Anda di halaman 1dari 8

Tabel 2.

Demografi dan karakteristik medis pada populasi penelitian (N=95)

Karakteristik N = 95 %
Usia ibu
Rata-rata usia 32,8 (4,9)
Rentang usia 21-43
Penyakit hipertensi
Preeklampsia
Ringan 14 14,7
Berat 71 74,7
Superimposed 10 10,5
Cara Persalinan
Sectio caesaria 63 66,4
Spontan pervaginam 18 18,9
Tindakan 14 14,7
kegawatdaruratan
Gravida
Hamil 30 31,6
Tidak hamil 65 68,4
Paritas
Primipara 77 81,1
Multipara 18 18,9
Interval waktu
Hingga 1 tahun 48 50,5
Lebih dari 1 tahun 47 49,5
Keluaran neonates
Ruangan pasca-salin 38 40
ICU 50 52,6
Kematian post-partum 7 7,4
Etnis
Caucasia 95 100
Tingkat pendidikan
Compulsory 41 43,1
Post-compulsory 32 33,7
Universitas 22 23,1
Hubungan
Dengan pasangan 90 94,7
Tanpa pasangan 3 3,2
Lain-lain 2 2.1
a
Waktu interval dari indeks kehamilan hingga waktu survei

b
ICU : intensive care unit

Hasil Utama

Kualitas mental kehidupan seluruh populasi penelitian (p <0,01) dan subkelompok preeklampsia
berat (p <0,01) secara signifikan lebih buruk dibandingkan dengan sampel normal. Gambar 1
menunjukkan rata-rata semua pasien serta subkelompok preeklampsia dan sampel normal untuk
katergori mental subscale kuesioner SF-12 dengan confidence interval 95%. Perbandingan
univariat kualitas mental wanita antara ketiga subkelompok preeklampsia menunjukkan perbedaan
yang signifikan secara statistik (p = 0,02, η2 = 0,09). Perbedaan yang paling signifikan adalah
subkelompok preeklampsia berat (perbandingan Bonferronic-adjusted post hoc: p = 0,03). Data
statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antar kelompok dalam skor untuk
kesejahteraan fisik (p = 0,11, η2 = 0,05). Nilai rata-rata dan standar deviasi pada kuesioner SF-12
berdasarkan tipe preeklampsia ditunjukkan pada Tabel 3.
Gambar 1. Perbandingan skor mental SF-12 pada setiap kelompok studi dengan sampel normal.
P value menunjukkan signifikansi pada t-test untuk perbandingan kelompok studi dengan sampel
normal. Error bars menunjukkan rata-rata confidence interval sebesar 95%. a n.s = tidak signifikan
b
PE = preeklampsia

Tabel 3. Rata-rata (M) dan standar deviasi (SD) nilai SF-12 pada kelompok preeklampsia

Skor fisik SF-12 Skor mental SF-12


M SD M SD
Penyakit Hipertensi
Ringan 44,33 7,91 53,34* 8,83
Berat 49,20 767 44,76* 11,86
Superimposed 48,16 9,34 50,95 8,04
*Hasil perbedaan yang signifikan secara statistik 0,05 (Perbandingan post hoc yang di sesuaikan
dengan Bonferroni)

Tabel 4. Faktor yang berpengaruh pada keluaran kualitas fisik dan mental

Skor fisik SF-12 Skor mental SF-12


p η2 p η2
Hipertensi 0,15 0,04 0,01* 0,10
Kehamilan 0,03* 0,06 0,43 0,01
Paritas 0,96 0,00 0,04* 0,05
Interval waktu 0,43 0,01 0,54 0,01
Cara persalinan 0,31 0,03 0,91 0,00
Keluaran neonatus 0,59 0,01 0,27 0,03
Usia 0,53 0,01 0,64 0,00
*p<0,05 mengindikasikan efek yang signifikan (Bonferroni-adjusted post hoc comparison)

η2= ukuran efek, menunjukkan kekuatan penelitian

Evaluasi multivariat dari dampak karakteristik medis tambahan dan jenis preeklampsia
menunjukkan bahwa jenis preeklampsia (p = 0,01, η2 = 0,10) dan paritas (p = 0,04, η2 = 0,05)
merupakan prediktor kesejahteraan mental yang signifikan secara statistik. Hasil menunjukkan
bahwa skala mental wanita multipara memiliki skor yang lebih buruk dibanding primipara.

Menurut efeknya, jenis preeklampsia memiliki dampak yang lebih penting pada
kesejahteraan mental dibandingkan paritas. Hasil lainnya menunjukkan bahwa wanita hamil
memiliki skor tingkat fisik yang lebih buruk daripada wanita yang tidak hamil (p = 0,03, η2 = 0,06).
Sedangkan parameter medis lainnya tidak memiliki dampak yang signifikan secara statistik pada
skor kualitas hidup. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4 yang menggambarkan ukuran
signifikansi dan efek, yaitu ukuran efek untuk prediktor-prediktor yang tidak signifikan ini sangat
kecil dan mendekati nol, baik pada mental maupun fisik.

