Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH KEPERAWATAN DASAR

TRAUMA DAN JANTUNG

“TRAUMA THORAKS”

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 9

MELINA PRATAMI O : SNR172120055


WAHYUNI ISLAMIA : SNR172120056

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN NON REGULER


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
PONTIANAK
2019
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya
maka kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Trauma Thoraks”.
Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat dalam pemenuhan nilai mata kuliah
Keperawatan Dasar Trauma dan Jantung.
Makalah ini tidak terlepas dari bantuan media massa, litelatur buku,
kerjasama kelompok kami serta bimbingan dari dosen pembimbing. Makalah ini
kami susun berdasarkan materi yang kami dapat dari media massa dan litelatur
buku.
Semoga makalah yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan
yang membutuhkan. Makalah ini tentunya terdapat kekurangan maupun kesalahan
untuk itu kritik dan saran serta masukan dari teman-teman sangat kami nantikan.
Akhir kata kami ucapkan terimakasih.

Kubu Raya, Februari 2019

Kelompok 9

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Tujuan Penulisan...........................................................................................2
BAB II......................................................................................................................4
TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................................4
A. Konsep Teori.................................................................................................4
1. Pengertian..................................................................................................4
2. Klasifikasi..................................................................................................5
3. Etiologi......................................................................................................5
4. Pathway.....................................................................................................6
5. Manifestasi Klinis......................................................................................8
6. Komplikasi................................................................................................8
7. Pemeriksaan Diagnostik............................................................................9
8. Penalataksanaan.......................................................................................10
9. Pencegahan..............................................................................................16
BAB III..................................................................................................................17
PEMBAHASAN....................................................................................................17
A. Case Study...................................................................................................17
B. Analisa Kasus..............................................................................................17
1. Pengkajian...............................................................................................17
2. Analisa Data............................................................................................21
3. Diagnosa keperawatan.............................................................................22
4. Intervensi Keperawatan...........................................................................23
5. Implementasi Keperawatan.....................................................................27
BAB IV..................................................................................................................29
PENUTUP..............................................................................................................29
A. Kesimpulan.................................................................................................29
B. Saran............................................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................30

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Trauma adalah kejadian yang bersifat holistik dan menyebabkan hilangnya
produktivitas seseorang. Dewasa ini trauma melanda dunia seperti wabah
karena dalam kehidupan modern penggunaan kendaraan automotif semakin
luas (Sjamsuhidajat R, 2010 dalam Pitojo K, 2016).
Trauma adalah penyebab kematian terbanyak pada dekade 3 kehidupan
diseluruh kota besar didunia dan diperkiraan 16.000 kasus kematian akibat
trauma per tahun yang disebabkan oleh trauma thoraks di amerika. Sedangkan
insiden penderita trauma thoraks di amerika serikat diperkirakan 12 penderita
per seribu populasi per hari dan kematian yang disebabkan oleh trauma
thoraks sebesar 20-25%. Dan hanya 10-15% penderita trauma tumpul thoraks
yang memerlukan tindakan operasi, jadi sebagian besar hanya memerlukan
tindakan sederhana untuk menolong korban dari ancaman kematian (Sudoyo,
2010). Di Australia, 45% dari trauma tumpul mengenai rongga thoraks.
Dengan adanya trauma pada thoraks akan meningkatkan angka mortalitas
pada pasien dengan trauma. Trauma thoraks dapat meningkatkan kematian
akibat Pneumothoraks 38%, Hematothoraks 42%, kontusio pulmonum 56%,
dan flail chest 69% (Nugroho, 2015).
Pada trauma dada biasanya disebabkan oleh benda tajam, kecelakaan lalu
lintas atau luka tembak. Bila tidak mengenai jantung, biasanya dapat
menembus rongga paru-paru. Akibatnya, selain terjadi pendarahan dari rongga
paru-paru, udara juga akan masuk ke dalam rongga paru-paru. Oleh karena itu,
pau-paru pada sisi yang luka akan mengempis. Penderita nampak kesakitan
ketika bernapas dan mendadak merasa sesak dan gerakan iga disisi yang luka
menjadi berkurang (Sudoyo, 2010). Trauma tumpul thoraks sebanyak 96.3%
dari seluruh trouma thoraks, sedangkan sisanya sebanyak 3,7% adalah trauma
tajam. Penyebab terbanyak dari trauma tumpul thoraks masih didominasi oleh
korban kecelakaan lalu lintas (70%). Sedangkan mortalitas pada setiap trauma

