Anda di halaman 1dari 17

EVALUASI SISTEM KEPARTAIAN DI ERA REFORMASI

EVALUATION OF PARTY SYSTEM IN THE REFORMATION ERA1

Luky Sandra Amalia

Peneliti Pusat Penelitian Politik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia


Jalan Jenderal Gatot Subroto No. 10, Jakarta
E-mail: sandra_thok@yahoo.com
Diterima: 24 Juli 2013; direvisi: 3 September 2013; disetujui: 4 Desember 2013

Abstract

This research report is about evaluation of party system in the reformation era, including the problem of
party system dan the factors that contribute to them. Using descriptive-explanative approach, this research found
two options to simplify the party system, namely by changing the election system or by institution engineering. The
first choice might produce multiparty system with two dominant parties in parliament whereas the second one may
deliver moderate multiparty system with two big permanent coalitions in parliament. Besides that, reformation of
parties’ character, from pragmatic parties into ones which have clear platform and vision, is also important to do.
Keywords: party system

Abstrak

Tulisan ini memfokuskan kajian pada evaluasi sistem kepartaian era reformasi, yaitu mengenai realitas
sistem kepartaian yang berkembang selama era reformasi; problematika sistem kepartaian yang ada; dan faktor-
faktor yang melatarbelakangi realitas dan problematika tersebut. Dengan menggunakan pendekatan penelitian
kualitatif dengan tujuan deskriptif-eksplanatif, diperoleh dua cara untuk menyederhanakan sistem kepartaian,
yakni mengubah sistem pemilu atau melalui rekayasa institusi. Pilihan pertama diharapkan bisa menghasilkan
sistem multipartai dengan dua parpol dominan di DPR, sedangkan pilihan kedua menghasilkan sistem multipartai
sederhana dengan dua koalisi besar yang bersifat permanen di parlemen. Namun demikian, tak kalah pentingnya
adalah reformasi karakter parpol, dari parpol pragmatis dan berorientasi jangka pendek menjadi parpol yang
memiliki platform politik dan visi kebangsaan yang jelas.
Kata kunci: sistem kepartaian

Pendahuluan
Di balik penerapan sistem multipartai dalam tiga Sebagai salah satu pilar demokrasi, parpol
kali pemilu pasca Orde Baru banyak persoalan merupakan wadah perjuangan bagi masyarakat
muncul dalam kepartaian di Indonesia. untuk mewujudkan kehidupan politik yang lebih
Persoalan kinerja parpol dan inkompatibilitas baik. Masyarakat semestinya dapat menyalurkan
sistem multipartai dengan sistem pemerintahan aspirasi dan kepentingannya melalui parpol.
presidensial merupakan persoalan yang Namun kenyataannya, keberadaan parpol
banyak disinggung dalam diskusi akademis, tidak berbanding lurus dengan fungsi yang
selain keberadaan parpol lokal di Aceh yang diembannya. Parpol yang hadir masih dianggap
merupakan keganjilan dalam sistem kepartaian. sebagai masalah ketimbang solusi bagi
demokratisasi di Indonesia.
1
Tim Peneliti terdiri dari Luky Sandra Amalia (Koordinator), Syamsuddin Haris, Lili Romli, Wawan Ichwanuddin,
dan Aisah Putri Budiatri.

Evaluasi Sistem Kepartaian di Era Reformasi | Luky Sandra Amalia | 145


1
Secara umum, parpol hanya bekerja ketika yang masuk parlemen tidak selalu berbanding
menjelang pemilu saja sehingga hubungan lurus dengan peningkatan kinerja sistem
antara masyarakat sebagai pemilih dengan perwakilan yang ada. Selain terkait dengan
parpol menjadi lemah.2 Selain itu, parpol juga persoalan kualitas partai sebagai institusi
cenderung untuk lebih mementingkan partai, individual, persoalan ini juga tidak dapat
kelompok, dan pribadi.3 Ketidakpercayaan dilepaskan dari postur sistem kepartaian yang
tersebut timbul karena orientasi partai politik ada yang cenderung terlalu banyak.
terhadap kepentingan rakyat cenderung
Dalam uraian di atas telah disebutkan
dikalahkan oleh kepentingan pribadi dan
bahwa ada dua persoalan yang terkait parpol
golongan. Bahkan, parpol seringkali lupa
dan sistem kepartaian di era reformasi, yaitu
memenuhi janji-janji kampanyenya kepada
buruknya kinerja parpol dan inkompatibilitas
konstituen setelah memperoleh kekuasaan.
sistem multipartai dengan sistem pemerintahan
Ketidakpercayaan masyarakat ini bukan hanya
presidensial yang diterapkan di Indonesia.
ditujukan kepada parpol lama, melainkan juga
Kedua persoalan tersebut saling berkaitan dan
terhadap partai baru.4
tidak dapat diselesaikan hanya salah satunya.
Sistem multipartai yang ada ‘gagal’ Proses institusionalisasi parpol tidak mungkin
menghasilkan mayoritas di DPR. Banyaknya optimal jika sistem kepartaian tidak memberikan
parpol yang masuk ke DPR dengan perolehan dukungan yang memadai, misalnya multipartai
kursi yang relatif menyebar cenderung yang ekstrim, baik karena jumlah maupun
memperpanjang proses pengambilan keputusan jarak ideologisnya. Demikian pula sebaliknya,
di lembaga legislatif. Proses pengambilan penataan sistem kepartaian tidak akan
keputusan kerap diwarnai oleh negosiasi- memberikan kontribusi yang optimal, misalnya
negosiasi politik berorientasi jangka pendek melalui penyederhanaan jumlah partai, jika
yang cenderung mengabaikan kepentingan parpol tidak bertransformasi dari sekedar
publik. Hal ini dapat dilihat dari usul organisasi menjadi institusi.
penggunaan hak interpelasi dan hak angket,
Tulisan ini memfokuskan kajian pada
serta penarikan kembali atas usulan tersebut
evaluasi sistem kepartaian era reformasi, yaitu
memperlihatkan adanya negosiasi-negosiasi
mengenai realitas sistem kepartaian yang
politik berorientasi jangka pendek tersebut.
berkembang selama era reformasi; problematika
Hal ini akhirnya berdampak pada munculnya
sistem kepartaian yang ada; faktor-faktor yang
kecenderungan perilaku parlementarianisme di
melatarbelakangi realitas dan problematika
kalangan anggota parlemen di satu pihak dan
tersebut. Meskipun demikian, analisis mengenai
tidak efektifnya sistem presidensial di pihak
realitas partai sebagai institusi individual tidak
yang lain.5 Jadi, bertambahnya jumlah partai
mungkin dihindari. Berdasarkan uraian di atas,
1
pertanyaan yang dijawab pada tulisan ini, yaitu:
2
Lili Romli (Ed.), Pelembagaan Partai Politik
Pasca-Orde Baru Studi Kasus Partai Golkar, PKB, (1). Apa saja problematika sistem kepartaian
PBB, PBR, dan PDS, (Jakarta: P2P-LIPI, 2008), di Indonesia era reformasi? (2). Faktor-faktor
hlm. 2. apa yang melatarbelakanginya? (3). Mengapa
3
Lili Romli, “Pandangan Urang Awak terhadap Partai sistem kepartaian yang ada belum berkontribusi
Politik: Kasus Sumatra Barat”, dalam Syamsuddin terhadap pembentukan pemerintahan yang
Haris (ed), Persepsi Masyarakat terhadap Partai efektif? (4). Bagaimana desain sistem kepartaian
Politik Peserta Pemilu 2004, Jakarta: Pusat Penelitian dalam konteks menganyam kembali demokrasi
Politik-LIPI dan Balitbang Depdagri, 2003, hlm. 80. Indonesia ke depan?
4
Luky Sandra Amalia, ”DPRD Banten: Relasi
Formalistik dengan Konstituen”, dalam Lili Romli
dan Luky Sandra Amalia (ed.), Kecenderungan
Hubungan Anggota Legislatif dan Konstituen:
Konsep Sistem Kepartaian
Studi DPRD Provinsi Banten Hasil Pemilu 2009, 1. Sistem Kepartaian Berdasarkan
(Jakarta:P2P-LIPI, 2010), hlm. 91.
5
Dikutip dari “Masukan LIPI Dalam Rangka Jumlah Partai Politik
Pembahasan RUU Tentang Partai Politik dan RUU Pendekatan sistem kepartaian berdasarkan
Tentang Susduk”, diproses oleh Pusat Studi Hukum jumlah partai yang memperoleh kursi di
& Kebijakan Indonesia dan ditampilkan dalam www. parlemen, menurut Maurice Duverger (1954)
parlemen.net., diakses pada tanggal 10 Oktober
2012.

