Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2004, menyatakan bahwa 5


besar kanker di dunia adalah kanker paru-paru, kanker payudara, kanker usus
besar, kanker lambung, dan kanker hati. WHO mengestimasikan bahwa 84 juta
orang meninggal akibat kanker dalam rentang waktu 2005-2015. Survei yang
dilakukan WHO menyatakan 8-9 persen wanita mengalami kanker payudara. Hal
itu membuat kanker payudara sebagai jenis kanker yang paling banyak ditemui
pada wanita setelah kanker leher rahim. Kanker payudara merupakan masalah
besar di Indonesia maupun di negara lain. Jumlah kasus baru di Amerika Serikat
pada tahun 2003 mencapai 211.300 orang dan 39.800 pasien meninggal akibat
kanker payudara pada tahun yang sama. Kanker payudara di Indonesia berada di
urutan kedua sebagai kanker yang paling sering ditemukan pada perempuan,
setelah kanker mulut rahim. Penelitian di Jakarta Breast Cancer pada April 2001
sampai April 2003 menunjukan bahwa dari 2.834 orang memeriksakan benjolan
di payudaranya, 2.229 diantaranya (78%) merupakan tumor jinak, 368 orang
(13%) terdiagnosis kanker payudara dan sisanya merupakan infeksi dan kelainan
bawaan payudara (Djoerban, 2003). Berdasarkan Profil Kesehatan Republik
Indonesia tahun 2008, 10 peringkat utama penyakit neoplasma ganas atau kanker
pasien rawat inap di rumah sakit sejak tahun 2004- 2008 tidak banyak berubah.
Tiga peringkat utama adalah neoplasma ganas payudara disusul neoplasma ganas
serviks uterus dan neoplasma ganas hati dan saluran intra hepatik. Kanker
payudara terus meningkat selama 4 tahun tersebut dengan kejadian 5.297 kasus di
tahun 2004, 7.850 kasus di tahun 2005, 8.328 kasus di tahun 2006, dan 8.277
kasus di tahun 2007 (Depkes RI, 2008).

Prevalensi kasus kanker payudara di Provinsi Jawa Tengah mengalami


peningkatan dari 0.02% pada tahun 2005 menjadi 0.04% pada tahun 2006 dan
pada tahun 2007 tetap sebesar 0.04 %. Kasus penyakit kanker tahun 2007 yang
ditemukan di Provinsi Jawa Tengah sebesar 22.167 kasus, terdiri dari kanker
1
servik 7.715 kasus (34,61%), kanker payudara 11.310 kasus (51,04%), kanker hati
2.130 kasus (9,61%), dan kanker paru-paru 1.006 kasus (4,54%). Berdasarkan
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008, wilayah di Jawa Tengah
dengan angka kejadian tertinggi berada di Semarang sebanyak 4215 kasus, diikuti
Surakarta sebanyak 3829 kasus, Sukoharjo sebanyak 771 kasus, dan Kudus
sebanyak 456 kasus. Faktor risiko kanker payudara adalah jenis kelamin, dengan
perbandingan lakilaki perempuan kira-kira 1:100. Meskipun terjadi penurunan
yang signifikan di tahun 2009, namun penyakit kanker payudara merupakan
penyakit yang mempunyai andil besar dalam kematian wanita di dunia. Setelah
perawatan, sekitar 50 persen pasien yang menderita kanker payudara stadium
akhir hanya dapat bertahan hidup 18-30 bulan. Disamping itu, penelitian tentang
faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian kanker payudara masih sangat
terbatas di Indonesia.

1.2 Tujuan

Untuk Mengetahui Apa Itu Asuhan Keperawatan Pada Agregat Dalam


Komunitas Kesehatan Wanita : Ca Mamae

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS MEDIS

2.1 Definisi Cancer Mammae

Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang
terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di
payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker
bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi
pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu
sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit.
(Erik T, 2005)

Merupakan gangguan dalam pertumbuhan sel normal mammae dimana sel


abnormal timbul dari sel-sel normal, berkembang biak dan menginfiltrasi jaringan
limfe dan pembuluh darah (Nurarif & Kusuma, 2015). Kanker payudara adalah
pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi
ganas (Harianto 2005). Jadi kanker payudara (ca mammae) adalah suatu
gangguan pada sel normal mammae yang tumbuh menjadi sel abnormal yang
dapat berubah menjadi ganas.

