Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOLOGI NEMATODA PARASITIK TUMBUHAN


ACARA VI
INTERAKSI NEMATODA PARASIT TUMBUHAN DENGAN TANAMAN

Disusun oleh:
Nama : Olivia Mutiara Larasati
NIM : 15/383452/PN/14283
Golongan : C3
Asisten : Alfianida Musyarofah

SUB LABORATORIUM NEMATOLOGI


LABORATORIUM ILMU HAMA TUMBUHAN
DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Tomat merupakan komoditas yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Tomat jga
merupakan salah satu komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat, baik dalam bentuk
segar maupun dalam bentuk olahan. Permintaan tomat tidak pernah turun. Dalam proses
budidaya tomat, petani sering mengalami kendala. Salah satu kendala dalam budidaya tomat
adalah adanya serangan nematoda. Nematoda parasitik tanaman merupakan salah satu jenis
hama penting, karena menimbulkan kerugian besar pada tanaman dalam sistem produksi
pertanian di daerah tropis maupun sub tropis. Serangan nematoda mengakibatkan
berkurangnya fungsi akar secara normal, mengakibatkan pengangkutan unsur hara ke bagian
jaringan tanaman di atas permukaan tanah makin berkurang (Dropkin, 1991).
Menurut Panggeso (2010) apabila tanaman terinfeksi berat oleh nematoda, sistem
perakaran yang normal akan berkurang dan menyebabkan jaringan berkas pengangkut
mengalami gangguan secara total, akibatnya tanaman mudah layu khususnya dalam keadaan
kering dan tanaman sering menjadi kerdil, pertumbuhan terhambat dan mengalami klorosis.
Beberapa nematoda parasit tanaman adalah ektoparasit, hidup di luar inangnya.
Spesies jenis ini menyebabkan kerusakan berat pada akar dan dapat menjadi vektor virus
yang penting. Spesies lain, ada yang hidup di dalam akar, bersifat endoparasit migratori dan
sedentari. Parasit migratori bergerak melalui akar dan menyebabkan nekrosis, sedangkan
yang endoparasit sedentari dari famili Heteroderidae menyebabkan kehancuran yang paling
banyak di seluruh dunia (Williamson & Richard, 1996).
Nematoda parasit menyerang pada organ tumbuhan yang vital seperti akar, daun dan
bunga. Nematoda parasit umumnya menyerang bagian tanaman yang lunak dengan cara
menginfeksinya. Kerusakan terbesar yang disebabkan oleh nematoda parasit adalah
hancurnya jaringan pada akar. Pada stadium kronis, tanaman yang diserang oleh nematoda
parasit tidak dapat tumbuh, kerdil, mengalami disfungsi organ dan akhirnya mati (Dropkin,
1991 cit. Prabowo, 2012)
Salah satu Kendala nematode parasit yang sering dihadapi petani tomat adalah adanya
gangguan penyakit puru akar yang disebabkan oleh nematoda, Meloidogyne spp. yang
dikenal sebagai nematoda puru akar (NPA). NPA merupakan parasit tumbuhan paling
penting dan paling luas sebarannya. Nematoda ini paling luas kisaran inangnya yaitu sekitar
2000 spesies tumbuhan, bahkan dan sekitar 2500 jenis inang yang meliputi hampir seluruh
tanaman budidaya. Walaupun rataan kehilangan hasil tanaman hanya sekitar 5%, namun
petani-petani kecil di negara-negara sedang berkembang umumnya mengalami kerugian yang
lebih besar (Agrios 2005). Seluruh kerugian akibat serangan nematoda parasite pada lebih
dari 63 jenis tanaman di seluruh USA mencapai $1 590 696 000. Pada tanaman tomat
kehilangan hasil rata-rata mencapai 15% dan jika tidak dikendalikan dengan nematisida
secara berkala kehilangan hasil bisa lebih besar. Penurunan produksi tomat akibat serangan
nematoda dapat mencapai 30-100% (Sosa-Mos 1985), misalnya di Mexico kerugian karena
M. incognita dilaporkan mencapai 32%, di Amerika Tengah dan Karibia sekitar 38%, di
Amerika Selatan sekitar 27%, di Brasilia sekitar 25%, di Afrika Barat sekitar 46%, sedangkan
di Asia Tenggara sekitar 24% tergantung pada kepadatan awal nematoda (Sasser 1979).

