Anda di halaman 1dari 21

Daftar Isi

1. Definisi & Dasar Pemikiran


1.1. Definisi Stakeholder................................................................................................................
1.2. Definis Stakeholder Menurut Para Ahli...........................................................................
1.3. Teori Stakeholder.....................................................................................................................
2. Pengelolaan Stakeholder................................................................................................................
2.1. Identifikasi Stakeholder.........................................................................................................
2.2. Hubungan Perusahaan Dengan Stakeholder
2.3. Strategi Pengelolaan Stakeholder......................................................................................
2.2.1 Pemetaan Stakeholder.................................................................................................
2.2.2 Analisi Stakeholder.......................................................................................................
2.2.3 Stakeholder Engagement............................................................................................
2.2.3.1 Perencanaan..........................................................................................................
2.2.3.2 Persiapan................................................................................................................
2.2.3.3 Implementasi.........................................................................................................
2.2.3.4 Tindakan, Review dan Perbaikan..................................................................
3. Pengelolaan Stakeholder yang Berkelanjutan......................................................................
3.1. Proaktif.........................................................................................................................................
3.2. Antisipasi.....................................................................................................................................
3.3. Reguler..........................................................................................................................................
3.4. Defensif.........................................................................................................................................
STAKEHOLDER

(Pemangku Kepentingan)

1. Definisi & Dasar Pemikiran

1.1. Definisi Stakeholder

Pengertian Stakeholder adalah semua pihak di dalam masyarakat, baik itu


individu, komunitas atau kelompok masyarakat, yang memiliki hubungan dan
kepentingan terhadap sebuah organisasi/ perusahaan dan isu/ permasalahan yang
sedang diangkat. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, arti stakeholder adalah
pemangku kepentingan atau pihak yang berkepentingan.

Stakeholder adalah bagian penting dari sebuah organisasi yang memiliki peran secara
aktif maupun pasif untuk mengembangkan tujuannya. Stakeholder dapat dijumpai
dimanapun, terutama dalam kegiatan bisnis sehingga setiap perusahaan tidak lepas
dari keberadaan tokoh penting tersebut.

Stakeholder dalam bisnis atau perusahaan meliputi pemegang saham, karyawan, staff,
pegawai, suplier, distributor maupun konsumen. Bahkan, saingan perusahaan juga
dapat disebut sebagai stakeholder karena akan mempengaruhi kestabilan perusahaan.

1.2. Definisi Stakeholder Menurut Para Ahli

1) Freeman
Menurut Freeman, pengertian Stakeholders adalah suatu kelompok
masyarakat ataupun individu yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi
oleh pencapaian tujuan tertentu dari organisasi .

2) Biset

Menurut Biset, pengertian stakeholder adalah orang/ individu atau


kelompok masyarakat yang memiliki kepentingan atau perhatian pada
permasalahan tertentu.

3) Wibisono

Menurut Wibisono, pengertian stakeholder adalah seseorang maupun


kelompok yang punya kepentingan secara langsung/ tidak langsung bisa
mempengaruhi atau dipengaruhi atas aktivitas dan eksistensi perusahaan.

4) ISO 26000 SR

Menurut ISO 26000 SR, pengertian stakeholder adalah individu atau


kelompok yang memiliki kepentingan terhadap keputusan serta aktivitas
organisasi

5) AA1000 SES

Menurut definisi stakeholder adalah kelompok yang dapat mempengaruhi


dan/atau terpengaruh oleh aktivitas, produk atau layanan, serta kinerja
suatu organisasi.

1.3. Teori Stakeholder


Teori stakeholder adalah teori yang menggambarkan kepada pihak mana
saja perusahaan bertanggungjawab (Freeman, 1984). Perusahaan harus menjaga
hubungan dengan stakeholdernya dengan mengakomodasi keinginan dan
kebutuhan stakeholder-nya, terutama stakeholder yang mempunyai power
terhadap ketersediaan sumber daya yang digunakan untuk aktivitas operasional
perusahaan, misal tenaga kerja, pasar atas produk perusahaan dan lain-lain
(Chariri dan Ghozali, 2007). Munculnya teori stakeholders sebagai paradigma
dominan semakin menguatkan konsep bahwa perusahaan bertanggung jawab
tidak hanya kepada pemegang saham melainkan juga terhadap para pemangku
kepentingan atau stakeholder (Maulida dan Adam, 2012).

