Anda di halaman 1dari 12

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………… 1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG …………………………………………………… 2


1.2. TUJUAN PRAKTIKUM …………………………………………………… 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………… 3

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1. TEMPAT WAKTU …………………………………………………… 5

3.2. ALAT DAN BAHAN …………………………………………………… 5

3.3. CARA KERJA …………………………………………………………… 6

3.4. PRINSIP KERJA …………………………………………………………… 6

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL …………………………………………………………………… 7

4.2 PEMBAHASAN …………………………………………………………… 9

BAB IV PENUTUP

5.1. KESIMPULAN …………………………………………………………… 11

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………… 12

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Metode titrasi iodometri langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan
suatularutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (iodometri) adalah
berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia (Bassett, 1994).
Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium
thiosulfat. Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan
tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus
distandarisasidengan standar primer. Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk
waktu yang lama (Day & Underwood, 1981).

1.2.TUJUAN

1. Menentukan konsentrasi larutan Na2S2O3.


2. Menentukan konsentrasi Cu dalam larutan natrium thiosianat dengan titrasi redoks.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Metode titrasi iodometri langsung (kadang-kadang dinamakan iodimetri) mengacu kepada


titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (kadang-
kadang dinamakan iodometri) adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan
dalam reaksi kimia. Potensial reduksi normal dari sistem revelsibel:

I2(s) + 2e  2I-

Adalah 0,5345 volt. Persamaan diatas mengacu kepada suatu larutan air yang jenuh dengan
adanya iod padat : reaksi sel setengah uni akan terjadi, misalnya menjelang akhir titrasi
iodide dengan suatu zat pengoksida seperti kalium permanganat ketika konsentrasi ion
iodide menjadi relatif rendah. Dekat permulaan, atau dalam kebanyakkan titrasi iodometri,
bila ion iodide terdapat dengan berlebih terbentuk ion tri-iodida:

I2 (aq) + I-  I3-

Karena ion mudah larut dalam larutan iodida, reaksi sel setengah itu ditulis sebagai:
I3 + 2e  3I-

Dan potensial reduksi standarnya adalah 0,5355 volt. Maka, iod atau ion tri-iodida
merupakan zat pengoksida yang jauh lebih lemah ketimbang kalium permanganate, kalium
dokromat, dan serum (IV) sulfat (Bassett, J. dkk., 1994). Dalam kebanyakan titrasi
langsung dengan iod (iodometri) digunakan suatu larutan iod dalam kalium iodide dan
karena itu spsesi reaksinya adalah ion tri-iodida, I3-. Untuk tepatnya semua persamaan yang
melibatkan reaksi iod seharusnya ditulis dengan I3, misalnya:

I3- + 2S2O32 3I- + S4O62-

Lebih akurat daripada:

3
I2 + 2S2O32-  2I- + S4O62-

(Bassett, J. dkk., 1994).

Penggunaan indikator amylum pada titrasi iodometri untuk memperjelas perubahan warna
larutan yang terjadi pada saat titik akhir titrasi. Sensitivitas warnanya tergantung pada
pelarut yang digunakan. Kompleks iodium-amilum memiliki kelarutan yang kecil dalam
air, sehingga umumnya ditambahkan pada titik akhir titrasi. (Rivai,1995)

Warna larutan 0,1N sodium adalah cukup kuat sehingga sodium dapat bekerja sebagai
indikatornya sendiri. Iodumnya juga memberi warna ungu atau lembayung yang kuat
kepada pelarut-pelarut sebagai karbon tetra klorida atau kloroform dan kadang-kadang hal
ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Akan tetapi lebih umum digunakan suatu
larutan (dispersi koloidal) kanji.

Karena warna biru tua dari kompleks kanji – iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka
terhadap iodium. Kepekaan lebih besar dengan adanya ion iodida (Underwood, 1986).

