrah alias kabur ke Jakarta.
Muchliansyah lari ke Jakarta. Di sana mereka tak sekedar sembunyi tapi mulai aktif
membangun jaringan usroh di Jakarta. Mereka berhasil membangun basis gerakan mereka di
daerah Condet dan daerah Santa Blok M. Kelompok usroh di dua tempat di Jakarta ini lebih
dikenal dengan sebutan kelompok usroh Ring Condet dan Ring Santa.

Sementara itu pada pertengahan 1984, pemerintah menetapkan RUU Parpol dan Ormas yang
mewajibkan setiap ormas dan parpol menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya azas tunggal.

1984. September, Tragedi Tanjung Priok.

Keputusan azas tunggal ini membuat kelompok Islam marah. Mereka melakukan perlawanan.
Salah satunya, di daerah Tanjung Priok. Para mubaligh dan aktivis Islam menyuarakan
perlawanannya dari mimbar-mimbar mesjid dan acara tabligh akbar. Para mubaligh keras ini
umumnya adalah para mubalig dan pengajar Perguruan Tinggi Dakwah Islam (PTDI)
Tanjung Priok. Misalkan Abdul Qadir Jaelani, tokoh GPI ini adalah dosen PTDI; Prof.
Oesman Hamidi, rektor PTDI yang juga orang DI Aceh; Sulaiman Mahmud dosen PTDI yang
juga tokoh DI Aceh; Yayan Hendrayana, alumni PTDI yang dikenal sebagai ustadz
provokator. Klimaksnya adalah tragedi Tanjung Priok pada September 1984. Insiden ini
dipicu bentrokan antara warga Tanjung Priok dengan aparat keamanan. Bentrokan ini
memakan korban jiwa lebih dari 100 orang.
Halaman 4 dari 11
Jihad Global, Aksi Lokal

Kronologi Gerakan Islam Militan 1976 – 2008

1985. Pemboman Candi Borobudur.

Selepas peristiwa berdarah ini, aparat keamanan makin represif, apalagi pasca kejadian itu
terjadi aksi balas dendam dari para aktivis Islam seperti kasus Bom Borobudur pada Januari
1985. Pemerintah tampaknya mencium bahwa ada anasir-anasir subversif yang melibatkan
tokoh-tokoh DI berada dibalik aksi teror itu. Belakangan terbukti bahwa Abdul Kadir Baraja,
salah seorang kolega Sungkar dan Baasyir, ikut terlibat pemboman Borobudur. Tokoh-tokoh
DI pun diburu.

Untuk menciduk kedua orang itu, rezim militer orde baru memakai cara yang berbeda. Tidak
main ciduk, tapi memanfaatkan proses kasasi dari jaksa yang sempat terkatung-katung di MA.
Pemerintah kembali memproses kasasi jaksa di Mahkamah Agung (MA). Pada Maret 1985
keputusan kasasi MA sudah keluar. Seminggu sebelum keputusan itu dibacakan di pengadilan
Sukoharjo, kedua ustadz sudah mendapat bocoran bahwa pihak MA menjatuhkan hukuman
sama dengan keputusan pengadilan Surakarta yaitu 9 tahun.

VIDEO | Membaca Jejak Noordin

Dokumen
• BAP Abdullah Sungkar (PDF)
• BAP Ali Imron (PDF)
• PUPJI (PDF)
• Dakwaan Sungkar dan Baasyir (PDF)
• Pledoi Sungkar (PDF)
• Pledoi Baasyir (PDF)
• Vonis Sungkar-Baasyir (PDF)

Profil
• Abdullah Sungkar
• Abu Bakar Ba'asyir

Audio
• Ceramah Abdullah Sungkar

ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka

1985. Sungkar dan Bassyir kabur ke Malaysia.


Mendengar bocoran itu, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir pun kabur. Mereka
sempat kabur ke Jakarta. Dari Jakarta mereka melanjutkan pelarian ke luar negeri. Dalam
pelarian ini mereka dibantu oleh Muhammad Natsir, tokoh Dewan Dakwah Islamiyah
Indonesia (DDII). Natsir juga yang meminta keduanya lari ke Malaysia. Bukan hanya
Sungkar dan Baasyir saja yang lari, para aktivis Usroh Yogya dan Solo pun banyak yang
bergabung kabur ke Malaysia. Di antaranya Fihiruddin dan Muchliansyah.

1985. Pelatihan militer di Afganistan.

Selain berhasil menyelamatkan diri dari kejaran aparat keamanan Orde Baru, di Malaysia
Sungkar juga berhasil membuka hubungan kerjasama dengan kelompok-kelompok Islam
Internasional. Salah satunya dengan para mujahidin Afganistan. Pada pertengahan 1985, Abu
Bakar Ba'asyir dan Abdullah Sungkar mampir ke Afganistan. Di sana mereka bertemu dengan
Syaikh Rasul Sayyaf salah seorang pimpinan Mujahidin Afganistan. Dalam pertemuan itu
tercapai kesepakatan kerjasama antara kelompok Syaikh Rasul Sayyaf dengan DI. Kerjasama
ini dalam bentuk pelatihan militer di Afganistan bagi para kader DI.

Kerjamasama ini adalah bagian dari program Maktab Al Khidmat pimpinan Syaikh Abdullah
Azzam yaitu memfasilitasi para mujahidin asing. Untuk wilayah Asia Tenggara Syaikh
Abdullah Azzam bekerjasama dengan Syaikh Rasul Sayyaf, pimpinan kelompok Ittihad Al
Islami. Kelompok Sayaf sendiri punya sebuah akademi militer yang bernama Harbiy
Pohantum Mujahidin Afganistan Ittihad al Islamiy. Di sanalah para kader DI rencananya akan
dilatih. Kesepakatan ini segera ditindaklanjuti. Abdullah Sungkar segera menyiapkan kader-
kader DI di Indonesia untuk dikirim ke Afganistan. Sejak itu, mulailah terjadi pengiriman
para kader DI ke Afganistan. Mereka datang ke Afganistan sebenarnya bukan untuk berjihad
tapi untuk i’dad askary (latihan militer).

Selepas mereka mengikuti akademi militer, para kader DI ini akan kembali ke Indonesia
untuk berjihad disini. Beberapa kader DI yang dikirim ke Afganistan antara lain: Hambali, Ali
Ghufron, Imam Samudera dan lain-lain. Selain mendapat pelatihan militer, sebagian dari para
siswa Indonesia juga sempat mendapat pendidikan agama langsung dari Abdullah Azzam.
Kebetulan letak kamp pelatihan siswa Indonesia di daerah Saada tak jauh letaknya dari kamp
Kheldan milik Abdullah Azzam. Pengalaman diajar oleh tokoh jihad sekelas Azzam ini sangat
mengesankan hampir semua kader DI yang sedang ikut pelatihan.

Halaman 5 dari 11
Jihad Global, Aksi Lokal

Kronologi Gerakan Islam Militan 1976 – 2008

1986-1998: Ke Pentas Jihad Global

1987. Di Kamp militer Usamah bin Ladin.

Salah satu pengalaman penting yang dirasakan oleh sebagian para kader DI di Afganistan
adalah keterlibatan mereka dalam pertempuran Joji. Pertempuran Joji ini berawal dari serbuan
pasukan Rusia kepada kamp Masaadah Al Anshar milik Usamah bin Ladin dan para
mujahidin Arab. Kamp yang dibangun Usamah bin Ladin pada 1986 ini diserang dari darat
dan udara oleh pasukan Rusia. Menghadapai gempuran ini Usamah dan kawan-kawannya
yang berjumlah 50 orang kewalahan. Untungnya, Usamah mendapat bantuan pasukan dari
mujahidin lokal termasuk pasukan Ittihad Al Islamy pimpinan Rasul Sayaf. Nah, diantara
pasukan Syaikh Sayaf terdapat para siswa Indonesia di antaranya Ali Ghufon atau Mukhlas,
Thoriqudin, Ahmad Roihan. Para siswa dari Indonesia itu bertempur bersama dengan
Usamah Bin Ladin. Ali Ghufron menyebut pengalaman bertempur bersama Usamah sebagai
sebuah pengalaman manis.

Sementara itu, pada akhir 1987 terjadi konsolidasi internal di kalangan Darul Islam. Setelah
bertahun-tahun tanpa pimpinan, dalam sebuah musyawarah DI di Lampung terpilih Ajengan
Abdullah Masduki sebagai pimpinan DI menggantikan Adah Djaelani yang berada dalam
tahanan. Abdullah Sungkar sendiri terpilih menjadi semacam ”Menteri Luar Negeri” Darul
Islam.

VIDEO | Membaca Jejak Noordin

Dokumen
• BAP Abdullah Sungkar (PDF)
• BAP Ali Imron (PDF)
• PUPJI (PDF)
• Dakwaan Sungkar dan Baasyir (PDF)
• Pledoi Sungkar (PDF)
• Pledoi Baasyir (PDF)
• Vonis Sungkar-Baasyir (PDF)

Profil
• Abdullah Sungkar
• Abu Bakar Ba'asyir

Audio
• Ceramah Abdullah Sungkar

ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka

1989. Uni Soviet menarik diri dari Afganistan, kelompok Mujahidin menang.

Pada Februari 1989, Soviet menarik pasukannya dari Afganistan. Soviet menyerahkan
Afganistan secara penuh kepada pemerintahan boneka pimpinan DR. Muhammad Najibullah,
tokoh partai komunis Afganistan. Penarikan mundur Soviet ini menimbulkan kepercayaan
diri yang tinggi di kalangan mujahidin, termasuk siswa Indonesia. Buat mereka, mundurnya
pasukan Afganistan telah mematahkan mitos bahwa negara adi daya tak bisa dikalahkan.