146 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 10, No.2 Desember 2013


sebagaimana dikutip oleh Ramlan Surbakti, persoalan. Sistem ini biasanya menggunakan
terdiri atas tiga kelompok, yaitu sistem partai sistem pemilu distrik, yaitu satu kursi per daerah
tunggal, sistem dua partai (dwipartai), dan pemilihan dan yang dipilih calon bukan tanda
sistem multipartai.6 Pertama, sistem partai gambar partai.
tunggal adalah sistem yang didominasi oleh satu
Namun demikian, menurut Peter G.J.
partai di parlemen. Bentuk sistem partai tunggal
Pulzer (1967), terdapat tiga syarat supaya
antara lain partai tunggal totaliter, otoriter,
sistem dwipartai ini bisa berjalan baik. Pertama,
dan dominan. Dalam sistem partai tunggal
jika komposisi masyarakat bersifat homogen
totaliter terdapat satu partai yang menguasai
(social homogenity). Kedua, apabila ada
pemerintahan dan militer, bahkan seluruh
konsensus kuat dalam masyarakat mengenai
aspek kehidupan masyarakat. Partai tunggal
asas dan tujuan sosial politik (political
totaliter biasanya merupakan partai doktriner
consensus). Dan, ketika ada kontinuitas sejarah
dan diterapkan di negara-negara komunis dan
(historical continuity).7 Jika diterapkan dalam
fasis.
masyarakat yang terpolarisasi, menurut Robert
Sementara itu, dalam sistem partai tunggal A. Dahl (1966), sistem ini dapat mempertajam
otoriter sebenarnya terdapat lebih dari satu partai, perbedaan pandangan antara kedua belah pihak
tetapi ada satu partai besar yang digunakan karena tidak ada kelompok di tengah-tengah
oleh penguasa untuk memobilisasi massa dan yang dapat meredakan suasana konflik.8 Contoh
mengesahkan kekuasaannya, sedangkan partai- negara yang menerapkan sistem kepartaian
partai lain kurang dapat menampilkan diri karena dwi-partai adalah Inggris (Partai Buruh dan
ruang geraknya dibatasi penguasa. Dengan kata Partai Konservatif) dan Amerika Serikat (Partai
lain, partai dikuasai oleh pemerintah dan militer. Republik dan Partai Demokrat).
Contoh partai tunggal otoriter adalah Partai Uni
Ketiga, sistem multipartai, sebagaimana
Nasional Afrika Tanzania (UNAT) dan Partai
namanya, merupakan sistem yang terdiri atas
Aksi Rakyat Singapura. Lain halnya dengan
lebih dari dua partai politik dominan. Menurut
sistem partai tunggal dominan. Dalam sistem
Maurice Duverger (1954), sistem ini merupakan
ini, meskipun terdapat lebih dari satu partai
produk dari struktur masyarakat yang majemuk.
tetapi hanya satu partai saja yang dominan
Dalam sistem ini hampir tidak ada partai yang
(secara terus-menerus berhasil mendapatkan
memenangi pemilu mutlak. Oleh karena itu,
dukungan untuk berkuasa). Sedangkan partai-
koalisi mutlak diperlukan untuk memperkuat
partai lain tidak mampu menyaingi partai yang
pemerintahan. Namun demikian, dukungan
dominan, walaupun terdapat kesempatan yang
koalisi bisa ditarik kembali sewaktu-waktu.
sama untuk mendapatkan dukungan melalui
Selain itu, dalam sistem ini tidak ada kejelasan
pemilihan umum. Contoh partai tunggal
posisi partai oposisi sebab sewaktu-waktu partai
dominan adalah Partai Liberal Demokrat di
oposisi bisa menjadi bagian pemerintahan.
Jepang hingga tahun 2007.
Dengan kata lain, dalam sistem ini seringkali
Kedua, sistem dua partai, sesuai dengan terjadi siasat yang berubah-ubah sesuai dengan
namanya, merupakan sistem kepartaian yang kegentingan situasi yang dihadapi masing-
di dalamnya terdapat dua partai utama yang masing partai politik. Sistem ini menggunakan
bersaing dalam pemilihan umum. Partai- sistem pemilu proporsional/perwakilan
partai kecil hanya berpengaruh apabila dalam berimbang (proportional representation) yang
pemilu selisih perolehan suara kedua partai memberi kesempatan luas bagi pertumbuhan
besar sangat kecil. Dalam sistem ini terdapat partai-partai dan golongan-golongan baru.9
pembagian tugas yang jelas yakni partai yang
Dalam perkembangannya, sistem
memenangkan pemilu menjadi partai yang
kepartaian berbasis jumlah partai terus
memerintah, sedangkan partai yang kalah dalam
mengalami modifikasi,10 diantaranya Sartori
pemilu menjadi oposisi yang loyal terhadap
kebijakan pemerintah. Pada dasarnya, tidak 7
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik,
banyak perbedaan mengenai asas dan tujuan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm. 417.
politik di antara kedua partai. Perbedaannya
8
Ibid., hlm. 418.
hanya pada titik berat dan cara menyelesaikan
9
Ibid., hlm. 420.
10
Dikutip dari Sigit Pamungkas, Partai Politik Teori
6
Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, (Jakarta: dan Praktik di Indonesia, (Yogyakarta: Institute for
Gramedia, 1998), hlm. 125.. Democracy and Welfarism, 2011), hlm. 45-46.

Evaluasi Sistem Kepartaian di Era Reformasi | Luky Sandra Amalia | 147


(1976) yang berpendapat bahwa penghitungan mencapai dukungan mayoritas di DPR.
jumlah partai tidak semata-mata pada perolehan
Di sisi lain, koalisi longgar yang dibangun
kursi di parlemen, tetapi juga harus didasarkan
oleh presiden minoritas justru bisa jadi masalah
pada potensi koalisi dan blackmail (parpol
bagi pemerintahan itu sendiri. Seperti halnya
yang dianggap tidak layak untuk ikut dalam
yang terjadi pada masa kepemimpinan Gus
pemerintahan oleh parpol lain, tetapi bisa
Dur yang digulingkan dari kursi presiden atas
mempengaruhi arah koalisi di parlemen).
inisiatif partai-partai pendukung pemerintah dan
Sementara itu, menurut Riswanda koalisi longgar partai-partai berbasis Islam yang
Imawan (1996), setidaknya ada dua faktor menamakan diri Poros Tengah. Padahal, koalisi
yang menentukan kinerja sebuah sistem ini juga yang mengusung Gus Dur menjadi
kepartaian.11 Pertama, jumlah partai yang Presiden pada Sidang Umum MPR tahun 1999.
ada. Kedua, independensi partai-partai yang Meskipun pada era pemerintahan berikutnya
ada. Jumlah partai menentukan kompleksitas tidak terjadi pemakzulan terhadap presiden,
interaksi atau kompleksitas konflik yang ada kecenderungan yang sama juga terjadi pada
dalam masyarakat. Bila jumlah partai terlalu masa pemerintahan Megawati maupun SBY
banyak, bisa jadi isu-isu yang kurang penting melalui cara lain. Cara yang digunakan oleh
atau kurang relevan dibicarakan pada tingkat DPR adalah melalui penggunaan hak interpelasi
negara masuk dalam mekanisme politik yang atau hak angket DPR. Sebagai contoh, pada
berlangsung. Sebaliknya, jika jumlah partai masa pemerintahan Presiden Megawati, DPR
terlalu sedikit sementara masyarakatnya plural, mengajukan hak interpelasi atas lepasnya Pulau
maka bisa jadi akan terjadi simplifikasi terhadap Sipadan-Ligitan. Hak interpelasi DPR ini juga
aspirasi masyarakat berkembang. didukung oleh partai-partai yang kader-kadernya
duduk di Kabinet Gotong Royong. Kejadian
Realitas konfigurasi politik tanpa kekuatan
yang sama juga menimpa pemerintahan SBY.
mayoritas di DPR menyebabkan pihak eksekutif
harus membangun koalisi dengan partai lain Dengan demikian, sejak Pemilu 1999
dalam membentuk kabinet. Sejak periode hingga 2009 tidak ada koalisi yang permanen.
pemerintahan 1999 hingga 2009 tercatat setiap Pada putaran kedua Pemilu Presiden 2004,
presiden mengakomodir hampir semua parpol misalnya, terbangun koalisi yang cukup longgar
untuk menduduki kursi menteri. Misalnya, untuk memenangkan pasangan calon presiden
Kabinet Persatuan Nasional era Presiden dan wakil presiden. Partai politik terbagi ke
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendapat dalam dua koalisi besar yang menamakan
dukungan 437 kursi yang terdiri dari PKB (51 diri dengan koalisi kebangsaan dan koalisi
kursi), Partai Golkar (120 kursi), PDIP (153 kerakyatan, yang ujung-ujungnya terlibat dalam
kursi), PPP (58 kursi), PAN (34 kursi), PBB (13 pertarungan perebutan kursi pimpinan Dewan
kursi), dan Partai Keadilan (7 kursi). Kabinet maupun kursi pimpinan alat kelengkapan DPR
Gotong Royong masa pemerintahan Megawati yang lain.
Soekarnoputri melanjutkan pola koalisi yang
Komposisi kekuatan Koalisi Kebangsaan
telah dibentuk oleh Gus Dur namun berkurang
dan Koalisi Kerakyatan berubah drastis seiring
tujuh kursi milik Partai Keadilan yang tidak lagi
dengan perubahan konstelasi politik yang
duduk di kabinet.
terjadi di internal Partai Golkar. Kemenangan
Hal yang sama juga terjadi pada Kabinet Jusuf Kalla (JK) mengalahkan Akbar Tandjung
Indonesia Bersatu era Presiden SBY yang dalam pemilihan Ketua Umum Partai
berhasil meraih dukungan 403 kursi setelah Golkar mengubah arah politik Partai Golkar
membangun koalisi. KIB memperoleh sekaligus Fraksi Partai Golkar (FPG) sebagai
dukungan 56 kursi dari Partai Demokrat sebagai perpanjangan tangan partai. Jusuf Kalla yang
partai pengusung utama SBY, 11 kursi dari tengah menjabat sebagai Wakil Presiden
PBB, 45 kursi dari PKS, 1 kursi dari PKPI, tentu saja menarik Partai Golkar dari Koalisi
127 kursi Partai Golkar, 58 kursi PPP, 53 kursi Kebangsaan yang berseberangan dengan
PAN, dan 52 kursi PKB. Dengan demikian, pemerintah menuju Koalisi Kerakyatan yang
dapat dikatakan bahwa hampir semua presiden mendukung pemerintah. Perubahan tersebut
di era reformasi merupakan presiden minoritas tentu berimbas pada komposisi kekuatan
(minority president) karena partainya tidak Koalisi Kebangsaan yang telah menguasai 58
11
Ibid., hlm. 59-60.

