Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN KETEKNIKAN, ALAT DAN


TEKNOLOGI, KEMAMPUAN MANAJEMEN TERHADAP
KEBERHASILAN POYEK KONSTRUKSI
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
MANAJEMEN PROYEK & KONSTRUKSI

DOSEN PEMBIMBING:
Heri Sismoro,ST.,MT.

OLEH :
Putri Nadya Bilqis (2112171003)
Rian Ray Rahman (2112171005)
Gustiansyah (2112171019)
Farid Darulhanif Adarraafi 2112171025
Revaldi Rukmana (2112171026)
Raka Priyadinata (2112171027)
Risky Aris D (2112171028)
M. Aditya Rahman (2112171045)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SANGGA BUANA
BANDUNG
2018
M a k a l a h B a h a s a I n d o n e s i a 2 0 1 8 | ii

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kami panjatkan puji syukur atas rahmat dan hidayah Nya yang memberikan
kesempatan bagi kami untuk menyelesaikan tugas makalah mata kuliah
Manajemen Proyek & Konstruksi mengenai “Hubungan Antara Kemampuan
Keteknikan, Alat dan Teknologi, Kemampuan Manajemen Terhadap Keberhasilan
Poyek Konstruksi”

Adapun makalah Manajemen Proyek & Konstruksi ini telah kami usahakan
semaksimal mungkin dan tentunya atas kerjasama serta bantuan dari berbagai
pihak. Untuk itu kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Namun tidak lepas dari
semua itu, kami menyadari dalam makalah ini masih banyak terdapat kesalahan.
Oleh karena itu kami meminta kritik dan saran mengenai makalah kami untuk
dijadikan pembelajaran dikemudiaan hari.

Akhir kata kami mengharapkan makalah ini menjadi suatu manfaat bagi banyak
orang yang membaca makalah ini.

Bandung, 4 Agustus 2018

Penyusun
M a k a l a h M a n a j e m e n K o n s t r u k s i | iii

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ...................................................................................... i

KATA PENGANTAR ...................................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1


1.1 Latar Belakang Penelitian .................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah Penelitian.............................................................................. 1
1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................................... 1

BAB II TINJAUAN TEORI ............................................................................. 2


2.1 Pengertian Proyek Konstruksi .......................................................................... 2
2.2 Temuan dan Pembahasan .................................................................................... 2
2.3 Fungsi Manajemen ................................................................................................... 4
2.4 Manajemen Waktu Proyek .................................................................................. 7
2.5 Manajemen Ruang Lingkup Proyek ............................................................... 8
2.6 Kompetensi yang Harus Dimiliki Seorang Manajer Proyek ............ 9
2.7 Tipe Organisasi di Dalam Proyek .................................................................... 10
2.8 Jenis-Jenis Proyek ..................................................................................................... 11
2.9 Pihak yang Terkait dengan Proyek Konstruksi ...................................... 12

BAB III PENUTUP ......................................................................................... 13


3.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 13
3.2 Saran ................................................................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 14


Mak al ah Man aj e me n K o n s tru k s i 2018 |1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian


Proyek merupakan suatu kegiatan yang memiliki jangka waktu tertentu
dengan gabungan beberapa sumber daya yang dihimpun dalam suatu organisasi
sementara untuk melaksanakan suatu tugas atau sasaran tertentu yang telah
dijadwalkan. Kegiatan atau tugas yang dilaksanakan pada proyek berupa
pembangunan/perbaikan sarana fasilitas atau bisa juga berupa kegiatan penelitian,
pengembangan. Dari pengertian di atas, maka proyek merupakan kegiatan yang
bersifat sementara (waktu terbatas), tidak berulang, tidak bersifat rutin, mempunyai
waktu awal dan waktu akhir, sumber daya terbatas/tertentu dan dimaksudkan untuk
mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dengan mengoptimalkan sumber daya yang
ada secara efisien dan efektif dan dapat menerapkan fungsi manajemen proyek
konstruksi seperti perencanaan, pelaksanaan, dan penerapan secara sistematis, maka
suatu proyek akan berjalan dengan benar. Keberhasilan suatu proyek konstruksi
sangat dipengaruhi oleh kejelian perencanaan proyek dalam menjadwal pelaksanaan
suatu proyek konstruksi.

1.2 . Rumusan Masalah Penelitian


Makalah ini mempunyai beberapa rumusan masalah yang akan dibahas diantaranya
sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan Manajemen Proyek Konstruksi ?
2. Siapa saja yang terlibat dalam suatu manajemen proyek ?
3. Bagaimana suatu proyek bisa dikatakan berhasil ?

1.3. Tujuan Penelitian


1. Dapat memahami pengertian dari Manajemen Proyek Konstruksi
2. Dapat mengetahui elemen-elemen yang diperlukan supaya proyek bisa dikatakan
berhasil
3. Dapat mengetahui struktur organisasi suatu proyek
Mak al ah Man aj e me n K o n s tru k s i 2018 |2

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Pengertian Proyek Konstruksi

Menurut D.I Cleland dan W.R. King (1987), proyek adalah gabungan dari berbagai
sumber daya, yang dihimpun dalam suatu wadah organisasi sementara untuk
mencapai suatu sasaran tertentu. Kegiatan atau tugas yang dilaksanakan pada proyek
berupa pembangunan/perbaikan sarana fasilitas atau bisa juga berupa kegiatan
penelitian, pengembangan. Dari pengertian di atas, maka proyek merupakan kegiatan
yang bersifat sementara (waktu terbatas), tidak berulang, tidak bersifat rutin,
mempunyai waktu awal dan waktu akhir, sumber daya terbatas/tertentu dan
dimaksudkan untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dari pengertian proyek
konstruksi di atas, maka dapat dijabarkan beberapa karakteristik proyek sebagai
berikut.

