Anda di halaman 1dari 15

SEDIAAN PREPARAT AWETAN POLEN DAN SPORA

LAPORAN PRAKTIKUM
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Mikroteknik
yang dibimbing oleh Dr. Sulisetijono, M.Si dan Dra. Nursasi Handayani, M.Si

Disusun oleh:
Offering GHI-Kesehatan/Kelompok 1 :
Sinta Dwi Wulansari 160342606221

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI S1 BIOLOGI
Maret 2019
I. Topik
Sediaan Preparat Awetan Polen dan Spora.

a. Waktu Pelaksanaan Praktikum


Hari/Tanggal : Rabu, 06 Maret 2019
Pukul : 07.00 s/d 11.20 WIB (jam ke 1-5)
Tempat : Laboratorium Mikroteknik Lantai III gedung 05. 304
Jurusan Biologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Malang
b. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk :
1. Membuat preparat polen dan spora dengan metode asetolisis.
2. Membuat deskirpsi spora dan polen spesimen.
3. Membandingkan polen berbagai tumbuhan.
4. Mengidentifikasi faktor-faktor penunjang pembuatan preparat secara
asetolisis agar memperoleh sediaan yang baik.

II. Dasar Teori


Ilmu tentang polen dan spora disebut palinologi yang umumnya lebih
terfokus pada struktur dinding (Erdtman, 1969). Daya tahan polen sangat tinggi
karena memiliki eksin yang keras dan secara kimia tidak mudah hancur oleh
aktifitas mikroba, tingkat salinitas, kondisi basah, oksigen rendah, dan
kekeringan (Moore et al., 1991). Bukti palinologi merupakan salah satu bukti
tradisional yang digunakan dalam penyusunan sistematika tumbuhan. Selain
ukuran dan bentuk, ciri polen adalah tipe, jumlah dan posisi apertur serta
arsitektur dinding. Ciri morfologi polen tersebut semakin meningkat
penggunaannya dalam taksonomi, terutama untuk mengoreksi kembali
hubungan kekerabatan antara satu tumbuhan dengan tumbuhan lainnya dalam
kelompok - kelompok takson (Erdtman, 1969). Menurut Kapp (1969),
penyusunan kunci identifikasi polen didasarkan pada ciri morfologi polen yang
tampak dan tidak didasarkan pada kelompok taksonomi. Berbagai variasi polen
dapat digunakan untuk mengetahui arah evolusi suatu tumbuhan (Moore etal.,
1991), sifat polen yang mudah melekat pada berbagai benda membantu dalam
penyelidikan kriminal, sedangkan kandungan protein, karbohidrat dan zatzat
lainnya yang tinggi mempengaruhi kualitas madu (Bhojwani dan Bhatnagar,
1978). Hasil penelitian menunjukkan pula bahwa polen adalah penyebab utama
alergi pernafasan. Selain itu juga dapat menunjang beberapa data antara lain
kriminologi, medis dan melittopalinologi yaitu studi kandungan polen dalam
madu (Bhojwani dan Bhatnagar, 1978).
Bentuk spora beragam, spora tetrahedral dengan pematang-pematang
menjari tiga yang jelas menjadi ciiri khas sebagian besar spesies Lycopsida,
sedangkan spora yang bilateral adalah ciri khas Psilotum dan Tmesipteris.
Spora Equisetum untik karena mempunyai empat tonjolan mirip pita, disebut
elater, yang berkembang pada permukaan setiap spora. Elater bersifat
higroskopis, yang melilit sekeliling spora apabila udara lembab dan mebentang
jika udara kering (Sulisetijono, 2010).
Spora yang masak pada tumbuhan paku sering memperlihatkan berbagai
tipe pahatan dinding spora mempunyai makna taksonomi. Pada kelompok
tumbuhan paku tertentu sangat maju mempunyai makna taksonomi. Pada
kelompok tumbuhan paku tertentu yang sangat maju mempunyai timbunan
khusus yang disebut perispora yang terdapat pada dinding spora. Dinding plen
yang tebal disertai bentukan duri, lempengan, pematang dan sebagainya
menjadikan ciri khas butir polen spesies yang berbeda. Polen pada pinus dan
beberapa tumbuhan berkornus lainnya bersayap (Sulisetijono, 2010).
Morfologi polen, dan juga spira snagat beragam dan dapat dipergunakan
untuk menentukan jenis tumbuhan yang menghasilkan polen/spora tersebut.
Ukuranya yang demikian kecil dan diproduksi dalam jumlah yang snagat besar
memungkinkan polen/spora dapat tersebar hingga ke tempat yang sangat jauh
dan luas. Dindingnya yang sangat kuat memungkinkan polen/spora dapat
bertahan lama bahkan kemungkinan memfosil menjadi besar. Polen/spora
memiliki dua lapis dinding yaitu dinding luar yang disebut eksin dan dinding
dalam yang disebut intin. Permukaan dinding luar/eksin mempunyai semacam
hiasan atau ornamen. Ornamen tersebut dapat berupa spina atau duri pada eksin
echinatus (echinate) atau berupa spinula atau duri kecil. Dapat pula berupa pila
atau batang kecil dengan ujung berupa bola, eksin piliferus (Sulisetijono,
2010).
Permukaan eksin ada yang mempunyai lubang/ lekuk (pits), eksin
scrobiculatus; ada yang berparit (streaks) atau parit yang membentuk jala,
eksin reticulatus. Namun ada juga polen/spora yang permukaan eksinnya tidak
mempunyai tonjolan, duri atau apapun juga sebagai ornamen, polen semacam
ini dinamai psilatum. Eksin polen/ spora kuat sehingga tidak mdah rusak.
Ornamen eksin tersebut dapat dipertahankan pada preparat awetan yang dibuat
dengan metoda asetolisis (Sulisetijono, 2010).