148 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 10, No.2 Desember 2013


persen (317 kursi) parlemen menjadi 35 persen yang menerapkan sistem ini adalah Belanda.
(188 orang) begitu ditinggalkan FPG.12 Ketiga, sistem pluralisme ekstrim. Dalam sistem
ini terdapat perbedaan ideologi yang tajam di
Dengan demikian, koalisi yang terbangun
antara partai-partai politik yang ada. Dalam
di antara fraksi ini sangat rapuh dan tidak
sistem ini biasanya konsensus sulit dicapai dan
permanen. Lebih lanjut, kedua kelompok
perilaku partai-partai politiknya mengarah ke
koalisi ini bubar dengan sendirinya setelah
perpecahan. Contohnya, Italia.
FPG menarik diri dari Koalisi Kebangsaan
dan sebagian anggota fraksi, baik yang Namun demikian, masih menurut Sartori
tergabung dalam Koalisi Kerakyatan maupun sebagaimana dikutip Sigit Pamungkas, sistem
Koalisi Kebangsaan, duduk dalam Kabinet kepartaian berdasarkan jarak ideologi juga
Indonesia Bersatu (KIB). Dengan kata lain, dapat dikategorikan berdasarkan kemampuan
ketidakdisiplinan partai politik anggota koalisi parpol dalam berkompetisi, yakni sistem
dalam mempertahankan koalisi merupakan kepartaian non-kompetitif dan sistem kepartaian
persoalan dari penerapan sistem presidensial kompetitif. Sistem kepartaian non-kompetitif
yang dikombinasikan dengan sistem multipartai. sering disebut juga dengan sistem partai negara
(party-state system) sebab keberadaan parpol
identik dengan kepentingan negara sehingga
2. Sistem Kepartaian Berdasarkan sulit membedakan antara parpol dengan
Jarak Ideologi negara. Kondisi ini biasanya dilakukan melalui
pembatasan ruang gerak terhadap parpol.
Sistem kepartaian berdasarkan jarak ideologi,
Contohnya, sistem partai tunggal dan sistem
menurut Daniel Dhakidae (1999), dapat
partai hegemonik. Sedangkan, sistem kompetitif
dibedakan berdasarkan lima hal. Pertama,
memungkinkan adanya persaingan antarparpol
perbedaan atas orientasi dasar. Kedua, perbedaan
dan hak-hak politik parpol untuk menjalankan
pada tujuan konkret yang hendak dicapai.
fungsinya dilindungi oleh negara melalui
Ketiga, perbedaan tentang cara mencapai tujuan.
konstitusi. Contohnya, sistem kepartaian
Keempat, perbedaan dalam menilai kepribadian
predominan, dwipartai, pluralisme terbatas/
politik. Kelima, perbedaan pada komposisi
moderat, pluralisme ekstrim/terpolarisasi, dan
partai atau fraksi, terutama basis massa dan
atomik.
pengumpulan kekuatan politik. Dengan
demikian, semakin besar perbedaan tersebut, Sementara itu, di Indonesia, “aliran”
semakin jauh jarak ideologi antarparpol.13 adalah salah satu penjelasan yang paling banyak
digunakan dalam menjelaskan perbedaan
Giovani Sartori (1976), secara umum
ideologi di antara parpol. Istilah ini berasal dari
membagi sistem kepartaian ke dalam tiga
kajian antropologis Clifford Geertz di sebuah
kelompok berdasarkan jarak ideologi.14 Pertama,
desa di Jawa, yang menghasilkan sebuah
sistem kepartaian pluralisme sederhana. Pada
tipologi masyarakat yang terdiri dari santri,
sistem ini tidak terdapat perbedaan ideologi di
priyayi, dan abangan. Konsep ini kemudian juga
antara partai-partai politik yang ada meskipun
digunakan untuk menjelaskan peta ideologis
jumlah partai lebih dari dua. Contoh negara yang
parpol di Indonesia pada tahun 1950-an. Pada
menerapkan sistem ini adalah Amerika Serikat.
Pemilu 1955, basis dukungan kepemiluan dari
Kedua, sistem pluralisme moderat. Dalam sistem
kaum santri diarahkan pada kekuatan politik
ini terdapat perbedaan ideologi di antara partai-
di kubu kanan (NU dan Masyumi), sedangkan
partai politik yang ada, tetapi perbedaannya tidak
dari kaum abangan dukungan diarahkan pada
terlalu jauh sehingga masih memungkinkan
kekuatan politik di kubu kiri (PNI dan PKI).
untuk mencapai kesepakatan. Persamaan kedua
sistem kepartaian di atas adalah perilaku partai- Masih dengan perspektif politik aliran,
partai politiknya masih mengarah ke integrasi Herbert Feith dan Lance Castles menyatakan
nasional, bukan perpecahan. Contoh negara bahwa ideologi parpol di Indonesia pada
12
Muhammad Qodari, “Kembalinya Tradisi Golkar”, masa itu dibentuk oleh dua pengaruh besar,
Kompas, 21 Desember 2004, hlm. 6. yaitu pengaruh dunia Barat dan pengaruh
13
Daniel Dhakidae (Ed.), Partai-Partai Politik tradisi yang bersumber pada ajaran Islam dan
Indonesia: Ideologi, Strategi, dan Program, (Jakarta: Hindu-Budha. Dari dua pengaruh tersebut,
Kompas, 1999), hlm. 196. Feith dan Castles mengelompokkan parpol di
14
Ramlan Surbakti, op.cit, hlm. 127-128.

Evaluasi Sistem Kepartaian di Era Reformasi | Luky Sandra Amalia | 149


Indonesia ke dalam lima kelompok, yaitu Islam, ideologi yang jelas dan hanya menjadikannya
Sosialisme Demokrat, Nasionalisme Radikal, untuk memobilisasi dukungan pemilih.
Tradisionalisme Jawa, dan Komunisme. Ini dapat dilihat dari tidak berjalannya
Sebagian kelompok ideologis ini berhasil fungsi parpol dalam hal pendidikan politik.
mewujudkan diri dalam kekuatan parpol terbesar Pertarungan ‘ideologi’ antarparpol berhenti
dalam Pemilu 1955, yaitu PNI (Nasionalisme dengan sendirinya ketika pemilu usai dan proses
Radikal), Masyumi (Islam), Nahdlatul Ulama pembentukan pemerintahan dimulai. Berbagai
(Islam), dan PKI (Komunisme).15 perbedaan ideologi yang ada seolah-olah tidak
lagi menjadi faktor penting dalam pembentukan
Sebagian akademisi masih menggunakan
kabinet sehingga tidak ada oposisi.17 Selain itu,
konsep ini untuk menjelaskan parpol pasca
parpol-parpol dalam tiga kali pemilu terakhir
jatuhnya Orde Baru. Daniel Dakhidae,
cenderung bertransformasi menjadi semacam
contohnya, melihat bahwa 48 parpol peserta
catch all party yang memperluas dukungan di
pemilu 1999 dapat dikelompokkan berdasarkan
luar basis dukungan tradisionalnya.
menjadi enam hingga sepuluh kelompok besar.
Pengelompokan dapat dilakukan berdasarkan Hampir semua partai sekarang ini sulit
aliran (nasionalisme radikal, sosialisme dibedakan ideologinya. Batas ideologi antara
demokrat, Islam, dan tradisionalisme Jawa), satu partai dengan partai yang lain semakin tidak
kelas (berorientasi modal, dan berorientasi jelas karena parpol kesulitan membawa ideologi
pekerja), komunalisme agama (inklusif dan tertentu di era seperti sekarang ini. Masyarakat
eksklusif), dan kebangsaan (sekuler dan tak sudah rasional dalam menentukan pilihan.
sekuler). Dengan sistem multipartai seperti sekarang ini
sulit sekali untuk mencirikan ideologi partai-
Namun, sebagian akademisi yang lain
partai yang ada. Misalnya, banyak sekali partai-
mempertanyakan relevansi politik aliran
partai yang nasionalis. Demikian halnya dengan
dalam politik pasca Orde Baru. Kevin Evans,
partai religius juga bukan hanya satu partai. Hal
contohnya, melihat bahwa pembelahan ideologis
ini terlihat, misalnya, pada Partai Demokrasi
menggunakan konsep kiri-kanan seperti di Barat
Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai partai
sulit diterapkan di Indonesia. Di Barat kiri lebih
wong cilik ternyata kadernya tidak hanya ada
diidentikkan dengan pihak yang mendukung
yang pro-pasar tradisional, tetapi juga ada yang
peran besar pemerintah dalam tatanan ekonomi
pro-pengusaha mall. Jelas ini menunjukkan
sedangkan sayap kanan yang lebih diidentikkan
betapa partai tidak berfungsi sebagai sekolah
sebagai pendukung pasar bebas dari campur
ideologis bagi kadernya. Partai hanya ’angkutan
tangan pemerintah yang minim. Di Indonesia,
kota’ yang dibeli tiketnya untuk pemilihan
sikap umum terhadap penataan ekonomi adalah
kepala daerah. Kondisi ini melahirkan oportunis
pragmatis, yaitu sistem mana yang efekif pada
yang sewaktu-waktu dapat mbalelo terhadap
saat tertentu. Pembelahan yang lebih relevan,
disiplin ideologis partainya.
menurut Evans, adalah terkait pandangan
mengenai posisi Agama Islam dalam ranah Persoalan yang diderita PDIP ternyata juga
publik. Dengan menggunakan pembelahan dialami partai-partai lain. Kasus Nazaruddin,
ini, kekuatan kepemiluan sepanjang garis misalnya, Partai Demokrat yang mengusung
kiri-kanan di Indonesia dapat dikelompokkan agenda antikorupsi ternyata tidak dapat menjaga
menjadi tiga kelompok kekuatan politik. Secara kebersihan etis kadernya. Hampir semua
sederhana gambaran kelompok ini dapat dicatat partai tersandera sindrom ’partai angkot’ yang
sebagai “3B”, yaitu kelompok bantengis (kiri), merusak kaderisasi dan meritokrasi, bahkan
kelompok bintangis (kanan) dan selama generasi partai yang konon menjunjung kebersihan dan
terakhir kelompok ketiga yang telah muncul profesionalitas. Dasar agama yang dijadikan
adalah kelompok beringinis (menengah).16 landasan politik sebagian partai terbukti
tidak dapat mencegah politik koruptif para
Bahkan, tidak sedikit akademisi melihat
kadernya. Dengan tujuan politik jangka pendek
bahwa parpol sebenarnya tidak mempunyai
menyebabkan partai hanya akan berjualan tokoh
15
Herbert Feith dan Lance Castles, Indonesian dan berharap mendapatkan suara dari tokoh
Political Thinking 1945-1965, (Itacha and London: 17
Kuskridho Ambardi, Mengungkap Politik Kartel
Cornell University, 1970), hlm. 4.
Studi tentang Sistem Kepartaian di Indonesia Era
16
Kevin Evans, “Politik “Aliran” yang Mana?”,
Reformasi, (Jakarta: KPG, 2009), hlm. 3.
Tempo, 31 Maret–6 April 2009.