1. Waktu proyek terbatas artinya adalah jangka waktu proyek tersebut dari waktu
mulai proyek hingga waktu selesai/akhir proyek sudah ditentukan perkiraannya.
2. Hasilnya tidak berulang, artinya produk suatu proyek hanya sekali, bukan produk
rutin/berulang.
3. Mempunyai tahapan kegiatan-kegiatan berbeda-beda, dengan pola di awal
sedikit, berkembang makin banyak, menurun dan berhenti.
4. Intensitas kegiatan-kegiatan (tahapan, perencanaan, tahapan perancangan dan
pelaksanaan).
5. Banyak ragam kegiatan dan memerlukan klasifikasi tenaga beragam pula.
6. Lahan/lokasi proyek tertentu, artinya luasan dan tempat proyek sudah
ditetapkan, tidak dapat sembarang tempat.
7. Spesifikasi proyek tertentu, artinya persyaratan yang berkaitan dengan bahan,
alat, tenaga dan metoda pelaksanaannya yang sudah ditetapkan dan harus
memenuhi prosedur persyaratan tersebut.

Terdapat 3 fungsi dasar dari manajemen yang merupakan tahap yang harus dipenuhi
supaya proyek tersebut bisa dikatakan berhasil yaitu :

1. Kegiatan perencanaan : Penetapan Tujuan, Perencanaan, Pengorganisasian.


2. Kegiatan Pelaksanaan : Pengisian Staf dan Pengarahan.
3. Kegiatan Pengendalian : Pengawasan, Pengendalian dan koordinasi.

2.2. Temuan dan Pembahasan

Menurut Project Management Institue (PMI) dan Buku Panduan Project


Management Body of Knowledge (PMBOK) tentang Manajemen Proyek adalah
penerapan pengetahuan, keterampilan, peralatan, dan teknik untuk kegiatan proyek
dalam rangka memenuhi kebutuhan proyek. Jadi, seseorang yang ditugaskan untuk
mengelola proyek harus memiliki keempat hal berikut:
Mak al ah Man aj e me n K o n s tru k s i 2018 |3

 Pengetahuan, seorang petugas manajemen proyek harus memiliki


pengetahuan dan wawasan tentang manajamen proyek yang bisa didapat
dengan membaca berbagai sumber seperti buku panduan PMBOK edisi
kelima serta aktif bergabung dalam grup PMI untuk berbagi cerita dan
pengalaman kepada anggota grup dalam mengelola sebuah proyek.
 Keterampilan, seorang petugas manajemen proyek harus memiliki
kemampuan dalam mengimplementasikan teori-teori yang ada dalam rangka
menyelesaikan tugas-tugas yang dikemas dalam suatu proyek-proyek sesuai
dengan best practice-nya.
 Peralatan, seorang petugas manajemen proyek membutuhkan kerangka
kerja maupun perangkat lunak pendukung yang digunakan sebagai alat bantu
dalam menyelesaikan tugas yang berhubungan dengan pengelolaan proyek
sehingga pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien.
 Teknik, seorang petugas manajemen proyek harus memiliki keahlian dalam
mengelola suatu proyek sesuai dengan kebutuhan organisasi berdasarkan
pengamatan dan penelitian yang dilakukan menggunakan metode atau
kerangka kerja yang tersedia.

Dalam menerapkan konsep manajemen proyek, tentu memiliki berbagai kendala


yang berpotensi menghambat pencapaian dari pengerjaan proyek tersebut. Dalam
buku panduan PMBOK, terdapat 6 hambatan dalam manajemen proyek seperti di
bawah ini :

1. Cost (Biaya), semua proyek memiliki bujet yang terbatas. Tim proyek harus
memperhitungkan biaya proyek secara terperinci. Jika tim proyek mengurangi
biaya proyek, maka akan berdampak pada pengurangan ruang lingkup,
percepatan waktu pengerjaan, peningkatan risiko, penurunan kualitas suatu
produk atau layanan yang dihasilkan, dan kebutuhan sumber daya yang akan
digunakan semakin sedikit.
2. Time (Waktu), ada pepatah yang mengatakan bahwa waktu adalah uang, begitu
berharga untuk dilewatkan tanpa membawa hasil yang positif dan
menguntungkan. Tim proyek harus memperhitungkan waktu dalam pengerjaan
suatu proyek secara terperinci karena setiap proyek memiliki batas waktu
penyelesaian. Jika Tim proyek ingin mempercepat waktu penyelesaian proyek,
maka akan berdampak pada penambahan biaya pengerjaan proyek, pengurangan
ruang lingkup, penurunan kualitas suatu produk atau layanan yang dihasilkan,
penambahan kebutuhan sumber daya, peningkatan risiko
3. Scope (Ruang Lingkup). banyak proyek gagal karena ruang lingkup yang tidak
terdefenisi secara jelas dari awal dimulainya suatu proyek sehingga berpotensi
terjadinya penambahan ruang lingkup proyek. Akibatnya, terjadi penambahan
biaya dan berpotensi proyek mengalami keterlambatan. Sumber daya bisa saja
bertambah dengan kurang memperhatikan risiko-risiko yang mungkin terjadi
sehingga berdampak pada penurunan kualitas dari proyek itu sendiri
4. Risk (Risiko), setiap proyek pasti memiliki risiko. Sebisa mungkin setiap risiko
yang ada diminimalkan. Semakin minim risiko yang diinginkan dari suatu proyek,
maka semakin besar biaya yang dikeluarkan dan semakin lama waktu pengerjaan
proyek. Seiring dengan itu, ruang lingkup akan semakin bertambah.
Mak al ah Man aj e me n K o n s tru k s i 2018 |4

