Anda di halaman 1dari 34

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya maka

kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PENINGKATAN KUALITAS

KETENAGAAN YANG EFEKTIF SESUAI STANDAR AKREDITASI”.

Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat dalam pemenuhan nilai mata kuliah

Manajemen Keperawatan.

Makalah ini tidak terlepas dari bantuan media massa, litelatur buku,

kerjasama kelompok kami serta bimbingan dari dosen pembimbing. Makalah ini

kami susun berdasarkan materi yang kami dapat dari media massa dan litelatur

buku.

Semoga makalah yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan

yang membutuhkan. Makalah ini tentunya terdapat kekurangan maupun kesalahan

untuk itu kritik dan saran serta masukan dari teman-teman sangat kami nantikan.

Akhir kata kami ucapkan terimakasih.

Pontianak, Februari 2019

Kelompok 7

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I ...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
C. Tujuan Penulisan .......................................................................................... 2
BAB II ..................................................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 3
A. Konsep Teori Ketenagaan ............................................................................ 3
1. Definisi Ketenagaan ................................................................................. 3
2. Langkah-Langkah Tanggung Jawab Ketenagaan ..................................... 3
3. Tanggung Jawab Dalam Ketenagaan ....................................................... 4
4. Prinsip-Prinsip Ketenagaan ...................................................................... 5
B. Konsep Teori Akreditasi .............................................................................. 6
1. Definisi ..................................................................................................... 6
2. Manfaat Akreditasi ................................................................................... 7
3. Kelulusan Akreditasi Rumah Sakit .......................................................... 7
a. Tingkat Dasar ........................................................................................... 7
C. Upaya Peningkatan Kualitas Ketenagaan Yang Efektif Sesuai Standar
Akreditasi .......................................................................................................... 10
BAB III .............................................................................................................. 30
PENUTUP ............................................................................................................. 30
A. Kesimpulan ................................................................................................ 30
B. Saran ........................................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 32

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keperawatan Indonesia sampai saat ini masih berada dalam proses
mewujudkan keperawatan sebagai profesi, maka akan terjadi beberapa
perubahan dalam aspek keperawatan yaitu: penataan pendidikan tinggi
keperawatan, pelayanan dan asuhan keperawatan, pembinaan dan
kehidupan keprofesian, dan penataan lingkungan untuk perkembangan
keperawatan. pelayanan keperawatan harus dikelola secara profesional,
karena tidak perlu adanya manajemen keperawatan.
Manajemen keperawatan harus dapat diaplikasikan dalam tatanan
pelayanan nyata di rumah sakit, sehingga perawat perlu memahami
berbagai konsep dan aplikasinya di dalam organisasi keperawatan itu
sendiri.
Manajemen berfungsi untuk melakukan semua kegiatan yang perlu
dilakukan dalam rangka mencapai tujuan dalam batas-batas yang telah
ditentukan pada tingkat administrasi. Manajemen adalah suatu ilmu dan
senii perancanaan, pengarahan, pengorganisasian dan pengontrol dari
benda dan manusia untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya
Manajemen keperawatan adalah proses pelaksanaan pelayanan
keperawatan melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan
keperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada pasien, keluarga dan
masyarakat (Gillies, 1989)
Untuk lebih memahami arti dari manajemen keperawatan maka kita
perlu mengetahui terlebih dahulu Apa yang dimaksud dengan organisasi
keperawatan, Bagaimana tugas dan tanggung jawab dari masing-masing
personil di dalam organisasi yang pada akhirnya akan membawa kita untuk

1
2

lebih mengerti bagaimana konsep dasar dari manajemen keperawatan itu


sendiri.

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah cara meningkatkan kualitas ketenagaan yang sesuai
dengan standar akreditasi ?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui tentang konsep ketenagaan.
2. Mengetahui tentang akreditasi.
3. Mengetahui cara meningkatkan kualitas ketenagaan sesuai standar
akreditasi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Teori Ketenagaan
1. Definisi Ketenagaan
Ketenagaan didefinisikan sebagai rencana sumber daya manusia
untuk mengisi posisi dalam sebuah organisasi dengan personil yang
berkualitas. Strategi ketenagaan merupakan tindakan yang dilakukan
untuk memenuhi kebutuhan sumber daya di masa depan, merekrut dan
memilih pegawai yang memenuhi kebutuhan sumber daya di masa
depan, merekrut dan memilih pegawai yang memenuhi syarat dan
sesuai dengan kebutuhan oeganisasi. Strategi ketenagaan juga
disesuaikan dengan misi rumah sakit, dan sasaran yang akan dicapai
dalam jangka waktu tertentu.
2. Langkah-Langkah Tanggung Jawab Ketenagaan
Tertulis dalam buku (Huston, 2010), meskipun setiap langkah memiliki
interdependensi dengan semua kegiatan ketenagaan :
a. Agar dapat memenuhi filosofi, memenuhi tanggungjawab
perencanaan keuangan dan menjalankan organisasi manajemen
asuhan pasien yang dipilih, tentukan jumlah dan tipe personal yang
dibutuhkan.
b. Terima tenaga baru, wawancara, pilih, dan pekerjaan seseorang
berdasarkan standar deskripsi hasil kerja yang telah ditetapkan.
c. Gunakan sumber daya organisasi untuk induksi dan orientasi.
d. Pastikan bahwa setiap pegawai cukup tersosialisasi terhadap nilai
organisasi dan norma unit.
e. Kembangkan program pendidikan staf yang akan membantu
pegawai memenuhi tujuan organisasi.

3
4

f. Gunakan penjadwalan yang kreatif dan fleksibel berdasarkan


kebutuhan asuhan pasien untuk meningkatkan produktivitas dan
retensi.
3. Tanggung Jawab Dalam Ketenagaan
Beberapa tugas atau tanggung jawab Kepala Ruangan (Karu), Ketua
Tim (Katim), dan Anggota Tim secara umum memiliki tanggung jawab
yang berbeda-beda, antara lain :
a. Tanggung jawab Karu
1) Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf
2) Membantu staf menetapkan sasaran dari ruangan
3) Memberi kesempatan katim untuk mengembangkan
keterampilan kepemimpinan dan managemen
4) Mengorientasikan tenaga baru
5) Menjadi nara sumber bagi tim
6) Mendorong kemampuan staf untuk menggunakan riset
keperawatan
7) Menciptakan iklim komunikasi terbuka
b. Tanggung jawab Katim
1) Melakukan orientasi kepada pasien baru & keluarga
2) Mengkaji setiap klien, menganalisa, menetapkan rencana
keperawatan, menerapkan tindakan keperawatan dan
mengevaluasi rencana keperawatan.
3) Mengkoordinasikan renpra dengan tindakan medis melalui
komunikasi yang konsisten
4) Membagi tugas anggota tim dan merencanakan kontinuitas
asuhan keperawatan melalui konfers
5) Membimbing dan mengawasi pelaksanaan asuhan keperawatan
oleh anggota tim
6) Bertanggung jawab terhadap kepala ruangan
c. Tanggung jawab Anggota Tim
1) Melaksanakan perawatan sesuai renpra yang dibuat katim
5

