Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang
Menurut price & Wilson (2006), diabetes adalah penyakit metabolik
yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia) yang
diakibatkan oleh gangguan sekresi insulin, dan resistensi insulin atau
keduanya. Pasien-pasien yang mengalami difisiensi insulin tidak dapat
mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi
sesudah makan.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) di Indonesia terdapat
10 juta orang penderita diabetes dan 17,9 juta orang yang berisiko menderita
penyakit ini. Sementara Provinsi Jawa Timur masuk 10 besar prevalensi
penderita diabetes se-Indonesia atau menempati urutan ke-9 dari prevalensi
6,8. Angka ini satu tingkat diatas DKI Jakarta yang berada diurutan ke-10
dengan prevalensi 6,6. Sedangkan yang menempati puncak posisi pertama
adalah Maluku dengan prevalensi 11,1. Prevalensi untuk Surabaya lebih tinggi
dibandingkan Jawa Timur yaitu dengan prevalensi 7.
Tingginya prevalensi penderita dibetes di Surabaya dibandingkan di
daerah lainnya di Jawa Timur, karena Surabaya merupakan kota besar, dimana
pola hidup masyarakatnya sebagian besar tidak sehat. Hal itu didukung dengan
kemudahan mendapatkan berbagai jenis makanan enak yang belum tentu sehat,
kemudahan mengakses transportasi, kesibukan kerja yang tinggi sehingga tidak
memiliki waktu untuk latihan fisik, dan kemampuan ekonominya lebih tinggi.
Diabetes mellitus merupakan penyakit yang sering terjadi di masyarakat
terutama di perkotaan. Dari angka prevalensi di Surabaya , maka perlu
dilakukan penyuluhan tentang diabetes mellitus, pengontrolan tekanan darah
dan gula darah (GDA), upaya pengendalian diabetes mellitus yang ada di
masyarakat dan mencakup berbagai upaya promotif dan preventif serta pola
rujukannya.

1
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian dari promosi kesehatan?
1.2.2 Apa faktor yang mempengaruhi masyarakat pada pola perilaku?
1.2.3 Apa strategi promosi kesehatan?
1.2.4 Mengapa perlu diadakannya promosi kesehatan tentang diabetes
mellitus di masyarakat?
1.2.5 Bagaimana cara melaksanakan promosi kesehatan tentang diabetes
mellitus di masyarakat?
1.2.6 Apa yang dibutuhkan dalam melaksanakan promosi kesehatan?

1.3 Tujuan
Untuk memenuhi tugas mata kuliah “Promosi Kesehatan”

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Promosi Kesehatan


Menurut WHO, promosi kesehatan adalah proses yang memungkinkan
orang untuk meningkatkan kontrol atas faktor-faktor penentu kesehatan,
dengan demikian meningkatkan kesehatan mereka. Promosi kesehatan berarti
membangun kebijakan publik yang sehat, mensiptakan lingkungan yang
mendukung, memperkuat aksi komunitas, mengembangkan keterampilan
pribadi, dan mengorientasikan layanan kesehatan. Progam promosi kesehatan
dan pencegahan penyakit fokus pada menjaga orang sehat. Promosi kesehatan
melibatkan dan memberdayakan individu dan masyarakat untuk terlibat dalam
perilaku sehat, dan membuat perubahan yang mengurangi risiko
pengembangan penyakit kronis dan morbiditas lainnya.

Health
Promotion

Health Health Health


Education Screening Prevention

Promosi kesehatan dilakukan dalam konteks prinsip-prinsip kemitraan,


partisipasi dan perlindungan aktif utnuk mencapai kesehatan optimal. Promosi
kesehatan adalah proses diarahkan untuk seseorang mengambil tindakan.
Dengan demikian, promosi kesehatan bukanlah sesuatu yang dilakukan pada
orang, hal itu dilakukan oleh, dengan dan untuk orang-orang baik sebagai
individu maupun kelompok.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperkuat keterampilan dan
kemampuan individu untuk mengambil tindakan dan kapasitas kelompok atau
masyarakat untuk bertindak secara kolektif untuk melakukan kontrol atas

3
faktor-fakto penentu kesehatan dan mencapai perubahan yang positif. Promosi
kesehatan tidak hanya mencakup tindakan untuk memperkuat keterampilan dan
kemampuan individu tetapi juga tindakan yang mengarah pada perubahan
kondisi sosial, lingkungan, politik dan ekonomi utnuk mengurangi dampaknya
terhadap populasi dan kesehatan individu.