5. Quality (Kualitas), menentukan keberhasilan penyampaian dari suatu proyek.


Kualitas proyek yang baik ditentukan oleh analisis risiko yang baik, ketersediaan
sumber daya manusia yang handal dan memadai, kesesuaian ruang lingkup yang
sudah didefenisikan bersama pemangku kepentingan, kesesuaian dengan bujet,
dan tepat waktu penyelesaian proyek.
6. Resources (Sumber Daya), merupakan hal penting dalam mengelola suatu
proyek. Tanpa sumber daya yang berkualitas dan memadai, suatu proyek akan
sulit memenuhi kualitas yang baik. Begitu juga waktu penyelesaian suatu proyek
akan cenderung berpotensi mengalami keterlambatan. Analisis risiko suatu
proyek bukan lagi menjadi prioritas.

Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi di dalam manajemen proyek tergantung


pada dua faktor utama yaitu : sumber daya dan fungsi manajemen.

Sumber daya terdiri dari manusia, uang, peralatan, dan material, sedangkan
fungsi manajemen dimaksudkan sebagai kegiatan-kegiatan yang dapat mengarahkan
atau mengendalikan sekelompok orang yang tergabung dalam suatu kerja sama
untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Dalam penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi, kegiatan yang dilakukan oleh sumber daya manusia, ditunjang
dengan uang, material dan peralatan, perlu ditata melalui fungsi-fungsi manajemen
dalam batas waktu yang disediakan sehingga memenuhi prinsip efisiensi dan
efektivitas.

2.3. Fungsi Manajemen

Untuk melaksanakan manajemen, seorang pada posisi pimpinan di level


manapun, harus melakukan fungsi-fungsi manajemen. Di dalam fungsi-fungsi
manajemen ada fungsi organik yang mutlak harus dilaksanakan dan ada fungsi
penunjang yang bersifat sebagai pelengkap. Jika fungsi organik tersebut tidak
dilakukan dengan baik maka terbuka kemungkinan pencapaian sasaran menjadi
gagal. George R. Terry telah merumuskan fungsi-fungsi tersebut sebagai POAC
(Planning, Organizing, Actuating dan Controlling).

1. Planning adalah proses yang secara sistematis mempersiapkan kegiatan guna


mencapai tujuan dan sasaran tertentu. Kegiatan diartikan sebagai kegiatan yang
dilakukan dalam rangka pekerjaan konstruksi, baik yang menjadi tanggung jawab
pelaksana (kontraktor) maupun pengawas (konsultan). Kontraktor maupun
konsultan, harus mempunyai konsep planning” yang tepat untuk mencapai tujuan
sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Pada proses planning perlu diketahui hal-hal sebagai berikut :

 Permasalahan yang terkait dengan tujuan dan sumber daya yang tersedia.
 Cara mencapai tujuan dan sasaran dengan memperhatikan sumber daya yang
tersedia.
 Penerjemahan rencana kedalam program-program kegiatan yang kongkrit.
Mak al ah Man aj e me n K o n s tru k s i 2018 |5

 Penetapan jangka waktu yang dapat disediakan guna mencapai tujuan dan
sasaran, (seluruh tahap: -proses pengadaan, -pelaksanaan dan pengawasan
konstruksi; dan FHO).

2. Organizing (pengorganisasian kerja) dimaksudkan sebagai pengaturan atas


suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang, dipimpin oleh pimpinan
kelompok dalam suatu wadah organisasi. Wadah organisasi ini menggambarkan
hubungan-hubungan struktural dan fungsional yang diperlukan untuk
menyalurkan tanggung jawab, sumber daya maupun data.

Dalam proses manajemen, organisasi digunakan sebagai alat untuk :

 menjamin terpeliharanya koordinasi dengan baik.


 membantu pimpinannya dalam menggerakkan fungsi-fungsi manajemen.
 mempersatukan pemikiran dari satuan organisasi yang lebih kecil yang
berada di dalam kordinasinya.

Dalam fungsi organizing, koordinasi merupakan mekanisme hubungan struktural


maupun fungsional yang secara konsisten harus dijalankan. Koordinasi dapat
dilakukan melalui mekanisme :

 koordinasi vertikal (menggambarkan fungsi komando),


 koordinasi horizontal (menggambarkan interaksi satu level); dan
 koordinasi diagonal (menggambarkan interaksi berbeda level tapi di luar
fungsi komando).

