Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH TANAMAN OBAT KELUARGA (TOGA)

BLOK 11 KESEHATAN LINGKUNGAN, DEMOGRAFI DAN GIZI


MASYARAKAT

Oleh:

Dheamira Rosida 161610101023

Kartika Artha Rini 161610101026

Dwi Mukti Kusumastuti 161610101027

Dosen Pembimbing:

Dr. drg. Ari Tri Wanandyo, M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS JEMBER

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat
dan Hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan Makalah Tanaman Obat Keluarga
(TOGA) Blok 11 Kesehatan Lingkungan, Demografi Dan Gizi Masyarakat tanpa
adanya suatu halangan yang berarti.

Makalah ini saya buat sebagai salah satu sarana untuk lebih mendalami
materi tentang Makalah Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Kesempurnaan hanya
milik Tuhan Yang Maha Esa, untuk itu kami mohon maaf apabila dalam makalah
ini masih terdapat kesalahan baik dalam isi ataupun sistematika penulisan. Kami
juga berharap laporan praktikum ini dapat bermanfaat untuk pendalaman materi
pada Blok 11 Kesehatan Lingkungan, Demografi Dan Gizi Masyarakat.

17 Desember 2017

Penulis
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara agraris. Banyak macam tanaman


yang dapat tumbuh di Indonesia. Tanaman tidak hanya bermanfaat sebagai bahan
makanan ataupun sebagai hiasan. Tanaman juga banyak bermanfaat untuk
penyembuhan dan pengobatan. Tanaman obat ini juga dapat dibudidayakan sendiri
di rumah atau biasa disebut dengan apotek hidup. Indonesia kaya akan aneka ragam
tanaman obat. Lebih dari 1000 spesies tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai bahan
baku obat, oleh karena itu budidaya tanaman obat di Indonesia memiliki potensi
yang sangat baik untuk dikembangkan (Nugraha, 2015).
Pemanfaatan TOGA yang lebih alami oleh masyarakat Indonesia, secara
turuntemurun sebagai warisan budaya bangsa. Tanaman obat tradisional digunakan
dan dilaporkan secara empirik oleh masyarakat bermanfaat meningkatkan
kesehatan dan pengobatan berbagai penyakit. Alasan penggunaan obat tradisional
karena merupakan kebiasaan dari leluhur (39,9%) dan pada umumnya
pemakaiannya sudah berlangsung lama >3 tahun (41,6 % ) (Yuliani dkk,2006).
Penggunaan tanaman obat secara tradisional semakin disukai karena efek samping
yang rendah, efek yang saling mendukung dengan obat tradisional lain, lebih sesuai
untuk berbagai penyakit metabolik dan degeneratif. Selain itu, obat tradisional
dapat diperoleh, diramu dan ditanam sendiri tanpa tenaga medis. Oleh sebab itu,
pemanfaatan tanaman obat perlu digalakkan guna meningkatkan kemandirian
masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan. Selain itu, TOGA juga bermanfaat
untuk memperbaiki gizi keluarga dan dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat
(Kesmas, 2010).
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah definisi TOGA?
1.2.2 Apa saja macam-macam TOGA?
1.2.3 Bagaimana pemanfaatan TOGA dalam mengobati penyakit gigi dan mulut

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui dan memahami definisi TOGA
1.3.2 Mengetahui dan memahami macam-macam TOGA
1.3.3 Mengetahui manfaat TOGA dalam mengobati penyakit gigi dan mulut
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi TOGA


TOGA pada hakekatnya adalah sebidang tanah baik di halaman rumah,
kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang
berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga akan obat-
obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat disalurkan
kepada masyarakat, khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (Vita,
2010).
TOGA adalah tanaman berkhasiat yang ditanam di lahan pekarangan yang
dikelola oleh keluarga, ditanam dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan
obat-obatan tradisional yang dapat dibuat sendiri (Susi dkk, 2015).
Beragam jenis tanaman obat yang akan mengisi lahan sisa di rumah kita
akan menjadi apotek hidup yang sangat besar manfaat dan peruntukannya untuk
pemenuhan upaya preventive (pencegahan), promotif (peningkatan derajat
kesehatan) dan kuratif (pengobatan). Apotek hidup adalah memanfaatkan sebagian
tanah untuk ditanami tanaman obat-obatan tradisional yang dapat digunakan untuk
mengobati berbagai penyakit (Vita, 2010).

