Anda di halaman 1dari 161

ardika ANTARA EFIKASI DIRI DAN MOBILISASI DINI PADA

HUBUNGAN

PASIEN PASCA BEDAH MAYOR

DI RSUD TUGUREJO SEMARANG

SKRIPSI

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Ajar Skripsi

Oleh:

NUR AAS AISAH

NIM. 22020114130121

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2018

i
SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:

Nama : Nur Aas Aisah


NIM : 220201114130121
Fakultas/Departemen : Kedokteran/Ilmu Keperawatan
Jenis : Skripsi
Judul : Hubungan antara Efikasi Diri dan Mobilisasi Dini pada Pasien
Pasca Bedah Mayor di RSUD Tugurejo Semarang
Dengan ini menyatakan bahwa saya menyetujui untuk:
1. Memberikan hak bebas royalty kepada Perpustakaan Departemen Ilmu
Keperawatan Undip atas penulisan karya ilmiah saya, demi pengembangan
ilmu pengetahuan.
2. Memberikan hak menyimpan, mengalih mediakan/mengalih formatkan,
mengelola dalam bentuk pangkalan data (data base), mendistribusikannya,
serta menampilkan dalam bentuk soft copy untuk kepentingan akademis
kepada Perpustakaan Departemen Ilmu Keperawatan Undip, tanpa perlu
meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis/pencipta.
3. Bersedia dan menjamin untuk menanggung secara pribadi tanpa melibatkan
pihak Perpustakaan Departemen Ilmu Keperawatan Undip dari semua bentuk
tuntutan hukum yang timbul atas pelanggaran hak cipta dalam karya ilmiah
ini.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan semoga dapat
digunakan sebagaimana mestinya.
Semarang, Oktober 2018
Yang Menyatakan

Nur Aas Aisah

ii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
Nama : Nur Aas Aisah
Tempat/tanggal lahir : Semarang, 12 Mei 1996
Alamat Rumah : Jl. Mulawarman Timur RT 03 RW 03, Tembalang,
Semarang
No. Telp : 081326155551
Email : nur_aas@ymail.com

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penelitian saya yang


berjudul “Hubungan antara Efikasi Diri dan Mobilisasi Dini pada Pasien Pasca Bedah
Mayor di RSUD Tugurejo Semarang” bebas dari plagiarism dan bukan hasil karya
orang lain. Apabila di kemudian hari ditemukan sebagian atau seluruh bagian dari
penelitian dan karya ilmiah dari hasil-hasil penelitian tersebut terdapat indikasi
plagiarism, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Demikian pernyataan ini dibuat dalam keadaan sadar
tanpa paksaan dari siapapun.

Semarang, Oktober 2018


Yang Menyatakan

Nur Aas Aisah

iii
LEMBAR PERSETUJUAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:
HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DAN MOBILISASI DINI PADA
PASIEN PASCA BEDAH MAYOR DI RSUD TUGUREJO SEMARANG

Dipersiapkan dan disusun oleh :


Nama : Nur Aas Aisah
NIM : 22020114130121

Telah disetujui sebagai laporan penelitian dan dinyatakan telah memenuhi syarat
untuk di-review

Pembimbing,

Chandra Bagus Ropyanto, S.Kp., M.Kep.,S.KMB


NIP.19790521 200710 1 001

iv
LEMBAR PENGESAHAN
Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:
HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DAN MOBILISASI DINI PADA
PASIEN PASCA BEDAH MAYOR DI RSUD TUGUREJO SEMARANG
Dipersiapkan dan disusun oleh :
Nama : Nur Aas Aisah
NIM : 22020114130121
Telah diuji pada tanggal 18 September 2018 dan dinyatakan telah memenuhi

syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Keperawatan

Penguji I,

Ns. Niken Safitri Dyan K, S. Kep., MSi. Med


NIP. 19810727 200812 2 001

Penguji II,

Ns. Sri Padmasari, S. Kep., MNS


NIP. 19840506 200812 2 003

Penguji III,

Chandra Bagus Ropyanto, S.Kp., M.Kep.,S.KMB


NIP.19790521 200710 1 001

v
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya

kepada penulis dalam menyusun dan menyelesaikan penyusunan laporan

penelitian dengan judul “Hubungan antara Efikasi Diri dan Mobilisasi Dini

pada Pasien Pasca Bedah Mayor di RSUD Tugurejo Semarang”. Penulisan

skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat dalam menempuh

gelar sarjana keperawatan di Departemen Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran

Universitas Diponegoro Semarang. Skripsi ini memuat tentang hubungan antara

efikasi diri dan mobilisasi dini pada pasien pasca bedah mayor. Efikasi diri

merupakan salah satu upaya yang dapat diterapkan pada pasien pasca bedah,

efikasi diri merupakan keyakinan seseorang dalam melakukan sesuatu. Efikasi diri

mempengaruhi arah tindakan yang dipilih sehingga akan menentukan seberapa

keras seseorang mencoba dan bertahan. Kondisi pasca bedah mayor merupakan

kondisi pasien akan mengalami respon fisiologis maupun psikologis. Respon ini

dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan latihan mobilisasi dini, hal ini

perlu dilakukan untuk menghindari komplikasi pasca bedah yang mungkin terjadi.

Mobilisasi dini merupakan upaya untuk memandirikan pasien pada kondisi seperti

sebelum proses pembedahan. Skripsi ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang

diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca terkait efikasi diri dan

mobilisasi dini pada pasien pasca bedah mayor.

vi
UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis menyadari dalam penyusunan laporan penelitian ini tidak lepas

dari bimbingan dan bantuan oleh banyak pihak. Penulis mengucapkan terima

kasih kepada:

1. Dr. Untung Sujianto, S.Kp.,M.Kes. selaku Ketua Departemen Ilmu

Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

2. Ns. Sarah Uliya, S.Kep.,M.Kep. selaku Ketua Program Studi Ilmu

Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

3. Chandra Bagus Ropyanto, S.Kp.,M.Kep.,Sp.KMB selaku dosen

pembimbing yang telah memberikan ilmu, bimbingan, dan motivasi

dalam proses penyusunan laporan penelitian

4. Ns. Niken Safitri Dyan K, S. Kep., MSi. Med dan Ns. Sri Padma Sari,

S. Kep., MNS selaku dosen penguji yang telah memberikan ilmu,

bimbingan dan motivasi dalam proses penyusunan laporan penelitian.

5. RSUD Tugurejo Semarang khususnya ruang Anggrek dan Amarilis

yang telah memberikan peneliti izin untuk melakukan penelitian

6. Responden yang berpartisipasi dan bersedia terlibat dalam penelitian ini

7. Orang tua saya tercinta Bapak Darto dan Ibu Cucu Aim yang tidak

pernah lelah memberikan dukungan dan doa kepada saya

Penulis menyadari bahwa laporan penelitian ini masih perlu untuk

disempurnakan. Peneliti mengharapkan saran dan kritik untuk laporan penelitian

ini. Peneliti berharap laporan penelitian ini dapat diterima dan bermanfaat bagi

pengembangan ilmu khususnya ilmu keperawatan.

vii
DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ................................... ii


PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ........................................................... iii
LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................... iv
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... v
KATA PENGANTAR ........................................................................................... vi
UCAPAN TERIMAKASIH .................................................................................. vii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ viii
DAFTAR TABEL ................................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xi
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xii
DAFTAR SINGKATAN ..................................................................................... xiii
ABSTRAK ........................................................................................................... xiv
ABSTRACT .......................................................................................................... xv
BAB I P ENDAHULUAN ...................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.......................................................................................... 5
C. Tujuan Penelitian ........................................................................................... 6
D. Manfaat Penelitian ......................................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 8
A. Tinjauan Teori ............................................................................................... 8
1) Efikasi Diri ............................................................................................ 8
2) Mobilisasi Dini ................................................................................... 22
3) Konsep Bedah Mayor ......................................................................... 37
4) Hubungan antara Mobilisasi Dini dan Efikasi Diri pada Pasien Pasca
Bedah .................................................................................................. 44
B. Kerangka Teori ........................................................................................... 47
BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 48
A. Kerangka Konsep......................................................................................... 48
B. Hipotesis ...................................................................................................... 48
C. Jenis dan Rancangan Penelitian ................................................................... 48
D. Populasi dan Sampel Penelitian ................................................................... 49
E. Tempat dan Waktu Penelitian...................................................................... 51
F. Variabel Penelitian, Definisi Operasional dan Skala Pengukuran............... 52
G. Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data............................................... 57
H. Pengolahan dan Analisis Data ..................................................................... 65
I. Etika Penelitian ............................................................................................ 71
BAB IV HASIL PENELITIAN ............................................................................ 74
A. Karakteristik Responden .............................................................................. 74
B. Efikasi Diri Responden ................................................................................ 75
C. Mobilisasi Dini Responden.......................................................................... 78

viii
D. Hubungan Efikasi Diri dan Mobilisasi Dini pada Pasien Pasca Bedah Mayor
79
BAB V PEMBAHASAN ...................................................................................... 80
A. Gambaran Efikasi Diri ................................................................................. 80
B. Gambaran Mobilisasi Dini........................................................................... 84
C. Hubungan antara Efikasi Diri dan Mobilisasi Dini pada Pasien Pasca Bedah
Mayor .................................................................................................................. 87
D. Keterbatasan Penelitian ............................................................................... 90
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 92
A. Kesimpulan .................................................................................................. 92
B. Saran ............................................................................................................ 92
1. Bagi Perawat atau Tenaga Kesehatan ................................................. 92
2. Bagi Institusi Pendidikan .................................................................... 93
3. Bagi Pasien ......................................................................................... 93
4. Bagi Peneliti Selanjutnya .................................................................... 93
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 94

ix
DAFTAR TABEL

Nomor
Judul Tabel Halaman
Tabel
1 Variabel Penelitian, Definisi Operasional dan Skala
53
Pengukuran
2 Kisi-Kisi Kuesioner Efikasi Diri GSE (General Self
58
Efficacy Scale)
3 Kisi-Kisi Kuesioner Mobilisasi Dini CAS (Cumulated
59
Ambulated Score)
4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Demografi Pasien
74
Pasca Bedah
5 Gambaran Efikasi Diri Pasien Pasca Bedah Mayor di
ruang Anggrek dan Amarilis RSUD Tugurejo Semarang 75
Tahun 2018
6 Gambaran Pernyataan Efikasi Diri Pasien Pasca Bedah
Mayor di ruang Anggrek dan Amarilis RSUD Tugurejo 75
Semarang Tahun 2018
7 Gambaran dan Pernyataan Frekuensi Mobilisasi Dini
Pasien Pasca Bedah Mayor di ruang Anggrek dan 78
Amarilis RSUD Tugurejo Semarang Tahun 2018
8 Hubungan Efikasi Diri dan Mobilisasi Dini Pasien Pasca
Bedah Mayor di ruang Anggrek dan Amarilis RSUD 79
Tugurejo Semarang Tahun 2018

x
DAFTAR GAMBAR

Nomor
Judul Gambar Halaman
Gambar
1 Kerangka Teori 46
2 Kerangka Konsep Penelitian 47

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor
Keterangan Lampiran
Lampiran
1 Izin Penggunaan Kuesioner General Self-Efficacy Scale (GSE)
2 Izin Penggunaan Kuesioner Cumulated Ambulation Score (CAS)
(CAS)
3 Surat Permohonan Dan Persetujuan Sebagai Responden Penelitian
4 Kuesioner penelitian : Data demografi responden
5 Kuesioner penelitian : Efikasi Diri
6 Kuesioner penelitian : Mobilisasi Dini
7 Surat Permohonan Izin Pengkajian Data Awal di RSUD Tugurejo
Semarang
8 Surat Rekomendasi Permohonan Izin Pengkajian Data Awal dari
RSUD Tugurejo Semarang
9 Surat Permohonan Alih Bahasa Kuesioner Cumulated Ambulation Score
(CAS)
10 Surat Permohonan Backward Translate Cumulated Ambulation Score
(CAS)
11 Surat Permohonan Izin Penelitian Kesbangpol Semarang
12 Tanda Terima Pemberitahuan Penelitian Kesbangpol Semarang
13 Surat Permohonan Ethical Clearance RSUD Tugurejo Semarang
14 Surat Keterangan Ethical Clearance RSUD Tugurejo Semarang
15 Surat Permohonan Izin Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner di
RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang
16 Surat Keterangan Izin Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner dari
RSUD K.R.M.T Wongsonegoro
17 Surat Permohonan Izin Penelitian di RSUD Tugurejo Semarang
18 Surat Keterangan Izin Penelitian dari RSUD Tugurejo Semarang
19 Tabulasi Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penelitian
20 Tabulasi Hasil Penelitian
21 Hasil Uji Normalitas Data
22 Hasil Analisa Data
23 Jadwal Konsultasi
24 Catatan Hasil Konsultasi
25 Jadwal Penelitian

xii
DAFTAR SINGKATAN

BMR : Basal Metabolic Rate

CAS : Cumulated Ambulation Score

GSE : General Self-Efficacy Scale

FIM : Instrument Fuctional Independence Measure

Hb : Hemoglobin

ILAS : Iowa Level Assistance Scale

IPAQ : Perioperative International Physical Activity Questionnaire

LOS : Length of Stay

RASE : Rheumatoid Arthritis Self-Efficacy Scale

ROM : Range of Motion

RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah

SEPA : Self-Efficacy for Physical Activity Scale

TKA : Total Knee Arthroplasty

xiii
Departemen Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro
Oktober, 2018

ABSTRAK

Nur Aas Aisah


Hubungan antara Efikasi Diri dan Mobilisasi Dini pada Pasien Pasca Bedah
Mayor di RSUD Tugurejo Semarang
xv + 99 Halaman + 8 Tabel + 2 Gambar + 25 Lampiran

Mobilisasi dini pasca bedah merupakan pengembalian fungsi fisiologis bertahap


yang perlu dilakukan untuk mencegah komplikasi pasca bedah. Efikasi diri
diperlukan untuk meningkatkan kemampuan mobilisasi dini. Efikasi diri yang
tinggi akan membuat seseorang mampu melakukan suatu hal meskipun terdapat
rintangan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara efikasi
diri dan mobilisasi dini pasien pasca bedah mayor. Penelitian ini merupakan
penelitian kuantitatif non eksperimental dengan 62 responden berpartisipasi
dalam penelitian. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive
sampling. Uji bivariat menggunakan analisa korelasi Spearman rho desain
penelitian studi cross sectional. Pengambilan data menggunakan kuesioner
penelitian General Self-Efficacy Scale (GSE) dan Cumulated Ambulation Sore
(CAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata efikasi diri responden
sebesar 36,56 dari nilai maksimal 40 dan nilai rata-rata mobilisasi dini responden
sebesar 2,02 dari nilai maksimal 6. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri dan mobilisasi dini
(p=0,172). Nilai r=0,181 artinya berkorelasi sangat lemah atau tidak terdapat
hubungan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak adanya hubungan yang
signifikan antara efikasi diri dan mobilisasi dini pasien pasca bedah mayor. Saran
dalam penelitian yaitu perawat dapat dapat mengembangkan faktor selain
efikasi diri seperti memberikan motivasi, dukungan sosial dan informasi. Perawat
juga dianjurkan memberikan pendidikan kesehatan terkait mobilisasi dini pra
bedah dan pasca bedah untuk meningkatkan kemampuan mobilisasi dini pasca
bedah sesuai dengan jenis anestesi yang diberikan pada pasien.

Kata kunci: Efikasi Diri, Mobilisasi Dini, Pasca Bedah Mayor


Daftar Pustaka: 62 (1996-2018)

xiv
Department of Nursing Science
Faculty of Medicine
Diponegoro University
October, 2018
ABSTRACT
Nur Aas Aisah
Correlation between Self-Efficacy and Early Mobilization Major Post-Surgical
Patients in RSUD Tugurejo Semarang
xv + 99 page + 8 Tables + 2 figures + 25 appendixes

Postoperative early mobilization is a gradual return of physiological function that


needs to be done to prevent postoperative complications. Self-efficacy is needed to
improve early mobilization. High self-efficacy will make someone able to do
something even though there are obstacles. The purpose of this study is to analyze
the relationship between self-efficacy and early mobilization of major post-
surgical patients. This study was a quantitative non-experimental study with the
sample size of 62 respondents. Sample was selected by using consecutive
sampling technique. A research design adopted for this study was a cross
sectional study design with bivariate test using Spearman rho correlation
analysis. Data collection used a research questionnaire of General Self-Efficacy
Scale (GSE) and Cumulated Ambulation Afternoon (CAS). The results showed
that the average value of the respondent's self-efficacy was 36.56 from a
maximum value of 40 and the average value of the respondent's early mobilization
was 2.02 from the maximum value of 6. The results of the correlation test showed
that there was no significant relationship between self-efficacy and early
mobilization (p = 0.172). The value of r = 0.181 means that it was correlated very
weak and there was no relationship. The conclusion of this study is that there is
no significant relationship between self-efficacy and early mobilization of major
post-surgical patients. Suggestions in research that nurses can be able to develop
factors other than self-efficacy such as providing motivation, social support and
information. Nurses are also encouraged to provide health education related to
preoperative and postoperative early mobilization to improve the ability of early
postoperative mobilization according to the type of anesthesia given to patients.
Keyword: Self-Efficacy, Early Mobilization, Major Post-Surgical
Reference: 62(1996-2018)

xv
1

BAB I

P ENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut World Health Organization (WHO) angka pembedahan di

dunia pada tahun 2011 mencapai angka 140 juta jiwa. Angka tersebut

mengalami peningkatan pada tahun berikutnya, yakni sebanyak 148 juta

jiwa. Hal serupa juga terjadi di Indonesia, angka pembedahan di Indonesia

pada tahun 2012 mencapai 1,2 juta jiwa. Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia menyatakan bahwa sebanyak 11% penyakit di dunia dapat

ditanggulangi dengan tindakan pembedahan. Hal ini mendukung tingginya

angka kejadian pembedahan di dunia. 1

Pemulihan pasca bedah dapat menjadi salah satu indikator

keberhasilan intervensi keperawatan dalam memandirikan pasien, yaitu

dengan menilai kapasitas latihan fungsional pasien. Salah satu upaya

peningkatan kapasitas latihan fungsional pasien adalah dengan mobilisasi

dini. Mobilisasi dini menjadi tindakan yang penting dalam pengembalian

secara berangsur-angsur ke tahap mobilisasi sebelumnya. Konsep awal

mobilisasi dini adalah pengembalian fungsi fisiologis secara bertahap

untuk mencegah bahkan menurunkan timbulnya komplikasi sehingga

dapat mempertahankan kemandirian pasien.2

Mobilisasi dini memiliki beberapa manfaat, diantaranya yaitu dapat

mencegah kontraktur, mempercepat penyembuhan luka, memperlancar

peredaran darah, mencegah tromboflebitis, mengurangi rasa nyeri,

1
2

meningkatkan kelancaran fungsi ginjal dan memberi nutrisi untuk


3,4
penyembuhan pada daerah luka. Berdasarkan penelitian Ardica,

sebanyak 92% responden yang melakukan mobilisasi dini pasca bedah

laparatomi mengalami pola eliminasi fekal normal.5 Sejalan dengan

penelitian Subandi, sebanyak 90,6% responden yang melakukan

mobilisasi dini pasca bedah sectio caesarea menyatakan nyeri ringan.6

Hasil penelitian Sumarah, sebanyak 88% responden yang melakukan

mobilisasi dini rutin post sectio caesarea mengalami peningkatkan proses

penyembuhan luka.7 Mobilisasi dini dapat mengurangi Length of Stay

(LOS), komplikasi serta biaya perawatan rumah sakit.8

Mobilisasi dini yang tidak dilakukan dapat menimbulkan beberapa

akibat salah satunya adalah trombosis vena, komplikasi pasca bedah akibat

sirkulasi yang tidak lancar.4 Imobilisasi dapat meningkatkan resiko infeksi.

Selain itu, mobilisasi dini yang terhambat dapat meningkatkan terjadinya

komplikasi pasca bedah misalnya pneumonia, dekubitus, resiko tinggi

delirium dan memperpanjang Length of Stay (LOS) pasien. Keterbatasan

mobilisasi dini juga akan menyebabkan otot kehilangan daya tahan tubuh,

penurunan massa otot dan penurunan stabilitas. 9

Mobilisasi dini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain

status mental, mobilisasi pra bedah, kondisi kesehatan pasien, nutrisi,

kebiasaan, nilai, gaya hidup, pengetahuan, penyakit penyerta kronis,

penyakit metabolik atau hormonal, dukungan sosial dan keyakinan.9

Upaya untuk meningkatkan aktivitas fisik pasien adalah dengan memiliki


3

efikasi diri.10 Efikasi diri merupakan keyakinan terhadap kemampuan

untuk melakukan suatu tugas maupun perilaku tertentu. Efikasi diri

mempengaruhi arah tindakan yang dipilih sehingga akan menentukan

seberapa keras seseorang mencoba dan bertahan. Efikasi diri akan

mempengaruhi motivasi seseorang dalam melaksanakan perubahan.11

Efikasi diri rendah dapat meningkatkan distress pasien selama masa

pemulihan; perasaan khawatir terhadap kondisi yang akan semakin buruk

setelah melakukan aktivitas tertentu timbul akibat ketidak percayaan diri

pasien dalam melakukan program rehabilitasi.12 Hal tersebut menunjukkan

bahwa efikasi diri diperlukan. Efikasi diri diperlukan untuk dapat

melakukan suatu bentuk perilaku yang spesifik dan tetap melakukan

sebuah perilaku walaupun terdapat rintangan.11 Efikasi diri pasca bedah

lebih konsisten dikaitkan dengan hasil pemulihan seperti mobilisasi jarak

jauh, pengulangan latihan dan frekuensi, kecepatan berjalan dan

kecacatan.12

Hal ini didukung oleh penelitian Dewi tahun 2015 yang

menyatakan bahwa efikasi diri tinggi akan meningkatkan kemampuan

mobilisasi dini pada pasien pasca bedah digestif. Penelitian ini

menunjukkan semakin tinggi efikasi diri semakin tinggi pula kemampuan

mobilisasi dini yang ditampilkan.13 Penelitian yang dilakukan oleh Wu

menyatakan bahwa efikasi diri yang tinggi berhubungan dengan

kemampuan ambulasi melalui frekuensi, pengulangan dan jarak yang

dapat ditempuh selama latihan. Penelitian ini menunjukkan bahwa


4

meningkatkan informasi emosional dan dukungan penilaian dapat

meningkatkan kemandirian pasien terhadap kemampuan fungsional

pasien.12

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan dengan mewawancari 3

orang pasien di Ruang Anggrek RSUD Tugurejo menyatakan bahwa

pasien ragu untuk melakukan latihan mobilisasi dini. Salah satu hal yang

mendukung mobilisasi dini adalah karena mereka yakin dapat

melakukannya didukung oleh keinginan untuk sembuh. Perasaan ragu dan

takut dapat menjadi hambatan dalam melakukan mobilisasi dini.

Hambatan mobilisasi dini juga dapat disebabkan oleh pengalaman

pembedahan pertama bagi pasien dan alat yang terpasang pada pasien

seperti kateter dan drainase. Pasien mengatakan dapat melakukan

perubahan posisi lateral kanan dan kiri setelah dua hari dan dapat duduk

dengan bantuan keluarga setelah tiga hari pasca bedah. Beberapa pasien

menyatakan dapat mengubah posisi lateral setelah tiga hari pasca bedah.

Program mobilisasi dini pasien pasca bedah diberikan oleh

perawat. Mobilisasi dini yang diberikan berbeda pada setiap pasien

tergantung jenis anestesi. Jenis anestesi diberikan berdasarkan area

pembedahan. Mayoritas jenis anestesi yang diberikan pada pasien pasca

bedah mayor adalah jenis anestesi general dan anestesi spinal. Waktu

pemberian mobilisasi dini pada jenis anestesi general berbeda dengan

anestesi spinal. Pasien yang menjalani anestesi general dianjurkan untuk

dapat memulai mobilisasi dini seperti miring kanan-kiri setelah 2 jam


5

pasca bedah dengan kondisi fisik yang mendukung. Pasien yang menjalani

anestesi spinal dianjurkan dapat memulai mobilisasi dini seperti duduk

ditempat tidur setelah 24 jam pasca bedah. Namun tidak terdapat prosedur

khusus untuk jenis pembedahan non-muskuloskeletal seperti bedah

abdomen, bedah saluran kemih dan bedah onkologi. Pasien diberi arahan

terkait waktu kapan dianjurkan untuk makan-minum dan berpindah posisi

pasca bedah mayor.

