Anda di halaman 1dari 3

FORGIVENESSAND HEALING

Pengampunan dan Pemulihan


Kasihani Sinulingga

Matius 18:21-35,
Pembagian:
A. Pertaanyaan Petrus (21)
B. Respon Yesus (22)
Perumpamaan
C. Seorang raja dan hamba-hambanya (23-27)
i. Keputusan seorang raja untuk mengaakan perhitungan(23)
ii. Seorang hamba yang tak mampu melulunaskan utangnya (24)
iii. Keputusan raja untuk memberikan hukuman (25)
iv. Permohonan belas kasihan hamba kepada raja (26)
v. Utang dihapuskan (27)
D. Seorang hamba (yang telah dihapus utangnya dan rekannya (28-31)
i. Hamba yang menuntut pelunasan utang (28)
ii. Permohonan belas kasihan rekannya kepada hamba tersebut (29)
iii. Penolakan penghapusan utang (30)
iv. Hamba tersebut dilporrkan kepada raja (31)
E. Respon raja (32-34)
i. Kemarahan raja (32-33)
ii. Pembatalan penghapusan utang (34)
F. Aplikasi perumpamaan(35)

ay 21 →tentang batas pengampunan

Yesus sudah mengajarkan tentang pengampunan pada kesepatan sebelumnya Mat


6:12, 14-15

Petrus berinisiatif bertanya kepada Yesus secara spesifik tentang pengampunn kepada
saudaraku. Petrus kemungkinan besar menunjuk kepada dirinya sendiri dan murid-
muridNya

Pertanyaan Petrus dapat dilihat sebagai kesinambungan terhadap apa yang dijelaskan
Yesus di ay 15, Petrus secara eksplisit menyebut batas pengampunan berjumlah tujuh.
Dalam konteks pengajaran Jahudi pada saat itu ada pandangan Rabi/Guru bahwa
pengampunan yang diberikan sebanyak tiga kali adalah cukup jika seseorang
melakukan pelanggaran, ia diampuni pada pelanggaran pertama , kedua, ketiga dan ia
tidak diampuni pada pelanggaran ke empat artinya Petrus sedang menaikkan standard
dari pengampunan
Ay 22→ respon Yesus, terjemahan LAI 70 x 7 kali =490

Kej 4:24 →77 kali → intinya bukan kepada jumlah. Pengampunan bukan persoalan
menghitung dalam batasan hingga lewat pembalasan diijinkan (Ibr 10:30). Yesus
menolak pernyataan Petrus: artinya tidak ada batas tentang pengampunan. Ay 21,
Matius tidak menerangan dosa seperti apa yang dimaksudkan dalam pertanyaan
Petrus. Ini menyiratkan dosa dalam cakupan tanpa batas, disisi lain, tanpa batas dalam
pengampunan artinya standar yang diberikan Yesus adalah pengampunan tanpa batas
terhadap segala macam dosa yang mungkin dilakukan seseorang.

Ay 23-35, Yesus memberikan perumpamaan

Ay 32-33 menunjukkan inti dari seluruh perumpamaan ini, bukankah engkau pun harus
menunjukkan belas kasihan kepada rekanmu sebagaimana aku telah berbelas kasihan
kepadamu.

Kesimpulan dari perumpamaan ini, kita sudah mendapatkan belas kasihan Alah, utang-
utang dosa kita sudah dibayara lunas oleh Kritus di kayu salib, maka suatu keniscayaan
bagi kita untuk memberi pengampunan kepada setiap orang yang menyakiti dan
melukai kita. Kesadaran orang yang sudah diampuni untuk melakukan apa yang sudah
dilakukan kepadanya dengn melakukan pengampunan tanpa batas. Contoh dari PL:
Yusuf dengan saudara-saudaranya (Kej 45:1-15; 50: 15-21)

Yusuf bisa saja membalas dendam atau memberikan pengampunan tanpa makna. Tapi
dia menguji penyesalan mereka, dia menyandera Benyamin. Saudara-saudaranya telah
mengorbankan Yusuf apakah mereka akan mengorbankan Benyamin juga ? Tidak!
Jehuda maju ke depan dan memohon agar adiknya dilepaskan, bahkan menawaran diri
menjadi budak menggantikan adiknya. Saudara-saudaranya sudah berubah, mereka
sungguh sudah bertobat. Yusuf puas lalu dia memperkenalkan diri dan mengampuni
saudara-sauaranya dengan tindakan dengan memeluk mereka.