III. Alat dan Bahan


Alat : Bahan :
1. Vial (flacon) 1. Sporofil tumbuhan paku
2. Sentifuse manual 2. Antera
3. Penangas air 3. Polen
4. Pipet tetes 4. Spora
5. Beaker glass 5. Asam cuka glasial
6. Jarum preparat 6. Asam asesat anhidrida
7. Gelas ukur 7. Asam sulfat pekat
8. Neraca 8. Alkohol 50%
9. Batang kaca pengaduk 9. Alkohol 70%
10. Kaca benda 10. Alkohol 80%
11. Lampu spiritus 11. Alkohol 90%
12. Tabung reaksi 12. Alkohol absolut
13. Penjepit tabung 13. Alkohol : xylol = 3 : 1
14. Pinset 14. Alkohol : xylol = 2 : 2
15. Mikroskop cahaya 15. Alkohol : xylol = 1 : 3
16. Xylol
17. Balsam kanada
18. Tisu
19. lap
IV. kayu Prosedur Kerja
A. Persiapan

Disiapkan semua alat dan bahan kimia yang diperlukan untuk


pembuatan preparat polen dan spora dengan metode asetolisis

D
Disiapkan sporofil tumbuhan paku yang telah jelas mempuntyai sorus
i
s
Disiapkan anthera bunga yang telah
i dimasak, sehingga polennya
mudah dilepaskana dari kotak sari.
p
Disediakan via (flacon) dan dimasukkan
k ke dalamnya anthera atau
bagian tumbuhan yang mengandunga spora. Hendaknya satu vial untuk
satu jenis bahan, diberi label. Diisin asam cuka glasial hingga bahan
terendam. Dibiarkanssedikitnya 24 jam.
p
B. Tahap Pemrosesan
o
Dipindahkan isi vial yang berupa rendaman anthera dan spora kedalam
r
tabung centrifuge. Kemudian dipusing. Buanglah cairannya. Demikian
o
pula serpihan-serpihan yang besar dengan menggunakan pinset.
f
Endapan jangan sampai ikut terbuang.
i
l
Disediakan campuran asetat anhidrida dan asam sulfat pekat dengan
t
perbandingan 9 : 1 (asam asetat dituangkan ke anhidrida!), dituangkan
u
campuran kedalam tabung sentrifuge yang telah berisi polen/spora.
m
b
Dipanaskan tabung sentrifuge tadi memakai penangas air, mulai suhu
kamar sampai mendidih. Setiap kali di kocok dan diaduk dengan
menggunakan batang kaca. Dihentikan pemanasan jika sudah
mendidih. Dikeluarkan tabung dari penangas air dan biarkan dingin
kurang lebih 15 menit.
Dipusing dan dibuang cairanya, diganti dengan akuades kemudian
dikocok. Diganti akuades ini beberapa kali, tetapi jangan lupa setiap
kali akan membuang akuades pencuci tabung harus dipusing terlebih
dahulu.

