Anda di halaman 1dari 22

PROPOSAL PROYEK AKHIR

Perhitungan Koordinasi Setting Proteksi Recloser Pada Penyulang Hilbron Di


Jaringan Distribusi 20 KV Gardu Induk Mataram

Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti Sidang Proposal Proyek Akhir

pada Program Diploma Tiga Teknik Elektro

Disusun Oleh :
Nama : IDHAM KHOLID
NIM : 2016-71-108
Jurusan : DIII TEKNIK ELEKTRO

PROGRAM STUDI D – III

TEKNIK ELEKTRO

JAKARTA

FEBRUARI 2019
1
LEMBAR PERSETUJUAN PROPOSAL PROYEK AKHIR

Judul Proyek Akhir : PERHITUNGAN KOORDINASI SETTING PROTEKSI


RECLOSER PADA PENYULANG HILBRON DI
JARINGAN DISTRIBUSI 2O KV DI GARDU INDUK
MATARAM
Identitas peneliti
a. Nama Mahasiswa : IDHAM KHOLID
b. NIM : 2016-71-108
c. Jurusan : DIII Teknik Elektro
d. No. Hp : 0878-1181-4920
e. Email : idham6193@gmail.com
Jangka Waktu Penelitian
a. Mulai tanggal : 01 Februari 2019
b. Selesai tanggal : 30 Mei 2019
Lokasi Penelitian : PT.PLN ( PERSERO) UP3B Mataram
Jika penelitian merupakan peningkatan kerjasama kelembagaan dengan mitra STT-PLN, atau
merupakan penelitian bersama dengan Dosen Pembimbing, mohon disebutkan :
Instansi Mitra STT-PLN : UP3B Mataram
Alamat : Jl. Kesra Raya, Tj. Karang Permai, Sekarbela, Kota Mataram,
Nusa Tenggara Barat 83115
Dosen Pembimbing Usulan : Ir. Edy Ispranyoto, MBA.

Jakarta, 21 Februari 2019


Mengetahui,
Dosen PA Nama Mahasiswa

( Syarif Hidayat, S.Si, MT ) ( Idham Kholid )

Disetujui oleh,
Kepala Departemen Elektro

( Erlina, ST., MT. )

2
Abstrak
Keandalan suatu system distribusi listrik tidak lepas dari peralatan proteksi yang digunakan yang
berfungsi melindungi peralatan dari gangguan . Salah satu gangguan yang terjadi adalah gangguan
hubung singkat. Gangguan ini dapat diatasi dengan menggunakan rele proteksi dan peralatan
pemutus rangkaian yang bekerja secara bersama yang disebut system proteksi .

Akan tetapi apabila setting system proteksi ini tidak efektif hal ini akan menyebabkan peralatan
proteksi bekerja tidak semestinya. Sehingga hanya akan menambah angka SAIDI SAIFI yang tidak
Perlu. Kwh yang hilang bertambah besar, dan resiko rusaknya peralatan bertambah banyak.

Dalam kerja praktek di PT.PLN UP3B Mataram ini, Penyulang Hilbron Terbagi menjadi beberapa
seksi yang masing-masing seksi dilindungi oleh recloser dan PMT dengan rele OCR dan GFR
sebagai pengindranya. Untuk meminimalisir pemadaman yang terjadi akibat gangguan setiap rele
mempunyai interfal waktu untuk PMT/Recloser bekerja dengan tetap memperhatikan aspek
selektifitas yaitu hanya Reclsoer yang dekat dengan gangguan yang bekerja. Dengan setting rele
yang tepat maka tingkat keandalan system tenaga akan dapat tercapai.

Kata kunci : Recloser, OCR dan GFR, Penyulang Hilbron

3
PERMOHONAN MENGIKUTI SIDANG PROPOSAL PROYEK AKHIR
Dengan ini saya,
Nama Mahasiswa : IDHAM KHOLID
NIM : 2016-71-108
Jurusan : Diploma Tiga Teknik Elektro
No. HP : 0878-1181-4920
Email : idham6193@gmail.com

