Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan
dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh
terutama mata, ginjal, syaraf, jantung dan pembuluh darah. Beberapa faktor yang
dapat menyebabkan diabetes melitus antara lain genetik atau faktor keturunan,
virus dan bakteri, bahan toksik dan beracun, nutrisi, pola hidup.
Penyakit DM menempati urutan keempat penyakit penyebab kematian di
negara berkembang (Sicree et.al., 2009). Menurut data International Diabetes
Federation (IDF) 2012 menyatakan lebih dari 371 juta orang di dunia menderita
penyakit diabetes. Berdasarkan data tersebut 8,3% dari populasi di dunia telah
mengidap penyakit diabetes melitus ( International working group on the diabetic
foot (IWGDF). Indonesia sebagai negara berkembang menempati urutan
kesepuluh dengan jumlah pasien DM terbanyak (IDF, 2011). Data dari Badan
Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2003 menyatakan pasien penyakit DM di
Indonesia sebanyak 133 juta jiwa (PERKENI, 2011).Prevalensi pasien diabetes
tersebut akan meningkat dan diprediksi pada tahun 2030 akan mencapai 21,3 juta
jiwa (Kemenkes, 2012). WHO memperkirakan pada tahun 2030 jumlah penderita
DM di dunia akan semakin meningkat hingga mencapai 438 juta orang.
Data Departemen Kesehatan RI menyebutkan bahwa jumlah pasien rawat inap
maupun jalan di Rumah Sakit menempati urutan pertama dari seluruh penyakit
endokrin adalah DM. Dalam profil Kesehatan Indonesia tahun 2005, Diabetes Melitus
berada pada urutan ke-6 dari 10 penyakit utama pada pasien rawat jalan di rumah
sakit di Indonesia.
Diabetes mellitus yang tidak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi-
komplikasi kronik, maka untuk mencegah komplikasi yang timbul tersebut diperlukan
pengendalian kadar gula darah yang baik. Kontrol kadar gula

1
2

darah pasien sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien terhadap diet yang
diberikan. Kepatuhan pasien sangat diperlukan untuk mencapai keberhasilan terapi
DM dan berperan penting untuk menstabilkan kadar glukosa darah penderita DM.
Penyakit yang diderita serta pengobatan yang sedang dijalani oleh seorang
pasien DM dapat mempengaruhi kapasitas fungsional, psikologis dan kesehatan
sosial serta kesejahteraan pasien DM. Hal tersebut juga dapat memberikan
pengaruh pada kualitas hidup pasien DM (Yusra, 2010). WHO (1997)
mendefinisikan kualitas hidup sebagai persepsi dari individu terhadap posisinya
dalam kehidupan dalam konteks budaya dan sistem nilai dan kaitannya dengan
tujuan, harapan serta standar yang ada. Berdasarkan penelitian Isa & Baiyewu
(2006) didapatkan hasil 65,4% menunjukkan hasil kualitas hidup sedang pada
pasien DM dan 13,9% menunjukkan kualitas hidup pasien DM yang buruk.
Diabetes mellitus yang tidak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi-
komplikasi kronik, maka untuk mencegah komplikasi yang timbul tersebut
diperlukan pengendalian kadar gula darah yang baik.Kontrol kadar gula darah
pasien sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien terhadap diet yang diberikan.
Kepatuhan pasien sangat diperlukan untuk mencapai keberhasilan terapi DM dan
berperan penting untuk menstabilkan kadar glukosa darah penderita DM.
Diet adalah salah satu upaya dalam pengelolaan DM, ada 4 pilar penting
dalam penatalaksanaan DM yaitu edukasi, terapi medis/gizi, latihan jasmani dan
farmakologi.3 Diet merupakan terapi utama, maka seharusnya setiap penderita
mempunyai sikap positif terhadap diet yang dianjurkan agar tidak terjadi
komplikasi dan terkendalinya kadar gula darah.
Sikap penderita dipengaruhi oleh pengetahuan, dalam hal ini pengetahuan
penderita tentang penyakit DM sangat penting karena pengetahuan akan
membawa penderita DM untuk menentukan sikap, berfikir dan berusaha untuk
mengelola penyakitnya serta mengontrol gula darah.
Pengetahuan gizi merupakan faktor yang sangat penting dalam
menentukan sikap dan perilaku seseorang terhadap makanan sehingga dapat
mengendalikan dan mengontrol kadar gula darah.8 Pengetahuan itu sendiri
4

