Anda di halaman 1dari 11

Aljabar Linier Elementer

CRITICAL BOOK REPORT

Dosen Pengampu: Erlinawaty Simanjuntak, S.Pd., M.Si.

Oleh :

KELOMPOK 2

Nama : Anjel Christi Damanik (4173311008)

Enni Fransiska Simamora (4173311037)

Eliezer Br. Sembiring (4173311029)

Siti Nur Aisyah (4173311095)

Kelas : Pendidikan Matematika E 2017

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan Rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada bapak/ibu dosen yang sudah
memberikan bimbingannya.

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas
dalam mata kuliah Aljabar Linier Elementer. Adapun tugas yang diberikan yakni
tentang “CRITICAL BOOK REPORT”.

Dalam tugas critical book report ini mahasiswa diharapkan mampu


berfikir kritis dalam mengemukakan pendapat tentang suatu buku, memahami
seluruh maupun sebagaian dari buku sehingga dapat menambah wawasan. Dengan
adanya makalah ini diharapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran dan
mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan.

Penulis sangat menyadari bahwa tulisan ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan yang disebabkan oleh keterbatasan dan kemampuan penulis. Oleh
karena penulis meminta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan penulis juga
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan
makalah ini. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih semoga makalah ini
dapat bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan bagi para pembaca.

Medan, Maret 19

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii

DAFTAR ISI ................................................................................................ ...... iii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 2

2.1 Identitas Buku .......................................................................................... 2


2.2 Ringkas Buku ........................................................................................... 2
2.3 Kajian Penilaian Buku ............................................................................. 7

BAB III PENUTUP ...................................................................................... ..... 11

3.1 Kesimpulan ........................................................................................ ..... 11


3.2 Saran .................................................................................................. ..... 12

LAMPIRAN .................................................................................................. ..... 13

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari kita sering berhadapan dengan persoalan yang apabila
kita telusuri ternyata merupakan masalah matematika. Dengan mengubahnya kedalam
bahasa atau persamaan matematika maka persoalan tersebut lebih mudah diselesaikan.
Tetapi terkadang suatu persoalan sering kali memuat lebih dari dua persamaan dan
beberapa variabel, sehingga kita mengalami kesulitan untuk mencari hubungan antara
variabel-variabelnya. Bahkan dinegara maju sering ditemukan model ekonomi yang harus
memecahkan suatu sistem persamaan dengan puluhan atau ratusan variabel yang nilainya
harus ditentukan.
Matriks, pada dasarnya merupakan suatu alat atau instrumen yang cukup ampuh untuk
memecahkan persoalan tersebut. Dengan menggunakan matriks memudahkan kita untuk
membuat analisa-analisa yang mencakup hubungan variabel-variabel dari suatu persoalan.
Pada awalnya matrik ditemukan dalam sebuah studi yang dilakukan oleh seorang ilmuan
yang berasal dari Inggris yang bernama Arthur Cayley (1821-1895) yang mana studi yang
dilakukan untuk meneliti persamaan linier dan transformasi linear, awal dari semua ini
matrik dianggap sebagai sebuah permainan karena matrik dapat diaplikasikan, sedangkan
pada tahun 1925 matrik digunakan sebagai kuantum dan pada perkembangannya matrik
digunakan dalam berbagai bidang

1.2 Rumusan Masalah


1.3 Tujuan

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 IDENTITAS BUKU


Buku Utama
 Judul Buku : Aljabar Linier Elementer
 Nama Penulis : - Drs. Yasifati Hia., M.Si.
- Erlinawaty Simanjuntak., S.Pd., M.Si.
- Nurul Afni Sinaga, S.Pd., M.Si.
 Tahun Terbit : 2019
 Kota Terbit : Medan
 Penerbit : UNIMED Press
 Halaman : 116 halaman