2.2 Etiologi

Penyebab kanker payudara belum dapat ditentukan, tetapi terdapat


beberapa faktor resiko yang telah ditetapkan, yaitu lingkungan atau genetik.
Kanker payudara memperlihatkan proliferasi keganasan sel epitel yang membatasi
duktus atau lobus payudara. Pada awalnya hanya terdapat hyperplasia sel dengan
perkembangan sel-sel yang atipikal dan kemudian berlanjut menjadi karsinoma
insitu dan menginvasi stroma. Kanker membutuhkan waktu 7 tahun untuk tumbuh

3
dari satu sel menjadi massa. Hormone steroid yang dihasilkan oleh ovarium juga
berperan dalam pembentukan kanker payudara (estradisol dan progesterone
mengalami perubahan dalam lingkungan seluler) (Brunner & Suddarth,2002).

2.3 Faktor resiko kanker payudara

1. Riwayat keluarga tentang kanker payudara

Keluarga tingkat pertama (keluarga maternal atau paternal ) dengan kanker


payudara 2-3 kali lebih besar terkena kanker.Ibu dan saudara perempuan,atau 2
saudara perempuan terkena kanker payudara mempunyai resiko 6 kali lebih besar
terkena kanker payudara.

2. Usia

Usia 30-50 tahun mengalami peningkatan kasus ca.mammae dan tingkat


menurun saat menopause.

3. Lokasi geografis dan ras

Pada orang Eropa barat dan Amerika Utara mengalami peningkatan kasus
ca.mammae lebih dari 6-10 kali orang keturunan Amerika, perempuan Afrika -
Amerika sebelum usia 40 tahun. iv. Bentuk tubuh Orang yang obesitas setiap
penambahan 10 kg berat badan maka 80% lebih besar terkena kanker payudara. v.
Sosial ekonomi dan status perkawinan Perempuan tidak menikah 50% lebih sering
terkena kanker payudara dan kelompok sosial ekonomi menengah keatas.

4. Paparan radiasi

Peningkatan resiko untuk setiap radiasi pada perempuan muda dan anak-
anak,bermanifestasi setelah usia 30 tahun,periode laten minimun 10-15 tahun.

5. Kanker primer

4
kedua Orang dengan kanker ovarium primer memiliki resiko kanker
payudara 3-4 kali lebih besar. Orang dengan kanker endometrium primer memiliki
resiko kanker payudara 2 kali lebih besar. Orang dengan kanker kolorektal
mempunyai resiko 2 kali lebih besar terhadap kanker payudara (Price, A Sylvia.
2006).

6. Menarke dini.
7. Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama. x.
Menopouse.
8. Riwayat penyakit payudara jinak.
9. Obesitas resiko terendah diantara wanita pascamenopouse.
10. Kontrasepsi oral lebih dari 7 tahun meningkatkan terjadinya ca.mammae
(Depkes RI,2007).
11. Terapi pergantian hormone.
12. Masukan alkohol (Brunner & Sudarth,2002)

2.4 Manifestasi klinis

1. Nyeri.

Nyeri yang menyebar pada payudara dan nyeri tekan yang terjadi saat
menstruasi biasanya berhubungan dengan penyakit payudara jinak. Nyeri yang
jelas pada bagian yang ditunjuk dapat berhubungan dengan kanker payudara pada
kasus lebih lanjut. Biasanya nyeri timbul jika kanker sudah bermetastase ke tulang
(Brunner & Sudarth,2002).

2. Benjolan pada payudara.

Benjolan ini mula-mula kecil makin lama semakin membesar, lalu melekat
pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau puting susu.

3. Erosi atau eksema puting susu.

5
Kulit atau puting susu tertarik kedalam (retraksi) berwarna merah muda
atau kecoklat-coklatan sampai menjadi edema, hingga kulit terlihat seperti jeruk
(peau d’orange) mengkerut atau timbul borok (ulkus pada payudara). Ulkus itu
semakin lama semakin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan
payudara, sering berbau busuk dan mudah berdarah.

