Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Overhaul merupakan suatu kata dalam bahasa inggris yang mempunyai
arti pemeriksaan yang sangat teliti, jadi dapat kita kembangkan lagi tentang
pengertian atau definisi engine overhaul yaitu kegiatan pembongkaran komponen-
komponen kendaraan, kemudian diperiksa dengan sangat teliti agar didapat data-
data yang valid, sehingga langkah perbaikan selanjutnya dapat sesuai atau tepat.

Overhaul tidak hanya sebatas pada mesin saja, tetapi overhaul juga ada
pada komponen lainnya seperti rem, karburator, transmisi, distributor dan lain
sebagainya. Jadi engine overhaul adalah suatu kegiatan pembongkaran mesin
(engine) pada kendaraan, dan kemudian komponen mesin tersebut diperiksa
dengan sangat teliti supaya didapat data-data yang valid sehingga langkah
perbaikan selanjutnya dapat tepat dan masalah pada engine tersebut teratasi.

Biasanya engine overhaul dilakukan karena adanya masalah pada bagian


mesin seperti, adanya suara abnormal, kompresi rendah atau adanya oli yang
terbakar akibat ausnya ring piston atau silinder pada block silinder, kerusakan
pada piston, batang piston, poros engkol dan lain sebagainya. Selain engine
overhaul juga ada yang namanya engine semi overhaul, yaitu pembongkaran
hanya setengah mesinnya saja tidak sampai pada block silinder, ini dilakukan
ketika terjadi bercampurnya oli dan air akibat kepala silinderv melengkung,
ditambah gasket kepala silinder yang sudah rusak. Atau kerusakan pada
mekanisme katup, poros nok, dan lain sebagainya.

1.2 Tujuan Praktikum


1. Mahasiswa diharapkan dapat memahami cara kerja dari Motor Bensin
2. Mahasiswa diharapkan dapat melakukan analisis awal kerusakan pada
kendaraan.
3. Mahasiswa diharapkan dapat melakukan Overhaul engine dengan baik
dan benar.

1
4. Mahasiswa diharapkan dapat mengenali nama-nama komponen dari
engine dan cara kerjanya.
5. Mahasiswa diharapkan dapat memahami prosedur kerja yang baik
sesuai standarnya.

1.3 Tujuan Khusus


Tujuan overhaul engine Toyota Kijang 5K ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui cara mengidentifikasi kerusakan yang terjadi pada
mekanisme katup, kepala silinder, mekanisme engkol, dan block
silinder.
2. Untuk mengembalikan mesin ke kondisi awal.

2
BAB II
TEORI DASAR

2.1 Pengertian Block Silinder

Blok silinder adalah struktur terpadu yang terdiri dari silinder dari motor
bakar torak dan beberapa atau semua yang terkait struktur sekitarnya
(bagian pendingin, bagian bukaan masuk dan keluar bagian, sambungan,
dan crankcase). Istilah blok mesin sering digunakan bersama dengan "blok
silinder" (meskipun secara teknis dapat dibuat perbedaan antara silinder mesin
monobloc silinder sebagai unit diskrit dibandingkan dengan desain blok dengan
lebih banyak integrasi yang terdiri dari crankcase juga.

Dalam istilah dasar elemen mesin, berbagai bagian utama dari mesin
(seperti silinder, kepala silinder, bagian pendingin, bagian intake dan exhaust, dan
crankcase) secara konseptual berbeda, dan konsep-konsep ini dapat semua
diturunkan sebagai potongan diskrit yang disatukan. Konstruksi seperti ini sangat
luas di awal dekade komersialisasi mesin pembakaran dalam (1880-an sampai
1920-an). Namun, tidak lagi seperti biasa memproduksi mesin bensin dan mesin
diesel, karena untuk setiap sistem konfigurasi mesin, ada cara yang lebih
efisien untuk merancang pembuatan (dan juga untuk pemeliharaan dan perbaikan)
Hal ini umumnya melibatkan integrasi beberapa elemen mesin menjadi satu
bagian diskrit, dan melakukan pembentukan (seperti pengecoran, stamping, dan
memesin) untuk beberapa elemen dalam satu setup dengan satu mesin sistem
koordinat (dari alat mesin atau bagian lain dari mesin manufaktur). Maka, akan
menghasilkan satuan biaya produksi serta pemeliharaan dan perbaikan yang lebih
rendah.