Dicek dibawah mikroskop. Bila nampak masih terlalu gelap harus


dilakukan bleaching (pengelantangan, pemutihan) dengan
menambahkan ke dalamnya 2 ml asam cuka glasial + 2-3 tetes Natrium
khlorat + 2-3 tetes HCl pekat. Bleaching kira-kira 30 menit, kemudian
dicuci dengan akuades beberapakali.

Dibuang akuades dan diganti dengan larutan safranin dalam alkohol


50%. Dibiarkan selama 15 menit.

Diganti berturut-turut dengan interval waktu masing-masing 2-5 menit


dengan : alkohol 70%, alkohol 80%, alkohol 96%, alkohol absolut,
campuran alkohol : xylol = 3 : 1, campuran alkohol : xylol = 2 : 2,
campuran alkohol : xylol = 1 : 3, dan xylol murni.

Diganti dengan xylol murni lagi (xylol kedua) dan dipindahkan ke vial
yang ebrsih dan kering. Ditambahkan ke dalamnya 1-2 tetes balsam
kanada. Ditutup rapat dan diberi label. Kemudian diamati di bawah
mikroskop.

V.
VI. Analisis Data
Metode yang digunakan pada praktikum pembuatan preparat awetan polen
dan spora menggunakan metode Asetolisis. Pada metode ini, menggunakan
sporofil tumbuhan paku yaitu paku tanduk rusa (Platycerium), paku sarang
burung (Asplenium), paku leyat (Phymatodes), paku suplir (Adiantum), paku
Pteris biaurita, paku Pteris vitatta, anthera bunga antara lain Bunga Widelia,
Bunga Matahari (Heliantus), bunga sepatu (Hibiscus), bunga kertas
(Bougainvillea), Bunga Euphorbia, Tempuyung (Sonchus), Gletang (Tridax
procumbens), dan bunga bakung (Lilium).
Polen atau serbuk sari merupakan bagian bunga yang berupa kantung berisi
gametofit jantan pada tumbuhan berbunga Anthophyta baik Gymnospermae
(Pinophyta) maupun Angiospermae (Magnoliophyta) (Puspaningrum, 2008),
sedangkan spora biasanya dihasilkan tumbuhan non vaskuler seperti alga,
jamur, lumut serta tumbuhan vaskuler tingkat rendah lain yaitu tumbuhan
lumut (Bryophyta) dan paku (Pteridophyta) (Suedy, 2012). Polen dan spora
berasal dari tumbuhan yang hidup pada suatu lingkungan tertentu, sehingga
dapat digunakan untuk merekonstruksi flora dan vegetasi yang berada
disekelilingnya (Suedy, 2012 ).
Praktikum pembuatan preparat polen dan spora. Disiapkan sporofil
tumbuhan paku yang telah jelas mempuntyai sorus, Disiapkan anthera bunga
yang telah dimasak, sehingga polennya mudah dilepaskan dari kotak sari.
Disediakan via (flacon) dan dimasukkan ke dalamnya anthera atau bagian
tumbuhan yang mengandung spora. Hendaknya satu vial untuk satu jenis
bahan, diberi label. Diisi asam cuka glasial hingga bahan terendam. Dibiarkan
sedikitnya 24 jam. kemudian Dipindahkan isi vial yang berupa rendaman
anthera dan spora kedalam tabung centrifuge. Kemudian dipusing. Buanglah
cairannya. Demikian pula serpihan-serpihan yang besar dengan menggunakan
pinset. Endapan jangan sampai ikut terbuang.
setelah itu Disediakan campuran asetat anhidrida dan asam sulfat pekat
dengan perbandingan 9 : 1 (asam asetat dituangkan ke anhidrida!), dituangkan
campuran kedalam tabung sentrifuge yang telah berisi polen/spora. kemudian
Dipanaskan tabung sentrifuge tadi memakai penangas air, mulai suhu kamar
sampai mendidih. Setiap kali di kocok dan diaduk dengan menggunakan batang
kaca. Dihentikan pemanasan jika sudah mendidih. Dikeluarkan tabung dari
penangas air dan biarkan dingin kurang lebih 15 menit.
tahap selanjutnya adalah Dipusing dan dibuang cairanya, diganti dengan
akuades kemudian dikocok. Diganti akuades ini beberapa kali, tetapi jangan
lupa setiap kali akan membuang akuades pencuci tabung harus dipusing
terlebih dahulu. Dicek dibawah mikroskop. Bila nampak masih terlalu gelap