Mengajukan permohonan untuk mengikuti Sidang Proposal Proyek Akhir pada Semester Genap
Tahun Ajaran 2018/2019, di mana rencana usulan judul penelitian Proyek Akhir dan usulan
dosen pembimbing pertama sebagai berikut :
Usulan Judul Proyek Akhir : Perhitungan Koordinasi Setting Proteksi Recloser pada
Penyulang Hilbron di Jaringan Distribusi 20 kv Gardu
Induk Mataram
Usulan Dosen Pembimbing : Ir. Edy Ispranyoto, MBA
sebagai bahan pertimbangan terlampir disampaikan data-data pendukung pengambilan mata
kuliah Proyek Akhir sebagai berikut :

N Memenuhi syarat
Persyaratan
O *)
1 Telah lulus dengan jumlah 104 sks (rekap terlampir) Ya Tidak
Telah menyelesaikan laporan magang/KP (copy lembar
2 Ya Tidak
persetujuan terlampir)
Jumlah sks yang diambil pada semester ini maksimum 14 sks,
3 Ya Tidak
termasuk Proyek Akhir (Fotocopy KRS terlampir)
Telah lulus/mengambil seluruh mata kuliah wajib/pilihan
4 Ya Tidak
pendukung Proyek Akhir
Catatan *) Diisi oleh Sekretaris Jurusan
**) Mata kuliah pendukung Proyek Akhir ditentukan oleh Program Diploma Tiga
Jakarta, 21 Februari 2019

Disetujui/Tidak Disetujui Diperiksa Oleh


Mengikuti Sidang Proposal Ka.Prodi D – III Teknik Hormat Saya,
Kepala Departemen Elektro, Elektro ,

( Erlina, ST., MT ) ( Retno Aita Diantari,ST.,MT ) ( Idham Kho

4
Daftar Isi
Judul Proposal ………………………………………………………………………….. i
Lembar Persetujuan Proposal Tugas Akhir ……………………………………………..ii
Abstrak …………………………………………………………………………………..iii
Daftar Isi …………………………………………………………………………………iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah …………………………………………………1
1.2. Permasalahan Penelitian ………………………………………………...2
1.2.1. Identifikasi Permasalahan ……………………………….2
1.2.2. Ruang Lingkup Masalah ………………………………...2
1.2.3. Rumusan Masalah ……………………………………….2
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian …………………………………………..3
1.3.1. Tujuan Penelitian ………………………………………..3
1.3.2. Manfaat Penelitian ………………………………………3
BAB II LANDASAN TEORI
2.1. Tinjauan Pustaka …………………………………………………………4
2.2. Landasan Teori …………………………………………………………..4
2.3. Kerangka Pemikiran ……………………………………………………..10
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Analisa Kebutuhan ………………………………………………………14
3.2. Perancangan Penelitian ………………………………………………….14
3.3. Teknik Analisa …………………………………………………………..15
3.4. Jadwal Kegiatan …………………………………………………………15

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………..16


DAFTAR RIWAYAT HIDUP ………………………………………………………...17
LAMPIRAN – LAMPIRAN ………………………………………………………….18

5
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan kebutuhan energi listrik yang semakin meningkat maka dituntut
untuk bisa meningkatkan keandalan jaringan tenaga listrik, yakni kontinunitas penyaluran
energi listrik hingga ke pelanggan dapat tetap terjaga. Namun dalam kenyataannya, sistem
tenaga listrik sangat rentan terhadap gangguan, dalam hal ini sistem distribusi yang paling
dekat dengan pelanggan, sehingga keandalan dalam sistem akan langsung berdampak
kepada pelanggan. Pada dasarnya gangguan yang sering terjadi pada sistem distribusi
saluran 20 kV dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu gangguan dari dalam sistem
dan gangguan dari luar sistem. Gangguan yang berasal dari luar sistem (eksternal)
disebabkan oleh sambaran petir (surja petir), manusia, binatang, cuaca dan lain-lain.
Sedangkan gangguan yang datang dari dalam sistem (internal) dapat berupa dari hubung
singkat, kegagalan fungsi peralatan jaringan, kerusakan dari peralatan jaringan, kerusakan
dari peralatan pemutus beban dan kesalahan pada alat pendeteksi. Berdasarkan dari
lamanya terjadi gangguan, gangguan dibagi menjadi gangguan sementara (temporer) dan
gangguan permanen, rata-rata jumlah gangguan sesaat lebih tinggi dibandingkan gangguan
permanen. Gangguan yang bersifat sementara atau temporer adalah gangguan yang dapat
hilang dengan sendirinya atau dengan memutuskan sesaat bagian yang terganggu dari
sumber tegangannya. Gangguan permanen adalah gangguan yang di mana untuk
menghilangkan gangguannya diperlukan tindakan perbaikan dan/ atau menyingkirkan
penyebab gangguan tersebut. Gangguan sementara jika tidak dapat hilang dengan segera,
baik hilang dengan sendirinya maupun karena bekerjanya alat pengaman dapat berubah
menjadi gangguan permanen. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan suatu sistem proteksi
pada sistem distribusi. Dengan sistem proteksi ini diharapkan setiap kerugian yang
diakibatkan 2 oleh gangguan yang terjadi dapat diminimalisir. Apabila terjadi gangguan
maka dituntut agar pemadaman tidak terlalu lama. Melihat hal tersebut, perlu dilakukannya
tindakan yang cepat dalam penyelesaian masalah gangguan. Salah satu caranya adalah
dengan pemasangan recloser atau pemutus balik otomatis (PBO). Recloser berfungsi

