Anda di halaman 1dari 5

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN

GANGGUAN SISTEM PERSYARAFAN AKIBAT STROKE ISKEMIK


DI RUANG 5 RSUD dr. SOEKARDJO KOTA TASIKMALAYA

OUTLINE PROPOSAL KTI/TA

Oleh :
APIP SAEPUDIN
NIM. P2.06.20.1.16.044

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
TASIKMALAYA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Stroke merupakan penyakit tidak menular yang belakangan ini
menempati penyakit terbanyak ketiga setelah penyakit jantung dan kanker.
Stroke juga merupakan masalah kesehatan utama yang menyebabkan kematian
juga kecacatan tertinggi. Menurut American Heart Association (AHA), angka
kematian dari 100.000 orang penderita stroke di Amerika setiap tahunnya adalah
50 – 100 orang.
Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi
secara tiba-tiba dan cepat yang disebabkan karena adanya pendarahan di otak.
Biasanya mengenai penderita pada umur <45 tahun sebanyak 11,8 persen, pada
umur 45-65 tahun sebanyak 54,2 persen dan pada umur >65 tahun sebanyak
33,5 persen. Pada umumnya angka kejadian pada laki- laki lebih banyak daripada
perempuan. Stroke terjadi tanpa adanya gejala- gejala prodroma atau gejala dini,
dan muncul begitu mendadak. Stroke adalah penyebab kematian dan kecacatan
yang utama di seluruh dunia. Kecacatan akibat stroke tidak hanya berdampak
bagi penyandangnya, namun juga bagi keluarganya (Pinzon, 2009)
Data mengenai stroke pada South East Asian Medical Information Centre
(SEAMIC) menunjukkan bahwa angka kematian stroke terbesar di negara-negara
ASEAN terjadi di Indonesia yang kemudian diikuti secara berurutan oleh
Filipina, Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand (Dinata et al, 2013).
Hasil Riskesdas Kemenkes RI, 2018 menyatakan bahwa angka kejadian
stroke di Indonesia mengalami peningkatan dari angka 7 per mil menjadi 10,9
per mil. Prevalensi tertinggi berdasarkan diagnosa terjadi di daerah provinsi
Kalimantan Timur (14,7 permil), pada umur >75 tahun (50,2 per mil), jenis
kelamin laki-laki (11,0 per mil), daerah perkotaan (12,6 per mil), tidak/belum
pernah sekolah (21,2 per mil), dan pada penduduk tidak bekerja (21,8 per mil).
Untuk proporsi kontrol ulang stroke secara rutin pada penderita stroke di
Indonesia, kategori kadang control (38,7 per mil) rutin control (39,4 per mil)
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014).
Penelitian yang dilakukan Misbach dan Wendra (2000) di 28 rumah sakit
di Indonesia terhadap 2.065 pasien stroke, sebagian besar pasien stroke yang
dirawat di rumah sakit dalam penelitian ini berada pada kelompok usia 45-65
tahun. Stroke pada dewasa muda dan usia tua masing-masing 12,9% dan 35,8%.
Stroke sering dikenal dengan istilah Gangguan Peredaran darah Otak
(GPDO), merupakan suatu sindrom yang dapat menyebabkan gangguan
fungsional otak berupa defisit neurologik atau kelumpuhan saraf oleh karena
adanya gangguan aliran darah pada salah satu bagian otak.
(http://jurnal.fk.unand.ac.id Jurnal Kesehatan Andalas. 2013)
Stroke merupakan suatau masalah kesehatan yang muncul akibat keadaan
proses hemorrhagic atau ischemic yang bermula oleh adanya lesi pada pembuluh
darah arteri.
Stroke ischemic berjumlah duapertiga dari seluruh kejadian stroke, dan
sepertiganya lagi adalah stroke hemorrhagic. stroke ischemic adalah suatu
kedaan dimana adanya sumbatan pembuluh darah oleh thromboembolic sehingga
mampu mengakibatkan ischemic pada daerah di bawah sumbatan tersebut.
Sedangkan stroke hemorrhagic dapat terjadi oleh karena adanya
mycroaneurisme yang pecah.
Timbulnya masalah akibat stroke bagi kehidupan manusia sangat
kompleks. Adanya gangguan fungsi vital otak seperti gangguan keseimbangan,
gangguan kontrol postur, gangguan koordinasi, gangguan sensasi, dan gangguan
refleks gerak akan menurunkan kemampuan aktivitas fungsional individu sehari-
hari. Tujuan perawatan stroke agar individu yang mengalami stroke kembali
mandiri dan produktif, pada kenyataannya tingkat kemajuan dan pemulihan
pasien stroke akan berbeda-beda untuk setiap orang (Sustrani, 2006). Stroke
dapat berdampak pada berbagai fungsi tubuh, diantaranya adalah defisit motorik
berupa hemiparese. (Astrid, dkk, 2011).
Asuhan keperawatan yang tepat sangat dibutuhkan karena pasien stroke
akan mengalami disfungsi pada fungsi sistem sensorik dan motorik sehingga
akan mengalami kecacatan.
Sehubungan dengan meningkatnya penderita stroke saat ini dan
pentingnya asuhan keperawatan pada pasien dengan stroke, peneliti tertarik
melakukan pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan siste
persarafan akibat stroke khususnya stroke iskemik diharapkan klien dapat
terpenuhi kebutuhan dasar hidupnya serta meminimalkan kecacatan fisik dan
ketergantungan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan umum dari penulisan
karya tulis ilmiah ini adalah menggambarkan hasil Asuhan Keperawatan pada
klien dengan gangguan sistem persyarafan akibat stroke iskemik.
2. Tujuan Khusus
Setelah melakukan asuhan keperawatan penulis dapat :
a. Menjelaskan hasil pengkajian pada klien dengan gangguan sistem
persyarafan akibat stroke iskemik.
b. Merumuskan diagnose keperawatan pada klien dengan gangguan sistem
persyarafan akibat stroke iskemik.
c. Menjelaskan hasil intervensi atau rencana keperawatan pada klien dengan
gangguan sistem persyarafan akibat stroke iskemik.
d. Menjelaskan hasil implementasi keperawatan pada klien dengan
gangguan sistem persyarafan akibat stroke iskemik.
e. Menjelaskan hasil evaluasi asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan sistem persyarafan akibat stroke iskemik.
C. Metode
Jenis metode pada penulisan karya tulis ilmiah ini adalah deskriptif ,
yaitu suatu bentuk penelitian yang bertujuan untuk mencari dan menentukan
sebuah ilmu pengetahuan yang mana sesuai dengan penemuan yang ada sesuai
fakta di lapangan dengan penekanan pada observasi lapangan dalam kondisi yang
alami saat praktiknya.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yaitu suatu
pendekatan dalam melakukan penelitian berorientasi pada gejala-gejala yang
bersifat alamiah. Data yang terkumpul berupa pendapat, tanggapan, informasi,
konsep dan keterangan yang berbentuk uraian. Adapun teknik yang digunakan
dalam pendekatan ini yaitu observasi, wawancara dan pemeriksaan fisik
(inspeksi, perkusi, palpasi, dan auskultasi) dengan melalui tahapan proses asuhan
keperawatan pengkajian, diagnose keperawatan, intervensi, implementasi, dan
evaluasi.