Kesimpulan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas hidup yang terkait dengan kesehatan
(HR-QoL) pada pasien dengan riwayat preeklampsia. Seluruh kelompok studi dan subkelompok
wanita yang menderita preeklampsia berat menunjukkan distress yang serius pada kualitas mental
dibandingkan dengan populasi normal. Pasien dengan preeklampsia berat menunjukkan kualitas
mental yang lebih buruk dibandingkan pasien preeklampsia ringan, hasil ini sesuai dengan
penelitian Hoedjes et al. Maka disimpulkan bahwa tingkat keparahan penyakit memiliki dampak
besar pada penilaian kualitas mental. Penelitian kohort pada populasi ataupun pada subkelompok
pembanding lainnya tidak ada yang menunjukkan hasil yang berbeda pada hasil skor fisik, hal ini
menunjukkan bahwa keluhan fisik lebih berkurang dan gangguan akibat tekanan mental tetap ada
bahkan bertahun-tahun setelah keadaan yang mengancam nyawa.
Namun preeklampsia tidak menyebabkan dampak pada kualitas hidup pasien jika
dibandingkan dengan nilai standar, baik dalam skala fisik maupun mental. Pasien-pasien dengan
penyakit kronis yang sudah ada sebelumnya menganggap diri mereka sakit dan mengalami
komplikasi kehamilan, dengan demikian, persepsi mereka tentang HR-QoL mereka tidak
terpengaruh.

Pembagian preeklampsia menjadi subkelompok menyebabkan subkelompok preeklampsia


ringan dan superimposed preeklampsia memiliki jumlah yang kecil , tetapi mungkin ada beberapa
penjelasan untuk hal ini. Pasien dengan preeklampsia berat akan dirujuk ke rumah sakit ini sebagai
pusat perawatan tersier. Sedangkan pasien preeklampsia ringan dapat ditangani oleh dokter
kandungan di pusat pelayanan primer (mungkin sudah melahirkan sebelum timbulnya tanda-tanda
preeklampsia berat), sehingga pasien-pasien ini tidak ditemukan pada pasien rawat jalan ini. Selain
itu, kami mengklasifikasikan preeklampsia secara ketat sesuai dengan pedoman (dari ACOG dan
ISSHP). Bahkan jika hanya satu dari kriteria tambahan terpenuhi, maka akan didefinisikan sebagai
preeklampsia berat dan dan terjadi pada sebagian besar kelompok studi. Lalu yang terakhir, karena
hipertensi kronis tidak umum terjadi pada wanita usia subur sehingga studi kohort pada pasien
superimposed preeklampsia menunjukkan jumlah peserta paling sedikit.

Melalui data yang mengontrol parameter medis, hasil mengkonfirmasi bahwa tingkat
keparahan penyakit merupakan faktor utama dalam penilaian HR-QoL. Pengukuran yang
signifikan secara statistik adalah kesejahteraan fisik pada ibu hamil, yang menunjukkan nilai lebih
buruk daripada kelompok tidak hamil. Peneliti berasumsi dan berdasarkan penelitian lain, bahwa
kehamilan itu sendiri dapat dianggap sebagai beban fisik. Selain itu, wanita multipara
menunjukkan skor mental yang lebih buruk daripada wanita nulipara. Temuan ini menunjukkan
bahwa wanita yang merawat beberapa anak mengalami penurunan fungsi dalam cara yang lebih
mengancam daripada mereka yang hanya memiliki satu anak.

Terdapat literatur yang bertentangan menjelaskan mengenai dampak cara persalinan


sebagai nilai penentu lainnya. Hal ini mungkin berdampak pada keluaran mental jangka pendek,
seperti yang dilaporkan oleh penulis lain, namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cara
persalinan tidak memiliki efek independen, baik pada fisik maupun pada kualitas mental. Hal ini
menunjukkan bahwa kesejahteraan mental jangka panjang tidak dipengaruhi oleh cara persalinan.
Namun tanpa diduga dan berbeda dengan penelitian lain, kelluaran bayi baru lahir tidak
menunjukkan sebagai parameter penentu. Sebagian besar wanita dalam populasi penelitian ini
menderita preeklampsia berat, yang sering disertai dengan kelahiran prematur dan / atau growth
restriction fetus dan sering mengharuskan dokter merujuk bayi baru lahir ke unit perawatan
intensif. Namun mayoritas bayi tampaknya memiliki hasil jangka panjang yang baik sehingga
dampak pada mental ibu dapat diabaikan. Selanjutnya, HR-QoL yang dinilai sendiri (self-assessed)
tidak tergantung pada usia ibu.

