Anda di halaman 1dari 73

I.

Sistem Tenaga Listrik


Sistem tenaga listrik adalah suatu sistem yang menjelaskan suatu proses listrik
dari pembangkitan hingga menuju beban yang saling berhubungan untuk melayani
kebutuhan tenaga listrik bagi pelanggan sesuai kebutuhan. Sehingga didalam sistem
tenaga listrik terdiri dari 3 komponen utama yaitu Pembangkit, Transmisi dan
Distribusi & beban. Skema dari sistem tenaga listrik dapat ditunjukkan pada Gambar
1. (Nugroho,2017)

Gambar 1. Skema Sistem Tenaga Listrik (Nugroho,2017)

Pada Gambar 1 merupakan contoh skema karena jika ditinjau dari level tegangan pada
sisi transmisi tidak harus 150 kV, bisa 70 kV, 275 kV hingga 500 kV untuk di
Indonesia. Pada Gambar 1 dapat dijelaskan bahwa sistem tenaga listrik diawali dengan
pembangkitan, transmisi, distribusi hingga menuju beban. Fungi dari 3 hal tersebut
sebagai berikut.

1. Pembangkit
Pembangkit merupakan suatu proses konversi energi lain menjadi energi listrik.
Pada dasarnya listrik dibangkitkan oleh Generator yang digerakkan oleh beberapa jenis
energi penggerak salah satunya adalah air, batu bara, panas bumi, angin dan lain
sebagainya.
Gambar 2 Pusat Pembangkit Tenaga Listrik (Helena,2014)

Pada sistem pembangkitan, level tegangan disesuaikan dengan spesifikasi generator


pembangkit yang digunakan, biasanya berkisar antara 11 s/d 24 kV. Untuk pembangkit
yang berkapasitas lebih besar biasanya menggunakan level tegangan yang lebih tinggi.
Tenaga listrik yang dihasilkan di pembangkit, tegangannya akan dinaikkan oleh trafo
step-up untuk dikirimkan ke sistem interkoneksi transmisi. (Nugroho,2017)

2. Transmisi
Transmisi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik yang berupa sejumlah
konduktor yang dipasang membentang sepanjang jarak antara pusat pembangkit
sampai pusat beban. Seacara ringkas fungsi dari transmisi adalah menyalurkan tenaga
listrik. Pada transmisi diperlukan efisiensi yang tinggi agar daya yang disalurkan tidak
banyak hilang maka dipilih level tegangan yang lebih tinggi untuk disalurkan
dikarenakan untuk mengurangi rugi-rugi daya dan turun tegangan kecil pada saat
penyaluran. Pada umunya, level tegangan pada transmisi ≥ 70 kV. (Nugroho,2017)
Gambar 3 Saluran Transmisi Tenaga Listrik (Redfield,2004)

3. Distribusi
Setelah proses penyaluran, maka tegangan kembali diturunkan di Gardu Induk
sesuai kebutuhan untuk didistribusikan ke beban. Sehingga jaringan distribusi dalam
operasinya tidak bisa dipisahkan dari GI sisi distribusi yang berada di ujung transmisi
yang berfungsi mengatur level tegangan transmisi sesuai dengan level tegangan
distribusi untuk disalurkan ke beban. Beban adalah peralatan listrik di lokasi konsumen
yang memanfaatkan energi listrik dari sistem tersebut.

Gambar 4 Skema Distribusi (Philips,2011)

Beban dari konsumen terbagi atas beberapa klasifikasi tegangan mulai


konsumen tegangan rendah (KTR), konsumen tegangan menengah (KTM) dan
konsumen tegangan tinggi (KTT). Proses dimulai dari tegangan keluaran dari GI sisi
distribusi sebesar 20 kV yang kemudian menuju beban konsumen 20 kV atau
diturunkan oleh trafo pada tiang distribusi untuk konsumen 380V/220V. Namun untuk
KTT, tegangan dari transmisi langsung disalurkan melalui bay penghantar pada Gardu
Induk apabila tegangan sudah sesuai dengan beban KTT. (Nugroho,2017)

II. Bagian Sistem Tenaga Listrik


Sistem Tenaga Listrik secara umum terdiri dari beberapa bagian meliputi;
1. Pusat Pembangkit Listrik (Power Plant).
Pusat Pembangkit Listrik adalah tempat energi listrik pertama kali
dibangkitkan, dimana terdapat turbin sebagai penggerak mula (Prime Mover) dan
generator yang membangkitkan listrik. Peralatan utama pada gardu induk antara lain:
transformer, yang berfungsi untuk menaikan tegangan generator (11,5 kV) menjadi
tegangan transmisi /tegangan tinggi (150kV) dan juga peralatan pengaman dan
pengatur. Jenis pusat pembangkit yang umum antara lain PLTA (pembangkit Listrik
Tenaga Air), PLTU (Pusat Listrik Tenaga Uap), PLTG (Pusat Listrik Tenaga Gas),
PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir). (Hilmangkey,2012)

Gambar 5 Pusat Pembangkit Listrik (Hilmangkey, 2012)

2. Transmisi Tenaga Listrik.

Transmisi Tenaga Listrik Merupakan proses penyaluran tenaga listrik dari


tempat pembangkit tenaga listrik (Power Plant) hingga Saluran distribusi listrik
(substation distribution) sehingga dapat disalurkan sampai pada konsumen pengguna
listrik. (Hijriansyah,2012)
Gambar 6 Transmisi Tegangan Listrik (Redfield,2004)

3. Beban.

Beban merupakan pungguna atau konsumen listrik.

Gambar 7 Konsumer Listrik (Nugroho,2014)

a. Pengertian Transmisi Tenaga Listrik.

Dalam kontaks pembahasan ini, yang dimaksud transmisi (penyaluran) adalah


Penyaluran energi listrik sehingga mempunyai listrik, maksud proses dan cara
menyalurkan energi listrik dari satu tempat ke tempat lainnya, misalnya :

- Dari pembangkit listrik ke gardu induk.

- Dari satu gardu induk ke gardu induk lainnya.

- Dari gardu induk ke jaring tegangan menengah dan gardu distribusi.


b. Ketentuan Dasar Sistem Tenaga Listrik.

1. Menyediakan setiap waktu, tenaga listrik untuk keperluan konsumer.

2. Menjaga kestabilan nilai tegangan, dimana tidak lebih toleransi ±10%.

3. Menjaga kestabilan frekuensi, dimana tidak lebih toleransi ±0 1Hz.

4. Harga yang tidak mahal (Efisien).

5. Standar keamanan (safety).

6. Respek terhadap lingkungan

c. Diagram dasar dari sistem transmisi dan distribusi tenaga listrik.

Gambar 8 Diagram dari Sistem Transmisi dan Distribusi Tenaga Listrik (Hijriansyah,2012)
• Terdiri dari stasiun pembangkit (generating station)
• Transmission substation menyediakan servis untuk merubah dalam
menaikan dan menurunkan tegangan pada saluran tegangan yang
ditransmisikan serta meliputi regulasi tegangan.
• Percabangan hubungan antar substation (interconnecting substation) untuk
pasokan tenaga listrik yang berbeda untuk keperluan pengguna konsumer.
• Distribution Substation, pada bagian ini merubah tegangan aliran listrik dari
tegangan medium menjadi tegangan rendah dengan transformator step-
down, step down, dimana memiliki tap otomatis dan memiliki kemampuan
untuk regulator tegangan rendah.(Hijriansyah,2012)
d. Tegangan Transmisi.
a. Tegangan generator dinaikkan ke tingkat yang dipakai untuk transmisi
yaitu antara 11 kV dan 765 kV.
b. Tegangan extra-tinggi (Extra High Voltage – EHV) : 345 500 dan 765
kV.
c. Tegangan tinggi standar (High Voltage-HV standard) :115kV, 138kV,
dan 230kV
d. Untuk sistem distribusi, tegangan menengah yaitu antara 2,4kV dan
69kV. Umumnya antara 120V dan 69kV dan untuk tegangan rendah
yaitu antara 120V sampai 600V (Fiqi,2019)

Gambar 9 Klasifikasi Tegangan Untuk Power Industri dan Komersial Sistem Nilai Tegangan
(Yendy,2013)
Kategori sistem distribusi listrik dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Sistem Transmisi, dimana saluran tegangan antara 115kV sampai 800kV
2. Sistem Distribusi, dimana rentangan tegangan antara 120V sampai 69kV.
Distribusi listrik ini di bagi lagi menjadi tegangan menengah (2,4kV sampai
69kV) dan tegangan rendah (120V sampai 600V). (Yendy,2013)

III. Saluran Transmisi


Saluran Transmisi merupakan media yang digunakan untuk
mentransmisikan tenaga listrik dari Generator Station/ Pembangkit Listrik sampai
distribution station hingga sampai pada konsumer pengguna listrik. Tenaga listrik di
transmisikan oleh suatu bahan konduktor yang mengalirkan tipe Saluran Transmisi
Listrik Penyaluran tenaga listrik pada transmisi menggunakan arus bolak-balik (AC)
ataupun juga dengan arus searah (DC). Penggunaan arus bolak-balik yaitu dengan
sistem tiga-fasa atau dengan empat-fasa. (Pakpahan,2016)
Saluran Transmisi dengan menggunakan sistem arus bolak-balik tiga fasa
merupakan sistem yang banyak digunakan, mengingat kelebihan sebagai berikut:
Mudah pembangkitannya, Mudah pengubahan tegangannya, Dapat menghasilkan
medan magnet putar. Dengan sistem tiga fasa, daya yang disalurkan lebih besar dan
nilai sesaatnya konstan.
1. Kategori Saluran transmisi
Berdasarkan pemasangannya, saluran transmisi dibagi menjadi dua
kategori, yaitu;
a. Saluran Udara (Overhead Lines)
Saluran Udara (Overhead Lines) merupakan saluran transmisi yang
menyalurkan energi listrik melalui kawat-kawat yang digantung pada isolator antara
menara atau tiang transmisi.
Keuntungan dari saluran transmisi udara antara lain:
a. Mudah dalam perbaikan
b. Mudah dalam perawatan
c. Mudah dalam mengetahui letak gangguan
d. Lebih murah
Kerugian dari saluran transmisi udara antara lain:
a. Kehandalannya sangat berpengaruh terhadap cuaca, mudah terjadi
gangguan dari luar seperti; gangguan hubungan singkat, gangguan tegangan
bila tersambar petir dan gangguan lainnya.
b. Dari segi estetika/keindahan kurang, sehungga saluran transmisi bukan
pilihan yang ideal untuk transmisi di dalam kota. (Guntoro,2009)

Gambar 10 Saluran Udara (Overhead Lines) (Guntoro,2009)

b. Saluran Kabel Bawah Tanah (Underground Cable)

Saluran transmisi yang menyalurkan energi listrik melalui kabel yang


dipendam didalam tanah. Kategori saluran seperti ini adalah favorit untuk pemasangan
didalam kota, karena berada didalam tanah maka tidak mengganggu keindahan kota
dan juga tidak mudah terjadi gangguan akibat kondisi cuaca atau kondisi alam. Namun
tetap memiliki kekurangan, antara lain mahal dalam instalasi dan investasi serta
sulitnya menentukan titik gangguan dan perbaikkannya.
Gambar 11 Saluran Listrik Bawah tanah Gambar 12 Saluran Bawah Laut

c. Saluran Isolasi Gas

Saluran Isolasi Gas (Gas Insulated Line/GIL) adalah Saluran yang diisolasi
dengan gas, misalnya: gas SF6, seperti gambar Karena mahal dan resiko terhadap
lingkungan sangat tinggi maka saluran ini jarang digunakan

Gambar 13 Saluran Listrik Isolasi Gas (Kennedy2013)

2. Klasifikasi Saluran Transmisi Berdasarkan Tegangan

Transmisi tenaga listrik sebenarnya tidak hanya penyaluran energi listrik


dengan menggunakan tegangan tinggi dan melalui saluran udara (overhead line),
namun transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dari satu tempat ke tempat
lainnya, yang besaran tegangannya adalah Tegangan Ultra Tinggi (UHV), Tegangan
Ekstra Tinggi (EHV), Tegangan Tinggi (HV), Tegangan Menengah (MHV), dan
Tegangan Rendah (LV). Sedangkan Transmisi Tegangan Tinggi adalah berfungsi
menyalurkan energi listrik dari satu substation (gardu) induk ke gardu induk lainnya.
Terdiri dari konduktor yang direntangkan antara tiang (tower) melalui isolator, dengan
sistem tegangan tinggi. Standar tegangan tinggi yang berlaku diindonesia adalah 30kV,
70kV dan 150kV.
Ditinjau dari klasifikasi tegangannya, transmisi listrik dibagi menjadi :

1. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 200kV-500kV

Pada umumnya saluran transmisi di Indonesia digunakan pada pembangkit


dengan kapastas 500 kV. Dimana tujuannya adalah agar drop tegangan dari penampang
kawat dapat direduksi secara maksimal, sehingga diperoleh operasional yang efektif
dan efisien. Akan tetapi terdapat permasalahan mendasar dalam pembangunan SUTET
ialah konstruksi tiang (tower) yang besar dan tinggi, memerlukan tanah yang luas,
memerlukan isolator yang banyak, sehingga memerlukan biaya besar. Masalah lain
yang timbul dalam pembangunan SUTET adalah masalah sosial, yang akhirnya
berdampak pada masalah pembiayaan.
2. Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 30kV-150kV

Pada saluran transmisi ini memiliki tegangan operasi antara 30kV sampai
150kV. Konfigurasi jaringan pada umumnya single atau doble sirkuit, dimana 1 sirkuit
terdiri dari 3 phasa dengan 3 atau 4 kawat. Biasanya hanya 3 kawat dan penghantar
netralnya diganti oleh tanah sebagai saluran kembali. Apabila kapasitas daya yang
disalurkan besar, maka penghantar pada masing-masing phasa terdiri dari dua atau
empat kawat (Double atau Qudrapole) dan Berkas konduktor disebut Bundle
Conductor. Jarak terjauh yang paling efektif dari saluran transmisi ini ialah 100km.
Jika jarak transmisi lebih dari 100 km maka tegangan jatuh (drop voltaje) terlalu besar,
sehingga tegangan diujung transmisi menjadi rendah.
3. Saluran Kabel Tegangan Tinggi (SKTT) 30kV-150kV

Saluran transmisi ini menggunakan kabel bawah tanah, dengan alasan beberapa
pertimbangan :
1. Ditengah kota besar tidak memungkinkan dipasang SUTT, karena
sangat sulit mendapatkan tanah untuk tapak tower.
2. Untuk Ruang Bebas juga sangat sulit dan pasti timbul protes dari
masyarakat, karena padat bangunan dan banyak gedung-gedung
tinggi.
3. Pertimbangan keamanan dan estetika.