2.2 Jenis dan Macam TOGA

Menurut Tukiman (2004), Jenis tanaman yang harus dibudidayakan untuk


tanaman obat keluarga adalah jenis-jenis tanaman yang memenuhi kriteria sebagai
berikut:
a. Jenis tanaman disebutkan dalam buku pemanfaatan tanaman obat.
b. Jenis tanaman yang lazim digunakan sebagai obat didaerah pemukiman.
c. Jenis tanaman yang dapat tumbuh dan hidup dengan baik di daerah
pemukiman.
d. Jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain misalnya: buah-
buahan dan bumbu masak
e. Jenis tanaman yang hampir punah
f. Jenis tanaman yang masih liar
Jenis tanaman obat yang disebutkan dalam buku pemanfaatan tanaman
adalah tanaman yang sudah lazim di tanam di pekarangan rumah atau tumbuh di
daerah pemukiman.
Macam-macam TOGA, diantaranya adalah:
a. Belimbing Wuluh
Pemanfaatan bahan-bahan alami dalam bidang kedokteran gigi merupakan
suatu alternative dan dapat meminimalkan efek samping. Salah satunya adalah
belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) yang bersifat asam karena kandungan
asam sitrat, asam malat, asam oksalat, asam asetat, asam format, saponin,
niasin, tanin. Belimbing wuluh mudah dijumpai di sekitar kita dan hampir
setiap tahun berbuah tanpa mengenal musim. Kandungan asam yang tinggi
membuat air perasan belimbing wuluh mempunyai pH rendah sehingga bisa
menghambat aktivitas bakteri. Kandungan senyawa flavonoid pada buah
belimbing wuluh juga bisa menghambat mikroba (Lestari, 2011)
b. Daun sirih
Sirih (Piper betle L.) merupakan salah satu jenis tanaman merambat atau
menjalar yang termasuk famili Piparaceae. Tinggi tanaman sirih dapat
mencapai 15 m, tergantung tingkat kesuburan media tanam dan rendahnya
media untuk merambat. Batang berwarna cokelat kehijauan, berbentuk bulat,
berkerut, dan beruas yang merupakan tempat keluarnya akar (Moeljanto dan
Mulyono, 2003). Kandungan dari daun sirih yaitu minyak atsiri, alkaloid,
flavonoid, fenol dan steroid (Srisadono, 2008). Selain itu, daun sirih juga
mengandung enzim diastase dan gula. Biasanya, daun sirih muda mengandung
diastase, gula dan minyak atsiri lebih banyak dibandingkan dengan daun sirih
tua. Sementara itu, kandungan taninnya relatif sama (Moeljanto dan Mulyono,
2003). Terdapat pula katekin dan tannin yang termasuk senyawa polifenol .
Kandungan kimia utama yang memberikan ciri khas daun sirih adalah minyak
atsiri.
c. Kemangi
Kemangi merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang
dimanfaatkan di Indonesia. Salah satu tanaman obat herbal yang dewasa ini
banyak dimanfaatkan di masyarakat ialah kemangi (Ocimum basilicum L.). Di
masyarakat kemangi digunakan sebagai sayur atau lalap. Sebagai tanaman obat
tradisional berdasarkan penelitian terdahulu kandungan kimia kemangi berupa
minyak atsiri berperan sebagai antifungi. Kandungan minyak atsiri di dalam
daun kemangi yang diduga sebagai antifungi adalah methyl chavicol dan
linalool. Kandungan senyawa lain dalam daun kemangi yang berperan sebagai
antifungi berupa flavonoid, saponin. Daun kemangi mengandung minyak
esensial yang bersifat antibakteri (Parag dkk, 2010).
d. Cabai
Cabai mengandung kurang lebih 1,5% (biasanya antara 0,1-1%) rasa
pedas. Rasa pedas tersebut terutama disebabkan oleh kandungan capsaicin dan
8 dihidrocapsaicin Manfaat dan Khasiat Cabe - Cabe merupakan salah satu
bumbu dasar untuk penyedap rasa masakan, umumnya berwarna merah
menyala atau hijau tua. Jika cabe dibelah, maka kita akan menemukan tangkai
putih di dalamnya yang mengandung zat capsaicin yang seperti minyak dan
menyengat sel-sel pengecap lidah. Zai inilah yang mengakibatkan cabe
menjadi pedas dan panas di lidah ketika kita mengkonsumsinya. Tapi zat ini
jugalah yang membuat orang ketagihan dan kecanduan saat menyantap
makanan. Namun, dibalik sensasi rasa pedasnya terdapat berjuta manfaat dan
kandungan gizi yg belum kita ketahui sebelumnya. Selain berkhasiat untuk
meningkatkan nafsu makan juga memiliki manfaat lain untuk tubuh.
Contohnya, pada cabe rawit yang rasa pedasnya luar biasa, ternyata
mengandung vitamin C dan betakaroten (provitamin A) yang konon dapat
mengalahkan kandungan pada buah-buahan seperti mangga, nanas, papaya
atau semangka (Lukmana, 2004).
e. Jeruk nipis
Tanaman jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) merupakan salah satu
tanaman obat yang memiliki banyak manfaat dan khasiat untuk mencegah dan
mengobati penyakit (Karina, 2012). Bagian tanaman jeruk nipis yang paling
sering digunakan oleh masyarakat untuk pengobatan adalah buahnya (Kurnia,
2014).. Buah jeruk nipis memiliki kandungan asam sitrat yang paling tinggi
dibanding buah lainnya (Kurnia, 2014). Selain memiliki daya antibakteri, asam
sitrat merupakan bahan khelasi yang dapat melarutkan unsur anorganik pada
saluran akar (Suharsi, 2011).

