Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Melihat perkembangan yang telah muncul dalam kehidupan ekonomi yang
ada di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya, Suatu kenyataan
yang tak terhindarkan dalam sejarah telah terjadinya perubahan dari kehidupan
tradisional ke kehidupan modern, perubahan kehidupan pedesaan yang berbasis
ekonomi pertanian kepada kehidupan perekonomian perkotaan yang berbasis
ekonomi industri dan perdagangan, perubahan dari pola hubungan paguyuban dan
gotong royong kepada pola hubungan individu dan seterusnya.
Jual beli adalah salah satu urusan duniawi yang disyariatkan oleh Islam,
sebagaimana yang termaktub dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 275:

ِّ ‫ٱّلله ۡٱلبَ ۡي َع َو َح َّر َم‬


‫ٱلر َب ٰوا‬ َّ ‫ۗ َوأ َ َح َّل‬
Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba

Banyak sekali dalam hadits-hadits Nabi saw. yang yang memberikan


motivasi dan anjuran agar kita melaksanakan aktivtas jual beli atau perdagangan.
Rasulullah saw. ketika ditanya tentang usaha yang baik? Beliau menjawab “amal
seseorang dengan tangannya (usahanya), dan jual beli mabrur (Hadist Riwayat
Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya)
Melihat semakin pesatnya berbagai kemajuan yang telah terjadi dalam
kehidupan perekonomian masyarakat saat ini tentunya menuntut kita untuk lebih
peka dan lebih hati dalam berbagi sistem yang kadang mengecewakan salah satu
pihak, hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita cermati
dalam proses jual beli borongan. Untuk itu dalam makalah ini, penulis mencoba
untuk mengulas lebih spesifik mengenai hadits larangan dalam jual beli?

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apa saja hadits yang melarang dalam jual beli ?
2. Apa saja teori – teori yang termasuk jual beli yang dilarang ?

1
C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui hadits yang melarang dalam jual beli
2. Untuk memahami teori – teori yang termasuk jual beli yang dilarang.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Hadits Jual Beli yang dilarang


1. Hadits Pertama
Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Anas bin Malik
Radhiyallahu anhu, ia berkata:

‫س ِة َو ْالم‬
َ ‫ع ِن ْال ُم َحاقَلَ ِة َو ْال ُمنَابَ َذةِ َو ْال ُمالَ َم‬
َ ‫سلَّ َم‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ ُّ ‫زَ ا َبنَ ِة ُُنَ َهى النَّ ِب‬.
َ ‫ي‬

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli dengan cara


muhaqalah, munabadzah, mulamasah, dan muzabanah.”1

2. Hadits Kedua (Larangan jual beli yang mengandung unsur penipuan)

‫عن َبي ِّع‬


َ ‫صاةِّ َو‬ َ ‫سلَّ َم‬
َ ‫عن َبي ِّع ال َح‬ َ ‫علَي ِّه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاه‬ َ ِّ‫َّللا‬ ‫عن أ َ ِّبي هه َري َرة َ قَا َل َن َهى َر ه‬
َّ ‫سو هل‬ َ
‫الغ ََر ِّر‬
Artinya :
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, "Rasulullah telah mencegah (kita) dari
(melakukan) jual beli (dengan cara lemparan batu kecil) dan jual beli barang
secara gharar."2

3. Hadits Ketiga
‫عهُ َحتَّى‬ ُ ‫َّللاُ َعلَ ْي ُك ْم ذُ اًّل ًَّل َي ْن ِز‬
َّ ‫ط‬َ َّ‫الز ْرعِ َسل‬ ِ ‫َاب ْالبَقَ ِر َو َر‬
َّ ِ‫ضيت ُ ْم ب‬ َ ‫إِذَا تَبَايَ ْعت ُ ْم بِ ْال ِعينَ ِة َوأ َ َخ ْذت ُ ْم أَ ْذن‬
‫ت َْر ِجعُوا ِإلَى دِينِ ُك ْم‬