Dalam mengembangkan stakeholder theory, Freeman (1983) dalam


Susanto dan Tarigan (2013) memperkenalkan konsep stakeholder dalam dua
model yaitu:

(1) model kebijakan dan perencanaan bisnis; dan

(2) model tanggung jawab sosial perusahaan dari manajemen stakeholder.

Pada model pertama, fokusnya adalah mengembangkan dan mengevaluasi


persetujuan keputusan strategis perusahaan dengan kelompok-kelompok yang
dukungannya diperlukan untuk kelangsungan usaha perusahaan. Dapat dikatakan
bahwa, dalam model ini, stakeholder theory berfokus pada caracara yang dapat
digunakan oleh perusahaan untuk mengelola hubungan perusahaan dengan
stakeholder-nya. Sementara dalam model kedua, perencanaan perusahaan dan
analisis diperluas dengan memasukkan pengaruh eksternal yang mungkin
berlawanan bagi perusahaan. Kelompok-kelompok yang berlawanan ini termasuk
badan regulator (government) dengan kepentingan khusus yang memiliki
kepedulian terhadap permasalahan sosial.

Sustainability report merupakan laporan yang digunakan untuk


menginformasikan perihal kinerja ekonomi, sosial dan lingkungan. Dengan
pengungkapan ini, diharapkan perusahaan mampu memenuhi kebutuhan
informasi yang dibutuhkan oleh stakeholders
2. Pengelolaan stakeholder

Merupakan sebuah rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka
memperoleh pengakuan dan mempertahankan komunikasi diantara stakeholder yang
mempengaruhi kegiatan operasional perusahaan. Kegiatan pengelolaan stakeholderdapat
dilakukan secara sistematis melalui tahapan sebagai berikut:

(1) identifikasi isu dan stakeholder

(2) strategi pengelolaan stakeholder

(3) pengelolaan stakeholder berkelanjutan

2.1. Identifikasi Stakeholder

Identifikasi stakeholder mencakup dua langkah utama yang harus dilakukan, yaitu:

1) Pemahaman terhadap isu-isu yang dihadapi perusahaan

2) pemahaman atas jenis, tipe dan karakteristik stakeholder


Langkah Pertama, perusahaan di dalam memahami isu-isu sosial yang berkembang
mengacu kepada beberapa isu utama yang dihadapi oleh perusahaan. Isu-isu sosial
yang dihadapi oleh perusahaan meliputi :

1) keterlibatan masyarakat;

2) pendidikan dan budaya;

3) penciptaan pekerjaan dan pengembangan keterampilan;

4) pengembangan teknologi dan akses masyarakat;

5) kesejahteraan dan penciptaan pendapatan;

6) kesehatan;

7) lingkungan

Langkah Kedua, perusahaan memami jenis stakeholder, tipe stakeholder dan


karateristik stakeholder. Dilihat dari jenisnya stakeholder dapat dibagi menjadi
stakeholder internal dan stakeholder eksternal. Dari tipenya, stakeholder dapat
dibagi menjadi stakeholder kunci, stakeholder utama, stakeholder pendukung,
stakeholder pelengkap. Dari karakteristiknya, stakeholder dapat dibagi menjadi
stakeholder yang tidak terorganisir, stakeholder yang setengah teroganisir dan
stakeholder yang terorganisir.
 Mitchell et al. (1997, p. 854)

Mengusulkan model identifikasi stakeholder berdasarkan 3 dimensi :

 Power : Directly in Organozation

(Kekuatan pemangku kepentingan untuk pengaruhi perusahaan)

= Kekuasaan Menurut Mintzberg (1983), kekuasaan adalah kapasitas


untuk membuat seseorang melakukan apa yang dia lakukan tidak akan
melakukannya.

