Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dilihat dari segi sumbernya, perikatan itu ada yang lahir dari undang-undang
dan ada yang lahir dari perjanjian serta sumber-sumber lain yang ditunjuk oleh
undang-undang. Bagian hukum yang mengatur berbagai perikatan yang lahir dari
bermacam-macam sumber dinamakan hukum perikatan. Sedangkan hukum
perjanjian adalah salah satu bagian dari hukum perikatan, yaitu bagian hukum
yang mengatur perikatan-perikatan yang lahir dari perjanjian saja.
Apabila dua orang atau pihak saling berjanji untuk melakukan atau memberikan
sesuatu berarti masing-masing orang atau pihak mengikatkan diri kepada orang
lain untuk melakukan atau memberikan sesuatu yang mereka perjanjikan, dengan
demikian timbul ikatan serta hak dan kewajiban diantara keduanya.
Perjanjian jugamerupakan suatu dasar dari sekian banyak aktivitas keseharian
kita. Melalui akad seoranglelaki disatukan dengan seorang wanita dalam suatu
kehidupan bersama, dan melalui akad juga berbagai kegiatan bisnis dan usaha
dalam memenuhi kebutuhan dan kepentingannya yangtidak dapat dipenuhinya
sendiri tanpa bantuan dan jasa orang lain. Karenanya dapatdibenarkan bila
dikatakan bahwa akad merupakan sarana sosial yang ditemukan olehperadaban
umat manusia untuk mendukung kehidupannya sebagai mahluk sosial.Kenyataan
ini menunjukkan bahwa betapa kehidupan kita tidak lepas dari apa yangnamanya
perjanjian, yang memfasilitasi kita dalam memenuhi berbagai kepentingan
kita.Mengingat betapa pentingnya akad(perjanjian), setiap peradaban manusia
yang pernah munculpasti memberi perhatian dan pengaturan terhadapnya.
Demikian halnya dengan agama Islam,yang memberikan sejumlah prinsip dan
dasar-dasar mengenai pengaturan perjanjiansebagaimana tertuang dalam Al-quran
dan sunnah Nabi Muhammad Saw. Dasar-dasar inikemudian dikembangkan oleh
ahli-ahli hukum islam dari abad ke abad sehingga membentuk apa yang kini
disebut perjanjian syariah atau lebih khusus terhadap akad dalam pembahasan
makalah ini.

B. Rumusan Masalah
C. Tujuan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Akad
Kata akad berasal bahasa Arab al-‘aqd yang berarti perikatan, perjanjian,
persetujuan dan permufakatan. Kata ini juga bisa diartikan tali yang mengikat
karena akan adanya ikatan antara orang yang berakad. Dalam kitab fiqih sunnah,
kata akad diartikan dengan hubungan ( ‫ط‬‫ ) الرربب طط‬dan kesepakatan ( ‫) التتففاَبق‬
‫ت‬
Secara istilah fiqh, akad didefinisikan dengan : Pertalian ijab(pernyataan
melakukan ikatan) dan kabul(peryataan penerimaan ikatan) sesuai dengan
kehendak syariat yang berpengaruh kepada objek perikatan. Pencantuman kata-
kata yang “sesuai dengan kehendak syariat” maksudnya bahwa seluruh perikatan
yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih tidak dianggap sah apabila tidak sejalan
dengan kehendak syara’. Misalnya, kesepakatan untuk melakukan transaksi riba,
menipu orang lain, atau merampok kekayaan orang lain. Adapun pencantuman
kata-kata “berpengaruh kepada objek perikatan” maksudnya adalah terjadinya
perpindahan pemilikan dari satu pihak(yang melakukan ijab) kepada pihak lain
(yang menyatakan kabul).
Hasbi Ash Shiddieqy, yang mengutip definisi yang dikemukakan Al-Sanhury,
akad ialah: “ perikatan ijab kabul yang dibenarkan syara’ yang menetapkan
kerelaan kedua belah pihak”.
Adapula yang mendefinisikan, akad ialah: “Ikatan, pengokohan dan penegasan
dari satu pihak atau kedua belah pihak.”.[3]
Menurut syamsul anwar, akad adalah, “pertemuan ijab dan Kabul sebagai
penyataan
kehendak dua pihak atau lebih untuk mlahirkan suatu akibat hukum
pada objeknya.”