Blok Silinder adalah salah satu alat pada motor yng bersifat statis yang
fungsinya sebagai tempat bergeraknya piston dalam melaksanakan proses kerja
motor. Blok silinder dan cara mengatasi kerusakan blok silinder. Silinder motor 4
tak tidak terdapat lubang-lubang apapun di bagian dalam dinding silindernya.

3
Silinder motor 2 tak terdapat lubang-lubang pada bagian dalam dindinmg silinder.
Kerusakan yang sering terjadi pada blok silinder adalah tergores / aus / lubang
silinder membesar, sehingga hal ini dapat mengakibatkan piston menjadi rusak /
kocak/ longgar di dalam silinder.

Gambar 2.1 Block Silinder

2.2 Water jacket

Water jacket Pada Blok silinder, terdapat ruang ruang kecil yang disebut
water jacket. Water jacket ini sendiri berfungsi sebagai ruang untuk bersirkulasi
air yang berguna mendinginkan mesin, lengkapnya ada pada penjelasan sistem
pendingin.

Gambar 2.2 Water Jacket

2.3 Piston/Torak

Piston adalah komponen mesin yang membentuk ruang bakar bersama –


sama dengan silinder blok dan silinder head. Piston jugalah yang melakukan
gerakan naik turun untuk melakukan siklus kerja mesin, serta piston harus mampu

4
meneruskan tenaga hasil pembakaran ke crankshaft. Jadi dapat kita lihat bahwa
piston memiliki fungsi yang sangat penting dalam melakukan siklus kerja mesin
dan dalam menghasilkan tenaga pembakaran. Untuknya maka piston harus
memiliki syarat – syarat sebagai berikut:
1. Ringan, agar mudah bagi mesin dalam mencapai putaran tinggi. Jika
konstruksi piston terlalu berat, maka sulit bagi mesin untuk mencapai
putaran tinggi, sehingga akselerasi sepeda motor atau mobil menjadi
sangat lambat. Atau bahasa mudahnya, sepeda motor atau mobil lambat
untuk cepat mencapai kecepatan tinggi walau gas sudah ditarik.
2. Tahan terhadap tekanan ledakan karena hasil pembakaran. Pada saat
langkah usaha , bensin dan udara terbakar oleh percikan bunga api listrik
dari busi. Hasil pembakaran ini akan menimbulkan ledakan dan tekanan
yang sangat kuat di dalam ruang bakar, tak terkecuali piston menerima
ledakan dan tekanan dari hasil pembakaran tersebut.. Karenanya selain
piston harus ringan tapi piston juga harus kuat dalam menahan ledakan
dan tekanan hasil pembakaran untuk diteruskan menggerakkan poros
engkol.
3. Tahan terhadap pemuaian. Pembakaran campuran bensin dan udara dalam
ruang bakar akan menimbulkan panas, suhu di daerah ruang bakar akan
naik sangat tinggi. Seperti telah kita ketahui bahwa dengan naiknya suhu,
maka logam akan mengalami perubahan bentuk atau memuai. Piston yang
terbuat dari logam-logam khusus pun akan mengalami pemuiaan yang
tidak sedikit. Jika pemuaian yang dialami piston berlebihan maka akan
membuat piston terkunci atau ngancing ke dinding silinder blok, sehingga
piston akan berhenti bekerja naik turun dalam silinder, sehingga bisa
dikatakan bahwa mesin telah mati dengan berhentinya piston dalam
melakukan gerakan naik turun.Piston/torak berfungsi untuk menghisap gas
yang akan dibakar di ruang bakar serta memberikan tekanan pada saat
langkah kompresi.

5
Gambar 2.3 Piston/Torak

2.4 Ring Piston


Cincin torak (ring piston), berfungsi membentuk perapat yang kedap
terhadap kebocoran gas antara celah torak dan silinder,sekaligus mengatur
pelumasan torak dan dinding silinder. Cincin torak terdiri atas cincin kompresi
dan cincin pelumas. engkol dengan bagian-bagian yang berputar lainnya.