1
2

yang disertai dengan trauma thoraks lebih tinggi (15,7%) dari pada yang tidak
disertai trauma thoraks (12,8%) pengolahan trauma thoraks, apapun jenis dan
penyebabnya tetap harus menganut kaidah klasik dari pengolahan trauma pada
umumnya yakni pengolahan jalan nafas, pemberian pentilasi dan control
hemodianamik (Patriani, 2012).
Trauma thoraks adalah luka atau cedera yang mengenai rongga thoraks
atau dada yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding thoraks ataupun
isi dari cavum thoraks (rongga dada) yang disebabkan oleh benda tajam atau
tumpul dan dapat menyebabkan keadaan sakit pada dada (Paci M, 2006 dalam
Pitojo K, 2016). Trauma thoraks merupakan penyebab kematian utama pada
kelompok umur dibawah 35 tahun. Trauma thoraks terjadi hampir 50% dari
seluruh kasus kecelakaan.
Jadi menurut kelompok trauma thorak adalah luka atau cedera fisik
sehingga dapat menyebabkan kematian utama pada anak-anak atau orang
dewasa. Di dalam thoraks terdapat dua organ yang sangat vital bagi kehidupan
manusia, yaitu paru-paru dan jantung. Paru-paru sebagai alat pernapasan dan
jantung sebagai alat pemompa darah.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum:
Kelompok membuat makalah yang berjudul “Trauma Thoraks” yang
bertujuan sebagai bahan pembelajaran keperawatan, serta memenuhi syarat
penyelesaian tugas dari mata kuliah Keperawatan Dasar Trauma dan
Jantung.
2. Tujuan Khusus :
a. Mengetahui pengertian trauma thoraks
b. Mengetahui klasifikasi trauma thoraks
c. Mengetahui etiologi dari trauma thoraks
d. Mengetahui manifestasi klinis dari trauma thoraks
e. Mengetahui patofisiologi dari trauma thoraks
f. Mengetahui komplikasi dari trauma thoraks
g. Mengetaui pemeriksaan diagnostik dari trauma thoraks
h. Mengetahui penatalaksanaan medis dari trauma thoraks
i. Mengetahui pembahasan case study pada pasien dengan trauma thoraks
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori
1. Pengertian
Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis
akibat gangguan emosional yang hebat (Nugroho, 2015). Trauma thoraks
adalah luka atau cedera yang mengenai rongga thoraks atau dada yang
dapat menyebabkan kerusakan pada dinding thoraks ataupun isi dari
cavum thoraks (rongga dada) yang disebabkan oleh benda tajam atau
tumpul dan dapat menyebabkan keadaan sakit pada dada (Paci M, 2006
dalam Pitojo K, 2016). Trauma thoraks merupakan penyebab kematian
utama pada kelompok umur dibawah 35 tahun. Trauma thoraks terjadi
hampir 50% dari seluruh kasus kecelakaan.
Trauma thoraks adalah luka atau cedera yang mengenai rongga
thoraks yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding thoraks ataupun
isi dari cavum thoraks yang disebabkan oleh benda tajam atau benda
tumpul dan dapat menyebabkan keadaan gawat thoraks akut. Trauma
thoraks diklasifikasikan dengan tumpul dan tembus. Trauma tumpul
merupakan luka atau cedera yang mengenai rongga thoraks yang
disebabkan oleh benda tumpul yang sulit diidentifikasi keluasan
kerusakannya karena gejala-gejala umum dan rancu (Sudoyo, 2010).
Dari berberapa definisi diatas dapat didefinisikan trauma thoraks
adalah trauma yang mengenai dinding thoraks yang secara langsung
maupun tidak langsung berpengaruh pada pada organ didalamnya, baik
sebagai akibat dari suatu trauma tumpul maupun oleh sebab trauma tajam.

4
5

2. Klasifikasi
Trauma dada/thoraks diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu :
Trauma tajam dan trauma tumpul, yang terdiri dari :
a. Pneumothoraks terbuka / Open Pneumothoraks
b. Masif Hemothoraks
c. Tension pneumothoraks
d. Flail Chest

3. Etiologi
Penyebab dari trauma thoraks, terdiri dari :
a. Open Pneumothoraks : disebabkan oleh trauma tembus dada.
Berdasarkan kecepatannya, trauma tembus dada dapat dikelompokkan
menjadi 2 berdasarkan kecepatannya, yaitu :
1) Luka tusuk
Umumnya dianggap kecepatan rendah karena senjata (benda
yang menusuk atau mengenai dada) menghancurkan area kecil
di sekitar luka. Kebanyakan luka tusuk disebabkan oleh tusukan
pisau. Namun, selain itu pada kasus kecelakaan yang
mengakibatkan perlukaan dada, dapat juga terjadi ujung iga
yang patah (fraktur iga) mengarah ke dalam sehingga merobek
pleura parientalis dan viseralis sehingga dapat mengakibatkan
open pneumothoraks.
2) Luka tembak
Luka tembak pada dada dapat dikelompokkan sebagai kecepatan
rendah, sedang, atau tinggi. Faktor yang menentukan kecepatan
dan mengakibatkan keluasan kerusakan termasuk jarak
darimana senjata ditembakkan, kaliber senjata, dan konstruksi
serta ukuran peluru. Peluru yang mengenai dada dapat
menembus dada sehingga memungkinkan udara mengalir bebas
keluar dan masuk rongga thoraks.
b. Masif Hematothoraks : disebabkan luka tembus thoraks oleh benda
tajam atau tumpul, traumatik atau spontan
6

c. Tension Pnemothoraks : disebabkan karena iatrogenik atau


berhubungan dengan trauma, yang terdiri dari :
1) Trauma benda tumpul yang meliputi gangguan salah satu pleura
viseral atau parietal
2) Pemasangan kateter vena sentral (ke dalam pembuluh darah pusat),
biasanya vena subclavia atau vena jugular interna (salah arah
kateter subclavia)
3) Komplikasi penggunaan ventilasi mekanik
4) Ketidakberhasilan mengatasi open pneumothoraks ke
pneumothoraks sederhana dimana fungsi pembalut luka sebagai
katup satu arah
d. Flail Chest : disebabkan karena trauma tumpul pada thoraks, misalnya
akibat kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dari ketinggian,
tindak kekerasan, atau benturan dengan energi yang besar.

4. Pathway

Trauma
hhThoralsThtho
raks
Mengenai rongga thoraks Terjadi robekan pembuluh darah
sampai rongga pleura,udara intercostal, pembuluh darah jaringan
bila masuk (pneumothoraks) paru-paru

karena tekanan negatif intrapleura terjadi perdarahan : (perdarahan


maka udara luar akan terhisap jaringan interstitium, perdarahan
masuk kerongga pleura (sucking intraalveolar, diikuti kolaps kapiler
wound). Kecil-kecil dan ateleksasi)

a. Open pneumothoraks tekanan perifer pembuluh paru naik


b. Close pneumothoraks (aliran darah turun).
c. Tension pneumothoraks a.Ringan < 300 cc = di punksi
7

b.Sedang 300-800 cc = di Drain


c.Berat > 800 cc = torakotomi
Tekanan pleura meningkat terus
Tekanan pleura meningkat terus
a. Sesak napas yang progresif mendesak paru-paru (kompresi &
b. Nyeri bernapas dekompresi).
c. Bising napas berkurang hilang
d. Bunyi napas sonor/hipersonor
e. Photo thoraks gambaran udara lebih
¼ dari rongga thoraks. pertukaran gas berkurang
a.Sesak napas yang progresif
b. N
yeri bernapas/pernafasan
asimetris/adanya jejas/trauma
c.Bising napas tak terdengar
d. N
adi cepat/lemah, anemis/pucat.
e.Photo thoraks 15-35%

