Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Proses penuaan menjadikan seseorang mengalami berbagai perubahan pada jaringan-


jaringan tubuh yang disebabkan karena proses degenerasi. Degenerasi terjadi karena tidak
ada lagi perkembangan dalam sel seperti pada otot, jantung, dan ginjal. Proses degenerasi
hampir mempengaruhi seluruh kemunduran fungsi organ tubuh, salah satunya adalah
fungsi pada sistem urinarius. Penuaan mempengaruhi sistem urinarius dalam berbagai
cara.

Pada lansia yang sehat, kemunduran mungkin tidak akan terlalu mencolok karena
sistem ginjal masih mampu bekerja dengan normal. Namun, pada lansia yang mengalami
kemunduran kesehatan, penuaan pada sistem ginjal menjadi sangat rentan. Berbeda
halnya yang terjadi pada sistem urinarius. Meskipun penuaan tidak langsung berpengaruh
pada inkontinensia, namun penuaan dapat menjadi salah satu faktor risiko
terjadinya inkontinensia. Perubahan fungsi pada traktur urinarius pada lansia dipengaruhi
proses fisiologis penuaan pada sistem tersebut. Kapasitas kandung kemih yang normal
sekitar 300 sampai 600 ml dengan sensasi untuk berkemih sekitar 300 sampai 350 ml.

Berkemih dapat ditunda satu atau dua jam setelah sensai berkemih dirasakan. Pada
orang dewasa hampir semua urin dapat dikeluarkan sehingga tidak meninggalkan residu
urin. Namun, pada lansia tidak semua urin dapat dikeluarkan. Terkadang terdapat residu
urin sekitar 50 ml atau kurang dan masih dianggap adekuat. Namun, jika residu sudah
melebihi 100 ml, maka perlu dicurigai adanya retensi urin. Peningkatan residu urin
ataupun terjadinya inkontinensia dapat disebabkan karena beberpa hal diantaranya
kapasitas kandung kemih yang mengecil karena atrofi otot-otot kandung kemih,
penurunan hormon estrogen pada wanita lansia, dan pembesaran kelenjar prostat pada
pria lansia. Atrofi otot akibat penuaan menyebabkan penurunan kontraksi kandung
kemih.

Sedangkan penurunan hormon estrogen menyebabkan atrofi jaringan uretra dan efek
melahirkan yang dapat dilihat dari melemahnya otot detrusor. Sedangkan pembesaran
kelenjar prostat menyebabkan tekanan pada kandung kemih dan uretra. Penyebab
penyakit ginjal obstrukstif yang paling sering terjadi khususnya pada pria lansia adalah
pembesaran kelenjar prostat atau yang lebih dikenal dengan benign prostate hyperplasia
(BPH). Menurut Siloam Hospital (2011), BPH dan batu ginjal menempati persentase
kasus urologi yang paling umum terjadi di Indonesia, yakni sebesar 75%.

Kelenjar prostat sendiri terletak di antara tulang kemaluan dan dubur, mengelilingi
uretra proksimal. Prostat berbentuk seperti buah kemiri dengan ukuran kira-kira 4x3x2,5
cm dan beratnya kurang lebih 20 gram pada keadaan normal. Pembesaran yang terjadi
pada kelenjar prostat erat kaitannya dengan proses penuaan. Faktor-faktor yang dapat
menyebabkan pembesaran kelenjar prostat diantaranya dihydrotestosteron, perubahan
keseimbangan hormon estrogen-progesteron, interaksi stroma - epitel, berkurangnya sel
yang mati, serta terkait dengan teori sel stem. Namun, dalam beberapa penelitian

1
ditemukan hubungan konsumsi alkohol (Rohrmann, S., Platz, Elizabeth., Giovannuci,
Edward., 2005), obesitas (Kellog parson dkk, 2006), dan peningkatan gula darah (Kellog
parson dkk, 2006) dengan terjadinya BPH.

