Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH SEMINAR KELAS

PERAN TANAMAN REFUGIA SEBAGAI KONSERVASI PARASITOID TELUR


Nilaparvata lugens (Hemiptera: Delphacidae)

OLEH :
OLIVIA MUTIARA LARASATI
15/383452/PN/14283

DOSEN PEMBIMBING :
Prof. Ir. Y. Andi Trisyono, M.Sc., Ph.D

PROGRAM STUDI ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN


DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
PERAN TANAMAN REFUGIA SEBAGAI KONSERVASI PARASITOID TELUR
Nilaparvata lugens (Hemiptera: Delphacidae)

I. LATAR BELAKANG

Budidaya tanaman padi (Oryza sativa) yang dilakukan dalam skala luas dan dilakukan
dengan satu varietas yang sama akan membentuk sistem budidaya monokultur berpotensi
menimbulkan ketidakstabilan agroekosistem pada lahan pertanaman padi karena rendahnya
keanekaragaman hayati terutama musuh alami dan rentan terhadap serangan hama pada
tanaman padi. Wereng batang cokelat, Nilaparvata lugens (Hemiptera: Delphacidae)
merupakan hama utama tanaman padi di Indonesia. Hama ini dianggap sebagai hama penting
dan memiliki nilai ekonomi tinggi karena banyak merusak tanaman padi. Hama ini merusak
dengan cara menghisap cairan batang padi sehingga tanaman menjadi layu, menggering dan
akhirnya terlihat gejala seperti terbakar yang biasa disebut sebagai hopperburn.
Ledakan populasi (outbreak) dari wereng batang cokelat terjadi di Indonesia pertama
kalinya pada tahun 1985-1986 tepat setelah swasembada beras tercapai pada era orde baru.
Dalam kurun waktu 1991-2000 serangannya seluas 313 ribu ha dan pada 2001-2010 relatif
meningkat menjadi 361 ribu ha, 11 ribu ha di antaranya puso. Pada tahun 2011, serangan
wereng coklat mencapai 218 ribu ha dan di antaranya puso (Ditlin 2011, tidak dipublikasi).
Pada tahun 2014, wereng batang cokelat kembali menyerang pertanaman padi di Indonesia
dengan luas areal yang terserang mencapai 30.000-40.000 ha dengan kisaran populasi wereng
batang cokelat 0-200 ekor/rumpun (BBPOPT, 2014 cit Sutrisno, 2014). Wereng batang
cokelat sebagai hama utama di pertanaman padi mengakibatkan kerusakan hingga mencapai
90% di seluruh Asia (Liu et al., 2012).
Salah satu pengendalian hama yang masih dianggap cukup efektif dengan penggunaan
insektisida secara intensif pada lahan pertanian karena menawarkan berbagai keunggulan
seperti bekerja cepat dalam menghentikan perkembangan hama sehingga hasilnya dapat
segera terlihat, relatif mudah dalam penggunaannya (Trisyono, 2017) yang dapat mendukung
produktivitas padi sawah. Namun, di sisi lain dapat merusak keseimbangan agroekosistem
pada lahan pertanian padi yang ada karena terganggunya rantai makanan alami yang dapat
meningkatkan populasi hama akibat resistensi dan berkurangnya populasi musuh alami yang
dapat mengendalikan populasi hama. Dampak negatif insektisida pada musuh alami pada
lahan pertanaman padi sawah dapat ditunjukkan dengan keragaman dan kekayaan hama dan
predator lebih tinggi pada tanaman bebas insektisida dibandingkan dengan tanaman yang
diaplikasikan insektisida (Gangurde, 2007). Ledakan populasi yang terjadi pada wereng
batang cokelat salah satunya dapat diakibatkan oleh ketidakmampuan insektisida dalam
mengendalikan populasi hama yang dapat mengakibatkan hama mengalami resistensi dan
resurgensi serta matinya musuh alami.
Pendekatan yang digunakan dalam mengelola populasi hama tetap harus mendasarkan
pada Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). PHT merupakan suatu konsep gabungan
pengendalian-pengendalian hama yang ada dengan memadukan antara aspek teknologi dan
aspek ekologi. Salah satu komponen PHT adalah dengan memanfaatkan musuh alami sebagai
pengendalian populasi organisme pengganggu tanaman yang dapat disebut sebagai
pengendalian hayati. Pengendalian hayati pada dasarnya merupakan pemanfaatan dan
penggunaan musuh alami untuk mengendalikan populasi hama.
Melalui upaya modifikasi ekosistem dengan menggunakan tanaman refugia yaitu
penanaman bunga di pematang sawah (galengan) maupun di sekitar areal lahan pertanian
padi. Penanaman tanaman refugia dapat menyediakan tempat perlindungan, sumber pakan
atau sumberdaya yang lain bagi musuh alami seperti predator dan parasitoid. Penggunanan
sistem ini dapat menyediakan tempat perlindungan, sumber pakan atau sumberdaya yang lain
bagi musuh alami seperti predator dan parasitoid. Menurut Heong (2011), nektar dapat
menjadi daya tarik dan sumber makanan dari banyak parasitoid dari golongan Hymenoptera,
terkhusus untuk mengatur dan mengendalikan hama tanaman padi seperti wereng, penggerek
dan kepik. Rekayasa ekologi seperti yang telah diterapkan di Vietnam, Thailand dan China
secara signifikan menunjukan pengaruh yang besar terhadap tingginya populasi musuh alami,
parasitasi parasitoid pada telur wereng batang cokelat dan mengurangi penggunaan
insektisida di lahan pertanian.
Adapun tujuan dari penulisan ini untuk menguraikan dasar teori dan hasil penelitian
terkait peran tanaman refugia sebagai konservasi musuh alami khususnya parasitoid telur
wereng batang cokelat.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Salah satu hama utama pada pertanaman padi di Indonesia adalah wereng batang
cokelat (Nilaparvata lugens). Wereng batang cokelat memiliki siklus hidup yang singkat,
yaitu berkisar 23-25 hari pada suhu 28ºC. Imago betina wereng batang cokelat mampu
menghasilkan sebanyak 100-500 telur. Telur menetas menjadi nimfa setelah 7-11 hari. Nimfa
mengalami lima instar. Imago wereng batang cokelat terdiri atas dua bentuk, yaitu
makroptera yang memiliki sayap sempurna sehingga mampu terbang dan brakhiptera yang
memiliki sayap pendek (Mochida dan Okada 1979).