Akad merupakan keterkaitan ataupertemuan ijab dan Kabul yang berakibat
timbulnya akibat hukum. Ijab adalah penawaranyang di ajukan oleh salah satu pihak,
dan Kabul adalah jawaban persetujuan yang diberikanmitra akad sebagai tanggapan
tehadap penewaran pihak pertama. Akad tidak terjadi apabilapernyataan kehendak
masing-masing pihak tidak terkait satu sama lain karena akad adalahketerkaitan
kehendak kedua pihak yang tercermin dalam ijab dan kabul.
Akad merupakan tindakan hukum dua pihak karena akad adalah pertemuan
ijabyang merepresantasikan kehendak dari suatu pihak dan Kabul yang menyatakan
kehendak pihak lain. Ketiga, tujuan akad adalah untuk melahirkan suatu akibat hukum.
[4]
Dapat disimpulkan Akad ialah pertalaian ijab (ungkapan tawaran disatu pihak
yang mengadakan kontrak) dengan kabul (ungkapan penerimaan oleh pihak lain) yang
memberikan pengaruh pada suatu kontrak.
Dasar hukum dilakukannya akad dalam Al-Qur’an adalah Surat Al-Maidah ayat yang
artinya : "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu "
Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami bahwa melakukan isi perjanjian atau
akad itu hukumnya wajib.
Perjanjian atau kontrak dalam istilah hukum Islam biasa disebut dengan “akad”.
Kata
aqad dalam istilah bahasa berarti ikatan dan tali pengikat.
1) Secara etimologi, akad berarti ikatan antara dua perkara, baik ikatan secara nyata
maupun ikatan secara maknawi, dari satu segi maupun dari dua segi. Semua perikatan
yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih, tidak bileh menyimpang dan harus sejalan
dengan kehendak syari’at. Tidak boleh ada kesepakatan untuk menipu orang lain,
transaksi barang-barang yang diharamkan dan kesepakatan untuk membunuh
seseorang.[5]
2) Ikhwan Abidin Basri dalam artikelya yang berjudul, “Teori Akad Dalam Muamalah”
memberikan definisi akad sebagai berikut:
Akad adalah ikatan antara ijab dan Qobul yang diselenggarakan menurut ketentuan
syariah dimana terjadi konsekwensi hukum atas sesuatu yang karenanya akan
diselenggarakan.Ijab adalah ungkapan atau ucapan atau sesuatu yang bermakna
demikian yang datang dari orang yang memiliki barang. Qobul adalah ungkapan atau
ucapan atau sesuatu yang bermakna demikian yang datang dari orang yang akan
dipindahkan kepemilikan barang tersebut kepadanya.[6]
3) Sementara dalam terminologi ulama fiqih akad dapat ditinjau dari dua sisi yakni
umum dan khusus.
Secara umum, pengertian akad dalam arti luas hampir sama dengan akad dari
segi bahasa menurut pendapat ulama syafi’iyyah, Malikiyah dan Hanafiyah yaitu
segalasesuatu yang dikerjakan oleh seseorang berdasarkan keinginannya sendiri,
seperti wakaf, talak, pembebasan atau sesuatu yang pembentukannya membutuhkan
keinginan dua orang seperti jual-beli, perwakilan, dan gadai. Sementara pengertian
akad dalam arti khusus perikatan yang ditetapkan dengan ijab qabul berdasarkan
ketentuan syara’ yang berdampak pada objeknya.
Menurut ulama Mazhab az-Zahiri semua syarat yang telah disepakati oleh
kedua belah pihak yang berakad, apabila tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah
adalah batal.Sedangkan menurut Jumhur ulama fiqih, pada dasarnya pihakpihak yang
berakad itu mempunyai kebebasan untuk menentukan syarat-syarat tersendiri dalam
suatu akad. Namun, hendaknya diingat, bahwa kebebasan menentukan syaratsyarat
dalam akad tersebut, ada yang bersifat mutlak, tanpa batas selama tidak ada larangan
di dalam al-Quran dan Sunnah.[7]

C. Rukun Rukun Akad


Rukun-Rukun Akad sebagai berikut:
1. ‘Aqid, adalah orang yang berakad (subjek akad); terkadang masing-masing pihak
terdiri dari salah satu orang, terkadang terdiri dari beberapa orang. Misalnya, penjual
dan pembeli beras di pasar biasanya masing-masing pihak satu orang; ahli waris
sepakat untuk memberikan sesuatu kepada pihak yang lain yang terdiri dari beberapa
orang.