WSD (Water Seal Drain)


a. Terdapat luka pada WSD a. kerusakan integritas kulit
b. Nyeri pada luka bila bergerak b. resiko terhadap infeksi
c. Perawatan WSD harus diperhatikan c. perubahan kenyamanan
d. Inefektif kebersihan jalan nafas nyeri
d. ketidakefektifan pola
pernafasan
e. gangguan mobilitas fisik
8

5. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala dari trauma thoraks, antara lain :
a. Open Pneumothoraks, tanda dan gejalanya : Respirasi distres,
sianosis, tampak adanya kerusakan pada dinding dada, penurunan dari
suara pernafasan dan gerakan, dan adanya peningkatan suara
b. Masif Hemathoraks, tanda dan gejalanya : Nyeri dada, sesak, distres
pernafasan berat, pada perkusi adanya suara tertinggal dan adanya
tanda syok hipovolemik
c. Tension Pneumothoraks, tanda dan gejalanya : Nyeri dada, sesak,
distres pernafasan, takikardi, hypotensi, defiasi trahea , hilangnnya
suara nafas pada suatu sisi, distensi vena leher dan sianosis
d. Flail Chest, tanda dan gejalanya : Palpasi akan membantu menemukan
diagnosa dengan ditemukannya kripitasi iga atau fractur tulang rawan,
foto thoraks akan lebih jelas adanya fractur yang multiple,
pemeriksaan analisa gas darah, dapt ditemukan adanya hipoksia akibat
kegagalan pernafasan dan pada perkusi adanya suara yang tertinggal

6. Komplikasi
Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada trauma thoraks antara lain :
a. Iga : fraktur multiple dapat menyebabkan kelumpuhan rongga dada.
b. Pleura, paru-paru, bronkhi : hemo/hemopneumothoraks-emfisema
pembedahan.
c. Jantung : tamponade jantung ; ruptur jantung ; ruptur otot papilar;
ruptur klep jantung.
d. Pembuluh darah besar : hematothoraks.
e. Esofagus : mediastinitis
f. Diafragma : herniasi visera dan perlukaan hati, limpa dan ginjal

7. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaaan yang dilakukan pada trauma thoraks, antara lain :
e. Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik
9

Anamnesa yang terpenting adalah mengetahui mekanisme dan pola


dari trauma, seperti jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas,
kerusakan dari kendaraan yang ditumpangi, kerusakan stir mobil /air
bag dan lain lain.
f. Radiologi : Foto Thoraks (AP)

Pemeriksaan ini masih tetap mempunyai nilai diagnostik pada pasien


dengan trauma thoraks. Pemeriksaan klinis harus selalu dihubungkan
dengan hasil pemeriksaan foto thoraks. Lebih dari 90% kelainan serius
trauma thoraks dapat terdeteksi hanya dari pemeriksaan foto thoraks.

g. Gas Darah Arteri (GDA) dan Ph


Gas darah dan pH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan
pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan
gas darah dipakai untuk menilai keseimbangan asam basa dalam
tubuh, kadar oksigen dalam darah, serta kadar karbondioksida dalam
darah.
Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama
pemeriksaan ASTRUP, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang
dilakukan melalui darah arteri. Lokasi pengambilan darah yaitu: Arteri
radialis, A. brachialis, A. Femoralis.
h. CT-Scan
Sangat membantu dalam membuat diagnosa pada trauma tumpul
thoraks, seperti fraktur kosta, sternum dan sterno clavikular dislokasi.
Adanya retro sternal hematoma serta cedera pada vertebra torakalis
dapat diketahui dari pemeriksaan ini. Adanya pelebaran mediastinum
pada pemeriksaan thoraks foto dapat dipertegas dengan pemeriksaan
ini sebelum dilakukan Aortografi.

i. Ekhokardiografi
Transtorasik dan transesofagus sangat membantu dalam menegakkan
diagnosa adanya kelainan pada jantung dan esophagus.
10

Hemoperikardium, cedera pada esophagus dan aspirasi, adanya cedera


pada dinding jantung ataupun sekat serta katub jantung dapat
diketahui segera. Pemeriksaan ini bila dilakukan oleh seseorang yang
ahli, kepekaannya meliputi 90% dan spesifitasnya hampir 96%.
j. EKG (Elektrokardiografi)
Sangat membantu dalam menentukan adanya komplikasi yang terjadi
akibat trauma tumpul thoraks, seperti kontusio jantung pada trauma.
Adanya abnormalitas gelombang EKG yang persisten, gangguan
konduksi, tachiaritmia semuanya dapat menunjukkan kemungkinan
adanya kontusi jantung. Hati hati, keadaan tertentu seperti hipoksia,
gangguan elektrolit, hipotensi gangguan EKG menyerupai keadaan
seperti kontusi jantung.
k. Angiografi
Gold Standard’ untuk pemeriksaan aorta torakalis dengan dugaan
adanya cedera aorta pada trauma tumpul thoraks.
l. Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa.
m. Hb (Hemoglobin) : Mengukur status dan resiko pemenuhan kebutuhan
oksigen jaringan tubuh.