B. Rumusan Masalah

Bedah mayor memiliki resiko yang tinggi bagi pasien yang

menjalaninya. Pembedahan juga dapat menimbulkan trauma fisik yang

luas, terhambatnya fungsi fisiologis seperti hambatan eliminasi fekal,

eliminasi urin dan komplikasi yang menyebabkan pasien kehilangan

kemampuan aktivitas fungsional. Resiko tinggi ini menimbulkan dampak

atau pengaruh fisiologis pada pasien pasca bedah. Mobilisasi dini menjadi

hal yang terpenting untuk mengembalikan kemandirian pasien dengan

latihan bertahap. Dibutuhkan upaya untuk meningkatkan kemampuan

mobilisasi dini pasca bedah. Upaya tersebut adalah dengan memiliki

efikasi diri. Efikasi diri merupakan keyakinan diri terhadap kemampuan

seseorang untuk melaksanakan tugas tertentu. Efikasi diri berpengaruh

pada motivasi dan arah tindakan yang akan dipilih pasien. Efikasi diri

diperlukan untuk dapat melakukan tindakan yang spesifik. Efikasi diri

pasien rendah disertai dengan perasaan ragu dan takut bertindak akan

berpengaruh pada kemampuan pasien terhadap mobilisasi dini. Semakin


6

tinggi efikasi diri dirasakan maka akan semakin besar keyakinan

mempertahankan dan meningkatkan upaya perilaku kesehatan.

Berdasarkan rumusan masalah diatas peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian terhadap hubungan antara efikasi diri dengan mobilisasi dini

pasien pasca bedah mayor.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian dilakukan untuk menganalisa hubungan antara efikasi diri

dan tingkat mobilisasi dini pada pasien pasca bedah mayor.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi efikasi diri pada pasien pasca bedah mayor.

b. Mengidentifikasi kemampuan mobilisasi dini pada pasien pasca

bedah mayor

c. Mengidentifikasi hubungan antara efikasi diri dan tingkat

mobilisasi dini pada pasien pasca bedah mayor.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi tenaga keperawatan

Membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara

menyeluruh baik fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual kepada

pasien pasca bedah mayor. Kemudian, hasil penelitian ini dapat

dijadikan dasar dalam mengembangkan intervensi efikasi diri

khususnya dalam memberikan tindakan mobilisasi dini pada pasien

pasca bedah mayor


7

2. Bagi Institusi Pendidikan

Memberikan gambaran mengenai hubungan antara efikasi diri dengan

mobilisasi dini pada pasien pasca bedah mayor dan menjadi materi

dalam pengembangan kurikulum pembelajaran bagi mahasiswa

kesehatan.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar dalam

melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan efikasi

diri dengan mobilisasi dini pada pasien pasca bedah mayor, dengan

desain dan/atau metodologi yang berbeda.


8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1) Efikasi Diri

a. Pengertian

Efikasi diri merupakan keyakinan terhadap kemampuan untuk

melakukan suatu tugas maupun keyakinan untuk melakukan suatu

perilaku yang mendukung kesehatan berdasarkan tujuan dan harapan

yang ingin dicapai. Efikasi diri telah diidentifikasi memiliki pengaruh

signifikan terhadap perilaku ketika berhadapan dengan masalah yang

dipersepsikan kurang terkontrol. Efikasi diri juga membantu

menentukan sejauh mana usaha yang akan dikerahkan orang dalam

suatu aktivitas, seberapa lama mereka akan gigih ketika menghadapi

rintangan, dan seberapa ulet mereka akan menghadapi situasi yang

tidak cocok.11

b. Dimensi Efikasi Diri

1. Magnitude

Dimensi magnitude menggambarkan perbedaan

kemampuan seseorang dalam menghadapi sesuatu. Seseorang

dapat menghadapi tingkat kesulitan yang tinggi berdasarkan

dengan usaha yang dilakukan. Seseorang akan mampu melakukan

sesuatu jika individu tersebut berpikir mampu menyelesaikan

masalah tersebut. Semakin tinggi efikasi diri yang dimiliki

8
9

makasemakin kuat pula usaha yang dikeluarkan untuk mencapai

harapan dan tujuan tertentu.11

2. Generality

Dimensi ini menggambarkan sejauh mana seseorang yakin

terhadap sesuatu yang biasa maupun belum pernah dilakukan.

Dimensi ini berfokus pada harapan penguasaan terkait pengalaman

melakukan suatu usaha tertentu. Seseorang akan menggunakan

usaha yang sama pada pengalaman keberhasilan sebelumnya

terhadap sesuatu untuk mencapai keberhasilan lainnya.11

3. Strength

Dimensi strength berfokus pada kekuatan dan keyakinan

dalam melakukan suatu usaha. Dimensi ini menggambarkan

ketahanan seseorang dalam menghadapi suatu tekanan atau

masalah tertentu. Keyakinan yang lemah dapat dipengaruhi oleh

pengalaman buruk seseorang begitu pula keyakinan yang kuat

dapat mendorong seseorang untuk tetap bertahan mengahadapi

permasalahan. Keyakinan berpengaruh terhadap pengambilan

keputusan, meskipun seseorang pernah merasakan kegagalan maka

individu akan tetap tangguh untuk berusaha mencapai tujuan

tertentu.11
10

c. Klasifikasi Efikasi Diri

Efikasi diri dibedakan dalam dua klasifikasi diantaranya adalah:

1. Efikasi diri tinggi

Seseorang dengan efikasi diri tinggi akan menghadapi

masalah secara langsung. Efikasi diri tinggi membuat seseorang

memandang masalah bukan sebagai ancaman melainkan tantangan

yang harus diselesaikan. Mereka akan mengembangkan diri dan

ketertarikan suatu aktivitas, mengembangkan tujuan. Seseorang

dengan efikasi diri tinggi yang mengalami kesulitan akan dengan

cepat mendapatkan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah

tersebut. Mereka menggangap kesalahan merupakan akibat dari

kurangnya upaya. Seseorang dengan efikasi diri tinggi memiliki

ciri-ciri yakni gigih, masalah dipandang sebagai sebuah tantangan

yang mampu diselesaikan, menyelesaikan masalah secara efektif,

percaya pada kemampuan yang dimiliki, senang mencari sesuatu

yang baru dan cepat kembali bangkit bila mengalami kegagalan

dalam menyelesaikan masalah serta berkomitmen tinggi terhadap

tugas yang diberikan.11

2. Efikasi diri rendah

Seseroang dengan efikasi diri rendah akan menghadapi

masalah dengan penuh keraguan. Keraguan dalam diri terhadap

kemampuan yang dimilikinya. Mereka akan melihat masalah

sebagai sebuah ancaman dan tidak berfokus pada bagaimana


11

mencari jalan keluar dari masalah. Seseorang dengan efikasi diri

rendah memiliki ciri-ciri yakni lamban dalam mendapatkan efikasi

diri, menghindari masalah yang menurutnya sulit, tidak memiliki

keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki, cepat menyerah,

tidak menyukai sesuatu yang baru sehingga memiliki aspirasi dan

komitmen yang lemah pada tugas yang diberikan.11

d. Tahap Perkembangan Efikasi Diri

Efikasi diri seseornag berkembang sejak bayi hingga lanjut usia.

Efikasi diri pada bayi berkembang dipengaruhi oleh lingkungan fisik

dan sosial. Lingkungan fisik dan sosial yang dimaksudkan adalah

keluarga yang meliputi orangtua, saudara kandung maupun kerabat

dekat. Berkembang dari bayi hingga dewasa, efikasi diri mulai

berkembang dipengaruhi oleh adaptasi seseorang dalam menyelesaikan

masalah yang dihadapi. Masalah tersebut dapat berupa masalah rumah

tangga maupun karir pekerjaan. Perkembangan efikasi diri berakhir

pada masa lanjut usia yang semakin sulit terbentuk karena terbatas

pada penurunan mental dan fisik secara fisiologis.11

e. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efikasi Diri

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi efikasi diri diantaranya

adalah:

1. Budaya

Efikasi diri dapat dipengaruhi oleh budaya melalui kepercayaan,

nilai dan proses pengaturan diri yang berfungsi sebagai sumber


12

penilaian efikasi diri dan konsekuensi dari keyakinan akan efikasi

diri.11

2. Jenis kelamin

Jenis kelamin memberi pengaruh terhadap diri individu. Wanita

dan pria memiliki efikasi yang berbeda pada setiap bidang tertentu.

Wanita memiliki efikasi diri yang lebih tinggi dalam perannya

dikehidupan sehari-hari. Wanita karir dan ibu rumah tangga

memiliki efikasi diri lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang

bekerja.11

3. Sifat dari tugas yang dihadapi

Keadaan dapat mempengaruhi individu dalam melakukan penilaian

terhadap kemampuan dirinya sendiri. Termasuk saat individu

mengahadapi masalah yang menurutnya sulit, maka ia akan

menganggap dirinya tidak mampu menyelesaikannya. Sebaliknya

jika individu menghadapi masalah yang menurutnya mudah maka

ia akan memiliki penilaian bahwa dirinya mampu

menyelesaikannya.11

4. Insentif eksternal

Salah satu faktor yang mempengaruhi efikasi diri adalah insentif

eksternal. Insentif eksternal merupakan insentif yang diberikan

seseorang untuk merefleksikan keberhasilan individu tersebut.11


13

5. Peran individu dalam lingkungan

Peran seseorang dalam lingkungannya ternyata memberi dampak

pada efikasi diri yang dimiliki. Efikasi diri dikaitkan dengan

derajat kontrol, jika seseorang memiliki status atau peran yang

penting maka akan mendapatkan derajat kontrol yang tinggi yang

dapat mempengaruhi efikasi diri. Sebaliknya jika seseorang

memiliki status atau peran yang rendah maka mendapatkan derajat

kontrol yang rendah dan mengakibatkan efikasi diri yang rendah

pula.11

6. Informasi terkait kemampuan diri

Efikasi diri individu dipengaruhi oleh informasi yang diterimanya.

Informasi tersebut berupa informasi kemampuan individu dalam

melakukan sesuatu. Informasi positif terkait kemampuannya dapat

meningkatkan efikasi diri. Sebaliknya informasi negatif dapat

menurunkan efikasi diri individu.11

f. Sumber-Sumber Efikasi Diri

Efikasi diri dapat mempengaruhi perubahan perilaku seseorang.

Efikasi diri juga dapat diubah, ditingkatkan dan diturunkan maupun

diperoleh tergantung pada sumbernya. Efikasi diri dapat menimbulkan

perubahan jika sumber efikasi diri berubah.11 Sumber-sumber efikasi

diri tersebut antara lain:


14

1. Mastery Experience

Mastery Experience atau pengalaman yang menetap

merupakan peristiwa seseorang terkait kegagalan maupun

keberhasilan yang menjadi faktor terpenting pembentuk efikasi

diri. Penguasaan pengalaman terjadi jika seseorang telah berhasil

mencapai suatu kesuksesan atau menguasai sesuatu. Sumber ini

menjadi yang paling efektif untuk meningkatkan efikasi diri

seseorang. Pengalaman sukses akan memberikan gambaran untuk

melakukan pencapaian yang sama terhadap kegiatan baru yang

telah dapat ia lakukan. Menguasai sesuatu menjadi hal yang mudah

jika seseorang sering melakukan latihan dan menjadikan kebiasaan.

Efikasi diri yang kuat memerlukan pengalaman dalam

mengahadapi suatu keslitan dan seseorang dapat menghadapi

masalah dengan tekun. Kesulitan dalam mengahdapi masalah dapat

memberikan pelajaran bahwa mencapai kesuksesan dibutuhkan

usaha yang tekun. Hal ini akan memperkuat kemampuan dalam

mengendalikan sesuatu dengan lebih baik.11

2. Vicarious Experience

Sumber ini menyatakan bahwa efikasi diri dapat

ditingkatkan melalui observasi pengalaman orang lain atau model

yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kesuksesan seseorang

dalam mencapai hal yang sama dapat meningkatkan efikasi diri

begitu juga kegagalan seseorang dalam mencapai sesuatu akan


15

menurunkan efikasi diri orang yang melihat. Seberapa besar

vicarious experience berpengaruh bergantung pada seberapa mirip

model yang dicontoh. Seseorang juga akan melihat perbandingan

dalam hal usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, ras dan social

dalam mengerjakan sesuatu. Observasi yang dikerjakan dengan

cara modelling terhadap individu lain akan lebih mudah dipelajari

oleh individu dalam meningkatkan efikasi diri.11

3. Verbal Persuasion

Penilaian diri seseorang biasanya didasarkan pada pendapat

orang lain. Persuasi verbal merupakan salah satu cara untuk

meningkatkan efikasi diri. Efikasi diri dapat meningkat bila

terdapat seseorang yang menyatakan bahwa individu memiliki

kemampuan atau dapat melakukan sesuatu. Sebaliknya efikasi diri

rendah bila terdapat seseorang yang menyatakan bahwa individu

tidak memiliki kemampuan atau tidak dapat melakukan sesuatu.11

4. Physiological and Affective States

Individu sering menunjukkan respon emosional dan gejala

somatik dalam mengintrepretasikan kemampuan. Gejala somatik

seperti ketegangan, kecemasan, mood dan ketakutan dapat

mempengaruhi efikasi diri, seseorang akan menjadi lebih yakin

bahwa dirinya akan gagal melakukan sesuatu. Mengerjakan suatu

kegiatan seseorang akan mengalami sakit, kelelahan dan nyeri

sebagai tanda kelemahan fisik. Suasana hati akan mempengaruhi


16

pencapaian seseorang. Mood yang positif akan meningkatkan

keberhasilan sebaliknya mood yang buruk dapat menyebabkan

kegagalan. Seseorang yang memiliki kemauan yang efektif dapat

menjadi fasilitator sedangkan keraguan dapat menjadi penghambat

dalam melakukan sesuatu. Indikator fisiologis dari efikasi

memainkan peran yang sangat berpengaruh dalam fungsi kesehatan

dan dalam kegiatan yang membutuhkan kekuatan fisik dan

stamina. Status afektif dapat memiliki dampak pada keyakinan,

kemampuan diri dalam berbagai bidang. Hal yang dapat dilakukan

untuk meningkatkan efikasi diri adalah dengan meningkatkan

status fisik, mengurangi tingkat stress, kecenderungan emosional

negatif, dan koping adaptif terhadap respon tubuh.11

5. Integrations of Efficacy Information

Penilaian efikasi diri seseorang akan berbeda tergantung

bagaimana seseorang menilai. Hasil penilaian efikasi diri akan

berbeda pada seseorang yang lebih relevan terhadap kemampuan

kognitif dan seseorang yang relevan terhadap kemampuan fisik

mereka. Terdapat perbedaan pada bagaimana seseorang memproses

informasi efikasi diri. Terdapat setiap alasan untuk percaya,

bagaimanapun, penilaian efikasi diatur oleh beberapa proses

penilaian umum. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai efikasi

bervariasi tergantung informasi dan tingkat keterkaitan seseorang.

Beberapa mungkin merupakan indikator kemampuan pribadi yang


17

sangat andal; lainnya mungkin jauh lebih sedikit sehingga harus

diberi rintangan yang lebih rendah. Beberapa faktor

menyumbangkan informasi unik; yang lain mungkin sangat

berlebihan dan karenanya tidak menambahkan informasi

diagnostik diri baru. Faktor-faktor yang relevan juga bervariasi

dalam kompleksitas hubungan mereka dengan penilaian

kemampuan pribadi. Beberapa berhubungan linier, sehingga

semakin tinggi tingkat faktor yang diberikan, semakin kuat efikasi

yang dirasakan.

g. Proses Efikasi Diri

Terdapat empat proses psikologis dalam proses keyakinan diri dalam

mempengaruhi fungsi manusia.

1. Proses Kognitif

Keyakinan efikasi terbentuk melalui proses kognitif, seperti

perilaku dan tujuan manusia. Penentuan tujuan dipengaruhi oleh

kemampuan atas diri sendiri. Efikasi diri mempengaruhi proses

berpikir yang dapat meningkatkan perfroma. Semakin kuat

seseorang menetapkan hasi tujuan, maka semakin tinggi komitmen

seseorang untuk mencapai tujuannya tersebut. Sebelum bertindak

maka seseorang akan melakukan perencanaan yang melibatkan

proses berpikir. Keyakinan terhadap keberhasilan akan mendorong

seseorang untuk berlatih dan berusaha. Seseorang dengan efikasi

diri tinggi maka akan menjadikan tujuannya sebagai pedoman


18

pencapaian keberhasilan. Berbeda dengan seseorang yang memiliki

keraguan maka akan banyak melakukan kesalahan. Fungsi utama

dari pemikiran adalah untuk memungkinkan seseorang

memprediksi kejadian dan mengembangkan cara mengelola

kehidupan mereka.11

2. Proses Motivasional

Motivasi seseorang mencerminkan seberapa besar upaya

yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan dan menghadapi

hambatan yang ada. Tingkat motivasi juga dihasilkan melalui

proses kognitif. Pikiran seseorang dapat memotivasi dan

mempengaruhi seseorang dalam bertindak. Sejalan dengan konsep

efikasi diri, semakin besar motivasi maka semakin kuat pula upaya

yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang menantang.11

3. Proses Afektif

Keyakinan seseorang terhadap seberapa kuat dapat

mengendalikan depresi dan stress yang mencam akan berpengaruh

terhadap tingkat motivasi seseorang. Efikasi diri dapat

mempengaruhi seseorang untuk dpaat mengendalikan depresi dan

stress. Seseorang yang dapat mengendalikan depresi maupun stress

tidak akan mengalami gangguan berpikir sebaliknya dengan

keadaan orang yang tidak dapat mengendalikan hal tersebut akan

mengalami kecemasan. Kecemasan tidak hanya dipengaruhi oleh


19

mekanisme koping individu tetapi dipengaruhi oleh kemampuan

mengendalikan pikiran yang mengganggu.11

4. Proses Seleksi

Proses akhir dari efikasi diri adalah menentukan lingkungan

yang dapat dipertahankan dan menguntungkan. Efikasi diri

dipengaruhi oleh lingkungan yang dipilih oleh seseorang.

Keyakinan efikasi dapat menentukan arah dan tujuan hidup

seseorang. Seseorang akan berusaha menghindari situasi dan

kegiatan yang dinilainya tidak mampu dilakukan. Hal ini lah yang

akan membuat seseorang menjadi tersiksa terhadap keputusan yang

diambil. Namun berbeda jika seseorang menilai dirinya mampu

mengahadapi situasi yang sulit maka mereka akan siap menjalani

aktivitas tersebut.11

h. Alat Ukur Efikasi Diri

1. General Self-Efficacy Scale

Skala GSE memiliki 10 pertanyaan dengan 4 poin penilaian

Likert. Setiap pertanyaan berisi pencapaian tujuan dan

mengindikasikan kesuksesan yang stabil, dan semakin tinggi hasil,

semakin baik penerimaan efikasi diri. Semua pertanyaan memiliki

format respon berikut: 1 = sama sekali tidak benar, 2 = tidak benar,

3 = cukup benar, dan 4 = tepat benar. Total skor GSE dihitung

dengan menjumlahkan skor item, dan berkisar antara 10 (GSE

terendah) dan 40 (GSE tertinggi).14 Instrumen ini berasal dan


20

dikembangkan di Jerman selama dua dekade dan sudah diadaptasi

kedalam 28 bahasa. Instrumen ini digunakan untuk mengkaji

perilaku khas, pembentukan sosial kognitif, well-being, perilaku

hidup sehat dan strategi koping yang dipilih oleh sampel. Skala

GSE juga menilai kemampuan individu terhadap kesulitan dalam

beraktivitas. Kuesioner ini digunakan pada penelitian dengan

subjek pasien osteoarthritis yang menjalani total hip replacement14

dan untuk menilai post traumatic growth pada pasien kanker.15.

Reabilitas dari kuesioner ini dalam sampel dari 23 negara berkisar

0,80 sedangkan nilai validitas berkisar 0,76-0,90. Validitas terkait

kriteria yang telah didokumentasikan dalam banyak penelitian

korelasi, koefisien positif ditemukan pada emosi, optimisme

disposisi, dan kepuasan kerja yang baik. Koefisien negatif

ditemukan pada depresi, kecemasan, stres, kelelahan, dan keluhan

kesehatan.16

2. Self-Efficacy for Physical Activity Scale (SEPA)

Self-Efficacy for Physical Activity Scale berisikan 5 butir

pertanyaan dengan 5 poin penilaian Likert yang mengkaji

kepercayaan diri responden terhadap kemampuan fisik yang

terbatas (tidak dalam suasana hati yang baik, cuaca yang tidak

mendukung, kekuarangan waktu, atau dalam masa liburan).

Kuesioner ini terdiri dari empat skala pada lima pertanyaan dengan

intensitas yang berbeda untuk setiap pengukuran pada kegiatan


21

yang mampu dilakukan sebagai berikut: (1) berjalan dari jarak 20

sampai 120 menit atau lebih, (2) menaiki tangga untuk jarak yang

jauh dari 2 sampai 6 tangga, (3) mengangkat benda dari 5 sampai

25 kg (11-55 pon), dan (4) melakukan push-up mulai dari 1 sampai

20 kali atau lebih. Pasien diminta untuk menunjukkan apakah

mereka mengira dapat melakukan tingkat aktivitas tertentu, dan

untuk mencatat tingkat kepercayaan diri mereka terhadap penilaian

ini dalam skala yang berkisar dari 0 (tidak sepenuhnya pasti)

sampai 100 (benar-benar pasti). Skor rata-rata 20 pertanyaan

digunakan, yang berkisar antara 0 sampai 100. Skor yang lebih

rendah menunjukkan tingkat SEPA yang lebih rendah, dan skor

yang lebih tinggi menunjukkan SEPA yang lebih baik. Kuesioner

ini digunakan untuk mengukur efikasi diri pada pasien pasca bedah

abdominal aortic aneurysm, pasien arthritis. 17

3. Rheumatoid Arthritis Self-Efficacy Scale (RASE)

RASE memiliki 28 butir pertanyaan dengan 5 poin

penilaian Likert yang mengkaji perilaku self- management

penyandang arthritis. Walaupun instrumen ini dikembangkan untuk

individu yang menderita rheumatoid arthritis, tetapi dapat

digunakan pada seluruh penyandang arthritis. Terdapat 3 butir

pertanyaan yang menanyakan aktivitas fisik secara spesifik. Total

skor dihitung berdasarkan jumlah, berkisar antara nilai 28-140

poin. Skor tertinggi menandakan tingginya efikasi diri untuk


22

perilaku self-management pada penderita arthritis. RASE juga

menunjukkan sensitivitas untuk merubah pendidikan kesehatan

terkait self- management.17

4. Preoperatif Self-efficacy Scale

Preoperatif Self-efficacy Scale dikembangkan oleh Oetker-

Black S.L pada tahun 1996 berisikan 15 pertanyaan dengan skala

dari 0 sampai 10. Total skor akan dijumlah dengan perhitungan

maksimal 150 poin. Data efikasi diri diambil dengan cara mengisi

kuesioner oleh responden pada satu hari sebelum operasi.

Kuesioner ini digunakan pada pasien bedah fraktur ekstremitas

bawah.18

2) Mobilisasi Dini

a. Pengertian

Mobilisasi dini didefinisikan sebagai aktivitas yang meliputi ROM.

Mobilisasi dini merupakan kebijakan untuk sesegera mungkin

membimbing pasien turun dari tempat tidur dan berjalan.19 Mobilisasi

dini sebagai suatu usaha untuk mempercepat penyembuhan sehingga

terhindar dari komplikasi akibat pembedahan terutama proses

penyembuhan luka operasi.3 Mobilisasi dini seharusnya dikembangkan

segera karena dapat membantu mengurangi komplikasi. Pasien

diberikan pendidikan kesehatan mengenai mobilisasi dini saat sebelum

pembedahan sehingga mereka dapat mengetahui kapan diperbolehkan

beraktivitas setelah pembedahan.20


23

b. Manfaat Mobilisasi Dini

Keuntungan mobilisasi dini diantaranya adalah untuk menurunkan

insiden komplikasi pascabedah seperti ateletaksis, pneumonia

hipostatik, gangguan gastrointestinal dan masalah sirkulasi. Atelektasis

dan pneumonia hipostatik secara relatif tidak sering terjadi jika pasien

bebas bergerak, karena mobilisasi dini meningkatkan ventilasi dan

mengurangi stasis sekresi bronchial pada paru. Mobilisasi dini juga

mengurangi kemungkinan distensi abdomen karena hal ini membantu

meningkatkan tonus otot gastrointestinal dan dinding abdomen dan

menstimulasi gerakan peristaltik.21

Tromboflebitis atau flebotrombosis terjadi lebih jarang karena

mobilisasi dini mencegah darah yang stasis dengan meningkatkan

kecepatan sirkulasi pada ekstremitas. Kecepatan pemulihan pada luka

abdomen lebih cepat bila mobilisasi dini dilakukan lebih awal.