4. Adanya permintaan dan pertumbuhan beban yang sangat tinggi.

IV Kontruksi Saluran Tiang Penyangga


Saluran transmisi dapat berupa saluran udara dan saluran bawah tanah, namun
pada umumnya berupa saluran udara. Energi listrik yang disalurkan lewat saluran
transmisi udara pada umumnya menggunakan kawat telanjang sehingga mengandalkan
udara sebagai media isolasi antar kawat penghantar. Dan untuk
menyanggah/merentangkan kawat penghantar dengan ketinggian dan jarak yang aman
bagi manusia dan lingkungan sekitarnya, kawat-kawat penghantar tersebut dipasang
pada suatu konstruksi bangunan yang kokoh, yang biasa disebut menara/tower. Antar
menra/tower listrik dan kawat penghantar disekat oleh isolator.
Konstruksi tower besi baja merupakan jenis konstruksi saluran transmisi
tegangan tinggi (SUTT) ataupun saluran transmisi tegangan ekstra tinggi (SUTET
yang paling banyak digunakan di jaringan PLN, karena mudah dirakit terutama untuk
pemasangan didaerah pegunungan dan jauh dari jalan raya, harganya yang relatif lebih
murah dibandingkan dengan penggunaan saluran bawah tanah serta pemeliharaannya
yang mudah. Namun demikian perlu pengawasan yang intensif, karena besi-besinya
rawan terhadap pencurian, dimana pencurian besi-besi baja pada menara/tower listrik
mengakibatkan menara/tower listrik tersebut roboh sehingga penyaluran listrik ke
konsumen pun terganggu.

Suatu menara/ tower listrik harus kuat terhadap beban yang bekerja, antara
lain
1. Gaya berat tower dan kawat penghantar (gaya tekan)

2. Gaya tarik akibat rentangan kawat

3. Gaya angin akibat terpaan angin pada kawat maupun badan tower.

1 Jenis-jenis Menara/Tower Listrik


Menurut konstruksinya, jenis-jenis menara/tower listrik dibagi menjadi 4
macam, yaitu :

a. Lattice tower

Gambar 14 Tiang Saluran Jenis Latice


b. Tubular Steel Pole

Gambar 15 Tiang Saluran Tubular Steel Pole

c. Concrete pole

Gambar 16 Tiang Saluran Tubular Steel Pole


d. Wooden pole

Gambar 17 Tiang Saluran Tubular Steel Pole

Menurut fungsinya, menara/tower listrik dibagi 7 macam, yaitu :

1. Dead end tower, yaitu tiang akhir yang berlokasi didekat gardu induk, tower ini
hampir sepenuhnya menanggung gaya tarik.
2. Section tower, yaitu tiang penyekat antara sejumlah tower penyangga dengan
sejumlah tower penyangga lainnya karena alasan kemudahan saat
pembangunan (penarikan kawat), umumnya mempunyai sudut belokan yang
kecil.
3. Suspension tower, yaitu tower penyangga, tower ini hampir sepenuhnya
menanggung daya berat, umumnya tidak mempunyai sudut belokan
4. Tension tower, yaitu tower penegang, tower ini menanggung gaya tarik yang
lebih besar dari pada gaya bert, umumnya mempunyai sudut belokan.
5. Transposision tower, yaitu tower tension yang digunakan sebagai tempat
melakukan perubahan posisi kawat fasa guna memperbaiki impendansi
transmisi.
6. Gantry tower, yaitu tower berbentuk portal digunakan pada persilangan antara
dua Saluran transmisi. Tiang ini dibangun di bawah Saluran transmisi existing.
7. Combined tower, yaitu tower yang digunakan oleh dua buah saluran transmisi
yang berbeda tegangan operasinya.

Gambar 18 Macam-macam Bentuk Tiang Saluran/Tower

Menurut susunan/konfigurasi kawat fasa, menara/tower listrik dikelompokkan


menjadi :

1. Jenis delta, digunakan pada konfigurasi horizontal / mendatar.

2. Jenis piramida, digunakan pada konfigurasi vertikal / tegak.

3. Jenis Zig-zag, yaitu kawat fasa tidak berada pada satu sisi lengan tower.

2. Komponen - Komponen Menara/Tower Listrik


1. Pondasi, yaitu suatu konstruksi beton bertulang untuk mengikat kaki tower
(stub) dengan bumi.
Gambar 19 Pondasi tower (lattice) SUTET 500 kV Gresik - Krian

Gambar 20 Pondasi steel 500kV dead end Suralaya

2. Stub, bagian paling bawah dari kaki tower, dipasang bersamaan dengan
pemasangan pondasi dan diikat menyatu dengan pondasi.
3. Leg, kaki tower yang terhubung antara stub dengan body tower. Pada tanah
yang tidak rata perlu dilakukan penambahan atau pengurangan tinggi leg,
sedangkan body harus tetap sama tinggi permukaannya.
Gambar 21 Kabel Pentanahan Tower Transmisi

4. Common Body, badan tower bagian bawah yang terhubung antara leg dengan
badan tower bagian atas (super structure). Kebutuhan tinggi tower dapat
dilakukan dengan pengaturan tinggi common body dengan cara penambahan
atau pengurangan.
5. Super structure, badan tower bagian atas yang terhubung dengan common body
dan cross arm kawat fasa maupun kawat petir. Pada tower jenis delta tidak
dikenal istilah super structure namun digantikan dengan “K” frame dan bridge.
6. Cross arm, bagian tower yang berfungsi untuk tempat menggantungkan atau
mengaitkan isolator kawat fasa serta clamp kawat petir. Pada umumnya cross
arm berbentuk segitiga kecuali tower jenis tension yang mempunyai sudut
belokan besar berbentuk segi empat.
7. “K” frame, bagian tower yang terhubung antara common body dengan bridge
maupun cross arm. “K” frame terdiri atas sisi kiri dan kanan yang simetri. “K”
frame tidak dikenal di tower jenis pyramid.
8. Bridge, penghubung antara cross arm kiri dan cross arm tengah. Pada tengah-
tengah bridge terdapat kawat penghantar fasa tengah. Bridge tidak dikenal di
tower jenis pyramida.
9. Rambu tanda bahaya, berfungsi untuk memberi peringatan bahwa instalasi
SUTT/SUTET mempunyai resiko bahaya. Rambu ini bergambar petir dan
tulisan “AWAS BERBAHAYA TEGANGAN TINGGI”. Rambu ini
dipasang di kaki tower lebih kurang 5 meter diatas tanah sebanyak dua buah,
dipasang disisi yang mengahadap tower nomor kecil dan sisi yang menghadap
nomor besar.

Gambar 22 Rambu Tanda Bahaya Tower

10. Rambu identifikasi tower dan penghantar / jalur, berfungsi untuk


memberitahukan identitas tower seperti: Nomor tower, Urutan fasa, Penghantar
/ Jalur dan Nilai tahanan pentanahan kaki tower.

Gambar 23 Rambu identifikasi tower

11. Anti Climbing Device (ACD), berfungsi untuk menghalangi orang yang tidak
berkepentingan untuk naik ke tower. ACD dibuat runcing, berjarak 10 cm
dengan yang lainnya dan dipasang di setiap kaki tower dibawah Rambu tanda
bahaya.

Gambar 24 Anti Climbing Device (ACD)

12. Step bolt, baut panjang yang dipasang dari atas ACD ke sepanjang badan tower
hingga super structure dan arm kawat petir. Berfungsi untuk pijakan petugas
sewaktu naik maupun turun dari tower.

Gambar 25 Step bolt pada Tower

13. Halaman tower, daerah tapak tower yang luasnya diukur dari proyeksi keatas
tanah galian pondasi. Biasanya antara 3 hingga 8 meter di luar stub tergantung
pada jenis tower .
3. Andongan
Andongan Jaringan Andongan (sag) merupakan jarak lenturan dari suatu
bentangan kawat penghantar antara dua tiang penyangga jaringan atau lebih, yang
diperhitungkan berdasarkan garis lurus (horizontal) kedua tiang tersebut. Besarnya
lenturan kawat penghantar tersebut tergantung pada berat dan panjang kawat
penghantar atau panjang gawang (span). Berat kawat akan menimbulkan tegangan terik
pada kawat penghantar, yang akan mempengaruhi besarnya andongan tersebut.

Untuk tiang dengan dukungan end-bearing (tahanan ujung) :


 jarak antar tiang tidak boleh kurang dari 2 kali diameter tiang bundar (spun-
pile) atau 2 kali sisi tiang berbentuk persegi (square pile) atau 1 kali dimensi
terbesar untuk tiang berbentuk lain
 jarak minimal dari tepi pile cap atau tepi elemen struktur yang didukung tidak
boleh kurang dari 1 kali diameter
Untuk tiang dengan dukungan friction (tahanan friksi):
 jarak antar tiang tidak boleh kurang dari keliling penampang tiang pancang
yang digunakan dengan ketentuan minimum jarak = 1 m' jika keliling tiang
kurang dari 1 m' [diambil nilai terbesar antara keliling penampang tiang
pancang atau 1 m']
 jarak dari tepi pile cap atau tepi elemen struktur yang didukung tidak boleh
kurang dari 1/2 keliling penampang tiang pancang dengan ketentuan
minimum jarak = 500 mm (50 cm) -- [diambil nilai terbesar antara setengah
keliling penampang tiang pancang atau 50 cm]
a. Metode Pengukuran & Pengecekan
Andongan Jaringan Pengecekan andongan dari suatu jaringan merupakan
pekerjaan akhir setelah pemasangan kawat penghantar dan peralatannya. Pengecekan
andongan kawat penghantar ini dilakukan agar kekuatan lentur kawat penghantar pada
tiang penyangga jaringan sesuai dengan standar yang diperkenankan. Ada beberapa
metode atau cara untuk mengukur dan mengecek lebar andongan (sag) dari suatu
jaringan, yaitu :
1. Metode Penglihatan (Sigth).
Metode pengelihatan ini dapat dilakakan dengan jalan menaiki tiang akhir
(deadend pole) untuk wilayah jaringan lurus (tangent). Dari tiang akhir kita dapat
melihat bentangan jaringan, dengan berpedoman pada ujung atas tiang satu dengan
yang lain sebagai garis pelurus. Bila bentangan jaringan panjangnya lebih 500 m, kita
dapat melakukannya dengan menggunakan teropong.
2. Metode Papan Bidik
Metode ini menggunkan papan bidik berbentuk T dan papan target bidikan.
Papan bidik berbentuk T disangkutkan pada ujung tiang sesuai dengan ukuran
andongan yang telah ditetapkan sesuai standar. Sedangkan papan target disangkutkan
pada ujung tiang berikutnya, sesuai dengan ukuran andongan yang telah ditetapkan
sesuai standar. Selanjutnya petugas memanjat tiang pertama yang terdapat papan bidik
bentuk T untuk membidik atau mengincar papan target yang ada pada tiang kedua.
Apabila kawat penghantar melebihi target yang dibidik berarti kawat penghantar masih
kendor dan perlu ditarik lagi sehingga tepat pada sasaran (bidikan). Begitu sebaliknya
jika kawat penghantar kurang dari taget bidikan, berarti tarikan kawat penghantar
terlalu kencang dan perlu dikendorkan sehingga tepat pada sasaran (bidikan).

Cara Mengecek Andongan dengan Metode Papan Bidik


Bentuk Papan Bidik Bentuk T

Bentuk Papan Target Bidikan

2. Metode Dynamometer
Metode ini menggunakan alat dynamometer dan tabel andongan Martin.

Pengecekan Andongan dengan Metode Dinamometer

Alat Ukur Dynamometer


Pemasangan Dynamometer pada Tiang Penyangga

Posisi Dynamometer dari Depan

Posisi Dynamometer dari Belakang

3. Metode Panjang Gawang (Span)


Metode ini menggunakan panjang gawang (span) sebagai ukuran andongan.
Sebagai standar ditetapkan andongan maksimum untuk gawang selebar 40 meter lebih
kurang besarnya andongan 30 cm. Pertambahan besar andongan untuk gawang yang
lebih panjang dapat ditentukan dengan menggunakan persamaa sebagai berikut.
Dimana :
S = andongan (sag) jaringan, dalam satuan meter
L = panjang gawang (span) kedua tiang, dalam satuan meter
Berdasarkan rumus diatas maka besarnya andongan untuk setiap lebar gawang,
dapat dilihat pada tabel 10 berikut ini.

5. Metode Gelombang Balik atau Metode Pulsa


Metode ini dikaukan dengan jalan menepuk kawat penghantar dengan tangan,
sehingga akan timbul gelombang dan merambat sepanjang bentangan kawat jaringan.
Gerakan gelombang ini akan berlanjut sampai gelombang teredam sendiri. Waktu yang
dibutuhkan bagi gelombang yang merambat ke tiang lainnya dan kembali lagi
merupakan suatu fungsi lenturan kawat penghantar pada bentangannya. Waktu yang
dibutuhkan untuk mengukur gelombang balik ini biasanya 3 atau 4 gelombang balik,
yang diukur menggunakan stop-watch. Untuk mendapatkan hasil yang akurat,
pengukuran hendaknya diulang sebanyak 3 kali pengecekan sehingga didapatkan hasil
yang sama. Untuk meredam gelombang balik pada saat akan melakukan pengecekan
berikutnya, kawat penghantar jaringan ditahan dengan tangan sehingga gelombang
balik itu hilang (diam). Formula yang digunakan untuk menghitung andongan dengan
metode gelombang balik (return wave method), yaitu :
4. Desain Saluran Udara

Y6y, industri, perumahan maupun bandara harus mempertimbangkan (1)


ketersediaan ruang, (2) difusi ruang udara, (3) tingkat kebisingan, (4) kebocoran pipa,
(5) beban panas dalam ducting dan kerugian yang terjadi, (6) balancing, (7)
pengendalian kebakaran, (8) biaya investasi awal, dan (9) biaya operasional
Kesalahan dalam desain saluran udara dapat menghasilkan sistem tidak
baik, dan mahal biaya operasinya. Kekurangan distribusi udara dapat menyebabkan
ketidak nyamanan; sementara kurangnya peredam suara attenuators akan
meningkatkan tingkat kebisingan.
Saluran udara yang buruk menghasilkan system yang tidak seimbang
(tidak balance). Pemasangan konstruksi ducting atau kurangnya duct sealing untuk
mejaga kekedapan menghasilkan system saluran udara yang mahal biaya operasinya.
Insulasi saluran udara yang benar dapat mengurangi kerugian
panas.(Firmansyah,2008)

5. Pertimbangan Desain
Tujuan dari sistem saluran udara adalah untuk mengalirkan sejumlah udara
melalui tiap outlet kedalam suatu ruangan yang dikondisikan pada tekanan total yang
telah ditentukan. Hal ini bertujuan untuk menjamin bahwa beban udara ruangan yang
diserap dan aliran udara yang baik dapat dicapai. Metode yang digunakan untuk
menentukan lay out ducting dan ukuran ducting harus menghasilkan suatu sistem
saluran udara yang tidak bising dan mampu mengalirkan udara dengan baik ke setiap
ruangan. Tingkat kebisingan yang rendah biasanya dicapai dengan kecepatan aliran
yang rendah, sementara kecepatan aliran udara yang tinggi cenderung untuk
menimbulkan kebisingan. Kebisingan juga dapat dikurangi dengan menggunakan
material yang lebih halus, menggunakan peredam kebisingan, dan menghindari
perubahan (penyempitan) yang mendadak pada ducting.