6
memisahkan daerah atau jaringan yang terganggu sistemnya secara cepat sehingga dapat
memperkecil daerah yang terganggu pada gangguan sesaat, recloser akan memisahkan
daerah gangguan secara sesaat sampai gangguan tersebut akan dianggap hilang, dengan
demikian recloser akan masuk kembali sesuai penyetelannya sehingga jaringan akan aktif
kembali secara otomatis. Apabila gangguan bersifat permanen, maka setelah membuka
atau menutup balik sebanyak setting yang telah ditentukan kemudian recloser akan
membuka tetap (lock out).

Laporan akhir ini menyelidiki penyetelan penutup balik otomatis (PBO) dengan
mempertimbangkan daya dan kemampuan kabel serta formasi jaringan distribusi.
Penyelidikan dilakukan melalui studi kasus di PT. PLN (Persero) UP3B Mataram

1.2 Permasalahan Penelitian

1.2.1 Identifikasi Masalah

Dalam distribusi tenaga listrik, Recloser atau autorecloser adalah pemutus sirkuit
yang dilengkapi dengan mekanisme otomatis yang dapat menutup setelah terjadi
suatu kesalahan yaitu trip Recloser digunakan pada SUTM untuk mendeteksi dan
menanggulangi jika terjadi kesalahan sesaat. Untuk menjaga kerusakan, setiap
sepanjang jaringan dilindungi pemutus arus seperti recloser ini yang mematikan
listrik jika terjadi hubungan pendek.

1.2.2 Ruang Lingkup Masalah

Pembahasan tentang recloser sangat luas, oleh karena itu perlu dibatasi ruang
lingkup masalah yang akan dibahas. Untuk itu penulis hanya akan membahas
tentang koordinasi perhitungan penyetingan recloser di salah satu penyulang yang
disuplai dari Gardu Induk Mataram

1.2.3 Rumusan Masalah

1. Bagaimana recloser bekerja mulai dari mendapatkan arus gangguan trip sampai
dengan recloser kembali beroperasi seperti sebelum terjadinya gangguan ?
2. Unjuk kerja recloser akan trip jika terjadi arus gangguan ?

7
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan :

1. Untuk menganalisa kemampuan sistem proteksi dan unjuk kerja dari recloser
jika terjadi gangguan pada jaringan distribusi tegangan menengah 20 kV.
2. Untuk mengetahui seberapa besar perbedaan waktu trip jika terjadi gangguan
phase-trip dan ground-trip pada recloser
3. Membaca rekaman/ analisa gangguan pada saat terjadi gangguan di penyulang
Hilbron

1.3.2 Manfaat Penelitian


Manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah :
1. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang keandalan recloser sebagai
sistem proteksi pada jaringan distribusi 20 kV.
2. Manfaat bagi peneliti adalah memperdalam pengetahuan tentang karakteristik
dan pengaturan recloser di wilayah kerja PT. PLN ( Persero ) UP3B Mataram

8
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Untuk membantu menyelesaikan proses pembuatan Proyek Akhir ini, dibutuhkan adanya
beberapa referensi yang dapat menjadi acuan penulis dalam melakukan penelitian :

1. Manual book pedoman dan petunjuk system proteksi transmisi dan gardu induk Jawa
Bali, Edisi Pertama : September 2013
2. Manual book Pemeliharaan proteksi kubikel 20 KV gardu induk
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Umum

Bagian dari sistem tenaga listrik yang paling dekat dengan pelanggan
adalah sistem distribusi. Sistem distribusi adalah bagian sistem tenaga listrik yang
paling banyak mengalami gangguan, sehingga masalah utama dalam operasi
sistem distribusi adalah mengatasi gangguan.