Kejadian eviserasi pascabedah pada serangkaian kasus benar-benar

jarang terjadi bila pasien diperbolehkan untuk turun dari tempat tidur

segera. Penelitian menunjukkan bahwa mobilisasi dini dapat

mengurangi nyeri. Dokumentasi catatan kondisi pasien

membandingkan suhu tubuh dan frekuensi nadi kembali dalam ambang

normal saat pasien berusaha untuk melakukan latihan mobilisasi dini

pada prabedah.21

Mobilisasi dini menjaga dan mengembalikan tonus otot, kekuatan

otot dan kelenturan sendi. Mobilisasi dini juga meningkatkan


24

keseimbangan individu. Mobilisasi dini meningkatkan stimulus sistem

pernapasan dan sistem sirkulasi, meningkatkan efektivitas dari masing-

masing sistem. Mobilisasi dini juga meningkatkan sistem eliminasi

bowel. Mobilisasi dini meningkatkan psychological well-being yang

membantu mengoptimalkan kesehatan.22 Mobilisasi dini pasien dapat

meningkatkan physiological wellness dari pasien dengan ventilator

mekanik dengan meningkatkan volume tidal dan frekuensi pernapasan

selama perubahan posisi. Meningkatkan kekuatan otot dan

meningkatkan masa aliran darah, meningkatkan aktivitas insulin dan

glukosa untuk menstimulasi produksi anti-inflamasi sitokin.23

c. Dampak Imobilisasi

Imobilisasi merupakan suatu gangguan ketika individu mengalami atau

berisiko keterbatasan gerak fisik. Perubahan dalam tingkat mobilisasi

fisik dapat mengakibatkan instruksi pembatasan gerak dalam bentuk

tirah baring, pembatasan gerak akibat penggunaan alat bantu eksternal

(misal seperti gips dan traksi), pembatasan gerak volunteer atau

kehilangan fungsi motorik.2 Imobilisasi memiliki pengaruh terhadap

fungsi fisiologis seseorang diantaranya adalah:

1. Perubahan Metabolik

Imobilisasi mengganggu fungsi metabolic normal antara

lain laju metabolik; metabolism karbohidrat, lemak, protein,

ketidakseimbangan elektrolit dan cairan, kalsium dan gangguan

pencernaan. Keberadaan proses infeksius pada pasien imobilisasi


25

mengalami peningkatan BMR diakibatkan karena demam atau

penyembuhan luka. Demam dan penyembuhan luka meningkatkan

kebutuhan konsumsi oksigen selular.2

2. Perubahan Sistem Respiratori

Pasien pascabedah dan imobilisasi berisiko tinggi

mengalami komplikasi atelektasis dan pneumonia hipostatik.

Atelektasis merupakan kondisi ketika bronkiolus tertutup oleh

sekresi dan kolaps alveolus distal karena udara yang diabsorbsi

sehingga menghasilkan hipoventilasi. Bronkus utama atau bronkus

kecil lainnya dapat terkena. Luasnya atelektasis ditentukan oleh

bagian yang tertutup. Pneumonia hipostatik merupakan kondisi

ketika peradangan paru-paru akibat stasisnya sekresi. Kedua

komplikasi ini dapat menurunkan oksigenasi sehingga

memperlama penyembuhan dan menimbulkan ketidaknyamanan

pasien.2

3. Perubahan Sistem Kardiovaskuler

Perubahan pada sistem kardiovaskuler menimbulkan tiga

komplikasi diantaranya adalah hipotensi ortostatik, peningkatan

beban kerja jantung dan pembentukan thrombus. Hipotensi

ortostatik merupakan penurunan tekanan darah ketika pasien

bangun dari posisi berbaring atau duduk ke posisi berdiri. Pasien

imobilisasi mengalami penurunan sirkulasi volume cairan,

pengumpulan darah pada ekstremitas bawah dan penurunan respon


26

otonom. Faktor diatas menyebabkan penurunan aliran balik vena,

diikuti oleh penurunan curah jantung yang ditandai oleh penurunan

tekanan darah. Jika beban kerja jantung meningkat maka akan

meningkatkan konsumsi oksigen. Hal ini menyebabkan kerja

jantung menjadi tidak efisien. Trombus merupakan keadaan ketika

terjadi penyumbatan akibat akumulasi trombosit, fibrin, faktor-

faktor pembentukan darah dan elemen sel darah yang menempel

pada dinding bagian anterior vena dan arteri kadang-kadang

menutup lumen pembuluh darah.2

4. Pengaruh Otot

Akibat pemecahan protein, pasien mengalami kehilangan massa

tubuh yang membentuk sebagian otot. Massa otot menurun akibat

adanya metabolisme tetapi tidak digunakan untuk beraktivitas.2

5. Pengaruh Skelet

Imobilisasi dan aktivitas yang tidak menyangga tubuh

meningkatkan kecepatan resorpsi tulang. Resorpsi tulang juga

menyebabkan kalsium terlepas ke dalam darah sehingga

mengakibatkan hiperkalsemia. Imobilisasi juga dapat

mengakibatkan kontraktur sendi karena sendi menjadi jarang

digunakan ditandai dengan sendi yang fleksi dan dan terfiksasi.

Jika terjadi kontraktur maka sendi tidak dapat mempertahankan

rentang gerak dengan penuh.2


27

6. Perubahan Sistem Integumen

Imobilisasi dapat mengakibatkan dekubitus, luka yang disebabkan

akibat iskemia dan anoksia jaringan. Jaringan yang tertekan, darah

membelok dan kontraksi kuat pada pembuluh darah akibat tekanan

persisten pada kulit dan struktur dibawah kulit, sehingga respirasi

selular terganggu dan sel menjadi mati.2

7. Perubahan Eliminasi Urin

Posisi tegak lurus akan membuat urin mengalir keluar dari

pelvis ginjal lalu masuk kedalam ureter dan kandung kemih akibat

gaya gravitasi. Jika pasien berada pada posisi datar ginjal dan

ureter membentuk garis datar seoerti pesawat. Ginjal yang

membentuk urin harus masuk kedalam kandung kemih melawan

gaya gravitasi. Akibat kontraksi peristaltic ureter yang tidak cukup

kuat melawan gaya gravitasi, pelvis ginjal menjadi terisi sebelum

urin masuk kedalam ureter. Kondisi ini disebut stasis urin yang

meningkatkan risiko infeksi saluran kemih dan batu ginjal.2

d. Klasifikasi Mobilisasi Dini

Mobilisasi dini diklasifikasikan kedalam gerakan pasif dan aktif

sebagai berikut:

1) Gerakan Pasif

Gerakan pasif dibantu oleh perawat pada kali pertama

maupun kedua penggunaan ventilator mekanik. Gerakan yang

dilakukan berupa perpindahan posisi pasien dari terlentang, miring


28

kanan-kiri, posisi fowler dan pronasi. Pasien akan dibantu oleh

fisioterapi dan perawat dalam latihan gerakan.4,24 Gerakan

mobilisasi dini pasif merupakan gerakan range of motion yang

disediakan oleh perawat maupun tenaga kesehatan bagi pasien

yang tidak dapat mengikuti arahan gerakan.23

2) Gerakan Aktif

Gerakan mobilisasi dini aktif merupakan gerakan ROM

dengan atau tanpa bantuan tenaga kesehatan dalam

melaksanakannya. Hal ini seperti meminta pasien untuk melakukan

latihan fungsional, duduk di atas tempat tidur, berpindah dari

tempat tidur ke kursi, mengayunkan kaki diatas tempat tidur,

maupun berpindah posisi ditempat tidur.4

e. Tahapan Mobilisasi Dini

Balutan, bebat atau peralatan drainase menjadi penyebab pasien

pascabedah tidak mampu mengubah posisi. Berbaring secara konstan

dalam posisi yang sama dapat mengarah pada luka dekubitus atau

pneumonia hipostatik, yang merupakan dua komplikasi pembedahan

yang paling serius. Pasien dengan mobilitas yang terbatas memerlukan

pergantian posisi dari sisi satu ke sisi yang lainnya setiap 2 jam. Posisi

pasien perlu diubah ketika rasa tidak nyaman terjadi akibat berbaring

dalam satu posisi.21 Posisi yang memungkinkan untuk pasien

diantaranya adalah:
29

1. Posisi Supinasi

Pasien berbaring tanpa menaikkan kepala. Upayakan tidak ada

yang membatasi gerakan ibu jari kaki dan telapak kaki pasien.21

2. Posisi Lateral

Pasien berbaring ke salah satu sisi dengan lengan atas

kedepan. Bagian dasar tungkai agak fleksi, sementara tungkai

fleksi pada paha dan lutut. Kepala pasien disangga dengan bantal,

dan bantal kedua diletakkan memanjang antar tungkai. Posisi ini

digunakan untuk membantu drainase kavitas, seperti pada dada dan

abdomen; dan untuk mencegah komplikasi pernapasan pascabedah

dan sirkulasi.21

3. Posisi Fowler

Posisi ini membentuk sudut 60-70 derajat. Posisi ini merupakan

posisi duduk yang nyaman. Pasien dengan drainase abdomen

biasanya diposisikan fowler segera setelah mereka sadar dari

pengaruh anestesi didukung dengan posisi kepala yang ditinggikan

perlahan untuk mengurangi perasaan kepala terasa ringan.21

Mengajarkan metode untuk bangun dari tempat tidur untuk

mencegah nyeri dan mengurangi hipertensi ortostatik sangat penting.20

Berikut merupakan tahapan mobilisasi yang dapat diterapkan pada

pasien pascabedah:
30

a. Tahap 1

Latihan bernafas, 3 kali 10 pengulangan. Latihan aktif ekstremitas

atas dan bawah, 3 kali 10 pengulangan, tempat tidur pada 450 .

ekstremitas bawah melakukan ayunan selama 20 menit (5 menit

pemanasan, 10 menit latihan perlahan dan 5 menit pendinginan),

30 rpm (rotation per minute).25

b. Tahap 2

Latihan aktif pada tahap 1. Bertahan pada posisi berdiri dan

berjalan pada 3 langkah pada 1 menit. Ekstremitas bawah

melakukan gerakan mengayun pada ergometer selama 20 menit.25

c. Tahap 3

Latihan aktif pada tahap 2. Mobilisasi dini pasien selama 7 menit,

berpindah ke kursi dari tepi tempat tidur selama 30 menit.25

d. Tahap 4

Latihan aktif pada tahap 3. Mobilisasi dini pasien selama 10 menit,

berpindah ke kursi dari tepi tempat tidur selama 60 menit.25

e. Tahap 5

Latihan aktif pada tahap 4. Mobilisasi dini pasien selama 15 menit,

berpindah ke kursi dari tepi tempat tidur selama 120 menit.25

f. Tahap 6

Latihan aktif seperti hari sebelumnya. Mobilisasi dini pasien

selama 20 menit. Latihan berjalan (3 langkah secara berkelanjutan,

sepanjang 20 cm langkah).25
31

g. Tahap 7

Latihan seperti hari sebelumnya. Latihan berjalan (6 langkah

secara berkelanjutan, sepanjang 20 cm langkah).25

f. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Mobilisasi Dini

Faktor yang mempengaruhi mobilisasi dini pasien pasca bedah

diantaranya adalah:

1. Kondisi Kesehatan Pasien

Kondisi kesehatan yang tidak normal dapat mengakibatkan

sistem muskuloskeletasl dan sistem saraf mengalami penurunan

koordinasi. Kondisi ini dapat berubah akibat penyakit maupun

berkurangnya kemampuan melakukan aktivitas. Paisen pasca

bedah akan mengalami nyeri. Nyeri yang dialami dapat terjadi

karena luka akibat pembedahan, edema, hematom dan spasme otot.

Beberapa pasien mungkin akan mneyatakan nyeri pasca bedah

lebih ringan dari pra bedah. Pasien dianjurkan untuk meminta

pengobatan nyeri sebelum nyeri terjadi. Obat perlu diberikan

segera dalam interval yang ditentukan bila rangsang nyeri dapat

diramalkan akan dirasakan pada 30 menit sebelum aktivitas

berlangsung seperti pemindahan dan latihan mobilisasi dini.26

Pasien pasca bedah akan merasa takut untuk bergerak

karena merasa nyeri pada luka sayatan bedah maupun luka bekas

trauma. Keadaan yang sering menyebabkan pasien kurang mampu

melakukan mobilisasi antaranya adalah hipertensi ortostatik.


32

Hipertensi ortostatik merupakan keadaan ketika tekanan darah

menurun saat pasien berubah posisi. Ditandai dengan sakit kepala

ringan, kelemahan, kelelahan, gangguan visual dan hampir pingsan

atau pingsan.27

Kelelahan dan kerusakan otot dan neuromuscular yang

dapat diakibatkan oleh gaya hidup, bedrest dan penyakit.

Keterbatasan ini dapat menyebabkan pasien tidak mampu

beraktivitas ditandai dengan pergerakan yang lambat. Kelelahan

yang berlebihan dapat menyebabkan pasien jatuh atau mengalami

ketidakseimbangan pada saat latihan. Pasca bedah dapat

menimbulkan berbagai perubahan kondisi fisiologis. Perubahan

tersebut seperti demam, hipotermia maupun anemia. Demam pada

hari pertama atau kedua dapat disebabkan oleh radang saluran

nafas, sedangkan demam akibat luka operasi dapat berlangsung

sekitar satu minggu. Transfusi darah juga dapat menyebabkan

demam diperkirakan karena pasien dehidrasi.28

Pasien yang menjalani anestesi umum akan rentan terhadap

suhu, hipotermia. Pasien yang menggigil pasca bedah dapat terjadi

akibat terpajan lama terhadap suhu dingin di ruang operasi. Selain

kondisi diatas pasien pasca bedah dapat juga mengalami anemia,

kondisi ketika kadar Hb lebih rendah dari normal. Gejala yang

dapat terjadi seperti cepat lelah, takikardi, palpitasi dan takipnea

pada latihan fisik. 28


33

2. Emosi

Keadaan psikologis pasien berpengaruh terhadap perubahan

perilaku untuk melakukan mobilisasi dini dengan baik. Pasien yang

mengalami perasaan tidak aman, motivasi turun dan harga diri

rendah akan berpengaruh terhadap latihan mobilisasi dini. Seorang

dengan depresi maupun merasakan kekhawatiran akan tidak

mampu melakukan latihan mobilisasi dini. Latihan tersebut

memerlukan energi yang besar sehingga kondisi seperti ini akan

menyebabkan pasien mengalami kelelahan secara fisik dan

emosi.29 Nyeri dan cemas seakan berhubungan, hal ini didukung

oleh Potter & Perry bahwa stimulus nyeri mengaktifkan bagian

sistem limbik yang mengendalikan emosi seseorang khususnya

rasa takut.27

3. Gaya Hidup

Gaya hidup dipengaruhi oleh status kesehatan, nilai,

motivasi, kepercayaan dan faktor lainnya. Gaya hidup ternyata

mempengaruhi mobilitas. Tingkat kesehatan seseorang dapat

dilihat dari gaya hidup bagaimana hal tersebut diartikan oleh

masing-masing individu. Tahapan mobilitas dan aktivitas pasien

sebelum operasi dapat mempengaruhi pelaksanaan mobilisasi.30

4. Dukungan Sosial

Dukungan sosial berupa saran, bantuan nyata, maupun

sikap empati yang diberikan oleh kerabat terdekat pasien dapat


34

meningkatkan keadaan emosional dan tingkah laku pasien.

Keterlibatan keluarga dalam rencana asuhan keperawatan dapat

meningkatkan proses pemulihan.28 Dukungan sosial keluarga,

kerabat dan perawat sangat mempengaruhi latihan mobilisasi dini

pasien. Terlaksananya mobilisasi dini bergantung pada kesiapan

pasien dan keluarga untuk belajar dan berpartisipasi dalam

latihan.30

5. Pengetahuan

Edukasi yang diberikan pada pasien pra bedah menjadi

sangat menguntungkan untuk meningkatkan alternatif penanganan.

Informasi yang diharapkan termasuk sensasi selama dan setelah

pembedahan dapat meningkatkan keberanian pasien untuk

melakukan mobilisasi dini aktif. Informasi yang mencakup

pemasangan alat fiksasi eksternal, alat ambulasi, medikasi dan

latihan perlu didiskusikan dengan pasien. Informasi semacam ini

dapat mengurangi kekhawatiran pasien.26

g. Alat Ukur Mobilisasi Dini

1. IPAQ

Perioperative International Physical Activity Questionnaire

(IPAQ) mengkaji mobilisasi preoperative dan pasien akan

menerima konseling preoperative sebelum pembedahan. Kuesioner

ini digunakan pada pasien pasca bedah mayor viseral untuk

mengetahui kemampuan aktivitas yang dapat dilakukan.31 Alat


35

ukur ini memiliki dua versi kuesioner (IPAQ versi pendek dan

IPAQ versi panjang). IPAQ dirancang untuk digunakan oleh orang

dewasa yang berusia lanjut 18-65 tahun.32 Perhitungan skor

dihitung berdasarkan akumulasi kegiatan yang dikalikan dengan

konstanta variasi kegiatan tertentu yang telah diatur.33 Kuesioner

ini memiliki reabilitas dengan stabilitas yang baik keandalan yang

tinggi (α <.80). IPAQ memiliki validitas prediktif, validitas

serentak, validitas konvergen dengan kriteria validitas, validitas

diskriminatif.34

2. ILAS (Iowa Level Assistance Scale)

ILAS (Iowa Level Assistance Scale) dikembangkan oleh

Shields dkk yang digunakan pada total populasi total hip and knee

arthroplasty. Kuesioner ini berisikan 7 level kebutuhan bantuan

terhadap aktivitas fungsional. Interpretasi skor diperoleh

berdasarkan dari 4 aspek yang dinilai dari rentang 0-6 pernyataan

tersebut yang kemudian dijumlahkan. Keempat aktivitas fungsional

terkait yang dinilai adalah kemampuan untuk beralih ke posisi

duduk dari berbaring telentang, berdiri dari posisi duduk, hingga

mencapai 15 langkah; dan naik turun tangga tiga langkah. Skor

fungsional total mewakili jumlah tingkat nilai bantuan untuk

keempat aktivitas fungsional yang terkait. Kuesioner ini digunakan

pada pasien rehabilitasi rawat inap.35 Kuesioner ini digunakan pada

pasien TKA.36 Kuesioner ini digunakan pada pasien total hip and
36

knee arthroplasty.37 Instrumen ini telah diuji reliabilitas nya

dengan hasil nilai kisaran 0-1, koefisien yang lebih besar dari 0,80

dianggap baik.37

3. FIM

FIM merupakan instrumen untuk mengkaji level

kemampuan pasien dengan batasan fungsional yang beragam.

Instrumen ini bersifat objektif kuantitatif mengevaluasi level

kebutuhan bantuan yang dibutuhkan oleh seseorang untuk

menampilkan tugas motoric dan kognitif yang dibutuhkan untuk

berkativitas sehari-hari. Evaluasi yang dilakukan termasuk

perawatan diri, mobilitas, berjalan, toileting, berkomunikasi dan

kognisi, termasuk memori, interaksi social dan penyelesaian

masalah. Masing-masing aktivitas yang dikaji dan diterima

mendapatkan skor 1 (ketergantungan total) hingga 7 (tidak

tergantung sama sekali), total skor rata-rata dari 18-126. Kuesioner

ini digunakan pada pasien pasca bedah bypass arteri koroner.25

4. Cumulated Ambulation Score (CAS)

Cumulated Ambulation Score merupakan instrumen yang

dapat digunakan untuk pengkajian sehari-hari dalam

pengembangan mobilitas hingga mobilitas yang independen.

Instrumen ini merupakan alat yang valid untuk mengevaluasi

mobilitas dasar pasien bangsal ortopedi, dan penggunaannya

direkomendasikan di Denmark untuk pasien dengan patah tulang


37

pinggul.38 Instrumen ini digunakan untuk mengukur kemampuan

pergi dan menuju ke tempat tidur, duduk dan berdiri dari kursi

tanpa bantuan tangan dan berjalan keluar. Masing-masing aktivitas

dihitung dalam skor dari 0-2 dengan hasil berkisar antara 0-6

(dalam sehari). CAS sudah terbukti reliabel dan berguna sebagai

alat untuk memprediksi rehabilitasi atau hospitalisasi. Alat ini

biasanya digunakan hari pertama hingga hari ketiga pascabedah

sehingga skor yang didapat dari rentang 0-18 (dalam 3 hari).39

Kuesioner ini digunakan pada pasien lansia38 dan pasien dengan

patah tulang panggul.30 Reliabilitas dari kuesioner ini adalah

sebesar ≥ 0,92 untuk aktivitas individual. Data keandalan CAS

mutlak menunjukkan bahwa perubahan atau perbedaan 0,20 atau 1

titik, CAS menunjukkan perubahan nyata pada tingkat kelompok

dan untuk satu pasien.30

3) Konsep Bedah Mayor

a. Pengertian

Pembedahan merupakan salah satu tindakan dalam ilmu

kedokteran modern40. Pembedahan merupakan metode yang digunakan

bila pemberian obat-obatan tidak mendukung kesembuhan pasien. Pem

bedahan merupakan segala tindakan yang dilakukan dengan cara

menampilkan organ yang akan diobati.28 Alasan dilakukannya

pembedahan adalah karena beberapa hal berikut, pengambilan data

untuk diagnosa, seperti eksplorasi, laparatomi dan biopsi, kuratif


38

(eksisi massa tumor, pengangkatan apendiks yang mengalami

inflamasi), reparatif (memperbaiki luka), rekonstruksi dan paliatif.28

Jenis pembedahan dibagi menjadi dua yakni bedah mayor dan bedah

minor. Bedah mayor merupakan pembedahan yang melibatkan

rekonstruksi atau perubahan yang luas pada bagian tubuh

menimbulkan risiko yang tinggi bagi kesehatan. Contoh: bypass arteri

koroner, reseksi kolon, pengangkatan laring, reseksi lobus paru,

kolesistektomi, nefrektomi, kolostomi, histerektomi, mastektomi,

amputasi dan operasi akibat trauma. Bedah minor merupakan

pembedahan yang melibatkan perubahan yang kecil pada bagian

tubuh; sering dilakukan untuk memperbaiki deformitas; mengandung

risiko yang lebih rendah bila dibandingkan dengan prosedur mayor.

Contoh: ekstraksi katarak, operasi plastik wajah, graft kulit dan

ekstraksi gigi.2

b. Komplikasi Pascabedah

Pascabedah memiliki komplikasi yang tidak dapat diabaikan,

komplikasi tersebut meliputi:

1. Sistem pernapasan

- Atelektasis merupakan kolapsnya alveoli akibat tetahannya

sekresi mucus. Hal ini dapat ditandai dengan peningkatan

frekuensi nafas, dipsnea, demam, saat pemeriksaan auskultasi

terdengar krakles pada lobus paru yang mengalami kolaps dan

terdapat batuk produktif.2


39

- Pneumonia, penyakit yang timbul akibat peradangan alveoli

yang terinfeksi. Peradangan dapat terjadi pada satu atau kedua

lobus paru. Pneumonia pada bagian lobus bawah sering terjadi

pada pasien dengan imobilisasi. Tanda dan gejala penyakit ini

dapat berupa demam, kedinginan, menggigil, batuk produktif,

nyeri dada, mucus purulent dan dipsnea.2

- Hipoksia merupakan kondisi ketika oksigen dalam darah tidak

adekuat. Tanda dan gejala penyerta seperti gelisah, dipsnea,

tekanan darah tinggi, takikardi, diaphoresis dan sianosis.2

- Emboli pulmonal terjadi karena terdapat embolus yang

menyumbat arteri pulmonal dan mengganggu aliran darah ke

satu atau lebih lobus paru. Tanda dan gejala meliputi dipsnea,

nyeri dada tiba-tiba, sianosis, takikardi dan penurunan tekanan

darah.2

2. Sistem Sirkulasi

- Perdarahan adalah hilangnya sejumlah darah secara eksternal

maupun internal dalam jangka waktu yang singkat ditandai

dengan gejala serupa syok hipovolemik.2

- Syok hipovolemik merupakan perfusi jaringan dan sel akibat

hilangnya volume cairan dalam sirklasi. Tanda dan gejala yang

meliputi hipotensi, kelemahan dan nadi yang cepat, kulit dingin

dan lembab, pernapasan cepat, gelisah, menurunnya haluaran

urin.2
40

- Tromboflebitis dapat terjadi akibat peradangan vena yang

disertai pembekuan darah. Umumnya terjadi pada vena kaki.