2) Memberikan perawatan total/komprehensif pada sejumlah


pasien
3) Bertanggung jawab atas keputusan keperawatan selama kkatim
tidak ada ditempat
4) Berkontribusi terhadap perawatan
a) Observasi terus-menerus
b) Ikut ronde keperawatan
c) Berinteraksi dengan pasien dan keluarga
d) Berkontribusi dengan katim/karu bila ada masalah

4. Prinsip-Prinsip Ketenagaan
Prinsip untuk staf perawat yang ditulis dalam buku yang ditulis oleh
(Ambos Kai, 2010) dikembangkan untuk membimbing tenaga kerja
perawat. 9 prinsip tersebut disusun menjadi 3 kategori yang berkaitan
dengan unit perawatan pasien, staf dan organisasi. Sembilan prinsip
tersebut adalah sebagai berikut (Ana, 1999)
a. Unit perawatan pasien
1) Tingkat ketenagaan yang sesuai untuk unit perawatan pasien
mencerminkan analisis kebutuhan pasien individual dan
agregat.
2) Tingkat berikut adalah kebutuhan kritis untuk menunda atau
mempertanyakan secara serius kegunaan konsep jam
perawatan.
3) Fungsi unit yang diperlukan untuk mendukung penyampaian
asuhan keperawatan berkualitas juga harus diperhatikan dalam
menentukan tingkat ketenagaan.
b. Staf
1) Kebutuhan khusus dari berbagai pasien harus memenuhi
kompetensi klinis yang sesuai dengan praktik perawat di
wilayah tersebut.
6

2) Registered Nurse (RN) harus memiliki dukungan manajemen


keperawatan dan perwakilan baik di tingkat operasional
maupun tingkat eksekutif.
3) Dukungan klinis dari RN yang berpengalaman harus tersedia
untuk RN tersebut dengan kemampuan yang kurang
c. Organisasi
1) Kebijakan organisasi harus mencerminkan organisasi yang
menghargai perawat terdaftar dan karyawan lainnya sebagai
aset strategis dan menunjukkan komitmen sejati untuk mengisi
posisi yang dianggarkan pada waktu yang tepat.
2) Institusi harus memiliki kompetensi terdokumentasi untuk staf
perawat, termasuk RN atau RN tambahan dan bepergian,
untuk kegiatan yang telah mereka lakukan.
3) Kebijakan organisasi harus mengenali berbagai kebutuhan
baik pasien maupun staf perawat.
B. Konsep Teori Akreditasi
1. Definisi
Akreditasi menurut ensiklopedi masional adalah suatu bentuk
pengakuan yang diberikan oleh pemerintah untuk suatu lembaga atau
institusi.
Akreditasi rumah sakit ialah suatu pengakuan yang diberikan oleh
pemerintah pada rumah sakit karena telah memenuhi standar yang
disyaratkan. Akreditasi rumah sakit merupakan salah satu cara
pemantauan bagi pelaksanaan pengukuran indikator kinerja rumah
sakit. Pengembangan penilaian terhadap kinerja rumah sakit merupakan
tugas dari pemerintah dalam hal ini adalah Departement Kesehatan.
(Kusbaryanto, 2010)
Sedangkan menurut Departemen Kesehatan RI, akreditasi rumah
sakit adalah pengakuan oleh pemerintah kepada rumah sakit karena
telah memenuhi standar yang telah ditentukan. Untuk sampai kepada
pengakuan, rumah sakit melalui suatu penilaian yang didasarkan pada
7

Standar Nasional perumahsakitan (Depkes, 1999). Penilaian dilakukan


berulang dengan interval yang reguler dan diawali dengan kegiatan
kajian mendiri (self assesment) oleh rumah sakit yang dinilai. Survei
akreditasi ini dilakukan oleh badan yang terlegitimasi dan di Indonesia
adalah Komite Akreditasi Rumah Sakit dan Sarana kesehatan lainnya
(KARS), sedangkan sertifikasi diberikan oleh Dirjen Pelayanan Medik
DepKes RI berdasarkan rekomendasi KARS.
2. Manfaat Akreditasi
Manfaat dapat dirasakan oleh pemilik rumah sakit, karyawan, pihak ke-
3 (asuransi, suplier, pendidikan tenaga kesehatan) maupun masyarakat
pengguna jasa layanan rumah sakit dengan memberikan pelayanan
kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
3. Kelulusan Akreditasi Rumah Sakit
a. Tingkat Dasar
Empat bab digolongkan Major, nilai minimum setiap bab harus 80
(delapan puluh) % :
1) Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit
2) Hak Pasien dan Keluarga (HPK)
3) Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)
4) Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)
Sebelas bab digolongkan Minor, nilai minimum setiap bab harus 20
(duapuluh) % :
1) Millenium Development Goal’s (MDG’s)
2) Akses Pelayanan dan Kontinuitas pelayanan (APK)
3) Asesmen Pasien (AP)
4) Pelayanan Pasien (PP)
5) Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)
6) Manajemen Penggunaan Obat (MPO)
7) Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)
8) Kualifikasi dan Pendidikan Staff (KPS)
9) Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
8

10) Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan ( TKP)


11) Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)

b. Tingkat Madya
Delapan bab digolongkan Major, nilai minimum setiap bab harus 80
%:
1) Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit
2) Hak Pasien dan Keluarga (HPK)
3) Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)
4) Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)
5) Millenium Development Goal’s (MDG’s)
6) Akses Pelayanan dan Kontinuitas pelayanan (APK)
7) Asesmen Pasien (AP)
8) Pelayanan Pasien (PP)
Tujuh bab digolongkan Minor, nilai minimumsetiap bab harus 20 %
:
1) Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)
2) Manajemen Penggunaan Obat (MPO)
3) Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)
4) Kualifikasi dan Pendidikan Staff (KPS)
5) Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
6) Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan (TKP)
7) Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)
c. Tingkat Utama
Duabelas bab digolongkan Major, nilai minimumsetiap babharus 80
%:
1) Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit
2) Hak Pasien dan Keluarga (HPK)
3) Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)
4) Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)
5) Millenium Development Goal’s (MDG’s)
9

6) Akses Pelayanan dan Kontinuitas pelayanan (APK)