150 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 10, No.2 Desember 2013


yang diusungnya. Ideologi urusan belakangan. diterapkan di Indonesia bukan hanya merupakan
Alhasil, pemimpin yang dihasilkan tidak “kombinasi yang sulit”, melainkan juga
memiliki ikatan ideologis apa pun dengan partai membuka peluang terjadinya kebuntuan politik
pengusungnya. (deadlock) dalam hubungan eksekutif-legislatif
yang kemudian berdampak pada instabilitas
demokrasi presidensial. Pertama, menurut Scott
3. Sistem Kepartaian Berdasarkan Mainwaring, kemandekan diakibatkan oleh
Formasi Pemerintahan banyaknya jumlah partai di parlemen ditambah
dengan pemilu yang berbeda untuk memilih
Sistem kepartaian berdasarkan formasi
anggota parlemen dan presiden menyebabkan
pemerintahan, menurut Dahl (1966) dan
terjadinya perbedaan partai yang menguasai
Rokkan (1970) sebagaimana dikutip Sigit
parlemen dengan partai yang memerintah.
Pamungkas, dapat dibedakan berdasarkan
Peluang sebuah parpol untuk menjadi mayoritas
pola oposisi partai.18 Menurut Dahl, sistem
di parlemen relatif kecil.20 Kedua, kekakuan
kepartaian berdasarkan pola oposisi partai dapat
sistemik mengenai masa jabatan presiden yang
diklasifikasikan ke dalam empat kelompok.
bersifat tetap mengakibatkan tidak ada peluang
Pertama, persaingan ketat (strictly competitive).
untuk mengganti presiden di tengah jalan
Contohnya Inggris Raya. Kedua, bekerjasama
meskipun kinerjanya tidak memuaskan publik.
dan bersaing (cooperative and competitive).
Contohnya Amerika Serikat, Prancis, dan Ketiga, prinsip pemenang mengambil
Australia. Ketiga, bergabung dan bersaing semua memberi peluang bagi presiden untuk
(coalescent and competitive). Contohnya mengklaim pilihan-pilihan kebijakannya atas
Austria. Keempat, penggabungan ketat (strictly nama rakyat. Keempat, menurut Juan Linz,
coalescent). Contohnya Kolombia. seperti dikutip Syamsuddin Haris, pemisahan
kekuasaan antara lembaga eksekutif dan
Sementara itu, Rokkan (1970) dan
legislatif di dalam sistem presidensial cenderung
kemudian dilanjutkan oleh Peter Mair (2006)
menimbulkan polarisasi dan instabilitas politik,
membagi sistem kepartaian berdasarkan pola
sehingga dianggap tidak cocok diterapkan di
oposisi ke dalam tiga kategori. Pertama, pola
negara demokrasi baru.21 Fragmentasi kekuatan
1 vs 1+1 artinya sistem kepartaian didominasi
parpol di parlemen seperti ini biasanya
oleh kompetisi antara dua partai utama dengan
merupakan produk dari penerapan sistem
partai ketiga. Contohnya Austria dan Irlandia.
pemilu perwakilan berimbang (proportional
Kedua, pola 1 vs 3-4 artinya satu partai besar
representation).
berkonfrontasi dengan aliansi relatif formal
antara tiga atau empat partai kecil secara reguler. Kesulitan lain yang muncul akibat
Contohnya, Norwegia, Swedia, dan Denmark. perpaduan sistem ini antara lain, pertama,
Terakhir, pola 1 vs 1 vs 1+2-3 (pola multipartai) sulitnya melembagakan format koalisi
yaitu kompetisi didominasi oleh tiga atau lebih permanen di antara partai-partai tanpa mayoritas
partai dengan besaran relatif setara. Sistem ini di parlemen. Kedua, lemahnya disiplin partai-
nampaknya yang terjadi di Indonesia. partai dalam mempertahankan sikap dan prinsip
politik dari lobi, negosiasi, dan kompromi
Sistem kepartaian tidak dapat dilepaskan
politik. Oleh karena itu, ke depan, perlu ada
dari sistem pemerintahan. Pendekatan ini
semacam “kontrak politik” di antara partai-
melihat seberapa kompatibel sistem kepartaian
partai politik yang membentuk koalisi. Kondisi
yang dipilih dengan sistem pemerintahan yang
ini juga membawa keuntungan bagi masyarakat
ada di suatu negara. Sistem dua partai sering
sebab masyarakat menjadi lebih mudah menagih
dianggap sebagai sistem kepartaian yang paling
janji-janji kampanye partai. Lebih jauh lagi,
ideal sebab kompatibel untuk sistem presidensial
dan sistem parlementarian, sedangkan sistem 20
Maswadi Rauf, “Evaluasi Sistem Presidensial”,
multipartai dianggap hanya sesuai dengan dalam Moch. Nurhasim dan Ikrar Nusa Bhakti
sistem parlementer.19 (Ed.), Sistem Presidensial dan Sosok Presiden Ideal,
Jakarta: Pustaka Pelajar dan Asosiasi Ilmu Politik
Sementara itu, kombinasi sistem Indonesia-AIPI, 2009, hlm. 35.
presidensialisme dan multipartai seperti yang 21
Syamsuddin Haris, “Dilema Presidensialisme di
18
Sigit Pamungkas, op.cit, hlm. 47. Indonesia Pasca-Orde Baru dan Urgensi Penataan
19
Ibid, hlm. 55. Kembali Relasi Presiden-DPR”, dalam Moch.
Nurhasim dan Ikrar Nusa Bhakti (Ed.), Ibid, hlm. 98.

Evaluasi Sistem Kepartaian di Era Reformasi | Luky Sandra Amalia | 151


situasi ini dapat memperkuat sistem demokrasi parlemen cenderung melemah karena terlalu
presidensial.22 banyak kepentingan yang dinegosiasikan di
antara partai-partai.24
Dalam kadar tertentu, kerumitan dari
kombinasi sistem pemerintahan presidensial Contoh kasus, Presiden Susilo Bambang
dengan sistem multipartai dialami Indonesia Yudhoyono (SBY) dibuat kesal oleh empat
selama era reformasi. Semua presiden, gubernur yang tidak menghadiri acara
baik yang dipilih secara langsung oleh penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
rakyat maupun yang dipilih melalui Majelis (DIPA) tahun 2013 di Istana Negara Jakarta
Permusyawaratan Rakyat (MPR), dihadapkan pada tanggal 10 Desember 2012.25 Hal serupa
pada masalah ini. Sebagai contoh, pada masa juga dialami Gubernur Sulawesi Utara, Dr.
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono - M. Sinyo Sarundajang, yang merasa kecewa dan
Jusuf Kalla (SBY-JK), konflik dan ketegangan prihatin karena sekitar 13 bupati dan wali kota
dalam relasi presiden-DPR cenderung dari 15 kabupaten/kota yang ada, tidak hadir
meningkat tatkala presiden tidak menghadiri dalam penyerahan DIPA tahun 2013, senilai Rp
langsung undangan DPR untuk memberikan 15,95 Triliun di Kantor Gubernur Sulut, pada 17
keterangan atas pertanyaan DPR mengenai Desember 2012.26 Contoh lain, Wakil Walikota
kebijakan pemerintah melalui hak interpelasi Solo, Hadi Rudyatmo, bergabung dengan massa
maupun hak angket. Namun demikian, konflik di Solo untuk menolak kenaikan harga BBM.27
dan ketegangan ini mereda dengan sendirinya Demikian halnya dengan Wakil Walikota
setelah diadakan rapat konsultasi antara presiden Surabaya, Bambang DH, ikut turun dalam aksi
dengan pimpinan DPR.23 Dengan demikian,
kekhawatiran akan terjadinya kebuntuan ��
Lihat juga Philips J Vermonte, “Wacana Jumlah
politik dalam jangka waktu yang lama relatif Partai Politik dan Pemilu”, 7 Juli 2007, http://
tidak terjadi di Indonesia. Hal ini disebabkan pjvermonte.wordpress.com/2007/07/07/wacana-
oleh kerja pengawasan DPR kepada presiden jumlah-partai-politik-dan-pemilu-1/, diakses pada
seringkali hanya untuk menarik simpati publik tanggal 10 Desember 2012.
dan menaikkan posisi tawar partai politik di 25
Empat gubernur tersebut yakni Gubernur
hadapan presiden SBY dan partainya (Partai Sumatra Selatan Alex Noerdin, Gubernur Sulawesi
Demokrat). Sehingga, ketegangan tersebut Selatan Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Lampung
dengan mudah dapat diredam melalui rapat Sjachroedin Z.P dan Gubernur Kepulauan Riau
konsultasi di antara presiden dengan pimpinan Muhammad Sani. Khusus untuk Sani, wakilnya
Dewan. melaporkan bahwa dia sakit. Sementara untuk
Gubernur Sulsel, ada kerabat yang meninggal dunia.
Skema sistem presidensial, seperti Lalu, Gubernur Sumsel saat ini masih berada di
diketahui, menempatkan presiden sebagai Amerika Serikat. Untuk gubernur Lampung tak
locus kekuasaan, dalam arti untuk memerintah ada keterangan dari pihak Istana, namun staf dari
(govern) dan mengeksekusi kebijakan. Karena Kemendagri mengabarkan ada acara pelantikan di
itu, seorang presiden semestinya memperoleh wilayahnya. Lihat, “Empat Gubernur Absen di Istana
derajat governability yang tinggi agar Negara Presiden SBY Dibuat Kesal Ulah Gubernur”,
pemerintahan yang dihasilkan pemilu bisa dalam http://www.radaronline.co.id/berita/read/
22354/2012/Presiden-SBY-Dibuat-Kesal-Ulah-
bekerja efektif. Jumlah partai yang banyak di
Gubernur, diakses pada tanggal 10 Desember 2012.
parlemen, memang boleh jadi mencerminkan 26
Dari 15 kepala daerah yang ada di Sulut, yang
representativeness yang tinggi. Namun, jumlah hadir hanya Bupati Minahasa Selatan Tetty Paruntu
partai yang terlalu banyak secara natural juga SE dan Wakil Walikota Bitung Drs Max Lomban SE
mengurangi derajat governability presiden Msi, sementara yang lainnya tidak ada kabar. Dan
dalam sistem presidensial. Sebabnya sangat justru hanya mengutus bawahan, baik sekda dan
sederhana: too many players. Jika pada saat yang asisten. Lihat, “Gubernur Sulut Kecewa, 13 Kepala
sama, koalisi politik yang dibentuk Presiden Daerah Tidak Hadir Penyerahan DIPA 2013”,
terlalu cair –seperti fenomena Indonesia di dalam http://www.suarapembaruan.com/nasional/
bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono- gubernur-sulut-kecewa-13-kepala-daerah-tidak-
maka kemampuan eksekusi presiden pun hadir-penyerahan-dipa-2013/28329, diakses 18
menurun, begitu pula kemampuan legislasi Desember 2012.
27
”Ikut Demo, Wakil Walikota Solo Diperingatkan
22
Ibid, hlm. 107-108. Mendagri”, detiknews.com, diakses pada tanggal 26
��
Ibid, hlm. 97. Maret 2012.