Tanda dan gejala seperti bengkak dan peradangan ketika sakit

dirasakan, nyeri dank ram. Vena terasa keras seperti tali dan

sensitif terhadap sentuhan. Nyeri pada betis terjadi saat pasien

berjalan atau kaki dalam keadaan dorsofleksi (tanda Homan).2

- Trombus terjadi karena adanya bekuan darah yang menempel

ke dinding pembuluh darah bagian dalam vena atau arteri dan

menyumbat lumen pembuluh darah.2

- Embolus adalah potongan thrombus yang terlepas dan

bersirkulasi didalam pembuluh darah sehingga menempel pada

pembuluh darah paru-paru jantung atau otak.2

3. Sistem Gastrointestinal

- Distensi abdomen adalah retensi udara didalam usus disertai

dengan terdengar bunyi timpani saat perkusi, meningkatnya

lingkar perut. Pasien mengeluh perut terasa penuh dan nyeri.2

- Konstipasi merupakan kondisi ketika pasien mengalami buang

air besar dengan frekuensi jarang. Setelah pembedahan hal ini

tidak perlu dikhawatirkan apalagi saat pasien sudah melakukan

persiapan pada fase prabedah. Pasien dapat mengkonsumsi

makanan padat dan apabila dalam 48 jam belum buang air

besar maka hal ini perlu dikhawatirkan.2


41

- Mual dan muntah merupakan gejala pengosongan lambung

yang tidak tepat atau adanya stimulasi kimia dari pusat muntah.

Pasien mengeluh ingin muntah dan perut terasa mual dan

penuh.2

4. Sistem Genitourinaria

Retensi urin terjadi akibat akumulasi urin di dalam kandung kemih

yang terjadi secara involunter akibat hilangnya tonus otot. Pasien

tidak mampu berkemih, gelisah dan distensi kandung kemih.

Retensi urin terjadi dalam waktu 6-8 jam pascabedah.2

5. Sistem Integumen

- Infeksi luka umum terjadi pada pasien pascabedah apabila

perawatan luka yang tidak baik. Infeksi ini merupakan

masuknya mikroorgDewime pathogen kedalam jaringan luka

dalam atau superfisial. Pasien akan mengalami demam, dan

menggigil. Daerah luka akan berwarna kemerahan dan terasa

hangat. Materi purulent dapat keluar dari drain atau tepi luka

yang terpisah. Materi purulent ini muncul dalam waktu 3-6 hari

pascabedah.2

- Dehisens luka merupakan terpisahnya jringan teri luka dari

garis jahitan. Tanda dan gejala yang dialami dapat berupa

meningkatnya drainase dan penampakan jaringan yang ada

dibawahnya. Biasanya terjadi pada 6-8 hari pascabedah.2


42

- Eviserasi merupakan keluarnya organ dan jaringan internal

melalui insisi. Biasanya terjadi pada 6-8 hari pascabedah.2

- Surgical mump (parotitis) adalah bengkaknya kelenjar parotid

sehubungan dengan buruknya perawatan mulut.2

6. Sistem Syaraf

Nyeri yang tidak dapat diatasi.2

c. Faktor Risiko

Beragam kondisi dan faktor dapat meningkatkan risiko pembedahan

pasien. Pengetahuan terhadap faktor risiko pembedahan dapat

membantu perawat untuk menghindari hal tersebut sehingga

diharapkan akan memberikan asuhan keperawatan yang

komprehensif.2 Berikut merupakan faktor risiko pembedahan:

1. Usia

Pasien anak-anak dan lansia memiliki faktor risiko terkait

dengan kondisi fisiologis tubuh mereka. Selama pembedahan

perawat dan dokter perlu mengontrol suhu tubuh pasien dalam

rentang normal, hal ini berlaku pada bayi yang sensitif terhadap

fluktuasi suhu. Anestesi juga memiliki pengaruh besar karena

dapat menyebabkan vasodilatasi dan kehilangan panas.2

2. Nutrisi

Perbaikan jaringan normal dan resistensi terhadap infeksi

bergantung pada nutrisi yang cukup. Setelah pembedahan pasien

akan membutuhkan nutrisi sebesar 1500 kkal/hari untuk


43

mempertahankan cadangan energi. Peningkatan protein, vitamin A

dan C serta zat besi akan mempercepat penyembuhan luka

pembedahan. Apabila klien menjalani pembedahan elektif maka

dapat memperbaiki nutrisi sebelum pembedahan. Namun, jika

pasien malnutrisi harus menjalani prosedur darurat, usaha

perbaikan nutrisi dilakukan setelah pembedahan.2

3. Radioterapi

Radioterapi sering diberikan untuk menurunkan tumor

ganas sehingga tumor ganas tersebut dapat diangkat melalui

pembedahan. Radiasi memiliki efek pada jaringan normal yang

tidak dapat dihindari seperti penipisan lapisan kulit, penghancuran

kolagen dan gangguan vaskularisasi jaringan. Umumnya dokter

akan menunggu 4-6 minggu setelah radioterapi untuk melakukan

pembedahan. Apabila tidak maka pasien akan mengalami

penyembuhan luka yang serius.2

4. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Pembedahan akan direspon oleh tubuh sebagai bentuk

trauma. Akibat respon stress adenokortikal, reaksi hormonal akan

menyebabkan retensi air dan natrium serta kehilangan kalium

dalam 2-5 hari pertama setelah pembedahan. Banyaknya protein

yang pecah akan menimbulkan keseimbangan nitrogen yang

negatif. Pasien akan kehilangan cairan saat pembedahan sehingga

menimbulkan risiko hipovolemik yang berdampak pada jumlah


44

kalium. Seseorang dengan kekurangan kalium akan berpeluang

mengalami disritmia saat pembedahan.2

4) Hubungan antara Mobilisasi Dini dan Efikasi Diri pada Pasien

Pasca Bedah

Kondisi pascabedah akan membuat pasien mengalami perubahan

fisiologis yang kompleks. Pasien yang menjalani bedah mayor akan

menerima anestesi umum. Anestesi umum menyebabkan komplikasi

lebih besar daripada anestesi lokal. Komplikasi pascabedah

ditimbulkan oleh beberapa faktor seperti luka bedah, mobilisasi yang

lama, pengaruh anestesi dan analgesik.2

Masalah keperawatan yang ditimbulkan akibat pascabedah

meliputi 6 B. Masalah tersebut seperti Breathing (sistem pernapasan),

Blood (sistem kardiovaskuler), Brain (sistem saraf), Bladder (sistem

perkemihan), Bowel (sistem pencernaan) dan Bone (sistem

muskuloskeletal, integritas kulit dan luka).28 Masalah hambatan

mobilitas menjadi salah satu masalah keperawatan yang ditimbulkan

akibat pascabedah.2 Pasien pascabedah harus segera melakukan

mobilisasi dini 6 jam setelah pembedahan.3,26 Hal ini ditujukan sebagai

upaya mengurangi komplikasi pascabedah mayor.21

Faktor psikologis sangat berperan dalam proses mobilisasi dan

kontrol nyeri karena menyangkut fungsi kognisi. Satu hal yang penting

dalam kognisi adalah efikasi diri yang merupakan keyakinan diri

terhadap kemampuannya untuk melaksanakan tugas tertentu.28 Tidak


45

hanya memprediksi usaha dan ketekunan seseorang, efikasi diri secara

khusus mempengaruhi perilaku untuk mencapai tujuan yang realistis.17

Efikasi diri dapat mengurangi presentase depresi seseorang yang akan

melakukan pembedahan.41 Efikasi diri yang tinggi dapat meningkatkan

kemampuan untuk melakukan mobilisasi dini pada pasien pascabedah

digestif.13

Sumber efikasi diri merupakan kombinasi dari mastery

experience, vicarious experience, verbal persuasion, physiological and

affective states dan integrations of efficacy information yang

dibutuhkan dengan harapan untuk meningkatkan kepercayaan diri

pasien guna merubah persepsi ketidakpatuhan, ketidakmampuan diri

menjadi percaya diri dan mampu mengatur dan melakukan tindakan

lebih lanjut.11 Keyakinan yang tinggi terhadap kesehatan diharapkan

dapat mengatasi stres dan pasien akan berusaha mencapai kesembuhan

yang diharapkan atau perubahan perilaku menjadi perilaku yang

membuat stres berkurang dan efikasi diri pasien akan lebih baik

sehingga mampu meningkatkan mobilisasi dini dan komplikasi

pascaoperasi dapat diminimalisir.28 Efikasi diri dipengaruhi oleh gejala


11
tubuh dan dibentuk oleh pengalaman kinerja. Efikasi diri mungkin

ditingkatkan setelah operasi ketika pasien mengalami perbaikan

fungsional pertama mereka dan terlibat dalam program rehabilitasi.

Hal ini selanjutnya didukung oleh temuan bahwa efikasi diri pasca

bedah merupakan prediktor fungsi pada pasien ortopedi. Penelitian


46

yang dilakukan oleh Wu menyatakan bahwa efikasi diri yang tinggi

berhubungan dengan kemampuan ambulasi melalui frekuensi,

pengulangan dan jarak yang dapat ditempuh selama latihan (b = 5.344,

p < 0.001). Penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatkan informasi

emosional dan dukungan penilaian dapat meningkatkan kemandirian

pasien terhadap kemampuan fungsional pasien.12


47

B. Kerangka Teori

Faktor Efikasi Diri


1. Budaya
2. Jenis kelamin
3. Sifat dari tugas yang dihadapi
4. Insentif eksternal
5. Peran individu dalam lingkungan
6. Informasi terkait kemampuan diri

Pasca Bedah Mayor


Komplikasi Pasca Bedah Efikasi Diri
1. Sistem pernapasan Sumber efikasi diri
2. Sistem Sirkulasi 1. Mastery Experience
3. Sistem Gastrointestinal 2. Vicarious Experience
4. Sistem Genitourinaria 3. Verbal Persuasion
5. Sistem Integumen 4. Physiological and Affective States
6. Sistem Syaraf 5. Integrations of Efficacy Information
Pasien dapat memulai
nformation Aktif melakukan mobilisasi dini
secara mandiri tanpa bantuan
Mobilisasi Dini tenaga kesehatan.
Cumulated Ambulated Score
Faktor Mobilisasi Dini
1. Kemampuan mencapai dan
1. Kondisi Kesehatan Pasien Pasien dapat memulai
meninggalkan tempat tidur
2. Emosi Pasif melakukan mobilisasi dini
2. Kemampuan duduk dan berdiri
3. Gaya Hidup dengan bantuan tenaga
dari kursi
4. Dukungan Sosial kesehatan.
3. Kemampuan berjalan
5. Pengetahuan
4. Kemampuan menaiki dan
menuruni tangga

2,6,11,38-23,26-30
Gambar 1

47
48

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini menghubungkan 2 variabel yaitu

efikasi diri pasien pasca bedah mayor dan mobilisasi dini pasien pasca bedah

mayor.

Efikasi diri pasien pasca Mobilisasi dini pasien pasca


bedah mayor bedah mayor

Gambar 2

Kerangka Konsep Penelitian

B. Hipotesis

Hipotesis merupakan hasil studi mendalam atau merupakan kesimpulan

dari tinjauan pustaka yang menjadi dasar kerangka teori.42 Hipotesis

merupakan proposisi yang akan diuji keberlakuannya atau merupakan suatu

jawaban sementara atas pertanyaan penelitian. Hipotesis dalam penelitian

kuantitatif dapat berupa hipotesis satu variabel dan hipotesis dua atau lebih

variabel yang dikenal sebagai hipotesis kausal.43 Hipotesis dari penelitian ini

adalah “Ada hubungan positif antara efikasi diri dengan mobilisasi dini

pasien pasca bedah mayor di RSUD Tugurejo Semarang”.

C. Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

kuantitatif non eksperimental dengan rancangan deskriptif korelasi, penelitian

mencari hubungan antara dua variabel. Penelitian ini menggunakan

48
49

pendekatan cross sectional, suatu penelitian yang dilakukan dengan

pengamatan sesaat. Penelitian dilakukan dalam suatu periode tertentu dan

setiap objek studi hanya dilakukan satu kali pengamatan.42 Pengamatan

tersebut dilakukan pada variabel efikasi diri pasien pasca bedah dan mobilisasi

dini pasien pasca bedah. Hasil studi pendahuluan menyatakan bahwa jumlah

populasi pasien pasca bedah mayor pada bulan November sebesar 131 pasien,

bulan Desember sebesar 105 pasien dan bulan Januari sebesar 140 pasien

maka rata-rata pasien pasca bedah mayor di RSUD Tugurejo Semarang adalah

sebesar 125 pasien.

D. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi dapat berupa benda, gejala atau wilayah yang ingin diketahui

oleh peneliti. Populasi merupakan subjek penelitian yang memiliki sifat

atau ciri yang dapat diteliti.42 Populasi pada penelitian ini adalah pasien

pasca bedah yang dirawat di bangsal bedah RSUD Tugurejo Semarang

sebanyak 125 pasien.

2. Sampel Penelitian

Sampel merupakan bagian populasi yang dipilih atas dasar

kemampuan yang dimilikinya. Pengambilan sampel mengacu pada proses

pemilihan dengan cara tertentu sehingga individu dalam sampel yang

dipilih mewakili karakter keseluruhan populasi target sedekat mungkin.44

Penentuan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :


50

a. Teknik Sampling dan Besar Sampel

Teknik penentuan sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan cara

non probability sampling dengan teknik consecutive sampling. Teknik

consecutive sampling menurut Sastroasmoro & Ismail adalah

pemilihan sampel berdasarkan kriteria penelitian dimasukkan dalam

penelitian sampai kurun waktu tertentu. Rumus menghitung besar

sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.44

𝑁
𝑛=
1 + 𝑁𝑑 2

Keterangan :

n = Jumlah Sampel (Responden)

N = Jumlah Populasi

d = Margin of Error Maximum, yaitu tingkat kesalahan maksimum

yang masih bisa ditolerir (ditentukan 10%)

125
𝑛=
1 + 125. 0,12

n= 55,56

n= 56

Apabila diperkirakan terjadi drop out sebesar 10% maka besar sampel

dengan koreksi drop out adalah:

56 + (10% X 56) = 61,6 ≈ 62

Besar sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 62 responden


51

b. Kriteria Sampel

Kriteria sampel dalam penelitian dibedakan menjadi dua

macam yaitu kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi

merupakan karakteristik umum subjek penelitian yang akan diteliti.

Kriteria eksklusi merupakan karakteristik yang mengeluarkan

subjek dari penelitian karena berbagai sebab.44

1) Krieria Inklusi

a) Pasien pasca bedah

b) Usia ≥ 21-65 tahun

c) Kesadaran compos mentis

d) Pengukuran dilakukan pada 1 hari pasca bedah

2) Kriteria Ekslusi

a) Pasien yang memiliki penyakit penyerta seperti penderita

Diabetes Mellitus dan Hipertensi

b) Pasien yang menjalani pembedahan di daerah ekstremitas

E. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di ruang Anggrek dan Amarilis RSUD Tugurejo

Semarang

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan 24 Juli sampai 11 Agustus 2018


52

F. Variabel Penelitian, Definisi Operasional dan Skala Pengukuran

1. Variabel penelitian

Variabel penelitian merupakan suatu besaran yang dapat diubah atau

berubah sehingga dapat mempengaruhi peristiwa atau hasil penelitian.

Penggunaan variabel dapat mempermudah pemahaman masalah.45

a. Variabel Bebas

Variabel bebas merupakan variabel yang mampu mempengaruhi atau

menjadi sebab perubahan variabel terikat. Variabel bebas merupakan

variabel yang dimanipulasikan oleh peneliti.45 Variabel bebas dalam

penelitian ini yaitu efikasi diri pasien pasca bedah mayor.

b. Variabel terikat

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi

akibat karena variabel bebas. Variabel terikat tidak dimanipulasi

melainkan diamati sebagai hasil yang dipradugakan berasal dari

variabel bebas.45 Variabel terikat dalam penelitian ini adalah

mobilisasi dini pasien pasca bedah.


53

2. Definisi Operasional dan Skala Pengukuran

Definisi operasional dari variabel dalam penelitian ini dijelaskan dalam


tabel berikut :
Tabel 1
Variabel Penelitian, Definisi Operasional,
Alat Ukur, Hasil Ukur dan Skala Pengukuran

Karakteristik Definisi Skala


Alat ukur Hasil ukur
Responden operasional pengukuran
Usia Usia responden Kuesioner 1 : Dewasa Awal Nominal
dari awal karakteristik (21-40 tahun)
kelahiran demografi 2 : Dewasa
sampai pada Madya (41-60
saat penelitian tahun)
dilakukan. 3 : Dewasa Akhir
(>60 tahun)
Jenis Kelamin Karakteristik Kuesioner 1 : Laki-laki Nominal
demografi karakteristik 2 : Perempuan
responden demografi
berdasarkan ciri
biologis
Status pernikahan Keadaan Kuesioner 1 : Belum Nominal
responden karakteristik Menikah
lengkap demografi 2 : Menikah
tidaknya 3 : Janda/Duda
pasangan hidup
yang terikat
pernikahan
setelah menjadi
usia lanjut atau
tidak pernah
menikah selama
hidupnya
Pendidikan Jumlah tahun Kuesioner 1 : SD Ordinal
sukses karakteristik 2 : SMP
yang pernah demografi 3 : SMA/SMK
dijalani 4 : D3
responden 5 : S1
dalam jenjang 6 : Lainnya
pendidikan
formal
Pekerjaan Segala sesuatu Kuesioner 1 : Tidak bekeja Nominal
yang dahulu karakteristik 2 : Petani/
dilakukan demografi Pedagang
54

Karakteristik Definisi Skala


Alat ukur Hasil ukur
Responden operasional pengukuran
responden baik 3 : Wiraswasta
menghasilkan 4 : PNS
barang/jasa 5 : Lainnya
sehingga
menerima
imbalan/upah/ga
ji
Jenis Jenis bedah Kuesioner 1. Bedah Nominal
Pembedahan mayor yang karakteristik Abdomen
dijalani pasien demografi (Laparatomi,
kolesistektom,
appendiktomi
dengan
penyulit,
eksisi kista du
ctusthyreoglos
us)
2. Bedah
Onkologi
(mastektomi
simple,
eksterpasi
tumor
multiple/bilate
ral,multiple F
AM / FAM bil
ateral)
3. Bedah Saluran
Kemih
(nefrektomi
total/partial,
nefrefeksi,
nefrolithotom,
repair fistel
urethra,
hypospadia,
operasi
peyroni,
koreksi
priapisa,
ureteroskopi
litotrypsi,
hernia
55

Karakteristik Definisi Skala


Alat ukur Hasil ukur
Responden operasional pengukuran
bilateral,
hernia,
sirkumsisi)

Definisi Skala
Variabel Alat ukur Hasil ukur
operasional pengukuran
Variabel bebas : Efikasi diri Penilaian Hasil
efikasi diri pasien merupakan efikasi diri pengukuran
pasca bedah keyakinan menggunakan General Self
terhadap General Self Efficacy Scale
kemampuan Efficacy Scale
(GSE)
untuk (GSE) yang
melakukan menilai efikasi menggunakan
suatu tugas diri dengan 10 tendensi sentral
maupun pertanyaan dengan nilai
keyakinan untuk singkat dengan minimal 10 dan
melakukan skala likert 1-4 maksimal 40.
suatu perilaku (1 tidak setuju,
yang 2 agak setuju, 3
mendukung hampir setuju,
kesehatan 4 sangat
berdasarkan setuju). Nilai
tujuan dan minimum 10
harapan yang dan nilai
ingin dicapai. maksimum 40. Interval
Efikasi diri
memiliki tiga
domain,
magnitude,
strength dan
general.
Dimensi
magnitude
menggambarkan
perbedaan
kemampuan
seseorang dalam
menghadapi
sesuatu.
Dimensi
strength
berfokus pada
kekuatan dan
56

Karakteristik Definisi Skala


Alat ukur Hasil ukur
Responden operasional pengukuran
keyakinan
dalam
melakukan
suatu usaha.
Dimensi general
menggambarkan
sejauh mana
seseorang yakin
terhadap sesuatu
yang biasa
maupun belum
pernah
dilakukan
Variabel terikat : Mobilisasi dini Penilaian Hasil
mobilisasi dini merupakan mobilisasi dini pengukuran
pasien pasca aktivitas yang menggunakan Cumulated
bedah meliputi ROM. kuesioner Ambulated
Mobilisasi dini Cumulated Score (CAS)
merupakan Ambulated dengan
kebijakan untuk Score (CAS) menggunakan
sesegera yang menilai 3 tendensi sentral
mungkin skala aktifitas dengan nilai
membimbing fungsional minimal 0 dan
pasien turun dari dengan skor 0- maksimal 6.
tempat tidur dan 2 (0 tidak
berjalan. mampu, 1
mampu dengan Interval
bantuan, 2
mampu secara
mandiri). Nilai
minimal 0 dan
nilai maksimal
6 untuk satu
hari
pengukuran.
Nilai minimal 0
dan nilai
maksimal 18
untuk tiga hari
pengukuran.
57

G. Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data

1. Alat Penelitian

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner.

Kuesioner merupakan instrumen berupa daftar pertanyaan yang

disusun secara sistematis dan dipakai sebagai pedoman pengumpulan

data sesuai tujuan penelitian. Kuesioner digunakan oleh peneliti untuk

mendapatkan informasi dan menjadi parameter yang akan

mempengaruhi kualitas penelitian.46

a. Kuesioner Data Demografi

Kuesioner data demografi dikembangkan oleh peneliti yang

berisi identitas responden. Kuesioner ini digunakan untuk

mengetahui karakteristik responden meliputi: Jenis kelamin, usia,

pendidikan, pekerjaan dan status pernikahan.

b. Kuesioner Efikasi Diri

Kuesioner yang digunakan untuk mengukur efikasi diri pada

penelitian ini adalah GSE (General Self-Efficacy Scale) yang

dikembangkan oleh Ralf Schwarzer & Matthias Jerusalem.

Kuesioner ini terdiri dari 10 pertanyaan dengan rentang skor 1-4

pada masing-masing pertanyaan. Efikasi diri pada instrumen ini

mengukur seberapa besar efikasi diri yang dimiliki pasien.

Semakin besar total skor yang diperoleh maka semakin besar pula

efikasi diri yang dimiliki.14 Penelitian ini menggunakan GSE


58

(General Self-Efficacy Scale) untuk mengukur efikasi diri yang

dimiliki dengan 10 pertanyaan.

Tabel 2
Kisi-Kisi Kuesioner Efikasi Diri GSE (General Self-Efficacy Scale)

Variabel Dimensi Nomer Item Jumlah


Dimensi tingkat
4,6,9,10 4
(magnitude)
Dimensi
kekuatan 1,2,8 3
Efikasi Diri
(strength)
Dimensi
generalisasi 3,5,7 3
(generality)
Jumlah 10

c. Kuesioner Mobilisasi Dini

Cumulated Ambulation Score merupakan instrumen yang

dikembangkan oleh Morten Tange Kristensen, dapat digunakan

untuk pengkajian sehari-hari dalam pengembangan mobilitas

hingga mobilitas yang independen. Instrumen ini merupakan alat

yang valid untuk mengevaluasi mobilitas dasar pasien bangsal

ortopedi, dan penggunaannya direkomendasikan di Denmark untuk

pasien dengan patah tulang pinggul.38 Instrumen ini digunakan

untuk mengukur kemampuan naik ke atau beranjak dari tempat

tidur, duduk-berdiri pada kursi dan berjalan. Masing-masing

aktivitas dihitung dalam skor dari 0-2 dengan hasil berkisar antara

0-6 (dalam sehari). CAS sudah terbukti reliabel dan berguna

sebagai alat untuk memprediksi rehabilitasi atau hospitalisasi.39


59

Tabel 3
Kisi-Kisi Kuesioner Mobilisasi Dini CAS (Cumulated Ambulated Score)

Variabel Dimensi Nomer Item Jumlah


Mobilisasi Dini Aktivitas 1,2,3 3

2. Uji Validitas dan Reliabilitas

a. Uji Validitas

Sebuah instrumen dikatakan valid jika sudah melalui uji

validitas. Uji validitas merupakan cara menguji sesuatu yang bisa

diukur. Instrumen akan dikatakan valid jika instrumen tersebut

dapat mengukur sesuatu yang diukur. Alat ukur yang valid

merupakan alat ukur yang tidak menyulitkan peneliti maupun

responden.47

1) Kuesioner Efikasi Diri

Kuesioner ini menggunakan GSE (General Self-Efficacy

Scale) yang dikembangkan oleh Ralf Schwarzer & Matthias

Jerusalem. Penelitian ini menggunakan kuesioner berbahasa

Indonesia yang sudah tersedia.16 Kuesioner ini juga dilakukan

uji construct validity dengan menyebarkan instrumen

kuesioner kepada 20 responden yang berbeda dengan

responden penelitian dengan karakteristik responden yang

sama. Uji construct validity dalam penelitian ini dilakukan di

RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro, Semarang. Hasil dari uji

construct validity pada setiap pertanyaan memiliki rentang


60

nilai r = 0,574-0,808 yang nilainya melebihi r tabel sebesar

0,444.