Mereka tak pernah bisa membayangkan bisa mengalahkan Uni Sovyet, negara super power
yang memiliki peralatan serta fasilitas militer hampir tak tertandingi di dunia ini kecuali oleh
Amerika. Kemenangan ini telah mempertebal keyakinan mereka bahwa jihad satu-satunya
ibadah untuk mengalahkan musuh-musuh Islam. Uni Sovyet saja bisa kita kalahkan, apalagi
pemerintahan thogut (zalim) Orde Baru.

Namun tahun 1989 bukan hanya tahun kemenangan tapi juga tahun kesedihan. Pasalnya,
Abdullah Azzam keburu tewas terbunuh pada 24 November 1989. Abdullah Azzam tewas
bersama dua orang anaknya. Ia terkena bom yang meledakkan mobilnya sesaat sebelum
berangkat menunaikan shalat Jumat. Muncul desas-desus bahwa Amerika berada di balik
pembunuhan ini. Motifnya untuk menghalangi rencana Abdullah Azzam yang akan
melanjutkan jihad di Palestina. Kematian Abdullah Azzam menimbulkan dendam dikalangan
orang-orang JI terhadap Amerika. Mereka mulai melihat bahwa Amerika adalah musuh umat
Islam.

Halaman 6 dari 11
Jihad Global, Aksi Lokal

Kronologi Gerakan Islam Militan 1976 – 2008

1991-1992. Perselisihan Abdullah Sungkar vs Ajengan Masduki.

Salah satu alasan perselisihan karena Ajengan Masduki jadi penganut thariqat sufi. Padahal di
mata Abdullah Sungkar yang menjadi penganut Wahabi, thariqat maupun sufisme dianggap
sebagai ajaran sesat. Selain itu perselisihan juga berkaitan dengan pembangkangan Abdullah
Sungkar mematuhi perintah Ajengan Masduki yang meminta dirinya untuk membuka
kedutaan besar di negara-negara Islam.

Buat Sungkar permintaan ini dianggap aneh, pasalnya dia memandang DI bukan sebuah
negara tapi sekedar jamaah Islam biasa. Karena ia bukan negara maka sangat aneh kalau
seandainya membuka semacam kedutaan. Sementara itu perselisihan juga dipicu oleh
tudingan Ajengan Masduki yang menganggap terjadi penyelewengan keuangan yang
dilakukan oleh Abdullah Sungkar. Terutama uang-uang bantuan dari luar negeri seperti uang
bantuan dari Mujahidin Afganistan. Semua duit tersebut tak pernah dipertanggungjawabkan
secara transparan oleh Abdullah Sungkar. Puncak dari perselisihan itu, Abdullah Sungkar dan
Abu Bakar Ba'asyir memutuskan untuk keluar dari Darul Islam, mereka kemudian berencana
untuk membuat jamaah baru.

VIDEO | Membaca Jejak Noordin

Dokumen
• BAP Abdullah Sungkar (PDF)
• BAP Ali Imron (PDF)
• PUPJI (PDF)
• Dakwaan Sungkar dan Baasyir (PDF)
• Pledoi Sungkar (PDF)
• Pledoi Baasyir (PDF)
• Vonis Sungkar-Baasyir (PDF)

Profil
• Abdullah Sungkar
• Abu Bakar Ba'asyir

Audio
• Ceramah Abdullah Sungkar

ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka

1993-1995. Mendirikan Jamaah Islamiyah (JI).

Pada 1 Januari 1993, Abdullah Sungkar dan para pengikutnya mendirikan kelompok baru
yang diberi nama Jamaah Islamiyah (JI). Abdullah Sungkar diangkat sebagai Imam. Tujuan
jamaah baru ini sama seperti DI yaitu menegakan syariat Islam di Indonesia alias mendirikan
negara Islam di Indonesia. Sementara itu pada tahun yang sama, program i’dad askary di
Afganistan dihentikan. Penghentian ini berkaitan dengan situasi politik Afganistan yang
tengah terjebak dalam perang saudara setelah para mujahidin berhasil menggulingkan
pemerintahan Komunis Afganistan pada 1992. JI kemudian memfokuskan diri kepada
perekrutan anggota dan pembenahan aturan-aturan organisasi. Pada 1995, mereka berhasil
membuat Pedoman Umum Perjuangan Jamaah Islamiyah (PUPJI).

PUPJI pada dasarnya adalah prinsip dan strategi perjuangan JI untuk menegakan syariat Islam
di Indonesia. Selain itu PUPJI juga membuat struktur organisasi jamaah. Pimpinan Tertinggi
adalah seorang Imam yang dibantu oleh empat majelis yaitu: Majelis Qiyadah Markaziah
(Pimpinan Pusat), Majelis Syuro, Majelis Fatwa dan Majelis Hisbah . Semua majelis itu
berada di Markaziah atau Markas Besar. Qiyadah Markaziah adalah para pengurus jamaah di
tingkat Pusat. Di bawah Markaziah terdapat Mantiqi yang dipimpin oleh seorang ketua
Mantiqi. Ketua Mantiqi ini akan memimpin Majelis Qiyadah Mantiqi yang merupakan para
pengurus di tingkat wilayah.

Sementara itu, mantiqi juga membawahi wakalah-wakalah. Wakalah dipimpin seorang ketua
wakalah yang dibantu Majelis Qiyadah Wakalah yang juga pengurus di tingkat wakalah.
Nah, di bawah wakalah struktur yang terbentuk jadi mirip struktur militer. Tepat di bawah
wakalah ada struktur saroyah. Saroyah adalah sebuah kesatuan tempur seperti batalyon. Di
bawah Saroyah terdapat katibah sebuah struktur militer seperti kompi. Di bawahnya lagi ada
kirdas yaitu kesatuan seperti pleton. Kirdas membawahi fiah yang merupakan kesatuan
tempur seperti regu. Dan dibawah fiah terdapat toifah yang merupakan kesatuan tempur yang
lebih kecil dari regu dan dibentuk jika diperlukan.

1996-1997. Indonesia sebagai wilayah aksi jihad.

Pada tahun ini JI mengeluarkan sebuah keputusan penting dengan menetapkan Indonesia
menjadi sebagai wilayah jihad, Malaysia dan Singapura sebagai wilayah ekonomi dan
Mindanao sebagai wilayah pelatihan militer atau idad askary.

Wilayah jihad maksudnya Indonesia akan dijadikan tempat jihad untuk menegakan syariat
Islam. Keputusan ini sekaligus menegaskan kembali tekad JI untuk mendirikan negara Islam
di Indonesia. Sementara itu, wilayah ekonomi maksudnya menjadikan Malaysia dan
Singapura sebgai tempat untuk mencari dana. Untuk itu JI mendirikan berbagai unit usaha
disana diantaranya mereka mendirikan perusahaan Kosonjaya yang melakukan bisnis ekspor
minyak kelapa sawit ke Afganistán. Hambali sendiri duduk menjadi salah satu direktur di
perusahaan ini.

Sedangkan Mindanao dijadikan tempat pelatihan militer menggantikan Afganistan. Proyek ini
dipimpin oleh Natsir Abbas. Di Mindanao Natsir Abbas membangun sebuah kamp pelatihan
militer yang disebut kamp Hudaibiyah. Pada awalnya Kamp Hudaibiyah dikhususkan jadi
akademi militer bagi pasukan elit Moro Islamic Liberation Front (MILF). Tak setiap prajurit
MILF bisa berlatih di sana, hanya orang-orang yang sudah diseleksi saja yang bisa bergabung
latihan di sana.

Setelah JI memutuskan Mindanao sebagai wilayah pelatihan maka kamp Hudaibiyah pun
dijadikan kamp khusus untuk melatih anggota JI. Pada saat itu JI juga sudah menetapkan
Mindanao sebagai wilayah Mantiqi 3 yang dipimpin oleh Mustopa. Sementara itu Singapura
dan Malaysia sebagai daerah Mantiqi 1 dibawah kepemimpinan Hambali. Sementara itu
wilayah Indonesia dimasukan sebagai daerah Mantiqi 2 dan dipimpin oleh Ibnu Thoyib

1998. Fatwa jihad global dari Usamah bin Ladin.

Pada awal 1998, Keluar Fatwa atas nama World Islamic Front dan ditandatangani oleh
Usamah bin Ladin, Ayman al-Zawahiri (Jihad al-Islami, Mesir), Rifa’i Ahmad Taha (Jamaah
Islamiyah Mesir), Syeikh Mir Hamzah (sekretaris Jamiat ul Ulama, Pakistan) dan Fazlur
Rahman (tokoh gerakan jihad Banglades). Fatwa yang dikeluarkan pada 23 Februari 1998
menyebutkan: ”Membunuh orang-orang Amerika dan sekutu-sekutunya baik sipil maupun
militer adalah kewajiban setiap muslim yang dapat dilakukan di negara manapun bila
memungkinkan.”

Keluarnya fatwa tersebut menimbulkan perdebatan di dalam JI. Ada yang mendukung fatwa
ini dan menyerukan jihad melawan Amerika dan sekutunya. Apalagi Usamah siap
memberikan bantuan berupa dana dan pelatihan militer untuk melaksanakan operasi jihad di
wilayah Asia Tenggara. Kelompok yang mendukung ini didominasi para tokoh Mantiqi 1
seperti Hambali dan Ali Ghufron yang saat itu menjadi pemimpin pesantren Lukmanul Hakim
di Johor.

Sementara itu, kelompok yang menolak adalah para tokoh JI di Mantiqi 2 seperti Ibnu
Thoyib, Saad alias Achmad Roihan serta Thoriqudin. Mereka bersikukuh bahwa JI harus tetap
mengarahkan jihadnya melawan musuh yang dekat yaitu pemerintah Indonesia bukan
melawan musuh yang jauh seperti Amerika. Pasalnya menurut argumen syar’i musuh yang
dekat jauh lebih utama diperangi ketimbang musuh yang jauh.