Penderita BPH umumnya mengalami berbagai gejala seperti memulai fase berkemih
yang lama dan kadang disertai mengedan, terputus-putusnya aliran urin, menetesnya urin
pada akhir BAK, pancaran yang lemah, dan rasa tidak puas saat berkemih. Berbagai
gejala tersebut dikenal dengan istilah LUTS atau lower urinary tract symptoms.

Komplikasi yang umum terjadi pada penderita BPH diantaranya trabekulasi atau
penebalan seratserat detruseor, sarkulasi, divertikel, atau pembentukan batu vesika. Tahap
akhir fase dekompensai berakibat pada vesika urinasia yang tidak dapat mengosongkan
diri sehingga terjadi retensi urin total.

Pengananan BPH dapat dilakukan dalam berbagai cara diantaranya lain watchfull
waiting, medikamentosa, dan tindakan pembedahan. Transurethral resection prostate
(TURP) menjadi salah satu tindakan pembedahan yang paling umum dilakukan untuk
mengatasi pembesaran prostat. Tindakan pembedahan ini dipilih karena memiliki efek
minimal jika dibandingkan dengan jenis pembedahan lainnya.

BAB II
PEMBAHASAN

2
2.1 Anatomi kelenjar prostat
Kelenjar prostat adalah organ tubuh pria yang terletak di sebelah inferior bulibuli
dan membungkus uretra posterior. Paling sering mengalami pembesaran, baik jinak maupun
ganas.Bila mengalami pembesaran, organ ini membuntu uretra pars prostatika dan menghambat aliran
urin keluar dari buli-buli.Benign Prostate Hyperplasia (BPH) merupakan Pembesaran Prostat Jinak
(PPJ) yang menghambat aliran urin dari buli-buli.Pembesaran ukuran prostat ini akibat adanya
hiperplasia stroma dan sel epitelial mulai dari zona periurethra.

Gamba
r 1.

Perbedaan aliran urin dari buli-buli pada prostat normal dan prostat yang
mengalami pembesaran

Bentuk kelenjar prostat sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa ± 20 gram.
Mc Neal (1976) membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona, antara lain: zona perifer, zona sentral,
zona transisional, zona fibromuskuler anterior dan zona periurethra. Sebagian besar hiperplasia prostat
terdapat pada zona transisional, sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer.

2.2 Definisi Benigna Prostat Hyperplasia


Benigna Prostat Hyperplasia (BPH) merupakan perbesaran atau hipertrofi pada
prostat. Banyak klien yang berusia diatas 50 tahun mengalami perbesaran kelenjar
prostat, memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan
menutupi urifisium uretra (Fillingham and Douglas, 2000). Selain itu, BPH juga
merupakan kondisi patologis yang paling umum untuk pria lansia

2.3 Insiden & Epidemiologi


Di seluruh dunia, hampir 30 juta pria yang menderita gejala yang berkaitan dengan pembesaran
prostat, di USA hampir 14 juta pria mengalami hal yang sama. BPH merupakan penyakit tersering
kedua di klinik urologi di Indonesia setelah batu saluran kemih. Sebagai gambaran hospital
prevalence, di RS Cipto Mangunkusumo ditemukan 423 kasus pembesaran prostat jinak yang dirawat

3
selama tiga tahun (1994-1997) dan di RS Sumber Waras sebanyak 617 kasus dalam periode yang
sama.

Penduduk Indonesia yang berusia tua jumlahnya semakin meningkat, diperkirakan sekitar 5%
atau kira-kira 5 juta pria di Indonesia berusia 60 tahun atau lebih dan 2,5 juta pria diantaranya
menderita gejala saluran kemih bagian bawah (Lower Urinary Tract Symptoms/LUTS) akibat BPH.
BPH mempengaruhi kualitas kehidupan pada hampir 1/3 populasi pria yang berumur > 50 tahun.