4. Timbul pembesaran kelenjar getah bening ketiak bengkak pada lengan dan
penyebaran kanker diseluruh tubuh.
5. Penglupasan papilla payudara
6. Keluar cairan abnormal dari puting susu berupa nanah darah, cairan encer
padahal ibu tidak sedang hamil ataupun menyusui.
7. Klasifikasi TNM Kanker Payudara dan Harapan Hidup

2.5 Tipe kanker payudara

1. Karsinoma duktal menginfiltrasi Kanker ini terasa jelas sangat keras saat
dipalpasi, biasanya kanker ini bermetastasis ke nodus aksila.
2. Karsinoma Lobular menginfiltrasi Tipe kanker ini dapat terjadi penebalan
disalah satu area atau kedua area payudara. Karsinoma duktal biasanya
menyebar ketulang, paru, hepar atau otak, sementara karsinoma lonular
biasanya bermetastasis kepermukaan meningeal atau tempat-tempat tidak
lazim lainnya.
3. Karsinoma medular Ini tubuh didalam kapsul dalam tubuh, tipe tumor ini
dapat menjadi besar tetapi meluas dengan lambat.
4. Kanker musinus Penghasil lendir, tumbuh dengan lambat, mempunyai
prognosis yang lebih baik.
5. Kanker duktal-tubular Bermetastasis ke aksilaris secara histologi tidak
lazim, maka prognosisinya sangat baik.
6. Karsinoma inflamatori Tumor setempat ini terasa nyeri tekan dan sangat
nyeri, payudara secara abnormal keras dan membesar, kulit diatas tumor

6
ini merah dan agak kehitaman, sering terjadi edema retraksi puting susu.
Penyakit menyebar dengan cepat pada bagian tubuh lainnya.

2.6 Pemeriksaan Penunjang

1. Non Invasif

a. Mammografi

Mammografi adalah teknik pencitraan payudara yang dapat mendeteksi


lesi yang tidak terpalpasi. Mammografi terakhir harus dibandingkan dengan hasil
mammografi terbaru. Keuntungan dari pemeriksaan ini jauh lebih ringan dari
resiko yang ditimbulkan, pasien perlu menemukan pusat perawatan payudara yang
mempunyai akreditasi dalam mammografi berkaitan dengan bergamnya setting
satu ke setting lainnya. Pedoman ACS menganjurkan setiap 1 atau 2 tahun bagi
wanita di usia 40-50 tahun dan setelah usia 50 tahun. Mammografi bagi wanita
antara usia 35 dan 40 tahun belum dianjurkan.

b. USG (Ultrasonografi)

USG dilakukan untuk membedakan kista yang berisi cairan dengan jenis
lesi lainnya. Teknik ini 95% sampai 99% akurat dalam mendiagnosisi kista tetapi
tidak secara definitif menyingkirkan lesi (Brunner & Sudarth,2002).

c. MRI

MRI digunakan untuk membedakan karsinoma mammae yang rekuren


atau jaringan parut, untuk memeriksa mammae kontralateral pada wanita
karsinoma payudara, menentukan penyebaran dari karsinoma terutama karsinoma
lobuler atau menentukan respon terhadap kemoterapi neoadjuvan.

2. Invasif

a. Biopsi bedah
7
b. Biopsi eksisional

c. Tru-cut core biopsy

d. Biopsi stereotaktik

e. Aspirasi jarum halus (Brunner & Sudarth,2002).

2.7 Komplikasi

Komplikasi utama adalah metastase jaringan sekitarnya yang melalui


kelenjar limfe dan pembuluh darah ke organ-organ lain. Tempat yang sering
terjadi metastase adalah paruparu, pleura, tulang dan hati..

2.8 Penatalaksanaan

1. Terapi Medis Mastektomi adalah operasi pengangkatan payudara,ada tiga


jenis mastektomi antara lain:
a. Modiefied Radical Mastectomy yaitu operasi pengangkatan seluruh
payudara, jaringan payudara ditulang dada, tulang selangkang dan
tulang iga, serta benjolan disekitar ketiak.
b. Total (Simple) Mastectomy yaitu pengangkatan diseluruh payudara
saja, tetapi bukan kelenjar ketiak.
c. Radicial Mastectomy yaitu operasi pengangkatan sebagian dari
payudara, biasanya disebut Lumpectomy yaitu pengangkatan hanya
pada bagian yang mengandung sel kanker bukan seluruh payudara.