Ducting harus bebas dari kebocoran dimana kebocoran bisa berasal


dari kekurang kedapan ataupun kondensasi udara dingin, untuk itu seal dan insulasi
adalah sangat penting untuk dipasang pada ducting guna mencegah kebocoran ini.
Selain itu ducting juga harus mempertimbangkan aspek keselamatan dan bahaya
kebakaran. Secara otomatis biasanya sistem saluran udara memiliki hubungan dengan
sistem pemadam kebakaran, dimana jika terjadi kebakaran maka sistem saluran udara
secara otomati harus menutup dan menghentikan suplly udara ke dalam ruangan
(Firmansyah,2008)

6. Konstruksi Ducting
a. Maximum Pressure Difference
Sistem saluran udara dibedakan berdasarkan perbedaan tekanan
maksimum antara udara didalam ducting dengan udara luar (atmosphere). Biasanya
untuk system saluran udara di gedung, tekanannya adalah kurang dari 750 Pa. Namun
pada umumnya aplikasi tekanan system saluran udara dapat dibedakan menjadi 3, yaitu
tekanan rendah, tekanan menengah dan tekanan tinggi. Untuk tekanan rendah biasanya
digunakan pada gedung – gedung komersial maupun kantor, tekanannya kurang dari
500 Pa, dengan kecepatan aliran udara sekitar 12 m/s. Untuk tekanan sedang berkisar
antara 500 Pa sampai dengan 1500 Pa, dengan kecepatan aliran udara sekitar 17,5 m/s.
Untuk system saluran udara di Industri, dimana seringkali digunakan ventilasi mekanik
dan untuk mengontrol polusi digunakan system saluran udara dengan tekanan yang
lebih tinggi dari 1500 Pa.(Firmansyah,2008)
b. Material Ducting
Underwriters Laboratory (UL) mengklasifikasikan system saluran
udara berdasarkan kemampuan materialnya untuk mudah terbakar dan menjalar serta
menghasilkan asap, untuk itu UL membaginya menjadi 3 kelas ;
a. Class 0. Ducting tahan api, tidak bisa terbakar dan tidak menghasilkan
asap.
b. Class 1. Ducting bisa terbakar namun tidak lebih dari 25% dan tidak
berlanjut.
c. Class 2. Suatu ducting bisa terbakar dengan kecepatan 50% dan rate
asap yang dihasilkan diberi nilai 100.
Sementara untuk bentuk ducting bisa dibedakan menjadi ducting
persegi (kotak), ducting bulat, ducting oval dan ducting fleksible sebagaimana di
tunjukan pada gambar 2. (Firmansyah,2008)

Gambar26 Berbagai tipe bentuk ducting, (a). Kotak, (b). bulat, (c). oval,
dan (d). Ducting fleksible (Firmansyah,2008)
7. Prosedur Desain
Prosedur untuk merencanaan suatu sistem saluran udara secara umum bisa
dijelaskan sebagai berikut :
a. Pelajari layout gedung atau ruangan yang akan dipasangi saluran udara,
rencanakan system suplai dan ekhaust untuk mendapatkan distribusi udara
untuk tiap ruangan dengan memperhitungkan jumla udara yang dibutuhkan
untuk ruangan termasuk untuk mengatasi beban panas dan kebocoran.
Tentukan jumlah suplai (inlet) dan ekhaust (outlet) yang dibutuhkan sesuia
dengan tekanan yang dibutuhkan.
b. Pilih ukuran outlet sesuai dengan yang ada di pasaran.
c. Pilih system saluran udara, hubungan inlet dan outlet yang telah ditentukan
posisi nya dengan system saluran udara tersebut, gunakan saluran udara tipe
bulat jika memungkinkan.
d. Bagi system saluran udara dalam section, tentukan suplai dan ekhaust
terminal, fitting, dan komponen – komponen ducting yang lain.
e. Tentukan ukuran ducting dengan menggunakan metode desain yang tepat.
Hitung tekanan total dari system, dan pilih fan.
f. Gambar layout system saluran udara dengan detail, jika ducting dan fitting
berubah hitung kembali kerugian tekanan total dan pilih kembali fan.
g. Sesuaikan ukuran ducting untuk memenuhi criteria balancing.
h. Analisa ducting yang sudah direncanakan terhadap noise.

8. Metode Desain Saluran Udara


Desain saluran udara (ducting) adalah untuk menentukan dimensi masing
– masing section pada saluran udara. Setelah setiap section ditentukan ukurannya maka
tekanan total dari system saluran udara dapat dihitung dan tekanan suplai dari fan dapat
ditentukan dari kerugian tekanan total dalam system pengkondisian udara. Ada 4
metode desain system saluran udara yang sering kali digunakan, yaitu :
1. Metode gesekan sama dengan kecepatan maksimum (Equal-friction
method with maximum velocity)
Pada metode gesekan sama ini, ducting ditentukan ukurannya sedemikian
rupa sehingga kerugian gesekan per satuan panjang ducting untuk tiap
section adalah sama / konstan. Setelah dihitung/dipilih dimensi akhir dari
ducting biasanya akan diambil ke pendekatan yang ada sesuai dengan
ukuran ducting standard. Kerugian total tekanan dari system ducting pt
sama dengan jumlah dari kerugian gesek dan kerugian dinamis pada
berbagai section sepanjang system ducting yang kritis (biasanya diambil
system ducting yang paling panjang).

Dimana ;

L1, L2, . . . , Ln panjang ducting pada section 1, 2, . . . , n, (m)

Le1, Le2, . . . , Len panjang equivalent fitting pada section 1, 2, . . . , n, (m)

Jika kerugian dinamis dari suatu fitting saluran udara sama dengan
kerugian gesek dari suatu ducting dengan panjang equivalent Le,
dalam m, maka ;

Dan panjang equivalent dapat dicari sebagai berikut ;

Pemilihan pf,u biasanya berdasarkan pengalaman, misalnya


untuk system tekanan rendah digunakan nilai sebesar 0.82 Pa / m. Dan
kecepatan maksimum aliran udara dalam ducting digunakan sebagai
pembatas. Metode gesekan sama ini biasanya tidak optimal dalam
biaya, dan damper seringkali diperlukan untuk membuat system
balance. Dan karena perhitungan yang digunakan cukup sederhana,
system ini banyak digunakan untuk mendesain system saluran udara
yang kecil. (Firmansyah,2008)

2. Metode kecepatan konstan (Constant-velocity method)


Metode kecepatan konstan seringkali digunakan pada system saluran
udara buang (exhaust system) yang membuang partikel emsisi keluar ruangan,
jadi aplikasi pada system pengkondisian udara pada industry. Pertama – tama
dari metode ini adalah menentukan minimum kecepatan aliran udara pada
masing – masing section ducting dengan mengacu pada partikel yang harus
dibuang (semakin berat partikel, semakin besar kecepatan / tekanan yang
dibutuhkan) sesuai dengan pengalaman ataupun data yang ada. Berdasarkan
kecepatan ini, maka luas penampang ducting dan dimensi ducting dapat
ditentukan. Kerugian tekanan total dari system ducting pt (Pa) dapat dihitung
sebagai berikut :

Dimana

v1, v2, . . . , vn adalah kecepatan rata –rata aliran udara pada


ducting section 1, 2, . . . , n, (m/ s) C1, C2, . . . , Cn adalah
koefisien gesekan local pada section 1, 2, . . . , n,
Nilai K = 5.35 x 105 for I-P unit (1 for SI unit)
3. Static regain method
Pada metode ini ukuran ducting didesain sedemikian rupa sehingga
kenaikan tekanan static (static region) akibat penurunan kecepatan didalam cabang
utama setelah masing – masing cabang keluar mendekati / hamper sama dengan
kerugian tekanan section ducting sepanjang cabang utama secara berututan. Akibatnya,

tekanan statis dari ujung ducting akan sama dengan tekanan pada section sebelumnya.

Sebagai contoh, suatu ection dari ducting persegi pada titik 1 – 2 ditunjukan
pada gambar. Ukuran dari ducting ini ditentukan sehingga v1 dan v2 kecepatan rata –
rata pada bidang 1 dan 2, dan V1 dan V2 adalah laju aliran vlume, dan A1 and A2 luas
penampang melintang. Kerugian tekanan total pada section 1 – 2 terdiri atas kerugian
gesekan pf1-2 dan kerugian dinamik pada aliran yang melewati diverging tee p1c,s.
Hubungan antara tekanan total pada bidang 1 dan 2 dapat dituliskan sebagai berikut :
(7.34)

Karena pt = ps+ pv , dan densitas udara 1 dan 2 diabaikan maka pf1-2


= pf,u. L1-2. Disini L1-2 menunjukan panjang ducting pada section 1 – 2. Jika
tekanan static pada bidang 1 dan 2 sama, maka ps1 = ps2, sehingga:
Jika v adalah kecepatan aliran udara dalam m/sm dan pf,u dalam Pa per
meter, dan adalah 1,20 kg/m3, dan gc adalah 9,81 kg.m/s2. Maka kecepatan rata –
rata aliran udara pada ducting dengan ukuran tertentu adalah :

Untuk setiap section ducting pada bidang n – 1 dan n, jika kerugian koefisien
total pada fitting adalah cn, dan koefisien kerugian adalah C(n-1)c,s maka kecepatan
aliran pada ducting tersebut ;
2
[1 − (𝐶(𝑛−1) 𝐶2 𝑆)𝑉𝑛−1 − ∆𝑝𝑓,𝑢 𝑙𝑛]0.5
{ }
1 + 𝐶𝑛
4. T method
T – method diaplikasikan berdasarkan ide tree staging sehingga
dinamakan sebagai T method. Tujuan dari methode ini adalah untuk mengoptimasikan
ratio antara kecepata pada setiap section saluran udara. T method ini terdiri dari
prosedure sebagai berikut;

a. System condensing, menyederhanakan berbagai section ducting menjadi


satu sistem yang lebih sederhana dengan karakteristik hidrolik yang sama.
b. Fan selection, pemilihan fan untuk mendapatkan tekanan yang optimum
c. Ekpansi system - mengembangkan section ducting menjadi sistem seperti
sebelumnya dengan distribusi kerugian tekanan total yang optimum pada
berbagai section ducting.
T – method dapat digunakan untuk menentukan dengan pasti kerugian
tekanan total pada cabang ducting. Namun begitu, koefisien kerugian total yang
bervariasi pada saat iterasi juga harus dipertimbangkan pada saat
optimasi.(Firmansya Teddy,2008)

5. GMR dan GMD


1. GMR
Geometric Mean Radius (GMR) atau jejari rata-rata geometris dari
suatu luas (area) adalah limit dari jarak rata-rata geometris (GMD) antara
pasanganpasangan elemen dalam luas iti sendiri jika jumlah elemen itu
diperbesar sampai tak berhingga. Khusus untuk kawat bundar, GMR untuk satu
kawat ialah jejari dari suatu silinder berdinding yang sangat tipis mendekati nol
sehingga induktansi dari silinder itu sama dengan induktansi kawat asli.
 Induktansi
1 1
𝐿1 = 2𝜋 × 10−7 ℎ[𝑙𝑛 + + ln 𝐷12 ]
𝑟1 4
1 1
𝐿1 = 2𝜋 × 10−7 ℎ[𝑙𝑛 + ln 𝑒 ⁄4 + ln 𝐷12 ]
𝑟1
1 1
𝐿1 = 2𝜋 × 10−7 ℎ[𝑙𝑛 1 + + ln 𝐷12 ]
4
𝑟1 𝑒 −4
Pemakaian GMR ini membutuhkan distribusi arus yang uniform dan
tidak ada bahan-bahan magnetik. Jika yang dibahas adalah penghantar ACSR
dimana berinti baja yang merupakan bahan magnetik, maka dalam hal ini
biasanya diasumsikan arus mengalir dalam kawatkawat penghantar, dan arus
yang sangat kecil pada inti baja diabaikan. Dengan demikian pengertian GMR
pada ACSR dapat dipergunakan.
2. GMD
Jika suatu lingkaran pada jejari r terdapat n titik yang jaraknya satu sama
lain sama besar maka GMD antara titiktitik itu adalah:
𝑛−1
𝐺𝑀𝐷 = 𝑟 √𝑛
 Kapasitansi dan reaktansi kapasistif pada rangkaian fase tunggal
Jika ada dua kawat paralel dipisahkan oleh media isolasi akan terbentuk
kapasitor, jadi mempunyai sifat untuk menyimpan muatan listrik. Jika suatu
perbedaan tegangan dipertahankan antara kedua kawat maka muatan-muatan
listrik pada kawat-kawat tersebut mempunyai tanda-tanda yang berlawanan.
Jika kita memandang dua kawat penghantar, yaitu kawat 1 dan kawat 2,
masing-masing memiliki potensial e1 dan e2.
Perbedaan potensial antara kawat 1 dan kawat 2 diberikan oleh
persamaan berikut.
𝑞1 1 1
𝑒12 = 𝑒1− 𝑒2 = [ln + ln + 2 𝐷12
2𝜋𝜀𝑣 ℎ 𝑟1 𝑟2
dengan, 𝜀𝑣 = konstanta dielektrik ruang hampa = 8,854 x 10-12 farad per
meter. (Novika Ginanto,2011)
b. Saluran kabel bawah tanah (underground cable),
Saluran Kabel Bawah Tanah (Underground Cable) merupakan saluran
transmisi yang menyalurkan energi listrik melalui kabel yang dipendam didalam tanah.
Kategori saluran seperti ini adalah favorit untuk pemasangan didalam kota, karena
berada didalam tanah maka tidak mengganggu keindahan kota dan juga tidak mudah
terjadi gangguan akibat kondisi cuaca atau kondisi alam. Namun tetap memiliki
kekurangan, antara lain mahal dalam instalasi dan investasi serta sulitnya menentukan
titik gangguan dan perbaikkannya. (FebrianaRamdan,2019)
Gambar 27 Pemasangan Kabel Bawah Tanah (Febriana Ramdan,2019)
c. Saluran Isolasi Gas
Saluran Isolasi Gas (Gas Insulated Line/GIL) adalah Saluran yang
diisolasi dengan gas, misalnya: gas SF6, seperti gambar Karena mahal dan resiko
terhadap lingkungan sangat tinggi maka saluran ini jarang digunakan. (Ardhana
Nabila,2016)

Gambar 28 Saluran Isolasi Gas (Ardhana Nabila,2016)


V Isolator

Isolator pada sistem transmisi tenaga listrik disni berfungsi untuk penahan
bagian konduktor terhadap ground. Isolator disini bisanya terbuat dari bahan
porseline, tetapi bahan gelas dan bahan isolasi sintetik juga sering digunakan disini.
Bahan isolator harus memiiki resistansi yang tinggi untuk melindungi kebocoran arus
dan memiliki ketebalan yang secukupnya (sesuai standar) untuk mencegah breakdown
pada tekanan listrik tegangan tinggi sebagai pertahanan fungsi isolasi tersebut.
Kondisi nya harus kuat terhadap goncangan apapun dan beban konduktor.