7) Asesmen Pasien (AP)
8) Pelayanan Pasien (PP)
9) Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)
10) Manajemen Penggunaan Obat (MPO)
11) Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)
12) Kualifikasi dan Pendidikan Staff (KPS)
Tiga bab digolongkan Minor, nilai minimum setiap babharus 20 % :
1) Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
2) Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan (TKP)
3) Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)
d. Tingkat Paripurna
Lima belas (semua) bab digolongkan Major, nilai minimum setiap
bab harus 80 % :
1) Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit
2) Hak Pasien dan Keluarga (HPK)
3) Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)
4) Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)
5) Millenium Development Goal’s (MDG’s)
6) Akses Pelayanan dan Kontinuitas pelayanan (APK)
7) Asesmen Pasien (AP)
8) Pelayanan Pasien (PP)
9) Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)
10) Manajemen Penggunaan Obat (MPO)
11) Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)
12) Kualifikasi dan Pendidikan Staff (KPS)
13) Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
14) Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan (TKP)
15) Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)
10

C. Upaya Peningkatan Kualitas Ketenagaan Yang Efektif Sesuai


Standar Akreditasi
Berdasarkan sasaran standar akreditasi di rumah sakit yang terdiri dari :
1. Sasaran Keselamatan Pasien (SKP)
a. Mengidentifikasi pasien dengan benar
Proses identifikas yang digunakan di rumah sakit mengharuskan
terdapat paling sedikit 2 (dua) dari 3 (tiga) bentuk identifikasi, yaitu
nama pasien, tanggal lahlr, nomor rekam medik, atau bentuk
lainnya (misalnya, nomor Induk kependudukan atau barcode).
Nomor kamar pasien tidak dapat digunakan untu
Idendfikasipasien. Dua (2) bentuk identifikasl ini digunakan dl
semua area layanan rumah sakit seperi di rawat jalan, rawat inap,
unit darurat, kamar operasi, unit layanan diagnostik, dan lalnnya.
Dua (2) bentuk identifikasi harus dilakukan dalam setiap keadaan
terkait intervensi kepada pasien. Misalnya, identifikasi paslen
dillakukan sebelum memberikan. radloterapl, menerima calran
intravena, hemodiallss, pengambilan daran atau pengambilan
spesimen lain untuk pemeriksaan klinis, katerisasi jantung,
prosedur radiologl diagnostik, dan Identifikasi terhadap pasien
koma.
b. Meningkatkan komunikasi yang efektif
2 Komunikasi dianggap efektif bila tepat waktu, akurat, lengkap,
tidak mendua (ambiguous), dan diterima oleh penerima Informasl
yang bertujuan mengurangi kesalahan-kesalahan dan
meningkatkan keselamatan pasien. Komunkasi dapat berbentuk
verba, elektronilk, atau tertulis. Komunikas yang jelek dapat
membahayakan pasien.
Komunikasi yang rentan terjadi kesalahan adalah saat perintah
lisan atau perintah melaluil telepon, komunikasi verbal, saat
menyampaikan hasil pemeriksaan kritis yang harus disampaikan
lewat telpon. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan aksen dan
11

dialek. Pengucapan juga dapat menyulitkan penerima perintah


untuk memahami perintah yang diberikan. Misalnya, nama-nama
obat yang rupa dan ucapannya mirip (look alike, sound alike),
seperti phenobarbltal dan phentobarbital, serta lainnya. Pelaporan
hasil pemeriksaaan diagnosrk kritis juga merupakan salah satu isu
keselamatan pasien. Pemeriksaan diagnostik krits termasuk, tetapi
tidak terbatas pada :
1) Pemeriksaaan laboratorium;
2) Pemeriksaan radiolog
3) Pemeriksaan kedokteran nuklir
4) Prosedur ultrasonografi; el magnetic resonance imaging
5) Diagnostik Jantung
6) Pemeriksaaan diagnostik yang dilakukan di tempat tidur
pasien, seperti hasil tanda-tanda vital, portable radiographs,
bedside ultrasound, atou tronsesophogeal echocardlograms.
Hasil yang diperoleh dan berada di luar rentang angka normal
secara mencolok akan menunjukkan keadaan yang berisiko tinggi
atau mengancam jiwa. Sistem pelaporan formal yang dapat
menunjukkan dengan jelas bagaimana nilai kritis hasil
pemeriksaaan diagnostik dikomunikasikan kepada staf medis dan
informasi tersebut terdokumentasi untuk mengurangi risiko bagi
pasien. Tiap-tiap unit menetapkan nilai kritis hasil pemeriksaan
dlagnostiknya.
Untuk melakukan komunikasi secara verbal atau melalui
telpon dengan aman dilakukan hal-hal sebagal berikut:
1) Pemesanaan obat atau permintaan obat secara verbal sebaiknya
dihindari
2) Komunikasi secara tertulils komunikasi dalam keadaan darurat
karena komunikasi secara tertuls elektronik tidak mungkin
dilakukan maka harus ditetapkan panduannya melipurt
permintaan pemeriksan, penerimaan hasil pemeriksaaan dalam
12

keadaan darurat, identifikasi dan penetapan nilai kritis, hasil


pemeriksaan diagnostik, serta kepada siapa dan oleh siapa hasil
pemeriksaaan kritis dilaporkan; atau komunikasi.
3) Prosedur menerima perintah pesan atau lewat telpon meliputi
penulisan secara lengkap permintaan atau hasil pemeriksaaan
oleh penerima informasi, penerima membaca kembali
permintaan atau hasil pemeriksaaan, dan pengirim memberi
konfirmasi atas apa yang telah ditulis secara akurat.
4) Penggunaan singkatan-singkatan yang tidak ditetapkan oleh
rumah sakit sering kali menimbulkan kesalahan komunikasi
dan dapat berakibat fatal. Oleh karena itu, rumah sakit diminta
memiliki daftar singkatan yang diperkenankan dan dilarang.
5) Serah terima asuhan pasien (hand over) di dałam rumah sakit
terjadi a) antar-PPA seperti antara staf medls dan staf medis,
antara staf medis dan staf keperawatan atau dengan staf klnis
lainnya, atau antara PPA dan PPA lainnya pada saat pertukaran
shift.
6) Antarberbagai tingkat layanan di dalam rumah sakit yang sama
seperti jika pasien diplndah dari unit intensif ke unit perawatan
atau dari unit darurat ke kamar operasi; dan dari unit rawat inap
ke unit layanan diagnostk atau unit tindakan seperti radiologi
atau unit terapi ftsik.
7) Gangguan komunikasi dapat terjadi saat dilakukan serah terima
asuhan pasien yang dapat berakibat kejadian yang tidak
diharapkan (adverse event) atau kejadian sentinel. Komunikasi
yang baik dan terstandar baik dengan pasien, keluarga pasien,
dan pemberi layanan dapat memperbaiki secara signifikan
proses asuhan pasien.