2) Kuesioner Mobilisasi Dini

Instrumen ini merupakan alat yang valid untuk

mengevaluasi mobilitas dasar pasien bangsal ortopedi, dan

penggunaannya direkomendasikan di Denmark untuk pasien

dengan patah tulang pinggul.38 Alat ini biasanya digunakan

hari pertama pascabedah sehingga skor yang didapat dari

rentang (0-6). Namun alat ini juga dapat digunakan untuk

satu hari pengukuran dengan rentang nilai 0-18 (dalam 3

hari).39 Pada penelitian ini bahasa yang digunakan adalah

Bahasa Indonesia. Maka, kuesioner dalam versi bahasa

Indonesia perlu dilakukan uji validitas. Uji validitas yang

akan dilakukan adalah uji face validity dan construct validity.

Uji face validity dilakukan secara subjektif

berdasarkan pemikiran para ahli sesuai dengan bidangnya.48

Uji face validity dilakukan dengan melihat instrumen

kuesioner yang digunakan telah sesuai dengan tujuan

penelitian. Prosedur yang dilakukan dalam adaptasi alat ukur

adalah menterjemahkan bahasa alat ukur dengan

menggunakan teknik backward-translation atau

penerjemahan bolak-balik. Peneliti menterjemahkan bahasa

alat ukur asli kedalam Bahasa Indonesia dengan bantuan ahli


61

bahasa. Alat ukur dalam Bahasa Indonesia kemudian

diterjemahkan kembali kedalam bahasa asli alat ukur

tersebut, dan dikonsultasikan kembali kepada seorang ahli

bahasa. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya

kesalahan arti atau makna dari isi item alat ukur tersebut.

Kemudian peneliti melakukan pengujian validitas isi yaitu

melalui professional judgment atau telaah para ahli. Telaah

dilakukan oleh ahli pengukuran dan ahli bahasa.49

Alih bahasa kuesioner versi Bahasa Inggris menjadi

versi Bahasa Indonesia dilakukan oleh Bapak Asih Nurakhir,

S.Pd, sedangkan proses alih bahasa kuesioner ke dalam

Bahasa Inggris (backward translation) oleh Ibu Ns. Nana

Rochana, S.Kep.MN. Setelah uji face validity, peneliti

melakukan uji construct validity. Uji construct validity

dilakukan dengan menilai kuesioner sesuai dengan konsep

variabel yang akan diteliti. Peneliti membandingkan isi dari

kuesioner dengan konsep teori yang menyatakan bahwa

kuesioner dapat mengukur yang seharusnya diukur.49

Langkah uji construct validity dilakukan dengan

menyebarkan instrumen kuesioner kepada 20 responden yang

berbeda dengan responden penelitian dengan karakteristik

responden yang sama. Uji construct validity dalam penelitian

ini dilakukan di RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro, Semarang.


62

Hasil dari uji construct validity pada setiap pertanyaan

memiliki rentang nilai 1 yang nilainya melebihi r tabel

sebesar 0,444.

b. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui keakuratan

instrumen penelitian dan mengetahui sejauh mana pengukuran

dapat memberikan hasil yang sama apabila dilakukan oleh orang

maupun waktu yang berbeda.47 Reliabilitas menunjukkan

konsistensi dan stabilitas nilai hasil pengukuran instrumen tertentu.

1) Kuesioner Efikasi Diri

Hasil uji reabilitas dari kuesioner General Self Efficacy ini

dalam sampel 20 responden dari RSUD K.R.M.T

Wongsonegoro menunjukkan nilai reliabilitas cronbach’s α

0,924 yang menandakan bahwa kuisioner ini reliabel untuk

digunakan.

2) Kuesioner Mobilisasi Dini

Hasil dari uji reliabilitas kuesioner CAS (Cumulated

Ambulated Score) yang dilakukan pada 20 responden dari

RSUD K.R.M.T Wongsonegoro menunjukkan nilai

reliabilitas cronbach’s α 1 yang menandakan bahwa

kuisioner ini reliabel untuk digunakan. Nilai tersebut

termasuk dalam rentang 0,8-1,00 yang menunjukkan bahwa


63

kuesioner ini memiliki tingkat keandalan sangat andal untuk

digunakan dalam penelitian ini.

3. Cara Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai

berikut :

a. Pengajuan surat izin pengambilan data awal kepada Bagian

Administrasi Umum Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas

Kedokteran Universitas Diponegoro. Pengajuan surat izin

pengambilan data awal membutuhkan waktu selama 3 hari.

b. Pengajuan izin pengambilan data awal di RSUD Tugurejo

Semarang dengan membawa surat izin dari Fakultas Kedokteran

Universitas Diponegoro. Pengajuan surat izin pengambilan data

awal membutuhkan waktu selama 14 hari

c. Pengajuan permohonan Ethical Clearance dengan nomor

46/KEPK/VI/2018 di RSUD Tugurejo Semarang. Proses pengajuan

permohonan Ethical Clearance membutuhkan waktu 30 hari

d. Pengajuan surat izin pengambilan data uji validitas dan reliabilitas

kuesioner kepada Bagian Administrasi Umum Program Studi Ilmu

Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

ditujukan kepada Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Semarang dan

RSUD K.R.M.T Wongsonegoro atas rekomendasi pihak RSUD

K.R.M.T Wongsonegoro sebagai pengantar izin pengambilan data

uji validitas dan reliabilitas kuesioner. Proses permohonan surat


64

izin pengambilan data uji validitas dan reliabilitas kuesioner

membutuhkan waktu 3 hari.

e. Pengajuan permohonan surat izin pengambilan data uji validitas

dan reliabilitas kuesioner di Kesatuan Bangsa dan Politik Kota

Semarang atas rekomendasi pihak RSUD K.R.M.T Wongsonegoro

sebagai pengantar izin pengambilan data uji validitas dan

reliabilitas kuesioner. Proses permohonan surat izin pengambilan

data uji validitas dan reliabilitas kuesioner membutuhkan waktu 1

hari.

f. Pengajuan permohonan surat izin pengambilan data uji validitas

dan reliabilitas kuesioner di RSUD K.R.M.T Wongsonegoro

sebagai pengantar izin pengambilan data uji validitas dan

reliabilitas kuesioner. Proses permohonan surat izin pengambilan

data uji validitas dan reliabilitas kuesioner membutuhkan waktu 14

hari.

g. Pengajuan permohonan penelitian kepada Kepala Rawat Inap

kemudian dilanjutkan pada kepala ruang Anggrek dan Amarilis

RSUD Tugurejo Semarang. Proses permohonan surat izin

penelitian membutuhkan waktu 3 hari

h. Penelitian dilakukan setelah mendapatkan izin dari tempat

penelitian, dalam hal ini adalah RSUD Tugurejo Semarang.

i. Setelah pihak RSUD Tugurejo Semarang mengizinkan pelaksanaan

penelitian, peneliti memulai proses pengambilan data. Proses


65

pengambilan data berlangsung pada bulan 24 Juli sampai 11

Agustus 2018 di ruang Anggrek dan Amarilis RSUD Tugurejo

Semarang.

j. Peneliti mengambil sampel penelitian sebanyak 62 responden

sesuai dengan kriteria inklusi penelitian dan memulai pengambilan.

k. Responden yang memenuhi kriteria penelitian dibagikan kuesioner

penelitian. Sebelum membagikan kuesioner peneliti memberikan

penjelasan tentang informasi, tujuan dan manfaat penelitian kepada

responden dan menjelaskan bahwa penelitian tidak membahayakan

maupun merugikan responden. Setelah mendapat persetujuan dari

responden peneliti memberikan lembar informed concent untuk

ditanda tangani.

l. Peneliti memberikan lembar kuesioner pada responden dan

menjelaskan cara pengisian kuesioner kepada responden.

m. Pengumpulan kembali kuesioner dari responden setelah lengkap

terisi dan peneliti melakukan pengecekan terhadap lembar

kuesioner untuk menghindari adanya data yang kurang lengkap

n. Peneliti melakukan pengolahan dan analisa data penelitian.

H. Pengolahan dan Analisis Data

1. Pengolahan Data

Proses pengolahan data dalam penelitian dapat menggunakan

perangkat lunak dengan melalui tahap sebagai berikut:50


66

a. Editting data

Editing data merupakan proses yang dilakukan untuk menilai

kelengkapan data. Proses ini diigunakan untuk mekalukan koreksi

terhadap data yang diperoleh. Apabila terdapat yang kurang atau

tidak sesuai maka segera dilengkapi. Proses ini dilakukan pada

waktu yang sama dengan pengambilan data.50

b. Coding data

Coding data merupakan proses pengklasifikasian data yang

bertujuan untuk mempercepat proses entry data. Teknik ini akan

mempermudah proses pengolahan data dengan cara memberikan

kode pada beberapa variabel yang akan diteliti. Hasil jawaban dari

setiap pertanyaan atau penyataan diberikan kode berupa angka.50

Coding yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Data demografi

a) Usia, Dewasa Awal (21-40 tahun) diberi kode “1”,

Dewasa Madya (41-60 tahun) diberi kode “2”, Dewasa

Tengah (>60 tahun) diberi kode “3”

b) Jenis kelamin, untuk perempuan diberi kode “1” dan untuk

laki-laki diberi kode “2”

c) Status Pernikahan, belum menikah diberi kode “1” ,

menikah diberi kode “2” janda atau duda diberi kode “3”
67

d) Pendidikan, SD diberi kode “1” , SMP diberi kode “2”,

SMA diberi kode “3”, D3 diberi kode “4”, S1 diberi kode

“5”, dan lainnya diberi kode “6”.

e) Pekerjaan, tidak bekerja diberi kode “1”, petani atau

pedagang diberi kode “2”, wiraswasta diberi kode “3”,

PNS diberi kode “4” karyawan diberi kode “5”, dan

lainnya diberi kode “6”

f) Jenis Pembedahan

Jenis bedah mayor yang dijalani pasien. Bedah abdomen

diberi kode “1”, bedah onkologi diberi kode “2” dan bedah

saluran kemih diberi “3”.

c. Scoring data

Scoring data merupakan tahap pemberian nilai angka pada

setiap jawaban pertanyaan untuk memperoleh data kuantitatif.50

Penelitian ini memberikan urutan skor pada tingkatan jawaban

responden yaitu:

1) Efikasi Diri

Tidak setuju diberi kode “1”, agak setuju diberi kode “2”,

hampir setuju diberi kode “3”, sangat setuju diberi kode “4”.

2) Mobilisasi Dini

Mampu melakukan secara mandiri diberi kode “2”, mampu

melakukan dengan dibantu diberi kode “1”, tidak mampu


68

melakukan, tergantung pada orang lain (hanya mampu

beraktivitas di tempat tidur) “0”.

d. Tabulating data

Tabulating data merupakan pengorganisasian data sehingga

dapat dengan mudah dijumlah, disusun, dan ditata untuk disajikan

dan dianalisis. Peneliti melakukan tabulasi data dengan

memasukkan data ke dalam tabel yang telah disediakan. Peneliti

menggunakan perangkat lunak dengan bantuan komputer untuk

menghitung data, mengetahui distribusi frekuensi dan presentase.50

e. Entry data

Entry data merupakan proses memasukkan data ke dalam

variabel sheet menggunakan program statistik dengan komputer.

Peneliti memasukkan data berdasarkan pengkodean yang telah

dibuat sebelumnya untuk kemudian dilakukan pengolahan data.50

f. Cleaning data

Cleaning data yaitu pembersihan data untuk mencegah

kesalahan yang mungkin terjadi. Peneliti harus memeriksa kembali

seluruh proses mulai dari pengkodean dan memastikan data yang

diinput tidak terjadi kesalahan sehingga analisis dapat dilakukan

dengan tepat. Proses ini tidak mengikutsertakan nilai yang hilang

dalam analisis dan data yang tidak sesuai atau diluar range

penelitian tidak dapat diikutsertakan dalam analisis.50


69

2. Analisa Data

Peneliti menggunakan bantuan program statistik dalam melakukan

analisis data univariat atau bivariat. Berikut merupakan analisa data

penelitian :

a) Analisis Univariat

Analisa univariat merupakan suatu teknik analisis data pada

satu variabel secara mandiri. Setiap variabel yang dianalisis tidak

dikaitkan dengan variabel lainnya. Analisis univariat digunakan

untuk deskripsi data seperti rerata, median, mode, proporsi dan

seterusnya.51 Variabel yang dianalisis pada penelitian ini adalah

usia responden, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status

pernikahan, jenis kelamin, jenis pembedahan, efikasi diri dan

mobilisasi dini. Penelitian ini juga menggunakan ringkasan data

frekuensi (n) dan persen (%).47 Distribusi tiap variabel seperti usia

responden, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status pernikahan,

jenis kelamin, jenis pembedahan dihitung dengan rumus sebagai

berikut.

Keterangan:

X = nilai presentase

n = nilai yang diperoleh dari tiap kelompok

N = jumlah responden
70

Data univariat variabel efikasi diri dan mobilisasi dini ditampilkan

dalam tabel yang menampilkan nilai mean, median, standar

deviasi, minimal, maksimal dan 95%CI bentuk penyajian data

dalam analisis univariat disajikan dalam bentuk tabel dan

diintepretasikan.

b. Analisis Bivariat

Analisis bivariat merupakan teknik analisis data dengan

menggunakan tabel silang untuk menganalisis perbedaan atau

hubungan antara dua variabel. Metode ini digunakan untuk melihat

dua variabel yaitu bebas dan variabel terikat.51 Sebelum data

dianalisis, data diuji normalitas guna menentukan jenis analisa

yang akan digunakan. Data penelitian telah diuji normalitas

menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan hasil nilai

signifikansi variabel bebas (efikasi diri) 0,40 yang berarti data

berdistribusi normal dan nilai signifikansi variabel terikat

(mobilisasi dini) 0,00 yang mana kurang dari 0,05 yang berarti data

berdistribusi tidak normal.

Hal ini menandakan data penelitian tidak terdistribusi

normal, sehingga analisa statistik yang digunakan adalah statistika

non parametric dengan korelasi spearman (korelasi berjenjang).

Uji statistik non parametrik korelasi spearman berfungsi untuk

menentukan besarnya hubungan dua variabel yang berskala ordinal

atau variabel yang terditribusi tidak normal. Korelasi dapat bersifat


71

positif, yang artinya searah dengan maksud jika variabel pertama

besar maka variabel kedua besar pula. Korelasi negatif, yang

berarti berlawan arah yaitu jika variabel pertama besar, maka

variabel kedua semakin mengecil.52

Adapun rumus korelasi spearman sebagai berikut:

6 ∑ D2
rhoxy = N−(N2−1)

Keterangan :

rhoxy = Koefisien korelasi

D = Difference (perbedaan antar jenjang)/ rank

N = Jumlah responden

Agar dapat diputuskan apakah terdapat hubungan antara variabel

bebas dengan variabel terikat, maka digunakan p value yang

dibandingkan dengan tingkat kesalahan (alpha) yaitu 5% atau 0,05.

Apabila p value ≤ 0,05 maka Ho ditolak dan Ha (hipotesis peneliti)

diterima, yang berarti ada hubungan antara variabel bebas dengan

variabel terikat, sedangkan bila p value> 0,05 maka Ho diterima

dan Ha (hipotesis peneliti) ditolak yang berarti tidak ada hubungan

antara variabel bebas dengan variabel terikat.52

I. Etika Penelitian

Etika penelitian merupakan hal yang penting dalam pelaksanaan

penelitian karena penelitian keperawatan yang berhubungan langsung

dengan manusia, peneliti perlu memperhatikan hak asasi responden. Hal


72

ini menyebabkan perlunya sebuah etika dalam penelitian keperawatan.53

Penelitian diharapkan menerapkan empat prinsip sebagai berikut:

1. Autonomy

Prinsip ini menuntut peneliti untuk menghargai hak responden

dan memberikan kebebasan terhadap responden untuk berpartisipasi

dalam penelitian atau tidak. Peneliti tidak dapat memaksakan

kehendak pada responden yang menolak. Responden yang bersedia

dapat mengisi dan menandatangani informed consent. Sebelum

meminta persetujuan, peneliti harus memberikan informasi terkait

penelitian yang akan dilakukan.53

2. Benefience

Prinsip benefience menuntut peneliti untuk berusaha memberikan

manfaat sebaik-baiknya pada masyarakat khususnya responden dan

subjek penelitian. Responden diharapkan dapat mengetahui dan

mengambil manfaat terhadap judul penelitian hubungan antara efikasi

diri dengan mobilisasi dini pasien pasca bedah mayor.53

3. Confidentiality

Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah peneliti wajib menjaga

kerahasiaan responden. Segala macam data pribadi yang terkait

dengan responden tidak dapat disebarluaskan tanpa seizin responden.

Responden hanya diminta untuk mengisi inisial nama dalam penelitian

ini peneliti akan berusaha menjaga privasi responden yang

berpartisipasi.53
73

4. Nonmaleficence

Aturan dalam prinsip ini adalah peneliti dapat memastikan bahwa

penelitian tidak membahayakan pasien. Responden diberikan

informasi terkait penelitian yang tidak menimbulkan kerugian atau

bahaya bagi responden. Penelitian tidak bersifat pemberian intervensi

atau eksperimen sehingga tidak membahayakan atau mengacaukan

perawatan yang sudah disediakan oleh pihak penyedia layanan

kesehatan.53
74

BAB IV
HASIL PENELITIAN

Penelitian dilakukan pada tanggal 24 Juli 2018 hingga 11 Agustus 2018

kepada 62 responden. Responden penelitian adalah pasien pasca bedah di bangsal

perawatan bedah RSUD Tugurejo Semarang yang memenuhi kriteria penelitian.

Hasil berdasarkan kuesioner yang telah disebar adalah sebagai berikut :

A. Karakteristik Responden

Tabel 4
Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Pasca Bedah Mayor di ruang
Anggrek dan Amarilis RSUD Tugurejo Semarang Tahun 2018
(n=62)

Karakteristik Responden Frekuensi (f) Persentase (%)


Usia
21-40 (Dewasa Awal) 29 46,8
40-60 (Dewasa Madya) 26 41,9
>60 (Dewasa Akhir) 7 11,3
Jenis Kelamin
Laki-laki 43 69,4
Perempuan 19 30,6
Status Pernikahan
Belum Menikah 13 21,0
Menikah 49 79,0
Status Pendidikan
SD 23 9,1
SMP 3 14,3
SMA 25 65,6
D3 2 6,5
S1 8 4,5
Lainnya 1 1,6
Pekerjaan
Tidak Bekerja 14 22,6
Petani/Pedagang 8 12,9
Wiraswasta 7 11,3
PNS 10 16,1
Lainnya 23 37,1
Jenis Pembedahan
Bedah Abdomen 23 37,1
Bedah Onkologi 21 33,9
Bedah Saluran Kemih 18 29,0
Total 62 100

74
75

Tabel 4 menunjukkan bahwa terdapat lebih banyak responden laki-laki

sebesar 69,4% dan sebagian besar berstatus menikah, 79%. Responden

memiliki tingkat pendidikan SMA sebesar 65,6%.

B. Efikasi Diri Responden

Tabel 5
Gambaran Efikasi Diri Pasca Bedah Mayor di ruang Anggrek dan Amarilis
RSUD Tugurejo Semarang Tahun 2018
(n=62)

Std.
Mean Median Min Max 95% CI
Deviasi
Efikasi 35,76-
36,56 37 3,15 26 40
Diri 37,36

Tabel 5 menunjukkan bahwa rata-rata responden memiliki nilai efikasi diri

pasca bedah mayor sebesar 36,56 dari nilai maksimal 40 hasil ini

menyatakan bahwa nilai rata-rata mendekati nilai maksimal. Diyakini

sebanyak 95% bahwa efikasi diri berada pada rentang 35,76-37,36.

Tabel 6
Gambaran Pernyataan Efikasi Diri Pasien Pasca Bedah Mayor di ruang
Anggrek dan Amarilis RSUD Tugurejo Semarang Tahun 2018
(n=62)

Std. 95%
Pernyataan Mean Median Min Max
Deviasi CI
13,52-
Domain Magnitude 14,02 14 1,97 7 16
14,52
Dalam situasi yang
tidak terduga saya
3,39-
selalu tahu bagaimana 3,58 4,00 0,73 1,00 4,00
3,77
saya harus bertingkah
laku.
Untuk setiap problem
3,10-
saya mempunyai 3,31 3,00 0,80 1,00 4,00
3,51
pemecahan.
Juga dalam kejadian
yang tidak terduga
saya kira, bahwa saya 3,44-
3,60 4,00 0,61 2,00 4,00
akan dapat 3,75
menanganinya dengan
baik.
76

Std. 95%
Pernyataan Mean Median Min Max
Deviasi CI
Apapun yang terjadi,
3,37-
saya akan siap 3,53 4,00 0,62 2,00 4,00
3,69
menanganinya.
10,25-
Domain Strenght 10,65 11 1,56 6 12
11,04
Pemecahan soal-soal
yang sulit selalu 3,27-
3,44 4,00 0,64 2,00 4,00
berhasil bagi saya, 3,60
kalau saya berusaha.
Jika seseorang
menghambat tujuan
3,49-
saya, saya akan 3,66 4,00 0,68 2,00 4,00
3,83
mencari cara dan jalan
untuk meneruskannya.
Kalau saya
menghadapi kesulitan,
3,39-
biasanya saya 3,55 4,00 0,62 2,00 4,00
3,71
mempunyai banyak ide
untuk mengatasinya.
10,53-
Domain General 10,87 11 1,36 7 12
11,22
Saya tidak mempunyai
kesulitan untuk 3,52-
3,68 4,00 0,62 1,00 4,00
melaksanakan niat dan 3,84
tujuan saya.
Kalau saya akan
berkonfrontasi dengan
sesuatu yang baru, 3,32-
3,52 4,00 0,76 1,00 4,00
saya tahu bagaimana 3,71
saya dapat menanggu-
langinya.
Saya dapat
menghadapi kesulitan
dengan tenang, karena 3,51-
3,68 4,00 0,67 2,00 4,00
saya selalu dapat 3.85
mengandalkan
kemampuan saya.

Berdasarkan tabel 6 menunjukkan bahwa dari domain magnitude memiliki

nilai rata-rata 14,02 dari nilai maksimal 16, hasil ini menyatakan bahwa

nilai rata-rata mendekati nilai maksimal. Diyakini sebanyak 95% bahwa

pernyataan dari domain magnitude berada pada rentang 13,52-14,52.

Pernyataan dari domain magnitude yang memiliki nilai rata-rata paling

besar adalah saat pasien menjawab pernyataan “Juga dalam kejadian yang
77

tidak terduga saya kira, bahwa saya akan dapat menanganinya dengan baik”

dengan nilai rata-rata 3,60 dari nilai maksimal 4. Diyakini sebanyak 95%

bahwa pernyataan dari domain magnitude berada pada rentang 3,44-3,75.

Berikutnya pada domain strength, memiliki nilai rata-rata 10,65 dari nilai

maksimal 12 hasil ini menyatakan bahwa nilai rata-rata mendekati nilai

maksimal. Diyakini sebanyak 95% bahwa pernyataan dari domain strength

berada pada rentang 10,25-11,04. Pernyataan dari domain strength yang

memiliki nilai rata-rata paling besar adalah saat pasien menjawab

pernyataan “Jika seseorang menghambat tujuan saya, saya akan mencari

cara dan jalan untuk meneruskannya” dengan nilai 3,66 dari nilai maksimal

4. Diyakini sebanyak 95% bahwa pernyataan dari domain magnitude berada

pada rentang 3,49-3,83.