Read more https://almanhaj.or.id/2979-jual-beli-yang-dilarang-


dalam-islam.html

Artinya : “Sesungguhnya Allah melaknat khamr, pemerasnya, yang


minta diperaskan, penjualnya, pembelinya, peminum, pemakan hasil

1
Kitab Al-Buyuu’: Al-Jaa-izu minhaa wa

2
Shahih: Muktashar Muslim no: 939, Irwa’ul Ghalil no: 1294, Muslim III: 1153 no: 1513,
Tirmidzi II: 349. no: 1248, ‘Aunul Ma’bud IX: 230 no: 3360, Ibnu Majah II: 739 no: 2194 dan Nasa’i
VII: 262

3
penjualannya, pembawanya, orang yang minta dibawakan serta
penuangnya. [HR Tirmidzi dan Ibnu Majah]3

B. Teori Jual Beli yang dilarang


1. Pengertian Jual Beli
Al-Buyu’ jama’ dari al-bai’. Kata ini merupakan mashdar, padahal
mashdar tidak dapat di jama’kan. Tapi kata ini tetap di jama’kan karena
jenisnya yang berbeda-beda. Maknanya menurut bahasa ialah mengambil
sesuatu dan memberi sesuatu. Mereka juga mengambil kata ini dari al-ba’u,
satu depan, entah dimaksudkan untuk tepukan atau untuk ikatan harga dan
barang yang dihargai menurut persrtujuannnya. Lafazh al-ba’i juga dapat
diartikan membeli,yang termasuk makna kebalikan. Tapi jika diucapkan kata
al-ba’i, maka makna yang langsung bisa ditangkap darinya ialah orang yang
mengeluarkan barang dagangan atau penjual.
Adapun definisinya menurut syariat ialah tukar-menukar harta dengan
harta yang dimaksudkan untuk suatu kepemilikan, yang ditunjukkan dengan
perkataan dan perbuatan.4
Dalam literatur syari’ah Islam, jual beli atau istilah modernnya bisnis
termasuk dalam kategori mu’amalat yang dibahas dalam bab Al-Buyu’, dalam
Al Qur'an atau Al Hadis istilah yang digunakan untuk muamalah ini adalah al
bai', as syiro' dan at tijaroh.
Bagi seorang muslim yang menyibukan diri dengan urusan ini,
hendaknya mempelajari hukum-hukum yang bersangkutan dengannya secara
rinci dan seksama agar ia mampu berinteraksi dalam koridor syariat dan
terhindar dari tindakan-tindakan aniaya dan merugikan sesama manusia,
karenanya Umar bin Khottob berkata:

ِّ ‫الَ يَـبـ هع فِّي سـهوقـِّـنَا ِّإ َّال مـِّن تـَفـَقـَهه فِّي الـ ِّد ي‬
‫ـن‬
Artinya:
"Janganlah melakukan jual beli di pasar kami melainkan orang yang memiliki
pengetahuan agama" (HR.Tirmidzi)

3
. Kathur suhardi, edisi Indonesia: syarah hadist pilihan HR Tirmidzi, ( Jakarta: Darul Falah
2002), hal, 90
4
Kathur Suhardi, Edisi Indonesia: Syarah Hadist Pilihan Bukhari Muslim, (Jakarta: Darul
Falah, 2002), Hal. 57

4
Dalam kitab Tafsir Al Allam syarah umdatul ahkam karya Abdullah Al
Bassam rahimahullah disebutkan, secara etimologi (bahasa) jual beli adalah:
َ ‫أ َ هخـذ ه شَـي هء َوإِّعـ‬
‫طا هء شَـي هء‬
Artinya: "Mengambil dan memberi sesuatu".
Adapun secara terminologinya:

ِّ ‫عـلَـيـ ِّه ِّمـن‬


‫صيـ ََغ الـقَو ِّل َوالـ ِّفـعـ ِّل‬ َ ‫همـبَادَ لـَة َمـا َل بـ ِّ َما ٍل لـقَـصـ ِّد الــتـَمـ ِّل ِّك بِّـ َما يَـد ه هل‬
Artinya:
"Pertukaran harta benda dengan tujuan saling memiliki yang dibarengi dengan
sesuatu yang menunjukkan hal tersebut dengan perkataan dan perbuatan".