2. Ma’qud ‘alaih, adalah benda-benda yang akan diakadkan (objek akad), seperti
benda-benda yang dijual dalam akad jual beli, dalam akad hibah atau pemberian,
gadai, dan utang.
Ma’qud ‘Alaih harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :
a. Obyek transaksi harus ada ketika akad atau kontrak sedang dilakukan.
b. Obyek transaksi harus berupa mal mutaqawwim (harta yang diperbolehkan syara’
untuk ditransaksikan) dan dimiliki penuh oleh pemiliknya.
c. Obyek transaksi bisa diserahterimakan saat terjadinya akad, atau dimungkinkan
dikemudian hari.
d. Adanya kejelasan tentang obyek transaksi.
e. Obyek transaksi harus suci, tidak terkena najis dan bukan barang najis.
3. Maudhu’ al-‘aqd adalah tujuan atau maksud mengadakan akad. Berbeda akad maka
berbedalah tujuan pokok akad. Dalam akad jual beli misalnya, tujuan pokoknya yaitu
memindahkan barang dari penjual kepada pembeli dengan di beri ganti.
4. Shighat al-‘aqd, yaitu ijab kabul. Ijab adalah ungkapan yang pertama kali dilontarkan
oleh salah satu dari pihak yang akan melakukan akad, sedangkan kabul adalah
peryataan pihak kedua untuk menerimanya. Pengertian ijab kabul dalam pengalaman
dewasa ini ialah bertukarnya sesuatu dengan yang lain sehingga penjual dan pembeli
dalam membeli sesuatu terkadang tidak berhadapan atau ungkapan yang menunjukan
kesepakatan dua pihak yang melakukan akad, misalnya yang berlangganan majalah,
pembeli mengirim uang melalui pos wesel dan pembeli menerima majalah tersebut dari
kantor pos.[8]
Dalam ijab kabul terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, ulama fiqh
menuliskannya sebagai berikut:
a) Adanya kejelasan maksud antara kedua belah pihak.
b) Adanya kesesuaian antara ijab dan kabul
c) Adanya satu majlis akad dan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak, tidak
menunjukan penolakan dan pembatalan dari keduanya.
d) Menggambarkan kesungguhan kemauan dari pihak-pihak yang bersangkutan, tidak
terpaksa, dan tidak karena di ancam atau ditakut-takuti oleh orang lain karena dalam
tijarah (jual beli) harus saling merelakan.
Ijab kabul akan dinyatakan batal apabila :
a) Penjual menarik kembali ucapannya sebelum terdapat kabul dari si pembeli.
b) Adanya penolakan ijab dari si pembeli.
c) Berakhirnya majlis akad. Jika kedua pihak belum ada kesepakatan, namun keduanya
telah pisah dari majlis akad. Ijab dan kabul dianggap batal.
d) Kedua pihak atau salah satu, hilang kesepakatannya sebelum terjadi kesepakatan.
e) Rusaknya objek transaksi sebelum terjadinya kabul atau kesepakatan.
Mengucapkan dengan lidah merupakan salah satu cara yang ditempuh dalam
mengadakan akad, tetapi ada juga cara lain yang dapat menggambarkan kehendak
untuk berakad. Para ulama fiqh menerangkan beberapa cara yang ditempuh dalam
akad,[9] yaitu :
a) Dengan cara tulisan (kitabah), misalnya dua ‘aqid berjauhan tempatnya, maka ijab
kabul boleh dengan kitabah. Atas dasar inilah para ulama membuat kaidah: “Tulisan itu
sama dengan ucapan”.
b) Isyarat. Bagi orang-orang tertentu akad tidak dapat dilaksanakan dengan ucapan
atau tulisan, misalnya seseorang yang bisu tidak dapat mengadakan ijab kabul dengan
bahasa, orang yang tidak pandai tulis baca tidak mampu mengadakan ijab kabul
dengan tulisan. Maka orang yang bisu dan tidak pandai tulis baca tidak dapat
melakukan ijab kabul dengan ucapan dan tulisan. Dengan demikian, kabul atau akad
dilakukan dengan isyarat. Maka dibuatkan kaidah sebagai berikut: “Isyarat bagi orang
bisu sama dengan ucapan lidah”.