2.4 Etiologi
Hingga sekarang, penyebab BPH masih belum dapat diketahui secara pasti, tetapi beberapa
hipotesis menyebutkan bahwa BPH erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron
(DHT) dan proses penuaan. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia
prostat :

1. Teori dihidrotestosteron
Pertumbuhan kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon testosteron. Dimana pada kelenjar
prostat, hormon ini akan dirubah menjadi metabolit aktif dihidrotestosteron (DHT) dengan bantuan
enzim 5 α – reduktase. DHT inilah yang secara langsung memicu m-RNA di dalam sel-sel kelenjar
prostat untuk mensintesis protein growth factor yang memacu pertumbuhan kelenjar prostat. Pada
berbagai penelitian, aktivitas enzim 5 α – reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada
BPH. Hal ini menyebabkan sel-sel prostat menjadi lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel
lebih banyak terjadi dibandingkan dengan prostat normal.

Gambar 3.
Teori
Dihidrotestosteron
dalam Hiperplasia
Prostat

2.

4
Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron
Pada usia yang makin tua, kadar testosteron makin menurun, sedangkan kadar estrogen relatif
tetap, sehingga perbandingan estrogen : testosteron relatif meningkat. Estrogen di dalam prostat
berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitivitas
sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen, meningkatkan jumlah reseptor androgen dan
menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat (apoptosis). Akibatnya, dengan testosteron yang menurun
merangsang terbentuknya sel-sel baru, tetapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai umur yang
lebih panjang sehingga massa prostat menjadi lebih besar.

3. Interaksi stroma-epitel
Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel sel epitel prostat secara
tidak langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth factor). Setelah sel stroma
mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol, sel-sel stroma mensintesis suatu growth factor yang
selanjutnya mempengaruhi sel stroma itu sendiri, yang menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel
epitel maupun stroma.

4. Berkurangnya kematian sel prostat


Apoptosis sel pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik homeostatis kelenjar prostat. Pada
jaringan nomal, terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian sel. Berkurangnya
jumlah sel-sel prostat yang apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan makin
meningkat sehingga mengakibatkan pertambahan massa prostat. Diduga hormon androgen berperan
dalam menghambat proses kematian sel karena setelah dilakukan kastrasi, terjadi peningkatan
aktivitas kematian sel kelenjar prostat.

5. Teori sel stem


Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis, selalu dibentuk sel-sel baru. Dalam
kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu sel yang mempunyai kemampuan berproliferasi sangat
ekstensif. Kehidupan sel ini bergantung pada hormon androgen, dimana jika kadarnya menurun
(misalnya pada kastrasi), menyebabkan terjadinya apoptosis. Sehingga terjadinya proliferasi sel-sel
pada BPH diduga sebagai ketidaktepatan aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan
sel stroma maupun sel epitel.

2.5 Patofisiologi Hiperplasia Prostat


Pembesaran prostat menyebabkan terjadinya penyempitan lumen uretra pars prostatika dan
menghambat aliran urin sehingga menyebabkan tingginya tekanan intravesika. Untuk dapat
mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan, menyebabkan
terjadinya perubahan anatomik buli-buli, yakni: hipertropi otot destrusor, trabekulasi, terbentuknya
selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli tersebut dirasakan sebagai
keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS).

Tekanan intravesika yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada
kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini menimbulkan aliran balik dari buli-buli ke
ureter atau terjadinya refluks vesikoureter. Jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter,
hidronefrosis bahkan jatuh ke dalam gagal ginjal.

2.6 Faktor Risiko


a. Kadar hormon
Kadar hormon testosteron yang meningkat berhubungan dengan peningkatan kadar
dihydrotestosteron yang memegang peranan penting terjadinya BPH dan LUTS
(Rohrmann, S., Platz, Elizabeth., Giovannuci, Edward., 2005)