2.2 Faktor yang Mempengaruhi Masyarakat dalam Pola Perilaku


Umumnya ada empat faktor yang dapat mempengaruhi masyarakat agar
merubah perilakunya, yaitu:
a. Fasilitasi, yaitu bila perilaku yang baru membuat hidup masyarakat yang
melakukannya menjadi lebih mudah, misalnya adanya sumber air bersih
yang lebih dekat.
b. Pengertian yaitu bila perilaku yang baru masuk akal bagi masyarakat
dalam konteks pengetahuan local.
c. Persetujuan, yaitu bila tokoh panutan (seperti tokoh agama dan tokoh
agama) setempat menyetujui dan mempraktekkan perilaku yang di
anjurkan.
d. Kesanggupan untuk mengadakan perubahan secara fisik misalnya
kemampuan untuk membangun jamban dengan teknologi murah namun
tepat guna sesuai dengan potensi yang di miliki.
Pendekatan program promosi menekankan aspek ”bersama masyarakat”, dalam
artian:
a. Bersama dengan masyarakat fasilitator mempelajari aspek-aspek penting
dalam kehidupan masyarakat untuk memahami apa yang mereka kerjakan,
perlukan dan inginkan.
b. Bersama dengan masyarakat fasilitator menyediakan alternatif yang
menarik untuk perilaku yang beresiko misalnya jamban keluarga sehingga
buang air besar dapat di lakukan dengan aman dan nyaman.
c. Bersama dengan masyarakat petugas merencanakan program promosi
kesehatan dan memantau dampaknya secara terus-menerus,
berkesinambungan.

4
2.3 Strategi Promosi Kesehatan
Pembangunan sarana air bersih, sarana sanitasi dan program promosi
kesehatan dapat dilaksanakan secara terpadu dan berkesinambungan apabila :
a. Program tersebut direncanakan sendiri oleh masyarakat berdasarkan atas
identifikasi dan analisis situasi yang dihadapi oleh masyarakat,
dilaksanakan, dikelola dan dimonitor sendiri oleh masyarakat.
b. Ada pembinaan teknis terhadap pelaksanaan program tersebut oleh tim
teknis pada tingkat Kecamatan.
c. Ada dukungan dan kemudahan pelaksanaan oleh tim lintas sektoral dan
tim lintas program di tingkat Kabupaten dan Propinsi.
Strategi untuk meningkatkan program promosi kesehatan, perlu
dilakukan dengan langkah kegiatan sebagai berikut :
1) Advokasi di Tingkat Propinsi dan Kabupaten
Pada tingkat Propinsi dan tingkat Kabupaten dalam pelaksanaan
Proyek PAMSIMAS telah dibentuk Tim Teknis Propinsi dan Tim Teknis
Kabupten. Anggota Tim Teknis Propinsi dan Tim Teknis Kabupaten,
adalah para petugas fungsional atau structural yang menguasai teknis
operasional pada bidang tugasnya dan tidak mempunyai kendala untuk
melakukan tugas lapangan. Advokasi dilakukan agar lintas sektor, lintas
program atau LSM mengetahui tentang Proyek PAMSIMAS termasuk
Program Promosi Kesehatan dengan harapan mereka mau untuk
melakukan hal-hal sebagai berikut :
a) Mendukung rencana kegiatan promosi kesehatan. Dukungan yang
dimaksud bisa berupa dana, kebijakan politis, maupun dukungan
kemitraan.
b) Sepakat untuk bersama-sama melaksanakan program promosi
kesehatan.
c) Mengetahui peran dan fungsi masing-masing sektor/unsur terkait.
2) Menjalin Kemitraan di Tingkat Kecamatan.
Melalui wadah organisasi tersebut Tim Fasilitator harus lebih aktif
menjalin kemitraan dengan TKC untuk :
a) Mendukung program kesehatan.