D. Syarat-Syarat Akad
Para ulama fiqh menetapkan, ada beberapa syarat umum yang arus dipenuhi
dalam suatu akad, disamping setiap akad juga mempunyai syarat-syarat khusus.
Syarat-syarat umum suatu akad adalah :
a) Pihak-pihak yang melakukan akad dipandang mampu bertindak menurut hokum
(mukallaf). Apabila belum mampu, harus dilakukan oleh walinya. Oleh sebab itu, suatu
akad yang dilakukan oleh orang yang kurang waras (gila) atau anak kecil yang belum
mukallaf secara langsung, hukumnya tidak sah
b) Obyek Akad, diakui syara’. Obyek akad harus memenuhi syarat :
1) Berbentuk harta
2) Dimiliki seseorang
3) Bernilai harta menurut syara’
Dengan demilian, yang tidak bernilai harta menurut syara’ tidak sah seperti khamar
(minuman keras.
Disamping itu, Jumhur fukaha selain ulama Mazhab Hanafi mengatakan,
bahwa barang najis seperti anjing, babi, bangkai, dan darah tidak boleh dijadikan
obyek akad, karena barang najis tidak bernilai menurut syara.
Menurut mustafa az-Zarqa harta waqaf pun tidak dapat dijadikan sebagai obyek
akad. Sebab harta wakaf bukanlah hak milik yang dapat diperjualbelikan. Harta wakaf
adalah hak milik bersama kaum muslimin, bukan milik pribadi seseorang. Dengan
demikian, harta wakaf sebagai obyek jual beli tidak sah. Lain halnya menurut Mustafa
az-Zarqa’ sewa menyewa
harta wakaf diperbolehkan,karena harta wakaf itu tidak berpindah tangan secara penuh
kepada pihak penyewa. Obyek akad juga harus ada dan dapat diserahkan ketika
berlangsung akad, karena memperjualbelikan sesuatu yang belum ada dan tidak
mampu diserahkan hukumnya tidak sah.
Contohnya seperti menjual padi yang belum berbuah, menjual janin yang masih dalam
kandungan.
Menurut fukaha, ketentuan diatas tidak berlaku terhadap ‘aqd salam (indent),
istishna’ (pesanan barang), dan musaaqah (transaksi antara pemilik kebun dan
pengolahnya). Pengecualiaan ini dibenarkan atas dasar,bahwa akad- akad semacam
itu dibutuhkan masyarakat dan telah menjadi adat kebiasaan yang dilakukan oleh
anggota masyarakat.
c) Akad itu tidak dilarang oleh nash syara’.Atas dasar ini, seorang wali (pemelihara
anak kecil), tidak dibenarkan menghibahkan harta anak kecil tersebut. Seharusnya
harta anak kecil itu dikembangkan , dipelihara, dan tidak diserahkan kepada seseorang
tanpa ada imbalan (hibah). Apabila terjadi akad, maka akad itu akan batal menurut
syara’.
d) Akad yang dilakukan itu mememunuhi syarat- syarat khusus dengan akad yang
bersangkutan, disamping harus memenuhi syarat-syarat umum. Syarat-syarat khusus,
umpamanya: syarat jual- beli berbeda dengan syarat sewa menyewa dan gadai.
e) Akad itu bermanfaat.
f) Ijab tetap utuh smpai terjadi kabul.
g) Ijab dan kabul dilakukan dalam satu majelis, yaitu suatu keadaan yang
menggambarkan proses suatu transaksi.
Syarat-Syarat Akad sebagai berikut:
1. Kedua orang yang melakukan akad cakap bertindak (ahli). Tidak sah akad orang
yang tidak cakap bertindak, seperti orang gila, orang yang berada di pengampuan ,
dan karena boros.
2. Yang di jadikan objek akad dapat menerima hukumnya.
3. Akad itu diizinkan oleh syara’, dilakukan oleh orang yang mempunyai hak
melakukannya, walaupun dia bukan ‘aqid yang memiliki barang.
4. Janganlah akad itu akad yang dilarang oleh syara’ , seperti jual beli mulasamah.
Akad dapat memberikan faedah, sehingga tidaklah sah bila rahn (gadai) dianggap
sebagai imbalan amanah (kepercayaan).