Gambar 2.4 Ring Piston

2.5 Batang torak /connecting rod

Batang torak/connecting rod adalah yang menghubungkan piston ke crank


atau poros engkol. Bersama dengan crank, sistem ini membentuk mekanisme
sederhana yang mengubah gerak lurus/linear menjadi gerak melingkar.

Batang piston juga dapat mengubah gerak melingkar menjadi gerak linear.
Dalam sejarahnya, sebelum ada pengembangan mesin, batang piston digunakan
untuk hal ini terlebih dahulu.

Karena batang piston itu kaku, maka ia dapat meneruskan tarikan dan
dorongan, sehingga batang pistonnya dapat merotasi crank melalui kedua bagian
dari revolusi, yaitu tarikan piston dan dorongan piston. Mekanisme generasi awal,

6
misalnya pada rantau, hanya dapat menarik. Dalam beberapa mesin 2 tak, batang
pistonnya hanya digunakan untuk mendorong.

Sekarang ini, batang piston paling umum ditemukan pada mesin-mesin


pembakaran dalam, seperti pada mesin mobil. Desain batang piston sekarang ini
berbeda dengan batang piston zaman dahulu yang digunakan pada mesin uap dan
mesin lokomotif.

Gambar 2.5 Batang torak/connecting road

2.6 Poros engkol / CrankShaft

Poros engkol/crankshaft adalah sebuah bagian pada mesin yang mengubah


gerak vertical/horizontal dari piston menjadi gerak rotasi (putaran). Untuk
mengubahnya sebuah crankshaft membutuhkan pena engkol (crankpin), sebuah
bearing tambahan yang diletakkan diujung batang penggerak pada setiap silinder.
Ruang engkol (crankcase) akan dihubungkan ke roda gila (flywheel) atau roda
mobil sehingga mobil bisa bergerak.

Gambar 2.6 Poros engkol / CrankShaft

2.7 Pulley CrankShaft

Pulley Crankshaft berfungsi sebagai poros dimana dihubungkan dengan


poros lain seperti pulley Cam Saft, alternator, untuk memberikan tenaga putaran.

7
2.8 Metal

Metal adalah sebuah jenis bearing yang memiliki spesifikasi khusus


kecepatan tinggi dan tekanan tinggi. Fungsi dari metal adalah melapisi atau
menjadi bantalan untuk stang piston dan berfungsi untuk menjadi bantalan ketika
Crankshaft berputar. Metal ada dua jenis yakni metal jalan dan metal duduk.

2.8.1 Main Bearing (Metal duduk)

Main Bearing (metal duduk) merupakan tumpuan utama bagi kruk as saat
berputar. Terletak di block mesin, berfungsi untuk menjadi bantalan ketika kruk
as berputar.

Gambar 2.8 Main Bearing (metal duduk)

2.8.2 Round Bearing (Metal Jalan)

Round Bearing (metal jalan) merupakan bearing bagi batang piston untuk
bergerak keatas dan kebawah. Terletak di Batang Torak atau Connecting Rod.
Fungsi metal jalan adalah melapisi atau menjadi bantalan untuk stang piston.
Disebut metal jalang karena saat metal ini bekerja menjadi bearing, metal ini
bergerak keatas dan kebawah.

8
Gambar 2.9 Round Bearing (Metal Jalan)

2.9 Langkah kerja Overhaul mesin

Biasanya engine overhaul dilakukan karena adanya masalah pada bagian


mesin seperti, adanya suara abnormal, kompresi rendah atau adanya oli yang
terbakar akibat ausnya ring piston atau silinder pada block silinder, kerusakan
pada piston, batang piston, poros engkol dan lain sebagainya.
1. Keluarkan oli mesin dengan cara membuka baut pembuanag pada carter
2. Lepaskan stater motor dengan car membuka dua buah baut stater
3. pisahkan transmisi dan mesin dengan cara membuka bautnya
4. Lepaskan penutup kopling dan plat kopling
5. Lepaskan flywheel dengan cara membuka baut pengikatnya.
6. Letakan mesin pada overhaul stand
7. Lepaskan exhaust manifold dan intake manifold
8. Lepaskan saringan oli
9. Lepaskan tutup pushrod dan valve filter
10. Lepaskan V belt dan alternator dari dudukannya
11. Buka kipas dan pulinya
12. Buka rumah-rumah thermostat.
13. Buka pompa air dengan cara membuka baut pengikatnya
14. Lepas crankshaft pulley .
15. Buka tutup timing gear.