Halaman 7 dari 11
Jihad Global, Aksi Lokal

Kronologi Gerakan Islam Militan 1976 – 2008

1999-2002: Jihad Global, Aksi Lokal

1999. Konflik Ambon dan aksi jihad.


Perdebatan-perdebatan itu agak mereda pada 1999 setelah munculnya konflik agama di
Maluku. Konflik antara komunitas Muslim dengan komunitas Kristen ini di telah membawa
wacana baru yang lebih pragmatis bagi kedua belah pihak di dalam JI. Keduanya setuju untuk
sama-sama melakukan jihad di Maluku. Konflik ini berawal di hari Idul Fitri 19 Januari 1999
dan dipicu oleh perselisihan antara seorang warga Kristen dari Kampung Batu Merah Atas
(Kampung Kristen) dengan warga Muslim dari Kampung Batu Merah Bawah (Kampung
Islam).

Perselisihan dua warga ini berbuntut tawuran antar kampung, yang merambat tawuran masal
tiga hari antara komunitas Muslim dengan Kristen. Umat Islam sendiri menyebut peristiwa itu
sebagai ”Tragedi Idul Fitri Berdarah.” Disebut demikian, karena banyak sekali orang Islam
tewas, luka dan terusir dari kampungnya. Tak hanya itu, sekitar 20 mesjid ikut dibakar.
Konflik Maluku ini disambut secara antusias oleh para anggota JI. Tahun ini juga tahun
berkabung buat JI. Pada akhir 1999, Ustadz Abdullah Sungkar meninggal dunia. Abu Bakar
Ba'asyir diangkat menjadi Imam baru JI.

VIDEO | Membaca Jejak Noordin

Dokumen
• BAP Abdullah Sungkar (PDF)
• BAP Ali Imron (PDF)
• PUPJI (PDF)
• Dakwaan Sungkar dan Baasyir (PDF)
• Pledoi Sungkar (PDF)
• Pledoi Baasyir (PDF)
• Vonis Sungkar-Baasyir (PDF)

Profil
• Abdullah Sungkar
• Abu Bakar Ba'asyir

Audio
• Ceramah Abdullah Sungkar

ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka

2000. Aksi Bom pada malam Natal.

Sementara itu secara diam-diam Hambali dan para koleganya di Mantiqi 1 juga
mempersiapkan sebuah aksi jihad di luar Maluku. Rancangan proyek rahasia mulai disusun
oleh Hambali pada akhir 1999. Operasi ini diberi nama operasi Al-Immatul-Kuffaar operasi
penumpasan para pemimpin kafir. Tujuan dari operasi ini adalah aksi balas dendam atas
kematian umat Islam di Maluku. Sasarannya para pendeta dan orang-orang Kristen yang
dianggap terlibat dalam kerusuhan di sana. Operasi disusun setelah Hambali dan kawan-
kawan mendengar rumor bahwa ada rencana jahat dari orang-orang Nasrani untuk
memindahkan konflik agama keluar Maluku.

Hambali menugaskan Abdul Aziz alias Imam Samudera sebagai koordinator operasi rahasia.
Sementara itu Enjang Bastaman alias Jabir diangkat sebagai komandan lapangan. Operasi ini
dilakukan secara rahasia, bahkan operasinya tak diinformasikan kepada para petinggi Mantiqi
2.

Pada Minggu 28 Mei 2000, satu bom meledak di gereja GKPI Jalan Jamir Ginting, Padang
Bulan, Medan. Bom ini melukai lebih dari 20 jamaah yang tengah kebaktian. Beberapa jam
kemudian aparat keamanan berhasil menjinakan dua bom lainnya di gereja HKBP Jalan Imam
Bonjol dan Kristus Raja Jalan MT. Haryono, Medan. Inilah aksi pertama operasi Al Immatul
Kuffar yang dipimpin oleh Imam Samudera.

Dari Mei–Desember 2000, aksi-aksi masih dilakukan di kota Medan. Barulah pada 24
Desember 2000, mereka melebarkan aksinya ke berbagai kota di Indonesia. Aksi pemboman
yang terjadi di malam natal itu bisa disebut sangat kolosal. Ada 25 bom meledak di gereja-
gereja di delapan kota di Indonesia dalam waktu yang hampir bersamaan yaitu di malam
Natal. Aksi ini menyebabkan 17 jiwa melayang dan sekitar 120 orang terluka.

Aksi Imam Samudera dan kawan-kawan ini menyulut kontroversi di kalangan di kalangan
anggota JI sendiri. Menurut Ali Imron, bahkan mayoritas alumni Afganistan dan alumni Moro
pun tak menyetujuinya. Salah satunya karena aksi tersebut melakukan penyerangan terhadap
tempat ibadah yang jelas dilarang oleh ajaran Islam. Begitu juga soal jatuhnya korban-korban
sipil. Penolakan utama dari mayoritas orang-orang JI adalah aksi tersebut dilakukan di luar
wilayah konflik.

Selain itu, aksi Imam dan kawan-kawan ini juga menandai makin buruk hubungan antara
Mantiqi 1 dengan Mantiqi 2. Para pengurus Mantiqi 2 marah karena aksi tersebut tidak
meminta persetujuan mereka padahal aksi dilakukan di Indonesia. Bukan hanya persetujuan,
menginformasikan pun tidak. Pihak Mantiqi 2 dituding melanggar PUPJI terutama pasal soal
hubungan atau kerjasama antara Mantiqi. Misalnya jika salahsatu mantiqi mau mengadakan
kegiatan di mantiqi lainnya harus disetujui oleh masing-masing pengurus Mantiqi dan juga
harus atas persetejuan Amir.

Halaman 8 dari 11
Jihad Global, Aksi Lokal

Kronologi Gerakan Islam Militan 1976 – 2008

2001. ‘Peristiwa 9/11’ dan rencana jihad di Asia Tenggara.

Banyaknya kecaman dari kalangan internal JI tak menyurutkan langkah Hambali, Imam
Samudera dan kawan-kawan. Walaupun beberapa pelaku bom Natal ditangkap dan nama
Hambali sudah diketahui aparat keamanan di Indonesia, namun hal ini tak membuat mereka
menghentikan langkah mereka.

Pada Juli 2001 mereka meledakkan gereja di komplek Angkatan Darat dan Angkatan Laut di
daerah Duren Sawit, Jakarta Timur. Mereka juga melanjutkan aksinya dengan membom
gereja Bethel di Semarang. Tak berhenti disana, pada September 2001 mereka merencanakan
aksi peledakan di acara kebaktian di Atrium Senen, Jakarta Pusat, namun aksi ini gagal karena
bom yang meledak sebelum waktunya. Beberapa orang pelakunya berhasil ditangkap.
Sementara itu pada 11 September 2001, Al Qaeda melakukan aksi penyerangan di Amerika.
Gedung World Trade Center (WTC) di New York Amerika jadi salah satu sasaran. Menara
kembar itu runtuh dan ribuan orang jadi korban. Tak lama kemudian pasukan Amerika
menyerbu Afganistan. Penyerbuan ini dimaksudkan untuk menangkap para petinggi Al
Qaeda yang bersembunyi di Afganistan di bawah perlindungan pemerintah Taliban.

VIDEO | Membaca Jejak Noordin

Dokumen
• BAP Abdullah Sungkar (PDF)
• BAP Ali Imron (PDF)
• PUPJI (PDF)
• Dakwaan Sungkar dan Baasyir (PDF)
• Pledoi Sungkar (PDF)
• Pledoi Baasyir (PDF)
• Vonis Sungkar-Baasyir (PDF)

Profil
• Abdullah Sungkar
• Abu Bakar Ba'asyir

Audio
• Ceramah Abdullah Sungkar

ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka

Tragedi WTC ini meningkatkan kepercayaan diri dan semangat Hambali dan kawan-kawan
untuk melakukan aksi serangan terhadap Amerika dan sekutunya di wilayah Asia Tenggara.
Amerika Serikat yang disebut superpower ternyata begitu mudah diserang oleh hanya belasan
pemuda saja. Mereka juga melihat bahwa waktu untuk mengobarkan jihad melawan Amerika
telah tiba. Salah satu alasannya, Amerika pasca serangan WTC berada dalam keadaan lemah,
saat terbaik menyerang musuh adalah saat mereka lemah.

Beberapa hari setelah kasus WTC, masih di bulan September Hambali dan kawan-kawannya
di Mantiqi 1 langsung bersiap melakukan penyerangan terhadap kepentingan Amerika dan
sekutunya di Asia Tenggara. Seorang utusan Al Qaeda bernama Mansour Jabarah datang ke
Malaysia untuk berdiskusi dengan Hambali berkaitan dengan rencana serangan. Jabarah
sempat berkeliling ke Singapura, Malaysia dan Pilipina untuk melihat target-target yang
mungkin diserang.

Akhirnya setelah berkeliling Jabarah bersama Hambali menyepakati untuk melaksanakan


pemboman di Singapura. Bukan bom biasa, tapi menggunakan truk-truk yang bermuatan
bom untuk menyerang kedutaan Amerika, Israel, British dan Australian High Commision
serta perusahan-perusahaan Amerika. Namun rencana bom truk ini pun gagal. Gara-garanya
pada akhir 2001 rencana jahat mereka keburu tercium oleh aparat keamanan Singapura. Para
anggota JI Singapura diciduk aparat.

Aksi-aksi penangkapan juga terjadi di Malaysia. Para anggota JI di Singapura dan Malaysia
pun lari serabutan. Ada yang kabur ke Indonesia, ada juga yang lari Thailand.

Mereka yang kabur ke negeri Siam itu antara lain Hambali, Ali Ghufron, Dr. Azahari Husein,
Noordin M.Top.

Pada awal 2002, para pelarian di Thailand mengadakan rapat. Mereka bersepakat untuk
melanjutkan rencana serangan sesuai dengan kemampuan mereka. Singapura tetap jadi target,
Noordin dan Dr. Azahari diberi tanggungjawab untuk melaksanakan aksi disana. Selain itu
juga disepakati untuk melakukan aksi penyerangan di Indonesia. Target sasarannya belum
ditentukan. Dalam pertemuan itu juga komando dialihkan dari tangan Hambali ke Ali
Ghufron, dengan alasan kondisi keamanan Hambali tak mungkin memimpin aksi
penyerangan. Selepas pertemuan Hambali pergi entah kemana. Sementara yang lain juga
berusaha mencari tempat persembunyian masing-masing. Ali Ghufron berusaha kembali ke
Indonesia.