Jenis isolator yang sering digunakan pada saluran transmisi adalah jenis porselin atau
gelas. Menurut penggunaan dan konstruksinya, isolator diklasifikasikan menjadi :
a. isolator jenis pasak
b. isolator jenis pos-saluran
c. isolator jenis gantung

1. Kegagalan Listrik

Istilah kegagalan listrik (Inggris: electrical breakdown), atau tembus listrik atau
dadalan elektrik, memiliki sejumlah arti. Istilah ini bisa berarti gangguan pada sebuah sirkuit
listrik. Kegagalan listrik bisa pula berarti berkurangnya hambatan dengan amat pesat pada
sebuah isolator elektrik yang menyebabkan lompatan bunga api listrik di sekeliling atau di
sepanjang isolator. Peristiwa ini bisa hanya bersifat sementara (seperti dalam
sebuah pengosongan elektrostatik), atau bisa pula menyebabkan pengosongan busur
elektrik yang berlangsung terus-menerus jika peranti pelindung gagal merintangi arus dalam
sebuah sirkuit daya tinggi.

2. Kesalahan pada Sistem Elektrik

Arti dari electrical breakdown yang paling umum berhubungan dengan mobil dan
merupakan gangguan pada jaringan listrik yang berakibat pada hilangnya fungsi kendaraan.
Permasalahan yang umum terjadi bisa berupa pengosongan baterai, kegagalan alternator, kabel
yang rusak, ledakan sekering, dan kerusakan pada pompa bahan bakar.

3. Kegagalan Isolator Elektrik

Arti electrical breakdown yang kedua merujuk pada kegagalan isolatornya sebuah kabel
listrik atau komponen listrik yang lain. Kegagalan seperti ini biasanya mengakibatkan hubungan
pendek atau sekering yang meledak. Ini terjadi pada tegangan dadal. Kegagalan isolator yang
sesungguhnya sering terjadi dalam penerapan tegangan tinggi yang kadang-kadang menyebabkan
pembukaan sebuah pemutus sirkuit pelindung. Electrical breakdown sering pula diasosiasikan
dengan kegagalannya bahan isolasi padat atau cair yang digunakan dalam kondensatormaupun
transformator tegangan tinggi di kabel distribusi listrik. Electrical breakdown juga bisa terjadi di
sepanjang sejumlah dawai isolator yang dipasang pada saluran listrik, di dalam kabel listrik bawah
tanah, atau kabel yang membusur pada cabang pohon terdekat. Dalam tekanan listrik yang cukup
kuat, electrical breakdown bisa berlangsung di dalam zat padat, cair, atau gas. Namun, mekanisme
kegagalan yang spesifik sangat berbeda di setiap fase dielektrik. Kesemua ini menyebabkan
kerusakan instrumen yang membahayakan.
4. Peranti Distruptif

Peranti disruptif merupakan peranti berdielektrik, lalu mendapat tekanan


melebihi kuat dielektriknya, yang memiliki electrical breakdown. Hal ini berakibat pada
perubahan tiba-tiba pada bagian bahan dielektrik yang semula bersifat menghambat listrik
menjadi bersifat konduktif. Adapun ciri dari perubahan ini adalah terbentuknya bunga
api listrik, dan bisa juga busur elektrik melalui bahan tadi. Jika hal ini terjadi di dalam
perubahan kimiawi, fisik, dan dielektrik padat di sepanjang jalur lucutan/pengosongan
maka kuat dieletriknya bahan akan berkurang secara signifikan.

5. Mekanisme

Electrical breakdown terjadi di dalam sebuah gas (atau campuran berbagai gas,
seperti udara) saat gas itu memiliki kuat dielektrik yang berlebihan. Kawasan tekanan
listrik yang tinggi bisa menyebabkan gas di dekatnya mengalami ionisasi sebagian dan
mulai bersifat konduktif. Hal ini dilakukan dengan sengaja dalam lucutan/pengosongan
bertekanan rendah seperti dalam lampu pendarfluor (lihat pula pengosongan
elektrostatik) atau dalam sebuah pengendap elektrostatik.

Tembus listrik sebagiannya udara menyebabkan ozon berbau "udara segar" saat terjadi
hujan badai berpetir atau ozon di sekitar peralatan tegangan tinggi. Meski udara
biasanya merupakan isolator yang sempurna, tapi saat ditekan oleh tegangan tinggi
(kuat medan listriknya sekitar 3 x 106V/m[1]), udah mulai terurai, menjadi bersifat
konduktif sebagian. Jika tegangannya cukup tinggi, dadalan elektrik udara yang
sepenuhnya akan berpuncak pada loncatan bunga api listrik atau busur elektrikyang
menjembatani seluruh celah percik. Loncatan bunga api listrik yang ditimbulkan
oleh listrik statis mungkin sedikit kedengaran, tapi latu elektrik yang lebih besar sering
dibarengi dengan bunyi yang keras. Kilat merupakan salah satu contoh dari loncatan
bunga api listrik yang sangat besar dan panjangnya mencapai bermil-mil. Warna latu
elektrik tergantung pada gas-gas yang menyusun media gas.
Pengosongan elektrostatik memperlihatkan filamen-filamen plasma yang
mirip kilat dari sebuah kumparan Tesla.

Jika sekering atau pemutus sirkuit gagal merintangi arus melalui latu elektrik dalam
sebuah rangkaian tenaga, arus terus melaju, membentuk busur elektrik yang sangat
panas. Warna latu elektrik sangat bergantung pada bahan konduktor (saat bahan
konduktor itu menguap dan bercampur di dalam plasmapanas di dalam busur). Meski
latu dan lompatan bunga api listrik biasanya tidak diinginkan, kedua fenomena itu bisa
berguna dalam penerapan sehari-hari seperti busi untuk mesin
bensin, pengelasan listriknya logam, atau peleburan logam di dalam sebuah tanur busur
listrik

a. Isolator
Jenis isolator yang digunakan pada saluran transmisi adalah jenis porselin atau
gelas.
a. Jenis Isolator
Menurut penggunaan dan konstruksinya, isolator diklasifikasikan menjadi:

Gambar 29isolator jenis pasak (DS, 2019)


Gambar 30 isolator jenis pos-saluran (DS, 2019)

Gambar 31 isolator gantung (DS, 2019)

Isolator jenis pasak dan isolator jenis pos-saluran digunakan pada saluran
transmisi dengan tegangan kerja relatif rendah (kurang dari 22-33 kV), sedangkan
isolator gantung dapat digandeng menjadi rentengan/rangkaian isolator yang
jumlahnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. (DS, 2014)

b. Pasangan Isolator
Pasangan isolator terbuat dari besi baja yang ukurannya disesuaikan dengan tegangan,
jenis dan ukuran penghantar, kekuatan mekanis, serta konstruksi penopangnya.
Dengan demikian dikenal baut-U, klevis, link, mata, ball and socket dsb., permukaan
logam ini biasanya digalvanisasi. Pasangan Isolator terdiri dari sebagai berikut:
a. Busur Tanduk/Tanduk Api dan Cincin Perisai
Bila terjadi lompatan api (flashover) pada gandengan isolator, maka isolatornya
akan rusak karena busur apinya. Untuk menghindari kerusakan ini, maka pada
gandengan isolator gantung dan isolator batang panjang dipasang busur tanduk
(arching-horns). Busur tanduk ditempatkan pada bagian atas dan bawah dari
gandengan isolator, serta dibentuk sedemikian rupa sehingga busur api tidak akan
mengenai isolator waktu lompatan api terjadi.
Jarak antara tanduk atas dan bawah biasanya 75-85 % dari panjang gandengan.
Tegangan lompatan api untuk gandengan isolator dengan busur tanduk ditentukan oleh
jarak tanduk ini. Busur tanduk biasanya dipakai untuk saluran transmisi dengan
tegangan diatas 110 kV, atau diatas 66 kV didaerah-daerah dengan tingkat isokeronik
yang tinggi. Cincin perisai diapasang pada ujung kawat dari isolator untuk mencegah
terjadinya korona pada ujung tersebut. Efek pencegahan korona juga dimiliki oleh
busur tanduk ini.

Gambar 32 Gandengan Isolator Gantung (DS, 2014)

b. Jepitan
Untuk penghantar dipakai pengapit gantungan (suspension clamps) dan
pengapit tarikan (tension clamps) sedang untuk kawat tanah dipakai pengapit
sederhana. Ada dua jenis pengapit gantung, yang satu dengan batang pelindung dan
yang lain tanpa batang pelindung (armor rods). Pengapit dipilih dengan
memperhatikan macam dan ukuran kawat, kuat tarik maksimumnya, serta dibentuk
sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kerusakan dan kelelahan karena getaran
(vibration) dan sudut andongan dari kawat.
c. Karakteristik Isolator Jaringan
Karakteristik pada isolator dapat dibagi menjadi:
1. Karakteristik Isolator
a. Mempunyai kekuatan mekanis yang tinggi agar dapat menahan beban kawat
penghantar
b. Memiliki konstanta dielektrikum (relative permittivity) yang tinggi, agar
memberikan kekuatan dielektrik (dielectric strength) tinggi juga.
c. Mempunyai tahanan isolasi (insulation resistance) yang tinggi agar dapat
menghindari kebocoran arus ke tanah
d. Mempunyai perbandingan (ratio) yang tinggi antara kekuatan pecah dengan
tegangan loncatan api (flash over voltage)
e. Menggunakan bahan yang tidak berpori-pori dan tidak terpengaruh oleh
perubahan temperatur
f. Bebas dari kotoran dari luar dan tidak retak maupun tergores, agar dapat
dilewati oleh air atau gas di atmosfir
g. Mempunyai kekuatan dielektrik (dielectric strenght) dan kekuatan mekanis
(mechanis strenght) yang tinggi
h. Bahan yang mampu mengisolir atau menahan tegangan yang mengenainya
i. Tidak terlalu berat

2. Karakteristik Elektris
Isolator memiliki dua elektroda yang terbuat dari bahan logam berupa besi atau
baja campuran sebagai tutup (cap) dan pasak (pin) yang dipisahkan oleh bahan isolasi.
Dimana tiap bahan isolasi mempunyai kemampuan untuk menahan tegangan yang
mengenainya tanpa menjadi rusak, yang disebut dengan kekuatan dielektrikum.
Apabila tegangan diterapkan pada isolator yang ideal di kedua elektroda tersebut, maka
dalam waktu singkat arusnya yang mengalir terhenti dan didalam bahan isolasi terjadi
suatu muatan (Q). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan tegangan (V) diantara kedua
elektroda. Besarnya muatan itu adalah :
Q = C.V
Dimana nilai kapasitas C tergantung pada nilai konstanta dielektrik dari suatu
bahan uang terdapat diantara kedua elektroda tersebut. Makin tinggi nilai konstanta
dielektrikum suatu bahan isolasi makin besar kapasitansi isolasi tersebut.
Untuk bahan isolasi porselin dan gelas nilai konstante dielektriknya lebih tinggi
dibandingkan dengan bahan-bahan isolasi yang lain. Bandingkan konstante dielektrik
bahan-bahan di bawah ini.

Tabel 1 Nilai Konstanta Dilektrikum Beberapa Bahan

Jenis ε Jenis ε
Bahan Bahan
Ebonit 2,8 Parafin 2,1 – 2,5
Fiber 2,5 – 5 Kertas 2,0 – 2,6
Gelas 5,4 – 9 Porselin 5,7 – 6,8
Mika 2,5 – 6,6 Air 2,0 – 3,5
Minyak 2,2 – 6,6 Kayu 2,5 – 7,7

Selain nilai konstanta dielektrik yang mempengaruhi nilai kapasitansi, luas dan
tebalnya suatu bahan mempengaruhi juga nilai kapitansi tersebut. Makin besar volume
suatu bahan makin bertambah tinggi muatannya, dan makin besar nilai kapasitansinya
yang ditentukan dengan persamaan.