5. Ijab itu berjalan terus, tidak dicabut sebelum terjadi kabul. Maka apabila orang
berijab menarik kembali ijabnya sebelum kabul maka batallah ijabnya.
6. Ijab dan kabul mesti bersambung, sehingga bila seseorang yang berijab telah
berpisah sebelum adanya kabul, maka ijab tersebut menjadi batal.[10]

E. Macam-Macam Akad
Dalam hal pembagian akad ini, ada beberapa macam akad yang didasarkan
atas sudut pandang masing-masing, yaitu:
1. Berdasarkan ketentuan syara’
a. Akad sahih, yaitu akad yang memenuhi unsur dan syarat yang telah ditetapkan oleh
syara’. Akad yang memenuhi rukun dan syarat sebagaimana telah disebutkan di atas,
maka akad tersebut masuk dalam kategori akad sahih. akad yang telah memenuhi
rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Hukum dari akad shahih ini adalah berlakunya
seluruh akibat hukum yang ditimbulkan akad itu dan mengikat pada pihak-pihak yang
berakad.
b. Akad ghairu sahih, yaitu akad yang tidak memenuhi unsur dan syaratnya. akad yang
terdapat kekurangan pada rukun atau syarat-syaratnya, sehinga seluruh akibat hukum
akad itu tidak berlaku dan tidak mengikat pihak-pihak yang berakad.
Dengan demikian, akad semacam ini tidak berdampak hukum atau tidak sah.
Dalam hal ini ulama hanafiyah membedakan antara akad fasid dan akad batal,
dimana ulama jumhur tidak membedakannya. Akad batal adalah akad yang tidak
memenuhi rukun, seperti tidak ada barang yang diakadkan, akad yang dilakukan oleh
orang gila dan lain-lain. Sedangkan akad fasid adalah akad yang memenuhi syarat dan
rukun, tetapi dilarang oleh syara’, seperti menjual narkoba, miras dan lain-lain.
2. Berdasarkan penamaannya, dibagi menjadi:
a. Akad yang sudah diberi nama oleh syara’, seperti jual-beli, hibah, gadai, dan lain-
lain.
b. Akad yang belum dinamai oleh syara’, tetapi disesuaikan dengan perkembangan
zaman.
3. Berdasarkan zatnya, dibagi menjadi:
a. Benda yang berwujud (al-‘ain), yaitu benda yang dapat dipegang oleh indra kita,
seperti sepeda, uang, rumah dan lain sebagainya.
b. Benda tidak berwujud ( ghair al-‘ain), yaitu benda yang tidak dapat kita indra dengan
indra kita, namun manfaatnya dapat kita rasakan, seperti informasi, lisensi, dan lain
sebagainya.[11]
Berakhirnya Akad
1. Berakhirnya masa berlaku akad itu, apabila akad itu mempunyai tenggang waktu.
2. Dibatalkan oleh pihak-pihak yang berakad, apabila akad itu sifatnya tidak mengikat.
3. Dalam akad yang bersifat mengikat, suatu akad dapat dianggap berakhir jika:
a) Jual beli itu fasad, seperti terdapat unsur-unsur tipuan salah satu rukun atau
syaratnya tidak terpenuhi.
b) Berlakunya khiyar syarat, aib, atau rukyat.
c) Akad itu tidak dilaksanakan oleh salah satu pihak
d) Tercapainya tujuan akad itu sampai sempurna.
4. Salah satu pihak yang berakad meninggal dunia.
Hikmah Akad
a) Adanya ikatan yang kuat antara dua orang atau lebih di dalam bertransaksi atau
memiliki sesuatu.
b) Tidak dapat sembarangan dalam membatalkan suatu ikatan perjanjian, karena telah
diatur secara syar’i.
c) Akad merupakan ”payung hukum” di dalam kepemilikan sesuatu, sehingga pihak lain
tidak dapat menggugat atau memilikinya.[12]
Tujuan Akad
Kaidah umum dalam ajaran Islam menentukan bahwa setiap orang yang
melakukan perbuatan dalam keadaan sehat akal dan bebas menentukan pilihan (tidak
dipaksa) pasti memiliki tujuan tertentu yang mendorongnya melakukan perbuatan itu.