Gambar 1. Serangan Wereng Batang Cokelat (Nilaparvata lugens)


(Sumber: http://www.crida.in:8080/naip/bph.jsp)

Hama ini menimbulkan kerusakan yang luas dan hampir selalu terjadi pada setiap
musim tanam dan merupakan OPT yang sangat ganas dan sering terjadi ledakan serangan
(outbreak) yang mengakibatkan kerugian ekonomi sangat tinggi jika terjadi puso. Hama ini
merusak langsung tanaman padi dengan mengisap cairan sel tanaman sehingga tanaman
menjadi kering dan akhirnya mati. Hama ini mampu membentuk populasi cukup besar dalam
waktu singkat dan merusak tanaman pada semua fase pertumbuhan, mulai dari pembibitan
sampai menjelang panen (Harini et al., 2013). Serangan yang berat dapat mengakibatkan
puso (hopperburn) dan menggagalkan panen (Mochida, 1978 cit Yaherwandi et al., 2009).
Menurut Baehaki (2012), Wereng batang cokelat merupakan hama utama tanaman
padi yang mempunyai sifat: a) berkembang biak dengan cepat dan mampu mempergunakan
sumber makanan dengan baik sebelum serangga lain ikut berkompetisi, b) serangga kecil
yang cepat menemukan habitatnya, c) menyebar dengan cepat ke habitat baru sebelum habitat
lama tidak lagi berguna, d) mudah beradaptasi dengan habitat baru (varietas tahan)
membentuk populasi/biotipe baru, dan e) mudah mematahkan kemanjuran insektisida,
sehingga menjadi resisten terhadap insektisida.
Pengendalian wereng batang cokelat sejauh ini masih menggunakan insektisida kimia
yang dapat memicu terjadinya resistensi dan akhirnya berdampak pada resurgensi (Pedigo
2002). Penggunan tanaman varietas tahan juga tidak mampu mengatasi serangan wereng
batang cokelat dan menimbulkan biotipe baru yang lebih resisten (Baehaki dan Munawar
2007). Pengelolaan hama terpadu (PHT) dianggap sebagai teknologi yang tepat dan
potensial untuk mengendalikan hama sekaligus mengurangi risiko penggunaan pestisida yang
berbahaya bagi lingkungan (Gurr, 2009). Menurut Smith dan Reynolds (1966) cit Untung
(2013), Pengelolaan Hama Terpadu adalah sistem pengelolaan hama yang memanfaatkan
semua teknik pengendalian yang sesuai untuk mengurangi populasi hama dan
mempertahankannya tetap di bawah aras skerusakan ekonomi. Dalam PHT dikenal istilah
pengendalian hayati. Pengendalian hayati merupakan salah satu dari komponen PHT sebagai
upaya mengendalikan hama dengan memanfaatkan peran musuh alami hama (predator,
parasit, dan patogen) (De bach, 1964 cit Gurr, 2009). Menurut Trisyono (2015), dalam
strategi PHT selain keberlanjutan ekologis, diharapkan secara sosial diterima dan secara
ekonomi menguntungan. Upaya tersebut salah satunya dengan pengendalian berbasis
ekosistem intensif yaitu dengan rekayasa ekologi.
Rekayasa ekologi merupakan suatu pendekatan melalui manipulasi agroekosistem
untuk mengoptimalkan pengendalian hayati terhadap hama (Gurr et al., 2004). Rekayasa
ekologi dengan menanam bunga di pematang sawah yaitu refugia telah dikembangkan
dibeberapa Negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Thaliland. Teknologi rekayasa
ekologi ini mulai diperkenalkan di China pada tahun 2008 yang kemudian diadopsi oleh
Vietnam dan Thailand pada tahun 2011. The Southeast Regional Plant Protection Centre
telah dapat membuktikan penanaman refugia di Vietnam telah berhasil secara signifikan
dalam mengurangi penggunaan pestisida sampai 20% dan pengendalian serangan hama
wereng batang cokelat (Anggoro, 2014).
Gambar 2. Rekayasa Ekologi pada lahan pertanaman padi di Vietnam dengan manipulasi
ekosistem dengan penanaman bunga di pematang sawah
(Sumber:http://agricare.kisanhelp.in/content/new-concept-called-ecological-engineering-reduce-pests)