Dari kandungan ayat-ayat dan hadist-hadist yang dikemukakan diatas


sebagai dasar jual-bali, para ulama fiqih mengambil suatau kesimpulan, bahwa
jual beli itu hukumnya mubah (boleh). Namun, menurut Imam asy-Syatibi (ahli
fiqih Madzhab Imam Maliki), hukumnya bisa berubah menjadi wajib dalam
situasi tertentu. Sebagai contoh dikemukakannya, bila suatu waktu terjadi
praktek ihtikar, yaitu penimbunan barang,sehingga persediaan hilang dari
pasar dan harga melonjak naik. Apabila terjadi praktek semacam itu, maka
pemerintah boleh memaksa para pedagang menjual barang-barang sesuai
dengan harga pasar sebelum terjadi pelonjakan harga barang itu.para pedagang
wajib memenuhi ketentuan pemerintah di dalam menentukan harga di
pasaran.5
2. Syarat Jual Beli adalah Sebagai Berikut:
a. Keadaan bendanya suci.
b. Bendanya dapat diambil manfaatnya sesuai dengan yang dimaksudkan.
c. Bendanya dapat diterimakan atau diserahkan kepada pihak pembeli.
3. Rukun Jual Beli adalah Sebagai Berikut:
a. Barang yang dijual belikan.
b. Orang yang membeli dan menjual barang.
c. Ijab qobul.6
Adapun shighah untuk mengikatnya, yang benar ialah seperti yang
dikatakan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah, bahwa hal itu dapat dilakukan

5
Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2004), Hal.
117
6
Imron Abu Amar, Edisi Indonesia: Fathul Qarib, (Kudus: Menara Kudus, 1983), Hal. 229

5
dengan perkataan atau perbuatan macam apa pun, yang memang dianggap
manusia sebagai jual-beli, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena
Allah tidak bermaksud menjadikan kita sebagai hamba yang melaksanakan
ibadah dengan lafazh-lafazh tertentu, tapi yang dimaksudkan adalah apa yang
menunjukkan maknanya. Lafazh apa pun yang menunjukkannya, maka tujuan
sudah tercapai.
Manusia saling berbeda-beda dalam dialog dan istilah yang mereka
pergunakan, tergantung kepada perbedaan tempat dan waktu. Setiap zaman
dan tempat memiliki bahasa dan istilah-istilah tersendiri, dan yang
dimaksudkan dari hal itu adalah makna.7
Alhasil, muamalah-muamalah yang diharamkan kembali kepada
beberapa batasan, yang paling besar adalah tiga perkara berikut:
a. Riba dengan tiga macamnya, yaitu riba al-fadhl, an-nasi’ah dan al-
qardhu.
b. Ketidaktahuan dan penipuan dengan berbagai macam ragam dan jenisnya.
c. Membohongi dan memperdayai dengan segala ragam dan jenisnya.8
4. Larangan jual beli yang mengandung unsur penipuan.
Imam Nawawi dalam Syarhu Muslimnya X: 156 menjelaskan "Adapun
larangan jual beli secara gharar, merupakan prinsip yang agung dari sekian
banyak prinsip yang terkandung dalam Bab Jual Beli, oleh karena itu, Imam
Muslim menempatkan hadits gharar ini di bagian pertama dalam Kitabul Buyu’
yang dapat dimasukkan ke dalamnya berbagai permasalahan yang amat banyak
tanpa batas, seperti, jual beli budak yang kabur, jual beli barang yang tidak ada,
jual beli barang yang tidak diketahui, jual beli barang yang tidak dapat
diserahterimakan, jual beli barang yang belum menjadi hak milik penuh si
penjual, jual beli ikan di dalam kolam yang lebar, jual beli air susu yang masih
berada di dalam tetek hewan, jual beli janin yang ada di dalam perut induknya,
menjual sebagian dari seonggok makanan dalam keadaan tidak jelas (tanpa
ditakar dan tanpa ditimbang), menjual satu pakaian di antara sekian banyak
pakaian, menjual seekor kambing di antara sekian banyak kambing, dan yang

7
Imron Abu Amar, Edisi Indonesia: Fathul Qarib Hal.229-230
8
Kathur Suhardi, Edisi Indonesia: Syarah Hadist Pilihan Bukhari Muslim, (Jakarta: Darul
Falah, 2002), Hal. 579