4
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1. TEMPAT DAN WAKTU

Praktikum :8

Topik : Iodometri

Hari / Tanggal : Selasa, 17 November 2015

Tempat : Laboratorium Kimia Jurusan Gizi Poltekkes Banjarmasin

Waktu : 10.00 – 12.00 Wita

3.2. ALAT DAN BAHAN

a) ALAT

1. Klem dan Statif


2. Buret
3. Labu Erlenmayer
4. Corong
5. Pipet Volume
6. Pipet Volume
7. Karet Penghisap
8. Beaker glass

b) BAHAN

1. 5 ml larutan Na2S2O3

5
2. 1 ml larutan H2SO4
3. 1 ml Amylum 1%
4. 5 ml larutan CuSO4

3.3. CARA KERJA

1) Standarisasi larutan Na2S2O3 dengan larutan KIO3 0,1001 N

 Mempipet 5 ml larutan KIO3, kemudian di masukkan dalam erlenmayer


 Menambahkan 1 ml larutan H2SO4
 Mentitrasi larutan Na2S2O3 sampai warna kuning muda
 Menambahkan 1 ml larutan amylum 1%
 Dititrasikan lagi dengan larutan sampai warna biru tepat hilang

2) Penetapan kadar CuSO4

 Mempipet 5 ml larutan sampel, kemudian dimasukkan dalam erlenmayer


 Menambahkan 5 ml larutan KI 10%
 Menambahkan 1,5 ml larutan H2SO4 2N
 Dititrasikan dengan larutan Na2S2O3 , sampai warna kuning muda
 Ditambahkan 1 ml larutan amylum 1%
 Dititrasikan lagi dengan larutan sampai warna biru tepat hilang

3.4. PRINSIP
Titrasi iodometri (redoksimetri) termasuk dalam titrasi dengan cara tidak langsung,
dalam hal ini ion iodide sebagai pereduksi diubah menjadi iodium yang nantinya
dititrasi dengan larutan baku Na2S2O3. Cara ini digunakan untuk penentuan oksidator
H2O2. Pada oksidator ditambahkan larutan KI dan asam sehingga akan terbentuk
iodium yang akan dititrasi dengan Na2S2O3. Sebagai indikator, digunakan larutan kanji.
Titik akhir titrasi pada iodometri apabila warna biru telah hilang.

6
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. HASIL

Data dan Perhitungan :

Standarisasi I = 4,5 ml – 5,5 ml = 1 ml

Standarisasi II = 6,2 ml

𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝐼+𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝐼𝐼 1 𝑚𝑙+6,2 𝑚𝑙


= = = 3,6 𝑚𝑙
2 2

 N sebenarnya baku primer KIO3


Diketahui :
Volume = 500 ml = 0,5 L
BE = 35,67
Gram = 1,7866

𝑔𝑟𝑎𝑚
N KIO3 sebenarnya = 𝐵𝐸 𝑥 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
1,7866
= 35,67 𝑥 0,5 𝐿
1,7866
= 17,835

= 0,1001 N
 N sekunder Na2S2O4
Diketahui:
N1 = N Na2S2O4 = …?
V1 = V Na2S2O4 = 3,6 ml
N2 = N KIO3 = 0,1001 N
V2 = V KIO3 = 5 ml

7
Sekunder = Primer
N1 x V1 = N2 x V2
N1 x 3,6 = 0,1001 x 5
0,1001 𝑋 5
N1 = 3,6

= 0,1390 N
 Kadar CuSO4
Diketahui:
Volume = 5 ml
BM Cu = 63,55
V. Baku Sekunder = 6,6

𝑉. 𝐵𝑎𝑘𝑢 𝑆𝑒𝑘𝑢𝑛𝑑𝑒𝑟 𝑥 𝑁 𝐵𝑎𝑘𝑢 𝑆𝑒𝑘𝑢𝑛𝑑𝑒𝑟 𝑥 𝐵𝑀 𝐶𝑢


% Cu = × 100%
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
6,6 𝑥 0,1390 63,55
= × 100%
5 𝑥 1000
5.830,077
= 5000

= 1,1660 %

4.2. PEMBAHASAN

Iodometri adalah analisa titrimetri yang secara tidak langsung untuk zat yang bersifat
oksidator seperti, besi III, tembaga II, zat-zat ini akan mengoksidasi iodida yang
ditambahkan membentuk iodium. Iodium yang terbentuk ditentukan dengan
menggunakan larutan baku natrium thiosulfat. Cara iodometri dapat digunakan untuk
menentukan kadar iodium dalam garam. Pada oksidator/ garam ini ditambahkan
larutan KI dan H2SO4 sebagai asam sehingga akan terbentuk iodium yang kemudian
dititrasikan Na2S2O3 dan dapat ditentukan kadarnya.