Selanjutnya pada domain general, memiliki nilai rata-rata 10,87 dari nilai

maksimal 12 hasil ini menyatakan bahwa nilai rata-rata mendekati nilai

maksimal. Diyakini sebanyak 95% bahwa pernyataan dari domain general

berada pada rentang 10,53-11,22. Pernyataan pada domain general dengan

yang memiliki nilai rata-rata paling besar adalah saat pasien menjawab

pernyataan “Saya tidak mempunyai kesulitan untuk melaksanakan niat dan

tujuan saya” dan “Saya dapat menghadapi kesulitan dengan tenang, karena

saya selalu dapat mengandalkan kemampuan saya” dengan nilai 3,68 dari

nilai maksimal 4. Diyakini sebanyak 95% bahwa pernyataan dari domain

general berada pada rentang 3,52-3,84


78

C. Mobilisasi Dini Responden

Tabel 7
Gambaran Mobilisasi Dini dan Pernyataan Mobilisasi Dini Pasien Pasca
Bedah Mayor di ruang Anggrek dan Amarilis RSUD Tugurejo Semarang
Tahun 2018
(n=62)

Std.
Mean Median Min Max 95% CI
Deviasi
Mobilisasi
2,02 0 2,53 0 6 1,37-2,66
Dini
Std.
Jenis Aktivitas Mean Median Min Max 95% CI
Deviasi
Naik ke atau
beranjak dari 0,69 0,00 0,86 0,00 2,00 0,48-0,91
tempat tidur.
Duduk-berdiri
0,69 0,00 0,86 0,00 2,00 0,48-0,91
pada kursi
Berjalan 0,63 0,00 0,83 0,00 2,00 0,42-0,84

Tabel 7 menjelaskan bahwa rata-rata pasien memiliki nilai 2,02 untuk

kemampuan mobilisasi dini pasca bedah mayor dari nilai maksimal 6 hasil

ini menyatakan bahwa nilai rata-rata menjauhi nilai maksimal. Diyakini

sebanyak 95% bahwa mobilisasi dini berada pada rentang 1,37-2,66.

Gambaran pernyataan menyatakan bahwa nilai rata-rata mobilisasi dini

pasien berada pada aktivitas duduk-berdiri dan duduk-berdiri pada kursi

pada kursi sebesar 0,69 dari nilai maksimal 2 hasil ini menyatakan bahwa

nilai rata-rata menjauhi nilai maksimal. Diyakini sebanyak 95% bahwa

aktivitas duduk-berdiri pada kursi berada pada rentang 0,48-0,91.


79

D. Hubungan antara Efikasi Diri dan Mobilisasi Dini pada Pasien Pasca Bedah

Mayor

Tabel 8
Hubungan antara Efikasi Diri dan Mobilisasi Dini Pasien Pasca Bedah
Mayor di ruang Anggrek dan Amarilis RSUD Tugurejo Semarang Tahun
2018
(n=62)

Variabel P value r
Efikasi Diri
0,172 0,181
Mobilisasi
Dini

Tabel 8 menunjukkan bahwa hasil analisa hubungan antara efikasi diri dan

mobilisasi dini pada pasien pasca bedah mayor didapatkan nilai p value =

0,172 (p > 0,05) yang menunjukkan bahwa nilai p value lebih besar

daripada nilai α. Nilai p-value > 0,05 maka pada penelitian ini H0 gagal

ditolak yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara efikasi diri

dan mobilisasi dini pada pasien pasca bedah mayor RSUD Tugurejo. Nilai

koefisien korelasi (r) didapatkan hasil yaitu 0,181. Nilai r hitung (0,181) <r

tabel (0,25) yang menunjukkan bahwa hubungan efikasi diri dan mobilisasi

dini bersifat sangat lemah atau tidak terdapat hubungan.


80

BAB V

PEMBAHASAN

Penelitian ini mengidentifikasikan hubungan antara efikasi diri dan

mobilisasi dini pada pasien pasca bedah mayor di RSUD Tugurejo. Bab ini

membahas mengenai gambaran efikasi diri, gambaran mobilisasi dini dan

hubungan antara antara efikasi diri dan mobilisasi dini pada pasien pasca

bedah mayor.

A. Gambaran Efikasi Diri

Hasil penelitian menyatakan bahwa rata-rata efikasi diri pasien pasca

bedah mayor di RSUD Tugurejo Semarang tinggi dari nilai maksimal. Hasil

ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi yang menyatakan

bahwa efikasi diri pasien pasca bedah digestive sebagian besar tinggi.13 Hal

ini juga didukung oleh penelitian Brembo yang menyatakan bahwa efikasi

diri yang dimiliki pasien pasca THR (Total Hip Replacement) memiliki rata-

rata tinggi.14 Efikasi memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan

sehari-hari, seseorang akan mampu menggunakan potensi dirinya secara

optimal apabila efikasi diri mendukungnya. Efikasi diri akan dapat

mempengaruhi usaha dan ketahanan seseorang dalam menghadapi kesulitan.

Individu yang memiliki efikasi diri tinggi akan berusaha lebih keras dan

bertahan lama pada situasi yang menekan.11

Efikasi diri juga membuat seseorang lebih aktif dalam berusaha daripada

orang yang mempunyai efikasi diri rendah dan akan lebih berani menetapkan

target atau tujuan yang akan dicapai. Efikasi diri rendah dikaitkan dengan

respon seperti meningkatnya kecemasan dan perilaku menghindar. Individu

80
81

akan menghindari aktivitas-aktivitas yang dapat memperburuk keadaan, hal

ini bukan disebabkan oleh ancaman tapi karena merasa tidak memiliki

kemampuan untuk mengelola aspek-aspek yang berisiko.11

Efikasi diri memiliki tiga domain yang terdiri dari magnitude, strength dan

general. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari domain magnitude

memiliki nilai rata-rata tinggi dari nilai maksimal. Domain magnitude

menggambarkan perbedaan kemampuan seseorang dalam menghadapi

sesuatu. Seseorang dapat menghadapi tingkat kesulitan yang tinggi

berdasarkan usaha yang dilakukan. Seseorang akan mampu melakukan

sesuatu jika individu tersebut berpikir mampu menyelesaikan masalah

tersebut.11 Pernyataan pada domain magnitude yang memiliki nilai rata-rata

paling besar adalah saat pasien menjawab pernyataan terkait keyakinan

menghadapi kejadian yang tidak terduga dengan baik. Hal ini menunjukkan

bahwa pasien memiliki harapan terhadap kemampuan yang dimiliki saat

menghadapi segala sesuatu.

Domain selanjutnya adalah domain strength yang memiliki nilai rata-rata

tinggi dari nilai maksimal. Dimensi strength berfokus pada kekuatan dan

keyakinan dalam melakukan suatu usaha. Dimensi ini menggambarkan

ketahanan seseorang dalam menghadapi suatu tekanan atau masalah tertentu.

Keyakinan yang lemah dapat dipengaruhi oleh pengalaman buruk seseorang.

Keyakinan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, meskipun

seseorang pernah merasakan kegagalan maka individu akan tetap tangguh

untuk berusaha mencapai tujuan tertentu.11


82

Pernyataan selanjutnya berasal dari domain strength yang memiliki nilai

rata-rata paling besar adalah saat pasien menjawab pernyataan terkait

keyakinan untuk mencari jalan keluar saat ada seseorang yang menghambat

tujuan. Hal ini menyatakan bahwa pasien memiliki keyakinan terhadap

kemampuannya sendiri. Efikasi diri yang tinggi akan memunculkan sikap

yakin tanpa keraguan dalam mengambil keputusan untuk mencapai tujuan

tertentu.11

Domain ketiga adalah domain general yang memiliki nilai rata-rata tinggi

dari nilai maksimal. Domain general berfokus pada harapan penguasaan

terkait pengalaman melakukan suatu usaha tertentu. Seseorang akan

menggunakan usaha yang sama pada pengalaman keberhasilan sebelumnya

terhadap sesuatu untuk mencapai keberhasilan lainnya.11 Domain ini

berkaitan dengan penguasaan pengalaman sehingga apabila pasien memilki

lebih banyak pengalaman operasi maka efikasi diri yang dimunculkan dapat

meningkat.

Pernyataan terakhir berasal dari domain general yang memiliki nilai rata-

rata paling besar adalah saat pasien menjawab pernyataan terkait keyakinan

untuk melaksanakan niat dan tujuan dan keyakinan menghadapai kesulitan

dengan tenang karena selalu mampu mengandalkan kemampuan diri sendiri.

Hal ini menggambarkan bahwa pasien memiliki penguasaan terhadap dirinya

untuk menghadapi masalah maupun kesulitan tertentu. Seseorang dengan

penguasaan diri yang baik akan mampu melakukan tujuan yang ingin dicapai

dengan melihat masalah sebagai tantangan bukan rintangan yang dapat

mengahalangi tujuannya.11
83

Berdasarkan selisih yang ditampilkan antara nilai rata-rata dan nilai

maksimal masing-masing domain efikasi diri. Efikasi diri dengan nilai selisih

paling rendah atau yang memiliki peran paling tinggi diantara tiga domain

berada pada domain general. Domain ini berkaitan dengan penguasaan

pengalaman.11 Pengalaman pasien yang menjalani operasi lebih dari satu kali

dapat mempengaruhi respon psikologis pasien dalam menghadapi proses

pembedahan ini. Pasien yang memiliki pengalaman pembedahan sebelumnya

akan terlihat lebih tenang dan memahami kondisi pasca bedah yang mereka

alami sehingga akan meningkatkan efikasi diri yang ditampilkan.

Domain selanjutnya adalah domain strength. Domain ini berfokus pada

kekuatan dan keyakinan dari diri seseorang.11 Kekuatan diri yang ditunjukkan

oleh pasien dapat disebabkan oleh kondisi fisiologis pasca bedah pada hari

pertama. Kondisi yang dimunculkan dapat berupa kelelahan, nyeri dan

hipertensi ortostatik maupun keadaan lainnya yang menyebabkan kondisi

pasien menjadi lemah. 26,27

Domain dengan selisih paling tinggi diantara tiga domain adalah domain

magnitude. Domain ini menggambarkan perbedaan kemampuan seseorang

dalam menghadapi sesuatu.11 Hal ini menunjukkan kemampuan yang dimiliki

oleh tiap pasien berbeda. Perbedaan kemampuan dapat dilihat berdasarkan

jenis pembedahan yang dilakukan pasien. Peneliti melakukan penilaian

efikasi diri pada pasien dengan jenis pembedahan yang tidak spesifik

terhadap satu jenis pembedahan. Jenis pembedahan yang diteliti meliputi

pembedahan abdomen, onkologi dan saluran kemih. Hal ini menunjukkan


84

bahwa seseorang akan memiliki efikasi diri yang berbeda dengan lainnya saat

menghadapi permasalahan yang berbeda pula.

B. Gambaran Mobilisasi Dini

Hasil penelitian pada pasien pasca bedah mayor di RSUD Tugurejo

Semarang menyatakan bahwa nilai rata-rata mobilisasi dini rendah dari nilai

maksimal. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Dewi yang menyatakan bahwa mobilisasi dini pada pasien pasca bedah

digestive berada pada tingkat kemampuan tinggi.13 Mobilisasi dini merupakan

serangkaian aktivitas yang meliputi ROM. Mobilisasi dini sebagai suatu

usaha untuk mempercepat penyembuhan sehingga terhindar dari komplikasi

akibat pembedahan terutama proses penyembuhan luka operasi. Mobilisasi

dini dilakukan dengan tujuan untuk memandirikan pasien setelah menjalani

pembedahan.3

Penelitian ini menilai mobilisasi dini meliputi tiga aktivitas seperti naik ke

atau beranjak dari tempat tidur, duduk-berdiri pada kursi dan berjalan. Nilai

rata-rata dari setiap aktivitas ini berbeda dan memiliki peran terhadap hasil

mobilisasi dini yang ditampilkan. Hasil penelitian menyatakan bahwa nilai

rata-rata mobilisasi dini pasien pada aktivitas naik ke atau beranjak dari

tempat tidur rendah dari nilai maksimal. Aktivitas ini dinilai sejak pasien

melakukan aktivitas dari terlentang di tempat tidur hingga duduk di sisi

tempat tidur, kemudian berdiri atau pindah duduk di kursi yang ditempatkan

di samping tempat tidur, dan kembali ke posisi terlentang di tempat tidur.39

Pasien yang dapat melakukan aktivitas duduk-berdiri pada kursi memiliki

rata-rata rendah dari nilai maksimal. Aktivitias ini dinilai pada posisi duduk
85

sampai berdiri sampai duduk kembali. Aktivitas ketiga yang dinilai adalah

pada saat pasien melakukan aktivitas berjalan nilai rata-rata yang ditampilkan

rendah dari nilai maksimal. Aktivitas ini dinilai saat pasien mampu berjalan

didalam ruangan.39

Nilai rata-rata yang ditunjukkan masing-masing aktivitas berbeda. Dari

ketiga aktivitas yang dinilai, aktivitas duduk-berdiri pada kursi dan duduk-

berdiri pada kursi memiliki nilai rata-rata paling tinggi. Jenis anestesi yang

berbeda tergantung jenis pembedahan yang dijalani dapat menjadi salah satu

pengaruh yang menyebabkan aktivitas tersebut memiliki nilai rata-rata yang

sama. Jenis pembedahan yang paling banyak dilakukan oleh pasien pasca

bedah mayor adalah bedah abdomen kemudian bedah onkologi dengan

jumlah yang hampir sama. Pemberian jenis anestesi diberikan berdasarkan

regio pembedahan.54 Berdasarkan dua jenis pembedahan ini pemberian

anestesi general lebih banyak digunakan.

Anestesi general merupakan tindakan menghilangkan rasa sakit secara sentral

disertai hilangnya kesadaran (reversible). Tindakan anestesi general memiliki

beberapa teknik yang dapat dilakukan yaitu dengan teknik intravena anestesi dan

anestesi general dengan inhalasi yaitu dengan face mask (sungkup muka) dan

teknik intubasi yaitu pemasangan endotrecheal tube atau dengan teknik

gabungan keduanya yaitu inhalasi dan intravena. Pasien yang mendapatkan

anestesi general dianjurkan untuk dapat makan dan minum setelah 4 jam pasca

bedah, kemudian dianjurkan untuk melakukan aktivitas seperti miring kanan-kiri

jika tidak merasa pusing. Apabila kondisi pasien semakin membaik maka pasien

dapat dipulangkan. 55
86

Anestesi spinal diinduksi dengan menyuntikkan sejumlah kecil anestesi

lokal ke dalam cairan cerebro-spinal (CSF). Injeksi biasanya dilakukan pada

tulang belakang lumbar dibawah tingkat sumsum tulang belakang berakhir

(L2). Anestesi spinal mudah dilakukan dan memiliki potensi untuk

menyediakan kondisi operasi yang sangat baik untuk operasi di bawah

umbilikus. Jenis anestesi ini tidak disarankan pada jenis pembedahan yang

membutuhkan waktu lebih dari 2 jam pembedahan.54

Hambatan mobilisasi dini yang mengganggu pasien pasca bedah hari

pertama pada tahap pertama seperti naik dan beranjak dari tempat tidur adalah

hipotensi.56 Hipotensi juga dapat diakibatkan oleh pemberian anestesi.

Hipotensi dapat terjadi dengan blok yang lebih tinggi dan dokter anestesi

harus tahu bagaimana mengelola situasi ini dengan obat-obatan resusitasi dan

peralatan yang diperlukan. Seperti halnya anestesi umum, pemantauan pasien

secara terus menerus dan ketat adalah wajib.54

Pasien dianjurkan untuk bedrest selama 24 jam setelah anestesi spinal

akan membantu mengurangi insiden sakit kepala. Pasien dapat bangun setelah

sensasi normal kembali, jika pertimbangan bedah memungkinkan. Hal ini

yang akan berpengaruh pada kemampuan mobilisasi dini pasca bedah hari

pertama dimana pada jenis anestesi ini pasien akan memulai aktivitas setelah

24 jam.54 Hal ini yang menyebabkan perbedaan kemampuan mobilisasi dini

setiap individu.

Aktivitas terakhir yang memiliki nilai rata-rata paling rendah berada pada

aktivitas berjalan. Hal ini dapat disebabkan karena pasien memerlukan

kekuatan lebih untuk berjalan. Aktivitas berjalan akan lebih sulit dilakukan
87

pada pasien pasca bedah hari pertama. Pasien pasca bedah hari pertama

dengan jenis anestesi spinal hanya akan diperbolehkan melakukan aktivitas

seperti duduk pada 24 jam pasca bedah. Setelah pasien dapat duduk,

dianjurkan untuk belajar berjalan.57

C. Hubungan antara Efikasi Diri dan Mobilisasi Dini pada Pasien Pasca

Bedah Mayor

Hasil penelitian yang dilakukan pada pasien pasca bedah mayor di RSUD

Tugurejo Semarang menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan

antara efikasi diri dan mobilisasi dini pasien pasca bedah mayor. Hasil

penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi yang

menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri dan

mobilisasi dini pasien pasca bedah digestive.13 Perbedaan yang terdapat jika

dibandingkan dengan penelitian sebelumnya terletak pada kuesioner, jenis

pembedahan dan kriteria inklusi. Kuesioner yang digunakan pada penelitian

sebelumnya merupakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh peneliti,

jenis pembedahan yang dilakukan pada penelitian ini adalah spesifik pada

satu jenis pembedahan yaitu bedah digestive, kriteria inklusi pada penelitian

sebelumnya mengharuskan pasien telah menerima edukasi mobilisasi dini pra

bedah yang sebelumnya diberikan melalui media leaflet. Penelitian ini juga

tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wu. Perbedaan yang

terdapat pada penelitian sebelumnya terletak pada kuesioner dan jenis

pembedahan. Kuesioner yang digunakan adalah self-efficacy for functional

ability (SEFA) pada pasien primary total hip replacement.12


88

Sumber-sumber efikasi diri dapat berperan terhadap mobilisasi dini.

Sumber efikasi diri terdiri dari lima sumber meliputi mastery experience,

vicarious experience, verbal persuasion, physiological and affective states,

integrations of efficacy information. Mastery experience yang berfokus pada

penguasaan pengalaman. Penguasaan pengalaman memberikan bukti yang

paling otentik apakah seseorang dapat melakukan apa pun yang diperlukan

untuk berhasil.11 Pasien yang memiliki pengalaman pembedahan lebih dari

satu kali akan memiliki penguasaan pengalaman yang lebih baik dari pasien

yang belum menjalani pembedahan sehingga dapat terlihat lebih tenang dan

tidak menunjukkan keraguan.

Sumber efikasi diri, integrations of efficacy information berfokus pada

penilaian efikasi diri seseorang akan berbeda tergantung bagaimana seseorang

menilai. Efikasi diri tinggi dapat terjadi pada individu dengan kemampuan

kognitif dan kemampuan fisik yang baik.11 Terdapat lebih banyak responden

yang memiliki pendidikan SMA. Pendidikan seseorang mempengaruhi proses

belajar. Pasien yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi cenderung lebih

memahami dan mudah menerima informasi akan pentingnya mobilisasi dini

pasca bedah.58,59 Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh

Suciawati yang menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi mobilisasi

dini salah satunya adalah pengetahuan.60

Penelitian sebelumnya dilakukan dengan kriteria inklusi pasien yang

dijadikan sampel dalam penelitian sudah mendapatkan pendidikan kesehatan

terkait mobilisasi dini dengan media leaflet.13 Berbeda dengan penelitian ini

pasien hanya mendapat arahan untuk melakukan mobilisasi dini pasca bedah.
89

Pasien tidak menerima media edukasi mobilisasi dini sehingga pasien tidak

dapat menerima informasi yang adekuat. Hal ini dapat menimbulkan

kesulitan bagi pasien untuk memulai mobilisasi dini.

Efikasi diri dapat ditingkatkan dengan persuasi verbal atau pendapat orang

lain.11 Persuasi verbal dapat dikembangkan melalui dukungan sosial.

Dukungan sosial dapat dilakukan oleh orang-orang terdekat seperti keluarga.

Pada penelitian ini, sebagian besar responden memiliki status pernikahan

menikah sehingga dapat dikaitkan dengan adanya dukungan dari pasangan

suami-istri untuk melakukan mobilisasi dini. Keluarga diharapkan mampu

untuk memberikan peran dukungan kepada pasien pasca bedah agar mampu

melakukan mobilisasi dini secara bertahap dengan baik. Dukungan keluarga

yang kurang baik dapat disebabkan oleh kuranganya pengetahuan keluarga

tentang mobilisasi sehingga mereka tidak dapat memberikan masukan

ataupun membantu pasien untuk melakukan mobilisasi dini karena takut akan

melakukan hal yang salah terhadap keluarga yang baru menjalani

pembedahan.60 Pasien yang kurang mendapat dukungan keluarga akan merasa

ragu atau terhambat dalam melakukan mobilisasi dini pasca bedah.61

Vicarious experience menggambarkan kemampuan yang dimiliki setiap

orang dalam menghadapi suatu masalah berbeda.11 Hal ini dapat berkaitan

dengan tugas perkembangan usia. Pada penelitian ini terdapat lebih banyak

usia dewasa awal yang menjalani bedah mayor. Semakin cukup umur

seseorang, akan lebih matang dalam berfikir dan bersikap sehingga

pemberian arahan terkait mobilisasi dini pada usia pasien yang masih
90

produktif akan lebih mudah. Oleh sebab itu usia pasien sangat mempengaruhi

bagaimana pasien mengambil keputusan dalam mobilisasi dini. 58

Sumber efikasi diri selanjutnya adalah physiological and affective states

yang berfokus pada respon emosional dan gejala somatik dalam

mengintrepretasikan kemampuan. Gejala somatik seperti ketegangan,

kecemasan, mood dan ketakutan dapat mempengaruhi efikasi diri. Hal ini

akan membuat seseorang menjadi lebih yakin bahwa dirinya akan gagal

melakukan sesuatu. Mengerjakan suatu kegiatan seseorang akan mengalami

sakit, kelelahan dan nyeri sebagai tanda kelemahan fisik.11

Keadaan yang sering menyebabkan pasien kurang mampu melakukan

mobilisasi antaranya adalah hipertensi ortostatik. Hipertensi ortostatik

merupakan keadaan ketika tekanan darah menurun saat pasien berubah posisi.

Ditandai dengan sakit kepala ringan, kelemahan, kelelahan, gangguan visual

dan hampir pingsan atau pingsan.27 Hal ini sejalan dengan penelitian yang

dilakukan pada pasien bedah abdomen ketika pasien memiliki tingkat

kemampuan rendah dalam aktivitas fisik yang disebabkan oleh kelelahan dan

nyeri abdomen.62 Kondisi pasien yang semakin membaik akan meningkatkan

kemampuan mereka dalam melakukan mobilisasi dini.

D. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian ini:

1. Karakteristik demografi responden seperti usia dan penyakit penyerta

seperti penderita diabetes mellitus dan hipertensi menjadi kendala yang

mempengaruhi lama penelitian.


91

2. Penelitian dilakukan tidak pada satu jenis pembedahan sehingga

menunjukkan hasil yang berbeda pada satu jenis pembedahan ke jenis

pembedahan yang lain.


92

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil penelitian yang berjudul Hubungan antara

Efikasi Diri dan Mobilisasi Dini pada Pasien Pasca Bedah Mayor di RSUD

Tugurejo Semarang adalah sebagai berikut:

1. Pasien pasca bedah mayor di RSUD RSUD Tugurejo Semarang

memiliki nilai rata-rata efikasi diri tinggi dari nilai maksimal.

2. Pasien pasca bedah mayor di RSUD RSUD Tugurejo Semarang

memiliki nilai rata-rata kemampuan mobilisasi dini rendah dari nilai

maksimal.

3. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri dan

mobilisasi dini pada pasien pasca bedah mayor di RSUD Tugurejo

Semarang.

B. Saran

1. Bagi Perawat atau Tenaga Kesehatan

Perawat atau tenaga kesehatan dapat mengembangkan faktor selain efikasi

diri seperti memberikan motivasi, dukungan sosial dan informasi. Perawat

juga dianjurkan memberikan pendidikan kesehatan terkait mobilisasi dini

pra bedah dan pasca bedah untuk meningkatkan kemampuan mobilisasi

dini pasca bedah sesuai dengan jenis anestesi yang diberikan pada pasien.

92
93

2. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi dalam bidang keperawatan

khususnya mengenai efikasi diri dan mobilisasi dini pasien pasca bedah.