Peneliti juga menyimpulkan bahwa wanita yang merawat beberapa anak tidak memiliki
cukup waktu untuk menjawab kuesioner setelah pemeriksaan klinis di departemen rawat jalan atau
di rumah setelah mereka menerima kuesioner melalui pos sehingga hasil ini kurang
mempresentasikan partisipasi dalam studi kohort.

Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa wanita dengan riwayat preeklampsia


mengalami gangguan mental yang serius, bahkan lebih parah pada preeklampsia berat, yang
menunjukkan bahwa hal ini harus dianggap sebagai peristiwa kehidupan yang serius tidak hanya
mengenai morbiditas fisik dan mortalitas.

Pertimbangan metodologis

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Hal yang dapat diperdebatkan yaitu interval waktu
rata-rata 2 tahun antara indeks-kehamilan dan waktu survei adalah interval yang terlalu panjang
untuk mengingat suatu peristiwa yang terjadi secara tepat, dan karenanya mungkin telah
mempengaruhi hasilnya. Namun, kami tidak menganggap interval ini terlalu lama karena
kehamilan adalah waktu yang special dalam kehidupan wanita mana pun dan mengingat kembali
yang berhubungan dengan kehamilan pada bahkan dalam 30 tahun atau lebih setelah melahirkan
terbukti dapat dilakukan dan cukup akurat. Selain itu, peneliti tidak memiliki pengetahuan tentang
HR-QoL wanita sebelum kehamilan karena evaluasi HR-QoL wanita pada periode reproduksi
bukan bagian dari perawatan rutin dalam sistem perawatan kesehatan. Dan lagi, sampel penelitian
dari wanita preeklampsia mungkin tidak mewakili secara umum karena rumah sakit peneliti adalah
pusat pelayanan tersier dan tempat rujukan pasien preeklampsia berat. Selain itu, pasien dengan
buta huruf dalam bahasa Jerman dikeluarkan dari penelitian meskipun pasien ini adalah sebagian
besar pasien di departemen rawat jalan penelitian.
Kekuatan penelitian ini adalah hasil yang sangat signifikan dan konsisten dalam kuesioner
mental SF-12. Hipotesis peneliti tentang HR-QoL pada wanita dengan riwayat preeklampsia
tergantung pada tingkat keparahan dan kejadian penyakit dianalisis secara tepat. Selain itu, hanya
ada sedikit data yang berfokus pada HR-QoL pada wanita dengan preeklampsia terutama
mengenai tingkat keparahan dan jenis penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi.

Implikasi klinis

Hasil penelitian ini memiliki implikasi yang berguna untuk praktik klinis. Dokter kebidanan adalah
dokter primer yang memberikan konseling awal kepada wanita dengan preeklampsia dan harus
mempertimbangkan rasa takut pasien akan penyakit yang berulang pada usia kehamilan lanjut dan
risiko gangguan kardiovaskular kronis di kemudian hari. Patofisiologi penyakit ini kurang jelas
dan ibu hamil yang menderita penyakit ini memiliki beberapa pilihan untuk mencegah dan
memanage diri dan mungkin lebih pesimis mengenai kesehatannya, faktor-faktor yang mungkin
juga mempengaruhi adalah keluarga berencana. Mengetahui keprihatinan dan kesadaran akan
kebutuhan informasi yang memadai tentang penyakit dapat mengurangi tekanan psikologis yang
berkepanjangan selama kehamilan dan meningkatkan kepatuhan pengobatan. Tujuan dari
dukungan psikologis yang komprehensif adalah untuk meningkatkan coping pada wanita dengan
preeklampsia berat. Ketahanan muncul sebagai faktor utama yang berpengaruh, seperti yang
ditunjukkan oleh data terbaru. Hubungan saling percaya antara pasien dan tim mentoring serta
perhatian yang cukup, bimbingan dan rencana perawatan yang dikomunikasikan dengan baik
adalah bagian dari perawatan profesional dan komprehensif, yang bertujuan untuk mencegah
konsekuensi negatif pada HR-QoL wanita. Pelatihan pendidikan untuk self-monitoring
memotivasi wanita yang berisiko dan memampukan wanita ini mendapatkan kepercayaan diri dan
kontrol atas penyakit mereka. Tim khusus dan antar-disiplin yang menyediakan manajemen yang
luas mungkin memiliki dampak positif pada hasil ibu dan neonatus dan akhirnya menghasilkan
efek yang menguntungkan pada kualitas hidup seluruh keluarga.

Studi kami memberikan temuan penting mengenai dampak preeklampsia berat pada
kesehatan mental wanita. Hal ini harus dianggap sebagai kondisi yang mengancam jiwa ibu dan
anak, tidak hanya mengenai morbiditas fisik, tetapi juga sebagai dampak utama pada kualitas
mental bahkan bertahun-tahun kemudian.

Ucapan Terima Kasih


Peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada Fedor Daghofer, PhD, untuk analisis statistik dan
Andrew Peaston, B.Sc., untuk pengeditan bahasa.