B. Tujuan
1. Mempelajari perkembangan gejala dan tanda aserangan nematode parasit tumbuhan
2. Mengetahui kerusakan tanaman akibat serangan nematode parasit tumbuhan
3. Cara menilai kerusakan akar akibat serangan nematode puru akar dengan skot menurut
Zeck
II. METODOLOGI

Praktikum Biologi Nematoda Parasit Tumbuhan Acara VI “Interaksi Nematoda


Parasit Tumbuhan dengan Tanaman” telah dilaksanakan pada hari Rabu, di Sub
Laboratorium Nematologi, Laboratorium Ilmu Hama Tumbuhan, Departemen Hama dan
Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Alat dan bahan yang
diperlukan yaitu benih tomat, tanah steril, pupuk kompos/kandang steril, bahan inokulum :
larva nematoda Meloidogyne incognita, besek, pot ᴓ 12,5 cm, alat ukur panjang/lebar,
timbangan, dan mikroskop.
Mula-mula ditanam benih tomat pada tanah steril di dalam “besek”, untuk
memperoleh bibit umur 14 hari. Bibit tomat umur 14 hari (sebanyak satu) ditanam pada
masing-masing pot diameter 12,5 cm. Disiapkan 24 pot tanaman. Diambil 12 pot tanaman
untuk diinokulasi 20.000 ekor larva II nematoda Meloidogyne incognita (digunakan sebagai
perlakuan). Sisanya 12 pot tanaman tidak diinokulasi nematoda (digunakan sebagai
pembanding).
Tabel. Jumlah tanaman untuk kegiatan interaksi tanaman dengan nematoda parasit
Jumlah tanaman untuk pengamatan
No Perlakuan I (saat sebelum II (tan umur 21 III (tan umur
inokulasi) hsi) 35 hsi)
1. Tan diinokulasi 4 4 4
2. Tan tdk diinokulasi 4 4 4

Pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali. Setiap perlakuan (baik tanaman yang


diinokulasi maupun yang tidak diinokulasi) diamati sebanyak 4 pot tanaman (sebagai
ulangan). Pengamatan ke I dimulai pada saat sesudah inokulasi. Pengamatan II dan III
berturut-turut pada tanaman umur 21 hari dan 35 hari setelah inokulasi (hsi). Parameter
pengamatan meliputi : berat brangkasan tanaman segar, tinggi tanaman, warna daun,
panjang akar, kerusakan akar (menggunakan skor Zeck terlampir), letak puru pada akar,
jumlah puru akar (gall), jumlah kelompok telur pada sistem perakaran dan jumlah telur
dalam kelompok telur.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

Parameter Pengamatan
Skor Jumlah
Warna Panjang Jumlah Berat
Tinggi Kerusakan Kelompok
Daun Akar Puru Segar
Akar Telur
1 10.33 hijau 6.4 3.63 16.07 1.8
hijau
2 12.47 6 6 15:12 2
Inokulasi kuning
hijau
3 13.77 kekuningan 7.37 5.77 18.73 2.7
1 30.67 hijau 3.83 3 15 4.12
Non 2 27.67 hijau 12 2.67 11.33 5.28
inokulasi 3 29 hijau 7.33 1 4 4.77
Tabel 1. Tabel hasil pengamatan tomat

Tinggi Tanaman
35.00
Tinggi tanaman

30.00
25.00
20.00
15.00
10.00
5.00
0.00
1 2 3 1 2 3
Inokulasi Non inokulasi
Pengamatan ke

Gambar 1. Tabel hasil pengamatan tinggi tanaman tomat

Panjang Akar
15
Panjang akar (cm)

10
5
0
1 2 3 1 2 3
Inokulasi Non inokulasi
Pengamatan ke -

Gambar 2. Tabel hasil pengamatan panjang akar tanaman tomat


Skor Kerusakan Akar
7.00

Skor kerusakan akar


6.00
5.00
4.00
3.00
2.00
1.00
0.00
1 2 3 1 2 3
Inokulasi Non inokulasi
Pengamatan ke-