3.3 Tanaman TOGA untuk Penyembuhan Penyakit Rongga Mulut


1. Daun Sirih
Daun sirih merupakan tanaman obat tradisional yang erat kaitannya dengan
kesehatan gigi dan mulut. Penggunaan sirih sebagai bahan obat mempunyai
dasar kuat karena adanya kandungan minyak atsiri yang merupakan komponen
fenol alami sehingga berfungsi sebagai antiseptik yang kuat. Sepertiga dari
minyak atsiri tersebut terdiri dari fenol dan sebagian besar adalah kavikol.
Kavikol inilah yang memiliki daya pembunuh bakteri lima kali lipat dari fenol
biasa (Ardianti, 2011).
Penggunaan sirih sebagai bahan obat mempunyai dasar kuat karena adanya
kandungan minyak atsiri yang merupakan komponen fenol alami yang dapat
berfungsi sebagai antiseptik yang kuat. Salah satu kandungan fenol daun sirih
adalah katekin yang juga terdapat pada teh hijau. Senyawa ini bersifat
bakterisidal dan menghambat proses glikolisasi oleh bakteri kariogenik
penghasil glukan yang dapat mengurangi pembentukan plak gigi (Trilaksana,
2003). Selain sebagai antiseptik, daun sirih juga dapat digunakan sebagai
antioksidasi dan fungisida (Moeljanto dan Mulyono, 2003).
Manfaat daun sirih untuk kesehatan rongga mulut, diantaranya:
a. Menguatkan gigi
b. Menyembuhkan sariawan
Daun sirih merupakan tanaman obat yang sangat besar manfaatya.
Daunnya mengandung zat antiseptik yang berkemampuan untuk
membunuh bakteri. Dengan sifat antieptiknya ,daun sirih sering digunakan
untuk menyembuhkan luka karena mengandung stryptic yang berguna
untuk menahan perdarahan dan vulnerary. Selain itu terdapat juga
eugenole yang banyak digunakan karena memiliki sifat ssebagai
antiseptik, analgesik, dan juga antiinflamasi sehingga mempercepat proses
penyembuhan luka. Ekstragole yang memiliki sifat antibakteri,
monoterpene dan seskuiterpene memiliki sifat sebagai antiseptik,
antiinflamasi, dan juga analgesik. Senyawa-senyawa tersebut bekerja
secara sinergis untuk mempercepat penyembuhan luka (Pramana dkk,
2016)
c. Menghilangkan bau mulut
Kandungan daun sirih yang mengandung berbagai macam zat yang dapat
menghambat aktivitas mikroorganisme penyebab halitosis. Ekstrak etanol daun
sirih hijau mempunyai aktivitas sebagai bahan antibakteri terbaik dibandingkan
ekstrak daun sirih dengan pelarut air dan etil asetat baik terhadap bakteri Gram
positif maupun bakteri Gram negatif. Selain itu, dalam ekstrak daun sirih hijau
ditemukan beberapa komponen yang diduga mempunyai aktivitas sebagai
bahan antimikroba yaitu kavikol, eugenol, karyofilen dan kaleren (Goma,
2017).
Fenol dapat berperan sebagai racun bagi mikroba yaitu dengan
menghambat aktivitas enzim, berikatan dengan gugus sulfhidril dan protein.
Flavonoid dapat berfungsi sebagai bahan antimikroba dengan membentuk
ikatan komplek dengan dinding sel dan merusak membran. Sedangkan tannin
adalah polimer fenolik yang biasanya digunakan sebagai bahan penyegar,
mempunyai sifat antimikroba dan bersifat racun terhadap bakteri dan fungi.
Kemampuan tannin sebagai bahan antimikroba diduga karena tannin akan
berikatan dengan dinding sel bakteri sehingga akan menginaktifkan
kemampuan menempel bakteri, menghambat pertumbuhan, aktivitas enzim
protease dan dapat membentuk ikatan komplek dengan polisakarida. Serta
kandungan alkaloid mempunyai pengaruh sebagai bahan antimikroba dengan
mekanisme penghambatannya adalah dengan mengkelat DNA (Goma,2017).