152 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 10, No.2 Desember 2013


penolakan kenaikan harga BBM.28 Hal di atas, kegaitan partai. Terakhir, hubungan dengan
tentu saja, menunjukkan bahwa pemerintahan di konstituen terlihat belum intensif dan kurang
Indonesia belum efektif. Banyak kepala daerah efektif. Selain itu, hubungan yang tercipta juga
tidak patuh kepada “atasannya”. lebih bersifat temporer dan parsial. Akibatnya,
sistem kepartaian juga sangat lemah.
Indonesia memilih sistem multipartai
Fragmentasi dan Polarisasi Sistem sebagai sistem kepartaiannya. Akibatnya,
Kepartaian Era Reformasi pasca reformasi jumlah partai politik semakin
banyak. Partai politik yang mendaftarkan diri ke
Berbicara tentang sistem kepartaian tidak Departemen Kehakiman mencapai 184 parpol.
dapat dilepaskan dari kualitas partai itu sendiri. Dari angka tersebut, 141 diantaranya berhasil
Kualitas partai politik sebagai sebuah institusi mendapatkan pengesahan sebagai partai politik.
akan mempengaruhi kualitas sistem kepartaian Selanjutnya, parpol yang dinyatakan memenuhi
yang terbentuk. Meskipun sistem kepartaiannya syarat untuk mengikuti Pemilu 1999 berjumlah
sederhana tetapi jika kualitas partai politiknya 48. Dari 48 parpol peserta Pemilu 1999,
hancur, maka praktek politiknya pun juga sebanyak 19 parpol berhasil memperoleh kursi
akan hancur. Artinya, ketika sistem kepartaian di DPR.
sederhana terbentuk tidak mungkin dengan
otomatis akan bisa memperkuat atau Jumlah partai politik menjelang Pemilu
memperbaiki kualitas demokrasi, selama 2004 juga tidak jauh berbeda. Partai yang
kualitas dari partai politik itu sendiri tidak terdaftar di Depkumham tercatat sebanyak 112
dikerjakan. Sehingga, harus ada kerja bersama partai. Dari 112 partai yang memiliki badan
yang dilakukan supaya kualitas partai politik hukum tersebut, hanya 24 diantaranya yang
meningkat dan secara bersamaan kualitas sistem berhak menjadi peserta Pemilu 2004. Jumlah ini
kepartaiannya juga lebih baik. berkurang setengah dari jumlah peserta Pemilu
1999. Dari 24 parpol peserta Pemilu 2004
Persoalannya, setelah lebih dari 10 tahun terdapat 16 partai yang berhasil mendudukkan
reformasi, secara kelembagaan partai-partai kadernya di parlemen.
politik yang ada belum dapat disimpulkan
menjadi partai yang solid. Partai belum mampu Jumlah parpol yang berbadan hukum
membentuk diri menjadi partai dewasa. berkurang drastis hingga 79 partai menjelang
Pelembagaan partai dapat dilihat berdasarkan Pemilu 2009 dibandingkan sebelumnya.
enam aspek, pertama, ideologi/identitas parpol Namun, jumlah parpol peserta Pemilu 2009
(platform) menunjukkan bahwa meskipun justru bertambah banyak dibandingkan dengan
jumlah partai yang muncul di era transisi pemilu sebelumnya. Jumlah parpol yang
reformasi ini sangat banyak, tetapi secara berhak mengikuti Pemilu 2009 adalah 38 partai
garis besar ideologinya hanya terbagi atas (ditambah 6 partai lokal Aceh). Hasilnya,
tiga ideologi, yaitu nasionalis (Pancasila), terdapat 9 parpol yang berhasil menduduki kursi
nasionalis religius, dan Islam. Kedua, sistem legislatif setelah berhasil melewati ketentuan
keanggotaan dan kaderisasi yang dilakukan 2,5 persen ambang batas parlemen (PT).
parpol pasca Orde Baru pada umumnya belum Alhasil, partai pemenang di setiap pemilu
berjalan dengan baik. Ketiga, pada sebagian tidak sama. Pemilu 1999 berhasil dimenangkan
besar partai nampaknya demokrasi internal oleh PDI Perjuangan. Pemilu 2004 dimenangkan
parpol belum sepenuhnya berjalan dengan baik. oleh Golkar. Pemilu 2009 dimenangkan oleh
Keempat, berkaitan dengan kohesivitas internal Partai Demokrat. Selain itu, tidak ada pemenang
partai nampaknya parpol-parpol belum bisa mayoritas dalam setiap pemilu. PDIP sebagai
mewujudkannya dengan baik. Kelima, tingkat partai pemenang Pemilu 1999 hanya berhasil
otonomi partai relatif rendah karena masih meraih 153 dari 500 kursi DPR.29 Demikian
bergantung pada pemerintah dalam membiayai halnya dengan hasil Pemilu 2004. Partai Golkar
28
“Mendagri Tegur Bupati/Walikota Ikut sebagai partai pemenang Pemilu 2004 hanya
Demo Tolak Kenaikan BBM”, http://www.
beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&_
29
Sebastian Salang, M. Djadijono, I Made Leo
Pemerintahan/2012-04-, 09/131938/Mendagri_ Wiratma, TA. Legowo, Panduan Kinerja DPR/
Tegur_Bupati/Walikota_Ikut_Demo_Tolak_ DPRD Menghindari Jeratan Hukum Bagi Anggota
Kenaikan_BBM, diakses pada tanggal 9 April 2012. Dewan, (Jakarta: Forum Sahabat, 2009), hlm. 23.

Evaluasi Sistem Kepartaian di Era Reformasi | Luky Sandra Amalia | 153


berhasil memperoleh 127 dari 550 kursi DPR cenderung bertransformasi menjadi semacam
dan Partai Demokrat hanya memiliki 150 dari catch all party yang memperluas dukungan di
560 kursi DPR. luar basis dukungan tradisionalnya.
Dampak lain dari sistem multipartai adalah
partai-partai politik baru terus bermunculan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya Presidensialisme-Multipartai dan
partai baru, pertama, karena kecewa dengan Kartelisasi Politik
parpol yang lama. Kedua, parpol baru terbentuk
Sistem kepartaian dalam tiga belas tahun
karena kecewa dengan kebijakan parpol lama.
terakhir ini cenderung mengokohkan
Artinya, mereka muncul karena perpecahan
kartelisasi. Dari pemilu ke pemilu, pembedaan
dari partai sebelumnya karena gagal mengelola
ideologi antarpartai menjadi semakin tidak
konflik internal partai. Ketiga, parpol baru juga
signifikan, kecuali sebatas klaim-klaim yang
merupakan tempat penampungan pensiunan,
lebih merepresentasikan kebutuhan partai untuk
job seeker, para postpower sindrom, dan
melakukan pencitraan di hadapan pemilih.
semacamnya. Ditambah lagi, kemudahan yang
Ideologi juga menjadi semakin tidak relevan saat
diberikan oleh UU dalam proses pendirian
pemilu berakhir. Koalisi turah yang dibentuk
parpol.
menunjukkan kecenderungan untuk merangkul
Dalam perjalanannya, pendekatan sistem partai lebih dari jumlah yang dibutuhkan untuk
kepartaian dengan berbasis jumlah partai membentuk mayoritas, termasuk partai-partai
mengalami modifikasi. Penghitungan partai yang sebelumnya menjadi kompetitor dalam
bukan semata-mata didasarkan pada jumlah pemilu, sehingga tidak menyisakan kekuatan
partai yang ada di parlemen, melainkan juga oposisi yang memadai. Mengutip Dan Slater,
perlu dilihat jarak ideologinya. Partai politik di “Orang Indonesia tidak dapat mendukung
Indonesia dapat dibagi ke dalam pembelahan oposisi karena memang tidak ada oposisi untuk
sekuler-Islamis, elitis-populis, Jawa-luar Jawa, didukung.”31 Selain itu, pembentukan koalisi
dan perkotaan-pedesaan. Selain itu, pembagian tidak mempertimbangkan ideologi atau platform
parpol juga bisa melalui pendekatan jalur kelas partai anggota koalisi, sehingga kabinet selalu
(developmentalisme-sosialisme radikal) dan dihadapkan pada persoalan kekompakan di
jalur agama (Islam dan Kristen-Kebangsaan). antara anggotanya, bahkan dalam hal-hal
Selanjutnya, pembelahan partai berdasarkan mendasar yang semestinya telah disepakati
kekuatan Pemilu 2009 terdiri atas 3 kelompok sejak kabinet terbentuk.
kekuatan politik. Secara sederhana, gambaran
Kartelisasi partai-partai juga tampak dari
kelompok ini dapat dicatat sebagai 3B, yaitu
kecenderungan partai-partai untuk bertindak
kelompok Bantengis (kiri), Bintangis (kanan),
sebagai satu kelompok, contohnya dalam
dan Beringinis.
menggunakan keuangan publik (negara)
Namun demikian, polarisasi ideologi hanya sebagai sumber pembiayaan partai. Berbagai
nampak pada saat pembahasan amandemen kasus tindak pidana korupsi yang sudah
UUD 1945 khususnya mengenai Piagam Jakarta diproses secara hukum ternyata melibatkan
dan pada saat debat mengenai UU Pornografi dan politisi dari berbagai partai, tak terkecuali yang
Pornoaksi di DPR. Di luar perdebatan tersebut, berada di luar oposisi. Beberapa kasus bahkan
polarisasi ideologi partai politik seringkali tidak melibatkan politisi dari partai yang berbeda
nampak. Tidak sedikit akademisi melihat bahwa sekaligus. Berbagai kasus korupsi, mulai dari
parpol sebenarnya tidak mempunyai ideologi kasus Buloggate I dan II, cek pelawat pemilihan
yang jelas dan hanya menjadikannya sebagai Deputi Senior Gubenrnur BI, dana Departemen
alat untuk memobilisasi dukungan pemilih. Kelautan dan Perikanan, hingga berbagai
Pertarungan ‘ideologi’ antarparpol berhenti kasus terbaru yang kini ditangani Komisi
dengan sendirinya ketika pemilu usai dan proses Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan
pembentukan pemerintahan dimulai. Berbagai bahwa uang ternyata mengalir ke politisi dari
perbedaan ideologi yang ada seolah-olah tidak partai berbeda. Sulit untuk dapat menerima
lagi menjadi faktor penting dalam pembentukan argumen bahwa korupsi tersebut dilakukan
kabinet sehingga tidak ada oposisi.30 Selain itu,
parpol-parpol dalam tiga kali pemilu terakhir
31
Dan Slater, “Indonesia’s Accountability Trap: Party
Cartels and Presidential Power after Democratic
30
Kuskridho Ambardi, op.cit., hlm. 3. Transition”, Indonesia, No. 78, 2004, hlm. 72.