Gambar 2. Tabel hasil pengamatan skor kerusakan akar pada tanaman tomat

Jumlah Puru
25.00
Jumlah puru

20.00
15.00
10.00
5.00
0.00
1 2 3 1 2 3
Inokulasi Non inokulasi
Pengamatan ke -

Gambar 2. Tabel hasil pengamatan jumlah puru di akar pada tanaman tomat

B. Pembahasan

Mekanisme penyerangan oleh Meloidogyne spp. dimulai dengan masuknya nematoda


kedalam akar tumbuhan melalui bagian-bagian epidermis yang terletak dekat tudung akar.
Nematoda ini mengeluarkan enzim yang dapat menguraikan dinding sel tumbuhan terutama
terdiri dari protein, polisakarida seperti pektin sellulase dan hemisellulase serta patin sukrosa
dan glikosida menjadi bahan-bahan lain. Meloidogyne spp. mengeluarkan enzim selulase
yang dapat menghidrolisis selulosa enzim endopektin metal transeliminase yang dapat
menguraikan pektin. Dengan terurainya bahan-bahan penyusun dinding sel ini maka dinding
sel akan rusak dan terjadilah luka. Selanjutnya nematode ini bergerak diantara sel-sel atau
menembus sel-sel menuju jaringan sel yang terdapat cukup cairan makanan, kemudian
menetap dan berkembangbiak dan nematode tersenut masih mengeluarkan enzim proteolitik
dengan melepaskan IAA (Indole Acetic Acid) yang merupakan heteroauksin tritopan yang
diduga membantu terbentuknya puru.
Kerusakan jaringan akar akibat serangan Meloidogyne spp. dapat menghambat
penyerapan dan translokasi nutrisi serta air dari akar, sehingga terjadi defisiensi pada daun
(antara lain N, P, K, Ca, Mg, dan Fe). Namun sebaliknya terjadi akumulasi nutrisi dalam akar
yang mungkin disebabkan karena: peningkatan absorbsi oleh akar, terjadi hambatan
translokasi nutrisi ke daun, serta mobilisasi nutrisi ke dalam akar. Mobilisasi nutrisi ke dalam
akar disebabkan terjadinya fenomena zink dalam akar (terjadinya hipertrofi dan hyperplasia
sel-sel akar serta kebutuhan nutrisi yang tinggi nematoda puru akar untuk bereproduksi)
(Mulyadi, 2009).
Pada akar tanaman yang terserang menjadi bisul bulat atau memanjang dengan besar
bervariasi. Di dalam bisul ini terdapat nematoda betina, telur dan juvenil. Bisul akar yang
membusuk akan membebaskan nematoda dan telurnya ke dalam tanah kemudian masuk
kedalam akar tanaman lain. Ukuran dan bentuk puru tergantung pada spesies, jumlah
nematoda didalam jaringan, inang dan umur tanaman. Pada akar-akar tanaman
Cucurbutaceae, akar-akarnya bereaksi terhadap kehadiran Meloidogyne dengan membentuk
puru besar dan lunak sedangkan pada kebanyakan tanamam sayuran lainnya purunya besar
dan keras. Apabila tanaman terinfeksi berat oleh Meloidogyne sistem akar yang normal
berkurang sampai pada batas jumlah akar yang berpuru berat dan menyebabkan sistem
pengangkutan mengalami disorganisasi secara total. Sistem akar fungsinya benar benar
terhambat dalam menyerap dan menyalurkan air maupun unsur hara. Tanaman mudah layu,
khususnya dalam keadaan kering dan tanaman sering menjadi kerdil (Luc et al, 1995).
Gejala serangan lainnya yang terjadi di bawah tanah antara lain adalah bintil-bintil
akar, luka pada akar, nekrosis pada permukaan akar, percabangan yang berlebihan, dan ujung
akar yang tidak tumbuh. Setelah Meloidogyne makan pada ujung akar tersebut sering kali
berhenti tumbuh, namun demikian akar belum tentu mati (Mustika, 1992).
Tanaman tomat yang terserang oleh Meloidogyne spp. menimbulkan gall pada
akarnya. Ukuran dan bentuk gall tergantung pada spesies nematoda, jumlah nematoda di
dalam akar, dan umur tanaman. Serangan berat pada akar menyebabkan pengangkutan air dan
unsur hara terhambat, tanaman mudah layu, khususnya dalam keadaan panas dan kering,
pertumbuhan tanaman terhambat atau kerdil, dan daun mengalami klorosis akibat defisiensi
unsur hara. Infeksi pada akar oleh nematoda pada tanaman stadia generatif menyebabkan
produksi bunga dan buah tomat berkurang.
Pada gejala tanaman di atas permukaan tanah menyebabkan tanaman menjadi kerdil,
daunnya pucat dan layu, Pada musim panas tanaman yang terserang nematoda akan
mengalami kekurangan mineral. Akibat penyakit puru akar ini bunga dan buah akan
berkurang atau mutunya menjadi rendah. Tingkat serangan nematoda yang tinggi
menyebabkan kerusakan perakaran dan terganggunya penyerapan unsur hara, sehingga
pertumbuhan tanaman terhambat dan berat tanaman menjadi kecil.
Serangan nematoda menimbulkan gejala yang beragam tergantung pada jenis nematoda,