C=ε
A
4πd

Dimana :
C = kapasitansi suatu bahan (Farad)
ε = konstanta dilektrikum
A = luas permukaan bahan (m2)
d = diameter atau tebal bahan (m)
Nilai kapasitansi ini akan diperbesar lagi karena kelembaban udara, debu, panas
udara, kerusakan mekanis, proses kimia serta tegangan lebih yang mempengaruhi
permukaan dari bahan isolasi tersebut. Oleh karena itu pendistribusian tegangan pada
bahan isolasi tidak seragam, dan lebih besar pada bagian yang terkena tegangan. Hal
ini disebabkan terjadinya arus kebocoran (leakage current) yang melalui permukaan
bahan tersebut. Arus kebocoran ini kecil kalau dibandingkan dangan arus yang
mengalir pada bahan isolasi tersebut, yang besarnya adalah :
V
Il = R
i

Dimana :
Il = arus kebocoran dalam Ampere
V = tegangan yang melaluinya dalam Volt
Ri = tahanan isolasi dalam Ω
Hal tersebut diatas membuat isolator manjadi tidak ideal, yang seharusnya arus
mengalir berhenti dalam waktu yang singkat, akan tetapi turun perlahan-lahan.
Akan tidak ideal lagi isolator tersebut apabila terjadi tegangan yang diterapkan diantara
kedua elektroda isolator tersebut mengalami tegangan loncatan api (flash over voltage)
atau tegangan tembus pada isolator ini.
Dalam sistim tenaga listrik tegangan loncatan api ini biasa dikatakan sebagai
tegangan lebih (over voltage) yang ditimbulkan dari dua sumber. Pertama sumber
berasal dari sistim itu sendiri yang berupa hubungan singkat (short circuit), sedang
yang kedua sumber dari luar sistim biasa disebut gangguan sambaran petir.
Tegangan Tembus merupakan Tegangan di mana isolasi antara dua konduktor akan
rusak. Tegangan ini harus setidaknya 50 % ~ 100 % lebih besar dari tegangan kapasitor
dinilai. Tegangan tembus inilah yang terutama menentukan nilai suatu isolator sebagai
penyekat dan menunjukkan kekuatan dielektrik dari isolator yang besarnya untuk tiap-
tiap isolator berbeda-beda.
Isolator terdiri dari bahan porselin yang diapit oleh elektroda-elektroda.
Dengan demikian isolator terdiri dari sejumlah kapasistansi. Kapasistansi ini
diperbesar oleh terjadinya lapisan yang menghantarkan listrik, karena kelembaban
udara, debu dan bahan-bahan lainnya pada permukaan isolator tersebut. Karena
kapasistansi ini maka distribusi tegangan pada saluran gandengan isolator tidak
seragam. Potensial pada bagain yang terkena tegangan (ujung saluran) adalah paling
besar dengan memasang tanduk busur api (arcing horn), maka distribusi tegangan
diperbaiki.
Tegangan lompatan api (flashover voltage) pada isolator terdiri atas tegangan-tegangan
lompatan api frekuensi rendah (bolak-balik), impuls dan tembus dalam minyak (bolak-
balik frekuensi rendah).
Tegangan lompatan api frekuensi rendah kering adalah tegangan lompatan apai
yang terjadi bila tegangan diterapkan diantara kedua elektroda isolator yang bersih dan
kering permukaanya, nilai konstanta serta nilai dasar karakteristik isolator. Tegangan
lompatan api basah adalah tegangan lompatan api yang terjadi bila tegangan diterapkan
diantara tegangan kedua elektroda isolator yang basah karena hujan, atau dibasahi
untuk menirukan hujan.
Tegangan lompatan api impuls adalah tegangan lompatan api yang terjadi bila
tegangan impuls dengan gelombang standar diterapkan. Karakteristik impuls terbagi
atas polaritas positif dan negatif. Biasanya tegangan dengan polaritas positif (yang
memberikan nilai loncatan api yang rendah) yang dipakai. Untuk polaritas positif
tegangan loncatan api basah dan kering sama.
Tegangan tembus (p’uncture) frekuensi rendah menunjukan kekuatan dielektrik dari
isolator, dan terjadi bila tegangan frekuensi rendah diterapkan antara kedua elektroda
isolator yang dicelupkan pada minyak sampai isolator tembus. Untuk isolator dalam
keadaan baik tegangan tembus ini lebih tinggi dari tegangan loncatan api frekuensi
rendah, dan nilainya kira-kira 140 kV untuk isolator gantung 250 mm.

3. Karakteristik Mekanis
Selain harus memenuhi persyaratan listrik, isolator harus memiliki kekuatan
mekanis guna memikul beban mekanis penghantar yang diisolasikannya. Porselin
sebagai bagian utama isolator, mempunyai sifat sebagai besi cor, dengan tekanan-
tekanan yang besar dan kuat-tarik yang lebih kecil. Kuat tariknya biasanya 400-900
kg/cm2, sedangkan kuat tekanannya 10 kali lebih besar.
Porselin harus bebas dari lubang-lubang (blowholes) goresan-goresan,
keretakan-keretakan, serta mempunyai ketahanan terhadap perubahan suhu yang
mendadak tumbukan-tumbukan dari luar. Gaya tarik isolator yang telah dipasang
relatif besar, sehingga kekuatan porselin dan bagian-bagian yang disemenkan padanya
harus dibuat besar dari kekuatan bagian-bagian logamnya. Kekuatan mekanis dari
isolator gantung dan isolator batang panjang harus diuji untuk mengetahui kemampuan
mekanis dan keseragamannya. Kekuatan jenis ini dan line post ditentukan oleh
kekuatan pasaknya (pin) terhadap moment tekukan (bending momen) oleh penghantar.
Pengkajian kekuatannya karena itu dilakukan dengan memberikan beban kawat secara
lateral terhadap pasak.
Dalam perencanaan saluran transmisi udara, tegangan lebih pada isolator
merupakan faktor penting. Ditempat-tempat dimana pengotoran udara tidak
mengkhawatirkan, surja-hubung (switchingsurge) merupakan faktor penting dalam
penentuan jumlah isolator dan jarak isolator. Karakteristik lompatan api dari surja-
hubung lain dari karakteristik frekuensi rendah dan impuls (Holong, 2011)

d. Tegangan Tembus Isolator Tegangan Tinggi


Tegangan tembus (breakdown) merupakan suatu peristiwa apabila medan
magnet dinaikkan (tegangan terus-menerus dinaikkan), atom-atom akan terionisasi dan
sampai batas kemampuan isolatortersebut menahan tegangan maka isolator tersebut
akan berubah menjadi konduktor. Saat kritis ini disebutbreakdown. Pengujian terhadap
tegangan tembus diperlukan untuk mengetahui titik kritis dari isolasiminyak
transformator.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya tegangan
tembus pada minyaktransformator setelah diberikan tegangan tinggi AC dan DC
dengan suhu minyak 500C, 700C dan 900C.Pengujian juga untuk mengetahui apakah
minyak transformator bekas masih layak dipakai atau tidak.Pengujian tegangan tembus
pada minyak transformator baru dibandingkan dengan tegangantembus pada minyak
transformator bekas dimana terdapat perbedaan yaitu pada besarnya nilai
tegangantembus. Besarnya nilai tegangan tembus pada tegangan AC juga
dibandingkan terhadap nilai tegangantembus DC.
e. Kegagalan Isolator
Isolasi adalah salah satu bentuk peralatan tegangan tinggi yang berfungsi
sebagai tahanan atau pelindung agar tidak terjadi tembus yang tidak diinginkan. Secara
umum isolasi dibagi menjadi 3 (tiga) macam yaitu isolasi padat, cair dan gas.
Kemampuan isolasi dalam menahan tegangan mempunyai batas-batas tertentu sesuai
dengan material penyusun dan lingkungan sekitarnya. Apabila tegangan yang
diterapkan melebihi kuat medan isolasi maka akan terjadi tembus atau breakdown yang
menyebabkan terjadinya aliran arus antara peralatan tegangan tinggi. Kekuatan isolasi
gas dipengaruhi beberapa hal antara lain temperatur, kelembaban, angin, tingkat
kontaminasi udara dan besar tegangan yang diterapkan. Adanya kondisi hujan asam,
hujan basa, hujan garam, serta hujan di pegunungan akan mempengaruhi kekuatan
isolasi dalam mencegah terjadinya tembus antar dua peralatan tegangan tinggi yang
diisolasi. Pemodelan peralatan tegangan tinggi dengan elektroda jarum homogen dan
elektroda bola homogen digunakan untuk mengetahui tegangan tembus gas antara
keduanya jika terjadi perubahan terhadap lingkungan sekitar, selama pengujian isolasi
di laboratorium tegangan tinggi. Contoh penggunaan peralatan tegangan tinggi yang
menyerupai elektroda jarum adalah arcing horn (busur api) yang dipasang di tiap ujung
renteng isolator. Teknik analisis data menggunakan cara analisis data kualitatif
interpretatif dan analisis statistik secara elementer. Kedua metode ini digunakan sejak
awal penelitian dimulai, diantaranya dalam memilih obyek, sample,
mengklasifikasikan simbol hingga kesimpulan akhir penelitian. Analisis data secara
statistik digunakan untuk menaksir prosentase tembus yang terjadi. Hasil percobaan
menunjukkan bahwa tegangan tembus udara berbanding lurus dengan tekanan,
prosentase karbondioksida dan kelembaban udara tetapi berbanding terbalik dengan
kenaikan temperatur (Dicky, 2016)

1. Kegagalan pada Isolasi gas


a. Proses dasar ionisasi
Ion merupakan atom atau gabungan atom yang memiliki muatan listrik, ion
terbentuk apabila pada peristiwa kimia suatu atom unsur menangkap atau melepaskan
elektron. Proses terbentuknya ion dinamai dengan ionisasi. Jika diantara dua elektroda
yang dimasukkan dalam media gas diterapkan tegangan V maka akan timbul suatu
medan listrik E yang mempunyai besar dan arah tertentu yang akan mengakibatkan
elektron bebas mendapatkan energi yang cukup kuat menuju kearah anoda sehingga
dapat merangsang timbulnya proses ionisasi.
b. Ionisasi karena Benturan Elektron
Jika gradien tegangan yang ada cukup tinggi maka jumlah elektron yang
diionisasikan akan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah ion yang ditangkap
molekul oksigen. Tiap-tiap elektron ini kemudian akan berjalan menuju anoda secara
kontinu sambil membuat benturan-benturan yang akan membebaskan elektron lebih
banyak lagi. Ionisasi karena benturan ini merupakan proses dasar yang penting dalam
kegagalan udara atau gas.
c. Mekanisme Kegagalan Gas
Proses kegagalan dalam gas ditandai dengan adanya percikan secara tiba-tiba,
percikan ini dapat terjadi karena adanya pelepasan yang terjadi pada gas tersebut.
Mekanisme kegagalan gas yang disebut percikan adalah peralihan dari pelepasan tak
bertahan sendiri ke berbagai pelepasan yang bertahan sendiri. Proses dasar yang paling
penting dalam kegagalan gas adalah proses ionisasi karena benturan, tetapi proses ini
tidak cukup untuk menghasilkan kegagalan. Proses lain yang terjadi dalam kegagalan
gas adalah proses atau mekanisme primer dan proses atau mekanisme sekunder.
Proses yang terpenting dalam mekanisme primer adalah proses katoda, pada
proses ini diawali dengan pelepasan elektron oleh suatu elektroda yang diuji, peristiwa
ini akan mengawali terjadinya kegagalan percikan (spark breakdown). Elektroda yang
memiliki potensial rendah (katoda) akan menjadi elektroda yang melepaskan elektron.
Elektron awal yang dibebaskan (dilepaskan) oleh katoda akan memulai terjadinya
banjiran elektron dari permukaan katoda. Jika jumlah elektron yang dibebaskan makin
lama makin banyak atau terjadinya peningkatan banjiran, maka arus akan bertambah
dengan cepat sampai terjadi perubahan pelepasan dan peralihan pelepasan ini akan
menimbulkan percikan (kegagalan) dalam gas.
2. Kegagalan Pada Isolasi Cair (Minyak)
Karakteristik pada isolasi minyak trafo akan berubah jika terjadi
ketidakmurnian di dalamnya. Hal ini akan mempercepat terjadinya proses kegagalan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan isolasi antara lain adanya partikel padat,
uap air dan gelembung gas.
b. Mekanisme Kegagalan Isolasi Cair
Teori mengenai kegagalan dalam zat cair kurang banyak diketahui
dibandingkan dengan teori kegagalan gas atau zat padat. Hal tersebut disebabkan
karena sampai saat ini belum didapatkan teori yang dapat menjelaskan proses
kegagalan dalam zat cair yang benar-benar sesuai antara keadaan secara teoritis dengan
keadaan sebenarnya. Teori kegagalan zat isolasi cair dapat dibagi menjadi empat jenis
sebagai berikut:
b. Teori Kegagalan Elektronik
Teori ini merupakan perluasan teori kegagalan dalam gas, artinya proses
kegagalan yang terjadi dalam zat cair dianggap serupa dengan yang terjadi dalam gas.
Oleh karena itu supaya terjadi kegagalan diperlukan elektron awal yang dimasukkan
kedalam zat cair. Elektron awal inilah yang akan memulai proses kegagalan.
c. Teori Kegagalan Gelembung
Kegagalan gelembung atau kavitasi merupakan bentuk kegagalan zat cair
yang disebabkan oleh adanya gelembung-gelembung gas di dalamnya.
d. Teori Kegagalan Bola Cair
Jika suatu zat isolasi mengandung sebuah bola cair dari jenis cairan lain, maka
dapat terjadi kegagalan akibat ketakstabilan bola cair tersebut dalam medan listrik.
Medan listrik akan menyebabkan tetesan bola cair yang tertahan didalam minyak yang
memanjang searah medan dan pada medan yang kritis tetesan ini menjadi tidak stabil.
Kanal kegagalan akan menjalar dari ujung tetesan yang memanjang sehingga
menghasilkan kegagalan total.
e. Teori Kegagalan Tak Murnian Padat
Kegagalan tak murnian padat adalah jenis kegagalan yang disebabkan oleh
adanya butiran zat padat (partikel) didalam isolasi cair yang akan memulai terjadi
kegagalan.
3. Kekuatan Kegagalan
Dari semua teori yang membahas tentang kegagalan zat cair tidak
memperhitungkan hubungan antara panjang ruang celah (sela) dengan kekuatan
peristiwa kegagalan. Semuanya hanya membahas tentang kekuatan kegagalan
maksimum yang dicapai. Namun dari semua teori diatas dapat ditarik suatu persamaan
baru yang berisi komponen panjang ruang celah dan komponen kekuatan peristiwa
kegagalan pada benda cair, yaitu
Vb = Adn
Dimana :
d = panjang ruang celah
A = konstanta
n =juga konstanta yang nilainya < 1