Koordinasi diagonal apabila diintegrasikan dengan baik akan memberikan


kontribusi signifikan dalam menjalankan fungsi organizing. Sebagai contoh, dapat
dijelaskan sebagai berikut:

- Koordinasi vertikal dan bersifat hirarkis:


 Pelaksana Konstruksi : koordinasi antara General Superintendant dengan
Material Superintendant atau dengan Construction Engineer atau dengan
Equipment Superintendant.
 Field Supervision Team, koordinasi antara Site Engineer dengan Quantity
Engineer atau dengan Quality Engineer merupakan koordinasi vertikal dan
bersifat hirarkis.

- Koordinasi horizontal dan bersifat satu level:


 Pelaksanaan konstruksi, koordinasi antara Material Superintendant dengan
Construction Engineer atau dengan Equipment Superintendant merupakan.
Field Supervision Team, koordinasi antara Quantity Engineer atau dengan
Quality Engineer merupakan koordinasi horizontal dan bersifat satu level.

- Koordinasi diagonal:

 Koordinasi antara General Superintendant dengan Site Engineer merupakan


koordinasi horizontal dan bersifat satu level, sedangkan koordinasi antara
Kepala Satuan Kerja Pekerjaan Civil Works dengan General Superintendant
atau dengan Site Engineer merupakan koordinasi vertikal.
Mak al ah Man aj e me n K o n s tru k s i 2018 |6

3. Actuating diartikan sebagai fungsi manajemen untuk menggerakkan orang yang


tergabung dalam organisasi agar melakukan kegiatan yang telah ditetapkan di
dalam planning. Pada tahap ini diperlukan kemampuan pimpinan kelompok
untuk menggerakkan; mengarahkan; dan memberikan motivasi kepada anggota
kelompoknya untuk secara bersama-sama memberikan kontribusi dalam
menyukseskan manajemen proyek mencapai tujuan dan sasaran yang telah
ditetapkan.

Berikut ini beberapa metoda mensukseskan “actuating” yang dikemukakan oleh


George R. Terry, yaitu:

 Hargailah seseorang apapun tugasnya sehingga ia merasa keberadaannya di


dalam kelompok atau organisasi menjadi penting.
 Instruksi yang dikeluarkan seorang pimpinan harus dibuat dengan
mempertimbangkan adanya perbedaan individual dari pegawainya, hingga
dapat dilaksanakan dengan tepat oleh pegawainya.
 Perlu ada pedoman kerja yang jelas, singkat, mudah difahami dan
dilaksanakan oleh pegawainya.
 Lakukan praktek partisipasi dalam manajemen guna menjalin kebersamaan
dalam penyelenggaraan manajemen, hingga setiap pegawai dapat difungsikan
sepenuhnya sebagai bagian dari organisasi.
 Upayakan memahami hak pegawai termasuk urusan kesejahteraan, sehingga
tumbuh sense of belonging dari pegawai tersebut terhadap tempat bekerja
yang diikutinya.
 Pimpinan perlu menjadi pendengar yang baik, agar dapat memahami dengan
benar apa yang melatarbelakangi keluhan pegawai, sehingga dapat dijadikan
bahan pertimbangan dalam pengambilan sesuatu keputusan.
 Seorang pimpinan perlu mencegah untuk memberikan argumentasi sebagai
pembenaran atas keputusan yang diambilnya, oleh karena pada umumnya
semua orang tidak suka pada alasan apalagi kalau dicari-cari agar bisa
memberikan dalih pembenaran atas keputusannya.
 Jangan berbuat sesuatu yang menimbulkan sentimen dari orang lain atau
orang lain menjadi naik emosinya.
 Pimpinan dapat melakukan teknik persuasi dengan cara bertanya sehingga
tidak dirasakan sebagai tekanan oleh pegawainya.
 Perlu melakukan pengawasan untuk meningkatkan kinerja pegawai, namun
haruslah dengan cara-cara yang tidak boleh mematikan kreativitas pegawai.

4. Controlling diartikan sebagai kegiatan guna menjamin pekerjaan yang telah


dilaksanakan sesuai dengan rencana. Didalam manajemen proyek jalan atau
jembatan, controlling terhadap pekerjaan kontraktor dilakukan oleh konsultan
melalui kontrak supervisi, dimana pelaksanaan pekerjaan konstruksinya
dilakukan oleh kontraktor. General Superintendat berkewajiban melakukan
controlling (secara berjenjang) terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh staf di
bawah kendalinya yaitu Site Administration, Quantity Surveyor, Materials
Superintendant, Construction Engineer, dan Equipment Engineer untuk
memastikan masing-masing staf sudah melakukan tugasnya dalam koridor
Mak al ah Man aj e me n K o n s tru k s i 2018 |7

“quality assurance”. Sehingga, tahap-tahap pencapaian sasaran sebagaimana


direncanakan dapat dipenuhi.