Halaman 9 dari 11
Jihad Global, Aksi Lokal

Kronologi Gerakan Islam Militan 1976 – 2008

2002-2008: Orkes Teror Bom

2002. Aksi Bom Bali I: Rencana dan Aksi.

Sekitar April, Ali Ghufron berhasil masuk ke Indonesia. Kemudian ia bertemu dengan Imam
Samudera. Mereka kemudian rapat membicarakan rencana penyerangan di Indonesia. Imam
Samudera mengusulkan aksi pemboman dilakukan di Bali dengan target serangan para turis
asing. Imam Samudera sempat mengusulkan bahwa aksi akan dilakukan pada 11 September
2002 sekaligus sebagai acara peringatan setahun WTC.

Pilihan Bali tak bisa dilepaskan dari rasa dendam yang membakar Imam Samudera terutama
setelah terjadi aksi penyerangan pasukan Amerika ke Afganistán pasca kasus penyerangan
WTC. Peristiwa yang membikin marah Imam adalah aksi pemboman yang dilakukan pasukan
Amerika pada bulan Puasa 2001 yang menimbulkan korban sipil yang menurut Imam jumlah
korban sebanyak 200.000 jiwa yang terdiri dari laki-laki lemah, wanita dan anak-anak tak
berdosa. Menurut Imam, Jika musuh-musuh Islam (orang kafir) membunuh wanita-wanita
dan anak-anak kaum muslimin diperbolehkan membunuh wanita-wanita dan anak-anak
mereka sebagai balasan yang setimpal terhadap perbuatan orang-orang kafir.

VIDEO | Membaca Jejak Noordin

Dokumen
• BAP Abdullah Sungkar (PDF)
• BAP Ali Imron (PDF)
• PUPJI (PDF)
• Dakwaan Sungkar dan Baasyir (PDF)
• Pledoi Sungkar (PDF)
• Pledoi Baasyir (PDF)
• Vonis Sungkar-Baasyir (PDF)

Profil
• Abdullah Sungkar
• Abu Bakar Ba'asyir

Audio
• Ceramah Abdullah Sungkar

ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka

September dan Oktober adalah persiapan aksi pemboman dilakukan secara intensif.
Pengiriman bahan peledak dan survei berbagai tempat di Bali dilakukan bulan-bulan itu. Tak
hanya itu Imam dan kawan-kawan juga menyiapkan para calon pelaku bom bunuh diri.
Semua perakitan bom dilakukan di Bali. Perakitan bom mulai dilakukan pada akhir
September. Beberapa ahli Bom JI ikut terlibat seperti Ali Imron, Umar Patek, Dulmatin,
Sarjiyo alias Sawad, Abdul Goñi alias Umeir semua terlibat membuat bom mobil termasuk
belakangan bergabung juga Dr. Azahari yang melarikan diri dari Malaysia.

11 Oktober semua persiapan sudah selesai. Bom mobil yang memuat bahan peledak 1 ton,
bom rompi yang diisi 5 kg TNT dan bom motor yang memuat 5 kg TNT sudah siap. Target
sasaran sudah ditetapkan yaitu Sari Club dan Paddy's Cafe di jalan Legian Kuta Bali serta
Konsulat Amerika. Di dua tempat hiburan akan diledakkan dua bom yaitu bom rompi dan
bom mobil. Sementara itu Konsulat Amerika rencananya akan diserang dengan bom bunuh
diri menggunakan motor.

Namun persoalan muncul. Orang-orang yang terpilih untuk melaksanakan bom bunuh diri
ternyata tak lancar pakai motor dan mobil. Akhirnya rencana serangan bom bunuh diri di
konsulat Amerika diganti dengan serangan bom motor biasa. Bom akan diletakan di depan
konsulat kemudian diledakkan menggunakan handphone. Sementara itu untuk serangan di
Sari Club dan Paddy’s Café tetap pada rencana.

Ali Imron kemudian ditugaskan untuk membawa mobil yang bermuatan bom hingga lokasi
dekat dari sasaran. Dari sana barulah pelaku pemboman yang tak lancar mengendarai mobil
akan mengambil alih kemudi dan mengendarai kendaraan menuju sasaran. Peledakan akan
dimulai dengan bom rompi baru beberapa saat kemudian bom diledakan.

Malam Minggu 12 Oktober 2002, bom seberat kurang lebih satu ton meledak di Sari Club dan
Paddy's Café. Dua tempat hiburan paling ramai di kawasan Legian gosong jadi arang. Kaca-
kaca toko di sepanjang Legian pecah dan atap-atap rumah penduduk lepas beterbangan
akibatnya puluhan toko dan rumah rusak. Jumlah korbannya tak main-main. Sekitar 200 jiwa
kehilangan nyawa. Lebih dari 300 orang terluka. Seluruh dunia geger. Bom Bali disebut-
sebut sebagai serangan teroris terbesar kedua setelah serangan 9/11.

2002. Pelaku Bom Bali I tertangkap.

Pada akhir 2002 terjadi berbagai penangkapan terhadap para pelaku Bom Bali. Tokoh-tokoh
kuncinya ikut tertangkap. Termasuk Imam Samudera dan Ally Ghufron alias Muchlas.

Halaman 10 dari 11
Jihad Global, Aksi Lokal

Kronologi Gerakan Islam Militan 1976 – 2008

2003-2008: Teror dan Aksi Anti Teror

2003. Pemboman Hotel Mariott, Jakarta.

Penangkapan terus terjadi pada 2003, beberapa tokoh JI yang tidak terlibat pun ikut
ditangkap. Termasuk para alumni Afganistan seperti Achmad Roihan alias Saad, Musthopa
alias Pranata Yudha, Nasir Abbas dan Thoriqudin alias Abu Rusdan yang merupakan tokoh-
tokoh penting JI. Berbagai kasus penangkapan ini membuat banyak orang-orang JI di Mantiqi
2 menjadi berang.

Mereka menyalahkan orang-orang seperti Hambali, Muchlas dan Imam Samudera yang
melakukan sebuah operasi rahasia tanpa meminta ijin kepada Mantiqi 2 dan tanpa persetujuan
majelis fatwa JI yang menimbulkan malapetaka bagi JI. Namun, meskipun mendapat banyak
kecaman, beberapa anak buah Muchlas dan Hambali terutama duet maut : Dr. Azahari dan
Noordin M Top tetap ngotot melanjutkan aksi terornya di Indonesia.

VIDEO | Membaca Jejak Noordin

Dokumen
• BAP Abdullah Sungkar (PDF)
• BAP Ali Imron (PDF)
• PUPJI (PDF)
• Dakwaan Sungkar dan Baasyir (PDF)
• Pledoi Sungkar (PDF)
• Pledoi Baasyir (PDF)
• Vonis Sungkar-Baasyir (PDF)

Profil
• Abdullah Sungkar
• Abu Bakar Ba'asyir
Audio
• Ceramah Abdullah Sungkar

ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka

Mereka lari ke Sumatera dan mereka membangun jaringan teror baru dengan merekrut
beberapa anggota JI di Sumatera yang sebagian mereka kenal ketika keduanya berada di
pesantren Lukmanul Hakim di antaranya Muhammad Rais, Ismail alias Muhammad Ikhwan
dan Masrizal alias Tohir.

Dengan kekuatan kurang dari 10 orang mereka merencanakan sebuah aksi serupa dengan
Bom Bali. Mereka mengalihkan targetnya ke Jakarta. Ada empat tempat yang akan dijadikan
target. Kantor Cabang Citibank, Hotel Mariot, Jakarta Internasional School dan Australian
Internasional School. Setelah didiskusikan Azahari dan Noordin memutuskan untuk
melakukan aksi pemboman di Hotel Mariot. Pada 5 Agustus 2003, Hotel Mariot dibom.

2004. Bom di Kedutaan Besar Australia, Jakarta.

Selepas pemboman Hotel Mariot, polisi kembali menangkap kaki tangan Azahari dan
Noordin. Semua anak buah mereka berhasil ditangkap. Termasuk Muhammad Rais, Masrizal
dan Ismail. Azahari dan Noordin lari ke Jawa. Mereka berpindah-pindah tempat. Hebatnya
sambil lari dari kejaran polisi keduanya terus melakukan berbagai perekrutan. Di Jawa mereka
kembali membangun sebuah tim jihad. Keduanya berhasil merekrut anak-anak muda JI di
Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Subur Sugiarto alias Abu Jihad, Abdul Hadi, Gempur
alias Jabir, Urwah, Lutfi Haidaroh alias Ubeid.

Tak hanya itu, mereka juga berhasil mendapat dukungan dari beberapa tokoh JI senior yaitu
Adung, Ketua Mantiqi 1 yang lari ke Jawa, Usman bin Sef alias Fahim, ketua Wakalah JI
Jawa Timur serta Abu Fida, tokoh penting di Mahad An Nur, sekolah JI setingkat perguruan
tinggi. Hebatnya lagi Noordin dan Azahari juga berhasil merekrut Iwan Dharmawan alias
Rois tokoh kelompok Darul Islam Banten yang terkenal dengan sebutan Ring Banten.
Sebenarnya sejak lama kelompok Banten ini sudah terpengaruh oleh pikiran-pikiran jihad
yang dianut oleh Noordin dan Azahari.

Pasalnya Imam Samudera sendiri selain anggota JI punya hubungan dekat dengan kelompok
Banten. Selain karena Samudera berasal dari Serang Banten, beberapa tokoh Ring Banten
adalah kawan lama Imam Samudera ketika di SMA. Setelah bergabung dengan Noordin,
Rois merekrut beberapa anak buahnya untuk bergabung dengan tim jihad. Rois, Noordin,
Azahari dan beberapa anak buah mereka dari Jawa Timur yaitu Heri Sigu dan Hassan
merencanakan ritual tahunan yaitu aksi pemboman. Namun beberapa saat sebelum peledakan
polisi mencium gerak-gerik Noordin. Bahkan orang-orang dekat Noordin berhasil diciduk
seperti Ubaid, Urwah dan termasuk Fahim dan Adun.

