Anda di halaman 1dari 6

A.

JUDUL
Dampak Perceraian Terhadap Pembayaran Pajak

B. TUJUAN PENULISAN PAPER


- Mengetahui pembayaran pajak jika terjadi perceraian
- Mengetahui pengurusan wajib pajak setelah terjadi perceraian

C. RANGKUMAN ARTIKEL
Endriko Pudjisaputro, SE.Ak, (11 Mei 2011) menulis tentang perlakuan pajak
atas wajib pajak orang pribadi dengan status hidup berpisah. Dalam hukum
normatif perpajakan, sebuah keluarga dilihat sebagai satu kesatuan entitas yang tidak
terpisah, yang pelaksanaan hak dan kewajibannya diwakili oleh kepala keluarga (dalam
hal ini suami). Namun demikian, ada kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan hal ini
tidak dapat dijalankan sepenuhnya, salah satu contohnya apabila pasangan suami istri
memutuskan untuk tidak melanjutkan kebersamaannya dalam rumah tangga, atau
memutuskan untuk hidup berpisah (bercerai). Pada kejadian perceraian ini, ada aspek
perpajakan yang harus kita cermati, utamanya dalam hal pemenuhan hak dan kewajiban
perpajakan istri yang telah bercerai dari suaminya. Istri yang telah bercerai resmi dari
(mantan) suaminya, tentunya akan menjadi kepala keluarga bagi dirinya dan (mungkin)
anak-anak yang menjadi tanggungannya.
Dalam hukum pajak sebuah keluarga dianggap satu kesatuan yang utuh, yang
pemenuhan hak dan kewajiban perpajakannya dilaksanakan oleh kepala keluarganya,
yaitu Suami. Hal ini sejalan dengan kebiasaan yang lazim terlihat di masyarakat, dimana
kepala keluargalah yang bertanggung jawab dan mennafkahi seluruh anggota
keluarganya.
Akan timbul masalah dalam hal pelaporan SPT Tahunan jika kehidupan rumah
tangga Wajib Pajak kandas di tengah jalan atau bercerai berdasarkan keputusan hakim.
Dalam hukum pajak peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan Hidup Berpisah (HB).
Karena ada kemungkinan wanita kawin (yang sekarang menjanda) sebelumnya tidak
memiliki NPWP.

