Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN PRAKTIKUM

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Mata Kuliah : PT & PSP-A


Materi Praktek : Menentukan Komponen dan Kelembaban Sampah
Hari/Tanggal : Jumat, 12 - 19 September 2014
Waktu : 08.30 – 11.00 wita
Lokasi : TPA Sidakarya, Denpasar, Bali
Kelompok : I (satu)
Pembimbing : - Nengah Notes,S.KM.,M.Si
- I Gede Wayan Darmadi, S.KM.,M.Erg
- I Wayan Jana, S.KM., M.Si

I. Pendahuluan
Sampah merupakan material sisa baik dari hewan maupun manusia yang
tidak terpakai lagi dan dilepaskan ke alam dalam bentuk padat, cair dan gas.
Sampah dibagi menjadi dua jenis yaitu sampah anorganik, sampah yang berasal
dari sumber daya alam tak terbarui. Sampah organik terdiri dari bahan-bahan
penyusun tumbuhan dan hewan yang berasal dari alam atau dihasilkan dari
kegiatan pertanian, perikanan, rumah tangga atau yang lain. Dengan mengetahui
kelembaban atau kadar air sampah dapat ditentukan frekuensi pengumpulan
sampah. Frekuensi pengumpulan sampah dipengaruhi oleh komposisi sampah
yang dikandungnya.
Kelembaban sampah biasanya diukur dengan rumus:
Kelembaban (%) = a - b x 100%
a
Keterangan : a = berat sampel dalam keadaan belum dikeringkan.
b = berat sampel setelah dikeringkan.

II. Tujuan Praktikum

1
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menentukan komponen dan kelembaban sampah.
2. Tujuan Khusus
a) Mahasiswa mampu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
b) Mahasiswa mampu melaksanakan prosedur kerja praktikum.
c) Mahasiswa mampu menganalisa hasil praktikum.
d) Mahasiswa mampu menyusun laporan praktikum.

III. Alat dan Bahan


1. Alat : 2. Bahan :
a. Timbangan a. TPA
b. Handscoon b. sampah
c. Plastik
d. Alat tulis
e. APD
f. Skrop/cetok

IV. Cara Kerja


1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Menentukan lokasi TPA
3. Lokasi TPA dibagi menjadi 4 bagian
4. Mengambil sampel secara acak ± 2000 gram
5. Menimbang sampah sebesar 2000 gram
6. Kemudian memilah sampah menurut komponennya
7. Menimbang sampah sesuai komponennya
8. Kemudian mencatat hasilnya dalam tabel
9. Semua komponen digabung
10. Kemudian menjemur sampah ± 3-4 hari
11. Setelah hari ke 4 menimbang sampah kembali
12. Mencatat hasilnya, kemudian hitung kelembaban dengan rumus:

2
𝑎−𝑏
𝑥 100%
𝑎

V. Hasil dan Pembahasan


Berdasarkan hasil praktikum dan pengamatan yang dilakukan, diperoleh
data hasil yang dipaparkan dalam tabel, dibawah ini:
Tabel 1. Tabel hasil penimbangan sampah sebelum dan sedudah dijemur sesuai
dengan komponennya.

No Jenis Sampah Berat Sebelum Berat Sesudah


1. Plastik 500 gram 400 gram
2. Organik 980 gram 580 gram
3. Kertas 250 gram 150 gram
4. Karet 100 gram 100 gram
5. Gabus 100 gram 100 gram
6. Kaca 50 gram 50 gram
7. Besi 20 gram 20 gram
Jumlah 2000 gram 1400 graam

Menghitung Kelembaban Sampah:


𝑎−𝑏
1. Kelembaban sampah organik = 𝑥 100 %
𝑎

= 980 − 580
𝑥 100%
980
= 40,82%

𝑎−𝑏
2. Kelembaban sampah plastik = 𝑥 100 %
𝑎

= 500 − 400
𝑥 100%
500
= 20%

3
𝑎−𝑏
3. Kelembaban sampah kertas = 𝑥 100 %
𝑎

= 250 − 150
𝑥 100%
250
= 40%

𝑎−𝑏
4. Kelembaban sampah serofoam = 𝑥 100 %
𝑎
= 100 − 100
𝑥 100%
100
= 0%

𝑎−𝑏
5. Kelembaban sampah karet = 𝑥 100 %
𝑎
= 100 − 100
𝑥 100%
100
= 0%

𝑎−𝑏
6. Kelembaban sampah kaca = 𝑥 100 %
𝑎
= 20 − 20
𝑥 100%
20
= 0%
𝑎−𝑏
7. Kelembaban sampah kaleng = 𝑥 100 %
𝑎

= 50 − 50
𝑥 100%
50
= 0%

𝑎−𝑏
Kelembaban Sampah Keseluruhan: = 𝑥 100 %
𝑎
2000−1400
= 𝑥 100%
2000

600
= 𝑥 100%
2000
= 30%

4
Berdasarkan hasil perhitungan dan pengamatan, sampah organik memiliki
kelembaban paling tinggi yaitu 40,82%. Hal ini dipengaruhi oleh komposisi sampah
yang berupa bahan organik yang banyak mengandung air. Kelembaban sampah plastik
20%, kertas 40% dan jenis sampah lainnya yakni 0% dan kelembaban sampah
keseluruhan adalah 30%. Tingginya kelembaban sampah dipengaruhi oleh hujan,
kelembaban udara, suhu, dan komposisi sampah yang sebagian besar terdiri dari
sampah organik. Kelembaban sampel sampah tersebut memenuhi standar kelembaban
yakni 15-40% dan hasil perhitungan sebesar 30%. Hal ini menandakan perkembangan
mikroba pada sampah tersebut kecil dan sedikitnya mencemari lingkungan akibat bau
dari sampah tersebut.

VI. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilaksakan dapat disimpulkan bahwa :
a) Mahasiswa mampu penyiapkan alat dan bahan yang dipergunakan.
b) Mahasiswa mampu menganalisa hasil praktikum menentukan komponen dan
kelembaban sampah.
c) Hasil yang diperoleh yaitu kelembaban sampah tersebut 30%.
d) Memenuhi standar yang ada, karena batas nilai standar kelembaban sampah
yaitu 15 - 40 %.