d. Menghentikan pendarahan gusi
Mekanisme tubuh dalam menghentikan perdarahaan melibatkan tiga
langkah utama : (1) spasme vaskuler,(2) pembentukan sumbatan trombosit, dan
(3) koagulasi darah (pembentukan bekuan darah) (Sherwood, 2015).
Mekanisme-mekanisme tersebut dapat dipercepat dengan cara pemberian
perlakuan tertentu. Salah satu perlakuan tersebut adalah pemberian topikal
daun Sirih (Piper betle L.).
Senyawa utama yang berperan dalam proses pembekuan darah adalah
tannin dan flavonoid. Efek farmakologi yang dimiliki tannin adalah sebagai
astringent, healing, antiseptik, antioksidan, vasokonstriktor, hemostatik, anti
patogen mikroba, anti kanker dan anti diabetes. Tannin merupakan senyawa
kimia yang kompleks, terdiri dari beberapa polifenol, dengan konsentrasi
tertinggi ditemukan hampir setiap bagian dari tumbuhan, seperti daun, batang,
akar, buah, dan biji (Khanbabaee dan Teunis,2001). Tannin bersifat astringen
yang memiliki kemampuan untuk membentuk kompleks dengan
makromolekul, terutama protein. Kemampuan tersebut dapat mempercepat
proses pembekuan darah. Mekanisme kerja tanin sebagai vasokonstriktor
adalah melalui efek astringentnya (Sutopo, 2016).
Senyawa lain yang terkandung dalam tanaman sirih yang berfungsi
sebagai agen hemostasis adalah flavonoid. Dalam tumbuhan, flavonoid
umumnya merupakan pigmen-pigmen yang tersebar luas dalam bentuk
senyawa glikon dan aglikon dan dapat menghambat perdarahan. Mekanisme
dari flavonoid dalam penghentian perdarahan adalah dengan mekanisme
vasokonstriksi (Narayan, 2001).
Berdasarkan penelitian, ekstrak daun sirih menunjukkan aktivitas
antibakteri yang cukup baik yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri
Streptococcus mutans, Lactobacillus caesal dan Actinomyces viscosus.
Minyak atsiri dari daun sirih juga mempunyai daya antibakteri terhadap ketiga
bakteri utama penyebab karies gigi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air
seduhan daun sirih sebagai obat kumur efektif dalam menurunkan plak indeks
Menurut Kloppenburg Versteegh, seorang ahli tanaman obat asli Indonesia
menganjurkan penggunaan ekstrak daun sirih untuk berkumur jika mulut
mengalami pembengkakan, membersihkan nafas yang bau akibat pembusukan
gigi serta untuk menghentikan darah dan membersihkan luka saat gigi dicabut
(Moeljanto dan Mulyono, 2003)
Pembuatan obat kumur dari ekstrak daun sirih dilakukan dengan
metode infundasi. Infundasi adalah ekstraksi dengan cara perebusan, dimana
pelarutnya adalah air pada suhu 900C selama 15 menit. Infundasi merupakan
proses penyarian yang paling umum digunakan untuk menyari kandungan zat
aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Metode ini mempunyai
kelemahan yaitu sari yang dihasilkan tidak stabil dan mudah tercemar oleh
kuman dan kapang sehingga sari yang diperoleh dengan cara ini tidak boleh
disimpan lebih dari 24 jam (Irwanto, 2009).
Menurut Ardianti (2011) langkah-langkah dalam pembuatan obat
kumur dari ekstrak daun sirih, yaitu:
a. Daun sirih jenis sirih jawa yang masih muda seberat 6 gram dicuci sampai
bersih, kemudian dipotong-potong.
b. Daun sirih yang telah dipotong-potong dimasukkan kedalam 120 ml air
dipanaskan pada suhu 900C selama 15 menit.
c. Setelah dingin kemudian disaring dengan menggunakan alat penyaringan.
d. Air daun sirih yang telah disaring tersebut dimasukkan ke dalam boto dan siap