8
Hasil normalitas yang didapatkan sebesar 0,1001 N dari 1,7866 gram KIO3 yang
ditimbang dan hasil titrasi didapatkan rerata volume 3,6 ml sampai warna biru tepat
hilang. Dan kadar Cu sebesar 1,1660% dari hasil titrasi volume 6,6 ml.

Natrium tiosulfat dapat dengan mudah diperoleh dalam keadaan kemurnian yang
tinggi, namun selalu ada saja sedikit ketidakpastian dari kandungan air yang tepat,
karena sifat flouresen atau melapuk-lekang dari garam itu dan karena alasan-alasan
lainnya. Karena itu, zat ini tidak memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai larutan baku
standar primer. (Khopkar,1990)

Namun, sebelumnya larutan Na2S2O3 ini harus dibakukan atau distandarisasi terlebih
dahulu. Pembakuan larutan natrium thiosulfat dapat dilakukan dengan menggunakan
kalium iodat, kalium kromat, tembaga dan iod sebagai larutan standar primer atau
dengan kalium permanganat. Namun pada percobaan ini senyawa yang digunakan
dalam proses pembakuan natrium thiosulfat adalah kalium iodat standar.

Larutan thiosulfat sebelum digunakan sebagai larutan standar dalam proses iodimetri
ini harus distandarisasikan terlebih dahulu oleh kalium iodat yang merupakan standar
primer. Dan setelah ditambahkan dengan kalium iodida larutan berubah menjadi
kuning kecoklatan. Larutan kalium iodat ini kemudian ditambahkan dengan asam
sulfat pekat sampai warna larutan menjadi bening.

Fungsi penambahan asam sulfat pekat dalam larutan tersebut adalah memberikan
suasana asam sebab larutan yang terdiri dari kalium iodat dan kalium iodida berada
dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah. Reaksinya sebagai berikut:

IO3- + 5I + 6H+  3I2 + 3H2O

Untuk senyawa yang memiliki potensial reduksi yang rendah dapat direaksikan secara
sempurna dalam suasana asam. Indikator yang digunakan dalam metode ini adalah
indikator kanji (amilum) yang dapat membentuk senyawa absorbsi dengan iodium

9
yang dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat. Indikator yang digunakan dalam titrasi
ini adalah amylum. Amylum tidak mudah larut dalam air serta tidak stabil dalam
suspensi dengan air, membentuk kompleks yang sukar larut dalam air bila bereaksi
dengan iodium, sehingga tidak boleh ditambahkan pada awal titrasi. Penambahan
amylum ditambahkan pada saat larutan berwarna kuning pucat dan dapat menimbulkan
titik akhir titrasi yang tiba-tiba. Penambahan amilum yang dilakukan saat mendekati
titik akhir titrasi dimaksudkan agar amilum tidak membungkus iod karena akan
menyebabkan amilum sukar dititrasi untuk kembali kesenyawa semula.

Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan sifat I2 yang mudah
menguap. Pada titik akhir titrasi iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran
sehingga warna biru mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas. Titik akhir titrasi
iodometri ialah apabila warna biru telah hilang.

Kelebihan :

1. Penitranan berlangsung lebih cepat karena titrat dan titran langsung bereaksi.
2. Penambahan kanji diawal titrasi.
3. Warna titik akhir lebih mudah teramati dari biru menjadi tidak berwarna.

Kekurangan :

1. Penitrannya mudah terurai oleh cahaya sehingga preparasi contoh harus dilakukan
terlebih dahulu.
2. Pada saat titrasi dikhawatirkan kehilangan ion iod.
3. Dalam keadaan asam, larutan iod dapat dioksidasi oleh udara.

10
BAB V
PENUTUP
5.1. KESIMPULAN
Iodometri adalah analisa titrimetri yang secara tidak langsung untuk zat yang bersifat
oksidator seperti, besi III, tembaga II, zat-zat ini akan mengoksidasi iodida yang
ditambahkan membentuk iodium. Melalui titrasi iodometri yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa normalitas KIO3 sebesar 0,1001 N dan kadar Cu 0,4932%.

11
DAFTAR PUSTAKA

Basset. J etc. 1994. Buku Ajar Vogel, Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.
Penerbit Buku Kedokteran EG:. Jakarta

Underwood, A.L, day, RA. 1993. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi V. Erlangga:
Surabaya

Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia Press.


Jakarta
Rivai, Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Penerbit UI. Jakarta.

12