Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Era Globalisasi ini kita sering mendengar istilah syndrom nefrotik, hal
ini lumrah terjadi di kehidupan kita, tetapi kadang kita tidak mengetahui
apa syndrome nefrotik itu sebenarnya. Sekarang melalui makalah ini kami
akan membahas mengenai syndrom nefrotik.
Syndrome Nefrotik merupakan keadaan klinis yang ditandai dengan
proteinuria, hipoalbuminemia, hiperkolesterolemia, dan adanya edema.
Kadang-kadang disertai hematuri, hipertensi dan menurunnya kecepatan
filtrasi glomerulus. Sebab pasti belum jelas, dianggap sebagai suatu
penyakit autoimun.
Secara umum etiologi dibagi menjadi nefrotic syndrome bawaan,
sekunder, idiopatik dan sklerosis glomerulus. Penyakit ini biasanya timbul
pada 2/100000 anak setiap tahun. Primer terjadi pada anak pra sekolah dan
anak laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan.
Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan sangat penting
karena pada pasien syndrome nefrotic sering timbul berbagai masalah
yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan manusia. Perawat
diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai. Fokus
asuhan keperawatan adalah mengidentifikasi masalah yang timbul,
merumuskan diagnosa keperawatan, membuat rencana keperawatan,
melaksanakan dan mengevaluasi tindakan yang telah diberikan apakah
sudah diatasi atau belum atau perlu modifikasi.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian sindroma nefrotik?
2. Apa klasifikasi sindoram nefrotik?
3. Apa etiologi sindroma nefrotik?
4. Apa factor resiko sindroma nefrotik?
5. Bagaimana patofisiologi sindroma nefrotik?
6. Apa manifestasi klinis sindroma nefrotik?
7. Bagaimana penataklaksanaan sindroma nefrotik?
8. Bagaimana pemerikasaan diagnostic sindroma nefrotik?
9. Bagaimana proses asuhan keperawatan pada pasien dengan sindroma
nefrotik?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran tentang asuhan keperawatn dengan
sindrom nefrotik serta factor-faktor yang berhubungan dengan masalh
tersebut
2. Tujuan Khusus
Tujuan dari penulisan makalah diharapkan mahasiswa mampu:
a. Mengetahui pengertian sindrom nefrotik
b. Mengetahui klasifikasi sindrom nefrotik
c. Mengetahui etiologi sindrom nefrotik
d. Mengetahui factor resiko sindrom nefrotik
e. Mengetahui patofisologi sindrom nefrotik
f. Mengetahui manifestasi klinis sindrom nefrotik
g. Mengetahui penataklaksanaan sindroma nefrotik
h. Memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada anak yang
sindrom nefrotik

2
D. Manfaat
1. Memahami pengertian dari sindrom nefrotik
2. Memahami klasifikasi dari sindrom nefrotik
3. Memahami etiologi dari penyakit sindrom nefrotik
4. Memahami factor resiko sindrom nefrotik
5. Memahami patofisologi sindrom nefrotik
6. Memahami manifestasi klinis sindrom nefrotik
7. Memahami penataklaksanaan sindroma nefrotik
8. Dapat memberikan yang tepat pada anak yang sindrom nefrotik

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN
Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria,
hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat
hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal ( Ngastiyah, 1997).
Penyakit ini terjadi tiba-tiba, terutama pada anak-anak. Biasanya berupa
oliguria dengan urin berwarna gelap, atau urin yang kental akibat
proteinuria berat ( Mansjoer Arif, dkk. 1999).
Nephrotic Syndrome merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh
adanya injury glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik :
proteinuria, hypoproteinuria, hypoalbuminemia, hyperlipidemia dan
edema (Suryadi, 2001).
Sindroma nefrotik merupakan keadaan klinis yang meliputi proteinuria
massif, hipoalbuminemia, hiperlipemia, dan edema (Wong, Buku Ajar
Keperawatan Pediatrik Vol. 2)

B. KLASIFIKASI
Whaley and Wong (1998) membagi tipe-tipe Syndrom Nefrotik :
1. Sindroma Nefrotik lesi minimal (MCNS : Minimal Change Nefrotik
Sindroma)
Merupakan kondisi yang tersering yang menyebabkan sindroma
nefrotik pada anak usia sekolah.
2. Sindroma Nefrotik Sekunder
Terjadi selama perjalanan penyakit vaskuler kolagen, seperti lupus
eritematosus sistemik dan purpura anafilaktoid, glomerulonefritis,
infeksi sistem endokarditis, bakterialis dan neoplasma
limfoproliferatif.