Mengetahui Denpasar, 23 September 2014


Pembimbing Praktikum Praktikan,

Nengah Notes, S.KM.,M.Si Kelompok 1


NIP. 195812311983031036

5
LAMPIRAN

Gambar 2
Pengambilan Sampah

Gambar 1
Lokasi Pengambilan Sampah

6
Gambar 4
Sebelum Pemilahan Sampah

Gambar 3
Penimbangan Sampah

Gambar 5 Gambar 6
Saat Pemilahan Sampah Penjemuran Sampah

7
LAPORAN PRAKTIKUM

Mata kuliah : PT & PSP – A


Materi pokok : Pemeriksaan BOD Sampel Air Lindi
Hari, tanggal : Jumat, 10 - 17 Oktober 2014
Waktu : 08.30 – 11.00 wita
Lokasi : Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Kesling Poltekkes Denpasar
Kelompok : I (satu)
Pembimbing : - Nengah Notes,S.KM.,M.Si
- I Gede Wayan Darmadi, S.KM.,M.Erg
- I Wayan Jana, S.KM., M.Si

A. PENDAHULUAN

8
Sampah adalah sisa kegiatan sehari – hari manusia yang timbul dari proses
alam yang berbentuk padat (UU No. 18 tahun 2008). Sampah dapat dibagi menjadi
beberapa kelompok, misalnya sampah sesuai jenis, bentuk, ataupun sesuai
sumbernya. Sampah – sampah yang terdapat pada suatu daerah atau tempat akan
dikumpulkan di TPA untuk pengolahan lebih lanjut. Namun, dalam prosesnya
sampah yang terdapat dalam lahan atau timbunan sampah di TPA dapat
menghasilkan air. Air ini biasa disebut dengan air sampah atau air lindi.
Air lindi merupaka air yang mengandung konsentrasi yang tinggi. Air lindi
terbentuk dalam landfill akibat adanya air hujan yang masuk kedalam landfill. Air
lindi tergolong cairan yang sangat berbahaya karena selain mengandung kadar
organik yng tinggi, air lindi juga mengandung unsur logam seperti Zn dan Hg. Air
lindi dapat menyerap kedalam tanah disekitar landfill apabila tidak ditangani
dengam baik. Hal ini akan menyebabkan air tanah disekitar landfill tercemar
(Hanafiah, 2003).
Untuk mengetahui tingakt pencemaran dalam air buangan dapat dilakukan
dengan memeriksa kandungan BOD dalam air lindi yang dihasilkan. Pengukuran
BOD dalam air sampah atau air lindi sangat penting dilakukan untuk diketahui
tingkat pencemaran yang diakibatkan air lindi tersebut. Dengan melakukan uji
BOD akan dapat diketahui juga banyaknya mikroorganisme dalam air lindi yang
menguraikan bahan organik.
BOD atau Biological Oxygen Demand didefinisikan sebagai banyaknya
oksigen (O2) yang diperlulkan oleh organisme pada kondisi aerobik saat proses
pemecahan bahan organik. Bahan organik yang dipecah digunakan oleh organisme
sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (PESCOD,
1973), BOD juga dapat dikatakan sebagai suatu karakteristik yag menunjukan
jumlah oksigen (O2) terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (bakteri) untuk
menguraikan atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik atau
dengan oksigen (Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991).
Air lindi sangat berbahaya karena dapat mencemari air permukaan dan air
tanah. Apabila air lindi mencemari air permukaan maka akan menyebabkan ikan

9
mati, dalam air. Pada air tanah, kontaminasi dari air lindi dapat berlangsung dalam
periode yang lama. Sementara itu, untuk menanggulangi dan mencegah
pencemaran oleh air lindi aka menghabiskan dana yang besar. Untuk
mengembalikan kondisi air tanah yang sudah tercemar juga dibutuhkan waktu
puluhan bahkan ratusan tahun (Suriawiria, 2005).

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
a. Mahasiswa mampu memahami praktikum pemeriksaan BOD sampel air
lindi.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
dalam melakukan praktikum pemeriksaan BOD sampel air lindi.
b. Mahasiswa dapat melakukan praktikum pemeriksaan BOD sampel air
lindi.
c. Mahasiswa dapat menganalisis hasil pemeriksaan BOD sampel air lindi.
d. Mahasiswa dapat menyusun laporan pemeriksaan BOD sampel air lindi.

C. ALAT DAN BAHAN


1. ALAT
a. Botol tutup asah
b. Biuret 50 ml, lengkap dengan statif
c. Labu erlenmeyer 500 ml
d. Pipet ukur
e. Corong
f. Inkubator
g. Etiket/kertas label dan alat tulis
h. Drop pipet
i. Kertas karbon
j. Jirigen 5 liter

10
2. BAHAN
a. Larutan MnSO4
b. Pereaksi oksigen
c. H2SO4 pekat
d. Indikator amilum/kanji
e. Larutan Natrium thiosulfat (Na2S2O3) : 0,025 N
f. Aquadest
g. Air pengencer (aquadest jenuh oksigen → aerasi selama 2 jam)
h. Sampel air indi

D. CARA KERJA
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Menyiapkan 5 botol tutup asah
3. Memberi label pada masing – masing botol dengan nomor urut 1 (DO
segera), 2 (DO AC segera), 3 (DO520AC), 4 (DO AP segera), 5 (DO520AP)
4. Mengukur volume masing – masing botol dengan cara memasukan air dan
sisanya di ukur kembali dengan gelas ukur
5. Catat hasil yang diperoleh
6. Mengencerkan sampel lindi sebanyak 10 ml dalam volume 100 ml
(pengenceran dilakukan karena air lindi terlalu pekat)
7. Memasukan sampel yang telah diencerkan sampai penuh kedalam botol
tutup asah dan menutupnya
8. Memasukan 2 ml MnSO4 dan 2 ml PO kemudian menutup dan
menghomogenkannya degan membolak – balik kurang lebih 25 kali
9. Menunggu 5 – 15 menit sampai terlihat endapan
a. Bila endapan berwarna putih atau tidak terdapat endapan berarti Donya
=0
b. Bila endapan berwarna coklat maka dilanjutkan dengan langkah
selanjutnya

11
10. Menambah 2 ml H2SO4 pekat kemudian menutupnya dan membolak –
balikan botol sampai warnanya berubah menjadi kuning (bensin)
11. Membuka tutup botol menuangkan 100 ml (ukur dengan gelas ukur) larutan
tersebut kedalam labu erlenmeyer.
12. Menetesi 1 – 2 tetes amilum kemudian menghomogenkan larutan sampai
warnanya berubah menjadi ungu kebiruan
13. Mentitrasi dengan Na2S2O3 sampai warnanya menjadi jernih
14. Catat volume Na2S2O3 yang habis
Hitung DO segera sampel dengan rumus
1000
DO = 𝑣𝑜𝑙.𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙−4 x vol. Titran x N Na2S2O3 x factor BE O = ...............mg/lt