Namun penangkapan ini tak mengendorkan semangatnya untuk melakukan aksi pemboman.
Apalagi tim intinya tak tertangkap. Pada Agustus 2004 mereka menetapkan Kedutaan Besar
Australia sebagai target serangan. Pada 9 September 2004, Heri Golun, anak buah Rois yang
baru belajar menyetir mobil sekitar tiga minggu meledakkan dirinya dengan mobil bermuatan
bom di depan kedutaan besar Australia.

Halaman 11 dari 11
Jihad Global, Aksi Lokal

Kronologi Gerakan Islam Militan 1976 – 2008

2005. Bom Bali II, dan pecahnya jaringan Jamaah Islamiyah.

Selepas peledakan, beberapa orang kaki tangan Noordin dan Azahari kembali tertangkap.
Termasuk Iwan Dharmawan, Heri Sigu dan Hassan. Noordin dan Azahari kembali berlari.
Namun kali ini mereka tak terlalu kesulitan untuk bersembunyi, karena mereka telah berhasil
merekrut banyak orang di Jawa Tengan dan Jawa Timur. Keduanya kemudian berusaha
untuk merekrut orang-orang non JI. Bila pada 2004 mereka berhasil merekrut beberapa orang
aktivis Ring Banten. Kali ini mereka mendekati kelompok Mujahidin KOMPAK para alumni
konflik Poso dan Maluku, dan sebuah faksi DI di Jawa Tengah.

Namun dua petinggi kelompok ini yaitu Abdullah Sunata, pimpinan KOMPAK dan Akram
alias Muhammad Taufiqqurrahman menolak ajakan Noordin bekerjasama. Tak terlalu jelas
apa alasannya. Beredar kabar keduanya menolak karena mereka tak setuju aksi jihad di daerah
aman seperti di Pulau Jawa atau Bali.

VIDEO | Membaca Jejak Noordin

Dokumen
• BAP Abdullah Sungkar (PDF)
• BAP Ali Imron (PDF)
• PUPJI (PDF)
• Dakwaan Sungkar dan Baasyir (PDF)
• Pledoi Sungkar (PDF)
• Pledoi Baasyir (PDF)
• Vonis Sungkar-Baasyir (PDF)

Profil
• Abdullah Sungkar
• Abu Bakar Ba'asyir

Audio
• Ceramah Abdullah Sungkar

ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka
Sementara itu akibat dari aksi-aksi pemboman, Noordin dan Azahari semakin tersingkir dari
JI. Para petinggi JI seperti Abu Dujana, Ibnu Thoyib, Abdurrahim dan Zuhroni menganggap
keduanya sumber malapetaka. JI sendiri sudah berhasil mengkonsolidasi diri. Kepemimpinan
dipegang oleh Zuhroni seorang alumni Afganistan angkatan 1987. JI sendiri lebih
memfokuskan aktivitasnya di daerah konflik seperti Poso. Merasa tak mendapat dukungan
lagi. Akhirnya Noordin dan Azahari bersama pengikunya memutuskan untuk memisahkan
diri. Mereka membentuk kelompok jihad baru di luar JI. Mereka sempat memakai nama
Thoifah Muqotilah. Nama ini kemudian mereka ganti dengan nama Tanzim Al Qaidah Asia
Tenggara.

Pada 2005 mereka kembali merencanakan aksi penyerangan. Bagi mereka kewajiban jihad
harus dilaksanakan minimal setahun sekali. Mereka sempat mensurvei beberapa tempat di
Jawa Timur. Antara lain Universitas Kristen Malang, Hotel Novotel Surabaya dan Sinagog di
Surabaya. Namun semua target yang sudah disurvei ini tak jadi diserang. Tak jelas alasannya.
Namun tanpa diduga mereka kembali menargetkan bali sebagai sasaran. Pada 1 Oktober
2005, tiga orang anak buah Noordin meledakkan diri menggunakan bom ransel di tiga café di
Bali. Aksi tak terduga ini menewaskan 20 orang.

2005. November, Dr Azahari tewas, Noordin M Top buron nomor satu.

Merasa kecolongan, aparat keamanan terutama polisi meningkatkan pengejaran terhadap


Noordin dan kawan-kawan. Lebih dari sebulan kemudian satu persatu kaki tangan Noordin
berhasil ditangkap. Puncaknya pada November 2005, polisi berhasil mengetahui
persembunyian Azahari di Batu Malang. Polisi mengepung tempat itu. Terjadi tembak
menembak. Azahari tewas tertembak, sementara salah seorang pengikutnya mati meledakkan
diri.

2006. Perburuan Noordin M Top di Pulau Jawa.

Penangkapan para kaki tangan Noordin di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan kematian
Azahari betul-betul melumpuhkan kekuatan Noordin dan kawan-kawan. Pada awal 2006,
kekuatan mereka hanya tersisa kurang dari 10 orang. Pada 2006, kelompok ini kembali
mendapat tamparan keras. Pada 29 April 2006 polisi berhasil mengepung sebuah rumah di
Temanggung, Jawa Tengah. Dua orang kepercayaan Noordin yaitu Abdul Hadi dan Gempur
berhasil ditembak mati. Sementara itu seorang pengikutnya berhasil diciduk hidup-hidup.

Sejak kasus Temanggung, nama Noordin seperti hilang ditelan bumi. Aktivitasnya tak
terdeteksi lagi. Bahkan pada 2006 tak terjadi aksi pemboman yang dilakukan Noordin.
Tersiar kabar dia berada di bawah lindungan JI pimpinan Zuhroni dan Abu Dujana, yang juga
bekas temannya waktu di Pesantren Lukmanul Hakim. Noordin dilindungi dengan syarat dia
tak boleh melakukan lagi aksi-aksi pemboman di Indonesia.

Dikabarkan Noordin menerima syarat ini, pasalnya dia sudah tak punya pilihan, kelompoknya
sudah hancur selain itu logistik untuk pemboman semakin terbatas. Di bawah lindungan JI
Noordin lebih banyak memfokuskan diri untuk mengedit terjemahan-terjemahan tulisan-
tulisan jihad yang banyak tersebar di internet dan kemudian menyebarkannya di situs-situs
jihad.

2007. Penangkapan Abu Dujana dan Zuhroni.

Sebagaimana tahun 2006, tahun ini aman dari aksi pemboman Noordin. Sebagaimana tahun
sebelumnya aktivitas Noordin pun tak terdeteksi. Pada tahun itu diduga Noordin tetap
dibawah perlindungan JI. Namun JI sendiri bukan tanpa masalah. Pada 2007 mereka
mendapat pukulan keras karena dua petingginya Abu Dujana dan Zuhroni berhasil diciduk
oleh polisi. Ini berawal dari kasus-kasus kekerasan di Poso yang melibatkan para anggota JI.
Dari penangkapan para anggota JI di Poso itulah polisi kemudian berhasil menciduk Abu
Dujana dan Zuhroni.

2008. Penangkapan di Palembang, Noordin M Top lolos.

Hingga awal 2008, nama Noordin benar-benar seperti hilang dari peredaran. Nama JI yang
justru mencuat. Pada awal 2008, polisi kembali berhasil menciduk dua petinggi JI yaitu
Abdurrahim dan dr. Agus. Sebenarnya keduanya ditangkap di Malaysia saat mereka akan
pergi ke Timur Tengah. Rencananya mereka akan mencari bantuan keuangan ke sana. Namun
aksi mereka berhasil digagalkan aparat keamanan Malaysia. Keduanya kemudian ditransfer ke
Indonesia.

Nama Noordin mencuat kembali ke permukaan pada pertengahan 2008. Saat itu polisi
berhasil menciduk beberapa orang anggota JI dan pengikutnya di daerah Palembang,
Sumatera Selatan. Beredar kabar bahwa orang-orang yang diciduk itu punya hubungan
dengan Noordin. Dari interogasi diketahui juga bahwa mereka sempat merencanakan aksi
penyerangan terhadap orang-orang asing di Sumatera.

***

Dihimpun dari berbagai sumber oleh Solahudin.

BAGIAN V

BIOGRAFI / PROFIL

Profil
Abdullah Sungkar

Abdullah bin Ahmad Sungkar lahir tahun 1937 di Surakarta. Ia merupakan keturunan
Hadarmawt, Yaman Timur. Ayahnya, Ahmad bin Ali Sungkar mendidiknya dalam
suasana agamis.

Setelah menamatkan sekolah di SMA Muhammadiyah, Solo, tahun 1957, Sungkar tak
melanjutkan ke perguruan tinggi dengan alasan biaya. Meski demikian, Sungkar telah terlibat
dalam organisasi Islam sejak sekolah.
Pada tahun 1954, setelah ikut Kepanduan Al-Irsyad, ia masuk Gerakan Pemuda Islam
Indonesia (GPII). Pada tahun yang sama ia menjadi anggota partai politik Masyumi pimpinan
Moh. Natsir.

Sejak pertengahan tahun 1960, Abdullah Sungkar menghabiskan waktu dengan mengajar dan
berdakwah agama Islam. Pada tahun 1965, Sungkar diangkat sebagai pengurus Badan
Pelaksana Tabligh Surakarta. Dalam organisasi, Sungkar terkenal sebagai seorang pemberani
dan cenderung beraliran keras.