6
semisal dengan itu semuanya. Dan, semua jual beli ini bathil, karena sifatnya
gharar tanpa ada keperluan yang mendesak."
Selanjutnya, beliau (Nawawi) berkata : "Kalau ada hajat yang
mengharuskan melakukan gharar, dan tertutup kemungkinan untuk
menghindarinya, kecuali dengan amat sulit sekali, lagi pula gharar tersebut
bersifat sepele, maka boleh jual beli yang dimaksud. Oleh sebab itu, kaum
muslim sepakat atas bolehnya jual beli jas yang di dalamnya terdapat kapas
yang sulit dipisahkan, dan kalau kapasnya dijual secara terpisah justru tidak
boleh."
"Ketahuilah bahwa jual beli barang secara mulamasah, secara
munabadzah, jual beli barang secara habalul habalah, jual beli barang dengan
cara melemparkan batu kecil, dan larangan itu semua yang terkategori jual beli
yang ditegaskan oleh nash-nash tertentu maka semua itu masuk ke dalam
larangan jual beli barang secara gharar. Akan tetapi jual beli secara gharar ini
disebutkan secara sendirian dan ada larangan secara khusus, karena praktik jual
beli gharar ini termasuk praktik jual beli jahiliyah yang amat terkenal.
Macam-macam jual beli gharar :
a. Bai’ Ma’dum
Yaitu jual beli barang yang tidak ada atau belum ada (misal :
menjual anak kambing yang masih dalam kandungan). Pelarangan Ba’i
Ma’dum ini sesuai dengan hadis Nabi yang menyebutkan “Janganlah kamu
menjual sesuatu yang tidak ada padamu” (H.R. Khamsah dari Hakim Bin
Hizam). Namun Bay’ Ma’dum bisa dilakukan bila barang yang dijual dapat
diukur dengan pasti dan dan penyerahannya bisa dipastikan sesuai ‘urf.
Contohnya:
1) Menjual anak onta yang masih dalam kandungan
2) Menjual buah yang masih di pohon (belum matang)
3) Menjual susu hewan yang masih di teteknya (Bisa kelihatan besar,
ternyata isinya lemak, susunya cair), disini ada spekulasi, tidak jelas
4) Jual beli barang yang tidak/belum ada
b. Bai Ma’juz at-Taslim

7
Yaitu jual beli yang sulit dalam penyerahan barangnya (misal :
menjual motor yang hilang atau hp yang hilang yang masih dalam
pencarian).
Contohnya:
1) Jual beli motor yang hilang dan masih dalam pencarian
2) Jual beli HP yang masih dipinjam orang (teman) yang kabur
3) Jual-beli tanah properti yang belum jelas statusnya (pembebasannya)
4) Menjual burung piaraan (seperti merpati) yang mungkin kembali ke
sarangnya.
c. Ba’i Majhul
Yaitu jual beli barang yang tidak diketahui kualitas, jeni, merek
atau kuantitasnya (misal: menjual radio yang tidak dijelakan
mereknya). Bila tingkat majhulnya kecil sehingga tidak menyebabkan
pertentangan, maka jual beli sah, karena keidak tahuan tidak menghalangi
penyerahan dan penerimaan barang (misal : jual beli buah berdasarkan
kiloan tetapi secara tumpukan).
Contohnya:
1) Yaitu jual beli barang yang tidak diketahui kualitas, jenis, merek atau
kuantitasnya.
2) Seperti jual beli murabahah HP Nokia yang tidak dijelaskan tipenya.
3) Jual beli radio yang tidak dijelaskan merknya.
4) Jual beli ini dilarang karena mengandung gharar (tidak jelas, tidak pasti
yang mana produk yang mau dibeli).
d. Ba’i Juzaf (Taksir)
Yaitu jual beli barang yang biasa ditakar,ditimbang dan dihitung,
tetapi dilakukan secara taksir/perkiraan(misal: menjual setumpuk pakaian
tanpa mengetahui jumlahnya)
Contohnya:
1) Menjual setumpuk makanan tanpa mengetahui takarannya secara pasti
2) Menjual setumpuk buah tanpa mengetahui beratnya
3) Menjual setumpuk ikan tanpa mengetahuai berapa kg
4) Menjual setumpuk pakaian tanpa mengetahui jumlahnya