 Legitimacy : Lead Other Stakeholder

(Legitimasi hubungan pemangku kepentingan untuk mempengaruhi


perusahaan)

= Mitchell dkk. (1997) berpendapat bahwa urgensi memiliki banyak


arti, tetapi dalam hal stakeholder manajemen itu dapat dilihat sebagai
hasil dari sensitivitas waktu dan kekritisan. Dengan kata lain, seorang
pemangku kepentingan dikatakan memiliki urgensi dalam situasi di
mana tuntutannya harus ditangani dalam waktu singkat jika tidak,
organisasi akan berada dalam masalah serius.

 Urgency : Related or Critical issues

(Urgrnsi pemangku kepentingan klaim pada perusahaan)

= Mitchell dkk. (1997) berpendapat bahwa urgensi memiliki banyak


arti, tetapi dalam hal stakeholder manajemen itu dapat dilihat sebagai
hasil dari sensitivitas waktu dan kekritisan. Dengan kata lain, seorang
pemangku kepentingan dikatakan memiliki urgensi dalam situasi di
mana tuntutannya harus ditangani dalam waktu singkat jika tidak,
organisasi akan berada dalam masalah serius.

2.2. Hubungan Perusahaan dengan Para Pemangku Kepentingan

2.2.1. Kepentingan dan Kekuasaan Pemangku Kepentingan Kelompok Primer

Pemangku Kepentingan Kepentingan ( Interest ) Kekuasaan ( Power )


Kelompok Primer
1.Pelanggan Memperoleh produk yang Membatalkan pesanan dan membeli
aman dan berkualitas sesuai dari pesaing ;
dengan yang dijanjikan serta Melakukan kampanye negatif tentang
memperoleh pelayanan yang perusahaan
memuaskan
2.Pemasok Menerima pembayaran tepat Membatalkan atau memboikot order
waktu : dan menjual kepada pesaing
Memperoleh order secara
teratur
3.Pemodal
 Pemegang Saham Memperoleh deviden dan Tidak mau membeli saham
capital gain dari saham yang perusahaan ;
dimiliki Memberhentikan para eksekutif
perusahaan

 Kreditur Memperoleh penerimaan Tidak memberikan kredit ;


bunga dan pengembalian pokok Membatalkan/ menarik kembali
pinjaman sesuai jadwal yang pinjaman yang telah diberikan
telah ditetapkan
4.Karyawan Memperoleh gaji / upah yang Melakukan aksi unjuk rasa / mogok
wajar dan ada kepastian kerja ;
kelangsungan pekerjaan Memaksakan kehendak melalui
organisasi buruh yang ada

2.2.2. Kepentingan dan Kekuasaan Pemangku Kepentingan Kelompok Sekunder

Pemangku Kepentingan Kepentingan ( Interest ) Kekuasaan ( Power )


Kelompok Primer
1.Pemerintah Mengharapkan pertumbuhan Menutup/menyegel perusahaan ;
ekonomi dan lapangan kerja ; Mengeluarkan berbagai peraturan
Memperoleh Pajak
2.Masyarakat Mengaharapkan peran serta Menekan pemerintah melalu unjuk
perusahaan dalam program rasa massal ;
kesejahteraan masyarakat ; Melakukan aksi kekerasan
Menjaga kesehatan lingkungan
3.Media Massa Menginformasikan semua Mempublikasikan berta negatif yang
kegiatan perusahaan yang merusak citra perusahaan
berkaitan dengan isu etika ,
nilai-nilai , kesehatan ,
keamanan , dan kesejahteraan
4.Aktivis Lingkungan Kepedulian terhadap pengaruh Mengkampanyekan aksi boikot
positif dan negatif dari dengan memengaruhi pemerintah ,
tindakanperusahaan terhadap media massa , dan masyarakat ;
lingkungan hidup , HAM , dan Melobi pemerintah untuk
sebagainya membatasi/melarang impor produk
perusahaan tersebut bila merusak
lingkungan hidup atau melanggar
HAM