II. Pengampunan dan Pemulihan


Kepala salah satu rumah sakit jiwa di Inggris:” saya dapat memulangkan separuh
dari pasien saya besok jika mereka dapat dipastikan memperoleh pengampunan
1. Pengampunaan adalah satu kebutuhan mendasar kita. Setiap orang pernah
mengalami luka batin, kemarahan dalam keluarga dan teman-teman Sebab setiap
orang mempunyai satu dosa aib terpendam, ingatan tentang apa yan pernah kita
pikirkan, atau lakukan yang kita sesali kemudian dan membuat kita diliputi rasa malu.
Nurani mengomeli, menyalahkan bahkan menyiksa kita. Mat 26:28→Yesus
menyebut cawan perjamuan sebagai darahKu, darah perjanjian yang ditumpahkan
bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa. Ia mengaitkan pengampunan kita
dengan kematianNya
2. Pengampunan berkaitan erat dengan usaha mematikan natur dosa. Fokus bukan
kepada pribadinya tetapi kepada apa yang dia perbuat (tigkah lakunya). Kita boleh
marah atas dosa yang dilakukan, kiita benci dosanya bukan orangnya.
3. Pengampunan berkaitan erat dengan membangun kembali relasi, ada usaha
yang nyata untuk memperbaiki relasi yang rusak. Untuk menyelesaikan masalah
secara dewasa dan berani membuka diri dan menerima masukan/kritikan mespipun
sakit, pengampunan itdak selalu berakhir dngan kkembalinya relasi seperti dulu.
Rekonsialisasi membutuhkan kesiapan diri ke dua belah pihak, yang memberi dan
menerima pengampunan
4. Pengampunan memang bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan tetapi setiap
kita bertangggung jawab kepada Tuhan atau hidup kita masing-masing. Adalah
omong kosong jika kita menyatakan diri sebagai orang Kristen tetap menyimpan
sejumlah kebencian di dalam diri kita. Pengampunan membuka kemungkinan bagi
kita untuk hidup tidak dendam/menyimpan kebencian , tetapi damai dan
ketenangan hati
5. Cabut akar kepahitan. Dalam dunia tidak ada keluarga yang sempurna. Ini berarti
akan muncul luka hati dalam keluarga.. Henry Nowen: pengampunan membebaskan
bukan hanya orang lain tetapi diri kita sendiri. Pengampunan adalah jalan menuju
kebebasan anak-anak Allah. Bersedia minta maaf terlebih dahulu→obat untuk
menguranagi rasa [edih di hati.
6. Luka hati yang belum dibebaskan akan membuat trauma yang begitu mengikat orang
tersebut sehingga orang tersebut menjadi pasif, tawar hati, unjuk gigi maupun
menjadi pemberontak.
7. Kepahitan hidup seringkali muncul dalam berbagai ekspresi, orang-orang terdekat
lah yang menjadi korbannya. Misalnya, masa kecil mengalami kekerasan, tidak
mendapat perhatian dari orangtua, over protektif kepada anaknya, ayahnya pernah
berselingkuh dan meninggalkan keluarganya

III. Penutup
Ketika memberi pengampunan kita harus sungguh-sungguh berdoa untuk diri kita,
mengucapkan doa pengampunan karena kita harus bersedia menghitung utang: yaitu
sakit, luka yang dibuat orang yang menyakiti atau melukai. Kristus ketika mati di salib Dia
sudah menghitung utang dosa kita yang haus Dia tanggung, Dia rela menanggungnya (1
Kor 6:20; Roma 5: 6-11). Karena itu kita hrus berulang kali merenungkan pengampunan
yan kita terima oleh karena belas kasihan Allah sehingga kitapun mampu megampuni
orang yang menyakiti kita. Mengampuni adalah sesuatu yang bersifat Ilahi, karena itu kita
tidak akan mampu melakukannnya sendiri kecuai dengan pertolongan Allah.
Sumber:

Gunadi, P. 2000. Bantal Keluarga. Metanoi Publishing. Jakarta

Stott, J. 2010. Sepanjang Tahun Menelusuri Alkitab. Yayasan Komunikasi Bina Kasih