Menurut Gurr (2010), penerapan rekayasa ekologi di Jinhua dan Lingui, China,
musuh alami yang ditemukan pada petak rekayasa ekologi lebih tinggi dibandingkan pada
petak petani, sedangkan jumlah WBC pada petak rekayasa ekologi lebih rendah dibandingkan
petak kontrol. Rekayasa ekologi berupa tanaman refugia dapat digunakan sebagai
mikrohabitat agen hayati dari hama tanaman utama. Refugia adalah mikrohabitat yang
menyediakan tempat berlindung secara spasial dan/atau temporal bagi musuh alami hama,
seperti predator dan parasitoid, serta mendukung komponen interaksi biotik pada ekosistem,
seperti polinator atau serangga penyerbuk (Keppel et al., 2012). Tanaman refugia mempunyai
potensi menyokong mekanisme sistem yang meliputi perbaikan ketersediaan makanan
alternatif seperti nektar, serbuk sari, dan embun madu; menyediakan tempat berlindung atau
iklim mikro yang digunakan serangga predator untuk bertahan melalui pergantian musim atau
berlindung dari faktor-faktor ekstremitas lingkungan atau pestisida; dan menyediakan habitat
untuk inang atau mangsa alternatif (Landis et al., 2000).
Peran parasitoid sebagai pengendali serangga hama berkaitan dengan sifat hidupnya.
Parasitoid adalah serangga yang selama tahap pradewasa hidup di dalam atau di permukaan
tubuh serangga atau arthropoda lain yang menjadi inangnya. Pradewasa parasitoid akan
memakan bagian tubuh inangnya untuk tumbuh dan berkembang mencapai tahap dewasa.
Inang dari parasitoid akan mengalami kematian dan dewasa parasitoid akan keluar dari inang
serta hidup bebas (Quicke 1997). Menurut Godfray (1994), kelebihan parasitoid dibanding
musuh alami lainnya adalah mampu mengendalikan hama secara spesifik, populasinya di
lapang relatif cukup tinggi dan mampu menekan populasi serangga hama secara signifikan.
Parasitoid telur wereng batang cokelat merupakan jenis parasitoid proovigenik
(parasitoid yang sudah memiliki tekur matang di awal muncul sebagai imago) sehingga bis
alangsung melakukan oviposisi. Suhu mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup, umur,
fekunditas/kesuburan parasitoid (Lou et al., 2014). Parasitoid betina dewasa menusukkan
ovipositornya ke dalam telur wereng batang cokelat melalui/menembus jaringan pelepah
daun dan mentransfer telurnya satu atau dua butir, namun hanya satu parasitoid yang akan
berkembang dan akhirnya menetas dan menjadi dewasa. Makanan tambahan, seperti madu
dapat memperpanjang masa hidup dan meningkatkan fekunditas parasitoid (Zhu et al., 2013).
Parasitoid telur dari wereng batang cokelat yang sering dijumpai di lapangan adalah
Anagrus sp. (Hymenoptera: Mymaridae), Gonatocerus sp. (Hymenoptera: Mymaridae), dan
Oligosita sp. (Trichogrammatidae) (Yaherwandi dan Syam 2007). Menurut penelitian yang
telah dilakukan Meilin (2012), Jenis parasitoid telur wereng batang cokelat yang diperoleh
pada pertanaman padi dengan praktek budidaya yang berbeda: 1) di pertanaman padi dengan
budidaya organik (Desa Wiji Rejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul); 2) di pertanaman
padi dengan budidaya konvensional (Desa Wiji Rejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul,
Yogyakarta; dan 3) pertanaman padi dengan aplikasi pestisida intensif (Desa Juwiran,
Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah) adalah Anagrus nilaparvatae, A.
optabilis dan Oligosita.
Gambar 3. Jenis parasitoid telur wereng batang cokelat pada beberapa pertanaman padi yang
berbeda dalam praktek budidaya. 1: funikel ruas pertama bulat, 2: ovipositor
kurang excerted, 3: funikel ruas pertama langsing, 4: ovipositor lebih excerted.

(Sumber: Meilin, 2012)


Penerapan Rekayasa Ekologi Melalui Pemanfaatan Musuh Alami

Rekayasa ekologi merupakan bentuk pelayanan ekologi untuk restorasi agroekosistem


dalam rangka meningkatkan keanekaragaman hayati yang ada. Rekayasa ekologi merupakan
desain teknologi yang di kembangkan dengan menggunakan sumber alam dari lingkungan
untuk keuntungan bersama. Rekayasa ekologi adalah aktivitas yang dilakukan oleh manusia
atas dasar pertimbangan dari konsep teori lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh
manfaat dan menghindari kerusakan dari biodiversitas musuh alami serta organisme pengurai
melalui desain tata ruang dan kebijakan penggunaan pestisida (Heong, 2011).
Penerapan rekayasa ekologi di bidang pertanian berupa pengendalian hama khususnya
wereng batang cokelat pada pertanaman padi meliputi tiga hal yaitu (1) mengurangi
mortalitas musuh alami yaitu arthropoda yang menguntungkan (serangga, laba-laba) dengan
cara mengurangi penggunaan insektisida terutama pada stadia awal (tidak ada penyemprotan
dalam periode tanam padi sampai dengan 40 HST) (2) menyediakan alternatif sumber pangan
utama bagi predator (musuh alami) dan (3) meningkatkan parasitoid (musuh alami) dengan
menanam bunga yang kaya akan madu atau nektar (Anggoro, 2014).
Gurr (2004) mengemukakan aplikasi nyata dari penerapan teknologi rekayasa ekologi
dengan konsep pengelolaan hama melalui pemanfaatan musuh alami yang meliputi, (1)
penggunaan tanaman perangkap hama, (2) penggunaan sistem polikultur untuk mencegah
migrasi hama dan (3) penyediaan sumber makanan untuk musuh alami. Penyediaan sumber
makanan dan habitat untuk musuh alami menjadi metode yang paling banyak digunakan
dalam mekanisme pengendalian hayati secara konvensional.
Gurr (2010) mengemukakan bahwa dengan penerapan rekayasa ekologi dapat
meningkatkan populasi musuh alami. Populasi musuh alami pada petak rekayasa ekologi
lebih tinggi dibandingkan dengan petak petani, selain itu populasi wereng batang cokelat
yang ditemukan pada petak rekayasa ekologi lebih rendah dibandingkan petak petani.
Penerapan rekayasa ekologi di China dilakukan pada lahan seluas 37 ha, sedangkan petak
pembandingnya adalah petak petani seluas 30 ha. Pada penerapan rekayasa ekologi di China
tidak dipaparkan secara jelas mengenai waktu penanaman tanaman berbunga. Tanaman
berbunga yang ditanam pada penerapan rekayasa ekologi di China antara lain Wijen
(Sesamum indicum), Coriander (Coriandrum sativum), Soba (Fagopyron esculentum),
Alyssum (Lobularia maritima), Zizania, dan Sudan grass (Sorghum vulgare var.
sudanense).
Mekanisme Ketertarikan Parasitoid Telur Wereng Batang Cokelat Terhadap Tanaman
Refugia