 Identifikasi menurut AA1000

 Dependency (Ketergantungan)
Kelompok atau individu yang secara langsung atau tidak langsung
bergantung pada organisasi, atau kepada siapa organisasi
bergantung untuk beroperasi

 Responsibility (Tanggung Jawab)

kelompok atau individu yang memiliki organisasi, atau di masa


depan mungkin memiliki, tanggung jawab hukum, komersial,
operasional atau etika / moral

 Tension (Tekanan)

kelompok atau individu yang membutuhkan perhatian segera dari


organisasi terkait dengan masalah keuangan, ekonomi, sosial atau
lingkungan yang lebih luas

 Influence (Pengaruh)

kelompok atau individu yang dapat berdampak pada pengambilan


keputusan strategis atau operasional organisasi atau pemangku
kepentingan

 Diverse Perspective (Perspektif yang beragam)

kelompok atau individu yang berbeda pandangan dapat mengarah


pada pemahaman baru tentang situasi dan identifikasi peluang
untuk tindakan yang mungkin tidak terjadi

854) mengusulkan
model berdasarkan
tiga dimensi
2.3. Strategi pengelolaan stakeholder
Perusahaan dalam melakukan pengelolaan stakeholder terdapat tiga strategi yang
dapat dilaksanakan untuk memudahkan membangun komunikasi stakeholder
dengan baik, yaitu:

(1) Pemetaan stakeholder;

(2) Analisa stakeholder;

(3) Komunikasi stakeholder.

2.2.1. Pemetaan Stakeholder

Pemetaan terhadap fungsi, peranan dan kontribusi stakeholder sesuai


dengan kebutuhan operasional perusahaan. Pemetaan stakeholder ini mengacu
kepada kategorisasi berdasarkan internal dan eksternal.

Pertama, stakeholder yang termasuk ke dalam kategori internal adalah

(1) pekerja;

(2) pemegang saham;

(3) investor perusahaan.

Kedua, stakeholder yang termasuk ke dalam dalam kategori eksternal, yaitu:

 pemerintah;

 masyarakat;

(4) media;

(5) NGO/LSM;

(6) supplier;

(7) pelanggan/customer;

(8) asosiasi/organisasi professional.


2.2.2. Analisis Stakeholder

Analisis stakeholder adalah analisis pengaruh fungsi, peranan dan


kontribusi stakeholder terhadap kegiatan operasional perusahaan sesuai
dengan kebutuhan perusahaan. Di dalam melakukan analisasi stakeholder
dikategorikan dalam pengaruhnya kepada pihak perusahaan, yaitu:

(1) stakeholder pengaruh tinggi adalah stakeholder yang memiliki posisi


dominan dalam mempengaruhi kegiatan operasional perusahaan ;

(2) stakeholder pengaruh sedang adalah stakeholder yang memiliki


posisi tidak terlalu dominan dalam mempengaruhi kegiatan
operasional perusahaan;

(3) stakeholder pengaruh rendah adalah stakeholder yang memiliki


posisi yang tidak dominan dalam mempengaruhi kegiatan
operasional perusahaan.

Dalam melakukan analisa stakeholder dapat menganalisa pengaruhnya


berdasarkan kepada tiga hal, yaitu :

(1) kepentingan adalah organisasi/orang yang memiliki kepentingan


atas keberadaan dan kegiatan perusahaan;

(2) power adalah kekuasaan yang dimiliki oleh organisasi/orang yang


dapat mempengaruhi perusahaan;

(3) legitimasi adalah organisasi/orang yang memiliki pengakuan dari


pihak-pihak pendukungnya. Analisa stakeholder berdasarkan
pengaruh, kepentingan, power dan legitimasi, perusahaan dapat
melakukan analisa dari setiap stakeholder yang mempengaruhi
perusahaan berdasarkan kepada isu-isu spesifik tertentu.