2. Terapi Non-Medis
a. Lintas Metabolisme Asam bifosfonat merupakan senyawa penghambat
aktivitas osteoklas dan resorpsi tulang yang sering digunakan untuk
melawan osteoporosis yang diinduksi oleh overian suppression,
8
hiperkalsemia dan kelainan metabolisme tulang, menunjukkan
efektivitas untuk menurunkan metastasisi sel kanker pudara menuju
tulang. Walaupun penggunaan dalam jangka panjang dapat
menimbulkan efek samping seperti osteonerkrosisi dan turunnya
fungsi ginjal.
b. Radiasi
c. Kemoterapi Kemoterapi Adjuvant Neoadjuvant Chemotheraphy
d. Terapi anti-estrogen
e. Terapi antibodi anti-HER 2/neu

2.9 Pengobatan

Pengobatan kanker payudara yang sudah disepakati oleh ahli kanker


menurut (Mediastore 2011) yaitu:

2.10 Pencegahan

a) Melakukan pemeriksaan payudara secara mandiri (SADARI).


b) Memberikan ASI pada bayi bagi ibu menyusui.
c) Jika menemukan benjolan/gumpalan segera kedokter.
d) Mencari tahu riwayat keluarga mengenai kanker payudara.
9
e) Mengurangi konsumsi alcohol.
f) Memperhatikan berat badan untuk mencegah obesitas dan mengurangi
makanan yang banyak mengandung lemak.
g) Untuk usia 50-40 dan usia lebih dari 50 tahun untuk melakukan skrinning
mammografi 1 atau 2 tahun sekali

2.11 Deteksi Kanker

Langkah-langkah yang dilakukan antara lain:

1. Mempersiapkan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Memetakan Fasilitas Kesehatan


Tingkat Pertama yang dapat melakukan pemeriksaan Kanker Leher Rahim dan
Kanker Payudara

2. Melakukan pemetaan peserta wanita sudah menikah dan wanita berisiko dengan
ketentuan:

a. Berisiko tinggi Kanker Leher Rahim, antara lain: menikah/hubungan seksual


pada usia muda, sering melahirkan, merokok, berganti-ganti pasangan seksual,
dan infeksi menular seksual.

1) Apakah anda sudah menikah?


2) Apakah anda pernah melakukan hubungan seksual pada usia muda?
3) Berapakali anda melahirkan?
4) Apkah anda merokok ?
5) Apakah anda pernah berganti-ganti pasangan seksual?
6) Apakah anda pernah mengalami infeksi menular seksual ?

b. Berisiko tinggi Kanker Payudara, antara lain: riwayat keluarga ada yang
menderita Kanker Payudara, menstruasi dini, wanita yang mempunyai anak
pertama diatas usia 30 tahun, tidak pernah menyusui, menopause usia lanjut,
riwayat tumor jinak payudara, terapi hormon, pajanan radiasi, kontrasepsi oral
terlalu lama, alkohol dan trauma terus menerus
10
1) Apakah ada keluarga anda yang menderita kangker payu dara?
2) Pada umur berapakah anda mulai menstruasi?
3) Pada usia berapa anda melahirkan anak pertama?
4) Apakah anda memberikan ASI kepada anak anda?
5) Apakah anda masih menstruasi setiap bulannya? Kapan terkahir
menstruasi?
6) Apakah sebelumnya anda mempunyai riwayat tumor jinak payudara?
7) Apakah anda pernah melakukan terpai hormon?
8) Apakah anda berada di lingkungan yang terpapar radiasi?
9) Apakah anda mengkonsumsi pik KB? Berapa lama anda
mengkonsumsinya?
10) Apakah anda pernah mengkonsumsi alkohol?
11) Apakah anda pernah mengalami trauma yang terus-menrus?

c. Peserta mendapatkan rekomendasi dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

d. Peserta mendaftar dengan lembar kesediaan Formulir Permohonan Pelayanan


Deteksi Kanker Leher Rahim atau Kanker Payudara

11
BAB III

TINJAUAN TEORITIS KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

1. Geografi

a. Apakah anda tingal di daerah pegunungan atau pantai ?


b. Bagaimana keadaan tanah di daerah ini ?
c. Berapa luas daerah ini ?
d. Ada berapa batas wilayah di daerah ini dan apa saja nama wilayah di
masingmasing batasnya?