VIDEO | Membaca Jejak Noordin

Dokumen
• BAP Abdullah Sungkar (PDF)
• BAP Ali Imron (PDF)
• PUPJI (PDF)
• Dakwaan Sungkar dan Baasyir (PDF)
• Pledoi Sungkar (PDF)
• Pledoi Baasyir (PDF)
• Vonis Sungkar-Baasyir (PDF)

Profil
• Abdullah Sungkar
• Abu Bakar Ba'asyir

Audio
• Ceramah Abdullah Sungkar

ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka

Tahun 1971, ia mendirikan pondok pesantren Al-Mukmin di Ngruki, Jawa Tengah, bersama
beberapa kawannya, termasuk juga Abu Bakar Ba’asyir. Belakangan, bersama Ba’asyir pula
Abdullah Sungkar mendirikan Jemaah Islamiah (JI).

Tahun 1969, ia mendirikan pemancar Radio Dakwah Islamiyah Surakarta (RADIS). Namun
karena dianggap menyiarkan dakwah bernada politik, maka tahun 1975 radio itu dilarang
mengudara oleh Laksusda Jawa Tengah.
Berbagai hambatan mulai ditemui Sungkar. Tapi kegiatan dakwahnya tak pernah mandeg.
Namanya sebagai mubaligh/juru dakwah makin menonjol setelah tahun 1970 Sungkar
diangkat sebagai Ketua Pembantu Perwakilan Dewan Dakwah Islamiyah (DDI) cabang
Surakarta.

Sungkar sempat ditahan beberapa kali. Pertama kali ia ditahan tahun 1977 selama sebulan (12
Maret-29 April) karena seruan Golput dalam Pemilu 1977.

Penahanan kedua terjadi 10 November 1978 - 3 Apri 1982. Ia ditahan bersama Abu Bakar
Ba’asyir di ruang tahanan Laksusda Jaya. Ia dituduh ikut terlibat dalam gerakan Komando
Jihad Haji Ismail Pranoto (Hispran). Ia dianggap mau mendirikan negara Islam dan menolak
asas tunggal Pancasila. Dalam dakwaan, jaksa penuntut secara eksplisit menyebut Komando
Jihad dan Jemaah Islamiah. Hakim Pengadilan Negeri Sukoharjo lalu menjatuhkan vonis
penjara Sembilan tahun.

Namun karena banding mereka diterima hakim Pengadilan Tinggi, mereka hanya perlu
menjalani hukuman selama 3 tahun 10 bulan. Tahun 1982 mereka berdua kembali ke Ngruki,
Solo, untuk mengajar.

Jaksa penuntut lalu mengajukan kasasi. Mahkamah Agung mengabulkan kasasi jaksa pada
tahun 1985. Sehingga Sungkar dan Ba’asyir harus menyelesaikan masa tahanannya. Pada saat
itulah Sungkar dan Ba’asyir kabur ke Malaysia.

Di negeri jiran itu Abdullah Sungkar kemudian berganti nama dengan Abdul Halim. Ia tinggal
di kampung “Ma’had Tarbiyah Islamiyah Luqman al Hakim” di Johor Malaysia. Dr Azahari,
Hambali, Noordin M. Top, Imam Samudra, Mukhlas, Amrozi, pernah belajar di sini.

Bulan Januari 1993, kedua orang sahabat ini mendirikan Jemaah Islamiah di Kuala Lumpur.
Sungkar adalah pemimpin pertama organisasi ini. Tahun 1996, Sungkar dan Ba’asyir
membuat Pedoman Umum Perjuangan Jemaah Islamiyah (PUPJI).

Abdullah Sungkar baru kembali ke Indonesia setelah pemerintah Soeharto jatuh, Mei 1998.
Namun belum lama tinggal di Indonesia, Sungkar justru wafat usai shalat zuhur tanggal 23
Oktober 1999 di Bogor, Jawa Barat. Abu Bakar Ba’asyir kemudian disebut menggantikan
posisinya sebagai Ketua Jemaah Islamiah.

***

Profil
Abu Bakar Ba'asyir

Ustad Abu Bakar Ba’asyir lahir di Jombang,


Jawa Timur, tanggal 17 Agustus 1938. Ia
sempat mejadi Amir atau pemimpin Majelis
Mujahidin Indonesia (MMI), sebelum
akhirnya mengundurkan diri awal Agutus
2008. Pada tanggal 17 September 2008, ia
malah mengumumkan pendirian organisasi
baru.
Ba’asyir menjalankan pondok pesantren Al-Mukmin di Ngruki, Jawa Tengah. Pesantren ini ia
dirikan bersama Abdullah Sungkar pada tahun 1972. Ia sempat lari ke Malaysia selama 17
tahun setelah rejim Soeharto menuduhnya subversif karena hendak menegakkan Syariat Islam
di Indonesia.

Pemerintah sempat menuduh Ba’asyir sebagai pemimpin spiritual Jamaah Islamiyah (JI) dan
memiliki hubungan dengan Al-Qaeda. Ba’asyir menolak tuduhan itu. Ia malah tak percaya JI
itu ada.

VIDEO | Membaca Jejak Noordin

Dokumen
• BAP Abdullah Sungkar (PDF)
• BAP Ali Imron (PDF)
• PUPJI (PDF)
• Dakwaan Sungkar dan Baasyir (PDF)
• Pledoi Sungkar (PDF)
• Pledoi Baasyir (PDF)
• Vonis Sungkar-Baasyir (PDF)

Profil
• Abdullah Sungkar
• Abu Bakar Ba'asyir

Audio
• Ceramah Abdullah Sungkar

ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka

Ba’asyir belajar agama di pondok pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, hingga tahun
1959. Ba’asyir lalu kuliah di Universitas Al-Irsyad, Solo, Jawa Tengah. Saat kuliah ia pernah
aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), terpilih sebagai Sekretaris Organisasi Pemuda
Al-Irsyad, serta menjadi Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Lembaga
Dakwah Mahasiswa Islam

Pada tahun 1972, Ba’asyir mendirikan pondok pesantren Al-Mukmin bersama Abdullah
Sungkar, Yoyo Roswadi, Abdul Qohar H Daeng Matase dan Abdullah Baraja. Pondok itu
berada di Ngruki, dekat Solo, Jawa Tengah.

Awalnya, kegiatan pondok Al-Mukmin hanya terbatas diskusi agama usai shalat zhuhur.
Karena peminatnya semakin banyak, para pendiri mulai membangun madrasah yang
belakangan berkembang menjadi pesantren.
Pada masa pemerintahan Soeharto, Ba’asyir dan Sungkar sering ditangkap dengan berbagai
alasan. Penangkapan pertama terjadi setelah ia dituduh mendukung penegakan Syariat Islam
dan menolak asas tunggal Pancasila.

Penangkapan kedua terjadi karena mereka berdua menolak memberi hormat pada bendera
merah putih. Ba’asyir mengajukan banding tapi ia tetap dipenjara tanpa pernah disidang sejak
1978-1982. Tak lama setelah bebas, Ba’asyir lagi-lagi mendapat tuduhan serupa. MA
menjatuhkan hukuman penjara. Maka Ba’asyir dan Sungkar lari ke Malaysia.

Selama tinggal di pengasingan, Ba’asyir sering berceramah di Singapura dan Malaysia.


Pemerintah Amerika Serikat menuduh bahwa saat itulah ia terlibat dalam gerakan Islam
militan bernama Jamaah Islamiyah.

Di Johor, Malaysia, bersama Abdullah Sungkar, ia mendirikan pondok pesantren Lukmanul


Hakiem. Dr Azahari, Imam Samudra, Mukhlas, Amrozi, Ali Imron, dan Noordin M Top
pernah belajar di sana. Pemerintah Malaysia akhirnya menutup pondok itu akhir 2001.

Ba’asyir sendiri baru kembali ke Indonesia tahun 1999 setelah Soeharto jatuh.

Abu Bakar Ba’asyir sering dilukiskan sebagai pimpinan ideologis Jamaah Islamiyah, meski
aparat keamanan kesulitan membuktikannya. Ba’asyir sendiri membantah tentang perannya
sebagai Amir Jamaah Islamiyah. Namun, keterlibatan Ba’asyir sebagai Amir JI juga disebut
Ali Imron di Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Pada bulan Juni 2002, pemerintah Amerika meminta agar Omar al-Faruq dan Abu Bakar
Ba’asyir diekstradisi ke penjara Amerika di Bagram, Afghanistan. Namun Megawati hanya
meluluskan Omar al-Faruq dan menolak Ba’asyir diekstradisi.

Pada 14 April 2003, Ba’asyir didakwa pemerintah Indonesia dengan tuduhan memalsukan
dokumen, pelanggaran imigrasi, dan memberi keterangan palsu pada polisi. Ia juga didakwa
terlibat dalam aksi bom Natal 2000 di sejumlah gereja yang menewaskan 18 orang. Namun
hanya tuduhan pelanggaran imigrasi yang terbukti.

Tanggal 15 Oktober 2004, ia kembali ditahan dengan tuduhan keterlibatan dalam serangan
bom di Hotel JW Marriot 5 Agustus 2003 yang menewaskan 14 orang. Tuduhan kedua terkait
dengan bom Bali 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang.

Ba’asyir kemudian divonis bersalah karena ikut dalam konspirasi bom Bali, tapi tidak terbukti
bersalah dalam peledakan Hotel JW Marriot. Ia pun dijatuhi hukuman 2,5 tahun penjara.

Pada 17 Agustus 2005, Ba’asyir memperoleh potongan tahanan 4 bulan 15 hari. Dan, pada
tanggal 16 Juni 2006, di tengah sambutan pendukungnya, Ba’asyir keluar dari Lembaga
Pemasyarakatan Cipinang. Ia menghabiskan waktunya selama 25 bulan di penjara tersebut.

Setelah keluar dari Majelis Mujahidin Indonesia, tanggal 17 Oktober 2008, Abu Bakar
Ba’asyir mendirikan Jamaah Anshorut Tauhid di Embarkasi Haji Bekasi, Jawa Barat.