merupakan dasar untuk melakukan suatu tindakan sehingga setiap orang


yang akan melakukan tindakan biasanya didahului dengan tahu, selanjutnya
perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan bersifat lebih baik dari pada
perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Peran keperawatan pada peningkatkan kualitas hidup pasien DM yaitu dengan
melakukan tindakan prevensi, yang meliputi prevensi primer, prevensi sekunder,
dan prevensi tersier. Prevensi primer adalah tindakan pencegahan penyakit yang
dapat dilakukan dengan cara promosi kesehatan. Prevensi sekunder merupakan
tindakan pencegahan penyakit dengan melakukan deteksi dini dan pengobatan
pada penyakit. Prevensi tersier adalah tindakan pencegahan yang bertujuan untuk
mencegah kecacatan akibat suatu penyakit (Anderson & Mc Farlane, 2006).
Pengendalian DM akan lebih efektif bila diprioritaskan pada pencegahan dini
melalui upaya perawatan mandiri pasien, hal tersebut akan memberikan pengaruh
dalam kualitas hidup. Pengelolaan mandiri pada pasien diabetes melitus dapat
menurunkan angka kesakitan berulang, komplikasi dan kematian (Sutandi, 2012).
Berdasarkan uraian diatas dan teori-teori yang ada, dan mengingat 4 pilar hal
penting penatalaksanaan DM maka peneliti tertarik untuk mengetahui “Pengetahuan
Kesehatan dan Kualitas Hidup Klien Diabetes Melitus di Rumah Sakit Dr. Soetomo
Surabaya”.

1.2 Rumusan Masalah


MDGs dalah paradignma global yang sejalan dengan Rencana
Pembangunan Nasional (RPK). Tujusan tercapainya tujuan RPK di Indonesia
masalah kesehatan beralih dari penyakit infeksi ke degeneratif. Penyakit DM
mrupakan penyakit degenaratif yang prevelensinya diperkiran meningkat pada
tahun 2030 mencapai 366 juta pasien. Upaya pengendalian salah satunya adalah
pendidikan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pngetahuan serta
kualitas hidup pasien DM.
Indonesia sendiri menduduki peringkat ke-7 untuk negara dengan pasien
DM terbanyak di dunia. Karena hal tersebut, pertanyaan dalam penelitian ini
adalah bagaimanakah gambaran pengetahuan pendidikan kesehatan terhadap
4

kualitas hidup pada pasien Diabetes Melitus di RSUD Dr. Soetomo Surabaya
tahun 2018.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum pada penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pendidikan
pasien DM tentang penyakit diabetes mellitus dan kualitas hidup pasien diabetes
mellitus di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya.
1.3.1 Tujuan Khusus
1. Mengindentifikasi karakteristik demografi pasien DM meliputi umur, jenis
kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan lama menderita diabetes mellitus di
Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya.
2. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan pasien DM tentang manajemen DM
(edukasi, diet, obat-obat DM, latihan jasmani, monitoring kadar gula
darah) di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti
Manfaat bagi peneliti adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan
mengenai gambaran kualitas hidup pasien Diabetes Mellitus tipe 2. Diharapkan
penelitian ini juga dapat menjadi awal penelitian-penelitian lain mengenai DM
tipe 2 dan diharapkan dapat menjadi solusi penanganan DM tipe 2.
1.4.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan
Manfaat yang bisa diperoleh bagi institusi pendidikan adalah sebagai
sumber referensi pengembangan ilmu keperawatan terutama dalam asuhan
keperawatan pasien DM tipe 2.
1.4.3 Manfaat Bagi Instansi Pelayanan Kesehatan
Manfaat yang bisa diperoleh bagi instansi kesehatan khususnya bagi
Rumah Sakit Dr. Soetomo adalah data dan hasil yang diperoleh dapat dijadikan
sumber referensi dan sebagai dasar untuk menentukan intervensi keperawatan
dalam penatalaksanaan pada diabetes mellitus, khususnya pada pasien DM tipe 2.
5

1.4.4 Manfaat Bagi Masyarakat


Manfaat yang dapat diperoleh oleh masyarakat adalah menambah
informasi dan pengetahuan tentang DM tipe 2.