c. Meningkatkan keamanan obat-obat yang harus diwaspadai (High


Alert Medication)
13

Informasi atau data yang terkait penggunaan obat di dalam


rumah sakit, data tentang "kejadian yang tidak diharapkan"
(adverse event) atau "kejadian nyaris cedera" (near miss) termasuk
risiko terjadl salah pengertian tentang NORUM. Informasi dari
kepustakaan seperti dari institute for Safe Health Medication
Practices (ISMP), Kementerian Kesehatan, dan lainnya. Obat-obat
ini dikelola sedemikian rupa untuk menghindari kekuranghati-
hatian dalam menyimpan, menata, dan menggunakannya termasuk
administrasinya, contoh dengan memberi label atau petunjuk
tentang cara menggunakan obat dengan benar pada obat-obat high
alert. Untuk meningkatkan keamanan obat vang perlu diwaspadai,
rumah saklt perlu menetapkan risiko spesifik dari setiap obat
dengan tetap memperhatikan aspek peresepan, menyimpan,
menyiapkan, mencatat, mengsunakan, serta monitoringnya Obat
high alert harus disimpan di instalasi farmasi/unit/depo. Bila rumah
sakit ingin menylmpan di luar lokasi tersebut, disarankan disimpan
di depo farmasi yang berada di bawah tanggung jawab
apoteker.Rumah sakit membuat daftar semua obat high afert
dengan menggunakan
d. Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar,
pembedahan pada pasien yang benar
Rumah sakit harus menentukan area-area di dalam rumah sakit
yang melakukan tindakan bedah dan prosedur invasif. Rumah sakit
diminta untuk menetapkan prosedur yang seragam sebagai berikut
:
1) Beri tanda ditempat operasi
2) Dilakukan verifikasi praoperasi
3) Melakukan time out sebelum insisi kulit dimulai
Rumah sakit perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu
kebijakan dan atau prosedur yang efektif di dalam meminimalkan
resiko ini. Kebijakan termasuk definisi operasional yang
14

memasukkan sekurang-kurangnya prosedur yang menginvestigasi


dan atau mengobati penyakit serta kelainan/disorder pada tubuh
manusia. Kebijakan berlaku atas setiap lokasi dirumah sakit bila
prosedur ini dijalankan.
e. Mengurangi resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
Upaya penting untuk menghilangkan masalah infeksi adalah
dimana suatu rumah sakit harus menetapkan standar pencegahan
pengendalian infeksi (PPI) sebagai acuan dalam menjalankan tugas
staf agar tidak menimbulkan infeksi yang terjadi di rumah sakit
(Nosokomial Infection).
f. Mengurangi resiko cedera pasien akibat terjatuh
Rumah sakit melakukan evaluasi tentang pasien jatuh dan
melakukan upaya mengurangi resiko pasien jatuh. Rumah sakit
membuat program untuk mengurangi pasien jatuh yang meliputi
manajemen resiko dan assesment ulang secara berkala di populasi
pasien dan atau lingkungan tempat pelayanan dan asuhan itu
diberikan.
Rumah sakit menjalankan program pengurangan resiko jatuh
dengan menetapkan regulasi yang sesuai dengan lingkungan dan
fasilitas rumah sakit. Program ini mencakup monitoring terhadap
kesengajaan dan atau ketidak sengajaan dari kejadian jatuh.
Misalnya; pembatasan gerak (restrain) atau pembatasan intake
cairan.
2. Standar pelayanan berfokus pasien
Meningkatkan mutu asuhan pasien dan efisiensi penggunaan sumber
daya yang tersedia di rumah sakit.
a. Kebutuhan pasien yang dapat dilayani oleh rumah sakit
b. Pemberian pelayanan yang efisien kepada pasien
c. Rujukan ke pelayanan yang baik di dalam maupun keluar rumah
sakit
d. Pemulangan pasien yang tepat dan aman kerumah.
15

3. HAK pasien dan keluarga (HPK)


a. Melakukan identifikasi, melindungi, dan mengoptimalkan hak
pasien
b. Memberitahu pasien tentang HAK mereka
c. Melibatkan keluarga pasien bila kondisi memungkinkan dalam
pengambilan keputusan tentang pelayanan pasien
d. Mendapatkan persetujuan tindakan (informed consent)
e. Mendidik staf tentang hak dan kewajiban pasien.
HAK serta kewajiban pasien dan keluarga merupakan elemen dasar
dari semua interaksi di rumah sakit, staf rumah sakit, pasien dan
keluarga. Oleh karena itu harus ada regulasi yang memastikan
semua staf sadar dan tanggap terhadap isu hak serta kewajiban
pasien dan keluarga pada waktu berinteraksi saat memberikan
asuhan kepada pasien.
4. Assesmen Pasien (AP)
Tujuan assesmen pasien yang efektif akan menghasilkan keputusan
tentang kebutuhan asuhan, pengobatan pasien yang harus segera
dilakukan dan pengobatan berkelanjutan untuk emergensi, elektif atau
pelayanan terencana, bahkanketika kondisi pasien berubah. Proses
assesmen pasien adalah proses yang terus menerus dan dinamis yang
digunakan pada sebagian besar unit kerja rawat jalan.
5. Pelayanan dan Asuhan Pasien (PAP)
Tanggungjawab rumah sakit dan staf yang terpenting adalah
memberikan asuhan dan pelayanan pasien yang efektif dan aman. Hal
ini membutuhkan komunikasi yang efektif, kolaborasi, dan
standardisasi proses untuk memastikan bahwa rencana, koordinasi, dan
implementasi asuhan mendukung serta merespon setiap kebutuhan unik
pasien target. Asuhan tersebut dapat berupa upaya pencegahan, paliatif,
kuratif, atau rehabilitatif termasuk anestesia, tindakan bedah,
pengobatan, terapi suportif, atau kombinasinya, yang berdasar atas
assesmen ulang pasien.
16