harus dilakukan bleaching (pengelantangan, pemutihan) dengan
menambahkan ke dalamnya 2 ml asam cuka glasial + 2-3 tetes Natrium khlorat
+ 2-3 tetes HCl pekat. Bleaching kira-kira 30 menit, kemudian dicuci dengan
akuades beberapakali dan Dibuang akuades dan diganti dengan larutan safranin
dalam alkohol 50%. Dibiarkan selama 15 menit. setelah itu Diganti berturut-
turut dengan interval waktu masing-masing 2-5 menit dengan : alkohol 70%,
alkohol 80%, alkohol 96%, alkohol absolut, campuran alkohol : xylol = 3 : 1,
campuran alkohol : xylol = 2 : 2, campuran alkohol : xylol = 1 : 3, dan xylol
murni. Diganti dengan xylol murni lagi (xylol kedua) dan dipindahkan ke vial
yang ebrsih dan kering. Ditambahkan ke dalamnya 1-2 tetes balsam kanada.
Ditutup rapat dan diberi label. Kemudian diamati di bawah mikroskop dengan
perbesara yang di pakai pada perbesaran 400x.
Hasil yang teramati dari preparat polen Bunga Widelia, Polen berbentuk
angular, echinate ornamentasi eksin berbentuk duri. Colporate, zono. Pada plen
Bunga sepatu (Helbiscus), Polen memiliki ornamentasi berbentuk silinder
tinggi dan ramping, inapertura, bentuk circular, polypantoporat, dengan pola
ornamentasi ekinat. Polen bunga kertas (Bougainvillea), permukaan eksin
baculate, ornamentasi berbentuk silinder tinggi dan ramping. Tricolporate.
Pada Bunga Euphorbia, Polen berbentuk inter-heksagonal dengan ekuatorial
tampak sirkular/oval, arpentura tipe colporate, posisi apertura zono, psilate.
Pada Tempuyung (Sonchus), Polen berbentuk semi-lobate, triporate,
mempunyai 3 sorus apertura berbentuk porus. Unsur ornamentasi verucate.
Pada Gletang (Tridax procumbens), Polen memiliki ornamentasi achinate,
berbentuk duri. Poricical circular oval. Periporate dengan sorus >3 terletak
menyebar dan pada bunga bakung (Lilium). Apertura polen tipe monoculpate
yaitu 1 apertura yang berbentuk colpus. Dengan ornamentasi polen
isodiametrik/bintik ukuran <1 mikrometer. Bentuk polen oblate circular oval.
Bunga Matahari (Heliantus), permukaan eksin echinate ornamentasi berbentuk
duri. Tricolporate.
Hasil yang teramati dari preparat paku tanduk rusa (Platycerium), Spora
memiliki leasura monolete, tidak memiliki apertura. Ornamentasi eksin psilate
atau seluruh permukaan halus, rata dan licin tidak berelief dan yang kedua
Spora memiliki apertura berjumlah 1 berbentuk colpus (monoculate). Dengan
ornamentasi pada eksin tipe psilate. Seluruh permukaan halus, rata dan licin
tidak berelief. pada paku sarang burung (Asplenium), Ornamentasi spora
berbentuk isodiametrik/bintik ukuran < 1 mikrometer. Jumlah leasura
monolate, plano-convex. pada paku leyat (Phymatodes), spora tidak tampak
karena amish dilindungi sporangium. Pada paku suplir (Adiantum), Spora
berbentuk segitiga (prolat), ukuran sedang, apertura berjumlah 3, dengan tiper
apertura colporate, posisinya zono. Ornamen eksin gundukan dengan granula.
Memiliki 3 apertura gabungan colpus-porus. psilate. dan paku Aduiantum yang
ke dua Spora berbentuk segitiga (prolat), ukuran sedang, apertura berjumlah 3,
dengan tiper apertura colporate, posisinya zono. Ornamen eksin gundukan
dengan granula. Tricolporate, memiliki 3 apertura gabungan porus-colpus.
Pada paku Pteris biaurita, Spora berbentuk segitiga (prolat), ukuran sedang,
apertura berjumlah 3, dengan tipe apertura colporate, posisinya zono. Ornamen
eksin gundukan dengan granula. Monocolpate, memiliki 1 apertura berbentuk
colpus dan pada paku Pteris vitatta Spora membentuk ornamentasi seperti jala
(Reticulate). Berbentuk intruding angular.