2. Demografi

a. Berapakah jumlah KK di daerah ini ?


b. Berapakah jumlah penduduk di daerah ini ?
c. Bagaimana mobilitas penduduk, apakah penduduk jarang di rumah ketika
pagi dan siang hari karena bekerja, sedangkan anak-anak pada sekolah.?
d. Apakah daerah ini termasuk daerah yang padat dengan penduduk?

3. Vital Statistik

a. Bagaimana status kelahiran di daerah ini?


b. Penyakit apa saja yang banyak terjadi di masyarakat khususnya pada
wanita usia dewasa?
c. Penyakit apa saja yang banyak terjadi di daerah ini khususnya pada pria
usia dewasa?
d. Apakah dalam satu bulan ini sudah terdapat banyak warga yang
meninggal?

4. Kelompok Etnis

a. Suku apa yang dianut di masyarakat?

12
5. Nilai dan Keyakinan

a. Apakah ada masjid / mushola atau tempat ibadah lainnya?


b. Apakah masyarakat menganut agama yang sama?
c. Keyakinan apa yang di anut dalam masyarakat?

6. Pengakajian Sub Sistem

1. Lingkungan fisik

a. Apakah rumah penduduk tergolong perumahan yang menetap?


b. Apakah pencahayaan di rumah penduduk sudah cukup?
c. Apakah di daerah ini sirkulasi udara sudah baik ? misalnya terdapat
pepohonan dan terdapat ventilasi yang cukup pada setiap rumah warga?

2. Pelayanan Kesehatan

a. Apakah terdapat praktik klinik swasta di daerah ini ?


b. Berapa jumlah tenaga kesehatan di daerah ini (perawat, bidan, dokter)?
c. Apakah terdapat mushola atau tempat ibadah lainnya di daerah ini ?
d. Ada berapa sekolah yang terdapat pada daerah ini ?
e. Apakah terdapat panti sosial di daerah ini?
f. Apakah terdapat pasar/swalayan/ toko yang menyediakan kebutuhan
masyarakat?
g. Apakah ada tempat perkumpulan untuk melakukan musyawarah di
daerah ini ?
h. Apakah program posyandu terlaksana di daerah ini?
ii. Posyandu apa saja yang diselenggarakan di daerah ini?
iii. Apakah posyandu sudah berjalan aktif? Berapa kali diselenggarakan?
a. Apakah sanitasi warga sudah tergolong baik atau tidak ?
b. Dari mana sumber air yang digunakan dalam masyarakat?
c. Dimanakah pembuangan air limbah pada masyarakat?
d. Apakah mayoritas warga telah memiliki jamban pada setiap rumah ?
e. Dimanakah mayoritas warga melakukan MCK?
13
f. Dimankah tempat penumpukan/pembuangan sampah ?
g. Dari mana terdapatnya sumber polusi yang mungkin mengancam
kesehatan atau kegiatan sehari-hari?
h. Apakah ada vektor penyebab penyakit di masyarakat?

3. Keamanan & Transportasi :

a. Apakah ada pemadam kebakaran?


b. Apakah ada terdapat siskamling atau hansip?
c. Apakah ada transportasi umum atau pribadi yang bisa digunakan di
masyarakat?
d. Apakah keadaan jalanan di daerah ini sudah dalam keadaan baik?
e. Bagaimana cara pemilihan RT/RW di daerah ini ?

4. Pemerintah dan politik

a. Ada berapa RT dan RW di desa ini ?


b. Ada berapa kader di desa ini ?
c. Apakah ada karang taruna di desa ini? Apakah sudah berjalan dengan
baik dan aktif?
d. Apakah terdapat tokoh agama di desa ini ?

5. Pendidikan

a. Tingkat pendidikan komunitas ?


b. Apa fasilitas pendidikan yang tersedia?
c. Jenis bahasa apa yang digunakan dalam pendidikan?

6. Rekreasi

a. Apakah masyarakat sering melakukan rekreasi antar warga atau


kelompok tertentu?
b. Fasilitas apa yang digunakan jika pergi berekreasi?

14
7. Ekonomi
a. Apakah warga memiliki pekerjaan yang tetap?
b. Berapa jumlah penghasilan rata-rata tiap bulan?
c. Berapa jumlah pengeluaran rata-rata tiap bulan?
d. Berapa jumlah pekerja dibawah umur, ibu rumah tangga, dan lanjut usia?