5
b) Melakukan pembinaan teknis.
c) Mengintegrasikan program promosi kesehatan dengan program lain
yang dilaksanakan oleh Sektor dan Program lain, terutama program
usaha kesehatan sekolah, dan program lain di PUSKESMAS.
3) Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Masyarakat
Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat mengelola program
promosi kesehatan, mulai dari perencanaan, implementasi kegiatan,
monitoring dan evaluasi harus dilaksanakan sendiri oleh masyarakat,
dengan menggunakan metoda MPA-PHAST. Untuk meningkatkan
keterpaduan dan kesinambungan program promosi kesehatan dengan
pembangunan sarana air bersih dan sanitasi, di tingkat desa harus dibentuk
lembaga pengelola, dan pembinaan teknis oleh lintas program dan lintas
sector terkait.
Pesan perubahan perilaku yang terlalu banyak sering membuat
bingung masyarakat, oleh karena itu perlu masyarakat memilih dua atau
tiga perubahan perilaku terlebih dahulu. Perubahan perilaku beresiko
diprioritaskan dalam program higiene sanitasi pada Proyek PAMSIMAS di
sekolah dan di masyarakat :
a) Pembuangan tinja yang aman.
b) Cuci tangan pakai sabun
c) Pengamanan air minum dan makanan.
d) Pengelolaan sampah
e) Pengelolaan limbah cair rumah tangga
Setelah masyarakat timbul kesadaran, kemauan / minat untuk
merubah perilaku buang kotoran ditempat terbuka menjadi perilaku buang
kotoran di tempat terpusat (jamban), masyarakat dapat mulaimembangun
sarana sanitasi (jamban keluarga) yang harus dibangun oleh masing-
masing anggotarumah tangga dengan dana swadaya. Masyarakat harus
menentukan kapan dapat mencapai agarsemua rumah tangga mempunyai
jamban.Pembangunan sarana jamban sekolah, tempat cuci tangan dan
sarana air bersih di sekolah, menggunakan dana hibah desa atau sumber
dana lain. Fasilitator harus mampu memberikan informasipilihan agar

6
masyarakat dapat memilih jenis sarana sanitasi sesuai dengan kemampuan
dan kondisilingkungannya (melalui pendekatan partisipatori).
4) Peran Berbagai Pihak dalam Promosi Kesehatan
Peran Tingkat Pusat
Ada 2 unit utama di tingkat Pusat yang terkait dalam Promosi
Kesehatan, yaitu:
a) Pusat Promosi Kesehatan dan
b) Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan
Pengelolaan promosi kesehatan khususnya terkait program
Pamsimas di tingkat Pusat perlu mengembangkan tugas dan juga tanggung
jawab antara lain:
a) Mengembangkan dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia
yang terkait dengan kegiatan promosi kesehatan secara nasional
b) Mengkaji metode dan teknik-teknik promosi kesehatan yang effektif
untuk pengembangan model promosi kesehatan di daerah
c) Mengkoordinasikan dan mengsinkronisasikan pengelolaan promosi
kesehatan di tingkat pusat
d) Menggalang kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan lain
yang terkait
e) Melaksanakan kampanye kesehatan terkait Pamsimas secara nasional
f) Bimbingan teknis, fasilitasi, monitoring dan evaluasi
Peran Tingkat Propinsi
Sebagai unit yang berada dibawah secara sub-ordinasi Pusat, maka
peran tingkat Provinsi, khususnya kegiatan yang diselenggrakan oleh
Dinas Kesehatan Provinsi antara lain sebagai berikut:
a) Menjabarkan kebijakan promosi kesehatan nasional menjadi kebijakan
promosi kesehatan local (provinsi) untuk mendukung penyelenggaraan
promosi kesehatan dalam wilayah kerja Pamsimas.
b) Meningkatkan kemampuan Kabupaten/Kota dalam penyelenggaraan
promosi kesehatan, terutama dibidang penggerakan dan pemberdayaan
masyarakat agar mampu ber-PHBS.

7
c) Membangun suasana yang kondusif dalam upaya melakukan
pemberdayaan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat
pada level provinsi.
d) Menggalang dukungan dan meningkatkan kemitraan dari berbagai
pihak serta mengintegrasikan penyelenggaraan promosi kesehatan
dengan lintas program dan lintas sektor terkait dalam pencapaian
PHBS dalam level Provinsi
Peran Tingkat Kabupaten
Promosi Kesehatan yang diselenggarakan di tingkat Kabupaten,
khususnya yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dapat
mencakup hal-hal sebagai berikut:
a) Meningkatkan kemampuan Puskesmas, dan sarana kesehatan lainnya
dalam penyelenggaraan promosi kesehatan, terutama dibidang
penggerakan dan pemberdayaan masyarakat agar mampu ber-PHBS.
b) Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan
kegiatan yang bersumberdaya masyarakat, sesuai sosial budaya
setempat.
c) Membangun suasana yang kondusif dalam upaya melakukan
pemberdayaan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.
d) Menggalang dukungan dan meningkatkan kemitraan dari berbagai
pihak serta mengintegrasikan penyelenggaraan promosi kesehatan
dengan lintas program dan lintas sektor terkait dalam pencapaian
PHBS.

2.4 Pentingnya Promosi Kesehatan Diabetes Mellitus di Masyarakat


Tentunya semua orang ingin selalu hidup sehat, dengan hidup sehat akan
terasa nyaman dan tentram dalam menjalani kehidupan. Untuk itu menjaga
kesehatan sagat penting bagi setiap orang. Seperti pepatah yang mengakatakan
mencegah lebih baik daripada mengobati. Kata-kata tersebut memang benar,
jika seorang sudah terjangkit suatu penyakit, akan ada rasa penyesalan dalam
diri mereka yang dikarenakan mereka tidak menjaga kesehatan.