Oleh Karen aitu, tujuan akad menduduki peranan penting untuk menentukan suatu
akad dipandang sah atau tidak, halal atau haram. Ini semua berkaitan dengan
hubungan niat dan perkataan dalam akad. Bahkan perbuatan perbuatan bukan akad
pun dapat dipengaruhi halal dan haramnya dari tujuan yang mendorong perbuatan itu
dilakukan. Misalnya, tidur siang, apabila motifnya adalah agar pada malam harinya
tahan tidak tidur untuk bermain judi, maka tidur siang itu menjadi haram.[13]
Masalahnya adalah, jika suatu tindakan tidak mempunyai tujuan yang jelas,
apakah tindakan tersebut tidak mempunyai akaibat hukum? Misalnya, seseorang
berjanji akan memberikan sesuatu kepada orang lain, apakah janji itu mempunyai
akibat hukum, dengan pengertian orang itu dapat dituntut untuk memenuhi janjinya?.
Dalam masalah seperti ini, pendapat Fuqaha’ bermacam-macam, ada yang
mengatakan mempunyai akibat hukum, seperti Ibnu Syubrumah yang mengartakan
bahwa semua janji mempunyai akibat hukum, orang yang berjanji dapat dipaksa untuk
memenuhinya. Menurut pendapat kebanyakan Fuqaha’, janji yang tidak jelas tujuannya
itu tidak mempunyai akibat hukum duniawi, meskipun akan diperhitungkan di hadapan
Allah di akhirat kelak.
Hal tersebut berbeda dengan janji yang tujuannya jelas. Misalnya, apabila
seseorang menyuruh orang lain untuk memberikan suatu barang kepada seseorang,
dengan ketentuan apabila orang yang menerima barang tidak mau membayar
harganya, oaring yang menyurh itu bejanji akan membayarnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan akad memperoleh peran
yang amat penting, apalagi dalam hal muamalat/bisnis. Tanpa ada tujuan yang
jelas, secara otomatis tidak ada yang dapat dilakukan dari terbentuknya akad
tersebut. Sehingga akad tersebut dipandang tidak sah dan tidak memiliki
konsekuensi hukum. Dari sini, diperlukan adanya syarat-sayarat tujuan akad
sebagai berikut:
1. Tujuan akad tidak merupakan kewajiban yang telah ada atas pihak-pihak yag
bersangkutan tanpa akad yang diadakan.. tujuannya hendaknya baru ada padasaat
akad diadakan.
2. Tujuan harus berlangsung adanya hingga berakhirnya pelaksanaan akad. Misalnya
akad untuk menyewa rumah selama lima tahun untuk diambil manfaatnya. Jika belum
ada lima tahun rumah itu telah hancur maka akadnya menjadi rusak karena hilamgnya
tujuan yang hendak dicpai.
3. Tujuan akad harus dibenarkan oleh syara’. Jadi tidak boleh melakukan akad dengan
tujuan yang melanggar ketentuan agama. Misalnya akad untuk melakukan patungan
uang sebagai modal bisnis sabu-sabu.

F. Pengertian Dan Macam- Macam Khiar


1. Pengertian Khiar
Menurut kamus besar bahasa arab al-munawwir, kata-kata khiyar dapat di jumpai
dengan kata-kata “‫ ’‘ الحياَر ولخاتياَر‬artinya pilihan. Sedangkan ‘’ ‫ ’‘ حر ية‬artinya kebebasan
memilih dan ‘’‫ ’‘ احتياَرا‬dengan kemauan sendiri serta ‘’ artinya kebaikan dikiuti kata-kata
“ ‫ ’‘ الخايرية‬berdasarkan kemauan sendiri.
Jadi khiyar secara bahasa dapat diartikan ‘’pilihan, kebebasan memilih, kemauan
sendiri, kebaikan, berdasarkan kemauan sendiri.
Sedangkan menurut istilah yang disebutkan didalam kiitab fiqih islam yaitu
‘’khiyar artinya boleh memilih antara dua, meneruskan aqad jual beli atau di urungkan,
(ditarik kembali tidak jadi jual beli).
Diadakannya khiyar oleh syara’ agar kedua orang yang berjual beli agar dapat
memikirkan kemaslahatan masing-masing lebih jauh. Supaya tidak terjadi penyesalan
di kemudia hari, lantaran merasa tertipu.