9
16. perhatikan tanda-tanda timing yang terdapat pada roda gigi poros engkol,
roda gigi idler, roda gigi poros bubungan,dan roda gigi pompa injeksi
(automotive timer), kemudian lepas timing gear
17. Buka mur pengikat automotive timer, dan lepas timernya dengan
menggunakan puller
18. Lepas selang-selang bahan bakar dan saringan bahan bakar
19. Lepas pipa-pipa tekanan tinggi penghubung pompa injeksi dengan
injector.
20. Lepas pompa injeksi dari dudukannya
21. Lepas busi pijar dan penghubungnya
22. Buka injeksi
23. Lepas tutup kepala slinder
24. Lepas poros rocker arm
25. Keluarkan pushrod dan valve filter
26. uka baut-baut kepala slinder, dengan urutan dari bagian luar menuju ke
bagian tengah secara silang
27. Lepaskan kepala slinder dan gasket kepala slinder
28. Buka karter oli
29. Buka pompa oli
30. Lepaskan poros bubungan, dengan terlebih dahulu membuka baut
pengikatnya
31. Lepaskan tutup batang torak denga cara membuka mur pengikatnya
32. Lepaskan torak dan kelengkapannya dari blok slinder, dan beri tanda
supaya tidak tertukar
33. Buka baut pengikat bantalan utama dan lepas tutup bantalan utama
34. Lepaskan poros engkol dan simpan pada dudukan poros engkol.
35. Lepaskan katup dan kelengkapannya dari kepela slinder dengan
menggunakan valve spring compressor
36. Penyimpanan bantalan, katup-katup, pegas katup, dan komponen yang
lainya harus diberi tanda supaya tidak tertukar.

10
BAB III

METODOLOGI DAN PEMBAHASAN

3.1 Tempat Dan Waktu

3.1.1 Tempat

Tempat pengambilan data bertempat di Lab Otomotif Politeknik Negeri


Lhokseumawe.

3.1.2 Waktu

Waktu pengambilan data dilakukan pada tanggal 5 september s/d 3


oktober 2017.

3.2 Metode Pemeriksaan Dan Pengukuran Komponen Engine

3.2.1 Kepala Silinder (Cylinder Head)

Pemeriksaan :

1. Periksa kepala silinder dari goresan dan keretakan. Biasanya keretakan


ditemukan diruang bakar.

2. Periksa kerataan kepala silinder dengan menggunakan straight edge dan


feeler gauge secara melintang, memanjang dan menyilang.

3. Ukuran ketidak rataan permukaan kepala silinder adalah celah yang


terdapat antara permukaan kepala silinder dengan straight edge dengan
memasukkan feeler gauge diantarannya.

Limit maksimal ketidak rataan = 0,10 mm. Jika telah melebihi limit,
kepala silinder harus diratakan dengan gerinda atau frais dengan
menggosok diatas permukaan kaca yang dilumuri amaril.

1111
Tabel 3.1 pemeriksaan kepala silinder :

Pemeriksaan Hasil (mm)

1. Memanjang kiri 0,05

2. Memanjang kanan 0,10

3. Menyilang 0,05

4. Menyilang 0,05

Tabel 3.2 pemeriksaan silinder heat :

Pengukuran Hasil (mm)

1. Memanjang kiri 0.05

2. Memanjang kanan 0,10

3. Menyilang 0,05

4. Menyilang 0,05

3.2.2 Blok Silinder (Cylinder block)

Pemeriksaan :

1. Periksa permukaan blok silinder dan lubang-lubang pada blok silinder dari
kerusakan dan keretakan secara visual.

2. Periksa kerataan permukaan blok silinder dengan menggunakan straight


edge yang diletakkan melintang, memanjang, dan menyilang diatas
permukaan blok silinder dan ukur dengan feeler gauge.

