Anda di halaman 1dari 6

A.

Sumber energi otot

Fungsi utama otot rangka adalah berkontraksi dalam rangka menggerakkan anggota tubuh
dan fungsi yang lain adalah menghasilkan panas tubuh, memberi bentuk tubuh serta
melindungi organ yang lebih dalam. Otot dapat berkontraksi dan berelaksasi karena
tersedianya energi dari sistem energi. Melalui kontraksi otot, tubuh manusia mampu
melakukan kerja seperti mesin. Dengan kata lain, otot merupakan mesin pengubah energi
kimia menjadi energi mekanik, yang terwujud dalam suatu kerja atau aktivitas fisik.

Sumber energi dalam proses kontraksi-relaksasi otot yaitu ATP. Sel-sel otot menyimpan
ATP dalam jumlah yang terbatas, namun karena latihan otot membutuhkan ketersediaan ATP
secara konstan untuk memproduksi energi yang dibutuhkan untuk kontraksi, maka berbagai
jalur metabolik harus tersedia di dalam sel dengan kemampuan untuk dapat memproduksi
ATP secara cepat. Sel-sel otot dapat memproduksi ATP dengan salah satu atau kombinasi
dari ketiga jalur metabolik yang tersedia, yaitu:

1. Pembentukan oksidatif dari ATP


Oksigen diperlukan untuk mendukung sistem transpor elektron mitokondria, yang
bersama-sama dengan chemiosmosis oleh ATP synthase, efisien energi yang diambil dari
pemecahan molekul nutrisi dan menggunakannya untuk menghasilkan ATP. Sel-sel otot
dapat membentuk cukup ATP melalui fosforilasi oksidatif. Energi ATP sebanyak 40 ATP
dari bahan dasar glukosa atau FFA akan dibebaskan melalui reaksi katalis dengan bantuan
enzim ATP-ase sehingga menghasilkan ADP, H3PO4, energi untuk kontraksi, dan energi
panas. Karena itulah ketika terjadi proses aktivasi otot suhu tubuh akan meningkat.

2. Pembentukan ATP dari pemecahan phosphocreatine (PC).


Selain ATP, didalam otot juga tersimpan senyawa fosfat seperti fosfokreatin,
fosforilarginin, fosforiltaurosiamin. Fosforil glikosianin, atau fosforrilambisin. Jika
persediaan ATP dalam otot menipis, maka energi dapat diperoleh melalui sistem ATP-PC
atau sistem phosphagen. Proses reaksinya dapat digambarkan sebagai berikut:

Fosfokreatin + ADP  ATP + Kreatin

Ketika latihan dimulai ATP dipecah menjadi ADP + Pi dan bersamaan pada saat itu pula
ATP dibentuk kembali melalui reaksi PC. Meskipun demikian sel sel otot hanya menyimpan
PC dalam jumlah yang sedikit, sehingga jumlah ATP yang dapat dibentuk kembali dari reaksi
pemecahan PC terbatas. Sistem ini menyediakan energi untuk kontraksi otot saat dimulainya
latihan dan pada keadaan latihan dengan jangka waktu pendek dan intensitas tinggi (kurang
dari 5 detik). Pembentukan kembali PC berlangsung pada saat otot pemulihan/istirahat dari
latihan. (Billot M, 2010)

3. Pembentukan ATP melalui proses glikolisis.


Apabila otot bekerja keras dalam waktu lama, oksigen yang masuk akan digunakan
seluruhnya sehingga pasokan oksigen akan berkurang, padahal otot membutuhkan oksigen
untuk memperoleh energi. Jika hal ini terjadi maka otot mendapatkan energi melalui proses
glikolisis anaerob. Glikolisis terjadi di dalam sarkoplasma sel-sel otot yang kemudian
pemecahan satu gugus glukosa akan menghasilkan net gain dari dua molekul ATP dan dua
molekul asam piruvat atau asam laktat. Energi yang dihasilkan dari proses glikolisis tidak
digunakan secara langsung dalam proses kontraksi otot, akan tetapi digunakan untuk
mensintesis fosfokreatin.setelah otot berkontraksi maka 1/5 dari asam laktat akan dioksidasi
menjadi H2O dan CO2, dan energi yang dilepas digunakan untuk mengubah 4/5 asam laktat
menjadi glikogen yang akan disimpan didalam otot.