Tenaga listrik dibangkitkan dalam pusat-pusat listrik seperti PLTA, PLTU, PLTG,
PLTP dan PLTD kemudian disalurkan melalui saluran transmisi setelah terlebih
dahulu dianikkan tegangannya oleh transformator penaik tegangan (step up
transformator) yang ada pada pusat listrik. Setelah tenaga listrik disalurkan melalui
saluran transmisi maka sampailah tenaga listrik ke gardu induk (GI) untuk
diturunkan tegangannya melalui transformator penurun tegangan (step down
transformator) menjadi tegangan menengah atau juga yang disebut sebagai
tegangan distribusi primer. Tegangan distribusi primer yang diapakai PLN adalah
20 KV, 12 KV, dan 6 KV. Kecenderungan saat ini menunjukkan bahwa tegangan
distribusi primer PLN yang berkembang adalah 20 KV.

9
Jaringan setelah keluar dari GI bisa disebut jaringan distribusi, sedangkan
jaringan antara pusat listrik dengan GI disebut jaringan transmisi. Setelah tenaga
listrik disalurkan melalui jaringan distribusi primer makan kemudian tenaga listrik
diturunkan tegangannya dalam gardu – gardu distribusi menjadi tegangan
rendah dengan tegangan 380/220 volt 220/110 volt, kemudian disalurkan melalui
jaringan tegangan rendah (JTR) untuk selanjutnya disalurkan ke rumah – rumah
pelanggan (konsumen) PLN.

Pelanggan yang mempunyai daya tersambung besar tidak dapat


disambung melalui jaringan tegangan rendah melainkan disambung
langsung pada jaringan tegangan menengah bahkan ada pula yang disambung
pada jaringan tegangan tinggi, tergantung besarnya daya tersambung.

2.2.2 Sistem Proteksi Jaringan Distribusi

Sistem proteksi tenaga listrik adalah sistem proteksi yang dipasang pada
sebuah peralatan-peralatan listrik suatu sistem tenaga listrik, misalnya motor
generator, transformer, jaringan dan lain-lain, terhadap kondisi abnormal over
kondisasi sistem itu sendiri. Abnormal itu dapat berupa antara lain : hubung singkat,
tegangan lebih, frekuensi sistem rendah, asinkron dan lain-lain.

Manfaat dari sistem proteksi adalah sebagai berikut :

1. Menghindari ataupun untuk mengurangi kerusakan peralatan-peralatan


akibat gangguan (kondisi abnormal operasi sistem). Semakin cepat reaksi
perangkat proteksi yang digunakan maka akan semakin sedikit pengaruh
gangguan kepada kemungkinan kerusakan alat.
2. Cepat melokalisir luas daerah yang mengalami gangguan, menjadi
sekecil mungkin.
3. Dapat memberikan pelayanan listrik dengan keandalan yang tinggi
kepada konsumen dan juga mutu listrik yang baik.
4. Mengamankan manusia terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh listrik.

10
Pengetahuan mengenai arus-arus yang timbul dari berbagai tipe gangguan
pada suatu lokasi merupakan hal yang sangat esensial bagi pengoperasian
sistem proteksi secara efektif. Jika terjadi gangguan pada sistem, para
operator yang merasakan adanya gangguan tersebut diharapkan segera
dapat mengoperasikan circuit breaker (CB) yang tepat untuk mengeluarkan
sistem yang terganggu atau memisahkan pembangkit dari jaringan yang
terganggu. Sangat sulit bagi seorang operator untuk mengawasi gangguan-
gangguan yang mungkin terjadi dan menentukan CB mana yang
dioperasikan untuk mengisolir gangguan tersebut secara manual.

Mengingat arus gangguan yang cukup besar, maka perlu secepat mungkin
dilakukan proteksi. Hal ini juga perlu satuan peralatan yang digunakan untuk
mendeteksi keadaan keadaan yang tidak normal tersebut dan selanjutnya
menginstruksikan circuit breaker yang tepat untuk bekerja memutuskan rangkaian
atau sistem terganggu dan peralatan tersebut kita kenal dengan relai.