15. Menentukan air campuran (air sampel + air pengencer) dengan


memperhatikan tabel DO segera yang didapat dan air pengencer
DO segera pengenceran
8,0 – 9,0 1x
6,0 – 8,0 2–5x
5,0 – 6,0 5 – 10 x
3,0 – 5,0 10 – 15 x
1,0 – 3,0 15 – 20 x
0,0 – 1,0 20 – 25x
Hitung campuran pebandingannya dengan rumus
Air sampel = volume yang diinginkan : pengencer (sesuai tabel)
Air pengencer = volume yang diinginkan – volume sampel
16. Memasukan air pengencer dan sampel yang telah dihitung volumenya
kedalam gelas ukur.
17. Memasukan air sampel yang telah di campur air pengencer tadi kedalam
botol tutup asah
a. Botol 2 cari DO segeranya (DO AC)

12
b. Botol 3 di bungkus dengan kertas coklat untuk kemudian diinkubasi
dalam almari dengan suhu 200C selama 5 hari kemudian di cari
DO520AC
Hitung DO520AC dengan rumus :
1000
DO520AC = 𝑣𝑜𝑙.𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙−4 x vol. Titran x N Na2S2O3 x faktor x BE O

Sebagai O2 x koreksi waktu = ............... mg/lt


18. Memasukan air pengencer kedalam botol 4 dan 5
a. Botol 4 di cari DO segeranya (DOAP)
b. Botol 5 di bungkus dengan kertas coklat untuk kemudian diinkubasi
dalam almari dengan suhu 200C selama 5 hari kemudian dicari
DO520AP.
Hitung DO520AP dengan rumus
1000
DO520AP = 𝑣𝑜𝑙.𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙−4 x vol. Titran x N Na2S2O3 x faktor x BE O

Sebagai O2 x koreksi waktu = ................... mg/lt


19. Hitung BOD dengan rumus
a. BOD AC = DO segera AC – DO520 AC x koreksi vol.
b. BOD AP = DO segera AP – DO520 AP x koreksi vol.
Jadi BOD air sampel = BOD AC – BOD DOAP x pengencer =
........mg/lt sebagai O2
Catatan:
1) Data awal yang didapat adalah
a) DO segera air sampel
b) DO segera air pengencer
c) DO segera air campuran
2) Koreksi waktu diperlukan apabila masa inkubasi lebih dari 5 hari,
dengan cara melihat tabel koreksi waktu
𝑣𝑜𝑙.𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡−𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛
3) Cara mencari koreksi volume = 𝑣𝑜𝑙.𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡

4) Cara mencari koreksi waktu


a) Bila masa inkubasi tepat 5 hari dibaca sesuai dengan tabel

13
b) Bila masa inkubasi kurang :
Contoh : pkl. 10.00 wita, setelah 7 hari pkl. 08.00 wita
(24−2)
1,18 - x 1,18 – 1
24

Keterangan :
2 = selisih 10.00 – 08.00
1 = koreksi waktu 5 hari 200C
1,18 = koreksi waktu 7 hari 200C

E. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. HASIL
Dari hasil praktikum pemeriksaan BOD didapatkan hasil sebagai berikut :
No. PERHITUNGAN VOL. TITRAN VOL. BOTOL
1. DO segera 1 ml 280 ml
2. DO AC segera 6,5ml 280ml
3. DO AP segera 4ml 300ml
4. DO520 AC 1,7ml 270ml
5. DO520 AP 3,3ml 270ml
Dari data diatas dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut :
a. DO segera air sampel
Diketahui : vol. botol = 280 ml
vol. titran = 1 ml
N Na2S2O3 = 0,025
Faktor =1
BE O sebagai O2 = 8
Ditanya : DO segera = ....?
1000
Perhitungan : DO = 𝑣𝑜𝑙 × vol titran × N Na2S2O3 × faktor ×
𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙 − 4
BE O
1000
DO = 280 − 4 × 1 × 0,025 × 1 × 8
1000
DO = × 0,2
276
DO = 0,275 mg/l

14
Menghitung jumlah air sampel dan air pengencer untuk air campuran
dengan DO segera 0,275 mg/l maka pengenceran yang digunakan:

DO
Pengenceran
segera
8,0 - 9,0 1X
6,0 - 8,0 2-5X
5,0 - 6,0 5 - 10 X
3,0 - 5,0 10 - 15 X
1,0 - 3,0 15 - 20 X
0,0 - 1,0 20 - 25 X

Diketahui : DO segera = 0,275 mg/l


Pengenceran = 25 kali
Vol diinginkan = 600 ml
Ditanya : Vol air sampel (air lindi) = ....?
Vol air pengencer = ....?
Perhitungan : Air sampel = volume yang diinginkan : pengenceran
= 600 : 5
= 24 ml
Air pengencer = volume yang diinginkan – volume sampel
= 600 – 24
= 576
Jadi, air campuran dibuat dalam 576 ml air pengencer dan 24 ml air
sampel.

b. DO segera AC
Diketahui : Vol. botol = 280 ml

15
Vol. titran = 6,5 ml
N Na2S2O3 = 0,025
Faktor =1
BE O sebagai O2 = 8
Ditanya : DO segera AC = ....?
1000
Perhitungan : DO = 𝑣𝑜𝑙 × vol titran × N Na2S2O3 × faktor ×
𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙 − 4
BE O
1000
DO = 280 − 4 × 6,5 × 0,025 × 1 × 8
1000
DO = × 1,3
276
DO = 4,7 mg/l

c. DO segera AP
Diketahui : Vol botol = 300 ml
Vol titran = 4 ml
N Na2S2O3 = 0,025
Faktor =1
BE O sebagai O2 = 8
Ditanya : DO segera AP = ....?
1000
Perhitungan : DO = × vol titran × N Na2S2O3 × faktor ×
𝑣𝑜𝑙 𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙 − 4
BE O
1000
DO = 300 − 4 × 4 × 0,025 × 1 × 8
1000
DO = × 0,8
296
DO = 2,7 mg/l
(24 − 2)
Koreksi waktu = 1,1 + × (1,18 – 1,1)
24
= 1,1 + (0,917) × 0,08
= 1,1 + 0,073
= 1,17

d. DO520 AC
Diketahui : Vol botol = 270 ml
Vol titran = 1,7 ml
N Na2S2O3 = 0,025
Faktor =1
BE O sebagai O2 = 8
Koreksi waktu = 1,17

