Anda di halaman 1dari 3

Angina Pektoris

No. Dokumen : SOP


No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/2

YULIA KARTIKA
Puskesmas Tragah
NIP 19800315 200903 2 002

1. Pengertian Angina pektoris merupakan suatu sindrom klinis berupa serangan nyeri dada yang
khas, yaitu seperti rasa ditekan atau terasa berat di dada yang sering menjalar ke
lengan kiri.
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penatalaksanaan Tinea Unguinum di Puskesmas Tragah.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Tragah Tentang
4. Refrensi Permenkes no. 5 tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinik bagi Dokter di
Fasyankes Primer.
5. Alat dan Bahan 1. Alat Tulis
2. Buku Regsiter
3. Rekam Medis
6. Prosedur / 1. Anamnesa keluhan pasien
Langkah-langkah 2. Mencatat hasil anamnesa di kartu status pasien
3. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tanda-tanda vital meliputi: tekanan
darah, nadi , pernafasan. Pemeriksaan kepala/leher, dada, perut , dan
ekstrimitas.
4. Pemeriksaan khusus:
ECG
5. Pemberian terapi :
a. Modifikasi gaya hidup:
a. mengontrol emosi dan mengurangi kerja yang berat dimana
membutuhkan banyak oksigen dalam aktivitasnya
b. mengurangi konsumsi makanan berlemak
c. menghentikan konsumsi rokok dan alkohol
d. menjaga berat badan ideal
e. mengatur pola makan
f. melakukan olah raga ringan secara teratur
g. jika memiliki riwayat diabetes tetap melakukan pengobatan diabetes
secara teratur
h. melakukan kontrol terhadap kadar serum lipid.
i. Mengontrol tekanan darah.

Terapi farmakologi:
a. Nitrat dikombinasikan dengan β-blocker atau Calcium Channel Blocker
(CCB) non dihidropiridin yang tidak meningkatkan heart rate (misalnya
diltiazem). Pemberian dosis pada serangan akut :
1. Nitrat 10 mg sublingual dapat dilanjutkan dengan 10 mg peroral
sampai mendapat pelayanan rawat lanjutan di Pelayanan sekunder.
2. Beta bloker:
• Bisoprolol 2,5-5 mg per 24 jam.
3. Calcium Channel Blocker (CCB)
Dipakai bila Beta Blocker merupakan kontraindikasi.
• Diltiazem 30 mg ( 3-4 kali sehari)
b. Antipletelet:
Aspirin 160-320 mg sekali minum pada akut.
c. Oksigen dimulai 2l/menit

1/3
6. Konseling dan Edukasi
a. Mengontrol emosi, mengurangi kerja yang berat dimana membutuhkan
banyak oksigen dalam aktivitasnya.
b. Melakukan pola hidup sehat seperti mengurangi konsumsi makanan
berlemak, menghentikan konsumsi rokok dan alkohol, menjaga berat
badan ideal, mengatur pola makan, melakukan olah raga ringan secara
teratur.
7. Kriteria rujukan
Dilakukan rujukan ke layanan sekunder (spesialis jantung/spesialis penyakit
dalam) untuk tatalaksana lebih lanjut

7. Diagram Alir
Mula
i
Anamnesa pemeriksaan fisik
Kartu status

Pemeriksaan ECG

Penegakan diagnosis: Angina Pectoris

Terapi farmakologi:

a. Nitrat dikombinasikan dengan β-blocker atau Calcium Channel


Blocker (CCB) yang tidak meningkatkan heart rate (misalnya
diltiazem). Pemberian dosis pada serangan akut :

1. Nitrat 10 mg sublingual dapat dilanjutkan dengan 10 mg peroral


sampai mendapat pelayanan rawat lanjutan di Pelayanan
sekunder.

2. Beta bloker:

• Bisoprolol 2,5-5 mg per 24 jam.

3. Calcium Channel Blocker (CCB)

Dipakai bila Beta Blocker merupakan kontraindikasi.


tidak
• Diltiazem 30 mg ( 3-4 kali sehari)
Membai Rujuk RS
b. Antipletelet: k
Ya
Aspirin 160-320 mg sekali minum pada akut. Form informed
KIE consent
c. Oksigen dimulai 2l/menit

Resep Apotek Lembar observasi


pasien rujukan

Form Rujukan
selesai

8. Unit Terkait 1. UGD


2/3
2. Poli Umum
3. KIA/Kb/Imunisasi

9. Rekaman No Yang dirubah Isi perubahan Tanggal mulai diberlakukan


Historis

3/3