8. Penalataksanaan
Pemeriksaan primary survey dan pemeriksaan dada secara keseluruhan
harus dilakukan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan menangani
kondisi yang mengancam nyawa dengan segera, seperti obstruksi jalan
napas, tension pneumothoraks, pneuomothoraks terbuka, hemothoraks
masif, tamponade perikardial, dan flail chest (Nugroho, 2015).
Tanda yang penting dari trauma thoraks terbuka dan tertutup :

a. Sakit pada daerah yang luka


b. Perubahan pola dan frekuensi nafas (dyspnea : kesukaran bernafas
dan nafas pendek, cepaat dan lambat)
11

c. Kegagalan satu sisi atau ke dua sisi dari dada untuk berkembang pada
saat inspirasi.
d. Nadi cepat dan lemah dan tekanan darah rendah
Beberapa tahapan untuk penanganan pasien dengan trauma dada :
a. Pastikan jalan nafas bebas dan pelihara dengan melakukan manuver
chin-lift atau jaw-thrust dengan melindungi servical spine
b. Berikan oksigen dan lakukan tindakan support pernafasan dengan alat
mekanik bila perlu
c. Kontrol seluruh daerah yang mengalami perdarahan luar
d. Tutup luka tembus
e. Observasi, catat dan monitoring vital sign
f. Hati-hati monitor vital sign dan efek dari tindakan dan siapkan untuk
dikirim
g. Kirim pasien ke Rumah Sakit

Primary Survey :
Trauma yang mengancam hidup, dimulai dari penilaian jalan nafas
(Airway) dan ventilasi (Breathing) :
a. Airway
Trauma pada jalan nafas harus dikenali dan diketahui selama fase
Primary Survey dengan :
1) Mendengarkan gerakan udara pada hidung, mulut dan daerah dada
2) Meneliti daerah orofaring karena sumbatan oleh benda asing
3) Mengawasi retraksi otot-otot interkostal dan supraklavikular
Ada trauma pada jalan nafas, ditandai dengan :
1) Stridor (Sumbatan jalan nafas atas)
2) Perubahan kualitas suara (Bila pasien masih bisa bicara)
3) Terabanya defek pada regio sendi sternoklavikular (Trauma luas
pada dasar leher)
Penanganan jalan nafas :
1) Bersihkan jalan nafas bagian atas
12

2) Lakukan pemeliharaan jalan nafas dengan manuver jaw-trust atau


chin-lift , dimana posisi cervical spine pada posisi alami pada satu
garis.
3) Yang terbaik menstabilkan jalan nafas dengan intubasi
endotracheal.
b. Breathing
Penilaian kualitas pernafasan dengan cara :
1) Inspeksi : Ada luka, Perhatikan keseragaman gerak kedua sisi
dada saat akhir inspirasi atau ekspirasi
2) Palpasi : Ada kripitasi, Nyeri tekan
3) Perkusi : Bunyi sonor, hipersonor, pekak, timpani
4) Auscultasi : Bising nafas, bising abnormal tanda gangguan
pernafasan :
a) Pernafasan : < 12 atau > 20 kali/menit : berikan oksigen
b) Pernafasan : < 10 atau > 30 kali /menit : Bantu pernafasan bila
perlu
c. Circulation
Denyut nadi harus dinilai :
1) Kualitas
2) Frekuensi
3) Regular/iregular
Denyut nadi radialis dan arteri dorsalis pedis tidak teraba :
Hipovolemia
a) Lakukan inspeksi dan palpasi
b) Cek Tekanan darah, Tekanan nadi
c) Sirkulasi perifer, warna dan temperatur
d) Pasang monitor jantung : Disritmia / PVC
e) Pasang pulse oximeter : hipoksia / asidosis

Jenis Trauma Thorak Yang Harus Diketahui Pada Saat Primary


Survey :
13

a. Pneumothoraks Terbuka/Open Pneumothoraks


Gangguan pada dinding dada berupa hubungan langsung antar ruang
pleura dan lingkungan sehingga tekanan di dalam rongga pleura akan
segera menjadi sama dengan tekanan atmosfir, akibat kondisi itu
menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga menyebabkan hipoksia
dan hiperkapnea
Tanda :
1) Respirasi distres
2) Sianosis
3) Tampak adanya kerusakan pada dinding dada
4) Penurunan dari suara pernafasan dan gerakan
5) Adanya peningkatan suara
Tindakan :
1) Pasang penutup luka dengan kasa steril (plastic wrap/petrolatum
gauze) yang diplester pada 3 sisi. Hati-hati akan menjadi tension
pneumothoraks
2) Pasang selang dada yang berjauhan dengan luka
b. Masif Hemothoraks
Pengumpulan darah dalam ruang antara pleura viseral dan perietal
yang cepat dan banyak.
Tanda :
1) Nyeri dada
2) Sesak
3) Distres pernafasan berat
4) Pada perkusi adanya suara tertinggal
5) Adanya tanda syok hipovolemik

Tindakan :
1) Berikan oksigen 15 liter/mt.
14

2) Resusitasi cairan merupakan terapi pada masif hemathoraks


dengan penggantian volume darah yang dilakukan bersamaan
dengan dekompresi rongga pleura
3) Pasang IV line dengan dua line dengan canule besar dan berikan
caiarn untuk suport sirkulasi
4) Pasang chest drain untuk untuk menurunkan distres pernafasan
berat yang berkelanjutan
5) Hipovolemik dapat memperburuk kondisi
6) Segera kirim ke RS untuk tindakan lebih lanjut
b. Tension Pneumothoraks
Merupakan suatu pneumothoraks yang progresif dan cepat sehingga
membahayakan jiwa pasien dalam waktu yang singkat. Udara yang
keluar dari paru atau melalui dinding dada masuk ke rongga pleura
dan tidak dapat ke luar lagi (one-way-valve), maka tekanan di
intrapleura akan meninggi , paru-paru menjadi kolap
Penyebab :
1) Komplikasi penggunaan ventilasi mekanik
2) Komplikasi dari pneumothoraks sederhana
3) Fraktur tulang berlakang thoraks
Tanda:
1) Nyeri dada
2) Sesak
3) Distres pernafasan
4) Takikardi
5) Hypotensi
6) Defiasi trahea
7) Hilangnnya suara nafas pada suatu sisi
8) Distensi vena leher
9) Sianosis
Tindakan :
1) Berikan oksigen 15 liter
15