2.2.3 Alat Pengaman Jaringan Distribusi

Alat pengaman atau pelindung adalah suatu alatyang berfungsi melindungi


atau mengamankan suatu system penyaluran tenaga listrik dengan cara membatasi
tegangan lebih ( over voltage ) atau arus lebih ( over current ) yang mengalir pada
system tersebut, dan mengalirkan ke tanah (ground). Dengan demikian alat
pengaman harus dapat menahan tegangan system agar kontiunitas pelayanan ke
pusat beban (load center) tidak mengganggu hingga waktu yang tidak terbatas.
Dan harus dapat melalukan atau mengalirkan arus lebih dengan tidak merusak alat
pengaman dan peralatan jaringan yang lain.

Oleh karena itu fungsi alat pengaman adalah :

 Melindungi system terhadap kondisi beban lebih dan hubung


singkat

11
 Melindungi system terhadap gangguan fisik dari luar terutama
untuk saluran udara (overhead line). Misalnya karena sambaran
petir, sambaran induksi awan bermuatan listrik dan sebagainya
 Mengisolir bagian system yang terkena gangguan
 Melindungi public/personal terhadap adanya jaringan tegangan
tinggi, terutama pada tempat-tempat yang padat penduduknya atau
tempat-tempat dimana jaringan listrik melilntasi jalan lalu lintas
umum.

Kegunaan system pengaman tenaga listrik, antara lain :

 Mencegah kerusakan peralatan – peralatan pada system tenaga


listrik akibat gangguan atau kondisi operasi yang tidak normal.
 Mempersempit daerah yang terganggu sehingga gangguan tifak
melebar pada system yang lebih luas.
 Memberikan pelayanan tenaga listrik dengan keandalan dan mutu
tinggi kepada konsumen.
 Mengamankan manusia dari bahaya yang ditimbulkan oleh tenaga
listrik.
 Menjaga kestabilan system listrik untuk menghindari hilangnya
keuntungan perusahaan

Untuk meningkatkan keandalan jaringan distribusi tenaga listrik, cara


terbaik adalah dengan jalan merencanakan system isolasi yang cukup tahan
terhadap Tegangan lebih dan mengkoordinasikan alat – alat pengaman
yang mempunyai keandalan tinggi terhadap bahaya elektis. Koordinasi
pengaman ini dinyatakan dalam bentuk langkah – langkah yang diambil
untuk menghindari gangguan pada system penyaluran tenaga listrik dengan
jalan membatasi gangguan – gangguan karena tegangan atau arus lebih,
sehingga tidak menimbulkan kerusakan pada peralatan jaringan. Dalam
upaya menanggulangi terhadap bahya tegangan lebih atau arus lebih, maka
persyaratan yang diperlukan bagi alat pengaman yang baik adalah :
12
 Dapat melepaskan tegangan lebih ke tanah tanpa menyebabkan
hubung singkat terhadap system
 Dapat memutuskan arus lebih atau arus susulan dalam waktu yang
cepat.
 Mempunyai tingkat perlindungan yang tinggi, dalam arti nilai
perlindungan antara tegangan lebih maximum yang diperbolehkan
pada saat pelepasan dengan tegangan maximum system yang dapat
mempertahankan sesudah terjadi pelepasan.
 Harus dapat bekerja dalam waktu singkat.

Oleh karena itu kontiunitas penyaluran tenaga listrik banyak tergantung


pada kualitas system jaringan distribusi itu sendiri. Makin kompleks
konfigurasi jaringan distribusi ( seperti bentuk network atau mesh ) makin
banyak peralatan yang digunakan.

2.2.4 Jenis Gangguan Pada Jaringan Distribusi

Jaringan Distribusi merupakan bagian dari system tenaga listrik


yang paling dekat dengan pelanggan/ konsumen. Ditinjau dari volume
fisiknya jaringan distribusi pada umumnya lebih panjang dibandingkan
dengan jaringan transimisi dan jumlalh gangguanny (sekian kali per 100
km pertahun) juga paling tinggi dibandingkan jumlah gangguan pada
saluran transmisi . Jaringan distribusi tegangan menengah sebagian besar
berupa saluran udara tegangan menengah dan kabel tanah. Pada saat ini
gangguan pada saluran udara tegangan menengah ada yang mencapai 100
kali per 100 km per tahun. Sebagian besar gangguan pada saluran udara
TM tidak disebabkan oleh petir melainkan oleh sentuhan pohon,apalagi
saluran udara TM banyak berada di dalam kota yang memiliki bangunan –
bangunan tinggi dan pohon – pohon yang lebih tinggi dari tiang saluran
udara TM. Hal ini menyebabkan saluran udara tegangan menengah yang
ada di kota banyak terlindung terhadap sambaran petir tetapi banyak
diganggu oleh sentuhan pohon. Hanya untuk daerah di luar kota selain