Kondisi yang harus dicermati berkaitan dengan status baru yang dimiliki oleh
istri yang baru saja bercerai dari suaminya dapat dikelompokkan dalam tiga kondisi,
yaitu :
1. Janda yang tidak memiliki penghasilan
2. Janda yang memperoleh penghasilan dari satu atau lebih pemberi kerja, namun tidak
memiliki usaha dan/atau pekerjaan bebas.
3. Janda memiliki penghasilan, baik dari menjalankan usaha dan/atau melakukan
pekerjaan bebas, dari satu atau lebih pemberi kerja, dari penghasilan yang
dikenakan pajak penghasilan final dan/atau bersifat final, dan dari penghasilan
dalam negeri lainnya atau dari luar negeri.
Wanita bercerai wajib bayar pajak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
menegaskan wanita yang bercerai menjadi subjek pajak. Kewajiban itu hanya dijalankan
wanita yang bercerai oleh karena putusan pengadilan dan ada perjanjian pemisahan
penghasilan dan harta. Sehingga, sekalipun hidup terpisah dengan suami karena putusan
pengadilan, dia harus mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak
(NPWP) sendiri. Terhadap wanita kawin yang tidak hidup terpisah atau tidak melakukan
perjanjian pemisahan penghasilan dan harta secara tertulis, hak dan kewajiban
perpajakannya digabungkan dengan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakan
suaminya (hukumonline.com, 23 Januari 2012).
Arie widodo dan Irfano abdurrasyad franedi (1Juni 2015) menulis tentang
pelajari dan pahami sebelum memilih terpisah. Status kewajiban perpajakan suami-isteri
memili terpisah (MT) adalah status kewajiban perpajakan dimana suami-isteri
menghendaki untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakan secara terpisah.
Apabila status kewajiban perpajakan suami-isteri terpisah, perhitungan PPh terutang
untuk suami dan isteri dihitung berdasarkan perbandingan penghasilan neto mereka.
Wajib pajak yang berstatus perpajakan hidup berpisah dikenai pajak secara terpisah,
karena suami isteri telah hidup berpisah berdasarkan putusan hakim.
Fajar budiman dan nia anggrie pratiwi, (2010) menulis tentang 79 masalah pajak
pribadi dan solusinya. Jika suatu keluarga terjadi perceraian, maka suami dan istri juga
mendapat masalah tentang pajak. Salah satunya jika istri tidak memiliki NPWP
dikarenakan dia ikut dengan milik suami, maka istri haru mengurus NPWPnya. Di
Indonesia, undang-undang perpajakan yang berlaku menganut prinsip keluarga sebagai
satu kesatuan ekonomis. Konsekuensi dari prinsip ini adalah NPWP istri bisa disamakan
dengan NPWP suami. Apabila suami dan istri bercerai, maka istri harus mengurus
NPWP ke kantor pelayanan pajak setempat.
Kewajiban pajak bagi wanita. Ada beberapa kelompok wanita dalam membayar
pajak. Kelompok pertama adalah wanita yang belum pernah menikah dan umurnya di
bawah 18 tahun (anak yang belum dewasa). Pada kelompok ini pajak diikutikan kepada
orangtuanya. Kelompok kedua adalah wanita yang belum pernah menikah dan umurnya
sudah 18 tahun atau lebih. Pemenuhan kewajiban pajak bagi kelompok ini pada
prinsipnya harus diselesaikan dengan NPWP-nya sendiri. Wanita dengan status inilah
tunduk pada aturan pajak secara umum. Kelompok terakhir adalah wanita menikah atau
yang sudah pernah menikah. Berbeda dari dua kelompok lainnya, perlakuan PPh
terhadap kelompok ketiga ini sangatlah variatif dan disesuaikan dengan situasi dan
kondisi wanita yang bersangkutan, khususnya bila dikaitkan dengan ada tidaknya
perjanjian pemisahan harta dan penghasilan serta ada tidaknya penceraian antara suami
istri. Status janda bagi wanita yang pernah menikah bisa terjadi karena berbagai alasan,
karena kematian suami atau atas putusan pengadilan. Apapun alasannya, secara material
kewajiban pajak bagi wanita berstatus janda ini tentunya harus dilakukan sendiri
(Pajakpribadi.com, 2 Januari 2016).