2) Lakukan dekompresi dengan insersi jarum (Needle


thoracocentesis)
3) Pemasangan chest tube untuk : Perjalanan jauh ke RS dan
Perjalanan menggunakan pesawat udara
c. Flail Chest
Trauma hancur pada sternum atau truama multiple pada dua atau
lebih tulang iga dengan dua tau lebih garis fractur, sehingga
menyebabkan gangguan pergerakan pada dinding dada, dimana
segmen dinding dada tidak lagi mempunyai kontinuitas dengan
keseluruhan dinding dada, mengakibatkan pertukaran gas respiratorik
yang efektif sangat terbatas mengakibatkan terjadi hipoksia yang
serius.
Tanda :
1) Palpasi akan membantu menemukan diagnosa dengan
ditemukannya kripitasi iga atau fractur tulang rawan.
2) Foto thoraks akan lebih jelas adanya fractur yang multiple
3) Pemeriksaan analisa gas darah, dapat ditemukan adanya hipoksia
akibat kegagalan pernafasan
4) Pada perkusi adanya suara yang tertinggal
Tindakan :
1) Pemberian ventilasi yang adekuat dengan oksigen 15 liter/menit
yang dilembabkan
2) Lakukan intubasi bila diperlukan untuk mencegah terjadinya
hipoksia dengan memperhatikan frekuensi pernafasan dan PaO2
3) Resusitasi cairan, hati-hati kelebihan cairan
4) Pemberian analgetik

9. Pencegahan
Pencegah trauma thoraks yang efektif adalah dengan cara menghindari
faktor penyebabnya, seperti menghindari terjadinya trauma yang biasanya
16

banyak dialami pada kasus kecelakaan dan trauma yang terjadi berupa
trauma tumpul serta menghindari kerusakan pada dinding thoraks ataupun
isi dari cavum thoraks yang biasanya disebabkan oleh benda tajam ataupun
benda tumpul yang menyebabkan keadaan gawat thoraks akut (Patriani,
2012) .
BAB III
PEMBAHASAN

A. Case Study
Tn. T (30 tahun) dibawa penolong dan keluarganya ke RSUD Dr. M.Yunus
Bengkulu pada tanggal 01 Januari 2019 karena mengalami kecelakaan
bermobil. Dari pengkajian pasien mengalami penurunan kesadaran. Penolong
mengatakan dada korban membentur stir mobil, setelah kecelakaan pasien
muntah darah lalu kemudian pasien tidak sadar. Keadaan pasien saat di IGD
klien mengalami penurunan kesadaran, napas cepat dan dangkal, auskultasi
suara napas ronchi, dan pasien ngorok. Terdapat bengkak dan jejas di dada
sebelah kiri. Hasil pemeriksaan GCS 8(E2V2M4) kesadaran sopor, hasil
pemeriksaan TTV, TD : 90/80 mmHg, nadi : 120 x/menit, RR : 35 x/menit,
suhu : 35,7ºC, akral teraba dingin, tampak sianosis, penggunaan otot-otot
pernapasan, dan napas cuping hidung.

B. Analisa Kasus
1. Pengkajian
a. Pengkajian Primer
(A) Airway : Pernapasan ada , napas ronchi, cepat dan dangkal
dengan RR 35x/menit, tampak gelisah dan sesak, ketidakefektifan
bersihan jalan napas
(B) Breathing : Pernapasan cuping hidung, pasien ngorok,
penggunaan otot – otot pernapasan, pasien sesak dengan RR
35x/menit, gangguan pola napas.
(C) Circulation : Ada nadi, nadi 120 x/menit, TD : 90/80 mmHg, akral
teraba dingin dan tampak sianosis, gangguan perfusi jaringan
(D) Disability : Penurunan kesadaran, kesadaran sopor GCS 8
(E2V2M4)

17
18

(E) Exposure : Terdapat bengkak dan jejas di bagian dada sebelah


kiri, akral teraba dingin, tampak sianosis dan bagian tubuh lain
nya baik.
b. Pengkajian Sekunder
Anamnesis
1) Identitas klien
Nama : Tn. T
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 30 tahun
Alamat : Pagar dewa, Bengkulu
Agama : Islam
Bahasa : Melayu
Status perkawinan : Menikah
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Sopir travel
Diagnosa medis : Masif Hemathoraks
2) Identitas penanggung jawab
Nama : Ny. D
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Pagar dewa, Bengkulu
Agama : Islam
Hubungan dengan pasien : Istri
3) Keluhan utama
Pasien datang ke RSUD Dr. M. Yunus kota Bengkulu, dengan
kecelakaan bermobil, pasien mengalami penurunan kesadaran dan
ada bengkak dan jejas di bagian dada sebelah kiri.
4) Riwayat kesehatan
1) Riwayat penyakit sekarang
Tn. T (30 tahun) dibawa penolong dan keluarganya ke rumah
sakit karena mengalami kecelakaan bermobil. Pasien mengalami
penurunan kesadaran. Penolong mengatakan dada korban
19

membentur stir mobil, setelah kecelakaan pasien muntah darah


lalu kemudian pasien tidak sadar. Keadaan pasien saat di IGD
klien mengalami penurunan kesadaran, napas cepat dan dangkal,
auskultasi suara napas ronchi, dan pasien ngorok. Terdapat
bengkak dan jejas di dada sebelah kiri. Hasil pemeriksaan GCS
8(E2V2M4) kesadaran sopor, hasil pemeriksaan TTV, TD :
90/80 mmHg, nadi : 120 x/menit, RR : 35 x/menit, suhu : 35,7
ºC, akral teraba dingin, tanpak sianosis, penggunaan otot-otot
pernapasan, dan napas cuping hidung.
2) Riwayat penyakit dahulu
Keluarga mengatakan pasien sudah berberapa kali mengalami
kecelakaan tetapi belum perna separah ini sampai mengaami
penurunan kesadaran serta pasien tidak memiliki riwayat
penyakit apapun
5) Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Penurunan kesadaran dan sesak
Kesadaran : Sopor
TTV :
Tekanan Darah : 90/80 mmHg
Frekuensi Nadi : 120 x/menit
Pernapasan : 35 x/menit
Suhu : 35,7 ºC
1)Kepala
Inspeksi : Distribusi rambut baik, bentuk kepala simetris
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
2) Mata
Inspeksi : Anemis, skelera an ikterik, bentuk simetris.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
3) Hidung
Inspeksi : Bentuk simetris, pernapasan cuping hidung, penggunaan
otot- otot pernapasan
20