Profil
Muhammad Atta
Muhammad Atta (‫ محمسسد عطسسا السسسيد‬atau: Muhammad Ata as-
Sayyid) merupakan anggota al-Qaeda dan pemimpin dari 19
pembajak yang melakukan aksi penyerangan tanggal 11
September 2001 atau 9/11 di Amerika Serikat (AS). Atta
sendiri ikut dalam aksi pembajakan American Airlines Flight
11, pesawat pertama yang menghajar gedung World Trade
Center (WTC).

Atta memiliki banyak nama samaran. Di antaranya: Mehan


Atta, Mohammed Atta, Mohammad El Amir, Mohamed El
Sayed, Muhammad Muhammad Al Amir Awag Al Sayyid
Atta, dan Muhammad Muhammad Al-Amir Awad Al Sayad.
Namun sejak tahun 1996 ia selalu menulis namanya sebagai
Mohamed bin Mohamed Elamir awad Elsayed. Ia memakai nama “Mohamed el-Amir” ketika
menjadi seorang mahasiswa Technical University of Harburg, Jerman. Ia mulai
menggunakan nama Muhammad Atta saat tinggal di AS.

Atta lahir tanggal 1 September 1968 di Kafrel-Sheikh, Mesir Utara, dekat delta sungai Nil.
Ayahnya, Mohamed el-Amir Awad al-Sayed Atta, adalah seorang pengacara, dengan latar
pendidikan hukum Islam dan hukum perdata.

VIDEO | Jihad Sampai Mati


VIDEO | Masa Kecil Imam Samudra

Dokumen
• BAP Mukhlas (PDF)
• BAP Amrozi (PDF)
• BAP Imam Samudra (PDF)
• Catatan harian Imam Samudra (PDF)

Kronologi
• Persidangan Bom Bali I

InfoGrafik
• Denah Penjara Para Terpidana Mati

Wawancara
• Lani Wijaya
• F Bambang Budiono
• Mukhlas
• Imam Samudra

Profil
• Imam Samudra (Video)
• Mukhlas
• Amrozi
• Hambali
• Muhammad Atta
• Usamah Bin Ladin

ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka

Atta menyelesaikan pendidikan teknik arsitektur di Universitas Kairo, Mesir, tahun 1990.
Pada tahun 1992, ia melanjutkan kuliahnya di Universitas Teknik Hamburg-Harburg, Jerman.
Di Hamburg pula Atta mulai terlibat pengajian dan aktif di mesjid. Ia bergabung di Masjid
Al-Quds, Hamburg, yang berideologi radikal dan fundamentalis. Di sana ia berjumpa dengan
militan Jerman kelahiran Suriah, Haydar Zammar, yang kemudian merekrut Atta ke
organisasi al-Qaeda.

Pada tanggal 11 April 1996 Atta membuat surat wasiat yang memuat 18 pesan bila ia wafat
saat berjihad. Pesan terakhirnya juga ditanda-tangani el-Mostassadeq, tokoh kedua di mesjid
itu.

Tahun 1999, Atta ingin pergi ke Chechnya untuk berjuang bersama pejuang muslim melawan
Rusia. Namun ia diminta merubah rencananya. Ia pun pergi ke Afghanistan untuk bertemu
Usamah bin Ladin dan belajar di kamp pelatihan militer al-Qaeda.

Tanggal 29 November 1999, Atta terbang dengan pesawat Turkish Airlines dengan nomer
penerbangan TK1662 dari Hamburg menuju Istambul. Di sana ia mengganti penerbangan
TK1056 dengan tujuan Karachi. Pakistan. Setelah berhari-hari melewati jalan darat ia baru
tiba di kamp pelatihan militer al-Qaeda: Peternakan Tarnak, dekat Bandara Kandahar,
Afganistan. Pada saat ini pula, pelaku bom Bali I, Mukhlas alias Ali Gufron mengaku
bertemu dengan Muhammad Atta.

Atta menyusup masuk ke AS tanggal 3 Juni 2000 melalui Newark, New Jersey. Sebelumnya,
tanggal 22 Maret 2000, Atta sudah mengirim email ke berbagai sekolah penerbangan seperti
Akademi Lakeland di Florida. Ia menulis, “Dear sir, kami adalah sekelompok pemuda dari
beberapa Negara Arab. Sekarang kami menetap dan belajar di Jerman. Kami ingin mengikuti
pelatihan penerbangan karena ingin berkarir sebagai pilot profesional. Sekarng kami tak
memiliki pengetahuan apa pun, namun siap mengikuti pelatihan intensif.”

Pada 17 Mei 2000, Atta mengajukan permohonan visa ke AS. Tak lama kemudian ia
menerima visa turis atau pebisnis B1/B2 yang berlaku lima tahun. Visa itu ia peroleh dari
Kedutaan Besar AS di Berlin.

Atta dan pembajak pesawat lainnya lalu membuka rekening bank. Kemudian mereka mulai
mencek sekolah-sekolah penerbangan di Amerika.

Pada bulan Juli 2000, Atta dan Marwan al-Shehhi berhasil masuk sekolah penerbangan
Huffman Aviation di Venice, Florida. Di sekolah itu Atta mengaku sebagai anggota keluarga
kerajaan Arab Saudi. Ia juga memperkenalkan al-Shehhi sebagai pengawalnya. November
2000, keduanya berhasil lulus dan mengantongi ijazah pilot dari FAA.
Pada tanggal 5 November 2000 Atta meminjam rekaman video cara mengoperasikan pesawat
Boeing 747-200 dan Boeing 757-200 dari Toko Sporty’s Pilot di Batavia, Ohio. Pada 11
Desember Atta kembali meminjam kaset video untuk model pesawat Airbus A320 dan
Boeing 767-300ER dari toko yang sama. Tanggal 21 Desember, Atta dan Marwan berhasil
memperoleh lisensi penerbang. Pada tanggal 29 Desember, Atta dan Marwan pergi ke
Bandara Opa-Locka guna mengikuti latihan terbang di alat simulasi Boeing 727.

Atta sempat terbang ke Spanyol dan bertemu Ramzi Binalshibh tanggal 4 Januari 2001 untuk
mematangkan rencana penyerangan. Ia kembali ke AS tanggal 10 Januari 2001.

Muhammad Atta terbang lagi ke Spanyol bulan Juli 2001 untuk menemui Binalshibh buat
terakhir kalinya. Di sana mereka mendetilkan rencana operasi penyerangan. Setelah
Binalshibh ditangkap bulan September 2002, ia mengaku mendapat perintah langsung dari
Bin Ladin, termasuk keinginan pimpinan al-Qaeda itu untuk segera menyerang. Di rapat itu
Atta mengatakan ia butuh waktu lima-enam minggu lagi untuk mendetilkan semua rencana
penyerangan. Usamah bin Ladin meminta agar Atta merahasiakan rencana serangan itu
sampai menit-menit terakhir. Rapat lalu memutuskan sasaran penyerangan. Atta juga
menginformasikan para pembajak sudah berhasil masuk ke AS tanpa kendala. Setelah
pertemuan itu Atta kembali ke AS.

Bulan Agustus 2001, Atta dan 19 rekannya telah menyelesaikan rencana penyerangan mereka
di AS.

Pada tanggal 10 September, Atta menjemput Abdulaziz al-Omari dari Hotel Milner di Boston,
Massachusetts. Mereka berdua lalu menyewa mobil Nissan untuk menuju penginapan
Comfort di Portland, Maine. Mereka tiba pukul 17.53 waktu setempat dan menghabiskan
waktu seharian penuh dalam kamar hotel nomer 232.

Pagi hari, 11 September 2001. Atta dan kawannya menuju Portland International Jetport. Di
sana mereka membeli tiket pesawat Colgan Air BE 1900C yang berangkat pukul 06.00 pagi
dengan tujuan Logan International Airport di Boston. Di Portland, Atta sempat dipilih
petugas keamanan bandara untuk melakukan pengecekan acak secara rutin ke penumpang. Ia
berhasil lolos.

Di konter American Airlines, Atta segera mendaftar dengan nama “Moham Atta.” Ia
mendapat tempat duduk di kursi 8D. Pada pukul 06.45, Atta sempat menelpon Marwan al-
Shehhi, yang mengetuai tim pembajak lainnya. Panggilan itu adalah konfirmasi akhir bahwa
serangan akan segera dimulai.

Pukul 07.59, pesawat American Airlines Flight 11 berangkat dari Boston dengan membawa
81 penumpang. Alat komunikasi pesawat mulai dimatikan pada pukul 08.28. Pesan terakhir
terdengar pukul 08.24 dari suara yang diyakini milik Muhammad Atta.

Atta berbicara dari ruang pengemudi: “Kita memiliki beberapa penerbangan. Harap tetap
tenang dan Anda akan baik-baik saja. Kita akan kembali ke bandara. Diharap penumpang
tidak meninggalkan kursi, karena semuanya dalam keadaan baik. Jika Anda meninggalkan
kursi anda akan membahayakan diri Anda sendiri dan penerbangan. Seluruh penumpang
diharap tetap tenang…”

Atta diyakini duduk di kursi pilot saat pesawat menghajar menara utara Gedung World Trade
Center, 23 menit kemudian. Saat itu jam menunjuk pukul 08.46:40 pagi. Seluruh penumpang
pesawat tewas seketika.
Dalam sebuah rekaman video yang beredar tahun 2004, Usamah bin Ladin secara khusus
memuji Muhammad Atta sebagai pemimpin aksi teror 9/11 tersebut.

***

Profil
Usamah bin Ladin

Usamah bin Muhammad bin `Awad


bin Ladin (‫أسسسامة بسسن محمسسد بسسن عسسوض بسسن‬
‫ )لدن‬lahir di Riyadh, Arab Saudi,
tanggal 10 Maret 1957. Ia merupakan
pendiri organisasi Al-Qaeda. Bin
Ladin sempat menyampaikan dua
fatwa pada tahun 1996 dan 1998. Isi
fatwanya menyerukan agar kaum
muslim berjihad melawan Amerika
Serikat (AS) dan sekutunya agar
segera enyah dari kawasan Arab.
Jihad yang dianjurkan adalah dengan
cara menyerang tentara dan penduduk
sipil AS.