VII. Pembahasan
Praktikum pembuatan preparat polen dan spora dengan metode asetolisis,
Dilakukan pewarnaan safranin untuk melihat penebalan dinding selnya. Sel
tersusun dari dinding sel dan inti sel. Dinding sel yang telah mengalami
penebalan sekunder. Dinding sekunder mengandung lignin yang memeiliki
afinitas tinggi terhadap zat warna safranin, sehingga sel yang berdinding
sekunder memperlihatkan dinding sel berwarna merah pada preparat. Safranin
larut dalam air. Karena itu untuk pencucian kelebihan warna safranin pada
spesimen dapat disusci dengan air.
Polen berada dalam antera tepatnya dalam kantung yang disebut teka. Polen
merupakan perkembangan mikrosporosit (sel induk mikrospora) yang mengalami
meiosis serta sitokenesis menghasilkan sel mikrospora haploid tersususn tetrad
yang dapat terpisah menjadi monad. Inti sel mikrospora akan mengalami mitosis
menghasilkan inti sel generatif dan inti sel vegetatif (Foster and Gifford, 1973).
Polen adalah sel mikrospora yang berisi sel vegetatif dan sel generatif. Pada
umumnya palinologi lebih terfokus pada struktur dinding (Erdtman, 1952).
Berdasarkan deskripsi morfologi polen, karakter morfologi polen memiliki
banyak variasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Erdtman (1952) yaitu morfologi
polen dari familia sangat heterogen. Variasi karakter morfologi polen yang
ditemukan memiliki nilai taksonomi dan dapat digunakan untuk mengelompokkan
tumbuhan hingga tingkat species. Lashin & Al-Wadi (2007) menyatakan bahwa
morfologi polen sangat berguna untuk mengidentifikasi species pada masing-
masing familia.
Secara rinci menurut (Moore et al., 1991) menjelaskan bahwa pada salah satu
anggota Malvaceae yairu Malva memiliki ukuran panjang polen > 6 um dan
ukuran diameter polen > 100 um. polen Kembang Sepatu secara umum apertur
sering disebut polypantoporat. Sedangkan untuk tipe ornamentasi yang dikenal
dengan tipe ekinat artinya unsur ornamentasi berbentuk seperti dun. Dari hasil
pengamatan terlihat polen Kembang Sepatu berupa polen tunggal. Hal ini
diperkuat oleh Knox (1985) yang menyatakan bahwa sebagian besar polen
Angiospermae merupakan polen yang soliter dan bebas, masing-masing
berkembang dari mikrospora tunggal.
Spora per sporangium dalam tumbuhan paku homospor umumnya hampir
seragam dan memiliki rentang ukuran kecil, tetapi ditemukan juga spora yang
berukuran tidak seragam dalam satu sporangium yaitu pada spora paku pteris.
Spora tersebut berukuran jauh lebih kecil dan berkerut dibandingkan spora normal
lain dalam satu sporangium. Spora yang memiliki ciri tersebut merupakan spora
abortif atau infertil. Spora abortif dapat terjadi karena ketidaknormalan pada
proses meiosis atau karena telah terjadi hibridisasi (Quintanilla dan Escudero
2006). Tumbuhan paku dengan spora demikian biasanya memiliki tipe reproduksi
apogamy (Huang et al. 2011).
Menurut Erdtman (1952) menyebutkan bentuk, ukuran ataupun tipe polen
bisa juga bervariasi menurut tahap kematangannya. bisa saja dalam satu genus
menunjukkan bentuk dan ukuran spora atau polen yang berbeda sehingga semkain
dapat memperjelas perbedaan spesiesnya. contohnya meksipun terdapat 2 bahan
amatan yang sama pada pada Adiantum dan Platycerium, masing masing
tumbuhan menunjukkan perbedaan ukuran dan bentuk. hal ini menunjukkan
bahwa dapat dikelompokkan pada spesies yang berbeda. meski dalam famili yang
sama. Penelitian polen dari beberapa ahli terhadap beberapa jenis tumbuhan di
Eropa menurut Faegri dan Iversen (1989) menunjukkan adanya variasi ukuran
berdasarkan letak geografisnya. Akan tetapi usaha untuk menghubungkan ukuran
polen yang bervariasi dalam menentukan adanya faktor lingkungan belum
memberi hasil yang memuaskan. Ukuran polen individu yang berbeda dalam satu
jenis juga bisa disebabkan oleh perbedaan fokus optik pengamat.
Ornamentasi tidak terlihat jelas menggunakan mikroskop cahaya. Hal ini
disebabkan ukuran polen yang sangat kecil dan perbesaran mikroskop cahaya yang
terbatas, selain itu teknik pembuatan preparat menggunakan metode asetolisis
dapat menyebabkan kerusakan rincian apertura serta dinding eksin yang rapuh
akan rusak sehingga tidak dapat teramati dengan jelas (Hesse dkk., 2009). Hasil
yang lebih rinci dapat menggunakan SEM (Scanning Electron Microscrophy).