Menurut Untung (2013), dalam penerapan PHT konservasi musuh alami terutama
pemanfaatan predator dan parasitoid merupakan teknik pengendalian hayati. Teknik
konservasi bertujuan untuk menghindarkan tindakan-tindakan yang dapat menurunkan
populasi musuh alami. Adapun beberapa cara konservasi musuh alami:
a. Menekan pemakaian pestisida.
b. Musuh alami memiliki kepekaan lebih tinggi terhadap pestisida dibandingkan dengan
hama sehingga penggunaan pestisida secara terus-menerus akan menurunkan populasi
musuh alami. Parasitoid lebih peka terhadap pestisida dibandingkan dengan predator.
c. Menggunakan sistem tanam yang lebih beraneka ragam akan mempengaruhi lingkungan
mikro di suatu lahan yang akan mempengaruhi musuh alami lebih beraneka ragam
dibandingkan dnegan sistem tanam monokultur.
d. Menanam dan melestarikan tanaman berbunga yang menghasilkan sari madu dan serbuk
sari akan mempengaruhi kemampuan musuh alami untuk berkembang biak sehingga lebih
disukai oleh parasitoid dan predator.
e. Melestarikan tanaman liar yang mendukung inang alternatif musuh alami seperti
predator dan parasitoid. Pelestarian tanaman liar dapat mendukung kehidupan musuh
alami sebagai inang alternatif sampai inang utama kembali tersedia sehingga musuh alami
tetap dapat menurunkan populasi hama.
Penggunaan tanaman berbunga menambah keragaman tanaman dalam agroekosistem
yang dapat menjadi sumber makanan dan tempat hidup bagi musuh alami yang secara
langsung dapat mengendalikan hama dan secara tidak langsung mengurangi penggunaan
pestisida (Gurr et al., 2016). Tumbuhan berbunga menarik kedatangan serangga
menggunakan karakter morfologi dan fisiologi dari bunga, yaitu ukuran, bentuk, warna,
keharuman, periode berbunga, serta kandungan nektar dan polen. Kebanyakan dari serangga
lebih menyukai bunga yang berukuran kecil, cenderung terbuka, dengan waktu berbunga
yang cukup lama yang biasanya. terdapat pada bunga dari famili Compositae atau Asteraceae
(Altieri & Nichols, 2004).
Warna bunga merupakan salah satu daya tarik bunga bagi serangga (Menzel et al.,
1998). kandungan nektar dan polen pada bunga juga menjadi daya Tarik bagi serangga.
Nektar adalah kumpulan senyawa kimia yang kompleks dengan kandungan nutrisi yang
bervariasi (Haydak, 1970). Umumnya mengandung gula sederhana (monosakarida) yaitu
sekitar 15-75% dari beratnya. Bahan lain yang terkandung dalam nektar adalah asam amino,
protein, lemak, antioksidan, alkaloid, vitamin, asam organik, allantoin dan asam allantoat,
dekstrin, dan bahan inorganik lainnya seperti mineral dan air. Polen berfungsi sebagai
makanan yang penting bagi serangga terutama larva lebah (Apidae), kumbang, lalat
(Syrphidae dan Anthomyiidae), Colembolla, beberapa Orthopteroids dan kupu-kupu (Stanley
& Linskens, 1974).
Bau atau aroma bunga juga menjadi daya tarik sekaligus tanda pengenal jenis
tumbuhan bagi serangga. Aroma merupakan salah satu kemampuan adaptasi dari tanaman
yang dapat bersifat sebagai penarik atau penolak. Bagi serangga polinator, bau atau aroma
bunga lebih sulit dikenali dibandingkan dengan warna dari suatu bunga. Selain karakter
morfologi dan fisiologi dari bunga, faktor lain yang mempengaruhi kedatangan serangga pada
suatu bunga adalah faktor lingkungan fisik yaitu cahaya, suhu, kelembapan, serta kecepatan
dan arah angin. Respons serangga terhadap lingkungan fisik ini berbeda sehingga waktu
aktifnya pun berbeda, yaitu pagi, siang, sore atau malam hari (Kurniawati & Martono, 2015).
Musuh alami pada stadia imago sering memerlukan nektar dan polen sebagai sumber
pakan dan air. Di alam berbagai tumbuhan menyediakan nektar dan polen tersebut. Akan
tetapi, di dalam agroekosistem berbagai tumbuhan tersebut adalah gulma yang sering
dibersihkan dari lahan pertanian. Sistem tanam tumpang sari dapat menyediakan pakan
tambahan tersebut (Coppel dan Mertins, 1977). Anagrus sp. (Hymenoptera: Mymaridae)
diketahui merupakan parasitoid telur N. lugens yang sering ditemukan di ekosistem
pertanaman padi (Chiu, 1979). Tingkat parasitasi Anagrus sp. pada telur N. lugens berkisar
antara 12% hingga 100% bergantung pada kondisi lingkungan (Dupo dan Barion, 2009).
Selain itu, Oligosita sp. (Hymenoptera: Trichogrammatidae) juga diketahui sebagai parasitoid