4
3. Sindroma Nefirotik Kongenital
Faktor herediter sindroma nefrotik disebabkan oleh gen resesif
autosomal. Bayi yang terkena sindroma nefrotik, usia gestasinya
pendek dan gejala awalnya adalah edema dan proteinuria. Penyakit ini
resisten terhadap semua pengobatan dan kematian dapat terjadi pada
tahun-tahun pertama kehidupan bayi jika tidak dilakukan dialisis.

C. ETIOLOGI
Menurut pembagian berdasarkan etiologi (penyebab) dibagi menjadi :

1. Sindroma nefrotik primer yang atau disebut juga Sindroma nefrorik


Idiopatik, yang diduga ada hubungan dengan genetik, imunoligik
dan alergi.
2. Sindroma nefrotik sekunder yang penyebabnya berasal dari ekstra
renal (diluar ginjal). Penyebab SN sekunder adalah sangat banyak,
diantaranya ialah:
a) Infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV),HIV,
infeksi streptococcal, serta endokardtitis.
b) Neoplasma seperti limfoma, leukemia, serta karsinoma (kanker).
c) Obat-obatan seperti penicillamine, captopril, heroin.
d) Penyakit sistemik, contohnya SLE, amiloidosis, kencing manis
(Diabetes), dll
e) Obesitas dan penyakit-penyakit metabolik serta penyakit-
penyakit multisistem lainnya.

3. Sindroma Nefrotik bawaan


Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi
maternofetal. Resisten terhadap suatu pengobatan. Gejala edema
pada masa neonatus. Pernah dicoba pencangklokan ginjal pada
neonatus tetapi tidak berhasil. Prognosis buruk biasanya pasien
meninggal pada bulan-bulan pertama kehidupannya.

5
D. FAKTOR RISIKO
Faktor yang mungkin meningkatkan risiko berkembangnya sindrom
nefrotik, yaitu:
1. Mengalami penyakit macam diabetes, lupus, powder degenerative,
luka pada glomeruli, dan penyakit ginjal lainnya.
2. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan sindrom nefrotik, misalnya
obat anti radang nonsteroid dan antibiotik.
3. Beberapa infeksi meningkatkan risiko sindrom nefrotik termasuk:
HIV, hepatitis B, hepatitis C, dan malaria.

E. PATOFISIOLOGI
Meningkatnya permeabilitas dinding kapiler glomerular akan berakibat
pada hilangnya protein plasma dan kemudian akan terjadi proteinuria.
Lanjutan dari proteinuria menyebabkan hipoalbuminemia. Dengan
menurunnya albumin, tekanan osmotik plasma menurun sehingga cairan
intravaskuler berpindah ke dalam interstitial. Perpindahan cairan tersebut
menjadikan volume cairan intravaskuler berkurang, sehingga menurunkan
jumlah aliran darah ke renal karena hypovolemi.
Menurunnya aliran darah ke renal, ginjal akan melakukan kompensasi
dengan merangsang produksi renin – angiotensin dan peningkatan sekresi
anti diuretik hormon (ADH) dan sekresi aldosteron yang kemudian terjadi
retensi kalium dan air. Dengan retensi natrium dan air akan menyebabkan
edema.
Terjadi peningkatan kolesterol dan trigliserida serum akibat dari
peningkatan stimulasi produksi lipoprotein karena penurunan plasma
albumin dan penurunan onkotik plasma
Adanya hiper lipidemia juga akibat dari meningkatnya produksi
lipopprtein dalam hati yang timbul oleh karena kompensasi hilangnya
protein, dan lemak akan banyak dalam urin (lipiduria)

6
Menurunya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan
disebabkan oleh karena hipoalbuminemia, hiperlipidemia, atau defesiensi
seng.

F. PATHWAY

7
G. MANIFESTASI KLINIS
Sindrom nefrotik biasanya tidak menyakitkan tapi volume air di
dalam tubuh menyebabkan stres dan rasa tidak nyaman. Gejala awal
adalah mata dan pergelangan kaki, lalu kulit dan perut membengkak. Urin
keluar lebih sedikit dan mungkin berbusa. Gejala lainnya meliputi lemas,
kehilangan nafsu makan, dan merasa tidak enak badan. Selain itu, Anda
mungkin memiliki kadar kolesterol yang lebih tinggi karena kerusakan
ginjal. Mungkin masih ada gejala lain yang tidak tercantum di atas. Jika
ingin bertanya tentang tanda ini, konsultasikanlah kepada dokter.