VIII. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dapat dibuat kesimpulan bahwa :
1. pembuatan preparat polen dan spora menggunakan metode asetolisis
membutuhkan beberapa tahap diantaranya tahap perispan, pemisahan,
pemusingan, pewarnaan, dehidrasi, dan dealkoholisasi.
2. Polen atau serbuk sari merupakan bagian bunga yang berupa kantung berisi
gametofit jantan pada tumbuhan berbunga Anthophyta baik Gymnospermae
(Pinophyta) maupun Angiospermae (Magnoliophyta), sedangkan spora
biasanya dihasilkan tumbuhan non vaskuler seperti alga, jamur, lumut serta
tumbuhan vaskuler tingkat rendah lain yaitu tumbuhan lumut (Bryophyta)
dan paku (Pteridophyta).
3. banyak ditemukan spora berbentuk colporate, dengan eksin yang
berornamen. ditemukan banyak yang memiliki bentuk elips dan segitiga
yang hampir semua memili apertura.
4. Eksin polen/ spora kuat sehingga tidak mdah rusak. Ornamen eksin tersebut
dapat dipertahankan pada preparat awetan yang dibuat dengan metoda
asetolisis (Sulisetijono, 2010). tetapi apertura mudah rusak sehingga Hasil
yang lebih rinci dapat menggunakan SEM (Scanning Electron Microscrophy).
IX. Diskusi
1. Apakah warna safranin pada eksin hasil kerja saudara tergolong kurang,
cukup, ataukah terlalu banyak sehingga eksin berwarna jernih/terang,
kemerahan, atau merah gelap?
Jawaban : cukup banyak. Sehingga sel berwarna merah agak gelap.
2. Bagaimana efek pewarnaan safranin pada eksin jika diperhitungkan dengan
Jawaban :
a. Lama perendaman spesimen, jika perendaman kurang lama atau terlalu
lama akan mempengaruhi struktur sel nya. Rusak atau bahkan tidak
dapat teramati.
b. Lama pencucian, jika pencucian tidak tepat maka bisa saja spesimen
menjadi ilang atau bahkan rusak warnanya.
c. Kederasan kucuran air cucian, jangan terlalu deras sednag saja. Jika
terlalu deras maka zat warna akan hilang.
3. Jenis tumbuhan sumber spesimen, jenis tumbuhan yang memiliki sporangiu
tebal dan keras belum tentu susah melunak dan spora susah keluar begitu
juga dengan anthera pada bunga yang terlalu tebal.
4. Bagaimana permukaan eksin halus ataukah berornamen?
Jawaban : hampir seluluh bahan amatan memiliki eksin yang berornamen,
dan beberapa tidak berornamen dan licin.
5. Jumlah spora/polen dan penyebarannya dalam preparat yang dihasilkan!
Jawaban : jumlah spora dan polen cukup banyak tetpai banyak yang terdapat
tertumpuk sehingga kurang diketahui secara jelas jumlah pastinya.
6. Tipe spora/polen yang ditemukan!
Jawaban : colporate, tricolporate, monad, psilate, echinate dan baculate.