telur dari N. lugens dan berbagai ngengat pada pertanaman padi. Ciri karakteristik imago
parasitoid Oligosita sp. yaitu berwarna kuning kehijauan dengan sayap transparan dan
memiliki seta halus disekeliling sayapnya (Sherpard et al., 1987).
Penanaman tanaman berbunga sebaiknya dilakukan pada waktu satu minggu setelah
panen musim awal dan disesuaikan dengan masa pembungaan tanaman berbunga yang akan
ditanam. Jumlah tanaman berbunga yang ditanam juga perlu diperbanyak jenisnya agar
biodiversitasnya lebih tinggi. Menurut Bianchi et al., (2006) cit Gurr et al., (2009) apabila
manipulasi agroekosistem dalam suatu tanaman dilakukan lebih awal, maka ini akan
menunjang proses-proses ekosistem seperti pengendalian hayati hama yang lebih efektif
dengan kehadiran lebih banyak spesies. Hingga akhirnya banyak spesies (musuh alami) yang
tinggal dan berkelompok pada awal musim dan dapat menekan ledakan hama pada musim
awal.
Menurut penelitian yang telah dilakukan Kurniawati (2015), kehadiran tumbuha
berbunga menggunakan wijen (Sesamum indicum) dan widelia (Sphagneticola trilobata)
dapat meningkatkan keragaman dan kelimpahan artropoda pada tanaman padi gogoyang
terdiri dari laba-laba, serangga termasuk musuh alami yang dapat menekan serangan hama.
Penelitian lain yang juga telah dilakukan Meilin (2012), menunjukkan jenis parasitoid telur
wereng batang cokelat yang diperoleh pada pertanaman padi dengan praktek budidaya yang
berbeda ditemukan: Anagrus nilaparvatae, A. optabilis (Hymenoptera: Mymaridae) dan
Oligosita (Hymenoptera: Trichogrammatidae). Kelimpahan parasitoid pada pertanaman padi
tanpa pestisida dan pestisida rasional lebih banyak dibandingkan dengan pestisida intensitf.
Menurut Herlina et al., (2011), keadaan lansekap pertanaman padi yang disurvei
merupakan lansekap sederhana terdiri dari hamparana padi yang sangat luas. Keadaan
lansekap ini diduga memberikan andil dalam keanekaragaman paasitoid yang diperoleh.
Lansekap pertanian yang kompleks akan meningkatkan keanearagaman parasitoid
Keragaman tumbuhan pada pertanaman padi sangat penting dalam pengendalian
biologi hama padi (Lan et al., 2010). Tumbuhan selain padi pada pertanaman menyediakan
embun madu dan polen yang berperan penting dalam dinamika populasi herbivora dan musuh
alaminya (Lu et al., 2014). Tumbuhan ini dapat berperan sebagai upaya konservasi musuh
alami dengan menyediakan nektar, inang alternatif dan tempat tinggal sementara predator
saat populasi mangsa terbatas. Pematang sawah dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk
penanaman tumbuhan berbunga yang dapat mengelilingi areal pertanaman dan memberikan
pengaruh secara luas. Menurut penelitian yang dilakukan Zhu et al., (2013), percobaan pada
laboratorium telah dilakukan untuk menyeleksi tanaman yang dapat dijadikan sebagai
tanaman refugia, terutama yang dapat meningkatkan parasitasi parasitoid telur wereng batang
cokelat, Anagrus spp.
Tabel 1. Presentase ketertarikan parasitoid telur wereng batang cokelat Anagrus nilaparvatae
dan Anagrus optabilis pada berbagai tanaman (Zhu et al., 2013).
Anagrus nilaparvatae Anagrus optabilis
Tanaman berbunga Memilih Memilih udara Memilih bau Memilih udara
volatil bunga bersih bunga bersih
Sesamum indicum 70,0* 30,0 67,5 32,5
Impatiens balsamina 72,5* 27,5 77,5* 22,5
Emilia sonchifolia 67,5* 32,5 70,0* 30,0
Hibiscus coccineus 45,0 55,0 77,5* 22,5
Tagetes patula 30,0 70,0 70,0* 25,0
Hibiscus esculentus 55,0 45,0 70,0* 27,5
Vernonia cinerea 85,0 15,0 50,0 50,0
Luffa cylindrical 70,0* 30,0 0,0 0,0
Tagetes erecta 65,0 35,0 0,0 0,0
Rosa chinensis 72,5* 25,0 0,0 0,0
Largeleaf hydrangea 42,5 55,0 0,0 0,0
Gazania rigens 37,5 62,5 0,0 0,0
Glysine max 60,0 40,0 0,0 0,0
Canna indica 37,5 60,0 0,0 0,0
Ageratum conyzoides 55,0 40,0 0,0 0,0
Trida procumbes 60,0 37,5 0,0 0,0
Mazus japonicas 80,0* 17,5 0,0 0,0
Erigeron annuus 45,0 52,5 0,0 0,0
Portulaca grandiflora 47,5 52,5 0,0 0,0
Cosmos sulphureus 37,5 52,5 0,0 0,0
Ipomoea nil 65,0 35,0 0,0 0,0
Herba ecliptae 50,0 0,0 0,0 0,0
Eclipta prostrata 50,0 0,0 0,0 0,0
*A significant deviation from random choice (preference or reppelency) (test on two-tail binomial
distribution ; p<0,05)