digunakan.
2. Kemangi
Selain sebagai lalapan, kemangi juga mempunyai khasiat mengatasi bau
mulut. Pada tanaman kemangi (Ocimum basilicum L.) memiliki banyak
kandungan kimia antara lain saponin, flavonod, tanin, dan minyak atsiri.
Kandungan paling utama pada kemangi adalah minyak atsiri. Minyak atsiri
dalam daun kemangi banyak dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri, baik
bakteri gram positif maupun gram negatif. Saat ini, minyak atsiri ini telah
digunakan sebagai bahan pembuatan minyak wangi, lotion, sabun, sampo, atau
kosmetik (Talamma, 2014). Dari penelitian yang telah dilakukan Oleh Nirmala
et al (2011) menunjukkan bahwa ekstrak daun kemangi mampu menaghambat
bakteri strptococcus viridans yang merupakan salah satu jenis bakteri penyebab
halitosis (Nirmala, 2011).
Selain minyak esensial, daun kemangi juga mengandung flavonoid yang
bersifat antibakteri. Flavonoid dapat menghambat sintesis asam nukleat,
menghambat fungsi membran sitoplasma, dan menghambat metabolisme
energi sel (Cushnie and Lamb, 2005).
Beberapa referensi menyebutkan banyak manfaat yang terkandung dalam
daun kemangi selain anti bakteri, diantaranya yaitu: (Talamma, 2014)
a. Mengobati sariawan
Ambil daun kemangi kira-kira 50 helai dan cuci hingga bersih. Selanjutnya
kunyah daun tersebut kurang lebih dua hingga tiga menit. Setelah halus, telah
daun kemangi tersebut dan langsung minum air hangat. Untuk hasil maksimal,
lakukan maksimal 3 kali dalam sehari.
b. Menghilangkan bau mulut
Berkumur dengan larutan ekstrak daun kemangi bermanfaat dalam menurunkan
kadar Volatile Sulfur Compounds (VSCs), dikarenakan adanya kandungan
pada daun kemangi yang bersifat antibakteri sehingga dapat menghambat
perkembangan bakteri anaerob gram negatif penyebab terjadinya halitosis.
Cara pengolahan daun kemangi sebagai obat kumur yaitu:
Ambil daun kemangi, biji juga akarnya. Bersihkan dan kemudian seduh dengan
air yang panas. Air seduhan tersebut bisa ditambahkan dengan gula merah atau
madu. Minum air tersebut di setiap pagi sebelum beraktifitas.
3. Belimbing Wuluh
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn) merupakan salah satu jenis
tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional. Tanaman ini
mengandung banyak vitamin C alami yang berguna sebagai penambah daya
tahan tubuh dan perlindungan terhadap berbagai penyakit seperti sariawan,
sakit gigi, gusi berdarah, dan lain-lain. Selain itu, belimbing wuluh juga
mengandung vitamin dan mineral lain, yaitu ribovlavin, vitamin B1, niacin,
asam askorbat, carotene, vit A, sedang mineralnya antara lain phosphor,
kalsium dan besi (Ardananurdin, 2004).
Salah satu spesies bakteri yang dominan dalam rongga mulut adalah
Streptococcus mutans yang merupakan bakteri penyebab utama timbulnya
karies gigi. Bakteri ini juga dapat dijumpai pada gingivitis, plak dan denture
stomatitis. Karies adalah disintegrasi gigi yang dimulai pada permukaan dan
berkembang progresif ke dalam yang ditandai dengan terjadinya demineralisasi
jaringan tersebut dan disertai dengan kerusakan jaringan organiknya yaitu
jaringan interprismata. Keadaan ini dikaitkan dengan efek produk asam oleh
fermentasi bakteri Streptococcus mutans (Liantari, 2014).
Daun belimbiing wuluh mempunyai daya antibakteri terhadap
pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Kandungan utama pada daun
belimbing wuluh yang berfungsi menghambat pertumbahan bakteri adalah
flavonoid, tanin, dan triterpenoid. Senyawa Flavanoid menganggu bakteri
dengan cara merusak membran sitoplasma bakteri yang tersusun oleh 60%
protein dan 40% lipid yang umumnya berupa fosfolipid. Senyawa flavonoid
dapat merusak membran sitoplasma yang menyebabkan bocornya metabolit
penting yang menginaktifkan sistem enzim bakteri. Senyawa tanin dapat
menghambat dan membunuh pertumbuhan bakteri dengan cara bereaksi dengan
membran sel, inaktivasi enzim enzim esensial dan destruksi atau inaktivasi
fungsi dan materi genetik. Sedangkan, aktivitas antimikroba dari triterpenoid
diduga melalui mekanisme merusak fraksi lipid membran sitoplasma (Liantari,
2014).
4. Cabai
a. Candidiasis
Saat ini obat-obat antifungi yang tersedia di pasaran semakin banyak.
Penggunaan beberapa obat antifungi yang kurang efektif, serta terjadinya
toksisitas terhadap beberapa produk antifungi yang tersedia menyebabkan
penelitian untuk mencari senyawa yang bersifat antifungi dari tanaman. Hal ini
dikarenakan bahwa penggunaan obat yang berasal dari bahan alam diyakini akan
menimbulkan efek samping yang minimal dan efek terapeutik yang maksimal.
Tanaman obat yang dipilih sebagai alternatif antifungi untuk mengatasi infeksi
Candida adalah cabai jawa, dengan bagian tanaman berupa daun. Ekstrak etanol
daun cabai jawa (Piper retrofactum Vahl.) mengandung senyawa alkaloid,
flavonoid, saponin, dan tanin yang berfungsi sebagai antijamur (Sari, 2012).
5. Jeruk Nipis
Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri gram positif
berbentuk bulat yang merupakan bakteri patogen bagi manusia. Staphylococcus
aureus juga dapat menginfeksi jaringan atau alat tubuh lain yang menyebabkan
timbulnya penyakit dengan tanda-tanda yang khas seperti nekrosis, peradangan
dan pembentukan abses. Abses biasanya terjadi karena infeksi bakteri.
Kebanyakan abses akan menimbulkan rasa sakit, sehingga orang akan
secepatnya mencari solusi untuk rasa sakitnya. Rasa sakit yang ditimbulkan akan
datang tiba-tiba dan akan berlangsung selama beberapa hari ataupun beberapa
minggu. Abses bisa terjadi pada semua struktur atau jaringan rongga mulut,
abses rongga mulut yang paling sering terjadi adalah abses periodontal dan abses
periapikal dan salah satu bakteri penyebab abses periodontal adalah
Staphylococcus aureus (Wiguna, 2011).
Jeruk nipis mengandung unsur-unsur senyawa kimia yang bemanfaat,
seperti asam sitrat, asam amino, minyak atsiri, damar, glikosida, asam sitrun,
lemak, kalsium, fosfor, besi, belerang vitamin B1 dan C. Minyak atsiri yang
terkandung dalam jeruk nipis mempunyai fungsi sebagai antibakteri, salah satu
kandungan minyak atsiri yang mempunyai peran paling penting dalam
meghambat pertumbuhan bakteri ialah flavonoid (Sudirman, 2014).
Berdasarkan hasil pengamatan dari 5 kali pengujian dengan
menggunakan kertas saring yang di rendam didalam perasan air jeruk nipis
semuanya menunjukkan adanya daya hambat terhadap pertumbuhan
Staphylococcus aureus. Hal ini karena adanya senyawa aktif antibakteri dalam
air perasan buah jeruk nipis yang diduga diperoleh dari kandungan kimia yang
terdapat di dalamnya, seperti minyak atsiri, yang mampu menghambat
pertumbuhan dari bakteri Staphylococcus aureus (Lauma, 2015).
BAB 3