Kegiatan ini juga berlaku di dalam kegiatan internal konsultan supervisi; artinya
kepada pihak luar konsultan supervisi itu bertugas mengawasi kontraktor, selain itu
secara internal Site Engineer juga melakukan controlling terhadap Quantity Engineer
dan Quality Engineer. Secara keseluruhan internal controlling ini dapat mendorong
kinerja konsultan supervisi lebih baik di dalam mengawasi pekerjaan kontraktor.

Ruang lingkup kegiatan controlling mencakup pengawasan atas seluruh aspek


pelaksanaan rencana, antara lain adalah:

 Produk pekerjaan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif


 Seluruh sumber-sumber daya yang digunakan (manusia, uang , peralatan,
bahan)
 Prosedur dan cara kerjanya
 Kebijaksanaan teknis yang diambil selama proses pencapaian sasaran.

Controlling harus bersifat obyektif dan harus dapat menemukan fakta-fakta


tentang pelaksanaan pekerjaan di lapangan dan berbagai faktor yang
mempengaruhinya. Rujukan untuk menilainya adalah memperbandingkan antara
rencana dan pelaksanaan, untuk memahami kemungkinan terjadinya penyimpangan.

2.4. Manajemen Waktu Proyek

Manajemen waktu proyek merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki
oleh seorang manajer proyek. Manajemen waktu proyek dibutuhkan manajer proyek
untuk memantau dan mengendalikan waktu yang dihabiskan dalam menyelesaikan
sebuah proyek. Dengan menerapkan manajemen waktu proyek, seorang manajer
proyek dapat mengontrol jumlah waktu yang dibutuhkan oleh tim proyek untuk
membangun deliverables proyek sehingga memperbesar kemungkinan sebuah
proyek dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Terdapat beberapa proses yang perlu dilakukankan seorang manajer proyek


dalam mengendalikan waktu proyek yaitu :

1. Mendefinisikan aktivitas proyek. Merupakan sebuah proses untuk


mendefinisikan setiap aktivitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan proyek.
2. Urutan aktivitas proyek. Proses ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan
mendokumentasikan hubungan antara tiap-tiap aktivitas proyek.
3. Estimasi aktivitas sumber daya proyek. Estimasi aktivitas sumber daya proyek
bertujuan untuk melakukan estimasi terhadap penggunaan sumber daya proyek.
4. Estimasi durasi kegiatan proyek. Proses ini diperlukan untuk menentukan berapa
lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan proyek.
5. Membuat jadwal proyek. Setelah seluruh aktivitas, waktu dan sumber daya
proyek terdefinisi dengan jelas, maka seorang manager proyek akan membuat
jadwal proyek. Jadwal proyek ini nantinya dapat digunakan untuk
Mak al ah Man aj e me n K o n s tru k s i 2018 |8

menggambarkan secara rinci mengenai seluruh aktivitas proyek dari awal


pengerjaan proyek hingga proyek diselesaikan.
6. Mengontrol dan mengendalikan jadwal proyek. Saat kegiatan proyek mulai
berjalan, maka pengendalian dan pengontrolan jadwal proyek perlu dilakukan.
Hal ini diperlukan untuk memastikan apakah kegiatan proyek berjalan sesuai
dengan yang telah direncanakan atau tidak.

Setiap proses di atas setidaknya terjadi sekali dalam setiap proyek dan dalam satu
atau lebih tahapan proyek.

2.5. Manajemen Ruang Lingkup Proyek

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang manajer proyek handal
adalah kemampuan dalam melakukan manajemen ruang lingkup proyek. Dalam hal
ini, seorang manajer proyek harus mampu memastikan bahwa seluruh aktivitas yang
dilakukan dalam proyek adalah aktivitas yang berhubungan dengan proyek dan
aktivitas tersebut telah memenuhi kebutuhan proyek. Dengan kata lain, manajemen
ruang lingkup proyek memiliki fungsi untuk mendefinisikan serta mengendalikan
aktivitas-aktivitas apa yang bisa dilakukan dan aktivitas-aktivitas apa saja yang tidak
boleh dilakukan dalam menyelesaikan suatu proyek.

Terdapat beberapa proses yang perlu dilakukan seorang manajer proyek dalam
melakukan manajemen ruang lingkup proyek, yaitu :

1. Perencanaan ruang lingkup proyek. Pada tahap ini, manajer proyek akan
mendokumentasikan bagaimana ruang lingkup proyek akan didefinisikan,
diverifikasi, dikontrol dan menentukan bagaimana WBS akan dibuat serta
merencanakan bagaimana mengendalikan perubahan akan ruang lingkup proyek.
2. Mendefinisikan ruang lingkup proyek. Pada tahap ini, ruang lingkup proyek akan
didefinisikan secara terperinci sebagai landasan untuk pengambilan keputusan
proyek dimasa depan.
3. Membuat Work Breakdown Structure. WBS merupakan pembagian deliverables
proyek berdasarkan kelompok kerja. WBS dibutuhkan karena pada umumnya
dalam sebuah proyek biasanya melibatkan banyak orang dan deliverables,
sehingga sangat penting untuk mengorganisasikan pekerjaan-pekerjaan tersebut
menjadi bagian-bagian yang lebih terperinci lagi.
4. Melakukan verifikasi ruang lingkup proyek. Tahap ini merupakan tahap dimana
final project scope statement diserahkan kepada stakeholder untuk diverifikasi.
5. Melakukan kontrol terhadap ruang lingkup proyek. Dalam pelaksanaan proyek,
tidak jarang ruang lingkup proyek mengalami perubahan. Untuk itu, perlu
dilakukannya kontrol terhadap perubahan ruang lingkup proyek. Perubahan
yang tidak terkendali, akan mengakibatkan meluasnya ruang lingkup proyek.
Mak al ah Man aj e me n K o n s tru k s i 2018 |9