13
gangguan sentuhan pohon juga sering terjadi gangguan karena petir.
Gangguan karena petir maupun karena sentuhan pohon ini sifatnya
temporer (sementara), oleh karena itu penggunaan penutup balik otomatis
( Recloser ) akan mengurangi waktu pemutusan penyediaan daya (supply
interrupting time).

2.2.4 Pemutus Balik Otomatis (Recloser)

Recloser merupakan suatu peralatan pengaman yang dapat mendeteksi arus


lebih, karena hubung singkat anatara fasa dengan fasa atau fasa dengan tanah, dimana
recloser ini memutus arus dan menutup kembali secara otomatis dengan selang waktu
yang dapat diatur sesuai dengan setting interval recloser.

2.2.5 Fungsi Recloser

Pada suatu gangguan permanen, recloser berfungsi memisahkan daerah atau


jaringan yang terganggu sistemnya secara cepat sehingga dapat memperkecil daerah
yang terganggu pada gangguan sesaat, recloser akan memisahkan daerah gangguan
sesaat sampai gangguan tersebut akan dianggap hilang, dengan demikian recloser akan
masuk kembali sesuai dengan settingannya sehingga jaringan akan aktif kembali secara
otomatis.

2.2.6 Urutan Kerja Recloser

Waktu membuka dan menutup recloser dapat diatur melalui kurva


karakteristiknya. Secara garis besar urutan kerja recloser diperlihatkan pada gambar
dibawah,

14
Gambar 1 Urutan Operasi Recloser Gangguan Permanen

Gambar 2 Urutan Operasi Recloser Gangguan sementara

Keterangan untuk gambar 6 dan 7 :


15
Ib : arus beban normal
Imt : arus trip minimum
Ihs : arus hubungan singkat
1 : waktu trip pertama (TCC)
2 : interval waktu reclose pertama
3 : waktu trip cepat kedua
4 : interval waktu reclose waktu kedua
5 : waktu trip lambat pertama
6 : interval waktu reclose waktu ketiga
7 : waktu trip lambat kedua

2.2.7 Prinsip Kerja Recloser

Recloser hampir sama dengan circuit breaker, hanya recloser dapat disetting
untuk bekerja membuka dan menutup beberapa kali secara otomatis. Apabila feeder
mendapat gangguan sementara, bila circuit breaker yang digunakan untuk feeder
yang mendapat gangguan sementara, akan menyebabkan hubungan feeder terputus.
Tetapi jika recloser yang digunakan diharapkan gangguan sementara tersebut tidak
membuat feeder terputus, maka recloser akan bekerja beberapa kali sampai akhirnya
recloser membuka.

Perlengkapan elektronik ditempatkan pada sebuah kotak yang terpisah dari


tangka recloser. dalam melakukan perubahan karakteristik, tingkat arus penjatuh
minimum dan urutan operasi recloser dapat dilakukan dengan mudah tanpa
mengeluarkan recloser. Arus pada saluran dideteksi oleh trafo arus yang
dipasang pada bushing recloser, kemudian arus sekundernya dialirkan ke elektronik
control box. Setelah mencapai waktu tunda yang ditentukan oleh program
karakteristik arus – waktu , maka rangkaian trip (penjatuh) mengirimkan
sinyal untuk melepaskan kontak utama recloser.

Rele urutan kerja akan direset timing pada posisi semula untuk mengatur
penutupan kembali berikutnya. Apabila ternyata gangguan yang terjadi belum hilang,

16
maka pada pembukaan yang terakhir sesuai urutan kerja recloser akan berada
pada posisi lock out ( terkunci). Diagarm blok recloser dapat dilihat pada gambar 8
dibawah ini.