3.2 Diagnosa Keperawatan

a. Gaya hidup monoton b.d kurang pengetahuan tentang keuntungan olahraga bagi
kesehatan : suatu kebiasaan hidup yang dicirikan dengan aktivitas fisik yang
rendah.

b. Perilaku kesehatan cenderung beresiko b.d kurang dukungan sosial : Hambatan


kemampuan untuk mengubah gaya hidup/perilaku dalam cara yang memperbaiki
status kesehatan.

c. Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan b.d keterampilan komunikasi yang


tidak efektif : ketidakmampuan mengidentifikasi, mengelola, dan/atau mencari
bantuan untuk mempertahankan kesehatan.

d. Defisiensi kesehatan komunitas b.d ketidakcukupan akses pada pemberi


layanan kesehatan.

e. Ketidakefektifan manajemen kesehatan b.d kurang dukungan sosial.

3.3 Intervensi Keperawatan

 Dx.1 Gaya hidup monoton b.d kurang pengetahuan tentang


keuntungan olahraga bagi kesehatan

Kriteria hasil :

15
1. Faktor lingkungan yang mempengaruhi perilaku kesehatan : dipertahankan
pada 2 ditingkatkan ke 5.

2. Strategi pencegahan penyakit : dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 5.

3. Manfaat dukungan sosial: dipertahankan pada 2 di tingkatkan ke 5.

4. Manfaat olahraga teratur : dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 5.

5. Perilaku meningkatkan kesehatan : dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 5.

NIC :

1. Peningkatan Latihan : Latihan kekuatan.

2. Terapi latihan : Latihan pergerakan sendi.

3. Bantuan modifikasi diri.

4. Fasilitasi tanggung jawab diri.

 Dx. 2 Perilaku kesehatan cenderung beresiko b.d kurang dukungan


sosial : Kriteria hasil :

1. Penerimaan status kesehatan

a) : Mempertahankan hubungan : dipertahankan pada 3 di tingkatkan 5.

b) : Menyesuaikan perubahan dalam status kesehatan : dipertahankan pada 2


ditingkatkan ke 4.

c) : Membuat keputusan tentang kesehatan : dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke


4.

2. Kepercayaan mengenai kesehatan : Sumber-sumber yang diterima

16
a) Merasakan dukungan dari tetangga :dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5.

b) Merasakan dukungan dari penyedia layanan kesehatan : dipertahankan pada 3


ditingkatkan ke 5.

c) Merasakan dukungan dari dukungan kelompok sendiri : dipertahankan pada 3


ditingkatkan ke 5.

NIC :

1. Modifikasi perilaku.

2. Membangun hubungan yang kompleks.

3. Peningkatan koping.

4. Dukungan pengambilan keputusan.

 Dx. 3 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan b.d kurang


pengetahuan tentang keuntungan olahraga bagi kesehatan

Kriteria hasil :

1. Keseimbangan Gaya Hidup

a)Mengenali kebutuhan untuk menyeimbangkan aktivitasaktivitas hidup :


dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 5.

b) Mencari informasi tentang startegi untuk aktivitas hidup yang seimbang :


dipertahankan pada 2 ditingkatkan pada 4.

2. Pengetahuan : Manajemen Kanker

a) hasil skrining abnormal : Dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

17
b) Tanda dan gejala kanker : dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

c) diagnosis kanker tertentu : dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

3. Pengetahuan : Manajemen Hipertensi

a) Target tekanan darah dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5.

b) komplikasi potensial hipertensi dipertahankan pada 2 ditingkatkan pada 4.

c) Pilihan pengobatan yang tersedia dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

d) manfaat pengobatan jangka panjang dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

4. Pengetahuan : gaya hidup sehat

a) strategi pencegahan penyakit dipertahankan pada 2 ditingkatkan di 4.

b) Pentingnya skrining pencegahan dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

c) strategi meningkatkan keseimbangan hidup dipertahankan pada 2 ditingkatkan


ke 4.