A. optabilis secara signifikan tertarik oleh senyawa volatile yang dikeluarkan oleh
tanaman bunga S. indicum, I. balsamena, E. sonchifolia, H. coccinus, T. procumbens and H.
esculentus, namun tidak untuk V. cinerea. A. nilaparvatae terlihat lebih selektif di dalam
ketertarikan inangnya didapatkan hanya 7 spesies tanaman dari 23 spesies tanaman yang telah
diujikan. Keberadaan bunga tertentu mempengaruhi ketertarikan parasitoid, termasuk
Anagrus nilaparvatae terhadap tanaman berbunga bersifat spesifik, yaitu dipengaruhi oleh
morfologi bunga dan parasitoid, kualitas nektar dan pollen, serta atraktan maupun repellent
yang dimiliki oleh tanaman, seperti warna bunga dan senyawa volatile ( Sivinski et al., 2011).
Bahwa sumber makanan dari bunga (pollen dan nektar) yang mengandung gula, protein,
asam amino dan lipid dapat meningkatkan fekunditas dari parasitoid termasuk A.
nilaparvatae (Zhu et al., 2013).
Pengaruh Tanaman Refugia Sebagai Konservasi Musuh Alami Bagi Parasitoid Telur
Wereng Batang Cokelat

Tabel 2. Pengaruh bunga Sesamum indicum terhadap kemampuan parasitasi parasitoid telur
Wereng Batang Cokelat (Anagrus nilaparvatae dan Anagrus optabilis)
Anagrus nilaparvatae Anagrus optabilis
Perlakuan
Telur terparasitasi/rumpun Telur terparasitasi/rumpun
Bunga Sesamum indicum 21.43 ± 2.12a 23.83 ± 1.63a
Kontrol 14,38 ± 1.05b 16.65 ± 1.29b
* Means within a column followed by differing letters are differ significantly at P < 0.05.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Zhu et al., (2013) diketahui bahwa
A. nilaparvatae dan Anagrus optabilis tertarik dengan senyawa kimia yang dikeluarkan oleh
tanaman wijen (Sesamum indicum). Pemilihan tanaman wijen sebagai tanaman refugia
didasarkan pada hasil penemuan bahwa masa hidup A. nilaparvatae dan Anagrus optabilis
betina mengalami peningkatan dalam habitat tanaman wijen baik pada pengamatan
laboratorium maupun lapangan. Hal tersebut kemudian mengindikasikan bahwa tanaman
wijen memberikan kontribusi penting terhadap peningkatan parasitasi parasitoid telur wereng
batang cokelat di lapangan. Anagrus nilaparvatae dan A. optabilis yang diberi bunga wijen
memiliki lama hidup dan kemampuan parasitasi yang lebih baik (Zhu et al., 2013). Lama
hidup A. nilaparvatae juga menjadi lebih panjang setelah diberi perlakuan bunga tanaman
Daucus carota (Farrel, 2013).

Imago Parasitoid Oligosita dan Anagrus yang muncul dari telur wereng batang
cokelat pada musim tanam yang berbeda di Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas.
Pertanaman Padi Oligosita (ekor/trap) Anagrus (ekor/trap)
Dengan Refugia 16,25± 4,21a 14,83± 6,89 a
Jauh dari Refugia 17,25± 16,25a 8,42 ±6,44 b
Tanpa Refugia 12,75± 6,52a 7,96±4,85b
*Dengan Refugia berarti bunga mengelilingi pertanaman padi, jauh dari refugia yang berarti lahan sudah tidak
dikelilingi refugia dan refugia terdekat berjarak 12 meter, dan tanpa refugia yang berarti refugia terdekat
berjarak 5 kilometer. Huruf yang sama menandakan tidak berbeda nyata pada taraf uji 5%

Hasil penelitian yang telah dilakukan Sinulingga (2017), menunjukkan bahwa


Anagrus pada perlakuan Refugia berbeda nyata dengan perlakuan jauh dari refugia maupun
tanpa refugia. Pertanaman padi dengan tanaman Refugia dapat memberikan peningkatan
jumlah Anagrus yang muncul dari telur wereng batang cokelat dengan rata-rata sebesar 14,83
ekor/trap yang jumlahnya dua kali lipat dibandingkan lahan dengan perlakuan jauh dari
Refugia dan tanpa Refugia memiliki jumlah rata-rata populasi yaitu 8,42 ekor/trap dan 7,96
ekor/trap sehingga populasi Anagrus lebih stabil di pertanaman pertanian dengan adanya
penanaman refugia. Adapun parasitoid Oligosita didapatkan jumlahnya yang lebih banyak
dibandingkan dengan Anagrus pada pertanaman padi dengan refugia namun tidak
memberikan pengaruh berbeda nyata adanya pengaruh kelimpahan parasitoid, fekunditas dan
kebugaran (fitness) parasitoid yang sangat beragam. Pada musim hujan, adanya tanaman
refugia tidak mempengaruhi keberadaan Oligosita namun berpengaruh terhadap keberadaan
Anagrus

Tabel 4. Pengaruh bunga Turnera subulata dan Cosmos sulphureus terhadap lama hidup dan
fekunditas keturunan Anagrus nilaparvatae yang tidak diberikan pakan
F1
Perlakuan terhadap Induk
Parasitoid yang Dihasilkan
(F0) Lama Hidup (hari)*
(ekor/betina)
Turnera subulata 1.85 ± 1.14 a 23.45 ± 10.98 ab
Cosmos sulphureus 1.70 ± 0,86 a 26.85 ± 17.05 a
Madu 1.65 ± 0.75 a 23.35 ± 14.42 ab
Kontrol 1,85 ± 1.18 a 18.45 ± 13.30 c
Keteragan: Induk diberi makanan sedangkan dan keturunannya tidak. Angka rerata ± standar deviasi yang
diikuti dengan huruf yang sama menunjukkan tidak adanya beda nyata pada uji LSD pada taraf
kepercayaan 95%.

Hasil pengujian Sugiharti et al., (2018) di atas menunjukkan A. nilaparvatae


keturunan (F1) yang tidak diberi pakan berupa bunga dan madu menunjukkan lama hidup A.
nilaparvatae keturunan (F1) tidak berbeda nyata untuk semua perlakuan, namun fekunditas
dari keturunan yang dihasilkan oleh induk A. nilaparvatae yang diberi pakan Cosmos
sulphureus berbeda nyata dengan A. nilaparvatae keturunan (F1) kontrol. Pemberian C.
sulphureus baik bagi A. nilaparvatae (F0) maupun keturunan (F1) menyebabkan fekunditas
yang paling tinggi dibandingkan perlakuan yang lain. Menurut Farrel (2013), adanya
perbedaan pengaruh antara bunga C. sulphureus dan T. subulata dapat disebabkan oleh
perbedaan morfologi bunga, komposisi nektar dan pollen, serta senyawa volatilnya. Faktor
morfologi yang penting dalam aksesbilitas mencapai nektar atau pollen adalah lebar dan
kedalaman mahkota terdapat kaitannya dengan ukuran kepala dan struktur mulut parasitoid.
Adapun pengaruh pemberian bunga T. subulata C. sulphureus memberikan waktu
kemunculan A. nilaparvatae satu hari lebih awal. Hal ini sesuai dengan penelitian Farrel
(2013), Anagrus spp. yang diberikan madu dan bunga Daucus carota memiliki lama hidup
1,6 hari dan 1,3 hari. Dengan demikian, keberlanjutan A. nilaparvatae generasi berikutnya
dapat terus dipertahankan serta proses parasitasinya dapat terjadi lebih cepat dalam
mengendalikan populasi wereng batang cokelat (Sugiharti et al., 2018).
III. PENUTUP

