Anda di halaman 1dari 3

Bentuk-bentuk Pemaksaan Hubungan Seksual Suami Terhadap Istri Perspektif UU No.

23
Tahun 2004 dan Fiqih Islam

Mochammad Amir Hamzah


Universitas Negeri Malang
Email: amir_hamzah@gmail.com

Abstrak: Dalam suatu persetubuhan suami dan isteri yang dapat dinikmati dengan
kepuasan nafsu sebagai manusia yang adil dan merata. Penulis membahas tentang hal-
hal yang berkaitan dengan bentuk-bentuk pemaksaan seksual suami terhadap istri
dalam rumah tangga perspektif UU No. 23 Tahun 2004 dan perspektif Fiqih Islam.
Bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian. Adapun
hasilnya adalah bentuk-bentuk pemaksaan hubungan seksual suami terhadap istri
perspektif UU No. 23 Tahun 2004 tentang PKDRT.

Kata Kunci: bentuk pemaksaan, hubungan seksual, suami istri, fiqih islam

Pada dasarnya kekerasan adalah semua bentuk perilaku, baik verbal maupun non verbal
yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang, terhadap seseorang atau sekelompok orang
lainnya, sehingga menyebabkan efek negatif baik secara fisik, emosional, dan psikologis kepada
orang yang menjadi sasarannya. Johan Galtung menyatakan bahwa kekerasan adalah suatu
perlakuan atau situasi yang menyebabkan realitas aktual seseorang ada di bawah realitas
potensialnya.
Keseimbangan antara hak dan kewajiban suami dan isteri serta hidup dalam rumah
tangga ialah sesuatu yang pasti sangat diidamkan oleh setiap pasangan suami istri. Akan tetapi,
semua impian itu akan berubah menjadi kenyataan yang menyakitkan apabila didalamnya
ternyata dinodai dengan adanya tindak kekerasan dalam rumah tangga. Adapun fokus penelitian
ini adalah membahas hal-hal yang berkaitan dengan bentuk-bentuk pemaksaan hubungan seksual
suami terhadap istri dalam rumah tangga perspektif UU No. 23 Tahun 2004 dan perspektif fiqih
Islam.

BAHASAN
Hubungan Suami dan Istri
Berdasarkan data primer dan data sekunder dari penelitian ini, diketahui bahwa terdapat
beberapa bentuk-bentuk pemaksaan hubungan seksual suami terhadap istri; yaitu: Pemaksaan
yang bersifat fisik antara lain berupa pelecehan seksual, seperti perabaan, colekan yang tidak
diinginkan, pemukulan, penganiayaan, serta perkosaan. Termasuk dalam kategori ini adalah teror
dan intimidasi, kawin paksa, kawin di bawah tangan, pelacuran paksa, stigma negatif, eksploitasi
tenaga kerja, dan pemaksaan penggunaan alat kontrasepsi. Pemaksaan yang bersifat nonfisik
antara lain berupa pelecehan seksual; seperti: sapaan, siulan, colekan, atau bentuk perhatian yang
tidak diinginkan, direndahkan, dianggap selalu tidak mampu, dan (istri yang) ditinggal suami
tanpa kabar berita. Sedangkan UU kekerasan dalam rumah tangga membagi bentuk kekerasan
dalam kategori empat macam; yaitu: kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan
kekerasan ekonomi.
Bentuk-bentuk Pemaksaan Hubungan Seksual SuamiTerhadap Istri
Berdasarkan hasil penelitian, menurut buku karangan Fathul Jannah dan kawan-kawan,
diketahui bahwa bentuk-bentuk pemaksaan hubungan seksual suami terhadap istri kategori berat
dan ringan. Yang bersifat berat berupa pelecehan seksual dengan kontak fisik, pemaksaan
hubungan seksual tanpa persetujuan korban, pemaksaan hubungan seksual dengan cara yang
tidak disukai istri, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain. Adapun yang kategori ringan
berupa pelecehan seksual secara verbal; seperti: gurauan porno, siulan, ejekan, dan julukan, atau
pun secara non verbal; seperti: ekspresi wajah, gerakan tubuh atau perbuatan lainnya yang
meminta perhatian seksual yang tidak dikehendaki korban, melecehkan dan atau menghina
korban.
Adapun hubungan seksual yang disertai ancaman kekerasan atau dengan kekerasan yang
mengakibatkan istri mengalami luka ringan atau pun berat. Terkait dengan masalah seksualitas
suami dengan istri, ada beberapa statement Al Quran yang bisa dikemukakan dalam surat Al-
Baqarah ayat 187 yang artinya “Mereka (para isterimu) adalah pakaianmu dan kamu adalah
pakaian bagi istri-istrimu”. Ayat ini mengajarkan bahwa dalam menggauli istri tidak
diperbolehkan dengan adanya kekerasan baik pemukulan, penganiayaan, dan lain sebagainya.

PENUTUP
Simpulan
Bentuk-bentuk pemaksaan hubungan seksual suami dengan istri perspektif UU No. 23
Tahun 2004 antara lain ialah pemaksaan hubungan tanpa persetujuan. Adapun yang termasuk
dalam pemaksaan hubungan tanpa persetujuan; yaitu: dengan cara yang tidak disukai,
merendahkan atau menyakitkan, dilakukan dengan orang lain, kekerasan fisik, sedangkan dalam
perspektif fiqih Islam, ulama madzhab memandang ‘azl (coitus interruptions) yakni menarik
dzakar (penis) keluar dari farji (vagina) pada saat-saat mau keluar mani merupakan kekerasan
seksual. Tiga dari empat madzhab yakni Imam Hanafi, Imam Maliki, dan Imam Hambali sepakat
bahwa ‘azl tidak boleh dilakukan begitu saja oleh suami tanpa seizin istri, dengan alasan dapat
merusak kenikmatan istri.
Saran
Semua itu perlu untuk ditinjau kembali demi keadilan bagi seluruh anggota masyarakat.
Pola relasi yang harmonis dan seimbang antara suami dan isteri dalam rumah tangga yang
sakinah mawaddah wa rahmah sangat diharapkan oleh Islam. Oleh karena itu, hendaknya setiap
muslim mampu meningkatkan pemahaman dan pengamalan agamanya.

DAFTAR RUJUKAN
Depag. 1993. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Depag.
Jannah, F. dkk, Tanpa Tahun. Kekerasan Terhadap Isteri. Yogyakarta: LKiS.