16
Ditanya : DO520 AC = ....?
1000
Perhitungan : DO520 AC = 𝑣𝑜𝑙 × vol titran × N Na2S2O3 × faktor
𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙 − 4
× BE O × koreksi waktu
20 1000
DO5 AC = 270 − 4 × 1,7 × 0,025 × 1 × 8 × 1,17
1000
DO520 AC = × 0,3978
266
DO520 AC = 1,49 mg/l

e. DO520 AP
Diketahui : Vol botol = 270 ml
Vol titran = 3,3 ml
N Na2S2O3 = 0,025
Faktor =1
BE O sebagai O2 = 8
Koreksi waktu = 1,17
Ditanya : DO520 AP = ....?
1000
Perhitungan : DO520 AP = 𝑣𝑜𝑙 × vol titran × N Na2S2O3 × faktor
𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙 − 4
× BE O × koreksi waktu
20 1000
DO5 AP = 270 − 4 × 3,3 × 0,025 × 1 × 8 × 1,17
1000
DO520 AP = 266 − 4 × 0,7722
DO520 AP = 2,93 mg/l

f. Koreksi Volume
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡 − 𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛
Koreksi waktu =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡
600 − 25
= 600
575
= 600
= 0,958

g. BOD AP
BOD AP = DO segera AP - DO520 AP × koreksi volume
= 2,7 – (2,93 × 0,958)
= -0,1

17
h. BOD AC
BOD AC = DO segera AC - DO520 AC × koreksi volume
= 4,7 – (1,49 × 0,958)
= 3,273

i. BOD air sampel


BOD air sampel = BOD AC – BOD AP × pengenceran
= 3,273 – (-0,1) × 25
= 5,773 mg/l sebagai O2

2. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa BOD yang
terkandung dalam air lindi adalah sebanyak 5,733mg/l sebagai O2. Secara
teoritis, waktu yang diperlukan untuk proses oksidasi yang sempurna,
sehingga bahan organik terurai menjadi CO2 dan H2O adalah tidak terbatas
dan biasanya berlangsung selama 5 hari karena dengan waktu 5 hari
presentase rekasi cukup besar dari total BOD (Sawyer dan MC Carty,
1978). Penentuan waktu inkubasi 5 hari, dapat mengurangi kemungkinan
hasil oksidasi amonia (NH3) yang tinggi. Amonia sebagai hasil sampingan
dapat dioksidasi menjadi nitrit dan itrat sehingga mempengaruhi hasil
penentu BOD.
MENURUT Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 112
tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik batas maksimal BOD
pada limbah domestik yaitu 100mg/l sebagai O2. Air lindi yang memenuhi
persyaratan baku mutu air limbah domestik dengan hasil 5,773 mg/l sebagai
O2.
Reaksi oksidasi selama pemeriksaan BOD merupakan hasil dari
aktifitas biologis dengan kecepatan rekasi yang berlangsung sangat
dipengaruhi oleh jumlah populasi dan suhu. Karena selama pemeriksaan

18
BOD, suhu harus diusahakan konstan pada suhu 20 0C yang merupakan
suhu yang umum di alam.

F. KESIMPULAN DAN SARAN


1. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Pemeriksaan BOD pada air lindi menggunakan alat yaitu botol tutup
asah, dan peralatan dengan metode titrasi dan pengenceran.
2. Berdasarkan hasil pemeriksaan, nilai BOD pada sampel air lindi yaitu
5,773 mg/lt sebagai O2.
3. Berdasarkan hasil pemeriksaan, sampel air lindi BOD memenuhi
persyaratan baku mutu limbah cair domestik. Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup No. 112 tahun 2003 tentang baku mutu air
limbah domestik, baku maksimal BOD pada limbah domestik yaitu
100mg/l.

2. SARAN
a. Untuk mahasiswa dalam pelaksanaan praktikum sebaiknya dilakukan
lebih hati – hati karena dalam praktikum pemeriksaan BOD sampel air
lindi ini menggunakan bahan bahan yang berbahaya seperti asam sulfat
pekat (H2SO4) yang apabila terkena kulit akan mengakibatkan kulit
melepuh.

19
Mengetahui Denpasar, 16 Oktober 2014
Pembimbing Praktikum Praktikan,

Nengah Notes, S.KM.,M.Si Kelompok 1


NIP. 195812311983031036

LAPORAN PRAKTIKUM

Mata Kuliah : Penyehatan Tanah dan Pengelolaan Sampah Padat - A


Materi Praktikum : Pemeriksaan air lindi untuk pengukuran COD
Hari/Tanggal : Jumat, 31 Oktober 2014
Waktu : 08.30 – 11.00 WITA
Lokasi : Laboratorium Jurusan Kesehatan Lingkungan
Kelompok : I (satu)
Pembimbing : - Nengah Notes,S.KM.,M.Si
- I Gede Wayan Darmadi, S.KM.,M.Erg
- I Wayan Jana, S.KM., M.Si

I. Pendahuluan

20
Air lindi di definisikan sebagai suatu cairan yang dihasilkan dari pemaparan air
hujan pada timbunan sampah. air lindi membawa materi tersuspensi dan terlarut yang
merupakan produk degradasi sampah. komposisi air lindi dipengaruhi oleh beberapa
factor seperti jenis sampah, jumlah curah hujan di daerah TPA dan kondisi spesifik
tempat pembuangan tersebut. Air lindi secara umum mengandung senyawa organic
seperti Hidrokarbon, asam sulfat, tanah, dan galat. Air lindi juga mengandung senyawa
organic seperti Natrium, Kalium, Kalsium, Magnesium, Khlor, Sulfat, Fosfat, Fenot,
Nitrogen, dan senyawa logam berat. Konsentrasi dari komponen – komponen tersebut
bisa mencapai 1000 sampai 5000 kali lebih tinggi dari pada konsentrasi dalam air tanah
(Maramis, 2008).
COD merupakan Chemical Oxygen Demand yang menyatakan jumlah total
oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi semua bahan organic yang terdapat di
perairan menjadi CO2 dan H2O pada prosedur penentuan COD, oksigen yang
dikonsumsi setara dengan jumlah dikromat yang diperlukan dalam mengoksidasi air
(Boyd, 1982).