X. Tugas
1. Apakah nama tumbuhan yang diambil spora/polen dalam pembuatan
preparat dengan metoda asetolisis ini?
Jawaban : menggunakan sporofil tumbuhan paku yaitu paku tanduk rusa
(Platycerium), paku sarang burung (Asplenium), paku leyat (Phymatodes),
paku suplir (Adiantum), paku Pteris biaurita, paku Pteris vitatta, anthera
bunga antara lain Bunga Widelia, Bunga Matahari (Heliantus), bunga sepatu
(Hibiscus), bunga kertas (Bougainvillea), Bunga Euphorbia, Tempuyung
(Sonchus), Gletang (Tridax procumbens), dan bunga bakung (Lilium).
2. Tergolong tumbuhan vaskular mana spesimen diambil?
Jawaban : angiospermae dan tumbuhan paku
3. Deskripsikan permukaan eksin yang ditemukan dan ornamen spora dan
polen hasil amatan prwparat yang saudara buat!
Jawaban : berornamen seperti duri, jala, isodiametrik, dan silinder tinggi,
dan ramping.
4. Bagaimana jumlah dan penyebaran spora serta polen pada preparat yang
saudara buat?
Jawaban : persebarannya ada yang merata ada yang tidak, karena masih
tertumpuk dan bahkan ada yang amsih belum keluar dari sporangiumnya.
5. Bagaimana hasil pewarnaan pada preparat yang saudara hasilkan?
Jawaban : cukup baik dan dapat mewarnai dinding slenya dengan jelas
meski tidak terlalu jelas berwarna merah terang.
DAFTAR RUJUKAN

Al-Wadi H. M., and Lashin G. M. A. 2007. Palynological and Cytologycal


Characters of Three Species of Genus Solanum (Family: Solanaceae) from
Saudi Arabia. Journal of Biological Science,7 (4): 626-631.
Bhojwani, S. S., and Bhatnagar, S.P. 1978. The Embryologi of Angiosperms. Third
Revised Edition. Vikas Publishing Hous, PVT, LTD.
Erdtman, G 1952. Morphology and Taxonomy Angiospermae: An Introduction to
Paly nology. The Botanica Company Wather, Massachusetts, USA.
Erdtman, G. 1969. Handbook of Palinology, Morfology Taxonomy Ecology. An
Introduction to Study of Pollen Grains and Spores. Hapner Publishing CO.
New York.
Faegri, K., and Iversen, J. 1989. Textbook of Pollen Analysis. Hafuer Press, New
York: 328.
Foster A.S., and Gifford E.M. 1973. Comparative Morphology of Vascular Plants
Second Edition. San Fransisco: W.H Freeman And Company.
Hesse, M., Halbritter, H., Zetter, R., Weber, M., Buchner, R., Frosch-Radivo, A.,
and Ulrich, S. 2009. Pollen Terminology An Ilustrated Handbook. New
York: SpringerWien.
Huang, Y. M., Hsu, S. Y., Hsieh, T. H., Chou, H. M., and Chiou, W. L. 2011.
Three Pteris species (Pteridaceae: Pteridophyta) reproduce by apogamy.
Botanical Studies 52:79-87.
Kapp, R.0. 1969. How to Know Pollen and Spores. WM.C. Brown Company
Publishers Dubuque, Lowo.
Moore, P.D., Webb, J.A., and. Collinson, M. E. 1991. Pollen Analysis. Blackwell
Scientific Publication Oxford.
Quintanilla, L. G., Escudero, A. 2006. Spore fitness components do not differ
between diploid and allotetraploid species of Dryopteris
(Dryopteridaceae). Ann. Bot. 98: 609-618. Doi: 10/1093/aob/mc1137.
Sulisetijono. 2010. Penuntun Praktikum Mikroteknik Tumbuhan. Malang: FMIPA
UM.
Sulisetijono., Kartini, E., Sulasmi, E, S., Sunarmi., dan Saptasari, M. 2013. Bahan
Ajar Struktur dan Perkembangan Tumbuhan I. Malang: FMIPA UM.
Sulisetijono., Kartini, E., Sulasmi, E, S., Sunarmi., dan Saptasari, M. 2013.
Petunjuk Praktikum Struktur dan Perkembangan Tumbuhan I. Malang:
FMIPA UM.