Anda di halaman 1dari 6

Prinsip kerja ITGM atau Integrated Thressing Grading Machine adalah mesin pertanian yang

dapat digunakan untuk merontokkan sekaligus mengupas padi menjadi beras dan memisahkan
menirnya. Namun perlu diperhatikan, kadar air pada beras tidak boleh kurang dari 14 persen.
Jika kurang, maka akan mengakibatkan beras menjadi patah. Alsintan ini dilengkapi dengan
system control otomatis electric. Artinya semua system yang ada pada ITGM digunakan
arus listrik dan arus ini saling berhubungan antara system yang satu dengan yang
lainnya (seri) apabila pada salah satu system terjadi not regular contraction current, maka
system ini akan terputus dengan sendirinya tanpa merusak system lainnya.

ITGM adalah alsintan yang digunakan pada masa Pasca panen cara kerja sama juga dengan
Tresher, mempunyai satu silinder, sistim tranmisinya menggunakan pulli dan sabuk,
menggunakan bahan bakar bensin, alsintan ini pertama kali digunakan di Negara Jepang dan
dipatenkan disana pada tahun 1997.

ITGM memiliki 4 bagian utama, yaitu :

1. Thresher
Berfungsi untuk merontokkan padi. Padi yang telah dirontokkan kemudian akan dibawa
ke Huller melalui tower pemindah. Pemindahannya didorong oleh angin yang
dihembuskan oleh blower.
2. Huller
Berfungsi sebagai pengupas bulir padi menjadi beras. Terdapat dua huller, dimana
fungsi huller pertama adalah sebagai pengupas padi, namun jika ada padi yang tidak
terkelupas dalam huller pertama maka akan dikupas pada huller kedua.
3. Selector
Padi yang telah dikupas di huller kemudian akan di transfer lagi melalui tower
pemindah ke selector. Selector berfungsi sebagai penyeleksi beras bagus dengan beras
patah. Selector dilengkapi dengan rol pembersih, dimana jika ada beras yang terselip
pada dinding selector, maka rol pembersih akan mendorong kembali beras ke dalam
selector. Beras dengan kondisi bagus kemudian akan dikeluarkan melalui pipa output.
4. Conveyor
Beras patah dari hasil seleksi kemudian akan dialirkan ke Converyor yang kemudian
akan dialirkan ke pipa output.
Beras merupakan komoditas yang sangat penting di Indonesia. Betapa pentingnya beras
bagi kehidupan bangsa Indonesia, dapat dikaji peranannya dalam aspek bu-daya, sosial,
ekonomi, bahkan politik. Produksi, prosesing, dan distribusi beras merupakan salah satu
sumber pendapatan dan tenaga kerja yang besar dalam perekono-mian Indonesia. Beras
dikonsumsi oleh lebih dari 40% penduduk Indonesia (Damardjati, 1997). Penggilingan padi
merupakan industri padi tertua dan tergolong terbesar di Indonesia, yang mampu menyerap
lebih dari 10 juta tenaga kerja, menangani lebih dari 40 juta ton gabah menjadi beras giling per
tahun. Penggilingan padi merupakan titik sentral agroindustri padi, karena dari sinilah
diperoleh produk utama berupa beras dan bahan baku untuk pengolahan lanjutan produk
pangan dan industri 1.

Dalam proses penggilingan padi menjadi beras giling, diperoleh hasil samping berupa
(1) sekam (15-20%), yaitu bagian pembungkus/ku-lit luar biji, (2) dedak/bekatul (8-12%) yang
merupakan kulit ari, di-hasilkan dari proses penyosohan, dan (3) menir (±5%) merupakan
bagian beras yang hancur. Pemanfaatan hasil samping tersebut masih terbatas, bahkan kadang-
kadang menjadi limbah dan men-cemari lingkungan terutama di sen-tra produksi padi saat
panen musim penghujan. Hasil samping tersebut sebenar-nya mempunyai nilai guna dan eko-
nomi yang baik apabila ditangani dengan benar sehingga dapat me-ningkatkan nilai tambah
dalam sis-tem agroindustri padi di pedesaan.