6. Pelayanan anestesi dan bedah (PAB)


Anestesi dan sedasi umumnya merupakan suatu rangkaien proses
yang dimulai dari sedasiminimal hingga anastesi penuh. Oleh karena
respons pasien dapat berubah- ubah sepanjang berlangsungnya
rangkaian tersebut maka penggunaan anestesi dar sedasi diatur secara
terpadu. Dalam bab ini dibahas anestesi serta sedasi sedang dar dalam
yang keadaan ketiganya berpotensi membahayakan refleks protektif
pasien terhadap fungsi pernapasan. Dalam bab ini tidak dibahas
penggunaan sedasi minimal (anxiolysis) atau penggunaan sedasl untuk
penggunaan ventilator.
Standar pelayanan anestesi dan bedah berlaku di area manapun
dalam rumah sakit yang mengs akan anestesi, sedasi sedang dan dalam,
dan juga pada tempat dilaksanakannya prosedur pembedahan dan
tindakan Invasif lainnya yang membutuhkan persetujuan tertulis
(informed consent) (lhat HPK.6.4). Area ini meliputi ruang operasi
rumah sakit, rawat sehari, klinik gigl, klinik rawat jalan, endoskopl.
radiologi, gawat darurat, perawatan intensif, dan tempat lainnya.
a. Organisasi dan manajemen
Rumah sakit menyediakan pelayanan anestesi (termasuk
sedasi sedang dan dalam) untuk memenuhi kebutuhan pasien dan
pelayanan tersebut memenuhi peraturan perundang-undangan
standar profesi.
Rumah sakit mempunyai suatu system untuk pelayanan
anestsi, serta sedasi moderat dan dalam untuk melayani kebutuhan
pasien, kebutuhan pelayanan klinis yang ditawarkan, serta
kebutuhan para PPA yang memenuhi peraturan perundang-
undangan dan standar profesi.
Pelayanan anestesi, serta sedasi moderat dan dalam (termasuk
layanan yang diperlukan untuk kegawatdaruratan) tersedia 24 jam.
b. Pelayanan sedasi
17

Prosedur pemberian sedasi dilakukan seragam di tempat


pelayanan di dalam rumah sakit termasuk unit di luar kamar oprasi
oleh karena prosedur pemberian sedasi seperti layaknya anestsi
mengandung resiko potensial pada pasien. Pemberian sedasi pada
pasien harus dilakukan seregam dan sama di semua tempat rumah
sakit.

Pelayanan sedasi yang seragam meliputi :


1) Kualitas staf yang memberikan sedasi
2) Peralatan medis yang digunakan
3) Bahan yang dipakai
4) Cara monitoring di rumah sakit
Setelah tindakan selesai dikerjakan, pasien masih tetap beresiko
terhadap komplikasi karena keterlambatan absorsi obat sedasi,
terdapat depersi pernapasan, dan kekurangan stimulasi akibat
tindakan. Ditetapkan kreteria pemulihan pasien yang siap untuk
ditransfer.

c. Asuhan pasien anestesi


Asesmen pra-anestesi berbaris IAR (informasi, Analisis,
Rencana) juga memberikan informasi yang diperlukan untuk
1) Mengetahui masalah saluran pernapasan
2) Memberikan anestesi dan rencana asuhan anestesi
3) Memberikan anestesi yang aman berdasarkan atas asesmen
pasien, resiko yang ditemukan, dan jenis tindakan
4) Menafsirkan temuan pada waktu monitoring selama anestesi
dan pemulihan
5) Memberikan informasi obat analgesia yang akan digunakan
pascaoprasi.
18

Dokter spesialis melakukan asesmen pra-anastesi. Asesmen pra-


anastesi dapat dilakukan sebelum masuk rawat inap atau sebelum
dilakukan tindakan bedah atau sesaat menjelang oprasi, misalnya
pada pasien darurat. Asesmen prainduksi berbasis IAR, terpisah dari
asesmen pra-anestesi, focus pada stabilitas fisiologis dan kesiapan
pasien untuk tindakan anestesi, dan berlangsung sesaat sebelum
indikasi anetesi.

d. Asuhan pasien bedah


Asuhan untuk paslen bedah dicatat di rekam medis. Untuk
pasien yang langsung dilayani oleh dokter bedah, asesmen
prabedah menggunakan asesmen awal rawat inap, pada pasien
yang diputuskan dilakukan pembedahan dalam proses perawatan.
Asesmen dicatat dalam rekam medis, sedangkan paslen yang
dikonsultaslkan di tengah perawatan oleh dokter penanggung
jawab pelayanan (DPJP) lain dan diputuskan operasi maka
asesmen prabedah juga dicatat di rekam medis (dengan isi berbasis
AR) sesuai dengan regulasi rumah sakit Hal ini termasuk dilagnosis
praoperasi dan pascaoperasi serta nama tindakan operasi.
Untuk mendukung kesinambungan asuhan pasien pascacperasi
maka laporen operasi dicatat segera setelah operasi selesai,
sebelum pasien dipindah dari daerah operasi atau dari area
pemulihan pasca-anestesi.
Laporan yang tercatat tentang operasi memuat paling sedlkit
1) diagnosls pascaoperasi;
2) nama dokter bedah dan asistennya;
3) prosedur operasi yang dilakukan dan rincian temuan;
4) ada dan tidak ada komplikasi
5) spesimen operasi yang dikirim untuk diperiksa;
6) jumlah darah yang hilang dan jumlah yang masuk lewat
transfus;
19

7) nomor pendaftaran alat yang dipasang (Implan);


8) tanggal, waktu, dan tando tangan dokter yang bertanggung
jawab.
Banyak tindakan bedah menggunakan implan prostedk antara lain
panggul, lutut, pacu Jantung, dan pormpa insulin.
Tindakan operasi seperti in mengharuskan tindakan operasi rutin
yang dimodifikasi dengan mempertimbangkan faktor khusus
seperti
1) pemilihan implan berdasar atas peraturan perundangan;
2) modifikasi surgical sofety checklist untuk memastikan
ketersediaan implan di kamar operasi dan pertimbangan
khusus untuk penandaan lokasi operast;
3) kualifikasi dan pelatihan setiap staf dari luar yang dibutuhkan
untuk pemasangan implan (staf dari pabrik atau perusahaan
implan untuk mengkalibrasil);
4) proses pelaporan jika ada ke adian yang tidak diharapkan
terkait implan;
5) proses pelaporan malfungsi implan sesual dengan
standar/aturan pabrik;
6) pertimbangan pengendalian Inleksi yang khusus; g) instruksi
khusus kepada pasien setelah operasi;
7) kemampuan penelusuran (traceability) alat jika terjadi
penarikan kembali (recail) alat dengan melakukan antara lain
menempelkan barcode alat di rekam medis.

e. Ruang operasi
20

Tindakan bedah merupakan tindakan yang berisiko tinggi dan


rumit sehingga memerlukan ruang operasi yang mendukung
terlaksananya tindakan bedah untuk mengurangi risiko infeksi.
Selain itu, untuk mengurangl risiko infeksi
1) alur masuk barang-barang steril harus terpisah dari alur keluar
barang dan pakalan kator;
2) koridor steril dipisahkan dan tidak boleh bersilangan alurmya
dengan koridor kotor;
3) desain tata ruang operasi harus memenuhi ketentuan zona
berdasar atas tingkat sterilitas ruangan yang terdiri atas
 zona steril rendah;
 zona steril sedang
 zona steril tingg;
 zona steril sangat tinggi.

7. Pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat (PKPD)


Pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat merupakan kamponen
yang penting dalam pengobatan simtomatik, preventit, kuratif, pallatif,
dan rehabllitatf terhadap penyakit dan berbagal kondisi, serta mencakup
slstem dan proses yang digunakan rumah sakit dalam memberikan
farmakoterapl kepada paslen. Pelayanan kefarmasian dlakukan secara
mulüdisiplin dalam koordinasi para staf di rumah sakit.
Rumah sakit menerapkan prinsip rancang proses yang efektif,
Implementasi dan peningkatan mutu terhadap seleksl, pengadaan,
penyimpanan, peresepan atau permintaan obat atau instruksi
pengobatan, penyallnan (transcribe), pendistribuslan, penyiapan
(dispensing), pemberlan, pendokumentasian, dan pemantauan terapi
obat. Praktk penegunaan obat yang tidak aman (unsafe medication
practices) dan kesalahan penggunaan obat (medication errors) adalah
penyebab utama cedera dan bahaya yang dapat dihindari dalam sistem
pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Oleh karena itu, rumah sakit
21

diminta untuk mematuhl peraturan perundang-undangan, membuat


sistem pelayanan kefarmaslan, dan penegunaan obat yang lebth aman
yang senantiasa berupaya menurunkan kesalahan pemberian obat.
a. Pengorganisasian
Pengorgansasian pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat di
rumah sakit harus sesual dengan peraturan perundangan-undangan
dan diorganisir untuk memenuhi kebutuhan pasien.
Pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat merupakan bagian
penting dalam pelayanan pasien sehingga organisasinya harus
efektif dan efislen, serta bukan hanya tanggung jawab apoteker,
tetapi juga profesional pemberi asuhan dan staf kinis pemberi asuhan
lainnya. Pengaturan pembagian tanggung jawab bergantung pada
struktur organisasi dan staffing. Struktur organisasi dan operasional
sistem pelayanan kefarmasian serta penggunaan obat di rumaii saklt
mengacu pada peraturan perundang-undangan.
Pelayanan kefarmasian dilakukan oleh apoteker yang melakukan
pengawasan dan supervisi semua aktivitas pelayanan kefarmasian
serta penggunaan obat di rumah sakit.
Untuk memastikan keefektifannya maka rumah sakit melakukan
kajian sekurang-kurangnya sekall setahun. Kajian tahunan
mengumpulkan semus informasi dan pengalaman yang
berhubungan dengan pelayanan kefarmasian dan perggunaan obat,
termasuk angka kesalahan penggunaan obat serta upaya untuk
menurunkan Kajlan bertujuan membuat rumah sakit memahami
kebutuhan dan prioritas perbaikan sistem berkelanjutan dalam hal
mutu, keamanan, manfaat, serta khasiat obat dan alat kesehatan.

b. Seleksi dan pengadaan


Rumah sakit harus menetapkan formularlum obat yang mengacu
pada peraturan perundang-undangan. Formularlum ini didasarkan
atas misi rumah sakit, kebutuhan paslen, dan Jenis pelayanan yang
22

diberikan. Seleksi obat adalah suatu proses kerja sama yang


mempertimbangkan balk kebutuhan dan keselamatan paslen
maupun kondisi ekonominya. Apabla terjadi kehablsan obat karena
keteriambatan pengiriman, stok naslonal kurang, atau sebab lain
yang tidak diantisipasi sebelumnya maka tenaga kefarmasian harus
menginformasikan kepada profesional pemberi asuhan dan staf
klinis pemberi asuhan lainnya tentang kekosongan obat tersebut
serta saran substitusinya atau mengadakan perjanjian kerjasama
dengan pihak luar.
c. Penyimpanan
Rumah sakit mengatur tata kelola penyimpanan elektrolit konsentrat
yang baik, benar, dan araan sesual dengan peraturan perundang-
undangan. Jika ada pasien emerjensi maka akses cepat ke tempat
obat yang diperlukan meojadi sangat penting dan obat harus slap
pakal bila sewaktu-waktu diperlukan. Setiap rumah sakit harus
membuat rencana lokasi penyimpanan obat emerjensi, contoh troli
obat emerjensi yang tersedia di berbagal unit pelayanan, obat untuk
mengatasi syok anafilatik di tempat penyuntikan, dan obat untuk
pemulihan anestesi ada di kamar operasi. Obat emerjensi dapat
disimpan di lemari emerjensi, troli, tas/ ransel, kotak, dan lainnya
sesual dengan kebutuhan dl tempat tersebut. Rumah sakit diminta
menetapkan prosedur untuk memastikan ada kemudahan untuk
mencapal dengan cepat tempat penyimpanan obat emerjensi jika
dlbutuhkan, termasuk obat selalu harus segera diganti kalau
digunakan, bila rusak atau kadaluarsa, selain itu keamanan obat
emergensi harus diperhatikan.

d. Peresepan dan penyalinan


Rumah sakit menetapkan staf medls yang kompeten dan berwenang
untuk mełakukan peresepan/permintaan obat serta instruksi
pengobatan. Staf medis dilatih untuk peresepan/permintaan obat dan
23

instruksi pengobatan dengan benar. Peresepan/permintaan obat dan


instruksi pengobatan yang tidak benar, tidak terbaca, dan tidak
lengkap dapat membahayakan paslen serta menunda kegiatan
asuhan pasien. Rumah sakit memiliki regulasi peresepan/permintaan
obat serta instruksi pengobatan dengan benar, lengkap, dan terbaca
tulisannya.
Rumah sakit menetapkan staf medls yang kompeten dan berwenang
untuk mełakukan peresepan/permintaan obat serta instruksi
pengobatan. Staf medis dilatih untuk peresepan/permintaan obat dan
instruksi pengobatan dengan benar. Peresepan/permintaan obat dan
instruksi pengobatan yang tidak benar, tidak terbaca, dan tidak
lengkap dapat membahayakan paslen serta menunda kegiatan
asuhan pasien. Rumah sakit memiliki regulasi peresepan/permintaan
obat serta instruksi pengobatan dengan benar, lengkap, dan terbaca
tulisannya.
e. Persiapan dan penyerahan
Untuk menjamin keamanan, mutu, manfaat, dan khasiat obat yang
disiapkan dan diserahkan pada pasien maka rumah sakit diminta
menylapkan dan menyerahkan obat dalam lingkungan yang pasien,
petugas, dan lirgkungan serta untuk mencegah kontaminasi tempat
penylapan obat harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan
dan praktik profesl seperti
1) pencampuran obat kemoterapi harus dfakukan di dalam bersih
(clean roomlyang dilengkapi dengan cytotoxic handling drug
safety cabinet dengan petugas sudah terlath dengan teknik
aseptik serta menggunakan alat perlindung diri yang sesual;
2) pencampuran obat intravena, epidural, dan nutrisi parenteral
serta pengemasan kembali obat suntik harus dilakukan dalam
ruang yang bersih (clean room) yang dilengkapi dengan
laminary airflow cabinetdan petugas sudah terlatih dengan
24