Secara terminologis para ulama fiqh mendefinisikan al-khiyar dengan:
‫خاته رفقاَ لتبلطمفتفعاَ تقفدبيتن‬ ‫ضاَتء ابلفعبقتد فوفعفدتم إتبم ف‬
‫ضاَتئته تبففبس ت‬ ‫أفبن فيطكبوفن لتبلطمفتفعاَتقتد ابل ت‬
‫خافياَطرفببيفن إتبم ف‬
Artinya : hak pilih bagi salah satu atau kedua belah pihak yang melaksanakan
transaksi untuk melangsungkan atau membatalkan transaksi yang disepakati sesuai
dengan kondisi masing-masing pihak yang melakukan transaksi.
Pendapat Ahli Fiqih
a. Menurut ulama fiqih pengertian khiyar yaitu

‫او‬ ‫انيكون للمتعاقدالحق في امضاء العقد او فسخه ان كا ن الخيييار شييرط اورءسيية او عيييب‬
‫ان يختاراحد البيعين ان كان الخيارخيار ثعيين‬
Artinya sesuatu keada yang menyebabkan aqid memiliki hak untuk
memutuskan aqadnya, yakni menjadikan atau membatalkannya jika khiyar tersebut
berupa khiyar syarat, ‘aib atau ru’yah, atau hendaklah memilih diantara dua barang jika
khiyar ta’yin.’
b. Menurut dr. H. Hendi suhendi, m.si.
Yatiu menurut agama islam di bolehkan memilih atau melanjutkan jual beli atau
membatalkannya.
c. Menurut asy-syekh muhammad bin qosim al-ghozali
Khiyar adalah bagi penjual dan pembeli ada hak khiyar (memilih) antara meneruskan
atau membatalkan jual belinya.
Maksudnya yaitu bagi penjual dan pembeli ada hak tetap untuk memilih beberapa
macam aqad jual beli di tempatnya (khiyar majlis) seperti pesanan (salam), selama
keuanya belum terpisah artinya suatu masa tidak terpisah kedua belah pihak menurut
kebiasaan.
d. Menurut kompilasi hukum ekonomi syariah
Sedangkan pengertian khiyar menurut kompilasi hukum ekonomi syariah (khes) pasal
20 (8) adalah hak pilih bagi penjual dan pembeli untuk melanjutkan atau membatalkan
akad jual beli yang dilakukannya.
2. Macam- macam Khiar
a) Khiyar Syarat
Yaitu mengadakan khiyar dengan mengambil batas waktu satu, dua atau tiga
hari atau mungkin lebih sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Maka jika telah habis
waktunya maka gugurlah dan jual belinya dianggap positif, tidak bisa dibatalkan lagi.
Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW;
‫كل بيعين ل بيع بينهماَ حت يتفرقاَ البيع الخاياَر‬:‫عن ابن عمر ان النبي صلى ا عليه وسلم قاَل‬.
Dari Ibnu ‘Umar, sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “setiap penjual dan
pembeli tidak ada jual beli di antara mereka sampai keduanya berpisah kecuali khiyar.”
Hadits ini menunjukkan selama belum berpisah keduanya, maka masih bisa
membatalkan jual belinya, kecuali jika ada khiyar, termasuk waktu tertentu yang
disepakati kedua belah pihak.
b) Khiyar masyru’ (disyari’atkan) dan khiyar rusak
1. Khiyar masyru’
Yaitu khiyar yang ditetapkan batasan waktunya. Hal itu didasarkan pada hadits
Rasulullah SAW. tentang riwayat Hibban Ibn Munqid yang menipu dalam jual-beli,
kemudian perbuatannya itu dilaporka kepada Rasulullah SAW ., lalu beliau bersabda:
‫ لخالبةولى الخاياَر ثالثاة اياَم‬:‫اذاباَيعت فقل‬.
“jika kamu bertransaksi (jual-beli), katakanlah, tidak ada penipuan dan saya
khiyar selama tiga hari” (HR. Muslim)
2. Khiyar rusak
Menurut pendapat paling masyhur dikalangan ulama Hanafiyah, Syafi’iyah, dan
Hanabilah, khiyar yang tidak jelas batasan waktunya adalah tidak sah, seperti
pernyataan “saya beli barang ini dengan syarat saya khiyar selamanya.” Perbuatan ini
mengandung unsur jahalah(ketidakjelasan).
c) Khiyar Majlis
Khiyar majlis yaitu memilih antara jadi dan tidak selama masih dalam satu
majlis, sebagaimana dalam hadits dinyatakan:
َ‫البيعاَن باَلخاياَر ماَ لم يتفرقا‬...