8
e. Ba’i Muhaqalah
Yaitu menjual tanam-tanaman yang masih di ladang atau di sawah (Ijon)
f. Ba’i Mukhadarah
Yaitu menjual buah-buahan yang belum pantas di panen.
g. Ba’i Mulamasah
Yaitu jual beli yang terjadi dengan cara hanya menyentuh suatu
barang secara acak (misal: seseorang yang menyentuh sebuah produk
dengan tangannya di waktu malam, maka orang yang telah menyentuh kain
berarti telah membeli kain tersebut).
Contohnya:
1) Jual beli secara sentuh menyentuh. Misalkan seseorang menyentuh
sebuah produk dengan tangannya di waktu malam atau siang hari, maka
orang yang menyentuh berarti telah membeli kain tersebut
2) Jual beli ini dilarang jarena mengandung gharar. Tidak jelas barang
mana yang disentu.
h. Ba’i Munabazah
Yaitu jual beli secara lempar-melempar, sehingga barang tidak
jelas dan tidak pasti.
Contohnya:
1) Jual beli secara lempar-melempar, sehingga objek barang tidak jelas
dan tidak pasti, apakah barang A, B, C atau lainnya
2) Seperti seorang berkata, “Lemparkan padaku apa yang ada padamu,
nanti kulemparkan pula padamu apa yang ada padaku”. Setelah terjadi
saling melempar barang, maka terjadilah jual-beli
3) Jual beli ini juga dilarang krn mengandung gharar
i. Ba’i Muzabanah (Barter Buah-buahan)
Yaitu jual beli yang menggunakan makanan yang masih belum
jelas sebagai alat pembayarnya (misal : buah-buahan saat masih di atas
pohon yang masih basah / belum bisa dimakan dijual sebagai pembayar
untuk memperoleh kurma untuk dimakan).
Contohnya:

9
1) Buah-buahan ketika masih di atas pohon yang masih basah (belum bisa
dimakan) dijual sebagai alat pembayar untuk memperoleh kurma dan
anggur kering (bisa dimakan).Penyerahannya di masa depan (future).
2) Jual beli ini dilarang karena buah yang di atas pohon belum bisa
dipastikan kualitas dan kuantitasnya. Jadi hanya berdasarkan
perkiraan/taksiran. Karena itu Rasul saw melarang.
3) Karena dikhawatirkan salah satu pihak ada yang dirugikan. Jual beli ini
juga mengandung gharar.
j. Bai’ Hashah
Yaitu jual beli dimana pembeli menggunakan kerikil dalam jual
beli (kerikil dilemparkan kepada berbagai macam barang penjual, dan
kerikil yang mengenai suatu barang akan dibeli dan ketika itu terjadilah
jual beli).
k. Hablul Habalah
1) Seseorang menjual seekor anak onta yang masih berada dalam perut
induknya.
2) Jual beli semacam ini dilarang, karena mengandung gharar
(ketidakpastian)
l. Madhamin dan Malaqih
Madhamin ialah menjual sperma hewan, di mana si Penjual
membawa hewan pejantan kepada hewan betina untuk dikawinkan.Anak
hewan dari hasil perkawinan itu menjadi milik pembeli. Malaqih, Menjual
janin hewan yang masih dalam kandungan.
Hukum halal dan haram dalam Islam telah diatur dengan sangat jelas.
Hal ini merupakan salah satu karunia Allah dan buktinya atas kebenaran risalah
yang dibawa Rasulullah SAW . Bila tidak, mungkin akan banyak dijumpai hal-
hal yang saling bertolak belakang dalam masalah hokum dan kaidahnya.
Sebagai contoh kita ambil kaedah larangan ini, bahwa tidaklah suatu
perintah atau larangan, melainkan di dalamnya mengandung kemaslahatan dan
manfaat, baik ditinjau dari sisi agama maupun kehidupan manusia, baik di
dunia maupun di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