5
b. Usia
Benigna prostat hyperplasia memiliki prevalensi yang tinggi pada lansia. Prevalensi
BPH pada lansia Amerika usia 60 sampai 69 tahun diperkirakan lebih dari 70%. (Parsons,
Kellogg and Kashefi, Carol., 2008)

c. Obesitas
Obesitas berhubungan dengan ukuran prostat dan kecepatan pertumbuhan prostat.
Sebuah studi yang dilakukan pada 158 klien ditemukan pembesaran prostat lebih sering
ditemukan pada klien yang memiliki masalah obesitas, hipertensi dan diabetes tipe 2.
(Parsons, Kellogg and Kashefi, Carol., 2008)

d. Pola diet
Sebuah analisis data dari Health Profesional Follow-up Study, lakilaki dengan total
intake energi tinggi dan intake tinggi protein memiliki peningkatan risiko BPH jika
dibandingkan dengan laki-laki dengan konsumsi energi dan protein yang rendah.
(Rohrmann, S., Platz, Elizabeth., Giovannuci, Edward., 2005)

e. Aktivitas seksual
Saat kegiatan seksual, kelenjar prostat akan mengalami peningkatan tekanan darah
sebelum terjadi ejakulasi. Suplai darah yang tinggi akan menyebabkan kelenjar prostat
menjadi bengkak. Penelitian yang dilakukan James Meigs (2001) menunjukkan laki-laki
yang menikah dan hidup bersama istri memiliki risiko 60% peningkatan gejala klinis.

f. Kebiasaan merokok
Beberapa penelitian tidak menemukan dampak yang signifikan antara aktivitas
merokok dengan peningkatan risiko BPH. Namun, ada sebuah studi yang menunjukkan
perokok berat lebih mudah terkena LUTS jika dibandingkan dengan bukan perokok.
Rokok sendiri meningkatkan konsentrasi testosteron. Peningkatan testosteron
berhubungan dengan peningkatan konsentrasi dihydrotestosteron yang berperan penting
dalam perkembangan BPH dan LUTS. (Rohrmann, S., Platz, Elizabeth., Giovannuci,
Edward., 2005)

g. Kebiasaan minum-minuman beralkohol


Minum-minuman beralkohol dapat meningkatkan risiko terjadinya BPH (Rohrmann,
S., Platz, Elizabeth., Giovannuci, Edward., 2005)

h. Olah raga
Pada pria yang rutin melakukan aktivitas fisik berpeluang lebih kecil untuk
mengalami gangguan pembesaran prostat (Parsons, Kellogg and Kashefi, Carol., 2008)

i. Penyakit diabetes melitus


Sebuah studi yang dilakukan pada 158 klien ditemukan pembesaran prostat lebih
sering ditemukan pada klien yang memiliki masalah obesitas, hipertensi, dan diabetes tipe
2 (Parsons, Kellogg and Kashefi, Carol., 2008)

6
2.7 Manifestasi Klinis

A. Anamnesa
1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
Manifestasi klinis timbul akibat peningkatan intrauretra yang pada akhirnya dapat menyebabkan
sumbatan aliran urin secara bertahap. Meskipun manifestasi dan beratnya penyakit bervariasi, tetapi
ada beberapa hal yang menyebabkan penderita datang berobat, yakni adanya LUTS.

Keluhan LUTS terdiri atas gejala obstruksi dan gejala iritatif. Gejala obstruksi antara lain:
hesitansi, pancaran miksi melemah, intermitensi, miksi tidak puas, menetes setelah miksi. Sedangkan
gejala iritatif terdiri dari: frekuensi, nokturia, urgensi dan disuri.

Untuk menilai tingkat keparahan dari LUTS, bebeapa ahli/organisasi urologi membuat skoring
yang secara subjektif dapat diisi dan dihitung sendiri oleh pasien. Sistem skoring yang dianjurkan oleh
WHO adalah international Prostatic Symptom Score (IPSS). Sistem skoring IPSS terdiri atas 7
pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan LUTS dan 1 pertanyaan yang berhubungan dengan
kualitas hidup pasien. Dari skor tersebut dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu:1,9
Ringan : skor 0-7 Sedang : skor 8-19 Berat : skor 20-35

2. Gejala pada saluran kemih bagian atas


Keluhan dapat berupa gejala obstruksi antara lain, nyeri pinggang, benjolan di pinggang
(hidronefrosis) dan demam (infeksi, urosepsis).

3. Gejala diluar saluran kemih


Tidak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia inguinalis atau hemoroid,
yang timbul karena sering mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan
intraabdominal.

B. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan buli-buli yang penuh dan teraba massa kistik si
daerah supra simpisis akibat retensi urin.1 Pemeriksaan colok dubur atau Digital Rectal Examination
(DRE) merupakan pemeriksaan fisik yang penting pada BPH, karena dapat menilai tonus sfingter ani,
pembesaran atau ukuran prostat dan kecurigaan adanya keganasan seperti nodul atau perabaan yang
keras. Pada pemeriksaan ini dinilai besarnya prostat, konsistensi, cekungan tengah, simetri, indurasi,
krepitasi dan ada tidaknya nodul.

Colok dubur pada BPH menunjukkan konsistensi prostat kenyal, seperti meraba ujung hidung,
lobus kanan dan kiri simetris, dan tidak didapatkan nodul. Sedangkan pada karsinoma prostat,
konsistensi prostat keras dan teraba nodul, dan mungkin antara lobus prostat tidak simetri.

7
Gambar 4.
Pemeriksaan
Colok Dubur

C. Pemeriksaan
Laboratorium
Sedimen
urin diperiksa
untuk mencari
kemungkinan
adanya proses
infeksi atau
inflamasi pada
saluran kemih.
Obstruksi uretra
menyebabkan
bendungan
saluran kemih
sehingga
menganggu faal
ginjal karena
adanya penyulit seperti hidronefrosis menyebabkan infeksi dan urolithiasis.
Pemeriksaan kultur urin berguna untuk mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi dan
sekaligus menentukan sensitivitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan. Pemeriksaan
sitologi urin digunakan untuk pemeriksaan sitopatologi sel-sel urotelium yang terlepas dan terikut
urin. Pemeriksaan gula darah untuk mendeteksi adanya diabetes mellitus yang dapat menimbulkan
kelainan persarafan pada buli-buli. Jika dicurigai adanya keganasan prostat perlu diperiksa penanda
tumor prostat (PSA).

D. Pencitraan
Foto polos perut berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, batu/kalkulosa
prostat atau menunjukkan bayangan buli-buli yang penuh terisi urin, yang merupakan tanda retensi
urin. Pemeriksaan IVP dapat menerangkan adanya :
- Kelainan ginjal atau ureter (hidroureter atau hidronefrosis)
- Memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan dengan indentasi prostat (pendesakan
buli-buli oleh kelenjar prostat) atau ureter bagian distal yang berbentuk seperti mata kail (hooked fish)
- Penyulit yang terjadi pada buli-buli, yakni: trabekulasi, divertikel, atau sakulasi buli-buli

Pemeriksaan IVP tidak lagi direkomendasikan pada BPH.Pemeriksaan USG secara Trans Rectal
Ultra Sound (TRUS), digunakan untuk mengetahui besar dan volume prostat , adanya kemungkinan
pembesaran prostat maligna sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi aspirasi prostat, menentukan
jumlah residual urin dan mencari kelainan lain pada buli-buli. Pemeriksaan Trans Abdominal Ultra
Sound (TAUS) dapat mendeteksi adanya hidronefrosis ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH
yang lama.(purnomo, de jong)

8
Gambar 5.
TransRectal
Ultra Sound
(TRUS)

E.

Pemeriksaan lain
Pemeriksaan derajat obstruksi prostat dapat diperkirakan dengan mengukur:
- Residual urin, diukur dengan kateterisasi setelah miksi atau dengan pemeriksaan ultrasonografi
setelah miksi
- Pancaran urin (flow rate), dengan menghitung jumlah urin dibagi dengan lamanya miksi berlangsung
(ml/detik) atau dengan uroflowmetri.