4. Kegagalan Bahan Isolasi Padat


a. Kegagalan Asasi (Intrinsik)
Kegagalan asasi (intrinsik) adalah kegagalan yang disebabkan oleh jenis dan
suhu bahan dengan menghilangkan pengaruh luar seperti tekanan, bahan elektroda,
ketidakmurnian, kantong-kantong udara. Kegagalan ini terjadi jika tegangan yang
dikenakan pada bahan dinaikkan sehingga tekanan listriknya mencapai nilai tertentu
yaitu 106 volt/cm dalam waktu yang sangat singkat yaitu 10-8 detik. Karena waktu
gagal yang sangat singkat, maka jenis kegagalan ini disebut kegagalan elektronik.
Kegagalan intrinsik merupakan bentuk kegagalan yang paling sederhana.
Melalui eksperimen, kuat dielektrik terbesar diperoleh ketika seluruh pengaruh
luar sudah diisolasi dan harganya hanya bergantung pada struktur material dan suhu.
Kekuatan listrik maksimum adalah 15 MV/cm untuk polyvinyl-alcohol pada suhu -
196oC. Kekuatan maksimum biasanya berkisar antara 5 MV/cm dan 10 MV/cm.
Kegagalan instrinsik tergantung pada kehadiran elektron bebas yang mampu
berpindah melalui kisi-kisi dari bahan dielektrik tersebut. Biasanya, sejumlah kecil dari
elektron terkonduksi hadir dalam dielektrik padat, bersama beberapa struktur tak
sempurna dan sejumlah atom kotor (impurity atom). Atom atau molekul kotor atau
keduanya bertindak sebagai perangkap untuk elektron terkonduksi yang tergantung
pada jarak dari medan elektrik dan suhu. Ketika jarak ini telah membesar, elektron
tambahan terbebaskan, dan elektron ini turut berpartisipasi pada proses konduksi.
Berdasarkan prinsip ini, 2 tipe dari kegagalan instrinsik telah muncul yaitu Kegagalan
Elektronik dan Kegagalan Streamer.
Beberapa pendekatan telah dilakukan untuk meramalkan nilai kritis medan
yang menyebabkan terjadinya kegagalan asasi, tetapi hingga kini belum diperoleh
penyelesaian yang memuaskan.
b. Kegagalan Elektromekanik
Kegagalan elektromekanik adalah kegagalan yang disebabkan oleh adanya perbedaan
polaritas antara elektroda yang mengapit zat isolasi padat sehingga timbul tekanan
listrik pada bahan tersebut. Tekanan listrik yang terjadi menimbulkan tekanan
(pressure) mekanik yang terjadi akibat timbulnya gaya tarik menarik antara kedua
elektroda tersebut. Pada tegangan 106 volt/cm menimbulkan tekanan mekanik 2-6
kg/cm2.
c. Kesimpulan Bahan Isolastor padat
1. Kegagalan bahan isolasi padat terjadi karena kekuatan listrik (strength), lebih
kecil dari tekanan listrik (stress).
2. Kegagalan Asasi (Intrinsik) dan Kegagalan Elektromekanik merupakan
pembagian dari Kegagalan bahan isolasi padat berdasarkan waktu penerapan
tegangannya. Kegagalan yang lain yaitu, Kegagalan Streamer, Kegagalan
Termal, dan Kegagalan Erosi.
3. Kegagalan Asasi (Intrinsik) adalah kegagalan yang disebabkan oleh jenis dan
suhu bahan dengan menghilangkan pengaruh luar seperti tekanan, bahan
elektroda, ketidakmurnian, dan kantong-kantong udara. Kegagalan ini terjadi
jika tegangan yang dikenakan pada bahan, dinaikkan sehingga tekanan
listriknya mencapai nilai tertentu dalam waktu yang singkat
4. Kegagalan Elektromekanik adalah kegagalan yang disebabkan oleh adanya
perbedaan polaritas antara elektroda yang mengapit zat isolasi padat sehingga
timbul tekanan listrik pada bahan tersebut (Oki, 2016)

c. Kawat Penghantar (Konduktor)


Jenis-jenis kawat penghantar yang biasa digunakan pada saluran transmisi
adalah:
a. Tembaga dengan konduktivitas 100% (Cu 100%)
b. Tembaga dengan konduktivitas 97,5% (Cu 97,5%)
c. Aluminium dengan konduktivitas 61% (Al 61%)
Kawat penghantar tembaga mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan
dengan kawat penghantar aluminium, karena konduktivitas dan kuat tariknya yang
lebih tinggi. Tetapi juga memiliki kelemahan, yaitu untuk besar tahanan yang sama,
tembaga lebih berat dan lebih mahal dari aluminium. oleh karena itu dewasa ini kawat
penghantar aluminium telah mulai menggantikan kedudukan kawat penghantar
tembaga. Untuk memperbesar kuat tarik dari kawat aluminium, digunakan campuran
aluminum (aluminium alloy).
Untuk saluran-saluran transmisi tegangan tinggi, dimana jarak antara
menara/tiang berjauhan, mencapai ratusan meter, maka dibutuhkan kuat tarik yang
lebih tinggi, untuk itu digunakan kawat penghantar ACSR.
Jenis-jenis penghantar (konduktor) :
a. AAC (All Aluminium Conductor)
Penghantar jenis ini mempunyai sifat lain yaitu dari bahan aluminium keras.
Tahanan jenis kawat ini tergantung dari kemurnian serta kondisi fisik dari bahan
aluminium itu sendiri. Misalkan untuk perhitungan maka harga maksimumnya yang
diperbolehkan pada temperatur 200C adalah sekitar 0,028264 Ohm mm2/m. sedangkan
berat dari bahan ini pada temperatur 200C adalah 2,703 dan kuat tarik bahan ini
minimumnya adalah 7 kg/mm2
b. ACCC (Aluminium Conductor with Composite Core)
Penghantar ini adalah sebuah improvement dari konduktor konvesional ACSR
(Aluminium Conductor Steel Reinforced). Keduanya termasuk keluarga “bare
conductor” yang dipasang di udara melalui tiang-tiang. ACCC adalah konduktor
dengan bahan penghantar listrik dari aluminium murni (AAC) yang diperkuat pada
titik tengahnya dengan menggunakan composite core sebagai penggantungnya. Selain
itu ACCC dapat menghantarkan arus listrik 2x lipat dari ACSR dengan ukuran
konduktor yang sama dan “andongan”/ sagging yang kecil dibandingkan dengan
ACSR. Keunggulan dari konduktor ACCC ini adalah dapat meningkatkan daya hantar
arus yang lebih besar dengan tetap mempertahankan ukuran konduktor yang relative
sama dengan ACSR tersebut. Kedua adalah karena dibentuk dengan bentuk kawat
seperti trapezium, celah kosong dapat terisi dengan baik. Celah kosong tersebut yang
terisi itu tentu saja akan menambah luasan penampang dari konduktor tersebut tanpa
harus merubah diameter konduktornya. Otomatis semakin besar luasan
penampangnya, tahanan konduktor pasti akan lebih baik dan arus listrik akan mengalir
lebih besar. Keadaan tersebut biasa disebut “filling factor” atau tingkat pengisian
material dengan besarnya mencapai 93-94% ini artinya celah kosong yang tersisa pada
konduktor sekitar 7-6% dari keseluruhan penampang konduktor dan ACCC mengatasi
dengan baik dalam masalah steel strand (penggantungnya) dimana ia menggunakan
material composite artinya bahan dasar karbon ini mempunyai berat yang lebih ringan,
kekuatan tarik lebih besar dari steel strand, serta tingkat pemuluran yang kecil,
ditambah ketahanannya terhadap suhu tinggi (Adam, 2015)
c. AAAC (All Aluminium Alloy Conductor)
Alloy disini merupakan logam campuran jadi bahan untuk penghantar jenis ini
diantaranya aluminium, magnesium dan silikon. Tahanan jenis untuk bahan
aluminium. Alloy ini sangat tergantung dari kondisi fisik dari bahan tersebut dan untuk
mengetahui dengan teliti daripada harga tahanan jenisnya tergantung sekali dari tingkat
ketelitian pengujian yang dilakukan untuk penghantar tersebut. Tahanan jenis pada
temperatur 200C untuk penghantar maksimum 0,328 Ohm mm2/m dengan kuat tarik
minimum 30 kg/mm2.
d. ACSR (Aluminium Conductor Steel Reinforced)
Bahan untuk membuat penghantar ini terdiri dari aluminium keras dan baja
kawat dengan kuat tarik yang tinggi berlapiskan dari seng yang digunakan sebagai
pelindung. Sifat dari bahan aluminiumnya tidak berbeda jauh dengan aluminium yang
digunakan pada AAC. Pada kawat aluminium conductor steel reinforced memakai
kawat baja yang harus mempunyai syarat-syarat tertentu antara lain :
1. Kuat tarik minimum 126,9 kg/mm2
2. Berat lapisan seng minimum harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku
3. Tidak diperkenankan ada sambungan
4. Lapisan seng harus benar-benar lekat dan rata
Jika persyaratan tersebut sudah terpenuhi, maka kawat dipilin dengan rapat dan
rapi, kawat baja sebagai penunjang diletakkan pada posisi ditengah sesuai dengan
konstruksi ACSR. Kuat tarik pada aluminium pada jenis kabel ini sama dengan kuat
tarik pada kawat aluminium pada AAC.
e. ACAR (Aluminium Conductor Alloy Reinforced)
Kawat penghantar aluminium yang diperkuat dengan logam campuran,
sehingga kabel ini lebih kuat daripada kabel ACSR.
f. TACSR (Thermal Resistant Aluminium-Alloy Conductor)
Pada saluran transmisi yang mempunyai kapasitas penyaluran / beban sistem
tinggi namun berada di daerah yang rawan sosial dan sulit dilakukan pemadaman di
semua sisi, maka dipasang konduktor jenis TACSR. Konduktor jenis ini mempunyai
kapasitas lebih besar tetapi berat kawat tidak mengalami perubahan yang banyak.
g. LVTC (Low Voltage Twisted Cable)
Kabel ini direntangkan di antara tiang penyangga. Bagian utama adalah tiang,
kabel dan suspension Clamp Bracket, yang berfungsi untuk menahan kabel pada tiang.
Kabel jenis ini sekarang banyak digunakan dalam pemasangan JTR baru karena
dianggap kontruksi jenis ini lebih handal.
h. BCC (Bare Copper Conductor)
BCC sendiri dibagi menjadi dua diantara BCC setengah keras dan BCC keras.
BCC setengah keras dibuat dari tembaga elektrolit yang kemurniannya tidak boleh
kurang dari 99,90% tembaga. Hantaran-hantaran ini kemudian dipin dengan rapat dan
rapi menurut peraturan yang berlaku dan tidak diperbolehkan adanya cacat dan harus
bebas dari oksidasi dan sulfidasi atau bahan kimia lainnya yang dapat merusak.
Tahanan jenis tembaga untuk hantaran ini pada temperatur 20C tidak boleh lebih dari
0,01704 Ohm mm2/m dengan berat jenis (BD) = 8,89. BCC keras adalah penghantar
yang mempunyai daya hantar jenis yang sama dengan BCC setengah keras, hanya
untuk BCC keras pada temperatur 200C mempunyai daya hantar jenis yang lebih tinggi
yaitu maksimum 001786 Ohm mm2/m dan kuat tarik minimum sebesar 40 kg/mm2.
Jika dibandingkan maka jelas bahwa BCC setengah keras mempunyai sifat listrik yang
lebih baik daripada BCC keras, tetapi kalau dalam segi kekuatan mekanisnya kalah
unggul (Mamat, 2015).

Gambar 33 AAC, ACCC, AAAC, ACSR, ACAR, TACSR, LVTC dan BCC (Alfiana, 2018)

Bahan-bahan kawat penghantar untuk jaringan tenaga listrik biasanya dipilih


dari logam-logam yang mempunyai konduktivitas yang besar, keras dan mempunyai
kekuatan tarik (tensile strenght) yang besar, serta memiliki berat jenis yang rendah.
Juga logam yang tahan akan pengaruh proses kimia dan perubahan suhu serta
mempunyai titik cair yang lebih tinggi. Untuk memenuhi syarat-syarat tersebut, kawat
penghantar hendaknya dipilih suatu logam campuran (alloy), yang merupakan
percampuran dari beberapa logam yang dipadukan menjadi satu logam. Dari hasil
campuran ini didapatkan suatu kawat penghantar dengan kekuatan tarik dan
konduktivitas yang tinggi. Logam campuran yang banyak digunakan untuk jaringan
distribusi adalah kawat tembaga campuran (copper alloy) atau kawat aluminium
campuran (aluminium alloy).

d. Parameter Pada Konduktor


𝜌ℓ
𝑅=
𝐴
Dimana :
𝜌 = nilai hambatan Janis bahan penghantar dalam satuan ohm meter
ℓ = Panjang penghantar dalam satuan meter
A = Luas penampang penghantar dalam saluran
1. Kenaikan suhu konduktor dibatasi sebesar 75ᵒC
2. Jarak antar konduktor atau spasi di tetapkan sedemikian hingga tidak terjadi
korona di permukaan
3. Dalam pemilihan konduktor perlu meperhatikan tahanannya, kekuatan
mekanisnya, jari-jari gometris rata-rata dan diameter luarnya.

d. Syarat-Syarat Teknis Suatu Konduktor


1. Rugi-rugi daya yang terjadi pada konduktor tidak melebihi yang di ijinkan
2. Jatuh tegangan pada konduktor tidak melebihi yang di ijinkan
3. Pada saat beroperasi tidak terjadi korona pada permukaan konduktor
f. Kawat Tanah.