Pembentukan ATP melalui jalur PC dan glikolisis tidak melibatkan penggunaan oksigen,
sehingga kedua jalur ini disebut jalur anaerobik (tanpa oksigen). Sedangkan pembentukan
oksidatif dari ATP dengan penggunaan oksigen disebut sebagai metabolism aerobik (Billot
M, 2010)

B. Mekanisme kontraksi otot

Suatu teori kontraksi otot yang terkenal dan umum digunakan pada pembelajaran saat ini
yaitu teori pergeseran (sliding theory) yang dikemukakan oleh H. E Huxley, J. Hanson, A. F.
Huxley, dan R. Neederger pada tahun 1954. Munculnya teori ini didasarkan pada hipotesis
sliding filament. Menurut mereka, kontraksi otot tidak disebabkan oleh pemendekan filamen
tetapi sebih disebabkan oleh sliding/pergeseran satu sama lain. Sliding filamen tipis (filamen
aktin) pada sentral sarkomer adalah penyebab peningkatan daerah yang saling tumpang tindih
antar filamen dan menyebabkan pemendekan I dan H band. Apabila otot berkontraksi maka
filamen aktin bergeser ke tengah sarkomer, sedangkan filamen miosin tetap pada tempatnya.

Saraf yang mengaktifkan otot rangka disebut sebagai somatic motor neuron atau serabut
saraf motorik. Proses awal terjadinya kontraksi otot yaitu ketika potensial aksi dihantarkan
sampai pada ujung saraf motorik maka saraf akan melepaskan neurotransmiter asetilkolin ke
dalam celah sinaps. Asetilkolin kemudian berdifusi melalui celah sinaps dan menempel pada
reseptor asetilkolin di sarkolema motor end plate. Penempelan asetilkolin menyebabkan
terbukanya kanal natrium, sehingga ion natrium berdifusi ke dalam membran serabut otot dan
terjadi depolarisasi.

Potensial aksi dihantarkan melalui sistem T tubulus transversus ke retikulum


sarkoplasma. Hal ini akan menyebabkan permeabilitas membran retikulum sarkoplasma
berubah sehingga melepaskan sejumlah ion Ca++ yang telah tersimpan di dalamnya. Ion Ca++
sangat diperlukan dalam kontraksi otot. Ion Ca++ dilepaskan ke sitosol melalui mekanisme
transpor aktif dengan bantuan protein transpor. Ion Ca++ yang sampai ke miofibril kemudian
berikatan dengan troponin C, menyebabkan ikatan troponin I dengan aktin melemah, dan
terjadi pergeseran tropomiosin. Gerakan ini membuka sisi aktif (binding site) aktin, dan
memungkinkan aktin menempel pada filamen miosin sehingga terbentuk cross bridge
(jembatan silang). Agar miofibril mulai dapat kontraksi diperlukan ion Ca++ paling sedikit
10-6 M (Sarifin, 2010).

Proses pergerakan tersebut membutuhkan sejumlah energi, maka ATP dihidrolisis


menjadi ADP dan fosfat dengan bantuan ATP-ase di kepala miosin dan digunakan sebagai
energi kontraksi yang menggerakkan aktin kearah garis M. Adanya energi menyebabkan
terjadinya power stroke antara filamen aktin dan miosin sehingga menyebabkan serabut
tersebut bergeser satu sama lain dan menghasilkan proses kontraksi otot. Ikatan aktin dan
miosin akan terlepas setelah ATP baru menempel pada kepala miosin.

Ion Ca++ didalam sitosol dipompa kembali ke dalam retikulum sarkoplasma secara
transpor aktif. Hal ini menyebabkan berkurangnya akumulasi ion Ca++ di luar retikulum dan
ion Ca ++ tidak berikatan dengan troponin, sehingga interaksi antara aktin dan miosin terhenti,
tropomiosin kembali menutup sisi aktif aktin, dan otot akan berelaksasi. Ion-ion Ca++ akan
disimpan dalam retikulum sarkoplasma sampai potensial aksi otot yang baru datang lagi.
(Campbell, 2012)
Dapus:

Campbell, Neil A, dkk. 2012. Biologi Edisi ke-10th. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Kuntarti. 2006. Fisiologi Otot. Diakses melalui:


http://staff.ui.ac.id/system/files/users/kuntarti/material/fisiologiotot.pdf pada 19
Maret 2019.

Sarifin G. 2010. Kontraksi Otot dan Kelelahan. Jurnal ILARA. 1 (2): 58-60.

Billot M, Martin A, Paizis C, Cometti C, Babault N. 2010. Effects of An Electrostimulation


Training Program on Strength, Jumping, and Kicking Capacities in Soccer Players. J
Strength Cond Res. 24 (5): 1407-13.

Silitonga, Melva, Sinaga, Erlintan. 2011. Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia. Medan:
UNIMED.