II. Tujuan
a. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan pengambilan dan pemeriksaan COD
dari sampel air lindi (leachet)

b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan
dalam praktikum
2. Mahasiswa dapat melakukan praktikum pemeriksaan air sampel
lindi untuk pengukuran COD
3. Mahasiswa dapat menganalisis hasil yang didapat dalam praktikum
4. Mahasiswa dapat menyusun laporan praktikum pemeriksaan sampel
air lindi untuk pengukuran COD

21
III. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Tabung reaksi COD 8. Sendok kecil
2. Buret 50 ml 9. Etiket/kertas label
3. Statif 10. Drop pipet
4. Labu erlnmeyer 11. Jam
500ml 12. Jerigen 5 liteer
5. Pipet ukur 13. Alat tulis
6. Rak tabung 14. Tabung reaksi
7. COD reactor suhu 15. Ball pipet
150°C

b. Bahan
1. Kristal merkuri sulfat (Hg SO4)
2. Larutan kalium bikromat (KrCr2O7)
3. H2SO4
4. COD
5. Larutan ferro ammonium sulfat (FAS) 0,25 N
6. Indicator ferroin
7. Aquadest
8. Air sampel (lindi)

22
IV. Cara Kerja
a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum
b. Memipet air sampel sebanyak 2 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung
reaksi COD – 2
c. Menambahkan 1 ml larutan kalium bikromat (KrCr2O7) kedalam masing –
masing tabung
d. Menambahkan 1 ujung sendok kecil (Hg SO4) Kristal kedalam masing – masing
tabung reaksi COD dan homogenkan ± 1 menit
e. Menambahkan reagen asam sulfat COD (Na2SO4 COD) sebanyak 3ml pada
masing – masing tabung reaksi COD. Akan terjadi reaksi panas, kemudian
dihomogenkan selama ± 1 menit
f. Memasukkan tabung reaksi COD ke dalam COD reactor dan atur pada suhu
150°C diamkan/panaskan selama 2jam
g. Mengeluarkan tabung setelah 2jam dari COD reactor, kemudian dinginkan
h. Memindahkan ke labu Erlenmeyer
i. Menambahkan aquadest sebanyak 6 ml dan ditambahkan 3 – 4 tetes indicator
ferroin
j. Mentitrasi dengan larutan FAS sampai terjadi perubahan warna menjadi merah
bata
k. Menghitung COD dengan rumus :
1000 (𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑔𝑘𝑜 − 𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙) 𝑥 𝑁 𝐹𝐴𝑆 𝑥 𝐵𝐸 𝑂
COD =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ

V. Hasil
Dari praktikum yang telah dilakukan oleh kelompok satu, mendapat hasil sebagai berikut
:
Diketahui :
- Ml titrasi blangko = 7,4 ml
- Ml titrasi sampel = 6 ml
- N FAS = 0,25
- BE O = 8
- Volume Contoh = 2 ml

23
Ditanya :
- COD = … ?

Dijawab :
1000 (𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑔𝑘𝑜 − 𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙) 𝑥 𝑁 𝐹𝐴𝑆 𝑥 𝐵𝐸 𝑂
COD =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ
1000 (7,4 𝑚𝑙 − 6 𝑚𝑙) 𝑥 0,25 𝑥 8
COD =
2 𝑚𝑙
1000 𝑥 1,4 𝑥 0,25 𝑥 8
COD =
2 𝑚𝑙
2800
COD =
2
COD = 1400 mg/lt

Dari praktikum yang telah dilakukan di dapat hasil bahwa kadar COD pada sampel air
sebanyak 1400 mg/lt

VI. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan mahasiswa telah mampu mempersiapkan alat dan
bahan yang digunakan dalam praktikum. Mahasiswa mampu melakukan praktikum sesuai
dengan petunjuk atau cara kerja dan mendapat hasil jumlah kandungan COD pada air sampel
lindi adalah sebanyak 1400 mg/lt. Dapat disimpulkan bahwa sampel air lindi yang diperiksa
tidak memenuhi persyaratan. Menurut KepMen LH No. Kep-03/MENKLH/II/1991 Tentang
Baku Mutu Limbah Cair Golongan 3 COD yaitu 300mg/l.

Mengetahui Denpasar, 8 November 2014


Pembimbing Praktikum Praktikan,

Nengah Notes, S.KM.,M.Si Kelompok 1


NIP. 195812311983031036

24
LAPORAN PRAKTIKUM
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Mata kuliah : Penyehatan Tanah dan Pengelolaan Sampah Padat -A


Materi Pokok : Pemeriksaan Sampel Air Lindi Untuk Pengukuran TSS
Waktu : 08.30 – 11.00 wita
Lokasi : Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Kesling Poltekkes Denpasar
Kelompok : I (satu)
Pembimbing : - Nengah Notes,S.KM.,M.Si
- I Gede Wayan Darmadi, S.KM.,M.Erg
- I Wayan Jana, S.KM., M.Si

I. PENDAHULUAN

Air lindi adalah limbah cair yang timbul akibat masuknya air eksternal ke dalam
timbunan sampah, melarutkan dan membilas materi – materi terlarut, termasuk juga materi
organik hasil proses dekomposisikan biologis kuantitas ais lindi yang dihasilkan akan banyak
tegantung pada masuknya air dari luar lindi. Lindi adalah air hasil degradasi dari sampah dan
dapatmenimbulkan pencemaran apabila tidak diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke
lingkungan, lindi pada umumnya bersifat toksik karena mengandung mikroorganisme dalam
jumlah tinggi, mengandung logam berat yang berbahaya jika terpapar ke lingkungan.

Total suspended solid (TSS) adalah salah satyu parameter yang digunakan untuk
pengukuran kualitas ais, pengukuran TSS berdasarkan pada berat kering partikel yang
terperangkap oleh filter, biasanya dengan ukuran pori tertentu. Umumnya filter yang digunakan
memiliki ukuran pori 0,45 mm (clescerl,1905) satuan TSS adalah miligram per liter (mg/l).

II. TUJUAN

a. Tujuan Umum
1. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan sampel air lindi untuk pemeriksaan
TSS.

b. Tujuan Khusus

25
1. Mahasiswa mampu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Mahasiswa mampu melakukan praktikum pengukuran TSS
3. Mahasiswa mampu menganalisis hasil yang didapatkan
4. Mahasiswa mampu membuat laporan praktikum

III. ALAT dan BAHAN

a. Alat
1. Cawan petri
2. Desikator
3. Timbangan analitik
4. Cawan porselin
5. Pinset
6. Gelas ukur 100 ml dan 300 ml
7. Kertas saring
8. Corong gelas
9. Erlenmeyer

b. Bahan
1. Kertas saring wathman
2. Air sungai
3. 2 sampel air berbeda (air limbah dan air sungai) masing – masing 100 ml

IV. CARA KERJA

a. Memasukkan kertas saring ke dalam oven pada suhu 103 °C – 105 °C selama 1 jam.
Kemudian mendinginkan dalam desikator selam 15 menit dan menimbang dengan
cepat, mengulangi pemanasan dan menimbang sampai beratnya konstan dan
berkurangnya berat sesudah pemanasan ulang, kurang dari 0,5 mg, bisanya pemanasan
1 sudah cukup.
b. Sampel yang sudah dikocok merata, sebanyak 100 ml dipindahkan dengan
menggunakan gelas ukur / pipet ke dalam alat penyaringan yang sudah ada kertas saring
didalamnya. Kemudian saring vakum atau bantuan corong.