H. KOMPLIKASI
1. Pembekuan Darah
Komplikasi yang didatangkan penyakit ginjal bocor ini tidaklah main
main. Penyakit lain yang bisa saja muncul adalah pembekuan darah.
Karena tidak mampunya glomeruli untuk menyaring darah dengan
baik maka menyebabkan hilangnya protein darah yang seharusnya
membantu mencegah penggumpalan. Hal ini meningkatkan risiko
mengembangkan bekuan darah (trombus) di pembuluh darah.
Kolesterol darah tinggi dan trigliserida darah tinggi. Ketika tingkat
protein albumin dalam darah turun, hati membuat lebih banyak
albumin. Pada saat yang sama, hati akan melepaskan lebih banyak
kolesterol dan trigliserida.
2. Kadar Kolesterol Tinggi, Trigliserida Tinggi Dan Darah Tinggi
Penyakit lain yang dapat dengan mudah timbul karena penyakit ginjal
bocor adalah kadar kolesterol trigliserida tinggi dan darah tinggi.
Penyakit ini muncul karena tingkat protein albumin dalam darah turun
dan melebihi albumin saat bersamaan hati melepaskan lebih banyak
kolesterol trigliserida tinggi dan darah tinggi.
3. Kekurangan gizi
Hilangnya protein darah yang banyak tentunya dapat membuat kondisi
kekurangan gizi, tentunya ini bisa menyebabkan turunnya berat badan.

8
4. Penyakit Ginjal Kronis
Sindrom nefrotik dapat menyebabkan ginjal untuk secara bertahap
kehilangan fungsi mereka dari waktu ke waktu. Jika fungsi ginjal jatuh
cukup rendah, Anda mungkin memerlukan dialisis atau transplantasi
ginjal.

I. PENTALAKSANAAN
Tujuan terapi adalah untuk mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut dan
menurunkan risiko komplikasi.
1. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan sindroma nefrotik hanya bersifat simptomatik, untuk
mengurangi atau menghilangkan proteinuria dan memperbaiki keadaan
hipoalbuminemia, mencegah dan mengatasi komplikasinya, yaitu:
a. stirahat sampai edema tinggal sedikit. Batasi asupan natrium
sampai kurang lebih 1 gram/hari secara praktis dengan
menggunakan garam secukupnya dan menghindari makanan
yang diasinkan. Diet protein 2-3 gram/kgBB/hari.
b. Bila edema tidak berkurang dengan pembatasan garam, dapat
digunakan diuretik, biasanya furosemid 1 mg/kgBB/hari.
Bergantung pada beratnya edema dan respon pengobatan. Bila
edema refrakter, dapat digunakan hididroklortiazid (25-50
mg/hari) selama pengobatan diuretik perlu dipantau
kemungkinan hipokalemi, alkalosis metabolik dan kehilangan
cairan intravaskuler berat.
c. Dengan antibiotik bila ada infeksi harus diperiksa kemungkinan
adanya TBC

9
d. Diuretikum
Boleh diberikan diuretic jenis saluretik seperti hidroklorotiasid,
klortahidon, furosemid atau asam ektarinat. Dapat juga diberikan
antagonis aldosteron seperti spironolakton (alkadon) atau
kombinasi saluretik dan antagonis aldosteron.
e. Kortikosteroid

International Cooperative Study of Kidney Disease in Children


(ISKDC) mengajukan cara pengobatan sebagai berikut :
a. Selama 28 hari prednison diberikan per oral dengan dosis 60
mg/hari/luas permukaan badan (lpb) dengan maksimum 80
mg/hari.
b. Kemudian dilanjutkan dengan prednison per oral selama 28 hari
dengan dosis 40 mg/hari/lpb, setiap 3 hari dalam satu minggu
dengan dosis maksimum 60 mg/hari. Bila terdapat respons, maka
pengobatan ini dilanjutkan secara intermitten selama 4 minggu.
c. Tapering-off: prednison berangsur-angsur diturunkan, tiap
minggu: 30 mg, 20 mg, 10 mg sampai akhirnya dihentikan.
d. Diet
Diet rendah garam (0,5 – 1 gr sehari) membantu menghilangkan
edema. Minum tidak perlu dibatasi karena akan mengganggu
fungsi ginjal kecuali bila terdapat hiponatremia. Diet tinggi
protein teutama protein dengan ilai biologik tinggi untuk
mengimbangi pengeluaran protein melalui urine, jumlah kalori
harus diberikan cukup banyak.
Pada beberapa unit masukan cairan dikurangi menjadi 900
sampai 1200 ml/ hari dan masukan natrium dibatasi menjadi 2
gram/ hari. Jika telah terjadi diuresis dan edema menghilang,
pembatasan ini dapat dihilangkan. Usahakan masukan protein
yang seimbang dalam usaha memperkecil keseimbangan negatif
nitrogen yang persisten dan kehabisan jaringan yang timbul