3. Bagi Pasien

Pasien dapat meningkatkan faktor lain selain efikasi diri seperti motivasi,

mencari dukungan sosial dan informasi untuk meningkatkan kemampuan

mobilisasi dini guna mendukung proses penyembuhan pasien.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bagi peneliti selanjutnya

untuk mengembangkan penelitian terkait faktor yang mempengaruhi

mobilisasi dini pasca bedah.


94

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementrian KRI. Pembedahan tanggulangi 11% penyakit di dunia


[Internet]. 2015 [cited 2018 Mar 23]. Available from:
http://www.depkes.go.id/article/view/15082800002/pembedahan-
tanggulangi-11-penyakit-di-dunia.html
2. Potter PA, Perry AG. Buku ajar fundamental keperawatan konsep, proses
dan praktik. 4th ed. Ester M, Yulianti D, Parulian I, editors. Jakarta: EGC;
2006.
3. Ditya W, Zahari A, Afriwardi. Hubungan mobilisasi dini dengan proses
penyembuhan luka pada pasien pasca laparatomi di bangsal bedah pria dan
wanita RSUP dr. M. Djamil padang. J Kesehat Andalas. 2016;5(3):724–9.
4. Long BC. Perawatan medikal bedah (suatu pendekatan proses
keperawatan). Jilid 3. Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan; 2006.
5. Ardica FS, Merdawati L, Huriani E. Gambaran pelaksanaan mobilisasi
dengan pola eliminasi fekal pasien paska laparatomi. Ners J Keperawatan.
2013;9(2):190–6.
6. Subandi E. Pengaruh mobilisasi dini terhadap tingkat nyeri pada pasien
post operasi sectio caesarea di ruang melati RSUD Gunung Jati Kota
Cirebon tahun 2017. J Ilm Indones. 2017;2(5):58–74.
7. Sumarah, Marianingsih E, Kusnanto H, Haryanti W. Pengaruh mobilisasi
dini terhadap penyembuhan luka post sectio caesarea. J Involusi
Kebidanan. 2013;3(5):58–69.
8. Yager M, Stichler J. The effect of early ambulation on patient outcomes for
total joint replacement. Orthop Nurs. 2015;34(4):197–200.
9. Brunner, Suddarth. Buku ajar keperawatan medikal-bedah. 8 Vol.1.
Smeltzer SC, Bare BG, editors. Jakarta: EGC; 2002. 2303 p.
10. Bauman AE, Reis RS, Sallis JF, Wells JC, Loos RJF, Martin BW.
Correlates of physical activity: Why are some people physically active and
others not? Lancet [Internet]. 2012;380(9838):258–71. Available from:
http://dx.doi.org/10.1016/S0140-6736(12)60735-1
95

11. Bandura A. Self-efficacy: The exercise of control [Internet]. Vol. 13,


Harvard Mental Health Letter. New York: W. H. freeman & Company;
1997. p. 4. Available from:
http://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=a9h&AN=970326
0522&site=ehost-live
12. Wu K, Lee P, Chou W, Chen S, Huang Y. Relationship between the social
support and self-efficacy for function ability in patients undergoing primary
hip replacement. J Orthop Surg Res. 2018;13(150):1–8.
13. Dewi AC, Widyawati IY, Hidayati L. Self-efficacy regarding with
mobilization capabilities in digestive post surgery patients. In: The
Proceeding of 6th International Nursing Conference: Emphasize the Art of
Nursing on Research, Education into Clinical and Community Practice
[Internet]. Surabaya: Ners Unair Repository Software; 2015. Available
from: http://eprints.ners.unair.ac.id/454/
14. Brembo EA, Kapstad H, Van Dulmen S, Eide H. Role of self-efficacy and
social support in short-term recovery after total hip replacement: A
prospective cohort study. Health Qual Life Outcomes. 2017;15(1):1–10.
15. Lotfi-Kashani F, Vaziri S, Akbari ME, Kazemi-Zanjani N, Shamkoeyan L.
Predicting post traumatic growth based upon self-efficacy and perceived
social support in cancer patients. Iran J Cancer Prev [Internet].
2014;7(3):115–23. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4171829/?tool=pubmed
16. Schwarzer R, Jerusalem M. The general self-efficacy scale (GSE)
[Internet]. 2015. Available from: http://userpage.fu-
berlin.de/health/engscal.htm
17. Marks R. Self-efficacy and arthritis disability: An updated synthesis of the
evidence base and its relevance to optimal patient care. Heal Psychol Open
[Internet]. 2014;1(1):205510291456458. Available from:
http://journals.sagepub.com/doi/10.1177/2055102914564582
18. Astuti P. Pengaruh edukasi preoperasi terstruktur (dengan teori kognitif
sosial) terhadap self-efficacy dan perilaku latihan post operasi pada pasien
96

fraktur ekstremitas bawah dengan pembedahan di surabaya. Universitas


Indonesia; 2011.
19. Winarsih K. Pelaksanaan mobilisasi dini pada klien paska seksio sesarea.
JKep. 2013;1(1):77–88.
20. Black JM, Hawks JH. Medical surgical nursing; Clinical management for
positive outcomes. 7th ed. Missouri: Elsevier Saunders; 2005. 279 p.
21. Brunner, Suddarth. Buku ajar keperawatan medikal-bedah. 8 Vol.2.
Smeltzer SC, Bare BG, editors. Jakarta: EGC; 2002.
22. Ellis JR, Nowlis EA, Bentz PM. Modules for; Basic nursing skills. 6th ed.
Philadelphia: Lippincott-Raven; 1996. 492-505 p.
23. Rasnah AR. Patient early mobilization : A Malaysia ’ s study of nursing
ractices. J Intensive Crit Care. 2017;3(3:29):1–7.
24. Zomorodi M, Topley D, McAnaw M. Developing a mobility protocol for
early mobilization of patients in a surgical/trauma ICU. Crit Care Res Pr.
2012;2012(964547).
25. da Costa Torres D, dos Santos PMR, Reis HJL, Paisani DM, Chiavegato
LD. Effectiveness of an early mobilization program on functional capacity
after coronary artery bypass surgery: A randomized controlled trial
protocol. SAGE Open Med [Internet]. 2016;4:205031211668225.
Available from:
http://journals.sagepub.com/doi/10.1177/2050312116682256
26. Suddarth, Brunner. Buku ajar medikal bedah. 8th ed. Jakarta: EGC; 2002.
27. Perry GA, Potter AP. Clinical nursing skills & techniques. 6th ed. USA:
Mosby; 2006.
28. Sjamsuhidajat R, Jong W de. Buku ajar ilmu bedah. 2nd ed. Jakarta: EGC;
2005. 1-949 p.
29. Kneale JD, Davis PS, Powell M. Keperawatan ortopedik & trauma
(Orthopaedic and Trauma Nursing). 2nd ed. Hadiningsih T, Isnaeni S,
Mahayuni NPI, editors. Jakarta: EGC; 2011.
30. Kristensen MT. Hip fractures - functional assessments and factors
influencing in-hospital outcome, a physiotherapeutic perspective. 2010. 0-
97

114 p.
31. Wolk S, Meißner T, Linke S, Müssle B, Wierick A, Bogner A, et al. Use of
activity tracking in major visceral surgery — the enhanced perioperative
mobilization ( epm ) trial : study protocol for a randomized controlled trial.
Trials. 2017;18(77):1–7.
32. Mannocci A, Thiene D Di, Cimmuto A Del, Masala D, Boccia A, Vito E
De, et al. International physical activity questionnaire: validation and
assessment in an italian sample. Ital J Public Health [Internet].
2012;7(4):369–76. Available from: http://ijphjournal.it/article/view/5694
33. Craig CL, Marshall AL, Sjostrom M, Bauman AE, Booth ML, Ainsworth
BE, et al. International physical activity questionnaire: 12-Country
reliability and validity. Med Sci Sports Exerc. 2003;35(8):1381–95.
34. The IPAQ Group. International physical activity questionnaire. IPAQ
Website [Internet]. 2015; Available from:
https://sites.google.com/site/theipaq/home
35. Bakirhan S, Unver B, Karatosun V. The effect of femoral stem length on
inpatient rehabilitation outcomes. Am J Clin Med Res [Internet].
2013;1(1):9–14. Available from:
http://pubs.sciepub.com/ajcmr/1/1/4/index.html
36. Bakırhan S. Effects of two different continuous passive motion application
protocols on total knee arthroplasty patients’ functional activities during
their stay in the hospital. ACTA Orthop Traumatol Turc [Internet].
2015;49(5):497–502. Available from:
http://www.aott.org.tr/index.php/aott/article/view/3122/3946
37. Benedetti MG, Franchignoni F, Morri M, Franchini N, Natali E, Giordano
A. Rasch analysis of the iowa level of assistance scale in patients with total
hip and knee arthroplasty. Int J Rehabil Res. 2014;37(2):118–24.
38. Kristensen MT, Jakobsen TL, Nielsen JW, Jorgensen LM, Nienhuis RJ,
Jonsson LR. Cumulated ambulation score to evaluate mobility is feasible in
geriatric patients and in patients with hip fracture. Dan Med J. 2012;59(7).
39. Tange M, John D. Cumulated ambulation score (CAS), english version ,
98

manual and score-sheet . Res Gate. 2015;(January).


40. Gusty RP. Pengaruh mobilisasi dini pasien pasca operasi abdomen terhadap
penyembuhan luka dan fungsi pernafasan. Ners J Keperawatan.
2011;7(2):106–13.
41. Damri, Engkizar, Anwar F. Hubungan self-efficacy dan prokrastinasi
akademik mahasiswa dalam menyelesaikan tugas perkuliahan. J Edukasi.
2017;3(1):74–95.
42. Machfoedz I. Metodologi penelitian bidang kesehatan, keperawatan,
kebidanan, kedokteran. Yogyakarta: Fitramaya; 2009.
43. Prasetyo B, Jannah LM. Metode penelitian kuantitatif, teori dan aplikasi.
Jakarta: Rajawali Pers; 2014.
44. Dempsey PA, Dempsey AD. Riset keperawatan: Buku ajar dan latihan. 4th
ed. A D, editor. Jakarta: EGC; 2004.
45. Siyoto S, Sodik A. Dasar metodologi penelitian. Ayup, editor. Yogyakarta:
Literasi Media; 2015.
46. Budiharto. Metode penelitian kesehatan dengan contoh bidang ilmu
kesehatan gigi. Juwono L, Maryam NS, editors. Jakarta: EGC; 2006.
47. Danim S. Riset Keperawatan: Sejarah dan metodologi. Ester M, editor.
Jakarta: EGC; 2003.
48. Hastono SP, Sabri L. Statistik kesehatan. 1st ed. Jakarta: Rajawali Pers;
2011.
49. Eriyanto. Analisis isi: Pengantar metodologi untuk penelitian ilmu
komunikasi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. 1st ed. Jakarta: Prenadamedia
Group; 2015.
50. Sumantri A. Metodologi penelitian kesehatan. 1st ed. Murodi, Ekayanti F,
editors. Jakarta: Kencana Prenada Media Group; 2011.
51. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. 3rd ed.
Jakarta: Sagung Seto; 2010.
52. Notoadmojo S. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta;
2005.
53. Nursalam. Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan:
99

pedoman skripsi, tesis, dan instrumen penelitian keperawatan. Jakarta:


Salemba Medika; 2008.
54. Gloucester CA, Casey WF. Spinal Anaesthesia - A Practical Guide. E-Safe
2Nd Ed 2017, 8 Th Artic [Internet]. 2010;(12):1–14. Available from:
http://e-safe-
anaesthesia.org/e_library/07/Spinal_anaesthesia_a_practical_guide_Update
_2000.pdf
55. Raymer K. Understanding Anesthesia A Learner ’ s Handbook. 2013.
56. Haines KJ, Skinner EH, Berney S. Association of postoperative pulmonary
complications with delayed mobilisation following major abdominal
surgery: An observational cohort study. Physiother (United Kingdom).
2013;99(2):119–25.
57. Kasdu D. Solusi Problem Persalinan. I. Rozaline H, editor. Jakarta: Puspa
Swara; 2005. 76 p.
58. Ratmiwasi C, Utami S, Agritubella SM. Pengaruh Promosi Kesehatan
Mobilisasi Dini Terhadap Pelaksanaan Mobilisasi Dini Pada Ibu
Postpartum Sc Di Rspb Pekanbaru. J Endur [Internet]. 2017;2(3):346–53.
Available from: http://doi.org/10.22216/jen.v2i3.1640
59. Sriharyanti DE, Ismonah, Arif S. Pengaruh Mobilisasi Dini ROM terhadap
Pemulihan Peristaltik Usus pada Pasien Paska Pembedahan. Ilmu
Keperawatan dan kebidanan. 2016;2(5):239–47.
60. Suciawati A. Faktor-faktor yang berhubungan dengan mobilisasi dini
pasien post sectio caesarea di rsia amc metro in lampung. 2017;3:196–202.
61. Hartati S, Setyowati, Afiyanti Y. Faktor-faktor yang mempengaruhi ibu
postpartum pasca seksio sesarea untuk melakukan mobilisasi dini di
RSCM. J Keperawatan. 2014;5(2):192–7.
62. Jønsson LR, Ingelsrud LH, Tengberg LT, Bandholm T, Foss NB,
Kristensen MT. Physical performance following acute high-risk abdominal
surgery: A prospective cohort study. Can J Surg. 2018;61(1):42–9.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Izin Penggunaan Kuesioner GSE

Izin Penggunaan Kuesioner


Lampiran 2. Izin Penggunaan Kuesioner CAS

Izin Penggunaan Kuesioner


Lampiran 3. Surat permohonan dan persetujuan sebagai responden penelitian

PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN


(INFORMED CONSENT)

Berikut ini naskah yang akan disampaikan oleh peneliti


Berisi penjelasan apa yang akan dialami oleh responden (diwawancarai dan
diambil data)
Kepada Yth. Bapak/Ibu/Saudara/Saudari
Calon Responden Penelitian
Di tempat
Perkenalkan nama saya Nur Aas Aisah, mahasiswa Departemen Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro angkatan 2014. Guna
mendapatkan gelar Sarjana Keperawatan, maka salah satu syarat yang ditetapkan
yaitu menyusun skripsi atau penelitian. Penelitian yang akan saya lakukan
berjudul “Hubungan antara Efikasi Diri dan Mobilisasi Dini pada Pasien Pasca
Bedah Mayor ”.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan antara
efikasi diri dan mobilisasi dini pada pasien pasca bedah mayor. Saya memohon
dengan kerendahan hati kepada Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk dapat mengisi
kuesioner selama kurang lebih 10 menit.
Penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan efikasi diri (keyakinan
diri) dan mobilisasi dini pasien pasca bedah mayor sehingga dapat diketahui
hubungan antara keduanya setelah dianalisa. Selain itu, penelitian ini juga
diharapkan dapat digunakan sebagai bentuk refleksi responden mengenai sejauh
mana efikasi diri pasien pasca bedah mayor yang dimiliki dalam melakukan
mobilisasi dini pasca bedah mayor.
Penelitian yang saya lakukan ini bersifat sukarela dan tidak ada unsur
paksaan. Responden berhak mengudurkan diri sewaktu-waktu saat penelitian
masih berlangsung. Bersama ini saya menyampaikan permohonan kesediaan
Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Data
dan informasi yang didapat dalam penelitian ini akan dijamin kerahasiaannya,
yaitu identitas subjek penelitian tidak akan dicantumkan hanya inisial saja dan
akan saya gunakan untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan ilmu
pengetahuan. Penelitian ini tidak menimbulkan resiko bagi responden karena
peneliti tidak memberikan intervensi atau perlakuan tertentu kepada responden.
Selama proses penelitian, peneliti menggunakan alat penelitian berupa kuesioner
yang akan diisi oleh responden dan dibantu peneliti apabila terdapat informasi
yang kurang jelas.
Apabila ada informasi yang belum jelas, Bapak/Ibu/Saudara/Saudari dapat
menghubungi saya, a.n. Nur Aas Aisah, Mahasiswa Departemen Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, nomor handphone
083836103407. Demikian penjelasan dari saya. Terima kasih atas perhatian dan
kerjasama Bapak/Ibu/Saudara/Saudari dalam penelitian ini.
Demikian permohonan ini saya sampaikan, terima kasih atas partisipasi
dan kerja sama Bapak/Ibu/Saudara/Saudari dalam penelitian ini.
Semarang, ……………..2018
Peneliti

Nur Aas Aisah


Lembar Persetujuan Menjadi Responden

Setelah mendengar dan memahami penjelasan penelitian, dengan ini saya


menyatakan
SETUJU/TIDAK SETUJU*
Untuk menjadi responden/wali responden sampel dalam penelitian ini
*coret yang tidak perlu

Semarang, ………..2018
Saksi :

(………………………..) (………………………..)
Nama terang : Nama terang :
Alamat : Alamat :
Lampiran 4. Kuesioner penelitian : Data demografi responden

KUESIONER
HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DENGAN MOBILISASI DINI
PASIEN PASCA BEDAH MAYOR DI RSUD TUGUREJO SEMARANG

Petunjuk Umum :
Kuesioner terdiri dari 3 bagian meliputi :
a. Karakteristik Responden merupakan data diri pengisi kuesioner
b. Kuesioner Efikasi Diri yaitu berisi tentang pernyataan-pernyataan yang
menggambarkan efikasi diri responden
c. Kuesioner Mobilisasi Dini yaitu berisi tentang pernyataan yang
menggambarkan kemampuan mobilisasi dini
d. Berilah tanda centang (√) pada salah satu kolom yang mendeskripsikan
jawaban anda
Karakteristik Responden
a. Umur :
b. Jenis Kelamin :
c. Status Pernikahan : Laki-laki Perempuan
Menikah
Janda/Duda

SD D3
d. Pendidikan :
SMP S1

SMA Lainnya……..

Tidak bekerja Petani/Pedagang


e. Pekerjaan :

PNS Karyawan
f. Jenis Pembedahan :
Wiraswasta Lainnya……

Bedah Abdomen Bedah Saluran Kemih

Bedah Onkologi
Lampiran 5. Kuesioner penelitian : Kuesioner Efikasi Diri

Petunjuk :
Bacalah setiap pernyataan dan beri tanda centang (√) di sebelah kanan pernyataan
yang sesuai dengan bagaimana perasaan Anda saat Ini
No Pertanyaan Tidak Agak Hampir Sangat
Setuju Setuju Setuju Setuju
1. Pemecahan soal-soal yang sulit
selalu berhasil bagi saya, kalau
saya berusaha.
2. Jika seseorang menghambat tujuan
saya, saya akan mencari cara dan
jalan untuk meneruskannya.
3. Saya tidak mempunyai kesulitan
untuk melaksanakan niat dan tujuan
saya.
4. Dalam situasi yang tidak terduga
saya selalu tahu bagaimana saya
harus bertingkah laku.
5. Kalau saya akan berkonfrontasi
dengan sesuatu yang baru, saya
tahu bagaimana saya dapat
menanggulanginya.
6. Untuk setiap problem saya
mempunyai pemecahan.
7. Saya dapat menghadapi kesulitan
dengan tenang, karena saya selalu
dapat mengandalkan kemampuan
saya.
8. Kalau saya menghadapi kesulitan,
biasanya saya mempunyai banyak
ide untuk mengatasinya.
9. Juga dalam kejadian yang tidak
terduga saya kira, bahwa saya akan
dapat menanganinya dengan baik.
10 Apapun yang terjadi, saya akan
siap menanganinya.
Lampiran 6. Kuesioner penelitian : Mobilisasi Dini

Petunjuk :
Bacalah setiap pernyataan dan beri tanda centang (√) di sebelah kanan pernyataan
yang sesuai dengan bagaimana biasanya perasaan anda atau pada umumnya
Nama: ............... Penyebab Masuk RS: ....................
Rating-scheme for the Cumulated Ambulation Score (CAS)
Skor CAS (0-2 poin) – Lihat petunjuk untuk info lebih detail.
(2) Mampu melakukan dengan aman, tanpa bantuan manusia atau isyarat verbal.
(1) Mampu melakukan dengan bantuan manusia dan / atau isyarat verbal dari satu orang atau
lebih.
(0) Tidak mampu melakukan, meskipun diberikan bantuan manusia dan isyarat verbal
(misalnya tidak dapat meninggalkan tempat tidur).
Tingkat Tanggal / / / / / / / / / / Hari
kemampuan pulang
sebelum masuk dari RS
RS
Naik ke dan beranjak
dari tempat tidur.
Duduk-berdiri pada
kursi
Berjalan
Alat bantu jalan
(walker) tinggi beroda
Alat bantu jalan
(walker)
Rollator / alat bantu
jalan dengan empat
roda
Tongkat / kruk
Berjalan tanpa alat
bantu
Skor CAS harian (0-6)
Berjalan di tangga
Skor harian CAS dalam satu hari (0–6 poin) untuk mobilitas dasar adalah skor yang dihitung
dari tiga aktivitas, yakni naik ke dan beranjak dari tempat tidur (0-2), duduk-berdiri-duduk
pada kursi (0-2) dan skor berjalan (0-2) menggunakan alat bantu jalan (jika diperlukan) yang
memberikan peringkat tertinggi pada suatu hari tertentu.