Buku Pembanding
 Judul Buku : Aljabar Linier
 Nama Penulis : Wono Setya Budhi
 Tahun Terbit : 1995
 Kota Terbit : Jakarta
 Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
 Cetakan : Pertama (1)
 Halaman : 448 halaman

2.2 RANGKUMAN/INTI SARI


 BUKU UTAMA
Aljabar Matriks
Definisi 1.5
Matriks ialah suatu susunan bilangan yang berbentuk persegi panjang. Cara yang
digunakan untuk menuliskan sebuah matriks dengan m baris dan m kolom adalah:

𝑎11 𝑎12 ⋯ 𝑎1𝑗 ⋯ 𝑎1𝑛


𝑎21 𝑎22 ⋯ 𝑎2𝑗 ⋯ 𝑎2𝑛
⋮ ⋮ ⋮ ⋮
𝐴= 𝑎 ⋯ 𝑞 ⋯
𝑖1 𝑎𝑖2 𝑖𝑗 𝑎𝑖𝑛
⋮ ⋮ ⋮ ⋮
⋯ 𝑎 ⋯
𝑎
[ 𝑚1 𝑎𝑚2 𝑚𝑗 𝑎𝑚𝑛 ]

Matriks A dikatakan berukuran 𝑚 × 𝑛 (ukuran baris selalu lebih dulu) dan unsur 𝑎𝑖𝑗
berada pada baris I dan kolom j. dua matriks dikatakan sama jika keduanya sama dalam
segala hal. Dengan kata lain ukurannya sama dan mempunyai unsure yang sama dalam setiap
posisi.

2
Suatu matriks dinamakan matriks segitiga atas (upper iringular) jika semua unsur
segitiga bawahnya nol, dengan kata lain unsure yang tidak nol merupakan unsure diagonal
atau unsure segitiga atas. Suatu matriks dinamakan matriks segitiga bawak (lower triangular)
jika semua unsure segitiga atasnya nol. Suatu matriks dinamakan matriks diagonal jika
matriks ini berbentuk bujur sangkar (m=n ) dan semua unsure bukan nol, artinya 𝑎𝑖𝑗 = 0 jika
𝑖 ≠ 𝑗.

1 0 0 1 0 0 1 2 1 1
𝐷 = [0 3 0], 𝐿 = [2 0 0], 𝑈 = [0 3 2 3], 𝑅 = [1 2 3]
0 0 2 3 3 5 0 0 4 5
5 0 3 2 0 0 0
𝐶 = [6] , 𝐴 = [3 0 5] , 𝑑𝑎𝑛 𝑍 = [0 0 0]
3 2 6 0 0 0 0

D dan Z adalah matriks diagonal, L, D dan Z matriks segitiga bawah , U , D, dan Z


matriks segitiga atas, R matriks baris (m = l), c matriks kolom (n=l) dan D, L, A dan Z adalah
matriks persegi atau matriks bujur sangkar, sedangkan U, R, C bukan matriks persegi.

Defenisi 1.6

Jika matriks A dan B berukuran sama, maka jumlah A + B ialah yang diperoleh
melalui penjumlahan unsur-unsur matriks A dan B yang seletak ; dengan kata lain, jika A dan
keduanya berukuran m x n, maka C = A + B adalah matriks berukuran m x n yang unsur-
unsurnya memenuhi

Cij = aij + bij ; i = 1,2,...,m,j=1,2,...,n.

Jika A dan B berukuran tidak sama, jumlah keduanya tidak didefenisikan.

Contoh 1

Untuk matriks-matriks

2 0 1 5 1 2 3 0 1 1
A = [4 3], B = [0 3], C = [4 5 6], dan D = [2 0 2]
6 7 2 6 7 8 9 3 3 0
Kita peroleh, berdasarkan defenisi 1.6,

3 5 1 3 4
A + B = [4 6 ], dan C + D = [ 6 5 8]
8 13 10 11 9
Perhatikan bahwa A + C, A + D, B + C, dan B + D tidak didefenisikan.