Gambar 34 ilustrasi groundwire pada sistem transmisi (JBNTronic,2016)

Keterangan gambar :
1. Primery power lines
2. Kawat tanah (groundwire)
3. Overhead lines
4. Trafo pengukuran
5. DS (disconecting switch)
6. Circuit breaker
7. Trafo arus
8. Lightning Arester
9. Trafo daya
10. Pusat pengontrol
11. Pagar pengaman
12. Secondary power lines
Kawat tanah atau "ground wires" juga disebut kawat pelindung (shield wires),
gunanya untuk melindungi kawat-kawat penghantar atau kawat-kawat fasa terhadap
sambaran petir. Jadi kawat tanah itu dipasang diatas kawat fasa, sebagai kawat tanah
umumnya digunakan kawat baja (steel wires) yang lebih murah, tetapi tidak jarang
digunakan ACSR.
Konduktor adalah media untuk tempat mengalirkan arus listrik dari
Pembangkit listrik ke Gardu induk atau dari GI ke GI lainnya, yang terentang lewat
tower-tower. Konduktor pada tower tension dipegang oleh tension clamp, sedangkan
pada tower suspension dipegang oleh suspension clamp. Dibelakang clamp tersebut
dipasang rencengan isolator yang terhubung ke tower. Sedangkan Kawat Tanah atau
Earth wire (kawat petir / kawat tanah) adalah media untuk melindungi kawat fasa dari
sambaran petir. Kawat ini dipasang di atas kawat fasa dengan sudut perlindungan yang
sekecil mungkin, karena dianggap petir menyambar dari atas kawat (Nur, 2019)

4. Proteksi Sistem Transmisi Listrik


Saluran transmisi listrik merupakan suatu sistem yang kompleks yang
mempunyai karakteristik yang berubah-ubah secara dinamis sesuai keadaan sistem itu
sendiri. Adanya perubahan karakteristik ini dapat menimbulkan masalah jika tidak
segera antisipasi. Dalam hubungannya dengan sistem proteksi/ pengaman suatu sistem
transmisi, adanya perubahan tersebut harus mendapat perhatian yang besar mengingat
saluran transmisi memiliki arti yang sangat penting dalam proses penyaluran daya.
Masalah-masalah yang timbul pada saluran transmisi, diantaranya yang utama adalah
:
1. Pengaruh Perubahan Frekuensi Sistem
Frekuensi dari suatu sistem daya berubah secara terus menerus dalam suatu
nilai batas tertentu. Pada saat terjadi gangguan perubahan frekuensi dapat merugikan
baik terhadap peralatan ataupun sistem transmisi itu sendiri. Pengaruh yang disebabkan
oleh perubahan frekuensi ini terhadap saluran transmisi adalah pengaruh pada
rekatansi. Dengan perubahan frekuensi dari ω1 ke ω1’ dengan kenaikan Δ ω1,
reaktansi dari saluran akan berubah dari X ke X’ dengan kenaikan ΔX. Perubahan
rekatansi ini akan berpengaruh terhadap pengukuran impedansi sehingga impedansi
yang terukur karena adanya perubahan pada nilai komponen reaktansinya akan berbeda
dengan nilai sebenarnya.
2. Pengaruh Dari Ayunan Daya Pada Sistem
Ayunan daya terjadi pada sistem paralel pembangkitan (generator) akibat
hilangnya sinkronisasi salah satu generator sehingga sebagian generator menjadi motor
dan sebagian berbeban lebih dan ini terjadi bergantian atau berayun. Adanya ayunan
daya ini dapat menyebabkan kestabilan sistem terganggu. Ayunan daya ini harus
segera diatasi dengan melepaskan generator yang terganggu. Pada saluran transmisi
adanya ayunan daya ini tidak boleh membuat kontinuitas pelayanan terganggu, tetapi
perubahan arus yang terjadi pada saat ayunan daya bisa masuk dalam jangkauan sistem
proteksi sehingga memutuskan aliran arus pada saluran transmisi.

3. Pengaruh gangguan pada sistem transmisi


Saluran transmisi mempunyai resiko paling besar bila mengalami gangguan,
karena ini akan berarti terputusnya kontinuitas penyaluran beban. Terputusnya
penyaluran listrik dari pusat pembangkit ke beban tentu sangat merugikan bagi
pelanggan terutama industri, karena berarti terganggunya kegiatan operasi diindustri
tersebut. Akan tetapi adakalanya gangguan tersebut tidak dapat dihindari. Oleh karena
itu diperlukan usaha untuk mengurangi akibat adanya gangguan tersebut atau
memisahkan bagian yang terganggu dari sistem.
Gangguan pada saluran transmisi merupakan 50% dari seluruh gangguan yang
terjadi pada sistem tenaga listrik. Diantara gangguan tersebut gangguan yang terbesar
adalah gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah, yaitu sekitar 85% dari total
gangguan pada transmisi saluran udara. Sistem proteksi sistem tenaga listrik adalah
pengisolasian kondisi abnormal pada sistem tenaga listrik untuk meminimalisir
pemadaman dan kerusakan yang lebih lanjut. Dalam merancang sistem proteksi,
dikenal beberapa falsafah proteksi, yaitu :
1. Ekonomi, peralatan proteksi mempunyai nilai ekonomi
2. Selektif, dapat mendeteksi dan mengisolasi gangguan
3. Ketergantungan, proteksi hanya bekerja jika t5erjadi gangguan.
4. Sensitif, mampu mengenali gangguan, sesuai setting yang ditentukan,
walaupun gangguannya kecil.
5. Mampu bekerja dalam waktu yang sesingkat mungkin
6. Stabil, proteksi tidak mempengaruhi kondisi yang normal.
7. Keamanan, memastikan proteksi tidak bekerja jika terjadi gangguan
Proteksi pada sistem transmisi terdiri dari seperangkat peralatan yang
merupakan sistem yang terdiri dari komponen-komponen berikut:
1. Relay, sebagai alat perasa untuk mendeteksi adanya gangguan yang selanjutnya
memberi perintah trip kepada Pemutus tegangan (PMT)
2. Trafo arus dan/atau trafo tegangan sebagai alat yang mentransfer besaran
listrikprimer dari sistem yang diamankan ke relay (besaran Listrik Sekunder).
a. Pemutus tenaga untuk memisahkan bagian sistem yang terganggu.
b.Baterai beserta alat pengisi (Baterai Charger) sebagai sumber tenaga untuk
bekerjanya relay, peralatan Bantu triping.
c. Pengawatan (wiring) yang terdiri dari sirkuit sekunder (arus dan/atau
tegangan), sirkuit triping dan peralatan Bantu.
Secara garis besar bagian dari relay proteksi terdiri dari 3 bagian utama seperti
pada blok diagaram dibawah :

Gambar 35 Blok Diagram Relay Proteksi (Rikikhomarudin,2018)

Masing-masing elemen/bagian mempunyai fungsi sebagai berikut :


a. Elemen peengindra, elemen ini berfungsi untuk merasakan besaran-besaran
listrik, seperti arus, tegangan, frekuensi, dan sebagainyatergantung relay yang
dipergunakan. Pada bagian ini besaran yang masuk akan dirasakan keadaannya, apakah
keadaan yang diproteksi itu mendapatkan gangguan atau dalam keadaan normal, untuk
selanjutnya besaran tersebut dikirim ke elemen pembanding.
b. Elemen Pembanding, elemen ini berfungsi menerima besaran setelah terlebh
dahulu besaran itu diterima oleh elemen pengindera untuk membandingkan besaran
listrik pada saat keadaan normal dengan besaran arus kerja relay.
c. Elemen pengukur, elemen ini berfungsi untuk mengadakan perubahan secara
cepat pada besaran ukurnya dan akan segera memberikan isyarat untuk membuka PMT
atau kmemberikan sinyal.
Transformator arus (CT) berfungsi sebagai alat pengindera yang merasakan
apakah keadaan yang diproteksi dalam keadaan normal atau mendapat gangguan.
Sebagai alat pembanding sekaligus alat pengukur adalah relay, yang bekerja setelah
mendapatkan besaran dari alat pengindera dan membandingkan dengan besar arus
penyetelan dari kerja relay. Apabila besaran tersebut tidak setimbang atau melebihi
besar arus penyetelannya, maka kumparan relay akan bekerja mnearik kontak dengan
cepat atau dengan waktu tunda dan memberikan perintah pada kumparan penjatuh atau
trip-coil untuk bekerja melepas PMT (Dika, 2012)

5. Perlengkapan Gardu Transmisi


A. Busbar atau Rel, Merupakan titik pertemuan/hubungan antara trafo-trafo
tenaga, Saluran Udara TT, Saluran Kabel TT dan peralatan listrik lainnya untuk
menerima dan menyalurkan tenaga listrik/daya listrik.
B. Ligthning Arrester, biasa disebut dengan Arrester dan berfungsi sebagai
pengaman instalasi (peralatan listrik pada instalasi Gardu Induk) dari gangguan
tegangan lebih akibat sambaran petir (ligthning Surge).
C. Transformator instrument atau Transformator ukur, Untuk proses
pengukuran. Antara lain:
a. Transformator Tegangan, adalah trafo satu fasa yang menurunkan tegangan
tinggi menjadi tegangan rendah yang dapat diukur dengan Voltmeter yang
berguna untuk indikator, relai dan alat sinkronisasi.
b. Transformator arus, digunakan untuk pengukuran arus yang besarnya ratusan
amper lebih yang mengalir pada jaringan tegangan tinggi. Disamping itu trafo
arus berfungsi juga untuk pengukuran daya dan energi, pengukuran jarak jauh
dan rele proteksi
c. Transformator Bantu (Auxilliary Transformator), trafo yang digunakan
untuk membantu beroperasinya secara keseluruhan gardu induk tersebut.
D. Sakelar Pemisah (PMS) atau Disconnecting Switch (DS), Berfungsi untuk
mengisolasikan peralatan listrik dari peralatan lain atau instalasi lain yang
bertegangan.
E. Sakelar Pemutus Tenaga (PMT) atau Circuit Breaker (CB), Berfungsi
untuk menghubungkan dan memutuskan rangkaian pada saat berbeban (pada
kondisi arus beban normal atau pada saat terjadi arus gangguan).
F. Sakelar Pentanahan, Sakelar ini untuk menghubungkan kawat konduktor
dengan tanah / bumi yang berfungsi untuk menghilangkan/mentanahkan
tegangan induksi pada konduktor pada saat akan dilakukan perawatan atau
pengisolasian suatu sistem.
G. Kompensator, alat pengubah fasa yang dipakai untuk mengatur jatuh tegangan
pada saluran transmisi atau transformator. SVC (Static Var Compensator)
berfungsi sebagai pemelihara kestabilan
H. Peralatan SCADA dan Telekomunikasi, (Supervisory Control And Data
Acquisition) berfungsi sebagai sarana komunikasi suara dan komunikasi data
serta tele proteksi dengan memanfaatkan penghantarnya.
I. Rele Proteksi, alat yang bekerja secara otomatis untuk mengamankan suatu
peralatan listrik saat terjadi gangguan, menghindari atau mengurangi terjadinya
kerusakan peralatan akibat gangguan (Suprianto, 2015)

6. Komponen Pengaman
1. Komponen pengaman (pelindung) pada transmisi tenaga listrik memiliki fungsi
sangat penting
2. Komponen pengaman pada saluran udara transmisi tegangan tinggi, antara lain
:
a. Kawat tanah, grounding dan perlengkapannya, dipasang di sepanjang jalur
SUTT. Berfungsi untuk mengetanahkan arus listrik saat terjadinya gangguan
(sambaran) petir secara langsung.
b. Pentanahan tiang, Untuk menyalurkan arus listrik dari kawat tanah (ground
wire) akibat terjadinya sambaran petir. Terdiri dari kawat tembaga atau kawat
baja yang di klem pada pipa pentanahan dan ditanam di dekat pondasi tower
(tiang) SUTT.
c. Jaringan pengaman, berfungsi untuk pengaman SUTT dari gangguan yang
dapat membahayakan SUTT tersebut dari lalu lintas yang berada di bawahnya
yang tingginya melebihi tinggi yang dizinkan
d. Bola pengaman, dipasang sebagai tanda pada SUTT, untuk pengaman lalu
lintas udara (Fredya, 2019)

7. Gangguan Sistem Tenaga Listrik


Pada dasarnya suatu sistem tenaga listrik harus dapat beroperasi secara terus
menerus secara normal, tanpa terjadi gangguan. Akan tetapi gangguan pada sistem
tenaga listrik tidak dapat dihindari. Gangguan dapat disebabkan oleh beberapa hal
berikut:
a. Gangguan karena kesalahan manusia (kelalaian)
b. Gangguan dari dalam sistem, misalnya karena faktor ketuaan, arus lebih,
tegangan lebih sehingga merusak isolasi peralatan.
c. Gangguan dari luar, biasanya karena faktor alam. Contohnya cuaca, gempa,
petir, banjir, binatang, pohon dan lain-lain.
A. Jenis-Jenis Gangguan
Jenis gangguan bila ditinjau dari sifat dan penyebabnya dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
a. Beban lebih, ini disebabkan karena memang keadaan pembangkit yang kurang
dari kebutuhan bebannya.
b. Hubung singkat, jika kualitas isolasi tidak memenuhi syarat, yang mungkin
disebabkan faktor umur, mekanis, dan daya isolasi bahan isolator tersebut.
c. Tegangan lebih, yang membahayakan isolasi peralatan di gardu.
d. Gangguan stabilitas, karena hubung singkat yang terlalu lama.
(WidyastutiLN,2019)

8. Parameter Transmisi Tenaga Listrik


Saluran transmisi listrik mempunyai empat parameter yang mempengaruhi
kemampuannya untuk berfungsi sebagai bagian dari suatu sistem tenaga, yaitu
resistansi, induktansi, kapasitansi dan konduktansi. Parameter-parameter ini
merupakan salah satu pertimbangan utama dalam perencanaan saluran transmisi.
Impedansi seri dibentuk oleh resistansi dan induktansi yang terbagi rata disepanjang
saluran. Sedangkan konduktansi dan kapasitansi yang terdapat diantara penghantar-
penghantar dari suatu saluran fasa-tunggal atau di antara sebuah penghantar dan netral
dari suatu saluran tiga-fasa membentuk admitansi paralel. Dalam perhitungan,
rangkaian saluran ekivalen yang dibentuk dari parameter-parameter dijadikan satu
meskipun resistansi, induktansi dan kapasitansi tersebut terbagi merata di sepanjang
saluran.
a. Resistansi
Resistansi efektif (R) dari suatu penghantar adalah:
𝑃
𝑅=
|𝐼 2 |
Dimana: P adalah rugi daya pada penghantar Watt (W)
I adalah kuat arus yang mengalir Ampere (A)
Resistansi efektif sama dengan resistansi dari saluran jika terdapat distribusi
arus yang merata (uniform) di seluruh penghantar. Distribusi arus yang merata di
seluruh penampang suatu penghantar hanya terdapat pada arus searah, sedangkan tidak
pada arus bolak-balik (ac).
Resistansi dc dapat dihitung dengan persamaan di bawah ini:
𝜌𝑙
𝑅0 = (Ω)
𝐴
Dimana:  = resistivitas penghantar (Ω.m)
l = panjang penghantar (m)
A= luas penampang (m2)
Dengan meningkatnya frekuensi arus bolak-balik, distribusi arus makin tidak
merata (nonuniform). Peningkatan frekuensi ini juga mengakibatkan tidak meratanya
kerapatan arus (current density), disebut juga efek kulit (skin effect).
Untuk penghantar dengan jari-jari yang cukup besar ada kemungkinan terjadi
kerapatan arus yang berisolasi terhadap jarak radial dari titik-tengah penampang
penghantar. Fluks bolak-balik mengimbaskan tegangan yang lebih tinggi pada serat-
serat di bagian dalam daripada di sekitar permukaan penghantar, karena fluks yang
meliputi serat dekat permukaan penghantar lebih sedikit daripada fluks yang meliputi
serat di bagian dalam penghantar. Berdasarkan hukum Lenz, tegangan yang
diimbaskan akan melawan perubahan arus yang menyebabkannya, dan meningkatnya
tegangan imbas pada serat-serat di bagian dalam menyebabkan meningkatnya
kerapatan arus pada serat-serat yang lebih dekat ke permukaan penghantar dan karena
itu resistansi efektifnya meningkat. Sehingga dapat dikatakan pada arus bolak-balik
arus cenderung mengalir melalui permukaan penghantar.
Perhitungan resistansi total suatu saluran transmisi ditentukan oleh jenis
penghantar pabrikan, biasanya pabrikan akan memberikan tabel karakteristik listrik
dari penghantar yang dibuatnya, termasuk diantaranya nilai resistansi ac penghantar
dalam satuan Ω/km (Standar Internasional) atau Ω/mi (American Standart).
Nilai resistansi juga dipengaruhi oleh suhu, ditunjukkan oleh persamaan
berikut:
R2 = R1[1  (T2  T1 )]
Dimana : R1 dan R2 adalah resistansi pada saat T1 dan T2
adalah Koefisien suhu dari resistansi, yang nilainya tergantung dari bahan
konduktor.