10
akibat kehilangan protein. Diit harus mengandung 2-3 gram
protein/ kg berat badan/ hari. Anak yang mengalami anoreksia
akan memerlukan bujukan untuk menjamin masukan yang
adekuat.
Makanan yang mengandung protein tinggi sebanyak 3 – 4
gram/kgBB/hari, dengan garam minimal bila edema masih berat.
Bila edema berkurang dapat diberi garam sedikit. Diet rendah
natrium tinggi protein. Masukan protein ditingkatkan untuk
menggantikan protein di tubuh. Jika edema berat, pasien
diberikan diet rendah natrium.
e. Kemoterapi:
Prednisolon digunakan secra luas. Merupakan kortokisteroid
yang mempunyai efek samping minimal. Dosis dikurangi setiap
10 hari hingga dosis pemeliharaan sebesar 5 mg diberikan dua
kali sehari. Diuresis umumnya sering terjadi dengan cepat dan
obat dihentikan setelah 6-10 minggu. Jika obat dilanjutkan atau
diperpanjang, efek samping dapat terjadi meliputi terhentinya
pertumbuhan, osteoporosis, ulkus peptikum, diabeters mellitus,
konvulsi dan hipertensi.
Jika terjadi resisten steroid dapat diterapi dengan diuretika untuk
mengangkat cairan berlebihan, misalnya obat-abatan
spironolakton dan sitotoksik (imunosupresif). Pemilihan obat-
obatan ini didasarkan pada dugaan imunologis dari keadaan
penyakit. Ini termasuk obat-obatan seperti 6-merkaptopurin dan
siklofosfamid.

11
2. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Tirah baring: Menjaga pasien dalam keadaan tirah baring selama
beberapa harimungkin diperlukan untuk meningkatkan diuresis
guna mengurangi edema. Baringkan pasien setengah duduk,
karena adanya cairan di rongga thoraks akan menyebabkan sesak
nafas. Berikan alas bantal pada kedua kakinya sampai pada tumit
(bantal diletakkan memanjang, karena jika bantal melintang
maka ujung kaki akan lebih rendah dan akan menyebabkan
edema hebat).
b. Terapi cairan: Jika klien dirawat di rumah sakit, maka intake dan
output diukur secara cermat da dicatat. Cairan diberikan untuk
mengatasi kehilangan cairan dan berat badan harian.
c. Perawatan kulit. Edema masif merupakan masalah dalam
perawatan kulit. Trauma terhadap kulit dengan pemakaian
kantong urin yang sering, plester atau verban harus dikurangi
sampai minimum. Kantong urin dan plester harus diangkat
dengan lembut, menggunakan pelarut dan bukan dengan cara
mengelupaskan. Daerah popok harus dijaga tetap bersih dan
kering dan scrotum harus disokong dengan popok yang tidak
menimbulkan kontriksi, hindarkan menggosok kulit.
d. Perawatan mata. Tidak jarang mata anak tertutup akibat edema
kelopak mata dan untuk mencegah alis mata yang melekat,
mereka harus diswab dengan air hangat.
e. Penatalaksanaan krisis hipovolemik. Anak akan mengeluh nyeri
abdomen dan mungkin juga muntah dan pingsan. Terapinya
dengan memberikan infus plasma intravena. Monitor nadi dan
tekanan darah.
f. Pencegahan infeksi. Anak yang mengalami sindrom nefrotik
cenderung mengalami infeksi dengan pneumokokus kendatipun
infeksi virus juga merupakan hal yang menganggu pada anak
dengan steroid dan siklofosfamid.