Palpasi : Tidak ada nyeri tekan


4) Telinga
Inspeksi : Bentuk simetris, terdapat darah
Palpasi : Ada lesi dan nyeri tekan
5) Mulut
Inspeksi : Bentuk simetris, sianosis, serta keluarnya darah segar
dan lendir
6) Leher
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid,
tidak dicurigai fraktur cervikal.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembenkakan
7) Thoraks
Inspeksi : Bentuk tidak simetris, terdapat jejas dan bengkak,
pergerakan dinding dada tidak simetris, terdapat otot
bantu pernapasan.
Palpasi : Terdapat nyeri tekan dan ada pembengkakan
Auskultasi : Bunyi napas ronchi, suara ngorok, frekuensi napas 35
x/menit
Perkusi : Suara redup pada daerah jejas karena adanya darah
8) Abdomen
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada jejas
Palpasi : ada nyeri tekan pada supra pubik
Auskultasi : Bising usus normal 12x/menit
Perkusi : Tympani
9) Genetalia
Inspeksi : Bersih, tidak ada kelainan, terpasang kateter spool blase
Ekstremitas
Atas :
Inspeksi : Simetris, tidak ada pembengkakan dan terpasang ada
jejas ditangan kanan, terpasang infus ditangan kiri,
fleksi dan ekstensi
21

Palpasi : Tidak ada nyeri tekan


Bawah :
Inspeksi : Simetris, tidak ada pembengkakan
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
6) Data tambahan pasien
1) Data psikologi
Keluarga bisa di ajak bekerja sama dengan baik dalam proses
keperawatan
2) Data social
Hubungan keluarga dan klien baik, terlihat dari keluarga yang
selalu menunggu klien.
3) Data spiritual
Klien beragama islam, keluarga selalu berdoa untuk
kesembuhan klien.

2. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1 Ds : Trauma thorak Gangguan Pola
a. Penolong mengatakan dada korban Nafas
membentur stir mobil sebelum Reabsorsi darah
mengalami penurunan kesadaran
b.Penolong mengtakan pasien Hemathorak
bernapas cepat (sesak)
Do : Ekspensi paru
a. Suara napas ronchi
b.Pasien bernapas menggunakan Gangguan ventilasi
cuping hidung dan oto-otot
pernapasan
c. Frekuensi napas 35x/menit

2 Ds : Masif Hematoraks Ketidakefektifan


Penolong mengatakan pasien muntah bersihan jalan napas
darah Ekspensi paru
Do :
a. suara napas ngorok Gangguan ventilasi
b.Terdapat lendir dan gumpalan
darah di mulut pasien
c. Frekuensi napas 35x/menit
22

3 Ds : Trauma tajam dan Gangguan Perfusi


Penolong mengatakan bahwa pasien trauma tumpul Jaringan
mengalami kecelakaan bermobil
dengan posisi dada membentur stir Trauma thorak
mobil kemudian mengalami
penurunan kesadaran Perdarahan jaringan
Do : intersitium
a. Pasien mengalami penurunan
kesadaran Reabsorsi darah
b. Terdapat bengkak dan jejas di
dada Masif Hemathorak
c. Pemeriksaan gcs 8 kesadaran
spoor Gangguan ventilasi
d. Tampak sianosis, dan pucat
e. Akral teraba dingin - SPo2 85%
f. CRT > 3 detik
g. Pemeriksaan ttv :
TD =90/80 mmHg
N =120x/m
R = 35x/m
S=35,7 C

4 Ds : Trauma thorak Nyeri Dada


a. Penolong mengatakan ada
bengkak dan jejas di bagian dada Perdarahan jaringan
pasien intersitium
b. Penolong mengatakan dada
pasien membentur stir Reabsorsi darah
Do :
a. Tampak ada bengkak dan jejas di Masif Hemathorak
dada pasien
b. Pengkajian PQRST Region : Merangsang
Tampak ada bengkak dan jejas reseptor nyeri dada
didada pasien sebelah kiri. pleura viseralis dan
perientalis

Diskontinuitas
jaringan

3. Diagnosa keperawatan
a. Gangguan pola napas, dispneu berhubungan dengan penurunan
kemampuan paru
b. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan gumpalan
darah yang menghalangi pernapasan
c. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan terjadi sumbatan dan
suplai oksigen turun dalam jaringan
23

d. Nyeri dada berhubungan dengan bengkak, jejas dan infark paru-paru

4. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi
(NOC) (NIC)
1 Gangguan pola napas, dispneu a. Respiratory Airway
berhubungan dengan penurunan Status : Management
kemampuan paru ventilation a. Buka jalan nafas,
b. Respiratory gunakan teknik
Definisi : Inspirasi dan / ekspirasi Status : airway chin lift atau jaw
yang tidak memberi ventilasi patency thrust bila perlu
c. Vital Sign Status b. Posisikan pasien
untuk
Kriteria Hasil : memaksimalkan
a. Mendemonstrasi ventilasi
kan batuk efektif c. Lakukan
dan suara napas fisioterapi dada
yang bersih, jika perlu
tidak ada d. Keluarkan secret
sianosis dan dengan batuk
dyspneu (mampu atau suction
mengeluarkan e. Auskultasi suara
sputum, mampu nafas, catat
bernafas dngan adanya suara
mudah, tidak ada tambahan - Atur
pursed lips) intake untuk
b. Menunjukkan cairan
jalan nafas yang mengoptimalkan
paten (klien keseimbangan
tidak merasa f. Monitor respirasi
tercekik, irama dan status O2.
napas, frekuansi Respiratory
pernafasan Monitoring
dalam, rentang a. Monitoring
normal, tidak ratarata,kedalama
ada suara nafas n, irama dan
abnormal) usaha respirasi
c. Tanda tanda vital b. Catat gerakan
dalam rentang dada, amati
normal (tekanan kesimetrisan,
darah, nadi, penggunaan otot
pernafasan) tambahan,
retraksi otot
supraclavicular
dan intercostals
c. Monitor suara
nafas seperti
dengkur
24

d. Auskultasi suara
nafas, catat area
penurunan/tidak
adanya ventilasi
dan suara
tambahan
e. Auskultasi suara
paru setelah
tindakan untuk
mengetahui
hasilnya.