Secara umum, Stakeholder dapat dikelompokkan berdasarkan


kekuatan, posisi, dan pengaruhnya. Adapun klasifikasi stakeholder adalah
sebagai berikut:

1) Stakeholder Utama (Primer)

Stakeholder primer ini berhubungan langsung dengan pembuatan


kebijakan, program, dan proyek. Stakeholder utama atau primer
merupakan penentu utama dalam kegiatan pengambilan keputusan.
Berikut beberapa contoh Stakeholder utama atau Stakeholder primer,
diantaranya:

 Masyarakat dan Tokoh Masyarakat

Masyarakat adalah mereka yang akan terkena dampak dan mendapat


manfaat dari suatu kebijakan, proyek, dan program. Sedangkan tokoh
masyarakat adalah anggota masyarakat yang dianggap dapat menjadi
aspirasi masyarakat.

 Manajer Publik
Manajemen publik adalah lembaga publik yang punya tanggung jawab
dalam mengambil keputusan dan implementasinya.

2) Stakeholder Pendukung (Sekunder)

Stakeholder sekunder adalah pihak yang tidak berkaitan langsung terhadap


kebijakan, program dan proyek. Tapi stakeholder sekunder memiliki
keprihatinan dan kepedulian sehingga ikut menyuarakan pendapat yang
dapat mempengaruhi sikap stakeholder utama dan keputusan legal
pemerintah. Berikut beberapa contoh stakeholder sekunder, diantaranya
yaitu:

 Lembaga pemerintah dalam wilayah tertentu namun tidak memiliki


tanggung jawab langsung

 Lembaga pemerintah yang berhubungan dengan permasalahan, tapi tidak


memiliki wewenang langsung dalam mengambil keputusan

 Lembaga swadaya masyarakat (LSM) setempat yang bergerak di bidang


yang berhubungan dengan dampak, rencana, atau manfaat yang akan
muncul

 Perguruan Tinggi, yakni kelompok akademis yang berpengaruh dalam


proses pengambilan keputusan pemerintah

 Pengusaha atau Badan Usaha yang berhubungan dengan permasalahan

2.2.3. Stakeholder Engagement


Stakeholder engagement merupakan proses dimana suatu organisasi
melibatkan orang-orang yang mungkin akan terpengaruh oleh keputusan
itu, membuat, atau dapat mempengaruhi pelaksanaan keputusan. Mereka
mungkin mendukung atau menentang keputusan, akan berpengaruh dalam
organisasi atau dalam masyarakat di mana ia beroperasi, memegang posisi
resmi yang relevan atau akan terpengaruh dalam jangka panjang.

Stakeholder engagement merupakan sebuah rangkaian aktivitas yang


terencana dan dilaksanakan berdasarkan perencanaan dalam rangka untuk
memperoleh pengakuan, penerimaan dan keberlanjutan hubungan antara
perusahaan dengan stakeholder. Menurut AA1000SES, Proses keterlibatan
berkelanjutan oleh stakeholder memiliki 4 tahapan, yaitu:

A. Perencanaan

B. Persiapan

C. Implementasi (penerapan)

D. Tindakan, Mengkaji ulang dan Meningkatkan (mengimprove)

2.2.3.1. Perencanaan

Perusahaan dalam merencanakan stakeholder engagement


diharapkan dapat melakukan langkah-langkah perencanaan dengan
baik. Dengan perencanaan yang baik dan sesuai dengan tahapan-
tahapan yang berlaku standar akan menjadi dasar bagi pelaksanaan
stakeholder engagement yang diharapkan. Adapun langkah-langkah
yang harus dilakukan dalam rangka perencanaan stakeholder
engagement akan meliputi :

1) Profiling dan pemetaan stakeholder bertujuan agar perusahaan


memiliki pemahaman yang jelas tentang stakeholder yang
relevan untuk dan juga isu-isu yang dihadapi. Pelaksanaan
pemetaan yang baik akan menghasilkan pemahaman perusahaan
mengenai hubungan antara perusahaan dengan stakeholder
pada saat ini, pengaruh stakeholder terhadap perusahaan,
harapan akan sebuah engagement yang dilakukan oleh
perusahaan dengan stakeholder, jenis stakeholder, hubungan
antar stakeholder, kerelaan melakukan engagement dari setiap
stakeholder. Penentuan tingkat dan metode stakeholder
engagement. Setelah melakukan pemetaan, maka perusahaan
menetapkan tentang tingkat dan metode stakeholder
engagement.