D. PEMBAHASAN
Dalam hukum pajak sebuah keluarga dianggap satu kesatuan yang utuh, yang
pemenuhan hak dan kewajiban perpajakannya dilaksanakan oleh kepala keluarganya,
yaitu Suami. Hal ini sejalan dengan kebiasaan yang lazim terlihat di masyarakat, dimana
kepala keluargalah yang bertanggung jawab dan mennafkahi seluruh anggota
keluarganya.Namun demikian, di zaman sekarang ini, adalah sebuah keniscayaan yang
sudah banyak ditemui, Istri juga memiliki penghasilan, apakah itu penghasilan dari
pekerjaan, penghasilan dari menjalankan kegiatan usaha dan/atau melakukan pekerjaan
bebas, ataupun penghasilan dari penggunaan/pemanfaatan harta.
Dalam hal ini seluruh hak dan kewajiban perpajakan Istri diambil alih dan
dilimpahkan kepada suaminya, sebagai kepala keluarga, termasuk juga seluruh
penghasilan, keuntungan, utang, dan kerugian yang dialami oleh Istri dalam rangka
memperoleh penghasilan tersebut. Perlakuan yang sama juga diterapkan, apabila Wajib
Pajak mempunyai anak yang belum dewasa, namun sudah memiliki penghasilan.
Sehingga dalam satu keluarga, cukup memiliki satu NPWP, atas nama Kepala Keluarga,
dimana seluruh penghasilan anggota keluarga digabungkan seluruhnya dengan
penghasilan Kepala Keluarga.
Akan timbul masalah dalam hal pelaporan SPT Tahunan jika kehidupan rumah
tangga Wajib Pajak kandas di tengah jalan atau bercerai berdasarkan keputusan hakim.
Dalam hukum pajak peristiwa tersebut dikenal dengan sebutanHidup Berpisah (HB).
Karena ada kemungkinan wanita kawin (yang sekarang menjanda) sebelumnya tidak
memiliki NPWP.
Kondisi yang harus dicermati berkaitan dengan status baru yang dimiliki oleh
istri yang baru saja bercerai dari suaminya dapat dikelompokkan dalam tiga kondisi,
yaitu :
1. Janda yang tidak memiliki penghasilan. Harus ditelusuri lebih lanjut, bagaimana dan
siapa yang membiayai kehidupannya sehari-hari. Apabila janda tersebut menerima
santunan dari mantan suaminya, maka perlu ada kepastian status santunan tersebut,
apakah merupakan objek pajak atau bukan, mengingat diantara mereka (duda dan
janda) sudah tidak terikat oleh hubungan kekeluargaan lagi.
2. Janda yang memperoleh penghasilan dari satu atau lebih pemberi kerja, namun tidak
memiliki usaha dan/atau pekerjaan bebas. Dengan keluarnya putusan hakim yang
sudah memiliki kekuatan hukum yang tetap, maka kewajiban mendaftarkan diri
untuk memperoleh NPWP bagi janda pada kondisi ini merupakan sebuah
keniscayaan. Apabila janda tadi hanya memperoleh penghasilan dari satu pemberi
kerja, mungkin tidak akan berpengaruh pada penerimaan pajak, mengingat seluruh
penghasilannya sudah dipotong melalui pemberi kerja. Namun tidak demikian
halnya, apabila janda tadi memiliki penghasilan dari dua atau lebih pemberi kerja,
apalagi jika ditambah memiliki penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan final
dan/atau bersifat final, dan dari penghasilan dalam negeri lainnya.
3. Janda memiliki penghasilan, baik dari menjalankan usaha dan/atau melakukan
pekerjaan bebas, dari satu atau lebih pemberi kerja, dari penghasilan yang
dikenakan pajak penghasilan final dan/atau bersifat final, dan dari penghasilan
dalam negeri lainnya atau dari luar negeri.
Diantara 3 kondisi yang ada tersbut, kondisi ketiga inilah yang selayaknya
mendapat perhatian yang serius, karena memiliki implikasi yang sangat luas dalam
bidang perpajakan.
Alangkah sayangnya, apabila dalam proses perceraian yang sudah memiliki
kekuatan hukum yang tetap, dimana seorang janda memiliki tiga jenis penghasilan
tersebut, namun pada kenyataannya belum memiliki NPWP. Tanpa berbicara
mengenai jumlah pajak yang seharusnya terutang dari janda tersebut, namun yang
pasti kesempatan untuk melakukan intensifikasi sekaligus ekstensifikasi pajak
terlewat begitu saja.
Sebuah upaya menjalin kerja sama dengan intansai terkait, misalnya
Pengadilan Agama, untuk mendapatkan data jumah perceraian yang sudah memiliki
kekuatan hukum yang tetap, dapat dilakukan untuk menjaring jumlah wajib pajak
baru dengan kemungkinan adanya potensi pajak yang masih bisa dikumpulkan.

E. KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa, hampir dari seluruh aspek
kehidupan manusia tidak ada yang terlepas dari unsur perpajakan. Termasuk juga
didalamnya, salah satu kejadian yang mungkin dialami oleh pasangan suami istri yang
sudah berumah tangga. Bisa jadi, dalam perjalanan waktu, kehidupan rumah tangga
suami istri akan kandas di tengah jalan, dan akhirnya mereka memutuskan untuk hidup
berpisah.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadinya perceraian dalam rumah tangga
seorang Wajib Pajak memiliki dampak yang berakibat, baik pada, suami (duda) dan istri
(janda).
Bagi suami (duda), pada pelaporan pajak pada tahun terjadinya perceraian, masih
mendapatkan hak PTKP seperti Wajib Pajak kawin (K/...), karena hak PTKP dilihat pada
keadaan di awal tahun. Namun pelaporan penghasilan dari (mantan) istrinya hanya dapat
dilaporkan sampai dengan bulan sebelum terjadinya perceraian. Barulah di tahun
berikutnya, notasi PTKP untuk duda, menjadi Tidak Kawin (TK/...), sepanjang yang
bersangkutan belum menikah lagi.
Bagi istri (janda), satu bulan setelah proses perceraiannya memiliki kekuatan
hukum yang tetap, maka yang bersangkutan harus mendaftarkan diri guna memperoleh
NPWP. Notasi PTKP yang menjadi haknya tentulah Tidak Kawin (TK/...), karena dia
baru terdaftar pada bagian tahun pajak. Sedangkan penghasilan yang dilaporkannya pada
SPT Tahunan pada tahun terjadinya perceraian, adalah penghasilan setelah terjadinya
perceraian, karena penghasilan sampai dengan bulan sebelum perceraian masih
dilaporkan pada SPT Tahunan (mantan) suaminya. Barulah di tahun berikutnya, janda
tersebut dapat melaporkan seluruh penghasilan yang diterima dan/atau diperolehnya.
Yang tidak kalah pentingnya untuk disikapi adalah, bahwa dari proses perceraian,
ada upaya yang dapat dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam rangka
melaksanakan ekstensifikasi sekaligus intensifikasi. Agar dapat melaksanakan pekerjaan
ini dengan optimal, tentunya diperlukan sebuah upaya untuk bekerja sama dengan
instansi lain, khususnya yang menangani administrasi proses perceraian, seperti
Pengadilan Agama.
Saran
1. Untuk masyarakat secara umum, perlunya memahami aturan wajib pajak, mematuhi
hak dan kewajiban wajib pajak serta mentaati hukum wajib pajak, sehingga tidak
terjadi permasalahan dikemudian hari.
2. Untuk masyarakat secara umum, diharapakan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak
(NPWP).
3. Untuk pasangan suami istri, diharapkan memahami aturan hukum pajak dalam
keluarga.

F. DAFTAR PUSTAKA
1. Pudjisaputro, E. (11 Mei 2015). Perlakuan Pajak Atas Wajib Pajak Orang Pribadi
Dengan Status Hidup Berpisah. Diakses tanggal 30 Desember 2015
http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/167-artikel-pajak/21101-
perlakuan-pajak-atas-wajib-pajak-orang-pribadi-dengan-status-hidup-berpisah
2. Anonim, (23 Januari 2012). Wanita Bercerai, Wajib Bayar Pajak. Diakses tanggal 2
Januari 2016 http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4f1d427d54222/wanita-
bercerai-wajib-bayar-pajak
3. Widodo, A & Franedi, I.A. (1 Juni 2015). Pelajari dan Pahami Sebelum Memilih
Terpisah. Diakses tanggal 2 Januari 2016 http://www.ortax.org/ortax/?
mod=issue&page=show&id=70
4. Anonim, (2 Januari 2016). Kewajiban Pajak bagi Wanita. Diakses tanggal 2 Januari
2016 http://www.pajakpribadi.com/artikel/wanita.htm
5. Budiman, F & Pratiwi, N.A. 2010. 79 Masalah Pajak Pribadi dan Solusisnya.
Jakarta : Penerbit Raih Asa Sukses.