2 Ketidakefektifan bersihan jalan a. Status a. Pastikan


napas berhubungan dengan secret pernapasan : kebutuhan
yang berlebih, gumpalan darah pertukaran gas oral/suction
yang menghalangi pernapasan b. Airway status b. Auskultasi suara
Definisi : Ketidakmampuan untuk napas sebelum
membersihkan sekresi atau Kriteria hasil : dan sesudah
obstruksi dari saluran pernapasan a. Suara napas suction
untuk mempertahankan kebersihan bersih, tidak ada c. Berikan oksigen
jalan napas sianosis, mampu menggunakan
bernapas dengan nasal kanul
mudah d. Monitor status
b. Menunjukan jalan napas dan oksigen
napas yang pasten e. Buka jalan napas
(irama napas gunakan tekhnik
dalam rentang chin lift
normal, tidak ada f. Posisikan pasien
suara napas untuk
abnormal) memaksimalkan
c. Mampu ventilasikeluarkan
mengidentifikasi secret dengan
dan mencegah cara suction
faktor yang g. Monitor respirasi
menghambat dan status oksigen
jalan napas

3 Gangguan perfusi jaringan a. Energy Activity therapy


berhubungan dengan suplai oksigen conservation a. Kolaborasikan
dalam jaringan. b. Activity tolerance dengan tenaga
c. Self care : ADLs medis dalam
Definisi : Ketidakcukupan energi merencanakan
psikologis atau fisiologis untuk Kriteria hasil : program terapi
melanjutkan atau menyelesaikan d. Berpartisipasi yang tepat
aktifitas kehidupan sehari-hari yang dalam aktivitas b. Bantu klien untuk
harus atau yang ingin dilakukan. fisik tanpa mengidentifikasi
disertai aktivitas yang
peningkatan mampu dilakukan
tekanan darah, c. Bantu untuk
25

nadi dan RR memilih aktivitas


e. Mampu konsisten yang
melakukan sesuai dengan
aktivitas kemampuan fisik,
seharihari (ADLs) psikologi dan
secara mandiri sosial
f. Tanda-tanda vital d. Bantu untuk
normal mendapatkan alat
g. Energy bantuan aktivitas
psikomotor seperti kusi roda,
h. Level kelemahan krek
i. Manpu e. Bantu untuk
berpindah : membuat jadwal
dengan atau tanpa latihan diwaktu
bantuan alat luang
j. Status f. Bantu
kardiopulmonari pasien/keluarga
adekuat untuk
k. Sirkulasi status mengidentifikasi
baik kekurangan
dalam
beraktivitas.

4 Nyeri dada berhubungan dengan a. Pain level Pain management


infark paru-paru . b. Pain control a. Lakukan
c. Comfort level pengkajian nyeri
Definisi: pengalaman sensori dan secara
emosional yang tidak Kriteria hasil : komprehensif
menyenangkan yang muncul akibat a. Mampu termasuk lokasi,
kerusakan jaringan yang aktual atau mengontrol nyeri karakteristik,
potensial atau digambarkan dalam (tahu penyebab durasi, frekuensi,
hal kerusakan sedimikian rupa nyeri, mampu kualitas dan
mengguanakan faktor presipitasi
tehnik b. Observasi reaksi
nonfarmakologi nonverbal dari
untuk ketidaknyamanan
mengurangi c. Gunakan tehnik
nyeri, mencari komunikasi
bantuan) teraupetik untuk
b. Melaporkan mengetahui
bahwa nyeri pengalaman
berkurang nyeri pasien
dengan d. Kaji kultur yang
menggunakan mempengaruhi
manajemen nyeri respon nyeri
c. Mampu e. Evaluasi
mengenali nyeri pengalaman
(skala, intensitas, nyeri masa
frekuensi dan lampau
tanda nyeri) f. Evaluasi bersama
26

d. Menyatakan rasa pasien dan tim


nyaman setelah kesehatan lain
nyeri berkurang tentang
ketidakefektifan
kontrol nyeri
masa lampau
Analgesic
administration
g. Tentukan lokasi,
karakteristik,
kualitas dan
derajat nyeri
sebelum
pemberian obat
h. Cek intruksi
dokter tentang
jenis obat, dosis,
dan frekuensi
i. Cek riwayat
alergi
j. Pilih analgesik
yang diperlukan
atau kombinasi
dari analgesik
ketika pemberian
lebih dari satu
k. Tentukan pilihan
analgesik
tergantung tipe
dan beratnya
nyeri
l. Tentukan
analgesik pilihan,
rute pemberian,
dan dosis optimal
Pilih rute
pemberian secara
IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur.
27

5. Implementasi Keperawatan
Tanggal Dx Implementasi Evaluasi Paraf
1 a. Membuka jalan nafas, S : keluarga
gunakan teknik chin lift atau mengatakan pasien
jaw thrust bila perlu masih sesak -
b. Memposisikan pasien untuk Keluarga pasien
memaksimalkan ventilasi mengatakan gerakan
c. Melakukan fisioterapi dada dinding dada masih
jika perlu tidak setabil
d. Mengauskultasi suara nafas, O : klien tampak sesak
catat adanya suara tambahan RR : 35x/m
e. Mengatur intake untuk cairan A : masalh belum
Mengoptimalkan teratasi
keseimbangan P : lanjutkan intervensi
f. Memonitor respirasi dan
status O2
g. Monitoring rata-
rata,kedalaman, irama dan
usaha respirasi
h. Mencatat gerakan dada,
amati kesimetrisan,
penggunaan otot tambahan,
retraksi otot supraclavicular
dan intercostals
i. Memonitor suara nafas
seperti dengkur
j. Mengauskultasi suara nafas,
catat area penurunan/tidak
adanya ventilasi dan suara
tambahan
k. Mengauskultasi suara paru
setelah tindakan untuk
mengetahui hasilnya.