teknik aseptik serta menggunakan alat perlindung diri yang


sesuai;
3) staf yang menylapkan produk steril terlatih dengan prinsip
penylapan obat dan teknik aseptik.
Manajemen obat yang baik melakukan dua hal untuk dinilal di setiap
resep atau setiap ada pesanan obat. Pengkajlan resep untuk menilai
ketepatan baik administratf, dinis maupun farmasetik obat untuk
pasłen dan kebutuhan klnlsnya pada saat resep dibuat atau obat
dipesan
Pengkajian resep dilakukan oleh apoteker meliputi
1) ketepatan Identitas pasien, obat, dosis, frekuensi, aturan
minum/makan obat, dan waktu pemberian
2) duplikasi pengobatan
3) potensi alergi atau sensitivitas
4) Intereksi antara obat dan obat lain atau dengan makanan;
5) variasi kriteria penggunaan dari rumah sakit;
6) berat badan pasien dan atau informasi fisiologlk lainnya;
7) kontra indikasi
Telah obat dilakukan terhadap obat yang telah siap dan telah
dilakukan meliputi 5 (llma) informasi, yaitu
1) identitas pasien;
2) ketepatan obat;
3) dosis
4) rute pemberian;
5) waktu pemberian.
f. Pemberian (Administration) obat
Pemberian obat untuk pengobatan pasien memerlukan pengetahuan
speslfik dan pengalaman. Rumah sakit bertanggung Jawab
menetapkan staf kinis dengarn pengetahuan dan pengalaman yang
diperlukan, memiliki izin, dan sertifikat berdasar atas peraturan
perundang-undangan untuk memberikan obat. Rumah sakit dapat
25

membatasi kewenangan individu dalam melakukan pemberian obat,


sepert pemberian obat narkotika dan psikotropika, radioaktif, atau
obat penelitian. Dalam keadaan darurat maka rurmah sakit dapat
menetapkan tambahan staf klinis yang diber izin memberikan obat.
g. Pemantauan (monitor)
Standar ini bertujuan agar apabila timbul efek samping obat dapat
dilaporkan oleh profesional pemberi asuhan (PPA) kepada tim
farmasi dan terapiyangselanjutnya dilaporkan pada Pusat Meso
Nasional. Apoteker mengevaluasi efek obat untu memantau secara
ketat respons pasien dengan melakukan pemantauan terapl obat
[PTO). Apoteker bekerjasama dengan pasien, dokter, perawat, dan
tenaga kesehatan lainnya untuk memantau pasten yang diberi obat.
Rumah sakit menetapkan regulasi untuk efek samping obat yang
harus dicatat dan dilaporkan.
8. Managjemen komunikasi dan edukasi
Rumah sakit mengenali komunitas dan populasi pasiennya, serta
merencanakan komunlkasi berkelanjutan dengan kelompak kunci
(keygroup) tersebut. Komunikasi dapat dilakukan kepada individu
secara langsung atau melalui media publik dan agen yang ada di
komunitas atau plhak ketiga melalui komunikasi efektif. Tujuan
komunikasi efektif dengan masyarakat adalah memfaslitasi akses
masyarakat ke pelayanan di rumah sakit
a. Komunikasi dengan komitas masyarakat
Rumah sakit mengenali komunitas dan populasi pasiennya, serta
merencanakarn komunlkasi berkelanjutan dengan kelompak kunci
(keygroup) tersebut. Kcmunikasi dapat dilakukan kepada individu
secara langsung atau melalui media publik dan agen yang ada di
komunitas atau plhak ketiga melalul komunikasi efektif. Tujuan
komunikasi efektif dengan masyarakat adalah memfaslitasi akses
masyarakat ke pelayanan di rumah sakit.
b. Komunikasi dengan pasien dan keluarga
26

Pasien dan keluarga membutuhkan Informasi lengkap mengenai


asuhan dan pelayanan yang disediakan olah rumah sakit, serta
bagaimana untuk mengakses pelayanan tersebut. Memberikan
informasi ini penting untuk membangun komunikas yang terbuka
dan terpercaya antara pasien, keluarga, dan rumah sakit. Informasi
tersebut membantu mencocokkan harapan pasien dengan
kemampuan rumah sakit Informasi sumber alternatif asuhan dan
pelayanan diberikan jika rumah sakit tidak dapat menyediakan
asuhan serta pelayanan yang dibutuhkan pasien di luar misi dan
kemampuan rumah saklt
c. Tb
d.
e. vrgv
9. Kelompok standar manajemen rumah sakit
a. Peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP)
b. Pencegahan pengendalian infeksi
c. Tata kelola rumah sakit
d. Manajemen fasilitas dan keselamatan
e. Kompetensi dan Kewenangan Staf (KKS)
a. Perencanaan
Rumah sakit menetapkan jumlah staf rumah sakit berdasarkan atas
kebutuhan tiap-tiap unit termasuk pengembangannya sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
Pimpinan unit layanan membuat rencana pola ketenagaan dengan
menggunakan proses yang sudah diakui untuk menentukan
jenjang kepegawaian. Perencanaan kepegawaian meliputi hal-
hal berikut :
1) Penempatan kembali dari satu unit layanan ke lain unit layanan
karena alasan kompetensi, kebutuhan pasien, atau kekurangan
staf.
27

2) Mempertimbangkan keinginan staf untuk ditempatkan kembali


karena alasan nilai-nilai, kepercayaan, dan agama.
3) Memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. Pendidikan dan Pelatihan
Setiap staf mengikuti pendidikan atau pelatihan di dalam atau di luar
rumah sakit termasuk pendidikan profesi berkelanjutan untuk
mempertahankan atau meningkatkan kompetensinya.
Rumah sakit mengumpulkan data dari berbagai sumber untuk dapat
memahami pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan oleh staf.
Sumber daya yang dapat digunakan adalah :
1) Hasil kegiatan pengukuran mutu dan keselamatan
2) Monitor program manajemen fasilitas
3) Penggunaan teknologi medis baru
4) Keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh melalui evalusi
kinerja
5) Prosedur klinis baru
6) Rencana memberikan layanan baru dikemudian hari.
Untuk mempertahankan kinerja staf, memberikan pendidikan
keterampilan baru, dan memberi pelatihan tentang teknologi
serta prosedur medis baru maka rumah sakit menyediakan
fasilitas, pendidik, serta waktu untuk memberi pendidikan dan
pelatihan didalam dan diluar rumah sakit.
c. Pemberian Kewenangan Klinis Staf Medis
Rumah sakit menetapkan proses yang seragam, objektif, dan
berdasar bukti (evidence based) untuk memberikan wewenang
kepada staf medis untuk menerima, menangani, dan
memberikan layanan klinis kepada pasien sesuai dengan
kualifikasinya.
Proses pemberian rincian kewenangan klinis :
1) Terstandar, objektif, berdasar atas bukti (evidence based)
2) Terdokumentasi di regulasi rumah sakit
28