jenis tumbuhan yang terserang dan keadaan lingkungan. Nematoda yang menyerang akar
akan menimbulkan gejala terutama pada akar, tetapi gejala ini biasanya disertai dan
munculnya gejala pada bagian atas tanaman, yaitu berupa gejala tanaman kerdil, daun
menguning, dan layu yang berlebihan dalam cuaca panas. Puru akar merupakan ciri khas dari
serangan nematoda Meloidogyne spp. Puru akar tersebut terbentuk karena terjadinya
pembelahan sel-sel raksasa pada jaringan tanaman , sel-sel ini membesar dua atau tiga kali
dari sel-sel normal. Selanjutnya akar yang terserang akan mati dan mengakibatkan
pertumbuhan tanamn terhambat. Respon tanaman terhadap nematoda puru akar merupakan
respon dari seluruh bagian tanaman dan respon dari sel-sel tanaman, seluruh bagian tanaman
memberikan respon terhadap infeksi dan menurunnya laju fotosintesis, pertumbuhan dan
hasil.
Pada praktikum ini dilakukan inokulasi nematode Meloidogyne incognita pada
tanaman tomat berumur 35 hari setelah tanam benih. Kemudian diamati perumbahan
pertumbuhan tanaman. Parameter pengamatan meliputi: tinggi tanaman, panjang akar, gejala
serangan nematode ditandai dengan skor kerusakan akar dan jumlah puru yang terbentuk
pada akar tanaman tomat. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa tinggi tanaman tomat yang
tidka diinokulasi sebesar 29.11 cm sedangkan tanaman yang diinokulasi sebesar 12.19 cm.
untuk parameter selanjutnya, rata-rata panjang akar tanaman tomat tanpa inokulasi yaitu 7.72
dan tanaman tomat yang diinokulasi sebesar 6.56 cm. parameter pengamatan selanjutnya
yaitu skor kerusakan akar beserta jumlah puru akar pada tanaman tomat yang diinokulasi
lebih tinggi hasilnya apabila dibandingkan dengan tanaman tomat yang tidak diinokulasi.
Skor kerusakan akar pada tanaman yang diinokulasi sebesar 5.133 dan jumlah purunya
sebesar 16.64.
Dari hasil pengamatan tanaman tomat (Lycopersicum esculentum) yang terserang
nematoda Meloidogyne spp, pada bagian daunnya terlihat layu dan kering, batang nampak
lunak dan kering, dan terlihat pada akarnya berbintil-bintil. Gejala serangan nematoda
Meloidogyne spp. pada tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum) terlihat pada daun yang
menjadi cepat masak dan gugur, akar serabut menjadi abnormal jumlahnya. Adanya puru atau
bintil-bintil pada akar yang terserang nematoda, yang agak mirip dengan bintil akar bakteri
penambat nitrogen pada kacang-kacangan. Meskipun puru dapat mengandung nematoda
dalam jangka waktu yang lama, akhirnya puru membusuk dan akar tumbuhan rusak
(Trisnawati, 2006).
Dari hasil pengamatan, tanah disekitar tanaman tomat yang terserang nematoda
terlihat lembab, berair, dan memiliki tekstur tanah yang kasar. Tekstur dan struktur tanah
berkaitan langsung dengan kapasitas kandungan air dan aerasi serta pengaruhnya terhadap
kehidupan nematoda, penetasan dan parahnya kerusakan. Tipe dan pH tanah berpengaruh
terhadap distribusi nematoda, larva di tanah pasiran mampu bergerak horizontal dan vertikal
sejauh 75 cm dalam 9 hari. Efek pH tanah pada puru akar bervariasi,
spesies Meloidogyne dapat hidup bereproduksi pada pH berkisar 4.0-8,0 (Luc et al, 1995).
Terdapat suhu optimum untuk stadium yang berbeda pada daur hidup Meloidogyne.
Kisaran suhu optimum untuk populasi Australia antara 25–30 °C dan Kalifornia
menunjukkan 32–34 °C. Suhu optimum untuk perkembangan nematoda berkaitan dengan
budidaya sayuran didaerah tropik, suatu faktor yang menjamin terjadinya infeksi nematoda
puru akar secara serius. Faktor lainnya adalah kepadatan inokulum, kelembaban tanah,
pemupukan, dan temperatur serta penurunan konsentrasi oksigen (Luc et al, 1995)
Tanah yang menjadi tempat hidup nematoda mempunyai struktur yang kasar.
Kebanyakan nematoda juga hidup di tanah yang mempunyai banyak pori dan didalam pori-
pori tersebut terdapat cukup udara. Tanah tersebut juga mempunyai kelembapan yang cukup
serta tipe tanah dan pH juga mempunyai pengaruh terhadap distribusi nematoda (Hidayat,
2009).
Gejala serangannya terlihat pada akar tanaman tomat yang menjadi berbintil-bintil,
sehingga berakibat pada sistem transportasi air dan unsur hara terganggu, akibatnya akan
berpengaruh keseluruh bagian permukaan tanaman, pertumbuhan menjadi terhambat, daun
menguning, dan dalam waktu yang rentan akan mengakibatkan kematian pada tanaman tomat
(Tjahjadi, 2008).
IV. KESIMPULAN