10
ِّ ‫نجي ِّل يَ ۡأ هم هر ههم ِّب ۡٱل َمعۡ هر‬
‫وف‬ ِّ ۡ ‫ٱلَّذِّي يَ ِّجدهونَهۥه َم ۡكتهوبًا ِّعندَهه ۡم فِّي ٱلت َّ ۡو َر ٰى ِّة َو‬
ِّ ‫ٱۡل‬
‫َويَ ۡن َه ٰى هه ۡم َع ِّن ۡٱل همن َك ِّر‬
Artinya :
“(Ia) yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka
dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang
baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” [al A’raf : 157]

Pada pembahasan masalah mu’amalah dan jualbeli, hukum asalnya


adalah boleh dan halal. Tidak ada larangan dan tidak berstatus haram, sampai
didapatkan dalil dari syariat yang menetapkannya.
5. Analisa Hadits
Jual beli hashah (kerikil) ialah jual beli dimana pembeli menggunakan
krikil dalam jual beli. Kerikil tersebut dilemparkan kepada berbagai macam
barang penjual. Barang yang mengenai suatu barang akan dibeli dan ketika itu
terjadilah jual beli. Dari sabda nabi: Dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah saw
melarang jual beli hashah dan jual beli gharar. Jual beli hashah ini juga
termasuk gharar, Praktek ini di zaman sekarang banyak terdapat di pusat
hiburan.
Jual beli gharar menurut bahasa Arab makna al-gharar adalah, al-
khathr(pertaruhan). Sehingga Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah menyatakan, al-gharar adalah yang tidak jelas hasilnya (majhul
al-’aqibah). Sedangkan menurut Syaikh As-Sa’di, al-gharar adalah al-
mukhatharah (pertaruhan) dan al-jahalah (ketidakjelasan). Perihal ini masuk
dalam kategori perjudian. Sehingga dari penjelasan ini dapat diambil
pengertian yang dimaksud jual beli gharar adalah semua jual beli yang
mengandung ketidakjelasan; pertaruhan, atau perjudian. Jual beli gharar atau
yang mengandung ketidakpastian dilarang dalam Islam.
Pada konsep produksi : Pada masa sekarang ini, untuk meningkatkan
angka penjualan produk,para produsen melakukan penawaran dengan iming-
iming hadiah, Corak promosi seperti ini bisa kita dapatkan di pasaran, dengan
beragam jenis dan kiatnya.
Seperti Untuk mendapatkan hadiahnya atau terlibat dalam undian
tersebut,disyaratkan dengan membeli produk tertentu. Hadiah tersebut,tidak

11
semua konsumen bisa mendapatkannya. Dengan kata lain,ada yang
mendapatkan hadiah tersebut dan ada juga yang tidak.
Cara promosi berhadiah seperti ini tidak diperbolehkan atau haram.
Alasannya, di dalamnya mengandung unsur maysir dan qimar. Sebab, setiap
konsumen sudah mengeluarkan biaya, tetapi tidak mendapatkan kepastian
dalam hal mendapatkan hadiahnya. Yakni, tidak diketahui siapa yang akan
mendapatkan hadiah dan siapa yang tidak. Dari sisi ini juga mengandung unsur
gharar.
Pada konsep distribusi,menjualkan produk dengan tidak ada kepastian
dari penjual seperti menjual sesuatu yang belum mengetahui kondisi barang
yang dibeli.
Contoh lain di dalam lembaga keuangan asuransi, Akadnya Banyak
Mengandung Gharar, Akad asuransi banyak sekali mengandung hal-hal yang
kurang pasti alias akad gharar. Maksudnya masing-masing pihak penanggung
dan tertanggung tidak mengetahui secara pasti jumlah yang ia berikan dan
jumlah yang dia ambil, pada waktu melangsungkan akad.
Orang yang ikut asuransi ini tidak bisa mengetahui dengan pasti
berapakah yang akan didapatnya dari ikut sertanya dalam lembaga asuransi,
Demikian juga, perusahaan asuransi pun tidak dapat mengetahui dengan pasti,
seberapa besar akan mengambil uang dari nasabahnya. Kalau pun ada,
semuanya masih berupa perkiraan atau asumsi. Padahal seharusnya akad ini
merupakan akad yang jelas, berapa yang harus dibayar dan apa yang akan
didapat.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Manfaat yang dapat kita ambil dari bab-bab muamalah ini ialah agar kita
bisa memahami kaidah yang sangat penting, yang memberi batasan muamalah-
muamalah yang diperbolehkan, di samping kita dapat memahami batasan-batasan
muamalah yang diharamkan, yang semua bagian-bagiannya kembali kesana.
Kaidah itu ialah: Dasar hukum dalam muamalah, berbagai jenis perniagaan dan
mata pencaharian ialah halal dan diperbolehkan, tidak ada yang mencegahnya
kecuali apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya.
Di dalam kita mendistribusikan suatu barang atau dalam menjualkan
barang kita harus memikirkan bagaimana cara-cara dalam menakar timbangan agar
tidak terjadi penipuan,dan masih banyak penipuan di dalam jual beli,Penjelasan
diatas sangatlah jelas mengenai larangan-larangan dalam jualbeli, banyak hadits-
hadits yang memuat penjelasan tentang larangan dalam jualbeli. Setiap apa yang
dilarang oleh Allah SWT dan Rasul-Nya tentunya membawa kemaslahatan bagi
kehidupan di dunia dan kelaknanti di akhirat,dan yakinlah bahwa allah maha
melihat apa yang kita kerjakan.