3) Aktif dan berkelanjutan mengikuti perubahan kredensial staf


medis
4) Diikuti semua lapisan keanggotaan staf medis
5) Dapat dibuktikan bahwa prosedur yang digunakan efektif.
Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan Anggota Staf Medis

Rumah sakit melaksanakan proses yang seragam untuk evaluasi


mutu dan keselamatan asuhan pasien yang diberikan oleh setiap
anggota staf medis.
Proses monitor dan evaluasi berkelanjutan dimaksudkan untuk :
1) Meningkatkan praktik individual terkait mutu dan asuhan pasien
yang aman
2) Digunakan sebagai dasar mengurangi variasi di dalam KSM
(Kelompok Staf Medis) unit layanan dengan cara
membandingkan antara kolega, penyusunan PPK (Panduan
Praktik Klinis) dan Clinical Pathway.
3) Digunakan sebagai dasar memperbaiki kinerja kelompok staf
medis/unit layanan dengan cara membandingkan acuan praktik
diluar rumah sakit, publikasi riset, dan indikator kinerja klinis
nasional bila tersedia. Monitoring dan evaluasi berkelanjutan
dari staf medis memuat 3 (tiga) area umum, yaitu perilaku,
pengembangan profesional, dan kinerja klinis.
d. Penempatan Ulang Staf Medis dan Pembaharuan Kewenangan
Klinis
Rumah sakit menetapkan proses penetapan ulang staf medis dan
pembaharuan kewenangan klinis paling sedikit setiap 3 (tiga)
tahun. Untuk penetapan kewenangan klinis dilanjutkan dengan
atau tanpa modifikasi kewenangan klinis sesuai hasil
monitoring dan evaluasi berkelanjutan setiap anggota staf
medis.
1) Staf Keperawatan
29

Rumah sakit mempunyai proses yang efektif untuk mengumpulkan,


verifikasi, dan mengevaluasi kredensial staf keperawatan
(pendidikan, registrasi, izin, kewenangan, pelatihan, dan
pengalaman).
2) Staf klinis pemberi asuhan lainnya dan staf klinis lainnya
Rumah sakit memastikan bahwa setiap profesional pemberi asuhan

(PPA) lainnya dan staf klinis lain yang kompeten memberi asuhan,
baik mandiri, kolaborasi, delegasi, serta mandat kepada pasien
secara aman dan efektif dengan cara :
a) Memahami peraturan perundang-undangan terkait profesional
pemberi asuhan (PPA)
b) Rumah sakit perlu melakukan setiap upaya untuk
mengumpulkan, verifikasi dan mengevaluasi kredensial
profesional pemberi asuhan (PPA), lainnya dan staf klinis
lainnya (pendidikan, registrasi, izin, kewenangan, pelatihan, dan
pengalaman).
e. Manajemen informasi dan rekam medik (MIRM)
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Salah satu aspek penting dalam pembangunan kesehatan di Indonesia
adalah tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga kesehatan. Pasal
11 pada Undang-Undang Republik Indonesia, No. 36 Tahun 2014 tentang
Kesehatan, menyebutkan bahwa tenaga kesehatan salah satunya adalah
tenaga keperawatan.
Uji sertifikasi, uji kompetensi, pelatihan, magang, tugas lapangan dan
lainnya bisa menjadi alat ukur kualitas dan kompetensi tenaga kesehatan.
Selain itu, pengakuan terhadap profesi tenaga kesehatan seperti perawat
misalnya akan menjamin kenyamanan dan kualitas kerja dari SDM
kesehatan tersebut. Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan juga harus
menjadi perhatian tersendiri. Kompetensi tenaga kesehatan perlu terus
ditingkatkan melalui serangkaian kursus, pelatihan studi banding dan
sejenisnya sehingga mereka mampu melakukan tugas-tugas layanan
kesehatan secara memadai, aplikatif dan sistematis sesuai perkembangan
teknologi dunia kesehatan.
Jika kuantitas dan distribusi tenaga kesehatan yang berkualitas dan
kompeten ini terus dimonitoring secara intensif oleh Pemerintah, maka
diyakini akan terjadi peningkatan derajat pelayanan kesehatan kepada
masyarakat. Pertumbuhan dan persebaran tenaga kesehatan yang merata
harus selalu disertai upaya peningkatan kualitas dan kompetensinya.
Mungkin dengan strategi ini harapan masyarakat untuk mendapatkan
layanan kesehatan secara mudah, merata dan berkualitas dapat tercapai.

B. Saran
Sebagai saran, untuk ketenagaan di rumah sakit perawat peru memahami
tentang upaya peningkatan mutu kualitas ketenagaan yang sesuai dengan

30
31

standar akreditasi agar kebutuhan pasien dan karyawan rumah sakit saling
memenuhi dan menguntungkan, serta dapat mencapai tujuan rumah sakit.
32

DAFTAR PUSTAKA

AIPVIKI. (2015). Asosiasi Institusi Pendidikan Vokasi Keperawatan Indonesia.


Bandung.
Ambos Kai, &. F. (2010). The Colombian Peace Process and the principle of
complemntarity of yhe International Criminal Law: Is there sufficient
willingness and ability on the part of the Colombian authorities or should
the Prosdcutor open an investigation now? Dapartement of Foreign and
internstional Crimininal law: Gottingen.
Ana, K. B. (1999). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Depkes, R. (1999). Rencana Pembangunan Kesehatan Manuju Indonesia Sehat
2010. Jakarta.
Gillies, D. (1989). Menejemen Keperawatan . Illioni: WB Saundres Company.
Huston, M. &. (2010). Kepemimpinan Dan Manajemen Keperawatan. Jakarta:
EGC.
Kemenkes, R. (2016). Situasi DBD di Indonesia.
Kusbaryanto. (2010). Peningkatan Mutu Rumah Sakit Dengan Akreditasi. Mutiara
Medika.