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:

1. Tanaman Obat Keluarga (TOGA) adalah tanaman berkhasiat yang ditanam di


lahan pekarangan yang dikelola oleh keluarga, ditanam dalam rangka memenuhi
keperluan keluarga akan obat-obatan tradisional yang dapat dibuat sendiri.
2. Toga dapat digunakan untuk penyembuhan terhadap berbagai macam penyakit
mulut, diantaranya:
a. Sirih dapat dimanfaatkan untuk:
Menguatkan gigi
Menghilangkan bau mulut
Menyembuhkan sariawan
Meredakan perdarahan gusi
b. Kemangi
c. Belimbing Wuluh
d. Cabai
e. Jeruk Nipis
DAFTAR PUSTAKA

Ardananurdin A, Winarsih S, Widayat M. 2004. Uji Efektifitas Dekok Bunga


Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi Linn) sebagai Antimikroba terhadap
Bakteri Salmonella Typhi secara In Vitro. Jurnal Kedokteran Brawijaya

Ardianti GM. 2011. Efektivitas Ekstrak Daun Sirih Sebagai Obat Kumur Terhadap
Penurunan Plak. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Cushnie, T. P. T. and A. J. Lamb. 2005. Review: Antimicrobial activity of
flavonoids. Int. J. Antimicrob. Agents, 26: 343–356.

Goma I. 2016. Pengaruh Obat Kumur Daun Sirih terhadap Penurunan Kadar
Volatile Sulfure Compounds (VSC) pada Pasien Ortodontik dan Non
Ortodontik. Makassar : Bagian Ortodonsi Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Hasanuddin Makassar

Irwanto. 2009. Ekstraksi Menggunakan Proses Infundasi, Maserasi dan Perlokasi,


Situs Biologi Farmasi dan Kimia.
Karina, A. (2012). Khasiat dan Manfaat Jeruk Nipis Ed. 1, Surabaya: Stomata, p: 20.

Kesmas.Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga di Kelurahan Tanah 600,


Medan.Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional vol. 4, no. 5, april 2010

Khanbabaee K, Teunis V.R. 2001. Tannin : Clasification and Definition . The Royal
Society of Chemistryvol 18 : 641-49

Kurnia, A. (2014). Khasiat Ajaib Jeruk Nipis: dari A-Z untuk Kesehatan dan
Kecantikan. Yogyakarta: Rapha Publishing, pp: 26-33.

Lestari S, dkk. 2011. Potensi Air Perasan Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi L)
Sebagai Bahan Alternatif Dentin Conditioner Dalam Perawatan Konservasi
Gigi (In-Vitro). Jember: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember

Lauma SW. Pangemanan DHC, Hutagulung BSP. 2015. Uji Efektifitas Perasan Air
Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia S) terhadap Pertumbuhan Bakteri
Staphylococcus Aureus Secara In Vitro. Manado: Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Sam Ratulangi.