8
Dalam lingkungan masyarakat, tidak selalu mereka paham mengenai
suatu penyakit yang diderita oleh salah satu dari warganya. Padahal dari pihak
rumah sakit diharapkan pasien mampu merawat dirinya sendiri secara mandiri.
Selain itu, peran keluarga juga sangat pentig dalam mendukung dan membantu
merawat pasien dalam proses penyembuhannya. Maka dari itu perlu adanya
promosi kesehatan seperti penyuluhan ke masyarakat mengenai suatu penyakit.
Penyuluhan ke masyarakat bisa dilakukan dengan mengunjungi rumah-rumah
warga dan bisa juga dengan mengumpulkan warga di suatu tempat untuk
pemberian health education mengenai suatu penyakit. Oleh karena itu,
pentingnya promosi kesehatan dikeluarga adalah agar dalam keluarga
berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kesehatan, sehingga diharapkan akan
terjadi perubahan sikap dan perilaku keluarga menjadi perilaku yang sehat dan
dapat terhindar dari suatu penyakit.
Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan
tingginya kadar gula dalam darah. Di zaman sekarang diabetes mellitus bukan
hanya diderita oleh lansia bahkan pada usia muda sudah banyak yang
menderita diabetes mellitus. Masyarakat di Desa Pacar Keling sudah
mengetahui apa itu penyakit diabetes. Sebagian besar masyarakat tidak
mngetahui tanda dan gejala dari penyakit ini. Tahu-tahu mereka sudah
menderita penyakit ini sudah lama. Sekitar 7 keluarga yang menderita diabetes
mellitus di Desa Pacar Keling, dengan usia berkisar 45-65 tahun. Dari
pengumpulan data didapatkan 7 keluarga dengan penyakit diabetes mellitus
yang cukup lama serius yang ditandai dengan luka diabetes pada kaki.
Wawancara dengan pasien didapatkan kesimpulan bahwa dari sebelum keluar
dari rumah sakit pasien sudah mendapatkan helath education yang sederhana
seperti makanan yang harus dihindari dan makana yang boleh dikonsumsi.
Selain itu, mereka mengatakan jika mereka tidak bisa merawat luka yang
timbul akibat penyakit diabetes.
Dari pengumpulan data di atas dapat ditarik kesimpulan jika masyarakat
di Desa Pacar Keling belum memahami secara benar apa itu penyakit diabetes
mellitus, serta cara pencegahan dan pengobatan dari penyakit tesebut. Oleh
karena itu, penting sekali dilakukan penyuluhan ke masyarakat agar mereka

9
memahami secraa benar dari penyakit diabetes mellitus, meliputi cara
pencegahan, tanda gejala dan pengobatannya. Jika masyarakat sudah
memahami tiga hal tesebut, maka penyebaran dari penyakit ini bisa berkurang.
Meskipun penyakit ini bukan penyakit yang menular tetapi tetap saja perlu
adanya pencegahan dan pengurangan penderita diabetes mellitus.

2.5 Pelaksanakan Promosi Kesehatan Tentang Diabetes Mellitus di


Masyarakat
Pelaksanaan promosi kesehatan di masyarakat ada cara yang dapat
dilakukan, seperti melakukan penyuluhan di tempat terbuka, check kesehatan
gratis, mengunjungi rumah-rumah untuk memberikan health education.
Masing-masing cara penyuluhan memliki satuan acara penyuluhan yang
berbeda-beda, bergantung pada penyuluh yang akan menyampaikan helath
education. Promosi kesehatan yang akan dilakukan di Desa Pacar Keling
Kecamatan Tambaksari Surabaya adalah dengan mendatangi rumah-rumah
untuk pemberian materi sebagai berikut:
a. Pengertian Diabetes Mellitus
b. Penyebab Diabetes Mellitus
c. Niali normal kadar gula
d. Tanda dan gejala Diabetes Mellitus
e. Diet pada Diabetes Mellitus
f. Pencegahan dan pengobata Diabetes Mellitus
g. Mengajarkan perawatan luka pada penderita Diabetes Mellitus