154 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 10, No.2 Desember 2013


semata-mata karena inisiatif pribadi. politik untuk berada di dalam kerangka politik
formal yang terawasi oleh pemerintah dan tidak
Dengan demikian, kebutuhan penataan
lagi menjadi bola liar yang bernuansa separatis.
sistem kepartaian di Indonesia tidak dapat
Hal ini menandakan bahwa parpol lokal berhasil
semata-mata dilihat dari sisi penyederhanaan
menjadi alat transformasi konflik bagi Aceh.
jumlah partai. Jumlah partai yang lebih sedikit
tentu saja memungkinkan pemilih untuk Meskipun parpol lokal berhasil menjadi
mengoptimalkan potensinya menjadi pemilih peredam konflik di Aceh, namun tidak semua
yang rasional. Pengalaman selama ini, dengan parpol lokal berhasil berkontestasi di dalam
jumlah partai peserta pemilu yang banyak pemilu. Hanya PA yang sudah memiliki struktur
dan ditambah daftar nama caleg yang juga dan modal politik kuat dari peninggalan GAM
panjang, sulit mengharapkan pemilih dapat yang mampu unjuk gigi dalam pemilu legislatif
mengenali dan mempertimbangkan kualitas, maupun pemilukada di Aceh. Parpol lokal lainnya
baik kapabilitas maupun integritas, para caleg. masih menemui kesulitan untuk membangun
Namun, sesederhana apapun jumlah partai, struktur politik hingga tingkat terendah di desa
akan sia-sia jika persaingan yang kompetitif dan kampung-kampung, ditambah lagi parpol
antarpartai hanya sebatas pada saat pemilu. juga kesulitan dalam menggerakan kader untuk
Tanpa tautan elektoral di arena pemerintahan berkampanye di masa pemilu. Keterbatasan itu
dan legislatif, partai seolah bebas melakukan muncul karena parpol lokal memiliki jaringan
apapun selama kepentingan mereka dapat kader dan modal finansial yang masih terbatas.
tercapai. Hal ini merupakan ancaman serius Tentunya sulit bagi mereka untuk membangun
bagi konsolidasi demokrasi. fondasi politik yang kuat hanya dalam waktu
dua tahun saja.
Sementara itu, dalam rangka penataan
sistem kepartaian di Indonesia keberadaan Namun demikian, parpol lokal Aceh
partai lokal juga tidak dapat diabaikan begitu terbukti dapat menjadi wadah politik baru yang
saja. Namun demikian, keberadaan partai bekerja lebih efektif dengan struktur kerja di
politik lokal dalam konteks Aceh merupakan tingkat daerah. Segala keputusan parpol lokal
problematik tambahan dalam membangun yang berkaitan dengan persoalan daerah tidak
sistem kepartaian. Hal ini disebabkan sejak lagi berlarut-larut karena harus menunggu
awal keberadaan partai lokal Aceh merupakan keputusan partai di tingkat pusat. Tidak hanya itu,
salah satu alternatif solusi penyelesaian konflik, parpol lokal juga memiliki hubungan yang lebih
bukan sebagai solusi penataan sistem kepartaian dekat dan tidak berjarak dengan konstituennya.
secara nasional. Hal ini berbeda dengan parpol nasional yang
sifat kerja dan strukturnya terpusat pada Dewan
Pimpinan Pusat (DPP) Partai. Situasi ini tentu
Partai Politik Lokal Aceh dalam berdampak positif terhadap kerja politik parpol
lokal yang lebih efektif dan cepat dibandingkan
Konteks Sistem Kepartaian dengan parpol nasional.
Nasional Tidak hanya unggul dengan basisnya di
Kehadiran parpol lokal telah menjadi alat masyarakat, fragmentasi ideologi yang beragam
efektif untuk mentransformasi situasi pada parpol lokal Aceh menjadikan sumber
konflik di Aceh menjadi sebuah perdamaian. daya kader mereka menjadi lebih beragam
Pergerakan kemerdekaan di Aceh telah berhasil dibandingkan dengan kader parpol nasional.
mentransformasikan diri ke dalam gerakan Artinya parpol lokal menjangkau lebih luas
politik formal yang ditandai oleh perubahan politisi baru di Aceh dan tidak menjadikan elit
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menjadi politik terpusat hanya di beberapa kelompok
Komite Peralihan Aceh (KPA) yang kemudian saja. Sebagai contoh, Partai Rakyat Aceh
berubah menjadi Partai Aceh (PA). Parpol lokal memicu lahirnya keterlibatan politisi muda
dengan ideologi dan basis massa yang beragam dalam proses politik yang berlangsung di Aceh
telah muncul sebagai alat bagi orang Aceh dan Partai Suara Independen Rakyat Aceh
untuk mengembangkan kekuasaan politiknya (SIRA) menjadi pendorong munculnya tokoh
dalam jangkauan pengawasan pemerintah pusat. pejuang Aceh masa lalu di luar GAM untuk turut
Semua elemen di Aceh telah memiliki kesadaran membangun kekuatan politik baru di NAD.

Evaluasi Sistem Kepartaian di Era Reformasi | Luky Sandra Amalia | 155


Sayangnya, keunggulan parpol lokal Oleh karena itu, kerja sama yang sinergis antar
tersebut baru bisa dimanfaatkan oleh PA yang parpol lokal maupun parpol lokal dengan parpol
sudah memiliki struktur kuat di Aceh. Selain nasional harus ditingkatkan untuk membentuk
menempati lebih dari sepertiga kursi di DPRA, sebuah oposisi politik yang solid terhadap
politisi yang berasal dari PA juga menjadi kekuasaan PA.
pemimpin tertinggi Pemerintahan Daerah
Dalam kerangka sistem kepartaian
Provinsi NAD saat ini. Hal ini menunjukan
di Indonesia, parpol lokal di Aceh dapat
bahwa hampir seluruh elemen lembaga negara
memberikan pelajaran berarti sebagai tawaran
dikuasai oleh Partai Aceh. Kekuasaan politik
alternatif baru untuk mengisi kelemahan
yang cenderung dimonopoli oleh Partai Aceh ini
sistem saat ini. Trend sistem kepartaian yang
tentu memiliki dampak positif dan negatif bagi
mengharuskan peserta pemilu di tingkat pusat
provinsi ini ke depannya. Di satu sisi kekuasaan
dan daerah adalah partai nasional dengan
mayoritas PA dapat membantu pembuatan
kedudukan kepengurusannya di tingkat pusat
kebijakan menjadi lebih efektif karena koordinasi
dan tersebar di seluruh provinsi dinilai memiliki
yang erat antara DPRD dan pemerintah daerah.
kelemahan. Parpol nasional kerap kali tidak
Namun di sisi lain, hal ini dapat menjerumuskan
cepat tanggap atas persoalan di daerah karena
Aceh ke dalam sistem politik otoritarian yang
seluruh keputusan dan agenda kerja dipusatkan
dikuasai oleh sekelompok elit politik baru,
pada proses di tingkat DPP. Oleh karenanya,
meskipun kekuasaan itu dihasilkan oleh pemilu
parpol lokal yang memiliki keunggulan dalam
yang demokratis.
hal efektivitas kerja partai, kedekatan dengan
Kekhawatiran atas dampak buruk akan konstituen, dan kedekatan dengan persoalan
kekuasaan tunggal elit politik di Aceh dapat di daerah dapat menjadi alternatif baru yang
bergerak kepada dua arah yang berbeda. mengisi kelemahan parpol nasional tersebut.
Pertama, kekuasaan politik yang otoriter akan
Kehadiran parpol lokal di tingkat pusat
terbentuk dan memusatkan seluruh proses
(DPR RI) juga sangat diperlukan agar tidak ada
pembangunan kepada PA sebagai penguasa
keterputusan hubungan antara kerja politik di
DPRA dan pemda. Hal ini tentu tidak sehat bagi
daerah dengan pusat. Dengan demikian, kinerja
proses demokrasi yang berjalan di Aceh karena
parpol lokal akan menjadi lebih sinergis dan
partisipasi politik elemen lain di luar PA akan
aspirasi di tingkat lokal dapat terangkat hingga
menjadi sangat terbatas. Pembangunan di Aceh
di tingkat pusat. Secara logis dengan situasi
pun akan tunduk pada garis arahan PA sendiri.
di Aceh saat ini, DPR RI akan mendapatkan
Kedua, kekuasaan dominan PA di Aceh akan
kesulitan dalam membuat dan menerapkan
menjadi sebuah persoalan apabila terjadi pecah
kebijakan karena parlemen di tingkat daerah
kongsi di dalam tubuh internal parpol lokal
dikuasai oleh parpol lokal, dan bukan parpol
tersebut. Situasi antara kubu Irawandi dan non-
nasional.
Irwandi di dalam struktur PA dapat menjadi
pelajaran bagi Aceh, dimana pembangunan dan Tidak hanya itu, parpol lokal dinilai perlu
pembuatan qanun menjadi terhambat dengan juga diterapkan di daerah lain di Indonesia, tidak
adanya pertikaian kepentingan politik tersebut. hanya Aceh, khususnya di daerah konflik dan
Artinya, persoalan internal partai penguasa daerah pasca-konflik. Kemampuan parpol lokal
dapat berubah menjadi persoalan Aceh secara sebagai alat transformasi konflik yang efektif di
meluas. Kedua hal tersebut tentu saja tidak Aceh seharusnya mampu menjadi pembelajaran
sehat bagi situasi politik di Aceh. positif untuk mentransformasi situasi konflik di
daerah lain di Indonesia. Sebagai contoh, parpol
Dampak negatif atas kekuasaan tunggal
lokal dapat juga diterapkan di Provinsi Papua
di PA dapat diatasi apabila masyarakat sipil
yang memiliki pengalaman konflik separatis
dan politik di Aceh memiliki kesadaran yang
seperti Aceh. Dengan pembelajaran Aceh, maka
tinggi untuk menjalankan kontrol atas fungsi
parpol lokal seharusnya juga mampu meredam
kerja DPRD dan pemda dengan baik. Fungsi
konflik yang berlangsung di Papua dan juga
pengawasan tersebut seharusnya mampu diisi
daerah lainnya.
oleh parpol nasional dan parpol lokal. Secara
khusus, parpol lokal yang tidak terlibat di dalam Dengan penjelasan tersebut, maka dapat
kursi kekuasaan seharusnya mampu secara ditarik sebuah kesimpulan bahwa kehadiran
objektif mengawasi jalannya pemerintahan. parpol lokal telah berhasil membawa warna