2.8 Pengobatan
Tujuan terapi:
- Memperbaiki keluhan miksi
- Meningkatkan kualitas hidup
- Mengurangi obstruksi infravesika
- Mengembalikan fungsi ginjal
- Mengurangi volume residu urin setelah miksi
- Mencegah progressivitas penyakit

1. Watchful waiting
Pilihan tanpa terapi ini untuk pasien BPH dengan skor IPSS<7, yaitu keluhan ringan yang tidak
menganggu aktivitas sehari-hari. Pasien hanya diberikan edukasi mengenai hal-hal yang dapat
memperburuk keluhan :
- Jangan mengkonsumsi kopi atau alkohol
- Kurangi makanan dan minuman yang mengiritasi buli-buli (kopi, coklat)
- Kurangi makanan pedas atau asin
- Jangan menahan kencing terlalu lama

2. Medikamentosa
Tujuan:
- Mengurangi resistensi otot polos prostat dengan adrenergik α blocker
- Mengurangi volume prostat dengan menurunkan kadar hormon testosteron melalui penghambat 5α-

9
reduktase Selain itu, masih ada terapi fitofarmaka yang masih belum jelas mekanisme kerjanya.

3. Operasi
Pasien BPH yang mempunyai indikasi pembedahan:
- Tidak menunjukkan pebaikan setelah terapi medikamentosa
- Mengalami retensi urin
- Infeksi Saluran Kemih berulang
- Hematuri
- Gagal ginjal
- Timbulnya batu saluran kemih atau penyulit lain akibat obstruksi saluran kemih bagian bawah

Jenis pembedahan yang dapat dilakukan:


- Pembedahan terbuka (prostatektomi terbuka)
Paling invasif dan dianjurkan untuk prostat yang sangat besar (±100 gram). Merupakan cara
yang paling tua, paling invasif, dan paling efisien diantara tindakan lainnya. Prosedur ini
dapat memberikan perbaikan hingga 95% gejala BPH. Prosedur ini dianjurkan pada
prostat yang volumenya diperkirakan lebih dari 80-100cm3. Namun, prosedur ini dapat
menimbulkan komplikasi striktur uretra dan inkontinensia urin yang lebih sering jika
dibandingkan dengan TURP atau TUIP.

- Pembedahan endourologi Operasi terhadap prostat dapat berupa reseksi (Trans Urethral Resection of
the Prostat/TURP), Insisi (Trans Urethral Incision of the Prostate/TUIP)
atau evaporasi.
1. Insisi prostat terbuka (TUIP)
Insisi leher buli-buli direkomendasikan pada prostat yang ukurannya kecil (kurang
dari 30 cm3). Waktu yang dibutuhkan lebih cepat dan lebih sedikit menimbulkan
komplikasi dibandingkan dengan TURP. Prosedur ini mampu memperbaiki keluhan BPH
meskipun tidak sebaik TURP.

2. Reseksi prostat transuretra (TURP)


Prosedur TURP merupakan prosedur yang paling sering dilakukan oleh ahli urologi
yakni sebanyak 95%. Prosedur TURP lebih sedikit menimbulkan trauma jika
dibandingkan dengan prosedur bedah terbuka dan memerlukan masa pemulihan yang
relatif lebih cepat.
Secara umum, TURP dapat memperbaiki gelaja BPH hingga 90% dan meningkatkan
pancaran urin hingga 100%. Namun, komplikasi yang sering terjadi adalah perdarahan.
Timbulnya penyulit bisanya pada reseksi prostat yang beratnya lebih dari 45 gram, usia
yang lebih dari 80 tahun, klien dengan ASA II-IV, dan lamanya prosedur lebih dari 90
menit yang akan menimbulkan sindroma TUR.

10
Gambar 6.
Trans
Urethral
Resection of
the
Prostat/TUR
P

Selain
tindakan
invasif
tersebut
diatas,
sekarang

dikembangkan tindakan invasif minimal, terutama yang mempunya resiko tinggi terhadap
pembedahan. Tindakan tersebut antara lain: termoterapi, Trans Urethral Needle Ablation of the
Prostat/TUNA, pemasangan stent, High Intensity Focused Ultrasound/HIFU serta dilatasi dengan
balon (Transuethral Ballon Dilatation/TUBD).