Berdasarkan makalah yang telah disusun dapat disimpulkan rekayasa ekologi


merupakan suatu pendekatan melalui manipulasi agroekosistem untuk mengoptimalkan
pengendalian hayati dengan konservasi musuh alami terhadap hama. Rekayasa ekologi
dengan menanam bunga di pematang sawah dapat disebut Refugia. Tanaman refugia dapat
digunakan sebagai mikrohabitat bagi musuh alami terutama parasitoid telur wereng batang
cokelat. Setiap tanaman berbunga memiliki variabilitas dalam ketertarikan dan kesesuaian
untuk spesies parasitoid tertentu. Aspek yang digunakan pada tanaman berbunga untuk
refugia adalah: Karakter morfologi, fisiologi bunga, kandungan nektar dan polen. Nektar
yang terkandung dalam tanaman refugia dapat menjadi daya tarik dan sumber makanan dari
banyak parasitoid dari golongan Hymenoptera, terkhusus untuk mengatur dan mengendalikan
hama tanaman padi seperti wereng batang cokelat. Sumber makanan dari bunga (pollen dan
nektar) mengandung gula, protein, asam amino dan lipid dapat dapat memperpanjang masa
hidup dan meningkatkan fekunditas parasitoid telur wereng batang cokelat.
DAFTAR PUSTAKA