156 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 10, No.2 Desember 2013


baru bagi sistem kepartaian politik di Indonesia. Pemenang pemilu ditentukan berdasarkan
Meskipun memiliki kelemahan dari sisi struktur prinsip pluralitas yaitu siapa saja kandidat
dan manajemen partai, namun parpol lokal yang memperoleh suara terbanyak berhak
memiliki kontribusi positif terkait dengan menduduki kursi parlemen, meskipun selisih
efektivitas kerja dan fungsi partai, hubungan suara antarkandidat atau antarpartai lain sangat
kerja antara eksekutif dan legislatif, dan sebagai kecil. Suara yang tadinya mendukung kandidat
alat efektif untuk transformasi konflik. Dengan lain dianggap hilang (wasted) dan tidak dapat
latar belakang tersebut, maka parpol lokal dapat digunakan oleh partainya untuk menambah
menjadi alternatif baru yang dapat diterapkan jumlah perolehan suara partai tersebut di distrik
tidak hanya di Aceh, namun juga di daerah lain.32 Sistem ini terbagi atas First Past the
lain, khususnya di daerah-daerah konflik. Tidak Post (FPTP), Sistem Dua Putaran (Two-Round
hanya itu, parpol lokal seharusnya mampu System), Alternative Vote (AV), Block Vote
menempatkan wakilnya tidak hanya pada (BV), dan Party Block Vote (PBV).33
lembaga legislatif di tingkat daerah saja, namun
Sedangkan, dalam sistem pemilihan
juga hingga tingkat nasional. Hal ini diperlukan
berwakil banyak (Multi-member Constituency)
untuk menjaga konsistensi kebijakan dan
terdapat beberapa calon anggota parlemen yang
soliditas kerja parlemen di tingkat pusat dan
dipilih di satu daerah pemilihan atau yang lebih
daerah.
dikenal dengan sistem proporsional atau sistem
perwakilan berimbang. Pada sistem ini dalam
satu wilayah besar atau yang biasa disebut
Analisis dan Penataan ke Depan: dengan daerah pemilihan terdapat lebih dari satu
Catatan Penutup wakil rakyat yang duduk di parlemen. Penentuan
pemenang pemilu ditentukan berdasarkan
Penyederhanaan sistem kepartaian agar jumlah pembagian jumlah kursi dengan jumlah suara
parpol efektif di DPR relatif sedikit dan secara yang diperoleh seluruh peserta pemilu secara
ideologis lebih kompetitif, tampaknya memang nasional. Dengan demikian, perbedaan pokok
suatu keniscayaan jika diasumsikan bahwa skema dari kedua sistem tersebut terletak pada cara
demokrasi presidensial menjadi pilihan bangsa penghitungan perolehan suara yang dapat
kita. Persoalannya, apakah penyederhanaan menghasilkan perbedaan dalam komposisi
sistem kepartaian tersebut hendak menempuh perwakilan di parlemen.34 Sistem proporsional
cara perubahan sistem pemilu, atau ini memiliki beberapa variasi, diantaranya
penyederhanaan dilakukan tanpa mengubah Daftar PR (Proportional Representation-List-
sistem pemilu yang berbasis proporsional PR) dan Single Transferable Vote (STV). ��
35

seperti berlangsung sejak Pemilu 1999. Pilihan


pertama diharapkan bisa menghasilkan sistem Dewasa ini banyak negara, termasuk negara
multipartai dengan dua parpol dominan di DPR, yang demokrasinya telah mapan, seperti Israel,
sedangkan pilihan kedua menghasilkan sistem Italia, Jepang, New Zealand, dan Venezuela,
multipartai sederhana dengan dua koalisi besar mencoba memadukan kedua sistem pemilu
yang bersifat permanen di parlemen. tersebut dengan harapan dapat mengambil sisi
positif dari kedua sistem pemilu tersebut dan
meminimalkan sisi negatifnya. Pada dasarnya,
sistem pemilihan campuran mencoba untuk
1. Pilihan Perubahan Sistem Pemilu
mengombinasikan kebaikan sistem pluralitas-
Secara sederhana sistem pemilu dapat majoritas dengan sistem proporsional. Dengan
dibedakan atas Single-Member Constituency demikian, anggota parlemen sebagian dipilih
(pemilihan berwakil tunggal) dan Multi-Member secara majoritarian, biasanya First Past the Post
Constituency (pemilihan berwakil banyak). (FPTP), sementara sebagian anggota parlemen
Sebagaimana namanya, pada sistem pemilihan yang lain dipilih secara proporsional, biasanya
Single-Member Constituency hanya terdapat sistem proporsional dengan daftar tertutup
satu kursi wakil rakyat yang diperebutkan pada (closed-list). Namun demikian, penerapan
satu daerah pemilihan atau yang biasa disebut
dengan sistem distrik di Indonesia. Pada sistem
32
Miriam Budiardjo, op.cit, hlm. 461.
ini pemilih memilih satu wakil dalam satu
33
Sigit Pamungkas, op.cit, hlm. 27-30.
34
Miriam Budiardjo, op.cit, hlm. 462-463.
wilayah kecil yang disebut distrik pemilihan. 35
Sigit Pamungkas, op.cit, hlm. 30-36.

Evaluasi Sistem Kepartaian di Era Reformasi | Luky Sandra Amalia | 157


sistem pemilu campuran tidak sama persis di diterapkan di Jerman, Selandia Baru, dan
satu negara dengan negara yang lain. Masing- Meksiko. Lembaga Centre for Electoral Reform
masing negara melakukan modifikasi atas (Cetro) antara lain mempromosikan sistem
sistem pemilihannya. Hal ini sesuai dengan pemilu campuran varian MMP ini38. Sistem
yang diungkapkan oleh Roberth A. Dahl bahwa pemilu “campuran” lainnya, yakni varian
sistem pemilu yang paling baik adalah sistem sistem parallel, yang mengadopsi unsur-unsur
pemilu yang dihasilkan atas dasar kompromi sistem proporsional dan sistem pluralitas, juga
terhadap tujuan yang hendak dicapai oleh suatu dipraktikkan di banyak negara seperti di Jepang,
negara. ��
36
Filipina, Thailand, dan Korea Selatan.
Dalam konteks penyederhanaan sistem Terkait perubahan sistem pemilu, dari sistem
kepartaian, apabila pilhan cara pertama yang keterwakilan proporsional ke sistem pluralitas,
diambil maka melalui sistem pluralitas, varian LIPI sebenarnya telah merekomendasikannya
first past the post (FPTP) dengan daerah sejak 1995. Dalam studi yang dilakukan atas
pemilihan berwakil tunggal (single member permintaan Presiden Soeharto tersebut, LIPI
district), jatah kursi yang diperebutkan di melihat perlunya tranformasi sistem pemilu
setiap satu daerah pemilihan hanya satu, dari proporsional yang disempurnakan (dengan
maka hanya ada satu calon yang menang di unsur-unsur sistem pluralitas) menjadi “sistem
Dapil tersebut. Calon-calon lain, dari parpol distrik (pluralitas) yang disempurnakan”
yang sama maupun yang berbeda, tidak akan (dengan unsur-unsur sistem proporsional).39
memiliki kursi di DPR dari Dapil yang sama. Kebutuhan akan hadirnya wakil-wakil rakyat
Berdasarkan pengalaman empiris negara-negara yang mengenal dan dikenal konstituen serta lebih
lain, sistem pluralitas/majoritarian tersebut pada akuntabel di satu pihak, serta keperluan akan
akhirnya menghasilkan dua atau tiga parpol hadirnya parpol yang mampu menghadirkan
yang memiliki kursi efektif di parlemen.37Salah wakil yang benar-benar kompeten, memiliki
satu parpol hampir pasti akan menjadi kekuatan integritas, dan akuntabel.
mayoritas di DPR, sehingga menjanjikan potensi
Meskipun rekomendasi LIPI pada 1995
governability presiden yang tinggi dalam fungsi
tersebut belum tentu relevan untuk kondisi
eksekusi dan parlemen dengan fungsi legislasi
Indonesia saat ini, sekurang-kurangnya sejak
cenderung tinggi pula.
awal telah disadari bahwa kebutuhan obyektif
Namun demikian pilihan atas sistem bangsa kita bukan sekadar menghasilkan wakil
pluralitas varian FPTP dengan Dapil berwakil rakyat yang benar-benar representatif dan
tunggal tidak harus pula bersifat kaku dalam memenuhi prinsip proporsionalitas, melainkan
pengertian diadopsi seluruhnya untuk semua juga para wakil rakyat yang akuntabel. Dalam
daerah pemilihan, ataupun untuk semua hubungan ini maka pilihan perubahan sistem
lembaga parlemen, di tingkat nasional, regional pemilu, misalnya ke arah sistem pluralitas –
(provinsi), dan lokal (kabupaten/kota). Apalagi khususnya yang bersifat “campuran”—dalam
resistensi terhadap penggunaan sistem pluralitas rangka penyederhanaan sistem kepartaian
masih begitu besar di Indonesia karena dianggap bukanlah “jalan haram” seperti cenderung
membatasi terpilihnya wakil-wakil kelompok dikemukakan sebagian kalangan. Sebaliknya,
golongan minoritas, kendati kekuatan argumen penyederhanaan sistem kepartaian melalui
ini pun masih bisa diperdebatkan. perubahan sistem pemilu justru lebih “lurus”
dan tidak berliku-liku serta terjal seperti
Oleh karena itu, untuk mengurangi distorsi
mekanisme penyederhanaan sistem kepartaian
dan kelemahan yang melekat pada system
tanpa mengutak-atik kemungkinan mengubah
pluralitas, maka sejumlah negara mengadopsi
sistem pemilu.
model sistem pemilu “campuran” dalam
pengertian, sebagian calon wakil rakyat dipilih
secara pluralitas, dan sebagian caleg lainnya
dipilih secara proporsional daftar tertutup.
Salah satu varian sistem campuran adalah
mixed member proportional (MMP) seperti 38
Hadar Gumay, et. al, Laporan Kajian Undang-
Robert A. Dahl, op.cit, hlm. 181.
�� undang Pemilu, (Jakarta: Cetro, Mei 2011).
37
Lihat Saiful Mujani, “Plus Minus Penyederhanaan
��
Lihat Laporan Penelitian Sistem Pemilu, Jakarta:
Partai”, Tempo, edisi 9-15 Juli 2007. LIPI, 1995.