1. Gejala dan tanda serangan nematoda parasit tumbuhan Meloidogyne spp. atau dalam
hal ini M. incognita berupa terbentuknya puru pada akar, pertumbuhan tanaman
terhambat, klorosis pada daun dan tanaman menjadi layu.
2. Kerusakan yang terjadi pada tanaman yang terserang nematoda parasi Meloidogyne
terjadi pada akar yang kemudian berimbas pada bagian tanaman di atasnya
(tajuk/brangkasan).
3. Kerusakan akar akibat serangan nematoda Meloidogyne dapat dinilai menggunakan
skor Zeck.
DAFTAR PUSTAKA

Agrios, G. 2005. Plant diseases caused by nematodes. Plant pathology. p. 565-97.

Dropkin V.H. 1991. Pengantar Nematologi Tumbuhan. Gajah Mada University Press,
Yogyakarta

Hidayat, H.2009. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Mulyadi. 2009. Nematologi Pertanian. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Mustika, I., 1992. Pengantar Nematologi Tanaman. Balai Penelitian Tanaman Rempah
dan Obat Bogor.

Luc, M, RA Sikora and J Bridge. 1995. Nematoda Parasitik Tumbuhan di Pertanian


Subtropik dan Tropik. Gajah Mada University Press, Yogyakarta

Panggeso, J. 2010. Analisis kerapatan populasi nematoda parasitik pada tanaman tomat
(Lycopersicum esculentum Mill.) Asal Kabupaten Sigi Biromaru. J Agroland 17: 198-
204

Prabowo, H. 2012. Jenis nematoda yang ditemukan pada tanaman bawang merah
(Allium ascalonicum) dan rhizosfer sekitarnya di area persawahan Niten, Bantul,
Yogyakarta. AGROVIGOR 5: 75-79.

Sasser JN, Eisen back JD, Carter CC. 1983. The interneational Meloidogyne project-its goals
and accomplishments. Annu Rev Phytopathol. 21: 271- 278.
Tjahjadi, N. 2008. Hama dan Penyakit Tanaman. Kanisius: Yogyakarta.
Trisnawati, Y. 2006. Pembudidayaan Secara Komersial Tomat. Penebar Swadaya, Jakarta.
Williamson, V. M. and S. H. Richard. 1996. Nematode pathogenesis and resistance in
plant. The Plant Cell 8 : 1735-1745.