NIC :

1. Berikan pendidikan kesehatan.

2. Peningkatan kesadaran kesehatan.

3. Lakukan Skrining kesehatan.

4. Berikan panduan sistem pelayanan kesehatan.

5. Fasilitasi pembelajaran.

18
 Dx. 4 Defisiensi kesehatan komunitas b.d ketidakcukupan akses pada
pemberi layanan kesehatan

Kriteria hasil :

1. Status imun komunitas

a) Tingkat imunisasi sama dengan atau lebih besar dari standar dipertahankan
pada 2 ditingkatkan ke 4.

b) Skrining pada populasi beresiko infeksi dipertahankan pada 1 ditingkatkan ke


4.

c) Kepatuhan dengan rekomendasi imunisasi dipertahankan pada 2 ditingkatkan


ke 4.

2. Kontrol resiko komunitas penyakit kronik

a) Penyediaan program pendidikan publik tentang penyakit kronis dipertahankan


pada 2 ditingkatkan ke 4.

b) Tingkat partisipasi populasi target dalam program pengurangan resiko


dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

c) Ketersediaan program preventif dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

d) ketersediaan program pendidikan manajemen penyakit kronis sendiri


dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4.

e) pemantauan insiden penyakit kronis dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke4.

f) pemantauan komplikasi penyakit kronis dipertahakan pada 2 ditingkatkan ke 5.

3. Kefektifan skrining kesehatan komunitas

a) identifikasi kondisi berisiko tinggi yang umum di komunitas dipertahankan


pada 2 ditingkatkan ke 4.
19
b) pemilihan skrining difokuskan pada deteksi dini dipertahankan pada 2
ditingkatkan ke 4.

c) identifikasi kebutuhan skrining untuk orang dewasa dipertahankan pada 2


ditingkatkan ke 4.

NIC :

1. Pengembangan kesehatan komunitas.

2. Manajemen sumber daya keuangan.

3. Skrining kesehatan.

 Dx. 5 Ketidakefektifan manajemen kesehatan b.d kurang dukungan


sosial

Kriteria hasil :

1. Perilaku patuh

a) Menanyakan pertanyaan terkait kesehatan dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke


4.

b) Mencari informasi kesehatan dari berbagai macam sumber dipertahakan pada 2


ditingkatkan ke 4.

c) Menggunakan informasi kesehatan yang dapat dipercaya untuk


mengembangkan strategi dipertahakan pada 2 ditingkatkan ke 4.

NIC :

1. Membangun hubungan yang kompleks.

2. Modifikasi perilaku.
20
3. Peningkatan koping.

4. Konseling.

5. Dukungan emosional.

6. Panduan sistem pelayanan kesehatan.

21
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pengkajian yang dilakukan meliputi pengkajian biologis, psikologis,

sosial, spiritual. Dalam melakukan pengkajian penulis tidak mengalami hambatan

yang berarti karena pasien dan keluarganya kooperatif sehingga pasien mau

mengungkapkan masalah yang dihadapi saat itu. .

4.2 Saran

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi setiap pembaca secara


maksimal sehingga dapat membantu proses pembelajaran dan dapat
mengaktifitaskan kemandirian dan kreatifitas mahasiswa dan marilah kita belajar
dengan sungguh sungguh agar menjadi perawat yang profesional

22
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, A. (2011). Kanker Payudara. Diambil dari


http://medicastore.com/penyakit/1045/Kanker_Payudara.html. 13 Oktober
2017.

Brunner and Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8
volume 2. Jakarta : EGC.

Bulechek, gloria m., dkk.2015 Nursing interventions cassifiction, NIC Edisi VI


Ahli Bahasa: Intrasi Nurjannah, dk. Elesiver; Jakarta

Elizabeth J. Corwin. (2009). Buku Saku Patofisiologi Corwin. Jakarta : Aditya


Media.

Gray, Huon H, dkk, 2002. Lucture Notes : Kardiologi (Edisi Keempat). Erlangga
Medical Series. Jakarta.

Guyton AC, JE Hall. Buku Ajar Fisiologi. Ed. 9. Alih Bahasa: Setiawan I,
Santoso A. Jakarta: EGC; 2006.

Harianto, Rina, M, dan Hery, S 2005. Risiko penggunaan pil kontrasepsi


kombinasi terhadap kejadian kanker payudara pada reseptor KB di Perjan RS
Dr. CiptoMangun kusumo, Jakarta: Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. 2, No.1,
hh. 84-99.

23