Gambar 3 Diagram Blok Recloser

2.3 Kerangka Pemikiran

Untuk mempermudah pemahaman yang dilakukan di dalam penelitian,


maka digunakan flow chart seperti ditunjukkan oleh tabel 2.1 sebagai berikut:

Mulai

Studi LIteratur

Observasi Lapangan

Pengumpulan Data

Observasi Lapangan
Pengolahan Data

Pembuatan Laporan
Pengumpulan Data
Pengolahan Data
Observasi Lapangan
Selesai

Pengumpulan Data
Gambar 2.1 Diagram Alur Penelitian
Observasi Lapangan
17
Berdasarkan kerangka kerja penilitian yang telah digambarkan di atas, maka dapat
diuraikan pembahasan masing-masing tahap dalam penelitian adalah sebagai berikut :

1. Studi Literatur
Pada tahap ini dilakukan pencarian landasan-landasan teori yang diperoleh dari berbagai
buku, jurnal dan lain-lain untuk melengkapi perbendaharaan konsep dan teori, sehingga
memiliki landasan dan keilmuan yang baik dan sesuai.

2. Observasi Lapangan
Pada tahap ini dilakukan pengamatan secara langsung di lapangan tempat peneliti
melakukan penelitian, dalam hal ini tempat penelitian akan dilakukan di PT PLN Area
Kebon Jeruk.
3. Pengumpulan Data
Pada tahap ini dilakukan proses pengumpulan data dengan metode wawancara dan
observasi untuk melakukan pengamatan dan analisa terhadap objek penelitian sehinggan
mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan peneliti.
4. Pengolahan Data
Pada tahap ini peneliti telah memperoleh data-data yang dibutuhkan dalam penelitian
yang mana kemudian data-data ini akan diolah.
5. Pembuatan Laporan
Pada tahapan ini dilakukan pembuatan laporan yang disusun berdasarkan hasil
penelitian

18
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Analisa Kebutuhan

Metode yang digunakan penulis dalam memperoleh data dan informasi


yang diperlukan sehubungan dengan Tugas Akhir adalah:

1. Metode Pengambilan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan langsung di lapangan
dan pengambilan data langsung di bidang distribusi serta mengambil bahan
dari buku-buku, jurnal,artikel-artikel di internet, dan beberapa sumber literatur
lainnya yang berhubungan dengan proyek akhir ini.
2. Pendekatan Masalah
Mengumpulkan bahan-bahan literatur yang berkaitan dengan penurunan
angka gangguan jaringan tegangan rendah.
3. Studi Bimbingan
Diskusi berupa tanya jawab dengan dosen pembimbing yang telah ditunjuk
oleh pihak jurusan DIII-Teknik Elektro STT-PLN mengenai kendala-kendala
yang timbul selama penulisan proyek akhir ini.

4. Wawancara
Dalam proyek akhir ini, penulis melakukan tanya jawab dengan karyawan di
PT PLN (Persero) UP3B Mataram tentang materi yang berhubungan dengan
proyek akhir ini.

3.2 Perancangan Penelitian

Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu observasi. Dimana peneliti
melakukan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti untuk mengetahui

19
kondisi yang sebenarnya. Dalam hal ini, pengamatan akan dilakukan pada PT.
PLN (Persero) UP3B Mataram.

3.3 Teknik Analisa

Setelah melakukan studi literature dan telah mendapatkan data yang dibutuhkan
untuk kemudian data-data tersebut masuk ke tahap pengolahan data. Pengolahan
data dilakukan dengan menganalisis data-data yang didapatkan setelah
melakukan pengujian .Tahap selanjutnya ialah merumuskan kesimpulan dari
penelitian yang akan menjawab rumusan masalah yang terdapat pada Bab I .

3.4 Jadwal Peneltian


Berikut ini adalah tabel jadwal kegiatan penelitian. Jadwal kegiatan penelitian ini
mengacu pada rencana kegiatan dengan keluaran yang diharapkan.

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian

NO KEGIATAN BULAN
. Bulan Ke- 1 2 3 4 5 6
Pengajuan proposal
1
Skripsi
Studi Literatur,
2
Observasi

3
Pelaksanaan penelitian
Penyusunan laporan
4
penelitian

5
Pemeriksaan laporan

6
Sidang Proyek Akhir

20
Daftar Pustaka

http://www.cs.unsyiah.ac.id/~frdaus/PenelusuranInformasi/File-Pdf/kulit-muka1.pdf

http://eprints.unsri.ac.id/317/1/desaian-buku-proteksi_2008i.pdf

21
Lampiran – lampiran

22