26
c. Kertas saring diambil dari alat penyaring dengan hati – hati dan kemudian ditempatkan
diatas cawan porselin, dimasukan dalam oven untuk dipanasakn pada suhu 105 °C
selama 1 jam.
d. Mendinginkan dalam desikator selama 15 menit dan kemudian timbang dengan cepat,
ulangi pemanasan dan penimbangan sampai beratnya konstan atau berkurangnya berat
sesudah pemanasan ulang, kurang dari 0,5 mg, biasanya pemanasan 1 sampai 2 jam
sudah cukup.
e. Agar hasil analisa teliti, harap dibuat duplikat
f. Pehitungan :
(𝐴−𝐵)𝑋 100
Mg / liter zat tersuspensi = 𝐶 100

Keterangan :
A = berat filter dan residu sesudah pemanasan (mg)
B = berat filter sesudah pemanasan 105°C (mg)
C = ml sampel

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari praktikum yang telah kami lakukan, hasil yang kami dapatkan yaitu sebagai berikut:

a. Diketahui :
1. A = 0,9039 gr  903,9 mg
2. B = 0,7910 gr  791 mg
3. C = 100 ml

b. Ditanya : TSS ...?


c. Dihitung :
(𝐴−𝐵)𝑋 100
TSS (Total Suspended Soil) =
𝐶 100
(903,9 𝑚𝑔−791 𝑚𝑔)𝑋 100
TSS = 100 𝑚𝑙
(112,9 𝑚𝑔)𝑋 100
TSS = 100

TSS = 1,129 mg / liter

Besarnya jumlah zat tersuspensi dalam air lindi dikarenakan adanya material
tersuspensi yang mempunyai efek kurang baik terhadap kualitas badan air. Berdasarkan baku
mutu kualitas perairan yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, yakni 70
27
mg/liter. Sedangkan kualitas air lindi yang diperiksa mendapatkan hasil 1,129 mg / liter maka
dari itu kualitas air lindi yang diperiksa melebihi baku mutu yang telah ditetapkan.

V. KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah kami lakukan maka dapat kami simpulkan bahwa sampel air
lindi yang telah diperiksa melebihi standar baku mutu yang telah ditetapkan. Hasil yang
didapatkan ialah 1,129 mg/liter sedangkan baku mutu yang ditetapkan oleh Kementeriak
Lingkungan Hidup yaitu 70 mg/ liter. Air tersebut tidak layak untuk digunakan karena memilki
kualitas yang rendah.

Menyetujui Denpasar, 20 November 2014


Pembimbing Praktikum Praktikan

Nengah Notes S.KM.,M.Si Kelompok 1


NIP.195812311983031036

28
LAPORAN PRATIKUM

Mata Kuliah : Penyehatan Tanah Dan Pengelolaan Sampah Padat -A


Materi Pratikum : Pengambilan Sampel dan Pemeriksaan Parasit Pada Tanah
Hari/Tanggal : Jumat, 21 November 2014
Waktu : 08.30 – 11.00 wita
Lokasi : TPA Sidakarya, Denpasar, Bali
Kelompok : I (satu)
Pembimbing : - Nengah Notes,S.KM.,M.Si
- I Gede Wayan Darmadi, S.KM.,M.Erg
- I Wayan Jana, S.KM., M.Si

A. PENDAHULUAN
Tanah merupakan lapisan paling luar kulit bumi yang biasanya bersifat tak padu dan
mempunyai sifat tebal mulai dari selaput tipis sampai lebih dari 3 meter, yang berbeda dari
bahan dibawahnya dalam hal warna, sifaat fisik, sifat kimia dan sifat biologinya. Berbagai
macam mikroorganisme hidup di tanah baik yang bersifat menguntungkan maupun yang
merugikan. Salah satu mikroorganisme yang merugikan disebut dengan nama parasit.
Parasit adalah organisme yang hidup menumpang pada tubuh organisme lain yang
bertujuan untuk mengambil makanan pada organisme yang ditumpanginya dan bersifat
merugikan bagi organisme yang ditumpanginya. Telur cacing merupakan salah satu organisme
yang bersifat parasit bagi manusia. Telur cacing dikatakan sebagai organisme parasit bagi
manusia, karena apabila masuk ke dalam tubuh manusia, organisme ini dapat mengakibatkan
penyakit kecacingan.
Penularan telur cacing dari tanah ke dalam tubuh manusia dapat terjadi melalui proses
inhalasi (pernafasan) dan oral (mulut). Penyakit parasit pada manusia biasanya disebabkan oleh
Ascaris (Ascaris Lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura).

B. TUJUAN PRATIKUM
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan parasit pada tanah.
2. Tujuan Khusus

29
a. Mahasiswa mampu menyiapkan alat dan bahan yang akan dipergunakan dalam
melakukan pratikum.
b. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan parasit pada tanah sesuai dengan cara kerja.
c. Mahasiswa dapat menganalisa hasil pemeriksaan parasit pada tanah.
d. Mahasiswa dapat menyusun laporan pemeriksaan parasit pada tanah.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
 Kertas label
 Kantong plastic ¼
 Garpu
 Objek glass
 Cover grass
2. Bahan
 Eosin
 Larutan garam jenuh 35%
 Sampel tanah di 1 lokasi yang terdiri dari 4 titik yang sudah ditentukan

D. CARA KERJA
Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pratikum terlebih dahulu.
a. Membuat larutan garam jenuh :
- Melarutkan garam jenuh 33 gram dengan aquadest 100 ml
b. Mengambil sampel :
1. Menentukan 1 lokasi untuk pengambilan sampel
2. Menentukan 1 lokasi dimana 1 lokasi terdiri 4 titik yang akan diambil
tanahnya (depan, belakang, samping kiri, samping kanan)
3. Mengkeruk tanah pada 4 titik yang telah ditentukan sedalam 2-5cm dan
luasnya diperkirakan berukuran 40x40 cm di setiap titiknya
4. Mengerus tanah lalu disaring untuk menghilangkan kerikil yang ada
5. Menyiapkan kantong plastic yang telah diberi label (nomor contoh uji,
nama titik lokasi, jenis, tanggal pemeriksaan dan pengambilan serta nama
pengambil sampel)
6. Memasukan sampel tanah sebanyak 100 gram (2 sendok makan)

c. Cara pemeriksaan :
1. Mengaduk sampel tanah yang telah diambil 100 gram hingga homogen

30
2. Setelah homogen kemudian sampel 100 gram disaring menggunakan
saringan
3. Menimbang sampel tanah pada timbangan analitik sebanyak 5 gram
4. Memasukkan sampel ke dalam beaker glass ditambah garam jenuh
sampai penuh/sampai batas 50ml
5. Mengaduk hingga homogen dan mendiamkan selama 30 menit
6. Setelah 30 menit, kemudian meuangkan kedalam botol kecil hingga
penuh, ditunggu selama 15 menit dan ditutup dengan cover glass
diatasnya
7. Mengangkut cover glass yang terdapat di botol kecil diangkat, kemudian
diteesi eosin sebanyak 1 tetes
8. Kemudian mengamati diatas mikroskop, dengan perbesaran lensa objektif
10x dan lensa okuler 10x
9. Mengamati lalu dicatat hasilnya.