“si penjual dan pembeli boleh mengambil khiyar selama keduanya belum
berpisah.”
Maksudnya, jika sudah berpisah maka tidak ada khiyar, sedangkan ukuran
majlisnya itu relatif, bisa kecil seperti keluar dari rumah, bisa lebih besar seperti keluar
dari toko atau mall.

G. Konsekensi Hukumnya
Hukum akad pada masa khiyar
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa tidak terjadi akad pada jual-beli yang
mengandung khiyar, tetapi ditunggu sampai gugurnya khiyar.
Adapun menurut ulama Malikiyah dalam riwayat Ahmad, barang yang ada pada
masa khiyar masih milik penjual, sampai gugurnya khiyar, sedangkan pembeli belum
memiliki hak sempurna terhadap barang.[14]
Ulama Syafi’iyah berpendapat, jika khiyar syarat berasal dari pembeli, barang
menjadi milik pembeli. Sebaliknya, jika khiyar berasal dari penjual, barang menjadi hak
penjual. Jika khiyar syarat berasal dari penjual dan pembeli, ditunggu sampai jelas
(gugurnya khiyar).
Adapun menurut ulama Hanabilah, dari siapapun khiyar berasal, barang tesebut
menjadi milik pembeli. Jual-beli dengan khiyar, sama seperti jual-beli lainnya, yakni
menjadikan pembeli sebagai pemilik barang yang tadinya milik penjual. Mereka
mendasarkan pada hadits Nabi SAW. dari Iibn Umar:
‫من باَع عبدا وله ماَل فماَله للب ئع ال ان يشترط المبتاَع‬
“barang siapa yang menjual hamba yang memiliki harta, maka harta tersebut milik
penjual, kecuali pembeli memberikan syarat.”
Pada hadits tersebut, Rasulullah SAW. menetapkan bahwa harta menjadi milik pembeli
dengan adanya syarat.
PENUTUP

Dapat disimpulkan Akad ialah pertalaian ijab (ungkapan tawaran disatu pihak
yang mengadakan kontrak) dengan kabul (ungkapan penerimaan oleh pihak lain) yang
memberikan pengaruh pada suatu kontrak.
Dasar hukum dilakukannya akad dalam Al-Qur’an adalah Surat Al-Maidah ayat yang
artinya : "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu "
Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami bahwa melakukan isi perjanjian atau
akad itu hukumnya wajib.
Tujuan akad menduduki peranan penting untuk menentukan suatu akad
dipandang sah atau tidak, halal atau haram. Ini semua berkaitan dengan hubungan
niat dan perkataan dalam akad. Bahkan perbuatan perbuatan bukan akad pun dapat
dipengaruhi halal dan haramnya dari tujuan yang mendorong perbuatan itu dilakukan.
Misalnya, tidur siang, apabila motifnya adalah agar pada malam harinya tahan tidak
tidur untuk bermain judi, maka tidur siang itu menjadi haram.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rahman Ghazaly, et.al, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Kencana, 2010)


Abdul Aziz Muhammad Azzam, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Amzah, 2010)
Ahamd Azar Basyir, Asas-Asas Hukum Muamalat,( Yogyakarta: UII Press, cet.
Ke-2, 2004)
Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah, (Yogyakarta: Pustaka
Kencana:2010)
Ghufron A. Mas’adi, Fiqih Muamalah Kontektual, Cet. 1, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada,2002)
Hasbi Ash Shiddieqy, Pengantar Fiqh Muamalah, (Jakarta: Bulan Bintang,
1997)
http://chezam.wordpress.com/2009/10/14/makalah-tentang-akad/(di akses pada
06 September 2017)
M.Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, (Jakarta : PT
RajaGrafindo Persada, 2003)
Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, (Bandung : Pustaka Setia, 2006)
Rasjid, Sulaiman, Fiqih Islam, (Bandung: SINAR BARU ALGENSINDO.
Bandung, 2006)
Syamsul anwar, hukum perjanjian syari’ah (jakarta : garafindo, 2007)