3
Defenisi 1.7

Jika sembarang matriks dan k sembarang bilangan rill, maka kelipatan skalar kA ialah
matriks yang diperoleh dengan mengalikan setiap unsur matriks A dengan k. Kita defenisikan
kebalikan penjumlahan atau lawan penjumlahan matriks A sebagai –A = (-1)A.

Contoh :

Jika A, B, C, dan D adalah matriks-matriks pada contoh 1, maka

2 0 1 5 4 0 3 15 7 15
2A + 3B = 2[4 3] + 3[0 3] = [ 8 6 ] + [0 9 ] = [ 8 15]
6 7 2 6 12 14 6 18 18 32
1 2 3 −1 −2 −3 0 0 0
C – C = C + (-1)C = [4 5 6] [−4 −5 −6] = [0 0 0] = Z.
7 8 9 −7 −8 −9 0 0 0
Matriks Z, yang semua unsurnya nol, dinamakan matriks nol. Kita akan
melambangkan matriks nol dengan Z atau nol; salah pengertian tidak akan terjadi akibat
penggunaan notasi yang sama untuk skalar nol dan matriks nol.

Operasi aljabar yang penting lainnya adalah perkalian matriks. Pertama-tama akan diberikan
definisi untuk sebuah kasus khusus.

 BUKU PEMBANDING
BAB I
SISTEM PERSAMAAN LINIER

1.3. Matriks dan Eliminasi Gauss


Kita telah mempelajari cara mencari jawab sistem persamaan linier dengan menggunakan
metode eliminasi. Di dalam proses mencari jawab sistem tersebut, variabel x,y,z serta tanda
sama dengan (=) tidak mengalami perubahans ama sekali. Oleh karena itu variabel dan tanda
sama dengan tidak perlu ditulis.
Matriks adalah jajaran bilangan berbentuk empat persegi panjang. Bentuk atau kuran dari
matriks ditentukan oleh banyaknya baris dan kolom. Matriks yang mempunyai m baris daan n
kolom ditulis matriks m x n. Bilangan yang terdapat pada matriks disebut elemen matriks.
Matriks biasanya dinyatakan dalam huruf besar A,B.... Matriks yang mempunyai satu baris
dan satu kolom disebut matriks kolom atau vektor. Matriks yang banyaknya baris sama
dengan banyaknya kolom disebut matriks bujur sangkar.
Kemudian koefisien tersebuut dapat kita tuliskan dalam bentuk matrks yang disebut
matriks koefisien. Dalam hal koefisien suatu variabel yak muncul, pada matriks koefisien ini
dituliskan sebagai bilangan nol. Konstanta diruas kanan sering kali disebut matriks kolom.
Matriks yang terdiri dari matriks kolom dan matriks dari ruas kanan disebut matriks lengkap..

Operasi Baris Elementer


Defenisi 1.3.3
Operasri baris elementer pada suatu matriks adalah salah satu operasi:
1. Menukar letak dari dua baris matriks.
4
2. Mengalikan suatu baris dengan konstanta tak nol.
3. Mengganti suatu baris dengan hasil penjumlahan baris tersebut dan kelipatan baris
lain.
Defenisi 1.3.5
Dua matriks disebut matriks ekivalen baris jika salah satu matriks dapat diperoleh dengan
melakukan operasi elementer sebanyak berhingga kali pada matriks yang lain.
Teorema 1.3.6
Jika matriks lengkap dari dua sistem persamaan linier merupakan dua matriks ekivalen baris,
kedua sistem persamaan linier tersebut mempunyai jawab yang sama.
Defenisi 1.3.7
Matriks E disebut matriks eselon baris jika memenuhi dua sifat berikut:
1. Setiap baris yang hanya terdiri dari bilangan nol terletak sesudah baris yang
mempunyai elemen tak nnol.
2. Pada setiap baris pada matriks E yang mempunyai elemen tak nol, elemen tak nol
yang pertama harus terletak di kolom sebelah kanan elemen tak nol dari baris
sebelumnya.
Variabel yang berkaitn dengan elemen pivot disebut variabel todak bebas sedangkan
variabel lainnya disebut variabel bebas.