Menggunakan metode ceramah dan tanya jawab melalui pamflet yang


diberikan kepada anggota keluarga hadir dalam penyuluhan ini. Tentunya sudah
dilakukan kontrak waktu dengan klien atau keluarga. Setelah melakukan cermah
klien atau anggota keluarga dapat bertanya tentang hal-hal yang tidak
diketahuinya, dengan tanya jawab inilah dapat disimpulkan bahwa anggota
keluarga atau klien memahami apa yang disampaikan oleh pemateri.
Pelaksanan promosi kesehatan yang dilakukan di Desa Pacar Keling ini
dikonsep sedemikian agar klien atau keluraga mampu mengetahui secara dalam

10
dari penyakit diabetes, sehingga keluarga benar-benar paham inti penyakit
diabetes yang harus mereka ketahui. Dengan begitu, mereka bisa melakukan
perawatan secara mandiri di rumah tetapi tetap harus dengan pengawasan petugas
kesehatan, misalnya pasien harus tetap melakukan kontrol mengenai penyakitnya
ke rumah sakit.

2.6 Kebutuhan Dalam Melaksanakan Promosi Kesehatan


Banyak hal yang dibutuhkan untuk melaksanakan promosi kesehatan di
masyarakat, yaitu sebagai berikut:
1. Melakukan perizinan kepada pihak kepala desa dan ketua RT dari daerah
setempat bahwa akan diadakan promosi kesehatan dengan mengunjungi
rumah-rumah warga.
2. Membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak untuk terselenggaranya
kegiatan promosi kesehatan ini, seperti dukungan dari pihak puskemas
setempat atau dari rumah sakit serta pihak-pihak lain yang bisa
mendukung terselenggaranya kegiatan ini.
3. Mengumpulkan data dari rumah-rumah warga untuk mengetahui penyakit
apa yang paling dominan diderita oleh warga.
4. Menyiapakan Satuan Acara Penyuluhan (SAP), pamflet, serta materi yang
akan disampaikan kepada warga.
5. Menyiapakan perlatan yang dibutuhkan untuk penyampaian materi dan
peralatan ketika memberikan helath education yang berupa tindakan untuk
perawatan penyakit.

11
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Promosi kesehatan berarti membangun kebijakan publik yang sehat,
mensiptakan lingkungan yang mendukung, memperkuat aksi komunitas,
mengembangkan keterampilan pribadi, dan mengorientasikan layanan
kesehatan. Promosi kesehtan sangat penting dilakukan dimasyarakat karena
dengan adanya promosi kesehatan bisa merubah pola perilaku masyarakat
menjadi lebih sehat serta masyarakat bisa melakukan pencegahan terhadap
suatu penyakit.
Promosi kesehatan juga dipengaruhi oleh faktor yang dapat merubah pola
perilaku masyarakat yang meliputi, fasilitas, pengertian, persetujuan dan
kesaggupan untuk mengadakan perubahan secara fisik. Selain itu, promosi
kesehatan akan berjalan dengan baik jika mendapat dukungan dari berbagai
pihak seperti dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten hingga ke provinsi.

3.2 Saran
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, kita harus
melakukn pencegahan terdapat segala penyakit baik itu penyakit yang terlihat
sederhana dan tidak berbahaya hingga ke penyakit yang bisa mengakibatkan
kematian. Kita bisa melakukannya dimulai dari perubahan perilaku dengan
pola hidup yang sehat.

Semoga makalah ini dapat berguna bagi pembaca dan bisa digunakan
sebagai literature untuk penelitian selanjutnya.

12
DAFTAR PUSTAKA

Brunner. 2013. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur. 2015. Masih Tinggi
Prevalensi Diabetes di Jatim. [Online]. Tersedia di
www.kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/masih-tinggi-prevalensi-
diabetes-di-jatim. Diakses pada 20 November 2018. Pukul 10.12 WIB.

Freidman, M m. 1998. Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktik ed 3.


Jakarta: EGC

Kesmas-Ode. 2012. Makalah Diabetes Mellitus. [Online]. Tersedia di


http://kesmas-ode.blogspot.co.id/2012/10/makalah-diabetes-
mellitus.html. Diakses pada 20 November 2018. Pukul 20.00 WIB.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehata. Jakarta :


Rineka Cipta.

Suroboyo.id. 2017. Diabetes Wes Gak Isok Digawe Guyon, Rek1. [Online].
Tersedia di www.suroboyo.id/diabetes-usia-produktif/. Diakses pada 20
November 2018. Pukul 09.30 WIB.

Susut. 2010. Pentingnya Sebuah Promosi Kesehatan. [Online]. Tersedia di


https://pkmsusut2.wordpress.com/2009/05/10/pentingnya-sebuah-
promosi-kesehatan/. Diakses pada 20 November 2018. Pukul 19.00 WIB.

Zainal, A.H. (1999). Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta: Yayasan


Bunga Raflesia

13