Sebelum penyerangan 11 September


2001 atau 9/11, Usamah masih
menjadi tersangka pengadilan federal
AS karena keterlibatannya dalam pemboman Kedubes AS di Dar es Salaam, Tanzania dan
Nairobi, Kenya. Dalam daftar buronan FBI, Usamah masuk ke dalam 10 orang paling dicari.

Penyerangan 9/11, merupakan pembajakan atas pesawat United Airlines Flight 93, United
Airlines Flight 175, American Airlines Flight 11, dan American Airlines Flight 77. Aksi
pembajakan yang dipimpin Muhammad Atta itu telah menyebabkan kehancuran Gedung
World Trade Center (WTC) dan Gedung Departemen Pertahanan AS Pentagon di Arlington,
Virginia. Jumlah korban tewas akibat serangan itu sebanyak 2.974 orang.

VIDEO | Jihad Sampai Mati


VIDEO | Masa Kecil Imam Samudra

Dokumen
• BAP Mukhlas (PDF)
• BAP Amrozi (PDF)
• BAP Imam Samudra (PDF)
• Catatan harian Imam Samudra (PDF)

Kronologi
• Persidangan Bom Bali I
InfoGrafik
• Denah Penjara Para Terpidana Mati

Wawancara
• Lani Wijaya
• F Bambang Budiono
• Mukhlas
• Imam Samudra

Profil
• Imam Samudra (Video)
• Mukhlas
• Amrozi
• Hambali
• Muhammad Atta
• Usamah Bin Ladin

ESAI FOTO
• Yang Berdiam dalam Luka

Ayah kandung Usamah, Muhammad Awad bin Ladin, adalah pengusaha kaya yang masih
berkerabat dengan keluarga kerajaan Arab Saudi. Usamah adalah anak tunggal dari istri ke-
10 Muhammad.

Ayahnya bercerai dengan ibu kandungnya tak lama setelah Usamah lahir. Ibu Usamah
kemudian menikah lagi dengan Muhammad al-Attas dan memperoleh empat anak dari
perkawinan ini.

Bin Ladin tumbuh dalam keluarga yang memegang teguh tradisi Islam Sunni. Pada tahun
1968 – 1976 ia belajar di sekolah elit sekuler Al-Thager Model. Kemudian kuliah di fakultas
ekonomi dan administrasi bisnis Universitas King Abdulazis. Pada saat kuliah Usamah mulai
memperdalam ilmu agama. Ia pun mulai menafsirkan jihad dan al Quran.

Bin Ladin yakin hukum Syariat Islam harus tegak di negara muslim, sehingga seluruh
ideologi lain seperti pan-Arabisme, sosialisme, komunisme, dan demokrasi harus ditentang. Ia
meyakini pemerintahan Afghanistan di bawah kepemimpinan Mullah Omar Taliban adalah
“satu-satunya negara Islam” di dunia. Karena itu bin Ladin percaya hak berjihad melawan
ketidakadilan terhadap umat Islam, seperti yang dilakukan AS dan negara non muslim
lainnya, harus dilakukan. Dan, salah satu caranya adalah dengan menghancurkan negara Israel
serta mengusir Amerika dari Timur Tengah

Setelah meninggalkan bangku kuliah tahun 1979, Usamah bergabung dengan Abdullah
Azzam di Peshawar untuk berjuang melawan invasi Sovyet di Afghanistan. Tahun 1984,
bersama Azzam, Usamah mendirikan Maktab al-Khadamat, sebuah organisasi penyalur dana,
senjata dan pejuang muslim dari seluruh negara Arab ke perang Afghanistan.
Melalui al-Khadamat, Usamah bisa memberi tiket dan akomodasi bagi mujahidin asing.
Kerjasama juga dilakukan dengan pemerintah Pakistan. Pada masa inilah ia bersua dengan
Ayman al-Zawahiri, yang kelak menjadi sekondannya membangun Al Qaeda. Malah, Al-
Zawahiri pula yang mendorong Usamah memisahkan diri dengan Abdullah Azzam.

Keputusan Usamah berpisah dengan Azzam dan keluar dari Maktab al-Khidamat terjadi tahun
1988. Salah satu penyebab perpecahan kedua pendiri itu dan penyebab pendirian al-Qaeda
adalah sikap keras Azzam. Azzam menuntut pejuang non Afghanistan harus tetap berada di
bawah komando kelompok pejuang Afghanistan, dan bukannya mendirikan kelompok
khusus. Azzam sendiri tewas terbunuh oleh bom tanggal 24 November 1989.

Tahun 1989, Sovyet akhirnya hengkang dari Afghanistan. Saat kembali ke Arab Saudi tahun
1990, Usamah sempat dielu-elukan sebagai seorang pahlawan jihad bersama legiun Arab
yang ia dirikan.

Tapi pada masa itulah Irak menyerbu Kuwait. AS murka dengan tindakan Saddam Hussein.
AS kemudian menjadikan Arab Saudi sebagai pangkalan perang guna mengusir Irak dari
Kuwait. Saat itu Usamah bin Ladin mengritik Pangeran Sultan dari Arab Saudi karena
memperbolehkan AS menjadikan negara Arab itu sebagai salah satu pangkalan perang. Kritik
bin Ladin itu membuat kerajaan Saudi murka dan memerintahkan agar Usamah dibungkam.

Karena situasi politik yang tak bersahabat, Usamah pindah ke Sudan tahun 1992. Di sana ia
mendirikan pangkalan militer baru bagi mujahidin di Khartoum. Tanggal 5 Maret 1994, Raja
Fahd dari Arab Saudi meminta pimpinan Sudan membatalkan paspor Usamah bin Ladin. Saat
itu hubungan bin Ladin dengan Kelompok Jihad Islam Mesir (EIJ) makin kuat. Kelompok
jihad Mesir inilah yang kelak akan menjadi inti al-Qaeda. Pada tahun 1995, kelompok EIJ
mencoba membunuh Presiden Mesir Husni Mubarak. Tapi upaya ini gagal sehingga
kelompok IEJ terusir dari Sudan.

Pada tahun 1996, di bawah tekanan pemerintah Arab Saudi, Mesir dan Amerika ke
pemerintah Sudan, Usamah bin Ladin akhirnya memutuskan kembali ke Afghanistan. Ia
segera membangun hubungan erat dengan Mullah Mohammed Omar. Di Afghanistan, bin
Ladin dan al-Qaeda juga mendapat uang dari “donatur gerakan jihad melawan Sovyet” dan
Inter-Service Intelligence (ISI).

Tuduhan pemboman pertama yang melibatkan Usamah bin Ladin terjadi tanggal 29
Desember 1992. Pemboman dilakukan di Hotel Gold Mihor, Aden, Yaman, yang
menewaskan dua orang.

Pemboman terjadi setelah al-Qaeda memberi pembenaran untuk membunuh orang-orang tak
bersalah. Menurut fatwa yang dikeluarkan Mamdouth Mahmud Salim, pembunuhan pada
seseorang yang berdiri di dekat musuh bisa dibenarkan. Alasannya, mereka yang tak bersalah
akan mendapat hadiah saat mereka tewas. Bagi mereka yang muslim, mereka akan pergi ke
surga. Sedangkan bagi non-muslim akan pergi ke neraka. Fatwa ini hanya beredar di kalangan
anggota al-Qaeda.

Pada tahun 1998, Usamah bin Ladin beserta Ayman al-Zawahiri mengeluarkan fatwa ‘Front
Dunia Islam untuk Jihad Melawan Yahudi dan Kristiani.’ Fatwa itu mendeklarasikan
pembunuhan terhadap Amerika Utara beserta sekutunya adalah sebuah “kewajiban bagi setiap
muslim” demi “pembebasan Masjid al-Aqsa (di Yerusalem) dan masjid suci (di Mekah) dari
cengkeraman mereka.” Saat menyampaikan fatwa itu ke publik Usamah bin Ladin
mengungkapkan Amerika Utara adalah “sasaran mudah.” Kepada wartawan ia juga berkata:
“Anda akan segera melihat dampaknya dalam waktu singkat.”

Tak lama setelah fatwa itu keluar, terjadi pemboman kantor Kedubes AS di Tanzania dan
Kenya. Sebagai reaksi atas pemboman itu, Presiden AS Bill Clinton memerintahkan
pembekuan seluruh aset Usamah bin Ladin. Ia pun mengeluarkan surat perintah khusus
mencokok Usamah bin Ladin, hidup atau mati.

Setelah serangan 9/11, Usamah bin Ladin awalnya menolak bertanggungjawab atas serangan
itu. Pernyataan pertama Usamah ditayangkan oleh stasiun TV Qatar, Al Jazeera.

Namun, tiga tahun kemudian, Usamah mencabut bantahannya. Dalam sebuah rekaman video
berdurasi 18 menit yang dipublikasi tahun 2004, bin Ladin malah mengaku sebagai orang
yang memberi instruksi langsung ke 19 pembajak dalam serangan 11 September 2001.

Di dalam rekaman yang diluncurkan hanya empat hari sebelum Pemilu AS bermula, Usamah
menuduh Presiden George Bush Jr menutupi motif pelaku pembajak pesawat pada 11
September 2001.

Menurut bin Ladin, idenya menyerang menara WTC dipicu oleh penghancuran menara kota
Libanon oleh Israel selama perang Libanon tahun 1982. Ia mengaku memerintahkan pimpinan
pembajak, Muhammad Atta, agar melakukan serangan simultan yang selesai dalam tempo 20
menit. Tujuannya agar aparat keamanan Bush tak sempat bereaksi.

Penegasan tanggungjawab itu kembali diungkapkan Usamah bin Ladin dalam dua rekaman
video yang ditayangkan Al Jazeera tanggal 23 Mei dan 7 September 2006. Usmah
mengumumkan, “Sayalah yang memerintahkan 19 saudara itu… Saya bertanggungjawab atas
hidup 19 saudara itu… melalui serangan tersebut.

***