11
Gambar 7. Algoritma Penatalaksanaan BPH

2.9 Komplikasi
Beberapa komplikasi mungkin terjadi pada BPH yang telah menjalani prosedur
pembedahan, baik prostatektomi maupun TURP. Berikut beberpa komplikasi yang
mungkin terjadi (Fillingham and Douglas, 2000) :

a. Inkontinensia
Satu persen klien yang menjalani operasi prostatektomi mengalami inkontinensia dalam
jangka waktu yang lama.

b. Striktur
Striktur uretra dapat terjadi sepanjang prosedur operasi.

c. Impotensi
TURP yang diikuti terjadinya impotensi dilaporkan terjadi antara 4% dan 30% (Tanagho
and McAnicnh, 1992).

d. Hemoragi
Perdarahan post operatif terjadi hampir pada 4% klien post operatif. Perdarahan berulang
dapat saja terjadi yang menyebabkan klien harus kembali ke rumah sakit.

e. Kematian
Secara keseluruhan, kematian akibat TURP kurang dari1% dan biasanya terjadi akibat
permasalahan kardiovaskular atau komplikasi pernafasan. Namun, risiko kematian juga
dapat ditimbulkan jika terjadi sindrom TUR dan tidak segera dilakukan penanganan
secara te

BAB III
KESIMPULAN

Proses penuaan membuat seseorang mengalami perubahan pada jaringan tubuhnya


karena proses degenerasi. Hampir seluruh organ dan sistem tubuh mengalami
kemunduran. Salah satunya adalah sistem urinarius. Permasalahan kesehatan yang terkait
sistem urinarius diantaranya BPH, kanker prostat, batu ginjal, kaker kandung kemih dsb.
Menurut Siloam hospital (2011), BPH dan batu ginjal menempati persentase kasus
urologi yang paling umum terjadi di Indonesia, yakni sebesar 75%. Benigna prostate
hyperplasia atau pembesaran prostat merupakan hipertrofi atau pembesaran pada kelenjar
prostat.
Banyak faktor yang menyebabkan pembesaran kelenjar prostat diantaranya faktor
ketidakseimbangan kadar hormon, usia, obesitas, pola diet, aktivitas seksual, kebiasaan
merokok, kebiasaan minum minuman beralkohol, kurang olah raga, dan penyakit diabetes
melitus.
Pengananan BPH dapat dilakukan dalam berbagai cara antaranya lain watchfull
waiting, medikamentosa, dan tindakan pembedahan. Transurethral resection prostate

12
(TURP) menjadi salah satu tindakan pembedahan yang paling umum dilakukan untuk
mengatasi pembesaran prostat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Purnomo. Dasar-Dasar Urologi, Edisi Kedua. Jakarta: CV.Sagung Seto. 2007. 69-85

2. Birowo & Rahardjo. Pembesaran Prostat Jinak. 2000. http://fkui.co.id/urologi/ppj.mht

3. Leveillee. Prostate Hyperplasia, Benign. 2006. http://www.emedicine.com.

4. Fadlol & Mochtar. Prediksi Volume Prostat pada Penderita Pembesaran Prostat Jinak.
Indonesian J of Surgery 2005; XXXIII-4; 139-145

5. Anonim. Normal Prostate and Benign Prostate Hyperplasia. 2008.


http://www_med_nyu_edu/healthwise/media/medical/nci/cdr0000462221/jpg.mht

6. Kim & Belldegrun (eds). Urology Dalam Schwartz’s Manual Of Surgery, 8th
Edition, Brunicardi et al (eds). USA: Mc Graw-Hill Medical Publishing Division.
2006. 1036-1060

7. Suryawisesa, Malawat, Bustan. Hubungan Faktor Geografis Terhadap Skor Gejala


Prostat Internasional (IPSS) Pada Komunitas Suku Makassar Usia Lanjut Tahun
1998. Ropanasuri 1998; XXVI – 4; 1-10

8. Anonim. The Development of Benign Prostate Hiperplasia. 1998.


http://www_lef_org/magazine/graphics/pros1mar98_jpg.mht.

13
9. Sjamjuhidayat & De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC. 2005. 782-6

10. Pheonix 5. Transurethral Prostatectomy. 2002.


http://www_phoenix5_org/glossary/graphics-turp/NIDDK/gif.mht.

14