Penggilingan dengan kapasitas besar dan kontinu, umumnya menghasilkan beras


dengan mutu bagus dan rendemen beras keseluruhan tinggi (63-67%). Penggilingan kapasitas
besar biasanya dilengkapi dengan grader, sehingga menir langsung dipisahkan dari beras ke-
pala. Ditinjau dari menir yang terpi-sahkan, maka dari sistem penggi-lingan ini diperoleh menir
bermutu baik dengan jumlah yang banyak (3-5%). Bekatul yang dihasilkan dari sistem
penggilingan ini mutunya ku-rang baik, karena masih tercampur dengan dedak dan serpihan
sekam. Penggilingan padi skala sedang, de-ngan sistem semi kontinu maupun diskontinu akan
menghasilkan be-katul dengan jumlah cukup banyak dan mutu baik. Hal ini karena beka-tul,
yang dihasilkan dari mesin so-soh kedua, terpisah dengan dedak, yang dihasilkan dari mesin
sosoh pertama. Apabila bekatul akan digunakan sebagai bahan pangan, maka sebaiknya hanya
diambil dari hasil mesin sosoh kedua, karena tidak lagi tercampur dengan dedak (bekatul kasar)
dan serpihan sekam. Penggilingan padi skala kecil, yang hanya menggunakan satu unit mesin
pemecah kulit dan satu unit mesin sosoh umumnya menghasilkan bekatul dengan mutu kurang
baik dan jumlah sedikit.
Sistem penggilingan padi berpengaruh terhadap mutu beras maupun hasil sampingnya.
Mesin pemecah kulit menggunakan rubber roll yang berputar berlawanan arah, masing-masing
ke arah dalam. Jarak antarrol dan kecepatan putar akan berpengaruh terhadap tingkat
kesempurnaan pengupasan sekam dan keretakan beras pecah kulit. Tipe mesin penyosoh
berpengaruh terhadap mutu fisik beras. Tipe friksi menghasilkan mutu giling yang baik, yaitu
menir rendah (±2%), mengkilap tetapi derajat putihnya relatif rendah (41%). Tipe abrasive
memberikan kenampakan beras yang lebih putih (derajat putih 55%) namun menirnya lebih
tinggi (±5%). Tipe friksi bekerja dengan cara gesekan antar butiran be-ras, sedangkan tipe
abrasive beker-ja dengan cara pengikisan kulit ari/ aleuron beras dengan batu gerinda.

Berdasarkan kapasitas giling, penggilingan padi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu


penggilingan padi skala besar (PPB), penggilingan padi skala sedang/menengah (PPS), dan
penggilingan padi skala kecil (PPK). Penggilingan padi skala besar, yaitu penggilingan padi
yang menggunakan tenaga penggerak lebih dari 60 HP (Horse Power) dan kapasitas produksi
lebih dari 1000 kg/j, baik menggunakan sistem kontinu maupun diskontinu. PPB sistem
kontinu terdiri dari satu unit penggiling padi lengkap, semua mesin pecah kulit, ayakan, dan
penyosoh berjalan secara kontinu, dengan kata lain masuk gabah keluar beras giling. PBB
diskontinu minimal terdiri dari empat unit mesin pemecah kulit dan empat unit mesin penyosoh
yang dioperasikan tidak sinambung atau masih menggunakan tenaga manusia untuk me-
mindahkan dari satu tahapan pro-ses ke tahapan lain. Penggilingan padi skala sedang
menggunakan tenaga penggerak 40-60 HP, dengan kapasitas produksi 700-1000 kg/j.
Umumnya PPS terdiri dari dua unit mesin pemecah kulit dan dua unit mesin penyosoh. PPS ini
menggunakan sistem semi kontinu, yaitu mesin pecah kulitnya kontinu, sedangkan mesin
sosoh-nya masih manual. Penggilingan padi skala kecil ialah penggilingan padi yang
menggunakan tenaga penggerak 20-40 HP, dengan kapasitas produksi 300700 kg/j.
Penggilingan padi manual yang terdiri dari dua unit mesin pemecah kulit dan dua unit mesin
penyosoh ini sering disebut Rice Milling Unit (RMU). Di pedesaan masih terdapat Huller, yaitu
penggilingan padi yang menggunakan tenaga penggerak kurang dari 20 HP dan kapasitasnya
kurang dari 300 kg/j. Huller terdiri dari satu unit mesin pemecah kulit dan satu unit penyosoh.
Beras yang dihasilkan mutu gilingnya kurang baik, umumnya untuk dikonsumsi sendiri di
pedesaan.