2.6. Kompetensi yang Harus Dimiliki Seorang Manajer Proyek

Seorang manager proyek merupakan seorang professional dalam bidang


manajemen proyek. Manajer proyek memiliki tanggung jawab untuk melakukan
perencanaan, pelaksanaan dan penutupan sebuah proyek yang biasanya berkaitan
dengan bidang industri kontruksi, arsitektur, telekomunikasi dan informasi
teknologi. Untuk menghasilkan kinerja yang baik, sebuah proyek harus dimanage
dengan baik oleh manajer proyek yang berkualitas baik serta memiliki kompetensi
yang disyaratkan.

Lalu apa saja kompetensi yang dimaksud? Seorang manajer proyek yang baik
harus memiliki kompetensi yang mencakup unsur ilmu pengetahuan (knowledge),
kemampuan (skill) dan sikap (attitude).

Ketiga unsur ini merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan
keberhasilan proyek. Sebuah proyek akan dinyatakan berhasil apabila proyek dapat
diselesaikan sesuai dengan waktu, ruang lingkup dan biaya yang telah direncanakan.
Manajer proyek merupakan individu yang paling menentukan keberhasilan / kegalan
proyek. Karena dalam hal ini manajer proyek adalah orang yang memegang peranan
penting dalam mengintegrasikan, mengkoordinasikan semua sumber daya yang
dimiliki dan bertanggung jawab sepenuhnya atas kenberhasilan dalam pencapaian
sasaran proyek.

Untuk menjadi manajer proyek yang baik, terdapat 9 ilmu yang harus dikuasai.
Adapun ke sembilan ilmu yang dimaksud antara lain :

1. Manajemen Ruang Lingkup;


2. Manajemen Waktu;
3. Manajemen Biaya;
4. Manajemen Kualitas;
5. Manajemen Sumber Daya Manusia;
6. Manajemen Pengadaan;
7. Manajemen Komunikasi;
8. Manajemen Resiko;
9. Manajemen Integrasi.

Seorang manajer proyek yang baik juga harus mempersiapkan dan melengkapi
kemampuan diri sendiri yang bisa diperoleh melalui kursus manajemen proyek.
Adapun panduan referensi standart internasional yang kerap dipergunakan dalam
bidang manajemen proyek adalam PMBOK (Project Management Body Of
Knowledge). Setelah seorang manajer proyek dirasa cukup menguasai bidang
pekerjaan yang sedang dijalani, maka disarankan untuk dapat mengambil sertifikasi
manajemen proyek. Mereka yang berhasil mendapatkan sertifikasi ini akan
memperoleh gelar PMP (Project Management Professional) dibelakang namanya
sebagai bukti dimilikinya kemampuan terkait.
M a k a l a h M a n a j e m e n K o n s t r u k s i 2 0 1 8 | 10

2.7. Tipe Organisasi di Dalam Proyek

Proyek merupakan suatu kegiatan usaha yang kompleks, sifatnya tidak rutin,
memiliki keterbatasan terhadap waktu, anggaran dan sumber daya serta memiliki
spesifikasi tersendiri atas produk yang akan dihasilkan. Dengan adanya keterbatasan-
keterbatasan dalam mengerjakan suatu proyek, maka sebuah organisasi proyek
sangat dibutuhkan untuk mengatur sumber daya yang dimiliki agar dapat melakukan
aktivitas-aktivitas yang sinkron sehingga tujuan proyek bisa tercapai. Organisasi
proyek juga dibutuhkan untuk memastikan bahwa pekerjaan dapat diselesaikan
dengan cara yang efisien, tepat waktu dan sesuai dengan kualitas yang diharapkan.
Secara umum, terdapat 4 jenis organisasi proyek yang biasa digunakan dalam
menyelesaikan suatu proyek. Adapun jenis-jenis organisasi proyek yang dimaksud
antara lain :

1. Organisasi Proyek Fungsional

Dalam organisasi proyek fungsional, susunan organisasi proyek dibentuk dari


fungsi-fungsi yang terdapat dalam suatu organisasi. Organisasi ini biasanya
digunakan ketika suatu bagian fungsional memiliki kepentingan yang lebih dominan
dalam penyelesaian suatu proyek. Top manajer yang berada dalam fungsi tersebut
akan diberikan wewenang untuk mengkoordinir proyek. Adapun beberapa kelebihan
yang terdapat dalam organisasi proyek ini antara lain proyek dapat diselesaikan
dengan struktur dasar fungsional organisasi induk, memiliki fleksibilitas maksimum
dalam penggunaan staf, adanya pembauran berbagai jenis keahlian bagi tiap-tiap
fungsi serta peningkatan terhadap profesionalisme pada sebuah divisi fungsional.
Sedangkan beberapa kelemahan yang ditemui dalam organisasi proyek fungsional
antara lain proyek biasanya kurang fokus, terdapat kemungkinan terjadinya kesulitan
integrasi antar tiap-tiap fungsi, biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama serta
motivasi orang-orang yang terdapat dalam organisasi menjadi lemah.