B. Saran
Demikian makalah yang dapat saya paparkan mengenai materi ini yang
menjadi pokok bahasan dalam makalah ini. Tentunya banyak kekurangan dan
kelemahan karena kekurangan rujukan yang ada hubungannya dengan ini.
Penulis banyak berharap para pembaca sudi memberikan kritik dan saran
yang membangun demi sempurnanya makalah ini, dan penulisan makalah yang
berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi
pembaca pada umumnya.

13
DAFTAR PUSTAKA

Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, Jakarta: Rajawali Press, 2004

Imron Abu Amar, Edisi Indonesia: Fathul Qarib, Kudus: Menara Kudus, 1983

Kathur Suhardi, Edisi Indonesia: Syarah Hadist Pilihan Bukhari Muslim, Jakarta:
Darul Falah, 2002

Al-hafizh, Edisi Indonesia : ,Bulughul Mahram, Jakarta: Pustaka al-kautsar 2015

14
MAKALAH
HADITS EKONOMI
HADITS LARANGAN DALAM JUAL BELI

OLEH KELOMPOK:
1. Diona Sari
2. Yoli Novika
3. Ance Oktari

DOSEN PEMBIMBING :
Yusnelma Eka Afri, Lc., M.Hum

PRODI PERBANKAN SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BENGKULU
2019

15
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta karunianya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan
makalah Dasar-Dasar Kependidikan yang Alhamdulillah tepat pada
waktunya yang berjudul “HADITS LARANGAN DALAM JUAL BELI”.
Kami mengakui bahwa kami adalah manusia yang mempunyai
keterbatasan dalam berbagai hal. Oleh karena itu tidak ada yang dapat
diselesaikan dengan sangat sempurna. Begitu pula dengan makalah ini yang
telah kami selesaikan. Tidak semua hal yang dapat kami analisa dengan
sempurna dalam karya tulis ini. Kami melakukannya dengan semaksimal
mungkin dengan kemampuan yang kami miliki. Di mana kami juga memiliki
kemampuan keterbatasan.
Akhir kata kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan ikut serta dalam penyusunan resume ini dari awal sampai akhir.
Apabila banyak kesalahan dalam kata ataupun penulisan kami mohon maaf
dan kepada Allah kami mohon ampun. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhoi segala urusan kita. Aamiin

Bengkulu, April 2019

Penyusun

16
DAFTAR ISI

Halaman Judul ........................................................................................................ i


Kata Pengantar ........................................................................................................ ii
Daftar Isi .................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 2
C. Tujuan .......................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Hadits Jual Beli yang diliarang ................................................................. 3
B. Teori Jual Beli yang dilarang .................................................................... 4

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ................................................................................................. 14
B. Saran ............................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA

17