158 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 10, No.2 Desember 2013


2. Pilihan Mempertahankan Sistem UU Parpol terakhir misalnya, yakni UU No.
Pemilu 2 Tahun 2011, memberlakukan ketentuan
kepemilikan kepengurusan di semua provinsi,
Sudah menjadi pemahaman elementer di sekurang-kurangnya 75 persen kepengurusan di
dalam kajian pemilu dan kepartaian bahwa kabupaten/kota dalam provinsi yang sama, serta
sistem perwakilan proporsional (proportional minimal 50 persen kepengurusan kecamatan
representation/PR system) cenderung di kabupaten/kota yang sama, sebagai syarat
menghasilkan sistem multipartai, sedangkan parpol mengikuti pemilu di luar syarat-syarat
sistem pluralitas dengan berbagai variannya administratif lainnya.
cenderung menghasilkan sistem dua partai
–meski dalam realitasnya tidak selalu Berbagai rekayasa institusi tersebut
berjumlah dua parpol. Karena itu jika pilihan memang relatif berhasil mengurangi jumlah
penyederhanaaan sistem kepartaian dilakukan parpol peserta pemilu dari 48 parpol pada
dalam konteks sistem pemilu proporsional Pemilu 1999 menjadi 24 parpol pada Pemilu
maka diperlukan berbagai rekayasa 2004, namun kemudian bertambah lagi menjadi
institusional sehingga pada akhirnya terbentuk 38 parpol peserta Pemilu 2009. Sementara itu
sistem multipartai sederhana yang dianggap jumlah parpol efektif di DPR berkurang dari 21
kompatibel dengan skema sistem presidensial parpol (1999) menjadi 17 parpol (2004) dan 9
seperti berlaku di Indonesia pasca-Orde Baru. parpol (2009). Kendati jumlah parpol semakin
berkurang, tidak berarti kinerja pemerintahan
Sejauh ini sejumlah rekayasa institusi telah hasil pemilu menjadi lebih efektif dan produktif.
dilakukan di antaranya adalah pemberlakukan Fenomena dua periode pemerintahan Presiden
mekanisme electoral threshold (ET) yang SBY memperlihatkan, meskipun telah dibentuk
membatasi parpol dengan perolehan suara koalisi besar parpol pendukung pemerintah pada
minimum tertentu untuk mengikuti pemilu 2004 dan 2009, Presiden acapkali terpenjara
berikutnya. Disadari kemudian, ternyata oleh manuver parpol koalisi di DPR.
mekanisme ET yang diberlakukan untuk
Pemilu 2004 dianggap tidak begitu efektif Sadar akan urgensi agenda penyederhanaan
dalam mengurangi jumlah parpol efektif di sistem kepartaian, DPR dan Presiden akhirnya
parlemen, sehingga diganti dengan mekanisme sepakat untuk meningkatkan PT menjadi 3,5
parliamentary threshold (PT). Berbeda dengan persen untuk Pemilu 2014. Jika didasarkan
ET yang membatasi parpol ikut pemilu pada hasil Pemilu 2009, jumlah parpol efektif
berikutnya, mekanisme PT justru untuk di DPR diharapkan berkurang menjadi sekitar
membatasi jumlah parpol efektif di parlemen 6-8 parpol. Hanya saja pertanyaannya, apakah
melalui persyaratan perolehan suara minimal jumlah parpol efektif yang lebih sedikit di
secara nasional bagi semua parpol peserta DPR menjanjikan pemerintahan hasil pemilu,
Pemilu 2009. UU No. 10 Tahun 2008 tentang khususnya di tingkat nasional, lebih efektif
Pemilu Legislatif menetapkan PT sebesar 2,5 (governable) dan produktif?
persen dari perolehan suara secara nasional Oleh karena itu, selain pemberlakuan
sebagai syarat bagi parpol untuk duduk di DPR. ambang batas parlemen secara konsisten,
Di luar mekanisme ET dan PT, melalui skema sistem multipartai sederhana dapat
UU Parpol dan UU Pemilu Legislatif, DPR diwujudkan melalui, pertama, perubahan
dan Presiden selaku pembentuk UU, semakin besaran Dapil, dari 3-10 kursi anggota DPR
memperketat syarat bagi parpol berbadan dan 3-12 kursi anggota DPRD, menjadi
hukum di satu pihak, dan parpol peserta masing-masing 3-5 dan 3-6 kursi anggota
pemilu di lain pihak. Jadi, meskipun syarat parlemen per satu Dapil. Kedua, melembagakan
untuk membentuk parpol relatif mudah, tidak pembentukan koalisi secara permanen dalam
semua parpol yang memenuhi syarat UU arti suatu koalisi yang diikat secara publik
Parpol dapat disahkan sebagai badan hukum dan bersifat notariat. Ketiga, penyederhanaan
yang terdaftar pada Kementerian Hukum pengelompokan fraksi di parlemen atas fraksi
dan Hak-hak Asasi Manusia. Selanjutnya, pendukung pemerintah di satu pihak, dan fraksi
tidak semua parpol berbadan hukum bisa oposisi dan atau fraksi independen di pihak
langsung ikut sebagai parpol peserta pemilu lain. Keempat, pemberlakuan ambang batas
karena persyaratannya lebih diperketat lagi. parlemen bagi parpol yang hendak merebut

Evaluasi Sistem Kepartaian di Era Reformasi | Luky Sandra Amalia | 159


kursi DPRD provinsi dan kabupaten/kota agar Ikrar Nusa Bhakti (Ed.). Sistem Presidensial
struktur politik dan sistem kepartaian di tingkat & Sosok Presiden Ideal. Jakarta: Pustaka
lokal atau daerah menjadi lebih sederhana dan Pelajar dan Asosiasi Ilmu Politik Indonesia.
ramping pula. Romli, Lili. 2003. “Pandangan Urang Awak
Di luar berbagai agenda rekayasa terhadap Partai Politik: Kasus Sumatra
institusi seperti dikemukakan di atas, tak kalah Barat”, dalam Syamsuddin Haris (ed.).
Persepsi Masyarakat terhadap Partai
pentingnya adalah reformasi karakter parpol,
Politik Peserta Pemilu 2004. Jakarta:
dari parpol pragmatis dan berorientasi jangka
Pusat Penelitian Politik-LIPI dan Balitbang
pendek menjadi parpol yang memiliki platform
Depdagri.
politik dan visi kebangsaan yang jelas.
Romli, Lili. (ed.). 2008. Pelembagaan Partai
Politik Pasca-Orde Baru: Studi Kasus
Partai Golkar, PKB, PBB, PBR, dan PDS.
Daftar Pustaka Jakarta: P2P-LIPI.
Buku Salang, Sebastian; Djadijono, M.; Wiratma, I
Made Leo; Legowo, TA. 2009. Panduan
Amalia, Luky Sandra. 2010. ”DPRD Banten: Kinerja DPR/DPRD Menghindari Jeratan
Relasi Formalistik dengan Konstituen”, Hukum Bagi Anggota Dewan. Jakarta:
dalam Lili Romli dan Luky Sandra Amalia Forum Sahabat.
(ed.). Kecenderungan Hubungan Anggota
Legislatif dan Konstituen: Studi DPRD Surbakti, Ramlan. 1998. Memahami Ilmu Politik.
Provinsi Banten Hasil Pemilu 2009. Jakarta: Gramedia.
Jakarta:P2P-LIPI.
Ambardi, Kuskridho. 2009. Mengungkap Politik Jurnal
Kartel: Studi tentang Sistem Kepartaian di
Indonesia Era Reformasi. Jakarta: KPG. Slater, Dan. 2004. “Indonesia’s Accountability
Trap: Party Cartels and Presidential Power
Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu
after Democratic Transition”. Indonesia.
Politik, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
No. 78.
Dhakidae, Daniel. 1999. “Partai-Partai Politik di
Indonesia Kisah Pergerakan dan Organisasi
dalam Patahan-Patahan Sejarah”, dalam Surat Kabar dan Website
Tim Penelitian dan Pengembangan
KOMPAS, Partai-Partai Politik Indonesia “Empat Gubernur Absen di Istana Negara Presiden
Ideologi, Strategi, dan Program. Jakarta: SBY Dibuat Kesal Ulah Gubernur”,
Kompas. dalam http://www.radaronline.co.id/
berita/read/22354/2012/Presiden-SBY-
Feith, Herbert dan Castles, Lance. 1970.
Dibuat-Kesal-Ulah-Gubernur, diakses 10
Indonesian Political Thinking 1945-1965.
Desember 2012.
Itacha and London: Cornell University.
Evans, Kevin, “Politik ‘Aliran’ yang Mana?”,
Gumay, Hadar et. al. 2011. Laporan Kajian
Tempo, 5 April 2009.
Undang-Undang Pemilu. Jakarta: Cetro.
“Gubernur Sulut Kecewa, 13 Kepala Daerah
Haris, Syamsuddin. 2009. “Dilema
Tidak Hadir Penyerahan DIPA 2013”,
Presidensialisme di Indonesia Pasca-Orde
dalam http://www.suarapembaruan.com/
Baru dan Urgensi Penataan Kembali Relasi
nasional/gubernur-sulut-kecewa-13-
Presiden-DPR”, dalam Moch. Nurhasim
kepala-daerah-tidak-hadir-penyerahan-
dan Ikrar Nusa Bhakti (ed.) Sistem
dipa-2013/28329, diakses 18 Desember
Presidensial dan Sosok Presiden Ideal.
2012.
Jakarta: Pustaka Pelajar dan Asosiasi Ilmu
Politik Indonesia. ”Ikut Demo, Wakil Walikota Solo Diperingatkan
Mendagri”, dalam detiknews.com, diakses
Pamungkas, Sigit. 2011. Partai Politik Teori dan
26 Maret 2012.
Praktik di Indonesia. Yogyakarta: Institute
for Democracy and Welfarism. Masukan LIPI Dalam Rangka Pembahasan RUU
Tentang Partai Politik dan RUU Tentang
Rauf, Maswadi. 2009. “Evaluasi Sistem
Susduk, diproses oleh Pusat Studi Hukum
Presidensial”, dalam Moch. Nurhasim dan
& Kebijakan Indonesia dan ditampilkan

160 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 10, No.2 Desember 2013


dalam www.parlemen.net., diakses 10
Oktober 2012.
“Mendagri Tegur Bupati/Walikota Ikut
Demo Tolak Kenaikan BBM”,
dalam, http://www.beritajatim.
com/detailnews.php/6/Politik_&_
Pemerintahan/2012-04-09/131938/
Mendagri_Tegur_Bupati/Walikota_Ikut_
Demo_Tolak_Kenaikan_BBM, diakses 9
April 2012.
Mujani, Saiful. “Plus Minus Penyederhanaan
Partai”, dalam Tempo, edisi 9-15 Juli 2007.
Qodari, Muhammad, “Kembalinya Tradisi
Golkar”, dalam Kompas, 21 Desember
2004.
Vermonte, Philips J. “Wacana Jumlah Partai
Politik dan Pemilu”, artikel tertanggal 7 Juli
2007 dalam http://pjvermonte.wordpress.
com/2007/07/07/wacana-jumlah-partai-
politik-dan-pemilu-1/., diakses 10
Desember 2012.

Evaluasi Sistem Kepartaian di Era Reformasi | Luky Sandra Amalia | 161