2. Organisasi Proyek Tim Khusus

Dalam organisasi proyek tim khusus, organisasi akan membentuk tim yang
bersifat independen. Tim ini bisa direkrut dari dalam dan luar organisasi yang akan
bekerja sebagai suatu unit yang terpisah dari organisasi induk. Seorang manajer
proyek full time akan ditunjuk dan diberi tanggung jawab untuk memimpin tenaga-
tenaga ahli yang terdapat dalam tim. Adapun beberapa kelebihan yang terdapat
dalam organisasi proyek tim khusus yakni tim akan terbentuk dengan bagian-bagian
yang lengkap dan memiliki susunan komando tunggal sehingga tim proyek memiliki
wewenang penuh atas sumber daya yang ada untuk mencapai sasaran proyek, sangat
dimungkinkan ditanggapinya perubahan serta dapat diambil sebuah keputusan
dengan tepat dan cepat karena keputusan tersebut dibuat oleh tim dan tidak
menunda hierarki, status tim yang mandiri akan menumbuhkan identitas dan
komitmen anggotanya untuk menyelesaikan proyek dengan baik, jalur komunikasi
dan arus kegiatan menjadi lebih singkat, mempermudah koordinasi maupun integrasi
personel serta orientasi tim akan lebih kuat kepada kepentingan penyelesaian
M a k a l a h M a n a j e m e n K o n s t r u k s i 2 0 1 8 | 11

proyek. Sedangkan beberapa kelemahan yang ditemukan dalam organisasi proyek ini
adalah biaya proyek menjadi besar karena kurang efisien dalam membagi dan
memecahkan masalah dalam penggunaan sumber daya, terdapat kecendrungan
terjadinya perpecahan antara tim proyek dengan organisasi induk serta proses
transisi anggota tim proyek untuk kembali ke fungsi semula jika proyek telah selesai
akan terasa sulit karena telah meninggalkan departemen fungsionalnya dalam waktu
yang lama.

3. Organisasi Proyek Matriks

Organisasi proyek matriks merupakan suatu organisasi proyek yang melekat


pada divisi fungsional suatu organisasi induk. Pada dasarnya organisasi ini
merupakan penggabungan kelebihan yang terdapat dalam organisasi fungsional dan
organisasi proyek khusus. Beberapa kelebihan yang terdapat dalam bentuk
organisasi ini yaitu manajer proyek bertanggung jawab penuh kepada proyek,
permasalahan yang terjadi dapat segera ditindaklanjuti, lebih efisien karena
menggunakan sumber daya maupun tenaga ahli yang dimiliki pada beberapa proyek
sekaligus serta para personel dapat kembali ke organisasi induk semula apabila
proyek telah selesai. Adapun beberapa kekurangan yang terdapat dalam bentuk
organisasi proyek ini antara lain manajer proyek tidak dapat mengambil keputusan
mengenai pelaksanaan pekerjaan dan kebutuhan personel karena keputusan
tersebut merupakan wewenang dari pada departemen lain, terdapat tingkat
ketergantungan yang tinggi antara proyek dan organisasi lain pendukung proyek
serta terdapat dua jalur pelaporan bagi personel proyek karena personel proyek
berada dibahwah komando pimpinan proyek dan departemen fungsional. 4.
Organisasi Proyek Virtual Organisasi proyek virtual adalah suatu bentuk organisasi
proyek yang merupakan aliansi dari beberapa organisasi dengan tujuan untuk
menghasilkan suatu produk tertentu. Struktur kolaborasi ini terdiri dari beberapa
organisasi lain yang saling bekerjasama dan berada disekelilin perusahaan inti.
Adapun beberapa kelebihan yang terdapat dalam susunan organisasi proyek virtual
ini antara lain terjadi pengurangan biaya yang signifikan, cepat beradaptasi dengan
pesatnya perkembangan teknologi serta adanya peningkatan terhadap fleksibilitas
usaha. Sedangkan beberapa kekurangan yang terdapat dalam organisasi ini yakni
proses koordinasi keprofesionalan dari berbagai organisasi yang berbeda dapat
menjadi hambatan, terdapat potensi terjadinya kehilangan kontrol pada proyek serta
terdapat potensi terjadinya konflik interpersonal.

2.8. Jenis-Jenis Proyek

Proyek merupakan aktivitas yang bersifat temporer. Dalam pengerjaannya, selalu


ada batasan (time, scope dan budget) yang mempengaruhi kesuksesan pelaksanaan
proyek. Perubahan terhadap salah satu faktor akan mempengaruhi faktor yang lain.
Seluruh aktivitas yang terdapat pada proyek merupakan sebuah mata rantai yang
dimulai sejak dituangkannya ide, direncanakan, kemudian dilaksanakan, sampai
benar-benar memberikan hasil yang sesuai dengan perencanaannya semula. Dalam
kehidupan sehari-hari, dapat kita lihat berbagai jenis kegiatan proyek. Jenis-jenis
M a k a l a h M a n a j e m e n K o n s t r u k s i 2 0 1 8 | 12

kegiatan proyek tersebut secara garis besar terkait dengan pengkajian aspek
ekonomi, keuangan, permasalahan lingkungan, desain engineering, marketing,
manufaktur, dan lain-lain. Namun, pada kenyataannya, kita tidak dapat membagi-bagi
proyek pada satu jenis tertentu saja, kerena pada umumnya kegiatan proyek
merupakan kombinasi dari beberapa jenis kegiatan sekaligus. Akan tetapi, jika
ditinjau dari aktivitas yang paling dominan yang dilakukan pada sebuah proyek, maka
kita dapat mengkategorikan proyek sebagai berikut :