b. Induktansi
Induktansi adalah sifat rangkaian yang menghubungkan tegangan yang
diimbaskan oleh perubahan fluks dengan kecepatan perubahan arus [2]. Persamaan
awal yang dapat menjelaskan induktansi adalah menghubungkan tegangan imbas
dengan kecepatan perubahan fluks yang meliputi suatu rangkaian. Tegangan imbas
adalah
𝑑𝜏
𝑒=
𝑑𝑡
Dimana: e = Tegangan imbas volt (V)
𝜏 = Banyaknya fluks gandeng rangkaian (weber-turns)
Banyaknya weber-turns adalah hasil perkalian masing-masing weber dari fluks
dan jumlah lilitan dari rangkaian yang digandengkannya. Jika arus pada rangkaian
berubah-ubah, medan magnet yang ditimbulkannya akan turut berubah-ubah. Jika
dimisalkan bahwa media di mana medan magnet ditimbulkan mempunyai
permeabilitas yang konstan, banyaknya fluks gandeng berbanding lurus dengan arus,
dan karena itu tegangan imbasnya sebanding dengan kecepatan perubahan arus,
𝑑𝑖
𝑒=𝐿
𝑑𝑡
Dimana : L = Konstanta kesebandingan induktansi (H)
𝑑𝑖
= Kecepatan perubahan arus (A/s).
𝑑𝑡

Dari persamaan 2. dan 2. maka didapat persamaan umum induktansi saluran


dalam satuan Henry yaitu :
𝜏
𝐿=
𝑖
Dengan i adalah arus yang mengalir dalam satuan ampere (A).
Induktansi timbal-balik antara dua rangkaian didefenisikan sebagai fluks
gandeng pada rangkaian pertama yang disebabkan oleh arus pada rangkaian kedua per
ampere arus yang mengalir di rangkaian kedua. Jika arus I2 menghasilkan fluks

gandeng dengan rangkaian 1 sebanyak 12 maka induktansi timbal baliknya adalah:
ψ12
𝑀12 = (𝐻)
𝐼2

Dimana :ψ = fluks gandeng yang dihasilkan 𝐼2 rangkaian 1 (Wbt)


𝐼2 = Arus yang mengalir pada rangkaian ke 2
Pada saluran tiga fasa induktansi rata-rata satu penghantar pada suatu saluran
ditentukan dengan persamaan:
𝐷𝑒𝑞
𝐿𝑎 = 2 × 10−7 ln (𝐻/𝑀)
𝐷𝑠
𝐷𝑒𝑞
𝐿𝑎 = 2 × 10−7 ln (𝐻/𝑀)
𝐷𝑠𝑏
Dengan;
𝐷𝑒𝑞 3√𝐷12 𝐷23 𝐷31
Dan Ds adalah GMR penghantar tunggal sedangan 𝐷𝑠𝑏 adalah GMR penghantar berkas.
Nilai 𝐷𝑠𝑏 akan berubah sesuai dengan lilitan dalam suatu berkas.
Untuk suatu berkas 2 lilitan :
4
𝐷𝑠𝑏 𝑐 = √(𝑟 × 𝑑)2 = √𝑟 × 𝑑
Untuk suatu berkas 3 lilitan :
9 3
𝐷𝑠𝑏 𝑐 = √(𝑟 × 𝑑 × 𝑑)3 = √𝑟𝑑 2
Untuk suatu berkas 4 lilitan :
16 1
𝐷𝑠𝑏 𝑐 = √(𝑟 × 𝑑 × 𝑑 × 𝑑 × 22 )4 = 1.09 √𝑟𝑑 3
4

Persamaan di atas merupakan persamaan untuk saluran yang telah


ditransposisikan, yaitu suatu metode pengembalian keseimbangan ketiga fasa dengan
mempertukarkan posisi-posisi penghantar pada selang jarak yang teratur di sepanjang
saluran sedemikian rupa sehingga setiap penghantar akan menduduki posisi semula
penghantar yang lain pada suatu jarak yang sama

Gambar 36 Siklus Transposisi


Persamaan ini juga dapat dapat digunakan untuk saluran tiga fasa dengan jarak
pemisah tidak simetris karena ketidaksimetrisan antara fasa-fasanya adalah kecil saja
sehingga dapat diabaikan pada kebanyakan perhitungan induktansi.
c. Kapasitansi
Kapasitansi suatu saluran transmisi adalah akibat beda potensial antara penghantar,
baik antara penghantar-penghantar maupun antara penghantar-tanah. Kapasitansi
menyebabkan penghantar tersebut bermuatan seperti yang terjadi pada pelat kapasitor
bila terjadi beda potensial di antaranya. Untuk menentukan nilai kapasitansi antara
penghantar-penghantar ditentukan dengan persamaan:
𝜋𝑘
𝐶𝑎𝑏 = (𝐹/𝑀)
𝑑
𝑙𝑛 ( 𝑟 )

Jika saluran dicatu oleh suatu transformator yang mempunyai sadapan tengah
yang ditanahkan, beda potensial antara kedua penghantar tersebut dan kapasitansi ke
tanah (kapasitansi ke netral), adalah muatan pada penghantar per satuan beda potensial
antara penghantar dengan tanah. Jadi kapasitansi ke netral untuk saluran dan kawat
adalah dua kali kapasitansi antara penghantar-penghantar
2𝜋𝑘
𝐶𝑎𝑛 = (𝐹/𝑀)
𝑑
𝑙𝑛 ( 𝑟 )

Dimana: 𝐶𝑎𝑏 = 𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑎 − 𝑏 (𝐹/𝑀)


𝐶𝑎𝑛 = 𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑡𝑎𝑛𝑎ℎ (𝐹/𝑀)
K = Permeabilitas bahan Dielektrik
D = Jarak antar penghantar (M)
r = Jari-jari antara penghantar (M)
Persamaan (2.) juga dapat digunakan untuk menentukakan kapasitansi saluran
tiga-fasa dengan jarak pemisah yang sama. Jika penghantar pada saluran tiga-fasa tidak
terpisah dengan jarak yang sama, kapasitansi masing-masing fasa ke netral tidak sama.
Namun untuk susunan penghantar yang biasa, ketidaksimetrisan saluran yang tidak
ditrasnposisikan adalah sangat kecil, sehingga perhitungan kapasitansi dapat
dilakukakan seakan-akan semua saluran itu ditransposisikan. Untuk saluran tiga fasa
yang ditransposisikan, nilai kapasitansi fasa ke netral ditentukan dengan persamaan:
2𝜋𝑘
𝐶𝑛 = (𝐹/𝑀) 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑡𝑢𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙
𝐷𝑒𝑞
𝑙𝑛 ( 𝑟 )
2𝜋𝑘
𝐶𝑛 = (𝐹/𝑀) 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑎𝑠
𝐷𝑒𝑞
𝑙𝑛 ( 𝑏 )
𝐷𝑠 𝐶
Dengan Deq adalah GMR penghantar, r adalah jari-jari penghantar dan Dsb c adalah
GMR penghantar berkas. Nilai Dsb c akan berubah sesuai dengan jumlah lilitan dalam
suatu berkas:
Untuk suatu berkas dua-lilitan;
4
𝐷𝑠𝑏 𝑐 = √(𝑟 × 𝑑)2 = √𝑟 × 𝑑
Untuk suatu berkas tiga-lilitan
9 3
𝐷𝑠𝑏 𝑐 = √(𝑟 × 𝑑 × 𝑑)3 = √𝑟𝑑 2
Untuk suatu berkas empat-lilitan
16 1
𝐷𝑠𝑏 𝑐 = √(𝑟 × 𝑑 × 𝑑 × 𝑑 × 22 )4 = 1.09 √𝑟𝑑 3
4

Untuk menghitung kapasitansi saluran kabel ke tanah perlu menggunakan


metode muatan bayangan, lihat gambar 23. Pada metode ini bumi dapat diumpamakan
dengan suatu penghantar khayal yang bermuatan di bawah permukaan bumi pada jarak
yang sama dengan penghantar asli di atas bumi. Penghantar semacam itu mempunyai
muatan yang sama tetapi berlawanan tanda dengan penghantar aslinya dan disebut
penghantar bayangan. Jika ditempatkan satu penghantar bayangan untuk setiap
penghantar atas-tiang, fluks antara penghantar asli dengan bayangannya adalah tegak
lurus pada bidang yang menggantikan bumi, dan bidang itu adalah suatu permukaan
ekipotensial. Fluks di atas bidang itu adalah sama seperti bila bumi ada tanpa adanya
penghantar bayangan. Persamaan untuk menentukan kapasitansi saluran kabel ke tanah
adalah
2𝜋𝑘
𝐶𝑛 = 3
𝐷𝑒𝑞 √𝐻12 𝐻23 𝐻31
ln ( 𝑏 ) − ln( 3 )
𝐷𝑠 𝑐 √𝐻1 𝐻2 𝐻3
Dimana: 𝐶𝑛 = 𝑘𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑘𝑖 𝑘𝑒 𝑡𝑎𝑛𝑎ℎ (𝐹/𝑀)
H12 = Jarak antara penghantar 1 dengan penghantar bayang 2 (m)
H23 = Jarak antara penghantar 2 dengan bayangan 3 (m)
H31 = Jarak antara penghantar 3 dengan bayangan 1 (m)
H1 = Jarak antara penghantar 1 dengan permukaan bumi (m)
H2 = Jarak antara penghantar 2 dengan permukaan bumi (m)
H3 = Jarak antara penghantar 3 dengan permukaan bumi (m) (Damanik,
2016)
Daftar Pustaka

Nugroho.2012.Saluran Transmisi

https://kelasonlineblog.wordpress.com/saluran-transmisi/

Diakses pada tanggal 14 Februari 2019 pukul 20.00 Wita

Christania.2013.Sistem Transmisi Tenaga

https://www.psychologymania.com/2013/04/sistem-transmisi-tenaga-listrik.html

Diakses pada tanggal 15 Februari 2019 pukul 20.00 Wita

Muk.2012.Transmisi Tenaga Listrik

https://www.warriornux.com/transmisi-tenaga-listrik/

Diakses pada tanggal 15 Februari 2019 pukul 20.00 Wita

Daman.2010.Analisis Andongan

https://daman48.files.wordpress.com/2010/11/materi-7-analisis-andongan-jaringan-
distribusi.pdf

Diakses pada tanggal 16 Februari 2019 pukul 20.00 Wita

Versia.2012.Transmisi Tenaga Listrik

http://anak-elektro-ustj.com/2012/03/sistem-tenaga-listrik-pusat-pembangkit.html

Diakses pada tanggal 15 Februari 2019 pukul 19.00 WITA


WidyastutiLN .2019. Gangguan Sistem Transmisi
https://media.neliti.com/media/publications/189253-ID-none.pdf.
Diakses Pada tanggal 8 Maret 2019 pukul 10.30 WITA

Dinataat, Andi. 2018. Jenis-Jenis Tiang Transmisi Tenaga


https://dalamcangkang.blogspot.com/2018/07/jenis-jenis-tiang-transmisi-tenaga.html
Diakses 2 Maret 2019 pukul 18.00 wita

Damanik, Mulia. 2016. Parameter Transmisi Tenaga Listrik


https://www.slideshare.net/novendro/transmisi-daya-listrik.
Diakses pada tanggal 8 Maret 2019 pukul 11.00 WITA

DS, Hendi. 2014. Isolator Jaringan Transmisi dan Distribusi.


https://www.academia.edu/8216435/Isolator_Jaringan_Transmisi_dan_Distribusi_Te
naga_Listrik.
Diakses 23 Februari 2019 pukul 16.00 Wita

Hilman. 2012. Transmisi Tenaga Listrik


https://hilmanhijriyansyah.wordpress.com/2012/12/10/transmisi-tenaga-listrik/.
Diakses pada tanggal 11 Februari 2019 pukul 16.00 WITA

Kushartadi, Tri. 2010. Kabel Laut


https://trikushartadi.files.wordpress.com/2010/03/kabel-laut-1.
Diakses 22 Februari 2019 pukul 18.00 Wita
Chairul. 2010. Paper Transmission Of Electrical Energy
http://staff.ui.ac.id/system/files/users/chairul.hudaya/material/papertransmissionofele
ctricalenergy.pdf.
Diakses pada tanggal 11 Februari 2019 pukul 18.00 WITA

Ginanto, Novika. 2011. Mencari GMR dan GMD


https://novikaginanto.wordpress.com/2011/11/04/mencari-gmr-dan-gmd-saluran-
transmisi/ .
Diakses Pada tanggal 3 Maret 2019 pukul 13.30 WITA

Holong, Modal. 2011. Isolator Saluran Transmisi Hantaran Udara


https://modalholong.wordpress.com/2011/03/25/isolator-saluran-transmisi-hantaran-
udara/.
Diakses Pada tanggal 5 Maret 2019 pukul 15.00 WITA

Suprianto. 2015. Perlengkapan Gardu Induk


http://blog.unnes.ac.id/antosupri/perlengkapan-gardu-induk/.
Diakses Pada tanggal 10 Maret 2019 pukul 19.00 WITA

Fredya, Ahmad. 2019. Transmisi dan Jaringan PLN


https://www.academia.edu/22906936/Transmisi_dan_Jaringan_PLN.
Diakses pada tanggal 6 Maret 2019 Pukul 18.00 WITA

Nur adha, Bekti. 2019. Kawat Penghantar


https://www.academia.edu/9922806/Kawat_Penghantar.com
Diakses pada tanggal 4 Maret 2019 pukul 19.30 WITA