E. HASIL
Dari pratikum pengambilan sampel dan pemeriksaan parasit pada tanah yang telah
kami lakukan maka didapatkan hasil yang negative, pengambilan sampel dilakukan di rumah
(Gst.A.Pt Sri Suryatni) yang beralamat di perumahan Dalung Permai, Badung. Dikarenakan
hasil yang didapatkan adalah negative maka dapat diartikan bahwa tidak terdapat telur cacing
pada sampel tanah tersebut.

Tabel. Hasil

No. Lokasi (titik) Telur (cacing)


1. Depan Negatif (-)
2. Belakang Negatif (-)
3. Samping Kanan Negatif (-)
4. Samping Kiri Negatif (-)

F. KESIMPULAN

31
Dari pratikum pengambilan sampel dan pemeriksaan parasit pada tanah yang sudah
kami lakukan dapat disimpulkan bahwa sampel tanah yang diperiksa tidak terdapat telur cacing
atau hasilnya negatif, hal ini menunjukkan bahwa sampel tanah yang diperiksa tidak tercemar.

Mengetahui Denpasar, 30 November 2014


Pembimbing Praktikum Praktikan,

Nengah Notes, S.KM.,M.Si Kelompok 1


NIP. 195812311983031036

LAPORAN PRAKTIKUM
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

32
Mata Kuliah : PTPSP-A
Materi Praktek : Pemeriksaan Jamur Kulit Pada Penghuni Rumah Disekitar TPA/TPS
Hari/Tanggal : Jumat, 28 November 2014
Waktu : 08.30 – 11.00 wita
Lokasi : TPA Suwung, Jalan Bay Pass Ngurah Rai
Kelompok : I (satu)
Pembimbing : - Nengah Notes,S.KM.,M.Si
- I Gede Wayan Darmadi, S.KM.,M.Erg
- I Wayan Jana, S.KM., M.Si

A. Latar Belakang
Tubuh manusia merupakan rumah bagi bermacam mikroorganisme, termasuk jamur.
Pada tubuh manusia normal terdapat beberapa jenis jamur. Namun, pada kondisi yang
mendukung seperti suhu yang hangat dan lembab memicu perkembangan jamur pada
tubuh umumnya dipermukaan kulit. Apabila jamur pada kulit tumbuh atau berkembang
biak dengan cepat dapat menyebabkan gangguan pada keseimbangan tubuh dan dapat
menimbulkan penyakit.
Penyakit jamur kulit sangat mudah menyerang masyarakat yang tinggal di daerah
tropis. Dimana pada daerah tropis. Dimana pada daerah tropis mendukung perkembangan
jamur pada kulit akibat suhu dan kelembaban udaranya. Penyakit jamur kulit dapat
menyebar atau menular melalui kontak fisik dan pemakaian barang-barang pribadi secara
bersama-sama seperti misalnya penggunaan handuk mandi, sabun batang, dan pakaian.

B. Tujuan Praktikum
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mengetahui jamur yang ada atau tumbuh pada kulit.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam
praktikum.
b. Mahasiswa mampu melakukan praktikum (survey) pemeriksaan jamur kulit
pada penghuni rumah sekitar TPA/TPS.
c. Mahasiswa mampu menganalisis hasil yang diperoleh.
d. Mahasiswa mampu menyusun laporan praktikum.

33
C. Alat Dan Bahan
1.Alat
a. Alat tulis
b. Formulir pemeriksaan penyakit kulit dan jamur

D. Cara Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Menentukan lokasi praktikum (Survey).
3. Mencari data sesuai dengan kebutuhan formulir pemeriksaan penyakit kulit dan
jamur.
4. Menganalisis hasil (data) yang didapat.
5. Menyusun laporan praktikum.

E. Hasil dan Pembahasan

Hasil Pemeriksaan Penyakit Kulit dan jamur Pada Masyarakat


(Pemulung/Pekerja sampah) di Sekitar TPA Suwung
Lamanya Penyakit yang ditimbulkan
Umur jadi
No Nama pemulung Sex Gangguan
(Thn) pemulung
lain
(bln/thn)

Gatal Korengan Jamur Panu Lainnya


1 Nanang 50 L 12 Thn + - - + - -
2 Suti aryati 30 P 4 Thn - - - + - -
3 Aminah 32 P 3 Thn + - - - - -
4 Musimin 55 L 10 Thn - - - - - -
5 Warko 33 L 10 Thn - - - - - Batuk
6 Husman 50 L 20 Thn - - - - - -
7 Abdul 45 L 18 Thn + - - + - Batuk
8 Ahmad 38 L 19 Thn + - - + - Pilek
9 Lasih 35 P 15 Thn + - - + - Batuk
10 Sri 24 P 4 Thn + - - - - Pilek
11 Wyn.Darmayasa 45 L 6 Thn - - - - - DBD
12 Supardi 49 L 5 Thn + - - + - -
13 Parnai 25 L 1 Thn - - - - - -
14 Fitri 21 P 2 Bln + - - - - -
15 Jony 30 L 2 Thn + - - - - -