2 a. Mempastikan kebutuhan S : Keluarga


oral/suction mengatakan suara
b. Mengauskultasi suara napas napas pasien sudah
sebelum dan sesudah suction tidak ngorok lagi dan
c. Memberikan oksigen sesak sudah berkurang
menggunakan nasal kanul O : Bersihan jalan
d. Memonitor status napas dan napas pasien tampak
oksigen bersih
e. Membuka jalan napas A : Masalah teratasi
gunakan tekhnik chin lift sebagian
f. Momposisikan pasien untuk P : Lanjutkan
memaksimalkan intervensi
ventilasikeluarkan secret
dengan cara suction
Memonitor respirasi dan
28

status oksigen

3 a. Mengkolaborasikan dengan S : Klien tidak


tenaga medis dalam mengeluhkan pusing
merencanakan program dan sakit kepala -
terapi yang tepat Klien mengatakan
b. Membantu klien untuk sudah merasa tenang
mengidentifikasi aktivitas O : Tingkat kesadaran
yang mampu dilakukan pasien komposmetis
c. Membantu untuk memilih (GCS 12)
aktivitas konsisten yang A : Masalah teratasi
sesuai dengan kemampuan P : Intervensi selesai
fisik, psikologi dan sosial
d. Membantu untuk
mendapatkan alat bantuan
aktivitas seperti kusi roda,
krek
e. Membantu untuk membuat
jadwal latihan diwaktu luang
f. Membantu pasien/keluarga
untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas.

4 a. Melakukan pengkajian nyeri S : keluarga


secara komprehensif mengatakan pasien
termasuk lokasi, sudah bisa
karakteristik, durasi, menenangkan nyeri
frekuensi, kualitas dan faktor yang dialaminya.
presipitasi Pasien mengatakan
b. Mengobservasi reaksi nyeri berkurang setiap
nonverbal dari selesai diberikan obat
ketidaknyamanan O : Luka pasien
c. Menggunakan tehnik tampak bersih
komunikasi teraupetik untuk Bengkak pada pasien
mengetahui pengalaman sudah mengecil
nyeri pasien A : Masalah teratasi
d. Mengkaji kultur yang sebagian
mempengaruhi respon nyeri P : lanjutkan intervensi
e. Mengevaluasi pengalaman
nyeri masa lampau
f. Mengevaluasi bersama
pasien dan tim kesehatan lain
tentang ketidakefektifan
kontrol nyeri masa lampau
g. Menentukan lokasi,
karakteristik, kualitas dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat
h. Mengecek intruksi dokter
29

tentang jenis obat, dosis, dan


frekuensi
i. Mengecek riwayat alergi
j. Memilih analgesik yang
diperlukan atau kombinasi
dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Trauma thoraks adalah trauma yang mengenai dinding thoraks yang secara
langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada pada organ didalamnya,
baik sebagai akibat dari suatu trauma tumpul maupun oleh sebab trauma tajam.
Trauma thoraks ini diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu trauma tajam
dan trauma tumpul. Trauma thoraks ini diakibatkan berdasarkan jenis trauma
yang dialami yaitu jika terjadi open penumothoraks maka penyebab nya adalah
luka tusuk, luka tembak. Pada masif hematothoraks diakibatkan dari luka
tembus thoraks akibat benda tumpul, benda tajam, traumatic maupun spontan.
Kemudian pada tension pneumothoraks disebabkan oleh salah satunya adalah
ketidakberhasilan mengatasi open pneumothoraks ke pneumothoraks sederhana
dimana fungsi pembalut luka sebagai katup satu arah. Komplikasi yang dapat
ditimbulkan dari trauma thoraks ini adalah fraktur multiple dapat menyebabkan
kelumpuhan rongga dada. Sehingga dapat dilakukan pemeriksaan diagnostic
berupa tindakan Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik, foto thoraks, GDA & Ph,
CT-Scan dan lain-lain. Pemeriksaan primary survey dan pemeriksaan dada
secara keseluruhan harus dilakukan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi
dan menangani kondisi yang mengancam nyawa dengan segera. Pencegah
trauma thoraks yang efektif adalah dengan cara menghindari faktor
penyebabnya, seperti menghindari terjadinya trauma.

B. Saran
Penulis berharap kepada pembaca khususnya kami sendiri agar dapat
meningkatkan lagi ilmu dan pengetahuan yang dimiliki di bidang
Keperawatan Dasar Trauma dan Jantung khususnya yang terkait dengan
penyakit trauma thoraks.

29
DAFTAR PUSTAKA

Aru W, Sudoyo. (2010). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, edisi V. Jakarta:
Interna Publishing

Azzilzah, Y (2011). Flail Chest. https://www.scribd.com/doc/52578869/Flail-


Chest. Diakses pada tanggal 04 Maret 2019

Nugroho, T. Putri, B.T, & Kirana, D.P. (2015). Teori asuhan keperawatana gawat
darurat. Padang : Medical book

Nurarif, A.H, dan Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan keperawatan berdasarkan


diagnosa medis & Nanda NIC-NOC , jilid 1. Yogjakarta : Mediaction.

Patriani. (2012). Asuhan Keperawatan pada pasien trauma dada.


http://asuhankeperawatan-patriani.pdf.com/2008/07/askep-trauma-dada.html.
Diakses pada tanggal 04 Maret 2019

Pitojo, K (2016). Pola trauma tumpul thoraks non penetrans, penanganan, dan
hasil akhir di Instalasi Rawat Darurat Bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado periode Januari 2014 – Juni 2016. Jurnal e-Clinic (eCl), hal 1-5

Setyorini, NA (2015). Tension Pneumothoraks.


https://www.scribd.com/doc/294351306/Tension-pneumothoraks. Diakses
pada tanggal 04 Maret 2019

30