Anda di halaman 1dari 3

PENDIDIKAN

KEWARGANEGARAAN

Nama : I Dewa Gede Anom Wiratmaja


NIM : 1615113022
No. Absen :4
Kelas : 2C D3 Teknik Sipil
PENTINGNYA ORIENTASI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN

Segala sesuatu pasti mengandung nilai, klaim non-positivisme ini meyakini bahwa tidak
ada sesuatupun yang tidak bebas nilai, begitupun dalam Pancasila yang syarat dengan nilai. Nilai
adalah kualitas yang melekat pada sesuatu, menurut Notonagoro nilai dapat berupa material dan
immaterial. Nilai material dimaksudkan berupa bentuk konkrit atau nyata, bersifat empiris (yang
dibuktikan berdasar pengalaman inderawi). Sementara nilai immaterial berupa kualitas yang
bersifat abstrak, namun dapat dirasakan. Pancasila sendiri lebih kuat atau lebih cenderung
mengandung nilai yang bersifat immaterial, nilai-nilai dasar dari pancasila tersebut adalah nilai
ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Nilai-nilai
tersebut harus menjadi orientasi fundamental (rujukan mendasar) bagi Pendidikan
Kewarganegaraan, sebab civic education di negara-negara selain Indonesia, berbeda dengan
Pendidikan Kewarganegaraan, atau pengalaman kebangsaan dengan masyarakat Indonesia. Hal
pokok yang membedakan dalam pengalaman bernegara dan kebangsaan adalah Pancasila itu
sendiri. Oleh karena itu, Pancasila harus menjadi rujukan nilai bagi Pendidikan
Kewarganegaraan di Indonesia. Pancasila harus menjiwai atau menyinari praktik-praktik
berbangsa, praktik berpolitik, menjadi manusia ekonomi, manusia bersosial dan manusia yang
terkait dengan dunia sekitar.
Namun kini nilai-nilai itu mulai terdegradasi , berarti menurunnya pemahaman,
kepatuhan dan ketaatan terhadap sebuah nilai-nilai inti. Terutama terhadap nilai-nilai moral di
dalam bermasyarakat/berbangsa, bernegara dan bertanah air.
Kecenderungan melemahnya jiwa Pancasila di dada sebagian besar anak bangsa, sebagai
akibat dari euforia reformasi/demokratisasi berlebihan. Serta , kekurangsiapan mental dan
kekurang dewasaan para politisi dan mayoritas masyarakat sebagai pelaku di dalam
berdemokrasi pada era reformasi.
Praktik politik yang kotor begitu maraknya terjadi di Indonesia, hanya dengan uang
semuanya begitu mudah untuk dikuasai, hal seperti ini kerap berdampak menimbulkan
kecemburuan sosial di internal anak bangsa, hingga berbuah kisruh dan turbulensi politik yang
menimbulkan berbagai konflik sosial dan aksi unjuk rasa anarkis yang pada akhirnya
menggoyang kekokohan nilai-nilai dari pada Pancasila.
Nilai-nilai Pancasila harus menjadi acuan dalam sistem pendidikan di Indonesia, begitu
pula dengan orientasinya pada Pendidikan Kewarganegaraan. Hal ini harus digencarkan bahkan
bisa saja dibentuk sebuah lembaga khusus pengajaran, pelatihan, penghayatan dan pengamalan
Pancasila yang pelaksanaannya dilakukan secara teratur, tertib dan berkesinambungan. Lalu
menularkan ilmu dan pengetahuannya secara bijaksana dan rata kepada seluruh putra – putri
Indonesia.
Dengan adanya sistem yang baik dalam orientasi nilai-nilai Pancasila dalam Pendidikan
Kewarganegaraan maka akan terciptanya kembali masyarakat yang patuh pada:
1. Nilai ketuhanan yang mengakuan dan yakin terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam
semesta, pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati kemerdekaan
beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antarumat beragama.
2. Nilai kemanusiaan yang sadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam
hidup.
3. Nilai persatuan yang bermakna persatuan dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa
nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan Indonesia sekaligus
mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa
Indonesia.
4. Nilai kerakyatan yang bermakna suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk
rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan.
5. Nilai Keadilan yang bermakna sebagai dasar sekaligus tujuan, yaitu tercapainya
masyarakat Indonesia yang adil dan makmur secara lahir batin.