Liantari DS. 2014. Effect of Wuluh Starfruit Leaf Extract For Streptococcus Mutans
Growth. Lampung: Fakultas Kedokteran Lampung.

Lukmana, A. 2004. Agribisnis Cabai (Seri Agribisnis). Penebar Swadaya. Jakarta. 183
halaman.
Narayana K.R., Reddy M.S.,Chaluvadi M.R., Krishna D.R. 2001. Bioflavonoid
Classification, Pharmacological, Biochemical Effect and Therapeutic
Potential. Indian Journal of Pharmacology vol 33 :2-16

Nirmala W, Budiyanto E, Wardani AY, Stiyawan H. 2011. Pemanfaatan ekstrak


daun kemangi (Ocinum canum) sebagai Permen Herbal Pencegah Bau Mulut.
Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Nugraha. Pelatihan Penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Jurnal Inovasi


dan Kewirausahaan Vol 4 no. 1, Januari 2015.

Moeljanto RD dan Mulyono. 2003. Khasiat dan Manfaat Daun Sirih Obat Mujarab
dari Masa ke Masa. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Parag, S., N. Vijyayshree, B. Ranu, and B. R. Patil. 2010. Antibacterial Activity of


Ocimum sanctum Linn. and its Application in Water Purification. Res. J. Chem.
Environ., 14(3): 46-50.

Pramana KA, Darsono L, Evacuasiany E, Slamet S. 2016. Ekstrak Daun Sirih


(Piper betle L.) dalam Mempercepat Penyembuhan Luka. Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Maranatha

Sari ER. 2012. Uji Aktivitas Antifungi Ekstrak Etanol Daun Cabai Jawa (Piper
retrofactum Vahl.) terhadap Pertumbuhan Candida albicans. Surakarta:
Universitas Sebelas Maret.

Sherwood L. 2015. Fisiologi Manusia, dari Sel ke Sistem. Jakarta : Buku


Kedokteran EGC pp 430-431

Sudirman AT. 2014. Uji Efektivitas Daun Salam (Eugenia polyantha) terhadap
Pertumbuhan Staphylococcus aureus Secara In Vitro. Makassar: Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Hassanudin.

Susi, M;Dkk. 2015. Buku Saku Tanaman Obat Keluarga (Toga). Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian (Bptp) Jawa Barat. Kementerian Pertanian

Sutopo T. 2016. Uji Ekstrak Etanol 70% Daun Sirih (Piper Betle L.) Terhadap
Bleeding Time Pada Mencit Jantangalur Swiss Webster. Skripsi. Surakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Talamma F. 2014. Efektivitas Ekstrak Daun Kemangi (Ocimim Basilicum L.)


terhadap Penurunan Kadar Volatile Sulfur Compounds (VSCS). Makassar:
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.

Trilaksana N. 2003. Pengaruh Pemaparan Kombinasi Ekstrak Meniran (Phyllantus


niruri) dan Ekstrak Sirih (Piper betle Linn) terhadap Viabilitas Sel Tumor
Adenocarcinoma mammae Mencit C3H secara Invitro. Tesis, Program Pasca
Sarjana UNDIP Semarang.
Tukiman. 2004. Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) untuk Kesehatan
Keluarga . Sumatera Utara : Bagian Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Vita NR. 2010. Pemanfaatan Lahan Rumah Untuk Tanaman Obat Keluarga (Toga),
Sebagai Bentuk Upaya Promosi Kesehatan Masyarakat Pada Level Keluarga.
Staf Pengajar Prodi Kesehatan Masyarakat Fak. Ilmu Kesehatan. Universitas
Pekalongan

Wiguna I. 2011. Mengetahui Daya Hambat dari Air Perak dalam Produk Ionic
Silver Gt dalam menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Aureus.
Makassar: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hassanudin.

Yuliani. 2006. survei pola pengobatan masyarakat pengguna obat tradisional dari
bahan tumbuhan di kabupaten OKU tahun 2006. Sumatera

Zuhud.2012.Khasiat 15 Tanaman Obat Unggulan Kampung Gunung Leutik.Bogor