Altieri, M.A., dan Nicholls, C.I., 2004, Biodiversity and Pest Management in
Agroecosystems, New York: Food Product Press.
Anggoro, S.2014. (www.dinpertan.go.id/komoditas-126-rekayasa-ekologi-untuk-pertanian-
berwawasan-lingkungan-dan-berkelanjutan.html). Diakses pada 25 Oktober 2017.
Baehaki SE, Munawar D. 2007. Identifikasi biotipe wereng coklat di Jawa, Sumatera, dan
Sulawesi dan reaksi ketahanan kultivar padi. Apresiasi Hasil Penelitian padi. Balai
Besar Penelitian Tanaman Padi.
Baehaki, S.E. 2012. Perkembangan biotipe hama wereng cokelat pada tanaman padi. IPTEK
Tanaman Pangan 7(1):8-17.
Coppel H.C., & Mertins J. W. 1977. Biological insect pest suppression. Springer. 314 hal.
Dupo A.L.B. & A.T. Barion. 2009. Taxonomy and General Biology of Delphacid
Planthopper in Rice Agroecosystem. In Heong KL, B Hardy editors. Planthopper:
New Threat to The Sustainability of Intensive Rice Production System in Asia.
International Rice Research Institute, Los Banos, Philippines. p 3-155.
Farrell, S. L. 2013. The Effect of Floral Nectar Feeding on the Parasitoid A. nilaparvatae
(Hymenoptera: Mymaridae). Spring p. 1−18.
Gangurde, S. 2007. Aboveground arthropod pest and predator diversity in irrigated rice
(Oryza sativa L.) production systems of the Philippines. Journal of Tropical
Agriculture 45 (1-2): 1-8.
Godfray, H.C.J. 1994. Parasitoids Behavioral and Evolutionary Ecology. Princeton
University Press, Princeton, New Jersey, United Kingdom. 473 p.
Gurr, G. M, S.D. Wratten, & M. A. Altieri. 2004. Ecological engineering for pest
Management: Advances for Habitat Manipulation for Arthropods. CSIRO.
Publishing. Collingwood. VIC Australia and CABI Publishing Wallingford. Oxon.
UK.
Gurr, G. M., 2009, Prospects for Ecological Engineering for Planthoppers and Other
Arthropod Pests in Rice, International Rice Research Institute, Los Banos.
Philippines.
Gurr, G.M., J. Liu, D.M.Y. Read, J.L.A Catindig, J.A. Cheng, J.A. Lan, & K.L. Heong. 2010.
Parasitoid of Asian rice planthopper pests and prospect for enchanging biological
control by ecological engineering. Annual Applied Biology 158: 149-176.
Gurr, G.M., S.D. Wratten, D.A. Landis, & M. You. 2016. Habitat management to suppress
pest population: progrees and prospect. Annual Review of Entomology 62: 91-109.
Harini, S. A., S. Kumar S, P. Balaravi., R. Sharma., A. Dass. M and V. Shenoy. 2013.
Evaluation of rice genotypes for brown planthopper (BPH) resistance using
molecular markers and phenotypic methods. African J Biotechnol 12 (19): 2515-
2525.
Haydak, M. H. 1970. Honeybee Nutrition. Annual Review of Entomology 15: 143-156.
Heong, K.L. 2011. Ecologycal engineering-a stategy to restore biodiversity and ecosystem
services for pest management in rice production. CGIAR SPIPM 15(12).
Herlina N, Rizali A, Moerfiah, Sahari B, Buchori D. 2011. Effect of rice field surrounding
habitat and age of rice plant on the diversity of Parasitic Hymenoptera. Jurnal
Entomologi Indonesia 8:17–26.
Keppel, G., Buckley, Y.M. & Possingham, H.P. (2010) Drivers of lowland rain forest
community assembly, species diversity and forest structure on islands in the tropical
South Pacific. Journal of Ecology,98, 87–95.
Kurniawati, N., 2015, "Keragaman dan Kelimpahan Musuh Alami Hama pada Habitat Padi
yang Dimanipulasi dengan Tumbuhan Berbunga", Ilmu Pertanian, Vol. 18, hal. 31–
36.
Kurniawati, N dan E. Martono, 2015, "Peran Tumbuhan Berbunga sebagai Media Konservasi
Artropoda Musuh Alami", Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, Vol. 19, hal. 53-
59.
Landis, D.A., Menalled, F.D., Lee, J.C., Carmona, D.M., Perez-Valdez, A., 2000. Habitat
modification to enhance biological control in IPM. In: Kennedy, G.G., Sutton, T.B.
(Eds.), Emerging Technologies for Integrated Pest Management: Concepts, Research,
and Implementation. APS Press, St. Paul, pp. 226–239.
Lan, L.P., Chien, H.V., Heong, K.L. 2010. Parasitoid Density Higher in Farmers’ Ecological
Engineering Fields; No Difference in Species Biodiversity in Cai Be, Tien
Giang, Vietnam. http://ricehoppers.net/2010/12/parasitoid-density-higher- in-
farmers%e2%80%99-ecological-engineering-fields-no-difference-in-species-bi
odiversity-in-cai-be-tien-giang-vietnam/.
Liu, F., X. Zhang, Q. Gui, & Q.J. Xu. 2012. Sublethal effect of four insecticides on Anagrus
nilaparvatae (Hymenoptera: Mymaridae), an important egg parasitoid of the rice
planthopper Nilaparvata lugens (Homoptera: Delphacidae). Crop Protection 37: 13-
19.
Lou, Y.G., G.R. Zhang, W.Q. Zhang, Y. Hu, & J. Zhang. 2014. Reprint of: Biological
Control of Rice Insect Pests in China. Biological Control 68: 103–116.
Lu, ZX, Zhu, PY, Gurr, GM, Zheng,XS, Chen, GH and Heong KL., 2015.Pp 163-180.
Chapter 8. In Heong, KL, Cheng, JA and Escalada, MM. (eds) “Rice Planthoppers:
Ecology, Management,Socio Economics and Policy” Springer Science+Business
Media Dordrecht. DOI 10.1007/978-94-017-9535-7.
Mochida O, Okada T. 1979. Taxonomy and biology of Nilaparvata lugen (Homoptera:
Delphacidae), pp. 21-24. In Brrown Planthopper. Threat to Rice Production in Asia.
IRRI, Los Banos, Phillipines.
Meilin, A. 2012. Inventarisasi Parasitoid Telur Wereng Batang Cokelat di Beberapa
Pertanaman Padi. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.12(3): 19-22.
Menzel, R.E. J.D. Souza & W. Backhaus. 1998. Spectral sensitivity of photoreceptor and
colour vision in the solitary bee, Osmia rufa. Journal of Experimental Biology 136:
35-52.
Pedigo LP. 2002. Entomology and Pest Management. Ed ke-4. New Jersey (US): Prentice
Hall.
Quicke DLJ. 1997. Parasitic Wasps. London (GB): Chapman and Hall.
Shepard, B.M., A.T. Barion, & J.A. Litsinger. 1987. Friends of Farmer: Helpful Insects,
Spiders, and Pathogens. International Rice Research Institute, Los Banos,
Philippines.
Sivinski, J., D. Wahl, T. Holler, S. Al Dobai, & R. Sivinski. 2011. Conserving Natural
Enemies with Flowering Plants: Estimating Floral Attractiveness to Parasitic
Hymenoptera and Attraction's Relationship to Flower and Plant Morphology.
Biological Control 58: 208-214.
Sinulingga, N. G. H. B. 2017. Manfaat Refugia Dalam Meningkatkan Layanan Ekosistem
Oleh Parasitoid Telur Wereng Batang Cokelat. Tesis Pascasarjana Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Stanley, R.G & H.F. Linkesns. 1974. Pollen : Biology, Biochemistry, Management. Springer-
verlag, New York. 289p.
Sugiharti, W., Y. A. Trisyono., E. Martono dan Witjaksono. 2018. The Role of Turnera
subulata and Cosmos sulphureus Flowers in the Life of Anagrus nilaparvatae
(Hymenoptera: Mymaridae). Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, Vol. 22(1):
43-50.
Sutrisno, 2014. Resistensi Wereng Batang Cokelat Padi, Nilaparvata lugens stal terhadap
Insektisida di Indonesia. Jurnal AgroBiogen, Vol.10(3):115-124.
Trisyono, Y.A. 2015. Menengok dan merancang kembali PHT di Indonesia. Pidato Dies
Natalis ke 69 Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta 28 September 2015.
Trisyono, Y. Andi. 2017. Insektisida pengganggu Pertumbuhan dan Perkembangan Serangga.
(Cetakan ke-2). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Untung, K. 2013. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu Edisi Kedua. (Cetakan ke-6).
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Yaherwandi, Manuwoto, S., Buchori, D., Hidayat, P. & Budiprasetyo, L. 2007.
Keanekaragaman Komunitas Hymenoptera Parasitoid pada Ekosistem Padi. J. HPT
Tropika 7: 10-20.
Yaherwandi, Reflinaldon, Rahmadani, A. 2009. Biologi Nilaparvata lugens Stall
(Homoptera: Delphacidae) Pada Empat Varietas Tanaman Padi (Oryza sativa L.)
Jurnal Biologi Edukasi, 1(2):9-17.
Zhu, P., G.M. Gurr, Z. Lu, K. Heong, G. Chen, X. Zheng, & Y. Yang. 2013. Laboratory
screening supports the selection of Sesame (Sesamum indicum) to enhance
Anagrus spp. parasitoids (Hymenoptera: Mymaridae) of rice planthoppers. Journal
Biologial Control 64: 83-89.