 Tingkat pertama, stakeholder engagement dimulai dengan


konsultasi. Dimana konsultasi dilakukan perusahaan untuk
hanya menginginkan feedback atas pertanyaan-pertanyaan
yang disampaikan oleh perusahaan dan hanya bersifat satu
arah. Pada tingkat pertama ini, metode yang digunakan
dapat berupa survey, FGD, pertemuan dengan stakeholder
yang dipilih, pertemuan public, workshop dan mekanisme
feedback online.

 Tingkat kedua adalah negosiasi dan perusahan


memposisikan stakeholder dalam posisi sejajar dalam hal
menyelesaikan sebuah perkara. Pada tingkat kedua ini,
metode yang dipergunakan adalah penawaran bersama. Hal
ini disebabkan proses negosiasi yang sering dilakukan oleh
perusahaan terkait dengan pekerjanya ataupus dengan
serikat pekerja.

 Tingkat tiga adalah keterlibatan dan menempatkan


perusahaan dengan stakeholder dalam komunikasi dua
arah. Pada tingkat ketiga ini, perusahaan melakukan
kolaborasi untuk menjalin kerjasama, pengambilan
keputusan bersama atau melakukan tindakan bersama
dengan stakeholder. Adapun metode yang sering dilakukan
dalam tingkat tiga ini adalah pertemuan multistakeholder,
pengembangan konsensus, proses pengambilan keputusan
secara partisipatif, FGD.

 Tahap empat adalah pemberdayaan stakeholder. Dimana


perusahaan mengikutsertakan stakeholder menjadi
perwakilannya dalam pengambilan keputusan. Dalam hal
ini perusahaan memposisikan stakeholder dalam
pengelolaan dan strategi pengelolaan perusahaan.

2) Mengidentifikasi batasan dari penyampaian informasi. Perusahaan


harus jelas dalam mengidentifikasi hal-hal yang perlu disampaikan
kepada stakeholder dan mampu berkomunikasi dengan jelas dengan
stakeholder

3) Menyusun draft perencanaan stakeholder engagement. Cakupan dari


draft perencanaan stakeholder engagement meliputi mandar untuk
melakukan engagement, maksud dan cakupan dan dari stakeholder
engagement, pihak-pihak yang terlibat dalam engagement termasuk
peranan dan tanggung jawabnya, metode untuk mengidentifikasi
stakeholder, batasan-batasan dalam pemberian informasi.

4) Penentuan indikator-indikator. Perusahaan harus jelas dalam


menentukan indikator-indikator dari proses stakeholder
engagement. Dalam penentuan ini, perusahaan harus jelas dalam
menentukan indikator-indikator sesuai agar hasil-hasil dari sebuah
stakeholder engagement sesuai dengan harapan perusahaan.

2.2.3.2. Persiapan

Setelah selesai menyusun perencanaan, perusahaan melakukan


persiapan terkait dengan hal-hal mobilisasi sumber daya yang dimiliki dalam
upaya melaksanakan stakeholder engagement, pengembangan kapasitas
terkait dengan dan terkahir mengidentifikasi resiko-resiko yang mungkin
terjadi dalam proses engagement dengan stakeholder.