Batas kerataan/kebalingan maksimal = 0,10 mm. Jika melebihi batas


tersebut blok silinder harus diratakan kembali. Perbaikan kerataan

12
permukaan dilakukan dengan jalan memfrais, menggerinda atau
menggosok pada permukaan datar dengan media amaril.

3. Periksa bagian dalam tabung silinder secara visual (penglihatan). Apakah


terdapat goresan atau cacat-cacat lainnya yang mengharuskan silinder
dibor kembali (over size).

4. Lakukan pengukuran terhadap keovalan dan ketiduran dinding silinder.


Gunakan alat-alat ukur micrometer dalam, telescoping gauge, dial
indikator atau micrometer luar.

13
Tabel 3.3 pemeriksaan dinding silinder :
NO Silinder I Silinder II Silinder III Silinder IV
1 Data Pengukuran a Data Pengukuran a Data Pengukuran a Data Pengukuran a
a1 a2 a3 a1 a2 a2 a1 a2 a3 a1 a2 a3
80,15 80,14 80,14 80,15 80,13 80,14 80,15 80,13 80,14 80,13 80,13 80,15
Keovalan a =80,14 mm Keovalan a = 80,14 mm Keovalan a = 80,14 mm Keovalan a = 80,13 mm
2 Data Pengukuran b Data Pengukuran b Data Pengukuran b Data pengukuran b
b1 b2 b3 b1 b2 b3 b1 b2 b3 b1 b2 b3
80,15 80,14 80,14 80,15 80,13 80,14 80,15 80,13 80,14 80,14 80,13 80,15

Keovalan b = 80,14 mm Keovalan b = 80,14 mm Keovalan b = 80,14mm Keovalan b = 80,14 mm


3 Data Pengukuran c Data Pengukuran c Data Pengukuran c Data Pengukuran c
c1 c2 c3 c1 c2 c3 c1 c2 c3 c1 c2 c3

80,15 80,14 80,14 80,15 80,13 80,14 80,15 80,13 80,14 80,14 80,13 80,15
Keovalan c = 80,14 mm Keovalan c = 80,14 mm Keovalan c = 80,14 mm Keovalan c = 80,14 mm
4 Keovalan maksimal Keovalan maksimal Keovalan maksimal Keovalan maksimal
= 80,14 mm = 80,14 mm = 80,14 mm = 80,14 mm
5 Ketirusan maksimal Ketirusan maksimal Ketirusan maksimal Ketirusan maksimal
= 80,15 mm = 80,15 mm = 80,15 mm = 80,15 mm
6 Tindak Lanjut Perbaikan : Tidak dilakukan overhaul karna tidak mencapai limit 0,10 mm

14
3.2.3 Poros Engkol (Crank shaft)
Pemeriksaan :
1. Bersihkan poros engkol dengan cairan dan udara tekan
2. Bersihkan lubang-lubang minyak pada poros engkol dengan udara tekan
dan semprot dengan cairan pembersih sehingga bersih dari kotoran.
3. Tempatkan poros engkol pada V-block ditempat yang rata.
4. Tempatkan dial indikator pada posisi yang tepat dan sentuhkan ujung
pengukuran dial indikator pada bagian yang akan diukur, set jarum
pengukur pada posisi dial (0).
5. Gerakkan poros engkol, secara perlahan dan perhatikan gerak dari jarum
pengukur.
Pengukuran:
6. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan micrometer luar. Titik-titik
pengukuran ditempatkan pada poros crank journal dan poros crank pin,
untuk mendapatkan harga keovalan dan ketirusan.
7. Selisih pengukuran A-A’ dan B-B’ menunjukkan ketirusan poros crank
journal. Sedangkan selisih pengukuran a-a’ dan b-b’ menunjukkan
ketirusan poros crank pin.
8. Lakukan pengukuran seperti itu pada semua crank journal dan crank pin
dari poros engkol, untuk memperoleh data ketirusan.
9. Pengukuran keovalan crank journal dan crank pin
10. Selisih pengukuran C-C’ dan D-D’ dan E-E’ menunjukkan keovalan poros
crank journal. Dan selisih pengukuran c-c’, d-d’ dan e-e’ menunjukkan
keovalan poros crank pin.
11. Masukkan semua data dan pengukuran kedalam tabel cacatan hasil
pekerjaan. Tentukanlah berapa total ketirusan dan total keovalan yang
diperlukan untuk meratakan kembali crank journal dan crank pin dari
poros engkol tersebut.
12. Lakukan pengukuran kebengkokan atau kebalingan/terpuntir poros engkol
dengan menggunkan dial indikator. Poros engkol diletakkan diatas V
block pada bidang yang rata.
13. Pengukuran kebengkokan:

15
Letakkan dial indikator pada permukaan crank journal. Putar poros engkol
perlahan-lahan. Baca penunjukkan dial indikator. Harga penunjukkan
tertinggi adalah besarnya kebengkokan yang terjadi.

Tabel 3.4 Diameter poros tempat kedudukan bantalan utama


Pengukuran Hasil (mm)

Bantalan 1 49,6 mm
Bantalan 2 49 mm
Bantalan 3 49,4 mm
Bantalan 4 50 mm
Bantalan 5 50 mm

Tabel 3.5 Diameter poros kedudukan piston


Pengukuran Hasil (mm)
Piston 1 42 mm
Piston 2 42 mm
Piston 3 42 mm
Piston 4 42 mm

3.3 Bahan Dan Alat Yang Digunakan


Adapun bahan dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut :
3.3.1 Bahan
1 unit mesin mobil
3.3.2 Alat Yang Digunakan
Adapun alat yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Kunci schok 14, shock 12, schok 10, schok 11
2. Kunci T 10, 12, 14
3. Kunci 18 ring pas
4. Kunci 14 ring pas
5. Kunci 12 ring pas
6. Kunci 10 ring pas

16
7. Kunci 8 ring pa

3.4 Alat Ukur Yang Digunakan


1. Feeler gauge
2. Micrometer luar
3. Micrometer dalam
4. Dial indikator

3.5 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian yaitu mencari kepala silinder, blok silinder,
dan poros engkol, maka telah diketahui hasilnya yaitu sebagai berikut:
1. Kepala silinder tidak melebihi limit maksimal karena masih mempunyai
kerataan 0,5 mm, maka dengan itu kepala silinder tidak perlu diratakan
kembali.
2. Silinder heat tidak melebihi limit maksimal karena masih mempunyai nilai
kerataan 0,5 mm, maka silinder heat tidak perlu diratakan kembali.
3. Blok silinder tidak melebihi limit maksimal karena mempunyai keovalan
maksimal 80,14 mm , dan ketirusan maksimal 80,15 mm.
1. Silinder 1 Keovalan Maksimal = 80,14 mm, Ketirusan Maksimal =
80,15 mm
2. Silinder 2 Keovalan Maksimal = 80,14 mm, Ketirusan Maksimal =
80,15 mm
3. Silinder 3 Keovalan Maksimal = 80,14 mm, Ketirusan Maksimal =
80,15 mm
4. Silinder 4 Keovalan Maksimal = 80,48 mm, Ketirusan Maksimal =
80,50 mm

17
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
a. Proses overhaul pada mobil melalui beberapa tahap, sebelumnya
dilakukan identifikasi masalah, menilai perluasan kerusakan untuk
menentukan alat dan bahan yang di butuhkan. Dalam melakukan
pemasangan, mekanik harus memahami terhadap overhaul.

4.2 Saran
a. Hindari segala kemungkinan yang dapat merusak pada saat melakukan
overhaul, baik dalam pengoperasian maupun dalam perawatannya,
lakukan prosedur yang tepat, baik dan benar.
b. Lakukan pemeriksaan dan pemantauan secara periodik baik dengan
menganalisa aliran kerusakan, kebocoran, maupun kondisi saat
overhaul selesai dilakukan.
c. Patuhi rambu-rambu yang ada dan patuhi K3LH dengan bijak.
d. Jadikan K3LH sebagai kebutuhan bukan sebagai beban.
e. Dalam melakukan pemasangan, mekanik di anjurkan untuk merujuk
buka panduan overhaul..

18