1.5. Operasi Pada Matriks


Dua matriks A dan B disebut sama jika ukuran kedua matriks adalah sama dan elemen
yang seletak juga sama. Dalam hal ini A=B
Defenisi 1.5.2
Matriks A= (aij) dan B=(bij) merupakan dua matriks berukuran sama m×n. Jumlah matriks A
dan B ditulis A+B adalah matriks berukuran m×n dengan elementer merupakan jumlah
elemen yang seletak dari kedua matriks. Dalam hal ini kita tulis
A + B = (aij+bij)
Notasi ini mempertegas bahwa elemen pada baris ke-i dan kolom ke-j dari matriks A+B
adalah aij+bij yang kita peroleh sebagai jumlah elemen seletak dari masing-masing matriks.
Defenisi 1.5.4
Diketahui matriks A dan c erupakan bilangan. Matriks cA adalah matriks yang diperoleh
dengan mengalikan setiap elemen dari matriks A dengan c. Dalam hal ini kita tulis
cA = (caij)
Jika kita menulis
-A = (-1)A A-B = A+(-1)B
Perkalian Matriks
Defenisi 1.5.7
Diketahui matriks A berukuran m×p dan matriks B berukuran p×n. Hasil perkalian matriks A
dan B ditulis AB, adalah matriks berukuran m×n dengan elemen pada baris ke-i dan kolom
ke-j adalah perkalian matriks antara baris ke-i dari A dan kolom ke-j dari B
Teorema 1.5.12 Sifat Penjumlahan Dan Perkalian Skalar
Penjumlahan matriks memenuhi sifat:
1. A+B = B+A (Sifat Komutatis)
2. (A+B)+C = A+(B+C) (Sifat Asosiatif)
3. Ada matriks O yang semua elemennya nol dan memenuhi sifat A+O = A untuk seyiap
matriks A (Elemen Identitas)
4. Untuk setiap matriks A ada matriks B dengan sifat A+B=O.
Untuk selanjutnya ditulis B=-A
Untuk sebarang bilangan real c dan d, perkalian dengan bilangan memenuhi sifar:

5
5. (c+d)A = aA + Da
6. (cd)A = c(dA)
7. C(A+B) = cA +cB
Teorema 1.5.13 Sifat Perkalian Matriks
Perkalian matriks memenuhi sifat
1. A(BC) = (AB)C
2. A(B+C) = AB+AC
3. Misalkan A matriks berukuran m×n, maka
4. AIn = A dan ImA = A
5. Dengan In dan Im matriks identitas yang masing-masing berukuran n dan m.

1.4.
 BUKU PEMBANDING

2.3 KAJIAN PENILAIAN BUKU

1. Kajian pendahuluan

 Buku utama
 Buku pembanding

2. Kajian penulisan konsep

 Buku utama
 Buku pembanding

3. Kajian kedalaman penjelasan konsep

 Buku utama
 Buku pembanding

4. Kajian penghantar teorema

 Buku utama
 Buku pembanding

5. Kajian persamaan/perbedaan teorema

 Buku utama
 Buku pembanding

6. Kajian penjelasan teorema

 Buku utama
 Buku pembanding

7. Kajian kelengkapan

 Buku utama

6
 Buku pembanding

8. Kajian kelebihan dan kekurangan

KELEBIHAN
BUKU UTAMA BUKU PEMBANDING

KELEMAHAN
BUKU UTAMA BUKU PEMBANDING

7
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

1.
2.
3. Kelebihan dan kelemahan buku yang dibandingkan adalah
KELEBIHAN
BUKU UTAMA BUKU PEMBANDING

KELEMAHAN
BUKU UTAMA BUKU PEMBANDING

3.2 SARAN