12
g. Perawatan spesifik meliputi: mempertahankan grafik cairan yang
tepat, penimbnagan harian, pencatatan tekanan darah dan
pencegahan dekubitus.
h. Dukungan bagi orang tua dan anak. Orang tua dan anak sering
kali tergangu dengan penampilan anak. Pengertian akan perasan
ini merupakan hal yang penting. Penyakit ini menimbulkan
tegangan yang berta pada keluarga dengan masa remisi,
eksaserbasi dan masuk rumah sakit secara periodik. Kondisi ini
harus diterangkan pada orang tua sehingga mereka mereka dapat
mengerti perjalanan penyakit ini. Keadaan depresi dan frustasi
akan timbul pada mereka karena mengalami relaps yang
memaksa perawatan di rumahn sakit.
i. Bila pasien seorang anak laki-laki, berikan ganjal dibawah
skrotum untuk mencegah pembengkakan skrotum karena
tergantung (pernah terjadi keadaan skrotum akhirnya pecah dan
menjadi penyebab kematian pasien).

13
J. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Urinalisa (protein, eritrosit, silinder)
a. Protein urin – meningkat
b. Urinalisis – cast hialin dan granular, hematuria
c. Dipstick urin – positif untuk protein dan darah
d. Berat jenis urin – meningkat
2. Clearance kreatinin (BUN / SC)
3. Uji darah
a. Albumin serum – menurun
b. Kolesterol serum – meningkat
c. Hemoglobin dan hematokrit – meningkat (hemokonsetrasi)
d. Laju endap darah (LED) – meningkat
e. Elektrolit serum – bervariasi dengan keadaan penyakit
perorangan
4. Biopsi ginjal
Biopsi ginjal merupakan uji diagnostik yang tidak dilakukan secara
rutin (Betz, Cecily L, 2002 : 335).
K. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Lakukan pengkajian fisik, termasuk pengkajian luasnya edema.
b. Kaji riwayat kesehatan, khususnya yang berhubungan dengan
adanya peningkatan berat badan dan kegagalan fungsi ginjal.
c. Observasi adanya manifestasi dari Sindrom nefrotik : Kenaikan
berat badan, edema, bengkak pada wajah (khususnya di sekitar
mata yang timbul pada saat bangun pagi, berkurang di siang hari),
pembengkakan abdomen (asites), kesulitan nafas (efusi pleura),
pucat pada kulit, mudah lelah, perubahan pada urin (peningkatan
volum, urin berbusa).
d. Pengkajian diagnostik meliputi meliputi analisa urin untuk protein,
dan sel darah merah, analisa darah untuk serum protein (total
albumin/globulin ratio, kolesterol) jumlah darah, serum sodium.

14
2. Prioritas Diagnosa Keperawatan
a. Kelebihan volume cairan b. d. penurunan tekanan osmotic plasma.
(Wong, Donna L, 2004 : 550)
b. Perubahan pola nafas b.d. penurunan ekspansi paru (Doengoes,
2000: 177).
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. anoreksia
(Carpenito,1999: 204)
d. Resti infeksi b.d. menurunnya imunitas, prosedur invasif
(Carpenito, 1999:204).
e. Intoleransi aktivitas b.d. kelelahan (Wong, Donna L, 2004:550)
f. Gangguan integritas kulit b.d. immobilitas
(Wong,Donna,2004:550)
g. Gangguan body image b.d. perubahan penampilan. (Wong, Donna,
2004:553).
h. Gangguan pola eliminasi:diare b.d. mal absorbsi.

3. Perencanaan Keperawatan
a. Kelebihan volume cairan b. d. penurunan tekanan osmotic plasma
(Wong, Donna L, 2004 : 550)
Tujuan : tidak terjadi akumulasi cairan dan dapat
mempertahankan keseimbangan intake dan
output.
Kriteria Hasil : menunjukkan keseimbangan dan haluaran,
tidak terjadi peningkatan berat badan, tidak
terjadi edema.
Intervensi:
1) Pantau, ukur dan catat intake dan output cairan
2) Observasi perubahan edema
3) Batasi intake garam
4) Ukur lingkar perut