1. Proyek Engineering Kontruksi Dalam kegiatannya, aktivitas yang paling dominan


yang dilakukan dalam proyek ini adalah pengkajian kelayakan, desain
engineering, pengadaan dan konstruksi.
2. Proyek engineering Manufacture Secara garis besar, kegitan proyek ini meliputi
seluruh kegitan yang bersifat untuk menghasilkan produk baru.
3. Proyek Pelayanan Manajemen Dalam pengerjaannya, aktivitas utama dalam
proyek ini adalah merancang system informasi manajemen, merancang program
efisiensi dan penghematan, diversifikasi, penggabungan dan pengambilalihan,
memberikan bantuan emergency untuk daerah yang terkena musibag, merancang
strategi untuk mengurangi kriminalitas dan penggunaan obat-obat terlarang dan
lain-lain.
4. Proyek Penelitian dan Pengembangan. Adapun aktivitas utama yang dilakukan
dalam pelaksanaan proyek ini meliputi melakukan penelitian dan pengembangan
suatu produk tertentu.
5. Proyek Kapital Secara umum, kegiatan yang dilakukan dalam proyek ini biasanya
digunakan oleh sebuah badan usaha atau pemerintah, misalnya pembebasan
tanah, penyiapan lahan dan pembelian material. Berdasarkan penjelasan di atas
dapat juga ditarik suatu kesimpulan yaitu bahwa dalam suatu jenis proyek yang
memiliki beberapa aktivitas sekaligus, maka pembagiannya merupakan
kombinasi. Proyek pembuatan sumur minyak dan gas, jika ditinjau dari segi
pembangunannya dapat dikategorikan sebagai proyek engineering konstruksi.

2.9. Pihak yang Terkait dengan Proyek Konstruksi

Ada 4 (empat) pihak yang terkait langsung pada suatu proses proyek konstruksi,
yaitu:

1. Owner / penyandang dana


2. Pihak yg menyiapkan dokumen perencanaan/perancangan
3. Pihak yang melakukan pengawasan dan pengendalian
4. Pihak yg melaksanakan pekerjaan
M a k a l a h M a n a j e m e n K o n s t r u k s i 2 0 1 8 | 13

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Proyek konstruksi yang bermasalah dalam pelaksanaan pekerjaan diakibatkan


oleh adanya perpanjangan waktu kerja dan kenaikan biaya kerja. Manajemen proyek
yang memiliki kemampuan terbatas turut memberi kontribusi terhadap penurunan
kualitas kerja proyek. Kualitas manajer proyek memiliki peranan penting untuk
kelancaran suatu proyek konstruksi. Dedikasi dalam profesi ini menuntut manajer
proyek untuk melaksanakan pekerjaan berjalan sesuai dengan rencana. Kemampuan
keahlian keteknikan seorang manajar proyek sangat berperan penting dalam kualitas
keberhasilan proyek.

Jadi, selain menguasai keteknikan, seorang manajer proyek juga harus mampu
menguasai kecakaapan dengan tim, dan kecanggihan teknolgi yang diterapkan sangat
berpengaruh terhadap waktu dan keberhasilan sebuah proyek. Intinya, penguasaan
teknik itu yang utama.

3.2. Saran

1. Dalam menyiapkan suatu proyek harus dilakukan perencanaan manajemen


sematang-matangnya supaya todak terjadi kesalahan yang mengakibatkan
kegagalan pada proyek tersebut.
2. Kerjasama antar struktur organisasi juga akan berpengaruh dengan pelaksanaan
proyek. Jadi komunikasi antar personal harus terjalin dengan baik.
M a k a l a h M a n a j e m e n K o n s t r u k s i 2 0 1 8 | 14

DAFTAR PUSTAKA
Mercubuana Blog. 2016. Prinsip Dasar Manajemen Proyek. diambil dari :
http://41113110093.blog.mercubuana.ac.id/2016/09/15/prinsip-dasar-
manajemen-proyek/

Sipil Blog. 2015. Manajemen Proyek. diambil dari :


http://sipil1.blogspot.com/2015/03/manajemen-proyek.html

Azhari, Lina. 2015. Makalah Manajemen Proyek Lina Azhari. diambil dari :
http://linaazhari.blog.st3telkom.ac.id/wp-
content/uploads/sites/287/2016/01/MAKALAH-MANAJEMEN-PROYEK-LINA-
AZHARI_14101017_S1-TT-A1.pdf

UNY Sites. 2016. Modul Ajar Manajemen Konstruksi. diambil dari :


http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/MODUL%20AJAR%20MK.%20MEN-
KON%20FT-UNY.pdf