Berdasarkan teknik penggilingannya, penggilingan padi dikelompokkan menjadi tiga,


yaitu penggilingan kontinu, semi kontinu, dan diskontinu. Sistem penggilingan kontinu ialah
sistem penggilingan di mana seluruh tahapan proses ber-jalan langsung/ban berjalan. Mesin ini
sangat lengkap, terdiri dari mesin pembersih gabah, pemecah kulit, pengayak beras pecah kulit
(paddy separation), penyosoh (polisher), dan ayakan beras (grader). Sistem semi kontinu, yaitu
sistem penggilingan padi di mana mesin pemecah kulitnya dioperasikan secara kontinu, namun
mesin penyosohannya masih manual. Umumnya sistem ini terdapat pada PPS. Pada sistem
diskontinu seluruh proses dilakukan secara manual, umumnya digunakan pada PPK.

Dalam mutu giling beras, dikenal tiga tingkatan ukuran beras, yaitu (1) beras kepala,
mempunyai ukuran lebih besar atau sama dengan 2/3 panjang beras, (2) beras patah 1/3-2/3
panjang beras, dan (3) menir, yaitu patahan beras berukur-an kurang dari 1/3 bagian. Di Kara-
wang dan Bekasi dikenal dua ma-cam menir, yaitu menir kasar (ba-gian dari beras giling) dan
menir halus atau disebut jitai, yaitu bagian beras dengan ukuran sangat kecil, yang ikut tersosoh
dan keluar ber-sama-sama bekatul. Jitai dipisah-kan dari bekatul dengan cara di-ayak dan
dimanfaatkan sebagai pa-kan bebek/ayam (Nurtama et al., 1996). Menir kasar juga
dimanfaatkan sebagai pakan unggas dan bahan baku makanan tradisional. Agar nilai sosial
ekonomi dan gunanya me-ningkat maka menir harus diproses lebih lanjut sehingga dapat
diguna-kan sebagai bahan baku produk pa-ngan. Masyarakat mempunyai ang-gapan bahwa
menir merupakan be-ras bermutu rendah, sehingga ha-nya dikonsumsi oleh masyarakat strata
sosial rendah. Namun, jika diproses, misalnya menjadi tepung dan diolah lebih lanjut menjadi
produk makanan, maka status sosialnya meningkat karena produk tersebut dikonsumsi oleh
segala lapisan masyarakat. Pengolahan menir menjadi produk lanjutan akan meningkatkan
nilai guna dan ekonomi-nya.

Penggilingan padi sebagai mata rantai akhir dari proses produksi beras, mempunyai
posisi yang strategis untuk ditingkatkan kinerja dan efisiensinya sehingga dapat menyumbang
pada peningkatan produksi beras. Hal ini mengingat rendemen giling dari tahun ke tahun
mengalami penurunan. Dalam kaitan dengan proses penggilingan padi, karakteristik fisik padi
sangat perlu diketahui karena proses penggilingan padi sebenarnya mengolah bentuk fisik dari
butiran beras menjadi beras putih. Selama proses penggilingan, bagian bagian yang tidak dapat
dimakan dilepaskan satu demi satu sampai akhirnya didapatkan beras yang enak dimakan yang
disebut dengan beras sosoh atau beras putih. Jenis-jenis varietas padi juga berpengaruh dalam
proses dan efisiensi penggilingan karena terkait dengan karakteristik fisik padi itu sendiri.
Perhitungan susut penggilingan dilakukan sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan
kembali rendemen giling sehingga hasil beras yang didapatkan lebih optimal. Susunan mesin
giling yang sesuai pada beberapa penggilingan padi kecil berpengaruh terhadap rendemen
giling. Dengan perhitungan rendemen dan susut ini diharapkan pemilik penggilingan padi kecil
dapat mengetahui bagaimana konfigurasi mesin giling yang tepat sehingga dapat
mengoptimalkan hasil berupa beras yang siap dikonsumsi.