Selain itu, menaiki / menuruni tangga dapat dinilai dengan sistem yang sama, tetapi tidak
termasuk dalam skor total, karena bukan merupakan bagian dari definisi mobilitas dasar.
Skor CAS dalam tiga hari (0-18 poin) = Hari pasca operasi 1 + 2 + 3 = __________________
Lampiran 7. Surat Permohonan Izin Pengkajian Data Awal
Lampiran 8. Surat Rekomendasi Permohonan Izin Pengkajian Data Awal
Lampiran 9. Surat Permohonan Alih Bahasa Kuesioner Cumulated Ambulation

Score (CAS)
Lampiran 10. Surat Permohonan Backward Translate Cumulated Ambulation Score
(CAS)
Lampiran 11. Surat Permohonan Izin Penelitian Kesbangpol Semarang
Lampiran 12. Tanda Terima Pemberitahuan Penelitian Kesbangpol Semarang
Lampiran 13. Surat Permohonan Ethical Clearance RSUD Tugurejo Semarang
Lampiran 14. Surat Keterangan Ethical Clearance RSUD Tugurejo Semarang
Lampiran 15. Surat Permohonan Izin Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner di
RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang
Lampiran 16. Surat Keterangan Izin Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner dari
RSUD K.R.M.T Wongsonegoro
Lampiran 17. Surat Permohonan Izin Penelitian di RSUD Tugurejo Semarang
Lampiran 18. Surat Keterangan Izin Penelitian dari RSUD Tugurejo Semarang
Lampiran 19. Tabulasi Hasil Uji Valid dan Reliability Kuesioner Penelitian
1. Hasil uji validitas kuesioner penelitian: General Self-Efficacy Scale (GSE)
Correlations

p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9 p10 Total

Pearson
1 .730** .697** .554* .757** .601** .771** .253 .207 .788** .660**
Correlation
p1
Sig. (2-tailed) .000 .001 .011 .000 .005 .000 .282 .382 .000 .002
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20

Pearson
.730** 1 .636** .685** .718** .642** .636** .257 .180 .769** .677**
Correlation
p2
Sig. (2-tailed) .000 .003 .001 .000 .002 .003 .275 .449 .000 .001
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20

Pearson
.697** .636** 1 .795** .963** .863** .623** .304 .186 .559* .729**
Correlation
p3
Sig. (2-tailed) .001 .003 .000 .000 .000 .003 .192 .431 .010 .000
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20

Pearson
.554* .685** .795** 1 .825** .919** .502* .295 .206 .613** .778**
Correlation
p4
Sig. (2-tailed) .011 .001 .000 .000 .000 .024 .207 .383 .004 .000
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
Pearson
.757** .718** .963** .825** 1 .894** .608** .357 .250 .633** .808**
Correlation
p5
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000 .004 .122 .288 .003 .000
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20

Pearson
.601** .642** .863** .919** .894** 1 .553* .383 .176 .558* .802**
Correlation
p6
Sig. (2-tailed) .005 .002 .000 .000 .000 .011 .096 .458 .011 .000
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20

Pearson
.771** .636** .623** .502* .608** .553* 1 .241 .295 .593** .667**
Correlation
p7
Sig. (2-tailed) .000 .003 .003 .024 .004 .011 .307 .207 .006 .001
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20

Pearson
.253 .257 .304 .295 .357 .383 .241 1 .408 .321 .528*
Correlation
p8
Sig. (2-tailed) .282 .275 .192 .207 .122 .096 .307 .074 .168 .017
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20

Pearson
.207 .180 .186 .206 .250 .176 .295 .408 1 .087 .582**
Correlation
p9
Sig. (2-tailed) .382 .449 .431 .383 .288 .458 .207 .074 .714 .007
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
Pearson
.788** .769** .559* .613** .633** .558* .593** .321 .087 1 .574**
Correlation
p10
Sig. (2-tailed) .000 .000 .010 .004 .003 .011 .006 .168 .714 .008
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20

Pearson
.660** .677** .729** .778** .808** .802** .667** .528* .582** .574** 1
Tota Correlation
l
Sig. (2-tailed) .002 .001 .000 .000 .000 .000 .001 .017 .007 .008
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

r tabel = 0,444
2. Hasil uji reliabilitas kuesioner penelitian: General Self-Efficacy Scale (GSE)
Reliability Statistics
Cronbach's N of Items
Alpha
.924 10

3. Hasil uji validitas kuesioner penelitian: Cumulated Ambulation Scale


(CAS)
Correlations
p1 p2 p3 Total
Pearson
1 1.000** 1.000** 1.000**
Correlation
p1
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000
N 20 20 20 20
Pearson
1.000** 1 1.000** 1.000**
Correlation
p2
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000
N 20 20 20 20
Pearson
1.000** 1.000** 1 1.000**
Correlation
p3
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000
N 20 20 20 20
Pearson
1.000** 1.000** 1.000** 1
Correlation
Total
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000
N 20 20 20 20
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
r tabel = 0,444
4. Hasil uji reliabilitas kuesioner penelitian: Cumulated Ambulation Scale
(CAS)
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items

1.000 3
Lampiran 20. Tabulasi Data
1. Tabulasi data hasil uji validitas dan relibialitas kuesioner penelitian: General
Self-Efficacy Scale (GSE)
No P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 Total
1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
2 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 38
3 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 37
4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 36
5 1 2 1 1 1 1 1 3 3 2 30
6 4 3 3 3 3 3 4 4 3 4 36
7 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 37
8 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 38
9 4 4 2 2 2 2 4 3 3 4 34
10 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 34
11 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 38
12 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 35
13 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 39
14 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
15 4 3 3 1 3 2 4 3 4 3 35
16 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 38
17 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 39
18 3 4 3 3 3 3 4 3 3 4 36
19 3 4 3 3 3 3 4 4 4 3 37
20 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 38

2. Tabulasi data hasil uji validitas dan relibialitas kuesioner penelitian :


Cumulated Ambulation Score (CAS)
No P1 P2 P3 Total
1 2 2 2 6
2 0 0 0 0
3 0 0 0 0
4 1 1 1 3
5 2 2 2 6
6 2 2 2 6
7 0 0 0 0
8 0 0 0 0
9 0 0 0 0
10 0 0 0 0
11 0 0 0 0
12 0 0 0 0
13 0 0 0 0
No P1 P2 P3 Total
14 2 2 2 6
15 1 1 1 3
16 2 2 2 6
17 2 2 2 6
18 0 0 0 0
19 0 0 0 0
20 0 0 0 0

3. Tabulasi distribusi frekuensi demografi pasien pasca bedah mayor

Jenis Kelamin

Pembedahan
Pernikahan

Pendidikan

Pekerjaan
Status

Jenis
Usia
No

1 1 2 1 3 1 1
2 3 1 2 1 2 3
3 2 1 2 5 4 3
4 1 2 2 3 5 1
5 3 1 2 1 2 3
6 1 1 2 4 4 2
7 2 1 2 1 5 3
8 3 1 2 1 2 1
9 1 1 2 3 5 2
10 1 1 1 3 5 1
11 2 1 2 6 5 1
12 1 1 1 3 4 1
13 1 1 2 3 5 2
14 2 1 2 1 1 3
15 1 2 2 5 5 2
16 1 1 2 4 1 1
17 1 1 2 5 5 1
18 1 1 1 3 5 1
19 1 2 2 3 5 2
20 1 2 1 3 1 1
21 1 2 2 5 1 2
22 1 2 1 5 5 2
23 1 1 1 3 1 1
24 2 1 2 3 4 3
25 2 1 2 3 4 3
26 2 1 2 1 4 3
27 2 1 2 3 4 2
28 1 1 1 3 4 2
29 1 1 2 3 5 2
30 2 1 2 3 4 3
31 2 1 2 3 5 3
32 2 2 2 1 4 3
33 2 1 2 1 2 3
34 1 1 2 3 3 2
Jenis Kelamin

Pembedahan
Pernikahan

Pendidikan

Pekerjaan
Status

Jenis
Usia
No

35 2 2 2 1 2 2
36 2 1 2 1 5 3
37 2 1 2 1 2 3
38 2 2 2 3 1 2
39 1 1 2 2 2 2
40 2 2 2 3 1 3
41 2 1 2 1 5 2
42 2 1 2 1 3 3
43 1 1 1 3 5 1
44 3 1 2 2 2 2
45 3 1 2 1 1 1
46 1 2 2 1 5 1
47 3 2 2 1 1 1
48 1 1 2 5 3 3
49 2 1 2 1 5 1
50 1 2 1 5 5 1
51 3 2 2 1 1 1
52 2 2 2 1 5 2
53 1 1 1 2 5 1
54 2 2 2 1 3 2
55 2 2 2 1 1 1
56 1 1 2 1 3 1
57 1 1 1 3 1 2
58 1 1 1 5 3 1
59 2 1 2 1 5 3
60 1 1 2 3 5 2
61 2 2 2 3 1 1
62 2 1 2 3 3 2

4. Tabulasi Hasil Penelitian: Distribusi Frekuensi Efikasi Diri Pasien Pasca


Bedah Mayor
No P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 Total
1 4 1 4 4 4 3 4 4 4 4 36
2 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 39
3 4 4 3 4 3 1 3 2 3 4 31
4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 39
5 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 39
6 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
7 4 3 4 4 4 3 4 3 4 4 37
8 4 4 3 2 2 3 4 3 2 4 31
9 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
10 4 4 4 3 3 3 2 4 2 4 33
No P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 Total
11 4 4 4 3 2 4 2 4 3 2 32
12 4 3 4 4 4 3 4 3 4 4 37
13 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 38
14 4 4 3 3 3 3 2 3 2 4 31
15 4 3 1 4 4 3 2 3 3 4 31
16 4 4 4 3 3 3 2 3 4 4 34
17 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 38
18 4 4 4 4 1 1 4 4 4 4 34
19 4 3 4 4 4 4 2 2 3 4 34
20 3 4 2 4 4 4 4 4 4 4 37
21 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 39
22 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 38
23 4 1 4 1 3 2 2 2 3 4 26
24 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
25 4 4 3 4 3 3 4 3 3 4 35
26 4 4 4 3 3 3 3 3 4 4 35
27 2 4 4 4 3 4 4 3 4 4 36
28 4 4 4 2 1 1 4 2 2 4 28
29 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 39
30 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 39
31 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
32 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 37
33 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 38
34 4 4 3 4 4 3 4 3 3 4 36
35 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 39
36 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
37 4 4 3 2 2 3 4 3 3 4 32
38 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
39 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 37
40 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
41 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 37
42 4 3 3 4 4 3 4 4 4 4 37
43 4 4 3 4 4 1 4 3 3 4 34
44 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
45 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 37
46 4 4 3 4 4 3 4 3 3 4 36
47 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 38
48 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 38
49 4 4 4 4 3 4 4 3 3 4 37
No P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 Total
50 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 38
51 4 4 4 4 4 3 4 3 3 4 37
52 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3 37
53 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
54 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 39
55 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 39
56 4 4 4 3 3 3 4 3 4 4 36
57 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40
58 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 37
59 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 38
60 4 4 4 1 1 4 4 4 4 4 34
61 3 3 3 3 3 4 3 4 4 4 34
62 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 39

5. Tabulasi Hasil Penelitian: Distribusi Frekuensi Mobilisasi Dini Pasien Pasca


Bedah Mayor
No P1 P2 P3 Total
1 0 0 0 0
2 1 1 1 3
3 1 1 1 3
4 0 0 0 0
5 0 0 0 0
6 2 2 2 6
7 0 0 0 0
8 0 0 0 0
9 2 2 2 6
10 0 0 0 0
11 0 0 0 0
12 0 0 0 0
13 2 2 2 6
14 0 0 0 0
15 2 2 2 6
16 2 2 2 6
17 0 0 0 0
18 0 0 0 0
19 0 0 0 0
20 2 2 2 6
21 1 2 2 5
22 2 2 1 5
No P1 P2 P3 Total
23 0 0 0 0
24 0 0 0 0
25 1 1 1 3
26 0 0 0 0
27 2 2 2 6
28 0 0 0 0
29 1 1 1 3
30 0 0 0 0
31 0 0 0 0
32 0 0 0 0
33 0 0 0 0
34 0 0 0 0
35 0 0 0 0
36 0 1 0 1
37 0 0 0 0
38 2 2 2 6
39 0 0 0 0
40 0 0 0 0
41 2 2 2 6
42 1 1 1 3
43 0 0 0 0
44 2 2 2 6
45 0 0 0 0
46 1 1 1 3
47 1 1 1 3
48 1 1 1 3
49 1 1 0 2
50 0 0 0 0
51 0 0 0 0
52 2 2 2 6
53 0 0 0 0
54 0 0 0 0
55 0 0 0 0
56 0 0 0 0
57 2 2 2 6
58 0 0 0 0
59 1 1 0 2
60 2 2 2 6
61 1 1 1 3
No P1 P2 P3 Total
62 2 2 2 6
Lampiran 21. Hasil Uji Normalitas
1. Hasil uji normalitas kuesioner penelitian: General Self-Efficacy Scale (GSE)

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Efikasi
Diri
N 62
a,b Mean 1.5932
Normal Parameters
Std. Deviation .95501
Absolute .114
Most Extreme Differences Positive .114
Negative -.106
Kolmogorov-Smirnov Z .895
Asymp. Sig. (2-tailed) .400
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.

2. Hasil uji normalitas kuesioner penelitian: Cumulated Ambulation Score


(CAS)
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Mobilisasi Dini
N 62
a,b Mean 1.7275
Normal Parameters
Std. Deviation .99974
Absolute .313
Most Extreme Differences Positive .235
Negative -.313
Kolmogorov-Smirnov Z 2.467
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Lampiran 22. Hasil Analisa Data
1. Analisa Data Univariat
a. Karakteristik responden pasien pasca bedah mayor di ruang perawatan
bedah RSUD Tugurejo Semarang
Statistics
Usia Jenis Status Pendidikan Pekerjaan Jenis
Kelamin Pernikahan Pembedahan
Valid 62 62 62 62 62 62
N
Missing 0 0 0 0 0 0

Usia
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Dewasa Awal 29 46.8 46.8 46.8
Dewasa Madya 26 41.9 41.9 88.7
Valid
Dewasa Akhir 7 11.3 11.3 100.0
Total 62 100.0 100.0

JenisKelamin
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Laki-laki 43 69.4 69.4 69.4
Valid Perempuan 19 30.6 30.6 100.0
Total 62 100.0 100.0

StatusPernikahan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Belum Menikah 13 21.0 21.0 21.0
Valid Menikah 49 79.0 79.0 100.0
Total 62 100.0 100.0

Pendidikan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
SD 23 37.1 37.1 37.1
SMP 3 4.8 4.8 41.9
SMA 25 40.3 40.3 82.3
Valid D3 2 3.2 3.2 85.5
S1 8 12.9 12.9 98.4
Lainnya 1 1.6 1.6 100.0
Total 62 100.0 100.0
Pekerjaan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Tidak Bekerja 14 22.6 22.6 22.6
Petani/Pedagang 8 12.9 12.9 35.5
Wiraswasta 7 11.3 11.3 46.8
Valid
PNS 10 16.1 16.1 62.9
Lainnya 23 37.1 37.1 100.0
Total 62 100.0 100.0

JenisPembedahan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Bedah Abdomen 23 37.1 37.1 37.1
Bedah Onkologi 21 33.9 33.9 71.0
Valid
Bedah Saluran Kemih 18 29.0 29.0 100.0
Total 62 100.0 100.0

b. Gambaran efikasi diri pasien pasca bedah mayor di ruang perawatan


bedah RSUD Tugurejo Semarang
Descriptives
Statistic Std. Error
Mean 36.56 .400
95% Confidence Interval for Lower Bound 35.76
Mean Upper Bound 37.36
5% Trimmed Mean 36.83
Median 37.00
Variance 9.922
Efikasi
Std. Deviation 3.150
Diri
Minimum 26
Maximum 40
Range 14
Interquartile Range 4
Skewness -1.229 .304
Kurtosis 1.395 .599
c. Gambaran efikasi diri berdasarkan pernyataan pasien pasca bedah
mayor di ruang perawatan bedah RSUD Tugurejo Semarang
Descriptives
Statistic Std. Error
Mean 3.44 .082
95% Confidence Interval for Lower Bound 3.27
Mean Upper Bound 3.60
5% Trimmed Mean 3.48
Median 4.00
Variance .414
PG1 Std. Deviation .643
Minimum 2
Maximum 4
Range 2
Interquartile Range 1
Skewness -.706 .304
Kurtosis -.472 .599
Mean 3.66 .086
95% Confidence Interval for Lower Bound 3.49
Mean Upper Bound 3.83
5% Trimmed Mean 3.73
Median 4.00
Variance .457
PG2 Std. Deviation .676
Minimum 2
Maximum 4
Range 2
Interquartile Range 0
Skewness -1.768 .304
Kurtosis 1.632 .599
Mean 3.68 .079
95% Confidence Interval for Lower Bound 3.52
Mean Upper Bound 3.84
5% Trimmed Mean 3.77
Median 4.00
Variance .386
PG3 Std. Deviation .621
Minimum 1
Maximum 4
Range 3
Interquartile Range 1
Skewness -2.199 .304
Kurtosis 5.399 .599
Mean 3.58 .094
95% Confidence Interval for Lower Bound 3.39
Mean Upper Bound 3.77
5% Trimmed Mean 3.68
PG4 Median 4.00
Variance .543
Std. Deviation .737
Minimum 1
Maximum 4
Range 3
Interquartile Range 1
Skewness -1.941 .304
Kurtosis 3.627 .599
Mean 3.52 .097
95% Confidence Interval for Lower Bound 3.32
Mean Upper Bound 3.71
5% Trimmed Mean 3.61
Median 4.00
Variance .582
PG5 Std. Deviation .763
Minimum 1
Maximum 4
Range 3
Interquartile Range 1
Skewness -1.660 .304
Kurtosis 2.439 .599
Mean 3.31 .102
95% Confidence Interval for Lower Bound 3.10
Mean Upper Bound 3.51
5% Trimmed Mean 3.40
Median 3.00
Variance .642
PG6 Std. Deviation .801
Minimum 1
Maximum 4
Range 3
Interquartile Range 1
Skewness -1.409 .304
Kurtosis 2.234 .599
Mean 3.68 .085
95% Confidence Interval for Lower Bound 3.51
Mean Upper Bound 3.85
5% Trimmed Mean 3.75
Median 4.00
Variance .452
PG7 Std. Deviation .672
Minimum 2
Maximum 4
Range 2
Interquartile Range 0
Skewness -1.856 .304
Kurtosis 1.921 .599
Mean 3.55 .079
95% Confidence Interval for Lower Bound 3.39
Mean Upper Bound 3.71
5% Trimmed Mean 3.61
Median 4.00
Variance .383
PG8
Std. Deviation .619
Minimum 2
Maximum 4
Range 2
Interquartile Range 1
Skewness -1.047 .304
Kurtosis .102 .599
Mean 3.60 .078
95% Confidence Interval for Lower Bound 3.44
Mean Upper Bound 3.75
5% Trimmed Mean 3.66
Median 4.00
Variance .376
PG9 Std. Deviation .613
Minimum 2
Maximum 4
Range 2
Interquartile Range 1
Skewness -1.266 .304
Kurtosis .594 .599
Mean 3.53 .079
95% Confidence Interval for Lower Bound 3.37
Mean Upper Bound 3.69
5% Trimmed Mean 3.59
Median 4.00
Variance .384
PG10 Std. Deviation .620
Minimum 2
Maximum 4
Range 2
Interquartile Range 1
Skewness -.980 .304
Kurtosis -.028 .599

d. Gambaran mobilisasi dini dan pernyataan pasien pasca bedah mayor di


ruang perawatan bedah RSUD Tugurejo Semarang

Descriptives
Statistic Std. Error
Mean .6935 .10929
95% Confidence Interval for Lower Bound .4750
Mean Upper Bound .9121
5% Trimmed Mean .6595
Median .0000
Variance .741
PC1 Std. Deviation .86059
Minimum .00
Maximum 2.00
Range 2.00
Interquartile Range 2.00
Skewness .646 .304
Kurtosis -1.346 .599
Mean .6935 .10929
PC2 95% Confidence Interval for Lower Bound .4750
Mean Upper Bound .9121
5% Trimmed Mean .6595
Median .0000
Variance .741
Std. Deviation .86059
Minimum .00
Maximum 2.00
Range 2.00
Interquartile Range 2.00
Skewness .646 .304
Kurtosis -1.346 .599
Mean .6290 .10597
95% Confidence Interval for Lower Bound .4171
Mean Upper Bound .8409
5% Trimmed Mean .5878
Median .0000
Variance .696
PC3 Std. Deviation .83438
Minimum .00
Maximum 2.00
Range 2.00
Interquartile Range 1.00
Skewness .800 .304
Kurtosis -1.084 .599
Mean 2.0161 .32153
95% Confidence Interval for Lower Bound 1.3732
Mean Upper Bound 2.6591
5% Trimmed Mean 1.9068
Median .0000
Variance 6.410
TOTALPC Std. Deviation 2.53171
Minimum .00
Maximum 6.00
Range 6.00
Interquartile Range 5.00
Skewness .689 .304
Kurtosis -1.273 .599

2. Analisa Data Bivariat


Correlations
Efikasi Mobilisasi Dini
Diri
Correlation Coefficient 1.000 .172
Efikasi Diri Sig. (2-tailed) . .181
N 62 62
Spearman's rho
Correlation Coefficient .172 1.000
Mobilisasi Dini Sig. (2-tailed) .181 .
N 62 62
Lampiran 23. Jadwal Konsultasi

Jadwal Konsultasi

No Tanggal Materi konsultasi Dosen Keterangan


1. 17 November Konsultasi BAB I Chandra Bagus
2017 Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
2. 29 November konsultasi BAB I (revisi I) Chandra Bagus
2017 Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
3. 4 Desember Konsultasi BAB I (ganti judul) Chandra Bagus
2017 Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
4. 12 Desember Konsultasi BAB I (revisi I) Chandra Bagus
2017 Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
5. 19 Desember Konsultasi BAB I (revisi II) Chandra Bagus
2017 Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
6. 9 Januari 2018 Konsultasi BAB II Chandra Bagus
Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
7. 19 Januari 2018 Konsultasi BAB II (revisi I) Chandra Bagus
Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
8. 6 Februari 2018 Konsultasi BAB I dan BAB II Chandra Bagus
Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
9. 15 Februari 2018 Konsultasi BAB III Chandra Bagus
Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
10. 27 Februari 2018 Konsultasi BAB III (revisi I) Chandra Bagus
Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
11. 28 Februari 2018 Konsultasi BAB I – BAB III Chandra Bagus
Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
12. 30 Maret 2018 Konsultasi Revisi BAB III Chandra Bagus
(setelah ujian seminar Ropyanto,
proposal) S.Kp.,M.Kep
13. 27 April 2018 Konsultasi Revisi BAB III Chandra Bagus
(setelah ujian seminar Ropyanto,
proposal) S.Kp.,M.Kep
14. 28 Mei 2018 Konsultasi Revisi BAB III Chandra Bagus
(setelah ujian seminar Ropyanto,
proposal) S.Kp.,M.Kep
15. 27 Agustus 2018 Konsultasi BAB IV-VI Chandra Bagus
Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
16. 28 Agustus 2018 Konsultasi BABBIII-BAB IV Chandra Bagus
Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
17. 29 Agustus 2018 Konsultasi BAB 1-BABIV Chandra Bagus
No Tanggal Materi konsultasi Dosen Keterangan
Ropyanto,
S.Kp.,M.Kep
18. 30 Agustus 2018 Konsultasi BAB 1-BABIV Chandra Bagus
ACC review untuk seminar Ropyanto,
hasil S.Kp.,M.Kep
Lampiran 24. Catatan Hasil Konsultasi

Catatan Hasil Konsultasi

Hari/Tanggal : Jumat, 17 November 2017


Catatan : bedah mayor yang berdampak pada kecemasan, urgensi
kecemasan, kejadian pasca bedah, faktor kecemasan terhadap mobilisasi dini,
waktu mobilisasi dini
Paraf

Hari/Tanggal : Rabu, 29 November 2017


Catatan : judul skripsi sudah ada, sehingga disarankan untuk
mengganti variabel penelitian
Paraf

Hari/Tanggal : Senin, 4 Desember 2017


Catatan : kondisi bedah mayor yang berdampak pada mobilisasi dini,
urgensi mobilisasi dini, rumusan masalah yang menonjolkan fenomena
masalah mulai dari penjelasan kondisi pasca bedah mayor
Paraf

Hari/Tanggal : Selasa, 12 Desember 2017


Catatan : latar belakang bukan kumpulan tinjauan pustaka melainkan
fenomena sehingga lebih dimunculkan fenomena. Memunculkan bedah
mayor, efek, masalah, komplikasi, mobilisasi dini.
Paraf
Hari/Tanggal : Selasa, 19 Desember 2017
Catatan : menyebutkan komplikasi mobilisasi dini yang tidak hanya
nyeri, penulisan sesuai dengan EYD Bahasa Indonesia, menyebutkan
hubungan mobilisasi dini dengan efikasi diri.
Paraf

Hari/Tanggal : Selasa, 9 Januari 2018


Catatan : teknik penyuntingan, penjelasan sub bab variabel. Bagian
rumusan masalah memunculkan fenomena terkait mobilisasi dini dan
hubungan mobilisasi dini dengan efikasi diri.
Paraf

Hari/Tanggal : Jumat, 19 Januari 2018


Catatan : rekomendasi pemilihan alat ukur variabel, penyuntingan,
arah panah dan konten kerangka teori.
Paraf

Hari/Tanggal : Rabu, 6 Februari 2018


Catatan : lanjut ke BAB III
Paraf
Hari/Tanggal : Jumat, 15 Februari 2018
Catatan : arah panah kerangka konsep, kriteria sampel; inklusi dan
ekslusi yang lebih dikerucutkan, definisi operasional; hasil ukur dari alat
ukur efikasi diri dan mobilisasi dini, teknik penyuntingan, nilai validitas dan
reliabilitas variabel.
Paraf

Hari/Tanggal : Selasa, 27 Februari 2018


Catatan : penyuntingan latar belakang, memunculkan hubungan antara
efikasi diri dengan mobilisasi dini, memasukkan studi pendahuluan di latar
belakang, penyuntingan rumusan masalah.
Paraf

Hari/Tanggal : Rabu, 28 Februari 2018


Catatan : penghitungan jumlah sampel dan penandatanganan lembar
persetujuan. Penyuntingan kriteria sampel, inklusi dan eksklusi, variabel
karakteristik demografi dengan menambahkan variabel “jenis pembedahan”,
hasil ukur pada alat ukur variabel.
Paraf

Hari/Tanggal : Jumat, 30 Maret 2018


Catatan : Perbaikan BAB I-III, sitasi, daftar pustaka

Paraf
Hari/Tanggal : Jumat, 27 April 2018
Catatan : Perbaikan BAB I-III, sitasi, daftar pustaka

Paraf

Hari/Tanggal : Senin, 28 Mei 2018


Catatan : Perbaikan BAB I-III, sitasi, daftar pustaka

Paraf

Hari/Tanggal : Senin, 27 September 2018


Catatan : Konsul BAB IV- BAB VI

Paraf

Hari/Tanggal : Senin, 28 September 2018


Catatan : Konsultasi kuesioner

Paraf

Hari/Tanggal : Senin, 29 September 2018


Catatan : Konsul BAB IV- BAB VI

Paraf
Lampiran 25. Jadwal Penelitian
NOVEMBER DESEMBER JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER
NO KEGIATAN
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Penentuan topik

2 Pengkajian data awal

3 Penentuan judul

4 Bimbingan proposal

5 Seminar proposal

6 Perbaikan proposal

8 Pembuatan ethical

clearance

9 Uji validitas dan

reliabilitas

10 Pengajuan izin

penelitian

11 Pengambilan data

12 Bimbingan laporan

hasil penelitian

13 Seminar hasil

penelitian

14 Perbaikan laporan

hasil penelitian

15 Artikel penelitian