15
5) timbang berat badan setiap hari
b. Perubahan pola nafas b.d. penurunan ekspansi paru (Doengoes,
2000: 177). Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai program dan
monitor efeknya.
Tujuan : Pola nafas adekuat
Kriteria Hasil : Frekuensi dan kedalaman nafas dalam batas
normal
Intervensi:
1) auskultasi bidang paru
2) pantau adanya gangguan bunyi nafas
3) berikan posisi semi fowler
4) observasi tanda-tanda vital
5) kolaborasi pemberian obat diuretic
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. anoreksia.
(Carpenito,1999: 204)
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil : tidak terjadi mual dan muntah, menunjukkan
masukan yang adekuat, mempertahankan berat
badan
Intervensi:
1) tanyakan makanan kesukaan pasien
2) anjurkan keluarga untuk mrndampingi anak pada saat makan
3) pantau adanya mual dan muntah
4) bantu pasien untuk makan
5) berikan makanan sedikit tapi sering
6) berikan informasi pada keluarga tentang diet klien
d. Resti infeksi b.d. menurunnya imunitas, prosedur invasif.
(Carpenito, 1999:204).
Tujuan : tidak terjadi infeksi

16
Kriteria Hasil : tidak terdapat tanda-tanda infeksi, tanda-tanda
vitl dalam batas normal, leukosit dalam batas
normal.
Intervensi:
1) cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
2) pantau adanya tanda-tanda infeksi
3) lakukan perawatan pada daerah yang dilakukan prosedur
invasif
4) anjurkan keluarga untuk mrnjaga kebersihan pasien
5) kolaborasi pemberian antibiotic
e. Intoleransi aktivitas b.d. kelelahan. (Wong, Donna L, 2004:550)
Tujuan : pasien dapat mentolerir aktivitas dan
mrnghemat energi
Kriteria Hasil : menunjukkan kemampuan aktivitas sesuai
dengan kemampuan, mendemonstrasikan
peningkatan toleransi aktivitas
Intervensi:
1) pantau tingkat kemampuan pasien dalan beraktivitas
2) rencanakan dan sediakan aktivitas secara bertahap
3) anjurkan keluarga untuk membantu aktivitas pasien
4) berikan informasi pentingnya aktivitas bagi pasien
f. Gangguan integritas kulit b.d. immobilitas(Wong,Donna,2004:550)
Tujuan : tidak terjadi kerusakan integritas kulit
Kriteria Hasil : integritas kulit terpelihara, tidak terjadi kerusakan
kulit
Intervensi:
1) inspeksi seluruh permukaan kulit dari kerusakan kulit dan
iritasi
2) berikan bedak/ talk untuk melindungi kulit
3) ubah posisi tidur setiap 4 jam

17
4) Gunakan alas yang lunak untuk mengurangi penekanan
pada kulit.
g. Gangguan body image b.d. perubahan penampilan. (Wong, Donna,
2004:553).
Tujuan : tidak terjadi gangguan boby image
Kriteria Hasil : menytakan penerimaan situasi diri,
memasukkan perubahan konsep diri tanpa harga
diri negatif
Intervensi:
1) gali perasaan dan perhatian anak terhadap penampilannya
2) dukung sosialisasi dengan orang-orang yang tidak terkena
infeksi
3) berikan umpan balik posotif terhadap perasaan anak

h. Gangguan pola eliminasi:diare b.d. mal absorbsi.


Tujuan : tidak terjadi diare
Kriteria Hasil : pola fungsi usus normal, mengeluarkan feses lunak
Intervensi:
1) observasi frekuensi, karakteristik dan warna feses
2) identifikasi makanan yang menyebabkan diare pada pasien
3) berikan makanan yang mudah diserap dan tinggi serap.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria,
hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat
hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal ( Ngastiyah, 1997).
Nephrotic Syndrome merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh
adanya injury glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik :
proteinuria, hypoproteinuria, hypoalbuminemia, hyperlipidemia dan
edema (Suryadi, 2001).

B. Saran

19
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Sudarth. 2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi :8
vol:3.Jakarta: EGC

Donna L, Wong. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Anak, alih bahasa: Monica
Ester. Jakarta: EGC.

Doengoes, Marilyinn E, Mary Frances Moorhouse. 2000. Nursing Care Plan:


Guidelines for Planning and Documenting Patient Care (Rencana Asuhan
Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien), alih bahasa: I Made Kariasa. Jakarta: EGC.

Linda Juall Carpenito-moyet. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10.
EGC: Jakarta

Mutaqqin, Arif dan Sari, Kumala. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Integumen. Jakarta: Salemba Medika

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit Edisi 2. ECG: Jakarta.

Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Harif.2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Media dan NANDA NIC-NOC Jilid 2.Yogyakarta:
Med Action Publishing

Syaifuddin.2011.Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk


Keperawatan dan Kebidanan Edisi 4.Jakarta: EGC

Sloane Ethel.2003.Anatomi dan Fisiologi.Jakarta.EGC

20