Pada umumnya, petani dan pengusaha kecil hanya mengutamakan hasil beras giling
sebagai produk utama penggilingan padi, sedangkan hasil samping (dedak dan menir) serta
limbah (sekam) kurang diperhatikan. Untuk meningkatkan nilai tambah bagi usaha jasa
penggilingan dan petani padi, maka diperlukan suatu pendekatan sistem penggilingan padi
terpadu yang menerapkan teknologi dan rekayasa proses pengolahan beras serta hasil samping
yang bernilai komersial. Sentuhan teknologi pengolahan hasil samping (by product) dan
limbah (waste) menjadi produk bernilai komersial, akan memberi dampak peningkatan nilai
tambah. Strategi yang dikembangkan dalam usaha penggilingan padi terpadu yaitu hasil beras
menjadi bentuk keuntungan dan pendapatan dari hasil samping serta limbah yang terolah
minimal menjadi penutup biaya operasional proses produksi. Usaha dalam penggilingan padi
terpadu dilakukan dalam dua kegiatan, yaitu usaha penggilingan padi dan usaha pengolahan
hasil samping (by product) serta limbah (waste). Secara umum kegiatan tersebut memerlukan
teknologi yang meliputi penggilingan padi menjadi beras, hasil samping dan limbah.

Proses penggilingan padi adalah proses yang melibatkan gaya-gaya mekanis yang
dikombinasikan dengan panas, sehingga terjadi pelepasan sekam bahkan bekatul (bran) dari
endosperm (biji utama). Proses pelepasan sekam (dehulling) berfungsi untuk menghasilkan
beras pecah kulit (brown rice), yang masih mengandung bekatul. Selanjutnya jika dilakukan
penyosohan (whitening dan polishing), akan dihasilkan beras sosoh dengan derajat sosoh yang
baik (Siebenmorgen dan Qin, 2005). Permasalahan yang seringkali dijumpai dalam proses
penggilingan adalah pemisahan bekatul yang terikat kuat dengan endosperm sehingga bantuan
gaya mekanik dan perlakuan panas yang diberikan dapat mengakibatkan pecahnya endosperm
dengan berbagai ukuran. Kerusakan endosperm selama proses penggilingan dapat memberikan
rendemen beras kepala yang rendah, penurunan derajat sosoh, maupun penurunan komponen
nutrisi yang melebihi batas yang diinginkan. Keberhasilan suatu proses penggilingan padi
dalam menghasilkan persentase beras kepala yang cukup besar, maupun recovery yang tinggi
serta derajat putih yang baik dapat dirangkum dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu: (i) Kondisi
varietas padi yang digiling, yang terdiri dari berat hull dari padi, bentuk geometris padi,
kekerasan, maupun chalckiness; (ii) Kualitas padi yang diindikasikan dengan kadar air padi,
derajat kemurnian padi (tidak adanya kontaminan fisik pada padi yang akan digiling), padi
yang telah retak bagian dalamnya; (iii) Teknologi penggilingan yang dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor jenis dan kualitas sistem penggilingan serta prosedur penggilingan.
MODeL PeNGGILINGAN PADI TeRPADU UNTUK MeNINGKATKAN NILAI
TAMBAH Ridwan Rachmat Buletin Teknologi Pascananen Pertanian Vol 8 (2), 2012

Kajian Pengaruh Konfigurasi Mesin Penggilingan terhadap Rendemen dan Susut


Giling beberapa Varietas Padi Rokhani Hasbullah1 dan Anggitha Ratri Dewi Jurnal
Keteknikan Pertanian Vol. 23, No. 2 Oktober 2009

Produktivitas dan Proses Penggilingan Padi Terkait Dengan Pengendalian Faktor Mutu
Berasnya Slamet Budijanto dan Azis Boing Sitanggang PANGAN, Vol. 20 No. 2 Juni 2011:
141-152.