2.2.3.3. Impelementasi

Perusahaan dalam mengimplementasikan rencana dan persiapan


stakeholder engagement dilakukan dengan mengundang stakeholder untuk
berpatisipasi dalam engagement. Kemudian perusahaan memberikan catatan
catatan kepada stakeholder yang berkaitan dengan maksud dan cakupan
engagement, isu-isu yang dihadapai, pengelolaan isu oleh perusahaan,
keinginan perusahaan terhadap isu yang dihadapi. Seluruh hal-hal ini
disediakan dan di presentasikan oleh perusahaan terhadap stakeholder yang
berpartisipasi.

Setelah hal-hal ini dilakukan, perusahan selanjutnya dapat melakukan


engagement dengan stakeholder. Seluruh proses engagement di
dokumentasikan dan juga dalam pendokumentasian tersebut meliputi
capaian-capaian yang dihasilkan. Apabila proses engagement ini sudah
dilaksanakan maka kemudian disusunlah rencana tindak lanjut antara
perusahaan dengan stakeholder dan mengkomunikasikan capaian-capaian
yang telah diperoleh serta rencana tindak lanjut yang telah disusun.

2.2.3.4. Tindakan, Review dan Perbaikan

Perusahaan harus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap


semua kualitas dari proses yang sudah dilakukan dalam rangka stakeholder
engagement, termasuk di dalamnya mencakup penilaian terhadap kualitas
engagement yang dilakukan secara individual. Monitoring dan evaluasi ini
mencakup komitmen perusahaan, maksud cakupan dan partisipasi
stakeholder, proses engagement, capaian dan pelaporan.

Hasil dari tahapan ini, perusahaan dapat melakukan perbaikan-perbaikan


terhadap hal-hal yang masih dirasakan kurang dan pleaporan mengenai
proses dari stakeholder engagement ini dapat dikomunikasikan dengan
stakeholder. Komunikasi laporan ini dilakukan dengan mempublikasikan
laporan tersebut agar dapat di informasikan kepada seluruh pihak.

3. Pengelolaan Stakeholder yang Berkelanjutan

Perusahaan dalam melakukan pengelolaan stakeholder yang berkelanjutan


memerlukan empat langkah yang harus dilakukan secara dinamis. Pengertian dinamis
dalam hal ini adalah perusahaan harus mampu memilih dan memilah isu-isu dan
stakeholder yang sesuai dengan langkah-langkah tersebut. Adapaun langkah-langkah
dalam melakukan komunikasi dengan stakeholder yang dilakukan perusahaan sesuai
dengan isunya, yaitu:

(1) Proaktif;

(2) Antisipasi;

(3) Reguler:

(4) Defensif.
3.1. Proaktif

Perusahaan melakukan komunikasi secara proaktif kepada stakeholder dengan


mengedepankan pengakuan dan penghormatan terhadap stakeholder. Komunikasi yang
dibangun oleh perusahan yang bersifat proaktif ini adalah komunikasi pasif dengan
menunggu stakeholder mengkomunikasikan kepentingan dan aspirasinya kepada
perusahaan. Tetapi sebalikny dan perusahaan harus mengkomunikasikan harapannya
kepada kepada stakeholder, sekaligus menerima aspirasi dan kepentingan stakeholder.

3.2. Antisipasi

Perusahan membangun komunikasi dengan stakeholder sebagai langkah untuk


mengantisipasi dampak yang tidak diharapkan oleh perusahaan. Komunikasi yang
dibangun oleh perusahaan dengan stakeholder haruslah mampu untuk mengantisipasi
dampak negative atas kepentingan stakeholder kepada perusahaan.

3.3. Reguler
Perusahaan membangun komunikasi dengan stakeholder dengan secara periodik
dan terus menerus. Hubungan komunikasi yang dibangun oleh perusahaan dengan
stakeholder bukan berdasarkan kepada kepentingan perusahaan semata.

3.4. Defensif

Perusahaan membangun komunikasi dengan menerima aspirasi dan kepentingan


stakeholder dengan tanpa melakukan penekanan kepada stakeholder. Dalam kondisi
tertentu, komunikasi defensive diperlukan oleh perusahaan menghindari terjadinya
masalah yang berkelanjutan bagi pihak perusahaan.