34
16 Kristian 18 P 1,5 Thn + - - - - -
17 Soleh udin 17 L 1 Bln + - - - - -
Joni
18 35 L 2 Thn - - - - - -
hermanlianto
19 Edi 12 L 3 Bln - - - - - -
20 Bulik 27 L 2 Thn - - - - -
21 Wati 38 P 5 Thn - - - - - -
22 Budiono 20 L 1 Thn - - - - - -
23 Gito 37 L 2,5 Thn - - - - - -
24 Pak pras 35 L 2 Thn - - - - - -
25 Titi 50 P 2 Thn - - - - -
26 Imbron 37 L 1,5 Thn - - - - - -
27 Nurmala 38 P 4 Thn - - - - - Batuk
28 Wavi 20 L 2 Bln + - - - - -
29 Pak nanik 45 L 1 Thn - - - - - -
30 Buk inai 25 P 1 Thn - - - - - -
31 Ibu mushi 50 P 2 Thn - - - - - Pusing
32 Atik 19 P 5 Bln - - - - - -
33 Umar 34 L 2 Thn - - - - + Batuk
34 Atikah 30 P 8 Bln - - - - - -
35 Skrisno 60 L 20 Thn - - - + - -
36 Ratih 30 P 5 Thn - - - - - -
37 Abdul 25 L 2 Thn - - - - - -
38 Ambrana 18 P 2 Bln + - - - - -
39 Ulin 32 P 6 Bln - - - - + Pusing
40 Ayu 17 P 4 Bln - - - - + Pusing
Total 13 0 1 6 4

Berdasarkan table diatas, dari 40 pemulung yang di survey 13 orang mengalami gatal-
gatal, 6 orang mengalami panu, 1 orang mengalami jamuran, dan 4 orang mengalami
penyakit gangguan lainnya seperti penyakit musiman yakni batuk, pilek dan sering
mengalami pusing. Hal ini disebabkan karena kurangnya penggunaan APD(Alat
Pelindung Diri) seperti Handscoon, Masker, Sepatu dan lain-lainnya. Selain itu personal
hygiene dari para pemulung juga berpengaruh terhadap terinfeksinya oleh jamur yang
terdapat pada sampah.

35
Hasil Pemeriksaan Penyakit Kulit dan Jamur Pada Masyarakat/Penduduk di Sekitar
TPA Suwung
Penyakit yang ditimbulkan
Jumlah Jarak
Nama Kepala Berbau Gangguan
No Anggota TPA/TPS
Keluarga sampah lain
Keluarga (m)

Gatal Korengan Jamur Panu Lainnya


Sesak
1 Abdul Rojak 3 200 Iya - - - - +
nafas
2 Sukarmin 4 300 Iya - - - - - -
3 Ardianto Yali 4 200 Iya - - - - - Batuk
4 Komang Joni 4 150 Iya - - - - - -
5 Putu Arsana 3 200 Tidak - - - + - -
Kadek
6 3 100 Iya - - - - - -
Muliantara
7 Kamarudin 3 100 Tidak - - - - + Pusing
8 Abdul Zakar 4 150 Iya - - - - - -
9 Yoli Hudin 3 50 Tidak - - - - - -
10 Putu Joaniarta 4 100 Iya - - - - - -
11 Putu Suparta 5 200 Iya - - - - + Batuk
12 Kadek Darma 5 300 Tidak + - - - - -
Komang
13 4 250 Iya - - - - - -
Bujana
14 Santo Yosep 7 100 Iya - - - - + Pusing
15 Made Warki 6 50 Iya - - - - - -
16 Ajis Bima 4 250 Iya - - - - - Batuk
17 Hermanjo 3 200 Iya - - - - - -
Sesak
18 Sutrisno 6 150 Tidak + - - - +
Nafas
19 Gede Gunung 3 100 Iya - - - - - -
20 Triatmono 4 200 Iya - - - - - -
21 Putu Kina 4 100 Tidak - - - - - -
22 Leong Jamil 5 50 Iya - - - - - -
23 Sulaiman edy 4 100 Tidak - - - - - -
24 Salaki 4 100 Tidak - - - - - -
25 Slamet 4 100 Tidak - - - - - -
Wayan
26 6 200 Iya - - - - - -
Windra
Made Alit
27 4 200 Tidak - - - - - -
Astika
Wayan Serna
28 4 200 Tidak - - - - - -
Antara
29 Hartono 4 150 Iya - - - - + Pusing

36
30 Andrawardana 2 140 Iya - - - - + Pusing
Tengu M.
31 3 200 Iya - - - - + Pusing
Jamil HP.
32 Bambang jali 4 100 Iya + - - - + Batuk
33 Sucipto 5 50 Iya + - - - + Batuk
34 Haliamin 4 100 Iya + - - - - -
35 Ketut Arsana 8 50 Iya - - - + - -
36 Pasek Antara 4 50 Iya - - - - - -
37 Abdul Gofar 6 100 Iya - - - - -
38 Putu Rucita 4 100 Tidak - - - - - -
39 Pak Mujiano 5 100 Iya + - + - - Batuk
40 Made Ardana 6 100 Iya - - - - - Batuk
41 Ketut Warka 6 100 Iya - - - - - Batuk
Total 6 0 1 2 10

Berdasarkan table diatas, dari 41 responden terdapat 6 orang mengalami gatal-gatal,


2 orang mengalami panu, 1 orang mengalami jamuran, dan 10 orang mengalami penyakit
dan gangguan lainnya seperti sesak nafas, batuk, pilek, dan pusing. Dari hasil tersebut
masyarakat/warga yang tinggal di sekitar area TPA Suwung sudah terkontaminasi oleh
adanya jamur yang mungkin disebabkan oleh jamur yang tumbuh disekitar TPA Suwung.
Menurut Peraturan Menteri Pekerja Umum RI. No.03/PRT/M/2013 tentang
penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan Dalam Penanganan Sampah Rumah
Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga adalah jarak rumah/permukiman terhadap
TPA paling sedikit adalah 500 meter. Dengan demikian TPA yang berada di Jln. Bay Pas
Ngurah Rai yakni TPA Suwung tidak memenuhi persyaratan yang berlaku karena jarak
TPA dari permukiman kurang dari 500 meter sehingga adapat menimbulkan berbagai
macam penyakit.

F. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini adalah :
1. Sampah dapat menjadi sumber penyakit salah satu contohnya alah penyakit yang
disebabkan oleh jamur.
2. Warga disekitar areal TPA Suwung menderita penyakit gatal-gatal, jamuran,
panuan, sesak nafas, batuk, pilek, dan pusing. Ini mungkin dikarenakan pengaruh
dari adanya TPA yang jaraknya cukup dekat dengan permukiman/perumahan.

37
3. Pemulung yang bekerja disekitar areal TPA Sebagaian besar terinfeksi oleh jamur
kulit.
4. Kurangnya penggunaan APD dan personal Hygiene menyebabkan para pemulung
lebih mudah terinfeksi jamur kulit.

Mengetahui Denpasar, 10 Desember 2014


Pembimbing Praktikum Praktikan,

Nengah Notes, S.KM.,M.Si Kelompok 1


NIP. 195812311983031036

38